Anda di halaman 1dari 11

an efektif.

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang telah dilakukan oleh


peneliti di SMAN 15 Bandung, kenyataan yang ada dilapangan yang dilakukan
peneliti pada kelas X-4 partisipaisi belajar siswa sangat kurang dan hal ini dapat
terlihat dari permasalahan yang ada yaitu (1) pemahaman siswa terhadap materi PKn
3
masih dirasakan kurang terlihat saat guru melontarkan pertanyaan hanya salah satu
dari siswa yang dapat menjawab (2) kepemilikan buku sumber PKn cukup kurang
hanya mengacu pada satu sumber yaitu LKS dan hal ini salah satu yang menyebabkan
siswa jarang membaca, (3) adapun keaktifan, hanya dimiliki oleh siswa tertentu saja
sedangkan siswa yang lain bersikap pasif dan acuh terhadap pelajaran yang diberikan.
Jika melihat kondisi tersebut, terkadang guru sebagai pengajar hanya dapat menyuruh
siswa mengerjakan tugas.
Dari pihak siswa, seperti yang telah diuraikan sebelumnya yang dikeluhkan
siswa yaitu terlalu monotonnya pelaksanaan proses pembelajaran di kelas terutama
dalam penggunaan metode dan media. Metode yang digunakan yaitu berupa ceramah
yang kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab, dan medianya hanya kapur dan
papan tulis. Jika sesekali guru menyuruh siswa membuat pertanyaan yang kemudian
dibahas bersama. Disini yang terjadi hanya siswa itu-itu saja yang menjawab dan
bertanya. Keberanian siswa dalam mengemukakan dan memecahkan masalah masih
sangat kurang.
Adapun masalah yang paling menonjol di kelas ini adalah kurangnya
membaca, sehingga pemahaman terhadap materi PKn masih kurang dan
keikutsertaan/keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran akan sangat tidak
dirasakan keberadaannya. Dalam pembelajaran PKn yang isi muatan materinya
berupa teori dan hapalan, sehingga mengakibatkan para siswa dituntut untuk
menghapal materi-materi secara konseptual saja. Akan tetapi hal ini justru yang
membuat siswa menjadi merasa jenuh, malas dan pembelajaran di kelas akan terasa
4
tidak hidup. Dalam masalah seperti ini guru PKn perlu mencari pemecahan agar
siswa merasa terlibat dan berkesan dalam belajar PKn.
Dengan adanya permasalahan tersebut, maka peneliti dan guru sebagai
pelaksana pendidikan berkewajiban untuk berperan serta dalam upaya perbaikan
pembelajaran. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti dan dengan
melihat permasalahan yang muncul ketika itu, maka peneliti mencoba untuk
menerapkan suatu model pembelajaran yaitu model pembelajaran group
investigation. Di dalam model group investigation ini siswa diajak terlibat dalam
proses investigasi tugas kelompok. Kegiatan seseorang dalam pembelajaran inilah
dinamakan partisipasi (Hamalik, 2003). Berpartisipasi berarti siswa memiliki
keterlibatan langsung baik secara fisik maupun secara psikis. Terkait dengan konsep
aktivitas, bahwa setiap kegiatan belajar harus melibatkan diri setiap individu terjun
mengalami. Kehadiran siswa secara fisik di dalam kelas belum tentu akan membawa
hasil belajar yang optimal kalau tidak disertai dengan keterlibatan fikiran, mental
emosional secara maksimal.
Suryadi (1983 : ix) Dewasa ini diharapkan tumbuh kesadaran yang makin
kuat dikalangan pendidikan bahwa proses belajar mengajar itu akan lebih efektif
apabila siswa aktif berpartisipasi dalam proses tersebut. Hal ini sejalan denagan
Sudjana (1993:v) menyarankan bahwa kegiatan belajar partisipasi perlu
dikembangkan karena kegiatan belajar ini lebih cocok digunakan dalam
mengembangkan potensi-potensi belajar para warga belajar atau peserta didik untuk
berperan aktif di dalam belajar bersama.
5
Penelitian di lapangan banyak memberikan fakta bahwa Pendidikan
Kewarganegaraan baik diterima ataupun tidak menunjukan bukan mata pelajaran
yang favorit terutama jika dilihat dari siswa itu sendiri. PKn Mata pelajaran Pkn tidak
jarang mengundang komentar yang merupakan pelajaran yang menjenuhkan,
membosankan dan tidak menarik. Masalah kebosanan merupakan sebuah kata yang
sering kita dengar di setiap pelajaran. Kebosanan sendiri merupakan masalah dimana
jika seseorang selalu melihat, dan mengalami peristiwa yang sama secara berulangulang
dan terus menerus. Dengan kebosanan tadi siswa akan merasa jenuh dan
partisipasi terhadap mata pelajaran pun akan dirasakan sangat kurang. Untuk itu kita
sebagai generasi penerus harus mengembangkan proses pembelajaran PKn agar
menjadi lebih baik (Harun, 2002:36).
Untuk dapat mewujudkan keterampilan sosial dan mengobati permasalahan
yang terjadi khususnya dalam partisipasi siswa, guru hendaknya tidak hanya
menuntut siswa untuk menghapal materi-materi secara konseptual saja, tetapi lebih
jauh siswa mampu mengaplikasikan secara cerdas dan bertanggung jawab. Guru juga
harus mampu melaksanakan pembelajaran dengan multi media, model dan teknik
pembelajaran yang kompleks, sehingga pembelajaran tidak monoton dan dapat
menciptakan pembelajaran aktif dan menyenangkan bagi siswa. Oleh karena itu,
dalam mencapai tujuan pembelajaran PKn membentuk warga negara yang baik, guru
dapat menerapkan beberapa model pembelajaran.
Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas.
Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan karena dapat membantu guru dalam
6
memecahkan masalah-masalah yang terjadi di kelas seperti membantu dalam
meningkatkan pemahaman siswa dalam meningkatkan partisipasi di kelas. Menurut
Hopkins ( Wiriaatmadja, 2008:11), mengemukakan bahwa: Penelitian tindakan kelas
adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan
subtantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha
seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah
proses perbaikan dan perubahan Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan
Penelitian Tindakan Kelas. Selain itu, melalui PTK dapat dirancang rencana
pembelajaran dan sekaligus penerapannya di kelas melalui metode cooperative
learning dengan teknik group investigation.
Pembelajaran kooperatif dirancang untuk membantu terjadinya pembagian
tanggung jawab ketika siswa mengikuti pembelajaran. Model pembelajaran
kooperatif dipandang sebagai proses pembelajaran yang aktif karena siswa berbagi
tanggung jawab dengan siswa lainnya khususnya dalam partisipasi. Dengan
demikian, maka proses pelakonan terjadi dan pengenalan pengetahuan secara
aplikatif. Berpartispasi berarti siswa ikut ambil bagian dan berperan serta dalam
kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian suatu pendekatan pembelajaran yang
mampu melibatkan siswa secara langsung aktif melakukan perbuatan, hasilnya akan
lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan yang hanya sekedar menuangkan
pengetahuan informasi (Hamalik:2003).
Selain itu peran guru untuk menciptakan keadaan belajar dan berusaha
bersama memenuhi tugas pengembangan keterampilan serta penguasaan kompetensi
7
yang sedang dipelajari. Siswa akan belajar lebih banyak melalui proses pembentukan
dan penciptaan, melalui kerja dengan tim dan melalui berbagi pengetahuan sesama
siswa. Namun tanggung jawab individual merupakan kunci keberhasilan
pembelajaran.
Sedangkan dalam investigasi kelompok memberi peluang siswa untuk
mengajukan pertanyaan mengenai apa yang menarik bagi mereka, mencari jawaban
dalam berbagai macam sumber, merencanakan bersama isi dan proses dari investigasi
mereka. Selain tiga peluang tersebut, siswa juga dapat mengiterpretasikan jawaban
berdasarkan pengalalaman pribadi dan pengetahuan mereka sebelumnya, dan
berinteraksi dengan sesamanya dalam bentuk pertukaran informasi dan gagasan
secara konstan (Slavin, 1999). .
Adapun ciri-ciri belajar dalan Winatapura (2007:1.9) sebagai
berikut:
Pertama, belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada
individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengetahuan atau kognitif saja
tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor).
Kedua, perubahan itu harus merupakan buah dari pengalaman. Perubahan
perilaku yang terjadi pada diri individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan
31
lingkungan. Interaksi ini dapat berupa interaksi fisik dan interaksi psikis. Perubahan
kemampuan tersebut terbentuk karena adanya interaksi individu dengan lingkungan
Ketiga, perubahan tersebut relative menetap. Perubahan perilaku akibat obatobatan,
minuman keras, dan yang lainnya tidak dapat dikategorikan sebagai perilaku
hasil belajar. Perubahan perilaku akibat belajar akan bersifat permanen.
Berdasarkan ketiga ciri di atas, maka belajar itu harus adanya suatu perubahan
perilaku yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi individu dengan
lingkungan sekitar. Perubahan perilaku tersebut tidak hanya terjadi karena
pengetahuan saja, akan tetapi harus diimbangi dengan perubahan nilai dan
keterampilan. Dengan demikian, tujuan dari proses belajar pun akan tercapai.
3. Prinsip Belajar dan Tujuan Belajar
Menurut Suprijono (2009:4) terdapat beberapa prinsip belajar, prinsip-prinsip
tersebut yaitu:
Pertama, prinsip belajar adalah perubahan perilaku. Perubahan perilaku
sebagai hasil belajar memiliki ciri-ciri:
a. Sebagai hasil tindakan rasional instrumental yaitu perubahan yang disadari.
b. Kontinu atau berkesinambungan dengan perilaku lainnya.
c. Fungsional atau bermanfaat sebagai bekal hidup.
32
d. Positif atau berakumulasi.
e. Aktif atau sebagai usaha yang direncanakan dan dilakukan.
f. Permanen atau tetap, sebagaimana dikatakan oleh Wittig, belajar sebagai
any relatively permanent change in an organisms behavioral repertoire
that occurs as a result of experience.
g. Bertujuan dan terarah.
h. Mencakup keseluruhan potensi manusia.
Kedua, belajar merupakan proses. Belajar terjadi karena di dorong kebutuhan
dan tujuan yang ingin dicapai. Belajar adalah proses sistemik yang dinamis,
konstruktif, dan organic. Belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai
komponen belajar.
Ketiga,belajar merupakan bentuk pengalaman.
Adapun tujuan belajar menurut Suprijono (2009:5) yaitu sebagai hasil yang
menyertai tujuan belajar instruksional lazim disebut nurturran effects. Bentuknya
berupa kemampuan berpikir kritis dan kreatif, sikap terbuka dan demokratis,
menerima orang lain dan sebagainya.
33
4. Konsep pembelajaran
a. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menginisiasi,
memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta
didik. Oleh karena pembelajaran merupakan upaya sistematis dan sistemik untuk
menginisiasi, memfasilitasi, dan meningkatkan proses belajar maka kegiatan
pembelajaran berkaitan erat dengan jenis hakikat dan jenis belajar serta hasil belajar
tersebut. Pembelajaran harus menghasilkan belajar, tapi tidak semua proses belajar
terjadi karena pembelajaran. Proses belajar terjadi juga dalam konteks interaksi
sosial-kultural dalam lingkungan masyarakat (Winatapura, 2007:1.18).
Selanjutnya masih menurut pendapat Winatapura (2007:1.18)pembelajaran
dalam konteks pendidikn formal, yakni pendidikan di sekolah, sebagian besar terjadi
di kelas dan lingkungan sekolah. Sebagian kecil pembelajaran terjadi juga di
lingkungan masyarakat, misalnya ekstra kurikuler dank o kurikuler. Sedangkan dalam
konteks non formal, pembelajaran sebagian besar terjadi dalam lingkunagn
masyarakat, termasuk dunia kerja, media masa dan jaringan internet. Yang lebih luas
adalah belajar dan pembelajaran dalam konteks pendidikan terbuka dan jarak jauh,
yang karena karakteristik peserta didiknya dan paradigm pembelajarannya, proses
belajar dan pembelajaran bisa terjadi dimana saja, dan kapan saja tidak dibatasi oleh
jarak, ruang dan waktu.
34
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran
Adapuh faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran baik secara langsung
maupun tidak lengsung sebagai berikut:
1) Raw input, yaitu kondisi dan keberadaan siswa yang mengikuti kegiatan
pembelajaran (minat, sikap, dan kebiasaan).
2) Instrumental input, yaitu sarana dan prasarana yang terkait proses pembelajaran
seperti metode, guru, teknik, media dan bahan pembelajaran.
3) Environmental input, yaitu situasi dan keberadaan lingkungan baik fisik, sosial
maupun budaya dimana kegiatan pembelajaran dilaksanakan.
4) Expected input, yaitu merujuk pada rumusan normative yang manjadi milik
siswa setelah melaksanakan proses pembelajaran (Ibrahim, 2002: 51).
Keempat komponen tersebut memberikan pengaruh yang besar di dalam
keberhasilan proses pembelajaran. Oleh karena itu, di dalam melaksanakan kegiatan
belajar mengajar hendaknya guru memperhatikan kondisi lingkungan serta kurikulum
yang tersembunyi yang sekiranya dapat menunjang siswa dalam pembelajaran.
35
5. Strategi Pembelajaran PKn
a. Strategi Pembelajaran
Raka Joni (1980, dalam Rahmat dkk, 2009: 56) berpendapat bahwa strategi
adalah pola umum perbuatan guru-siswa di dalam perwujudan kegiatan belajar
mengajar. Hal ini mengandung arti bahwa interaksi belajar mengajar berlangsung
dalam suatu pola yang digunakan bersama oleh guru dan siswa. Dalam pola tersebut
tentu terkandung bentuk-bentuk rangkaian perbuatab atau kegiatan guru dan siswa
yang mengarah pada tercapainya tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Pembelajaran PKn dapat menggunakan strategi yang bervariatif sehingga guru
dapat mengajar secara optimal dan siswa dapat mengembangkan potensinya masingmasing
secara maksimal.
b. Prinsip-Prinsip Pemilihan Strategi Pembelajaran PKn
Dalam memilih strategi pembelajaran hendaknya memperhatikan prinsiprinsip
berikut:
1) Bermakna (meaningful), yaitu mampu memberikan arti penting dan
manfaat bagi kehidupan siswa.
2) Integratif (integrative), yaitu mampu mengembangkan seluruh potensi
siswa baik kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai salah satu kesatuan
36
yang utuh. Disamping itu, dalam IPS hendaknya mampu mengintegrasikan
beberapa ilmu sosial pendukung IPS dalam suatu kesatuan materi yang
utuh.
3) Berbasis Nilai (value based), yaitu mampu menggali, menjelaskan dan
menanamkan nilai-nilai yang berguna bagi kehidupa siswa.
4) Menantang (challenging), yaitu mampu memotivasi siswa menggunakan
segenap potensi yang dimilikinya dan mengembangkan kemampuan
berpikir kritis dan kreatif.
5) Aktif (active), yaitu mampu membangkitkan partisipasi aktif siswa dalam
proses pembelajaran dan pemecahan masalah sosial.
D. Kajian Tentang Partisipasi Belajar.
1. Pengertian Partisipasi
Partisipasi dalam pembelajaran diartikan sebagai keterlibatan dan peran serta
siswa dalam kegiatan pemebelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Sedangkan
menurut Kosasih Djahiri partisipasi merupakan metode pembelajaran dimana siswa di
belajarkan dalam keadaan nyata yang simulatif.
57
Partisipasi menurut Oemar Hamalik (2003:96) merupakan keterlibatan
seseorang dalam kegiatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang mampu
melibatkan siswa secara langsung aktif melakukan perbuatan hasilnya akan lebih
efektif dibandingkan dengan pendekatan yang hanya sekedar menuangkan
pengetahuan-pengetahuan informasi.
Terkait dengan konsep aktivitas, bahwa setiap kegiatan belajar harus
melibatkan diri terjun mengalami. Edgar Dale mengatakan bahwa belajar yang baik
adalah melalui pengalaman langsung. Idealnya setiap belajar harus terjadi suatu
proses internalisasi bagi pihak yang belajar, sebab belajar bukan hanya sekedar proses
menghapal sejumlah konsep, prinsip atau fakta yang siap untuk diingat.
Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa berpartisipasi berarti siswa
memiliki keterlibatan langsung baik secara fisik material maupun psikhis. Kehadiran
siswa secara fisik di dalam kelas belum tentu akan membawa hasil belajar yang
optimal kalau tidak disertai keterlibatan pikiran dan mental secaa maksimal.
Senada dengan pendapat di atas, Webster (1966:1646) mengemukakan bahwa
partisipasi merupakan suatu wujud interaksi sosial yang terjadi di dalam kelompok,
dimana seluruh anggota kelompok hadir dan memberikan sumbangannya terhadap
kegiatan kelompok. Knowles (1977:42) mengemukakan partisipasi adalah ikut
sertanya warga masyarakat anggota kelompok dalam : (1) pengambilan keputusan,
(2) perencanaan, (3) perancangan dalam usaha mencapai tujuan, dan (4) penilaian
58
terhadap hasil-hasil yang dicapai. Dalam hubungannya dengan kegiatan belajar
mengajar, partisipasi merupakan Proses kegiatan belajar mengajar yang subjek
didiknya terlibat secara intelektual dan emosional sehingga subjek didiknya betulbetul
berperan aktif dalam melakukan kegiatan belajar mengajar (Radjiin dkk
1989:10).
Dari beberapa definisi partisipasi di atas, dapat disimpulkan bahwa partisipasi
adalah keikutsertaan siswa dalam kelompok dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
penilaian dalam proses belajar mengajar. Partisipasi siswa dalam proses kegiatan
belajar mengajar merupakan suatu tindakan dan sasaran utama dalam pembaharuan
pendidikan. Hampir tidak pernah terjadi proses belajar tanpa adanya keaktifan siswa
yang belajar. Akan terdapat kecenderungan bahwa siswa akan melakukan kegiatan
belajarnya sesuai dengan gaya mengajar guru masing-masing. Proses belajar
mengajar akan berlangsung efektif apabila siswa aktif.
Pengertian partisipasi menurut Moelyarto Tjokrowinoto dalam Suryosubroto
(2002, 278) didefinisikan sebagai berikut:
Partisipasi adalah penyertaan mental dan emosi seseorang di dalam situasi
kelompok yang mendorong mereka untuk mengembangkan daya pikir dan
perasaan mereka bagi tercapainya tujuan-tujuan, bersama dan bertanggung
jawab terhadap tujuan tersebut.
Partisipasi dimaksudkan sebagai keterlibatan mental dan emosi seseorang
kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab.
59
Adapun konsep partisipasi menurut Ensiklopedi pendidikan adalah sebagai
berikut:
Sebenarnya partisipasi adalah suatu gejala demokratis di mana orang
diikutsertakan dalam perencanaan serta pelaksanaan dan juga ikut memikul
tanggung jawab, sesuai dengan tingkat kewajibannya. Partisipasi itu menjadi
lebih baik dalam bidang-bidang fisik maupun bidang mental serta penentuan
kebijaksanaan (Poerbawaktja RS, 1982:251, dalam Suryosubroto, 2002:279).
2. Konsep Partisipasi
a. Kelebihan metode partisipasi
Menurut Kosasih Djahiri (1995:50) metode partisipasi dalam belajar ternyata
memiliki beberapa kelebihan. Kelebihan metode belajar ini adalah :
1) Memberikan pengalaman belajar yang lebih realistik dan memadukan
sekolah dengan dunia nyata.
2) Melihat penerapan ilmu dengan kenyataannya.
3) Sosialisasi diri dan kemampuan siswa dan menangkal kesenjangan dan
ketimpangan.
4) Meningkatkan motivasi dan dinamika belajar mengajar serta substansi
pembelajaran.
5) Dapat melahirkan kebersamaan dan keterlibatan terhadap dunia
pendidikan serta kemungkinan untuk masukan inovatif dan rekonstruktif.
Dari pendapat diatas dapat dikatakan bahwa dengan berpartisipasi siswa ikut
ambil bagian dalam proses belajar mengajar.
Senada dengan pendapat di atas, suasana belajar aktif melalui partisipasi
adalah suasana belajar mengajar yang membuat siswa melakukan:
60
a. Pengalaman, artinya anak akan belajar banyak melalui berbuat. Pengalaman
langsung mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya melalui
mendengarkan.
b. Interaksi, artinya belajar akan terjadi dan meningkat kualitasnya bila terjadi
suasana interaksi dengan orang lain. Interaksi dapat berupa diskusi, saling
bertanya dan mempertanyakan, serta saling menjelaskan.
c. Komunikasi, artinya pengungkapan pikiran, baik dalam mengemukakan
gagasan sendiri atau menilai gagasan orang lain akan memantapkan
pemahaman seseorang tentang apa yang sedang dipikirkan dan dipelajari.
(http://idependidikan .blogspot.com)
b. Jenis partisipasi
Menurut Kosasih Djahiri (1995:51) partisipasi siswa dalam belajar mengajar
di kelas dapat dibagi dalam beberapa jenis yaitu sebagai berikut:
1) Studi lapangan, yaitu berupa penugasan ke lapangan untuk mengkaji,
mencatat dan melihat atau menelaah hal ihwal yang ada. Salah satu
bentuk yang paling populer adalah karya wisata atau tugas lapangan.
2) Kegiatan bakti sosial seperti Palang Merah Remaja.
3) Magang, dimana siswa ditempatkan langsung di unit kerja untuk turut
berperan sebagaimana layaknya karyawan.
4) Modeling atau simulasi, dimana siswa praktek seperti nyatanya melalui
model yang ada atau buatan mereka.
5) Studi proyek, dimana seluruh paket belajar atau mata pelajaran menugasi
suatu kerja di lapangan.
Dengan jenis-jenis partisipasi di atas, diharapkan siswa menjadi lebih aktif
dan merasa terpuaskan dalam proses belajar.
61
c. Kegiatan Partisipasi
Sedangkan Paul D. Dierich (dalam skripsi Ai Ida Suraya: 26) membagi
kegiatan dan partisipasi belajar sebagai berikut :
1) Kegiatan visual : membaca, melihat gambar-gambar, mengamati,
demonstrasi, pameran, mengamati orang lain bekerja atau bermain.
2) Kegiatan-kegiatan lisan : mengemukakan pendapat suatu fakta,
menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran,
mengemukakan pendapat dan diskusi.
3) Kegiatan mendengarkan : mendengarkan penyajian, mendengarkan
percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan siaran radio.
4) Kegiatan menulis : menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan
atau rangkuman, mengerjakan tes, mengisi angket.
5) Kegiatan menggambar : menggambar, membuat grafik, diagram, peta,
dan lain-lain.
6) Kegiatan metrik : melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan
pameran, membuat model dan lain-lain.
7) Kegiatan mental : merenungkan, mengingat, memecahkan masalah dan
membuat keputusan.
8) Kegiatan emosional : minat, berani, tenang dan sebagainya.
Dari uraian kegiatan partisipasi di atas, dapat diuraikan beberapa indikator
sebagai berikut:
Tabel 2.2 Indikator Partisipasi
Indikator
a. Membaca dan mengamati
- turut serta dalam mengerjakan tugasnya
- mencatat dan melihat hal ihwal yang ada
- mengamati dengan seksama tugas yang diberikan
guru dalam model group investigation

b. Mengemukakan
pendapat suatu fakta
- muncul keberanian dalam mengemukakan
pendapat
- berusaha mempertahankan pendapatnya
- Mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan
oleh guru
Mengajukan pertanyaan
- bertanya kepada siswa lain mengenai materi yang
belum diketahui
- bertanya kepada kelompok lain yang sedang
presentasi dalam menggunakan model group
investigation
- mengajukan pertanyaan tentang hal yang belum
dipahami kepada guru
d. Memberi saran
- siswa mengomentari kelompok lain yang sedang
mempresentasikan laporannya
- muncul kritikan berupa masukan terhadap
63
kelompok lain
- terjadi komunikasi 2 arah

Mendengarkan
penyajian, percakapan
atau diskusi kelompok
- mendengarkan penyajian diskusi kelompok
- mencatat hal-hal yang di anggap penting
- menyimak penjelasan guru sebelum pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakan model group
investigation
- menyimak ketika ada temannya yang sedang
bertanya kepada kelompok yang sedang presentasi

Memecahkan masalah
- melatih dirinya dalam memecahkan masalah
dalam kelompok
- berusaha terlibat dalam pemecahan masalah

Membuat keputusan
- terlibat dalam pembuatan keputusan
- terjadi silang pendapat antar siswa dalam
membuat keputusan dalam kelompoknya
- terjadi perdebatan dalam membuat keputusan

i. Berani
- berani bertanggung jawab atas tugas kelompok
yang dikerjakannya
- berani mempertahannkan argumennya ketika
terjadi diskusi
- berani bertanya kepada kelompok lain
j. Tenang
- antusias dalam melaksanakan kerja kelompoknya
- at tenang dalam mengerjakan tugas kelompoknya
- melaksanakan cooperative learning sesuai
petunjuk guru
- Menghormati dan menghargai pendapat orang lain
- Menghormati dan menghargai sertaterlih tidak
meremehkan siswa yang belum paham
3. Manfaat Partisipasi
Keith davis dalam Suryosubroto (2002, 281) mengemukakan manfaat
prinsipiil dari partisipasi yaitu:
a. Lebih memungkinkan diperolehnya keputusan yang benar
b. Dapat digunakan kemampuan berfikir kreatif dari para anggotanya.
65
c. Dapat mengendalikan nilai-nilai martabat manusia, motivasi serta
membangun kepentingan bersama.
d. Lebih mendorong orang untuk bertanggung jawab.
e. Lebih memungkinkan untuk mengikuti perubahan-perubahan.
Lebih jauh Heidjrachman Ranupandojo dalam (Suryosubroto, 2002: 282)
mengemukakan bahwa dengan dijalankannya partisipasi akan bisa diperoleh
beberapa manfaat seperti bisa dibuatnya keputusan yang lebih baik (karena
banyaknya sumbangan pikiran), adanya penerimaan yang lebih besar terhadap
perintah yang diberikan dan adanya perasaan diperlukan..
Senada dengan pendapat di atas Burt, K. Sachlan and Roger memberikan
pendapatnya bahwa partisipasi yaitu:
a. Lebih banyak komunikasi dua arah.
b. Lebih banyak bawahan mempengaruhi keputusan.
c. Manager dan partisipan kurang bersikap agresif.
d. Potensi untuk memberikan sumbangan berarti dan positif, diakui dalam
derajat lebih tinggi. (1988: 85).
Dari pendapat tersebut di atas tentang manfaat partisipasi dapat disimpulkan
bahwa dengan adanya partisipasi akan lebih memungkinkan pengembangan potensi
66
dan kreativitas, melatih bertanggung jawab serta mendorong membangun
kepentingan bersama.
4. Tingkatan Partisipasi
Menurut Pariata Westra dalam (Suryosubroto, 2002: 283) tingkatan partisipasi
dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Tingkatan pengertian timbal balik, artinya mengarahkan anggota agar
mengerti akan fungsinya masing-masing dan sikap yang seharusnya satu
sama lain.
b. Tingkatan pemberian nasihat, artinya individu-individu disini saling
membantu untuk pembuatan keputusa terhadap persoalan-persoalan yang
sedang dihadapi sehingga saling tukar-menukar ide-ide mereka satu per
satu.
c. Tingkatan kewenangan, artinya menempatkan posisi anggotanya pada
keadaan mereka, sehingga dapat mengambil keputusan pada persoalan
mereka hadapi.
Pendapat lain dikemukakan oleh Jumrowi yang dikutip oleh subandiyah
bahwa dilihat dari segi tingkatannya partisipasi dibedakan menjadi tiga macam
yaitu:
a. Partisipasi dalam proses perencanaan dan kaitannya dengan program lain.
67
b. Partisipasi dalam proses pengambilan keputusan.
c. Partisipasi dalam pelaksanaan.
E. Penelitian Terdahulu
Dalam melaksanakan suatu penelitian, peneliti tidak akan terlepas dari
penelitian-penelitian terdahulu. Dengan penelitian terdahulu ini dapat memberikan
kontribusi dan gambaran akan keberhasilan penelitian yang akan dilaksanakan.
Banyak penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai Penelitian Tindakan
Kelas ini, seperti yang dilakukan oleh Ai Ida Suraya (2006) dalam skripsinya yang
berjudul Penerapan Metode Cooperative Learning untuk Meningkatkan Partisipasi
Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PKn. Setelah dilakukan penelitian dengan
menggunakan penelitian tindakan kelas, ternyata menunjukan bahwa dengan
menggunakan metode cooperative learning partisipasi belajar siswa pada mata
pelajaran PKn meningkat dengan lain yang menggunakan model cooperative learning
yaitu seperti dalam skripsi Rohmah tentang Penerapan model Cooperative
Learning melalui teknik jigsaw dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir
kritis siswa (2008).
68
Senada dengan penelitian di atas, penelitian yang dilaksanakan oleh Nunung
Nurjanah (2009) dalam skripsinya yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran
simulasi dalam Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PKn
(2005). Dalam skripsinya beliau menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas
yang dilaksanakan dalam beberapa siklus dan hasil penelitiannya itu menunjukan
bahwa dengan model simulasi partisipasi belajar siswa dapat meningkat
Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Rini Anggraeni (2009), beliau
menggunakan model group investigation untuk meningkatkan hasil belajar siswa, dan
hasilnya dengan penerapan model tersebut hasil belajar siswa di kelas menjadi
meningkat. Peningkatan hasil belajar ini terlihat dari pencapaian KKM (kriteria
ketuntasan minimal) yang telah ditentukan oleh sekolah.. Sejalan dengan model yang
digunakan Rini Anggraeni di atas, Tenten. (2007). Penerapan Model Investigasi
Kelompok Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah, menunjukan
adanya kemampuan/ keberanian siswa dalam memecahkan masalah khususnya dalam
bidang mata pelajaran matematika. Dengan penelitian tesebut dapat dijadikan bukti
bahwa penelitian tindakan kelas dapat memberika solusi terhadap berbagai macam
permasalahan yang dihadapi oleh guru di kelas
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu di atas, peneliti optimis bahwa
penelitian yang dilaksanakan akan berhasil dan memberikan solusi terhadap berbagai
macam permasalahan yang dihadapi oleh guru di kelas.
69

According to Byrd (2003), grammar is the central to the teaching and
learning of language that also becomes one of the most difficult aspects of
language to teach as well as to learn.