Anda di halaman 1dari 11

1.

Apakah yang dimaksud dengan kurikulum


berbasis kompetensi?
2. Apa bedanya dengan kurikulum
sebelumnya?
3. Apakah kelebihan dan kekurangan KBK?

Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
pasal 1 ayat (19) yang berbununyi: kurikulum adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lebih lanjut
pada pasal 36 ayat (3) disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai
dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan
Republik Indonesia dengan memperhatikan:
- peningkatan iman dan takwa;
- peningkatan akhlak mulia;
- peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
- keragaman potensi daerah dan lingkungan;
- tuntutan pembangunan daerah dan nasional; - tuntutan dunia kerja;
- perkembangan ilmu
- pengetahuan, teknologi, dan seni;
- agama;
- dinamika perkembangan global; dan
- persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan

Kurikulum berbasis kompetensi mulai diterapkan di Indonesia
pada tahun pelajaran 2001/2002 dibeberapa sekolah SD, SMP, dan
SMA yang ditunjuk oleh pemerintah dan atau atas inisiatif
sekolah sendiri yang disebut mini piloting KBK di bawah
koordinasi direktorat SMP/SMA dan pusat kurikulum.
Legalitas formal pelaksanaan KBK pada tingkat pendidikan dasar
dan menengah belum ada karena tidak ada Permendiknas yang
mengatur tentang hal itu. Meskipun demikian landasan hukum
untuk penyelenggaraan KBK bisa mengacu pada:
Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Otonomi Daerah
bidang pendidikan dan kebudayaan yaitu : pemerintah memiliki
wewenang menetapkan: (1) standar kompetensi siswa dan warga
belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil
belajar secara nasional serta pedoman pelaksanaannya, dan (2)
standar materi pelajaran pokok.

Pengertian Kompetensi
Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang
Kurikulum Inti Perguruan Tinggi mengemukakan Kompetensi
adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang
dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh
masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan
tertentu.
Association K.U. Leuven mendefinisikan bahwa kompetensi
adalah peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan
sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif.
Robert A. Roe (2001) mengemukakan definisi dari kompetensi
yaitu:
Competence is defined as the ability to adequately perform a task,
duty or role. Competence integrates knowledge, skills, personal
values and attitudes. Competence builds on knowledge and skills
and is acquired through work experience and learning by doing
Dari definisi di atas kompetensi dapat digambarkan sebagai
kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas,
kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-
ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan
untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang
didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan.

Pusat kurikulum, Balitbang Depdiknas (2002) mendefinisikan
bahwa kurikulum berbasis kompetensi merupakan perangkat
rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar
yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar,
dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam
pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum ini berorientasi
pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri
peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang
bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat diwujudkan sesuai
dengan kebutuhannya.
Kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang pada
tahap perencanaan, terutama dalam tahap pengembangan ide
akan dipengaruhi oleh kemungkinan-kemungkinan pendekatan,
kompetensi dapat menjawab tantangan yang muncul. Artinya,
pada waktu mengembangkan atau mengadopsi pemikiran
kurikulum berbasis kompetensi maka pengembang kurikulum
harus mengenal benar landasan filosofi, kekuatan dan kelemahan
pendekatan kompetensi dalam menjawab tantangan, serta
jangkauan validitas pendekatan tersebut ke masa depan. Harus
diingat bahwa kompetensi bersifat terus berkembang sesuai
dengan tuntutan dunia kerja atau dunia profesi maupun dunia
ilmu (Suyanto, 2005)

Dari definisi-definisi di atas kurikulum berbasis kompetensi
menekankan pada mengeksplorasi kemampuan/potensi peserta
didik secara optimal, mengkonstruk apa yang dipelajari dan
mengupayakan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
kurikulum berbasis kompetensi berupaya mengkondisikan setiap
peserta didik agar memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan
nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan
bertindak sehingga proses penyampaiannya harus bersifat
kontekstual dengan mempertimbangkan faktor kemampuan,
lingkungan, sumber daya, norma, integrasi dan aplikasi berbagai
kecakapan kinerja, dengan kata lain KBK berorientasi pada
pendekatan konstruktivisme.
Ciri-ciri KBK, yaitu:
a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara
individual maupun klasikal
b. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman
c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan
dan metode yang bervariasi
d. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar
yang lain yang memenuhi unsur edukasi
e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya
penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.


PERSAMAAN :
1. Pendidikan dasar 9 tahun
2. Penekanan pada kemampuan Membaca,
Menulis, dan Berhitung
3. Konsep-konsep dan materi pokok (esensial)
pada setiap mata pelajaran untuk mencapai
kompetensi
4. Adanya muatan local
5. Alokasi waktu setiap jam pelajaran tetap 45
menit untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SMK
PERBEDAAN :
1. Pemberdayaan sekolah dan daerah
2. Memuat Standar Kompetensi
3. Kegiatan pembiasaan perilaku terintegrasi
dan terprogram
4. Pengenalan mata pelajaran TIK
5. Penilaian Berbasis Kelas (PBK)
6. Pendekatan tematik di kelas I dan II SD/MI
untuk memperhatikan kelompok usia
7. Kesinambungan pemeringkatan kompetensi
bahan kajian dari kelas I sampai kelas XI
8. Silabus disusun oleh daerah dan atau
sekolah sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuannya
1. Sentralistik
2. Tidak memuat standar kompetensi
3. Tidak ada kegiatan pembiasaan perilaku
terintegrasi dan terprogram
4. belum ada mata pelajaran TIK
5. Meskipun sudah disarankan untuk melakukan
PBK, kenyataannya masih didominasi penilaian
pilihan ganda
6. Pendekatan tematik di kelas I dan II SD/MI
hanya disarankan
7. Tidak ada kesinambungan pemeringkatan
kompetensi bahan kajian dari kelas I sampai kelas
XII
8. Memberikan peluang pada
guru/sekolah/daerah untuk mengembangkan
potensinya
Kurikulum berbasis kompetensi merupakan
kerangka inti yang memiliki empat komponen
dasar yaitu: Kurikulum dan Hasil Belajar,
Penilaian Berbasis Kelas, Kegiatan Belajar
Mengajar, dan Pengelolaan Kurikulum
Berbasis Sekolah