Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap manusia pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan dari
bayi sampai menjadi tua. Masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir,
dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial
sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Lansia
banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan
terintegrasi.
Berdasarkan definisi secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia (lansia)
apabila usianya ! tahun ke atas yang merupakan tahap lanjut dari suatu proses
kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi
dengan stres lingkungan yang ditandai oleh kegagalan yang berkaitan dengan
penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara
indi"idual (#fendi, $%%&).
'umlah populasi lansia di (ndonesia makin bertambah banyak dan pada tahun
$%%) diperkirakan berkisar *+ juta orang, pada tahun $%*! bertambah lagi sehingga
jumlahnya akan sama dengan jumlah balita, pada tahun $%$% diproyeksikan jumlah
populasi lansia akan melebihi jumlah balita, pada tahun $%$! (ndonesia akan
menduduki peringkat negara ke-, di dunia dengan jumlah populasi lansia setelah
--., (ndia, dan /merika Serikat (0ugroho, $%%&).
1ujuan pera2atan lansia adalah untuk mengoptimalkan kesehatan mereka
secara umum, serta memperbaiki3mempertahankan kapasitas fungsionalnya (1amher
4 0oorkasiani, $%%&).
Masyarakat menganggap pera2atan paliatif hanya untuk pasien terminal yang
akan segera meninggal. 0amun konsep baru pera2atan paliatif menekankan
pentingnya integrasi pera2atan paliatif lebih dini agar masalah fisik, psikososial, dan
spiritual dapat diatasi dengan baik. 5i sinilah pera2atan paliatif juga menjadi aspek
penting pada pengobatan bidang geriatri (masalah kesehatan pada lansia).
Menurut Menkes -( ($%%)) pera2atan paliatif adalah pendekatan yang
bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi
masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam ji2a,
1
melalui pencegahan dan peniadaan melalui identifikasi dini dan penilaian yang tertib
serta penanganan nyeri dan masalah-masalah lain, fisik, psikososial, dan spiritual.
Berdasarkan paparan di atas maka pera2atan paliatif pada lansia menjadi hal
penting untuk dikembangkan sehingga kami tertarik untuk menganalisis jurnal The
Effect of Community-Managed Palliative Care Program on Quality of Life in the
Elderly in Rural Tamil Nadu, India.
1.2 Rumusan Masalah
/dapun rumusan masalah dalam analisa jurnal ini adalah sebagai berikut6
*. Bagaimana ringkasan dari jurnal The Effect of Community-Managed Palliative
Care Program on Quality of Life in the Elderly in Rural Tamil Nadu,India!"
$. Bagaimana critical a##rai$al dari jurnalThe Effect of Community-Managed
Palliative Care Program on Quality of Life in the Elderly in Rural Tamil
Nadu,India!"
7. Bagaimana implikasi paliatif care berbasis komunitas untu lansia di (ndonesia dan
di luar negeri8
,. /pakah ada penelitian lain yang mendukung tentang program pera2atan paliatif
berbasis komunitas untuk lansia8
!. Bagaimana (mplikasi kepera2atan dalam jurnal The Effect of Community-
Managed Palliative Care Program on Quality of Life in the Elderly in Rural
Tamil Nadu,India!"
1.3 Tujuan Penulsan
1ujuan analisa jurnal ini adalah sebagai berikut6
*. 9ntuk mengetahui bagaimanakah ringkasan dari jurnal The Effect of
Community-Managed Palliative Care Program on Quality of Life in the Elderly in
Rural Tamil Nadu,India!.
$. 9ntk mengetahui bagaimanakah critical a##rai$al dari jurnalThe Effect of
Community-Managed Palliative Care Program on Quality of Life in the Elderly in
Rural Tamil Nadu,India!.
7. 9ntuk mengetahui bagaimanakah implikasi paliatif care berbasis komunitas untu
lansia di (ndonesia dan di luar negeri8
,. 9ntuk mengetahui apakah ada penelitian lain yang mendukung tentang program
pera2atan paliatif berbasis komunitas untuk lansia8
2
!. 9ntuk mengetahui bagaimanakah implikasi kepera2atan dalam jurnal The Effect
of Community-Managed Palliative Care Program on Quality of Life in the Elderly
in Rural Tamil Nadu,India!.
1.! Man"aat
/dapun manfaat dari makalah yang kami susun adalah sebagai berikut6
*. Bagi lansia
Lansia dapat mengetahui program pera2atan paliatif berbasis komunitas yang
mampu meningkatkan kualitas hidupnya.
$. Bagi penulis
Meningkatkan kemampuan untuk meringkas dan mengkritisi jurnal
7. Bagi tenaga kesehatan
Mengetahui program paliatif yang berbasis komunitas untuk meningkatkan
kualitas hidup lansia.
,. Bagi institusi pendidikan
5apat dijadikan sumber referensi dalam pera2atan lansia.
BAB II
PEMBAHA#AN
2.1 Rngkasan $urnal
:rogram pera2atan paliatif berbasis komunitas telah diterapkan sejak 7 tahun
terakhir di , desa di 1amil 0adu (0egara sebelah selatan (ndia) oleh suatu
organisasi sukarela nasional (ndia yaitu ;elp/ge, dengan misi untuk melakukan
pera2atan dan meningkatkan kualitas hidup kelompok berumur yang kurang
beruntung. :rogram ini serupa dengan program yang dilaksanakan di <erala, yaitu
dengan menggerakkan para lansia untuk membentuk %elf &el# 'rou# (S;=) untuk
memfasilitasi mereka dalam hal pera2atan dirinya secara mandiri. Laporan terkini
tentang e"aluasi kualitatif pada program ini menunjukkan adanya efek positif
3
terhadap kualitas hidup lansia. <ualitas hidup dan pera2atan kesehatan pada lansia
ini adalah merupakan isu terkini di 0egara berkembang, dimana kualitas hidup ini
mencakup aspek fisik, mental, social, spiritual dan control lingkungan. Selain itu
diketahui juga bah2a persepsi indi"idu terhadap kesehatan, perasaan mampu
mengatur keuangan, perasaan terlalu miskin, dan kesepian merupakan penentu yang
penting pada kualitas hidup usia % tahun keatas. >leh karena itu, tujuan penelitian
ini adalah untuk menge"aluasi efek dari kualitas hidup lansia di desa-desa tempat
diadakannya program pera2atan paliatif berbasis komunitas.
Met%&e
Setting penelitian dilaksanakan di , desa yang merupakan tempat
dilaksanakannya program pera2atan paliatif di 1amil 0adu sebagai 2ilayah program
dan ,) desa tetangga yang berbatasan sebagai 2ilayah control, dengan ukuran
sampel yang digunakan adalah ,!% orang lansia yang diambil masing-masing dari
2ilayah program dan control. 1eknik sampling yang digunakan adalah dua tahap
clu$ter $am#ling, yaitu pertama dengan membagi setiap 2ilayah menjadi 7% cluster,
kemudian dilakukan pemilihan sampel secara acak ($im#le random $am#ling)
sampai mendapatkan jumlah sampel sebanyak ,!% di masing?masing 2ilayah.
Metode pengumpulan data adalah dengan 2a2ancara menggunakan kuesioner
untuk mengukur kualitas hidup yang dikeluarkan oleh @;> ((&)Q)L-*rief
+ue$tionnaire). :roses pengumpulan data dilakukan oleh tenaga yang telah diberikan
pelatihan sebelumnya terkait dengan penelitian yang dilakukan dan pelatihan
komunikasi untuk memperoleh data. 1enaga pe2a2ancara berasal dari desa terdekat
yang tidak memiliki hubungan dengan kedua 2ilayah yang diteliti, dengan kriteria
merupakan mahasis2a program Ma$ter on %ocial (or, dan lulusan dari program
kedokteran komunitas. :engumpulan data dilakukan dengan mengadakan kunjungan
ke rumah setiap responden untuk melakukan 2a2ancara dan juga diskusi untuk
mengetahui karakteristik dan tingkat kualitas hidup dari sampel yang dilihat dari ,
bidang (kesehatan fisik, kesehatan psikologis, dukungan social dan lingkungan).
5ata yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan %oft-are
%tati$tical Pac,age .or %ocial %cience$ *$.%.* dengan nilai signifikan !A (: B
%,%!).
Hasl
9ntuk karakteritik sosio-demografi sampel didapatkan tidak ada perbedaan
yang signifikan dalam hal klompok usia, jel nis kelamin, agama, pekerjaan, status
social ekonomi, status perka2inan, tipe keluarga, dan penggunaan asuransi
4
kesehatan. 1etapi ada perbedaan dalam hal keikutsertaan dalam S;= dimana di
2ilayah program didapatkan $$! responden ($),+A) sedangkan di 2ilayah control
,% responden (+,+A).
9ntuk masalah kesehatan kronis yang sering dilaporkan adalah nyeri kronis
pada sendi (*,7A) dan masalah penglihatan3pendengaran (7+,,A), hipertensi
($%,)A), diabetes (*7,&A) dan asma (),$A). :erbedaan signifikan hanya terdapat
pada penyakit hipertensi dan asma yang lebih rendah di 2ilayah program sedangkan
yang lainnya tidak ada perbedaan yang signifikan. 5i kedua 2ilayah penelitian
didapatkan bah2a lansia dengan masalah kesehatan kronis memanfaatkan layanan
kesehatan milih pemerintah, serta terdapat 7,A responden di 2ilayah control yang
memanfaatkan pengobatan terdisional (ndia.
9ntuk tingkat kualitas hidup lansia, terdapat perbedaan yang signifikan dalam
hal kesehatan fisik (:C%,%*7) dan kesehatan psikologis (:C%,%,7) yang lebih tinggi
di 2ilayah program dibandingkan 2ilayah control. Sedangkan dalam hal dukungan
social dan control lingkungan tidak ada perbedaan yang signifikan. 9ntuk tingkat
kualitas hidup lansia yang memiliki minimal * masalah kesehatan kronis, terdapat
perbedaan signifikan dalam hal kesehatan fisik (:C%,%$,) yang lebih tinggi 2ilayah
program.
Dskus
Melalui penelitian ini, peneliti menemukan bah2a model program pera2atan
paliatif yang berbasis komunitas dapat meningkatkan kualitas hidup lansia dalam hal
kesehatan fisik dan dukungan psikologis, serta merupakan pendekatan yang efektif
untuk melakukan pendataan di (ndia. Berhubungan dengan masalah kesehatan yang
dialami lansia, diperlukan suatu program untuk menurunkan faktor resiko dan
pera2atan mental pada lansia. 5engan melihat tingginya pemanfaatan layanan
kesehatan baik pemerintah ataupun s2asta, diperlukan kesiapan fasilitas kesehatan
dan terbangunnya kerjasama antara pemerintah dengan s2asta. Selain itu, diperlukan
tim kesehatan yang terintegrasi untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
berkelanjutan.
2.2 Analss $urnal
'udul artikel yang dibahas kelompok yaitu, D1he #ffect of .ommunity-
Managed :alliati"e .are :rogram on Euality of Li"e in 1he #lderly in -ural 1amil
0adu, (ndiaF, judul sudah jelas mencerminkan isi dari artikel yang bertujuan untuk
menge"aluasi hasil dari program pelayanan paliatif berbasis komunitas. 'udul juga
sudah memuat tempat dari penelitian. :enulis dari artikel berjumlah , orang,
5
pertama 5r. /mol - 5ongre berpendidikan S7 dan bekerja di 5epartemen
<esehatan Masyarakat, 9ni"ersitas dan rumah sakit Sri Manukula Ginayagar,
:uducherry. <edua, <oonjangad : -ajendran sebagai konsultan, direktur, dan ketua
di 5i"isi :rofesional <onsultasi :elayanan <esehatan, Hour I, .onsulting :"t. Ltd,
0e2 5elhi, tidak disebutkan apa pendidikan terakhirnya. <etiga, Suresh <umar dari
(nstitut <esehatan :aliatif, Hakultas <edokteran, .alicut <erala, tidak disebutkan
apa pendidikan terakhir. <eempat, :radeep - 5eshmukh dari 5epartemen
<esehatan <omunitas, Hakultas <edokteran, 9ni"ersitas Mahatma =andhi,
Se2agram, @ardha, (ndia, namun tidak disebutkan pula apa pendidikan terakhirnya.
5alam artikel tidak disebutkan kapan dan berapa lama penelitian dilakukan, artikel
dipublikasikan pada bulan September-5esember $%*$.
:enelitian ini bukan merupakan karya baru, melainkan penelitian lanjutan dari
penelitian yang dilakukan sebelumnya. <arena, artikel hanya menjelaskan hasil
e"aluasi dari program yang sudah pernah diberikan kepada kelompok perlakuan.
0amun, penelitian sangat rele"an dengan praktik kesehatan terkini, terkait dengan
jumlah lansia yang semakin meningkat tiap tahunnya, sehingga sangat diperlukan
program-program kesehatan yang menunjang kesehatan dan kesejahteraan hidup
lansia. :enelitian terkait dengan kepera2atan, 2alaupun program tidak dijelaskan
dalam jurnal namun hasil dari program dapat meningkatkan kualitas hidup lansia,
sehingga program peningkatan kualitas hidup berbasis komunitas ini yang
digagaskan penulis bisa menjadi contoh program untuk para pera2at komunitas.
#ditor dari artikel bernama 5r Sushma Bhatnagar dari (nstitute -otary .ancer
;ospital. 5ari bahasa dan pembahasan yang ditampilkan dapat disimpulkan bah2a
target pembaca adalah tenaga kesehatan dan3atau mahasis2a yang mempelajari atau
memberikan pera2atan paliatif. :ada abstrak sudah merepresentasikan isi dari
jurnal. 5alam abstrak juga berisi latar belakang, metode, instrumen, hasil dan
kesimpulan. Meskipun tidak dicantumkan hipoteseis dan pertanyaan penelitian,
abstrak sudah lengkap dan mencerminkan isi. Hokus penelitian mudah dimengerti
yaitu untuk mengetahui efek dari pemberian program #alliative care berbasis
komunitas.
Masalah penelitian dan tujuan penelitian cukup jelas meskipun tidak tersurat
secara langsung yaitu penelitian ini dilakukan sebelumnya untuk mengetahui efek
dari pemberian program dan mengetahui kualitas hidup lansia di daerah tersebut
setelah pemberian program. :eneliti mengungkapkan mengadakan penelitian ini
adalah untuk menge"aluasi penelitian sebelumnya dimana di daerah tersebut sudah
6
pernah diadakan program paliati"e care berbasis komunitas dan mengukur kualitas
hidup lansia di daerah tersebut setelah diberikan program. 1ujuan umum dan tujuan
khusus penelitian dirangkum dan tidak dipaparkan secara terpisah. 1ujuan dari
penelitian ini adalah untuk menge"aluasi efek dari program ini terhadap kualitas
hidup lansia di daerah itu.
;ipotesis yang diangkat dalam artikel ini adalah ada hubungan antara
kelompok project dengan kelompok control ditinjau dari , domain kualitas hidup
yaitu kesehatan fisik, kesehatan psikologi, hubungan social, dan control lingkungan.
;ipotesis yang diangkat mengikuti masalah penelitian yang untuk mengetahui
perbedaan hasil yang diperoleh dari kedua kelompok penelitian. :ertanyaan
penelitian tidak dicantumkan dalam artikel, jadi tidak dapat menyimpulkan apakah
pertanyaan penelitiannya.
5iskusi yang dicantumkan oleh penulis di artikel tidak ada bias dilihat dari
representatif antara latar belakang penelitian dengan metodologi penelitian yang
dibahas. 5ilihat dari artikel, penulis memahami subjek penelitian yang dibuktikan
dengan pilot studi yang dilakukan peneliti sebeleum melakujkan penelitian, dan
subjek penelitian sudah digunakan untuk penelitian sebelumnya. 9ntuk tinjauan
pustaka penulis sudah menggunakan sumber pustaka terkini, tetapi masih ada
sumber pustaka yang sudah lebih dari *% tahun pembuatan artikel. Selain itu, penulis
hanya menampilkan kutipan langsung dari penelitian terdahulu, dilihat dari penulis
mencantumkan langsung hasil penelitian tanpa membahas selanjutnya.
:ada bagian metodelogi rancangan penelitian disampaikan dengan jelas. 5alam
artikel, peneliti telah mencantumkan settings tempat, jumlah sampel, hingga teknik
sampeling yang digunakan. Menurut kelompok penelitian ini menggunakan rancangan
penelitian deskriptif dengan melakukan penelitian tanpa diberikan perlakuan, hanya
berpedoman dengan pilot studi yang sebelumnya telah dilakukan. :eneliti mencantumkan
alasan pemilihan instrumen atau alat ukur yang digunakan, yaitu berupa kuesioner.
<uesioner yang digunakan yaitu diadopsi dari @;>, karena memungkinkan rinci penilaian
empat domain kualitas hidup yakni fisik kesehatan, dukungan psikologis, hubungan sosial
dan lingkungan. Sampel yang digunakan pada penelitian me2akili populasi yang diteliti,
sudah dijelaskan oleh penulis secara rinci mengenai pengambilan sampel. :eneliti
mempertimbangkan karakteristik sampel dalam pemilihan sampel penelitian ini. 1erbukti
dalam jumlah sampel dalam artikel dijelaskan pemilihan sampelnya sampai menemukan
jumlah sampel keseluruhan sesuai dengan Standard 5e"iasi yang ditentukan.
7
Menurut kelompok, peneliti sudah menggunakan metode pemilihan sampel yang
tepat. <arena dalam penelitian ini dilakukan pada area atau 2ilayah yang cukup luas dan
ditemukan populasi yang banyak sehingga dilakukan $ tahap pemilihan sampel, yang
pertama cluster sampling dimana peneliti dapat memilih tempat (desa ) yang menurut
peneliti memungkinkan untuk dilakukan penelitian kemudian tahap kedua systematic
random sampling. Setelah peneliti menentukan tempat3desa yang akan diteliti kemudian
dilakukan pemilihan secara acak, semua sudah tercantum dalam artikel.
9ntuk memenuhi standar etik, dalam penelitian peserta diberikan lembar
persetujuan (Informed Con$ent), namun dalam artikel tidak dijelaskan mengenai
kerahasiaan peserta sebagai objek penelitian, selain itu dalam artikel juga tidak
disampaikan hak peserta untuk menolak ikut serta dalam penelitian maupun tentang
hal kebebasan peserta dalam perlakuan yang membahayakan. :eserta pe2a2ancara
hanya me2a2ancarai peserta penelitian dan tidak melakukan inter"ensi yang
membahayakan, serta hanya memberikan umpan balik berupa diskusi pemecahan
masalahan pada peserta. :enelitian ini sudah mendapat persetujuan komite etik dari
instutusi komite etik Sri Manakula Ginayagar Medical College and &o$#ital serta
:ondicherry.
9ntuk reliabilitas dan "aliditas penelitian sudah dipertimbangkan. :eneliti
menggunakan kuesioner singkat "ersi D1amilF dari @;>-Euality of Life. 5alam
penelitian ini peneliti mendapatkan "aliditas kuesioner "ersi D1amilF dari (orld
&ealth )rganitation. 5i dalam artikel, metodelogi penelitian tidak bias. ;al ini
terbukti dari tercantumnya bagaimana rancangan, alat ukur, sampel secara jelas
sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis.
:ilot study tidak dilakukan oleh peneliti, melainkan hanya memakai
perhitungan standar de"iasi (S5) dari penelitian lain yang serupa mengenai Quality
of Life untuk mencari besar sample yang akan digunakan dalam penelitian. :eneliti
menggunakan soft2are komputer yaitu S:SS untuk melakukan uji. 0amun, peneliti
tidak menampilkan jenis uji yang digunakan dan rasional dari pemilihan jenis uji
tersebut. :eneliti menampilkan hasil berupa tabel dan narasi yang dipaparkan
dengan jelas dalam artikel. Menurut kelompok, hasil yang ditampilkan cukup mudah
untuk dimengerti. <esimpulan dari hasil yang didapat adalah adanya pengaruh yang
signifikan dari program pera2atan paliatif yang diberikan, peneliti
merekomendasikan untuk mengembangkan program tersebut karena sudah terbukti
memberikan hasil yang positif terhadap peningkatan kualitas hidup lansia. :eneliti
8
juga menyampaikan bah2a rekomendasinya sejalan dengan <ebijakan 0asional
untuk >rang tua tahun *&&&, karena projek ini didasarkan pada filsafat penelitian
partisipatif, dimana masyarakat juga diberdayakan untuk terlibat aktif dalam
perencanaan program serta pelaksanaannya.
:engertian dan pengelolaan lansia menurut 9ndang-9ndang -epublik
(ndonesia 0omor *7 1ahun *&&+ tentang lansia sebagai berikut 6
a. Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia % tahun keatas.
b. Lansia usia potensial adalah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan
kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.
c. Lansia tak potensial adalah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga
hidupnya tergantung pada bantuan orang lain.
<ualitas hidup adalah ukuran konseptual atau operasional yang sering digunakan
dalam situasi penyakit kronik sebagai cara untuk menilai dampak terapi pada pasien.
Skala kualitas hidup adalah ukuran faktor-faktor yang memungkinkan indi"idu
untuk berhasil mengatasi setiap aspek kehidupan dan tantangan yang dijumpai
(Brooker, $%%+). :enuaan sering diikuti dengan penurunan kualitas hidup sehingga
status lansia dalam kondisi sehat atau sakit. :enuaan dapat terjadi secara
alamiah3fisiologis atau patologis. :erlu kehati-hatian dalam mengidentifikasi atau
membedakan antara penuaan alamiah3fisiologis dan patologis (:udjiastuti 4 9tomo,
$%%7). 9ntuk mempertahankan kualitas hidup, tetap aktif dan produktif, lansia
membutuhkan kemudahan dalam berakti"itas, pemahaman tentang lingkungan
akti"itas, dan pelayanan kesehatan yang memadai. <emudahan dalam berakti"itas
akan membantu lansia melakukan kegiatannya tanpa hambatan, menggunakan energi
minimal, dan menghindari cidera. :emahaman lingkungan akti"itas akan membantu
lansia dalam penyesuaian akti"itas indi"idual di rumah ataupun akti"itas sosial di
masyarakat (:udjiastuti 4 9tomo, $%%7).
<ualitas hidup lansia biasanya dibagi dalam dimensi lingkungan, fisik, sosial, dan
psikologis. <ualitas hidup juga terdiri atas penilaian subjektif seseorang mengenai
sejauh mana berbagai dimensi, seperti lingkungan, kondisi fisik, ikatan sosial, dan
kondisi psikologis dirasakan memenuhi kebutuhannya (Sadli, $%*%). /da lansia
yang tetap aktif di masyarakat dan merasa mnasih banyak yang bisa disumbangkan
kepada orang lain dalam usia lanjutnya. /kan tetapi, ada juga lansia lain yang relatif
masih sehat dan mempunyai lingkungan sosial dan psikologis yang mendukungnya,
tetapi merasa tidak berguna lagi karena telah tergolong usia lanjut (Sadli, $%*%).
9ntuk meningkatkan kualitas hidup lansia, telah dikembangkan berbagai program
kesehatan, salah satunya adalah pera2atan paliatif berbasis komunitas untuk lansia,
9
seperti yang dibahas pada artikel di atas. :engobatan dan kepera2atan paliatif
merupakan spesialisasi yang diakui dan difokuskan pada pera2atan pasien yang
penyakitnya sudah tidak dapat disembuhkan. (nter"ensi yang mungkin diberikan
yaitu berupa pembedahan, mengurangi rasa nyeri, serta kontrol gejala (Broker,
$%%!).
5alam sebuah Seminar Sehari :engenalan :elayanan :aliatif dengan pembicara
:rof. 0etty -.;.1eja2inata, dr.Sp/ (<-;em->nk),:=5.:all.Med (#.9), :rof. -.
Sunaryadi 1eja2inata,dr.Sp1;1 <L (<),H//>,:=5.:all.Med (#.9), /gus /li
HauJi,dr.:=5.:all.Med (#.9), dan dr. /sep Saepul -ohmat,Sp:5.H(0/S(M
mengatakan D:era2atan paliatif dimaknai dengan pera2atan interdisiplin baik medis
maupun pera2at dengan mengurangi beban penyakit, meringankan penderitaan serta
meningkatkan kualitas hidupnyaF. Menurut Broker ($%%!) dalam @;> (*&&%),
pera2atan paliatif meliputi beberapa poin yaitu menegaskan kehidupan dan
menganggap kematian adalah proses yang normal, tidak mempercepat atau
memperlambat proses kematian, meredakan gejala fisik yang mengganggu,
mengintegrasikan aspek psikologis dan spiritual, mena2arkan sistem pendukung
untuk membantu pasien hidup seaktif mungkin hingga meninggal, mena2arkan
sistem pendukung untuk keluarga menghadapi penyakit pasien dan kehilangan
mereka. :era2atan paliatif sering dianggap pera2atan untuk pasien kanker. 0amun
pera2atan paliatif juga diperuntukan bagi pasien yang mengalami segala macam
gangguan ji2a, /(5, dan penyakit lainnya yang tidak dapat disembuhkan termasuk
penyakit degeneratif. Menurut Menhir ($%*$), tempat untuk melakukan pera2atan
paliatif meliputi rumah sakit, rumah singgah, puskesmas, atau rumah pasien.
Menurut Broker ($%%!), pera2atan paliatif efektif harus dilakukan di semua area
yang terdapat pasien yang mungkin meninggal (panti jompo, rumah, atau rumah
penampungan). 9ntuk mencapai hal tersebut kini telah berkembang petugas
kesehatan spesialis komunitas. :era2atan yang diberikan juga sama yaitu
meringankan beban penyakit pasien.
Menurut @;> tahun $%%7 dalam @;> -egional >fficer for #urope tahun $%%,
pera2atan paliatif meliputi6
a. Memberikan bantuan untuk mengurangi rasa sakit dan gejala lain yang
menyebabkan ketikanyamanan pada klien.
10
b. Memberi dukungan moral pasien untuk bertahan hidup dan menganggap
kematian sebagai proses yang normal
c. Bertujuan untuk tidak mempercepat atau menunda kematian
d. Memadukan aspek psikologis dan spiritual dari pera2atan pasien
e. Mena2arkan sistem dukungan untuk membantu pasien hidup seaktif
mungkin sampai kematian
f. Mena2arkan sistem dukungan untuk membantu keluarga mengatasi
pasien selama sakit dan kelurga yang mengalami masa berkabung
g. Menggunakan pendekatan tim untuk memenuhi kebutuhan pasien dan
keluarga ,termasuk konseling kehilangan, jika terapi tersebut dibutuhkan
h. Meningkatkan kualitas hidup pasien, dan memungkinkan untuk
mempengaruhi perjalanan penyakit menuju arah yang positif.
Berlaku pada a2al perjalanan penyakit, bersamaan dengan terapi lain yang
dimaksudkan untuk memperpanjang hidup, seperti kemoterapi atau terapi radiasi,
dan mencakup penyidikan yang dibutuhkan untuk lebih memahami dan mengelola
masalah klinis yang sulit.
:erkembangan pera2atan paliatif pada lansia di 0egara-negara lain sangat
berkembang pesat, dan penelitian-penelitian tentang pera2tan paliatif sangat
banyak.Misalkan di ka2asan #ropa, @;> bekerja sama dengan <ingKs .ollage
9ni"ersity dan beberapa lembaga-lembaga lain yang menangani pera2atan paliatif
membuat buku refrensi tentang pera2atan paliatif, diikuti juga oleh /ustralia, yang
membuat suatu program pera2atan paliatif yang bertujuan untuk meningkatkan
kualitas hidup 2arga negaranya. 9ntuk pelaksaan pera2atan paliatif, menurut
<umar tahun $%%) dalam artikel /erala, India 0 1 regional Community-2a$ed
Palliative Care Model, pelaksanaan pera2atan paliatif di komunitas, khususnya di
rumah lebih disukai daripada pera2tan paliatif di institusi kesehatan seperti rumah
sakit. /lasanya karena pera2atan paliatif di rumah dapat melibatkan keluarga untuk
membantu dalam pelaksanaannya, dan mengurangi biaya pera2atan di rumah sakit.
:rogram pera2atan paliatif pada komunitas juga menjadikan focus pera2atan ra2at
jalan di rumah, dan fasilitas pera2atan klinik sebagai pendukungnya, adanya
perhatian khusus terhadapat kesejahteraan social dan emosional pasien dan keluarga,
pemerdayan sumberdaya lokal untuk membantu program, dan membangun
keterampilan dan mempercayakannya kepada masyarakat setempat. 5alam jurnal
dijelaskan bah2a adanya dalam inter"ensinya di masyarakat , program ini dilakukan
oleh tenaga kesehatan secara "oluntir yang telah diberikan pelatihan, dan dibagi
11
dalam beberpa team. :ara petugas kesehatan juga diberikan pelatihan khusus untuk
menangai masalah dukungan psikososial dan spiritual. :ara petugas kesehatan juga
melaporkan dan mendiskusikan rencana tindakan outcome yang ingin dicapai pada
pasien atau keluarga. Beberapa hasil dari kunjungan ke rumah-rumah didapatkan
bah2a adanya perbaikan dukungan emosional,perbaikan dalam kepatuhan dengan
inter"ensi medis ataupun kepera2atan, adanya pelaporan gejala yang lebih dini pada
dokter, dan adanya perbaikan hubungan social, perbaikan finansial dan bantuan
lainnya. 0amun, dalam pelaksanaanya adapun kendala-kendala yang didapatkan
sehingga adanya kegagalan. Beberapa factor yang dindikasikan menjadi factor yang
mempengaruhi kegegalan tersebut antara lain adalah interaksi antara pasien dengan
dokter, atau pasien dengan pera2at yang kurang. <ebanyak factor yang
mempengaruhi adalah kurangnya pelayanan dasar seperti air minum yang bersih,
sanitasi yang baik, dan pera2atan kesehatan primer. 5ari uraian artikel /erala,
India 0 1 regional Community-2a$ed Palliative Care Model, program paliatif
berbasis komunitas lebih dipilih oleh masyarakat, dan hasil yang positif yang dapat
menigkatkan peatuhan pasien terhadap program terapi, adanya pelaporan yang lebih
dii jika terjadi gejala-gejala pada pasien , dan juga didapatkan untuk meningkatkan
kualitas hidup pasien, namun dalam pelaksanaannya menemui bebrapa kendala yang
mungkin akan menyebabkan kegagalan untuk mencapai tujuan dari program paliatif
tersebut.
2.3 Im'lkas ke'era(atan
:ada artikel DThe Effect of Community-Managed Palliative Care Program on Quality
of Life in the Elderly in Rural Tamil Nadu, India! disebutkan bah2a adanya perbedaan
antara kelompok yang menggunakan program pera2atan paliatif dengan kelompok
yang tidak mengunakannya, kelompok inter"ensi mempunyai kualitas hidup yang lebih
baik dari kelompok kontrol.
:elaksanaan pera2atan paliatif secara umum di (ndonesia sudah dimulai sejak tanggal
*& :ebruari *&&$ dimana telah dibuka :oliklinik :era2atan :aliatif dan Bebas 0yeri,
-S95 5r.Soetomo, Surabaya, sebagai per2ujudan untuk menyambut terbitnya Surat
<eputusan Menteri <esehatan -epublik (ndonesia 0o. %,3M#0<#S3S<3(I3*&+&. (ni
merupakan cikal-bakal :era2atan :aliatif di (ndonesia. 5engan prakarsa dari
12
5epartemen <esehatan -.(. dan berbagai pihak, maka :era2atan :aliatif dengan secara
merayap lambat dari Surabaya menyebar ke 'akarta, Bandung, Logyakarta, 5enpasar
dan Makassar dalam 2aktu lebih dari *+ tahun. Banyak hambatan-hambatan yang
harus dilalui. ;ambatan ini tidak saja berupa tantangan tetapi juga tentangan. ;al ini
disebabkan oleh beberapa hal, antara lain6 masih belum teratasinya penyakit-penyakit
infeksi, kematian ibu dan anak, dan lain-lain yang masih menjadi prioritas, sehingga
:era2atan :aliatif yang mulai dikembangkan untuk penyakit-penyakit keganasan
belum mendapat prioritas,pola pikir tenaga medis, khususnya dokter, telah dibentuk
sejak masih dalam pendidikan, yakni tugas tenaga medis ialah menyembuhkan penyakit
(Hitria 0ur .emy,$%*%).
:era2atan :aliatif pada lansia bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia
dilihat dari segi fisik (bebas dari gejala nyeri atau fisik yang mengganggu), segi
psikologis (adanya rasa aman, pengertian3pemahaman tentang penyakit, dan tetap ingin
dihargai), segi social (diterima apa adanya, dilibatkan dalam permasalahn keluarga, dan
dibebaskan dari tanggungja2ab), segi spiritual (kebutuhan akan dicintai,ingin diampuni
dari kesalahan masa lampau,mempertahankan harga diri,dan hidup yang berarti). 5i
(ndonesia telah dilaksanakan program D5ay .areF yang merupakan salah satu bentuk
pelayanan sosial melalui :anti :enitipan Lanjut 9sia, terutama pelayanan terhadap
lanjut usia yang tidak potensial yang dititipkan panti penitipan lanjut usia agar
mendapat pelayanan sosial berupa 6 pemberian bantuan pangan, kebersihan, pera2atan
kesehatan, pendampingan, rekreasi, konseling dan rujukan (Mahajudin,$%%+).
:elayanan 5ay .are menurut BB::<S 'ogja berupa 6
a. :elayanan sosial lanjut usia melalui :anti Sosial 1resna @erdha (:S1@)
b. :elayanan sosial lanjut usia luar panti, seperti6
;ome care, yaitu pelayanan harian terhadap lanjut usia yang tidak potensial
yang berada di lingkungan keluarganya yang berupa bantuan bahan pangan
atau makanan siap santap dengan tujuan agar terpenuhinya kebutuhan hidup
lanjut usia secara layak. 5i (bukota 'akarta lebih populer dengan istilah
pusat santunan dalam keluarga (:9S/</).
Hoster care, yaitu pelayanan sosial yang diberikan kepada lanjut usia
terlantar melalui keluarga orang lain, berupa bantuan pangan atau makanan
siap santap dengan tujuan agar terpenuhinya kebutuhan hidup lanjut usia
secara layak.
13
<arang 2erdha, yaitu pelayanan sosial yang diberikan kepada para lanjut
usia yang diselenggarakan oleh kelompok sosial masyarakat atau berbasis
masyarakat (community based), biasanya berupa kegiatan olah raga, senam
kesegaran jasmani, rekreasi, perkumpulan kematian, serta kegiatan anjang
sana dan sarasehan.
9saha #konomis :roduktif, yaitu bantuan yang diberikan kepada lanjut usia
kurang mampu, tetapi masih potensial secara indi"idual sehingga masih
memungkinkan untuk diberikan bimbingan keterampilan dalam rangka
usaha ekonomis produktif.
Bantuan melalui <elompok 9saha Bersama (<9B#), yaitu bantuan berupa
paket usaha produktif, dikelola secara kelompok yang diberikan kepada
lanjut usia yang potensial. Setiap kelompok biasanya terdiri antara ! -*%
orang, dan sebelumnya diberikan bimbinan sosial, baik keterampilan
masupun pengembangan <9B# lanjut usia.
c. :elayanan sosial lanjut usia melalui kelembagaan.
d. :elayanan sosial bidang perlindungan sosial dan aksesibilitas lanjut usia.
(mplikasi kepera2atan yang dapat diimplementasikan oleh pera2at kaitannya dengan
peran pera2at adalah6
a. :eran pera2at sebagai Care giver 6 pera2at dalam memberikan asuhan
kepera2atan, dapat mengimplikasikan hasil penelitian pada klien sebagai salah
satu inter"ensi yang membantu dalam peningkatan kualitas hidup klien lansia.
b. :eran pera2at sebagai &ealth Educator 6 :era2at dapat memberikan pendidikan
kesehatan pada keluarga, kerabat, ataupun masyarakat di sekitar lansia agar
palliati"e care dapat diterapkan oleh semua orang yang mera2at dan yang
berhubungan dengan lansia, sehingga pera2at, keluarga, dan masyarakat sekitar
bersama-sama dalam membantu meningkatkan kualitas hidup lansia.
c. :eran pera2at sebagai Re$earch6 :eran pera2at sebagai peneliti adalah, dapat
mengembangkan penelitian yang sejenis, dan menyesuaikannya dengan kondisi
social, lingkungan, kebudayaan, ekonomi dan hal lain yang berhubungan, sehingga
nantinya, ada ino"asi ataupun modifikasi inter"ensi baru dalam palliati"e care yang
sesuai dengan keadaan lansia pada daerah tertentu untuk membMantu meningkatkan
kualitas hidup lansia tersebut.
14
BAB III
PENUTUP
).1 *esm'ulan
'urnal The Effect of Community-Managed Palliative Care Program on
Quality of Life in the Elderly in Rural Tamil Nadu,India! menjelaskan sebuah
organiasi nasional penyalur bantuan yang memiliki program pera2atan paliatif
berbasis komunitas untuk meningkatkan kualitas hidup lansia yang mengacu pada ,
aspek yaitu fisik, psikologis, system dukungan dan kontrol lingkungan. 5alam
critical a##rai$al yang telah dilakukan, jurnal sudah dipaparkan dengan jelas namun
terdapat beberapa hal yang belum dipaparkan dalam jurnal seperti tidak
dicantumkannya tingkat pendidikan dari penulis, kapan dan berapa lama dilakukannya
penelitian, nama dari editorial, pertanyaan penelitian, rancangan penelitian, #ilot
$tudy pendahuluan dan modifikasi, serta keterbatasan penelitian.
:rogram pera2atan paliatif berbasis komunitas untuk lansia juga telah diteliti
dalam jurnal lain. Menurut <umar tahun $%%) dalam artikel /erala, India 0 1
regional Community-2a$ed Palliative Care Model, pelaksanaan pera2atan paliatif di
komunitas, khususnya di rumah lebih disukai daripada pera2tan paliatif di institusi
kesehatan seperti rumah sakit. Beberapa hasil dari kunjungan ke rumah-rumah
didapatkan bah2a adanya perbaikan dukungan emosional, perbaikan dalam kepatuhan
dengan inter"ensi medis ataupun kepera2atan, adanya pelaporan gejala yang lebih
dini pada dokter, dan adanya perbaikan hubungan social, perbaikan finansial dan
bantuan lainnya. /rtikel tersebut mendukung bah2a pera2atan paliatif berbasis
komunitas pada lansia dapat meningkatkan kualitas hidup lansia dari segi dukungan
emosional, kepatuhan dengan tindakan tim medis, hubungan sosial, dan finansial.
15
:elaksanaan pera2atan paliatif secara umum di (ndonesia sudah dimulai sejak
tanggal *& :ebruari *&&$ dimana telah dibuka :oliklinik :era2atan :aliatif dan Bebas
0yeri, -S95 5r.Soetomo, Surabaya, sebagai per2ujudan untuk menyambut terbitnya
Surat <eputusan Menteri <esehatan -epublik (ndonesia 0o.
%,3M#0<#S3S<3(I3*&+&. (ni merupakan cikal-bakal :era2atan :aliatif di
(ndonesia. :emerintah (ndonesia juga membuat program untuk kesejahteraan lansia
berupa pelayanan D5ay .areF, yang terdiri dari pelayanan di dalam panti sosial
(:1S@) maupun di luar panti. (mplikasi kepera2atan yang dapat disimpulkan dari
jurnal yang telah dibahas adalah pera2at sebagai care giver, pera2at sebagai health
educator dan pera2at sebagai peneliti.
3.2 #aran
5isarankan kepada mahasis2a kepera2atan pada khususnya lebih mempelajari dan
mampu mengimplementasikan program pera2atan paliatif yang berbasis komunitas
sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup dari lansia.
16