Anda di halaman 1dari 36

DIKTAT

MATEMATIKA DISKRET 2












Prof. BELAWATI H. WIDJAJA, Ph.D







FAKULTAS ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS INDONESIA
2009




1
TEORI GRAF

Daftar Isi

Bab I Terminologi
Bab II Representasi Graf
Bab III Isomorfisme
Bab IV Listasan dan Sirkuit
Bab V Keterhubungan
Bab VI Lintasan Euler dan Sirkuit Euler
Bab VII Lintasan Hamilton dan Sirkuit Hamilton
Bab VIII Lintasan Terpendek
Bab IX Graf Planar
Bab X Pewarnaan



BAB I. Terminologi

Terminologi atau istilah-istilah tentang graf belum baku, maka istilah-istilah yang akan dipakai di
diktat ini akan didefinisikan terlebih dahulu.
(1) Definisi:
Suatu graf (graph) G adalah sebuah triplet (V, E, f ), dan dinyatakan sebagai G =(V, E, f ).
V adalah sebuah himpunan tidak kosong, yang unsur-unsurnya disebut verteks atau simpul
(vertex), E adalah sebuah himpunan yang unsur-unsurnya disebut sisi atau busur (edge), dan
f adalah sebuah fungsi dengan daerah definisi (domain) E dan daerah jelajah (codomain) V x V.
J adi, untuk setiap sisi e E berkaitan dengan dua verteks, yaitu f(e) =(u, v) dengan u V dan v
V.

J ika (u, v) dipandang sebagai pasangan tak terurut, maka G disebut graf tak berarah (undirected
graph).
J ika (u, v) dipandang sebagai pasangan terurut, maka G disebut graf berarah (directed graph,
digraph).
Dua sisi e
1
E dan e
2
E dikatakan sisi sejajar atau sisi ganda (parallel edge) apabila
f(e
1
) =f(e
2
) =(v, w).
Sebuah sisi e
3
disebutkan sebuah gelang (loop), jika f(e
3
) =(x, x) untuk suatu x V.

Himpunan verteks V sebuah graf G =(V, E, f ) tidak boleh merupakan himpunan kosong, sedangkan
himpunan sisi E boleh merupakan himpunan kosong , dalam hal ini f() =.

Himpunan V dan himpunan E boleh merupakan himpunan tak berhingga. J ika V dan E merupakan
himpunan berhingga, maka graf G disebut graf berhingga, jika V atau E atau kedua-duanya tak
berhingga, maka graf G disebut graf tak berhingga.
Di sini yang dibicarakan hanya graf berhingga, dan jika tidak disebutkan graf berarah, yang
diartikan dengan graf adalah graf tak berarah.


2
Sebuah graf G boleh dinyatakan oleh G =(V, E), dengan pengertian bahwa E merupakan himpunan
hasil pemetaan f tadi. Berikut ini akan diberikan contoh-contoh.

Contoh:
C.1.
G
1
=(V, E, f ) dengan e
5

V ={v
1
, v
2
, v
3
, v
4
, v
5
}, v
1
e
1
v
2

E ={e
1
, e
2
, e
3
, e
4
, e
5
, e
6
}, dan

e
4

f : E V x V sebagai berikut:

v
3
e
2
v
4

f(e
1
)=(v
1
,v
2
), f(e
2
)=(v
3
,v
4
), f(e
3
)=(v
1
,v
5
), e
6
e
3

f(e
4
)=(v
2
,v
4
), f(e
5
)=(v
1
,v
2
), f(e
6
)=(v
3
,v
3
). v
5

Gambar 1. Graf G
1

G
1
juga dapat dinyatakan sebagai
G
1
=(V, E) dengan
V ={v
1
, v
2
, v
3
, v
4
, v
5
},
E ={(v
1
,v
2
), (v
3
,v
4
), (v
1
,v
5
), (v
2
,v
4
), (v
1
,v
2
), (v
3
,v
3
)}.
G
1
adalah sebuah graf dengan 5 verteks dan 6 sisi dan dapat digambarkan seperti pada Gambar 1.
Sisi e
6
adalah sebuah gelang, sisi e
1
dan sisi e
5
merupakan dua sisi ganda.

C.2.
G
2
=(V, E, f ) dengan e
6

V ={v
1
, v
2
, v
3
, v
4
, v
5
},
E ={e
1
, e
2
, e
3
, e
4
, e
5
, e
6
}, dan v
1
e
1
v
2

f : E V x V sebagai berikut: e
3
e
5
e
4

f(e
1
)=(v
1
,v
2
), f(e
2
)=(v
3
,v
4
), f(e
3
)=(v
1
,v
5
), v
3
e
2
v
4

f(e
4
)=(v
2
,v
4
), f(e
5
)=(v
1
,v
5
), f(e
6
)=(v
1
,v
2
).
v
5

G
2
juga dapat dinyatakan sebagai
G
2
=(V, E) dengan Gambar 2. Graf G
2

V ={v
1
, v
2
, v
3
, v
4
, v
5
},
E ={(v
1
,v
2
), (v
3
,v
4
), (v
1
,v
5
), (v
2
,v
4
), (v
1
,v
5
), (v
1
,v
2
)}.
G
2
adalah sebuah graf yang memiliki sisi ganda e
1
dengan e
6
, dan
e
3
dengan e
5
, tetapi G
2
tak memiliki gelang seperti terlihat pada Gambar 2.

C.3.
G
3
=(V, E) dengan v
1
v
2

V ={v
1
, v
2
, v
3
, v
4
, v
5
}, dan
E ={(v
1
,v
2
), (v
3
,v
4
), (v
1
,v
5
), (v
1
,v
4
), (v
2
,v
5
), (v
2
,v
4
)}. v
3
v
4

G
3
adalah sebuah graf tanpa sisi ganda maupun v
5

gelang, seperti terlihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Graf G
3


Dari tiga contoh di atas, timbul gagasan untuk mengklasifikasikan graf dalam beberapa jenis,
seperti yang diberikan pada definisi berikut.


3
(2) Definisi:
Graf G =(V, E, f ) disebutkan graf sederhana (simple graph) jika G tidak memiliki sisi-sisi ganda
maupun gelang. Dengan perkataan lain, G adalah sebuah graf sederhana, apabila berlaku
f(e
1
) f(e
2
) untuk setiap dua sisi e
1
dan e
2
, dan untuk setiap e E dengan f(e) =(u, v) berlaku
u v.
Graf G =(V, E, f ) disebut graf ganda atau multigraf (multigraph) jika G tidak memiliki gelang.
Dengan perkataan lain, G adalah sebuah graf ganda, apabila utk setiap e E dengan f(e) =(u, v)
berlaku u v.
Sebuah graf G =(V, E) sembarang disebut graf samaran (pseudograph).
Sebuah graf berarah G =(V, E, f ) disebut graf berarah sederhana, disingkat dengan graf berarah
(digraph) saja, jika berlaku f(e
1
) f(e
2
) untuk setiap dua sisi e
1
dan e
2
.
Sebuah graf berarah G =(V, E, f ) sembarang disebut multigraf berarah (multidigraph).

J adi, jika S adalah himpunan semua graf sederhana, M adalah himpunan semua multigraf dan P
adalah himpunan semua graf samaran, maka berlaku S M P. J ika D adalah himpunan semua
graf berarah dan MD adalah himpunan semua multigraf berarah, maka berlaku D MD.

Berdasarkan definisi (2), semua graf pada contoh C.1., C.2. dan C.3. adalah graf samaran.
Graf G
2
pada contoh C.2 dan graf G
3
pada contoh C.3 adalah graf ganda atau multigraf.
Graf G
3
pada contoh C.3 adalah graf sederhana.

Contoh:
C.4.
Misalkan dalam suatu program terdapat 6 buah pernyataan:
P
1
: x :=0
P
2
: y :=1 P
1
P
3
P
5

P
3
: z :=x +y
P
4
: u :=x +2 P
2
P
4
P
6

P
5
: v :=u +1
P
6
: z :=z +u Gambar 4. Graf Precedence G
4


Ketergantung pernyataan P
i
pada hasil eksekusi pernyataan lainnya dapat dimodelkan dalam suatu
graf berarah yang disebut graf precedence (Precedence graph) G
4
=(V, E), dengan
V ={P
1
, P
2
, P
3
, P
4
, P
5
, P
6
} dan (P
i
, P
j
) E apabila pernyataan P
j
tidak dapat dilaksanakan sebelum
pernyataan P
i
selesai dilaksanakan.
Untuk contoh ini, precedence graph G
4
, yang digambarkan seperti pada Gambar 4 adalah sebagai
berikut:
G
4
=(V, E) dengan V ={P
1
, P
2
, P
3
, P
4
, P
5
, P
6
} dan
E ={(P
1
,P
3
), (P
2
,P
3
), (P
1
,P
4
), (P
4
,P
5
), (P
3
,P
6
), (P
4
,P
6
)}.

(3) Definisi:
Dalam sebuah graf G =(V, E), dua verteks u dan v dikatakan bersisian (adjacent) jika (u, v) E.
J ika e =(u, v) E, maka dikatakan bahwa
sisi e bertumpuan pada (incident with) verteks u dan v, atau u dan v disebut titik-titik ujung
(endpoints) dari sisi e =(u, v) itu.
Dalam sebuah graf berarah G* =(V*, E*), jika e* =(u*, v*) E*, maka u* disebut verteks-awal
(initial vertex) sisi e* dan v* disebut verteks-akhir (terminal vertex) sisi e*.

4

(4) Definisi:
Derajat (degree) suatu verteks v dalam suatu graf G, dinyatakan oleh deg(v) adalah jumlah sisi-sisi
yang bertumpuan pada verteks v itu.
Suatu gelang memberikan kontribusi 2 kepada derajat verteks yang bersangkutan.
Suatu verteks u di G disebut verteks terisolasi (isolated vertex) apabila deg(u) =0, dan
verteks w di G disebut sebuah gandul (pendant) apabila deg(w) =1.
Dalam graf berarah G* =(V*, E*), untuk setiap verteks v* didefinisikan derajat-masuk (in-degree)
dari v*, dinyatakan oleh deg

(v*), dan derajat-keluar (out-degree) dari v*, dinyatakan deg


+
(v*).
deg

(v*) adalah jumlah sisi dengan v* sebagai verteks-akhirnya dan


deg
+
(v*) adalah jumlah sisi dengan v* sebagai verteks-awalnya.

J umlah derajat semua verteks suatu graf dapat ditentukan dari jumlah sisi pada graf yang
bersangkutan, hal ini dinyatakan dalam teorema berikut.

(5) Teorema:
J umlah derajat semua verteks dalam sebuah graf sama dengan dua kali jumlah sisi graf tersebut.
Bukti:
Misalkan graf G =(V, E) dengan V ={v
1
, v
2
, v
n
} dan E ={e
1
, e
2
, e
m
}, berarti
jumlah verteks =V=n dan jumlah sisi =E=m.
Setiap sisi e
i
E bertumpuan pada 2 verteks, berarti setiap sisi memberi kontribusi 2 kepada jumlah
derajat semua verteks.
J adi,
1
deg( )
n
i
i
v
=
=2 m.

Contoh:
C.5. e
5

Tentukan derajat masing-masing verteks graf A e
1
B e
6
C
G
5
=(V, E) pada Gambar 5. e
2
e
3
e
4
e
8

e
7

J awaban: D e
9
E F
V ={A, B, C, D, E, F} e
10

E ={e
1
=(A, B), e
2
=(A, D), e
3
=(A, D), e
4
=(A, E), e
11

e
5
=(B, B), e
6
=(B, C), e
7
=(B, D), e
8
=(B, E),
e
9
=(D, E), e
10
=(D, E), e
11
=(D, E)} Gambar 5. Graf G
5

maka deg(A) =4, deg(B) =6, deg(C) =1,
deg(D) =6, deg(E) =5 dan deg(F) =0.
J umlah sisi =E=11, dan
J umlah derajat =deg(A) +deg(B) +deg(C) +deg(D) +deg(E) +deg(F)
=4 +6 +1 +6 +5 +0 =22.
J adi terlihat bahwa: J umlah derajat =2 x J umlah sisi.


5
C.6.
Berapa jumlah sisi pada graf G dengan 15 verteks yang masing-masing verteksnya berderajat 8?
J awaban:
Misalkan jumlah sisi graf G adalah m, dan jumlah derajat semua verteks adalah d, maka
berdasarkan Teorema (5), diperoleh d =2 m
G memiliki 15 verteks dengan masing-masing berderajat 8, maka jumlah derejat semua verteks
adalah d =15 x 8 =120, jadi m =d/2 =120/2 =60.

(6) Teorema: J umlah verteks berderajat ganjil dalam sebuah graf adalah genap.
Bukti:
Misalkan graf G =(V, E),
U ={v Vdeg(v) ganjil} dan W ={v Vdeg(v) genap},
maka V =U W
deg( )
v V
v

= deg( )
v U
v

+ deg( )
v W
v


deg( )
v W
v

adalah genap, karena jumlah bilangan genap selalu genap. Berdasarkan Teorema 5,
deg( )
v V
v

=2E, yang juga merupakan bilangan genap, jadi


deg( )
v U
v

bernilai genap. Tetapi masing-masing deg(v) untuk v U adalah ganjil, maka haruslah
Ugenap. J adi teorema terbukti.

(7) Teorema: Untuk suatu graf berarah G =(V, E) berlaku
() deg ( )
v V
v

= deg ( )
v V
v
+

=E
Bukti:
Setiap sisi di G memiliki satu verteks-awal dan satu verteks-akhir, berarti setiap sisi memberi
kontribusi 1 ke masing-masing jumlah derajat masuk dan jumlah derajat keluar semua verteks di G.
Maka berlaku ().

Contoh:
C.7.
Tentukan derajat-masuk dan derajat-keluar masing-masing verteks dalam graf berarah G

=(V, E),
dengan V ={A, B, C, D, E, F}
E ={e
1
=(A, A), e
2
=(A, B), e
3
=(A, C), e
4
=(A, E), e
5
=(B, D), e
6
=(C, B),
e
7
=(C, C), e
8
=(D, C), e
9
=(D, E), e
10
=(E, A), e
11
=(E, D), e
12
=(E, E)}
J awaban:
deg

(A) =2 dan deg


+
(A) =4, deg

(B) =2 dan deg


+
(B) =1
deg

(C) =3 dan deg


+
(C) =2, deg

(D) =2 dan deg


+
(D) =2
deg

(E) =3 dan deg


+
(E) =3, deg

(F) =0 dan deg


+
(F) =0
Terlihat bahwa
deg

(A) +deg

(B) +deg

(C) +deg

(D) +deg

(E) +deg

(F) =12 =E, dan


deg
+
(A) +deg
+
(B) +deg
+
(C) +deg
+
(D) +deg
+
(E) +deg
+
(F) =12 =E.

(8) Definisi: Sebuah graf dengan n buah verteks disebut graf lengkap (complete graph), dan
dinyatakan oleh K
n
, apabila antara setiap pasang verteks yang berbeda terdapat tepat satu sisi.

6
Contoh:
C.8.
Graf lengkap dengan 1 verteks adalah K
1
:

Graf lengkap dengan 2 verteks adalah K
2
:

Graf lengkap dengan 3 verteks adalah K
3
:



Graf lengkap dengan 4 verteks adalah K
4
:



Graf lengkap dengan 5 verteks adalah K
5
:





C.9.
Berapa jumlah sisi pada sebuah graf lenglap dengan n buah verteks?
J awaban:
Dari setiap verteks pada K
n
terdapat tepat satu sisi ke (n 1) verteks lainnya, dan pada K
n
ada n
buah verteks, jadi akan ada n x (n 1) buah sisi, tetapi setiap sisi dihitung 2 kali, maka jumlah sisi
K
n
adalah
( 1)
2
n n
.

(9) Definisi:
Sebuah graf G =(V, E) disebut graf bipartite, apabila V adalah gabungan dari dua buah subset U
dan W yang tidak kosong dan saling lepas, yaitu U , W , V =U W dan U W =,
sedemikian sehingga untuk setiap sisi (u, w) E berlaku u U dan w W.

Contoh:
C.10.
Graf G =(V, E) pada Gambar 6 adalah sebuah a b
graf bipartite. Dengan
V =U W, di mana g c
U ={a, b, d} dan
W ={c, e, f, g}
E ={(a, c), (a, e), (a, f), (a, g), (b, c), (b, e), e d
(b, f), (b, g), (d, c), (d, e), (d, f), (d, g)} f
Gambar 6. Graf bipartite


7
C.11.
Graf G =(V, E) pada Gambar 7 bukan sebuah a b
graf bipartite.
V ={a, b, c, d, e, f} dan f c
E ={(a, b), (a, e), (a, f), (b, c), (b, d), (b, e),
(b, f), (c, d), (c, f), (d, e), (d, f), (e, f)} e d
Misalkan V =U W, dan a U, karena
(a, b), (a, e), (a, f) E, berarti b, e, f U, Gambar 7.
dengan perkataan lain b, e, f W.
Sedangkan (b, e) E, hal ini mengakibatkan b dan e tidak boleh berada pada subset yang sama,
bertentangan dengan b dan e termasuk di W. J adi V tidak mungkin merupakan gabungan dari dua
buah subset U dan W yang tidak kosong dan saling lepas, yaitu
U , W , V =U W dan U W =, sedemikian sehingga untuk setiap sisi (u, w) E
berlaku u U dan w W.
Berarti G bukan sebuah graf bipartite.

(10) Definisi:
Sebuah graf G =(V, E) disebut graf bipartite lengkap K
m,n
, apabila V merupakan gabungan dari
dua buah subset U dengan m 0 unsur dan W dengan n 0 unsur yang saling lepas, sehingga sisi
(u, w) E jika dan hanya jika u U dan w W.

Contoh:
C.12.
Gambar 8.(a) menunjukkan graf bipartite lengkap K
2,3
, dan
Gambar 8.(b) menunjukkan graf bipartite lengkap K
3,3
.

a b a b c

c d e d e f

(a) K
2,3
(b) K
3,3
.
Gambar 8. Graf bipartite lengkap K
2,3
dan K
3,3
.

(11) Definisi:
Sebuah graf G =(V, E) dengan n verteks disebut sebuah siklis (cycle) C
n
, apabila
V ={v
1
, v
2
, v
3
, , v
n
} dan E ={(v
1
, v
2
), (v
2
, v
3
), (v
3
, v
4
), , (v
n1
, v
n
), (v
n
, v
1
)}.

Contoh:
C.13. Gambar 9.(a), (b) dan (c) masing-masing menunjukkan siklis C
3
, C
4
, dan C
5
.

a b a b a
b c
c c d d e
(a) C
3
(b) C
4
(c) C
5

Gambar 9. Siklis C
3
, C
4
, dan C
5
.

8
(12) Definisi:
Sebuah graf dengan (n +1) buah verteks disebut sebuah roda (wheel) W
n
, apabila n buah verteks
dari (n +1) verteks itu membentuk sebuah siklis C
n
, dan dari verteks ke-(n+1) yang tinggal terdapat
tepat satu sisi ke setiap n buah verteks pertama tadi.

Contoh:
C.14.
Gambar 10.(a), (b) dan (c) masing-masing menunjukkan siklis W
3
, W
4
, dan W
5
.

a b a b a
p p b p c
c c d d e

(a) W
3
(b) W
4
(c) W
5

Gambar 10. Roda W
3
, W
4
, dan W
5
.

(13) Definisi:
Subgraf dari suatu graf G =(V, E) adalah sebuah graf H =(W, F) dengan W V dan F E.

Contoh:
C.15.
Tentukan semua subgraf dengan 5 sisi dari graf G
3
pada contoh C.3.
G
3
=(V, E) dengan v
1
v
2

V ={v
1
, v
2
, v
3
, v
4
, v
5
}, dan
E ={(v
1
,v
2
), (v
3
,v
4
), (v
1
,v
5
), (v
1
,v
4
), (v
2
,v
5
), (v
2
,v
4
)}. v
3
v
4

v
5

Graf G
3


H
1
=(W
1
, F
1
) dengan v
1
v
2

W
1
=V
F
1
={(v
1
,v
2
), (v
3
,v
4
), (v
1
,v
5
), (v
1
,v
4
), (v
2
,v
5
)}, v
3
v
4

v
5


H
2
=(W
2
, F
2
) dengan v
1
v
2

W
2
=V
F
2
={(v
1
,v
2
), (v
3
,v
4
), (v
1
,v
5
), (v
1
,v
4
), (v
2
,v
4
)}, v
3
v
4

v
5


H
3
=(W
3
, F
3
) dengan v
1
v
2

W
3
=V
F
3
={(v
1
,v
2
), (v
3
,v
4
), (v
1
,v
5
), (v
2
,v
5
), (v
2
,v
4
)}, v
3
v
4

v
5




9
H
4
=(W
4
, F
4
) dengan v
1
v
2

W
4
=V
F
4
={(v
1
,v
2
), (v
3
,v
4
), (v
1
,v
4
), (v
2
,v
5
), (v
2
,v
4
)}, v
3
v
4

v
5


H
5
=(W
5
, F
5
) dengan v
1
v
2

W
5
={v
1
, v
2
, v
4
, v
5
},
F
5
={(v
1
,v
2
), (v
1
,v
5
), (v
1
,v
4
), (v
2
,v
5
), (v
2
,v
4
)}, v
4

v
5


H
6
=(W
6
, F
6
) dengan v
1
v
2

W
6
=V
F
6
={(v
3
,v
4
), (v
1
,v
4
), (v
1
,v
5
), (v
2
,v
5
), (v
2
,v
4
)}. v
3
v
4

v
5


(14) Definisi:
Graf gabungan (union) dari dua graf sederhana
G
1
=(V
1
, E
1
) dan G
2
=(V
2
, E
2
) adalah sebuah graf sederhana
G =G
1
G
2
, dengan G =(V, E), di mana V =V
1
V
2
, dan E =E
1
E
2
.

Contoh:
C.16.
Tentukan graf gabungan G dari dua graf G
1
=(V
1
, E
1
) dan G
2
=(V
2
, E
2
) dengan
V
1
={a, b, c} dan E
1
={(a, b), (b, c)}
V
2
={b, c, d, e} dan E
2
={(b, c), (b, d), (c, d)}.
J awaban:
Graf gabungan dari G
1
=(V
1
, E
1
) dan G
2
=(V
2
, E
2
) adalah
G =(V, E) dengan V ={a, b, c, d, e} dan E ={(a, b), (b, c), (b, d), (c, d)}.


II. Representasi Graf

Sebuah graf dapat direpresentasikan oleh dua macam matriks, yaitu matriks ikatan (adjacency
matrix) dan matriks kehadiran (incidence matrix).

(15) Definisi:
J ika graf G memiliki n buah verteks v
1
, v
2
, , v
n
, maka G dapat direpresentasikan oleh sebuah
matriks n x n, A =[ a
ij
], dengan
a
ij
= jumlah sisi yang memiliki v
i
dan v
j
sebagai titik-titik ujungnya.
Matriks A disebut matriks ikatan (adjacency matrix) untuk G.
Untuk graf berarah G* yang memiliki n buah verteks v
1
, v
2
, , v
n
, dapat pula direpresentasikan
oleh sebuah matriks n x n, A* =[ a
ij
* ], dengan
a
ij
* = jumlah sisi yang memiliki v
i
sebagai verteks-awal dan v
j
sebagai verteks-akhirnya.
Matriks A* disebut pula matriks ikatan (adjacency matrix) untuk G*.


10
Contoh:
C.17.
Tentukan matriks ikatan untuk graf G =(V, E), dengan
V ={a, b, c, d} dan E ={(a, b), (a, c), (a, d), (b, c)}.
J awaban:
Matriks ikatan untuk graf G dapat dibentuk lebih dari satu, tergantung pada pemilihan urutan
verteksnya. Matriks A
1
dan A
2
berikut merupakan dua buah matriks adjacency untuk graf G. Matriks
ikatan A
1
yang akan diperoleh apabila urutan abcd yang dipilih, dan matriks ikatan A
2
yang akan
diperoleh apabila urutan bcda yang dipilih. Matriks ikatan A
2
dapat diperoleh dari matriks ikatan A
1

dengan menggeser baris ke-i matriks A
1
menjadi baris ke-(i1) untuk i =2, 3, 4, dan baris ke-1
ditempatkan ke baris ke-4. Hal yang sama dilakukan pula untuk kolom, maka akan diperoleh
matriks ikatan A
2
.

a b c d b c d a a b
A
1
=
0 1 1 1
1 0 1 0
1 1 0 0
1 0 0 0
a
b
c
d








A
2
=
0 1 0 1
1 0 0 1
0 0 0 1
1 1 1 0
b
c
d
a








c d

J adi, untuk graf dengan n verteks dapat dipilih satu dari n! (yaitu jumlah permutasi n unsur) matriks
sebagai matriks adjacencynya.

C.18.
Tentukan matriks ikatan untuk graf G =(V, E), dengan
V ={a, b, c, d} dan E ={(a, b), (a, b), (a, d), (a, d), (a, d), (b, c), (b, c), (b, d), (c, c), (c, d)}.
J awaban:
Untuk menentukan matriks ikatan graf G pilih sebuah urutan veteksnya, misalnya cdab. Untuk
urutan tersebut, matriks ikatan untuk graf G adalah

c d a b
A =
1 1 0 2
1 0 3 1
0 3 0 2
2 1 2 0
c
d
a
b










C.19.
Tentukan matriks ikatan untuk graf berarah G =(V, E), dengan
V ={a, b, c, d, e} dan E ={(a, a), (b, e), (c, d), (c, d), (d, b), (d, c), (d, e)}.

J awaban:
Pilih sebuah urutan verteks-verteks dari G, misalkan abcde, maka matriks ikatannya adalah

11

a b c d e a b e
A =
1 0 0 0 0
0 0 0 0 1
0 0 0 2 0
0 1 1 0 1
0 0 0 0 0
a
b
c
d
e











c d
Perhatikan bahwa matriks adjacency untuk graf tak berarah bersifat simetri, sedangkan matriks
adjacency untuk graf berarah tidak harus simetri.

(16) Definisi:
J ika graf G memiliki n buah verteks v
1
, v
2
, , v
n
, dan memiliki m buah sisi e
1
, e
2
, , e
m
, maka G
dapat direpresentasikan oleh sebuah matriks n x m, M =[ m
ij
], dengan

1 jika bertumpuan pada ,
0 jika tidak bertumpuan pada
i j
ij
i j
e v
m
e v


Matriks M disebut matriks kehadiran (incidence matrix) untuk G.

Untuk graf berarah G* yang memiliki n buah verteks v
1
, v
2
, , v
n
, dan memiliki m buah sisi e
1
, e
2
,
, e
m
, dapat pula direpresentasikan oleh sebuah matriks n x m, M* =[ m
ij
*], dengan
1 jika merupakan verteks-awal dari ,
1 jika merupakan verteks-akhir dari ,
0 jika bukan verteks-awal maupun verteks-akhir dari ,
j i
ij j i
j i
v e
m v e
v e


Matriks M* disebut pula matriks kehadiran untuk G*.

Contoh:
C.20.
Tentukan matriks kehadiran untuk graf G =(V, E) dengan V ={v
1
, v
2
, v
3
, v
4
, v
5
} dan
E ={e
1
, e
2
, e
3
, e
4
, e
5
, e
6
, e
7
, e
8
} dengan e
1
=(v
1
, v
1
), e
2
=(v
1
, v
2
), e
3
=(v
1
, v
2
), e
4
=(v
2
, v
3
),
e
5
=(v
2
, v
3
), e
6
=(v
2
, v
5
), e
7
=(v
3
, v
5
), e
8
=(v
4
, v
4
).
J awaban:
Matriks kehadiran untuk G adalah maritks 5 x 8 :
e
1
e
2
e
3
e
4
e
5
e
6
e
7
e
8

M =
1
2
3
4
5
1 1 1 0 0 0 0 0
0 1 1 1 1 1 0 0
0 0 0 1 1 0 1 0
0 0 0 0 0 0 0 1
0 0 0 0 0 1 1 0
v
v
v
v
v
















12
III. Isomorfisme

(17) Definisi:
Graf sederhana G
1
=(V
1
, E
1
) isomorfik (isomorph) dengan graf sederhana G
2
=(V
2
, E
2
) jika
terdapat suatu fungsi satu-satu dan pada (one-one and onto) f dari V
1
pada V
2
sehingga dua verteks
a dan b di G
1
berikatan jika dan hanya jika verteks f(a) dan f(b) di G
2
berikatan, untuk semua a dan
b di V
1
.
Dengan perkataan lain, dua graf sederhana adalah isomorfik apabila terdapat korespondensi satu-
satu antar verteks-verteks dari kedua graf tersebut dan hubungan keterikatan dua verteks
dipertahankan.

Contoh:
C.21.
Apakah dua graf G

=(V, E) dan H =(W, F) isomorf apabila
V ={v
1
, v
2
, v
3
, v
4
, v
5
}, E ={(v
1
, v
2
), (v
2
, v
3
), (v
3
, v
4
), (v
4
, v
1
), (v
1
, v
5
)}
W ={w
1
, w
2
, w
3
, w
4
, w
5
}, F = {(w
1
, w
3
), (w
1
, w
4
), (w
2
, w
5
), (w
4
, w
2
), (w
5
, w
1
)}
J awaban:
Untuk menyelidiki apakah dua graf tersebut isomorf,
harus dicari fungsi satu-satu pada dari V pada W sehingga keterikatan dua verteks dapat
dipertahankan.
Untuk itu, periksa apakah V =W dan E =F, jika tidak, berarti G dan H tidak isomorfik,
bila ya, lakukan hal lebih lanjut, yaitu tentukan derajat masing-masing verteks di V dan di W.
deg(v
1
) =3, deg(v
2
) =2, deg(v
3
) =2, deg(v
4
) =2, deg(v
5
) =1 dan
deg(w
1
) =3, deg(w
2
) =2, deg(w
3
) =1, deg(w
4
) =2, deg(w
5
) =2.
Dari derajat masing-masing verteks di atas, dapat dicoba mencari fungsi satu-satu dan pada yang
dimaksud. Misalkan
f(v
1
) =w
1
, f(v
5
) =w
3
, f(v
2
) =w
4
, f(v
3
) =w
2
, f(v
4
) =w
5
,
maka keterpeliharaan keterikatannya dua verteks dapat dilihat sebagai berikut:
(v
1
, v
2
) E maka harus (f(v
1
), f(v
2
)) =(w
1
, w
4
) F,
(v
2
, v
3
) E maka harus (f(v
2
), f(v
3
)) =(w
4
, w
2
) F,
(v
3
, v
4
) E maka harus (f(v
3
), f(v
4
)) =(w
2
, w
5
) F,
(v
4
, v
1
) E maka harus (f(v
4
), f(v
1
)) =(w
5
, w
1
) F,
(v
1
, v
5
) E maka harus (f(v
1
), f(v
5
)) =(w
1
, w
3
) F,
Ternyata semua terpenuhi, maka G dan H adalah isomorf.

C.22.
Apakah dua graf G

=(V, E) dan H =(W, F) isomorf apabila
V ={v
1
, v
2
, v
3
, v
4
, v
5
}, E ={(v
1
, v
2
), (v
2
, v
3
), (v
3
, v
4
), (v
4
, v
5
), (v
5
, v
1
), (v
5
, v
3
)}
W ={w
1
, w
2
, w
3
, w
4
, w
5
}, F = {(w
1
, w
2
), (w
2
, w
3
), (w
3
, w
4
), (w
5
, w
1
), (w
1
, w
4
), (w
1
, w
3
)}
J awaban:
Untuk menyelidiki apakah dua graf tersebut isomorf, harus dicari fungsi satu-satu pada dari V pada
W sehingga keterikatan dua verteks dapat dipertahankan.
Untuk itu, tentukan derajat masing-masing verteks di V dan di W.
deg(v
1
) =2, deg(v
2
) =2, deg(v
3
) =3, deg(v
4
) =2, deg(v
5
) =3 dan
deg(w
1
) =4, deg(w
2
) =2, deg(w
3
) =3, deg(w
4
) =2, deg(w
5
) =1.
Dari derajat masing-masing verteks di atas, dapat disimpulkan bahwa G dan H tidak isomorf,
karena fungsi satu-satu f dari V pada W yang mempertahankan keterikatan dua verteks tidak

13
mungkin ada, sebab G memiliki verteks berderajat 3 dua buah, sedangkan H hanya memiliki satu
verteks berderajat 3.

C.23.
Apakah dua graf G =(V, E) dan H =(W, F) dengan
v
1
v
2

V ={v
1
, v
2
, v
3
, v
4
, v
5
, v
6
, v
7
, v
8
}, v
5
v
6

E ={(v
1
,v
2
), (v
2
,v
3
), (v
3
,v
4
), (v
4
,v
1
), (v
5
,v
6
), v
8
v
7

(v
6
,v
7
), (v
7
,v
8
), (v
8
,v
5
), (v
6
,v
2
), (v
4
,v
8
)} v
4
v
3

dan
W ={w
1
, w
2
, w
3
, w
4
, w
5
, w
6
, w
7
, w
8
},
F = {(w
1
,w
2
),(w
2
,w
3
),(w
3
,w
4
),(w
4
,w
1
),(w
5
,w
6
), w
1
w
2

(w
6
,w
7
),(w
7
,w
8
),(w
8
,w
5
),(w
1
,w
5
),(w
4
,w
8
)} w
5
w
6

isomorf? w
8
w
7

w
4
w
3

J awaban:
Pertama-tama, perhatikan apakah V =W dan E =F, ternyata ya.
Maka langkah berikutnya adalah tentukan derajat masing-masing verteks:
deg(v
1
) =2, deg(v
2
) =3, deg(v
3
) =2, deg(v
4
) =3,
deg(v
5
) =2, deg(v
6
) =3, deg(v
7
) =2, deg(v
8
) =3, dan
deg(w
1
) =3, deg(w
2
) =2, deg(w
3
) =2, deg(w
4
) =3,
deg(w
5
) =3, deg(w
6
) =2, deg(w
7
) =2, deg(w
8
) =3,
Dari derajat masing-masing verteks di atas, terlihat bahwa masih ada harapan agar G dan H
isomorf. Tetapi dalam hal ini graf G tidak isomorf dengan H, sebab (w
8
,w
5
) F, sedangkan (v
6
,v
8
)
H. Maka dapat disimpulkan bahwa G dan H tidak isomorf.




14
IV. Lintasan dan Sirkuit

(18) Definisi:
Sebuah lintasan (path) L dari verteks u ke verteks v dalam sebuah graf tak berarah maupun berarah
G =(V, E, f) adalah sebuah barisan sisi-sisi
L = e
1
, e
2
, , e
n

di E sedemikian sehingga
f(e
1
) =(u, v
1
), f(e
2
) =(v
1
, v
2
), f(e
3
) =(v
2
, v
3
), , f(e
n
) =(v
n1
, v).
Panjang lintasan L, p(L), adalah jumlah sisi pada lintasan itu.
u disebut verteks-awal dan v disebut verteks-akhir lintasan L.
J ika verteks-awal dan verteks-akhir sebuah lintasan adalah sama, yaiyu u =v, maka lintasan itu
disebut sebuah sirkuit (circuit, cycle).
Sebuah lintasan dikatakan lintasan sederhana (simple path) atau sebuah sirkuit dikatakan sirkuit
sederhana (simple circuit) apabila lintasan atau sirkuit itu tidak mengandung sisi yang sama.
Sebuah lintasan dikatakan lintasan elementer (elementary path) atau sebuah sirkuit dikatakan
sirkuit elementer (elementary circuit) apabila lintasan atau sirkuit itu tidak melalui suatu verteks
lebih dari satu kali.
Dalam sebuah graf tanpa sisi ganda, sebuah lintasan atau sebuah sirkuit dapat dinyatakan oleh
sebuah barisan verteks
L = u, v
1
, v
2
, , v
n1
, v.

Contoh:
C.24.
Graf G pada Gambar 12 memiliki lintasan c f
L
1
= e
1
, e
2
, e
3
= a, b, c, f
dari verteks a ke verteks f, b d e
L
2
= e
1
, e
2
, e
4
, e
8
, e
9
, e
10
, e
3

= a, b, c, d, g, e, c, f a h g
dari a ke f pula,
L
3
= e
1
, e
2
, e
4
, e
7
, e
2
, e
4
, e
8
, e
9
, e
10
, e
3
Gambar 12.
= a, b, c, d, b, c, d, g, e, c, f
dari a ke f juga.
Lintasan L
1
adalah sebuah lintasan elementer, karena tidak ada verteks yang dilalui lebih dari satu
kali.
Lintasan L
2
adalah sebuah lintasan sederhana yang bukan lintasan elementer, karena ada verteks c
dilalui lebih dari satu kali, tetapi tidak ada sisi yang dilalui lebih dari satu kali.
Lintasan L
3
adalah sebuah lintasan yang bukan lintasan sederhana, karena ada sisi e
2
=(b, c) (atau
e
4
=(c, d)) yang dilalui lebih dari satu kali.

C.25.
Graf G pada Gambar 12 memiliki sirkuit
S
1
= e
1
, e
2
, e
4
, e
5
, e
6
= a, b, c, d, h, a
yang merupakan sebuah sirkuit elementer, karena tidak ada verteks yang dilalui lebih dari satu kali,
kecuali verteks awal sama dengan verteks akhir.
S
2
= e
1
, e
2
, e
4
, e
8
, e
9
, e
11
, e
5
, e
6
= a, b, c, d, g, e, d, h, a
yang merupakan sebuah sirkuit sederhana, tetapi tidak merupakan sirkuit elementer, karena ada
verteks d dilalui lebih dari satu kali, tetapi tidak ada sisi yang dilalui lebih dari satu kali.

15
S
3
= e
1
, e
2
, e
4
, e
8
, e
9
, e
10
, e
4
, e
5
, e
6
= a, b, c, d, g, e, c, d, h, a
yang merupakan sebuah sirkuit, tetapi tidak merupakan sirkuit elementer maupun sirkuit sederhana,
karena ada sisi e
4
=(c, d) yang dilalui lebih dari satu kali.

(19) Teorema:
Dalam sebuah graf berarah maupun tidak berarah dengan n buah verteks, untuk setiap pasang
verteks u dan v berlaku hal berikut: jika dari u terdapat sebuah lintasan L ke v, maka terdapat sebuah
lintasan L dengan panjang lintasan p(L) (n 1) dari u ke v.
Bukti:
Misalkan L = u, , v
i
, , v adalah sebuah lintasan dari u ke v dengan panjang p(L) =p, berarti L
terdiri dari (p +1) verteks.
J ika p (n 1) maka teorema terbukti.
J ika p > (n 1), berarti pada L terdapat 2 verteks yang sama, karena jumlah verteks yang ada hanya
n, misalkan v
k
, jadi,
L = u, , v
i
, , v
k
, , v
k
, ,v.
Dengan menghapus sisi-sisi di antara v
k
dan v
k
, yaitu v
k
, , v
k
, dari L, barisan sisi-sisi yang tinggal
masih merupakan sebuah lintasan dari u ke v, yang memiliki jumlah sisi lebih kecil. Proses ini dapat
dilakukan terus sampai mendapat sebuah lintasan L dengan panjang lintasan p(L) (n 1).

(20) Teorema:
Misalkan G adalah sebuah graf berarah atau tidak berarah G dengan urutan verteksnya v
1
, v
2
, , v
n
,
dan A adalah matriks ikatan untuk G. J umlah lintasan dengan panjang r dari v
i
ke v
j
, sama dengan
a
ij
r
pada matriks A
r
.
Bukti:
Dengan induksi matematik.

Contoh:
C.26.
Tentukan jumlah lintasan dengan panjang 2 b
dari setiap verteks ke verteks lain pada graf berarah
G =(V, E) dengan V ={a, b, c} dan E ={(a, b), (b, c)}. a c
J awaban:
Matriks ikatan untuk G adalah
A =
0 1 0
0 0 1
0 0 0
a
b
c






untuk menentukan lintasan panjang 2, harus ditentukan matriks A
2
.
A
2
=
0 1 0
0 0 1
0 0 0
a
b
c





x
0 1 0
0 0 1
0 0 0
a
b
c





=
0 0 1
0 0 0
0 0 0
a
b
c






J adi lintasan panjang 2 yang ada hanya ada 1 dari a ke c saja. Lintasan panjang 1 yang ada,
adalah dari a ke b dan dari b ke c.

C.27.

16
Tentukan jumlah lintasan panjang 2, 3 dan 4 dari a ke setiap verteks lainnya pada graf
G =(V, E), dengan
V ={a, b, c, d} dan a b
E ={(a, b), (a, c), (b, d), (c, d), c d

J awaban:
Tentukan dahulu matriks ikatan untuk G, yaitu
A =
0 1 1 0
1 0 0 1
1 0 0 1
0 1 1 0
a
b
c
d







Untuk mencari jumlah lintasan panjang k, k =2, 3, 4, antara sepasang verteks pada G, dihitung
matriks B =A
2
, C =A
3
, dan D =A
4
,
Untuk k =2:
B =A
2
=
0 1 1 0
1 0 0 1
1 0 0 1
0 1 1 0






x
0 1 1 0
1 0 0 1
1 0 0 1
0 1 1 0






=
2 0 0 2
0 2 2 0
0 2 2 0
2 0 0 2







J adi:
Dari a ke a, jumlah lintasan =b
11
=2, yaitu: a, b, a dan a, c, a.
Dari a ke b, jumlah lintasan =b
12
=0.
Dari a ke c, jumlah lintasan =b
13
=0.
Dari a ke d, jumlah lintasan =b
14
=2, yaitu: a, b, d dan a, c, d.

Untuk k =3:
C =A
3
=B x A =
2 0 0 2
0 2 2 0
0 2 2 0
2 0 0 2






x
0 1 1 0
1 0 0 1
1 0 0 1
0 1 1 0






=
0 4 4 0
4 0 0 4
4 0 0 4
0 4 4 0







J adi,
Dari a ke a, jumlah lintasan =c
11
=0.
Dari a ke b, jumlah lintasan =c
12
=4, yaitu:
a, b, a, b, a, b, d, b, a, c, d, b, dan a, c, a, b.
Dari a ke c, jumlah lintasan =c
13
=4, yaitu:
a, b, a, c, a, b, d, c, a, c, d, c, dan a, c, a, c.
Dari a ke d, jumlah lintasan =c
14
=0.

Untuk k =4:

17
D =A
4
=C x A =
0 4 4 0
4 0 0 4
4 0 0 4
0 4 4 0






x
0 1 1 0
1 0 0 1
1 0 0 1
0 1 1 0






=
8 0 0 8
0 8 8 0
0 8 8 0
8 0 0 8







J adi,
Dari a ke a, jumlah lintasan =d
11
=8, yaitu:
a, b, a, b, a, a, b, d, b, a, a, c, d, b, a, a, c, a, b, a,
a, b, a, c, a, a, b, d, c, a, a, c, d, c, a, dan a, c, a, c, a.
Dari a ke b, jumlah lintasan =d
12
=0.
Dari a ke c, jumlah lintasan =d
13
=0.
Dari a ke d, jumlah lintasan =d
14
=8, yaitu:
a, b, a, c, d, a, b, d, c, d, a, c, d, c, d, a, c, a, c, d,
a, b, a, b, d, a, b, d, b, d, a, c, a, b, d, dan a, c, d, b, d.


V. Keterhubungan

(21) Definisi:
Suatu graf G dikatakan terhubung (connected) apabila antara setiap pasang verteks u dan v di G
terdapat suatu lintasan dari u ke v.
Suatu graf berarah G* dikatakan terhubung kuat (strongly connected) jika untuk setiap dua
verteks u* dan v* di G* terdapat lintasan dari u* ke v* dan v* ke u*.
Suatu graf berarah G* dikatakan terhubung (connected) saja jika untuk setiap dua verteks u* dan
v* di G* terdapat lintasan apabila arah dari semua sisi-sisi diabaikan.
J ika sebuah graf G tidak terhubung, maka G dapat dipecah menjadi dua atau lebih subgraf
terhubung yang maksimal, masing-masing subgraf maksimal itu disebut komponen dari graf.
J adi dapat pula dikatakan bahwa sebuah graf berarah atau tidak berarah adalah terhubung jika graf
tersebut hanya memiliki satu komponen.

Contoh:
C.28.
Graf G =(V, E) dengan a b
V ={a, b, c, d, e} dan
E ={(a, b), (a, c), (b, c), (c, d), (c, e)} c
adalah terhubung.
Bukti: d e
G terhubung, karena antara setiap dua verteks selalu ada lintasan:
dari a ke c ada lintasan panjang 1: a, c,
dari a ke b ada lintasan panjang 1: a, b,
dari a ke d ada lintasan panjang 2: a, c, d,
dari a ke e ada lintasan panjang 2: a, c, e,
dari b ke c ada lintasan panjang 1: b, c,
dari b ke d ada lintasan panjang 2: b, c, d,
dari b ke e ada lintasan panjang 2: b, c, e,
dari c ke d ada lintasan panjang 1: c, d,

18
dari c ke e ada lintasan panjang 1: c, e,
dari d ke e ada lintasan panjang 2: d, c, e.
Atau memeriksa matriks ikatannya A dan pangkat-pangkatnya A
2
, A
3
,
A =
0 1 1 0 0
1 0 1 0 0
1 1 0 1 1
0 0 1 0 0
0 0 1 0 0








, B =A
2
=
2 1 1 1 1
1 2 1 1 1
1 1 4 0 0
1 1 0 1 1
1 1 0 1 1









Terlihat bahwa (a
ij
0) (b
ij
0) untuk i, j =1, 2, 3, 4, 5, yang berarti antara sepasang verteks
selalu ada lintasan dengan panjang 1 atau 2.
C.29.
Graf G =(V, E) dengan a b
V ={a, b, c, d, e, f} dan
E ={(a, b), (b, c), (d, e), (e, f), (f, d)} c d
adalah tidak terhubung.
Bukti: e f
Antara verteks a dan d tidak adalah lintasan, maka G tidak terhubung.
Hal ini juga bisa dicek dari matriks ikatannya A, A dapat dijadikan matriks blok B, di mana
submatriks B
12
dan B
21
merupakan matriks nol.

A =
0 1 0 0 0 0
1 0 1 0 0 0
0 1 0 0 0 0
0 0 0 0 1 1
0 0 0 1 0 1
0 0 0 1 1 0









=
11 12
21 22
B B
B B



,

di mana B
11
=
0 1 0
1 0 1
0 1 0





, B
22
=
0 1 1
1 0 1
1 1 0





dan B
12
=B
21
=
0 0 0
0 0 0
0 0 0





.

C.30.
Graf berarah G =(V, E) dengan a b
V ={a, b, c, d, e} dan
E ={(a, b), (b, c), (b, d), (c, d), (d, e), (e, a)} e c
adalah terhubung kuat.
Bukti: d
Graf berarah G adalah terhubung kuat karena
dari a ke b ada lintasan panjang 1: a, b,
dari a ke c ada lintasan panjang 2: a, b, c,
dari a ke d ada lintasan panjang 2: a, b, d,

19
dari a ke e ada lintasan panjang 4: a, b, c, d, e,
dari b ke a ada lintasan b, c, d, e, a dengan panjang 4,
dari b ke c ada lintasan b, c dengan panjang 1,
dari b ke d ada lintasan b, d dengan panjang 1,
dari b ke e ada lintasan b, d, e dengan panjang 2,
dari c ke a ada lintasan panjang 3: c, d, e, a,
dari c ke b ada lintasan panjang 4: c, d, e, a, b,
dari c ke d ada lintasan panjang 1: c, d,
dari c ke e ada lintasan panjang 2: c, d, e,
dari d ke a ada lintasan panjang 2: d, e, a,
dari d ke b ada lintasan panjang 3: d, e, a, b,
dari d ke c ada lintasan panjang 4: d, e, a, b, c,
dari d ke e ada lintasan panjang 1: d, e,
dari e ke a ada lintasan panjang 1: e, a,
dari e ke b ada lintasan panjang 2: e, a, b,
dari e ke c ada lintasan panjang 3: e, a, b, c,
dari e ke d ada lintasan panjang 4: e, a, b, c, d.

C.31.
Graf berarah G =(V, E) dengan a b
V ={a, b, c, d, e} dan
E ={(b, a), (b, c), (b, d), (c, d), (d, e), (e, a)} e c
adalah tidak terhubung kuat, tetapi terhubung.
Bukti: d
G tidak terhubung kuat karena tidak ada lintasan dari a ke b, tetapi G terhubung, sebab jika G
dipandang sebagai graf tak berarah, G terhubung, hal ini dapat terlihat dari matriks terikat A

A =
0 1 0 0 1
1 0 1 1 0
0 1 0 1 0
0 1 1 0 1
1 0 0 1 0








dan B =A
2
=
2 0 1 2 0
0 3 1 1 2
1 1 2 1 1
2 1 1 3 0
0 2 1 0 2










Terlihat bahwa (a
ij
0) (b
ij
0) untuk i, j =1, 2, 3, 4, 5, yang berarti antara sepasang verteks
selalu ada lintasan panjang 1 atau 2.



20
VI. Lintasan Euler dan Sirkuit Euler

Konigsberg Bridges:
Di kota Konigsberg terdapat sebuah sungai, di tengah sungai itu terdapat dua daratan seperti pulau,
sebut pulau-pulau itu A dan B, dan kedua tepi sungai itu C dan D. Antara pulau A dan B terdapat
sebuah jembatan, antara pulau A dan kedua tepi sungai C dan D masing-masing terdapat dua
jembatan, antara pulau B dan kedua tepi terdapat C dan D masing-masing terdapai sebuah jembatan.
Timbul sebuah pertanyan:
Apakah seseorang mulai dari salah satu daratan (A, B, C atau D) berjalan-jalan melalui 7 jembatan
tersebut masing-masing satu kali dan kembali ke tempat asalnya?
Persoalan ini dapat dipecahkan dengan penggunakan pengertian sirkuit Euler, setelah menyatakan 4
daratan dan 7 jembatan itu dengan suatu graf .
Graf yang sesuai adalah graf G =(V, E) dengan
V ={A, B, C, D} dan
E ={(A, B), (A, C), (A, C), (A, D), (A, D), (B, C), (B, D)}

B

C D

A
G merupakan sebuah graf ganda. Pertanyaan di atas dapat diterjemahkan menjadi pertanyan:
Apakah ada sebuah sirkuit sederhana yang melalui semua sisi di E. Sirkuit semacam itu memiliki
nama khusus, dan akan diberikan pada definisi berikut.

(22) Definisi:
Sebuah lintasan L pada suatu graf G =(V, E) (graf sederhana atau graf ganda) disebut sebuah
lintasan Euler apabila L adalah sebuah lintasan sederhana yang mengandung semua e E. Suatu
sirkuit S pada suatu graf G disebut sirkuit Euler apabila S adalah sirkuit sederhana yang
mengandung semua e E.

Contoh:
C.32.
Tentukan lintasan Euler dari verteks a dan sebuah
sirkuit Euler bila ada, pada graf a b

G =(V, E) dengan
V ={a, b, c, d, e} c d
E ={(a, b), (a, c), (a, d), (b, d), (b, e), (c, d), (d, e)}
J awaban: e
Lintasan Euler dari verteks a:
a, c, d, a, b, d, e, b, a, c, d, a, b, e, d, b,
a, c, d, b, a, d, e, b, a, c, d, b, e, d, a, b,
a, c, d, e, b, a, d, b, a, c, d, e, b, d, a, b.
Pada graf G tidak ada sirkuit Euler.

21

C.33.
Tentukan lintasan Euler dari verteks a dan sebuah sirkuit Euler pada graf
G =(V, E) dengan a b
V ={a, b, c, d, e}
E ={(a, b), (a, e), (b, e), (c, d), (c, e), (d, e)} e

J awaban: c d
Lintasan Euler dari verteks a:
a, b, e, c, d, e, a, a, b, e, d, c, e, a, a, e, c, d, e, b, a, a, e, d, c, e, b, a.
Semua lintasan Euler di atas merupakan sirkuit Euler.

C.34.
Tentukan lintasan Euler dari verteks a dan sebuah sirkuit Euler pada graf
G =(V, E) dengan a b
V ={a, b, c, d, e}
E ={(a, b), (a, e), (a, d), (b, c), (b, e), (c, d), (c, e), (d, e)} e

J awaban: d c
Tidak ada lintasan Euler dan juga tidak ada sirkuit Euler.

C.35.
Tentukan lintasan Euler dari verteks a dan sebuah sirkuit Euler pada graf berarah
G =(V, E) dengan
V ={a, b, c, d} a b
E ={(a, b), (a, d), (c, b), (c, d)}
d c
J awaban:
Tidak ada lintasan Euler dan juga tidak ada sirkuit Euler.

(23) Teorema:
Suatu graf G =(V, E) memiliki sebuah sirkuit Euler jika dan hanya jika G terhubung dan setiap
verteks v V berderajat genap.
Bukti:
Misalkan graf G =(V, E) memiliki sirkuit Euler S, akan dibuktikan bahwa G terhubung dan setiap
v V berderajat genap.
G terhubung adalah jelas.
Ambil verteks v V sembarang, dan misalkan E
v
={e
1
, e
2
, , e
n
} adalah himpunan semua sisi di E
yang bertumpuan pada v.
Karena setiap e
i
E
v
harus dilalui oleh S tepat satu kali, maka jumlah unsur di E
v
harus genap, yaitu
satu sisi dilewati waktu masuk ke verteks v dan satu sisi lain dilewati waktu keluar dari verteks v.
Dengan perkataan lain derajat v adalah genap.
Sebaliknya, misalkan G terhubung dan setiap verteks v V berderajat genap, akan dibuktikan
bahwa G memiliki sebuah sirkuit Euler.
Sirkuit Euler S dapat dikonstruksikan dengan langkah-langkah berikut:
a) Misalkan G
0
=G, dan sirkuit C
0
=. Ambil i =1 dan pilih sebuah verteks a
i
di G,

22
b) Buat sebuah sirkuit S
i
sederhana di G
i1
mulai dari a
i
sepanjang mungkin dan berakhir di a
i

lagi (sampai tidak ada sisi lagi yang bisa dilewati untuk keluar dari a
i
). Hal ini
dimungkinkan karena derajat setiap verteks di G
0
adalah genap, yaitu setelah masuk ke
suatu verteks v melalui satu sisi pasti masih ada sisi lain yang bisa dilewati untuk keluar dari
v.
c) J ika i =1, ambil C
i
=S
i
dan teruskan ke langkah berikut.
d) J ika tidak, buat sirkuit C
i
yang lebih panjang dalam G dengan menyambung sirkuit S
i
dan
C
i1
.
e) Hal ini dimungkinkan, karena a
i
S
i
C
i1
.
f) Bentuk E
i
sebagai himpunan sisi-sisi yang ada di C
i
dan W
i
sebagai himpunan verteks-
verteks yang hadir pada sisi yang ada di C
i
.
g) Misalkan F
i
=E E
i
dan G
i
=(V
i
, F
i
) adalah subgraf dari G
i1
.
h) J ika F
i
= maka sirkuit Euler yang dicari adalah C
i
. J ika F
i
, lakukan langkah berikut.
i) Karena G terhubung, maka V
i
W
i
, ambil sebuah verteks a
i+1
di himpunan V
i
W
i
.
Setiap verteks di G
i
masih berderajat genap.
j) Nilai i ditambah 1. Lakukan lagi langkah b) dan seterusnya.

Contoh:
C.36.
Tentukan sebuah sirkuit Euler pada graf G =(V, E) dengan
V ={a, b, c, d, e, f } dan a b
E ={(a, b), (a, f), (b, c), (c, d), (d, e), (e, c), (c, f)}
J awaban: f c d
Setiap verteks di G memiliki derajat genap, maka
G memiliki sebuah sirkuit Euler. e
Ambil a
1
=a dan sirkuit S
1
=a, b, c, f, a, C
1
=S
1
.
E
1
={(a, b), (b, c), (c, f), (f, a)}, dan W
1
={a, b, c, f}
F
1
=E E
1
={(c, d), (d, e), (e, c)} ,
maka bentuk G
1
=(V
1
, F
1
) dengan V
1
= {c, d, e} dan W
1
V
1
={c}
Ambil a
2
=c dan sirkuit S
2
=c, e, d, c, dan C
2
=a, b, c, e, d, c, f, a,
E
2
={(a, b), (b, c), (c, e), (e, d), (d, c), (c, f), (f, a)}, dan
W
2
={a, b, c, e, d, f}.
F
2
=E E
2
=,
maka C
2
adalah sirkuit Euler yang dicari.

C.37.
Tentukan sebuah sirkuit Euler pada graf G =(V, E) dengan
V ={a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k} dan
E ={(a, b), (a, e), (b, c), (b, d), (b, e), (c, d), (d, f), (d, g), (e, f),
(e, i), (f, g), (f, i), (g, h), (g, k), (h, i), (h, k), (h, j), (i, j)}

a e i j

b f h

c d g k

23
J awaban:
Setiap verteks di G memiliki derajat genap, maka G memiliki sebuah sirkuit Euler.
Ambil a
1
=a dan sirkuit S
1
=a, b, e, a, C
1
=S
1
.
E
1
={(a, b), (b, e), (e, a)}, dan W
1
={a, b, e}
F
1
=E E
1
={(b, c), (b, d), (c, d), (d, f), (d, g), (e, f), (e, i), (f, g),
(f, i), (g, h), (g, k), (h, i), (h, k), (h, j), (i, j)} ,
maka bentuk G
1
=(V
1
, F
1
) dengan
V
1
= {b, c, d, e, f, g, h, i, j, k} dan W
1
V
1
={b, e}
Ambil a
2
=b dan sirkuit S
2
=b, d, c, b, dan C
2
=b, e, a, b, d, c, b,
E
2
={(b, e), (e, a), (a, b), (b, d), (d, c), (c, b)}, dan W
2
={a, b, c, d, e}
F
2
=E E
2
={(d, f), (d, g), (e, f), (e, i), (f, g), (f, i), (g, h), (g, k), (h, i), (h, k), (h, j), (i, j)} ,
maka bentuk G
2
=(V
2
, F
2
) dengan V
2
= {d, e, f, g, h, i, j, k} dan W
2
V
2
={d, e}
Ambil a
3
=d dan sirkuit S
3
=d, f, i, j, h, k, g, d, dan C
3
= d, c, b, e, a, b, d, f, i, j, h, k, g, d,
E
3
={(d, c), (c, b), (b, e), (e, a), (a, b), (b, d), (d, f), (f, i), (i, j), (j, h), (h, k), (k, g), (g, d)}, dan
W
3
={a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k}
F
3
=E E
3
={(e, f), (e, i), (f, g), (g, h), (h, i)} ,
maka bentuk G
3
=(V
3
, F
3
) dengan V
3
= {e, f, g, h, i} dan W
3
V
3
={e, f, g, h, i}

Ambil a
4
=e dan sirkuit S
4
=e, f, g, h, i, e, dan C
4
= d, c, b, e, f, g, h, i, e, a, b, d, f, i, j, h, k, g, d,
E
4
={(d, c), (c, b), (b, e), (e, a), (a, b), (b, d), (d, f), (f, i), (i, j),
(j, h), (h, k), (k, g), (g, d), (e, f), (e, i), (f, g), (g, h), (h, i)}, dan
W
4
={a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k}
F
4
=E E
4
=,
maka C
4
adalah sirkuit Euler yang dicari.

(24) Teorema:
Suatu graf G =(V, E) memiliki sebuah lintasan Euler tetapi tidak memiliki sirkuit Euler jika dan
hanya jika G terhubung dan memiliki tepat dua verteks u dan v berderajat ganjil.
Bukti: Coba sendiri.

Contoh:
C.38.
Selidiki apakah graf G =(V, E) dengan
V ={a, b, c, d} dan E ={(a, b), (a, d), (b, c), (b, d), (c, d)}
memiliki lintasan Euler?

C.39.
Selidiki apakah graf G =(V, E) dengan
V ={a, b, c, d, e, f, g} dan
E ={(a, b), (b, c), (c, d), (d, e), (e, f), (f, a), (a, g), (b, g), (c, g), (d, g), (e, g), (f, g)}
memiliki lintasan Euler?



24
VII. Lintasan Hamilton dan Sirkuit Hamilton

(25) Definisi:
Sebuah lintasan L pada suatu graf G =(V, E) (graf sederhana atau graf ganda) disebut sebuah
lintasan Hamilton apabila L adalah sebuah lintasan yang melalui setiap v V tepat satu kali. Suatu
sirkuit S pada suatu graf G disebut sirkuit Euler apabila S adalah sebuah sirkuit yang melalui setiap
v V tepat satu kali. .

Contoh:
C.40.
Tentukan sebuah sirkuit Hamilton pada graf a b
G =(V, E) dengan
V ={a, b, c, d, e} dan c d
E ={(a, b), (a, c), (a, d), (b, c), (b, d), (c, d), (c, e), (d, e)}.
J awaban: e
Sirkuit Hamiltonnya adalah
S =a, b, d, e, c, a atau S =a, c, e, d, b, a atau S =a, d, e, c, b, a.

C.41.
Tentukan sebuah sirkuit Hamilton pada graf a b
G =(V, E) dengan
V ={a, b, c, d, e} dan E ={(a, b), (a, d), (b, c), (c, d), (d, e)}. c d
J awaban:
Tidak ada sirkuit Hamilton, karena e berderajat satu. e

C.42.
Tentukan sebuah sirkuit Hamilton pada graf a b
G =(V, E) dengan
V ={a, b, c, d, e} dan c
E ={(a, b), (a, c), (b, c), (c, d), (c, e), (d, e)}. e d
J awaban:
Tidak ada sirkuit Hamilton, karena verteks c perlu dilewati dua kali.

C.43.
Buktikan bahwa setiap graf lengkap K
n
, untuk n 3, memiliki suatu sirkuit Hamilton.
Bukti:
Coba sendiri.


25
C.44.
Selidiki apakah graf G =(V, E) berikut memiliki lintasan Hamilton ?

A
B B B
A A A A
B
B A B
A A A
B

J awaban :
Ambil sebuah verteks v sembarang, beri label A pada v, lalu pada setiap verteks yang bersisian
dengan v diberi label B, dan setiap verteks yang bersisian dengan verteks berlabel B diberi label A,
hal ini dilakukan terus sampai semua verteks telah berlabel. Pada graf G di atas, ternyata jumlah
verteks berlabel A adalah 9 dan jumlah verteks yang berlabel B adalah 7, maka tidak mungkin ada
lintasan Hamilton.

Tidak ada syarat perlu dan cukup agar sebuah graf memiliki suatu sirkuit Hamilton, tetapi
terdapat syarat cukup agar sebuah graf memiliki suatu sirkuit Hamilton.

(26) Teorema:
Syarat cukup untuk sebuah graf sederhana G dengan n verteks memiliki suatu lintasan Hamilton
adalah jumlah derajat setiap pasang verteks dari G harus lebih besar atau sama dengan (n 1).
Bukti:
Pertama-tama dibuktikan dahulu bahwa jika jumlah derajat setiap pasang verteks lebih besar atau
sama dengan (n 1), maka G terhubung. Misalkan G tidak terhubung, berarti G memiliki dua atau
lebih komponen. Misalkan v
1
adalah suatu verteks di komponen yang memiliki n
1
verteks dan v
2
adalah verteks di komponen yang memiliki n
2
verteks, maka
deg(v
1
) n
1
1 dan deg(v
2
) n
2
1, berarti
deg(v
1
) +deg(v
2
) n
1
+n
2
2, tetapi
n
1
+n
2
n, jadi
deg(v
1
) +deg(v
2
) n 2 < n 1, bertentangan dengan hipotesa.
J adi G harus terhubung.
Sekarang akan dibuktikan bahwa pada graf G dapat dibentuk suatu sirkuit Hamilton. Lintasan
Hamiltonnya dibentuk tahap demi tahap, dimulai dengan lintasan yang terdiri dari satu sisi saja.
Kemudian, misalkan ada suatu lintasan L =v
1
, v
2
, ,v
p
panjang (p 1), p < n

v
1
v
2
v
3
v
p


Maka akan timbul 2 kasus berikut:
a) v
1
atau v
p
bersisian dengan suatu verteks w yang tidak ada di L.

26
b) v
1
dan v
p
hanya bersisian dengan verteks-verteks yang ada di L.
Dalam kasus a), dibuat lintasan baru dengan panjang p,
L =w, v
1
, v
2
, ,v
p
atau L =v
1
, v
2
, ,v
p
, w

w v
1
v
2
v
3
v
p

atau
v
1
v
2
v
3
v
p
w

Dalam kasus b), akan dibuktikan bahwa terdapat suatu sirkuit S yang hanya mengandung verteks-
verteks v
1
, v
2
, ,v
p
saja. Di sini akan terdapat dua kemungkinan, yaitu
i. v
1
bersisian dengan v
p

Dalam hal ini sirkuit yang dimaksud adalah S =v
1
, v
2
, ,v
p
, v
1


v
1

v
2

v
3
v
p


ii. v
1
tidak bersisian dengan v
p
, dan hanya bersisian dengan verteks-verteks

1
,
i
v
2
,
i
v , ,
k
i
v dengan 2 i
j
(p 1), j =1, 2, , k
maka v
p
akan bersisian dengan salah satu dari
1
1
,
i
v


2
1
,
i
v

,
1
,
k
i
v

sebab bila tidak demikian,
akan berlaku
deg(v
p
) (p 1 k)
sedangkan deg(v
1
) =k
jadi,
deg(v
1
) +deg(v
p
) k +(p 1 k) = (p 1) < (n 1)
bertentangan dengan hipotesa. J adi v
p
pasti bersisian dengan salah satu dari
1
1
,
i
v


2
1
,
i
v


,
1
,
k
i
v

misalkan v
j1
, maka akan diperoleh sirkuit
S =v
1
, v
2
, , v
j1
, v
p
, v
p1
, v
p2
, ,v
j
, v
1

Karena G terhubung, maka salah satu dari v
2
, , v
p1
, misalkan v
k
, pasti bersisian dengan
satu verteks u yang berbeda dengan v
1
, v
2
, ,v
p
. Maka akan diperoleh lintasan baru L dengan
panjang p,
L = u, v
k
, v
k+1
, , v
j1
, v
p
, v
p1
, v
p2
, ,v
j
, v
1
,

v
2
, ,v
k1

Proses di atas diulangi terus sampai diperoleh lintasan dengan panjang (n 1).

(27) Teorema:
Syarat cukup untuk sebuah graf sederhana G dengan n (n 3) verteks memiliki suatu sirkuit
Hamilton adalah derajat setiap verteks dari G harus lebih besar atau sama dengan n/2.


27
VIII. Lintasan Terpendek

Banyak aplikasi teori graf yang membutuhkan pengertian graf berbobot.

(28) Definisi:
Sebuah graf G =(V, E) disebut graf berbobot (weighted graf), apabila terdapat sebuah fungsi bobot
bernilai real W pada himpunan E, W : E R,
nilai W(e) disebut bobot untuk sisi e, e E. Graf berbobot tersebut dinyatakan pula sebagai
G =(V, E, W).

Graf berbobot G =(V, E, W) dapat menyatakan
suatu sistem perhubungan udara, di mana
V =himpunan kota-kota
E =himpunan penerbangan langsung dari satu kota ke kota lain
W =fungsi bernilai real pada E yang menyatakan jarak atau ongkos atau waktu
suatu sistem jaringan komputer, di mana
V =himpunan komputer
E =himpunan jalur komunikasi langsung antar dua komputer
W =fungsi bernilai real pada E yang menyatakan jarak atau ongkos atau waktu

Dengan adanya bobot pada setiap sisi, maka timbul persoalan menentukan lintasan terpendek
(shortest path) antara dua verteks dalam sebuah graf berbobot. Lintasan terpendek dapat berarti
jalur termurah atau terdekat atau tercepat tergantung pada makna dari fungsi bobot yang
bersangkutan. Terdapat beberapa algoritma untuk mencari lintasan terpendek antara dua verteks
dalam sebuah graf berbobot, salah satunya adalah algoritma Dijkstra. Ide dasar dari algoritma
tersebut adalah sebagai berikut:

Misalkan dalam sebuah graf berbobot G =(V, E, W) ingin dicari suatu lintasan terpendek P(a, z)
dari verteks a V ke verteks z V. Untuk itu, dicari dahulu lintasan terpendek P(a, b) dari a ke
suatu verteks lain b di V, kemudian dicari lagi lintasan terpendek P(a, c) dari a ke suatu verteks lain
lagi c di V, dan seterusnya. Lalu berhenti apabila lintasan P(a, z) telah diperoleh. Caranya adalah
sebagai berikut:
1) Selama proses berlangsung ditentukan dua himpunan S V dan B V, dengan
S B =V dan S B =, dan
S =himpunan verteks-verteks yang sudah diketahui lintasan terpendeknya dari a
B =himpunan verteks-verteks yang belum diketahui lintasan terpendeknya dari a
2) Setiap sisi memiliki bobot tertentu, sisi yang tidak ada diberi bobot tak berhingga ().
3) Misalkan B V dengan a B, dan S =V B. Lintasan terpendek dari a ke salah satu verteks
di B dapat ditentukan sebagai berikut:
Untuk setiap verteks t B, diberi label L(t) yang menyatakan panjang suatu lintasan terpendek
di antara semua lintasan dari a ke t yang tidak melibatkan verteks lain di B, (boleh melibatkan
verteks lain di S), L(t) disebut label untuk t terhadap S.
4) Ambil verteks t
1
di B yang memiliki label terkecil di antara semua label-label verteks di B,
maka L(t
1
) adalah panjang lintasan terpendek dari a ke t
1
.
Bukti:
Misalkan L(t
1
) bukan panjang lintasan terpendek dari a ke t
1
, maka ada suatu lintasan P(a, t
1
)
dari a ke t
1
yang panjangnya kurang dari L(t
1
). Lintasan P(a, t
1
) ini pasti melibatkan satu atau

28
lebih verteks di B
1
=B {t
1
}. Andaikan u adalah verteks pertama di B
1
yang ditemui dalam
lintasan P(a, t
1
) itu. Hal ini berarti bahwa
L(u) < L(t
1
)
Kontradiksi dengan L(t
1
) merupakan label terkecil di antara label-label verteks di B.
5) Cara efisien untuk menentukan label baru dari label sebelumnya adalah sebagai berikut:
Misalkan semua verteks di B telah memiliki label terhadap suatu S, dan x adalah vertek di B
dengan label terkecil. Bentuk
S =S {x} dan B =B {x},
maka label L(t) untuk verteks t di B terhadap S adalah
L(t) =min [L(t), L(x) +W(x, t)]
karena, lintasan terpendek dari a ke t tanpa melibatkan verteks lain di B dapat merupakan
lintasan yang tidak melibatkan x dan vertek lain di B, maka L(t) bisa =L(t),
lintasan yang terdiri dari suatu lintasan dari a ke x yang tidak melibatkan verteks di B
kemudian diteruskan oleh sisi dari x ke t, maka L(t) bisa =L(x) +W(x, t).

Contoh:
C.45.
Diberikan sebuah graf berbobot G =(V, E, W), dengan
V ={a, b, c, d, e, z}, b d
E ={(a, b), (a, c), (b, c), (b, d), (b, e), a z
(c, e), (d, e), (d, z), (e, z)} c e
dan W(a, b) =1, W(a, c) =4, W(b, c) =2,
W(b, d) =7, W(b, e) =5, W(c, e) =1, W(d, e) =3, W(d, z) =2, W(e, z) =6.
J awaban:
Misalkan S ={a, b} dan B ={c, d, e, z}.
Untuk menentukan label untuk c terhadap S, dicari semua lintasan dari a ke c yang tidak melibatkan
verteks lain di B, di sini hanya ada dua,yaitu:
lintasan a, c dengan panjang W(a, c) =4, dan
lintasan a, b, c dengan panjang W(a, b) +W(b, c) =1 +2 =3, jadi L(c) =min(4, 3) =3.
Lintasan dari a ke d yang tidak melibatkan verteks lain di B hanya ada satu, yaitu lintasan a, b, d
dengan panjang W(a, b) +W(b, d) =1 +7 =8, jadi L(d) =8.
Lintasan dari a ke e yang tidak melibatkan verteks lain di B hanya ada satu, yaitu lintasan a, b, e
dengan panjang W(a, b) +W(b, e) =1 +5 =6, jadi L(e) =6.
Lintasan dari a ke z yang tidak melibatkan verteks lain di B tidak ada, atau dapat diambil lintasan
a, b, z dengan W(b, z) =, berarti panjang lintasan tersebut adalah W(a, b) +W(b, z) =1 + =,
jadi L(e) =.
Di antara L(c), L(d), L(e) dan L(z), yang terkecil adalah L(c), maka panjang lintasan terdendek dari
a ke c adalah L(c) =3.
Bentuk S =S {c} ={a, b, c}dan B =B {c} ={d, e, z}
maka L(d) =min [L(d), L(c) +W(c, d)] =min [8, 3 +] =8
L(e) =min [L(e), L(c) +W(c, e)] =min [6, 3 +1] =4
L(z) =min [L(z), L(c) +W(c, z)] =min [, 3 +] =
J adi panjang litasan terpendek dari a ke e adalah 4.

(29) Algoritma Dijkstra untuk mencari panjang lintasan terpendek dari vertek a ke vertek z di
sebuah graf berbobot G =(V, E, W)
1) Pertama-tama misalkan S ={a} dan B =V {a}. Untuk setiap verteks t di B tentukan,

29
L(t) =W(a, t), (W(a, t) = bila (a, t) E)
2) Pilih verteks x di B yeng memiliki label terkecil terhadap S.
3) J ika x adalah verteks yang ingin dicapai, yaitu z, maka stop. J ika tidak, bentuk S =S {x}
dan B =B {x}. Untuk setiap verteks t di B tentukan labelnya terhadap S dengan rumus
L(t) =min [L(t), L(x) +W(x, t)]
4) Ulangi langkah 2) dan 3) dengan memakai S sebagai S dan B sebagai B.

C.46.
Tentukan lintasan terpendek dari verteks a ke verteks z dan panjangnya pada graf berbobot
G =(V, E, W), dengan V ={a, b, c, d, e, z},
E ={(a, b), (a, c),(b, c), (b, d), (b, e), b d
(c, e), (d, e), (d, z), (e, z)} a z
dan W(a, b) =1, W(a, c) =4, W(b, c) =2, c e
W(b, d) =7, W(b, e) =5, W(c, e) =1, W(d, e) =3, W(d, z) =2, W(e, z) =6.
J awaban:
Pertama-tama ambil S ={a} dan B =V {a} ={b, c, d, e, z}. Untuk setiap verteks t di B, diberikan
label L(t) dan label pendamping a ,
L(b) =W(a, b) =1,
L(c) =W(a, c) =4, (1, a) b d (,a)
L(d) =W(a, d) =, a z (,a)
L(e) =W(a, e) =, (4, a) c e (,a)
L(z) =W(a, z) =.

Tahap 1:
Label terkecil adalah L(b) =1, maka ambil x =b, dan bentuk
S =S {b} ={a, b} dan B =B {b} ={c, d, e, z}.
Untuk setiap verteks t di B, diberikan label L(t) dan label pendamping a, b,
L(c) =min [L(c), L(b) +W(b, c)]
=min [4, 1 +2] =3, (1,a) b d (8,a, b)
L(d) =min [L(d), L(b) +W(b, d)]
=min [, 1 +7] =8, a z (,a, b)
L(e) =min [L(e), L(b) +W(b, e)]
=min [, 1 +5] =6 (3,a, b) c e (6,a, b)
L(z) =min [L(z), L(b) +W(b, z)]
=min [, 1 +] =
Ambil S sebagai S dan B sebagai B, begitu pula L(t) sebagai L(t) untuk semua verteks t di B.
Tahap 2:
Label terkecil adalah L(c) =3, maka ambil x =c,. dan bentuk
S =S {c} ={a, b, c} dan B =B {c} ={d, e, z}.
Untuk setiap verteks t di B, beri label L(t) dan label pendamping a, b, c,

30
L(d) =min [L(d), L(c) +W(c, d)]
=min [8, 3 +] =8 (1,a) b d (8,a, b, c)
L(e) =min [L(e), L(c) +W(c, e)]
=min [6, 3 +1] =4 a z (,a, b, c)
L(z) =min [L(z), L(c) +W(c, z)]
=min [, 3 +] = (3,a, b) c e (4,a, b, c)
Ambil S sebagai S dan B sebagai B, begitu pula L(t) sebagai L(t) untuk semua verteks t di B.

Tahap 3:
Label terkecil adalah L(e) =4, maka ambil x =e,. dan bentuk
S =S {e} ={a, b, c, e} dan B =B {e} ={d, z}.
Untuk setiap verteks t di B, beri label L(t) dan label pendamping a, b, c, e,
L(d) =min [L(d), L(d) +W(d, z)]
=min [8, 4 +3] =7 (1,a) b d (7, a, b, c, e)
L(z) =min [L(z), L(e) +W(e, z)]
=min [, 4 +6] =10 a z (10, a, b, c, e)

(3, a, b) c e (4, a, b, c)
Ambil S sebagai S dan B sebagai B, begitu pula L(t) sebagai L(t) untuk semua verteks t di B.

Tahap 4:
Label terkecil adalah L(d) =7, maka ambil x =d,. dan bentuk
S =S {d} ={a, b, c, e, d} dan B =B - {e} ={z}.
Untuk setiap verteks t di B, diberikan label L(t) dan label pendamping
a, b, c, e, d,
(1,a) b d (7, a, b, c, e)
L(z) =min [L(z), L(d) +W(d, z)]
=min [10, 7 +2] =9 a z (9, a, b, c, e, d)

(3,a, b) c e (4, a, b, c)
Ambil S sebagai S dan B sebagai B, begitu pula L(t) sebagai L(t) untuk semua verteks t di B.

Tahap 5:
Label terkecil adalah L(z) =9, maka ambil x =z, dan sampailah pada tujuan. J adi panjang lintasan
terpendek dari a ke z adalah 9. Dan label pendamping verteks z memberikan lintasan terpendeknya,
yaitu a, b, c, e, d, z.
Dari komputasi di atas, selain diperoleh lintasan terpendek dari verteks a ke verteks z, juga
diperoleh lintasan terpendek dari a ke b : lintasan a, b dengan panjang 1
c : lintasan a, b, c dengan panjang 3
d : lintasan a, b, c, e, d dengan panjang 7
e : lintasan a, b, c, e dengan panjang 4.
C.47.
Tentukan sebuah lintasan terpendek dari verteks a ke verteks z dan panjangnya pada graf berbobot
G =(V, E, W), dengan V ={a, b, c, d, e, f, g, z},
E ={(a, b), (a, c), (b, c), (b, d), (c, d), (c, e), (d, e), (d, f), (e, g), (f, g), (f, z), (g, z)}, dan

31
W(a, b) =4, W(a, c) =3, W(b, c) =2, W(b, d) =5, W(c, d) =3, W(c, e) =6, W(d, e) =1, W(d, f) =5,
W(e, g) =5, W(f, g) =2, W(f, z) =7, W(g, z) =4.

b d f
a z
c e g

IX. Graf Planar

(30) Definisi:
Sebuah graf G =(V, E) disebut sebuah graf planar apabila graf tersebut dapat digambarkan dalam
sebuah bidang datar tanpa ada sisi yang saling berpotongan (kecuali sisi sisi berpotongan pada
sebuah verteks).

Contoh:
C.48.
1) Apakah graf lengkap dengan 4 verteks K
4
adalah planar.
J awaban: K
4
adalah sebuah graf planar
2) Apakah Q
3
, yaitu graf berbentuk kubus dimensi 3, merupakan graf planar ?
J awaban: Q
3
adalah sebuah graf planar
3) Apakah graf bipartite lengkap K
3,3
planar?
J awaban: K
3,3
bukan sebuah graf planar.

Representasi planar suatu graf (yaitu representasi graf itu pada bidang datar), membagi bidang datar
tersebut menjadi daerah-daerah (regions).

Contoh:
C.49.
Graf lengkap dengan 4 verteks membagi
bidang datar menjadi 4 daerah: R
1
, R
2
, R
3
, dan R
4
, R
4

Terlihat bahwa


J umlah daerah =r =4
J umlah verteks =v =4 R
2
R
1

J umlah sisi =e =
( 1)
2
v v
=6, R
3

antara r, v dan e terdapat hubungan r =e v +2.

(31) Teorema Euler:
J ika G adalah sebuah graf sederhana planar terhubung dengan v verteks dan e sisi dan representasi
planar graf itu membagi bidang datar itu menjadi r buah daerah, maka berlaku r =e v +2.

Contoh:
C.50.
Sebuah graf sederhana planar terhubung G memiliki 20 verteks, masing-maing berderajat 3. Berapa
daerah yang terjadi pada representasi planar dari graf G itu?
J awaban:
v =20, jumlah derajat =3 x 20 =60. Sedangkan telah diketahui bahwa:
jumlah derajat =2 x jumlah sisi, jadi 2 x e =60, maka e =30.
Dari rumus Euler diperoleh: r =e v +2 =30 20 +2 =12.

32

(32) Definisi:
Derajat suatu daerah adalah jumlah sisi pada batas daerah itu. Apabila suatu sisi perlu ditelusuri
dua kali dalam menelusuri batas daerah tersebut, maka sisi itu memberikan kontribusi 2 kepada
derajat daerah tersebut.

Contoh:
C.51.
Derajat masing-masing daerah graf di samping adalah

derajat R
1
=3 R
3
R
1

derajat R
2
=6
derajat R
3
=7 R
2


(33) Teorema Euler I:
J ika G adalah sebuah graf sederhana planar terhubung dengan v verteks dan e sisi, dengan v 3,
maka e 3v 6

Contoh:
C.52.
Buktikan bahwa K
5
tidak planar.
Bukti:
K
5
memiliki jumlah verteks v =5, jumlah sisi =e =
( 1)
2
v v
=
5(5 1)
2

=10,
maka 3v 6 =9, jadi pertaksamaan e 3v 6, atau 10 9 tidak terpenuhi, maka berdasarkan
Teorema 33, K
5
tidak planar.

(34) Teorema Euler II:
J ika G adalah sebuah graf sederhana planar terhubung dengan v verteks dan e sisi, dengan v 3, dan
tidak memiliki sikuit dengan panjang 3, maka e 2v 4.

Contoh:
C.53.
Buktikan bahwa K
3,3
tidak planar.
Bukti:
K
3,3
memiliki jumlah verteks v =6, jumlah sisi =e =3 x 3 =9, 3v 6 =12.
Di sini pertaksamaan e 3v 6, atau 9 12 terpenuhi, tetapi tidak berarti bahwa K
3,3
planar. K
3,3

tidak memiliki sirkuit dengan panjang 3, maka dicoba Teorema (5.34).
Hitung 2v 4 =8, terlihat bahwa e 2v 4 tidak terpenuhi, maka K
3,3
bukan graf planar.

(35) Definisi:
Dari sebuah graf G =(V, E) dapat diperoleh sebuah graf baru G =(V, E) dengan melakukan
operasi berikut: V =V {w}, dengan w V, dan untuk suatu sisi (u, v) di E bentuk
E =( E {(u, v)}) {(w, u), (w, v)}.
Dengan perkataan lain, operasinya adalah menambah sebuah verteks baru w ke V dan menghapus
sebuah sisi (u, v) E, dan sekaligus menambah dua buah sisi (u, w) dan (v, w) ke E, operasi ini
disebut operasi pembelahan elementer (elementary subdivision) terhadap sisi (u, v).


33
(36) Teorema:
Sebuah graf G yang diperoleh dari sebuah graf planar G dengan melakukan operasi pembelahan
elementer berhingga kali juga merupakan sebuah graf planar.
Bukti: Coba sendiri.

(37) Definisi:
Dua graf G
1
=(V
1
, E
1
) dan G
2
=(V
2
, E
2
) dikatakan homeomorfik jika kedua graf itu dapat diperoleh
dari graf yang sama melalui sebarisan operasi pembelahan elementer.

Contoh:
C.54.
Graf G =(V, E) dengan G : b a
V ={a, b, c, d, e, f, g, h} dan
E ={(a, d), (a, f), (b, c), (b, d), (b, g), (c, f), (e, h), (g, h)} f g
dapat diperoleh dari graf G
1
=(V
1
, E
1
) di mana
V
1
={ a, b, c, d, e, f, g} dan c d h e
E
1
={(a, d), (a, f), (b, c), (b, d), (b, g), (c, f), (e, g)}
dengan melakukan operasi pembelahan elementer terhadap sisi (e, g).
b a
Graf G
1
=(V
1
, E
1
) dapat diperoleh dari
graf G
2
=(V
2
, E
2
) di mana G
1
: f g
V
2
={ a, b, c, d, e, f} dan
E
2
={(a, d), (a, f), (b, c), (b, d), (b, e), (c, f)} c d e
dengan melakukan operasi pembelahan elementer terhadap sisi (b, e).
b a
Graf G
2
=(V
2
, E
2
) dapat diperoleh dari
graf G
3
=(V
3
, E
3
) di mana G
2
: f
V
3
={a, b, c, d, e} dan
E
3
={(a, d), (a, c), (b, c), (b, d), (b, e)} c d e
dengan melakukan operasi pembelahan elementer terhadap sisi (a, c).

Graf G
3
=(V
3
, E
3
) dapat diperoleh dari G
3
: b a
graf G
4
=(V
4
, E
4
) di mana
V
4
={a, b, c, e} dan c d e
E
4
={(a, b), (a, c), (b, c), (b, e)}
G
4
: b a
dengan melakukan operasi pembelahan elementer
terhadap sisi (a, b). c e
J adi lima graf G, G
1
, G
2
, G
3
, G
4
saling homeomorfik.

(38) Teorema Kuratowski:
Sebuah graf G =(V, E) adalah tidak planar jika dan hanya jika G mengandung sebuah subgraf yang
homeomorfik dengan K
3,3
atau K
5
.


34
Contoh:
C.55.
Apakah graf G =(V, E) planar? Bila
V ={a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k} dan
E ={(a, b), (a, c), (a, g), (a, i), (b, c), (b, g), (b, i), (b, j), (c, d), (c, h), (c, i), (c, j), (d, e), (e, f),
(f, g), (g, h), (g, i), (g, k), (i, k)}
J awaban:
G mengandung subgraf G
1
=(V
1
, E
1
) dengan
V
1
={a, b, c, d, e, f, g, i} dan
E
1
={(a, b), (a, c), (a, g), (a, i), (b, c), (b, g), (b, i), (c, d), (c, i), (d, e), (e, f), (f, g), (g, i)}
Sedangkan graf G
1
homeomorfik dengan K
5
. Maka G tidak planar.


X. Pewarnaan Graf

Dalam mewarnai suatu peta, dua daerah (negara atau propinsi) yang memikili batas bersama
biasanya diberi warna yang berbeda.
Maka timbul pertanyaan berapa jumlah warna yang diperlukan untuk mewarnai suatu peta agar
daerah-daerah yang memiliki batas yang sama tidak berwarna sama?
Setiap peta dapat direpresentasikan oleh sebuah graf, di mana verteksnya merepresentasikan daerah,
dan sebuah sisi menghubungkan 2 verteks yang memiliki batas bersekutuan.
Dua daerah yang hanya bersinggungan di satu titik tidak dianggap memiliki batas persekutuan.

Contoh:
C.56.
Graf G
1
menyatakan peta di sampingnya.
D A
A B B
G
1
: D
C E C E

J adi persoalan mewarnai peta setara dengan persoalan mewarnai verteks-verteks sehinga tidak ada
dua verteks yang bersisian berwarna sama.

(39) Definisi:
J umlah warna yang paling kecil yang dibutuhkan untuk mewarnai sebuah graf agar tidak ada dua
verteks yang bersisian berwarna sama disebut bilangan kromatik (chromatic number) dari graf
tersebut.

Contoh:
C.57.
Tentukan bilangan kromatik dari K
n
dan K
m,n
.
J awaban:
Bilangan kromatik dari K
n
adalah n dan bilangan kromatik dari K
m,n
adalah 2.


35
C.58.
Tentukan bilangan kromatik dari graf G =(V, E) dengan b e
V ={a, b, c, d, e, f, g} dan
E ={(a, b), (a, c), (b, c), (b, d), (b, e), (c, d), a d g
(c, f), (d, e), (d, f), (e, f), (e, g), (f, g)}
J awaban: c f
Bilangan kromatik dari G adalah 3.

C.59.
Tentukan bilangan kromatik dari graf G =(V, E) dengan
V ={a, b, c, d, e, f, g} dan
E ={(a, b), (a, c), (a, g), (b, c), (b, d), (b, e), b e
(c, f), (d, e), (d, f), (e, f), (e, g), (f, g)}
a g d
J awaban:
Bilangan kromatik dari G adalah 4. c f


(40) Teorema Empat Warna (Four coloring):
Bilangan kromatik dari suatu graf planar adalah lebih kecil atau sama dengan 4.