Anda di halaman 1dari 16

1

1. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan Ekstraksi Karagenan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Ekstraksi Karagenan
Kelompok Berat Awal (g) Berat Kering (g) Rendemen (%)
C1 40 0,3 0,750
C2 40 0,4 1,000
C3 40 1,2 3,000
C4 40 1,4 3,500
C5 40 1,4 3,500
C6 40 0,23 0,575
Dari hasil pengamatan diatas dapat dilihat bahwa pada semua kelompok menggunakan
berat awal yang sama, yaitu 40 gram. Yang memiliki berat kering paling tinggi adalah
pada kelompok C4 dan C5, yaitu 1,4, sedangkan yang memiliki berat kering paling
rendah adalah pada kelompok C6, yaitu sebesar 0,23 gram. Hasil yang sama juga
diperoleh pada % rendemen, dimana yang paling besar adalah pada kelompok C4 dan
C5 dengan nilai 3,500%, sedangkan yang paling rendah adalah kelompok C6, yaitu
0,575%.

2

2. PEMBAHASAN

Dalam jurnal Carrageenan Properties Extracted From Eucheuma cottonii, Indonesia
dijelaskan bahwa karagenan adalah sulfat polisakarida linear yang diektrak dari rumput
laut merah tertentu, misalnya dari kelas Rhodophyceae. Kappa karagenan dapat diambil
atau di ektraksi dari Eucheuma cottonii yang terdapat banyak di Indonesia dan Filipina.
Kappa karagenan dari Eucheuma cottonii ini dapat membentuk gel yang kuat dan sering
kali digunakan dalam industri susu.

Lalu pada jurnal Carrageenan of Eucheuma isiforme (Solieriaceae, Rhodophyta) from
Yucata n, Mexico. I. Effect of extraction conditions dikatakan bahwa karagenan adalah
sulfat galaktan yang terdiri dari residu D galaktosa yang berikatan pada -1,3 dan -1,4
secara bergantian. Karagenan ini diklasifikasikan sebagai kappa, lambda, dan iota
berdasarkan pada pola substitusi antara sulfat dan 3,6 anhidrogalaktosa. Faktor-faktor
yang mempengaruhi hasil dari karagenan dan kualitasnya adalah jenis alga yang
digunakan atau di ekstrak, jenis musim, dan kondisi pada saat pengekstraksian.

Rumput laut adalah ganggang yang berhabitat dilaut dan termasuk kedalam divisi
thallophyta. Seluruh bagian pada tanaman ini adalah batang atau yang disebut thallus.
Thallus ada yang tersusun atas banyak sel (multiseluler) dan juga ada yang hanya
tersusun atas satu sel saja (uniseluler). Thallus pada rumput laut memiliki bentuk yang
bermacam-macam, misalnya gepeng, tabung, pipih, dll (Soegiarto et al, 1978). Menurut
Outmer (1968) terdapat 4 jenis rumput laut berdasarkan pigmen yang terkandung
didalamnya, yaitu:
1. Ganggang merah (Rhodophyceae)
Kelompok ini biasanya berwarna merah, merah-cokelat, atau hijau-kuning, lalu
bagian batan (thallus) berbentuk gepeng atau silinder, memiliki semacam benjolan
dan duri (spines), dan bercabang. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah
Eucheuma cottonii (Aslan, 1991). Dinding sel dalam alga ini mengandung
karagenan, selulosa, selaran, porpiran, dan agar (Aslan, 1998).
2. Ganggang hijau (Chlorophyceae)
3

Alga atau ganggang jenis ini mempunyai bentuk yang beragam, tetapi umumnya
berebentuk filamen dengan septa maupun tanpa septa, dan lembaran
(Romimohtarto, 2001). Alga ini berwarna hijau. Dalam alga ini, didalam selnya
mengandung beberapa kloroplas (Soenardjo, 2001).
3. Ganggang cokelat (Phaeophyceae)
Umumnya berwarna cokelat. Ganggang atau alga ini memiliki pigmen klorofil a,
klorofil c, fukosantin, violasantin, dan beta karoten. Hampir seluruh jenis ganggan
ini hidup di laut, dan hanya sedikit yang hidup di air tawar (yang berukuran besar).
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Sargassum (Bold dan Wyne, 1985).
4. Ganggang biru-hijau (Cyanophyceae)
Biasanya memiliki warna ungu. Jenis ganggan atau alga ini mudah tumbuh pada
daerah yang lembab, dan sel-selnya mengandung pigmen fikosianin.

Karagenan adalah polisakarida linear yang memiliki berat molekul tinggi. Polisakarida
ini terdiri dari ikatan antara gugus galakotosa dan gugus 3,6-anhidrogalaktosa. Kedua
gugus tersebut dihubungkan oleh ikatan glikosidik -1,3 dan -1,4 secara bergantian
(Imeson, 2000). Karagenan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kestabilan bahan
pangan, baik yang berbentuk emulsi (gas dalam cairan) maupun suspensi (padatan
dalam cairan), untuk penstabil karena memiliki gugus sulfat yang mempunyai muatan
negatif disepanjang rantai polimernya serta bersifat hidrofilik yang bisa mengikat air
maupun gugus hidroksil yang lain (Suryaningrum, 2000).

Karagenan memiliki sifat hidrofilik, maka apabila ditambahkan pada produk emulsi
akan dapat meningkatkan viskositas sehingga emulsi menjadi lebih stabil. Tidak hanya
di industri pangan, karagenan juga dapat digunakan pada industri tekstil dan juga
industri kosmetik (Kadi, 1990). Kappa karagenan dihasilkan dari Eucheuma cottonii,
lambda karagenan dihasilkan dari Chondrus crispus, dan iota karagenan dihasilkan dari
Eucheuma spinosum (Winarno, 1996).

Karagenan adalah senyawa hidrokoloid yang banyak digunakan untuk meningkatkan
tekstur dan kestabilan dari suatu produk pangan cair (Distantina et al. 2009). Karagenan
memiliki peran yang penting sebagai pembentuk gel, stabilisator (pengatur
4

keseimbangan), pengemulsi, dan thickener atau bahan pengental (Imeson, 2010). Sifat-
sifat tersebut banyak digunakan dalam industri kosmetik, makanan, obat, cat, tekstil, dll.
Jika kedalam es krim ditambahkan karagenan sebanyak 0,01-0,05% maka akan
berfungsi sebagai stabilisator yang sangat baik (Winarno 1996). Pembuatan karagenan
dilakukan dengan metode ekstraksi. Dalam cara atau metode ini akan dilakukan proses
pemisahan komponen cair dan campurannya dengan menggunakan sejumlah solven
sebagai pemisah. Proses ektraksi terdiri dari beberapa tahap, yaitu pencampuran,
pembuatan fase setimbang, dan pemisahan fase setimbang (Dian dan Intan 2009).
Menurut Istiani et al (1986), proses estraksi yang maksimal itu terjadi jika setelah
ditambahkan dengan NaCl, larutan tersebut harus dipanaskan selama beberapa jam
dengan menggunakan suhu 60. Jika hanya dilakukan pemanasan hingga suhu
mencapai 60 maka proses hidrolisis polisakarida yang merupakan penyusun dari
rumput laut tersebut belum sempurna.

Dalam jurnal Carrageenan Properties Extracted From Eucheuma cottonii, Indonesia
dijelaskan bahwa semakin tinggi konsentrasi KOH yang digunakan untuk proses
ekstraksi maka akan semakin tinggi juga kekuatan dari gel yang terbentuk, dan juga
viskositas akan meningkat. Hal ini juga dikatakan oleh Paranginangin dan Yunizal
(1999) yang mengatakan bahwa KOH memiliki efek kation terhadap kappa karagenan.
Jika ditambahkan dengan KOH maka gel yang terbentuk akan lebih kuat jika
dibandingkan dengan NaOH dan Ca(OH)
2
.

Stabilitas maksimum pada karagenan dalam larutan adalah pada pH 9 dan akan
terhidrolisis pada pH dibawah 3,5. Dalam proses produksi karagenan, pH dipertahankan
pada sekitar pH 6 atau lebih. Viskositas dari larutan karagenan akan mengalami
penurunan jika pH diturunkan hingga dibawah 4,3 (Imeson 2000). Terdapat lima jenis
atau kelompok karagenan, yaitu lambda, iota, kappa, mu, dan nu. Tetapi yang termasuk
dalam karagenan komersial adalah karagenan lambda, kappa, dan iota. Lambda
karagenan tersusun atas -(1,3) D-galaktosa-2-sulfat dan -(1,4) D-galaktosa-2,6-
disulfat. Karagenan jenis ini mengandung 35% ester sulfat dan hanya sedikit bahkan
tidak mengandung 3,6-anhidrogalaktosa. Lalu pada iota karagenan, tersusun atas -(1,3)
D-galaktosa-4-sulfat dan -(1,4) 3,6-anhidrogalaktosa-2-sulfat. Karagenan ini
5

mengandung 30% 3,6-anhidrogalaktosa, dan 32% ester. Kappa karagenan merupakan
jenis karagenan yang paling besar. Karagenan ini tersusun atas -(1,3) D-galaktosa-4-
sulfat dan -(1,4) 3,6-anhidrogalaktosa. Karagenan ini mengandung 34% 3,6-
anhidrogalaktosa dan 25% ester sulfat (Imeson, 2000). Karagenan nu merupakan
prekursor dari iota karagenan, sedangkan karagenan mu merupakan prekursor kappa
karagenan. Kappa karagenan memiliki sifat yang sensitif terhadap ion kalsium dan
kalium (Glicksman, 1983).

Dibawah ini adalah gambar struktur kimia dari beberapa jenis karagenan menurut Tojo
dan Prado ( 2003):

Gambar 1. Lambda karagenan Gambar 2. Iota karagenan


Gambar 3. Kappa karagenan

Ekstraksi adalah sutu proses yang digunakan untuk memisahkan suatu komponen dari
campurannya. Prinsip dasar dari ekstraksi adalah jika ada suatu substansi yang
ditambahkan kedalam dua jenis pelarut yang tidak dapat bercampur, maka substansi
tersebut akan terdistribusi kedalam dua pelarut tersebut, dimana proporsi pada masing
masing pelarut tergantung dari tingkat kelarutannya yang berbeda beda pada masing
masing pelarut (Lee, 1992).
6


Menurut Doty (1985), Eucheuma cottonii adalah salah satu jenis rumput laut atau alga
merah (Rhodophyceae). Lalu Eucheuma cottonii berubah nama menjadi Kappaphycus
alvarezii karena karagenan yang dihasilkan termasuk dalam jenis karagenan kappa.
Aslan (1998) menjelaskan klasifikasi Eucheuma cottonii adalah:
Kingdom : Plantae
Divisio : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solieraceae
Genus : Eucheuma cottonii

Eucheuma cottonii memiliki bentuk thallus silindris, bentuknya menyerupai tulang
muda/rawan, permukaannya licin. Biasanya jenis ini memiliki warna hijau terang, hijau
olive, dan coklat kemerahan. Jenis ini bisa memiliki cabang, tetapi percabangannya
hanya bersifat dua-dua atau sistem percabangan tiga-tiga (Zatnika, 1993). Eucheuma
cottonii ini membutuhkan sinar matahari untuk melakukan fotosintesis, jadi rumput laut
jenis ini hanya dapat hidup hingga pada lapisan folik atau lapisan yang kedalamannya
sejauh dengan sinar matahari yang mampu mencapainya. Oleh sebab itu, rumput laut ini
akan hidup dengan baik jika jauh dari muara sungai. Faktor yang mempengaruhi
pertumbuhannya adalah cukup arus dengan salinitas (kadar garam) yang stabil
(Purwanto, 2008). Kadar serat dalam Eucheuma cottonii adalah 65,07%. Serat tersebut
terdiri dari 39,47% serat makanan yang tidak dapat larut air, dan 25,7% serat makanan
yang larut air. Karena kandungannya tinggi, maka rumput laut Eucheuma cottonii ini
merupakan makanan yang baik dan juga menyehatkan (Kasim, 2004).

Cara kerja dalam praktikum ini adalah pertama-tama rumput laut yang sudah dihaluskan
ditimbang sebanyak 40 gram, kemudian direbus dengan air sebanyak 500 ml selama 1
jam (suhu 80-90). Aprilia (2006) mengatakan bahwa pemotongan bahan menjadi
kecil atau bahan yang dihaluskan dilakukan untuk memperbesar luas permukaan dari
rumput laut sehingga kontak antara rumput laut dan bahan menjadi maksimal.
Pemanasan yang dilakukan dalam praktikum ini juga sudah sesuai dengan teori dari
7

Food Chemical Codex (1981) yang mengatakan bahwa ekstraksi karagenan dilakukan
dengan menggunakan air panas ataupun dengan larutan alkali panas. Jika larutan sudah
dingin maka digatur pH larutan supaya menjadi pH 8 dengan cara menambahkan HCl
0,1N dan NaOH 0,1N. pH dari larutan tersebut dibuat menjadi pH 8 karena memiliki
beberapa fungsi, yaitu untuk mempercepat eliminasi 6-sulfat dari unit monomer menjadi
3,6-anhidro-D-galaktosa yang kemudian akan meningkatkan kekuatan gel dan
reaktivitas produk terhadap protein, serta untuk membantu dalam ekstraksi polisakarida
menjadi lebih sempurna (Towle, 1973).

Lalu hasil tersebut disaring bagian supernatannya dengan menggunakan kain saring
yang bersih. Cairan yang didapatkan dimasukkan kedalam wadah, dan ditambah dengan
larutan NaCl 10% sebanyak 5% dari volume filtrat. Penambahan larutan ini juga
bertujuan untuk membuat kondisi larutan menjadi alkalis. Kemudian dipanaskan dengan
suhu 60. Lalu ditambahkan cairan IPA sebanyak 2 kali volume filtrat, dan diaduk
dalam endapan karagenan. Menurut Glicksman (1983), alkohol yang sering digunakan
untuk proses ekstraksi karagenan adalah isopropil alkohol. Fungsi dari penambahannya
adalah untuk mengendapkan karagenan dari hasil ektraksi. Dari beberapa jenis alkohol
yang sering digunakan tersebut, yang memiliki hasil paling optimal adalah isopropil
alkohol. Hal ini disebabkan karena hasil yang didapatkan lebih murni dan pekat.
Apabila sudah terbentuk serabut putih, serabut tersebut diambil semua dan ditiriskan.
Kemudian serat yang didapatkan dimasukkan (ditiriskan) kedalam wadah dan direndam
kembali dengan menggunakan cairan IPA sampai didapatkan serat karagenan yang lebih
kaku. Kemudian serat karagenan dibentuk tipis-tipis pada wadah yang tahan terhadap
panas. Lalu dikeringkan dalam oven selama 12 jam pada suhu 50-60. Serat karagenan
kering ditimbang, dan kemudian di blender menjadi tepung karagenan. Kemudian
dihitung % rendemen dengan menggunakan rumus:
% rendemen =




Perbandingan antara berat produk yang diperoleh terhadap berat bahan baku yang
digunakan disebut dengan rendemen. Rendemen perlu dihitung untuk mengetahui
persentase dari karagenan yang dihasilkan dari rumput laut yang digunakan berdasar
lamanya ekstraksi dan konsentrasi pelarut (Chapman dan Chapman 1980). Dari hasil
8

pengamatan dapat dilihat bahwa yang memiliki % rendemen paling besar adalah
kelompok C4 dan C5, yaitu sebesar 3,500%, sedangkan yang memiliki nilai paling kecil
adalah kelompok C6, yaitu 0,575%. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan suhu dan
waktu dari masing-masing kelompok walaupun mungkin hanya selisih sedikit, tetapi
berpengaruh pada banyak sedikitnya % rendemen yang dihasilkan. Suhu ektraksi dan
waktu ekstraksi yang dilakukan berpengaruh terhadap % rendemen yang dihasilkan,
dimana semakin lama waktu ekstraksi dan semakin tinggi suhu ektraksi maka akan
didapatkan % rendemen yang maksimal (Hudha, 2012).

Dalam jurnal Optimization of the extraction of carrageenan from Kappaphycus
alvarezii using response surface methodology kualitas dari karagenan dapat dilihat dari
gel strength dan juga dari viskositas dari gel yang terbentuk. Dan dari hasil penelitian
jurnal tersebut, didapatkan hasil bahwa ekstraksi selama 4 jam dengan waktu 74 akan
menghasilkan karagenan dengan kekuatan gel yang baik atau tinggi, dan juga viskositas
yang tinggi pula.

Dalam jurnal yang berjudul Extraction and quantification of hybrid carrageenans from
the biomass of the red algae Furcellaria lumbricalis and Coccotylus truncatus
dikatakan bahwa solusi dari air dan alkali (NaOH dan KOH) merupakan agen ekstraksi
yang paling sering digunakan untuk mengektraksi karagenan. Kappa dan iota karagenan
akan memiliki kekuatan gel yang lebih tinggi jika di ekstraksi dengan alkali
dibandingkan dengan ekstraksi dengan air.

Pada jurnal A -Carrageenase from a Newly Isolated Pseudoalteromonas-like
Bacterium, WZUC10 dikatakan bahwa strain bakteri WZUC10 akan memproduksi
enzim Karagenase-K dari alga merah Plocamium telfairiae. Suhu optimal dari strain ini
adalah 23-27. Untum menghasilkan enzim tersebut, strain membutuhkan garam.

9

3. KESIMPULAN

Rumput laut adalah ganggang yang berhabitat dilaut dan termasuk kedalam divisi
thallophyta.
Berdasarkan pigmen yang terkandung didalamya, terdapat 4 jenis rumput laut atau
ganggangm yaitu ganggang merah (Rhodophyceae), ganggang hijau
(Chlorophyceae), ganggang cokelat (Phaeophyceae), dan ganggang biru-hijau
(Cyanophyceae).
Karagenan adalah polisakarida linear yang terdiri dari ikatan antara gugus
galakotosa dan gugus 3,6-anhidrogalaktosa yang kedua gugusnya dihubungkan oleh
ikatan glikosidik -1,3 dan -1,4 secara bergantian.
Terdapat 5 jenis karagenan, yaitu lambda, iota, kappa, mu, dan nu.
Kappa karagenan dihasilkan dari Eucheuma cottonii, lambda karagenan dihasilkan
dari Chondrus crispus, dan iota karagenan dihasilkan dari Eucheuma spinosum.
Karagenan berperan sebagai pembentuk gel, stabilisator (pengatur keseimbangan),
pengemulsi, dan thickener atau bahan pengental.
Karagenan memiliki stabilitas yang maksimum dalam larutan adalah pada pH 9 dan
akan terhidrolisis pada pH dibawah 3,5.
Ekstraksi adalah sutu proses yang digunakan untuk memisahkan suatu komponen
dari campurannya.
Eucheuma cottonii termasuk kedalam Rhodophyceae.
Eucheuma cottonii berbentuk thallus silindris, bentuknya menyerupai tulang
muda/rawan, permukaannya licin.
Pemotongan bahan menjadi kecil bertujuan untuk memperbesar luas permukaan
dari rumput laut sehingga kontak antara rumput laut dan bahan menjadi maksimal.
Karagenan harus di ekstraksi dengan menggunakan air panas ataupun dengan
larutan alkali panas.
Fungsi pH larutan dibuat menjadi alkali adalah untuk mempercepat eliminasi 6-
sulfat dari unit monomer menjadi 3,6-anhidro-D-galaktosa yang kemudian akan
meningkatkan kekuatan gel dan reaktivitas produk terhadap protein, serta untuk
membantu dalam ekstraksi polisakarida menjadi lebih sempurna .
10

Fungsi dari penambahan alkohol adalah untuk mengendapkan karagenan dari hasil
ektraksi.
Rendemen adalah perbandingan antara berat produk yang diperoleh terhadap berat
bahan baku yang digunakan.
% rendemen akan maksimal jika semakin lama waktu ekstraksi dan semakin tinggi
suhu ekstraksi.



Semarang, 11 September 2014
Praktikan Asisten Dosen
- Aletheia Handoko
- Margaretha Rani Kirana

Defillya Anindita K.
12.70.0077

11


4. DAFTAR PUSTAKA

Aprilia, Indah. 2006. Estraksi Karagenan dari Rumput Laut jenis Eucheuma
Cottoni.Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia, Palembang.

Aslan LA. 1991. Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius. Jakarta.

Aslan, L.M. 1998. Seri Budidaya Rumpu Laut. Kanisius. Yogyakarta.

Bold, H. C. and M.J Wynne. 1985. Introduction to the Algae. Second edition. Prentice-
Hall,Inc. Engelwoods Cliffs. New Jersey. 720 pp.

Chapman, V.J., dan D.J. Chapman. 1980. Seawed and Their Uses. Third edition
Capman and Hall. Metheun Co. Ltd. London. P. 194-271.

Dian, dan Intan Dewi., 2009. Optimasi Proses Ekstraksi pada Pembuatan Karaginan dari
Rumput Laut Eucheuma Cottonii Untuk Mencapai Foodgrade. Jurnal Teknik Kimia
Universias Diponegoro. Semarang.

Distantina Sperisa, Wiratni , Moh. Fahrurrozi, and Rochmadi. 2011. Carrageenan
Properties Extracted From Eucheuma cottonii, Indonesia. World Academy of Science,
Engineering and Technology 54 2011

Doty M.S. 1985. Eucheuma Farming for Carrageenan -sea grant advisory report. New
Jersey : Prentice-Hall.

Food Chemical Codex. 1981. Carrageenan. National Academy Press Washington. p 74 -
75.

Glicksman, 1983. Seaweed extracts. Di dalam Glicksman M (ed). Food Hydrocolloids
Vol II. CRC Press, Boca Raton, Florida.

Hudha, Mohammad Istnaeny. Risa Sepdwiyanti. Suci Dian Sari. 2012.
EKSTRAKSIKARAGINAN DARI RUMPUT LAUT (Eucheuma Spinosum)
DENGAN VARIASISUHU PELARUT DAN WAKTU OPERASI. Berkala Ilmiah
Teknik Kimia Vol 1, N01, April 2012.

Imeson, A. P., 2000. Carrageenan di dalam Handbook of Hydrocolloids. G. O. Badan
riset Kelautan dan Perikanan. 2003. Proyek riset Kelautan dan Perikanan.Departemen
Kelautan dan Perikanan : Jakarta.

12


Kadi, A. 1990. Inventarisasi Rumput Laut di Teluk Tering dalam Perairan Pulau
Bangka, (ed) Anonimous. LIPI. Jakarta. hal : 45 - 50.

Kasim, S. R., 2004. Pengaruh Perbedaan Konsentrasi dan Lamanya Waktu Pemberian
Rumput Laut Eucheuma Cottoni Terhadap Kadar Lipid Serum Darah Tikus. (Skripsi
Fakultas Perikanan) Universitas Brawijaya. Malang.

Lee, J.M. 1992. Biochemical Engineering. New Jersey: Prentice Hall.

Paranginangin, R. dan Yunizal. 1999. Teknologi Ektraksi Karaginan dari Rumput Laut.
Prosiding Pra Kipnas VII Forum Komunikasi I Ikatan Fikologi Indonesia, 8 September,
Puspiptek, Serpong, Jakarta.

Pelegrin, Y.F., Daniel Robledo and Jose A. Azamar. 2006. Carrageenan of Eucheuma
isiforme (Solieriaceae, Rhodophyta) from Yucata n, Mexico. I. Effect of extraction
conditions. Botanica Marina 49 (2006):65-71

Purwanto. (2008). Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Psikologi dan Pendidikan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Romimohtarto,K. dan S. Juwana. 2001. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan tentang Biota
Laut.Puslitbang Oseanologi LlPI. Jakarta. 527 h.

Soegiarto. A., Sulistijo, W.S. Atmadja, H. Mubarak 1978. Rumput Laut (algae)
Manfaat, Potensi danUsaha Budidayannya. LON - LIPI Jakarta.

Suryaningrum., D., Murdinah., Arifin M. 2000. Penggunaan kappa-karaginan sebagai
bahan penstabil pada pembuatan fish meat loaf dari ikan tongkol (Euthyinnus pelamys.
L). Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Vol: 8/6.

Tojo, E., Prado, J., 2003. Chemical composition of carrageenan blends determined by
IR spectroscopy combined with a PLS multivariate calibration method. Carbohydrate
Research.

Towle, A.G., 1973. Carrageenan. In : R.L Whistler (Ed). Industrial Gum :
Polysacharides and Their Derivates. Academic Press. London.

Tuvikenea Rando, Kalle Truus, Merike Vaher, Tiiu Kailas, Georg Martin, and Priit
Kersen. 2006. Extraction and quantification of hybrid carrageenans from the biomass
of the red algae Furcellaria lumbricalis and Coccotylus truncatus. Proc. Estonian Acad.
Sci. Chem., 2006, 55, 1, 4053

13


Webber Vanessa, Sabrina Matos de Carvalho, Paulo Jos Ogliari, Leila Hayashi, and
Pedro Luiz Manique Barreto. 2012. Optimization of the extraction of carrageenan from
Kappaphycus alvarezii using response surface methodology. Cinc. Tecnol. Aliment.,
Campinas, 32(4): 812-818, out.-dez. 2012

Winarno, FG., 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut.
PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Zatnika, A. 1993. Prospek Industri dan Proses Produksi Carrageenan. Majalah
Techner, No.10 Tahun II. Jakarta : 42-45

Zhou Mao-hong, Jian-she Ma, Jun Li, Hai-ren Ye, Ke-xin Huang, and Xiao-wei Zhao.
2008. A -Carrageenase from a Newly Isolated Pseudoalteromonas-like Bacterium,
WZUC10. Biotechnology and Bioprocess Engineering 2008, 13: 545-551
14


5. DAFTAR PUSTAKA

5.1. Perhitungan
% Rendemen =
erat kering g
erat awal g
x 100%

Kelompok C1 Kelompok C2
% Rendemen =

x 100% = 0,750 % % Rendemen =

x 100% = 1,000 %

Kelompok C3 Kelompok C4
% Rendemen =

x 100% = 3,000 % % Rendemen =

x 100% = 3,500 %

Kelompok C5 Kelompok C6
% Rendemen =

x 100% = 3,500 % % Rendemen =

x 100% = 0,575 %

5.2. Laporan Sementara

5.3. Diagram alir
15


16