Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

IMMUNISASI TRAVELLING PERSIAPAN LAKTASI



DosenPembimbing :

Erma Herdyana, s.siT,M.Kes



Tingkat I A

Disusun oleh :

DorteaNoviana S. (Bd.DH.2013.014)
Mega Ayu Aqzam D. (Bd.DH.2013.026)
Nurhalimah (Bd.DH.2013.032)
Putri Ayu Laela A. (Bd.DH.2013.036)
Yessy Mustafi (Bd.DH.2013.048)
Yulia Ayu S. (Bd.DB.2013.051)


AKADEMI KEBIDANAN DHARMA HUSADA KEDIRI

T.A 2013/2014
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kami kelancaran
dalam menyusun makalah ini sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Kami juga
ingin mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu dalam
pembuatan makalah ini dan berbagai sumber yang telah kami pakai sebagai data
dan fakta pada makalah ini.

Kami mengakui bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan
dalam berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan
sangat sempurna. Begitu pula dengan makalah ini yang telah kami selesaikan.
Tidak semua hal dapat kami deskripsikan dengan sempurna dalam karya tulis ini.
kami melakukannya semaksimal mungkin dengan kemampuan yang kami miliki.
Di mana kami juga memiliki keterbatasan kemampuan.

Maka dari itu kami bersedia menerima kritik dan saran. Kami akan menerima
semua kritik dan saran tersebut sebagai batu loncatan yang dapat memperbaiki
makalah kami di masa mendatang. Sehingga semoga makalah berikutnya dan
makalah lain dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih baik.





Penulis





DAFTAR ISI

Kata pengantar.
Daftar isi.

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang.
1.2. Rumusan masalah
1.3. Tujuan

BAB II DASAR TEORI
2.2. Kebutuhan fisik bumil

BAB III PEMBAHASAN
3.1. Imunisasai pada bumil..
3.2. Traveling pada bumil..
3.3. Persiapan laktasi pada bumil.
3.4 Kebutuhan istirahat dan tidur

BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan
4.2. Saran

Daftar pustaka..............................................................................








BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Menjadi seorang ibu adalah suatu anugerah. Seorang ibu akan mengalami sendiri masa
kehamilan, persalinan dan merawat serta mendidik anak-anaknya. Ibu adalah Tonggak dalam
membentuk suatu Keluarga yang sehat dan bahagia. Tentu saja dengan dukungan dan kerjasama
dari suami dan juga seluruh keluarga.
Masa masa kehamilan adalah masa yang membahagiakan bagi pasangan suami istri,
apalagi bagi pasangan muda atau baru saja menikah saat saat kehamilan adalah saat yang sangat
ditunggu tunggu pastinya. saat seperti ini adalah saatnya sang ibu juga berganti penampilan. Ibu
hamil juga harus menjaga kesehatannya dan ibu hamil mempunyai kebutuhan pada saat hamil.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa saja kebutuhan fisik pada ibu hamil?
2. Mengapa imunisasi perlu bagi ibu hamil?
3. Apa saja yang harus diperhatikan saat bumil melakukan traveling?
4. Bagaiman persiapan laktasi bumil?

1.3. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui apa saja kebutuhan fisik yang diperlukan ibu hamil pada trimester I,
II, dan III sehingga dapat meminimalkan hal-hal yang bisa membahayakan kehamilannya seperti
terjadinya abortus, prematur, BBLR serta terjangkitnya virus tetanus toksoid pada ibu hamil.
Oleh karena itu, dalam makalah ini kita bahas kebutuhan fisik ibu hamil trimester I, II, dan III
yang mencakup imunisasi, traveling, persiapan laktasi, istirahat dan tidur.





















BAB II
DASAR TEORI

2.1. Kebutuhan Fisik Ibu Hamil Trimester I, II & III
Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan
memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang
mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi Tetanus Toksoid adalah proses untuk
membangun kekebalan sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus (Idanati, 2005).
Vaksin Tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan
(Setiawan, 2006).
Persiapan laktasi :
Hal-hal berikut ini merupakan beberapa hal yang perlu di perhatikan setiap ibu demi kelancaran
menyusui antara lain :
Nutrisi ibu menyusui
Istirahat
Obat obatan
Posisi ibu-bayi yang benar saat menyusui
Penilaian kecukupan ASI pada bayi
Diluar waktu menyusui
Ibu bekerja
Pemberian makanan pendamping ASI
Penyapihan
Klinik laktasi
Kelompok pendukung ASI
Istirahat/tidur merupakan keadaan relaksasi tanpa adanya tekanan emosional dan bukan hanya
dalam keadaan beraktivitas, melainkan juga berhenti sejenak dan membutuhkan ketenangan.
Tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh stimulus
atau sensoris yang sesuai.
Traveling merupakan salah satu hal yang menarik dan satu metode untuk bersantai. Ibu hamil
harus memperhitungkan beberapa hal sebelum berangkat. Jika ibu hamil sedang menikmati masa
kehamilan yang sehat, kuat, dan bebas masalah, sah-sah saja untuk melakukan travelling saat
hamil. Namun, jika kehamilannya agak berisiko, disarankan untuk menunda acara jalan-jalannya
demi kesehatan si bayi dan si calon ibu. Sebelum perjalanan dimulai sebaiknya si ibu
memeriksakan kehamilannya kedokter mengenai kondisi kehamilan serta kesehatannya. Bawalah
catatan kesehatan siapa tahu akan dibutuhkan jika terjadi hal-hal yang di luar dugaan di
perjalanan maupun di tempat tujuan sebagai persiapan agar kelengkapan data riwayat kesehatan
si ibu cepat di-review dokter yang menangani. Dua hal yang perlu diwaspadai saat ibu hamil
ingin pergi travelling adalah infeksi saluran urin dan penggumpalan darah di kaki. Jika ibu hamil
duduk dalam waktu lama dan menahan rasa ingin buang air kecil, maka infeksi saluran urin bisa
terjadi. Kurangi kemungkinan terjadinya hal tersebut dengan banyak berjalan serta persering
buang air kecil setiap jam.
Berikut Tips Traveling untuk wanita hamil:
1. Pakaian, Gunakan pakaian yang nyaman dan enak buat gerak.
2. Minum air putih & bergerak, Wanita hamil sangat rentan terhadap dehidrasi dan beresiko
varises, sehingga bawalah buah-buahan kaya vitamin
3. Alas Kaki, Pilih sendal atau sepatu yg nyaman, kaki harus bebas bernapas.
4. Waktu, Waktu terbaik untuk ibu hamil melakukan trip adalah periode 14-28 minggu
5. Catatan Medis, Bawa catatan medis Anda dan daftar lokasi rumah sakit lokal dari kedutaan
atau badan pariwisata.
6. Asuransi, Bawa asuransi dan daftar nama orang-orang yang dihubungi dalam kondisi
darurat.
7. Surat Rekomendasi, Bawa surat rekomendasi dokter jika maskapai penerbangan meminta.
8. Check Up, Lakukan check up ke dokter kandungan sebelum traveling
9. Hindari Daerah Vaksinasi, Hindari trip ke negara yang mewajibkan imunisasi, karena
dapat mengganggu janin
10. Istirahat cukup, Jika sudah di kota tujuan semua bisa lupa dan pastikan Anda istirahat
cukup. Pilih tujuan wisata yang masih cukup nyaman untuk ibu hamil.
11. Sunblock, Kulit wanita hamil lebih sensitif, oleh karena itu gunakan pelindung matahari
yang lebih kuat daripada yang biasanya.
12. Hindari menyelam dan olahraga air saat hamil
13. Di atas semuanya, nikmati lah traveling Anda. Pastikan Anda senang, maka si baby dalam
kandungan akan ikut senang.
















BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Imunisasi pada Ibu Hamil Trimester I, II & III
Di Indonesia imunisasi pada ibu hamil hampir seluruhnya berupa pemberian tetanus toksoid.
Kenyatan ini memang terjadi kerana penyakit tetanus pada neonatus jumlahnya sangat besar
disamping faktor sosioekonomi yang masih rendah sehingga tidak dimungkinkan untuk
melaksanakannya imunisasi secara lengkap. Pada penyakit tetanus neonatarum adalah
clostridium tetani masuk kedalam tubuh manusia melalui daerah luka dalam bentuk spora.
Penyakit ini timbul jika spora-spora tersebut berkembang menjadi organisme berbentuk vegetatif
yang hanya akan menghasilkan tetanospasmin pada keadaan penurunan potensial oksigen.
Pencemaran tali pusat adalah sumber infeksi tersering pada neonatus. Ini terjadi sewaktu
dilakukan pemotongan tali pusat dengan mengunakan pisau yang tidak bersih disertai dengan
perawatan luka pemotongan yang tidak steril. Tetanospasmin dapat mencapai susunan saraf
pusat melalui penyerapan pada sambungan mioneural (myoneural junctions) yang diikuti migrasi
melalui ruangan jaringan perineural (perineural tissue spaces) sususan saraf atau melalui
pemindahan limfosit ke dalam darah dan selanjutnya ke susunan saraf pusat. Tetanospasmin
bekerja pada motor dan plate otot skeletal, medula spinalis, otak dan susunan saraf simpatis.
Toksin yang dihasilkan tersebut menimbulkan gangguan transmisi neuromuskuler dengan
menghambat pelepasan asetilkolin dari terminal-terminal saraf di otot. Keadaan ini menimbulkan
hipertonitas, kekejangan dan serangan kejang dan khas pada bayi adalah kesulitan menyusui,
kekakuan tubuh dan spasme.
Tetanus toksoid yang dibutuhkan untuk imunisasi adalah sebesar 40 IU dalam setiap dosis
tunggal. Sebagaimana toksoid lainnya, pemberian toksoid tetanus memerlukan pemberian berseri
untuk menimbulkan dan mempertahankan imunitas. Tidak diperlukan pengulangan dosis bila
jadwal pemberian ternyata terlambat, sebab sudah terbukti bahawa respon imun yang diperolehi
walaupun dengan interval yang panjang adalah sama dengan interval yang pendek. Respon imun
atau efikasi vaksin ini cukup baik. Ibu yang mendapatkan toksoid tetanus ternyata memberikan
proteksi yang baik terhadap bayi baru lahir terhadap tetanus neonatarum, dan ini diberikan satu
kali pada trimester I, satu kali pada trimester II, dan dua kali pada trimester III. (WHO, 2001).
Tabel Pemberian Imunisasi pada Ibu Hamil
Antigen
INTERVAL
(selang waktu minimal)
Lama
perlindungan
%
perlindungan
TT1 Pada kunjungan
antenatal pertama
_ _
TT2 4 minggu setelah TT1 3 tahun 80
TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun 95
TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun 99
TT5 1 tahun setelah TT4 25 tahun/seumur
hidup
99
Ket : Artinya apabila dalam waktu 3 tahun WUS tersebut melahirkan, maka bayi yang
dilahirkan akan terlindung dari TN (tenanus neonatorium).
Kita bisa tanyakan apakah ibu hamil pernah mendapatkan suntikan tetanus toksoid (TT). Bila
sudah, tanyakan kapan diperolehnya. Ibu hamil yang belum pernah mendapatkan TT, pada
kehamilan sebelumnya atau pada waktu akan menjadi pengantin, maka perlu mendapatkan 2 kali
suntikan TT dengan jarak minimal 1 bulan. TT yang pertama diberikan pada kunjungan antenatal
yang pertama. Bila sudah pernah, maka cukup diberikan 1 kali selama kehamilan. Suntikan TT
melindungi ibu dan bayinya dari penyakit Tetanus Neonatus Neonatorium.
Manfaat imunisasi TT ibu hamil
a) Melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neonatorum (BKKBN, 2005; Chin, 2000).
Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1
bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun)
dan menyerang sistim saraf pusat (Saifuddin dkk, 2001).
b) Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka (Depkes RI, 2000)
Kedua manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi
secara nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonatorum (Depkes, 2004)
Jumlah dan dosis pemberian imunisasi TT untuk ibu hamil
Imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali (BKKBN, 2005; Saifuddin dkk, 2001), dengan
dosis 0,5 cc di injeksikan intramuskuler/subkutan dalam (Depkes RI, 2000).
Umur kehamilan mendapat imunisasi TT
Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT
lengkap (BKKBN, 2005). TT1 dapat diberikan sejak di ketahui postif hamil dimana biasanya di
berikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan (Depkes RI, 2000)
Efek samping imunisasi TT
Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri, kemerahan dan pembengkakan pada
tempat suntikan (Depkes RI, 2000). TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk
wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT
(Saifuddin dkk, 2001). Efek samping tersebut berlangsung 1-2 hari, ini akan sembuh sendiri dan
tidak perlukan tindakan/pengobatan (Depkes RI, 2000).
Tempat pelayanan untuk mendapatkan imunisasi TT
a) Puskesmas
b) Puskesmas pembantu
c) Rumah sakit
d) Rumah bersalin
e) Polindes
f) Posyandu
g) Rumah sakit swasta
h) Dokter praktik, dan
i) Bidan praktik (Depkes RI, 2004).

3.2. Traveling pada Ibu Hamil Trimester I, II & III
Wanita hamil harus berhati-hati dalam melakukan perjalanan yang cenderung lama dan
melelahkan, karena dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengakibatkan gangguan
sirkulasi serta odema tungkai karena kaki tergantung jika duduk terlalu lama. Sabuk pengaman
yang dikenakan dikendaraan jangan sampai menekan perut yang menonjol. Jika mungkin
perjalanan yang jauh sebaiknya dilakukan dengan pesawat udara. Ketinggian tidak
mempengaruhi kehamilan, bila kehamilan telah 35 minggu ada perusahaan penerbangan yang
menolak membawa wanita hamil ada juga yang menerima dengan catatan keterangan dokter
yang menyatakan cukup sehat untuk bepergian. Berpergian dapat menimbulkan masalah lain,
seperti konstipasi/diare karena asupan makanan dan minuman cenderung berbeda seperti
biasanya karena akibat perjalanan yang melelahkan.

Traveling bagi Ibu Hamil :
1. Boleh asal konsultasi terlebih dahulu.
2. Waktu terbaik pada usia kehamilan trimester 2 (13-28 minggu).
3. Trimester 1 akan mengganggu karena mual, kelelahan, dan resiko abortus.
4. Trimester 3 akan mengganggu karena beban perut yang makin besar, kelelahan, dan resiko
premature.

3.3. Persiapan Laktasi pada Ibu Hamil Trimester I, II & III
Kolostrum adalah susu yang dihasilkan induk mamalia dalam 324 jam pertama setelah
melahirkan (pascapersalinan). Terkadang disebut juga sebagai susu imun karena kandungan
faktor kekebalan tubuh (faktor imun) yang ditemukan jauh lebih banyak proporsinya
dibandingkan dengan susu setelah 3 hari pascapersalinan tersebut. Banyaknya faktor
pertumbuhan dalam kolostrum juga ikut memberikan deferensiasi susu imun ini dari susu pada
umumnya. Selain juga tentunya kombinasi zat gizi (nutrien) yang sempurna sebagaimana susu.
Air susu ibu atau ASI adalah susu yang diproduksi oleh manusia untuk konsumsi bayi dan
merupakan sumber gizi utama bayi yang belum dapat mencerna makanan padat.
ASI diproduksi karena pengaruh hormon prolactin dan oxytocin setelah kelahiran bayi. ASI
pertama yang keluar disebut kolostrum atau jolong dan mengandung banyak immunoglobulin
IgA yang baik untuk pertahanan tubuh bayi melawan penyakit. Bila ibu tidak dapat menyusui
anaknya, harus digantikan oleh air susu dari orang lain atau susu formula khusus. Susu sapi tidak
cocok untuk bayi sampai berusia 1 tahun. Persiapan laktasi bagi ibu hamil yaitu :
1. Penyuluhan langsung maupun melalui sarana audio visual yaitu agar ibu hamil mengerti
akan pentingnya persiapan laktasi.
2. Dukungan fsikologis untuk ibu dalam menghadapi persalinan dengan tujuan agar ibu
menyakini kemampuannya dan keberhasilannya dalam menyusui.
3. Pemeriksaan payudara.
4. Pemeriksaan puting susu.
5. Senam hamil.
Persiapan Laktasi yaitu :
1. Persiapan laktasi bagi ibu hamil harus diperhatikan untuk kesejahteraan bayi dan
perkembangannya
2. Persiapan laktasi dimulai dengan memakan makanan yang banyak mengandung protein dan
karbohidrat yang dapat membentuk ASI baik bagi ibu maupun bayinya
3. ASI biasanya sudah keluar saat umur kehamilan 20-22 minggu.
Anjuran yang diberikan pada ibu tentang ASI pada saat hamil :
1. Mempelajari tentang ASI, laktasi dan rawat gabung serta bahaya susu formula.
2. Memutuskan akan memberikan ASI kepada bayi sekurang-kurang sampai berusia 4-6 bulan.
3. Belajar keterampilan menyusui.
4. Meningkatkan gizi dan kesejahteraan ibu.
Langkah persiapan ibu menyusui secara mental
1. Memberikan dorongan pada ibu dengan menyakinkan bahwa ibu mampu menyusui
2. Menyakinkan ibu akan keuntungan air susu ibu
3. Membantu mangatasi keraguannya karena pernah bermasalah ketika menyusui dalam
pengalaman sebelumnya
4. Mengikut sertakan suami atau keluarga lain yang berperan dalam keluarga
5. Memberikan kesempatan pada ibu untuk bertanya setiap ia membutuhkan.


Masa hamil
1. Mempelajari tentang asi laktasi dan rawat gabung serta bahaya susu formula
2. Memutuskan akan memberikan asi kepada bayi sekurang-kurangnya sampai bayi berusia 4-
6 bulan
3. Belajar keterampilan menyusui.
4. Meningkatkan gizi dan kesehatan ibu.
5. Memakai Bra yang membantu menyokong dan ukurannya sesuai dengan payudara.
6. Memeriksa payudara dan putting.
Langkah-Langkah Menyusui yang Benar :
1. Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada puting susu.
2. Bayi diletakkan menghadap payudara :
Ibu harus duduk atau berbaring dengan santai. Bila duduk lebih baik menggunakan kursi
yang rendah dan punggung ibu bersandar pada kursi
Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada
lengkung siku ibu ( kepala tidak boleh menengadah, dan bokong menengadah, dan bokong bayi
ditahan dengan telapak tangan )
Satu tangan bayi diletakan di belakang badan ibu dan yang satu didepan
Perut bayi menempel badan ibu, badan dan kepala bayi sedikit melengkung sehingga dapat
melingkari perut ibu, tidak hanya membelokkan kepala bayi, Kuping dan lengan bayi terletak
pada satu garis lurus
Ibu menatap bayi dengan kasih sayang
3. Payudara dipegang dengan ibu jari di atas puting dan jari yang lain menopang di bawahnya,
jangan menekan puting susu atau areolanya saja seperti memegang rokok atau seperti gunting
4. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut dengan cara menyentuh pipi atau sudut mulut
bayi dengan putting
5. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat payudara dimasukan ke mulut bayi :
Usahakan seluruh areola dapat masuk ke dalam mulut bayi, sehingga puting susu berada di
bawah langit langit dan lidah bayi akan menekan.
Setelah bayi mulai menghisap payudara dengan irama perlahan namun kuat, maka payudara
tak perlu dipegang atau disangga lagi




6. Melepas isapan
Bila satu payudara telah terasa kosong, jangan biarkan bayi terus menghisap sebab udara akan
masuk. Lepaskan isapan dan ganti dengan payudara yang lain.
Cara melepaskan isapan bayi :
Jari kelingking ibu dimasukan ke mulut bayi melalui sudut mulut atau
Dagu bayi ditekan ke bawah.
7. Setelah menyusui, ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada puting susu.
8. Menyusui sebaiknya tidak boleh bergantian, harus sebelah saja yang diduhulukan atau
disusukan sampai bayi merasa kenyang.

3.4. Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Istirahat merupakan keadaan yang relaks tanpa adanya tekanan emosional dan bukan hanya
berhenti dalam keadaan tidak beraktifitas tetapi juga berhenti sejenak kondisi yang
membutuhkan ketenangan. Kata istirahat berarti suatu keadaan melepaskan diri dari segala apa
yang membosankan, menyulitkan bahkan menjengkelkan.
Tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh
stimulus(Guyton,1968) atau juga dikatakan sebagai suatu keadaan tidak sadarkan diri yang
relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan akan tetapi lebih merupakan suatu
urutan siklus yang berulang.

Kebutuhan tidur pada manusia yaitu :
Kebutuhan tidur pada manusia tergantung pada tingkat perkembangan, tabel ini merangkum
kebutuhan tidur manusia berdasarkan usia.
Pada ibu hamil dianjurkan untuk merencanakan periode istirahat terutama saat hamil tua. Posisi
berbaring miring dianjurkan untuk meningkatkan perfusi uterin dan oksigenasi fetoplasental.
Selama periode istirahat yang singkat seorang wanita dapat mengambil posisi telentang kaki
diangkat pada dinding untuk meningkatkan aliran vena dari kaki dan mengurangi edama kaki
dan farises vena.
Tabel Kebutuhan Tidur Manusia
Umur Tingkat Perkembangan Jumlah Kebutuhan
Tidur
0-1 0-1 bulan
1 1 bulan-18 bulan
18 18 bulan-3
tahun
3 tahun-6 tahun
6 tahun- 12 tahun
12 tahun-18 tahun
18 tahun-40 tahun
40 tahun-60 tahun
60 tahun keatas
Bayi baru lahir
Masa bayi
Masa anak
Masa prasekolah
Masa sekolah
Masa remaja
Masa dewasa
Masa muda paruh baya
Masa dewasa tua
14-18 jam/hari
12-14 jam/hari
11-12 jam/hari
11 jam/hari
10 jam/hari
8,5 jam/hari
7-8 jam/hari
7 jam/hari
6 jam/hari

Kebutuhan istirahat bagi ibu hamil yaitu :
a) Aktivitas tidak terlalu berlebihan.
b) Mengatasi kelelahan dengan istirahat atau tidur siang sebentar.
c) Mengurangi semua kegiatan yang melelahkan.
d) Hindari posisi duduk dan berdiri yang terlalu lama.
e) Kurangi kebiasaan tidur larut malam dan kegiatan-kegiatan malam.
f) Tidur malam sekitar 8 jam.
g) Istirahat atau tidur siang sekitar 1 jam.



















BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Kehamilan merupakan suatu proses kehidupan seorang wanita, dimana dengan adanya proses ini
terjadi perubahan-perubahan. Perubahan tersebut meliputi perubahan fisik, mental dan sosial.
Selain kebutuhan psikologis, kebutuhan fisik juga harus diperhatikan agar kehamilan dapat
berlangsung dengan aman dan lancar. Kebutuhan fisik yang diperlukan ibu selama hamil
diantaranya meliputi istirahat/tidur dimana pada ibu hamil dianjurkan untuk merencanakan
periode istirahat terutama saat hamil tua. Kemudian imunisasi yaitu yang merupakan pemberian
kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh
agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi
seseorang, imunisasi pada ibu hamil yaitu Tetanus Toksoid. Selanjutnya traveling yaitu
perjalanan jauh bagi wanita hamil yang harus berhati-hati dalam melakukan perjalanan yang
cenderung lama dan melelahkan, karena dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan
mengakibatkan gangguan sirkulasi serta odema, pada wanita hamil sebaiknya traveling
dilakukan pada trimester 2 yaitu pada usia kehamilan 13-28 minggu. Dan yang terakhir persiapan
laktasi yaitu persiapan menyusui bagi ibu hamil, dimana sang ibu mempelajari tentang ASI,
laktasi dan rawat gabung dan bahaya susu formula, memutuskan akan memberikan ASI kepada
bayi sekurang-kurang sampai berusia 4-6 bulan, belajar keterampilan menyusui serta
meningkatkan gizi dan kesejahteraan ibu.


4.2. Saran
Diharapkan bagi setiap ibu hamil lebih memperhatikan kebutuhannya dalam mempertahankan
kesehatan fisik maupun mentalnya yang secara tidak langsung juga berpengaruh pada tumbuh
kembang janin dalam proses kehamilannya.
















DAFTAR PUSTAKA

BKKBN., 2005. Kartu Informasi KHIBA (Kelangsungan Hidup Ibu Bayi, dan Anak Balita).
Chin, James., Kandun, I Nyoman., 2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular.
Available at www.ppmplp.depkes.go.id
Ditjen PPM-PL Depkes RI., 2000. Modul Latihan Petugas Imunisasi edisi ketujuh.
Saifuddin, Abdul Bari., Andriaansz, Geoege., Wiknjosastro, Gulardi Hanifa., Waspodo,
Djoko., 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. JNPKKR-
POGI dan Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
Imunisasi TT pada ibu hamil. Update: 24 Juli 2002. Available from: URL: http://
www.balita-anda.indoglobal.com/
Vaksinasi, Penting Menjelang Kehamilan. Available from: URL: http://www.
korantempo.com/news/2002/1/16/Gaya%20Hidup/23.html
Immunization during Pregnancy. Update: 2003. Available from: URL: http://www.
elsevier.com.
http://drdidiksuprayitno.blogspot.com/2010/03/imunisasi-pada-ibu-hamil.html

http://female.kompas.com/read/2010/09/04/20503078/travelling.aman.dan.nyaman.untuk.si.ibu.h
amil
http://www.traveljunkieindonesia.com/tips-traveling-saat-hamil
Salmah, Rusmiati, Maryanah, Susanti Nengah Ni. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal.
Jakarta: buku kedokteran