Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN :
MEMAHAMI SOSIOLOGI LINGKUNGAN

A. Lingkungan Dalam Kajian Ilmu Sosial
Seperti pemahaman kita tentang sosiologi secara umum ,sosiologi linkungan
masih masih mngkaji tentang kehidupan social (social life). Pengertian sosiologi
secara konvensional, yakni sebagai ilmu yang murni membicarakan hubungan
antarmanusia tanpa memasukkan variable lingkungan. Hal ini memunculkan
tanggapan bahwa sosiologi bisa dikatakan terlambat menanggapi perkembangan
kajian-kajian lingkungan. Padahal ilmu social lain, secara ilmu hukum telah
melakukan ini dengan mengkaji aturan Dan huukum lingkungan. Ekonomi
mengatakan bahwa persoalan lingkungan muncul pada manusia berasal dari
metabolisme fisik manusia modern.
Tahun 1970, para filosof menegaskan kajian pada wilayah etika. Kemudian
di akhir 1970 ilmuwan politik menyelidiki tentang proses pemerintah dan
pembangunan kapasitas institusional. Pertengahan awal 1980 psikologi masuk pada
kajian tentang kesadaran ekologis, (ecological awareness) dan perilaku personal
terhadap persoalan lingkungan. Pada tahun 1975-1980, sosiologi baru mulai
meneliti tentang pergeseran nilai yang dianggap benar dari materialis ke orientasi
nilai post materialis. Ilmuwan sosiologi waktu itu belum menyadari untuk
menjadikan kajian-kajian tersebut sebagai cabang sosiologi. Selain itu, dari sisi
internal sendiri memang ada barrier di kalangan sosiolog untuk bisa
mengembangkan sosiologi lingkungan.
Begitu semangatnya para pendiri sosiologi (Durkheim,Weber,dan Marx)
menjadikan sosiologi sebagai ilmu yang otonom, berakibat terhadap analisis social
yang terpisah dari determinisme biologis. Sosiologi Durkheim bersifat polemic
berlawanan untuk menjelaskan fenomena kebudayaan dan social dengan meringkas
keduanya sebagai sebab individu, biologis, dan geografis.

Kelompok sosiologi yang beraliran antirediksionis berupaya
menembangkan secara disiplin sosiologi lingkungan, tetapi para pemikir sosiologi
klasik bersifat ambivalen tentang peran alam dan factor lingkungan dalam
membentuk proses dan struktur social. Perkembangan yang cukup bagus ketika
lingkungan dikenal secara luas sebagai persoalan social adalah di amerika sejak
tahun 1960 (polusi, kualitas air, dan limbah beracun). Riley Dunlap dan William
Catton menyatakan para sosiolog mengabaikan mendalami variable fisik dan
lingkungan sebab mereka secara tidak sadar mengikuti paradigm keilmuan yang
mencegah mereka untuk melakukan itu.

1. Antara HEP dan NEP
Kelahiran sosiologi lingkungan ditandai dengan menyatakan bahwa
paradigma sosiologi klasik tentang hubungan manusia dan alam tidak lagi
relevan. Paradigma lama itu dikenal sebagai Human Exceptionalism Paradigm
(HEP) yang memiliki gagasan bahwa : Humans are so unique among species
that we are exempt from the power of environmental forces.
Ilmuwan sosiologi meyakini bahwa manusia memang berbeda dengan
makhluk lain, baik tumbuhan maupun binatang. Manusia bisa mengontrol dan
menciptakan kebudayaan. Riley Dunlap dan William Catton mengubah
pandangan ini dengan mengakui kemampuan lingkungan fisik memengaruhi
kehidupan manusia. Atau dengan kata lain, ada beberapa keterbatasan manusia
ketika berhadapan dengan lingkungan biofisik.
Sosiologi lingkungan menerima lingkungan fisik sebagai sesuatu yang
berpengaruh langsung maupun tidak terhadap kehidupan social. Paradigma
baru ini oleh mereka di sebut sebagai New Enviromental Paradigm (NEP).
Akan tetapi, paradigma tersebut kemudian di ubah menjadi New Ecological
Paradigm untuk menegaskan dasar ekologis suatu masyarakat.





Tabel Perbandingan antara HEP dan NEP
No.
Pandangan tentang
Manusia dan
Lingkungan
HEP NEP
1. Asumsi tentang sifat
manusia
Manusia bersifat unik dan
berbeda dengan makhluk lain
karena mendapatkan warisan
budaya. Oleh karena itu,
perbedaan-perbedaan
manusia dipengaruhi oleh
factor social, dibandingkan
factor lahir, mereka dapat
dirubah secara social dan
perbedaan yang mengganggu
dapat di singkirkan.
Manusia memiliki
perkecualian, tetapi
tetap merupakan satu
di antara banyak
spesies yang saling
bergantung dalam
ekosistem.
2. Asumsi tentang
sebab social
Determinan utama manusia
adalah faktor social dan
budaya.
Manusia tidak hanya
dibentuk oleh
kekuatan social dan
budaya, tetapi juga
sebab, akibat, dan
arus balik
keterhubungan dalam
jaringan alam.
3. Asumsi tentang
konteks masyarakat
Lingkungan social dan
buadaya merupakan konteks
utama, sementara lingkungan
biofisik kurang relevan.
Manusia tergantung
lingkungan biofisik
yang terbatas dan
menekankan
pengekangan kuat
atas kehidupan
manusia.
4. Asumsi mengenai
persoalan
masyarakat
Karena kebudayaan bersifat
kumulatif maka seluruh
masalah social akan dapat
terpecahkan.
Walaupun temuan-
temuan manusia
memperluas keter-
batasan kapasitas,
hukum ekologi tidak
dapat dicabut.
Sumber : Buttel (1987), Harper (2004)

Sembilan tahun setelah pendirian sosiologi lingkungan, Frederick Buttel
mencoba menelusuri apakah ada arah di luar NEP yang dikembangkan para
sosiolog lingkungan. Dalam tulisan F. Buttel (1996) dinyatakan bahwa
sosiologi lingkungan bisa dikembangkan dari sosiologi pedesaan. Bahkan ia
menegaskan bahwa silsilah sosiologi lingkungan baik beberapa atau
keseluruhan merupakan keahlian khusus dalam sosiologi pedesaan.
Sosiolog lingkungan banyak berasal dari sosiologi pedesaan seperti : D.
Morisson, D. Field, R. Burdge, S. Albrecht, W. Andrews, W. Burch, W.
Catton, R. Dunlap, A. Schnaiberg, R. Gale, dan W. Firey.
Kemudian dinyatakan oleh Butel, Field, dan Burch bahwa kajian kajian
sosiologi lingkungan merupakan pengembangan dari sosiologi sumber daya
alam (natural resources sociology) yang mengkaji taman dan waktu luang,
manajemen tanah umum, perencanaan penggunaan tanah, dan sejenisnya.
Kajian-kajian tersebut menjadi permulaan displin pada tahun 1970. Demikian
juga, tradisi studi komunitas yang berkembang tahun 1950 dan 1960 telah
memfokuskan pada komunitas yang bergantung pada sumber daya (resources
dependent communities).
Dalam konteks ini berkembang tema-tema penelitian mengenai sosiologi
sumber daya, lingkungan,dan perilaku social. Semua tema tersebut ditekuni
dari penelitian tentang gerakan social, perilaku kolektif, perspektif opini public
pada paham lingkungan modern, dan isu manajemen sumber daya.
Kali ini, sosiologi lingkungan kontemporer mengkaji ekologi manusia
(human ecology) sebagaimana dikembangkan oleh pengikut aliran neo
Durkheiman. Kesimpulannya adalah, sekalipun human ecology tidak
berkembang di sosiologi pedesaan, disiplin itu tetap memengaruhi sosiologi
lingkungan.
Kembali ke Buttel, lima wilayah utama sosiologi lingkungan menurutnya
menyebabkan kemunculan beragam pendekatan pada sosiologi lingkungan,
seperti berikut ini :
1. Sosiologi lingkungan seperti dinyatakan Dunlap dan Catton
2. Gerakan lingkungan yang diilhami oleh pemanasan global dan
perubahan lingkungan. Dalam konteks ini, penyebab beralihnya sosiolog
untuk memberikan perhatian pada substratum ekologis-material dari
struktur social dan kehidupan social.
3. Pelebaran kajian kebudayaan (cultural studies) pada sosiologi yang
mengutamakan diskursus seperti: moderenitas, postmodernitas,
masyarakat berisiko (risk society), dan modernisasi ekologis.