Anda di halaman 1dari 42

1

LAPORAN KASUS


KEJANG DEMAM KOMPLEKS



Disusun Oleh :
Andreas Ronald
030.09.016

Pembimbing :
Dr.H.Harmon Mawardi , Sp.A



KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
PERIODE 2 Juni 9 Agustus 2014
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2014
2

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RS PENDIDIKAN : RSUD BUDHI ASIH
STATUS PASIEN KASUS I
Nama Mahasiswa : Andreas Ronald Pembimbing :Dr.H.Harmon Mawardi,Sp.A
NIM : 030.09.016 Tanda tangan :
IDENTITAS PASIEN
Nama : An. Fernando Jenis Kelamin : Lski-lski
Umur : 1 Tahun 7 Bulan Suku Bangsa : Jawa
Tempat / tanggal lahir : Jakarta, 14 oktober 2012 Agama : Kristen
Alamat : Jl. Persatuan III RT 1 RW 6,
kecamatan jatinegara, kelurahan
cipinang besar selatan.

IDENTITAS ORANGTUA
AYAH IBU
Nama : Tn. D Nama : Ny.W
Umur : 24 tahun Umur : 21 tahun
Pekerjaan : Pegawai Swasta (Sales Marketing) Pekerjaan : _
Penghasilan : Rp. 1.500.000,00/bulan Penghasilan : _
Pendidikan : STM Pendidikan : _
Suku bangsa : Jawa Suku bangsa : _
Agama : Kristen Agama : _

Keterangan : ibu pasien meninggalkan keluarga setelah pasien dilahirkan

WALI
Nama :Ny B
Agama :Kristen protestan
Pekerjaan :Ibu rumah tangga
Penghasilan :_
Hubungan dengan pasien : Nenek kandung
ANAMNESIS
Dilakukan secara alloanamnesis dengan Ny. W yang merupakan ibu kandung pasien
3

Lokasi : Bangsal lantai V Timur, kamar 510
Tanggal / pukul : 12 Juni 2014 / 15.00 WIB
Tanggal masuk : 12 Juni 2014, Bangsal lantai V Timur, kamar 510, Budhi Asih

A. KELUHAN UTAMA
kejang sejak 1 jam sebelum masuk RS.

B. KELUHAN TAMBAHAN
demam


C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG :
An. F, usia 1 tahun 7 bulan, datang bersama neneknya ke IGD RSUD Budhi Asih
dengan keluhan kejang 1 jam SMRS. kejang berlangsung 2 kali yang pertama
berlangsung 5 menit sedangkan yang kedua saat di igd kurang lebih 5 menit.kejang
merupakan kejang yang pertama kali dialami pasien.kejang menurut penglihatan
neneknya,kelojotan seluruh tubuh, mata mendelik ke atas,mulut mengancing. Saat
kejang pasien dalam keadaan tidak sadar. Mulut berbusa, lidah tergigit dan mengompol
disangkal oleh neneknya pasien. Kejang didahului dengan demam sejak 1 hari. Demam
dirasakan dengan perabaan tangan dan berlangsung terus menerus.pasien sudah
mendapatkan kompres namun tidak turun. Batuk,pilek,gangguan buang air besar dan air
kecil disangkal, keluar cairan dari telinga disangkal. Riwayat trauma juga disangkal
neneknya pasien. Setelah kejang yang pertama selesai, pasien dibawa ke IGD RSUD
Budhi Asih dan sempat kejang kembali dengan karakteristik yang sama dengan kejang
pertama lalu diberikan obat anti kejang yang dimasukkan lewat pantat dan juga oksigen.
Baru setelah diterapi kejang berhneti.

D. RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA
Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur
Alergi (-) Otitis (-) Kecelakaan (-)
Rhinitis
Atopi
(-) Parotitis (-)
Penyakit
Jantung
(-)
Dermatitis (-) Difteria (-) Radang Paru (-)
4

Atopi

Cacingan (-) Diare (+) TBC (-)
Demam
Berdarah
Dengue
(-) Kejang (-) Asma (-)
Demam
Tifoid
(-)
Morbili (-)
Keluhan yang
sama
sebelumnya
(-)
Cacar air (-)

Kesimpulan : Pasien sudah pernah dirawat di rumah sakit karena diare. Nenek pasien tidak
ingat usia pasien saat dirawat. Riwayat kejang disangkal


E. RIWAYAT KEHAMILAN / KELAHIRAN
KEHAMILAN
Morbiditas
Kehamilan
Hipertensi (-), diabetes melitus (-), anemia
(-), penyakit jantung (-), penyakit paru (-),
infeksi pada masa kehamilan (-), keputihan
(-)
Perawatan Antenatal ANC rutin ke puskesmas jatinegara 1 bulan
1x
KELAHIRAN
Tempat Persalinan Puskesmas jatinegara
Penolong Persalinan Bidan
Cara Persalinan Spontan
Masa Gestasi Cukup bulan
Keadaan Bayi
Berat lahir : 2700 gr
Panjang lahir : 48 cm
Lingkar kepala : tidak tahu
Langsung menangis (+)
Merah (+)
Pucat (-)
Biru (-)
Kuning (-)
5

Nilai APGAR : tidak tahu
Kelainan bawaan : tidak ada

Kesimpulan : os lahir secara pervaginam dan neonatus cukup bulan
F. RIWAYAT PERKEMBANGAN

Pertumbuhan gigi I : 6 (Normal: 5-9 bulan)
Gangguan perkembangan mental : Tidak ada

Psikomotor
Tengkurap : 3 (Normal : 3-4 bulan)
Duduk : 7 (Normal : 6-9 bulan)
Berdiri :12 (Normal : 9-12 bulan)
Berjalan : Umur 13 bulan (Normal : 13 bulan)
Bicara : Umur 12 bulan (Normal : 9-12 bulan)
Perkembangan pubertas
Rambut pubis : -
Payudara : -
Menarche : -

Kesimpulan : tidak terdapat keterlambatan dalam riwayat perkembangan
G. RIWAYAT MAKANAN
Umur
(bulan)
ASI/PASI Buah / Biskuit Bubur Susu Nasi Tim
0 2 PASI - - -
2 4 PASI - - -
4 6 PASI +(Biskuit) + -
6 8 PASI + + +
8 10 PASI + + +
10 -12 PASI + + +

Kesimpulan riwayat makanan : pasien ditinggal ibunya sejak lahir sehingga tidak mendapat
ASI
6


H. RIWAYAT IMUNISASI
Vaksin Dasar ( umur ) Ulangan ( umur )
BCG 2 bulan - -
DPT / PT 2 bulan 4 bulan 6bulan
Polio 0bulan 2bulan 4bulan
Campak 9 bulan - -
Hepatitis B 0 bulan 1bulan 6bulan

Kesimpulan : Imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal, pasien belum mendapatkan imunisasi
ulang.


I. RIWAYAT KELUARGA
a. Corak Reproduksi
No
Tanggal lahir
(umur)
Jenis
kelamin
Hidup
Lahir
Mati
Abortus
Mati
(sebab)
Keterangan
Kesehatan
1
14 oktober
2012(pasien)
Laki-laki + - - - Sehat

b. Riwayat Pernikahan
_
c. Riwayat Penyakit keluarga
Ayah pasien memiliki riwayat kejang demam saat masih anak-anak

Kesimpulan : terdapat faktor resiko kejang demam dari ayah pasien

J. RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN
. Pasien tinggal bersama ayah dan neneknya di rumah neneknya dimana ventilasi baik,
pencahayaan baik dimana jendela bisa dibuka, jarak septic tank dan sumber air lebih dari 10
m. Pasien tinggal didaerah padat penduduk. Air limbah rumah tangga disalurkan dengan baik
dan pembuangan sampah setiap harinya diangkut oleh petugas kebersihan.
Kesimpulan Keadaan Lingkungan : cukup baik
PEMERIKSAAN FISIK
7

Lokasi : Bangsal lantai V Timur, kamar 510
Tanggal / pukul : 12 juni 2014 / 15.00

A. Status Generalis
Keadaan Umum
Kesan sakit : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Kesan gizi : Gizi baik
Keadaan lain : Pucat (-), sianosis (-), ikterik (-)

Data Antropometri
Berat badan : 12,6 kg Lingkar kepala : 49 cm
Tinggi badan : 89 cm Lingkar lengan atas : 13 cm

Status Gizi
BB / U = 12.6 / 11.6 x 100 % = 108.6 % (gizi baik )
TB / U = 89 / 82 x 100 % = 108.5 % (tinggi baik )
BB / TB = 12.6 / 13 x 100 % = 96.9 % (gizi baik )

Tanda Vital
Nadi : 160x/ menit, kuat, isi cukup, ekual kanan dan kiri, regular
Nafas : 44 x/ menit, tipe abdomino-torakal, inspirasi : ekspirasi = 1 : 3
Suhu : 37.9
O
C, axilla (diukur dengan termometer air raksa)
Tekanan Darah :_mmHg

KEPALA : Lingkar kepala 49 cm, Normocephali

RAMBUT : Rambut hitam, distribusi merata dan tidak mudah dicabut, cukup tebal

WAJAH :Wajah simetris, tidak ada pembengkakan, ptekiae(-), luka atau jaringan
parut
MATA :
Visus : tidak dinilai Ptosis : -/-
Sklera ikterik : -/- Lagofthalmus : -/-
8

Konjunctiva anemis : -/- Cekung : -/-
Exophthalmus : -/- Kornea jernih : +/+
Strabismus : -/- Lensa jernih : +/+
Nistagmus : -/- Pupil : bulat, isokor
Refleks cahaya : langsung +/+ , tidak langsung +/+

TELINGA :
Bentuk : normotia Tuli : -/-
Nyeri tarik aurikula : -/- Nyeri tekan tragus : -/-
Liang telinga : sempit Membran timpani : sulit dinilai
Serumen : -/- Refleks cahaya : sulit dinilai
Cairan : -/-

HIDUNG :
Bentuk : simetris Napas cuping hidung : - / -
Sekret : -/- Deviasi septum : -
Mukosa hiperemis : -/-

BIBIR : Simetris saat diam, mukosa berwarna merah muda, kering (-), sianosis (-)

MULUT : Oral higiene baik, gigi caries (-), trismus (-), mukosa gusi dan pipi : merah muda,
hiperemis (-), ulkus (-), halitosis (-), lidah : normoglosia, ulkus (-), hiperemis (-) massa (-)

TENGGOROKAN : tonsil T1-T1 tidak hiperemis, kripta tidak melebar, detritus (-), faring
tidak hiperemis, ulkus (-) massa (-)

LEHER : Bentuk tidak tampak kelainan, tidak tampak pembesaran tiroid maupun KGB,
tidak tampak deviasi trakea, tidak teraba pembesaran tiroid maupun KGB, trakea teraba di
tengah
KGB :
Preaurikuler : tidak teraba membesar
Postaurikuler : tidak teraba membesar
Submandibula : tidak teraba membesar
Supraclavicula : tidak teraba membesar
9

Axilla : tidak teraba membesar
Inguinal : tidak teraba membesar

THORAKS :
JANTUNG
Inspeksi : Ictus cordis terlihat pada ICS V linea midklavikularis sinistra
Palpasi : Ictus cordis teraba pada ICS V linea midklavikularis sinistra
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)

PARU
Inspeksi : Bentuk thoraks simetris pada saat statis dan dinamis, tidak ada
pernafasan yang tertinggal, pernafasan abdomino-torakal, pada sela iga tidak
terlihat adanya retraksi, pembesaran KGB aksila -/- , tidak ditemukan
efloresensi pada kulit dinding dada
Palpasi : Nyeri tekan (-), benjolan (-), gerak napas simetris kanan dan kiri,
vocal fremitus sama kuat kanan dan kiri
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : Suara napas vesikuler, reguler, ronchi -/-, wheezing -/-

ABDOMEN :
Inspeksi : Perut datar, tidak dijumpai adanya efloresensi pada kulit perut
maupun benjolan, kulit keriput (-) gerakan peristaltik (-),smiling umbilicus(-)
Palpasi : Datar, supel, turgor kulit baik,NT (-),hepar dan lien tidak teraba membesar
Perkusi : timpani pada seluruh lapang perut, shifting dullness (-)
Auskultasi : Bising usus (+), frekuensi 4 x / menit

ANOGENITALIA : tidak diperiksa

ANGGOTA GERAK :
Ekstremitas : akral hangat ++/++, tes tourniquet (-)
Tangan Kanan Kiri
Tonus otot normotonus normotonus
10

Sendi aktif aktif
Lain-lain ptekiae (-) ptekiae (-)

Kaki Kanan Kiri
Tonus otot normotonus normotonus
Sendi aktif aktif
Lain-lain ptekiae (-) ptekiae (-)

KULIT : warna sawo matang merata, pucat (-), tidak ikterik, tidak sianosis, turgor kulit baik,
lembab, pengisian kapiler <3 detik, petechie (-) pada tungkai kanan dan kiri

TULANG BELAKANG : bentuk normal, tidak terdapat deviasi, benjolan (-), ruam (-)

SUSUNAN SARAF :

Kaku kuduk (-)
Brudzinski I (-) (-)
Brudzinski II (-) (-)
Laseq (-) (-)
Kerniq (-) (-)

Refleks fisiologis Refleks Patologis
Biceps +/+ Babinski -/-
Triceps +/+ Chaddock -/-
Patella +/+ Oppenheim -/-
Achilles +/+ Gordon -/-
Schaeffer -/-

Motorik : kesan tidak ada hemiparesis, gerak keempat ekstremitas aktif
Sensoris : Sulit dinilai
Nervus Kranialis : Tidak ada lesi nervus kranialis



11

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium Darah
Tanggal 12 juni 2014
Hematologi Hasil Nilai Normal
Hemoglobin 11,7 g/ dL 10,7-14,7
Hematokrit 34 % 33 45
Leukosit 14,8 ribu/uL 4,5 - 13,5
Eritrosit 4,2 juta/uL 3,6 - 5,8
Trombosit 201 ribu/uL 184 488
MCV 81,0 fL 69 93
MCH 27,7 pg 22-34
MCHC 34,3 g/dL 32 36
RDW 13,9 % < 14

Urine :
Tanggal 13 juni 2014
Hasil Nilai Normal
Warna Kuning Kuning
Kejernihan Agak Keruh Jernih
Glukosa (-) (-)
Bilirubin (-) (-)
Keton (-) (-)
pH 5 4,6 8
Berat Jenis 1020 1005-1030
Albumin (-) (-)
Urobilinogen 0,1 0,1 1 EU/dL
Nitrit (+) (-)
Darah (-) (-)
Esterase leukosit (-) (-)
Sedimen
Leukosit 0-2 <5/LPB
Eritrosit 0-1 <2/LPB
12

Epitel 1 (+)/LPB
Silinder (-) (-)/LPK
Kristal (-) (-)
Bakteri (+) (-)
Jamur (-) (-)

RESUME
Pasien datang dengan keluhan utama kejang 2 kali kurang lebih 5 menit.kejang
merupakan kejang yang pertama kali dialami pasien dengan karakteristik kelojotan
seluruh tubuh, mata mendelik ke atas. Kejang didahului dengan demam sejak 1 hari.
Demam dirasakan dengan perabaan tangan dan berlangsung terus menerus.pasien sudah
mendapatkan kompres namun tidak turun. Ayah pasien memiliki riwayat kejang demam
saat masih anak-anak. Pada pemeriksaan fisik,tanda vital didapatkan nadi 160x/menit,
laju napas 44x/menit,suhu 37,9 derajat celcius status generalis didapatkan dalam batas
normal,lingkar kepala pasien 49cm masih normosefali pada pemeriksaan neurologis
tidak ditemukan kelainan neurologis maupun tanda neurologis fokal. Pada pemeriksaan
laboratorium darah didapatkan leukositosis 14,8 ribu/ul. Pemeriksaan urin didapatkan
warna urin kuning agak keruh,nitrit positif, ,ditemukan bakteri.


VI. DIAGNOSIS BANDING
Kejang Demam Kompleks + ISK
Kejang Demam Sederhana + ISK
Kejang et causa kelainan elektrolit + ISK
Meningitis + ISK
Enchepalitis + ISK
Epilepsi + ISK

V. DIAGNOSIS KERJA
Kejang demam kompleks + ISK



13

VII. PEMERIKSAAN ANJURAN
- Pemeriksaan elektrolit
- Pemeriksaan ulang urin lengkap
- Pemeriksaan ulang darah lengkap

VII. PENATALAKSANAAN
Non Medikamentosa
a. Komunikasi-Informasi-Edukasi kepada orang tua pasien mengenai keadaan pasien
b. Edukasi untuk memantau suhu dan pola kejang anak
Medikamentosa
1. IVFD Kaen1B 3cc/kgBB/ jam
2. PCT 130 mg bila S> 38 celcius
3. Diazepam 1mg bila S>38 Celcius

VIII. PROGNOSIS
Ad Vitam : ad bonam
Ad Sanationam : ad dubia ad bonam
Ad Fungtionam : ad bonam

FOLLOW UP
Tgl S O A P
13/6/14
Perawatan
hari 2


Kejang (-)
Demam (+)
BAK dan
BAB tidak
ada keluhan
Nafsu
makan baik


KU : Tampak sakit
sedang
KS : Compos mentis
TV : , N =88x/m, R
= 24x/m, S = 38,0
0
C
Kepala :LK=49cm
normosefali
Mata : CA -/-, SI -/-
THT : dbn, sekret (-)
Leher : KGB ttm
Tho : SN vesikuler,
rh -/-, wh -/-, BJ I-II
Kejang demam
kompleks

IVFD Kaen1B 3cc/
kgBB/jam
PCT 130mg bila S>38
celcius
Diazepam 1 mg jika
S>38.5 celcius
Periksa urin lengkap

14

reguler, m (-), g (-)
Abd : BU (+)
4x/menit, SD(+),
NT(+), H: tidak
teraba, L: S-0
Ext : akral hangat
++/++
Ptekiae : --/--
CRT <3s
Status neurologis :
TRM (-) RP (-
)RF(+),LNK(-)

14/6/14
Perawatan
hari 3

Kejang (-)
Demam (-)
BAK dan
BAB tidak
ada keluhan
Nafsu
makan baik

KU : Tampak sakit
sedang
KS : Compos mentis
TV : , N =84x/m, R
= 20x/m, S = 36,6
0
C
Kepala :LK=49cm
normosefali
Mata : CA -/-, SI -/-
THT : dbn, sekret (-)
Leher : KGB ttm
Tho : SN vesikuler,
rh -/-, wh -/-, BJ I-II
reguler, m (-), g (-)
Abd : BU (+)
4x/menit, SD(+),
NT(+), H: tidak
teraba, L: S-0
Ext : akral hangat
++/++
Ptekiae : --/--
Kejang demam
kompleks
ISK asimptomatik
IVFD Kaen1B 3cc/
kgBB/jam
PCT 130mg bila S>38
celcius
Diazepam 1 mg jika
S>38.5 celcius


15

CRT <3s
Status neurologis :
TRM (-) RP (-
)RF(+),LNK(-)

15/6/14
Perawatan
hari 4


Kejang (-)
Demam (-)
BAB dan
BAK tidak
ada keluhan
Nafsu
makan baik

KU : Tampak sakit
sedang
KS : Compos mentis
TV : N =110x/m, R
= 26x/m, S = 36,8
0
C
Kepala :LK 49
normosefali
Mata : CA -/-,SI -/-
THT : dbn, sekret (-)
Leher : KGB ttm
Tho : SN vesikuler,
rh -/-, wh -/-, BJ I-II
reguler, m (-), g (-)
Abd : BU (+)
2x/menit, SD(+),
NT(-), H:tidak
teraba, L: S-0
Ext : akral hangat
++/++
Ptekiae : --/--
CRT<3s
Status neurologis
TRM(-)RF(-)RP(-)
LNK(-)
Kejang Demam
kompleks
ISK Asimtomatik
Venflon
PCT 130 mg S > 38
celcius
Diazepam 1 mg S > 38.5
celcius
Boleh pulang:
Edukasi penanganan
kejang dan demam
-Bila kejang berulang
bawa ke igd




16

TINJAUAN PUSTAKA

KEJANG
DEFINISI
Kejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermitten dapat berupa
gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik, dan atau otonom yang
disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang berlebihan di neuron otak.
[1,2]


KRITERIA KEJANG
Diagnosis kejang ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan penunjang, sangat
penting membedakan apakah serangan yang terjadi adalah kejang atau serangan yang
menyerupai kejang. Perbedaan diantara keduanya adalah pada tabel berikut:
[3]













17

KLASIFIKASI
Setelah diyakini bahwa serangan ini adalah kejang, selanjutnya perlu ditentukan jenis kejang.
Saat ini klasifikasi kejang yang umum digunakan adalah berdasarkan Klasifikasi
International League Against Epilepsy of Epileptic Seizure [ILAE] 1981, yaitu dapat dilihat
pada tabel berikut:
[2,3,4]








ETIOLOGI
Langkah selanjutnya, setelah diyakini bahwa serangan saat ini adalah kejang adalah mencari
penyebab kejang. Penentuan faktor penyebab kejang sangat menentukan untuk tatalaksana
selanjutnya, karena kejang dapat diakibatkan berbagai macam etiologi. Adapun etiologi
kejang yang tersering pada anak dapat dilihat pada tabel berikut:








18

Etiologi kejang menurut usia:


1. Neonatus : Infeksi, perdarahan intrakranial, malformasi otak, asfiksia
neonatorum, hiperbilirubinemia, meabolik (hipoglikemia dan defisiensi
piridoksin), prematuritas.
2.Bayi dan Anak : Kejang demam, epilepsi, infeksi, idiopatik, gangguan elektrolit
(hiponatremia, hipernatremia dan hipokalsemia), keracunan teofilin,
alkohol, kokain, hipoglikemia, gangguan asam basa, defisiensi
piridoksin, genetik, penghentian OAE mendadak, tumor otak,
perdarahan intrakranial dan idiopatik.
3. Dewasa muda : Trauma, tumor, genetik, idiopatik, alkoholisme/ NAPZA.
4. Dewasa lanjut : CVD, metabolik, tumor, degeneratif


Secara umum penyebab kejang dapat dibagi menjadi :












19

KEJANG DEMAM
A. Definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh
(suhu rektal di atas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium, terjadi pada
anak berusia lebih dari 3 bulan dan tidak ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.
Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada anak
berusia sekitar 3 bulan sampai 5 tahun tanpa disertai infeksi intrakranial, gangguan
elektrolit, dan gangguan metabolik lainnya. Dari beberapa penelitian dijumpai 2-5% anak
di bawah usia 5 tahun mengalami kejang, baik kejang pertama maupun ulangan yang
didahului kenaikan suhu tubuh.
(5)

Menurut ILAE, International League Against Epilepsy, anak yang pernah
mengalami kejang tanpa demam, kemudian mengalami kejang demam tidak termasuk
dalam kejang demam.

Kejang disertai demam yang terjadi pada bayi berumur kurang dari
1 bulan juga tidak termasuk dalam kejang demam. Para ahli sepakat bahwa bila anak
yang berumur kurang dari 3 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang yang
didahului demam, harus dipikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP atau epilepsi
yang kebetulan terjadi bersama demam.

Kejang demam harus dibedakan dengan epilepsi,
yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam.

Definisi ini menyingkirkan kejang yang disebabkan penyakit saraf seperti
meningitis, ensefalitis atau ensefalopati. Kejang pada keadaan ini mempunyai prognosis
berbeda dengan kejang demam karena keadaan yang mendasarinya mengenai sistem
susunan saraf pusat.

B. Klasifikasi
Umumnya kejang demam ini dibagi menjadi dua golongan. Kriteria untuk
penggolongan tersebut dikemukakan oleh berbagai pakar. Dalam hal ini terdapat
beberapa perbedaan kecil dalam penggolongan tersebut, menyangkut jenis kejang,
tingginya demam, usia penderita, lamanya kejang berlangsung, gambaran rekaman otak,
dan lainnya.
20

Unit Kerja Koordinasi Neurologi IDAI 2006 membuat klasifikasi kejang demam
pada anak menjadi 2 yaitu: kejang demam sederhana (simple febrile seizure) dan kejang
demam kompleks (complex febrile seizure).
(7)
a. Kejang Demam Sederhana (Simple Febrile Seizure) merupakan 80% di antara
seluruh kejang demam.
Kejang demam berlangsung singkat
Durasi kurang dari 15 menit
Kejang dapat umum, tonik, dan atau klonik
Umumnya akan berhenti sendiri
Tanpa gerakan fokal
Tidak berulang dalam 24 jam
Pada kejang demam sederhana, kejang biasanya timbul ketika suhu
meningkat dengan mendadak, sehingga seringkali orang tua tidak mengetahui
sebelumnya bahwa anak menderita demam. Kenaikan suhu yang tiba-tiba
merupakan faktor yang penting untuk menimbulkan kejang.
Kejang pada kejang demam sederhana selalu berbentuk umum, biasanya bersifat
tonik klonik seperti kejang grand mal, kadang kadang hanya kaku umum atau
mata mendelik seketika. Kejang dapat juga berulang, tapi sebentar saja, dan
masih dalam waktu 16 jam meningkatnya suhu, umumnya pada kenaikan suhu
yang mendadak.
b. Kejang Demam Kompleks (Complex Febrile Seizure), 20% di antara seluruh
kejang demam.
Kejang lama dengan durasi lebih dari 15 menit.
Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang
parsial.
Berulang lebih dari 1 kali dalam 24 jam.
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang
berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan anak tidak sadar. Kejang lama terjadi
pada 8% kejang demam. Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum
yang didahului kejang parsial. Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1
hari, di antara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16 % di
antara anak yang mengalami kejang demam.
(6,8)
21


C. Faktor Risiko
Faktor risiko kejang demam pertama adalah demam.

Selain itu terdapat faktor
riwayat kejang demam pada orangtua atau saudara kandung, faktor prenatal (usia ibu
saat hamil, riwayat pre-eklampsi pada ibu, hamil primi/multipara, pemakaian bahan
toksik), faktor perinatal (asfiksia, bayi berat lahir rendah, usia kehamilan, partus lama,
cara lahir), faktor pasca natal (trauma kepala), jenis kelamin, dan kadar natrium rendah.
Setelah kejang demam pertama kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi
(kekambuhan), dan kira kira 9 % anak mengalami rekurensi 3 kali atau lebih, resiko
rekurensi meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam
timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan
riwayat keluarga epilepsi.
(3,5)
Kejang demam sangat tergantung pada umur, 85% kejang pertama sebelum
berumur 4 tahun, terbanyak di antara 17-23 bulan. Hanya sedikit yang mengalami kejang
demam pertama sebelum berumur 5-6 bulan atau setelah berumur 5-8 tahun. Biasanya
setelah berumur 6 tahun pasien tidak kejang demam lagi, walaupun pada beberapa
pasien masih dapat mengalami sampai umur lebih dari 5-6 tahun. Kejang demam
diturunkan secara autosomal dominan sederhana.
(4)
Faktor risiko berulangnya kejang demam:
Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko berulangnya
kejang demam adalah:
- Riwayat kejang demam dalam keluarga
- Usia kurang dari 12 bulan
- Temperatur yang rendah saat kejang
- Cepatnya kejang setelah demam
- Terdapat kelainan neurologis (meskipun minimal)
- Kejang awal yang unilateral
- Kejang berhenti lebih dari 30 menit
22

- Kejang berulang karena penyakit yang sama.
Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah
80 %, sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang
demam hanya 10 % - 15 %. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar
adalah pada tahun pertama.
(1,3)

D. Etiologi
Etiologi kejang demam hingga kini belum diketahui. Demamnya sering
disebabkan infeksi saluran pernapasan atas, otitis media, gastroenteritis, pneumonia,
bronkopneumonia, bronkhitis, tonsilitis, dan infeksi saluran kemih.
Konvulsi jauh lebih sering terjadi dalam 2 tahun pertama dibanding masa
kehidupan lainnya. Cedera intrakranial saat lahir termasuk pengaruh anoksia dan
perdarahan serta cacat kongenital pada otak, merupakan penyebab tersering pada bayi
kecil. Pada masa bayi lanjut dan awal masa kanak-kanak, penyebab tersering adalah
infeksi akut. Penyebab yang lebih jarang pada bayi adalah tetani, epilepsi idiopatik,
hipoglikemia, tumor otak, asfiksia, perdarahan intrakranial spontan serta trauma
postnatal.
Mendekati pertengahan masa kanak-kanak, infeksi ekstrakranial akut semakin
jarang menyebabkan konvulsi, tapi epilepsi idiopatik yang pertama kali muncul sebagai
penyebab penting pada tahun ketiga kehidupan, menjadi faktor paling umum. Penyebab
lain setelah masa bayi adalah kelainan kongenital otak, sisa kerusakan otak akibat
trauma, infeksi, dan tumor otak.
Demam yang disebabkan oleh imunisasi juga dapat memprovokasi kejang
demam. Anak yang mengalami kejang setelah imunisasi selalu terjadi waktu anak sedang
demam. Kejang setelah imunisasi terutama didapatkan setelah imunisasi DTP (pertusis)
dan morbili (campak).
Dari penelitian yang telah dilakukan Prof.Dr.dr.S.M.Lumbantobing pada 297
penderita kejang demam, 66(22,2%) penderita tidak diketahui penyebabnya (Baumann,
2002). Penyebab utama didasarkan atas bagian tubuh yang terlibat peradangan. Ada
23

penderita yang mengalami kelainan pada lebih dari satu bagian tubuhnya, misalnya
tonsilo-faringitis dan otitis media akut (lihat tabel).
Tabel 1. Penyebab demam pada 297 anak penderita kejang demam
Penyebab demam Jumlah penderita
Tonsilitis dan/atau faringitis
Otitis media akut (radang liang telinga tengah)
Enteritis/gastroenteritis (radang saluran cerna)
Enteritis/gastroenteritis disertai dehidrasi
Bronkitis (radang saiuran nafas)
Bronkopeneumonia (radang paru dan saluran nafas)
Morbili (campak)
Varisela (cacar air)
Dengue (demam berdarah)
Tidak diketahui
100
91
22
44
17
38
12
1
1
66

Pernah dilaporkan bahwa infeksi tertentu lebih sering disertai kejang demam
daripada infeksi lainnya. Sekitar 4,8%-45% penderita gastroenteritis oleh kuman
Shigella mempunyai risiko mengalami kejang demam yang lebih tinggi dibanding
penderita gastroenteritis oleh kuman penyebab lainnya.
Lahat dkk, 1984 mengemukakan bahwa tingginya angka kejadian kejang demam
pada Shigellosis dan Salmonellosis mungkin berkaitan dengan efek toksik akibat racun
yang dihasilkan kuman bersangkutan.
(7,8)

E. Patofisiologi dan Patogenesis
24

Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion
kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit lainnya,
kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ di dalam sel neuron tinggi dan
konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya.
Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat
perbedaan potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk menjaga
keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na K
ATPase yang terdapat pada permukaan sel.
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1
o
C akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10% - 15% dan kebutuhan oksigen 20%. Pada seorang anak berumur
3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang
dewasa yang hanya 15 %. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan
keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion
K+ maupun ion Na+ melalui membran tadi, sehingga mengakibatkannya lepas muatan
listrik.
Lepasnya muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh
sel maupun membran sel tetangganya dengan bantuan neurotransmiter dan terjadilah
kejang. Kejang tersebut kebanyakan terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang
tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi di luar SSP, misalnya infeksi pada telinga,
dan infeksi saluran pernafasan lainnya.
Kejang umumnya berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti, anak tidak memberi
reaksi apapun untuk sejenak, tetapi beberapa detik/menit kemudian anak akan terbangun
dan sadar kembali tanpa kelainan saraf. Kejang demam yang berlangsung singkat
umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi kejang yang
berlangsung lama (> 15 menit) sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kerusakan
permanen otak.
Kejang yang berlangsung lama biasanya disertai terjadinya apnea, meningkatnya
kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akibatnya terjadi
hipoksemia, hiperkapnea, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik, dan
suhu tubuh yang makin meningkat disebabkan karena meningkatnya aktifitas otot dan
selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian di atas
adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya
25

kejang lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan
hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang
mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kejang demam yang berlangsung lama juga
dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsy
(5)





F. Manifestasi Klinis
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan
kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan
saraf pusat, misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkitis, furunkulosis, dan lain-lain.
Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung
singkat dengan sifat bangkitan kejang dapat berbentuk tonik-klonik bilateral, tonik,
klonik, fokal atau akinetik. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata
terbalik ke atas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan semakin berulang
tanpa didahului kekakuan atau hanya sentakan atau kekakuan fokal.Sebagian kejang
berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari 8% berlangsung lebih dari 15 menit.
Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reaksi
apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit, anak kembali terbangun
26

dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti hemiparesis sementara
(hemiparesis Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang
unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang
yang lama lebih sering terjadi pada kejang demam yang pertama. Jika kejang tunggal
berlangsung kurang dari 5 menit, maka kemungkinan cedera otak atau kejang menahun
adalah kecil.
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada penderita
yang sebelumnya normal. Kelainan neurologis terjadi pada sebagian kecil penderita, ini
biasanya terjadi pada penderita dengan kejang lama atau berulang baik umum atau fokal.
Gangguan intelek dan gangguan belajar jarang terjadi pada kejang demam sederhana. IQ
lebih rendah ditemukan pada penderita kejang demam yang berlangsung lama dan
mengalami komplikasi. Risiko retardasi mental menjadi 5 kali lebih besar apabila kejang
demam diikuti terulangnya kejang tanpa demam.
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan
kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan
saraf pusat, misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkitis, furunkulosis dan lain-lain.
Secara umum, gejala klinis kejang demam adalah sebagai berikut
Demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba)
Kejang tonik-klonik atau grand mal
Penurunan kesadaran yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi
pada anak-anak yang mengalami kejang demam)
Postur tonik
Gerakan klonik
Lidah atau pipi tergigit
Gigi atau rahang terkatup rapat
Inkontinensia
Gangguan pernafasan
Apneu
Cyanosis.
Setelah mengalami kejang biasanya :
27

Akan kembali sadar dalam waktu beberapa menit atau tertidur selama 1 jam atau
lebih.
Terjadi amnesia dan sakit kepala.
Mengantuk
Linglung
Jika kejang tunggal berlangsung kurang dari 5 menit, maka kemungkinan terjadinya
cedera otak atau kejang menahun adalah kecil.
(3,4)

G. Diagnosis
Langkah diagnostik untuk kejang demam adalah (Pusponegoro, Widodo, Ismael, 2006):
Anamnesis
a. Adanya kejang, sifat kejang, bentuk kejang, kesadaran selama dan setelah
kejang, durasi kejang, suhu sebelum/saat kejang, frekuensi, interval antara 2
serangan kejang, penyebab demam di luar susunan saraf pusat.
b. Riwayat demam sebelumnya (sejak kapan, timbul mendadak atau perlahan,
menetap atau naik turun).
c. Riwayat kejang sebelumnya (kejang disertai demam maupun tidak disertai
demam atau epilepsi).
d. Riwayat gangguan neurologis (menyingkirkan diagnosis epilepsi).
e. Riwayat trauma kepala.
f. Riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga.
g. Menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam (ISPA, OMA, dan
lain-lain).
h. Singkirkan penyebab kejang lainnya.
Pemeriksaan Fisik dan Neurologis
Pemeriksaan fisik yang harus dilakukan adalah:
a. Tanda vital terutama suhu tubuh
b. Manifestasi kejang yang terjadi
c. Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau molase kepala berlebihan
d. Pemeriksaan untuk menentukan penyakit yang mendasari terjadinya demam
e. Tanda peningkatan tekanan intrakranial
f. Tanda infeksi di luar SSP.
28

Pemeriksaan neurologis antara lain:
a. Tingkat kesadaran
b. Tanda rangsang meningeal
c. Tanda refleks patologis
Umumnya pada kejang demam tidak dijumpai adanya kelainan neurologis,
termasuk tidak ada kelumpuhan nervi kranialis.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab kejang
demam, di antaranya:
a. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah tepi lengkap, gula darah, elektrolit, kalsium serum,
urinalisis, biakan darah, urin atau feses.
b. Pungsi lumbal
Pungsi lumbal adalah pemeriksaan cairan serebrospinal yang dilakukan
untuk menyingkirkan meningitis, terutama pada pasien kejang demam
pertama. Pada bayi-bayi kecil seringkali gejala meningitis tidak jelas, sehingga
pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan dan
dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18 bulan. Berdasarkan penelitian,
cairan serebrospinal yang abnormal umumnya diperoleh pada anak dengan
kejang demam yang:
- Memiliki tanda peradangan selaput otak (contoh: kaku kuduk)
- Mengalami komplex partial seizure
- Kunjungan ke dokter dalam 48 jam sebelumnya (sudah sakit dalam 48 jam
sebelumnya)
- Kejang saat tiba di IGD
- Keadaan post ictal (pasca kejang) yang berkelanjutan. Mengantuk hingga
sekitar 1 jam setelah kejang demam adalah normal.
- Kejang pertama setelah usia 3 tahun.
Pada anak dengan usia lebih dari 18 bulan, pungsi lumbal dilakukan
jika tampak tanda peradangan selaput otak, atau ada riwayat yang
29

menimbulkan kecurigaan infeksi sistem saraf pusat. Pada anak dengan kejang
demam yang telah menerima terapi antibiotik sebelumnya, gejala meningitis
dapat tertutupi, karena itu pada kasus seperti itu lumbal pungsi sangat
dianjurkan untuk dilakukan.
(8,9)
Pada bayi kecil, klinis meningitis tidak jelas, maka tindakan pungsi lumbal
dikerjakan dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Bayi < 12 bulan : diharuskan.
2. Bayi antara 12 18 bulan : dianjurkan.
3. Bayi > 18 bulan : tidak rutin,
kecuali bila ada tanda-tanda
meningitis.
Bila secara klinis yakin bukan meningitis, maka tidak perlu dilakukan pungsi
lumbal.
Indikasi Pungsi Lumbal:
Jika ada kecurigaan klinis meningitis
Kejang demam pertama
Pasien telah mendapat antibiotik
Adanya paresis atau paralisis
c. EEG dipertimbangkan pada kejang demam yang tidak khas. Misalnya kejang
demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam fokal.
EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk meneliti
ketidaknormalan otak. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan pada
kejang demam yang baru terjadi sekali tanpa adanya defisit neurologis. Tidak ada
penelitian yang menunjukkan bahwa EEG yang dilakukan saat kejang demam atau
segera setelahnya atau sebulan setelahnya dapat memprediksi akan timbulnya
kejang tanpa demam di masa yang akan datang. Walaupun dapat diperoleh
gambaran gelombang yang abnormal setalah kejang demam, gambaran tersebut
tidak bersifat prediktif terhadap risiko berulangnya kejang demam atau risiko
epilepsi.
EEG dapat memperlihatkan gelombang lambat di daerah
belakang yang yang bilateral, sering asimetris, kadang-kadang unilateral.
30

Perlambatan ditemukan pada 88% pasien bila EEG dikerjakan pada hari
kejang dan ditemukan pada 33% pasien bila EEG dilakukan tiga sampai
tujuh hari setelah serangan kejang. Saat ini pemeriksaan EEG tidak dianjurkan
untuk pasien kejang demam sederhana.
Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi
berulangnya kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada
pasien kejang demam. Oleh karenanya, tidak direkomendasikan. Pemeriksaan
EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas.
Misalnya kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun atau kejang
demam fokal.
d. Pencitraan
Foto X-Ray kepala dan pencitraan seperti Computed Tomography Scan
(CT-scan) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan,
tidak rutin dan hanya atas indikasi seperti :
Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)
Kemungkinan lesi struktural otak (mikrocephal, spastik)
Paresis nervus VI
Papil edema
Riwayat atau tanda klinis trauma
Diagnosis kejang demam ditegakkan berdasarkan kriteria Livingston yang
telah dimodifikasi, yang merupakan pedoman yang dipakai oleh Sub Bagian Saraf
Anak IKA FKUI-RSCM Jakarta, yaitu:

1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan 6 tahun
2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit
3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat setidaknya 1 minggu setelah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan.
7. Frekuensi bangkitan kejang dalam satu tahun tidak melebihi 4 kali
Secara klinis umumnya tidak sulit untuk menegakkan diagnosis kejang
demam, dengan adanya gejala kejang pada suhu badan yang tinggi serta tidak
31

didapatkan gejala neurologis lain dan anak segera sadar setelah kejang berlalu.
Tetapi perlu diingat bahwa kejang dengan suhu badan yang tinggi dapat pula
tejadi pada kelainan lain, misalnya pada radang selaput otak (meningitis) atau
radang otak (ensefalitis).
Pemeriksaan cairan serebrospinal dapat dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama dan
dengan usia kurang dari 1 tahun. Elektroensefalografi (EEG) ternyata kurang
mempunyai nilai diagnostik, EEG tidak dapat digunakan untuk memperkirakan
kemungkinan terjadinya epilepsi atau kejang demam berulang di kemudian hari.
Saat ini pemeriksaaan EEG tidak dianjurkan untuk pasien kejang demam
sederhana. Pemeriksaan laboratorium tidak dianjurkan dan dikerjakan untuk
mengevaluasi sumber infeksi. Pasien dengan keadaan diare, muntah dan gangguan
keseimbangan cairan dapat diduga terdapat gangguan metabolisme akut, sehingga
pemeriksaan elektrolit diperlukan. Pemeriksaan labratorium lain perlu dilakukan
untuk mencari penyebab timbulnya demam.
(9)

H. Diagnosis Banding
Menghadapi seorang anak yang menderita kejang dengan demam, harus
dipikirkan apakah penyebab dari kejang itu di dalam atau di luar susunan saraf pusat
(otak). Kelainan di dalam otak biasanya karena infeksi, misalnya meningitis,
ensefalitis, dan abses otak. Oleh karena itu perlu waspada untuk menyingkirkan
apakah ada kelainan organis di otak. Baru sesudah itu dipikirkan apakah kejang
demam ini tergolong dalam kejang demam sederhana atau kejang demam kompleks.

Infeksi susunan saraf pusat dapat disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan cairan
serebrospinal.
Kejang demam yang berlangsung lama kadang-kadang diikuti hemiparesis
sehingga sukar dibedakan dengan kejang karena proses intrakranial. Sinkop juga
dapat diprovokasi oleh demam dan sukar dibedakan dengan kejang demam. Anak
dengan demam tinggi dapat mengalami delirium, menggigil, pucat, dan sianosis,
sehingga menyerupai kejang demam.

32


Diagnosis Banding Kejang Demam:
1. Kelainan Intrakranium
o Meningitis
o Encephalitis
o Abses otak
2. Gangguan metabolik
o Hipoglikemi
o Gangguan elektrolit
o Sinkop
3. Epilepsi Epilepsi Triggered by Fever (ETOF)
Oleh karena cukup banyaknya diagnosis banding, sangat sulit bagi kita untuk
menentukan penyakit atau kelainan yang menyebabkan terjadinya bangkitan kejang
tersebut.
(3,6,8)

Tabel 2. Diagnosis banding infeksi susunan saraf pusat.
Klinis/Lab Ensefalitis
Herpes
Simpleks
Meningitis
Bacterial/
Purulenta
Meningitis
Tuberkulosa
Meningitis
Virus
Kejang Demam
Awitan
Demam
Tipe kejang
Singkat/lama

Kesadaran
Pemulihan
Akut
< 7 hari
Fokal/umum
Singkat

Sopor-koma

Akut
< 7 hari
Umum
Singkat

Apatis-somnolen

Kronik
>7 hari
Umum
Singkat

Somnolen-sopor

Akut
< 7 hari
Umum
Lama>15
menit
Sadar-apatis

Akut
< 7 hari
Umum/fokal


Somnolen
33

kesadaran
Tanda
rangsang
meningeal
Tekanan
intrakranial
Paresis
Pungsi
lumbal
Etiologi

Terapi
Lama

-

Sangat
meningkat
+++/-

Jernih
Normal/limfo
Virus HS
Antivirus
Cepat

++/-


Meningkat
+/-

Keruh/opalesen
Segmenter/limf
Bakteri
Antibiotik
Lama

++/-

Sangat
meningkat
+++

Jernih/xanto
Limfo/segmen
M.Tuberculosis
Anti TBC
Cepat

+/-


Normal
-

Jernih
Normal
Virus
Simtomatik

Cepat

-


Normal
-

Jernih
Normal
Di luar SSP
Penyakit dasar

I. Penatalaksanaan
Dalam penanggulangan kejang demam ada 3 faktor yang perlu dikerjakan,
yaitu: pengobatan fase akut, mencari dan mengobati penyebab dan pengobatan
profilaksis terhadap berulangnya kejang demam.

1.Pengobatan Fase Akut
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien dimiringkan
untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan nafas harus bebas agar
oksigenasi terjamin. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu,
pernafasan, dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres
air hangat dan pemberian antipiretik.
34

Kejang demam terjadi akibat adanya demam, maka tujuan utama pengobatan
adalah mencegah terjadinya peningkatan demam oleh karena itu pemberian obat
obatan antipiretik sangat diperlukan. Obat obatan yang dapat digunakan sebagai
antipiretik adalah asetaminofen 10 - 15 mg/kgBB/hari setiap 4 6 jam atau ibuprofen
5 10 mg/kgBB/hari setiap 4 6 jam.
(9)

Algoritma Penanganan Kejang Demam Akut dan Status Konvulsif

















Diazepam 5-10
mg/rektal
0-10 menit Pre-hospital
Airway
Breathing
Circulation
Diazepam 0,25-0,5
mg/kg/iv
Hospital Monitor 10-20 menit
Tanda vital
EKG
Elektrolit serum
(Na, K, Ca, Mg, Cl)
Analisis gas darah
Fenitoin 20
mg/kg/iv
Kejang (-)
5-7 mg/kg
20-30 menit
Phenobarbital
20 mg/kg/iv
Kejang (-)
4-5 mg/kg
30-60 menit
Refrakter
Midazolam 0,2
mg/kg/iv bolus
35

Tatalaksana penghentian kejang akut dapat dilaksanakan sebagai berikut:
1. Di Rumah (pre hospital):
Penanganan kejang di rumah dapat dilakukan oleh orangtua dengan
pemberian diazepam per rektal dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg atau secara
sederhana bila berat badan kurang dari 10 kg diberikan 5 mg, sedangkan
jika berat badan lebih dari 10 kg diberikan 10 mg. Pemberian di rumah
diberikan maksimum 2 kali dengan interval 5 menit. Bila kejang masih
berlangsung, bawa pasien ke klinik atau rumah sakit terdekat.
2. Di Rumah Sakit
Saat tiba di klinik atau rumah sakit, bila belum terpasang cairan intravena,
dapat diberikan diazepam per rektal ulangan 1 kali, sambil mencari akses
vena. Sebelum dipasang cairan intravena, sebaiknya dilakukan
pengambilan darah untuk pemeriksaan darah tepi, elektrolit, dan gula
darah sesuai indikasi.
Bila terpasang cairan intravena, berikan fenitoin i.v dengan dosis 20 mg/kg
dilarutkan dalam NaCl 0,9%, diberikan perlahan-lahan dengan kecepatan
pemberian 50 mg/menit. Bila kejang belum teratasi, dapat diberikan
tambahan fenitoin i.v 10 mg/kg. Bila kejang teratasi, lanjutkan pemberian
fenitoin setelah 12 jam, kemudian dengan rumatan 5-7 mg/kg.
Bila kejang belum teratasi, berikan fenobarbital i.v dengan dosis
maksimum 15-20 mg/kg dengan kecepatan pemberian 100 mg/menit.
Awasi dan atasi kelainan metabolik yang ada. Bila kejang berhenti,
lanjutkan dengan pemberian fenobarbital i.v rumatan 4-5 mg/kg setelah 12
jam kemudian.
3. Perawatan Intensif di Rumah Sakit
Bila kejang belum berhenti, dilakukan intubasi dan perawatan di ruang
intensif. Dapat diberikan salah satu dari obat berikut:
Midazolam 0,2 mg/kg diberikan bolus perlahan-lahan, diikuti infus
midazolam 0,01-0,02 mg/kg/menit selama 12-24 jam.
Propofol 1 mg/kg selama 5 menit, dilanjutkan dengan 1-5
mg/kg/jam dan diturunkan setelah 12-24 jam.
36

Pentobarbital 5-15 mg/kg dalam 1 jam, dilanjutkan dengan 0,5-5
mg/kg/jam.
(8)

2. Mencari dan Mengobati Penyebab
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama.
Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan lumbal pungsi hanya pada kasus
yang dicurigai mengalami meningitis, atau bila kejang demam berlangsung lama.
Pada bayi kecil manifestasi klinis meningitis sering tidak jelas, sehingga pungsi
lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan dan dianjurkan pada
pasien berumur kurang dari 18 bulan. Pemeriksaan laboratorium lain perlu dilakukan.
3. Pengobatan Profilaksis
Pencegahan berulangnya kejang demam perlu dilakukan karena menakutkan
dan bila sering berulang menyebabkan kerusakan otak menetap. Ada 2 cara
profilaksis, yaitu:
a. Profilaksis intermiten pada waktu demam untuk kejang demam sederhana
Antikonvulsan hanya diberikan pada waktu pasien demam dengan ketentuan
orangtua pasien atau pengasuh mengetahui dengan cepat adanya demam pada
pasien. Obat yang diberikan harus cepat diabsorpsi dan cepat masuk ke otak.
Hal yang demikian sebenarnya sukar dipenuhi. Peneliti-peneliti sekarang tidak
mendapat hasil dengan fenobarbital intermiten. Diazepam intermiten
memberikan hasil lebih baik karena penyerapannya cepat. Dapat digunakan
diazepam intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg untuk pasien dengan berat
badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk pasien dengan berat badan lebih dari
10 kg, setiap pasien menunjukkan suhu 38,5
o
C atau lebih. Diazepam dapat
pula diberikan oral dengan dosis 0,3 mg/kg BB/hari setiap 8 jam pada waktu
pasien demam. Efek samping diazepam adalah ataksia, mengantuk dan
hipotonia.
Kepustakaan lain menyebutkan bahwa pemberian diazepam tidak selalu
efektif karena kejang dapat terjadi pada onset demam sebelum diazepam
sempat diberikan. Efek sedasi diazepam juga dikhawatirkan dapat menutupi
gejala yang lebih berbahaya, seperti infeksi sistem saraf pusat.
(3)
37

b. Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan tiap hari (rumatan) untuk
kejang demam kompleks.
Profilaksis terus menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang
demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak, tapi tidak dapat
mencegah terjadinya epilepsi di kemudian hari. Profilaksis setiap hari terus
menerus hanya diberikan jika kejang demam mempunyai ciri sebagai berikut
(salah satu / lebih):
1. Kejang lama lebih dari 15 menit
2. Kelainan neurologi yang nyata sebelum/sesudah kejang, seperti
hemiparesis, paresis Todd, serebal palsi, retardasi mental, hidrosefalus.
3. Kejang fokal.
Antikonvulsan yang dapat diberikan antara lain fenobarbital 3-4
mg/kgBB/hari dibagi dalam 1-2 dosis. Obat lain yang digunakan adalah asam
valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis.
Profilaksis terus menerus dapat dipertimbangkan jika:
1. Kejang berulang 2 kali atau lebih dalam 24 jam
2. Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan
3. Kejang demam lebih dari 4 kali dalam 1 tahun.
Antikonvulsan terus menerus diberikan selama 1-2 tahun setalah kejang
terakhir dan dihentikan bertahap selama 1-2 bulan. Pemberian obat ini efektif
dalam menurunkan risiko berulangnya kejang.
(5)
Indikasi Rawat Inap:
Pasien kejang demam dirawat di rumah sakit pada keadaan berikut :
a. Kejang demam kompleks
b. Hiperpireksia
c. Usia di bawah 6 bulan
d. Kejang demam pertama
e. Dijumpai kelainan neurologis
J. Edukasi Pada Orang Tua
38

Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada
saat kejang, sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya bisa meninggal.
Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara :
1. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya benigna
2. Memberikan cara penanganan kejang
3. Memberikan informasi kemungkinan kejang kembali
4. Terapi memang efektif mencegah rekurensi tetapi mempunyai efek samping.
5. Tidak ada bukti bahwa terapi akan mengurangi angka kejadian epilepsi.

Beberapa Hal yang Harus Dikerjakan Bila Kembali Kejang
1. Tetap tenang dan tidak panik
2. Kendorkan pakaian yang ketat, terutama di sekitar leher
3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan
muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah
tergigit, jangan memasukan sesuatu ke dalam mulut.
4. Ukur suhu, observasi, dan catat lama dan bentuk kejang
5. Tetap bersama pasien selama kejang
6. Berikan diazepam rectal, dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
7. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.
(7)

K. Prognosis
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosis kejang demam baik
dan tidak menyebabkan kematian. Dari penelitian yang ada, frekuensi terulangnya
kejang berkisar antara 25%-50%, yang umumnya terjadi pada 6 bulan pertama.
Apabila melihat dari usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga, mendapatkan:
39

Pada anak yang berusia kurang dari 13 tahun, terulangnya kejang pada anak
perempuan sebesar 50% dan anak laki-laki sebesar 33%.
Pada anak yang berusia 14 bulan dan 3 tahun dengan riwayat keluarga adanya
kejang, terulangnya kejang adalah 50%, sedangkan pada anak tanpa riwayat
kejang sebesar 25%.
Angka kejadian epilepsi berbeda-beda, tergantung dari cara penelitian,
misalnya Lumbantobing pada penelitiannya mendapatkan 6%, sedangkan Livingston
mendapatkan dari golongan kejang demam sederhana hanya 2,9% yang menjadi
epilepsi dan dari golongan epilepsi yang diprovokasi oleh demam ternyata 97%
menjadi epilepsi.
Risiko yang akan dihadapi oleh seorang anak sesudah menderita kejang
demam tergantung dari faktor:
1. Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga.
2. Kelainan dalam perkembangan, atau kelainan saraf sebelum anak menderita
kejang demam.
3. Kejang yang berlangsung lama, atau kejang fokal.
Bila terdapat paling sedikit 2 dari ketiga faktor di atas, maka dikemudian hari
akan mengalami serangan kejang tanpa demam sekitar 13%, dibandingkan jika hanya
terdapat 1 atau tidak sama sekali dari faktor tersebut di atas, serangan kejang tanpa
demam hanya 2%-3% saja. Pada penelitian yang dilakukan oleh The National
Collaborative Perinatal Project di Amerika Serikat, dari 1706 anak pasca kejang
demam diikuti perkembangannya sampai usia 7 tahun, tidak didapatkan kematian
sebagai akibat kejang demam. Kemudian anak dengan kejang demam ini
dibandingkan dengan saudara kandungnya yang normal dengan tes IQ. Angka rata-
rata pada anak yang pernah mengalami kejang demam adalah 93%. Skor ini tidak
berbeda bermakna dari saudara kandungnya. Sedangkan pada anak yang sebelum
mengalami kejang demam sudah abnormal, atau dicurigai menunjukkan gejala yang
abnormal, mempunyai total IQ yang lebih rendah daripada saudara kandungnya. Hasil
yang diperoleh The National Collaborative Perinatal Project ini hampir serupa
dengan yang didapatkan di Inggris oleh The National Child Development Study, yaitu
didapatkan bahwa anak yang pernah mengalami kejang demam kinerjanya tidak
berbeda dengan populasi umum saat dilakukan tes pada usia 7 dan 11 tahun.
40

Pada penelitian yang dilakukan oleh Ellenberg dan Nelson, tidak didapatkan
adanya perbedaan IQ saat diperiksa pada usia 7 tahun antara anak dengan kejang
demam dan kembarannya yang tidak mengalami kejang demam. Dengan
penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak menyebabkan
kematian. Hasil dari 2 penelitian, didapatkan angka kematian akibat kejang demam ini
sebesar 0,46% dan 0,74%. Dari penelitian yang ada, frekuensi terulangnya kejang
berkisar antara 25%-50% yang umumnya terjadi pada 6 bulan pertama.
(2,8)

Faktor resiko terjadinya epilepsi
Faktor resiko menjadi epilepsi di kemudian hari:
a. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam
pertama.
b. Kejang demam kompleks
c. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung
Masing masing faktor resiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai
4 % - 6 %, kombinasi dari faktor resiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsi
menjadi 10 % - 49 %. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan
pemberian obat rumat pada kejang demam.

L. Komplikasi
Walaupun kejang demam dapat menyebabkan kekhawatiran dan mengambil
perhatian yang besar dari orang tua, sebagian besar kejang demam tidak menimbulkan
efek yang menetap. Kejang demam jika diterapi dengan tepat, tidak menyebabkan
kerusakan otak, retardasi mental, gangguan belajar, atau epilepsi dikemudian hari.
(8)
Apabila tidak diterapi dengan baik, kejang demam dapat berkembang menjadi:
1. Kejang demam berulang dengan frekuensi berkisar antara 25 % - 50 %.
Umumnya terjadi pada 6 bulan pertama.
2. Epilepsi
41

Resiko terjadinya epilepsi rendah.
3. Kelainan motorik
4. Gangguan mental dan belajar
5. Kemungkinan mengalami kematian sebesar 0,46% dan 0,74%.
Komplikasi paling sering dari kejang demam adalah kemungkinan terjadinya
kejang demam lagi. Kira-kira sepertiga anak yang pernah kejang demam akan
mengalami kejang lagi pada demam berikutnya. Risiko kambuh lebih tinggi jika anak
mengalami demam yang tidak terlalu tinggi pada saat pertama kali mengalami kejang
demam. Jika waktu antara permulaan demam dan kejang pendek, atau jika ada
anggota keluarga yang memiliki riwayat kejang demam. Tetapi factor yang paling
berpengaruh adalah usia. Anak yang lebih muda saat kejang demam pertama kali,
kemungkinan besar akan mengalami kejang demam lagi.
(4,5)

M. Pencegahan
Kejang bisa terjadi jika suhu tubuh naik atau turun dengan cepat. Pada
sebagian besar kasus, kejang terjadi tanpa terduga atau tidak dapat dicegah. Dahulu
digunakan obat anti kejang sebagai tindakan pencegahan pada anak-anak yang sering
mengalami kejang demam. Sekarang hal tersebut sudah jarang dilakukan. Kepada
anak-anak yang cenderung mengalami kejang demam pada saat menderita demam
dapat diberikan diazepam (baik secara oral atau melalui rektal).
(6)







42

DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Pediatrics. Practice Parameter: Long-term Treatment of
the Child with Simple Febrile Seizure. 1999; 6: 1307-1309. Sumber Tulisan:
http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/full/pediatrics
2. Asril Aminulah, Prof Bambang Madiyono. Hot Topik In Pediatric II : Kejang
Pada Anak. Cetakan ke-2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2002.
3. Baumann Robert, MD. Febrile Seizures. 2002. Sumber Tulisan: http://www.
Emedicine.com/neuro/topic134.htm
4. Baumann RJ. Technical Report: Treatment of The Child with Simple Febrile
Seizures. 2004. http://www.pediatric.org/egi/content/full/103/e86.
5. Behrman, Richard E., Robert M. Kliegman., Hal B. Jenson. Nelson Ilmu
Kesehatan Anak : Kejang Demam. 18 edition. Jakarta : EGC. 2007.
6. Berg AT, Shinnar S, Levy SR, Testa FM. Childhood-Onset Epilepsy With and
Without Preceeding Febrile Seizures. Neurology, vol. 53, no. 8, 1999 : 23-34.
7. Duffer PK, Baumann RJ. A Synopsis of the American Academy of Pediatrics
Practice Parameter on The Evaluation and Treatment of Children with
Febrile Seizures. Pediatrics in Review, vol. 20, No. 8, 1999: 285 7.
8. Haslam Robert H. A. Sistem Saraf, dalam Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol.
3, Edisi 15. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 2000; XXVII : 2059
2060.
9. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2004. Kejang Demam. Dalam : Standar
Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Jakarta : Badan Penerbit IDAI : 209.