Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan memakai data surveilans utk menjelaskan & memonitor
masalah kesehatan dg menyusun prioritas masalah, perencanaan, implementasi dan
evaluasi program kesehatan. Secara umum surveilans bertujuan untuk pencegahan
dan pengendalian penyakit dalam masyarakat sebagai upaya deteksi dini terhadap
kemungkinan terjadinya kejadian luar biasa (KLB), memperoleh informasi yang
diperlukan bagi perencanaan dalam hal pencegahan, penanggulangan maupun
pemberantasannya pada berbagai tingkat administrasi. Oleh karena hal tersebut
pengetahuan tentang surveilans sangatlah dibutuhkan.
Pencatatan dan pelaporan adalah indikator keberhasilan suatu kegiatan. Tanpa
ada pencatatan dan pelaporan, kegiatan atau program apapun yang dilaksanakan tidak
akan terlihat wujudnya. Output dari pencatatan dan pelaporan ini adalah sebuah data
dan informasi yang berharga dan bernilai bila menggunakan metode yang tepat dan
benar. Jadi, data dan informasi merupakan sebuah unsur terpenting dalam sebuah
organisasi, karena data dan informasilah yang berbicara tentang keberhasilan atau
perkembangan organisasi tersebut.
Puskesmas merupakan ujung tombak sumber data kesehatan khususnya bagi
dinas kesehatan kota dan Sitem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas juga
merupakan pondasi dari data kesehatan. Sehingga diharapakan terciptanya sebuah
informasi yang akurat, representatif dan reliable yang dapat dijadikan pedoman dalam
penyusunan perencanaan kesehatan. Setiap program akan menghasilkan data. Data
yang dihasilkan perlu dicatat, dianalisis, dan dibuat laporan. Data yang disajikan
adalah informasi tentang pelaksanaan progam dan perkembangan masalah kesehatan
masyarakat. Informasi yang ada perlu dibahas, dikoordinasikan, diintegrasikan agar
menjadi pengetahuan bagi semua staf puskesmas. Pencatatan harian masing-masing
progam Puskesmas dikombinasi menjadi laporan terpadu puskesmas atau yang disbut
dengan system pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas (SP2TP).

1.2. Batasan Masalah
2
Makalah ini membahas mengenai kegiatan surveilans, pencatatan dan
pelaporan data surveilans di Puskesmas Lubuk Kilangan serta permasalahan yang ada
dalam rangkaian kegiatan tersebut.

1.3. Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan surveilans,
pencatatan dan pelaporan data surveilans di Puskesmas Lubuk Kilangan serta
permasalahan yang ada dalam rangkaian kegiatan tersebut dan sebagai salah satu
syarat menjalankan kepaniteraan klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

1.4. Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan pustaka yang merujuk pada
berbagai literatur, analisis, dan diskusi.

















3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Surveilans
2.1.1 Pengertian
Menurut WHO (2004), surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan,
analisis dan interpretasi data secara sistemik dan terus menerus serta penyebaran
informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan.
Berdasarkan definisi diatas dapat diketahui bahwa surveilans adalah suatu kegiatan
pengamatan penyakit yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis terhadap
kejadian dan distribusi penyakit serta faktor-faktor yang mempengaruhinya pada
masyarakat sehingga dapat dilakukan penanggulangan untuk dapat mengambil
tindakan efektif.
Surveilans kesehatan masyarakat adalah proses pengumpulan data kesehatan
yang mencakup tidak saja pengumpulan informasi secara sistematik, tetapi juga
melibatkan analisis, interpretasi, penyebaran, dan penggunaan informasi kesehatan.
Hasil surveilans dan pengumpulan serta analisis data digunakan untuk mendapatkan
pemahaman yang lebih baik tentang status kesehatan populasi guna merencanakan,
menerapkan, mendeskripsikan, dan mengevaluasi program kesehatan masyarakat
untuk mengendalikan dan mencegah kejadian yang merugikan kesehatan. Dengan
demikian, agar data dapat berguna, data harus akurat, tepat waktu, dan tersedia dalam
bentuk yang dapat digunakan (Timmreck, 2005)

2.1.2 Tujuan
Secara umum surveilans bertujuan untuk pencegahan dan pengendalian
penyakit dalam masyarakat sebagai upaya deteksi dini terhadap kemungkinan
terjadinya kejadian luar biasa (KLB), memperoleh informasi yang diperlukan bagi
perencanaan dalam hal pencegahan, penanggulangan maupun pemberantasannya pada
berbagai tingkat administrasi (Depkes RI, 2004)

2.1.3 Komponen surveilans
4
Komponen-komponen kegiatan surveilans menurut Depkes. RI, (2004) seperti
dibawah ini :
1. Pengumpulan data, data yang dikumpulkan adalah data epidemiologi yang
jelas, tepat dan ada hubungannya dengan penyakit yang bersangkutan. Tujuan
dari pengumpulan data epidemiologi adalah: untuk menentukan kelompok
populasi yang mempunyai resiko terbesar terhadap serangan penyakit; untuk
menentukan reservoir dari infeksi; untuk menentukan jenis dari penyebab
penyakit dan karakteristiknya; untuk memastikan keadaan yang dapat
menyebabkan berlangsungnya transmisi penyakit; untuk mencatat penyakit
secara keseluruhan; untuk memastikan sifat dasar suatu wabah, sumbernya,
cara penularannya dan seberapa jauh penyebarannya
2. Kompilasi, analisis dan interpretasi data. Data yang terkumpul selanjutnya
dikompilasi, dianalisis berdasarkan orang, tempat dan waktu. Analisa dapat
berupa teks tabel, grafik dan spot map sehingga mudah dibaca dan merupakan
informasi yang akurat. Dari hasil analisis dan interpretasi selanjutnya dibuat
saran bagaimana menentukan tindakan dalam menghadapi masalah yang baru
3. Penyebaran hasil analisis dan hasil interpretasi data. Hasil analisis dan
interpretasi data digunakan untuk unit-unit kesehatan setempat guna
menentukan tindak lanjut dan disebarluaskan ke unit terkait antara lain berupa
laporan kepada atasan atau kepada lintas sektor yang terkait sebagai informasi
lebih lanjut
Komponen-komponen dalam pelaksanaan sistem surveilans (WHO,1999) adalah
sebagai berikut:

a. Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan komponen yang sangat penting karena
kualitas informasi yang diperoleh sangat ditentukan oleh kualitas data yang
dikumpulkan. Data yang dikumpulkan harus jelas, tepat dan ada hubungannya
dengan penyakit yang bersangkutan. Oleh karena itu untuk dapat menjalankan
surveilans yang baik pengumpulan data harus dilaksanakan secara teratur dan
terus-menerus.
Tujuan pengumpulan data:
5
1. Menentukan kelompok atau golongan populasi yang mempunyai resiko
terbesar terkena penyakit seperti jenis kelamin, umur, suku, pekerjaan dan
lain-lain.
2. Menentukan jenis agent atau penyebab penyakit dan karakteristiknya.
3. Menentukan reservoir infeksinya
4. Memastikan keadaan yang menyebabkan kelangsungan transmisi
penyakit.
5. Mencatat kejadian penyakit, terutama pada kejadian luar biasa.

Sumber data yang dikumpulkan barlainan untuk tiap jenis penyakit. Sumber
data sistem surveilans terdiri dari 10 elemen yaitu:
1. Pencatatan kematian
2. Laporan penyakit, merupakan elemen yang terpenting dalam surveilans.
Data yang diperlukan : nama penderita, umur, jenis kelamin, alamat,
diagnosis dan tanggal mulai sakit.
3. Laporan kejadian luar biasa atau wabah.
4. Hasil pemeriksaan laboratorium.
5. Penyelidikan peristiwa penyakit menular.
6. Penyidikan kejadian luar biasa atau wabah.
7. Survey : memerlukan tenaga, biaya dan fasilitas.
8. Penyelidikan tentang distribusi vektor dan reservoir penyakit pada hewan.
9. Data penggunaan obat-obatan, serum dan vaksin.
10. Data kependudukan dan lingkungan.

b. Pengolahan, analisa dan interpretasi data
Data yang terkumpul segera diolah, dianalisa dan sekaligus diinterpretasikan
berdasarkan waktu, tempat dan orang, kemudian disajikan dalam bentuk teks,
tabel, spot map dan lain-lain agar bisa menjawab masalah-masalah yang ada, sehingga
segera dilakukan tindakan yang cepat dan tepat.
Berdasarkan hasil analisa dan interpretasi data, dibuat tanggapan dan saran-
saran dalam menentukan tindakan pemecahan masalah yang ada.

6
c. Penyebarluasan Informasi dan umpan balik.
Hasil analisa dan interpretasi data selain terutama dipakai sendiri oleh unit
kesehatan setempat untuk keperluan penentuan tindak lanjut, juga untuk
disebarkluaskan dengan jalan dilaporkan kepada atasan sehagai infomasi lebih lanjut,
dikirimkan sebagai umpan balik (feed back)kepada unit kesehatan pemberi laporan.
Umpan balik atau pengiriman informasi kembali kepada sumber-sumber data
(pelapor) mengenai arti data yang telah diberikan dan kegunaannya setelah diolah,
merupakan suatu tindakan yang penting, selain tindakan

follow up.

2.1.4 Aktifitas Inti Surveilans
Aktivitas surveilans kesehatan masyarakat meliputi delapan aktivitas inti
(McNabb. et al., 2002), yaitu:
1. Pendeteksian kasus (case detection): proses mengidentifikasi peristiwa atau
keadaan kesehatan. Unit sumber data menyediakan data yang diperlukan
dalam penyelenggaraan surveilans epidemiologi termasuk rumah sakit,
puskesmas, laboratorium, unit penelitian, unit program-sektor dan unit
statistik lainnya.
2. Pencatatan kasus (registration): proses pencatatan kasus hasil identifikasi
peristiwa atau keadaan kesehatan.
3. Konfirmasi (confirmation): evaluasi dari ukuran-ukuran epidemiologi sampai
pada hasil percobaan laboratorium.
4. Pelaporan (reporting): data, informasi dan rekomendasi sebagai hasil kegiatan
surveilans epidemiologi disampaikan kepada pihak-pihak yang dapat
melakukan tindakan penanggulangan penyakit atau upaya peningkatan
program kesehatan, pusat penelitian dan pusat kajian serta pertukaran data
dalam jejaring surveilans epidemiologi. Pengumpulan data kasus pasien dari
tingkat yang lebih rendah dilaporkan kepada fasilitas kesehatan yang lebih
tinggi seperti lingkup daerah atau nasional.
5. Analisis data (data analysis): analisis terhadap data-data dan angka-angka dan
menentukan indikator terhadap tindakan.
6. Respon segera/ kesiapsiagaan wabah (epidemic preparedness) kesiapsiagaan
dalam menghadapi wabah/kejadian luar biasa.
7
7. Respon terencana (response and control): sistem pengawasan kesehatan
masyarakat hanya dapat digunakan jika data yang ada bisa digunakan dalam
peringatan dini dan munculnya masalah dalam kesehatan masyarakat.
8. Umpan balik (feedback): berfungsi penting dari semua sistem pengawasan,
alur pesan dan informasi kembali ke tingkat yang lebih rendah dari tingkat
yang lebih tinggi.

2.1.5 Kegunaan surveilans epidemiologi
Surveilans epidemiologi mempunyai beberapa kegunaan (Depkes RI, 1997)
yaitu:
a. Mengidentifikasi adanya kejadian luar biasa, epidemi dan untuk memastikan
tindakan pengendalian secara berhasil guna yang dapat dilaksanakan.
b. Memantau pelaksanaan dan daya guna program pengendalian khusus dengan
memperbandingkan besarnya masalah sebelum dan sesudah pelaksanaan
program.
c. Membantu menetapkan masalah kesehatan prioritas sasaran program pada
tahap perencanaan program.
d. Mengidentifikasi kelompok resiko tinggi menurut umur, pekerjaan, tempat
tinggal dimana masalah kesehatan sering terjadi dan variasi terjadinya dari
waktu ke waktu, menambah pemahaman mengenai vektor penyakit, reservoir
binatang dan cara serta dinamika penularan penyakit menula

2.1.6 Syarat- syarat surveilans yang baik
Syarat-syarat sistem surveilans yang baik hendaknya memenuhi karakteristik sebagai
berikut (Romaguera, 2000) :
a. Kesederhanaan (Simplicity)
Kesederhanaan sistem surveilans menyangkut struktur dan pengorganisasian
sistem. Besar dan jenis informasi yang diperlukan untuk menunjang
diagnosis, sumber pelapor, cara pengiriman data, organisasi yang menerima
laporan, kebutuhan pelatihan staf, pengolahan dan analisa data perlu
dirancang agar tidak membutuhkan sumber daya yang terlalu besar dan
prosedur yang terlalu rumit.
b. Fleksibilitas (Flexibility).
8
Sistem surveilans yang fleksibel dapat menyesuaikan diri dalam mengatasi
perubahan-perubahan informasi yang dibutuhkan atau kondisi operasional
tanpa memerlukan peningkatan yang berarti akan kebutuhan biaya, waktu dan
tenaga.
c. Dapat diterima (Acceptability).
Penerimaan terhadap sistem surveilans tercermin dari tingkat partisipasi
individu, organisasi dan lembaga kesehatan. lnteraksi sistem dengan mereka
yang terlibat, temasuk pasien atau kasus yang terdeteksi dan petugas yang
melakukan diagnosis dan pelaporan sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan sistem tesebut. Beberapa indikator penerimaan terhadap sistem
surveilans adalah jumlah proporsi para pelapor, kelengkapan pengisian
formulir pelaporan dan ketepatan waktu pelaporan. Tingkat partisipasi dalam
sistem surveilans dipengaruhi oleh pentingnya kejadian kesehatan yang
dipantau, pengakuan atas kontribusi mereka yang terlibat dalam sistem,
tanggapan sistem terhadap saran atau komentar, beban sumber daya yang
tersedia, adanya peraturan dan perundangan yang dijalankan dengan tepat.
d. Sensitivitas (Sensitivity).
Sensitivitas suatu surveilans dapat dinilai dari kemampuan mendeteksi
kejadian kasus-kasus penyakit atau kondisi kesehatan yang dipantau dan
kemampuan mengidentifikasi adanya KLB.
Faktor-faktor yang berpengaruh adalah :
Proporsi penderita yang berobat ke pelayanan kesehatan
Kemampuan mendiagnosis secara benar dan kemungkinan kasus yang
terdiagnosis akan dilaporkan
Keakuratan data yang dilaporkan
e. Nilai Prediktif Positif (Positive predictive value)
Nilai Prediktif Positif adalah proporsi dari yang diidentifikasi sebagai kasus,
yang kenyataannya memang menderita penyakit atau kondisi sasaran
surveilans. Nilai Prediktif Positif menggambarkan sensitivitas dan spesifisitas
serta prevalensi/ insidensi penyakit atau masalah kesehatan di masyarakat
f. Representatif (Representative)
Sistem surveilans yang representatif mampu mendeskripsikan secara akurat
distribusi kejadian penyakit menurut karakteristik orang, waktu dan tempat.
9
Kualitas data merupakan karakteristik sistem surveilans yang representatif.
Data surveilans tidak sekedar pemecahan kasus-kasus tetapi juga diskripsi
atau ciri-ciri demografik dan infomasi mengenai faktor resiko yang penting.
g. Tepat Waktu.
Ketepatan waktu suatu sistem surveilans dipengaruhi oleh ketepatan dan
kecepatan mulai dari proses pengumpulan data, pengolahan analisis dan
interpretasi data serta penyebarluasan informasi kepada pihak-pihak yang
berkepentingan. Pelaporan penyakit-penyakit tertentu perlu dilakukan dengan
tepat dan cepat agar dapat dikendalikan secara efektif atau tidak meluas
sehingga membahayakan masyarakat. Ketepatan waktu dalam 9 ystem
surveilans dapat dinilai berdasarakan ketersediaan infomasi untuk
pengendalian penyakit baik yang sifatnya segera maupun untuk perencanaan
program dalam jangka panjang.Tekhnologi komputer dapat sebagai faktor
pendukung sistem surveilans dalam ketepatan waktu penyediaan informasi.

2.2 Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas
2.2.1 Pengertian
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) merupakan instrumen vital
dalam sistem kesehatan. Informasi tentang kesakitan, penggunaan pelayanan
kesehatan di puskesmas, kematian, dan berbagai informasi kesehatan lainnya berguna
untuk pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan di tingkat kabupaten atau
kota maupun kecamatan.
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas adalah kegiatan
pencatatan dan pelaporan data umum, sarana, tenaga, dan upaya pelayanan kesehatan
di Puskesmas yang ditetapkan melalui SK MENKES/SK/II/1981. Data SP2PT berupa
Umum dan demografi, Ketenagaan, Sarana, Kegiatan pokok Puskesmas. Menurut
Yusran (2008) Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP)
merupakan kegiatan pencatatan dan pelaporan puskesmas secara menyeluruh
(terpadu) dengan konsep wilayah kerja puskesmas. Sistem pelaporan ini diharapkan
mampu memberikan informasi baik bagi puskesmas maupun untuk jenjang
administrasi yang lebih tinggi, guna mendukung manajemen kesehatan. SP2TP adalah
kegiatan pencatatan dan pelaporan data umum, sarana, tenaga dan upaya pelayanan
kesehatan di Puskesmas yang bertujuan agar didapatnya semua data hasil kegiatan
10
Puskesmas (termasuk Puskesmas dengan tempat tidur, Puskesmas Pembantu,
Puskesmas keliling, bidan di Desa dan Posyandu) dan data yang berkaitan, serta
dilaporkannya data tersebut kepada jenjang administrasi diatasnya sesuai kebutuhan
secara benar, berkala dan teratur, guna menunjang pengelolaan upaya kesehatan
masyarakat.
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas merupakan sumber
pengumpulan data dan informasi ditingkat puskesmas. Segala data dan informasi baik
faktor utama dan tenaga pendukung lain yang menyangkut puskesmas untuk dikirim
ke pusat serta sebagai bahan laporan untuk kebutuhan. Menurut Bukhari Lapau
(1989) data yang dikumpul oleh puskesmas dan dirangkum kelengkapan dan
kebenaranya. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) ialah
laporan yang dibuat semua puskesmas pembantu, posyandu, puskesmas keliling
bidan-bidan desa dan lain-lain yang termasuk dalam wilayah kerja puskesmas.
Pencatatan dan pelaporan mencangkup: b.1: Data umum dan demografi wilayah kerja
puskesmas, b.2: Data ketenagaan puskesmas, dan b.3: Data sarana yang dimiliki
puskesmas.
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas mencakup 3 hal: (1) pencatatan,
pelaporan, dan pengolahan; (2) analisis; dan (3) pemanfaatan. Pencatatan hasil
kegiatan oleh pelaksana dicatat dalam buku-buku register yang berlaku untuk masing-
masing program. Data tersebut kemudian direkapitulasikan ke dalam format laporan
SP3 yang sudah dibukukan. Koordinator SP3 di puskesmas menerima laporan-laporan
dalam format buku tadi dalam 2 rangkap, yaitu satu untuk arsip dan yang lainnya
untuk dikirim ke koordinator SP3 di Dinas Kesehatan Kabupaten. Koordinator SP3 di
Dinas Kesehatan Kabupaten meneruskan ke masing-masing pengelola program di
Dinas Kesehatan Kabupaten. Dari Dinas Kesehatan Kabupaten, setelah diolah dan
dianalisis dikirim ke koordinator SP3 di Dinas Kesehatan Provinsi dan seterusnya
dilanjutkan proses untuk pemanfaatannya. Frekuensi pelaporan sebagai berikut: (1)
bulanan; (2) triwulan; (3) tahunan. Laporan bulanan mencakup data kesakitan, gizi,
KIA, imunisasi, KB, dan penggunaan obat-obat. Laporan triwulan meliputi kegiatan
puskesmas antara lain kunjungan puskesmas, rawat tinggal, kegiatan rujukan
puskesmas pelayanan medik kesehatan gigi. Laporan tahunan terdiri dari data dasar
yang meliputi fasilitas pendidikan, kesehatan lingkungan, peran serta masyarakat dan
lingkungan kedinasan, data ketenagaan puskesmas dan puskesmas pembantu.
Pengambilan keputusan di tingkat kabupaten dan kecamatan memerlukan data yang
11
dilaporkan dalam SP3 yang bernilai, yaitu data atau informasi harus lengkap dan data
tersebut harus diterima tepat waktu oleh Dinas Kesehatan Kabupaten, sehingga dapat
dianalisis dan diinformasikan.
Puskesmas merupakan ujung tombak sumber data kesehatan khususnya bagi
dinas kesehatan kota dan Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadi Puskesmas juga
merupakan fondasi dari data kesehatan. Sehingga diharapakan terciptanya sebuah
informasi yang akurat, representatif dan reliable yang dapat dijadikan pedoman dalam
penyusunan perencanaan kesehatan. Setiap program akan menghasilkan data. Data
yang dihasilkan perlu dicatat, dianalisis dan dibuat laporan. Data yang disajikan
adalah informasi tentang pelaksanaan progam dan perkembangan masalah kesehatan
masyarakat. Informasi yang ada perlu dibahas, dikoordinasikan, diintegrasikan agar
menjadi pengetahuan bagi semua staf puskesmas. Pencatatan harian masing-masing
progam Puskesmas dikombinasi menjadi laporan terpadu puskesmas atau yang disbut
dengan system pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas (SP2TP).
Muninjaya (2004) berpendapat bahwa untuk pengembangan efektifitas Sistem
Informasi Manajemen Puskesmas, standar mutu (Input, Proses, Lingkungan dan
Output) perlu dikaji dan dirumuskan kembali, masing-masing komponen terutama
proses pencatatan dan pelaporannya perlu ditingkatkan.

2.2.2 Tujuan
Tujuan SP2TP (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas) adalah
agar semua data hasil kegiatan Puskesmas dapat dicatat serta dilaporkan ke jenjang
diatasnya sesuai kebutuhan secara benar, berkala dan teratur, guna menunjang
pengelolaan upaya kesehatan masyarakat.
Tujuan Umum:
Meningkatkan kualitas manajemen Puskesmas secara lebih berhasil guna dan
berdaya guna melalui pemanfaatan secara optimal data SP2TP dan informasi lain yg
menunjang.
Tujuan Khusus:
Sebagai dasar penyusunan perencanaan tingkat Puskesmas.
Sebagai dasar penyusunan rencana pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas
(Lokakarya mini)
12
Sebagai dasar pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pokok
puskesmas
Untuk mengatasi berbagai kegiatan hambatan pelaksanaan kegiatan pokok
puskesmas

2.2.3 Jenis Pencatatan Terpadu Puskesmas
Pencatatan kegiatan harian progam puskesmas dapat dilakukan di dalam dan
di luar gedung.
Pencatatan yang dibuat di dalam gedung Puskesmas
Pencatatan yang dibuat di dalam gedung Puskesmas adalah semua data yang
diperoleh dari pencatatan kegiatan harian progam yang dilakukan dalam
gedung puskesmas seperti tekanan darah, laboratorium, KB dan lain-lain.
Pencatatan dan pelaporan ini menggunakan: family folder, kartu indeks
penyakit, buku register dan sensus harian.
Pencatatan yang dibuat di luar gedung Puskesmas
Pencatatan yang dibuat di luar gedung Puskesmas adalah data yang dibuat
berdasarkan catatan harian yang dilaksanakan diluar gedung Puskesmas
seperti Kegiatan progam yandu, kesehatan lingkungan, UKS, dan lain-lain.
Pencatatan dan Pelaporan ini menggunakan kartu register dan kartu murid.
Pencatatan harian masing-masing progam Puskesmas dikombinasi
menjadi laporan terpadu puskesmas atau yang disebut dengan sistem
pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas (SP2TP). SP2TP ini dikirim ke
dinas kesehatan Kabupaten atau kota setiap awal bulan, kemudian ke Dinas
Kesehatan kabupaten atau kota mengolahnya dan mengirimkan umpan
baliknya ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Departemen Kesehatan Pusat.
Umpan balik tersebut harus dikirimkan kembali secara rutin ke Puskesmas
untuk dapat dijadikan evaluasi keberhasilan progam. Namun sejak otonomi
daerah dilaksanakan puskesmas tidak punya kewajiban lagi mengirimkan
laporan ke Departemen Kesehatan Pusat tetapi dinkes kabupaten/kota lah yang
berkewajiban menyampaikan laporan rutinnya ke Departemen Kesehatan
Pusat.

2.2.4 Jenis Pelaporan Terpadu Puskesmas
13
Ada beberapa jenis laporan yang dibuat oleh Puskesmas antara lain:
a. Laporan harian untuk melaporkan kejadian luar biasa penyakit tertentu.
b. Laporan mingguan untuk melaporkan kegiatan penyakit yang sedang
ditanggulangi
c. Laporan bulanan untuk melaporkan kegiatan rutin progam.
Laporan jenis ini ada 4 jenis yaitu:
LB1, berisi data kesakitan
LB2, berisi data kematian
LB3, berisi data progam gizi, KIA, KB, dll
LB4, berisi data obat-obatan
Bentuk Formulir Pelaporan
a. Formulir LB: untuk data kesakitan dan obat dengan LPLPO
b. Formulir LT: untuk data kegiatan
c. Formulir LS: untuk data sarana, kegiatan dan kematian
d. LB1: laporan data kesakitan
Kasus lama
Kasus baru
e. LB2: laporan data kematian (tidak dipakai)
laporan obat-obatan (LPLPO)
f. LB3
Gizi
KB
Imunisasi
KIA
Pengamatan Penyakit Menular, seperti: diare, malaria, DBD, TB Paru, Kusta,
Filaria, ISPA, Rabies dan lain-lain.
g. LB4
Kunjungan Puskesmas
Kehatan Olahraga
Kesehatan Sekolah
Rawat Tinggal
Dll
h. LT: laporan kegiatan Puskesmas (tribulan)
14
LT 1
Keadaan sarana Puskesmas
Dasar UKS
Kesehatan Lingkungan
Kesehatan Jiwa
Program Pendidikan dan Pelatihan
Program Pemberantasan Penyakit dan Gizi
LT 2 (kepegawaian)
Tenaga PNS di Puskesmas
Tenaga PTT di Puskesmas
Tenaga PNS di Puskesmas Pembantu
LT 3 (peralatan)
Linen
Peralatan Laboratorium
Peralatan untuk Kesehatan Gigi
Peralatan untuk Penyuluhan
Peralatan untuk Tindakan Medis dan Non Medis
i. Laporan data dasar Puskesmas
LSD1: data kependudukan, fasilitas pendidikan, kesehatan, lingkungan dan
peran serta)
LSD2: ketenagaan Puskesmas dan Puskesma Pembantu
LSD3: peralatan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu
Ada juga jenis laporan lain seperti laporan triwulan, laporan semester, dan
laporan tahunan yang mencakup data kegiatan progam yang sifatnya lebih
komprehensif disertai penjelasan secara naratif. Yang terpenting adalah bagaimana
memanfaatkan semua jenis data yang telah dibuat dalam laporan sebagai masukan
atau input untuk menyusun perencanaan puskesmas (micro planning) dan lokakarya
mini puskesmas (LKMP).
Analisis data hasil kegiatan progam puskesmas akan diolah dengan
menggunakan statistik sederhana dan distribusi masalah dianalisis menggunakan
pendekatan epidemiologis deskriptif. Data tersebut akan disusun dalam bentuk tabel
dan grafik informasi kesehatan dan digunakan sebagai masukan untuk perencanaan
pengembangan progam puskesmas. Data yang digunakan dapat bersumber dari
15
pencatatan masing-masing kegiatan progam kemudian data dari pimpinan puskesmas
yang merupakan hasil supervisi lapangan.

2.2.5 Prosedur Pengisian SP2TP
Prosedur pengisian SP2TP, yaitu:
a. Formulir SP2TP mengacu pada formulir cetakan 2006 baik bulanan maupun
tahunan.
b. Pada formulir SP2TP diisi oleh masing-masing penanggung jawab program.
c. Penanggung jawab program bertangung jawab penuh terhadap kebenaran data
yang ada.
d. Hasil akhir pengisian data di ketahui oleh kepala puskesmas.
e. Di dalam pengentrian ke komputer dapat dilakukan oleh petugas yang ditunjuk
atau staf pengelola program bersangkutan.
f. Data pada formulir SP2TP agar diarsipkan sebagai bukti didalam
pertangungjawaban akhir minimal 2 tahun.
g. Semua data diisi berdasarkan kegiatan yang dilakukan oleh puskesmas.

2.2.6 Pengorganisasian SP2TP Di Puskesmas
Untuk kelancaran kegiatan SP2TP di Puskesmas, maka dibentuk
pengorganisasian yang terdiri dari:
a. Penanggung Jawab (Kepala Puskesmas)
Tugas penanggung jawab adalah memberikan bimbingan kepada koordinator
SP2TP dan para pelaksana kegiatan di Puskesmas.
b. Koordinator (Petugas yang ditunjuk Kepala Puskesmas)
Koordinator SP2TP bertugas:
Mengumpulkan laporan dari masing-masing pelaksana kegiatan.
Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan bulanan
SP2TP dan mengirimkan laporan tersebut ke DInas Kesehatan Dati II
paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.
Bersama dengan para pelaksana kegiatan membuat laporan tahunan
SP2TP dan mengirimkan laporan tersebut ke Dinas Dati II paling lambat
31 Januari tahun berikutnya.
Menyimpan arsip laporan SP2TP dari masing-masing pelaksana kegiatan.
16
Bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan SP2TP kepada Kepala
Puskesmas.
Mempersiapkan pertemuan berkala setiap 3 bulan yang dipimpin oleh
Kepala Puskesmas dengan pelaksanaan kegiatan untuk menilai pelksanaan
kegiatan SP2TP.
c. Anggota (Pelaksana Kegiatan di Puskesmas)
d. Pelaksana kegiatan SP2TP bertugas:
Mencatat setiap kegiatan pada kartu individu dan register yang ada.
Mengadakan bimbingan terhadap Puskesmas Pembantu dan Bidan di
Desa.
Melakukan rekapitulasi data dari hasil pencatatan dan laporan Puskesmas
Pembantu serta Bidan di Desa menjadi laporan kegiatan yang menjadi
tanggung jawabnya. Hasil dari rekapitulasi ini merupakan bahan untuk
mengisi/membuat laporan SP2TP.
Setiap tanggal 5 mengisi/membuat laporan SP2TP dari hasil kegiatan
masing-masing dalam 2 rangkap dan disampaikan kepada coordinator
SP2TP Puskesmas. Dengan rincian satu rangkap untuk arsip coordinator
SP2TP Puskesmas dan satu rangkap oleh Koordinator SP2TP Puskesmas
disampaikan ke Dinas Kesehatan Dati II.
Mengolah dan memanfaatkan data hasil rekapitulasi untuk tindak lanjut
yang diperlukan dalam rangka meningkatkan kinerja kegiatan yang
menjadi tanggung jawabnya.
Bertanggung jawab atas kebenaran isi laporan kegiatannya.














17
BAB III
ANALISIS SITUASI


3.1 Keadaan Geografis dan Demografi




Wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan meliputi seluruh wilayah
Kecamatan Lubuk Kilangan dengan luas 85,99 km
2
dengan batas-batas sebagai
berikut:
Sebelah Utara : Kecamatan Pauh
Sebelah Selatan : Kecamatan Padang Selatan
Sebelah Barat : Kecamatan Lubuk Begalung
Sebelah Timur : Kabupaten Solok

Puskesmas Lubuk Kilangan meliputi 7 kelurahan sebagai wilayah kerjanya.
Ketujuh kelurahan tersebut adalah:
18
1. Kelurahan Batu Gadang
2. Kelurahan Indarung
3. Kelurahan Padang Besi
4. Kelurahan Bandar Buat
5. Kelurahan Koto Lalang
6. Kelurahan Beringin
7. Kelurahan Tarantang
Jumlah penduduk Kecamatan Lubuk Kilangan adalah 50.032 jiwa yang terdiri
dari 10.707 kk. Kecematan ini memiliki 44RW dan 171 RT.

3.2. Sarana Kesehatan

Tabel 3.1 Daftar Sarana Kesehatan Puskesmas Lubuk Kilangan Tahun 2013
Sarana Kesehatan Jumlah
Puskesmas Induk 1 Unit
Puskesmas Pembantu 3 Unit (Indarung, Batu Gadang, dan
Baringin)
Posyandu Balita 43 Pos
Posyandu Lansia 1 Pos
Kader Kesehatan 164 orang
Praktik dokter swasta 5 orang
Praktik Bidan swasta 21 orang
Sumber data : Laporan Tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan Tahun 2013

3.3. Sasaran Puskesmas
Tabel 3.2 Daftar Sasaran Kesehatan Puskesmas Lubuk Kilangan Tahun 2013
VARIABEL
Bandar
Buat
Padang
Besi
Indarung
Koto
Lalang
Batu
Gadang
Baringin Tarantang Total
PENDUDUK 14359 6797 11096 6563 6480 2277 2460 50032
BAYI 316 138 239 132 131 39 46 1041
BALITA 1433 767 1074 869 409 277 290 5119
IBU HAMIL 352 153 268 148 147 38 40 1146
19
BUSUI 573 306 429 347 163 106 124 2048
PDD LAKI2 2972 1158 2282 1428 1264 239 460 9803
PDD PR 381 168 168 109 207 54 117 1245
BULIN 338 153 262 142 120 36 40 1091
Sumber data : Laporan Tahunan Puskesmas Lubuk Kilangan Tahun 2013





























20
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Program Surveilans di Puskesmas Lubuk Kilangan
Petugas surveilans Puskesmas Lubuk Kilangan mengunjungi setiap
kelurahan di wilayah kerja puskesmas dan bertanya tentang adanya penyakit dan
siapa yang meninggal serta bagaimana gejalanya. Apabila data sudah didapatkan,
dilakukan pengamatan dan penyelidikan epidemiologi ke rumah-rumah.
Selanjutnya diberikan pengobatan untuk tindakan segera, memberikan penyuluhan
dan melaporkan kejadian ke Dinas Kesehatan Kota Padang.
Semua data yang di masukkan ke dalam formulir pencatatan dan pelaporan
didapatkan dari laporan harian, mingguan, bulan dari masing- masing pemegang
program pelayanan kesehatan di Puskesmas.
Pengumpulan data kesehatan dilakukan secara sistemik, untuk kasus KLB
(kejadian luar biasa) pengumpulan data didapatkan dari informasi masyarakat,
lintas sektor, lintas program di lingkungan KLB, lalu bekerja sama dengan
masyarakat, lintas sektor, lintas program di lingkungan KLB untuk melakukan
survey terhadap kasus tersebut, setelah dinyatakan kasus tersebut suatu kejadian
luar biasa, tim surveilans langsung melaporkan kepada dinas kesehatan kota
dalam jangka waktu 24 jam melalui via internet, SMS, faximile. Dinas kesehatan
akan melakukan peninjauan terhadap kasus KLB tersebut dan melaporkan
kembali kepada dinas kesehatan provinsi, provinsi juga akan melaporkan kepada
dinas kesehatan pusat. pengumpulan data mingguan dan bulanan diambil dari
pemegang program masing- masing Puskesmas. Semua hasil surveilens,
pencatatan dan pelaporan diketahui dan dianalisis kembali oleh kepala Puskesmas
Lubuk Kilangan.

4.1.1 Sumber Daya Surveilans
a. Sumber Daya Manusia ( Petugas Surveilans )
Puskesmas Lubuk Kilangan saat ini memiliki satu orang petugas.
Merujuk kepada Kepmenkes Nomor 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan
tenaga surveilans pada tingkat puskesmas adalah seorang epidemiolog
terampil. Petugas ini mulai bekerja di Puskesmas Lubuk Kilangan menjadi
21
pemegang program surveilans semenjak tahun 2012. Sudah lama tidak
mengikuti pelatihan surveilans.
Berdasarkan keterangan petugas yang dimaksud jumlah petugas yang
menggawangi program surveilans saat ini tidak menjadi kendala dalam
menjalankan kegiatan program surveilans, karena adanya kerjasama dengan
pemegang program. Untuk pelatihan surveilans dirasakan memang sangat
dibutuhkan, sebagai penyegaran ilmu dalam menjalankan tugas.

b. Sarana Pendukung
Jalannya kegiatan surveilans di Puskesmas Lubuk Kilangan sudah
memiliki sarana berupa paket pedoman pelaksanaan epidemiologi kesehatan,
paket formulir pencatatan, paket peralatan pelaksanaan surveilans
epidemiologi, dan satu unit kendaraan bermotor roda dua. Sarana tersebut
sebagian besar sudah memenuhi kriteria ketersediaan sarana surveilans
untuk tingkat rumah sakit atau puskesmas berdasarkan Kepmenkes Nomor
1116/MENKES/SK/VIII/2003. Kepmenkes tersebut juga mewajibkan
tersedianya satu paket komputer, satu paket alat komunikasi, dan satu paket
kepustakaan.

4.1.2 Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data surveilans di Puskesmas Lubuk Kilangan
sebagian besar menggunakan metoda surveilans pasif. Petugas surveilans
hanya menunggu laporan kasus baru/lama dari tenaga medis/para medis di
balai pengobatan, pustu, posyandu, atau tempat pelayanan kesehatan lainnya
di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan. Petugas surveilans hanya tinggal
mencatat dan menjumlahkan saja.
Metoda surveilans pasif relatif tidak akurat, walaupun dalam format
pelaporan yang dibuat sudah diuraikan tentang definisi ataupun batasan-
batasan yang dibutuhkan, tetapi seringkali para tenaga medis terlalu sibuk dan
tidak merasakan kepentingannya untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan
surveilans, sehingga sering terjadi perbedaan persepsi ataupun tidak
terlaporkan walaupun ditinjau dari aspek biaya metode ini lebih murah.
22
Apabila penyakit yang dilaporkan ditulis di formulir W1
(KLB/potensial KLB), maka wajib hukumnya dalam waktu 1 x 24 jam
dilakukan penyelidikan epidemiologi.
Pada proses pengumpulan data ini, relatif tidak ditemukan masalah
yang berarti. Pemegang program menjalankan kordinasi yang baik dengan
petugas terkait lainnya dalam mengumpulkan data. Pencatatan juga
dilaksanakan dengan baik dan rapi di formulir pencatatan yang telah
ditentukan.

4.1.3 Pengolahan, Analisis, dan Interpretasi Data
Berdasarkan pedoman STP Puskesmas, untuk data yang sudah berhasil
dikumpulkan, petugas surveilans melakukan pengolahan dan analisis bulanan
terhadap penyakit potensial KLB di daerahnya dalam bentuk tabel menurut
desa/kelurahan dan grafik kecenderungan penyakit mingguan serta
menginterpretasikan analisis tersebut dalam bentuk kesimpulan sebagai
landasan rekomendasi untuk dilakukannya intervensi oleh pihak yang
berwenang.
Setiap tahunnya petugas surveilans puskesmas juga wajib
melaksanakan analisis tahunan perkembangan penyakit dan
menghubungkannya dengan faktor risiko, perubahan lingkungan, serta
perencanaan dan keberhasilan program. Puskesmas memanfaatkan hasilnya
sebagai bahan profil tahunan, bahan perencanaan Puskesmas, informasi
program dan sektor terkait serta Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Di Puskesmas Lubuk Kilangan, petugas surveilans belum menjalankan
fungsi ini dengan memuaskan. Analisis dilakukan hanya dengan membaca
data yang sudah diolah dalam bentuk tabel, grafik, namun belum dalam
bentuk peta sebaran. Analisis seperti ini akan membingungkan dan dengan
memasukkan faktor kapasitas petugas yang bukan merupakan seorang
epidemiolog terampil maka bisa diperkirakan hasil interpretasi yang
dihasilkan tidak tajam.



23
Surveilans Demam Berdarah
1. Tujuan : Mengusahakan penurunan angka kematian (Case Fatality Rate) dan
insiden DBD serendah mungkin serta membatasi penyebarluasan penyakit
2. Kegiatan :
a. Diagnosa
Biasanya pasien dengan demam berdarah sudah langsung ke Rumah
Sakit Negeri atau Swasta. Di RS pasien sudah terdiagnosa dengan demam
berdarah sehingga petugas surveillance bisa langsung melakukan pengamatan
epidemiologi ke rumah pasien yang sudah terdiagnosa. Laporan penderita
Demam berdarah didapatkan dari Dinas Kesehatan Kota Padang
b. Pengamatan Epidemiologi
Adalah untuk mengetahui faktor-faktor penting penyebab penularan /
wabah. Pelaksanaannya adalah dengan penemuan penderita di alamatnya, tim
surveillance ke lapangan bersama pemegang program demam berdarah.
Setelah sampai dialamat dilakukan investigasi keadaan rumah, pencarian
sarang, jentik dan sumber penularan nyamuk dan mendata pasien lengkap
serta mendata warga yang kontak dengan pasien. Sekeliling rumah dengan
radius 100 m, juga diambil datanya.
c. Penyembuhan
Jika ada warga yang demam atau dengan observasi demam, maka
diberikan obat simptomatis. Selanjutnya diberikan penjelasan, apabila demam
menunjukkan ciri-ciri demam berdarah maka segera ke RS
d. Penyuluhan
Dilakukan pada setiap rumah yang dikunjungi tentang kebersihan
lingkungan dan cara pemberantasan DBD dengan 3M. Selain itu penyuluhan
diberikan adalah tentang ciri-ciri demam berdarah dan penanggulangan segera.
Kegiatan surveillance DBD dalam 1 tahun terakhir dilakukan di Kelurahan
indarung berdasarkan laporan warga. Selanjutnya data dan hasil penyedikan
dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Padang

Surveillance Campak
1. Gambaran
24
Pasien dengan penyakit campak datang ke Puskesmas Lubuk kilangan
dengan mengeluh demam serta keluar bintik-bintik merah. Dokter Puskesmas
mendiagnosa penyakit yang diderita pasien setelah melihat gejala-jegala yang
timbul. Selanjutnya, jika sudah terdiagnosa campak, maka pasien diberikan
obat.

2. Pengobatan
Pengobatan diberikan oleh dokter puskesmas, dan pasien diberikan
vitamin A dengan dosis diberikan vitamin A merah 1 buti pada hari I, 2 dan ke
14. Untuk bayi yang kurang dari 1 tahun diberikan nya dari vitamin A
berwarna merah pada hari I, 2 dan 14.

3. Penyuluhan
Penyuluhan diberikan langsung ke pasien tentang perawatan penyakit
campak di rumah, imunisasi dan kebersihan lingkungan serta kontak dengan
orang yang demam/ penularan penyakit campak.

4. Pencatatan dan pelaporan
Pasien yang sudah terdiagnosa campak di tanya tentang identitasnya
secara lengkap dan keadaan campak di rumah tempat pasien tinggal. Apakah
tetangga ada yang dapat campak atau tidak. Selanjutnya dicatat langsung
dalam formulir C1 campak.

Surveillance Cikungunya
1. Tujuan : Mengusakan penurunan angka kematian (Case Fatality Rate) dan
insiden cikungunya serendah mungkin serta membatasi penyebarluasan
penyakit
2. Kegiatan :
a. Diagnosa
Biasanya pasien dengan demam dengan cikungunya datang ke
puskesmas untuk berobat. Berdasarkan laporan tersebat tim surveillance
25
menuju lapangan untuk melakukan pengamatan epidemiologi ke rumah pasien
yang yang diduga menderita cikungunya.

b. Pengamatan Epidemiologi
Adalah untuk mengetahui faktor-faktor penting penyebab penularan /
wabah. Pelaksanaannya adalah dengan penemuan penderita di alamatnya, tim
surveillance ke lapangan bersama pemegang program demam berdarah.
Setelah sampai dialamat dilakukan investigasi keadaan rumah, pencarian
sarang, jentik dan sumber penularan nyamuk dan mendata pasien lengkap
serta mendata warga yang kontak dengan pasien. Sekeliling rumah dengan
radius 100 m, juga diambil datanya.
Disamping kasus cikungunya sendiri, kasus-kasus lain yang
berhubungan dengan nyamuk juga diidentifikasi seperti malaria dan DBD.
Selanjutnya mengintifikasi apakah keadaan tersebut sudah mewabah atau
bukan. Keadaan yang sering ditemui bahwa cikungunya sudah tersebar pada
10-15 rumah dengan setiap rumah terdapat minimal 1 orang penderita bahkan
sampai 1 keluaraga dengan gejala yang sama.
c. Penyembuhan
Jika ada warga yang demam atau dengan observasi demam, maka
diberikan obat simptomatis.

d. Penyuluhan
Dilakukan pada setiap rumah yang dikunjungi tentang kebersihan
lingkungan dan cara pemberantasan nyamuk, karena penyebaran cikungunya
juga dari nyamuk seperti demam berdarah. Selain itu penyuluhan diberikan
adalah tentang ciri-ciri cikungunya dan penanggulangan segera.
Kegiatan surveillance cikungunya dalam 1 tahun terakhir dilakukan di
Kelurahan Bandar Buat di daerah Rimbo data dan Kompleks UNAND
berdasarkan laporan warga. Selanjutnya data dan hasil penyedikan dilaporkan
ke Dinas Kesehatan Kota Padang

ISPA (INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT)
26
1. Gambaran kasus ISPA
Rata-rata setiap bayi, anak dan orang dewasa mengalami ISPA 3-6 kali
setahun. Kasus ISPA aalah kasus yang terbanyak di Puskesmas baik kasus
baru maupun kasus berulang. Tanda dan gejala pasien yang berobat ke
Puskesmas Lubuk Kilangan bermacam-macam diantaranya : batuk, Kesulita
bernafas, pilek, Demam, skit telinag, kesulitan menelan, dll. Pasien dengan
ISPA didiagnosa dan diberikan obat secara simptomatis oleh dokter
Puskesmas dan selanjutnya dicatat dalam laporan penyakit ISPA.

2. Penyuluhan dan penggerakan partisipasi masyarakat
Penyuluhan diarahkan pada pesan yang isinya :
- Batuk pilek biasa dapat diatasi sendiri dan tidak perlu dibawa ke Puskesmas
- Penanganan demam, berikan parasetamol dan kompres dingin
- Cara membersihkan hidung yang pilek
- Kebersihan dalam rumah
- Bekerja ditempat berdebu/asap sebaiknya menggunakan masker
- Pemberian ASI dan makan tetap diteruskan seperti biasa.

3. Pencatatan dan Pelaporan
Laporan Kasus ISPA direkap setiap bulan dan dilaporkan ke Dinas
Kesehatan Kota Padang.

Filariasis
Penyakit filariasis di Puskesmas Lubuk Kilangan ditemukan I kali pada
tahun 2005 dengan sudah mengalami penyakit kronis. Ada 2 pasien yang
ditemui ( di kelurahan Bandar Buat dan Koto lalang).
Setelah dilakukan survei darah teri / survei darah jari maka ditemukan
MF > 1 %. Sehingga pada tahun 2008 dil;aukiakn pengobatan masal filariasis
sehubungan dengan ditertapkannya Kecamatan Lubuk Kilangan sebagai
daerah endemis filariasis.

4.2 Permasalahan Surveilans di Puskesmas Lubuk Kilangan
27
Permasalahan yang dihadapi Puskesmas Lubuk Kilangan dalam surveilans,
yaitu:
1. Penderita campak tidak datang ke puskesmas pada hari pertama sehingga
pengobatan yang didapatkan tidak optimal. Penyebabnya adalah kurangnya
penyuluhan terhadap penyakit campak. Solusinya adalah meningkatkan
penyuluhan tentang penyakit campak.
2. Pada kasus DBD, Petugas Penyelidik Epidemiologi didesak masyarakat untuk
melakukan fooging, padahal yang berwenang dalam melakukan fogging
adalah dinas kesehatan kota. Solusi yang dapat dilakukan adalah
memberitahukan masyarakat bahwa yang berwenang untuk melakukan
fogging adalah dinas kesehatan kota, dan jumlah alat fogging untuk Kota
Padang hanya 3 unit untuk 11 kecamatan, sehingga diminta kesabaran dari
masyarakat.
3. Kerjasama Lintas Sektoral masih kurang, karena kurangnya laporan dari
kelurahan setempat mengenai penyakit yang sedang terjadi. Solusinya adalah
meningkatkan koordinasi Kepala Puskesmas dengan Camat agar menghimbau
kepada tiap-tiap kelurahan untuk lebih memperhatikan masalah kesehatan di
wilayahnya.

4.3 Permasalahan Pencatatan dan Pelaporan di Puskesmas Lubuk Kilangan
Masalah yang dihadapi oleh Puskesmas dalam pengumpulan dan
pencatatan dan pelaporan masalah kesehatan ke dinas kesehatan kota sering
terkendala, hal ini disebabkan karena
4. Penyerahan laporan dari masing- masing pemegang program, posyandu,
pustu, dan lain- lain terlambat.
5. Formulir yang telah di tetapkan oleh dinas kesehatan untuk pelaporan
penyakit terbanyak tidak sesuai dengan data penyakit yang ditemukan di
Puskesmas.
6. Sarana dan tenaga SDM untuk pengumpulan dan pencatatan pelaporan
masalah kesehatan belum memadai.
Pemecahan masalah yang telah dilakukan pihak Puskesmas untuk
keterlambatan, dengan memberi peringatan waktu kepada pemegang program
Puskesmas masing- masing dan memberika limit waktu untuk pengumpulan
28
data. Formulir yang telah ditentukan oleh dinas kesehatan tetap dilaporkan
secara online dan di tambah dengan pemberian data manual yang sesuai
dengan data penyakit yang di temukan di Puskesmas. Sarana dan SDM yang
dibutuhkan masih menjadi masalah bagi Puskesmas Lubuk Kilangan Padang.






























29
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

.
5.1 Kesimpulan
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) merupakan
kegiatan pencatatan dan pelaporan puskesmas secara menyeluruh (terpadu)
dengan konsep wilayah kerja puskesmas, dengan tujuan agar semua data hasil
kegiatan Puskesmas dapat dicatat serta dilaporkan ke jenjang diatasnya sesuai
kebutuhan secara benar, berkala dan teratur, guna menunjang pengelolaan upaya
kesehatan masyarakat. Pencatatan kegiatan harian progam puskesmas dapat
dilakukan di dalam dan di luar gedung dan pelaporannya dapat berupa, Laporan
harian untuk melaporkan kejadian luar biasa penyakit tertentu, Laporan mingguan
untuk melaporkan kegiatan penyakit yang sedang ditanggulangi dan Laporan
bulanan untuk melaporkan kegiatan rutin progam.
Program surveilans merupakan hal yang sangat penting sebagai acuan
guna meningkatkan mutu kesehatan di wilayah kerja pusmesmas

5.2 Saran

1. Setiap melakukan surveilens hendaknya mengikuti syarat- syarat sistem
surveilens yang baik.
2. Pemegang masing- masing program dapat memberikan laporan hasil
pendataannya sesuai dengan waktu yang ditetapkan.
3. Melakukan pengkajian pelaksanaan surveilens, pencatatan dan pelaporan
masalah kesehatan di Puskesmas Lubuk Kilangan.
4. Penguasaan terhadap aspek SP2TP, sarana, kapasitas SDM yang belum
memadai perlu mendapatkan perhatian