Anda di halaman 1dari 19

1

METODE ILMIAH SIKAP ILMIAH DAN LANGKAH


LANGKAH OPERASIONAL METODE ILMIAH
Mata Kuliah : ILMU ILMIAH DASAR
Dosen Agus Suhilman,S.Si, M.Pd
Di susun oleh :
1. Mikail Nata (NPM : 201312500059)
2. Sausan Hanan (NPM : 201312500)
3. Andy Prasetyo (NPM : 201312500
4. Elisabet Ayu Kartini (NPM : 201312500149)
5. Yurike Aesta (NPM : 201312500052)
6. Nurindah (NPM : 201312500
7. Ridho Rahmadi (NPM : 201312500115)
8. Veronica Anindita (NPM : 201312570033)

FAKULTAS BAHASA DAN SENI
PROGAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
JAKARTA 2013


2

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum.Wr.Wb
Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan
makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya mungkin kami
sebagai mahasiswa UNIVERSITAS INDRAPRASTA tidak akan sanggup
menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
ILMU ILMIAH DASAR, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari
berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh kami sebagai mahasiswa dengan
berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri kami sebagai mahasiswa
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini
memuat tentang Metode Ilmiah, Sikap Ilmiah, dan Langkah-langkah
Operasional Metode Ilmiah.
Kami juga sebagai mahasiswa mengucapkan terima kasih kepada dosen
Ilmu Kealaman Dasar (Agus Suhilman, S.Si, M.Pd) yang telah membimbing dan
memberi ilmu pengetahuan kepada kami sebagai mahasiswa sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat yang baik kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki banyak kekurangan,dan kami minta
maaf karna makalah ini jauh dari kesempurnaan yang diinginkan. Terima kasih.
Wasalamualaikum.Wr.Wb

Penulis
3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 4
A. Latar Belakang ........................................................................................ 4
B. Perumusan Masalah ................................................................................ 4
C. Tujuan ..................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 5
1. Metode Ilmiah ......................................................................................... 7
2. Sikap Ilmiah .......................................................................................... 13
3. Langkah-langkah Operasional Metode Ilmiah ....................................... 14
BAB III PENUTUP
Kesimpulan .................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 19







4

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu alamiah dasar merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang
pola pikir manusia mulai dari sejarah perkembangan awal hingga pemikiran-
pemikiran yang serba maju mulai dari penelitian-penelitian yang masih
menggunakan metode-metode zaman dulu hingga menggunakan metode-metode
yang sudah canggih. Dalam cabang ilmu alamiah dasar terdapat cabang ilmu yang
mempelajari tentang metode-metode atau cara-cara mengetahui penelitian yaitu
metode ilmiah atau sikap ilmiah yang didalamnya terdapat metode-metode atau
cara-cara penelitian atau sistematika penelitian.
B. Rumusan Masalah
a. Pengertian metode ilmiah
b. Metode ilmiah
c. Sikap ilmiah
d. Langkah-langkah operasional metode ilmiah

C. Tujuan
a. Mengerti apa itu metode ilmiah
b. Mengetahui bagaimana metode ilmiah
c. Mengerti tentang sikap ilmiah
d. Mengetahui langkah-langkah operasional metode ilmiah

5

BAB II
PEMBAHASAN

A. Metode Ilmiah
Pada uraian dimuka kita telah mengetahui adanya perkembangan
pola pikir manusia dimulai dari zaman Babylonia (kurang lebih 650 SM) dimana
orang percaya pada mitos, ramalan nasib berdasarkan perbintangan.
Bahkan percaya adanya banyak dewa, ada dewa angin, dewa matahari, dewa petir
dan dewa-dewa lainnya. Pengetahuan itu mereka peroleh dengan berbagai cara
antara lain:
a) Prasangka, yaitu suatu anggapan benar padahal baru merupakan
kemungkinan benar atau kadang-kadang malah tidak mungkin benar.
Contoh : Pada zaman Babylonia, orang percaya bahwa hujan dapat turun dari
surga sampai ke bumi melalui jendela-jendela yang ada di langit. Dengan
perasangka , orang sering mengambil keputusan yang keliru. Prasangka hanya
berguna untuk mencari kemungkinan suatu kebenaran.
b) Intuisi, yaitu suatu pendapat seseorang yang diangkat dari pengetahuannya
terdahulu melalui suatu proses yang tak disadari. Jadi, seolah-olah begitu saja
muncul pendapat itu tanpa dipikir. Pengetahuan yang dicapai dengan cara
demikian sukar dipercaya, ungkapan-ungkapan sering juga masuk akal namun
belum tentu cocok dengan kenyataan.
6

Contoh : Seseorang astrsolog di samping rumusannya sering menggunakan
intuisinya dalam memberikan ramalan nasib seseorang.
c) Trial dan Error, yaitu metode coba-coba atau untung-untungan. Cara ini
dapat di ibaratkan seperti seekor kera yang mencoba meraih pisang dalam
sebuah kerangkeng dari percobaan kohler, seorang psikolog jerman. Kera itu
dengan cara coba-coba akhirnya dapat juga meraih pisang dengan
menggunakan tongkat.
Pengetahuan pada manusia yang diperoleh melalui cara ini banyak sekali,
yaitu sejak zaman manusia purba sampai sekarang. Banyak pula penemuan hasil
trial dan error sangat bermanfaat bagi manusia. Misalnya ditemukannya
redaman kulit kina untuk obat malaria. Penemuan dengan cara coba-coba ini jelas
tidak efisien sebagai salah suatu cara mencari kebenaran.
Pengetahuan yang didapat dengan cara-cara tersebut diatas termasuk pada
golongan pengetahuan yang tidak ilmiah, pengetahuan dapat dikatakan ilmiah bila
pengetahuan memenuhi empat syarat, yaitu :
1. Objektif artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya. Maksudnya adalah
bahwa kesesuaian atau dibuktikan dengan hasil pengindraan atau empiri.
Contoh : Galileo dapat dianggap tokoh perintis pengetahuan alam karena ia
pemberani menentang kepercayaan yang ada pada masa itu yang berlawanan
dengan hasil pengamatannya. Ia mengejarkan kepada murid-muridnya untuk
tidak begitu saja mempercayai ajaran Aristoteles dan hendaknya melakukan
eksperimen serta membuat kesimpulan atas hasil observasinya itu.
7

Singkatanya, Galileo mendambakan kebenaran yang objektif atas dasar
empiri.
2. Metodik artinya pengetahuan itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara
tertentu dan terkontrol.
3. Sistematik artinya pengetahuan itu diperoleh dengan suatu sistem, tidak
berdiri sendiri; satu dengan yang lain saling berkaitan, saling menjelaskan
sehingga seluruhnya merupakan satu kesatuan yang utuh.
4. Berlaku umumartinya pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau dapat di
amati oleh seseorang atau oleh beberapa orang saja, tetapi semua orang
dengan cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama
atau konsisten.
Contoh : Melalui teropongnya Galileo menemukan adanya gunung-gunung
di bulan. Pengetahuan ini tak hanya berlaku bagi Galileo tetapi setiap orang
bila menggunaan teropong yang sama, yaitu bahwa di bulan ada gunung-
gunung.
Ditinjau dari sejarah cara berfikir manusia, pada dasarnya terdapat dua
cara pokok untuk memperoleh pengetahuan yang benar, ialah :
1. Cara yang didasarkan pada rasio, paham yang dikembangkan dikenal dengan
rasionalisme,dan
2. Cara yang didasarkan pada pengalaman, paham yang dikembangkan disebut
empirisme.
8

a) Rasionalisme
Descartes adalah pelopor dan tokoh rasionalme. Menurut dia, rasio
merupakan sumber dan pangkal dari segala pengertian. Hanya rasio sajalah yang
dapat membawa orang pada kebenaran dan dapat memberi pimpinan dalam
segala jalan pikiran.
Dalam menyusun pengetahuannya, kaum rasionalis mempergunakan
metode deduktif. Dasar pikiran yang digunakan dalam penalarannya di peroleh
dari ide yang menurut anggapannya sudah jelas, tegas dan pasti, dalam pikiran
mengetahui ide tersebut, tetapi manusia tidak menciptakanya. Sebelumnya
manusia berusaha untuk memikirkannya, ide / prinsip ini sudah ada.
Menurut kaum rasionalis, fungsi pikiran manusia hanyalah mengenai
ide/prinsip tersebut, dan kemudian menjadi pengetahuannya. Ide/prinsip yang
sebelumnya memang sudah ada bersifat apriori tersebut, dapat di ketahui manusia
lewat kemampuan berfikir rasionalnya. Menurut pengalaman mereka pengalaman
tidak menghasilkan prinsip, tetapi sebaliknya, dengan mengetahui prinsip yang di
peroleh lewat penalaran rasional, maka manusia dapat mengerti kejadian-kejadian
yang terjadi / berlaku dalam alam sekitarnya.
Masalah utama yang terdapat dalam rasionalisme adalah evaluasi terhadap
kebenaran dasar-dasar pemikiran atau alasan-alasan yang digunakan dalam
penalaran deduktif. Dasar-dasar penalaran tersebut semuanya bersumber pada
penalaran rasional yang bersifat abstrak, terlepas dari segala pengalaman. Dengan
demikian, maka pemikiran rasional cendrung untuk bersifat subjektifdan
9

solipsistik, ialah hanya benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berada
dalam otak orang yang berpikir tersebut.
b) Empirisme
Kaum empirisme berpendapat bahwa pengetahuan manusia tidak di
peroleh lewat penalaran rasional yang abstrak, tetapi lewat pengalaman yang
konkret. Menurut anggapan mereka,gejala-gejala alam bersifat konkret dan dapat
dinyatakan lewat tangkapan panca indra. Bagi kaum empiris, pernyataan ada dan
tidak adanya sesuatu harus memenuhi persyaratan pengujian. Pengujian
kebenaran-kebenaran dari fakta atau objek tersebut harus di dasarkan pada
pengelaman manusia.
Kaum emipiris berpegang pada prinsip keserupaan. Pada dasarnya alam
adalah teratur. Gejala-gejala alam berlangsung dengan pola-pola tertentu.
Pengetahuan tentang alam didasarkan pada persepsi mengenai hal tersebut.
Dengan mengetahui bagaimana sesuatu terjadi di masa lalu, atau dengan
mengetahui tingkah laku benda-benda tersebut sekarang, maka kita dapat
meramalkan kemungkinan tingkah lakunya di masa mendatang.
Kaum empiris juga menggunakan prinsip-prinsip keserupaan;gejala-gejala
yang berdasarkan pengalaman adalah identik atau sama, maka dapat dibuat
kesimpulan yang bersifat umum mengenai hal tersebut. Dengan demikian maka di
mungkinkan menyusun pengetahuan yang berlaku terhadap gejala-gejala yang
bersifat induvidual.
10

Dalam menyusun pengetahuan secara empiris timbul berbagai masalah, di
antaranya adalah bahwa pengetahuan yang di kumpulkantersebut cendrung
merupakan kumpulan fakta yang satu sama lainnya belum tentu cocok. Bahkan
mungkin terdapat hal-hal yang kontrakdiktif. Dengan demikian maka kumpulan
fakta yang satu sama lainnya belum tentu cocok. Bahkan mungkin terdapat hal-hal
yang kontradiktif. Dengan demikian maka kumpulan fakta ataupun rangkaian dari
berbagai fakta belum tentu menunjukkan pengetahuan yang sistematis.
Terdapat juga masalah yang bersangkutan dengan hakikat pengalaman.
Kaum empiris sendiri tidak dapat memberikan jawaban yang meyakinkan tentang
hakikat pengalaman ini, merupakan stimulus panca indra ini diandalkan sebagai
alat yang nyata? Kita semu telah mengetahui bahwa kemampuan panca indra
sangat terbatas dan tidak sempurna. Segala sesuatu yang di laporkan dari hasil
kerja panca indra ini tidak selalu benar.
Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk
memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan
melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk
menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut
diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali,
hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
Menurut Almadk (1939), metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-
prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
11

Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran
terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.
Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode
ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:.
Berdasarkan Fakta
Bebas dari Prasangka
Menggunakan Prinsip Analisa
Menggunakan Hipotesa
Menggunakan Ukuran Obyektif
Metode Ilmiah John Dewey
Cara-cara non ilmiah (unscientific) membuat manusia tidak merasa puas
sehingga mereka menggunakan cara berfikir deduktif atau induktif. Kemudian
orang mulai memadukan cara berfikir deduktif dan induktif, dimana perpaduan ini
disebut dengan berfikir reflektif (reflective thingking)
Metode ini diperkenalkan oleh John Dewey antara lain :
1. The Felt Need (adanya suatu kebutuhan) : Seseorang merasakan adanya suatu
kebutuhan yang menggoda perasaannya sehingga dia berusaha
mengungkapkan kebutuhan tersebut.
12

2. The Problem (adanya suatu masalah) : Dari kebutuhan yang dirasakan pada
tahap the felt need diatas, diteruskan dengan merumuskan,menempatkan dan
membatasi permasalahan (kebutuhan). Penemuan terhadap kebutuhan dan
masalah boleh dikatakan para meter yang sangat penting dan menentukan
kualitas penelitian. Studi literatur, diskusi, dan pembimbingan dilakukan
sebenarnya untuk men-define kebutuhan danmasalah yang akan diteliti.
3. The hypothesis (menyusun hipotesis) : Jawaban atau pemecahan masalah
sementara yang masih merupakan dugaan yang dihasilkan misalkan
dari pengalaman, teori dan hukum yang ada.
4. Collection of Data as Avidance (merekam data untuk pembuktian)
:membuktikan hipotesis dengan eksperimen, pengujian dan merekam data di
lapangan. Data-data dihubungkan satu dengan yang lain untuk ditemukan
kaitannya. Proses ini disebutkan dengan analisis - analisis dilengkapi dengan
kesimpulan yang mendukung atau menolak hipotesis.
5. Concluding Belief (kesimpulan yang diyakini kebenarannya) : Berdasarkan
analisis yang dilakukan pada tahap ke-4, dibuatlah sebuah kesimpulan yang
diyakini mengandung kebenaran, khususnya untuk kasus yang diuji.
6. General Value of the Conclusion (memformulasikan kesimpulan umum) :
Kesimpulan yang dihasilkan tidak hanya berlaku untuk kasus tertentu, tetapi
merupakan kesimpulan (bisa berupa teori, konsep dan metode) yang bisa
berlaku secara umum, untuk kasus lain yang memiliki kemiripan-kemiripan
tertentu dengan kasus yang telah dibuktikan diatas.

13

B. Sikap Ilmiah
Salah satu aspek tujuan dalam mempelajari ilmu alamiah
adalah pembentukan sikap ilmiah. Orang yang berkecimpung dalam ilmu alamiah
akan terbentuk sikap alamiah yang antara lain adalah:
a. Jujur ( Wajib melaporkan hasil pengamatan secara objektif )
b. Terbuka ( Terbuka menerima pendapat orang lain )
c. Toleran ( Tidak akan memaksakan pendapatnya kepada orang lain )
d. Skeptis ( Tidak akan menerima suatu kesimpulan tanpa didukung bukti kuat )
e. Optimis ( Berpengharapan baik )
f. Pemberani ( Berani melawan hal-hal yang akan menghambat kemajuan )
g. Kreatif ( mampu menghasilkan trobosan dan kreasi demi kemajuan )
Ada juga sifat ilmu pengetahuan dan metode ilmiah:
a) Logis/masuk akal, yaitu sesuai dengan logika/aturan berfikir
yangditetapkan dalam cabang ilmu pengetahuan yang
bersangkutan.
b) Obyektif, yaitu ilmu pengetahuan berkenaan dengan sikap yang
tidak tergantung pada suasana hati, prasangka/pertimbangan nilai
pribadi.
c) Sistematis, yaitu adanya konsistensi dan keteraturan internal
d) Andal, yaitu dapat diuji kembali secara terbuka menurut
persyaratan yang ditentukan dengan hasil yang dapat diandalkan.
14

e) Dirancang, yaitu ilmu pengetahuan tidak berkembang dengan
sendirinya
f) Akumulatif, yaitu ilmu pengetahuan merupakan himpunan fakta,
teoritis,hukum, dll. yang berkumpul sedikit demi sedikit.

C. Langkah-langkah Operasional Metode Ilmiah
Salah satu syarat ilmu pengetahuan ialah bahwa materi pengetahuan itu
harus diperoleh melalui metode ilmiah. Ini berarti bahwa cara
memperoleh pengetahuan itu menentukan. Langkah-langkah dalam menerapkan
metode initidak harus selalu berurutan, langkah demi langkah, seperti yang
tercantum berikut ini. yang penting ialah pemecahan masalah untuk
mendapatkankesimpulan umum (generalisasi) hanya berdasarkan atas data dan
diuji dengandata, bukan oleh keinginan, prasangka, kepercayaan, atau
pertimbangan lain. Menurut Drs. Maskoeri Jasin langkah-langkah penerapan
metodeilmiah itu ada 3 (tiga), yaitu :
1. Menentukan dan memberikan batasan kepada masalah
2. Menentukan hipotesis atau rumusan pemecahan masalah yang bersifat
sementara
3. Menguji dan mengadakan verifikasi kesimpulan.



15

Adapun langkah-langkah operasionalnya adalah sebagai berikut :
a. Perumusan Masalah
Yang dimaksud dengan masalah disini adalah merupakan pertanyaan apa
mengapa ataupun bagaimana tentang obyek yang diteliti.
b. Penyusunan Hipotesis
Yang dimaksud dengan hipotesis adalah suatu pernyataan
yangmenunjukkan kemungkinan-kemungkinan jawaban untuk
memecahkanmasalah yang telah ditetapkan dengan kata lain, hipotesis
merupakandugaan tertentu didukung oleh pengetahuan yang ada.
c. Pengujian Hipotesis
Yaitu berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan
hipotesis yang telah diajukan untuk dapat memperlibatkan apakah fakta-fakta
yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. Fakta-fakta yangdiperoleh
melalui pengamatan langsung dengan mata atau melalui telescope atau dapat
juga melalui uji coba atau eksperimen.

d. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari
fakta-fakta (data) untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan ituditerima
atau tidak.
Di dalam ilmu alamiah suatu kesimpulan bersifat sementara
(tentatif),kesimpulan adalah sesuatu yang harus diajurkan. Pengujian-pengujian
sepertiitu memerlukan data tambahan. Dengan demikian generalisasi baru
16

akandiperoleh dan terjadilah proses yang berkesinambungan, secara terus
menerusdan dengan demikian akan diperoleh kemajuan. Suatu generalisasi diuji
dengan perhitungan apa yang akan terjadi bilamana generalisasi itu benar, dan
kemudian dilakukan observasi, apakah perkiraan itu dibenarkan oleh pengalaman.
Walaupun generalisasi telah dibuktikan kebenarannya, generalisasi itu
belum boleh dianggap sebagai suatu hukum, sampai generalisasi itu benar-benar
telah menunjukkan bahwa semuageneralisasi lain yang mungkin, akan tidak
berlaku terhadap pengujian berdasarkan pengalaman. Bagaimana data diperoleh
guna menguji terhadap generalisasi tersebut? Data (yaitu catatan observasi secara
teliti) dapat diperoleh dengan observasi bebas (bare observation), yaitu observasi
yang dilakukan dalam kondisi yang tidak terkendali (uncontrolled condition), dan
kedua dengan observasi eksperimental (experimental observation) yaitu observasi
yang dilakukan dalam kondisi terkendali (controlled condition) Data yang
diperoleh dianggap sah bila kedua observasi itu dapat diulangi oleh pengamat
yang lain kecermatan yang lain. Kecermatan dan kejujuran merupakan
persyaratan bagi pencari kebenaran. Data yang diperoleh dari observasi tersebut
dikumpulkan, dipilih, disusun, dan dikelompokkan dengan hasil bahwa
keteraturan tertentu atau generalisasi menjadi tampak jelas.




17

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk
memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan
melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk
menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut
diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali,
hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
Pengetahuan dapat dikatakan ilmiah bila memenuhi 4 syarat yaitu
Metodik, Objektif, Sistematik, dan Berlaku Umum
Dan jikalau ditinjau dari sejarah cara berfikir ada 2 metode
untuk memperoleh pengetahuan :
1. Cara yang didasarkan pada rasio
2. Cara yang didasarkan pada pengalaman
Sikap alamiah yang antara lain adalah:
a. Jujur ( Wajib melaporkan hasil pengamatan secara objektif )
b. Terbuka ( Terbuka menerima pendapat orang lain )
c. Toleran ( Tidak akan memaksakan pendapatnya kepada orang lain )
d. Skeptis ( Tidak akan menerima suatu kesimpulan tanpa didukung bukti kuat )
18

e. Optimis ( Berpengharapan baik )
f. Pemberani ( Berani melawan hal-hal yang akan menghambat kemajuan )
g. Kreatif ( mampu menghasilkan trobosan dan kreasi demi kemajuan )
Dan dalam metode ilmiah terdapat 4 langkah-langkah operasional, yaitu :
a. Perumusan Masalah
b. Penyusunan Hipotesis
c. Pengujian Hipotesis
d. Penarikan kesimpulan











19

DAFTAR PUSTAKA

Ibnu, Masud, Drs dan Paryono Joko, Drs.,1998,Ilmu Alamiah Dasar , Bandung :
CV Pustaka Setia
Purnama, hari. Ir, 2003,Ilmu Alamiah Dasar ,Jakarta : Rineka Cipta
http://www.anneahira.com/langkah-langkah-metode-ilmiah.htm