Anda di halaman 1dari 10

CADO CADO

PANDAS KOJA ( 10 Mei - 15 Juni 2013)


Rumah sakit punya komite PPI (Pengendalian dan Pencegahan Infeksi) cegah infeksi nosokomial
Sumber infeksi : 1. Pemakaian ventilator pneumonia (sering!)
2. Pemakaian dauer kateter ISK
3. Luka operasi (dalam 30 hari)
4. Pemasangan infus (dalam 2x24 jam)
Pembagian alat-alat : 1. Non critical: kena kulit sterilisasi cukup dengan alcohol
2. Semi critical: masuk ke dalam tubuh, misal NGT/ETT/kateter DTT
(desinfeksi tingkat tinggi)
3. Critical: kena jaringan tubuh harus steril
Hand hygiene : 1. Sabun + air mengalir (tangan benar2 dalam keadaan kotor) 40-60 detik
2. Alkohol + hand rub (tangan masih bersih, misal antara tindakan/setelah
sabun + air) 20-30 detik
keringkan dengan tisu!
5 indikasi hand washing menurut WHO : 1. Sebelum kontak dengan pasien
2. Sebelum asepsis/antiseptik
3. Setelah terpapar cairan pasien
4. Setelah kontak dengan pasien (setelah tindakan)
5. Setelah kontak dengan lingkungan pasien
Jenis-jenis limbah RS : 1. Non infeksius (plastik hitam), co: bungkus makanan
2. Infeksius (plastik kuning) benda yang kontak dengan cairan
pasien, co: kateter, infus set, kasa, handscoen, masker
Kode limbah RS : - kotak kuning = benda tajam (jarum suntik, jarum jahit)
- merah = radioaktif
- ungu = sitostatik
Bila terpajan hazard : a. di mata bilas air mengalir 15 detik
b. di kulit bilas air mengalir 1 menit
c. di mulut kumur 1 menit
lapor ke PJ ruangan
Tertusuk jarum bekas: desinfeksi alkohol 70% lalu cuci dengan air mengalir + antiseptik
kemudian tutup dengan kasa steril lapor PJ ruangan
6 langkah cuci tangan : 1. Telapak tangan
2. Punggung tangan
3. Sela-sela jari
4. Buku-buku jari
5. Kedua ibu jari
6. Ujung-ujung kuku
Bagian Anak
Ruangan : a. VK = untuk partus normal
b. ruang bedah obgyn = untuk operasi SC
c. RPKK = untuk bayi lahir sehat, dirawat gabung dengan ibu
d. perinatologi = untuk bayi lahir sakit/dengan kelainan/penyulit kehamilan
e. NICU = neonatal intensive care unit
d. PICU = pediatric intensive care unit
Kasus:
Identitas = Tiara, perempuan, 9 bulan
S = panas 3 minggu tidak terlalu tinggi, terutama malam hari, bila dikompres panas turun, pilek
dengan ingus putih, bila minum ASI muntah, batuk +, sesak +, mencret + ada ampas warna
kadang hijau kadang kuning, pipis banyak, riwayat keluarga batuk lama -, G3P3A1

Prolong fever demam > 3 minggu
DD : 1. Tifoid
2. TBC
3. Infeksi bakteri
Karena ada batuk kemungkinan infeksi bakteri di paru : TBC / pneumonia rontgen thorax!
O= lakukan PF yang bias dilihat dulu
Hitung antropometri status gizi
Pada anak, gizi kurang termasuk dalam diagnosis jadi harus diterapi!
Menilai development lihat dari pertumbuhan gigi, perkembangan kemampuan yg sudah
bisa dilakukan anak
Sindrom kelainan kongenital: kalau ada 1 kelainan pasti ada kelainan yg lain
Kasus:
Identitas = Firmansyah, laki-laki, 14 tahun
S = muntah 20x sejak kemarin berisi air, setiap kali makan dan minum muntah 1 gelas, batuk -,
pilek -, demam +, BAB cair warna coklat tua berlendir 1x, makan minum mau, semalam muntah
1x
DD: masalah di TIK atau GI tract hipermotilitas lambung ec keracunan makanan atau infeksi
Dehidrasi ringan-sedang
O = nyeri perut


P = atasi dehidrasi dulu dengan rehidrasi RL/NaCL!! (atasi cairan baru beri obat!)
Resusitasi awal: balance cairan infus
Observasi tiap 3-6 jam liat BAK
PF: fokus pada penyakit utama!
Keluhan yg ditakutkan ortu: demam tinggi, kejang, sesak
Pada anak < 5 tahun: normal hepar masih teraba di bawah arkus costae, karena hepar termasuk
organ RES (hepar, lien, sumsum tulang) yg masih aktif


+ +
Pembesaran hepar terdapat di: hepatitis, tifoid, DBD
Kasus:
Identitas = Kayla, perempuan, 10 tahun
S = panas dari kemarin siang, sudah minum PCT dan turun tetapi naik lagi dengan suhu 39.5C,
saat masuk IGD panas sudah hari ke 2, mencret +, mual muntah +
Tanyakan: pola demam, BAK, lingkungan (bila curiga DBD)
Kasus emergensi: terapi dulu kegawatannya baru anamnesis!
Kejang/delayed development pada anak ukur lingkar kepala
Resusitasi : 1. Karena syok perdarahan NaCl
2. pada asidosis / penyakit hati RA
3. DSS RL 2 x 20 cc/kgBB (jangan lama-lama krn setelah loading cairan,
cairan akan kembali dalam 24 jam)
DBD fase syok (DSS): hari ke 3-5 (fase kritis) pantau TTV dan akral tiap 3 jam, bila syok segera
atasi!
Prolong shock = syok > 8 jam
Kriteria pasien DBD boleh pulang : a. trombosit > 50rb dgn kurva naik saat bebas demam
b. bebas demam 2 x 24 jam
c. kondisi anak baik, TTV baik
Level ruangan RS : 1. Level 1 = bangsal
2. level 2 = HCU (high care unit)
3. level 3 = ICU
S = badan bengkak pindah-pindah berbulan-bulan (awal dari perut lalu ke mata), riwayat
bengkak + berobat sembuh kemudian relaps, BAK merah
O = Abdomen: kolateral +, hernia umbilikalis +
Nadi 130, TD 135/86 mmHg, RR 28 x/menit, MAP (mean arterial pressure) 105
Urin pekat warna kuning pekat
A = asidosis metabolik berat ec SN
P = tentukan BB kering dengan cara BB timbang dikurangi a. edema pada palpebra = 10%
Semakin ke bawah maka dijumlah b. edema pada tibia = 10%
c. asites = 10%
cek albumin darah koreksi bila albumin < 2.5 g/dL
rumus: 0.8 x BB kering x albumin (target = 4 g/dL) = gram (albumin)
DOC prednison
Pantau urin harus > 1 cc/kgBB/jam
Bila KU baik, makan baik, albumin > 1.5 g/dL bisa rawat di bangsal
Albumin = pembawa obat
DKI (daftar kontrol istimewa) di gawat darurat: cek tiap 1 jam bagus, cek 2 jam kemudian
bagus, cek 6 jam kemudian!
Intake cairan untuk SN tidak dibatasi

Kasus SN, lakukan: 1. Hitung diuresis pantau, baik bila > 1 cc/kgBB/jam
Misal BB kering 16kg, urin 500 cc dalam 3 jam
Diuresis = 500 : 16 : 3 = 10.4 cc/kgBB/jam (baik)
2. hitung BB kering BB kering = BB yg ditimbang edema
Misal BB timbang 24kg, terdapat edema asites
BB kering = 24 [24 x (10%+10%+10%)] = 16.8 kg
3. pantau albumin darah koreksi bila albumin < 2.5 g/dL (min. 4 g/dL)
Rumus albumin (gr)= 0.8 x BB kering x albumin
Misal albumin darah 1.5 g/dL, BB kering 16kg
Koreksi albumin = 0.8 x 16 x (4 1.5) = 32 gram
Refleks neonatus: 1. Sucking reflex menghisap saat menyusu, hilang bila tidak menyusu
2. Rooting mencari jari di pipi bila disentuh
3. Stepping gerakan seperti berjalan namun gerak motorik belum
terjadi, muncul di atas 2 minggu setelah lahir
4. Palmar grasp bila > 4 bulan + berarti ada kelainan neurologis
5. tonic neck reflex spastis pd leher akibat rangsangan lain
6. Moro reflex waspada bayi terhadap rangsang menakutkan, cukup
buat kejutan pada bayi (misal selimut bayi ditarik atau dikagetkan suara
keras kedua lengan mengangkat seperti mencari pegangan di atas)
7. Babinski
8. Snouting bila bagian atas bibir diketuk, bibir mencucu
Myastenia gravis: kelemahan pada otot pernapasan tidak bisa napas lumpuh (paralisis)
Cara kasih transfusi darah: 1. Kantong darah dihangatkan dulu
2. tetesan jangan buru-buru karena koloid bisa bertahan di
dalam intravascular
3. Dosis 5-10 cc/kg
Trombosit dikasih dalam 2 jam
PRC/whole blood dikasih dalam 4 jam
TC = BB x 60-120 cc : 13
PRC = Hb x 4 x BB target Hb 12 g/dL, berikan 10-15 cc/kg/kali/hari
GDS normal pada bayi = 50-100 g/dL, bila < 50 g/dL, koreksi dgn D10
Penanganan bayi baru lahir di perina: 1. Timbang dan ukur PB, LK, LLA, lingkar dada
2. suntik vit K IM paha kiri 1mg 0.5 cc krn 1 ampul = 2
mg/cc
3. cap kaki kanan-kiri
4. nilai maturitas dgn Ballard score
5. Pasang gelang identitas
By Ny .. Tn .. jam lahir, PB, TB, gender,
Ketuban (jernih/hijau), A (anus +/-), A/S (apgar)
6. Kasih salep mata Ab
7. dihangatkan
Bila bayi asfiksia hitung Down Score dan beri O2 kanul 0.1 L/menit
O2 untuk bayi baru lahir di ruang OK = O2 bebas 5 L/menit

KOAS INTERNA RSU KARDINAH TEGAL (15 Juli 21 September 2013)
Darah rutin + urin rutin wajib untuk pasien yg datang di IGD dan rawat inap
Ht = vol sel eritrosit dalam 100 mL darah
Cth kasus: Hb = 8 g/dL, Ht = 30 mm/jam apakah wajar? (tidak wajar)


Rasio Hb:Ht normal = 1:3
Bila sudah berpengalaman, bisa menentukan Hb lewat warna darah
Pada pasien anemis tidak mungkin sianosis karena konsentrasi total Hb turun jd jumlah Hb yg
tereduksi akan kecil jumlahnya sianosis terjadi jika Hb tereduksi > 5 g%
Sianosis biasanya terjadi pada Hb cukup, sianosis terjadi pada pasien shunt VSD/ASD
Hb > 18 g/dL polisitemia: biasanya pd penderita septum defek, darah arteri dan vena
tercampur O2 kurang tubuh kompensasi dengan peningkatan pembentukan eritrosit Hb
banyak tereduksi sianosis
Hb < 10 g/dL anemia
Contoh: a. anemia def besi (mikrositik hipokrom)
b. intake kurang: tidak suka sayuran, pdhl di sayuran hijau mengandung klorofil (rumus
kimia klorofil ada Fe)
c. perdarahan: hemoroid, gangguan mens, penyakit kronik (gangguan ginjal) +
pendarahan, melena (tukak lambung, esophagus), occult bleeding (cacing tambang,
trichuris trichiura), diare amuba, disentri
Polisitemia: a. primer = vera produksi eritrosit tinggi (kelainan genetik)
b. sekunder - kelainan septal defek
- kelainan katup
- kompensasi orang di pegunungan/tempat tinggi
Leukositosis = bila > 11.000, pd infeksi bakteri (coccus / gram)
Leukopeni pd infeksi virus
Diff count: leukosit asal dari myeloblast promyelosit myelosit metamyelosit batang
Shift to the right: infeksi bacterial (coccus, dll), banyak segmen
Shift to the left: batang tinggi, banyak sel muda yg di perifer, infeksi virus?, pd perdarahan
Pd penderita TB monosit tinggi = monositosis, karena monosit berperan dlm respon imun
sekunder TB, di mana sebagian fosfolipid mikobakterium TB mengalami degradasi, monosit
berperan dlm pembentukan tuberkel
Infeksi virus: limfosit tinggi (limfositosis) relatif: leukosit N, limfosit tinggi
Sekunder: leukosit dan limfosit tinggi
Netrofilia absolut: jumlah leukosit juga tinggi
Relatif: jumlah leukosit N



Eritroblas normoblas (bisa terlihat di perifer) retikulosit eritrosit

Kondisi di mana tubuh butuh sel darah merah

Anemia hemolitik hipoplastik

Sel darah merah turun, leukosit turun, trombosit turun

Pansitopenia
Anemia hemolitik: a. warm: mengalami hemolisis saat siang
b. cold: mengalami hemolisis saat malam
Coomb Test (direct/indirect) untuk tau anemia hemolitik atau tidak
Eritrosit pecah (hemolisis) terjadi demam/febris
Pd pasien anemia hemolitik dulu darah A jd AB?
Karena pd eritrosit tertempel anti B sehinggan jd AB, keadaan ini disebut autoimun hemolitik
anemia. Obat: KS.
LED tinggi: a. infeksi
b. anemia
c. indikator TB bila > 100 mm/jam atau kurang sekali, walau pasien tidak ada
batuk segera rontgen thorax (mungkin TB milier)
contoh kasus: TB milier LED tinggi, tidak ada batuk, tidak ada ronkhi, rontgen
thorax +
LED rendah = polisitemia
Trombositopenia konsumtif pd DIC / perdarahan hebat, hematemesis melena (krn trombosit
dipakai)
Trombositopeni pd DBD dan semua jenis viral infection
Trombositosis : pd leukemia, bisa jd thrombus ditakutkan emboli jd stroke non hemoragik
MCH: kadar Hb dalam 1 eritrosit (rata-rata)
MCV: normositik, makrositik, mikrositik
MCHC: konsentrasi, biasanya kalo MCH tinggi, MCHC juga tinggi
Anemia mikrositik hipokrom (MCV turun, MCH turun, MCHC turun)
Penderita infeksi kronik yg dulunya normositik normokromik
Anemia normositik normokromik (MCV, MCH, MCHC normal)
Anemia makrositik: def asam folat (B9)
Hemoglobinopati thalassemia mayor, minor (usia eritrosit < 120 hari)
Hemolisis di RES (hepar, lien) hepatosplenomegali
Faal hemostasis: Waktu perdarahan, waktu pembekuan, PT, aPTT
Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) faal hemostasis memanjang semua!
Gangguan hepar PT dan aPTT memanjang
Untuk tindakan yg menyebabkan panjangnya faal hemostasis beri vit K!
Megakariosit + giant trombosit di darah tepi keganasan hematologi
Idiopathic Trombocytopenia Purpura (ITP) sama kayak anemia hemolitik dalam darah ada
antibodi/antigen di trombosit obat: KS
Chikungunya harus tes serologis, krn lab mirip DB (leukosit trombosit )
Klinis: nyeri sendi sampe ga bisa jalan
Kalium < 2.5 infus KCL, krn hipokalemi jangka panjang bisa bikin hipertensi
KSR (byk kalium) + renapar (kalium dgn Mg)
Mg mengikat Kalium utk penyerapan sehingga perlu diberi Renapar, jangan hanya Kalium saja
Glineprimid obat DM, cepet bikin drop
Glibenklamid tidak boleh utk ortu
Adalat = diltiazem
Metil prednisolone = KS short acting, efek mineralkortikoid sedikit, utk cegah rebound
phenomenon setelah penggunaan dexa pada metil predsinolon krn tubuh belum siap produksi
steroid
Dexametason = KS long acting, efek 2 minggu, lebih murah
Utk lindungi lambung dari obat OAINS: PPI, omeprazole
GD harus < 180 krn kalo lebih dari itu dapat terjadi komplikasi kronis/jangka panjang (neuropati,
nefropati, retinopati)
GE: manifestasi dari GD yg tinggi
Metformin: tidak ada gangguan ginjal, utk yg tidak ada gangguan hati
Minum obat KS tanpa resep dokter moon face, pipi merah (kalo dicubit bekasnya merah)
Efek KS: mineralokortikoid = retensi air (cth: dexa)
Osteoatrosis: osteofis: celah sendi kejepit, subchondrial sklerotik (efek KS)
Menopause: estrogen (estrogen luar berasal dari kecambah, kacang ijo, sayur-sayuran ijo
segar)
Obat COX 1: as mef, as salisilat, fenil butazon
Mitral regurgitasi: akut (ada gejala), kronis (asimptomatik)
S= sesak saat aktivitas, ortopnu
JVP , hepatomegali, edema kalo CHF
O= iktus cordis kuat geser ke lateral, S1 melemah, pansistolik murmur
Mitral stenosis
S= cepat lelah, ortopnu, PND, sesak napas bila aktivitas, sesaknya krn backward jd edema paru
O= mitral facies (biru pd kedua pipi), pulsasi nadi lemah, bising mid diastolic, opening snap, BJ 1
mengeras, BJ 2 mengeras (pd hipertensi pulmoner)
Kalo decomp JVP , hepatomegaly, edema tungkai
P= diuretik: furosemide 1 mg/hari
Digitalis: 0.5 mg
Beta blocker, Ca antagonis
Farmako: diuretika
Beta blocker obat lini pertama, pantau kreatinin dan K serum
ACE Inhibitor kalo ga mempan/HT tidak turun pake vasodilator
ARB
PR!
1. Anak biru kemungkinan apa?
2. Anak gagal tumbuh kemungkinan apa?
3. Anda dokter UKS, periksa jantung, pas lari pucat, knp? Gak kyk yg lain?
4. Perempuan dikonsul bidan, sesak napas, kehamilan 2.5 bulan, apa sikap anda?
5. Perempuan hamil 7.5 bulan, sesak napas, apa sikap anda?
6. Perempuan 30 thn sakit dada, anak 2, diagnosanya kenapa?
7. Pria 40 thn sehabis main bola sakit dada, sikap anda bagaimana?
8. Pria 30 thn mengeluh sakit dada stlh olahraga tenis, kemungkinan sakit apa?
9. Pria 45 thn mengeluh sakit dada, pertama kali sakit dada 20 hari yg lalu, cara ngobatinnya?
Curliv hepatoprotektor
Vomitus kasih ondansetron
Efek samping KS: striae, moon face, osteoporosis, renal failure (irreversible)
BAB hitam/melena: lambung ada tukak, asalnya bisa krn konsumsi obat tanpa resep dokter
(biasanya penyebab utama NSAID)
Kalnex: as kraneksamat anti perdarahan
Keluhan: kolik ureter (bisa krn batu tp udah turun) USG!
Lab: urin rutin, ureum kreatinin, as urat
Klonidin: ES rebound phenomenon
Sehari ga boleh dikasih 1x1, harus 2x1 ato 3x1, kalo berhenti mendadak bisa CVD
(kardiovaskuler disease), ES sentral
Inotropik +: nifedipin
Inotropik -: diltiazem, Beta blocker
Ca antagonis: nifedipin, diltiazem
DM tidak boleh diberi beta blocker pakai diltiazem
Knp def besi anemia normositik normokrom? Krn cadangan Fe masih banyak
Demam krn viral: leukosit trombosit sedikit
MONACO + lovenoc/heparin
MONACO + strepto kalo jelas ada stemi!
Stenosis Mitral hambatan aliran darah dari atrium kiri ke vent kiri pd fase diastolic
Reumatik dari demam reumatik (peradangan non supuratif pd berbagai jaringan tubuh)
Proses kerusakan krn demam rematik proses antigen antibody, infeksi kuman streptokokus
beta hemolitikus grup A, di mana antibodi tidak hanya menyerang bakteri tp katup mitral juga
krn antigen bakteri ada kemiripan dgn katup mitral katup jd menebal terjadi fibrosis dan
perlengketan pd tepi katup hambatan aliran darah tek atrium kiri diikuti dilatasi atrium
kiri tek vena pulmonalis hipertensi pulmoner
Diagnosa: anamnesis= lelah, sesak napas, ortopnu, PND
PF= BJ tambahan (opening snap), murmur mid diastolic
Penunjang: Ro pinggang jantung hilang (RAH), apeks jantung terakat (RVH)

Mallory Weis Syndrom: muntah-muntah hebat
Muntah + darah pada bumil krn erosi pd kerongkongan yg disebabkan
as lambung