Anda di halaman 1dari 3

Klasifikasi tetanus

a. Tetanus generalisata
Bentuk ini banyak dikenal. Sering banyak komplikasi yang tidak dikenal
beberapa tetanus lokal oleh karena gejala timbul diam-diam, trismus
merupakan gejala utam yang sering dijumpai,yang disebabkan oleh kekakuan
otot-otot masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang risus
sardonicus (sardonic grin) yaitu spasme otot-otot muka, opistotonus (kekakuan
otot punggung), kejang dinding perut.
Tetanus generalisata merupakan bentuk yang paling umum dari tetanus yang
ditandai dengan kontraksi otot tetanik dan hiperrefleksi, yang mengakibatkan
trismus (rahang terkunci), spasme glotis, spasme ototumum, opistotonus,
spasmerespiratoris, serangan kejang dan paralisis. (Dorland,2002)

b. Tetanus lokal
Bentuk tetanus ini berupa nyeri, kekakuan otot-otot pada bagian proksimal dari
tempat luka. Tetanus lokal adalah bentuk ringan dengan angka kematian 1%
kadang-kadang bentuk ini dapat berkembang menjadi tetanus umum. Pada
tetanus lokal dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten, pada daerah
tempat dimana luka terjadi (agonis, antagonis, dan fixator). Hal inilah
merupakan tanda dari tetanus lokal. Kontraksi otot tersebut biasanya ringan
bisa bertahap dalam beberapa bulan tanpa progressif dan biasanya menghilang
secara bertahap.
Tetanus lokal termasuk jenis tetanus yang ringan dengan kedutaan (twitching)
otot lokal dan spasme kelompok otot didekat lokasi cidera,atau dapat
memburuk menjadi bentuk umum (generalisata). (Dorland,2002)

c. Tetanus cephalic
Merupakan salah satu varian tetanus lokal. Terjadinya bentuk ini bila luka
mengenai daerah mata, kulit kepala, mata, telinga, leper, otitis media kronik
dan jarang akibat tonsilectomi. Gejala berupa disfungsi saraf loanial anatara
lain : n. III, IV, VII, IX, X, XI, dapat berupa gangguan sendri-sendri maupun
kombinasi dan menetap dalam beberapa hari bahkan berbulan-bulan.
Tetanus cephalic merupakan bentuk yang jarang dari tetanus lokal, yang terjadi
setelah trauma kepala atau infeksi telingan. Masa inkubasinya 1-2 hari.
Dijumpai trismus dan disfungsi satu atau lebih saraf kranial, yang tersering
adalah saraf ke-7. Dysphagia dan paralisisotot ekstraokular dapat terjadi.
Mortalitasnya tinggi. (Aru W, 2004)

d. Tetanus neonatorum
Biasanya disebabkan oleh infeksi C. Tetani, yang masuk melalui tali pusat
sewaktu proses pertolongan persalinan. Spora yang masuk disebabkan oleh
proses pertolongan persalinan steril, baik oleh penggunaan alat yang telah
terkontaminasi spora C. Tetani, maupun penggunaan obat-obatan waktu tali
pusat yang telah terkontaminasi. Kebiasaan menggunakan alat pertolongan
persalinan dan obat tradisional yang tidak steril, merupakan faktor utama
dalam terjadinya neonatal tetanus.
Tetanus neonatorum adalah suatu bentuk tetanus infeksius yang berat dan
terjadi selama beberapa hari pertama setalah lahir, disebabkan oleh faktor-
faktor seperti tindakan perawatan sisa tali pusat yang tidak higienis atau pada
sirkulasi bayi laki-laki dan kekuranagn imunisasi maternal. (Dorland, 2002)

Secara klinis tetanus dibagi menjadi 4 derajat yaitu :
a. Derajat I (ringan)
b. Derajat II (sedang)
c. Derajat III (berat)
d. Derajat IV (stadium terminal)

Diagnosis Banding

a. Meningitis bakterial
Pada penyakit ini trismus tidak ada kesadaran penderita biasanya menurun.
Diagnosis ditegakan dengan melakukan lumbal pungsi, dimana adanya
kelainan cairan serebrospinalis yaitu jumlah sel meningkat, kadar protein
meningkat dan glukosa menurun.
b. Poliomielitis
Didapatkan adanya paralisis flaksid dengan tidak dijumpai adanya trismus.
Pemeriksaan cairan serebrospinalis menunjukan lekositosis. Virus polio
diisolasi dari tinja dan pemeriksaan serologis, titer antibodi meningkat.
c. Rabies
Sebelumnya ada riwayat gigitan anjing atau hewan lain. Trismus jarang
ditemukan, kejang bersifat klonik.
d. Keracunan strichnine
Pada keadaan ini trismus jarang gejala berupa kejang tonik umum.
e. Tetani
Timbul karena hipokalsemia dan hipofasfetemia dimana kadar kalsium dan
fosfat serum rendah. Yang khas untuk spasme otot adalah karpopedal spasme
dan biasanya diikuti laringospasme, jarang dijumpai trismus.
f. Retropharingeal abses
Trismus selalu ada pada penyakit ini tetapi kejang umum tidak ada.
g. Tonsilitis berat
Penderita disertai panas tinggi, kejang tidak ada tetapi trismus ada.
h. Efek samping fenotiasin
Adanya riwayat minum obat fenotiasin. Kelainan berupa sindrom
ekstrapiramidal. Adanya reaksi distonik akut, torsicolis dan kekakuan otot.

Tabel Diagnosis Banding Tetanus