Anda di halaman 1dari 5

TUGAS :FI SI KA KUANTUM

SEJARAH FISIKA KUANTUM








OLEH
NAMA : SRI RAHAYU
NI M : 1303408024



FAKULTAS SAINS
UNIVERSITAS COKROAMINOTO PALOPO
TAHUN AJARAN
2014_2015
SEJARAH FISIKA KUANTUM PADA TAHUN 1901-SEKARANG
Max Planck (1858-1947) adalah ilmuwan fisika teori Jerman, yang
mencetuskan gagasan awal tentang teori kuantum. Ini lahir dari upayanya untuk
menjelaskan teka-teki fisika yang berkaitan dengan pancaran tenaga (energi)
gelombang elektromagnet oleh benda (hitam) panas. Pemecahannya ia temukan
pada 1901 dengan anggapan bahwa tenaga gelombang elektromagnet
dipancarkan dan diserap bahan dalam bentuk catu-catu tenaga (diskrit) yang
sebanding dengan frekuensi gelombang elektromagnetik.
Catu tenaga ini disebutnya kuanta (latin: sekian banyak: kuantum, bentuk
tunggalnya). Dengan demikian, tahun 1901 dicatat sebagai awal bergilirnya bola
teori kuantum. Namun, para fisikawan seangkatannya memandang gagasan
Planck ini tidak mempunyai makna fisika yang jauh melainkan sekadar
sebagai suatu kiat matematika belaka.
Empat tahun kemudian, pemuda Albert Einstein (1879-1955) mencatat
dirinya sebagai orang pertama yang menerapkan gagasan Planck lebih jauh dalam
fisika. Salah satunya, berkaitan dengan efek fotolistrik, yaitu teka-teki
terbebaskannya elektron-elektron dari permukaan logam bila disinari cahaya
(gelombang elektromagnet).
Penjelasannya, karena elektron-elektron itu ditumbuk dan ditendang keluar oleh
kuanta-kuanta cahaya yang berperilaku sebagai partikel (zarah). Kuanta cahaya ini
disebut Einstein, foton. Dengan demikian, cahaya (gelombang elektromagnet)
yang mulanya dipandang sebagai gelombang, kini diperlakukan pula sebagai
partikeloleh Einstein. Bahwa foton menumbuk elektron, seperti halnya
tumbukan dua bola bilyard, kemudian dibuktikan dengan percobaan oleh Arthur
H. Compton (1892-1962) dari Amerika Serikat pada 1923, yang mengabadikan
namanya dengan peristiwa itu.

Gelombang partikel
Gagasan foton Einstein kemudian diterapkan Louis de Broglie pada 1922,
sebelum Compton membuktikannya, untuk menurunkan Hukum Wien (1896). Ini
menyatakan bahwa bagian tenaga elektromagnet yang paling banyak
dipancarkan benda (hitam) panas adalah yang frekuensinya sekitar 100 milyar kali
suhu mutlak (273 + suhu Celsius) benda itu. Pekerjaan ini ternyata memberi
dampak yang berkesan bagi de Broglie. Pada musim panas 1923, de Broglie
menyatakan, secara tiba-tiba muncul gagasan untuk memperluas perilaku
rangkap (dual) cahaya mencangkup pula alam partikel. Ia kemudian
memberanikan diri dengan mengemukakan bahwa partikel, seperti elektron juga
berperilaku sebagai gelombang. Gagasannya ini ia tuangkan dalam tiga makalah
ringkas yang diterbitkan pada 1924; salah satunya dalam jurnal vak fisika
Perancis, Comptes Rendus.
Penyajiannya secara terinci dan lebih luas kemudian menjadi bahan tesis
doktoralnya yang ia pertahankan pada November 1924 di Sorbonne, Paris. Tesis
ini berangkat dari dua persamaan yang telah dirumuskan Einstein untuk foton,
E=hf dan p=h/. Dalam kedua persamaan ini, perilaku yang berkaitan dengan
partikel (energi E dan momentum p) muncul di ruas kiri, sedangkan ruas kanan
dengan gelombang (frekuensi f dan panjang gelombang , baca: lambda). Besaran
h adalah tetapan alam yang ditemukan Planck, tetapan Planck.
Secara tegas, de Broglie mengatakan bahwa hubungan di atas juga berlaku untuk
partikel. Ini merupakan maklumat teori yang melahirkan gelombang partikel atau
de Broglie. Untuk partikel, seperti elektron, momentum p adalah hasilkali massa
(sebanding dengan berat) dan lajunya. Karena itu, panjang gelombang de Broglie
berbanding terbalik dengan massa dan laju partikel. Sebagai contoh, elektron
dengan laju 100 cm per detik, panjang gelombangnya sekitar 0,7 mm.

Tantangan
Tesis ini kemudian diterbitkan pada awal 1925 dalam jurnal vak fisika
Perancis, Annales de Physique. Namun, luput dari perhatian para fisikawan.
Bahkan, para penguji de Broglie hanya terkesan dengan penalaran matematikanya
tetapi tidak mempercayai segi fisikanya. Promotornya, Paul Langevin (1872-
1946), kemudian mengirimkan satu kopi kepada Einstein di Berlin, yang ternyata
memberi rekasi mendukung. Ia memandangnya lebih daripada permainan
matematika dengan menekankan bahwa gelombang partikel haruslah nyata. Berita
ini kemudian ia teruskan kepada Max Born (1882-1970), fisikawan teori Jerman,
di Gottingen. Born kemudian menanyakan kemungkinan eksperimentalnya
kepada James Franck (1882-1964), rekan sekerjanya, yang memberi tanggapan
mendukung dengan menunjuk pada teka-teki hasil percobaan Clinton J. Davisson
(1881-1958) dan asistennya Charles H. Kunsman dari Amerika Serikat pada 1922
dan 1923. Keduanya mengamati bahwa permukaan logam yang ditembaki dengan
berkas elektron selain memancarkan kembali elektron-elektron dengan tenaga
yang sangat rendah, ternyata ada pula yang memiliki tenaga sama dengan elektron
semula.
Teka-teki ini kemudian terjelaskan oleh Walter Elsaser, mahasiswa Born, pada
tahun 1925 dalam sebuah makalah ringkas dengan menggunakan gagasan
gelombang de Broglie. Namun sayang, para fisikawan eksperimen tidak terkesan
dengan tafsir ulang ini terhadap data percobaan mereka apalagi oleh seorang
mahasiswa berusia 21 tahun yang sama sekali belum dikenal.

Dukungan dan hadiah Nobel
Pada tahun 1926 barulah nampak suatu terang! Erwin Schrodinger (1887-
1961), fisikawan teori Austria, merumuskan suatu persamaan matematika yang
mengendalikan kelakuan rambatan gelombang partikel dalam berbagai sistem
fisika. Ini sama halnya dengan persamaan gerak Newton dalam mekanika Newton
(klasik) yang mengendalikan kelakuan gerak partikel.
Karya Schrodinger ini melahirkan mekanika baru yang dikenal sebagai mekanika
gelombang atau lazimnya disebut mekanika kuantum. Penerapannya pada struktur
atom berhasil menjelaskan berbagai data pengamatan dengan begitu
mengesankan, tanpa dipaksa, sehingga menyentakkan para fisikawan untuk
menerima gagasan de Broglie.

Fisika Modern
Fisika modern merupakan salah satu bagian dari ilmu Fisika yang
mempelajari perilaku materi dan energi pada skala atomik dan partikel-partikel
subatomik atau gelombang. Pada prinsipnya sama seperti dalam fisika klasik,
namun materi yang dibahas dalam fisika modern adalah skala atomik atau
subatomik dan partikel bergerak dalam kecepatan tinggi. Untuk partikel yang
bergerak dengan kecepatan mendekati atau sama dengan kecepatan cahaya,
perilakunya dibahas secara terpisah dalam teori relativitas khusus.
Ilmu Fisika Modern dikembangkan pada awal abad 20, dimana perumusan-
perumusan dalam Fisika Klasik tidak lagi mampu menjelaskan
fenomenafenomena yang terjadi pada materi yang sangat kecil. Fisika Modern
diawali oleh hipotesa Planck yang menyatakan bahwa besaran energi suatu benda
yang beosilasi (osilator) tidak lagi bersifat kontinu, namun bersifat diskrit
(kuanta), sehingga muncullah istilah Fisika Kuantum dan ditemukannya konsep
dualisme partikel-gelombang. Konsep dualisme dan besaran kuanta ini merupakan
dasar dari Fisika Modern. Dalam makalah ini dibahas konsep, hipotesa dan
eksperimen yang menjadikan landasan pengembangan fisika modern serta
penerapan fisika modern, dalam berbagai bidang seperti kedokteran, telekomikasi,
dan industri.