Anda di halaman 1dari 12

1

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Potensi Indonesia dengan keunggulan komparatifnya berupa tanah yang luas dan
subur berikut iklim pendukung serta tersedianya tenaga kerja di pedesaan yang cukup
melimpah merupakan faktor pendukung untuk menjadi negara produsen sutera alam. Selain
itu kesenjangan antara produksi dan konsumsi dalam negeri yang selama ini harus diatasi
dengan import benang sutera merupakan suatu kesempatan yang harus segera diantisipasi
oleh petani dan pengusaha sutera dalam negeri.

Kegiatan persuteraan alam merupakan suatu kegiatan agroindustri yang mencakup dua
aspek yang saling berhubungan, yaitu aspek budidaya dan aspek produksi. Aspek budidaya
meliputi usaha pengelohan tanaman murbei sebagai makanan ulat, produksi telur dan bibit
ulat sutera, serta kegiatan pemeliharaan ulat sampai membentuk kokon yang siap panen.
Sedangkan aspek industri meliputi pengelohan kokon menjadi benang berikut proses
penenunan sampai menjadi kain sutera.. yang mana setiap bidang tersebut bersifat padat
karya dan masing-masing bidang menyumbangkan nilai tambah cukup besar terhadap hasil
akhirnya, yaitu kain sutera itu sendiri. Lebih jauh lagi budidaya persuteraan alam tidak
memerlukan adanya klasifikasi umur maupun jenis kelamini, sehingga dewasa maupun anak-
anak, laki-laki maupun perempuan, bersekolah maupun putus sekolah dapat
mengerjakannya.

Usaha persuteraan alam di Indonesia memiliki prospek yang sangat cerah, terutama datam
jangka pendek ini untuk prcduksi bahan baku kokon dan benang sutera yang pasar
eksportnya terbuka luas karena disatu pihak negara-negara industri sutera maju, yaitu
Jepang, Italia, Korea, Perancis dll. 100% tergantung pasokan bahan baku dari import.

Usaha persuteraan alam di Kabupaten Banyumas pernah mencapai puncaknya pada dekade
tahun 70-an, dimana masyarakat secara swadaya berhasil mengembangkan tanaman murbai
sebagai pakan ulat hingga tahap penenunan kain. Cacatan sejarah ini diperkuat dengan
fakta bahwa beberapa petani di Desa Karanggintung, Kecamatan Kemranjen masih
menyimpan pakaian sutera produk sendiri pada tahun 70-an. Tetapi karena berbagai
2

macam kendala, antara lain adanya konversi lahan tanaman murbei menjadi areal lain,
terbatasnya modal usaha, tidak adanya pembinaan yang kontinyu serta tersendatnya
pemasaran, maka yang ada saat ini hanya tinggal sisa-sisa kejayaan masa lalu.
Dari bukti sejarah tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Banyumas sangat potensial
untuk pengembangan ulat sutera. Hal ini didukung oleh ,.kondisi iklim, tanah, topografi dan
sosial ekonomi masyarakat Banyumas.

Pada dekade tahun 95-an, kegiatan persuteraan alam di Kabupaten Banyumas mulai
ditumbuh kembangkan kembali; terlebih lagi dengan adanya Dinas Perhutanan dari
Konservasi Tanah (DPKT) yang menangani langsung pembinaan dan pengembangan
persuteraan alam di Kabupaten Banyumas. Hal ini mulai tampak dari bermunculannya
kelompok tani persuteraan alam, baik swadaya maupun melalui bantuan Proyek
Penghijauan.



B. Rumusan Masalah
*Bagaimana sejarah tentang sutra?
*Bagaimana proses pembuatan sutra?
*Apa sajakah keunggulan sutra?
*Bagaimana cara merawat kain dari sutra?
*Apakah ulat sutra memiliki manfaat medis?
*Apakah ulat sutra dapat dikonsumsi oleh manusia?
*Bagaimana dengan porsi makanan ulat sutra?
*Bagaimana sara memelihara ulat sutra?
*Bagaimana sara memanen ulat sutra?




3

BAB II
ISI

Sejarah Sutra
Pada awalnya, sutra merupakan produk ekslusif Kekaisaran Cina atau Tiongkok. Sutra
mulai dikenal di Cina sejak sekitar tahun 2700 SM. Hanya bangsa Cina yang mengetahui
rahasia pembuatan sutra selama berabad-abad. Siapapun yang membocorkan cara
pembuatan sutra akan dibunuh sebagai seorang pengkhianat. Karena monopoli inilah yang
membuat harga sutra sangatlah mahal, bahkan sebanding dengan emas pada masa itu.

Lalu pada tahun 550 M, Kaisar Romawi Timur atau Bizantium yang bernama Justinian I
mengirim 2 biarawan yang menyamar sebagai mata-mata ke negeri Cina. Mereka berhasil
mengambil ulat sutra dari negeri Cina dan mengetahui cara membuat sutra pada tahun 552
M. Sejak saat itu, monopoli sutra bukan lagi milik Kekaisaran Cina.
Sejak saat itu, sutra dikembangkan di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi dan menyebar ke
seluruh dunia. Di Indonesia, sutra mulai dikenal sejak abad kesepuluh. Kemudian pada
tahun 1718, bangsa Belanda membawa teknologi untuk budi daya sutra di Indonesia. Sejak
saat itulah, sutra mulai dikembangkan di Indonesia.
Proses Pembuatan Sutra
Sutra dihasilkan dari kepompong ulat sutra. Ulat sutra menghasilkan kepompong yang dapat
dipintal menjadi serat sutra. Ada ratusan jenis ulat sutra, namun sutra yang terbaik
dihasilkan oleh kepompong dari ulat sutra pohon murbei yang memiliki nama ilmiah Bombyx
mori.
Induk sutra dapat menelurkan hingga 500 butir telur ulat sutra seukuran kepala jarum
pentul. Setelah sekitar 20 hari, telur tersebut menetas menjadi larva ulat yang sangat kecil.
Larva ulat ini akan memakan daun murbei dengan agresif. Sekitar 18 hari kemudian, ukuran
badan larva ulat tersebut telah membesar hingga 70 kali ukuran tubuh semula serta empat
kali mengganti cangkangnya. Kemudian larva ulat tersebut akan terus membesar hingga
beratnya mencapai 10.000 kali berat semula. Pada saat itu ulat sutra akan berwarna
kekuningan dan lebih padat. Itulah tanda ulat sutra akan mulai membungkus dirinya dengan
4

kepompong.
Kemudian kepompong direbus agar larva ulat di dalamnya mati. Karena jika dibiarkan, ulat
akan matang lalu menggigiti kepompongnya sehingga tidak bisa digunakan lagi. Setelah ulat
mati, serat di kepompong dapat diuraikan menjadi serat sutra yang sangat halus.

Satu buah kepompong sutra dapat menghasilkan untaian serat sepanjang 300 meter hingga
900 meter dengan diameter 10 mikrometer (1/1000 milimeter). Di seluruh dunia dalam satu
tahun dapat menghasilkan total serat sutra sepanjang 112,7 milyar kilometer atau sekitar
300 kali perjalanan pergi-pulang ke matahari dari bumi!
Kemudian serat sutra yang halus tersebut dipintal. Serat sutra dipintal dengan proses yang
menyerupai proses pada saat ulat sutra memintal kepompongnya. Proses itulah yang dibuat
menjadi alat pemintalan serat sutra untuk dibuat menjadi kain sutra yang indah. Bahan kain
dari sutra inilah yang kemudian dibuat menjadi berbagai produk pakaian maupun produk
lainnya. Beberapa batik kelas terbaik di Indonesia juga menggunakan bahan dari sutra.

Keunggulan Sutra
Saat mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra, Anda akan merasakan kenyamanan dan
kelembutan dari bahan sutra tersebut. Namun pakaian yang terbuat dari sutra memiliki
banyak keunggulan. Keunggulan dan keistimewaan dari sutra antara lain:
Sutra merupakan bahan yang sangat kuat. Kekuatan sutra sebanding dengan kawat
halus yang terbuat dari baja.
Sutra juga lembut saat menyentuh kulit. Asam amino dalam serat sutra yang membuat
sutra terasa lembut dan nyaman. Bahkan sutra dapat menjaga agar terhindar dari
berbagai penyakit kulit. Tentu hal ini akan membuat pemakainya merasa nyaman.
Sutra memiliki kemampuan menyerap yang baik sehingga cocok digunakan di udara
yang hangat dan tropis. Karena itu, setiap pemakai bahan sutra akan merasa sejuk
5

dan lebih kering meski udara panas. Yang menyebabkan bahan sutra mampu
menyerap kelembaban dan cairan karena asam amino di dalam serat sutra mampu
menyerap lalu membuang keringat.
Bahan sutra memiliki ciri khas yaitu berkilau seperti mutiara. Hal ini disebabkan
karena lapisan-lapisan fibroin, yaitu sejenis protein yang dihasilkan ulat sutra,
membentuk struktur mikro yang berbentuk prisma. Struktur prisma inilah yang
menyebabkan cahaya akan disebar ketika terkena bahan dari sutra sehingga
menimbulkan efek kilau yang indah pada sutra.
Sutra memiliki daya tahan terhadap panas dan tidak mudah terbakar.
Salah satu kemampuan istimewa sutra adalah mampu melindungi kulit tubuh dari
sinar ultraviolet yang dapat merusak kulit.
Cara Merawat Bahan dari Sutra
Tentu setelah membeli pakaian yang terbuat dari sutra, Anda akan menjaganya agar tetap
terawat dan indah. Berikut ini beberapa tips agar pakaian atau produk kain yang terbuat
dari sutra tetap terawat:
Jika Anda memiliki batik atau bahan pakaian dari sutra, maka jangan menyemprot
parfum atau minyak wangi langsung ke kain tersebut, terutama batik sutra ataupun
kain sutra dengan pewarna alami.
Pada saat mencuci bahan dari sutra, sebaiknya Anda mencuci di pencuci profesional
dengan sistem dry cleaning, kecuali Anda dapat melakukan proses pencucian jenis
tersebut. Namun Anda juga dapat mencucinya di rumah dengan deterjen yang lembut
dan air hangat sekitar 30 C. Jangan diremas dan diperas. Biarkan kering sendiri
dengan angin.
Anda juga dapat menyeterika bahan dari sutra. Hindari menyeterika langsung di
permukaan sutra. Gunakan kain atau pakaian untuk melapisi kain sutra Anda, lalu
mulailah menyetrika.
Simpanlah bahan kain atau pakaian dari sutra di tempat yang kering dan tidak
lembab. Gunakan hanger atau gantungan pakaian yang terbuat dari bahan lembut,
misalnya dilapisi busa.
Hindari ngengat pada tempat penyimpanan pakaian atau kain dari sutra. Untuk
mengusir ngengat, Anda dapat menggunakan akar wangi atau pengharum pakaian.
6

Hindari menyimpan pakaian atau kain dari sutra di tempat yang terkena sinar atau
cahaya berlebih seperti sinar matahari.
Manfaat medis
Ulat sutra yang digunakan untuk pengobatan tradisional China adalah "Bombyx
batryticatus" atau "ulat sutra kaku" (Hanzi sederhana:, tradisional: pinyin:
ngcn). Ia adalah larva kering 4-5th yang mati akibat penyakit muskadin putih disebabkan
oleh jamur Beauveria bassiana, dimanfaatkan untuk mengobati masuk angin, mencairkan
dahak dan meringankan kejang-kejang.
Makanan
Ulat sutra dikonsumsi di sejumlah kebudayaan. Di Korea, ulat sutra yang direbus
sertadibumbui merupakan makanan ringan yang populer dan dikenal sebagai beondegi. Di
China, sejumlah pedagang jalanan menjual ulat sutra yang dipanggang
Ulat Sutera Binatang yang Rakus
Siapa bilang tubuh kecil berarti karena makannya sedikit. Hukum ini tidak berlaku untuk
makhluk hidup kecil lain seperti ulat sutra. Meski posturnya tidak lebih besar dari ibu jari
orang dewasa, hewan ini membutuhkan makanan sangat banyak.
Selain butuh makan yang banyak, ulat ini pun sangat selektif soal makanan. Dia hanya mau
memakan daun murbei dan tidak daun lainnya. Tidak heran ulat sutra memiliki nama ilmiah
Bombyx mori, yang berarti ulat sutra pohon murbei. Doyannya ulat sutra terhadap murbei,
karena murbei menghasilkan enzim glukosida yang menyebabkan rasa ketagihan.

Kerakusan ulat sutra terhadap murbei, akibat masa hidupnya yang bermetamorfosa
sebanyak empat kali selama satu bulan. Kebutuhan makannya terjadi sejak masih berupa
telur dan berakhir ketika ulat mengeluarkan serat sutra dan membuat kokon (kepompong).
Biasanya petani sutra harus menyediakan 18 karung daun murbei per hari dimana satu
karungnya berkapasitas 100 kilogram. Sebanyak itu hanya untuk mengembangkan 25 ribu
telur ulat sutra.
Karena kebutuhannya yang besar, jarang ada petani sutra yang mengembangkan ulat sutra
berbarengan dengan penanaman murbei. Jika keduanya dilakukan, maka dibutuhkan areal
tanah yang luas untuk menanam murbei. Selain itu, penanaman murbei juga membutuhkan
7

jumlah air yang besar. Lokasi penanaman pun harus berada di ketinggian 700 meter dari
permukaan laut.
Hanya sedikit yang mampu melakukan teknik keduanya. Di Padepokan Dayang Sumbi,
pemiliknya melakukan dua aktivitas pertanian; menanam murbei sekaligus
mengembangbiakan ulat sutra. Padahal arealnya tidak terlalu besar.

"Kami punya areal tanah seluas 2 hektar. Sekitar 1,5 hektar tanah kami digunakan untuk
menanam murbei," kata Dedi Agus Wirantoro (38), pengelola Padepokan Dayang Sumbi.

Dedy sengaja sengaja melakukan dua aktivitas tersebut. Karena seperti tujuan awalnya
bahwa padepokan ini bukan sekadar pabrik kain sutra, melainkan sebagai wisata pendidikan
untuk anak-anak.

Dedi mengaku, areal pertanian murbei dengan jumlah ulat belum sebanding. Karena itu,
Dedi mengatakan menggunakan penamanan dengan sistem blok. Masing-masing blok bisa
melakukan panen sebanyak satu kali dalam satu tahun. Di tempat Dedi ada tiga blok,
sehingga bisa melakukan panen tiga kali
"Sistem blok juga bisa memberikan kesempatan pengunjung menyaksikan metamorfosa ulat
selama satu tahun penuh," ujarny.
Kalah dari Cina
Varietas ulat sutera yang dibudidayakan di Padepokan Dayang Sumbi adalah varietas
varietas Jepang. Varietas ini merupakan varietan umum yang dikembangkan kebanyak
petani sutra di Indonesia. Varieta ini mampu menghasilkan 1.600 meter benang sutera per
satu kepompong ulat sutra. Diakui Dedy, jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan varietas
Cina yang satu kepompongnya bisa menghasilkan 3.000 meter benang sutera.

Dedy mengatakan kapasitas produksi di tempatnya hanya mampu menghasilkan 70 meter
kain sutra jadi per satu kali panen. Jumlah itu diperoleh dari sekitar 70 kilogram kepompong
dari satu kali panen. Dengan proses produksi seperti itu, wajar saja harga sutra menjadi
lebih mahal ketimbang jenis kain lainnya.
Diakui Dedi, teknologi Cina dalam budidaya ulat sutera memang lebih unggul. Selan itu
pemerintah Cina pun cukup serius dalam pengembangan budidaya ulat sutera ini. Wajar
saja, karena negeri tirai bambu itu merupakan negara pertama yang membudidayakan ulat
sutera.
8

PEMELI HARAAN ULAT SUTERA
Kegiatan pemeliharaan ulat sutera meliputi pemeliharaan ulat kecil, pemeliharaan ulat
besar serta mengokonkan ulat.
a. Pemeliharaan Ulat Kecil
Pemeliharaan ulat kecil didahului dengan kegiatan "Hakitate" yaitu pekerjaan penanganan
ulat yang baru menetas disertai dengan pemberian makan pertama.
Ulat yang baru menetas didesinfeksi dengan bubuk campuran kapur
dan kaporit (95:5), lalu diberi daun murbei yang muda dan segar yang
dipotong kecil-kecil;
Pindahkan ulat ke sasag kemudian ditutup dengan kertas minyak atau
parafin;
Pemberian makanan dilakukan 3 kali sehari yakni pada pagi, siang,
dan sore hari;
Pada setiap instar ulat akan mengalami masa istirahat (tidur) dan
pergantian kulit. Apabila sebagian besar ulat tidur ($ 90%),
pemberian makan dihentikan dan ditaburi kapur. Pada saat ulat tidur,
jendela/ventilasi dibuka agar udara mengalir;
Pada setiap akhir instar dilakukan penjarangan dan daya tampung
tempat disesuaikan dengan perkembangan ulat;
Pembersihan tempat ulat dan pencegahan hama dan penyakit harus
dilakukan secara teratur.
Pelaksanaanya sebagai berikut :
Pada instar I dan II, pembersihan dilakukan masing-masing 1
kali. Selama instar III dilakukan 1-2 kali yaitu setelah
pemberian makan kedua dan menjelang tidur;
Penempatan rak/sasag agar tidak menempel pada dinding
ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng berisi air, untuk
mencegah gangguan semut;
Apabila lantai tidak ditembok, taburi kapur secara merata agar
tidak lembab;
9

Desinfeksi tubuh ulat dilaksanakan setelah ulat bangun tidur,
sebelum pemberian makan pertama.
Penyalur ulat kecil dari UPUK ke tempat pemeliharaan petani / kolong rumah atau Unit
Pemeliharaan Ular Besar (UPUB), dilakukan ketika sedang tidur pada instar III. Perlakuan
pada saat penyaluran ulat sebagai berikut :
Ulat dibungkus dengan menggulung kertas alas;
Kedua sisi kertas diikat dan diletakkan pada posisi berdiri agar
ulat tidak tertekan;
penyaluran ulat sebaiknya dilaksanakan pada pagi atau sore
hari.
b. Pemeliharaan Ulat Besar.
Kondisi dan perlakuan terhadap ulat besar berbeda dengan ulat kecil. Ulat besar
memerlukan kondisi ruangan yang sejuk. Suhu ruangan yang baik yaitu 24-26 C dengan
kelembapan 70-75%.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ulat besar adalah sebagai
berikut :
Ulat besar memerlukan ruangan/tempat pemeliharaan yang lebih luas
dibandingkan dengan ulat kecil;
Daun yang dipersiapkan untuk ulat besar, disimpan pada tempat yang
bersih dan sejuk serta ditutup dengan kain basah;
Daun murbei yang diberikan pada ulat besar tidak lagi dipotong-
potong melainkan secara utuh (bersama cabangnya).
Penempatan pakan diselang-selingi secara teratur antara bagian
ujung dan pangkalnya;
Pemberian makanan pada ulat besar (instar IV dan V) dilakukan 3-4
kali sehari yaitu pada pagi, siang, sore dan malam hari;
Menjelang ulat tidur, pemberian makan dikurangi atau dihentikan.
Pada saat ulat tidur ditaburi kapur secara merata;
10

Desinfeksi tubuh ulat dilakukan setiap pagi sebelum pemberian makan
dengan menggunakan campuran kapur dan kaporit (90:10) ditaburi
secara merata;
Pada instar IV, pembersihan tempat pemeliharaan dilakukan minimal
3 kali, yaitu pada hari ke-2 dan ke-3 serta menjelang ulat tidur;
Pada instar V, pembersihan tempat dilakukan setiap hari;
Seperti pada ulat kecil, rak/sasag ditempatkan tidak menempel pada
dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng yang berisi air.
Apabila lantai ruangan pemeliharaan tidak berlantai semen agar
ditaburi kapur untuk menghindari kelembaban tinggi.
c. Mengokonkan Ulat.
Pada instar V hari ke-6 atau ke-7 ulat biasanya akan mulai mengokon. Pada suhu rendah
ulat akan lebih lambat mengokon. Tanda-tanda ulat yang akan mengokon adalah sebagai
berikut :
Nafsu makan berkurang atau berhenti makan sama sekali;
tubuh ulat menjadi bening kekuning-kuningan (transparan);
Ulat cenderung berjalan ke pinggir;
Dari mulut ulat keluar serat sutera.
Apabila tanda-tanda tersebut sudah terlihat, maka perlu di ambil tindakan sebagai berikut :
Kumpulkan ulat dan masukkan ke dalam alat pengokonan yang telah
disiapkan dengan cara menaburkan secara merata.
Alat pengokonan yang baik digunakan adalah : rotari. Seri frame,
pengokonan bambu dan mukade (terbuat dari daun kelapaatau jerami
yang dipuntir membentuk sikat tabung).
PANEN DAN PENANGANAN KOKON.
Panen dilakukan pada hari ke-5 atau ke-6 sejak ulat mulai membuat kokon. Sebelum panen,
ulat yang tidak mengokon atau yang mati diambil lalu dibuang atau dibakar.
Selanjutnya dilakukan penanganan kokon yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
11

o Pembersihan kokon, yaitu menghilangkan kotoran dan serat-serat pada
lapisan luar kokon;
o Seleksi kokon, yaitu pemisahan kokon yang baik dan kokon yang cacat/jelek;
o Pengeringan kokon, yaitu penanganan terhadap kokon untuk mematikan pupa
serta mengurangi kadar air dan agar dapat disimpan dalam jangka waktu
tertentu;
o Penyimpanan kokon, dilakukan apabila kokon tidak langsung dipintal/dijual
atau menunggu proses pemintalan.
Cara penyimpanan kokon adalah sebagai berikut :
Dimasukkan ke dalam kotak karton, kantong kain/kerta;
Ditempatkan pada ruangan yang kering atau tidak lembab;
Selama penyimpanan, sekali-sekali dijemur ulang di sinar matahari;
Lama penyimpanan kokon tergantung pada cara pengeringan, tingkat
kekeringan dan tempat penyimpanan.




12


BAB III
Penutup
Kesimpulan
*Bahwa ulat sutra banyak manfaat untuk kehidupan masyarakat.
*Bahwa memelihara ulat sutra tidak mudah dan memerlukan dana dan tenaga yang ekstra.

Saran
*Bagi pemerintah dukunglah adanya petani/peternak ulat sutra.
*SDM maupun peternak ulat sutra mohon di perbanyak.
*Semoga usaha peternak ulat sutra lebih maju.