Anda di halaman 1dari 25

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL, HIPOTESIS, DAN SKEMA KERJA


3.1 Kerangka Konseptual
















4 Etnis (Bugis,
Makassar. Toraja,
Mandar)
Sulawesi Selatan
Kab. Barru
Kec. Balusu, Desa Lampoko

Etnofarmasi dari
tanaman dan hewan
Referensi
Inventarisasi
Tanaman Obat
3.2 Hipotesis
Dugaan sementara Tanaman kesambi (Schlechera oleosa)
dapat menyembuhkan penyakit kulit dan mengandung saponin, tannin
dan juga alkaloid. Selain itu juga digunakan sebagai penyubur rambut.
3.3 Skema Kerja
1. Pengambilan sampel
Disiapkan alat yang akan digunakan

Diamati dan diperhatikan tanaman yang akan diambil

Tumbuhan yang akan diambil harus lengkap
(akar, batang, daun, buah dan bunga)

Tumbuhan dicabut dengan akar

Tumbuhan disimpan dalam kantong plastic

Dicari tumbuhan lain sebanyak 10 tanaman





2. Pengolahan sampel
2.1 Pengolahan herbarium kering
Disiapkan alat dan bahan

Tumbuhan yang akan diambil dengan lengkap dibersihkan
dengan air.

Tumbuhan dikeringkan

Setelah dikeringkan tanaman tersebut dimasukkan ke
dalam
lipatan kertas Koran

Diatur sedemikian rupa, jangan sampai ada yang rusak
bagian daun dan bunganya

Daunnya diatur agar terlihat permukaan atas daun
dan permukaan bawah daun

Dipress herbarium antara kertas Koran dan kemudian
dikeringkan pada sinar matahari

Herbarium siap ditempelkan pada kertas Koran herbarium

2.2 Pengolahan herbarium basah
Disiapkan alat dan bahan

Disiapkan larutan alkohol 70%, formalin 4%, atau FAA
(Formalin, alkohol 70% dan asam asetat perbandingan
50 = 500 = 900 ml)

Larutan yang telah disiapkan tadi dimasukkan ke dalam
toples.

Tumbuhan dibersihkan akarnya dari tanah

Tumbuhan dimasukkan ke dalam toples

Toples ditutup lalu diisolasi
3. Pemeriksaan Morfologi
Disiapkan sampel atau tumbuhan yang akan diamati

Diamati bentuk luar (morfologi) tumbuhan tersebut yaitu bentuk
daun, bentuk batang, dan bentuk akar

Digambar tumbuhan (sampel) pada buku kerja dan diberi warna
4. Pemeriksaan Anatomi
Disiapkan alat dan bahan

Diiris bagian sampel yang akan diamati, sampel diiris secara
melintang dan membujur.

Dipindahkan irisan ke dalam gelas arloji yang berisi air
sebelum preparat mengering

Diletakkan irisan di atas objek gelas dengan bantuan
jarum Preparat

Sampel ditetes dengan setetes air

Sampel ditutup dengan deg gelas

Sampel disimpan pada mikroskop dan diamati anatominya

Digambar anatomi sampel pada buku kerja

Dilengkapi keterangan deskriptionya

Setelah diamati anatominya, lampu mikroskop dimatikan dan
dikembalikkan
ke perbesaran terkecil.

Mikroskop dibersihkan dan dimasukkan ke dalam lemari mikroskop
5. Pemeriksaan kandungan kimia
Disiapkan alat dan bahan

Sampel dibuat dalam bentuk serbuk

Serbuk disimpan di atas deg gelas

Deck gelas yang berisi serbuk harus tipis

Ditetesi dengan air

Ditutupi dengan menggunakan objek gelas

Diamati di bawah mikroskop

Digambar pada buku kerja dan diberi keterangan serta
deskripsio yang
Lengkapserta kandungan kimianya

Dimatikan mikroskop kemudian dibersihkan dan dimasukkan
ke dalam lemari mikroskop


























BAB IV
MATERI DAN METODE PRAKTIKUM
4.1 Bahan, Alat dan Instrumen Praktikum
4.1.1 Bahan Tanaman
a. Kesambi (Sclechera oleosa)
4.1.2 Bahan Kimia
Bahan kimia yang digunakan adalah:
AlCl
3

Bouchardat
Etanol
Floroglusin
HCl
Iod
KOH
Luff
Meyer
Molish
NaOH
4.1.3 Alat
Adapun alat yang digunakan adalah; botol coklat, botol
semprot, cawan porselin, cutter, deg glass, gabus, gelas arloji,
hend scun, jarum preparat, kertas saring, media preparat,
mikroskop, Objek gelas, pipet tetes, pipet skala, pingset, plat
tetes, sendok tanduk, silet, tabung reaksi dan toples.
4.2 Lokasi Praktikum
Lokasi praktikum yang dipilih yaitu di Kec.Balusu kab. Barru
Provinsi Sulawesi Selatan. Dipilihnya daerah ini karena tempat
tersebut banyak terdapat Tumbuhan darat yang beragam.
4.3 Prosedur Praktikum
















4.3.2 Identifikasi Kandungan Kimia
1. Lignin
Basahi irisan atau srbuk dengan larutan flurioglusin P,
amati dalam asam klorida P, dinding sel berwarna merah.
2. Pati dan Aleuron
Tambahkan iodium 0,1 N pada bahan yang akan
diperiksa,pati berwarna biru dan aleuron warna kuning
coklat sampai coklat
3. Selulosa
Bahan ditambahkan larutsan seng (II)klorida
beriodium,memberikan warna ungu merah
4. Zat samak / tanin
Bahan ditambahkan besi (III) ammonium sulfat LP
yang telah diencerkan 5 kali,zat samak dan senyawa tanin
lainnya berwarna hijau atau biru sampai hitam.
5. Turunan katekol
Letakkan bahan atau serbuk diatas kaca objek
ditambahkan larutan vanillin P 10% b/v dalam etanol 90%
P, kemudian dalam asam klorida P,bagian yang
mengandung turunan katekol berwarna merah intensif.
6. Dioksiantrakinon bebas
Serbuk dalam tabung reaksi ditambahkan kalium
hidroksida etanol LP,warna merah
7. Fenol
a. Hasil mikrosublimasi ambahkan fosfomolibdat asam
sulfat LP, terjadi warna biru..
b. Hasil mikrosublimasi tambahkan asam diazobenzen
sulfonat LP, terjadi warna biru.
c. Ekstrak methanol ditambahkan
1. Larutan besi(III) klorida 1 % terbentuk warna ungu
biru.
2. Pereaksi Millon, terbentuk warna merah ungu.
3. Pereaksi Indofenol, terbentuk warna hijau biru yang
stabil.
8. Saponin
Masukkan 0,5 g serbuk yang diperiksa dalam tabung
reaksi tambahkan 10 ml air panas, dinginkan kemudian
kocok kuat selama 10 detik, terbentukbuih yang mantap
selama +10 menit setinggi 1-10 cm, dan pada
penambahan 1 tetes asam hidroklorida 2 N buih tidak
hilang.
9. Steroid
Ekstrak methanol kering disuspensikan dengan air,
kemudian ditambahkan eter/hexan/petroleum eter,
decanter filtratedibuang, ulangi sampai heksan/petroleum
eter tidak berwarna lagi, residu ditambah 10 ml kloroform,
kocok 5 menit. Decanter dalam tabung reaksi yang berisi
10 ml NaSO4 anhidrat selanjutnya disaring.
Filtrate dibagi dua dan ditambahkan :
a. Pereaksi Liberman Bouchardat, menghasilkan
warna biru sampai hijau.
b. Pereaksi Salkwowski, nebghasilakn lapisan merah,
berarti positif.
10. Alkaloid
Timbang 500 mg serbuk simplisia, tambahkan
1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air, panaskan di atas
tangas air selama 2 menit, dinginkan dan saring,
pindahkan masing-masing 3 tetes filtrate pada dua kaca
arloji
a. Tambahkan 2 tetes Mayer LP pada kaca arloji
pertama, terbentuk endapan menggumpal berwarna
putih.
b. Tambahkan 2 tetes Bouchardat LP pada kaca arloji
kedua, terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam




BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL, HIPOTESIS, DAN SKEMA KERJA
3.1 Kerangka Konseptual


















Pembuatan Simplisia
- Sortasi basah
- Pencucian
- Perajangan/Pengolahan
bentuk
- Pengeringan dan sortasi
kering
- Pewadahan
Simplisia

mikroskopik

hasil

Herbarium basah

Bahan segar

Pembahasan


Kesimpulan


anatomi
morfologi
Organoleptik
Identifikai kandungan kimia
1.pati 9.saponin
2.tanin 10.flavanoid
3.katekol 11.karbohidrat
4.fenoil 12.selulosa
5.steroid 13.glikosida
6.alkaloid 14.suberin
7.dioksiantrakinon
8.pektin

Schleicherae folium
3.2 Hipotesis
Dari hasil hipotesa awal dapat di simpulkan bahwa kesambi
(Schleichera oleosa) yan merupakan tanaman yang dapat tumbuh
hingga 40 m ini mengandung saponin, tanin dan juga alkaloid yang
berkhasiat menyembuhkan penyakit kulit.
3.3 Skema Kerja
a. Herbarium Kering b. Herbarium basah





















Pengawetan dengan
Formalin
Pengumpulan Simplisia
Perlakuan pada uji
kandungan kimia
Sortasi Basah
Pencucian Simplisia
Pemotongan sampel
Pengeringan
Sortasi Kering
Penyerbukan
Pewadahan, pelabelan
Dan penyimpanan
BAB IV

MATERI DAN METODE PRAKTIKUM
4.1 Bahan, Alat dan Instrumen Praktikum
4.1.1 Bahan Tanaman
Kesambi (Schleichera oleosa)
4.1.2 Bahan Kimia
AlCl
3,
Bouchardat, Etanol, Floroglusin , HCl, Iod, KOH, Luff,
Meyer, Molish, NaOH
4.1.3 Alat
Adapun alat yang digunakan adalah; botol coklat, botol
semprot, cawan porselin, cutter, deg glass, gabus, gelas arloji,
hand scun, jarum preparat, kertas saring, media preparat,
mikroskop, Objek gelas, pipet tetes, pipet skala, pingset, plat
tetes, sendok tanduk, silet dan tabung reaksi.
4.2 Lokasi Praktikum
Lokasi praktikum yang dipilih yaitu di Kec.Balusu kab. Barru
Provinsi Sulawesi Selatan. Dipilihnya daerah ini karena tempat
tersebut banyak terdapat Tumbuhan darat yang beragam.




4.3 Prosedur Praktikum
4.3.1.1 Identifikasi dan Determinasi Tanaman Pemeriksaan
Farmakognosotik
Pemeriksaaan morfologi tumbuhan dilakukan
dengan mengamati bentuk fisik dari akar, batang, dan
daun dari tanaman selasih kemudian dilakukan
pengambilan gambar, dan diidentifikasi lebih lanjut
berdasarkan kunci determinasi menurut literatur.
4.3.1.1.1 Morfologi Tanaman
Pemeriksaan morfologi tumbuhan dilakukan
dengan mengamati bentuk fisik dari akar,
batang, dan daun dari tanaman Kesambi
(Schleichera oleosa) kemudian dilakukan
pengambilan gambar, dan diidentifikasi lebih
lanjut berdasarkan kunci determinasi menurut
literatur.
4.3.1.1.2 Anatomi Tanaman
Pemeriksaan anatomi pada Kesambi
(Schleichera oleosa) dilakukan dengan
mengamati bentuk sel dan jaringan pada
tumbuhan pada bagian penampang melintang
dan membujur pada batang, dan daun dengan
menggunakan mikroskop. Sedangkan simplisia
kering serbuk untuk melihat fragment-fragment
dari tanaman Kesambi (Schleichera oleosa)
yang digunakan sebagai obat.
4.3.1.2 Pemeriksaan Simplisia
4.3.1.2.1 Pengambilan simplisia
Pengambilan Sampel, Bahan penelitian
berupa daun, batang, dan akar dari tanaman
Kesambi (Schleichera oleosa) diambil pada jam
10.00 pagi di Desa Lampoko, Kecamatan Lampoko,
Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
4.3.1.2.2 Pembuatan Simplisia
Pengolahan Bahan, bahan penelitian berupa
tanaman utuh yang telah diambil, dikeringkan dalam
ruangan yang tidak terkena sinar matahari
langsung, setelah kering dipotong-potong kecil.
Dipisahkan batang, akar, dan daun. Setelah itu
dibuat pula serbuk dari tanaman dengan cara
diblender.
4.3.1.2.3 Pemeriksaan Mutu Simplisia
a. Organoleptik
Dengan cara meremas kemudian
membau dan/atau merasakan. Metode ini
mempunyai resiko kesalahan yang tinggi dan
hanya orang tertentu yang ahli dan
berpengalaman saja yang mampu
melakukannya dengan hasil yang baik.
Tumbuhan yang mengandung minyak atsiri
biasanya mempunyai bau yang khas,
sedangkan tumbuhan yang mengandung
alkaloid umumnya mempunyai rasa pahit.
b. Makroskopik
Pemeriksaan yang dilakukan pada Kesambi
(Schleichera oleosa) meliputi bentuk dari bagian-
bagian tanaman, ukuran, warna dan bidang
patahan dari tanaman ini.
c. Mikroskopik
Terdapat dua jenis sel fotosintetik yang
jelas berbeda: sel seludang-berkas pembuluh
dan sel mesofil. Sel seludang-berkas pembuluh
disusun menjadi kemasan yang sangat padat
disekitar berkas pembuluh. Di antara seludang-
berkas pembuluh dan permukaaan daun
terdapat sel mesofil yang disusun lebih
longgar. Pada permukaan atas dan bawah
terdapat rambut-rambut. Daunnya tersusun
atas epidermis, stomata, sel-sel parenkim,
jaringan kolenkim, mesofil, dan jaringan
pengangkut. Pada daun yang disayat
melintang melalui tulang daun akan terlihat
epidermis atas terdiri dari satu lapis sel yang
berbentuk agak bulat dengan ukuran tidak
selalu sama dan mempunyai rambut
penutup.Epidermis bawah terdiri dari sel yang
serupa dengan sel epidermis atas tetapi
ukurannya lebih kecil. Stomata terdapat di
kedua permukaan. Mesofil terdiri sel-sel
parenkim yang tersusun renggang dan berisi
tetes-tetes minyak. Letak jaringan kolenkim
adalah tersebar diantara jaringan parenkim.
Jaringan pengangkutnya terdiri atas xilem dan
floem yang merupakan berkas pembuluh tipe
kolateral
4.3.2 Identifikasi Kandungan Kimia
a. Reaksi warna dilakukan terhadap hasil penyaringan zat
berkhasiat baik sebagai hasil mikrosublimasi atau langsung
terhadap irisan serbuk simplisia (Uji Histokimia) (Amin A. dkk.
2011) :



1. Lignin
Basahi irisan atau serbuk dengan larutan fluoroglusin P,
amati dalam asam klorida P, dinding sel berwarna merah.
2. Suberin, Kutin, Minyak lemak, Minyak atsiri, Getah dan
Resin Bahan yang akan diperiksa diletakkan diatas
kaca objek, tambahkan beberapa tetes Sudan III LP,
bahan dapat dijernihkan dengan Klorahidrat LP, kecuali
bahan yang mengandung minyak atsiri. Biarkan selama 30
menit - 48 jam dalam bejana tertutup yang didalamnya
terdapat cawan berisi etanol 90% P. bagian yang
mengandung suberin, kutin, minyak lemak, minyak atsiri,
getah dan resin berwarna jingga.
3. Pati dan Aleuron
Tambahkan Iodium 0,1 N pada bahan yang akan diperiksa,
pati berwarna biru, dan aleuron warna kuning kecoklatan
sampai coklat.
2. Lendir dan Pektin
Letakkan serbuk atau bahan di atas kaca objek,
ditambahkan beberapa tetes merah Ruthenium Lp, tutup
dengan kaca penutup biarkan selama 15 menit, lendir
asam dan pektin berwarna merah intensif.

3. Selulosa
Bahan ditambahkan larutan seng (II) klorida beriodium,
memberikan warna ungu merah.
4. Samak / Tanin
Bahan ditambahkan besi (III) ammonium sulfat LP yang
telah diencerkan 5 kali, zat samak dan senyawa tanat
lainnya berwarna hijau atau biru sampai hitam.
5. Turunan Katekol
Letakkan bahan atau serbuk di atas kaca objek
ditambahkan larutran vanilin P 10% b/v dalam etanol 90%
P, kemudian dalam asam klorida P, bagian yang
mengandung turunan katekol berwarna merah intensif.
6. Dioksiantrakinon Bebas
Serbuk dalam tabung reaksi ditambahkan kalium
hidroksida etanol LP, warna merah.
7. Fenol
a. Hasil mikrosublimasi ditambahkan fosfomolibdat asam
sulfat LP, terjadi warna biru.
b. Hasil mikrosublimasi ditambahkan asam
diazobensulfonat LP, terjadi warna biru.
c. Ekstrak methanol ditambahkan :
Larutan besi (III) klorida 1%, terbentuk warna ungu
biru
Pereaksi Millon, terbentuk warna merah ungu
Pereaksi Indofenol, terbentuk warna hijau biru yang
stabil.
8. Saponin
Masukkan 0,5 g serbuk yang diperiksa dalam tabung
reaksi tambahkan 10 ml air panas, dinginkan kemudian
kocok kuat selama 10 detik, terbentuk buih yang mantap
selama kurang lebih 10 menit setinggi 1 10 cm, dan pada
penambahan 1 tetes asam hidroklorida 2 N, buih tidak
hilang.
9. Flavanoid
Sari 0,5 g serbuk yang diperiksa dengan 10 ml methanol
dengan alat pendingin balik selama 10 menit, saring
panas, encerkan filtrat dengan 10 ml air, setelah dingin
tambahkan 5 ml eter minyak tanah P, kocok hati-hati,
diamkan. Ambil lapisan methanol, uapkan pada suhu
diatas 40
0
C dibawah tekanan, sisa dilarutkan dalam 5 ml
ethanol 95% P, tambahkan 0,1 g serbuk magnesium P dan
10 ml asam klorida P, jika terjadi warna merah jingga
merah ungu berarti ada flavanoid, dan jika kuning jingga
terdapat flavon, kalkon.


10. Karbohidrat
Serbuk dilarutkan dengan air, larutan serbuk simplisia
disentrifuge, filtrat dibagi tiga :
Filtrat I ditambahkan Molish, alfa naftol, dan HCl 20%
terbentuk cincin ungu.
Filtrat II ditambahkan larutan Luff dan NaOH berwarna
merah jika dipanaskan.
Filtrat III ditambahkan larutan Barfoed dan NaOH
berwarna jingga jika dipanaskan.
Dapat pula menggunakan ekstrak etanol air 2 ml dalam
cawan porselen, diuapkan. Tambahkan 2 3 tetes asam
sulfat P, diamkan selama 4 menit, tambahkan pereaksi
Molish, terjadi warna merah.
11. Glikosida (secara umum)
Ekstrak methanol dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan
dibagi 3 dan ditambahkan :
Larutan besi (III) klorida 3 ml dan 1 ml asam klorida P,
terjadi warna coklat kemerahan perlahan berubah
menjadi violet atau ungu.
Pelarut benzene 5 ml, pisahkan, lapisan benzene
ditambahkan 3 ml larutan ammonia 10%, terbentuk
warna merah muda pucat.
Larutan ammonia encer 3,5 %. Lalu dikocok, terjadi
warna merah lembayung.
12. Glikosida Antrakinon
Campur 200 mg serbuk simplisia dengan 45 ml asam sulfat
encer P, didihkan sebentar, dinginkan, tambahkan 10 ml
benzene P, kocok, diamkan. Pisahkan lapisan benzene
dengan 1 2 ml NaOH LP, diamkan, lapisan air berwarna
merah intensif dan lapisan benzene tidak berwarna.
13. Steroid
Ekstrak methanol kering disuspensikan dengan air,
kemudian ditambahkan eter atau hexan atau petroleum
eter, dekanter filtrat dibuang, ulangi sampai heksan atau
petroleum eter tidak berwarna lagi, residu ditambahkan 10
ml kloroform, kocok 5 menit. Dekanter dalam tabung
reaksi yang berisi 10 ml NaSO
4
anhidrat selanjutnya
disaring.
Filtrate di bagi dua dan ditambahkan :
Pereaksi Lieberman Bouchardat , menghasilkan
warna biru sampai hijau.
Pereaksi Salkwowski, menghasilkan warna merah,
berarti positif.


b. Reaksi Pengendapan
o Alkaloid
Timbang 500 mg serbuk simplisia, tambahkan 1 ml asam
klorida 2 N dan 9 ml air, panaskan di atas tangas air
selama 2 menit, dinginkan dan saring, pindahkan masing
masing 3 tetes filtrat pada dua gelas arloji :
Tambahkan 2 tetes Mayer Lp pada kaca arloji pertama,
terbentuk endapan menggumpal berwarna putih.
Tambahkan 2 tetes Bouchardat Lp pada kaca arloji
kedua, terbentuk endapan berwarna coklat sampai
hitam.