Anda di halaman 1dari 24

1

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kebisingan di industri adalah semua bunyi yang tidak dikehendaki dan
mengganggu bagi para pekerja di area industri tersebut. Kebisingan industri
dapat disebabkan mesin yang beroperasi, dan kendaraan yang berlalu di area
tersebut. Pada kondisi normal,bunyi bising bersifat mengganggu dan perlu
dicari solusinya.
Kebisingan di industri menurut Keputusan Keputusan Menteri Tenaga
Kerja Nomor Kep-51/MEN/1999 terdapat beberapa kategori. Kategori ini
dibedakan atas waktu paparan kebisingan yang diterima oleh pekerja di area
industri. Semakin tinggi paparan kebisingan yang diterima, maka waktu yang
diijinkan untuk menerimanya semakin sebentar, dimulai dengan 85 dBA
dengan waktu maksimal paparan delapan jam, sampai 118 dBA dangan waktu
maksimal paparan 14,06 detik.
National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) pada
tahun 1980 mengidentifikasi gangguan pendengaran akibat bising sebagai satu
dari sepuluh penyakit akibat kerja (PAK) terbanyak. Sedangkan pada tahun
1990, NIOSH mengelompokkan gangguan pendengaran ini sebagai salah satu
dari delapan penyakit akibat kerja yang kritis. Sementar menurut
Occupational Safety and Health Administration (OSHA), setiap tahun ada
sekitar 30 juta orang di Amerika Serikat yang terpajan kebisingan yang
membahayakan.
Pabrik Gula Semboro (PG Semboro), Jember merupakan salah satu
perusahaan yang bergerak dalam perkebunan tebu pada budidaya lahan kering
dan industri gula. Dalam menunjang proses produksi guna memenuhi tuntutan
peningkatan produktivitas dan penurunan tenaga kerja baik di sektor pertanian
maupun di sektor industri, maka PG Semboro telah menerapkan sistem
2

mekanisasi pada alat dan mesin pertanian, serta industri pengolahan tebu yang
berpotensi dalam mengolah tebu menjadi gula sehingga diharapkan kebutuhan
masyarakat akan komoditi gula yang semakin meningkat dapat terpenuhi.
Sebagai salah satu perusahaan besar yang begerak dalam perkebunan
tebu pada budidaya lahan kering dan industri gula, PG Semboro menjalankan
proses produksi gula menggunakan mesin-mesin produksi dalam skala besar.
Dengan penerapan mesin produksi tersebut, pekerjaan dengan bahan baku
sangat besar dapat meningkatkan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produksi
serta menambah kenyamanan dan efisiensi dalam bekerja, sehingga hasil yang
diperoleh menjadi optimal. Namun pada sisi lain dengan adanya mesin-mesin
produksi tersebut tanpa disadari dapat menimbulkan dampak yang kurang
baik bagi kesehatan manusia dan lingkungannya jika tidak diperhatikan
dengan baik dan cermat. Kebisingan mesin-mesin produksi yang digunakan
oleh para tenaga kerja secara tidak langsung dapat merugikan kesehatan,
menurunkan performansi dan produktifitas tenaga kerja.
Kebisingan yang melebihi standar dapat berakibat buruk terhadap
manusia, seperti menggangu kenyamanan, penurunan ketajaman pendengaran
sampai tuli, terganggunya sistem keseimbangan, gangguan konsentrasi,
meningkatkan kadar emosi dan juga dapat mengganggu sistem metabolisme
tubuh. Hingga saat ini kebisingan pada kegiatan industri belum banyak
diperhatikan terutama industri di Indonesia. Hal ini tercermin dari sedikitnya
penelitian-penelitian mengenai kebisingan dan masih kurangnya perhatian
pihak pengusaha industri serta kurangnya kesadaran para tenaga kerja akan
pengaruh kebisingan di lingkungan pabrik.
Salah satu usaha pemerintah melalui Departemen Tenaga kerja, untuk
menangani masalah tersebut adalah dengan memasyarakatkan program K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang bertujuan meningkatkan
3

produktivitas. Salah satu unsur yang digalakkan dalam program K3 adalah
pengendalian kebisingan pada berbagai bidang industri.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif pemecahan
masalah yang berarti bagi perusahaan yang bersangkutan dan perusahaan lain
pada umumnya yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja
selama melakukan proses produksi. Selain itu penelitian ini diharapkan
menjadi bahan referensi bagi mahasiswa untuk pemahaman terhadap salah
satu masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja, yaitu kebisingan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian pada latar belakang diatas maka dapat
dirumuskan masalah penelitian yaitu, Bagaimana gambaran masalah
kebisingan pada proses produksi gula di Pabrik Gula Semboro, Jember ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1. Menganalisa tingkat dan pola sebaran kebisingan pada proses produksi
gula, meliputi stasiun masakan, stasiun putaran dan power house.
2. Mengetahui waktu maksimal berada dalam lingkungan kerja berdasarkan
nilai ambang batas kebisingan yang sesuai dengan standar
ketenagakerjaan.
3. Memberikan alternatif pemecahan masalah yang berkaitan dengan aspek
kesehatan dan keselamatan kerja (K3) terutama yang berhubungan
dengan kebisingan pada lingkungan kerja.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi PG Semboro
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan bagi PG
Semboro mengenai masalah kebisingan yang terjadi pada lingkungan
kerja PG Semboro tersebut sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan
4

untuk mengatasi masalah kebisingan tersebut.
2. Bagi Tenaga Kerja PG Semboro
Penelitian ini diharapkan dapat berfungsi sebagai panduan terhadap para
tenaga kerja agar lebih memperhatikan masalah kesehatan yang terjadi
akibat kebisingan, sehingga tenaga kerja mau mengikuti upaya
pencegahan yang akan dilakukan perusahaan sehingga dapat
memperkecil resiko masalah kesehatan yang terjadi akibat kebisingan
tersebut.
3. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang
mendalam mengenai masalah kebisingan di tempat kerja, khususnya
yang terjadi pad PG Semboro.
4. Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pembendaharaan
literatur di perpustakaan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Jember, dapat menjadi sumber inspirasi bagi pihak yang membutuhkan
untuk melakukan penelitian












5

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kebisingan (Noise)

Bunyi atau suara didefinisikan sebagai serangkaian gelombang yang
merambat dari suatu sumber getar sebagai akibat perubahan kerapatan dan
tekanan udara. Kebisingan merupakan terjadinya bunyi yang tidak
dikehendaki termasuk bunyi yang tidak beraturan dan bunyi yang dikeluarkan
oleh transportasi dan industri, sehingga dalam jangka waktu yang panjang
akan dapat mengganggu dan membahayakan konsentrasi kerja, merusak
pendengaran (kesehatan) dan mengurangi efektifitas kerja (Wilson, 1989).
Bunyi dikatakan bising apabila mengganggu pembicaraan, membahayakan
pendengaran dan mengurangi efektifitas kerja.
Pada dasarnya pengaruh kebisingan pada jasmani para pekerja dibagi
menjadi 2 golongan (Soemanegara, 1975), yaitu :

1. Tidak mempengaruhi sistem penginderaan tetapi mempengaruhi
berupa keluhan samar-samar dan tidak jelas berwujud penyakit.
2. Pengaruh terhadap indera pendengaran baik bersifat sementara maupun
bersifat permanen (tetap), terdiri dari:
a. Accoustic trauma, yaitu tiap-tiap pelukaan insidental yang merusak
sebagian atau seluruh alat-alat pendengaran disebabkan oleh
letupan senjata api, ledakan-ledakan atau suara dahsyat.

b. Occuptional deafness, yaitu kehilangan sebagian atau seluruh
pendengaran seseorang yang bersifat permanen pada satu atau
kedua telinga yang disebabkan oleh kebisingan atau suara gaduh
yang terus menerus di lingkungan kerja.
Menurut Sumamur, 1996; jenis kebisingan dalam lingkungan kerja
dapat dikategorikan menjadi beberapa hal, antara lain:
1. Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas (steady
state, wide band noise), misalnya mesin-mesin, kipas angin dan lain-
6

lain.

2. Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi yang sempit (steasy
state, narrow band noise), misalnya gergaji sirkuler, katup gas dan
lain-lain.
3. Kebisingan terputus-putus (intermitten), misalnya lalu lintas, pesawat
terbang di lapangan udara dan lain-lian.
4. Kebisingan impulsif (impact or impulsive noise), misalnya pukulan
tukul, tenbakan senapan atau meriam, ledakan dan lain-lain.
5. Kebisingan impulsif berulang, misalnya mesin tempa di perusahaan.
Tingkat kebisingan dapat diklasifikasikan berdasarkan intensitas yang
diukur dengan satuan decibel (dB) seperti pada Tabel 1.

Tabel 1. Tingkat dan Sumber Bunyi pada Skala Kebisingan tertentu
Tingkat Bising
Sumber Bunyi Skala Intensitas
Waktu Kontak

(dB(A)) (Jam)


0 20 Gemerisik daun Sangat tenang
2
19

Suara gemerisik

20 40 Perpustakaan Tenang
2
15

Percakapan

Radio pelan

40 60 Percakapan keras Sedang
2
11

Rumah gaduh

Kantor

60 80
Perusahaan
Keras 2
7


Radio keras

Jalan

80 100
Peluit polisi

Jalan raya
Sangat keras 2
3


Pabrik tekstil



Pekerjaan Mekanis

Ruang ketel
Sangat amat


100 120
Mesin turbin uap
2
-1

Mesin diesel besar keras




Kereta bawah tanah

> 120
Ledakan bom
Menulikan 2
-2

Mesin jet

Mesin roket


Sumber : Suharsono (1991)
7


2.2. Pengukuran Kebisingan

Pengukuran kebisingan biasanya dinyatakan dengan satuan decibel
(dB). Decibel (dB) adalah suatu unit pengukuran kuantitas resultan yang
merepresentasikan sejumlah bunyi dan dinyakan secara logaritmik.
Sederhananya, skala decibel (dB) diperoleh dari 10 kali logaritma (dasar 10)
perbandingan tenaga (Wilson, 1989). Satuan tingkat kebisingan (decibel)
dalam skala A, yaitu kelas tingkat kebisingan yang sesuai dengan respon
telinga normal.

Ada dua hal yang menentukan kualitas bunyi, yaitu :
a) Frekuensi

Frekuensi adalah jumlah gelombang lengkap yang merambat per
satuan waktu (cps = cycle per second), dengan satuan Hertz. Bunyi yang
dapat diterima telinga manusia biasanya mempunyai batas frekuensi
antara 20-20000 Hz. Apabila frekuensi kurang dari 20 Hz maka disebut
infrasound dan bila frekuensi lebih dari 20000 Hz maka disebut
ultrasound dan tidak dapat didengar oleh telinga mnusia.

b) Intensitas

Intensitas bunyi diartikan sebagai daya fisik penerapan bunyi.
Kuantitas intensitas bunyi tergantung jarak dari kekuatan sumber bunyi
yang menyebabkan getaran, semakin besar daya intensitas maka
intensitas bunyi semakin tinggi.

Intensitas atau arus energi persatuan luas biasanya dinyatakan
dalam suatu logaritmik yang disebut decibel (dB) dengan
membandingkan kekuatan dasar 0.0002 dyne/cm
2
(2x10
-5
N/m
2
) yaitu
kekuatan dari bunyi dengan frekuensi 1000 Hz dan tepat menjadi
ambang pendengaran manusia dengan telinga normal. Ukuran
kebisingan dinyatakan dengan istilah sound pressure level (SPL). Alat
yang digunakan untuk mengukur kebisingan yaitu sound level meter.
8

Alat ini mengukur kebisingan diantara 30 130 dB dan dengan
frekuensi 20 20000 Hz. Sound level meter ini mengukur perbedaan
tekanan yang hasil keluaran dari alat ini adalah dalam decibel (dB)
dengan menggunakan dasar persamaan (Chanlett, 1979):

SPL = 10 log (P/P
ref
)
2

.....................................................
.....................(1)
dimana: SPL = tingkat tekanan kebisingan (dB)
P = tekanan suara (N/m
2
)
P
ref
= tekanan bunyi reference (2x10
-5
N/m
2
)

Terdapat 3 skala pengukuran untuk sound level meter :

a. Skala pengukuran A: untuk memperlihatkan perbedaan kepekaan yang
besar pada frekuensi rendah dan tinggi yang menyerupai reaksi telinga
untuk intensitas rendah (35 135 dB)
b. Skala pengukuran B: digunakan suara dengan kekerasan yang moderat ( >
40 dB) tapi sangat jarang digunakan dan mungkin tidak digunakan lagi.
c. Skala pengukuran C: digunakan untuk suara yang sangat keras ( > 45 dB)
yang menghasilkan gambaran respons terhadap bising antara 20 sampai
dengan 20000 Hz.
Intensitas bising akan semakin berkurang jika jarak dengan sumber
bising semakin bertambah. Perambatan atau pengurangan tingkat bising dari
sumbernya dinyatakan dengan persamaan :

Untuk sumber diam:
SL
1
SL
2
= 20 log (r
2
/r
1
)
...................................................... (2)

9

Untuk sumber bergerak:
SL
1
SL
2
= 10 log (r
2
/r
1
)
...................................................... (3)
dimana: SL
1
= intensitas suara sumbu 1 pada jarak r
1

SL
2
= intensitas suara sumbu 2 pada jarak r
2

r
1
= jarak ke sumber bising yang pertama
r
2
= jarak ke sumber bising yang kedua

Jika jumlah sumber bising lebih dari satu maka pertambahan yang
terjadi pada intensitas kebisingan tersebut bisa dijumlahkan secara aljabar dan

menggunakan tabel 2.
Tekanan suara dari dua sumber bunyi secara aljabar
adalah:
P
2
/P
0
2
= antilog (SPL/10) = 10
SPL/10
...................................... (4)
Dengan menggunakan persamaan tekanan suara dua sumber bunyi:

(P)
r
2
= (P
1
)
r
2
+ (P
2
)
r
2

.............................................................. (5)

dimana: r = rata-rata

Jika persamaan (1) dimasukkan ke dalam persamaan (3) dan kedua ruas
dibagi dengan P
0
2
didapat:
(P)
r
2
/P
0
2
= (P
1
)
2
/ P
0
2
+ (P
2
)
2
/ P
0
2
............................................ (6)
Apabila terdapat banyak sumber bunyi, maka:
(P)
r
2
/(P
0
)
2
= (P
1
)
2
/ P
0
2
= 10
SPL/10
..................................... (7)

10

dimana: P
1
= tekanan suara di sumber 1
P
2
= tekanan suara di sumber 2

Resultan dari kedua sumber bising tersebut tidak bisa ditambahkan
secara langsung karena skala bising adalah logaritmik sehingga resultan
bising dari kedua sumber tersebut tergantung dari perbedaan tingkat
kebisingan antara kedua sumber tersebut seperti terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Jumlah dB(A) yang harus ditambahkan ke bunyi terbesar
Perbedaan antar sumber bunyi Jumlah yang harus ditambahkan
(dB(A)) (dB(A))

0 3.0

1 2.6

2 2.1

3 1.8

4 1.5

5 1.2

6 1.0

7 0.8

8 0.6

10 0.4

12 0.3

14 0.2

16 0.1

Sumber : Wilson (1989)


2.3. Pengaruh Kebisingan Terhadap Tenaga Kerja
Kebisingan yang terjadi dalam pabrik dapat mengganggu kinerja pekerja
dan pada taraf yang buruk dapat menyebabkan kehilangan fungsi
pendengaran. Pada lingkungan kerja, kebisingan yang terjadi tidak boleh
menimbulkan kerugian bagi pekerja, maka perlu dilakukan perancangan
11

lingkungan kerja yang aman dan nyaman. Kebisingan dapat meliputi variasi
yang luas dari situasi bunyi yang dapat merusak pendengaran. Kebisingan di
lingkungan kerja berakibat buruk bagi kesehatan, diantaranya adalah
kehilangan pendengaran sementara, merusak pendengaran, gangguan pada
susunan syaraf pusat dan organ keseimbangan, serta dapat menurunkan
kinerja berupa kurangnya perhatian terhadap pekerjaan, komunikasi dan
konsentrasi sehingga terjadi kesalahan-kesalahan dalam bekerja.
Menurut Buchari (2007), berdasarkan pengaruhnya terhadap manusia
bising dapat dibagi menjadi 3, antara lain:
1. Bising yang mengganggu (Irritating noise). Intensitasnya tidak terlalu
keras, misalnya: suara mendengkur.
2. Bising yang menutupi (Masking noise). Merupakan bunyi yang menutupi
pendengaran yang jelas. Secara tidak langsung bunyi ini akan
membahayakan keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, karena teriakan
atau tanda bahaya tenggelam dalam bising sumber lain.
3. Bising yang merusak (Damaging/ Injurious noise). Merupakan bunyi
yang intensitasnya melebihi nilai ambang batas kebisingan. Bunyi jenis
ini akan merusak atau menurunkan fungsi pendengaran.
Menurut Moriber (1974), kebisingan pada berbagai level intensitas
dapat mengakibatkan kerusakan yang bertingkat-tingkat. Kerusakan ini antara
lain :
a. Jika peningkatan ambang dengar > 80 dB(A), menyebabkan kerusakan
pendengaran sebagian.
b. Jika peningkatan ambang dengar antara 120 125 dB(A), menyebabkan
gangguan pendengaran sementara.
c. Jika peningkatan ambang dengar antara 125 140 dB(A), bisa
menyebabkan telinga sakit.
12

d. Jika peningkatan ambang pendengaran antara < 150 dB(A),
menyebabkan kehilangan pendengaran permanen
McCornick dan Sanders (1970) menyatakan bahwa secara garis besar,
ditinjau penyebabnya, gangguan pendengaran dikelompokkan menjadi 2,
yaitu :
1. Gangguan pendengaran akibat kebisingan kontinyu
Kebisingan kontinyu menyebabkan gangguan pendengaran
sementara yang biasanya bisa sembuh dalam beberapa jam/ hari setelah
terkena bising jika terpapar pada selang waktu yang pendek. Akan tetapi
dengan tambahan terkena bising, daya penyembuh akan menurun dan terus
menurun sehingga mengakibatkan gangguan pendengaran permanen.
2. Gangguan pendengaran akibat kebisingan tidak kontinyu
Hal ini bisa disebabkan karena kebisingan yang timbul selang-seling
(mesin yang dioperasikan sesaat), impulsif berulang (mesin tempa), dan
impulsif (senjata api). Tekanan kebisingan tinggi ini dapat menyebabkan
kehilangan pendengaran yang biasanya terjadi dalam jangka waktu yang
relatif lama tergantung berapa sering dan intensitas yang ditimbulkan.

Menurut Chanlett (1979), menyatakan bahwa selain berdampak pada
gangguan pendengaran, terdapat efek kebisingan lainnya, yaitu:
a. Gangguan tidur dan istirahat,
b. Mempengaruhi kapasitas kerja pekerja,
c. Dalam segi fisik, seperti pupil membesar, dan lain-lain
d. Dalam segi psikologis, seperti stress, penyakit mental, dan perubahan
sikap atau kebiasaan.
Berdasarkan keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: KEP-
51/MEN/1999 tanggal 16 April 1999 ditetapkan Nilai Ambang Batas (NAB),
13

antara lain menyebutkan Nilai Ambang Batas (NAB) Faktor Fisika di tempat
kerja 85 dB(A). Bila kebisingan melebihi NAB maka waktu pemaparan
(Exposure Limit) ditetapkan dalam Tabel 3.
Tabel 3. Nilai Ambang Batas Lama kerja yang diizinkan dalam sehari
Intensitas kebisingan (dBA) Lama mendengar per hari

85 8 Jam

88 4 Jam

91 2 Jam

94 1 Jam

97 30 Menit

100 15 Menit

103 7.5 Menit

106 3.75 Menit

109 1.88 Menit

112 0.94 Menit

115 28.12 Detik

118 14.06 Detik

121 7.03 Detik

124 3.52 Detik

127 1.76 Detik

130 0.88 Detik

133 0.44 Detik

136 0.22 Detik

139 0.11 Detik

Catatan: Tidak boleh terpapar lebih dari 140 dBA, walaupun sesaat
Sumber: MENAKER (1999)

14

Untuk melindungi pekerja dari efek kebisingan yang membahayakan,
maka sesuai dengan Nilai Ambang Batas (NAB) tentang kebisingan juga telah
diatur secara internasional oleh ISO (International Standard Organization)
dan OSHA (Occupational Safety and Health Association), serta di Indonesia
diatur oleh MENAKER seperti disajikan dalam Tabel 4.

Tabel 4. Beberapa standar nilai ambang batas kebisingan dan lama
kerja kontinu yang diperkenankan.
Intensitas (dB) Waktu Kerja

ISO OSHA Indonesia (Jam)

85 90 85 8

,,, 92 87,5 6

88 95 90 4

,,, 97 92,5 3

91 100 95 2

94 105 100 1

97 110 105 0,5

100 115 110 0,25

Sumber (Sudirman, 1992 dalam Wijaya A, 1995)

2.4. Pengendalian Kebisingan
Pada lingkungan kerja, kebisingan yang terjadi tidak boleh
menimbulkan kerugian bagi pekerja maupun bagi masyarakat sekitar.
Untuk meminimalkan efek kebisingan yang ditimbulkan terhadap
kesehatan manusia. Menurut Peterson dalam Tampang (1999), bahwa
upaya pengendalian kebisingan diantaranya sebagai berikut :
a) Pengendalian keteknikan, yaitu memodifikasi peralatan penyebab
kebisingan, modifikasi proses dan modifikasi lingkungan dimana
peralatan dan proses tersebut berjalan dengan bahan konstruksi yang
15

tepat.
b) Pengendalian sumber kebisingan, yaitu dilakukan dengan subtitusi
antar mesin, proses dan meterial terutama penambahan penggunaan
spesifikasi kebisingan pada masing-masing peralatan dan mesin lama
maupun baru.
c) Pengendalian dengan modifikasi lingkungan, bila radiasi kebisingan
dari bagian-bagian peralatan tidak dapat dikurangi maka dapat
digunakan peredam geteran, rongga resonansi, dan peredam suara
(isolator).
d) Alat Pelindung Diri, yaitu menggunakan Alat Pelindung Telinga
(APT), misalnya sumbat telinga, tutup telinga, dan helmet. Alat-alat
tersebut dapat mengurangi intensitas kebisingan sekitar 25 dB sampai
50 dB.
Menurut Hutagalung (2007), Permasalahan yang berkaitan dengan
kebisingan dapat dikendalikan dengan melakukan pendekatan sistematik
dimana sistem perpindahan semua suara dipecah menjadi tiga elemen yaitu
sumber suara, jalur transmisi suara, dan penerima akhir. Metode yang
umumnya digunakan untuk mengendalikan sumber suara kebisingan antara
lain, yaitu menggunakan peralatan dengan tingkat kebisingan rendah,
menghilangkan sumber kebisingan, melengkapi alat dengan insulasi, silencer
(peredam sumber kebisingan), dan vibration damper (peredam sumber
getaran). Jalur transmisi suara juga dapat dimodifikasi agar kebisingan
berkurang dengan cara melakukan pengadaan penghalang dan absorpsi oleh
peredam. Kebisingan juga dapat dikendalikan dengan memodifikasi elemen
penerima akhir, yaitu dengan melakukan improvisasi sistem operasi,
improvisasi pola kerja, dan pengunaan alat pelindung pendengaran.
Menurut Mc Cormick dan Sanders (1987), terdapat 2 tipe APT, yaitu
APT permanen (earmuffs, earplugs dan headphone) dan APT tidak permanen
16

(sumbat telinga seperti kapas kering atau basah dan glassdown). Menurut
Sembodo (2004), selain sumbat telinga dan tutup telinga, untuk mengurangi
kebisingan ada juga yang menggunakan helm. Jika sumbat telinga mampu
mengurangi kebisingan 8 30 dB dan tutup telinga 25 40 dB, sedangkan
helm mampu mengurangi kebisingan 40 50 dB.
Menurut Wilson (1989), menyatakan bahwa pengendalian kebisingan
dapat dilakukan dengan dua alternatif, yaitu: desain mesin atau peralatan dan
sistem operasi mesin; dan desain konstruksi bangunan. Desain mesin sebagai
sumber utama kebisingan mendapat pertimbangan utama untuk didahulukan.
Desain ini meliputi banyak hal tentang komponen-komponen yang sering
menimbulkan kebisingan, diantaranya: motor listrik, transmisi gear, pompa,
sabuk, puli, poros, cam, bearing, tombol, dan katup. Mesin diesel sebagai
penggerak utama kebanyakan mesin industri dan transportasi perlu mendapat
perhatian yang lebih karena jika dibandingkan dengan motor bensin dan motor
listrik, kebisingan yang dihasilkan motor diesel jauh lebih besar. Hal ini
disebabkan oleh besarnya kompresi di ruang bakar sebagai persyaratan agar
solar mudah terbakar dan menghasilkan tenaga yang efektif.
Pengendalian kebisingan yang terjadi pada lingkungan kerja tidak boleh
menimbulkan kerugian bagi pekerja maupun bagi masyarakat sekitar. Oleh
karena itu, perlu dilakukan perancangan lingkungan kerja yang aman dan
nyaman. Kebisingan yang bersumber dari alat dan mesin-mesin tidak mungkin
dihilangkan tetapi kebisingan dapat diminimalkan, maka tindakan efektif
untuk mengatasi kebisingan antara lain mengurangi pada sumber bisingnya
dengan modifikasi mesin dan bangunan dengan bahan konstruksi yang tepat.
Desain konstruksi bangunan juga termasuk dalam pengendalian barrier/
penghalang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam konstruksi bangunan
misalnya konstruksi tembok, konstruksi dan jenis ubin, konstruksi pintu,
jendela, konstruksi ventilasi, konstruksi langit-langit dan genting.
17

Sebagai dasar menentukan konstruksi bangunan, Tabel 5 dibawah ini
memuat data tingkat reduksi kebisingan dari berbagai material dengan
ketebalan tertentu.

Tabel 5. Tingkat reduksi kebisingan dari berbagai bahan material
dengan ketebalan tertentu.
Tingkat Reduksi Kebisingan (dB)

Bahan Ketebalan

3 mm 5 mm 10 mm 20 mm
1. Kaca 5 10 7 15 10 20 15 25
2. Baja 10 15 12 20 15 25 22 32
3. Kayu tripleks/lapis 5 9 9 12 10 15 12 20

4. Beton 8 12 10 18 12 20 18 25
5. Fiber glass 9 15 9 14 12 25 20 30
Sumber : Bruel (1984) dalam Sembodo (2004
18

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini dapat digolongkan ke dalam penelitian deskriptif. Menurut
Koentjaraningrat (1983), penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang
memberikan gambaran yang secermat mungkin mangenai suatu keadaan
individu, gejala atau kelompok tertentu, dalam hal ini lebih lanjut dianalisis
berdasarkan gejala-gejala yang ditimbulkan.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu
Kegiatan Penelitian ini akan dilaksanakan selama bulan Mei sampai
dengan Agustus 2008, di mana kegiatannya meliputi pengukuran tingkat
kebisingan di pabrik, penghitungan data yang telah diperoleh, studi
pustaka dan analisis hasil perhitungan.
2. Tempat
Adapun lokasi penelitian ini akan bertempat di PG Semboro milik
PTPN XI (Persero), Jember. Tempat penelitian dikhususkan pada stasiun
masakan, stasiun puteran dan power house yang dianggap kritis atau
memiliki tingkat kebisingan yang dapat mengganggu maupun
membahayakan kenyamanan, keselamatan, dan kesehatan kerja operator.

3.3 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang akan digunakan selama penelitian adalah:
1. Krisbow 4 in 1 Multi-Function Environment Meter, meliputi Sound Level
Meter, Relative Humidity Meter, Temperature Meter, dan Light Meter
(Krisbow tipe KW06-291) dapat digunakan untuk mengukur tingkat
kebisingan, kelembaban, temperature, dan pencahayaan yang terjadi pada
pabrik pengolahan gula. Hasil pengukuran dalam satuan decibel (dB),
19

%RH,
o
C, dan Lux. Namun yang digunakan dalam penelitian ini hanya
fungsi pengukuran tingkat kebisingan saja.
















Gambar 1. Krisbow 4 in 1 Multi-Function Environment

2. Meteran digunakan untuk mengukur luasan daerah yang diukur
kebisingannya dan mengetahui jarak sumber kebisingan antar titik.
3. Kertas Milimeter Blok untuk memetakan tingkat kebisingan di lapangan.
4. Alat tulis dan komputer untuk pencatatan, penanda dan pengolahan data
hasil pengukuran kebisingan di lapangan.

3.1 Metode Pengambilan Data
1. Tahap Pendahuluan
Pada tahap pendahuluan penelitian dilakukan sebagai percobaan
pengambilan data untuk mengetahui kemungkinan permasalahan yang
terjadi selama melakukan penelitian. Selain itu, memberikan penjelasan
kepada pekerja tentang prosedur dalam pengambilan data.
2. Pengambilan Data di Lapangan
Pengambilan data pada awalnya dengan melakukan survei lapangan
dalam mengukur intensitas kebisingan di tempat kerja selama hari kerja
sehingga dapat menunjukkan intensitas bising dan membantu mengenali
setiap tempat dengan kebisingan yang berbahaya. Survei yang dilakukan
merupakan survei bising terperinci, sehingga relatif mudah menetapkan
20

lokasi yang memerlukan perhatian khusus. Penelitian lebih terperinci dibuat
pada setiap lokasi untuk menetapkan bising yang diterima tenega kerja
selama 8 jam kerja.
Pengambilan data dilakukan pada masing-masing shift kerja yaitu waktu
kerja pagi, sore dan malam. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada
pengaruh waktu kerja dengan tingkat kebisingan yang ditimbulkan dan keluhan
yang dialami oleh para pekerja. Lama waktu kerja di PG Semboro Jember adalah
24 jam per hari yang dilakukan selama kurang lebih enam bulan masa kerja
produktif.
Waktu kerja pada pabrik ini dibagi menjadi 3 shift kerja, pemilihan jadwal
pergantian shift kerja (waktu kerja) yaitu shift pertama (pagi hari) dimulai dengan
rentang waktu 06.00 14.00 WIB, shift kedua (sore hari) dimulai dengan rentang
waktu 14.00 22.00 WIB, dan shift ketiga (malam hari) dimulai dengan rentang
waktu 22.00 06.00 WIB.
Pada setiap minggunya ada pergantian shift kerja (shift rotation)
berdasarkan giliran shift kerja yang telah dilakukan, misalnya: bagi pekerja yang
telah shift pagi akan diganti ke bagian shift malam dengan jeda waktu istirahat 8
jam, bagi pekerja yang telah shift sore akan diganti ke bagian shift pagi dengan
jeda waktu istirahat 8 jam, sedangkan pekerja yang telah shift malam akan diganti
ke bagian shift sore dengan jeda waktu istirahat 32 jam dan begitu pula
selanjutnya.
Pengambilan data kebisingan dilakukan dengan mengukur tingkat
kebisingan pada stasiun masakan, stasiun putaran (centrifuge) dan power house,
serta pengukuran ruang kotrol panel saat mesin produksi gula sedang
berlangsung. Pengukuran dilakukan pada titik-titik yang telah ditentukan. Titik-
titik pengukuran terutama diambil pada wilayah pabrik atau halaman kerja tempat
tenaga kerja mengalami pemaparan kebisingan. Pengukuran dilakukan dengan
21

cara memetakan tingkat kebisingan yang jarak setiap titiknya 1 sampai 2 meter
pada setiap stasiunnya sehingga membentuk luasan tertentu. Setiap titik
pengukuran yang digunakan harus tegak lurus terhadap titik pengukuran lainnya
sehingga jika digambarkan akan terlihat persegi dan pada setiap titik sudutnya
merupakan titik pengukurannya.
Pada masing-masing titik diukur tingkat kebisingannya dengan mengambil
beberapa titik pengukuran, pengukuran sebanyak 10 kali pengulangan di setiap
titiknya bagi setiap kondisi pengukuran pada masing-masing shift kerja.
Pengukuran kebisngan dilakukan dengan tinggi alat pada saat pengukuran 100
cm dari lantai. Kemudian digambarkan peta kontur kebisingan di setiap lokasi
yang diukur tingkat kebisngannya. Pengukuran kebisngan pada stasiun masakan,
stasiun putaran (centrifuge) dan power house di PG Semboro berguna untuk
mengetahui intensitas bising pada tempat operator yang bekerja di lokasi pabrik.
Data hasil pengukuran tingkat kebisingan tersebut dianalisis dan dibandingkan
dengan nilai ambang batas (NAB) kebisingan yang telah ditetapkan pemerintah
sebesar 85 dB(A).
Bila hasil pengukuran lokasi bervariasi dan tingkat kebisingannya kurang
dari 85 dB(A), maka dibuat pengukuran setiap ruang kerja serta dicatat tingkat
kebisingan minimum dan maksimumnya. Hasil pengukuran kebisingan kurang
dari 85 dB(A) digambarkan sebagai daerah yang aman bagi tenaga kerja.
Sedangkan hasil pengukuran kebisingan yang melebihi batas 85 dB(A) digunakan
sebagai petunjuk adanya tekanan bising dan menjadi daerah yang kurang aman
bagi tenaga kerja, sehingga harus dilakukan pengendalian lebih lanjut. Untuk
tenaga kerja dengan pola kerja bervariasi di tempat kerja yang berbeda-beda perlu
ditetapkan intensitas bising dan lama tenaga kerja terkena bising. Hal ini dapat
diperoleh dari keterangan tenaga kerja dan pengamatan langsung.

22

Selain melakukan survei dan pengukuran terhadap kebisingan di PG
Semboro, survei penelitian terhadap tenaga kerja juga dilakukan untuk
mengetahui tingkat kenyamanan dan kesehatan pekerja. Kuesioner ini
dimaksudkan untuk mengumpulkan data-data, seperti: identitas, unit kerja,
keluhan yang berkaitan dengan gangguan pendengaran, pengetahuan, sikap, dan
perilaku tenaga kerja serta kebiasaan memakai alat pelindung telinga. Data
tersebut diperoleh bedasarkan hasil kuesioner yang telah diberikan kepada
seluruh tenaga. Setelah memperoleh data-data dari hasil kuesioner maka akan
diketahui pemahaman tenaga kerja terhadap kebisingan yang ditimbulkan oleh
kegiatan industri tesebut.
Pemahaman tenaga kerja terhadap kebisingan tersebut kemudian
dibandingkan dengan tingkat kebisingan yang terjadi di PG Semboro, sehingga
diketahui seberapa besar pengaruh kebisingan yang terjadi terhadap kenyamanan
dan kesehatan bagi tenaga kerja PG Semboro. Tahap kegiatan penelitian tersebut
dapat dilihat pada Gambar 2.
23


3.5 Metode Pengolahan Data
Metoda pengolahan data dilakukan dengan cara :
1. Data pengukuran kebisingan digunakan sebagai input data dalam
pembuatan peta kontur kebisingan yang ada pada masing-masing stasiun.
2. Membuat kontur kebisingan menggunakan perangkat lunak Surfer pada
masing-masing stasiun.
3. Menganalisa data hasil pengukuran dan pola kontur kebisingan tersebut,
kemudian dibandingkan dengan Nilai Ambang Batas (NAB) kebisingan
24

yang telah ditetapkan pemerintah sebesar 85 dB(A) sesuai dengan standart
keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
4. Menganalisa data hasil kuesioner yang akan menjadi referensi subyektif
dari para pekerja yang bersangkutan dalam kaitannya dengan dampak
kondisi lingkungan kerja.