Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN ELIMINASI URINE



A. PENGERTIAN
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjadinya
proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang
tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih
dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh
larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Eliminasi urine adalah proses pembuangan sisa-sisa metabolisme.
Eliminasi urine normalnya adalah pengeluaran cairan. Proses pengeluaran
ini sangat bergantung pada fungsi-fungsi organ eliminasi seperti ginjal,
ureter, bladder, dan uretra (Hidayat, 2008).
B. ANATOMI FISIOLOGI
Organ yang berperan dalam proses terjadinya eliminasi urine adalah ginjal,
ureter, kandung kemih, dan uretra (Pearce, 2009).

1. Ginjal
Ginjal adalah sepasang organ retroperitoneal yang integral
dengan homoestasis tubuh dalam mempertahankan keseimbangan
cairan, termasuk keseimbangan fisika dan kimia. Ginjal mensekresi
hormon dan enzim yang membantu pengaturan produksi eritrosit,
tekanan darah, serta metabolisme kalsium dan fosfor. Ginjal mengatur
cairan tubuh, asiditas, dan elektrolit sehingga mempertahankan
komposisi cairan yang normal (Mary Baradero, 2008).
Ginjal juga menyaring bagian dari darah untuk dibuang dalam
bentuk urine sebagai zat sisa yang tidak diperlukan tubuh. Bagian
ginjal terdiri atas nefron, yang merupakan unit dari struktur ginjal
yang berjumlah kurang lebih satu juta nefron. Melalui nefron urine
disalurkan ke dalam bagian pelvis ginjal, kemudian disalurkan melalui
ureter ke kandung kemih (Hidayat, 2008).
2. Kandung Kemih (Bladder, Buli-buli)
Kandung kemih merupakan sebuah kantong yang terdiri atas
otot halus yang berfungsi sebagai penampung air seni (urine). Dalam
kandung kemih, terdapat lapisan jaringan otot yang memanjang
ditengah dan melingkar disebut sebagai detrusor dan berfungsi untuk
mengeluarkan urine. Pada dasar kandung kemih, terdapat lapisan
tengah jaringan otot yang berbentuk lingkaran bagian dalam atau
disebut sebagai otot lingkar yang berfungsi menjaga saluran antara
kandung kemih dan uretra sehingga uretra dapat menyalurkan urine
dari kandung kemih keluar tubuh (Hidayat, 2008).
Penyaluran rangsangan ke kandung kemih dan rangsangan
monitoris ke otot lingkar bagian dalam diatur oleh sistem simpatis.
Akibat dari rangsangan ini, otot lingkar menjadi kendur dan terjadi
kontraksi sphincter bagian dalam sehingga urine tetap tertinggal dalam
kandung kemih. Sistem parasimpatis menyalurkan rangsangan motoris
kandung kemih dan rangsangan penghalang ke bagian dalam otot
lingkar. Rangsangan ini dapat menyebabkan terjadinya kontraksi otot
detrusor dan kendurnya sphincter (Hidayat, 2008).
3. Uretra
Uretra merupakan organ yang berfungsi untuk mengeluarkan
urine ke bagian luar. Fungsi uretra pada wanita mempunyai fungsi
yang berbeda dengan yang terdapat pada pria. Pada pria, uretra
digunakan sebagai tempat pengaliran urine dan sistem reproduksi
berukuran panjang 20 cm. pada pria uretra terdiri dari 3 bagian,
uretra prostatik, uretra membranosa, dan uretra kavernosa. Pada
wanita uretra memiliki panjang 4-6,5 cm dan hanya berfungsi untuk
mengeluarkan urine ke bagian luar tubuh (Potter, 2005).
Saluran perkemihan dilapisi membrane mukosa dimulai dari
meatus uretra hingga ginjal. Secara normal, mikroorganisme tidak ada
yang bisa melewati uretra bagian bawah, namun membrane mukosa
ini pada keadaan patologis yang terus-menerus akan menjadikannya
sebagai media yang baik untuk pertumbuhan beberapa patogen
(Hidayat, 2008).
C. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
1. Diet dan asupan (intake).
Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang
mempengaruhi output urine. Protein dan natrium dapat menentukan
jumlah urine yang dibentuk. Selain itu minum kopi dapat
meningkatkan pembentukan urine.
2. Respons bagaimana awal berkemih.
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih dapat
menyebabkan urine banyak tertahan di dalam vesika urinaria, sehingga
mempengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah pengeluaran urine.
3. Gaya hidup.
Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi pemenuhan
kebutuhan eliminasi. Hal ini terkait dengan tersedianya toilet.
4. Stress psikologis.
Meningkatnya stress dapat meningkatkan frekuensi keinginan
berkemih. Hal ini karena meningkatnya sensitivitas untuk keinginan
berkemih dan jumlah urine yang diproduksi.
5. Tingkat aktivitas.
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang
baik untuk fungsi sphincter. Kemampuan tonus otot didapatkan dengan
beraktivitas. Hilangnya tonus otot vesika urinaria dapat menyebabkan
kemampuan pengontrolan berkemih menurun.
6. Tingkat perkembangan.
Tingkat pertumbuhan dan perkembangan juga dapat
mempengaruhi pola berkemih. Hal tersebut dapat ditimbulkan pada
anak, yang lebih memiliki kesulitan untuk mengontrol buang air kecil.
Namun, kemampuan dalam mengontrol buang air kecil meningkat
dengan bertambahnya usia.
7. Kondisi penyakit
Kondisi penyakit dapat mempengaruhi produksi urine, seperti
diabetes melitus.
8. Sosiokultural.
Budaya dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi
urine, seperti adanya kultur masyarakat tertentu yang melarang untuk
buang air kecil di tempat tertentu.
9. Kebiasaan seseorang.
Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di toilet, biasanya
memiliki kesulitan untuk berkemih dengan melalui urineal/pot urine
bila dalam keadaan sakit.
10. Tonus otot.
Tonus otot yang berperan penting dalam membantu proses
berkemih adalah otot kandung kemih, otot abdomen, dan pelvis.
Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi sebagai pengontrolan
pengeluaran urine.


11. Pembedahan.
Pembedahan berefek menurunkan filtrasi glomerulus sebagai
dampak dari pemberian obat anstesi sehingga menyebabkan
penurunan jumlah produksi urine.
12. Pengobatan.
Pemberian tindakan pengobatan dapat berdampak pada
terjadinya peningkatan atau penurunan proses perkemihan. Misalnya
pemberian obat diuretic dapat meningkatkan jumlah urine, sedangkan
obat antikolinergik dan anti hipertensi dapat menyebabkan retensi
uine.
13. Pemeriksaan diagnostik.
Pemeriksaan diagnostik ini juga dapat mempengaruhi kebutuhan
eliminasi urine, khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan
dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti intra venus
pyelogram (IVP). Pemeriksaan ini dapat membatasi jumlah asupan
sehingga mengurangi produksi urine. Selain itu tindakan sisteskopi
dapat menimbulkan edema local pada uretra.
(Hidayat, 2008)
D. MEKANISME ATAU PROSES KERJA
1. Proses Berkemih
Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria
(kandung kemih). Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan
saraf bila urinaria berisi 250 - 450 cc (pada dewasa) dan 200 - 250 cc
(pada anak-anak) (Hidayat, 2008).
Mekanisme berkemih terjadi karena vesika urinaria berisi urine
yang dapat menimbulkan rangsangan pada saraf-saraf di dinding
vesika urinaria. Kemudian rangsangan tersebut diteruskan melali
medulla spinalis ke pusat pengontrol berkemih yang terdapat di
korterks serebral. Selanjutnya otak memberikan impuls/ragsangan
melalui medulla spinalis neuromotoris di daerah sakral, kemudian
terjadi koneksi otot detrusor dan relaksasi otot sphincter internal
(Hidayat, 2008).
Urine dilepaskan dari vesika urinaria tetapi masih tertahan
sphincter eksternal. Jika waktu dan tempat memungkinkan akan
menyebabkan relaksasi sphincter eksternal dan urine kemungkinan
dikeluarkan (berkemih) (Hidayat, 2008 : 64).
2. Ciri-ciri urine yang normal
a. Jumlahnya rata-rata 1-2 liter sehari, tetapi berbeda-beda sesuai
dengan jumlah cairan yang dimasukan. Banyaknya bertambah pula
bila terlampau banyak makan makanan yang mengandung protein,
sehingga tersedia cukup cairan yang melarutkan ureanya.
b. Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, tetapi adakalanya
jonjot lendir tipis tampak terapung di dalamnya.
c. Baunya tajam.
d. Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan PH rata-rata 6.
e. Berat jenis berkisar dari 1,010 sampai 1,025
(Pearce, 2009)
3. Komposisi urine normal:
a. Air (96%)
b. Larutan (4%)
1) Larutan organik : urea, ammonia, kreatin, dan asam urat.
2) Larutan anorganik : natrium (sodium), klorida, kalium
(potassium), sulfat, magnesium, fosfor. Natrium klorida
merupakan garam yang paling banyak.
(Hidayat, 2008)
E. KELUHAN YANG SERING MUNCUL
1. Retensi urine.
Retensi urine merupakan penumpukan urine dalam kandung
kemih akibat ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan
kandung kemih. Hal ini menyebabkan distensia vesika urinaria atau
merupakan keadaan ketika seseorang mengalami pengosongan
kandung kemih yang tidak lengkap. Dalam keadaan distensi vesika
urinaria dapat menampung urine sebanyak 3.000 4.000 ml urine
(Hidayat, 2008)
a. Tanda klinis retensi :
1) Ketidaknyamanan daerah pubis.
2) Distensi vesika urinaria.
3) Ketidaksanggupan untuk berkemih.
4) Sering berkemih saat vesika urinaria berisi sedikit urine (25-
50 ml).
5) Ketidakseimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan
asupannya.
6) Meningkatnya keresahan dan keinginan berkemih.
7) Adanya urine sebanyak 3.000- 4.000 ml dalam kandung
kemih.
2. Inkontinensia urine.
Inkontinensia urine merupakan ketidakmampuan otot sphincter
eksternal sementara atau menetap untuk menetap unttuk mengontrol
ekskresi urine. Secara umum penyebab dari inkontinensia urine
adalah: proses penuaan (aging process), pembesaran kelenjar prostat,
serta penurunan kesadaran, serta penggunaan obat narkotik (Hidayat,
2008).

3. Enuresis.
Enuresis merupakan menahan kemih (mengompol) yang
diakibatkan tidak mampu mengontrol sphincter eksterna. Biasanya
enurisis terjadi pada anak atau orang jompo. Umumnya enurisis terjadi
pada malam hari (Hidayat, 2008).
4. Perubahan pola eliminasi urine.
Perubahan pola eliminasi urine merupakan keadaan seseorang
yang mengalami gangguan pada eliminasi urine karena obstruksi
anatomis, kerusakan motorik, sensorik, dan infeksi saluran kemih.
a. Perubahan pola eliminasi terdiri atas :
1) Frekuensi.
Frekuensi merupakan banyaknya jumlah berkemih
dalam sehari. Peningkatan frekuensi berkemih dikarenakan
meningkatnya jumlah cairan yang masuk. Frekuensi yang
tinggi ttanpa suatu tekanan asupan cairan dapat disebabkan
sistisis. Frekuensi tinggi dapat ditemukan juga pada keadaan
stress/hamil (Hidayat, 2008).
2) Urgensi.
Urgensi adalah perasaan seseorang yang takut
mengalami inkontinensia jika tidak berkemih. Pada umumnya
anak kecil memiliki kemampuan yang buruk dalm
mengontrol sphincter eksternal. Biasanya perasaan ingin
segera berkemih terjadi pada anak karena kurangnya
kemampuan pengontrolan pada sphincter (Hidayat, 2008).
3) Disuria.
Disuria adalah rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih.
Hal ini sering ditemukan pada penyakit infeksi saluran kemih,
trauma, dan striktur uretra (Hidayat, 2008).
4) Poliuria.
Poliuria merupakan produksi urine abnormal dalam
jumlah besar oleh ginjal, tanpa adanya peningkatan asupan
cairan. Biasanya, ditemukan pada penyakit diabetes dan GGK
(Hidayat, 2008).
5) Urinari Supresi.
Urinaria supresi adalah berhentinya produksi urie
secara mendadak. Secara normal, urine diproduksi oleh ginjal
pada kecepatan 60 120 ml/jam secara terus menerus
(Hidayat, 2008).
F. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. IDENTITAS PASIEN
a. Nama
b. Alamat
c. Umur
d. Status
e. Agama
f. Suku bangsa/bangsa
g. Pendidikan
h. Pekerjaan
i. Tempat/tanggal lahir
j. No. CM
k. Diagnose medis
Identitas penangung jawab :
a. Nama
b. Alamat
c. Hubungan dangan pasien
2. RIWAYAT KESEHATAN
a. Keluhan Utama
Yang biasa dirasakan oleh pasien yang mengalami ganguan
eliminasi adalah urinari supresi, poliuria, disuria, inkontinensia
urine, dan retensi urine.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Yang perlu dikaji tanyakan pada pasien: Apakah pasien mengalami
ganguan saat berkemih, penyebabnya apa.
c. Riwayat Penyakit dahulu
Yang perlu di kaji adalah
1) Tanyakan pada pasien apakah ia menderita gagal ginjal
2) Apakah pasien alergi terhadap makanan atau obat antibiotik
d. Riwayat penyakit keluarga :
Penyakit apa yang pernah dialami keluarga yang berhubungan
dengan gangguan elimnasi urine.
e. Riwayat Pekerjaan/ kebiasaan :
1) Situasi tempat kerja dan lingkungannya
2) Kebiasaan dalam pola hidup pasien
3) Kebiasaan merokok
4) Kaji pola makan dan minumnya
f. Genogram
g. Riwayat Kesehatan Lingkungan
Kaji dimana pasien tinggal, apakah ditempat tinggalnya ada
penyakit endemik dan wabah.
3. POLA FUNGSI KESEHATAN
a. Persepsi terhadap kesehatan-manejemen kesehatan
Yang perlu dikaji tanyakan pada pasien, bagaimana ia dan
keluarga dalam menangani kesehatan, misal ketika pasien sakit
apakah yang ia lakukan dan keluarga dalam menangani sakitnya.
Apakah pergi membeli obat atau langsung merujuk ke klinik atau
pusat kesehatan
b. Pola aktifitas dan latihan
Aktifitas dan olahraga apa yang sering dilakukan pasien
ketika sehat.
c. Pola istirahat tidur
Kaji berapa lama pasiern tidur, kualitas tidurnya, apakah ia
terbiasa tidur siang. Dan apakah klien sering mengalmi ganguan
tidur. Apakah pasien mengunakan obat tidur sebelum tidur, benda
dan suasana apa yang bisa membuatnya nyaman tidur (selimut,
bantal dalam keadan gelap).
d. Pola nutrisi metabolik
Kaji pola makan pasien berapa kali ia makan dalam sehari,
seberapa banyak porsinya. Makanan dan minuman apa yang ia
sukai.
e. Pola eliminasi
1) Pola perkemihan
Pertanyaan terkait pola berkemih sifatnya individual.
Ini bergantung pada individu apakah pola berkemihnya
termasuk dalam kategori normal atau apakah ia merasa ada
perubahan pada pola berkemihnya .
2) Frekuensi berkemih
a) 5 kali / hari , tergantung kebiasaan seseorang.
b) 70% miksi pada siang hari, sedangkan sisanya dilakukan
pada malam hari, menjelang dan sesudah bangun tidur.
c) Berkemih dilakukan saat bangun tidur dan sebelum tidur.
3) Volume berkemih
Kaji perubahan volume berkemih untuk mengetahui
adanya ketidakseimbangan cairan dengan membandingkannya
dengan volume berkemih normal.
Asupan dan haluaran cairan:
a) Catat haluaran urine selama 24 jam
b) Kaji kebiasaan minum klien setiap hari
c) Catat asupan cairan peroral, lewat makanan, lewat cairan
infus, atau NGT jika ada
f. Pola kognitif perseptual
Kaji apakah pasien mengalami disorientasi, masalah ingatannya.
g. Pola konsep diri
Kaji mengenai bagaimana pasien memandangi dirinya, posisi
dikeluarganya, harga dirinya.
h. Pola koping
Kaji bagaimana pasien dan keluarga menghadapi masalah dan
mennyikapi masalah itu sendiri.
i. Pola seksual reproduksi
Kaji keadan genital, ganguan pola reproduksi, ganguan saat
berhubungan.
j. Pola peran hubungan
Kaji mengenai bagaimana hubungan pasien dengan keluarga,
pasien yang ada disekitarnya dan masyrakat di tempat tinggalnya.
4. PEMERIKSAN FISIK
a. Data klinik
TTV
KU
b. Data hasil yang mungkin di temukan.
1) Mata,meliputi pemeriksaan
a) Alis mata
b) Kelopak mata
c) Konjugtiva (pucat, sianosis, terdapat pethecia)
d) Scelera
e) Kornea
f) Pupil dan iris
2) Kulit
Sianosi perifer
Hipoksia
Edema
3) Mulut dan bibir
Membrane mukosa
Bernapas dengan mengerutkan bibir
Sianosis
4) Hidung
Pernapasan dengan cuping hidung, deviasi sputum.
5) Vena dan leher
Adanya distensi
6) Dada
a) Inspeksi
Pemeriksaan mulai dada posterior sampai yang lainnya,
pasien harus duduk.
Observasi dada pada sisi kanan atau kiri serta depan
atau belakang.
Dada posterior amati adanya skar, lesi, dan masa serta
gangguan tulang belakang (kifosis, skoliosis, dan
lordosis)
Catat jumlah, irama, kedalaman pernapasan, dan
kesimetrisan pergerakan
Observasi pernapasan seperti pernapasan hidung
Kaji konfigurasi dada.
Kelainan bentuk dada
b) Palpasi
Untuk mengkaji kesimetrisan pergerakan dada dan
mengobservasi abnormalitas, mengidentifikasi keadaan
kulit, dan mengetahui tactil premitus (vibrasi).
c) Perkusi
Mengkaji resonansi pulmoner, organ yang ada di
sekitarnya, dan pengembangan (ekskursi) diafragma. Dua
suara perkusi:
d) Auskultasi
Kaji suara yang terdengar
7) Abdomen
a) Inspeksi
Kaji mengenai bentuk abdomen secara normal, kontur
permukaan abdomen,dan adanya retraksi penonjolan serta
ketidaksimetrisan. Amati gerak kulit abdomen serta saat
inspirasi dan ekpirasi. Kaji pertumbuhan rambut dan
pigmentasi pada kulit.
b) Auskultasi
Kaji suara bising usus (peristaltik) normalnya bersuara
timpany mempunyai ciri nada lebih tinggi dari pada
resonan. Biasanya gerak paristaltik usus meningkat saat
kenyang dan diare, dan menurun saat mengalami gangguan
konstipasi.
c) Palpasi
Untuk mengetahui keadan hepar, ginjal, kaji mengenai
ascites, appendixitis, dan adanya penumpukan cairan.
8) Genetalia
Kaji mengenai adanya hernia, tanda-tanda peradangan,
bengkak, lesi, dan pengeluaran cairan dari organ genetalia.
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah, spasme kandung kemih,
dan retensi urine (00132).
2. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan reseksi pembedahan
dan irigasi kandung kemih (00016)
3. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya kateter dikandung kemih
dan insisi bedah (00004).
4. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
darah berlebihan (00028).
5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang
rutinitas pascaoperasi (00126).
H. INTERVENSI
No.
Dx
Tujuan Intervensi
1. Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24
jam, tingkat nyeri klien
berkurang. Dengan kriteria
hasil:
1. Mampu mengontrol
nyeri (tahu penyebab
nyeri, mampu
menggunakan teknik
non farmakologi untuk
mengurangi nyeri,
seperti distraksi, dapat
mencari bantuan
ketika nyeri mulai
terasa)
2. Melaporkan bahwa
nyeri berkurang
dengan menggunakan
manajemen nyeri
(distraksi, guide
imagery)
3. Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang dari skala 8
menjadi skala 3
Pain management (1400)
1. Lakukan pengkajian nyeri
2. Observasi reaksi non verbal
dari ketidaknyamanan
3. Gunakan teknik komunikasi
terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien
4. Kaji kultur yang
mempengaruhi respon nyeri
5. Evaluasi pengalaman nyeri
masa lampau
6. Bantu pasien untuk mencari
dan menemukan dukungan
7. Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri
Ajarkan tentang teknik non
farmakologi (distraksi, guide
imagery)
Kolaborasi:
1. kolaborasi dengan pemberian
obat penghilang rasa nyeri
sesuai indikasi.
2. Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24
jam, gangguan eliminasi
urine klien berkurang.
Dengan kriteria hasil:
1. keteter berada pada
posisi yang tetap dan
tidak ada sumbatan.

Urinary Catheterization (0580)
1. Kaji posisi kateter.
2. Kaji warna, karakter dan aliran
urine serta adanya bekuan
melalui kateter tiap 2 jam.
3. Catat jumlah irigan dan
haluaran urine.
4. Kaji kandung kemih terhadap
retensi.
5. Kaji dengan sering lubang
aliran keluar urine.
6. Masukkan larutan irigasi
melalui lubang terkecil dari
kateter.
3. Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24
jam, risiko infeksi dapat
diatasi dengan kriteria
hasil:
a. Terbebas dari tanda
atau gejala infeksi
b. Menunjukan hygiene
pribadi yang adekuat
c. Suhu dalam rentang
normal.
d. Urine jernih, warna
kuning, tanpa bau.
e. Tidak terjadi distensi
kandung kemih.

I nfection protection (6550)
a. Pantau tanda dan gejala infeksi
b. Pantau bagian yang mudah
terkena infeksi
c. Lihat kulit dan membran mukosa
yang kemerahan
d. Ajarkan pasien dan keluarga
bagaimana mencegah infeksi

I nfection control (6540)
a. Bersihkan lingkungan secara
tepat setelah pasien
menggunakannya
b. Batasi jumlah pengunjung, jika
dibutuhkan
c. Ajarkan cuci tangan bersih untuk
menjaga kesehatan personal
higiene
d. Ganti peralatan keperawatan
setiap prosedur selesai
e. Instruksikan kepada pengunjung
untuk mencuci tangan sebelum
dan sesudah mengunjungi klien

Collaboration:
a. Berikan klien antibiotik
4. Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x 24
jam kebutuhan cairan klien
dapat terpenuhi. Dengan
kriteria hasil:
1. TTV klien normal
- TD: 110/70 mmHg
- Nadi: 80 kali/menit
- RR: 24 klai/menit
- Suhu: 37
o
C)
2. Mukosa bibir klien
lebih lembab dan
kemerahan
3. Kulit klien tidak
kering/lembab
4. Intake dan output
seimbang (intake :
2000cc, output:1800
cc)
Monitoring Cairan ( 4130)
1. Memantau intake dan output
klien
2. Memantau TTV:
a. Tekanan darah
b. Denyut nadi
c. RR
d. Suhu tubuh
3. Memantau membran mukosa,
turgor kulit dan rasa haus yang
dirasakan oleh klien

Menejemen Cairan (4120)
1. Mempertahankan intake dan
output yang akurat
2. Memantau status dehidrasi
3. Menganjurkan untuk minum
peroral sesuai kemampuan klien
4. Ajarkan klien untuk membuat
daftar intake cairan dalam
sehari
Bleeding Precautions (4010)
1. Pantau tanda dan gejala
hemorragi.
2. Pantau uretra dan suprapubis
terhadap pendarahan yang
berlebihan.
3. Pertahankan traksi pada
kateter bila diprogramkan.
4. Pantau Hb dan Ht.
5. Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2x24
jam defisit pengetahuan
dapat efektif dengan
kriteria hasil:
a. Klien mengerti tentang
rutinitas pascaoperasi,
gejala yang harus
dilaporkan kedokter
dan perawatan
dirumah, serta instruksi
evaluasi dan dapat
mendemostrasikan
b. Menunjukan
kemampuan untuk
mengetahui cara
pembersihan perineum
dan perawatan luka
insisi
c. Pelaksanaan aktivitas
pemantauan diri

Health Education (5510)
a. Menentukan pengetahuan
kesehatan yang diketaui klien
sekarang dan kebiasaan gaya
hidup yang individual dan
keluarga
b. Bantu klien dan keluarga dalam
mengklarifikasi pengetahuan
yang benar tentang kesehatan
c. Mengidentifikasi faktor internal
dan eksternal yang
memungkinkan membuat
motivasi klien semakin tinggi
atau menurun dalam kebiasaan
kesehatan
d. Pertahankan dalam pendidikan
kesehatan fokus dan singkat,
tetap pada topik utama
Health care information exchange
(7960)
a. Gambarkan riwayat kesehatan
terdahulu yang berhubungan
dengan klien
b. Gambarkan peran keluarga
dalam perawatan yang
berkelanjutan
c. Identifikasi kemampuan klien
dan keluarga dalam tindakan
keperawatan setelah keluar dari
rumah sakit
Meminta informasi dari tenaga
kesehatan lain tentang masalah
yang dihadapi klien




























DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A.Aziz, dkk. 2005. Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia.
Jakarta : EGC
Hidayat, A.Aziz, dkk. 2008. Ketrampilan Dasar Praktek Klinik Untuk Kebidanan
Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika
Baradero, M. 2008. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Ginjal. Jakarta :
EGC
Pearce, E.C. 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta : PT
Gramedia
Potter, P.A dan Perry. A.G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses, dan Praktik. Edisi 4. Jakarta : EGC























LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN ELIMINASI URINE
RSUD KABUPATEN BATANG




OLEH:
NINDA MARINA
22020111130074




PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2013