Anda di halaman 1dari 22

Pendahuluan

Dalam rangka menegakkan diagnosis penyakit saraf diperlukan pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan mental
dan laboratorium (penunjang). Pemeriksaan neurologis meliputi: pemeriksaan kesadaran, rangsang selaput otak, saraf otak, sistem motorik, sistem
sensorik refleks dan pemeriksaan mental (fungsi luhur).
Selama beberapa dasawarsa ini ilmu serta teknologi kedokteran maju dan berkembang dengan pesat. Banyak alat dan fasilitas yang
tersedia, dan memberikan bantuan yang sangat penting dalam mendiagnosis penyakit serta menilai perkembangan atau perjalanan penyakit. Saat ini
kita dengan mudah dapat mendiagnosis perdarahan di otak, atau keganasan di otak melalui pemeriksaan penitraan. !ita juga dengan mudah dapat
menentukan polineuropati dan perkembangannya melalui pemeriksaan kelistrikan.
Di samping kemajuan yang pesat ini, pemeriksaan fisik dan mental di sisi ranjang (bedside) masih tetap memainkan peranan yang
penting. !ita bahkan dapat meningkatkan kemampuan pemeriksaan di sisi ranjang dengan bantuan alat teknologi yang anggih. !ita dapat
mempertajam kemampuan pemeriksaan fisik dan mental dengan bantuan alat"alat anggih yang kita miliki.
Sampai saat ini kita masih tetap dan harus memupuk kemampuan kita untuk melihat, mendengar, dan merasa, serta mengobser#asi
keadaan pasien. Dengan pemeriksaan anamnesis, fisik dan mental yang ermat, kita dapat menentukan diagnosis, dan pemeriksaan penunjang yang
dibutuhkan.
Anamnesis
Dalam memeriksa penyakit saraf, data riwayat penyakit merupakan hal yang penting. Seorang dokter tidak mungkin berkesempatan
mengikuti penyakit sejak dari mulanya. Biasanya penderita datang ke dokter pada saat penyakit sedang berlangsung, bahkan kadang"kadang saat
penyakitnya sudah sembuh dan keluhan yang dideritanya merupakan gejala sisa. Selain itu, ada juga penyakit yang gejalanya timbul pada waktu"
waktu tertentu$ jadi, dalam bentuk serangan. Di luar serangan, penderitanya berada dalam keadaan sehat. %ika penderita datang ke dokter di luar
serangan, sulit bagi dokter untuk menegakkan diagnosis penyakitnya, keuali dengan bantuan laporan yang dikemukakan oleh penderita (anamnesis)
dan orang yang menyaksikannya (allo"anamnesis).
&idak jarang pula suatu penyakit mempunyai perjalanan tertentu. 'leh karena perjalanan penyakit sering mempunyai pola tertentu,
maka dalam menegakkan diagnosis kita perlu menggali data perjalanan penyakit tersebut. Suatu kelainan fisik dapat disebabkan oleh bermaam
penyakit. Dengan mengetahui perjalanan penyakit, kita dapat mendekati diagnosisnya, dan pemeriksaan laboratorium yang tidak perlu dapat
dihindari. &idaklah berlebihan bila dikatakan bahwa: ()namnesis yang baik membawa kita menempuh setengah jalan ke ara diagnosa yang tepat*.
+ntuk mendapatkan anamnesis yang baik dibutuhkan sikap pemeriksa yang sabar dan penuh perhatian, serta waktu yang ukup.
Pengambilan anamnesis sebaiknya dilakukan di tempat tersendiri, supaya tidak didengar orang lain. Biasanya pengambilan anamnesis mengikuti ,
pola umum, yaitu:
-. Pasien dibiarkan seara bebas mengemukakan semua keluhan serta kelainan yang dideritanya.
,. Pemeriksa (dokter) membimbing pasien mengemukakan keluhannya atau kelainannya dengan jalan mengajukan
pertanyaan tertuju.
Pengambilan anamnesa yang baik menggabungkan kedua ara tersebut diatas.
Biasanya wawanara dengan pasien dimulai dengan menanyakan nama, umur, pekerjaan, alamat. !emudian ditanyakan keluhan
utamanya, yaitu keluhan yang mendorong pasien datang berobat ke dokter. Pada tiap keluhan atau kelainan perlu ditelusuri:
-. Sejak kapan mulai
,. Sifat serta beratnya
.. /okasi serta penjalarannya
0. 1ubungannya dengan waktu (pagi, siang, malam, sedang tidur, waktu haid, sehabis makan dan lain sebagainya)
2. !eluhan lain yang ada hubungannya dengan keluhan tersebut
3. Pengobatan sebelumnya dan bagaimana hasilnya
4. 5aktor yang membuat keluhan lebih berat atau lebih ringan
6. Perjalanan keluhan, apakah menetap, bertambah berat, bertambah ringan, datang dalam bentuk serangan, dan lain
sebagainya
Pada tiap penderita penyakit saraf harus pula dijajaki kemungkinan adanya keluhan atau kelainan dibawah ini dengan mengajukan
pertanyaan"pertanyaan berikut:
-. 7yeri kepala : )pakah anda menderita sakit kepala8 Bagaimana sifatnya, dalam bentuk serangan atau terus
menerus8 Dimana lokasinya8 )pakah progresif, makin lama makin berat atau makin sering8 )pakah sampai mengganggu akti#itas sehari"
hari8
,. 9untah : )pakah disertai rasa mual atau tidak8 )pakah muntah ini tiba"tiba, mendadak, seolah"olah isi perut
diampakkan keluar (proyektil)8
.. :ertigo : Pernahkah anda merasakan seolah sekeliling anda bergerak, berputar atau anda merasa diri anda yang
bergerak atau berputar8 )pakah rasa tersebut ada hubungannya dengan perubahan sikap8 )pakah disertai rasa mual atau muntah8 )pakah
disertai tinitus (telinga berdenging, berdesis)8
0. ;angguan pemglihatan (#isus) : )pakah ketajaman penglihatan anda menurun pada satu atau kedua mata8
)pakah anda melihat dobel (diplopia)8
2. Pendengaran : )dakah perubahan pada pendengaran anda8 )dakah tinitus (bunyi berdenging<berdesis pada
telinga)8
3. Saraf otak lainnya : )dakah gangguan pada peniuman, pengeapan, sali#asi (pengeluaran air ludah), lakrimasi
(pengeluaran air mata), dan perasaan di wajah8 )dakah kelemahan pada otot wajah8 )pakah biara jadi adel dan pelo8 )pakah suara
anda berubah, jadi serak, atau bindeng (disfonia), atau jadi mengeil<hilang (afonia)8 )pakah biara jadi adel dan pelo (disartria)8
)pakah sulit menelan (disfagia)8
4. 5ungsi luhur : Bagaimana dengan memori8 )pakah anda jadi pelupa8 )pakah anda menjadi sukar mengemukakan
isi pikiran anda (disfasia, afasia motorik) atau memahami pembiaraan orang lain (disfasia, afasia sensorik)8 Bagaimana dengan
kemampuan membaa (aleksia)8 )pakah menjadi sulit membaa, dan memahami apa yang anda baa8 Bagaimana dengan kemampuan
menulis, apakah kemampuan menulis berubah, bentuk tulisan berubah8
6. !esadaran : Pernahkah anda mendadak kehilangan kesadaran, tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitar anda8
Pernahkah anda mendada merasa lemah dan seperti mau pingsan (sinkop)8
=. 9otorik : )dakah bagian tubuh anda yang menjadi lemah, atau lumpuh (tangan, lengan, kaki, tungkai)8
Bagaimana sifatnya, hilang"timbul, menetap atau berkurang8 )pakah gerakan anda menjadi tidak ekatan8 )dakah gerakan pada bagian
tubuh atau ekstremitas badan yang abnormal dan tidak dapat anda kendalikan (khorea, tremor, tik)8
->. Sensibilitas : )dakah perubahan atau gangguan perasaan pada bagian tubuh atau ekstremitas8 )dakah rasa baal,
semutan, seperti ditusuk, seperti dibakar8 Dimana tempatnya8 )dakah rasa tersebut menjalar8
--. Saraf otonom : Bagaimana buang air keil (miksi), buang air besar (defekasi), dan nafsu seks (libido) anda8
)dakah retensio atau inkontinesia urin atau al#i8
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum
o Sensorium (kesadaran)
&ingkat kesadaran dibagi menjadi beberapa yaitu:

o
7ormal : kompos mentis
Somnolen : : !eadaan mengantuk. !esadaran dapat pulih penuh bila dirangsang.
Somnolen disebut juga sebagai letargi. &ingkat kesadaran ini ditandai oleh mudahnya pasien dibangungkan,
mampu memberi jawaban #erbal dan menangkis rangsang nyeri.
Sopor (stupor) : !antuk yang dalam. Pasien masih dapat dibangunkan dengan rangsang
yang kuat, namun kesadarannya segera menurun lagi. ?a masih dapat mengikuti suruhan yang singkat dan masih
terlihat gerakan spontan. Dengan rangsang nyeri pasien tidak dapat dibangunkan sempurna. @eaksi terhadap
perintah tidak konsisten dan samar. &idak dapat diperoleh jawaban #erbal dari pasien. ;erak motorik untuk
menangkis rangsang nyeri masih baik.
!oma A ringan (semi"koma) : Pada keadaan ini tidak ada respons terhadap rangsang
#erbal. @efleks ( kornea, pupil dsb) masih baik. ;erakan terutama timbul sebagai respons terhadap rangsang
nyeri. Pasien tidak dapat dibangunkan.
!oma (dalam atau komplit) : &idak ada gerakan spontan. &idak ada jawaban sama sekali
terhadap rangsang nyeri yang bagaimanapun kuatnya.
o Skala !oma ;lasgow
+ntuk mengikuti perkembangan tingkat kesadaran dapat digunakan skala koma ;lasgow yang memperhatikan tanggapan (respon)
penderita terhadap rangsang dan memberikan nilai pada respon tersebut. &anggapan<respon penderita yang perlu diperhatikan adalah:
9embuka mata

o
Spontan 0
&erhadap biara .
Dengan rangsang nyeri ,
&idak ada reaksi -
@espon #erbal (biara)

o
Baik dan tidak ada disorientasi 2
!aau ((onfused*) 0
&idak tepat .
9engerang ,
&idak ada jawaban -
@espon motorik (gerakan)

o
9enurut perintah 3
9engetahui lokasi nyeri 2
@eaksi menghindar 0
@efleks fleksi (dekortikasi) .
@efleks ekstensi (deserebrasi) ,
&idak ada reaksi -


o &ekanan darah
o 5rekuensi nadi
o 5rekuensi nafas
o Suhu

Pemeriksaan Neurologis
o !epala dan /eher
" Bentuk : simetris atau asimetris
" 5ontanella : tertutup atau tidak
" &ransiluminasi

o @angsang meningeal
" !aku kuduk : +ntuk memeriksa kaku kuduk dapat dilakukan sbb: &angan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala pasien yang
sedang berbaring, kemudian kepala ditekukan (fleksi) dan diusahakan agar dagu menapai dada. Selama penekukan diperhatikan adanya tahanan.
Bila terdapat kaku kuduk kita dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat menapai dada. !aku kuduk dapat bersifat ringan atau berat
" !ernig sign : Pada pemeriksaan ini , pasien yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada persendian panggul sampai
membuat sudut =>B. Setelah itu tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari -.2B terhadap paha. Bila
teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari sudut -.2B, maka dikatakan !ernig sign positif.
" BrudCinski ? (BrudCinskiDs nek sign)
Pasien berbaring dalam sikap terlentang, dengan tangan yang ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring , tangan
pemeriksa yang satu lagi sebaiknya ditempatkan didada pasien untuk menegah diangkatnya badan kemudian kepala pasien difleksikan sehingga
dagu menyentuh dada. &est ini adalah positif bila gerakan fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi di sendi lutut dan panggul kedua tungkai seara
reflektorik.
" BrudCinski ?? (BrudCinskiDs ontralateral leg sign)
Pasien berbaring terlentang. &ungkai yang akan dirangsang difleksikan pada sendi lutut, kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi
panggul. Bila timbul gerakan seara reflektorik berupa fleksi tungkai kontralateral pada sendi lutut dan panggul ini menandakan test ini postif.
" /asegue sign : +ntuk pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang berbaring lalu kedua tungkai diluruskan (diekstensikan),
kemudian satu tungkai diangkat lurus, dibengkokkan (fleksi) persendian panggulnya. &ungkai yang satu lagi harus selalu berada dalam keadaan
ekstensi (lurus). Pada keadaan normal dapat diapai sudut 4>B sebelum timbul rasa sakit dan tahanan. Bila sudah timbul rasa sakit dan tahanan
sebelum menapai 4>B maka disebut tanda /asegue positif. 7amun pada pasien yang sudah lanjut usianya diambil patokan 3>B.

o Saraf"saraf otak
7er#us ? (olfaktorius)
" )nosmia adalah hilangnya daya penghiduan.
" 1iposmia adalah bila daya ini kurang tajam.
" 1iperosmia adalah daya penghiduan yang terlalu peka.
" Parosmia adalah gangguan penghiduan bilamana terium bau yang tidak sesuai misalnya minyak kayu putih terium sebagai bau
bawang goreng.
" !akosmia adalah mempersepsi adanya bau busuk, padahal tidak ada.
" 1alusinasi peniuman adalah bila terium suatu modalitas olfaktorik tanpa adanya perangsangan maka kesadaran akan suatu jenis
bau ini

o
7er#us ?? (optikus)
" &ajam penglihatan : membandingkan ketajaman penglihatan pemeriksa dengan jalan pasien disuruh melihat benda yang letaknya
jauh misal jam didinding, membaa huruf di buku atau koran.
" /apangan pandang : Eang paling mudah adalah dengan munggunakan metode !onfrontasi dari Donder. Dalam hal ini pasien
duduk atau berdiri kurang lebih jarak - meter dengan pemeriksa, %ika kita hendak memeriksa mata kanan maka mata kiri pasien harus ditutup,
misalnya dengan tangannya pemeriksa harus menutup mata kanannya. !emudian pasien disuruh melihat terus pada mata kiri pemeriksa dan
pemeriksa harus selalu melihat ke mata kanan pasien. Setelah pemeriksa menggerakkan jari tangannya dibidang pertengahan antara pemeriksa dan
pasien dan gerakan dilakukan dari arah luar ke dalam. %ika pasien mulai melihat gerakan jari A jari pemeriksa, ia harus memberitahu, dan hal ini
dibandingkan dengan pemeriksa, apakah iapun telah melihatnya. Bila sekiranya ada gangguan kampus penglihatan (#isual field) maka pemeriksa
akan lebih dahulu melihat gerakan tersebut. ;erakan jari tangan ini dilakukan dari semua jurusan dan masing masing mata harus diperiksa.
" 9elihat warna
" @efleks anaman
" @efleks pupil

o
7er#us ??? (okulomotorius)
" Pergerakan bola mata ke arah : atas, atas dalam, atas luar, medial, bawah, bawah luar.
" Diplopia (melihat kembar)
" Strabismus (juling)
" 7istagmus (gerakan bola mata diluar kemauan pasien)
" Fksoftalmus (mata menonjol keluar)
" Pupil : lihat ukuran, bentuk dan kesamaan antara kiri dan kanan
" @efleks pupil (refleks ahaya)
Direk/langsung : ahaya ditujukan seluruhnya kearah pupil. 7ormal, akibat adanya ahaya maka pupil akan mengeil (miosis). Perhatikan
juga apakah pupil segera miosis, dan apakah ada pelebaran kembali yang tidak terjadi dengan segera.
Indirek/tidak langsung: refleks ahaya konsensuil. Gahaya ditujukan pada satu pupil, dan perhatikan pupil sisi yang lain.
" @ima palpebra
" De#iasi konjugae

o
7er#us ?: (trohlearis)
" Pergerakan bola mata ke bawah dalam

o
7er#us : (trigeminus)
" Pemeriksaan motorik : membuka dan menutup mulut$ palpasi otot maseter dan temporalis$ kekuatan gigitan.
" Gara :
-.
-.
-.
-. pasien diminta merapatkan gigi sekuatnya, kemudian meraba 9. masseter dan
9. temporalis. 7ormalnya kiri dan kanan kekuatan, besar dan tonus nya sama.
,. Pasien diminta membuka mulut dan memperhatikan apakah ada de#iasi
rahang bawah, jika ada kelumpuhan maka dagu akan terdorong kesisi lesi. Sebagai pegangan diambil
gigi seri atas dan bawah yang harus simetris.Bila terdapat parese disebelah kanan, rahang bawah tidak
dapat digerakkan kesamping kiri. Gara lain pasien diminta mempertahankan rahang bawahnya
kesamping dan kita beri tekanan untuk mengembalikan rahang bawah keposisi tengah.
" Pemeriksaan sensorik : dengan kapas dan jarum dapat diperiksa rasa nyeri dan suhu, kemudian lakukan pemeriksaan pada dahi,
pipi dan rahang bawah.
" @efleks kornea : !ornea disentuh dengan kapas, bila normal pasien akan menutup matanya atau menanyakan apakah pasien dapat
merasakan.
" @efleks masseter : Dengan menempatkan satu jari pemeriksa melintang pada bagian tengah dagu, lalu pasien dalam keadaan mulut
setengah membuka dipukul dengan *hammer reflex* normalnya didapatkan sedikit saja gerakan, malah kadang kadang tidak ada. Bila ada gerakan
hebat yaitu kontraksi 9. masseter, 9. temporalis, 9. pterygoideus medialis yang menyebabkan mulut menutup ini disebut refleks meninggi.
" @efleks bersin : menggunakan kapas.

o
7er#us :? (abdusens)
" Pergerakan bola mata ke lateral

o
7er#us :?? (fasialis)
" Pemeriksaan fungsi motorik : mengerutkan dahi (dibagian yang lumpuh lipatannya tidak dalam), mimik, mengangkat alis, menutup
mata (menutup mata dengan rapat dan oba buka dengan tangan pemeriksa), monongkan bibir atau menyengir, memperlihatkan gigi, bersiul (suruh
pasien bersiul, dalam keadaan pipi mengembung tekan kiri dan kanan apakah sama kuat. Bila ada kelumpuhan maka angin akan keluar kebagian sisi
yang lumpuh)
" Pemeriksaan fungsi sensorik :

o

,<. bagian depan lidah : Pasien disuruh untuk menjulurkan lidah, kemudian
pada sisi kanan dan kiri diletakkan gula, asam,garam atau sesuatu yang pahit. Pasien ukup
menuliskan apa yang terasa diatas searik kertas. Bahannya adalah: glukosa 2 H, 7aGl ,,2 H, asam
sitrat - H, kinine >,>42 H.
Sekresi air mata : Dengan menggunakan Shirmer test (lakmus merah).
+kuran : >,2 m I -,2 m. Jarna berubah jadi biru$ normal: ->A-2 mm (lama 2 menit).


o
7er#us :??? (#estibulo"koklearis)
" Pemeriksaan fungsi n. koklearis untuk pendengaran

o

Pemeriksaan Jeber : 9aksudnya membandingkan transportasi melalui tulang
ditelinga kanan dan kiri pasien. ;arputala ditempatkan didahi pasien, pada keadaan normal kiri dan
kanan sama keras (pasien tidak dapat menentukan dimana yang lebih keras). Pendengaran tulang
mengeras bila pendengaran udara terganggu, misal: otitis media kiri, pada test Jeber terdengar kiri
lebih keras. Bila terdapat (ner#e deafness* disebelah kiri, pada test Jeber dikanan terdengar lebih
keras.
Pemeriksaan @inne : 9aksudnya membandingkan pendengaran melalui
tulang dan udara dari pasien. Pada telinga yang sehat, pendengaran melalui udara didengar lebih lama
daripada melalui tulang. ;arputala ditempatkan pada planum mastoid sampai pasien tidak dapat
mendengarnya lagi. !emudian garpu tala dipindahkan kedepan meatus eksternus. %ika pada posisi
yang kedua ini masih terdengar dikatakan test positip. Pada orang normal test @inne ini positif. Pada
(conduction deafness* test @inne negatif.
Pemeriksaan Shwabah : Pada test ini pendengaran pasien dibandingkan
dengan pendengaran pemeriksa yang dianggap normal. ;arpu tala dibunyikan dan kemudian
ditempatkan didekat telinga pasien. Setelah pasien tidak mendengarkan bunyi lagi, garpu tala
ditempatkan didekat telinga pemeriksa. Bila masih terdengar bunyi oleh pemeriksa, maka dikatakan
bahwa Shwabah lebih pendek (untuk konduksi udara). !emudian garpu tala dibunyikan lagi dan
pangkalnya ditekankan pada tulang mastoid pasien. Dirusuh ia mendengarkan bunyinya. Bila sudah
tidak mendengar lagi maka garpu tala diletakkan di tulang mastoid pemeriksa. Bila pemeriksa masih
mendengar bunyinya maka dikatakan Shwabah (untuk konduksi tulang) lebih pendek.
A Pemeriksaan fungsi n. #estibularis untuk keseimbangan

o

Pemeriksaan dengan tes kalori
Bila telinga kiri didinginkan (diberi air dingin) timbul nystagmus kekanan. Bila telinga kiri dipanaskan (diberi air panas) timbul
nistagmus kekiri. 7ystagmus ini disebut sesuai dengan fasenya yaitu : fase epat dan fase pelan, misalnya nystagmus kekiri berarti fase epat kekiri.
Bila ada gangguan keseimbangan maka perubahan temperatur dingin dan panas memberikan reaksi.

o

Pemeriksaan Kpast pointing test
Pasien diminta menyentuh ujung jari pemeriksa dengan jari telunjuknya, kemudian dengan mata tertutup pasien diminta untuk
mengulangi. 7ormalnya pasien harus dapat melakukannya.

o

&es @omberg
Pada pemeriksaan ini pasien berdiri dengan kaki yang satu didepan kaki yang lainnya. &umit kaki yang satu berada didepan jari kaki yang
lainnya, lengan dilipat pada dada dan mata kemudian ditutup. 'rang yang normal mampu berdiri dalam sikap @omberg yang dipertajam selama .>
detik atau lebih.

o

Stepping test
Pasien disuruh berjalan ditempat, dengan mata tertutup, sebanyak 2> langkah dengan keepatan seperti jalan biasa. Selama test ini pasien
diminta untuk berusaha agar tetap ditempat dan tidak beranjak dari tempatnya selama test berlangsung. Dikatakan abnormal bila kedudukan akhir
pasien beranjak lebih dari - meter dari tempatnya semula, atau badan terputar lebih dari .> derajat.


o
7er#us ?L
" Pemeriksaan motorik : disfagia, palatum molle, u#ula, disfonia, refleks muntah.
Gara - : Pasien diminta untuk membuka mulut dan mengatakan huruf (a*. %ika ada gangguan maka otot stylopharyngeus tak dapat
terangkat dan menyempit dan akibatnya rongga hidung dan rongga mulut masih berhubungan sehingga boor. %adi pada saat menguapkan huruf (a*
dinding pharynI terangkat sedang yang lumpuh tertinggal, dan tampak u#ula tidak simetris tetapi tampak miring tertarik kesisi yang sehat
Gara , : Pemeriksa menggoreskan atau meraba pada dinding pharynI kanan dan kiri dan bila ada gangguan sensibilitas maka tidak terjadi
refleks muntah.
" Pemeriksaan sensorik : pengeapan -<. belakang lidah

o
7er#us L
Pemeriksaan bersamaan dengan ner#us ?L.

o
7er#us L?
" 9emeriksa tonus m. sternoleidomastoideus : Dengan menekan pundak pasien dan pasien diminta untuk mengangkat pundaknya.
" 9emeriksa tonus m. trapeCius : Pasien diminta untuk menoleh kekanan dan kekiri dan ditahan oleh pemeriksa , kemudian dilihat
dan diraba tonus dari m. sternoleidomastoideus.

o
7er#us L??
Dengan adanya gangguan pergerakan lidah, maka perkataan"perkataan tidak dapat diuapkan dengan baik, hal demikian disebut:
dysarthria. Dalam keadaan diam lidah tidak simetris, biasanya tergeser kedaerah lumpuh karena tonus disini menurun. Bila lidah dijulurkan maka
lidah akan membelok kesisi yang sakit. 9elihat apakah ada atrofi atau fasikulasi pada otot lidah. !ekuatan otot lidah dapat diperiksa dengan menekan
lidah kesamping pada pipi dan dibandingkan kekuatannya pada kedua sisi pipi.
Pemeriksaan sistem motorik
Pemeriksaan sistim motorik sebaiknya dilakukan dengan urutan urutan tertentu untuk menjamin kelengkapan dan ketelitian pemeriksaan.

o Pengamatan
" ;aya berjalan dan tingkah laku.
" Simetri tubuh dan ektremitas.
" !elumpuhan badan dan anggota gerak, dll.

o ;erakan #olunter
Eang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa, misalnya:
" 9engangkat kedua tangan pada sendi bahu.
" 5leksi dan ekstensi artikulus kubiti.
" 9engepal dan membuka jari"jari tangan.
" 9engangkat kedua tungkai pada sendi panggul.
" 5leksi dan ekstensi artikulus genu.
" Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki.
" ;erakan jari" jari kaki.

o Palpasi otot
" Pengukuran besar otot.
" 7yeri tekan.
" !ontraktur.
" !onsistensi (kekenyalan).
" !onsistensi otot yang meningkat terdapat pada:

o
Spasmus otot akibat iritasi radiI saraf spinalis, misal: meningitis, 17P
!elumpuhan jenis +97 (spastisitas)
;angguan +97 ekstrapiramidal (rigiditas)
!ontraktur otot
" !onsistensi otot yang menurun terdapat pada

o
!elumpuhan jenis /97 akibat dener#asi otot.
!elumpuhan jenis /97 akibat lesi di (motor end plate*


o Perkusi otot
" 7ormal : otot yang diperkusi akan berkontraksi yang bersifat setempat dan berlangsung hanya - atau , detik saja.
" 9iodema : penimbunan sejenak tempat yang telah diperkusi (biasanya terdapat pada pasien miIedema, pasien dengan giCi buruk).
" 9iotonik : tempat yang diperkusi menjadi ekung untuk beberapa detik oleh karena kontraksi otot yang bersangkutan lebih lama
dari pada biasa.

o &onus otot
" Pasien diminta melemaskan ekstremitas yang hendak diperiksa kemudian ekstremitas tersebut kita gerak"gerakkan fleksi dan
ekstensi pada sendi siku dan lutut. Pada orang normal terdapat tahanan yang wajar.
" 5laid : tidak ada tahanan sama sekali (dijumpai pada kelumpuhan /97).
" 1ipotoni : tahanan berkurang.
" Spastik : tahanan meningkat dan terdapat pada awal gerakan, ini dijumpai pada kelumpuhan +97.
" @igid : tahanan kuat terus menerus selama gerakan misalnya pada Parkinson.

o !ekuatan otot
" Pemeriksaan ini menilai kekuatan otot, untuk memeriksa kekuatan otot ada dua ara:

o
Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan pemeriksa menahan
gerakan ini.
Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia disuruh menahan.
" Gara menilai kekuatan otot:

o
> : &idak didapatkan sedikitpun kontraksi otot, lumpuh total.
- : &erdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan gerakan pada persendiaan
yang harus digerakkan oleh otot tersebut.
, : Didapatkan gerakan,tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya berat (gra#itasi).
. : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat.
0 : Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi sedikit tahanan yang
diberikan.
2 : &idak ada kelumpuhan (normal)

Sistem sensibilitas
o Fksteroseptif : terdiri atas rasa nyeri, rasa suhu dan rasa raba.
@asa nyeri bisa dibangkitkan dengan berbagai ara, misalnya dengan menusuk menggunakan jarum, memukul dengan benda tumpul,
merangsang dengan api atau hawa yang sangat dingin dan juga dengan berbagai larutan kimia.
@asa suhu diperiksa dengan menggunakan tabung reaksi yang diisi dengan air es untuk rasa dingin, dan untuk rasa panas dengan air
panas. Penderita disuruh mengatakan dingin atau panas bila dirangsang dengan tabung reaksi yang berisi air dingin atau air panas. +ntuk memeriksa
rasa dingin dapat digunakan air yang bersuhu sekitar ->",> BG, dan untuk yang panas bersuhu 0>"2> BG. Suhu yang kurang dari 2 BG dan yang lebih
tinggi dari 2> BG dapat menimbulkan rasa"nyeri.
@asa raba dapat dirangsang dengan menggunakan sepotong kapas, kertas atau kain dan ujungnya diusahakan sekeil mungkin. 1indarkan
adanya tekanan atau pembangkitan rasa nyeri. Periksa seluruh tubuh dan bandingkan bagian"bagian yang simetris.

o Proprioseptif : rasa raba dalam (rasa gerak, rasa posisi<sikap, rasa getar dan rasa tekanan)
@asa gerak : pegang ujung jari jempol kaki pasien dengan jari telunjuk dan jempol jari tangan pemeriksa dan gerakkan keatas kebawah
maupun kesamping kanan dan kiri, kemudian pasien diminta untuk menjawab posisi ibu jari jempol nya berada diatas atau dibawah atau disamping
kanan<kiri.
@asa sikap : &empatkan salah satu lengan<tungkai pasien pada suatu posisi tertentu, kemudian suruh pasien untuk menghalangi pada
lengan dan tungkai. Perintahkan untuk menyentuh dengan ujung ujung telunjuk kanan, ujung jari kelingking kiri dsb.
@asa getar : ;arpu tala digetarkan dulu<diketuk pada meja atau benda keras lalu letakkan diatas ujung ibu jari kaki pasien dan mintalah
pasien menjawab untuk merasakan ada getaran atau tidak dari garputala tersebut.

o Diskriminatif : daya untuk mengenal bentuk<ukuran$ daya untuk mengenal <mengetahui berat sesuatu
benda dsb.
@asa gramestesia : untuk mengenal angka, aksara, bentuk yang digoreskan diatas kulit pasien, misalnya ditelapak tangan pasien.
@asa barognosia : untuk mengenal berat suatu benda.
@asa topognosia : untuk mengenal tempat pada tubuhnya yang disentuh pasien.
Refleks
o @efleks fisiologis
" Biseps
Stimulus : ketokan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada tendon m. biseps brahii, posisi lengan setengah ditekuk pada sendi
siku.
@espons : fleksi lengan pada sendi siku.
)fferent : n. musuluutaneus (G2"3)
Ffferenst : idem
" Triseps
Stimulus : ketukan pada tendon otot triseps brahii, posisi lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi.
@espons : eItensi lengan bawah disendi siku
)fferent : n. radialis (G 3"4"6)
Ffferenst : idem
" KPR
Stimulus : ketukan pada tendon patella
@espons : ekstensi tungkai bawah karena kontraksi m. Muadrieps emoris.
Ffferent : n. femoralis (/ ,"."0)
)fferent : idem
" APR
Stimulus : ketukan pada tendon ahilles
@espons : plantar fleksi kaki karena kontraksi m. gastronemius
Ffferent : n. tibialis ( /. 2"S, -", )
)fferent : idem
" Periostoradialis
Stimulus : ketukan pada periosteum ujung distal os radii, posisi lengan setengah fleksi dan sedikit pronasi
@espons : fleksi lengan bawah di sendi siku dan supinasi karena kontraksi m. brahioradialis
)fferent : n. radialis (G 2"3)
Ffferenst : idem
" Periostoulnaris
Stimulus : ketukan pada periosteum pro. styloigeus ulnea, posisi lengan setengah fleksi N antara pronasi A supinasi.
@espons : pronasi tangan akibat kontraksi m. pronator Muadratus
)fferent : n. ulnaris (G6"&-)
Ffferent : idem

o @efleks patologis
" Ba!inski
Stimulus : penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior ke anterior.
@espons : ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan (fanning) jari A jari kaki.
" "haddock
Stimulus : penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral, sekitar malleolus lateralis dari posterior ke anterior.
@espons : seperti babinski
" #ppenheim
Stimulus : pengurutan rista anterior tibiae dari proksimal ke distal
@espons : seperti babinski
" $ordon
Stimulus : penekanan betis seara keras
@espons : seperti babinski
" Schaeffer
Stimulus : memenet tendon ahilles seara keras
@espons : seperti babinski
" $onda
Stimulus : penekukan ( planta fleksi) maksimal jari kaki keempat
@espons : seperti babinski
" %offman
Stimulus : goresan pada kuku jari tengah pasien
@espons : ibu jari, telunjuk dan jari A jari lainnya berefleksi
" Tromner
Stimulus : olekan pada ujung jari tengah pasien
@espons : seperti 1offman
Koordinasi
&ermasuk dalam pemeriksaan koordinasi :
" /enggang
" Biara : berbiara spontan, pemahaman, mengulang, menamai.
" 9enulis : mikrografia pada ParkinsonDs disease
" Perobaan apraksia : ketidakmampuan dalam melakukan tindakan yang terampil : menganing baju, menyisir rambut, dan mengikat
tali sepatu
" 9imik
" &es telunjuk : pasien merentangkan kedua lengannya ke samping sambil menutup mata. /alu mempertemukan jari"jarinya di tengah
badan.
" &es telunjuk"hidung : pasien menunjuk telunjuk pemeriksa, lalu menunjuk hidungnya.
" Disdiadokokinesis : kemampuan melakukan gerakan yang bergantian seara epat dan teratur.
" &es tumit"lutut : pasien berbaring dan kedua tungkai diluruskan, lalu pasien menempatkan tumit pada lutut kaki yang lain.
Vegetatif
Pemeriksaan #egetatif :
" :asomotorik : pembuluh darah O digores merah
" Sudomotorik : berkeringat
" Pilo"erektor : merinding O tangan pemeriksa setelah memegang es, lalu memegang pasien
" 9iksi
" Defekasi
" Potensi libido
Vertebra
Bentuk, soliosis, hiperlordosis, kifosis
Tanda-tanda perangsangan radikuler
-.
-. /aseMue : kaki difleksikan pada sendi panggul dengan sendi lutut tetap ekstensi O tahanan dengan
sudut P 3>B
,. Gross /aseMue : lakukan tes /aseMue, nyeri pada kaki yang berlawanan
.. Patrik
0. Gontra"Patrik
Geala-geala !erebellar
-.
-. )taksia : gangguan gerakan jalan yang tidak teratur oleh karena impuls proprioseptif tidak dapat
diintegrasikan (gangguan koordinasi gerakan).
,. Disartria : gangguan kata"kata.
.. &remor : intention tremor : iregular, bertambah kasar bila tangan menuju suatu arah atau sasaran.
0. 7istagmus : tes kalori
2. 5enomena @ebound : tidak mampu menghentikan gerakan tepat pada waktunya. Penderita
memfleksikan tangan dan disuruh menahan tahanan oleh pemeriksa, lalu pemeriksa melepaskan tangannya dengan tiba"tiba O
ditahan oleh otot"otot triseps O normal.
3. :ertigo : gangguan orientasi ruangan dimana perasaan dirinya bergerak berputar terhadap ruangan di
sekitarnya atau ruangan sekitarnya bergerak terhadap dirinya.

Geala-geala ekstrapiramidal
-.
-. &remor : resting tremor<Parkinson tremor
,. @igiditas : hipertonus otot"otot
.. Bradikinesia : gerakan melambat

Fungsi "uhur
-.
-. !esadaran kualitatif
,. ?ngatan baru
.. ?ngatan lama
0. 'rientasi : diri, tempat, waktu, situasi
2. ?nteligensia : normal, terganggu
3. Daya pertimbangan : baik, kurang
4. @eaksi emosi : normal, terganggu
6. )fasia : gangguan berbahasa (gangguan dalam memproduksi atau memahami bahasa)
" Fkspresif : motorik, area Broa
" @eseptif : area Jernike
=. )gnosia : ketidakmampuan mengenali benda"benda yang telah dikenali sebelumnya.
" )gnosia #isual : tidak mampu mengenali objek seara #isual
" )gnosia jari : ketidakmampuan mengidentifikasi jarinya atau jari orang lain Q pasien menutup mata, pemeriksa memegang salah
satu jari pasien, dan pasien membuka mata dan menunjukkan jari yang diraba tadi.
->. )kalkulia : ketidakmampuan berhitung
--. Disorientasi kanan"kiri