Anda di halaman 1dari 4

Spektrum Optimalisasi Pengelolaan Pajak Daerah

Nolaristi

Berbicara mengenai bagaimana mengoptimalkan pajak daerah seperti membicarakan bagaimana cara
meningkatkan tax ratio dalam kacamata perpajakan nasional. Baik pajak nasional maupun pajak daerah
sangat dipengaruhi oleh kepatuhan dari wajib pajak daerah untuk melaporkan dan menyetorkan pajak
daerah dengan kesadaran pribadi masing-masing. Tulisan bebas kali ini akan mencoba memaparkan
bagaimana cara mengoptimalisasikan pajak daerah dengan pertama-tama mengulas tentang
peningkatan tax-ratio pada pajak nasional.
Tax Rasio adalah perbandingan
penerimaan perpajakan terhadap
PDB. Tax ratio antara tahun 2009-
2012 berkisar 11%-12,3%. Besarnya
penerimaan perpajakan dalam
perhitungan tax ratio tersebut
sesungguhnya hanya
memperhitungakan penerimaan
perpajakan yang dipungut oleh
pemerintah pusat, tidak termasuk
penerimaan pajak daerah dan SDA
migas, atau sering disebut dengan
perhitungan tax ratio dalam arti
sempit.
Jika penerimaan pajak daerah dan SDA migas dimasukkan dalam perhitungan tax ratio, maka pada
tahun 2009-2012 menjadi lebih tinggi yaitu berkisar 14,1%-15,8%. Namun, sejak Pajak Bumi dan
Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
(BPHTB) telah menjadi bagian dari pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah ada kecendeungan
terjadi potensi penurunan tax ratio Indonesia dalam arti sempit sekitar 0,5%.
Pengalihan sektor PBB-P2 dan BPHTB ini berpengaruh besar pada struktur APBD pemerintah daerah dari
sisi pendapatan. Kewenangan untuk menarik pajak daerah disinyalir akan berdampak positif pada
kemandirian daerah dalam membiayai belanja operasionalnya yang selama ini sangat bergantung pada
dana perimbangan yang berasal dari pemerintah pusat. Hal ini ditunjukkan dengan semakin
meningkatnya Penghasilan Asli Daerah (PAD) pada beberapa daerah. Hal ini nantinya akan mendukung
terwujudnya tujuan pengelolaan keuangan daerah yang termaktub dalam UU Nomor 32 Tahun 2004
adalah tercapainya ekonomis, efektifitas dan efisiensi pengelolaan keuangan daerah baik dari sisi
pendapatan maupun dari sisi belanja.
Strategi optimalisasi pemungutan
pajak daerah harus dirancang
dengan baik. Strategi tersebut
dibuat baik dari sudut pandang
wajib pajak maupun dari
perbaikan sistem pelayanan
institusi pajak daerah. Menurut
data yang diperoleh dari
Direktorat Jenderal Perimbangan
Keuangan Kementerian Keuangan, porsi pajak daerah mencapai 74% dari struktur PAD daerah tersebut.
Hal ini membuktikan bahwa keseriusan pemerintah daerah dalam menangani masalah optimalisasi
pemungutan pajak daerah akan menjadikan daerah tersebut mencapai kemandirian daerah. Berikut
cara-cara optimalisasi mungkin bisa menjadi masukan bagi pemerintah daerah, baik dari sisi wajib pajak
maupun dari sisi institusi pemungutan pajak daerah.
1. Pemutakhiran Data
Pemutakhiran data dinilai sebagai cara intensifikasi pajak yang paling efektif dalam menggenjot
penerimaan dari PBB-P2 dan BPHTB. Hal ini dikarenakan data yang ada saat pengalihan PBB-P2 menjadi
pajak daerah sudah lama tidak di update sehingga antara data dan keadaan objek pajak sudah tidak
sesuai lagi.
2. Harmonisasi Kebijakan
Harmonisasi kebijakan dilakukan untuk menghindari kemungkinan tumpang tindih kebijakan antara
pemerintah pusat dan daerah. Kebijakan yang tumpang tindih bisa jadi menyebabkan wajib pajak
mengalami kerugian, misalnya saja dari pengenaan pajak yang berlapis baik oleh pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah.

3. Pemanfaatan Online System
Sistem administrasi yang dirancang online ini untuk mempermudah administrasi perpajakan mulai dari
proses pembayaran dan pelaporan. Manfaat dari sisi wajib pajak yang dapat menghemat waktu, biaya
dan tenaga. Sedangkan bagi instansi perpajakan pemanfaatan sistem ini dipergunakan untuk membuat
sistem pemungutan pajak menjadi lebih transparan, menghindari kontak langsung petugas pajak dengan
wajib pajak. Efek berkelanjutannya secara otomatis sistem ini dapat mempekecil tingkat tindakan
korupsi.
Kemudahan yang dirasakan oleh wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan terbukti ampuh
meningkatkan rasio penerimaan pajak daerah. Penerapan sistem ini kedepannya akan diterapakan bagi
setiap jenis pajak daerah baik berupa pajak restoran, pajak hotel, pajak hiburan, pajak kendaraan
bermotor, PBB-P2 dll.
4. Penerapan Konsep Earmarking Tax
Konsep earmarking tax tidak sejalan dengan pengertian pajak secara harfiah, yaitu pajak merupakan
kontraprestasi tidak langsung. Inti dari konsep yang menerapkan adanya kontraprestasi langsung yang
dapat dirasakan oleh wajib pajak, sehingga masyarakat selaku stake holder dapat merasakan secara
langsung apa yang mereka setorkan. Tujuan dari penerapan konsep ini agar masyarakat tahu bahwa
yang mereka bayarkan kembali lagi untuk pelayanan dan pembangunan lingkungan sekitar mereka.
Contoh penerapan konsep ini misalnya saja penghasilan yang berasal dari PBB dan BPHTB difokuskan
untk pembangunan infrastruktur jalan, saluran air, puskesmas dll.
5. Bekerjasama dengan Instansi Pemerintah Lainnya
Kerjasama dengan badan pmerintah lainnya dapat dilakukan dengan formalisasi usaha non-formal
dalam skala kecil, saling menukarkan database informasi, program integrasi single identity, keterlibatan
dalam pemberantasan tindakan penyelundupan pajak. Misalnya saja kerjasama yang dilakukan Pemda
dengan DJP, bentuk kerjasama yang dilakukan dapat berupa pertukaran data pajak serta kerjasama
transfer knowledge mengenai pengetahuan tentang PBB-P2 dengan mendatangkan tenaga ahli penilai.
Selain itu kerjasama juga dapat dilakukan dengan bank-bank local maupun daerah, untuk
mempermudah proses pemungutan pajak dengan sistem online yang terintegrasi dengan sistem
perbankan.
6. Mempersingkat Administrasi Pembayaran dan Pelaporan
Pelayanan administrasi dalam sistem birokrasi harus dibuat sesingkat mungkin dan dibuat satu pintu.
Hal ini harus dirancang agar mempermudah wajib pajak dalam melaksanakan kewajibannya, selain itu
juga menjadi tindakan preventive bagi petugas pajak yang mungkin memiliki niat untuk melakukan
kecurangan. Konsep nyata yang bisa diterapkan di lapangan yaitu dengan mengimplementasikan sistem
Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).
7. Sosialisasi taat bayar pajak
Sosialisasi taat bayar pajak tidak melulu dengan cara-cara yang membosankan melalui sosialisasi-
sosialisasi di dalam ruangan. Misalnya saja pemerintah kota Depok untuk menggenjot kepatuhan WP
dalam melaporkan dan membayar pajak menerapkan sistem kupon undian bagi siapa saja yang tertib
dalam melaporkan pajak PBB. Nantinya kupon undian ini akan diundi setiap enam bulan sekali. Hingga
saat ini cara ini dinilai efektif dalam meningkatkan kepatuhan WP dalam melaporkan PBB di kota Depok

Daftar pustaka
Tim Asistensi Kementerian Keuangan Bidang Desentralisasi Fiskal. 2012. Analisa Dampak Pengalihan
Pemungutan BPHTB Ke Daerah Terhadap Kondisi Fiskal Daerah.
Kementerian Keuangan. 2013. Nota Keuangan RAPBN 2013.
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan RI. 2013. Komposisi PAD Seluruh Provinsi dan
Kabupaten/Kota di Indonesia 2013.