Anda di halaman 1dari 45

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa 80
% masyarakat di negara berkembang menggunakan obat tradisional
untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan kesehatan dan 85% obat
tradisional melibatkan penggunaan ekstrak tanaman. Hal ini berarti
kurang lebih 3,5 4 miliar penduduk di dunia memakai tanaman
sebagai sumber obat (Farnsworth et al,1985). Di sisi lain, kira-kira 119
senyawa kimia murni yang diekstraksi dari tanaman yang digunakan
dalam pengobatan di seluruh dunia berasal dari hampir 90 spesies
tanaman. 74% dari 119 senyawa kimia tersebut memiliki hubungan
pemakaiannya sebagai obat pada daerah dimana bahan tersebut
diperoleh.
Farnsworth (1988) berpendapat bahwa program pengembangan
obat dari tanaman di masa depan seharusnya mencakup evaluasi
secara hati-hati riwayat penggunaan tanaman tersebut sebagai obat.
Dr. E. Z. Greenleaf mengajukan usul kepada perusahaan farmasi ABC
di USA untuk melakukan studi tanaman sebagai sumber obat baru
dengan menggunakan pendekatan pemeriksaan cerita masyarakat
untuk memperoleh informasi mengenai tanaman yang diduga kuat
digunakan oleh suatu masyarakat dalam pengobatan penyakit tertentu.
1
2


Perusahaan akan mempekerjakan 1 sampai 2 ahli medis untuk
berkunjung ke afrika, kalimantan, kaledonia baru atau area eksotis
yang lainnya, serta bermukim di masyarakat sekitar selama hampir 1
tahun atau lebih.
Selama periode tersebut ahli medis akan melakukan observasi
tabib dalam mengobati pasien dan kemudian melakukan diagnosa
sendiri pada tiap pasien serta melakukan pengamatan lanjutan
terhadap dampak pengobatan. Apabila terdapat peningkatan
kesehatan (kesembuhan) maka selanjutnya dicatat tanaman manakah
yang digunakan dalam mengobati pasien. Tanaman tersebut kemudian
dikoleksi dan dikirim ke laboratorium riset perusahaan farmasi ABC
yang bertempat di Hearth Break, Colorado untuk dilakukan
etnofarmasisan lebih lanjut.
Hutan tropis memiliki jumlah spesies tanaman yang luar biasa
besar. Kebanyakan masih belum dieksplorasi dan potensial untuk
sumber obat. Jumlah tanaman yang telah dideskripsikan kira-kira
150.000-250.000 spesies. Ilmuan menyadari bahwa studi mengenai
budaya asli pada suatu wilayah dapat memberikan kunci yang bernilai
dalam pencarian obat untuk peningkatan kesehatan. Untuk membuka
rahasia hutan tropis maka dibutuhkan seorang spesialis yang terlatih
dengan baik dan berpengalaman di alam. Oleh karena itu dibutuhkan
seorang etnofarmasis.

3


Untuk menemukan tanaman yang potensial seorang
etnofarmasis harus berpengetahuan tidak hanya tentang tanaman
tetapi juga memahami dinamika budaya. Di sisi lain, etnofarmasis juga
dapat membantu memahami dampak musnahnya hutan tropis yang
akan menyebabkan hilangnya pengetahuan tentang tanaman tropis
serta budaya asli (konservasi).
Persiapan untuk ekspedisi dimulai dengan mengoleksi
pengetahuan secara rinci mengenai masyarakat lokal. Etnofarmasis
mempersiapkan studi wilayah mengenai epidemologi, pengobatan
tradisional, budaya masyarakat dan ekologi lingkungan. Untuk
memprioritaskan tanaman yang dikoleksi maka sejumlah data base
dicari untuk menentukan semua informasi etnomedisinal, biologi dan
kimia dari tanaman yang diketahui digunakan di wilayah tersebut. Data
juga dikumpulkan dari rumah sakit lokal dan program masyarakat yang
ada di wilayah tersebut. Informasi tersebut disatukan dalam program
kerja lapangan untuk tahap selanjutnya.
Di lapangan, etnofarmasis mempelajari tentang tanaman yang
digunakan oleh masyarakat asli. Etnofarmasis mendokumentasikan
pengetahuan tentang tanaman yang bermanfaat dan yang beracun,
menyeleksi dan mengoleksi tanaman untuk budidaya dan
perlindungan. Proses koleksi tanaman menggunakan metode standar
meliputi preparasi spesimen tanaman (herbaria). Tim etnofarmasis
mendeskripsikan penyakit kemudian dikomunikasikan dengan tabib
4


tradisional dengan melakukan proses wawancara. Hal ini difokuskan
pada tanda-tanda dan gejala umum dan yang mudah dikenali. Apabila
penyakit telah dikenali dan digambarkan secara sama maka
pengobatan dengan tanaman untuk penyakit tersebut dicatat secara
rinci oleh etnofarmasis. Jika beberapa tabib menyatakan hal yang
sama maka tanaman tersebut kemudian dikoleksi.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana cara menginventarisasi tanaman yang berkhasiat
sebagai obat usus turun berdasarkan etnofarmasi pada suku Bugis di
desa lampoko, kec. balusu, kab. Barru Sulawesi Selatan?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data mengenai
tanaman obat yang berkhasiat sebagai obat usus turun berdasarkan
etnofarmasi pada suku Bugis di desa Lampoko, dusun balusu, Kab.
Barru Sulawesi Selatan
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah untuk mengetahui khasiat atau
efek farmakologi dan cara penggunaan tanaman obat yang berkhasiat
sebgai obat usus turun berdasarkan etnofarmasi pada suku Bugis di
desa Lampoko, kec. Balusu, Kab. Barru Sulawesi Selatan.



5


1.5 Kontribusi Penelitian bagi IPTEK
Berdasarkan penelitian ini, kita dapat mengetahui :
1. Identifikasi dan etnotaksonomi bahan alam yang digunakan dalam
pengobatan (etnobiologi medis: etnofarmasi, etnomikologi,
etnozoologi).
2. Preparasi tradisional sediaan farmasi (etnofarmasetika).
3. Evaluasi aksi farmakologis suatu preparasi pengobatan tertentu
4. Efektivitas klinis (Etnofarmasi klinis).
5. Aspek medis-sosial yang terkait dalam penggunaan obat
(antropologi kesehatan).









6


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Tentang Etnofarmasi
2.1.1 Pengertian Etnofarmasi dan Ilmu yang Terkait
Etnofarmasi adalah studi tentang bagaimana masyarakat
suatu etnis atau wilayah dalam menggunakan suatu tanaman
obat atau ilmu multidisiplin yang mempelajari penggunaan obat-
obatan terutama obat tradisional oleh suatu masyarakat lokal
(etnik). Etnofarmasis merupakan orang yang mengeksplorasi
bagaimana suatu tanaman digunakan sebagai pengobatan. Hal
ini terkait dengan studi mengenai sediaan obat yang terkait
dengan penggunaannya dalam konteks kultural (Amin, 2010).
Etnofarmasi meliputi studi-studi (Amin, 2010) :
1. Identifikasi dan etnotaksonomi bahan alam yang digunakan
dalam pengobatan (etnobiologi medis: etnofarmasi,
etnomikologi, etnozoologi).
2. Preparasi tradisional sediaan farmasi (etnofarmasetika).
3. Evaluasi aksi farmakologis suatu preparasi pengobatan
tertentu
4. Efektivitas klinis (Etnofarmasi klinis).
5. Aspek medis-sosial yang terkait dalam penggunaan obat
(antropologi kesehatan).
6
7


6. Kesehatan masyarakat dan farmasi praktis yang membahas
penggunaan oleh publik dan atau re-evaluasi obat-obatan.
2.1.2 Sejarah dan Perkembangan Etnofarmasi di Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan sebelum proklamasi RI, terdiri atas
sejumlah wilayah kerajaan yang berdiri sendiri dan didiami
empat etnis besar yaitu: Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja.
Ada tiga kerajaan besar yang berpengaruh luas yaitu Luwu,
Gowa dan Bone, yang pada abad ke XVI dan XVII mencapai
kejayaannya (Anonim, 2010).
Etnis Bugis yang mendiami wilayah tengah dan timur,
Makassar mendiami wilayah selatan, Toraja mendiami wilayah
utara dan Mandar mendiami wilayah barat, namun dengan UU
Nomor 26 Tahun 2004 terjadi pemekaran wilayah barat menjadi
provinsi Sulawesi Barat dan etnis Mandar terpisah dari
Sulawesi Selatan, sehingga dalam penelitian ini hanya
difokuskan pada tiga etnis yaitu Bugis, Makassar, dan Toraja
(Anonim, 2010).
Menurut Mattulada etnis Bugis adalah sukubangsa yang
menempati sebagian besar kawasan Sulawesi Selatan. Mereka
mendiami empat belas di antara dua puluh tiga buah kabupaten
yaitu Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Luwu, Sidenreng
Rappang, Bulukumba, Sinjai, Pinrang, Polewali Mamasa,
Enrekang, Pare-Pare, Pangkajene dan Maros. Kedua
8


kabupaten tersebut terakhir merupakan daerah-daerah
peralihan yang penduduknya mempergunakan baik bahasa
Bugis maupun Makassar. Kabupaten Enrekang merupakan
daerah peralihan Bugis dan Toraja yang penduduknya sering
juga disebut To Duri dan Massenrengpulu mempunyai dialek
khusus, yaitu dialek Duri dan Enrekang (Anonim, 2010).
Etnis Makasar mendiami Kota Makassar, kabupaten
Gowa, kabupaten Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Selayar,
Maros dan Pakajene. Pada umumnya kehidupan orang
Makassar dan orang Bugis berbaur, dengan penduduk terletak
di pesisir pantai dan Teluk Bone, serta di sekitar Gunung
Lompobatang (Anonim, 2010).
Secara sosial budaya etnis bugis Makassar dalam
kehidupannya memegang prinsip hidup siri dan pesse. Siri'
boleh berarti penghormatan, kehormatan atau martabat.
Masyarakat akan dilindungi terhadap semua hal yang
dibolehkan dalam menghadapi tantangan martabatnya sebagai
anggota masyarakat yang terhormat. Dengan siri' mereka
untuk mengorbankan segalanya, termasuk hidup mereka (
Abdullah,H., 1985). Siri' sebagai kebaikan perlu berjalan
bergandengan dengan pesse yang berarti perasaan
menyakitkan, menyiratkan untuk berempati dengan kesusahan
9


orang lain (Pelras, 1996). Implementasi siri' dalam hidup sosial
sehari-hari dinyatakan di lima prinsip (Anonim, 2010) :
1. Ada Tongeng ( kebenaran dalam berbicara)
2. Lempuk ( kejujuran)
3. Getteng ( ketabahan)
4. Sipakatau ( rasa saling menghormati)
5. Mappesona ri dewata seuwae ( ketundukan kepada
kehendak Tuhan)
Khusus bagi etnis bugis-makassar penggunaan obat
tradisional dari bahan alam telah dibukukan sejak awal abad
15 dikenal dengan sure lontarak pabburak yang berisi jenis
tanaman, khasiat dan cara penggunaannya (Anonim, 2010).
2.1.3 Etnofarmasi Sulawesi Selatan
Etnofarmasis mempelajari tentang tanaman yang
digunakan oleh masyarakat asli. Etnofarmasis
mendokumentasikan pengetahuan tentang tanaman
bermanfaat dan yang beracun, menyeleksi dan mengoleksi
tanaman untuk budidaya dan perlindungan. Proses koleksi
tanaman menggunakan metode standar meliputi preparasi
spesimen tanaman (herbaria). Tim etnofarmasis
mendeskripsikan penyakit kemudian dikomunikasikan dengan
tabib tradisional dengan melakukan proses wawancara. Hal ini
difokuskan pada tanda-tanda dan gejala umum dan yang
10


mudah dikenali. Apabila penyakit telah dikenali dan
digambarkan secara sama maka pengobatan dengan tanaman
untuk penyakit tersebut dicatat secara rinci oleh etnofarmasis.
Jika beberapa tabib menyatakan hal yang sama maka tanaman
tersebut kemudian dikoleksi (Anonim, 2010)
Sulawesi Selatan dikenal sebagai provinsi di Indonesia
yang hampir seluruh daerahnya dikelilingi oleh lautan,
dihampari banyak pegunungan dengan banyak potensi flora
endemik. Kawasan pegunungan Verbeek yang membentang di
bagian utara, kawasan pegunungan Quarles dan Latimojong
yang membentang di bagian tengah, dan beberapa
pegunungan yang masih kokoh dengan hutan rimba yang
masih hijau juga menyimpan beberapa jenis flora khas
(Hidayat. S, 2005). Khusus bagi etnis bugis-makassar
penggunaan obat tradisional dari bahan alam telah dibukukan
sejak awal abad 15 dikenal dengan sure lontarak pabburak
yang berisi jenis tanaman, khasiat dan cara penggunaannya,
namun publikasi dan popularitas referensi ini seolah tertimbun
bersama kemajuan zaman dengan meninggalnya tokoh-tokoh
adat, dan dukun/sanro, akibatnya masyarakat Sulawesi Selatan
sendiri seolah kehilangan pedoman dalam penggunaan
tanaman obat yang ada disekitarnya. Sehingga perlu dilakukan
penelitian etnofarmakologi di wilayah Sulawesi Selatan untuk
11


menggali warisan budaya khususnya dalam upaya
pengembangan obat tradisional dan membuktikan secara
ilmiah kebenaran khasiatnya (Tang, 2005)
2.2 Tinjauan Tentang Desa Lampoko Kecamatan Balusu Kabupaten Barru
2.2.1 Letak Geografis
Letak geografis wilayah Kabupaten Barru adalah sebagi
berikut (Anonim, 2011) :
Letak Wilayah
Kabupaten Barru terletak di Pantai Barat Sulawesi
Selatan, berjarak kurang lebih 125 Km arah utara Kota
Makassar. Secara geografis terletak pada koordinat 4
O
05
49 LS - 4
O
47 35 LS dan 119
O
35 00 BT - 119
O
49 16
BT. Di sebelah utara Kabupaten Barru berbatasan Kota
Parepare, sebelah timur berbatasan Kabupaten Soppeng
dan Kabupaten Bone, sebelah selatan berbatasan
Kabupaten Pangkep, dan sebelah barat berbatasan Selat
Makassar.
12



Gambar 1. Lokasi PKL
Luas wilayah
Kabupaten Barru seluas 1.174,72 km
2
, terbagi dalam
tujuh kecamatan yakni: Kecamatan Tanete Riaja seluas
174,29 km
2
; Kecamatan Tanete Rilau seluas 79,17 km
2
;
Kecamatan Barru seluas 199,32 km
2
; Kecamatan Soppeng
Riaja seluas 78,90 km
2
; Kecamatan Mallusetasi seluas
216,58 km
2
; Kecamatan Pujananting seluas 314,26 km
2
; dan
Kecamatan Balusu seluas 112, 20 km
2
. Selain daratan,
terdapat juga wilayah laut teritorial seluas empat mil
Morfologi Wilayah,
Berdasarkan kemiringan lereng, wilayah Kabupaten
Barru terbagi empat kriteria morfologis yakni datar dengan
kemiringan 0
0
2
O
seluas 26.596 ha atau 22,64%; landai
dengan kemiringan 2
0
15
O
seluas 7.043 ha atau 5,49%;
miring dengan kemiringan 15
0
40
0
seluas 33.346 ha atau
13


28,31%; dan terjal dengan kemiringan >40
0
seluas 50.587
ha atau 43,06%, yang tersebar pada semua kecamatan.
Ketinggian Wilayah
Berdasarkan ketinggian dari permukaan laut,
Kabupaten Barru dapat dibagi dalam enam kategori
ketinggian yakni: 025 meter dari permukaan laut (mdpl)
seluas 26.319 ha (22,40%), tersebar di seluruh kecamatan
kecuali Kecamatan Pujananting; 25100 mdpl seluas
12.543 ha (10,68%), tersebar di seluruh kecamatan; 100
500 mdpl seluas 52.782 ha (44,93%), tersebar di seluruh
kecamatan; 5001000 mdpl seluas 23.812 Ha (20,27%),
tersebar di seluruh kecamatan kecuali Kecamatan Tanete
Rilau; 10001500 mdpl seluas 1.941 ha (1,65%), tersebar di
Kecamatan Tanete Riaja, Barru, Soppeng Riaja, dan
Pujananting; dan kategori > 1.500 mdpl seluas 75 ha
(0,06%), hanya terdapat di Kecamatan Pujananting.
Kondisi Geologi
Jenis tanah di Kabupaten Barru terdiri atas: Alluvial
seluas 14.659 ha (12,48%) yang terdapat di Kecamatan
Tanete Riaja; Litosol seluas 29.043 ha (24,72%) yang
terdapat di Kecamatan Tanete Rilau dan Tanete Riaja;
Regosol seluas 41.254 ha (38,28%) yang terdapat di
seluruh kecamatan; dan jenis Mediteran seluas 32.516
14


(24,60%).
Pola Penggunaan Lahan.
Pola penggunaan lahan di Kabupaten Barru meliputi
kampung/permukiman tahun 1993 seluas 2.063,50 ha,
meningkat menjadi 2.767,92 ha tahun 2008; persawahan
tahun 1993 seluas 11.921,00 ha, meningkat menjadi
15.959,23 ha tahun 2008; kolam/tambak tahun 1993 seluas
1.889,50 ha, meningkat menjadi 2.903,55 ha tahun 2008;
kebun campuran tahun 1993 seluas 7.698,00 ha, meningkat
menjadi 18.586,95 ha tahun 2008; ladang/tegalan tahun
1993 seluas 2.873,00 ha, meningkat menjadi 5.138,70 ha
tahun 2008; lahan terbuka tahun 1993 seluas 10.966,00 ha,
berkurang menjadi 3.367,53 ha tahun 2008; semak belukar
tahun 1993 seluas 110,00 ha, bertambah menjadi
12.712,11 ha tahun 2008; alang-alang tahun 1993 seluas
1.327,00 ha, berkurang menjadi 265,32 ha tahun 2008; dan
hutan tahun 1993 seluas 75.257,00 ha, berkurang menjadi
55.481,80 ha tahun 2008.
Kondisi Klimatologis.
Kabupaten Barru merupakan daerah yang beriklim
tropis dan termasuk dalam pola iklim pesisir pantai barat
Sulawesi Selatan. Berdasarkan tipe iklim dengan metode
Zone Agroklimatologi yang berdasarkan pada bulan basah
15


(curah hujan lebih dari 200 mm/bulan) dan bulan kering
(curah hujan kurang dari 100 mm/bulan), maka di
Kabupaten Barru pada umumnya memiliki tipe iklim C yang
mempunyai bulan basah berturut-turut 5 6 bulan (Oktober-
Maret) dan bulan kering berturut-turut kurang dari dua bulan
(April-September). Temperatur rata-rata antara 20O C
sampai 35O C. Total hari hujan selama setahun rata-rata 94
hari dengan jumlah curah hujan sebesar 2.646 mm. Curah
hujan berdasarkan hari hujan terbanyak pada bulan
Desember dan Januari dengan jumlah curah hujan rata-rata
423 mm dan 453 mm.
Sungai dan pesisir
Kabupaten Barru dialiri sekitar 12 sungai yang
tersebar di seluruh Kecamatan dengan panjang secara
keseluruhan sekitar 234,60 km dengan lebar 5 80 m dan
kedalaman antara 1 4 m. Kondisi sungai saat ini pada
umumnya mengalami sedimentasi dan penurunan debit air
bila dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.
Sungai-sungai tersebut bermuara di pantai sepanjang
pesisir Kabupaten Barru dengan garis pantai sepanjang 78
km.


16


Kondisi Hutan
Luas hutan Kabupaten Barru berdasarkan Peta Padu
Serasi Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan (Surat
Keputusan Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Nomor
276/IV/1999 adalah 65.185 ha (55,49 persen dari luas
Kabupaten Barru) dengan rincian Hutan Lindung seluas
49.801 ha dan Hutan Produksi Terbatas seluas 15.384 ha.
Namun berdasarkan survei tahun 2008 (Profil Kabupaten
Barru Tahun 2008) luas hutan yang memiliki vegetasi atau
tegakan hanya seluas 55.481,80 ha. Hal ini sesuai dengan
kenyataan terdapatnya lahan kritis dalam kawasan hutan
seluas 25.189 ha.
2.2.2 Demografi Penduduk
Defenisi dan pengertian demografi adalah uraian tentang
penduduk, terutama kelahiran, perkawinan, kematian dan
migrasi. Demografi meliputi studi ilmiah tentang jumlah,
persebaran geografis, komposisi penduduk serta bagaimana
faktor-faktor ini berubah dari waktu kewaktu. Adapun demografi
untuk kabupaten Barru sebagai berikut (Anonim, 2011) :
Jumlah penduduk. Jumlah penduduk Kabupaten Barru
tahun 1995 sebesar 149.912 jiwa dan meningkat menjadi
152.101 jiwa tahun 2000, 158.821 jiwa tahun 2005 dan menjadi
161.732 jiwa pada tahun 2008. Komposisi penduduk
17


berdasarkan jenis kelamin pada tahun 1995 terdiri dari laki-laki
sebanyak 71.526 jiwa dan perempuan 78.386 jiwa, sedangkan
pada tahun 2000 terdiri dari laki-laki sebanyak 72.361 jiwa dan
perempuan sebanyak 79.740 jiwa. Pada tahun 2005 dan 2008
komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin terdiri dari laki-
laki sebanyak 76.377 jiwa dan 78.266 jiwa sedangkan
perempuan sebanyak 82.444 jiwa dan 83.466 jiwa.
Struktur umur. Penduduk usia produktif pada tahun 2006
mencapai 81.229 jiwa dan pada tahun 2007 mencapai 78.859
jiwa, sedangkan angka beban tanggungan mencapai 57,73
persen pada tahun 2003 dan 56,95 persen pada tahun 2007
serta menjadi 62,02 pada tahun 2008. Penduduk usia produktif
dan angka beban tanggungan pada tahun 2025 diperkirakan
mengalami peningkatan menjadi lebih tinggi proporsinya.
Pertumbuhan penduduk. Penduduk Kabupaten Barru
mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dari tahun ke tahun
sejak tahun 1995 sampai dengan tahun 2008. Pertumbuhan
penduduk yang terkecil dialami pada tahun 2005 sebesar 0,13
persen dan tertinggi pada tahun 2003 sebesar 3,01 persen.
Pertumbuhan penduduk dalam siklus lima tahunan yaitu 0,61
persen pada tahun 1990-1995, 0,24 persen pada tahun 1995-
2000, 0,13 persen pada tahun 2000-2005 dan 0,81 persen
pada tahun 2005-2008. Pertumbuhan penduduk pada tahun
18


2015 diperkirakan 0,58 persen, pada tahun 2020 diperkirakan
0,57 persen dan pada tahun 2025 diperkirakan 0,55 persen.
Kualitas manusia. Secara umum kualitas manusia diukur
melalui pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Selama periode tahun 2004-2008, IPM Kabupaten Barru
mengalami peningkatan dari 67,07 (2004), 67,48 (2005), 68,60
(2006), 68,97 (2007) dan 69,50 (2008). Meskipun nilainya
meningkat dari tahun ke tahun, dari sisi peringkat jika
dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Sulawesi
Selatan, Kabupaten Barru berada pada posisi 13 (2004),
peringkat 14 (2005), peringkat 13 (2006), peringkat 14 (2007)
dan tetap peringkat 14 (2008). IPM tersebut masih di bawah
rata-rata provinsi dan nasional yang masing-masing 67,75 dan
68,86 (2004), 68,14 dan 69,57 (2005), 68,81 dan 70,08 (2006),
69,62 dan 70,66 (2007).
Indeks pendidikan. Indeks pendidikan Kabupaten Barru,
sebagai gabungan dari nilai angka melek huruf dan rata-rata
lama sekolah, telah mengalami peningkatan dari tahun 2004 ke
tahun 2007, tetapi posisinya masih dibawah rata-rata indeks
pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Pada tahun 2004 indeks
pendidikan Kabupaten Barru sebesar 71,29 (Provinsi mencapai
71,44 dan Nasional mencapai 76,27), tahun 2005 sebesar
71,91 (Provinsi mencapai 71,96 dan Nasional mencapai 76,82),
19


tahun 2006 sebesar 74,37 (Provinsi mencapai 73,07 dan
Nasional mencapai 77,41), 2007 sebesar 74,37 (Provinsi
mencapai 73,56 dan Nasional mencapai 77,84).
Angka Melek Huruf. Nilai indikator angka melek huruf
telah mengalami peningkatan dari 84,60 persen (2004), 85,20
persen (2005), 87,10 persen (2006) dan 87,26 persen (2007).
Apabila dibandingkan dengan angka melek huruf rata-rata
Provinsi Sulawesi Selatan, pencapaian Kabupaten Barru sudah
berada diatas rata-rata Provinsi yang nilainya 85,50 persen
(2004) dan 86,24 persen (2007).
Rata-rata Lama Sekolah. Indikator ini juga telah
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004
rata-rata lama sekolah mencapai 6,70 tahun, pada tahun 2007
menjadi 7,20 tahun. Apabila dibandingkan dengan capaian
rata-rata lama sekolah Provinsi Sulawesi Selatan, capaian
Kabupaten Barru masih lebih rendah dibanding rata-rata
Provinsi yang nilainya 6,80 tahun (2004) dan 7,23 tahun
(2007). Pada 2007, kinerja pendidikan SD/sederajat mencapai
APM 97,48 persen (Provinsi mencapai 88,89 persen), APK
102,87 persen (Provinsi mencapai 95,25 persen), angka putus
sekolah 3,11 persen (Provinsi 2,84 persen), rasio murid/guru
mencapai 11 (Provinsi mencapai 17) dan rasio murid/sekolah
103 (Provinsi mencapai 161).
20


Indeks Kesehatan. Indeks kesehatan Kabupaten Barru
sebagai bagian dari indikator IPM/kualitas manusia, juga
menunjukkan peningkatan pada tahun 2004-2007, tetapi
pencapaiannya masih dibawah rata-rata Provinsi Sulawesi
Selatan dan Nasional. Pada tahun 2004 nilai indikator ini
sebesar 70,50 (Provinsi mencapai 72,83 dan Nasional
mencapai 71,00), tahun 2005 sebesar 70,67 (Provinsi
mencapai 72,83 dan Nasional mencapai 71,81), tahun 2006
sebesar 71,00 (Provinsi mencapai 71,00 dan Nasional
mencapai 72,44), pada tahun 2007 sebesar 71,33 (Provinsi
mencapai 74,00 dan Nasional mencapai 73,03).
Angka Harapan Hidup. Nilai indikator ini juga mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, angka
harapan hidup Kabupaten Barru sebesar 67,30 tahun, pada
tahun 2005 sebesar 67,40 tahun, pada tahun 2006 sebesar
67,60 tahun, pada tahun 2007 sebesar 67,80 tahun, dan pada
tahun 2008 sebesar 68,20 tahun. Dibandingkan dengan rata-
rata angka harapan hidup Provinsi Sulawesi Selatan tahun
2008 sebesar 69,60 tahun, capaian Kabupaten Barru masih
lebih rendah. Diproyeksikan bahwa angka harapan hidup
Kabupaten Barru mampu mencapai 70,85 tahun pada tahun
2015, mencapai 72,74 tahun pada tahun 2020 dan menjadi
74,62 tahun pada tahun 2025.
21


Daya Beli Masyarakat. Indeks daya beli masyarakat
Kabupaten Barru juga masih berada dibawah rata-rata Provinsi
Sulawesi Selatan dan Nasional, namun telah terjadi
peningkatan dari tahun 2004 hingga tahun 2007. Pada tahun
2004, nilai indeks daya beli masyarakat Kabupaten Barru
sebesar 59,41 (Provinsi mencapai 58,98; Nasional mencapai
58,72), tahun 2005 sebesar 59,88 (Provinsi mencapai 59,35;
Nasional mencapai 60,07), tahun 2006 sebesar 60,43 (Provinsi
mencapai 59,70; Nasional mencapai 60,38), dan tahun 2007
sebesar 61,00 (Provinsi mencapai 61,29; Nasional mencapai
61,10). Dalam nilai nominal, angka daya beli masyarakat
Kabupaten Barru meningkat dari Rp.617.100 (2004), menjadi
Rp.619.100 (2005), Rp.621.500 (2006), Rp.624.00 (2007) dan
Rp. 629.200 (2008). Angka daya beli masyarakat Kabupaten
Barru berada dibawah rata-rata Provinsi yang bernilai
Rp.630.800 (2008). Diproyeksikan angka ini mencapai
Rp.733.700 tahun 2015, mencapai Rp.799.400 (2020) dan
Rp.865.120 (2025).
Kesejahteraan Sosial. Jumlah penyandang masalah
kesejahteraan sosial cenderung bertambah dalam lima tahun
terakhir. Pada tahun 2005 jumlah penyandang masalah
kesejahteraan sosial sekitar 17.323 jiwa dan tahun 2008
menjadi 17.455 jiwa, meliputi fakir-miskin 4.816 jiwa, wanita
22


rawan sosial 2.985 jiwa, lanjut usia terlantar 2.000 jiwa, anak
terlantar 2.124 jiwa, keluarga rumah tidak layak huni 2.644 jiwa,
penyandang cacat 1.075 jiwa, anak cacat 265 jiwa,
penyandang cacat eks kronis 146 jiwa, keluarga rentan 325
jiwa, balita terlantar 205 jiwa, anak korban tindak kekerasan
atau diperlakukan salah 12 jiwa, bekas narapidana 51 jiwa,
wanita korban tindak kekerasan atau diperlakukan salah 6 jiwa,
masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana 348 jiwa,
pengemis 4 jiwa, keluarga bermasalah psikologis 13 jiwa,
korban bencana 385 jiwa dan waria 51 jiwa. Jumlah komunitas
adat terpencil (KAT) di Kabupaten Barru sampai dengan tahun
2008 tidak mengalami perubahan dari tahun-tahun sebelumnya
yakni 150 KK, jumlah panti asuhan juga tidak mengalami
perubahan yakni hanya empat unit hingga 2008.
Kepemudaan dan Olahraga. Jumlah organisasi pemuda
dan olahraga tidak mengalami perubahan berarti dalam lima
tahun terakhir. Jumlah organisasi pemuda pada tahun 2000
mencapai 47 unit, pada tahun 2005 dan 2008 menjadi 54 unit
organisasi; sedangkan jumlah organisasi olahraga pada tahun
2008 sebanyak 12 unit atau tidak bertambah secara nyata
dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kehidupan Politik dan Demokrasi. Eksistensi partai politik
mengalami dinamika pertumbuhan yakni dari 48 parpol pada
23


tahun 2000 menjadi 22 parpol pada tahun 2005 kemudian
meningkat lagi menjadi 34 parpol pada tahun 2008. Tingkat
partisipasi pemilih dalam pemilihan legislatif pada tahun 2004
mencapai 87.120 jiwa atau 82,70 persen dari jumlah wajib pilih
sebanyak 105.350 jiwa, dan pada pemilihan presiden/wakil
presiden mencapai 85.297 jiwa atau 80,05 persen dari jumlah
wajib pilih sebanyak 106.555 jiwa. Pada pemilihan legislatif
pada tahun 2009 mencapai 91.355 jiwa atau 72,59 persen dari
jumlah wajib pilih sebanyak 123.858 jiwa dan pada pemilihan
presiden/wakil presiden mencapai 97.642 jiwa atau 78,23
persen dari jumlah wajib pilih sebanyak 124.815 jiwa. Khusus
pada pemilu kepala daerah/wakil kepala daerah pada tahun
2005, tingkat partisipasi pemilih mencapai 89.147 jiwa atau
81,45 persen dari jumlah wajib pilih sebanyak 109.446 jiwa.
Keluarga Berencana. Jumlah kepala keluarga mengalami
pertambahan dari 33.461 KK pada tahun 1995 menjadi 37.242
KK pada tahun 2000, 43.112 KK pada tahun 2005 dan menjadi
45.993 KK pada tahun 2008. Dari jumlah kepala keluarga
tersebut, pasangan usia subur (PUS) sebanyak 21.527 (1995),
27.933 (2000), 27.282 (2005) dan menjadi 28.080 (2008).
Jumlah peserta KB aktif tahun 1995 sebanyak 14.910
pasangan, tahun 2000 sebanyak 14.801 pasangan, tahun 2005
sebanyak 14.890 pasangan dan tahun 2008 mencapai 15.638
24


pasangan. Persentase peserta KB mengalami penurunan dari
69,26 persen tahun 2000 menjadi 55,69 persen pada tahun
2008.
Administrasi Kependudukan. Jumlah penduduk yang
telah memiliki KTP mencapai 64,13 persen pada tahun 2005
dan meningkat menjadi 74,24 persen pada tahun 2008.
Sedangkan jumlah penduduk yang telah memiliki akte
kelahiran mencapai 70,19 persen pada tahun 1995 dan
meningkat menjadi 74,49 persen pada tahun 2008. Pelayanan
administrasi kependudukan dijalankan pada tingkat
Desa/Kelurahan hingga Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) terkait.
2.2.1 Latar Belakang Pemilihan Lokasi Etnofarmasi
Barru (Kecamatan Balusu) dijadikan sebagai lokasi
etnofarmasi disebabkan karena kecamatan Balusu memiliki
keaneka ragaman sampel darat dan sampel laut. Selain itu
Jarak antara hutan dan laut tidak terlalu jauh sehingga interval
waktu yang dibutuhkan dari hutan ke laut tidak terlalu lama.
2.2.2 Kultur Budaya dan Etnofarmasi
Struktur masyarakat tergolong seragam, termasuk
agama, adat istiadat serta budaya mayarakat. Hal ini tergambar
pada berbagai kegiatan ritual keagamaan maupun budaya.
Serta keseragaman dalam pemanfaatan tanaman (Bahan
25


alam) sebagai obat tradisional yang secara seragam,
penggunaan secara merata sesuai dengan fungsinnya masing-
masing, tanaman obat yang digunakan oleh para Batrra di
daerah tersebut masih sangat sedikit yang terinventarisir,
disebabkan beberapa faktor yang memiliki pengaruh yang
angat besar, seperti adannya battra (Pengobatan Tradisional)
yang merahasiakan tanaman yang digunakan sebagai obat,
keanekaragaman spesies tanaman obat, adannya kemiripan
pada tanaman yang satu dengan yang lainnya sehingga
membingungkan pengguna atau peneliti obat tradisional,
dimana tumbuh tanaman, beberapa tanaman obat sulit
didapatkan karena tumbuh ditempat yang sulit dijangkau,
seperti didaerah pegunungan atau adannya kepunahan akibat
penebangan hutan (Anonim, 2011).
2.3 Tinjauan Tentang Tanaman dan Lokasi Tumbuh Tumbuhan
Etnofarmasi
Intensif dilaksanakan di lokasi Desa Lampoko Kec. Balusu,
Kabupaten Barru. Lokasi tersebut sengaja dipilih dengan
pertimbangan bahwa kawasan desa Lampoko adalah hutan produksi
yang cukup kritis. Adapun tanaman yang pada umumnya digunakan
sebagai obat usus turun (hernia) oleh penduduk setempat.

26


Adas Manis (Foeculum vulgare mill). Tanaman ini umumnya
tumbuh diketinggian 1.600-2.400 meter dpl. Merupakan terna
berumur panjang. Tinggi 50-200 cm. Batang berwarna hijau
kebiruan, beralur, beruas, berlubang dan saat dimemarkan
mengeluarkan bau wangi. Daun majemuk menyirip ganda
dengan sirip sempit. Letak tubuh saling silang bentuk daun
menyerupai jarum dengan ujung dan pangkal runcing serta
tepian rata. Bunga majemuk berbentuk bunga payung. Mahkota
bunga berwarna kuning. Buah berbentuk lonjong dan
mempunyai rusuk. Buah yang sudah tua mempunyai aroma khas
(Redaksi Argomedia, 2008).
Kandungan Kimia (Redaksi argomedia, 2008) : Minyak atsiri,
anetol, fenkon pinen, limonen, dipenten, felandren, metilchavikol,
anisaldehid, asam asinat dan minyak lemak.
Penyakit yang diobati (Anonim,2011) : berguna untuk rematik,
sesak nafas, batuk, mual, muntah, insomia, nyeri haid, hernia,
keputihan, menambah nafsu makan.
Ginje (Clerondendron indicum). Merupakan tanaman perdu
tegak dengan tinggi 1-3 m, Batang berbentuk bulat, bagian
tengah berongga dan berwarna hijau . Daun tunggal, berbentuk
lanset, ujung runcing, pangkal menyempit, tepi rata, pertulangan
menyirip, berwarna hijau. Bunga majemuk, buah batu berbentuk
27


telur berwarna coklat dan biji berbentuk bulat berwarna hitam
(Redaksi Argomedia, 2008).
Kandungan kimia (Redaksi Argomedia, 2008) : Flavanoid,
polifenol dan saponin.
Penyakit yang dapat diobat (Anonim, 2008) : radang saluran
kencing, radang kandung kemih, radang saluran napas
(bronkhitis), radang tenggorok, nyeri rongga mulut, nyeri hernia,
nyeri lambung, terkilir, memar, rematik, demam, influenza,
tuberkulosis paru, dan sesak napas (asma).
Jarak (Richinus communis). Tumbuhan setahun (anual)
dengan batang bulat licin, berongga, berbuku-buku jelas dengan
tanda bekas tangkai daun yang lepas, warna hijau bersemburat
merah tengguli. Daun tunggal, tumbuh berseling, bangun daun
bulat dengan diameter 10 40 cm, bercangap menjari 7 9,
ujung daun runcing, tepi bergigi, warna daun di permukaan atas
hijau tua permukaan bawah hijau muda (Ada varietas yang
berwarna merah). Tangkai daun panjang, berwarna merah
tengguli, daun bertulang menjari. Bunga majemuk, berwarna
kuning oranye, berkelamin satu. Buahnya bulat berkumpul dalam
tandan, berupa buah kendaga, dengan 3 ruangan, setiap ruang
berisi satu biji. Buahnya mempunyai duri-duri yang lunak,
berwarna hijau muda dengan rambut merah (Anonim, 2010).
28


Kandungan Kimia (Anonim, 2010) : Kaemfesterol; Sitosterol;
Stigmasterol; Amirin; Tarakserol; Minyak lemak; Kursin;
Toksalbumin
Penyakit yang dapat diobati (Anonim,2008) : Kanker rahim,
Kank. kulit, Sulit buang air besar, Sulit. Melahirkan, TBC, Bisul,
Koreng, Scabies, Infeksi jamur, Jerawat, lumpuh otot muka;
Gatal, Batuk, Hernia, Bengkak, Reumatik, Tetanus, Bronkhitis.
Kapulaga (Amomum compactum). Merupakan rumput tahunan
dengan tinggi lebih kurang 1,5 m. Batang berbentuk bulat dan
berwarna hijau. Daun tunggal, berbentuk laset, ujung runcing,
tepi rata, pertulangan menyirip dan berwarna hijau (Redaksi
Argomedia, 2008).
Kandungan Kimia (Redaksi Argomedia) : minyak atsiri, minyak
lemak, zat pati, gula dan protein.
Penyakit yang dapat diobati (Anonim, 2011) : berkhasiat untuk
menghilangkan bau mulut, demam, pegal linu, hernia, sakit
perut, dan lain lain.
Keladi Tikus (Typhonim flagelliforme). Merupakan tanaman
terna dengan umbi agak bulat dan berakar di ujungnya. Daun
tunggal berbentuk lonjong, ujung meruncing, pangkal berbentuk
jantung dan bertepi rata. Bunga menyerupai ekor tikus berwarna
merah tua hingga ungu.
29


Kegunaan (Anonim, 2008) : Diabetes Melitus, demam berdarah,
radang otak, radang tenggorokan, ambeien akut, sakit gigi,
keputihan, kista, sinus (gangguan hidung), hernia, biduran dan
semua penyakit yang disebabkan virus dan bakteri.



















30


BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL, HIPOTESIS, SKEMA KERJA
3.1 Kerangka Konseptual










Gambar 2. Skema kerangka konseptual Etnofarmasi
3.2 Hipotesis
Di Desa Lampoko Kec. Balusu, Kab Barru Sulawesi selatan
banyak terdapat tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat karena
dipenuhi tumbuhan.

Sulawesi Selatan
Referensi
Inventarisasi
Tanaman Obat
Etnofarmasi dari
tanaman dan
hewan
Kab. Barru
Kec. Balusu
Desa Lampoko
(Lontarak Pabbura)
4 Etnis (Bugis,
Makassar.
Toraja, Mandar)
30
31


3.3 Skema Kerja













Gambar 3. Skema kerja Etnofarmasi



Pemilihan tempat
etnofarmasi
Mengadakan
wawancara terhadap
masyarakat setempat
Pengumpulan data tanaman obat di
daerah PKL
Membuat laporan data
32


BAB 4
Materi dan Metode Praktikum
4.1 Rancangan Praktikum
Praktikum Etnofarmasi dilaksanakan berdasarkan studi
observasi.
4.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan antara lain :
1) Alkohol
2) Aquades
3) Formalin
4.3 Waktu
Adapun waktu pelaksanaan kegiatan ini adalah tanggal 30
september 2011 sampai 2 Oktober 2011.
4.4 Lokasi Praktikum
Adapun lokasi yang digunakan untuk praktikum ini bertempat
di Desa lampoko, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Sulawesi-
Selatan.
4.5 Prosedur Praktikum
1) Pemilihan Lokasi Etnofarmasi
Pemilihan Lokasi etnofarmasi berdasarkan beragamnya variasi
tanaman baik pada tempat tumbuh 100 m diatas permukaan laut,
maupun 10 meter diatas permukaan laut, serta kebiasaan
32
33


penduduk lokal menggunakan tanaman obat untuk mengobati
penyakit yang dideritanya.
2) Penyiapan kuisener atau bahan wawancara sebagai data observasi
3) Pemilihan informan.
Informan dipilih berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya
tentang tanaman obat yang digunakan di lokasi observasi.
4) Observasi dan pengumpulan data inventarisasi tanaman obat
5) Pembuatan Laporan Observasi.















34


BAB 5
HASIL
5.1 Tanaman Etnofarmasi Kecamatan Balusu Kab. Barru
Tabel 5.1 Tanaman Etnofarmasi yang ada Di Barru
No. Nama tanaman
(indonesia/latin)
Nama
daerah
Bagian
yang
digunakan
Khasiat/
kegunaan
Cara
pemakaian
1. Adas Manis
(Foeculum
vulgare mill)
Adas Buah Hernia
(usus
turun)
Buah direbus
dan diminum
airnya
2. Ginje
(Clerondendrom
indicum)
Daun
atau
akar
Hernia
(usus
turun)
Akar atau
daun direbus
dan diminm
airnya
3. Jarak (Rhicinus
indicum)
Tangin-
tangin
Daun Hernia
(usus
turun)
Daun
ditambahkan
garam
dilumatkan lalu
di tempelka
pada telapak
kaki.
1.
4.
Kapulaga
(Amomum
compactum)
Kapulaga Buah Hernia
(usus
turun)
Buah direbus
dan diminum
air rebusannya
5. Keladi Tikus
(Typhonim
flagelliforme)
Aladi Daun Hernia
(usus
turun)
Daun direbus
dan diminum
airnya.

34
35


5.2 Kebenaran Informasi dengan Literatur (Redaksi argoMedia, 2008 ;
Anonim, 2008; Anonim, 2011)
Tabel 5.2 Kebenaran informasi dengan literatur
No Nama tanaman
(indonesia/latin)
Bagian
yang
digunakan
Khasiat/
Kegunaan
1. Adas Manis
(Foeculum
vulgare mill)
Buah berguna untuk rematik, sesak
nafas, batuk, mual, muntah,
insomia, nyeri haid, hernia,
keputihan, menambah nafsu
makan.
2. Ginje
(Clerondendrom
indicum)
Daun dan
akar
Antiradang, antipiretik, analgesik,
dan antitusif. Daun digunakan
sebagai daun rokok untuk
penyakit asma. Daun dan akar
digunakan sebagai pengobatan
radang saluran kencing, radang
saluran nafas, radang
tenggorokan, nyeri rongga mulut,
nyeri hernia, nyeri lambung,
demam, inflenza dan
tuberkulosis.
3. Jarak (Rhicinus
communis)
Biji, akar,
daun dan
minyak dari
bijinya
Berkhasiat sebagai antiradang,
pencahar dan menghilangkan
racun. Bijinya berkhasiat
mengobati kanker kulit, suli
buang besar, sulit melahirkan
kelumphan otot muka, TBC,
gatal, batuk, hernia, remayik,
tetanus dan bronkhitis. Daunnya
berkhasiat mengobatikoreng,
eksim, gatal, batuk sesak dan
hernia

36



5.3 Kandungan Kimia Tanaman Etnofarmasi berdasarkan literatur
(Redaksi argoMedia, 2008; Anonim, 2008)
Tabel 5.3 Kandungan Kimia Berdasarkan Literatur
No. Nama tanaman
(indonesia/latin)
Kandungan kimia
1. Adas Manis (Foeculum
vulgare mill)
Minyak atsiri, anetol, fenkon pinen,
limonen, dipenten, felandren,
metilchavikol, anisaldehid, asam asinat
dan minyak lemak.

2. Ginje (Clerondendrom
indicum)
Flavanoid, polifenol dan saponin.

3. Jarak (Rhicinus
indicum)
Kaemfesterol; Sitosterol; Stigmasterol;
Amirin; Tarakserol; Minyak lemak;
Kursin; Toksalbumin

3.
4.
Kapulaga (Amomum
compactum)
minyak atsiri, minyak lemak, zat pati,
gula dan protein.

5. Keladi Tikus (Typhonim
flagelliforme)
Saponin, steroid dan glikosida

2.
4.
Kapulaga
(Amomum
compactum)
Buah untuk menghilangkan bau mulut,
demam, pegal linu, hernia, sakit
perut, dan lain lain.

5. Keladi Tikus
(Typhonim
flagelliforme)
Umbi, daun
dan getah
Diabetes Melitus, demam
berdarah, radang otak, radang
tenggorokan,ambeien akut, sakit
gigi, keputihan, kista, sinus
(gangguan hidung), hernia,
biduran dan semua penyakit
yang disebabkan virus dan
bakteri.
37


BAB 6
PEMBAHASAN
Etnofarmasi adalah studi tentang bagaimana masyarakat suatu
etnis atau wilayah dalam menggunakan suatu tanaman obat atau ilmu
multidisiplin yang mempelajari penggunaan obat-obatan terutama obat
tradisional oleh suatu masyarakat lokal (etnik). Etnofarmasis merupakan
orang yang mengeksplorasi bagaimana suatu tanaman digunakan
sebagai pengobatan. Hal ini terkait dengan studi mengenai sediaan obat
yang terkait dengan penggunaannya dalam konteks kultural.
Lokasi yang digunakan untuk praktikum ini bertempat di Desa
Lampoko, Kecamatan Balusu Kabupaten Barru, Sulawesi-Selatan.
Pemilihan Lokasi etnofarmasi berdasarkan beragamnya variasi tanaman
baik pada tempat tumbuh 100 m diatas permukaan laut, maupun 10 meter
diatas permukaan laut, serta kebiasaan penduduk lokal menggunakan
tanaman obat untuk mengobati penyakit yang dideritanya. Setelah
ditemukan lokasi, dilakukan penyiapan kuisener atau bahan wawancara
sebagai data observasi kepada penduduk setempat atau tokoh
masyarakat, dengan pemilihan informan berdasarkan pengetahuan dan
pengalamannya tentang tanaman obat yang digunakan di lokasi
observasi, semua data dikumpulkan sebagi data inventarisasi tanaman
obat, dan akhirnya dibuat laporan observasi.
37
38


Adapun tanaman yang pada umumnya untuk pengobatan
peyakit usus turun oleh penduduk setempat di antaranya adalah adas,
Ginje, Jarak, Kapulaga dan Keladi tikus.
Adas Manis (Foeculum vulgare mill). Tanaman ini umumnya
tumbuh diketinggian 1.600-2.400 meter dpl. Merupakan terna berumur
panjang. Tinggi 50-200 cm. Batang berwarna hijau kebiruan, beralur,
beruas, berlubang dan saat dimemarkan mengeluarkan bau wangi. Daun
majemuk menyirip ganda dengan sirip sempit. Letak tubuh saling silang
bentuk daun menyerupai jarum dengan ujung dan pangkal runcing serta
tepian rata. Bunga majemuk berbentuk bunga payung. Mahkota bunga
berwarna kuning. Buah berbentuk lonjong dan mempunyai rusuk. Buah
yang sudah tua mempunyai aroma khas. Kandungan Kimia yaitu Minyak
atsiri, anetol, fenkon pinen, limonen, dipenten, felandren, metilchavikol,
anisaldehid, asam asinat dan minyak lemak. Penyakit yang diobati yaitu
untuk rematik, sesak nafas, batuk, mual, muntah, insomia, nyeri haid,
hernia, keputihan, menambah nafsu makan.
Ginje (Clerondendron indicum). Merupakan tanaman perdu tegak
dengan tinggi 1-3 m, batang berbentuk bulat, bagian tengah berongga dan
berwarna hijau . Daun tunggal, berbentuk lanset, ujung runcing, pangkal
menyempit, tepi rata, pertulangan menyirip, berwarna hijau. Bunga
majemuk, buah batu berbentuk telur berwarna coklat dan biji berbentuk
bulat berwarna hitam. Kandungan kimia yaitu Flavanoid, polifenol dan
saponin. Penyakit yang dapat diobat yaitu radang saluran kencing, radang
39


kandung kencing, radang saluran napas (bronkhitis), radang tenggorok,
nyeri rongga mulut, nyeri hernia, nyeri lambung, terkilir, memar, rematik,
demam, influenzae, tuberkulosis paru, dan -sesak napas (asma)
Jarak (Richinus communis). Tumbuhan setahun (anual) dengan
batang bulat licin, berongga, berbuku-buku jelas dengan tanda bekas
tangkai daun yang lepas, warna hijau bersemburat merah tengguli. Daun
tunggal, tumbuh berseling, bangun daun bulat dengan diameter 10 40
cm, bercangap menjari 7 9, ujung daun runcing, tepi bergigi, warna daun
di permukaan atas hijau tua permukaan bawah hijau muda (Ada varietas
yang berwarna merah). Tangkai daun panjang, berwarna merah tengguli,
daun bertulang menjari. Bunga majemuk, berwarna kuning oranye,
berkelamin satu. Buahnya bulat berkumpul dalam tandan, berupa buah
kendaga, dengan 3 ruangan, setiap ruang berisi satu biji. Buahnya
mempunyai duri-duri yang lunak, berwarna hijau muda dengan rambut
merah. Kandungan Kimia yaitu Kaemfesterol; Sitosterol; Stigmasterol;
Amirin; Tarakserol; Minyak lemak; Kursin; Toksalbumin. Penyakit yang
dapat diobati yaitu Kanker rahim, Kank. kulit, Sulit buang air besar, Sulit.
Melahirkan, TBC, Bisul, Koreng, Scabies, Infeksi jamur, Jerawat, lumpuh
otot muka; Gatal, Batuk, Hernia, Bengkak, Reumatik, Tetanus, Bronkhitis.
Kapulaga (Amomum compactum). Merupakan rumput tahunan
dengan tinggi lebih kurang 1,5 m. Batang berbentuk bulat dan berwarna
hijau. Daun tunggal, berbentuk laset, ujung runcing, tepi rata, pertulangan
menyirip dan berwarna hijau. Kandungan Kimia yaitu minyak atsiri, minyak
40


lemak, zat pati, gula dan protein. Penyakit yang dapat diobati yaitu
berkhasiat untuk menghilangkan bau mulut, demam, pegal linu, hernia,
sakit perut, dan lain lain.
Keladi Tikus (Typhonim flagelliforme). Merupakan tanaman terna
dengan umbi agak bulat dan berakar di ujungnya. Daun tunggal berbentuk
lonjong, ujung meruncing, pangkal berbentuk jantung dan bertepi rata.
Bunga menyerupai ekor tikus berwarna merah tua hingga ungu.
Kegunaan yaitu diabetes Melitus, demam berdarah, radang otak, radang
tenggorokan,ambeien akut, sakit gigi, keputihan, kista, sinus (gangguan
hidung), hernia, biduran dan semua penyakit yang disebabkan virus dan
bakteri.









41


BAB 7
PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa telah di
peroleh data mengenai beberapa tanaman obat berdasarkan
etnofarmasi pada suku Makassar di Desa Lampoko Kab. Barru
Sulawesi Selatan berupa tumbuhan yang berkhasiat menyembuhkan
penyakit usus turun yaitu adas manis, ginje, jarak, kapulaga dan
keladi tikus
7.2 Saran
Negara kita Indonesia sangat kaya akan hasil bumi utamanya
berbagai macam tumbuh-tumbuhan/tanaman berkhasiat terhadap
penyakit, namun pengetahuan masyarakat mengenai khasiat
tanaman terhadap pengobatan masih sangat minim oleh karena itu
sebaiknya dilakukan banyak penyuluhan, promosi seminar atau
penerbitan buku mengenai tumbuh-tumbuhan yang ada disekitar kita
yang begitu banyak manfaatnya.





41
42


DAFTAR PUSTAKA
Amin, A., 2010, Obat Asli Indonesia, Fakultas Farmasi Universitas Muslim
Indonesia. Makassar.

Anonim, 2010, (Onlie), http://barrukab/ind1/?page_id=83. (Diakses 18
November 2011).

Anonim, 2008, (Online), http://cencerhelps.com/research/keladi_tikus-
invitro.pdf. (Diakses 18 November 2011).

Anonim, 2010, (Online) http://etnofarmasi.blogspot.com/
2010/02/etnofarmasi.html. (Diakses 18 November 2011).

Anonim, 2010, (Online), http://www.iniada.net/topic/etnofarmasi-sulawesi-
selatan. (Diakses 18 November 2011).

Anonim, 2011, (Online), http://khasiattanamanobat.info/wp/54/rempah-
rempah-yang-berkhasiat-sebagai-obat. (Diakses 18 November
2011).

Anonim, 2010, (Online), http://www.resep.web.id/obat/penyembuhan-
kanker-dengan-tanaman-keladi-tikus.htm. (Diakses 18 November
2011).

Anonim, 2010, (Online), http://informasidantips.com/search/tanaman
+obat+hernia/. (Diakses 18 November 2011).

Anonim, 2010, (Online), http://www.kaskus.us/showthread.
php?p=33119866. (Diakses 18 November 2011).

Soehardi, 2010, (Online), http://kiathidupsehat.com/tag/usus-turun-ke-
lipat-paha-hernia-inguinalis/. (Diakses 18 November 2011).

Redaksi Argo Media. 2008., Buku Tanaman Obat. ArgoMedia. Jakarta.










43


LAMPIRAN

a. Aktivitas Farmakologi Menurut Pustaka dan Etnofarmasi
No. Bahan Baku
(Simplisia)
Aktivitas Farmakologi Etnoframasi
Pustaka Etnofarmakologi Bentuk
Sediaan
Cara
penggunaan
Aturan Pakai
1 Foeculum
fructus
Redaksi
Argo media
Mengobati usus turun
(hernia)
Jamu Diminum 2 gelas sehari
2 Clerondendrom
Folium
Redaksi
Argo media
Mengobati usus turun
(hernia)
Jamu Diminum 2 gelas sehari
3 Rhicinus
Folium
Redaksi
Argo media
Mengobati usus turun
(hernia)
Jamu Diminum 2 gelas sehari
4 Amomum
Fructus
Redaksi
Argo media
Mengobati usus turun
(hernia)
Jamu Diminum 2 gelas sehari
5 Typhonim
Fructus
Redaksi
Argo media
Mengobati usus turun
(hernia)
Jamu Diminum 2 gelas sehari
44



b. Kebenaran Informasi Etnofarmasi dibandingkan dengan Literatur



No
.
Nama tanaman
(indonesia/latin)
Nama Simplisia Kandungan kimia
1. Adas Manis (Foeculum
vulgare mill)
Foeculum fructus Minyak atsiri, anetol, fenkon pinen,
limonen, dipenten, felandren,
metilchavikol, anisaldehid, asam asinat
dan minyak lemak.

2. Ginje (Clerondendrom
indicum)
Clerondendrom Folium Flavanoid, polifenol dan saponin.

3. Jarak (Rhicinus
indicum)
Rhicinus Folium Kaemfesterol; Sitosterol; Stigmasterol;
Amirin; Tarakserol; Minyak lemak;
Kursin; Toksalbumin

1.
4.
Kapulaga (Amomum
compactum)
Amomum Fructus minyak atsiri, minyak lemak, zat pati,
gula dan protein.

5. Keladi Tikus (Typhonim
flagelliforme)
Typhonim Fructus Saponin, steroid dan glikosida
45