Anda di halaman 1dari 21

KELOMPOK G

FKEP UNAND
BAB I
Instalasi gawat darurat adalah bagian pelayanan yang
memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Fenomena
di IGD telah menjadi fokus perhatian dunia bahkan
Institut of Medicine Committee menyebutkan
overcrowded dalam departemen gawat darurat sebagai
krisis nasional di Amerika Serikat (IMC,2006).
Eitel et al (2010) mengatakan kompleksitas tersebut
juga meliputi jumlah pasien yang tidak dapat
diprediksi dengan pasti sementara jumlah petugas
unit pelayanan gawat darurat tidak selalu sebanding
dengan jumlah kunjungan pasien setiap hari.
Cont..
Laserasi pada scalp memerlukan penutupan luka yang
melibatkan prosedur invasif dengan teknik heating.
Namun, prosedur ini dikatakan sebagai prosedur yang
menyakitkan dan memerlukan waktu yang relatif lama
(Hock,2002)
Suatu teknik yang relatif baru dalam prosedur
penutupan luka non invasif yang disebut Hair
Apposition Technique (HAT) diyakini memiliki
kelebihan dibandingkan prosedur heating tradisional
Tujuan
Mengetahui efektifitas teknik HAT dalam penanganan
pasien laserasi scalp di instalasi gawat darurat.

Manfaat
Bagi pasien
Bagi keperawatan
Bagi Instansi terkait/ IGD
Pengembangan ilmu pengetahuan baik akademis
maupun klinis

TELAAH JURNAL


Judul : A Retrospective Observational Study
Comparing Hair Apposition Technique,
Suturing and Stapling For Scalp Lacerations
Penulis : Derya Ozturk, Bedriye Mge Sonmez,
Ertugrul Altinbilek, Cemil Kavalci, Engin
Deniz Arslan and Serhat Akay
Publikasi : World Journal of Emergency Surgery 2013,
8:27
Penelaah : Kelompok G

Tanggal Telaah : 9 April 2014
Depkripsi Jurnal
Tujuan Utama penelitian
Membandingkan efektivitas suturing, stapling, dan
Hair Apposition Technique (HAT) yang digunakan
dalam perbaikan laserasi kulit kepala pada pasien yang
datang ke gawat darurat dengan kulit kepala laserasi.
Hasil Penelitian
Ada perbedaan yang signifikan antara teknik
perbaikan kulit kepala :
Pada hari ke- 7 dan hari ke-15 pasien menunjukkan
tingkat kepuasan dengan teknik HAT (p <0,05).
Ada perbedaan yang signifikan antara teknik
perbaikan kulit kepala dan masalah kulit setelah 15
hari (p <0,05).
Masalah kosmetik 15 hari setelah prosedur secara
signifikan lebih rendah dalam teknik HAT.
Kesimpulan Penelitian
Suturing, stapling, and hair apposition techniques
dapat diterapkan dengan aman.
Teknik aposisi rambut memiliki keuntungan lebih
memuaskan, dan memiliki masalah kulit yang lebih
rendah dan tingkat komplikasi yang lebih rendah
dibandingkan dengan teknik lain.

Telaah jurnal
- Fokus Utama Penelitian
Penjahitan : perlekatan terbaik luka tepi, teta[i paling
memakan waktu dan tergantung pengguna.
Stapel lebih baik untuk layanan darurat karena lebih cepat
dan kurang menyakitkan dan berhubungan dengan
rendahnya biaya dan risiko terkena jarum pada operator.
Teknik HAT.
Dalam teknik ini, 4-5 helai rambut digenggam di setiap sisi
luka. Rambut disilangkan sekalim, dan lem diteteskan di
tempat helai rambut bersilang untuk mengamankan luka.

Ulasan Teknik HAT
HAT : teknik penutupan luka laserasi non invasif
dengan menggunakan ikatan atau lilitan rambut
pasien sendiri.
Beberapa evidence based practice menjelaskan
indikasi dari prosedur HAT diantaranya :
non crush injury
luka laserasi 10 cm,
bentuk regular
kontaminasi minimal
panjang rambut pasien >1 cm.

Kontraindikasi
Adanya bukti atau kecurigaan fraktur tulang
tengkorak
Perdarahan masif
Luka yang sangat kotor
Kondisi pasien yang sangat kritis atau berat


(Hock,2002;2005;Brosnahan,2003)
Kelebihan HAT
Teknik HAT memiliki tingkat ketidakpuasan yang jauh
lebih rendah dibandingkan dengan 2 teknik lainnya.
Teknik HAT menimbulkan komplikasi lebih sedikit,
Tidak ada kasus infeksi 7 hari setelah prosedur
Waktu prosedur yang lebih cepat
Kurang menyakitkan
Tidak perlu mencukur rambut,
Tidak perlu penghapusan jahitan
Tidak perlu anestesi
Biaya lebih rendah
Penyembuhan luka yang lebih efektif.
Kekurangan HAT

Terjadi pertumbuhan rambut tidak normal karena
peneliti memberi lem terlalu banyak dalam prosedur
sehingga menyebabkan penyebaran lem pada luka.
Peneliti mengingatkan untuk berhati-hati dalam
menempatkan lem.
Berikan lem hanya satu tetes disetiap gumpalan helai
rambut yang akan saling bersebrangan tanpa
membawa lem kontak dengan luka .
Jika jumlah lem berlebihan akan menghasilkan knot
rambut yang menyebabkan rambut sementara kontak
dengan perekat jaringan laserasi sehingga akan
mengakibatkan penurunan pertumbuhan rambut.
Prosedur Pelaksanaan Teknik HAT
Pengkajian
Kaji riwayat pasien
Faktor pertama, obat-obatan, eksplorasi laserasi dengan teliti,
fungsi neurovaskular harus dievaluasi (Garcia-Gubern,2010).
Evaluasi resiko infeksi atau tingkat kontaminasi,
(Weiss,1982;Courter,1990,Ellis,1993,Chrishollm et al,1997).
Pada laserasi minor < 2cm, jika terjadi perdarahan terus
menerus, atau jaringan dibawahnya terlihat harus di lakukan
penutupan luka. (Quinn,2002)
Lokasi luka. Pertimbangan dan perhatian khusus pada laserasi
kulit kepala, adalah pada galea yaitu lapisan fibrosa pada yang
melindungi tulang tengkorak.
Diabetes dan penyakit kardiovaskular dapat menghambat suplai
oksigen dan nutrisi ke sel.
Persiapan alat
Set perawatan luka
Lem/bahan perekat jaringan : misalnya cyanoacrylate
glue
Sedatif oral untuk anal-anak kecil (jika perlu)
Debridemen dan irigasi luka
Teknik irigasi luka yang adekuat
Irigasi luka menggunakan tap water (air keran
mengalir) dan normal salin steril.
Langkah Kerja
Bersihkan luka
4 atau 5 helai rambut (dari sumber lain 3 sampai 7 helai)
dari setiap sisi luka dibelitkan/ditautkan satu sama lain
dalam putaran 360
0
secara bersamaan.
Teteskan lem/bahan perekat pada lilitan rambut (rambut
tidak diikat).
Beberapa rangkaian lilitan ditempatkan diatas luka untuk
menutupi luka.
Pasien diberi instruksi untuk tidak mencuci rambut selama
2 hari.
Lem atau perekat lama kelamaan akan kering, retak dan
terlepas sehingga lilitan rambut akan terlepas dengan
sendirinya dalam 7 sampai 10 hari

(Hock,2002;2005;Brosnahan,2003)
Gambar:

Kesimpulan
Teknik HAT memiliki efektifitas yang lebih tinggi
dibandingkan teknik suturing dan stapling dalam
penanganan pasien laserasi scalp di instalasi gawat
darurat. Namun juga terdapat beberapa kekurangan
yang bisa diminimalkan dengan aplikasi prosedur
dengan teliti.


Saran

Diharapkan aplikasi HAT oleh perawat IGD dengan
hasil yang sama baiknya dengan dokter namun dengan
pendekatan care yang lebih simpatik dan berfokus
pada pasien.
Sehingga diharapkan evidence based aplikasi HAT
dapat menjadi sumber informasi, dasar pertimbangan
bagi decision maker institusi pelayanan khususnya
departemen gawat darurat di Indonesia untuk
mengaplikasikan HAT.