Anda di halaman 1dari 13

CARA MENANAM UBI KAYU YANG BENAR

Masyarakat Indonesia memang sudah sangat akrab dengan makanan yang satu ini,
singkong. Singkong atau yang sering disebut dengan ubi kayu sering diklaim sebagai makanan
kedua setelah nasi sebagai makanan yang kaya akan kandungan karbohidrat.

Cara menanam singkong memanglah tidak terlalu sulit, asalkan ada lahan disitu
singkong bisa tumbuh. Saking mudahnya hidup, kayu singkong kita letakkan ditanah saja bisa
tumbuh tunas-tunas baru. Memang asal tancap kayu singkong saja memang sangat bisa
tumbuh tanaman singkong tersebut. Namun tetap saja pertumbuhan singkong tersebut kurang
maksimal, cara menanam singkong yang benar akan membuat pertumbuhan singkong tersebut
lebih optimal. Nah bagaimana cara menanam singkong dengan baik?

Cara menanam singkong dengan baik akan kita ulas dibawah ini. Cara Menanam Singkong
Dengan Benar Inilah beberapa langkah cara menanam singkong dengan benar :
1. Persiapan Bibit Bibit singkong adalah dengan batangnya, batang yang baik untuk bibit
adalah batang yang berdiameter sekitar 2-3 cm. Potonglah batang yang akan dijadikan
bibit dengan panjang berkisar antara 15 22 cm dengan menggunakan sabit steril,
jangan memotong menggunakan gergaji,
2. Persiapan Lahan dan Penanaman Gemburkan lahan yang akan ditanami terlebih
dahulu dengan cara mencangkulnya dan biarkan tanahnya tetap disana (dibuat
gudukan). Campurkan tanah humus/pupuk kandang secukupnya. Boleh dicampur
sedikit sampah organik seperti dedaunan agar nantinya dapat menjadi kompos. Setelah
tanah digemburkan, tancapkan batang/bibit tersebut ke tanah yang telah digemburkan,
siram air bila perlu. Ingat, penanamannya tidak boleh terbalik mata tunasnya, mata
tunasnya harus menghadap keatas. Tanam dengan jarak 100 cm x 100 cm. Ini adalah
cara menanam singkong yang baik.
3. Perawatan Perawatan tanaman singkong memang cukup mudah, cukup bersihkan
tanaman hama yang tumbuh dan mengganggu disekelilingnya. Lakukan penyiraman
dengan teratur dan berikan pupuk yang cukup. Pemupukan bisa dilakukan 2 kali yaitu
pada umur empat hari dengan pupuk NPK sebanyak 200 kg/ha, pemupukan yang kedua
adalah setelah berumur 3 bulan dengan NPK dengan jumlag 300 kg/ha.
4. Pemanenan Singkong berada pada akarnya. Pemanenan dilakukan setelah sekitar
pohon singkong berumur 8 10 bulan. Untuk konsumsi sanda bisa memanennya sekitar
8 9 bulan tetapi untuk industri diambil tepungnya sebaiknya pemanenen sekitar umur
10 bulan. Cara memanennya adalah dengan memangkas batangnya terlebih dahulu
dengan menyisakan 15 cm untuk pegangan mencabutnya.
Anda dapat menggali dengan linggis dan tangan, hindari mengguanakan cangkul karena dapat
melukai kulit singkong. Cara menanam singkong memanglah sederhana, setiap batang yang
ditancapkan ke tanah biasanya langsung akan tumbuh setelah beberapa hari. Akan tetapi cara
menanam singkong yang benar akan membuahkan hasil yang optimal.















Tips cara menanam singkong yang benar




Pernahkah anda menanam singkong? Apakah singkong mempunyai nilai ekonomis yang
tinggi?. Pertanyaan yang penuh polemik karena tanaman yang satu ini hanya dilirik sebelah
mata oleh petani padahal kandungan gizinya tinggi dan kalau sudah diolah
menjadi makanan cemilan akan mendatangkan penghasilan yang mengiurkan dan
omsetnya pun bisa milyaran lho.

Dalam jumpa kali ini saya akan coba memberikan tips cara menanam singkong yang benar.
Dengan persiapan dan pengetahuan yang baik mengenai cara menanam singkong yang
benar, ditambah dengan ketekunan serta kesabaran Anda dalam merawatnya, tidak
mustahil bahwa hasil yang akan Anda peroleh nantinya akan maksimal dan memuaskan
Anda.

Jadi, apa saja yang perlu Anda persiapkan dan lakukan sebelum menanam singkong agar
hasilnya berlimpah dan maksimal?. Mau tahu cara budidaya singkong gajah asal Kaltim?

Berikut Tips dan Cara menanam singkong YANG BENAR
1. Siapkan Lahan tempat Menanam Singkong
Singkong membutuhkan tanah yang gembur dan subur agar umbi yang dihasilkan bisa
maksimal ukurannya selain kualitasnya, untuk itu sebelum Anda menanamnya, tanah
tempat Anda menanam harus dicangkul terlebih dahulu. Anda dapat menggunakan teknik
gundukan tanah memanjang seperti ketika Anda menanam cabai. Letakkan sampah daun
yang nantinya akan berfungsi sebagai pupuk alami di dalam gundukan tanah yang Anda
buat tadi. Jangan lupa membuat jalan air antara gundukan yang satu dengan lain agar
tanah gundukan untuk menanam singkong tadi tidak terendam air.

2. Siapkan Bibitnya dan Tanam
Setelah tanah atau lahannya sudah siap, Anda dapat mulai memilih bibit singkong terbaik
dan menanamnya. Beri jarak antar bibit kurang lebih 7 hingga 10cm agar tidak terlalu
rapat. Perhatikan waktu Anda menanamnya supaya tidak terbalik, ujung bawah yang
ditanam ke dalam tanah adalah bagian bibit yang tua.

3. Perawatan Tanaman Singkong
Merawat singkong yang sudah Anda tanam tadi akan kita bagi menjadi 3 seperti di bawah
ini:

# Merawat Tunas
Setelah beberapa waktu, akan mulai tumbuh tunas dari bibit yang Anda tanam. Anda harus
menyingkirkan semua rumput yang tumbuh selama tunas muncul agar tanaman Anda tidak
kekurangan unsur hara yang merupakan makanannya karena diambil oleh rumput yang
tumbuh di sekitarnya.

# Mengairi Tanaman
Anda harus menjaga agar bibit yang Anda tanam tidak kekurangan air, tetapi usahakan
agar tanaman Anda tidak terendam hingga basah.

# Memberi Pupuk

Berikan pupuk kandang Anda bisa membeli atau membuatnya sendiri dari ternak yang
Anda miliki jika Anda memang petani yang memiliki ternak. Pupuk kandang ini berguna
untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman singkong Anda terutama daunnya.






P A N E N
#Ciri dan Umur Panen
Ketela pohon dapat dipanen pada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang. Warna
daun mulai menguning dan banyak yang rontok. Umur panen tanaman ketela pohon telah
mencapai 68 bulan untuk varietas Genjah dan 912 bulan untuk varietas Dalam.

#Cara Panen
Ketela pohon dipanen dengan cara mencabut batangnya dan umbi yang tertinggal diambil
dengan cangkul atau garpu tanah.
PASCA PANEN
#Pengumpulan
Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh
angkutan.

#Penyortiran dan Penggolongan
Pemilihan atau penyortiran umbi ketela pohon sebenarnya dapat dilakukan pada saat
pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran umbi ketela pohon dapat dilakukan
setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan
untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang
cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garis-garis pada
daging umbi.

#Penyimpanan
Cara penyimpanan hasil panen umbi ketela pohon dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a) Buat lubang di dalam tanah untuk tempat penyimpanan umbi segar
ketela pohon tersebut. Ukuran lubang disesuaikan dengan jumlah
umbi yang akan disimpan.
b) Alasi dasar lubang dengan jerami atau daun-daun, misalnya dengan
daun nangka atau daun ketela pohon itu sendiri.
c) Masukkan umbi ketela pohon secara tersusun dan teratur secara
berlapis kemudian masing-masing lapisan tutup dengan daun-
daunan segar tersebut di atas atau jerami.
d) Terakhir timbun lubang berisi umbi ketela pohon tersebut sampai
lubang permukaan tertutup berbentuk cembung, dan sistem
penyimpanan seperti ini cukup awet dan membuat umbi tetap segar
seperti aslinya.

#Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan umbi ketela pohon bertujuan untuk melindungi umbi dari kerusakan selama
dalam pengangkutan. Untuk pasaran antar kota/ dalam negeri dikemas dan dimasukkan
dalam karung-karung goni atau keranjang terbuat dari bambu agar tetap segar. Khusus
untuk pemasaran antar pulau maupun diekspor, biasanya umbi ketela pohon ini dikemas
dalam bentuk gaplek atau dijadikan tepung tapioka. Kemasan selanjutnya dapat disimpan
dalam karton ataupun plastik-plastik dalam perbagai ukuran, sesuai permintaan produsen.

Setelah dikemas umbi ketela pohon dalam bentuk segar maupun dalam bentuk gaplek
ataupun tapioka diangkut dengan alat trasportasi baik tradisional maupun modern ke pihak
konsumen, baik dalam maupun luar negeri

Gambaran Peluang Agribisnis
Di pasar Indonesia, produksi Ketela pohon rata-rata mencapai 8,24 ton/ha (data tahun
1969-1978). Tahun 1983-1991 rata-rata mencapai 11,43 ton/ha.

Peningkatan produksi umbi ketela pohon kurun waktu 1988-1992 terjadi karena adanya
peningkatan rata-rata hasil per hektar. Walaupun demikian, rata-rata produktivitas usaha
tani ketela pohon ditingkat petani (3 ton/ha) masih lebih rendah dibandingkan dengan
potensi hasilnya (6-10 ton/ha). Luas panen komoditas ketela pohon yang cenderung terus
menurun selama kurun waktu tersebut ternyata tidak berpengaruh terhadap produksi total.
Sementara itu, sekitar 58% dari total luas panen per tahun masih tersebar di Pulau Jawa.

Dari segi ekspor, selama periode 1990-1994 ekspor ketela pohon Indonesia mengalami
peningkatan yang cukup besar. Bila pada tahun 1990, ekspor ketela pohon adalah sebanyak
100 ton, maka pada tahun 1994 jumlah tersebut sudah menjadi 500 ton. Permintaan ketela
pohon dalam bentuk tapioka maupun gaplek pada tahun-tahun yang akan datang
diperkirakan akan terus meningkat. Hal ini merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk
usaha agribisnis ketela pohon. selamat mencoba
ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN
#Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya singkong seluas 1 hektar pola monokultur dalam satu musim
tanam (8 bulan), dengan jarak tanam 100 X 100 cm (populasi + 9.998 tanaman) untuk
daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah:

#Jumlah biaya produksi Rp. 3.652.500,-
#Biaya produksi
1.Sewa lahan per musim (lahan kering) Rp. 500.000,-

2.Bibit + 11.000 stek @ Rp 30,- Rp. 330.000,-

3.Pupuk
- Urea: 200 kg @ Rp 1.000,- Rp. 200.000,-
- TSP: 100 kg @ Rp 1.800,- Rp. 180.000,-
- KCl: 200 kg @ Rp 1.650,- Rp. 330.000,-

4.Pestisida: 2 kg (liter) @ Rp 50.000,- Rp. 100.000,-

5.Pajak dan peralatanRp. Rp 300.000,-

6.Tenaga kerja
- Pengolahan lahan 70 HKP @ Rp 10.000,- Rp. 700.000,-
- Penanaman 5 HKP + 10 HKW Rp. Rp 125.000,-
- Pemupukan 10 HKP +25 HKW Rp. Rp 287.500,-
- Penyiangan dan pembubunan 20 HKP + 20 HKWRp. Rp 350.000,-

7.Panen dan pasca panen Rp. 250.000,-

2) Pendapatan 30.000 kg @ Rp 125,- Rp. 4.500.000,-
3) Keuntungan Rp. 847.500,-
4) Parameter kelayakan usaha 1. Rasio Out/Input =1,232
Catatan : HKP (Hari Kerja Pria); HKW (Hari Kerja Wanita)

















Cara Budidaya singkong gajah

Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga memungkinkan bisa
menyerap (menahan) air dan sangat berguna bagi keperluan irigasi dan pengendalian
banjir. Sedangkan pertumbuhan batang, cabang dan daun mencapai tinggi 5 meter.
Tumbuhan ini mempunyai potensi tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian
keberadaan Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian ekosistem.


Lewat Cara budidaya singkong gajah ini, mudah mudahan ke depan dapat tercipta
lapangan usaha, seperti mendirikan UKM, pabrik tapioka. Bahkan, singkong gajah bisa
menjadi komoditi ekspor setelah diolah menjadi bio-etanol.

Melalui budidaya singkong gajah ini, mudah mudahan kedepan dapat tercipta lapangan
usaha, seperti mendirikan UKM, pabrik tapioka. Bahkan, singkong gajah bisa menjadi
komoditi ekspor setelah diolah menjadi bio-etanol. "SINGKONG GAJAH" merupakan varietas
"ASLI" Kalimantan Timur yang ditemukan oleh; PROF. DR. RISTONO, MS.
Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 - 9 bulan memiliki
rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa rasa ketan. Berbagai
jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain
berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang
memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.

Umbi umur 9 - 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai
bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol.
Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai
Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).

A. SYARAT TUMBUH SINGKONG GAJAH
1. IKLIM
# Untuk dapat berproduksi optimal, ubi kayu memerlukan curah hujan 150- 200 mmpada
umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100- 150 mm pada fase
menjelang dan saat panen (Wargiono, dkk., 2006).
# Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela pohon/singkong sekitar 10 derajat C. Bila
suhunya dibawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat,
menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
# Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon/singkong antara 60 " 65%.
# Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon/singkong sekitar 10 jam/hari
terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.

2. MEDIA TANAM
# Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon/singkong adalah tanah yang berstruktur
remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah
dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia
dan mudah diolah.

#Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon/singkong adalah jenis aluvial latosol,
podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.
#Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara
4,5 - 8,0 dengan pH ideal 5,8. pada umumnya tanah di Indonesia ber pH rendah
(asam), yaitu berkisar 4,0- 5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya
tanaman ketela pohon.

B. PEDOMAN BUDIDAYA
a) BIBIT
# Gunakan varietas unggul yang mempunyai potensi hasil tinggi, disukaikonsumen, dan
sesuai untuk daerah penanaman. Sebaiknya varietas unggul yang dibudidayakan memiliki
sifat toleran kekeringan, toleran lahan pH rendah dan/atau tinggi, toleran keracunan Al, dan
efektif memanfaatkan hara P yang terikat oleh Al dan Ca.
# Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).
# Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam
#Batang telah berkayu dan berdiameter 2,5 cm lurus.
# Belum tumbuh tunas-tunas baru

b) PENGOLAHAN MEDIA TANAM
a. Persiapan, kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah :
# Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan atau
cairan pH tester.
# Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk
mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.
# Penetapan jadwal/waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu
diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanaman lainnya (tumpang
sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman sejenis.
# Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela
pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat
dengan perkiraan harga saat panen dan pasar.

b. Pembukaan dan Pembersihan Lahan
Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma
(tumbuhan pengganggu) dan akar-akar tanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan
untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang
bagi hama dan penyakit yang mungkin ada.

c. Pembentukan Bedengan (Guludan)
Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau
pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang
dikehendaki. Pembentukan bedengan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan
tanaman, seperti permbersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.

d. Pengapuran (Bila diperlukan)
Untuk menaikan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat asam/tanah gambut,
perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan
(CaCO3). Dosis yang biasa digunakan adalah 1 " 2,5 ton/ hektar. Pengapuran diberikan
pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan
pemberian pupuk kandang.

C. TEKNIK PENANAMAN
Penentuan Pola Tanam Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada
lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah
penanaman padi. Jarak tanam yang digunakan pada pola monokultur adalah 80 x 120
cm. Cara Penanaman Sebelum bibit ditanam disarankan agar bibit direndam terlebih dahulu
dengan pupuk hayati MiG-6 Plus yang telah dicampur dengan air selama 3-4 jam.

Setelah itu baru dilakukan penanaman dilahan hal ini sangat bagus untuk pertumbuhan dari
bibit. Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon,
kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun
tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.

D. PEMELIHARAAN TANAMAN
Penyulaman
Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut
dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus
diganti atau disulam. Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak
terlalu panas.

Penyiangan Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/tanaman liar
pengganggu (gulma) yang hidup disekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal
dilakukan 2 kali penyiangan. Periode kritis atau periode tanaman harus bebas gangguan
gulma adalah antara 5-10 minggu setelah tanam.

Bila pengendalian gulma tidak dilakukan selama periode kritis tersebut, produktivitas dapat
turun sampai 75% dibandingkan kondisi bebas gulma. Pembubunan Cara pembubunan
dilakukan dengan menggemburkan tanah disekitar tanaman dan setelah dibuat seperti
gundukan. Waktu pembubunan bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat
menghemat biaya.

Apabila tanah sekitar tanaman ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman
sehingga perlu dilakukan pembubunan/ditutup dengan tanah agar akan tidak kelihatan.
Perempelan/Pemangkasan Pada tanaman ketela pohon perlu dilakukan
pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2
atau 3, hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi dimusim tanam
mendatang.

E. PEMUPUKAN
Pemupukan Secara Konvensional/Kebiasaan Petani Pemupukan dilakukan dengan system
pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea : 135 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan
KCL : 135 kg. pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K = 1/3 : 1: 1/3
atau Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg (sebagai pupuk dasar) dan pada saat
tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K = 2/3:0:2/3 atau Urea : 85
kg dan KCL : 85 kg.

Pemupukan dengan Sistem Teknologi MiG-6 Plus Sistem pemupukan menggunakan
teknologi MiG-6 Plus , dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia/anorganik sampai dengan
50%, adapun cara pemupukannya adalah sebagai berikut : Disarankan saat pengolahan
lahan diberikan pupuk kandang pada setiap lubang yang akan ditanami bibit.

Kebutuhan 5ton/ha. 3 hari sebelum tanam diberikan 2 liter MiG-6 Plus per hektar dengan
campuran setiap 1 liter MiG-6 Plus dicampur/dilarutkan dengan air max 200 liter atau 1
tutup botol (10 ml) dicampur/dilarutkan dengan air sebanyak 2 liter (jumlah air tidak harus
200 liter boleh kurang asal cukup untuk 1 hektar) disemprotkan pada lahan secara merata
disarankan disemprotkan pada pupuk kandang/kompos agar fungsi dari pupuk
kandang/kompos lebih maksimal.

Setelah 3 hari bibit/stek siap ditanam. 5 hari setelah tanam berikan campuran pupuk NPK
dengan dosis Urea : 50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg pada lahan 1 hektar, 1 pohon
diberikan campuran sebanyak 22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari
tanaman dengan kedalaman 10cm.

Pemberian MiG-6 Plus selanjutnya pada saat tanaman singkong berumur 2 bulan :2 liter,
umur 4 bulan : 2 liter, umur 6 bulan : 2 liter dan 8 bulan : 2 liter. Pemberian pupuk
anorganik selanjutnya pada umur tanaman 60-90 hari berupa campuran pupuk N:P:K
dengan dosis Urea : 85 kg, dan KCL : 85 kg. Asumsi bila 1 hektar lahan ditanam 7.500
pohon berarti 1 pohon diberikan sebanyak 22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak
15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10cm.

F. PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN
Kondisi lahan ketela pohon dari awal tanam sampai umur 4-5 bulan hendaknya selalu
dalam keadaan lembab tapi tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan
penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat
musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah.
System yang baik digunakan adalah system genangan sehingga air dapat sampai kedaerah
perakaran secara resapan. Pengairan dengan system genangan dapat dilakukan dua minggu
sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.

G. WAKTU PENYEMPROTAN PESTISIDA / INSEKTISIDA
Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida
paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis
pestisida disesuaikan dengan serangan hama/penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis
pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan
ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena
serangga yang menguntungkan dapat ikut mati. Semoga bermanfaat







Cara membuat benih/bibit tanaman kehutanan yang baik dan benar

Assalamu`alaikum Wr. Wb.
Saudara saudara para Petani Indonesia dimana saja berada, kali ini saya akan mencoba
memaparkan artikel tentang tata cara membuat atau menanam benih/bibit tanaman kehutanan yang
baik dan benar, maksudnya ialah untuk mendapatkan bibit tanaman yang berkualitas agar saudara
sekalian dapat memperoleh hasil panen yang maksimal

Adapun beberapa tahapan yang harus dilalui dalam proses pengadaan bibit meliputi :

a. Seleksi Benih
Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh benih yang berkualitas tinggi. Benih yang bermutu baik
memiliki beberapa karakteristik antara lain : (1) Berdaya kecambah tinggi (di atas 70%), (2) Persen
kemurnian tinggi, dan (3) Bersertifikat (teruji dan diketahui asal benih dan lain sebagainya).

b. Perlakuan Benih
Kegiatan ini dilakukan untuk memacu benih agar mampu berkecambah dalam waktu cepat tanpa
merusak dan menurunkan kualitas bibit serta terbebas dari hama dan penyakit. Jenis perlakuan yang
akan diaplikasikan untuk jenis tanaman keras, secara sederhana dan praktis yakni menyiram benih
dengan air dan membersihkan benih tersebut dari kotoran.

c. Persiapan Media Sapih
Media sapai merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam pengecambahan
benih, karena keberadaan media ini ikut berperan dalam menentukan tingkat kelembaban dan
besarnya suplai oksigen di sekitar benih, dalam mempercepat proses pecahnya kulit biji, yang
selanjutnya diikuti oleh terjadinya pengecambahan. Selain itu media juga merupakan faktor eksternal
yang berperan sebagai penentu kesehatan bibit, sehingga melalui treatmen media yang baik, seperti
perlakuan sterilisasi yang tepat terhadap media semai sebelum digunakan, akan mampu mencegah
dan menekan munculnya jamur perusak/pembusuk akar . Adapun jenis media yang akan digunakan
dalam tahap penyemaian ini adalah pasir atau campuran tanah, sekam dan kompos (perbandingan 2 :
1 : 2 ) yang telah disterilkan.

Penyemaian (Penaburan Benih)
Kegiatan penyemaian dilakukan segera setelah benih mendapatkan perlakuan yang tepat pada media
semai yang telah disiapkan. Untuk mempercepatkan proses pengecambahan benih beberapa
perlakukan yang harus diaplikasikan antara lain : (1) Penyiraman yang cukup dan terkontrol, agar
kelembaban di sekitar benih dapat dipertahankan, (2) Memberikan cahaya yang cukup, agar proses
etiolasi dapat dihindari dan (3) Aerasi cukup, agar suplai oksigen disekitar benih tersedia dengan
baik.

d. Persiapan Media Sapih
Media sapih merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap keberhasilan dalam
pengadaan bibit, karena peran media ini disamping sebagai penopang tegaknya bibit, juga sebagai
penentu tingkat kelembaban, suplai oksigen dan ketersediaan nutrisi (unsur hara) di sekitar perakaran
bibit. Adapun jenis media semai yang akan digunakan dalam pengadaan bibit ini antara lain : tanah
topsoil, kompos, sekam padi (perbandingan 2 : 1 : 1 ).

e. Penyapihan Bibit
Kegiatan penyapihan dilakukan segera setelah benih berkecambah, kelopak biji telah terlepas dan
telah keluar akar lateralnya (umur bibit kurang lebih telah 2-3 minggu setelah kecambah).

f. Pembuatan Bedeng Sapih
Bedeng sapih adalah areal khusus yang dipergunakan sebagai tempat untuk menaruh dan menyimpan
bibit setelah disapih. Pada umumnya Ukuran bedeng sapih 5 meter persegi (lebar 1 meter dan
panjang 5 meter). Beberapa perlakuan yang harus diberikan terhadap bibit selama berada dalam
bedeng sapih, antara lain : penyiraman, pemupukan penyiangan dan pemberantasan hama penyakit.

g. Pemeliharaan
Beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam kegiatan pemeliharaan, antara lain : penyiraman,
pemupukan, penyiangan atau penggulmaan, pemberantasan hama penyakit dan lain-lain.

h. Pemanenan dan Seleksi Bibit
Kondisi ini dimaksudkan agar bibit memiliki daya adaptasi yang tinggi setelah ditanam di lapangan.
Selain itu sebelum bibit didistribusikan ke lapangan terlebih dahulu dilakukan penyeleksian untuk
memperoleh bibit yang baik, antara lain : (1) tinggi minimal 25 cm, (2) media kompak, (3) batang
berkayu dan tunggal, (4) tajuk sehat dan lain sebagainya.

Nah itulah yang bisa saya sampaikan tentang tata cara pengadaan bibit pohon dan cara
pemeliharaannya,
semoga bermanfaat


Cara lengkap budidaya singkong
Cara lengkap budidaya singkong
Cara lengkap budidaya singkong - Sejarahnya, tanaman ini sudah begitu banyak
menyelamatkan para pendahulu kita yang waktu itu begitu kesusahan akan makanan meskipun
saat ini mungkin masih ada juga. Pada beberapa tempat tanaman ini dapat diolah dan akhirnya
menjadi makanan pokok dalam kesehariannya. Sebut saja makanan yang bernama tiwul.
Mengingat saat ini peluang pasar yang begitu tinggi, apalagi mereka para pengusaha yang begitu
inovatif dan kreatif maka tidak ada salahnya kita belajar bagaimana cara budidaya tanaman
singkong ini.
Syarat Tumbuh
Tanaman ini tumbuh optimal pada ketinggian antara 10-700m dpl. Tanah yang sesuai adalah
tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak liat juga tidak poros. Selain itu kaya akan unsure
hara. Jenis tanah yang sesuai adalah tanah alluvial, latosol, podsolik merah kuning, mediteran,
grumosol dan andosol. Sementara itu pH yang dibutuhkan antara 4,5-8, dan untuk pH idealnya
adalah 5,8.
Curah hujan yang yang diperlukan antara 1.500 2500 mm/tahun. Kelembaban udara optimal
untuuk tanaman antara 60%-65%. Suhu udara minimal 10C. Kebutuhan akan sinar matahari
sekitar 10 jam tiap hari. Hidup tanpa naungan.
Persiapan bibit
Ubu kayu paling mudah untuk diperbanyak. Cara yang lazim digunakan adalah perbanyakan
dengan cara setek batang dari batang panenan sebelumnya. Setek yang baik diambil dari batang
bagian tengah tanaman agar matanya tidak terlalu tua maupun tidak terlalu tua. Batang yang baik
berdiameter 2-3 cm. Pemotongan batang stek dapat dilakukan dengan menggunakan pisau atau
sabit yang tajam dan steril. Jangan memakai gergaji untuk memotongnya karena gesekan gergaji
akan menimbulkan panas yang akan merusak bagian pangkal dari batang. Potongan batang untuk
setek yang baik adala 3-4 ruas mata atau 15-20 cm. Bagian bawah dari batang stek dipotong
miring dengan maksud untuk menambah dan memperluas daerah perakaran.

Cara lengkap budidaya singkong
Persiapan lahan
Untuk menanam ubi kayu ini tidak begitu sulit. Untuk daerah yang mempunyai curah hujan
cukup tinggi ataupun terlalu banyak air, penanaman dilakukan dalam sebuah guludan atau
bedeng. Selain itu, dengan menggunakan guludan memudahkan kita dalam pemanenan.
Untuk daerah yang mempunyai curah hujan sedikit atau kering, penanaman tidak perlu dilakukan
dengan membuat guludan. Penanaman dapat dilakukan pada tanah yang rata. Tanah di cangkul
dan di remahkan kemudian diratakan dan pengguludan dapat dilakukan setelah tanaman berumur
2-3 bulan setelah tanam. Pada saat perataan dapat pula disebarkan pupuk kandang atau kompos
untuk penambahan unsure hara. Pengolahan tanah yang sempurna diikuti dengan pembuatan
guludan yang dibuat searah dengan kontur tanah sebagai upaya pengendalian erosi. Selain itu
dengan pembuatan guludan juga dapat memaksimalkan hasil dibandingkan dengan system tanpa
olah tanah setelah tanam.



Penanaman.
Waktu penanaman yang baik dilakukan pada awal musim kering atau kemarau dengan maksud
untuk hasil penanaman dapat dipanen pada awal musim hujan.
Batang yang telah dipotong tadi kemudian ditanamkan dalam tanah. Jangan sampai terbalik,
tanda yang dapat kita lihat dari arah mata dari tiap ruas batang yang disetek. Arah mata menuju
ke atas dibawahnya bekas tangkai daun.
Batang setek di tanam agak miring dengan kedalaman 8-12 cm. Pada lahan tanaman yang subur
dapat digunakan populasi tanaman 10.000 batang/ha dan untuk lahan yang kurang begitu subur
dapat digunakan populasi 14.500 batang/ha. Jarak tanam dengan system monokultur adalah 100
x 50 cm. Untuk system tumpang sari, penanaman dapat menyesuaikan dengan lahan dan
tanaman lainnya.
Pemeliharaan
Tanaman ini termasuk tanaman yang dapat mandiri sehingga, tanaman ini menjadi mudah dalam
pemeliharaanya.
Penyulaman dapat kita lakukan 2-3 minggu setelah tanam. Bibit penyulaman seharusnya sudah
disediakan ketika pengadaan bibit tanaman yang dapat pula ditanam pada pinggir lahan
pertanaman. Hal ini untuk membuat tanaman ini seragam dalam pemanennya.
Agar tanaman dapat tumbuh baik dan optimal dilakukan dengan pengurangan mata tunas saat
awal tunas itu muncul atau 1-1,5 bulan setelah tanam. Sisakan maksimal 2 tunas yang paling
baik dan sehat dalam satu tanaman.
Penyiangan dilakukan pada umur 2-3 bulan setelah tanam dan menjelang panen. Hal ini
dimaksudkan untuk memudahkan pemanenan serta mencegah kehilangan hasil panen selain
mengendalikan populasi gulma yang tumbuh. Selain itu saat penyiangan dilakukan dengan
membumbuni batang tanaman sehingga dapat menjadi guludan.
Hama dan penyakit
Hama yang sering menyerang tanaman ini biasanya adalah hama tungau merah (Tetranus
urticae) dan serangan bakteri layu (Xanthomonas campestis) serta penyakit Hawar Daun
(Cassava Bacterial Bligh / CBB)
Panen.
Kriteria ubi kayu yang optimal adalah pada saaat kadar pati optimal. Yakni ketika tanaman itu
berumur 6-9 bulan apabila untuk konsumsi. Untuk pembuatan produk seperti tepung sebaiknya
ubi kayu dipanen pada umur lebih dari 10 bulan, dan itu juga tergantung akan varietas yang
ditanam. Ciri saat panen adalah warna daun menguning dan banya yang rontok.
Cara pemanenan dilakukan dengan membuat atau memangkas batang ubi kayu terlebih dahulu
dengan tetap meninggalkan batang sekitar 15 cm untuk mempermudah pencabutan. Batang
dicabut dengan tangan atau alat pengungkit dari batang kayu atau linggis. Hindari pemakaian
cangkul, karena permukaannya yang lebar yang tanpa disadari dapat memotong ubi.
Umbi yang baik setelah panen hanya berumu 1-3 hari tergantung penyimpanan. Setelah itu umbi
sudah melakukan banyak perombakan kalori. Bahkan, kadang umbi berwarna kebiruan apabila
kandungan HCNnya tinggi. Dan munculnya warna ini sangat mempengaruhi kualitas tepung.
Demikan artikel singkat cara lengkap budidaya singkong. Semoga bermanfaat.
Artikel yang terkait cara lengkap budidaya singkong : budidaya singkong raksasa, budidaya
singkong darul hidayah, budidaya singkong gajah, budidaya singkong di lampung, budidaya
singkong racun, budidaya singkong unggul, pupuk singkong, cara lengkap budidaya singkong,
cara menanam singkong


cara menanam singkog yang benar
SYARAT PERTUMBUHAN
1. IKLIM
Untuk dapat berproduksi optimal, ubikayu memerlukan curah hujan 150- 200 mmpada
umur 1-3 bulan, 250-300 mm pada umur 4-7 bulan, dan 100- 150 mm pada fase
menjelang dan saat panen (Wargiono, dkk., 2006).
Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela pohon/singkong sekitar 10 derajat C. Bila
suhunya dibawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat,
menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.
Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon/singkong antara 60 65%.
Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon / singkong sekitar 10 jam /
hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.
2. MEDIA TANAM
Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon / singkong adalah tanah yang berstruktur
remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah
dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia
dan mudah diolah.
Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon / singkong adalah jenis aluvial
latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.
Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara
4,5 8,0 dengan pH ideal 5,8. pada umumnya tanah di Indonesia ber pH rendah (asam),
yaitu berkisar 4,0- 5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman
ketela pohon.
B. PEDOMAN BUDIDAYA
a) BIBIT
Gunakan varietas unggul yang mempunyai potensi hasil tinggi, disukaikonsumen, dan
sesuai untuk daerah penanaman. Sebaiknya varietas unggul yang dibudidayakan memiliki
sifat toleran kekeringan, toleran lahan pH rendah dan/atau tinggi, toleran keracunan Al,
dan efektif memanfaatkan hara P yang terikat oleh Al dan Ca.
Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).
Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam
Batang telah berkayu dan berdiameter 2,5 cm lurus.
Belum tumbuh tunas-tunas baru



b) PENGOLAHAN MEDIA TANAM
a. Persiapan, kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah :
Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan atau
cairan pH tester.
Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk
mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.
Penetapan jadwal / waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu
diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanaman lainnya
(tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman sejenis.
Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela
pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat
dengan perkiraan harga saat panen dan pasar.


b. Pembukaan dan Pembersihan Lahan
Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma
(tumbuhan pengganggu) dan akar-akar tanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk
memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama
dan penyakit yang mungkin ada.
c. Pembentukan Bedengan (Guludan)
Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan
dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.
Pembentukan bedengan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti
permbersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.
d. Pengapuran (Bila diperlukan)
Untuk menaikan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat asam / tanah gambut, perlu
dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis
yang biasa digunakan adalah 1 2,5 ton / hektar. Pengapuran diberikan pada waktu
pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk
kandang.
C. TEKNIK PENANAMAN
Penentuan Pola Tanam Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan
tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman
padi. Jarak tanam yang digunakan pada pola monokultur adalah 80 x 120 cm.
Cara Penanaman Sebelum bibit ditanam disarankan agar bibit direndam terlebih dahulu dengan
pupuk hayati MiG-6 Plus yang telah dicampur dengan air selama 3-4 jam. Setelah itu baru
dilakukan penanaman dilahan hal ini sangat bagus untuk pertumbuhan dari bibit.
Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon, kemudian
tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila
tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.
D. PEMELIHARAAN TANAMAN
Penyulaman
Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut dan
diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau
disulam. Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas.
Penyiangan Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/tanaman liar./
pengganggu (gulma) yang hidup disekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal
dilakukan 2 kali penyiangan. Periode kritis atau periode tanaman harus bebas gangguan gulma
adalah antara 5-10 minggu setelah tanam. Bila pengendalian gulma tidak dilakukan selama
periode kritis tersebut, produktivitas dapat turun sampai 75% dibandingkan kondisi bebas gulma.
Pembubunan Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah disekitar tanaman dan
setelah dibuat seperti gundukan. Waktu pembubunan bersamaan dengan waktu penyiangan, hal
ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman ketela pohon terkikis karena hujan
atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan /ditutup dengan tanah agar akan
tidak kelihatan. Perempelan / Pemangkasan Pada tanaman ketela pohon perlu dilakukan
pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau
3, hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi dimusim tanam
mendatang. .


E. PEMUPUKAN
Pemupukan Secara Konvensional / Kebiasaan Petani Pemupukan dilakukan dengan system
pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea : 135 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL :
135 kg. pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K = 1/3 : 1: 1/3 atau Urea :
50 kg, TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg (sebagai pupuk dasar) dan pada saat tanaman berumur
2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K = 2/3:0:2/3 atau Urea : 85 kg dan KCL : 85 kg.
Pemupukan dengan Sistem Teknologi MiG-6 Plus Sistem pemupukan menggunakan teknologi
MiG-6 Plus , dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia/anorganik sampai dengan 50%, adapun
cara pemupukannya adalah sebagai berikut : Disarankan saat pengolahan lahan diberikan pupuk
kandang pada setiap lubang yang akan ditanami bibit. Kebutuhan 5ton/ha. 3 hari sebelum tanam
diberikan 2 liter MiG-6 Plus per hektar dengan campuran setiap 1 liter MiG-6 Plus
dicampur/dilarutkan dengan air max 200 liter atau 1 tutup botol (10 ml) dicampur/dilarutkan
dengan air sebanyak 2 liter (jumlah air tidak harus 200 liter boleh kurang asal cukup untuk 1
hektar) disemprotkan pada lahan secara merata disarankan disemprotkan pada pupuk
kandang/kompos agar fungsi dari pupuk kandang/kompos lebih maksimal. Setelah 3 hari bibit /
stek siap ditanam. 5 hari setelah tanam berikan campuran pupuk NPK dengan dosis Urea : 50 kg,
TSP/SP36 : 75 kg dan KCL : 50 kg pada lahan 1 hektar, 1 pohon diberikan campuran sebanyak
22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10cm.
Pemberian MiG-6 Plus selanjutnya pada saat tanaman singkong berumur 2 bulan :2 liter, umur 4
bulan : 2 liter, umur 6 bulan : 2 liter dan 8 bulan : 2 liter. Pemberian pupuk anorganik selanjutnya
pada umur tanaman 60-90 hari berupa campuran pupuk N:P:K dengan dosis Urea : 85 kg, dan
KCL : 85 kg. Asumsi bila 1 hektar lahan ditanam 7.500 pohon berarti 1 pohon diberikan
sebanyak 22,5 gram dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan
kedalaman 10cm.
F. PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN
Kondisi lahan ketela pohon dari awal tanam sampai umur 4-5 bulan hendaknya selalu dalam
keadaan lembab tapi tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan
pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan
cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. System yang baik digunakan
adalah system genangan sehingga air dapat sampai kedaerah perakaran secara resapan. Pengairan
dengan system genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan
berdasarkan kebutuhan.
G. WAKTU PENYEMPROTAN PESTISIDA / INSEKTISIDA
Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling
baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida
disesuaikan dengan serangan hama/penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label
merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis
pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang
menguntungkan dapat ikut mati.