Anda di halaman 1dari 17

Struktur kayu HARDIYANTI IMAN

0723 09 025
Ismi sc
1
BAB I
PENDAHULUAN

Kayu adalah bahan kontruksi bangunan yang didapatkan dari tumbuhan alam,
oleh karena itu maka bahan kayu bukan saja merupakan salah satu bahan kontruksi
yang pertama di dalam sejarah umat manusia, tetapi memungkinkan juga kayu sebagai
bahan kontruksi yang paling akhir nantinya.

Pada saat ini manusia lebih cenderung menyukai bahan beton atau bahan baja
untuk struktur dari suatu bangunan, hal ini disebabkan karena :
- Panjang kayu yang terbatas
- Kekuatan kayu relatif kecil
- Penampang kayu kecil
- Mudah terbakar
- Mudah dipengaruhi oleh zat-zat kimia
- Peka sekali terhadap kadar air
- Sifat kembang kusutnya besar

Ada tiga macam sifat dari pada kayu yaitu :
- Sifat phisis
- Sifat hygroscopis
- Sifat mechanis

Adapun faktor - faktor penting yang harus diketahui dalam pemilihan kayu adalah
sebagai berikut :
- Kekuatan
- Sifat elastis
- Keawetan
- Penyusutan dan Pemuaian
- Keretakannya
- Derajat Pengerjaan
- Berat jenis


Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
2
BAB II
GOLONGAN KAYU

Di Indonesia dibedakan dua macam penggolongan kayu untuk dapat dibedakan
kualitas dari suatu jenis kayu terhadap jenis kayu yang lain yaitu :
- Penggolongan menurut ketentuan dari Lembaga Hasil Hutan Bogor (LPHH) Bogor
- Penggolongan menurut ketentuan dalam Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI)

A. Penggolongan Menurut LPHH.

Menurut Lembaga Hasil Hutan (LPHH) Bogor pembagian golongan kayu dibagi
menjadi 3 kelas, yaitu ;
1. Kelas awet.
Keawetan kayu ditentukan oleh daya tahan kayu terhadap kerusakan secara alami.
Atas dasar keawetan, kayu dibedakan menjadi 5 kelas awet yang disesuaikan dengan
kondisi lingkungan bahan kayu yaitu:
- Kayu Kelas I
- Kayu Kelas II
- Kayu Kelas III
- Kayu Kelas IV
- Kayu Kelas V

2. Kelas kuat.
Kekuatan suatu jenis kayu sangat menentukan sifat kekuatan kayu dalam
perencanaan suatu konstruksi kayu. Kekuatan kayu ditentukan oleh modulus of
repture, tegangan tekan q serat, tegangan tarik q serat, tegangan tekan tegak lurus
serat dan tegangan geser q serat disamping pengaruh berat jenis kering udara dan
kokoh lentur serta tekan maksimum.






Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
3
Atas dasar kekuatan kayu dibedakan menjadi 5 kelas kayu sebagai berikut :


Kelas kayu


Berat Jenis
Kering Udara


Kokoh lentur
muatlas (kg/cm
2
)


Kokoh tekan
muatlas (kg/cm
2
)


I


> 0,90

> 1100

> 650

II


0,90 0,60

1100 725

650 - 425

III


0,60 0,40

725 - 500

425 - 300

IV


0,40 0,30

500 360

300 - 215

V


s 0.30

s 360

s 215


3. Kelas pengguna / pemakai.
Kelas pemakaian kayu menunjukan tingkat kecakapan kayu untuk suatu konstruksi.
Atas dasar pemakaian, kayu dibedakan menjadi 5 kelas pemakian yang berdasarkan
atas kelas awet dan kuatnya dari bahan kayu tersebut:

No

Kelas Pemakaian

Ditetapkan dari

Kelas awet

Kelas kuat

1


I

I

I


2


II

I
II

III
III

3

III

III

III

4

IV

IV

IV

5

V

V

V




Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
4
B. Mutu Kayu Menurut PKKI

Pembagian kayu menurut Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI) dibagi
atas 2 jenis yaitu :
1. Mutu Kayu A
Tegangan ijin untuk Kayu Mutu A :

No

Jenis Tegangan

Kelas kekuatan Kayu

Kayu Jati
I

II

III

IV

V
1 o
lt
150 100 75 50 - 130
2 o
tk //
= o
tr //
130 85 60 45 - 110
3 o
tk //
40 25 15 10 - 30
4 T
//
20 12 8 5 - 15
Dimana : o
lt
= Tegangan lentur yang di ijinkan


o
tk//
= Tegangan tekan sejajar yang di ijinkan
o
tr//
= Tegangan tarik sejajar yang di ijinkan
o
tk //
= Tegangan tekan tegak lurus serat yang di ijinkan
T
//
= Tekanan geser sejajar yang di ijinkan

2. Mutu Kayu B
Korelasi tegangan yang diijinkan untuk kayu mutu B:
o
lt
= 190 g
o
tk //
= o
tr //
= 150 g
o
tk //
= 40 g


T
//
= 20 g

Untuk mutu kayu B angka angka dari tegangan diatas harus dikalikan dengan faktor
0.75. Angka angka tegangan yang diijinkan tersebut berlaku untuk konstruksi yang
terlindungi (o = 1) dan muatan permanen atau tetap ( = 1), dengan adanya pengaruh
keadaan konstruksi dan muatan maka angka- angka tersebut harus dikalikan dengan:
v Faktor 2/3
- Untuk konstruksi yang selalu terendan air
Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
5
- Untuk bagian konstruksi yang tidak terlindungi dan kemungkinan besar kadar
lengas kayu akan selalu tinggi

v Faktor 5/6
- Untuk konstruksi yang tidak terlindungi, tetapi kayu itu dapat mengering dengan
cepat.
v Faktor 5/4
- Untuk bagian konstruksi yang tegangannya diakibatkan oleh muatan tetap dan
muatan angin
- Untuk bagian-bagian konstruksi yang tegangannya diakibatkan oleh muatan
tetap dan muatan tidak tetap






Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
6
BAB III
URAIAN TENTANG CARA DASAR PERHITUNGAN

A. Penggolongan Menurut LPHH.

Untuk data konstruksi Rangka Kap data data analitis perhitungan dapat
diuraikan dengan memperhitungkan kegunaan dari konstruksi rangka tersebut. Dengan
mengetahui kegunaan konstruksi maka data data analitis/dasar perhitungan dapat
dibagi atas:
- Data data konstruksi
- Data data pembebanan untuk mendimensi batang
- Tetapan yang telah ditetapkan dalam Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI)
atau peraturan lain yang berhubungan dengan konstruksi kayu.

1. Data data konstruksi

Data data dalam konstruksi kayu atau mendesain konstruksi kayu adalah sebagai
berikut
- Panjang Batang (L)
- Jarak antara Kap (B)
- Kemiringan bidang atap
- Jenis atap yang digunakan
- Mutu beban yang digunakan
- Alat penyambung konstruksi
- Type Konstruksi
- Berat jenis bahan

2. Data data Pembebanan untuk Mendimensi Gording

Data data pembebanan yang dibutuhkan untuk mendimensi Gording adalah sebagai
berikut ;
a. Perhitungan Balok Gording
v Beban beban yang bekerja :
- Berat Atap (Penutup + Kaso + Ring)
- Beban angin
Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
7
- Beban tak terduga
v Dari kombinasi pembebanan :
- Berat atap + Beban angin
- Berat atap + beban tak terduga

Kita akan memperoleh kombinasi pembebanan yang menyebabkan momen
maksimum. Kombinasi pembebanan tersebut untuk mendimensi gording. Dengan
mengetahui dimensi gording dan berat jenis gording ( ), maka berat gording dapat
ditentukan.
Q
gording
= . F ..................... kg/cm

b. Berat sendiri konstruksi kuda-kuda
v Berat Kuda kuda di hitung dengan rumus:
P = (L 2) L.B s/d (L + 5) L.B
Diambil
P = (L+3) L.B
Dimana ; L = Panjang bentangan
B = Jarak antara Kap
Untuk tiap titik kumpul diambil
P
1
= P/n
Dimana ; n = Jumlah titik kumpul

v Berat atap dihitung dengan rumus :
P
2
= Q. B
Dimana ; Q = Muatan akibat beban atap
B = Jarak antara kap

v Berat Gording dihitung dengan rumus :
P
3
= b.h..B
Dimana ; bh = dimensi gording
= Berat jenis gording
B = Jarak antara kap


Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
8
c. Beban Angin
v Pada bidang atap
- Angin tekan
- Angin hisap
Koefisien Angin Tekan : C
1
= 0.02 o - 0.4
Koefisien Angin hisap : C
2
= - 0.4 (TMI 70)
Jadi pada setiap titik kumpul menerima beban sebesar:
P = C x Tekanan angin x jarak simpul x jarak kap
P = C x Tekanan angin x b x B

v Pada bidang tegak kap
- Angin tekan
- Angin hisap
Koefisien Angin Tekan ( Cmasuk = 0.9 )
Koefisien Angin hisap ( C keluar = -0.4)
Pada setiap titik simpul menerima beban sebesar :
P = C x Tekanan angin x jarak simpul x jarak kap

d. Beban tak terduga / beban hidup
Diambil P = 100 kg yang bekerja pada titiik kumpul. Beban ini berasal dari berat
seorang pekerja atau seorang petugas pemadam kebakaran dengan peralatannya.
Dengan mengetahui besarnya beban- beban yang ada pada tiap titik kumpul maka
gaya batang dapat dihitung dengan cara Metode Cremona maupun metode titik
kumpul) kemudian gaya batang untuk masing masing pembebanan di jumlahkan
untuk mendapatkan gaya batang maksimum untuk setiap jenis batang.

3. Mendimensi Batang

Untuk mendimensi batang diambil gaya batang yang maksimum untuk setiap jenis
batang. Untuk mendimensi batang berbeda antara batang tarik dan batang tekan.
a. Batang Tarik
Untuk batang tarik perlemahan akibat lubang Baut berpengaruh, sehingga
tegangan yang terjadi :
o
ytd
= S/Fnetto s o
ytr
(PKKI hal 9)
Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
9
Fnetto = 80% Fbr (PKKI hal 8 pasal 10 ayat 1) dan (Konstruksi kayu Felix, hal 19)
Dimana : o
ytd
= Tegangan yang terjadi pada batang
o
ytr
= Tegangan tarik
S

= Gaya yang timbul pada batang
Fbr = Luas penampang brutto
Fnet = Luas Penampang netto

b. Batang Tekan
Untuk batang tekan perlemahan akibat lubang baut tidak perlu diperhitungkan,
sehingga tegangan yang terjadi :
o
ytd
= S . W / Fbr s o
ytk
(PKKI hal 9 )
Dimana : o
ytk
= Tegangan yang terjadi pada batang
o
ytr
= Tegangan tekan
W

= Faktor tekuk yang disesuaikan dari

S (angka kelangsingan batang) pada daftar III PKKI hal 10 - 13 :
= lk / i
min
| I
min
/ Fbr |
0,5

Dimana : lk

= Panjang batang tekuk
i
min
= Jari jari inersia minimum Ix & Iy
I
min
= Momen lembam minim
H = Tinggi penampang balok

Untuk batang tekan ganda














Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
10
Ix = 1/12 b. H
3

zx = | Ix / Fbr |
0,5
= 0.289 h
Iy = ( It + 3lg)
It = 2 (1/12 b
3
h) + 2 bh. C
2

Ig = 1/12 (b+b)
3
h
Iy = | Iy / Fbr |
0,5
Dimana : lt

= Momen lembam teoritis
Ig

= Momen lembam geser

4. Sambungan Kayu

Sambungan kayu dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a. Sambungan tekan
b. Sambungan tarik
c. Sambungan momen

Sedangkan alat-alat penyambungnya dapat dibagi 5 jenis dengan perlemahannya
yaitu:

No Jenis alat penyambung Perlemahan
1 Paku ( 10 15% )
2 Baut dan sambungan gigi ( 20 25% )
3 Pasak kayu 30%
4 Pelat kokok dan pasak cincing 20%
5 Perekat 0%

No Jenis alat penyambung Efisiensi
1 Paku 85%
2 Baut dan sambungan gigi 75%
3 Pasak kayu 70%
4 Pelat kokok dan pasak cincing 80%
5 Perekat 100%


Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
11
Untuk perhitungan sambungan kayu, rumus-rumus yang digunakan diambil dari PKKI;
a. Sambungan paku.
v Bentuk penampang paku
- Paku penampang bulat
- Paku penampang segitiga
- Paku penampang persegi
- Paku penampang beralur lurus / spera
Untuk sambungan yang menyimpang dari daftar PKKI dapat dipakai rumus
rumus sebagai berikut :
Sambungan berpenampang satu
S = bd o
kd
; b s 7d
S = 3.5 d
2
o
kd
; 7d s b
Sambungan berpenampang dua
S = bd o
kd
; b s 7d
S = 7 d
2
o
kd
; 7d s b
Dimana : S = Gaya batang yang diperkenankan perpaku
b = Tebal kayu
d = diameter kayu
o
kd
= Kokoh desak kayu
Sambungan paku bertampang satu











o b1 = b2 = b ip > 2.5 b
ip > 2.5 b
o b1 > b2 ip > b1+ b2 + 3d
i> 2.5 b2
o b1s 1.5 ip > 2.5 b2
ip > b1 + b2 + 3d
Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
12
o b > 1.5 b2 ip > 2.5 b2
ip > b1 + b2 + 3d










o b1 = b3 < b2 ip > 2.5 b2
ip > 2.5 b3
o b1 = b3 = b2 ip > 2.5 b2
ip > 2.5 b3

Sambungan paku bertampang dua







o b1= b3 < b2 ip > b1+ b3 + 3d
o b1= b3 > b2 ip > b + 2b
o b2 < b1 s b3 ip > b1 + 2b2
o b2 < b3 s b1 ip > 2b2 + b3
o b1 < b2 s b3 ip > 2b1 + b2

b. Sambungan Baut
Baut sebagai alat penyambung yang dibebani banyak dipakai, meskipun
sebetulnya tidak begitu baik, karena:
Efesiensi rendah
Deformasi besar

Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
13
Sambungan dengan baut di bagi dalam 3 golongan menurut kekuatan kayu :
Golongan I : Kelas kuat I + kayu rasmala
Golongan II : Kelas kuat II
Golongan III: Kelas III

Golongan I
Sambungan bertampang satu
Atau b = b/d = 4,8 S = 50 d b1(1 - 0.6 sino) atau
S = 240 d
2
(1 0.35 sin o)
Sambungan bertampang dua
S = 125 d b3(1 - 0.6 sino) atau
S = 250 d b1(1 0.6 sin o) atau
S = 480 d
2
(1 0.35 sin o)
Golongan II
Sambungan bertampang satu
Atau b = b/d = 5.4 S = 40 d b1(1 - 0.6 sino) atau
S = 215 d
2
(1 0.35 sin o)
Sambungan bertampang dua
S = 100 d b3(1 - 0.6 sino) atau
S = 200 d b1(1 0.6 sin o) atau
S = 430 d
2
(1 0.35 sin o)
Golongan III
Sambungan bertampang satu
Atau b = b/d = 6.8 S = 25 d b1(1 - 0.6 sino) atau
S = 170 d
2
(1 0.35 sin o)
Sambungan bertampang dua
S = 60 d b3(1 - 0.6 sino) atau
S = 120 d b1(1 0.6 sin o) atau
S = 340 d
2
(1 0.35 sin o)
Dimana ;
s = Kekuatan sambungan (kg)
o = Sudut antara atah gaya dan arah serat kayu
b1 = Tebal kayu tepi (cm)
Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
14
b2 = Tebal kayu tengah (cm)
d = Diameter baut (cm)

c. Sambungan Gigi
Pada sambungan gigi, gerakan antara kayu dengan kayu didalam perhitungan
harus diabaikan. Untuk sambungan gigi tunggal dalamnya gigi tidak boleh melebihi
suatu batas tertentu, yaitu:














o Untuk o s 50 tm s 1/4 h
o Untuk o s 60 tm s 1/6 h
Tm > 15 cm (PKKI hal 29)
tm = S cos
2
o / o
tk
o b (Konstruksi kayu felix Yap, 44)
o
tk
. o = o
tk
(o
tk //
- o
tk //
) sino (PKKI, 7)

Sambungan Gigi Rangkap










Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
15
Langkah langkah perhitungan sambungan gigi rangkap
S
1
= S
2
= S
3
S cos o/o
tk
o b ; untuk o s 50, tm
2
< h
o s 60, tm < 1/6 h
Nilai tm
2
dibulatlkan keatas untuk menghitung s
2


S
2
= tm
2
o
tk
o b / cos o
Nilai tm
2
(dibulatkan) / tm
2
(belum dibulatkan) x S

Tm
1
= S
1
cos
2
o / o
tk
o b
Lalu di cek tm
2
tm
1
> 1 cm (PKKI, 29)

Panjang kayu muka
Lm
1
= S
1
cos o / t b > 15 cm
Lm
2
= S cos o / t b

d. Sambungan Pasak
Batang tarik yang menahan beban dan harus disambung,maka alat penyambung
paku atau baut jumlahnya besar demikiannya pula pelat penyambung lebih panjang
sehingga sambung tidak efektif.

Sebagai penganti alat penyambung dapat dipakai pasang kayu bentuk
penampangnya persegi panjang dan bulat dalam pemakaian alat penjambung
pasak kayu tersebut tetap diperlukan buat sebagai pelengkap yang berfungsi untuk
menahan pelat penyambung agar tetap melekat dengan batang yang sambung
walaupun terjadi momen jungkitan.

Persyaratan untuk pemasangan atau penggunaan pasak adalah sbb.
- Ukuran penampang atau ukuran pasak:;
1. t >1,5 cm
2. u > 5 t
3. u > 15 cm


Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
16
- Pada konstruksi yang selalu terendam air atau bagian konstruksi yang tidak
terlindung dan kemungkinan besar kadar lengas kayu akan tinggi,maka
kekuatan kayu harus dikalikan dengan 2/3.
- Pada kontruksi kayu yang tidak terlindung tetapi kayu ini dapat menggering
dengan cepat,maka kekuatannya harus dikalikan dengan 5/6.
- Kekuatan ijin satu sambungan pasak adalah harga terkecil dari:
S1 = u bt dari pasak.
S2 = b t otk atau o dari kayu - kayu yang disambung.

e. Kontrol Tegangan.
Untuk kontrol tegangan diambil momen maksimum dari kombinasi;
- Berat atap + Berat gording + Berat angin
- B erat atap + Berat gording + Beban hidup
otd = Mx / wx + My / wy s olt
Struktur kayu HARDIYANTI IMAN
0723 09 025
Ismi sc
17
DAFTAR PUSTAKAN

1. Arbain Tata,ST,Diktat Mata Kuliah Konstuksi Kayu,Unkhair Ternate,2004,
2. V.Sunggono kh,ir,Buku Sipil,Nova,.Bandung,. 1468.