Anda di halaman 1dari 28

SILABUS DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

SISTEM PENCERNAAN
Diajukan untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah MicroTeaching
Dosen Pembimbing: Dr. Hj. Tuti Kurniati, M.Pd.






Oleh:
Annisa Fauziah (1211206010)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2014

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Satuan Pendidikan : SMA Plus Ar-Ruhama Bekasi
Kelas/Semester : XI / II (Genap)
Mata Pelajaran : Biologi
Topik : Sistem Regulasi

A. Kurikulum Inti, Kompetensi Dasar Dan Indicator Penyampaian Kompetensi
No Kurikulum Inti Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
1 Menghayati dan mengamalkan
ajaran agama yang dianutnya.
1.1.Mengagumi keteraturan dan
kompleksitas ciptaan Tuhan
tentang struktur dan fungsi sel,
jaringan, organ penyusun sistem
dan bioproses yang terjadi pada
mahluk hidup.
1. Menjelaskan kebesaran Tuhan
tentang kompleksnya proses
sistem regulasi
2 Menghayati dan mengamalkan
perilaku jujur, disiplin, tanggung
jawab, peduli (gotong royong,
kerjasama, toleran, damai), santun,
responsif dan proaktif dan
2.1. Berperilaku ilmiah: teliti, tekun,
jujur terhadap data dan fakta,
disiplin, tanggung jawab, dan
peduli dalam observasi dan
eksperimen, berani dan santun
2. Mengidentifikasi proses kerja
sistem regulasi, jenis senyawa
psikotropika dan kelainan pada
struktur dan fungsi sistem regulasi


menunjukan sikap sebagai bagian
dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi
secara efektif dengan lingkungan
sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai
cerminan bangsa dalam pergaulan
dunia.
dalam mengajukan pertanyaan dan
berargumentasi, peduli lingkungan,
gotong royong, bekerjasama, cinta
damai, berpendapat secara ilmiah
dan kritis, responsif dan proaktif
dalam dalam setiap tindakan dan
dalam melakukan pengamatan dan
percobaan di dalam
kelas/laboratorium maupun di luar
kelas/laboratorium.

3 Memahami, menerapkan, dan
menganalisis pengetahuan
faktual, konseptual,prosedural,
dan metakognitif berdasarkan
rasa ingin tahunya tentangilmu
pengetahuan, teknologi, seni,
budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait penyebab
fenomena dan kejadian, serta
3.10. Menganalisis hubungan antara
struktur jaringan penyusun organ
pada sistem koordinasi dan
mengaitkannya dengan proses
koordinasi sehingga dapat
menjelaskan peran saraf dan
hormon dalam mekanisme
koordinasi dan regulasi serta
gangguan fungsi yang mungkin
terjadi pada sistem koordinasi
manusia melalui studi literatur,
3. Menjelaskan proses kerja sistem
regulasi










menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian
yang spesifik sesuai dengan bakat
dan minatnya untuk memecahkan
masalah.
pengamatan, percobaan, dan
simulasi.
3.11 Mengevaluasi pemahaman diri
tentang bahaya penggunaan
senyawa psikotropika dan
dampaknya terhadap kesehatan
diri, lingkungan, dan masyarakat



4. Menjelaskan bahaya penggunaan
senyawa psikotropika dan
dampaknya terhadap kesehatan diri,
lingkungan, dan masyarakat

4 4. Mengolah, menalar, dan menyaji
dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, bertindak secara efektif
dan kreatif, serta mampu
menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan.

4.11. Menyajikan hasil analisis tentang
kelainan pada struktur dan fungsi
saraf dan hormon pada sistem
koordinasi yang disebabkan oleh
senyawa psikotropika yang
menyebabkan gangguan sistem
koordinasi manusia
5. Menjelaskan kelainan pada struktur
dan fungsi sistem regulasi



B. Tujuan Pembelajaran
Dengan kegiatan diskusi dan pembelajaran kelompok dalam pembelajaran Proses
kerja Sistem Regulasi, Pengaruh Psikotropika pada Sistem Regulasi dan Kelainan
yang Terjadi pada Sistem Regulasi ini siswa diharapkan terlibat aktif dalam
kegiatan pembelajaran dan bertanggungjawab menyampaikan pendapat, menjawab
pertanyaan, memberi kritik, bersikap toleran, serta dapat:
1. Menjelaskan proses kerja Sistem Regulasi
2. Mengkomunikasikan jenis senyawa psikotropika dan dampaknya
3. Menyebutkan Kelainan yang terjadi pada sistem regulasi

C. Materi
1. Proses kerja sistem regulasi
a. Proses Kerja Sistem Sistem Saraf
Neuron mampu menerima dan merespon terhadap rangsang. Rangsang dari
dendrit ke badan sel saraf oleh akson akan diteruskan ke dendrite akson yang
lain. Bila sampai di ujung akson, maka ujung akson akan
mengeluarkan neurohumor yang memacu dendrit yang berhubungan dengan
akson tadi.
Berikut ini neurohumor yang dikenal:
1) Asetilkolin, merupakan zat pemacu hubungan antara neuron dengan neuron,
neuron dengan otot lurik, dan neuron dengan otot polos.
2) Adrenalin (epinefrin), memacu hubungan antara neuron dengan otot jantung,
neuron dengan otot polos bronkus. Epinefrin bersifat inhibitor, namun zat ini
dapat dihilangkan oleh enzim kolinesterase pada sinspsis.
Penghantaran Inpuls
Rangsangan yang diterima oleh neuron sensorik akan dihantarkan melalui
sel saraf dan sinapsis.
1) Penghantaran lewat sel saraf
Sel saraf bila dalam keadaan istirahat, muatan listrik di luar sel saraf positif (+),
sedangkan muatan listrik di dalam membran (-). Keadaan ini disebut polarisasi.


2) Penghantaran lewat Sinapsis
a. Bila impuls sampai di tombol sinapsis, akan mengakibatkan
peningkatan permiabelitas membran prasinapsis terhadap ion Ca.
b. Gelembung sinapsis melebur dengan membran prasinapsis kemudian
mengeluarkan neurotransmiter ke celah sinapsis.
c. Neurotransmiter membawa impuls ke membran postsinapsis. Setelah itu
neurotransmitter dihidrolisis oleh enzim asetil kolinesterase menjadi setil
dan asam stanont. Zat ini disimpan dalam gelembung sinapsis untuk
dipergunakan lagi.
Gerak Tubuh
1) Gerak Biasa
Yaitu gerak yang disadari, misalnya menulis, berjalan, dan makan. Gerak
biasa impulsnya melalui otak.
Jalannya rangsang : reseptor neuron sensorik otak neuron motorik
efektor.
2) Gerak Refleks
Pada gerak refleks, rangsangan tidak diolah di otak. Jalan terpendek yang
dilalui gerak ini disebut lengkung refleks.
Jalannya rangsang : reseptor neuron sensorik sumsum tulang belakang
neuron motorik efektor.

b. Proses Kerja Sistem Sistem Endokrin
Kerja sistem endokrin lebih lambat dibandingkan dengan sistem syaraf, sebab
untuk mecapai sel target hormon harus mengikuti aliran sistem transportasi. Sel
target memiliki receptor sebagai alat khusus untuk mengenali impuls / rangsang.
Ikatan antara receptor dengan hormon di dalam atau di luar sel target,
menyebabkan terjadinya respons pada sel target.



Mesenger kimia dalam sistem neuron adalah neurotransmitter.
Neurotransmitter bergerak dalam sel syaraf dan pindah ke sel syaraf
berikutnya melalui celah sinapsis, hingga sampai pada receptor sel target.
c. Proses Kerja Sistem Sistem Indra
1) Mekanisme melihat (Mata)
Cahaya ditangkap mata retina (bintik kuning) kornea aqueous
humor pupil lensa vitreous humor fotoreseptor di retina
serabut saraf optic pusat penglihatan di otak sensasi penglihatan.
2) Mekanisme Pendengaran (Telinga)
Getaran suara daun telinga saluran pendengaran membrane
timfani tulang martil tl. Landasan tl. Sanggurdi jendela oval
cairan koklea ujung saraf auditori otak (lobus temporalis) persepsi
suara.
3) Mekanisme pembau (Hidung)
Reseptor pembau terdapat dalam lapisan muka rongga hidung, berupa sel-
sel olfaktori, yang berbentuk memanjang dengan ujung yang bersilia.
Impuls sensoris akan ditransmisikan oleh serabut saraf cranial (saraf
olfaktori) ke pusat pembau di otak.
4) Mekanisme peraba dan perasa (Kulit)
Kulit merupakan indra peraba dan perasa karena memiliki reseptor-reseptor
sebagai berikut:
a) Korpuskula Paccini, ujung saraf reseptor tekanan kuat


b) Ujung saraf sekeliling rambut/saraf bebas, ujung saraf peraba.
c) Korpuskula Ruffini, ujung saraf reseptor panas.
d) Ujung saraf Krause, ujung saraf reseptor dingin.
e) Korpuskula Meisneir, ujung saraf peraba.
f) Lempeng Merkel, ujung saraf perasa sentuhan dan tekanan ringan.
g) Ujung saraf tanpa selaput (telanjang), merupakan perasa sakit.
5) Mekanisme Pengecap (lidah)
Makanan/Larutan zat berasa Papila lidah Saraf gustatori Medula
oblongata Talamus Pusat rasa pada korteks serebrum

2. Pengaruh psikotoprika pada sistem regulasi
Yang dimaksudkan dengan obat-obat berbahaya adalah berbagai macam jenis
obat yang diproduksi untuk keperluan dunia medis untuk pengobatan. Karena daya
kerjanya obat-obat tersebut sangatlah keras, sehingga penggunaannyapun harus
melalui resep dokter.
Obat-obat dimaksud jika disalahgunakan akan berpengaruh dan merusak psikis
maupun fisik dari si pemakai dan mengakibatkan ketergantungan sebagai mana
narkotika lainnya.
Sedangkan zat-zat berbahaya mempunyai pengertian zat-zat yang tidak
termasuk golongan narkotika maupun obat-obat berbahaya tetapi mempunyai
pengaruh dan efek merusak fisik dan psikis seseorang jika disalahgunakan
sebagaimana penggunaan narkotik maupun obat-obatan berbahaya lainnya.
Kebanyakan zat-zat ini termasuk golongan halusinogen yaitu seperti LSD, Psylocybin
(cendawan), Maskalin (cactus), gasoline, dan glue sniffing sebangsa lem.
Untuk jenis obat-obatan berbahaya sebagaimana disebutkan diatas pada
umumnya dibagi menjadi 3 golongan yaitu depressant, stimulant, dan hallucinogen




a. Depresant
Pada umumnya membuat pusat saraf menjadi pasif. Obat-obatan tersebut
bekerja sangat mempengaruhi aktivitas otak dan urat saraf santral. Obat ini terkenal
dengan sebutan sebagai obat penenang atau obat tidur.
Yang termasuk golongan depresant antara lain adalah Choral Hydrat,
Barbiturat, Gluethehimeide, Methaqualon, Benzoida Zepin, Narkotika golongan
opiat. Sedangkan yang biasanya disalahgunakan para remaja adaah Rohynol Magdon,
Staurodorm, Valium 5, Cosadon.
Secara medis obat-obatan tersebut dapat berguna untuk membantu mengurangi
rasa cemas dan gelisah, meredakan ketegangan jiwa, pengobatan darah tinggi dan
epilepsi, merangsang untuk segera tidur.
b. Stimulant
Pada umumnya membuat pusat saraf menjadi sangat aktif. Obat ini sangat
efektif menimbulkan rangsangan. Oleh karena itu lebih dikenal dengan sebutan obat
perangsang. Termasuk dalam golongan stimulant adalah Amphetamin, Phenmetrazin,
Methyl Phenidat, Kokaina.
Dalam golongan ini yang biasanya sering disalahgunakan adalah jenis
Amphetamin. Kebiasaan menggunakan obat yang terus menerus akan menimbulkan
ketergantungan dan toleransi menuntut peningkatan dosis. Akibat pemakaian obat ini
akan mempunyai efek kekurangan gizi, penyakit saraf, mudah panik mudah kena
infeksi, rusaknya sel-sel otak dan dapat menyebabkan gila.
Dalam dunia pengobatan, Amphetamin dipergunakan untuk menghilangkan
rasa lelah, menambah nafsu makan, menghilangkan depresi, obat tidur, memlihara
kestabilan darah selama pembedahan, dan mencegah rasa shok karena poembedahan.
c. Hallucinogen
Obat-obatan ini dapat menimbulkan halusinasi atau daya khayal yang kuat yaitu
salah persepsi tentang lingkungan dan dirinya, baik pendengaran, penglihatan,
maupun perasaan. Termasuk jenis ini adalah LSD (Lysegic Acid Diethylamide). Obat


ini memberikan daya khayal yang kuat. LSD sebesar 50 microgram saja akan dapat
membawa daya khayal bagi pemakainya selama hampir 16 jam.
Dalam dunia pengobatan dipergunakan untuk membuat sistem kerja susunan
syaraf. Penyalahgunaan obat ini akan menimbulkan anak mata yang mengecil, suhu
badan yang merendah, detak jantung yang bertambah, mabok dan mual.
Jenis lainnya adalah Phencyclidine dengan singkatan PCP. Dalam dunia
kedokteran dipergunakan untuk anesthesi. Dipasaran gelap banyak beredar obat ini
yang diproduksi oleh laboratorium-laboratorium gelap. Sebagai efek dari
penyalahgunaan obat ini adalah sebagai berikut:
a) adanya perasaan yang melayang-layang
b) hilang perhatian kepada lingkungan sekitarnya
c) berat badan tidak terasa
d) bentuk tubuh terasa berkurang
Meskalin dan Peyote, Amphetamine, Psilocybin dan Psillocyn sesuai efek
farmakologis termasuk juga golongan obat-obatan Halusinogen.

3. Kelainan yang terjadi pada sistem regulasi
Ada beberapa macam kelainan akibat sistem saraf pada manusia terganggu,
antara lain :
a. Stroke ( istilah lain Cerebrovascular accident ( CVA ) atau Cerebral apoplexy ),
adalah kerusakan otak akibat tersumbatnya atau pecahnyapembuluh darah otak.
b. Poliomielitis , penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang
neuron-neuron motoris sistem saraf ( otak dan medula spinalis ).
c. Epilepsi, penyakit karena dilepaskannya letusan-letusan listrik ( impuls ) pada
neuron-neuron otak.
d. Parkinson, penyakit yang disebabkan oleh berkurangnya neurotranslator
dopamin pada dasar ganglion dengan gejala tangan gemetaran sewaktu istirahat (
tetapi gemetaran itu hilang sewaktu tidur ), sulit bergerak, kekakuan otot, otot


muka kaku menimbulkan kesan seolah-olah bertopeng, mata sulit berkedip dan
langkah kaki menjadi kecil dan kaku.
e. Transeksi , kerusakan atau seluruh segmen tertentu dari medula spialis.
Misalnya karena jatuh, tertebak yang disertai dengan hancurnya tulang belakang.
f. Neurasthonia ( lemah saraf ) , penyakit ini ada karena pembawaan lahir, terlalu
berat penderitanya, rohani terlalu lemah atau karena penyakit keracunan.
g. Neuritis, radang saraf yang terjadi karena pengaruh fisis seperti patah tulang,
tekanan pukulan, dan dapat pula karena racun atau difisiensi vitamin B1, B6,
B12.
h. Amnesia, yaitu ketidakmampuan seseorang untuk mengingat atau mengenali
kejadian yang terjadi dalam suatu periode di masa lampau. Biasanya kelainan ini
akibat guncangan batin atau cidera otak.
i. Cutter, kelainan di mana penderitanya selalu melukai dirinya sendiri pada saat
depresi, stres, atau bingung.

D. Model/Metode Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran adalah pendekatan saintifik (Saintific), pembelajaran
koperatif (Cooperative Learnin) menggunakan kelompok diskusi yang berbasis
masalah (Problem-Based Learning)


E. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan PBL
Pendekatan
Scientific
Deskripsi Kegiatan Alokasi waktu
PENDAHULUAN 1. Guru mengucapkan salam kepada peserta didik
2. Guru mempersilahkan satu peserta didik untuk
memimpin doa sebelum memulai proses pembelajaran.
3. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
4. Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu
dan berpikir kritis, peserta didik diajak memecahkan
masalah proses system regulasi.


5 Menit
Fase 1
Orientasi peserta didik kepada
masalah
1. Guru menjelaskan model pembelajaran yang akan
digunakan dalam pembelajaran teori induktansi yaitu
model pembelajaran PBL (Problem Based Learning)
agar peserta didik paham langkah-langkah yang akan
dijalani selama proses pembelajaran.
2. Guru memberikan teori proses kerja system regulasi
sebagai teori pendukung untuk mendasari pemahaman
peserta didik terhadap proses kerja system regulasi.


Fase 2
Mengorganisasikan Peserta
Didik
1. Guru membagi peserta didik dalam 2 kelompok
yang terdiri dari 6 peserta didik .
INTI 10 Menit
Fase 3
Membimbing penyelidikan
Mengamati 1. Peserta dididk mendengar, menyimak soal yang
diberikan oleh guru
2. Selama peserta didik bekerja di dalam kelompok,
guru memperhatikan dan mendorong semua peserta
didik untuk terlibat diskusi, dan mengarahkan bila
ada kelompok yang melenceng jauh pekerjaannya.
3. Guru menilai kerjasama siswa
Fase 4
Mengembangkan dan
menyajikan hasil karya
Menanya Guru mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak
dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk
mendapatkan informasi tambahan tentang soal yang akan
dijawab oleh kelompok
Menalar Siswa membaca sumber lain selain buku teks untuk
mendapatkan informasi tambahan tentang pengaruh
psikotropika pada sistem regulasi dan kelainan yang terjadi
pada sistem regulasi

Mencoba Guru mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik


terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan maupun hasil
dari kegiatan mengumpulkan informasi tentang pengaruh
psikotropika pada sistem regulasi dan kelainan yang terjadi
pada sistem regulasi
Fase 5
Menganalisa dan mengevaluasi
proses pemecahan masalah
Membuat jejaring
pembelajaran
Salah satu peserta didik dari setiap kelompok diskusi (tidak
harus yang terbaik) diminta untuk mempresentasikan hasil
diskusinya ke depan kelas. Sementara kelompok lain,
menanggapi dan menyempurnakan apa yang
dipresentasikan.

PENUTUP 1. Guru dan peserta didik menyimpulkan berbagai bahan
psikotropika dapat memengaruhi fungsi sel syaraf dan
menyimpulkan bahwa kerusakan syaraf akibat bahan
psikotropika akan merugikan masa depan siswa dengan
bantuan presentasi komputer, guru
2. Guru menutup pelajaran dengan mengucapkan salam

5 Menit



F. Alat/Media/Sumber Pembelajaran
1. kertas HVS
2. Power Point
3. Lembar penilaian
4. Buku siswa:
Jati, Wijaya. 2007. Biologi. Jakarta: Ganeca Exact.
Ending, Sri Lestari. 2009. Jakarta: CV Putra Nugraha
G. Penilaian Hasil Belajar
1. Teknik Penilaian
Test dan pengamatan
2. Prosedur Penilaian
No Aspek yang dinilai Teknik Penilaian Teknik Penilaian
1.
Sikap
a. Terlibat aktif dalam
pembelajaran Proses kerja
Sistem Regulasi, Pengaruh
Psikotropika pada Sistem
Regulasi dan Kelainan yang
Terjadi pada Sistem Regulasi
b. Bekerjasama dalam kegiatan
kelompok
c. Toleran terhadap proses
pemecahan masalah yang
berbeda dan kreatif
Pengamatan Selama pembelajaran dan
ssaat diskusi
2.
Pengetahuan
a. Menjelaskan kembali tentang
Pengamatan dan
test
Penyelesaian tugas


Pengaruh Psikotropika pada
Sistem Regulasi
b. Menjelaskan kembali tentang
kelainan yang Terjadi pada
Sistem Regulasi secara tepat
individu dan kelompok
3.
Keterampilan

Pengamatan Penyelesaian tugas (baik
individu maupun
kelompok dan saat
diskusi)

H. Instrumen Hasil Penilaian Hasil Belajar
Test tertulis
Kelompok 1: Apa yang anda ketahui tentang psikotropika?
Kelompok 2: Sebutkan kelainan yang terjadi pada sistem regulasi!
Kunci Jawaban
Kelompok 1: Yang dimaksudkan dengan psikotropika/obat-obat berbahaya adalah
berbagai macam jenis obat yang berpengaruh dan merusak psikis maupun fisik
dari si pemakai dan mengakibatkan ketergantungan sebagai mana narkotika
lainnya. Untuk jenis obat-obatan berbahaya pada umumnya dibagi menjadi 3
golongan yaitu depressant, stimulant, dan hallucinogen.
1. Depresant
Pada umumnya membuat pusat saraf menjadi pasif. Obat-obatan tersebut
bekerja sangat mempengaruhi aktivitas otak dan urat saraf santral. Obat ini terkenal
dengan sebutan sebagai obat penenang atau obat tidur.
2. Stimulant
Pada umumnya membuat pusat saraf menjadi sangat aktif. Obat ini sangat
efektif menimbulkan rangsangan. Oleh karena itu lebih dikenal dengan sebutan obat


perangsang. Termasuk dalam golongan stimulant adalah Amphetamin, Phenmetrazin,
Methyl Phenidat, Kokaina.
3. Hallucinogen
Obat-obatan ini dapat menimbulkan halusinasi atau daya khayal yang kuat yaitu
salah persepsi tentang lingkungan dan dirinya, baik pendengaran, penglihatan,
maupun perasaan. Termasuk jenis ini adalah LSD (Lysegic Acid Diethylamide). Obat
ini memberikan daya khayal yang kuat. LSD sebesar 50 microgram saja akan dapat
membawa daya khayal bagi pemakainya selama hampir 16 jam.
Skor maksimum: 100
Kelompok 2: Ada beberapa macam kelainan akibat sistem saraf pada manusia
terganggu, antara lain:
1. Stroke ( istilah lain Cerebrovascular accident (CVA) atau Cerebral apoplexy),
adalah kerusakan otak akibat tersumbatnya atau pecahnyapembuluh darah
otak.
2. Poliomielitis , penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang
neuron-neuron motoris sistem saraf (otak dan medula spinalis).
3. Epilepsi, penyakit karena dilepaskannya letusan-letusan listrik ( impuls ) pada
neuron-neuron otak.
4. Parkinson, penyakit yang disebabkan oleh berkurangnya neurotranslator
dopamin pada dasar ganglion dengan gejala tangan gemetaran sewaktu
istirahat ( tetapi gemetaran itu hilang sewaktu tidur ), sulit bergerak, kekakuan
otot, otot muka kaku menimbulkan kesan seolah-olah bertopeng, mata sulit
berkedip dan langkah kaki menjadi kecil dan kaku.
5. Transeksi , kerusakan atau seluruh segmen tertentu dari medula spialis.
Misalnya karena jatuh, tertebak yang disertai dengan hancurnya tulang
belakang.
6. Neurasthonia ( lemah saraf ) , penyakit ini ada karena pembawaan lahir,
terlalu berat penderitanya, rohani terlalu lemah atau karena penyakit
keracunan.


7. Neuritis, radang saraf yang terjadi karena pengaruh fisis seperti patah tulang,
tekanan pukulan, dan dapat pula karena racun atau difisiensi vitamin B1, B6,
B12.
8. Amnesia, yaitu ketidakmampuan seseorang untuk mengingat atau mengenali
kejadian yang terjadi dalam suatu periode di masa lampau. Biasanya kelainan
ini akibat guncangan batin atau cidera otak.
9. Cutter, kelainan di mana penderitanya selalu melukai dirinya sendiri pada
saat depresi, stres, atau bingung.
Skor maksimum: 100

Bekasi, 17 Februari 2013

Kepala Sekolah



Dra. Erliana Maulana Natsir
NIP: 196111061986032013


Guru Bidang Studi



Annisa Fauziah, S.Pd.
NIP: 196111061986032013





Lembar Kerja Kelompok

Nama Anggota kelompok :
Kelompok :
Kelas/ Program Studi : XI/IPA
Pokok Bahasan : Proses kerja Sistem Regulasi, Pengaruh
Psikotropika pada Sistem Regulasi dan
Kelainan yang Terjadi pada Sistem Regulasi
Tujuan Pembelajaran:
Dengan kegiatan diskusi dan pembelajaran kelompok dalam pembelajaran
Proses kerja Sistem Regulasi, Pengaruh Psikotropika pada Sistem Regulasi dan
Kelainan yang Terjadi pada Sistem Regulasi ini siswa diharapkan terlibat aktif dalam
kegiatan pembelajaran dan bertanggungjawab menyampaikan pendapat, menjawab
pertanyaan, memberi kritik, bersikap toleran, serta dapat:
1. Menjelaskan proses kerja Sistem Regulasi
2. Mengkomunikasikan jenis senyawa psikotropika dan dampaknya
3. Menyebutkan Kelainan yang terjadi pada sistem regulasi
Alat dan bahan:
Kertas HVS
Alat Tulis
Langkah Kerja:
1. Bentuklah 2 kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 oran
2. Pilihlah salah satu kertas yang berisi soal
3. Isilah soal yang telah dipilih bersama dengan teman sekelompok anda selama
5 menit
4. Tulis dalam kertas HVS yang telah disediakan
5. Presentasikan hasil diskusi kelompok anda dengan mendelegasika perwakilan
kelompok anda





LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP
Mata Pelajaran :Biologi m
Kelas/Semester : X1/ I
Tahun Pelajaran : 2013/2014
Waktu Pengamatan : Selama pembelajaran dan ssaat diskusi
Indikator dalam pembelajaran Sistem Regulasi
Bubuhkan tanda ceklist () pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.
No Nama Siswa Sikap
Aktif Bekerjasama Toleran
KB B SB KB B SB KB B SB
1


2


3


4


5


6


7


8


9


10


11


12


13


14


15


16


17


18




19


20


21


22


23


24


25


26


27


28


29


30



Keterangan:
KB : Kurang baik
B : Baik
SB : Sangat baik











LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN
Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/Semester : XI/II
Tahun Pelajaran : 2013/2014
Waktu Pengamatan :
Indikator terampil menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang
relevan yang berkaitan dengan Proses kerja Sistem Regulasi, Pengaruh Psikotropika
pada Sistem Regulasi dan Kelainan yang Terjadi pada Sistem Regulasi
1. Kurang terampil jika sama sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan
strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan translasi dalam
geometri transformasi beserta aturanntya.
2. Terampil jika menunjukkan sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip
dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan dengan translasi
dalam geometri transformasibeserta aturan-aturannya.
3. Sangat terampill,jika menunjukkan adanya usaha untuk menerapkan
konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang berkaitan
dengan translasi dalam geometri transformasi beserta aturan-aturannya.

Bubuhkan tanda ceklist () pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.
No Nama Siswa
Keterampilan
Menerapkan konsep/prinsip dan
strategi pemecahan masalah
KT T ST
1


2


3


4


5




6


7


8


9


10


11


12


13


14


15


16


17


18


19


20


Keterangan:
KT : Kurang terampil
T : Terampil
ST : Sangat terampil



SILABUS PEMINATAN MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM
MATA PELAJARAN BIOLOGI SMA
Satuan Pendidikan : SMA
Kelas : XI

KI 1 : 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : 2. Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran,
damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia.

KI 3 : 3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,prosedural, dan metakognitif berdasarkan
rasa ingin tahunya tentangilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

KI 4 : 4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan.










KOMPETENSI DASAR
MATERI
POKOK
PEMBELAJARAN PENILAIAN
ALOKASI
WAKTU
SUMBER
BELAJAR
9. Struktur dan fungsi sel syaraf penyusun jaringan syaraf pada sistem koordinasi dan spikotropika
1.1. Mengagumi keteraturan
dan kompleksitas ciptaan
Tuhan tentang struktur
dan fungsi sel, jaringan,
organ penyusun sistem
dan bioproses yang terjadi
pada mahluk hidup.
Struktur dan
fungsi sel pada
sistem regulasi
Proses kerja
sistem
regulasi.
Pengaruh
psikotropika
pada sistem
regulasi.
Kelainan
yang terjadi
pada sistem
regulasi.










Mengamati
Melakukan percobaan/games
tentang bagaimana kulit dapat
merasakan, pendengaran tidak
bisa mendengar suara terlalu
rendah, lidah bisa merasakan,
mata bisa melihat objek dll untuk
menunjukkan adanya fungsi
syaraf pada tubuh.

Menanya
Mengapa tubuh bisa merasakan
fenomena alam dan otak dapat
merasakan sensasinya?
Organ apa di tubh yang berfungsi
dan bagaimana strukturnya?

Mengumpulkan Data
(Eksperimen/Eksplorasi)
Merinci langkah-langkah
perambatan impuls pada sistem
syaraf secara fisik, kimia dan
biologi dan mengkaitkannya

Tes
Pemahaman berbagai
bahan psikotropika
dapat memengaruhi
fungsi sel syaraf.
Pemahaman berbagai
kelainan yang terjadi
pada system regulasi


20 menit Bu ku
teksbook
biologi:
Jati,
Wijaya.
2007.
Biologi.
Jakarta:
Ganeca
Exact.
Endang,
Sri Lestari.
2009.
Jakarta:
CV Putra
Nugraha
Power
Point
Bacaan
tentang
2.1. Berperilaku ilmiah: teliti,
tekun, jujur terhadap data
dan fakta, disiplin,
tanggung jawab, dan
peduli dalam observasi
dan eksperimen, berani
dan santun dalam
mengajukan pertanyaan
dan berargumentasi,
peduli lingkungan,
gotong royong,
bekerjasama, cinta damai,
berpendapat secara ilmiah
dan kritis, responsif dan
proaktif dalam dalam
setiap tindakan dan dalam
melakukan pengamatan


dan percobaan di dalam
kelas/laboratorium
maupun di luar
kelas/laboratorium.






















dengan gerak otot sebagai organ
efektor kerja syaraf
Menganalisis penyebab
terjadinya berbagai gangguang
yang terjadi pada sistem regulasi
(saraf, endokrin, indera).
Menganalisis hubungan
psikotropika dengan sistem
syaraf, endokrin dan indera.

Mengasosiasikan
Menyimpulkan berbagai bahan
psikotropika dapat memengaruhi
fungsi sel syaraf.
Menyimpulkan bahwa kerusakan
syaraf akibat bahan psikotropika
akan merugikan masa depan
siswa.

Mengkomunikasikan
Menunjukan bagan penghantaran
impuls dalam gerak refleks dan
gerak biasa.
Menjelaskan keterkaitan fungsi
kerja saraf, endokrin dan indera
melalui perambatan impuls
(polarisasi, depolarisasi, dan
dampak
psikotrop
ika
terhadap
koordinas
i tubuh

3.10. Menganalisis hubungan
antara struktur jaringan
penyusun organ pada
sistem koordinasi dan
mengaitkannya dengan
proses koordinasi
sehingga dapat
menjelaskan peran saraf
dan hormon dalam
mekanisme koordinasi
dan regulasi serta
gangguan fungsi yang
mungkin terjadi pada
sistem koordinasi manusia
melalui studi literatur,
pengamatan, percobaan,
dan simulasi.

3.11.

Mengevaluasi
pemahaman diri tentang
bahaya penggunaan
senyawa psikotropika dan
dampaknya terhadap





kesehatan diri,
lingkungan, dan
masyarakat.

repolarisasi).
Menjelaskan hasil demonstrasi
yang dikaitkan dengan hasil
kajian literatur dalam diskusi
kelas tentang pengaruh
psikotropika pada sistem regulasi
dan kelainan yang terjadi pada
sistem regulasi.
Menjelaskan hubungan senyawa
psikotropika dengan gangguan
pada sistem koordinasi.

4.11. Menyajikan hasil analisis
tentang kelainan pada
struktur dan fungsi saraf
dan hormon pada sistem
koordinasi yang
disebabkan oleh senyawa
psikotropika yang
menyebabkan gangguan
sistem koordinasi manusia
dan melakukan kampanye
anti narkoba pada
berbagai media.

4.12. Melakukan kampanye
antinarkoba melalui
berbagai bentuk media
komunikasi baik di
lingkungan sekolah
maupun masyarakat.