Anda di halaman 1dari 102

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pokok Pokok Kepegawaian 1

DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR ISI



I. Pokok Pokok Kepegawaian ................................................................. 3
II. Keanggotaan PNS Sebagai Anggota Korpri ........................................... 8
III. Sistem Pembinaan Pegawai Negeri Sipil ............................................... 11
IV. Mutasi Kepegawaian .......................................................................... 14
V. Formasi Pegawai Negeri Sipil .............................................................. 15
VI. Analisis Jabatan ................................................................................. 23
VII. Analisis Beban Kerja ........................................................................... 31
VIII. Konversi NIP ..................................................................................... 38
IX. Kartu PNS Elektronik (KPE) ................................................................ 43
X. Dokumen Tata Naskah Kepegawaian ................................................. 46
XI. Buku Penjagaan Administrasi Kepegawaian ........................................ 50
XII. Pengadaan Pegawai Negeri Sipil.......................................................... 51
XIII. Pengangkatan menjadi CPNS ............................................................. 56
XIV. Pengangkatan CPNS Menjadi PNS ...................................................... 59
XV. Mutasi Antar Daerah/Pindah Wilayah Kerja (PWK) ............................. 62
XVI. Pendidikan dan Pelatihan Pegawai ..................................................... 63
XVII. Administrasi Belajar ........................................................................... 67
XVIII. Ujian Dinas ....................................................................................... 72
XIX. Ujian Kenaikan Pangkat Penyesuaian Ijazah ........................................ 75
XX. Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam Jabatan Struktural ............... 78
XXI. Komisi Kepegawaian Negara dan BAPERJAKAT .................................. 84
XXII. Tunjangan Jabatan ............................................................................ 86
XXIII. Pemberhentian dari dan Pengaktifan Kembali dalam Jabatan Organik . 87
XXIV. Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam Jabatan Fungsional ............. 89
XXV. Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS ................................................. 97
XXVI. Penilaian Kinerja PNS ........................................................................ 111
XXVII. Penghargaan dan Tanda Jasa Satya Lancana Karya Satya .................... 117
XXVIII. Kenaikan Pangkat PNS ...................................................................... 119
XXIX. Peninjauan Masa Kerja (PMK) ........................................................... 129
XXX. Kenaikan Gaji Berkala (KGB) ............................................................ 133
XXXI. Penggajian PNS ................................................................................ 135
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pokok Pokok Kepegawaian 2

XXXII. Surat Keterangan Penghentian Pembayaran (SKPP) ............................ 142
XXXIII. Kesejahteraan Pegawai ..................................................................... 143
XXXIV. BAPERTARUM / TAPERUM PNS ...................................................... 145
XXXV. KARIS / KARSU PNS ......................................................................... 150
XXXVI. Kartu Pegawai (KARPEG) .................................................................. 152
XXXVII. Kartu TASPEN .................................................................................. 153
XXXVIII. Asuransi Kesehatan (ASKES) .............................................................. 154
XXXIX. Cuti Pegawai Negeri Sipil .................................................................. 157
XL. Disiplin Pegawai Negeri Sipil ............................................................. 162
XLI. Ijin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS ........................................... 175
XLII. Uji Kesehatan ................................................................................... 179
XLIII. Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil ................................................. 181
XLIV. Pensiun Pegawai Negeri Sipil ............................................................ 187
XLV. Tabungan Hari Tua dan Dana Pensiun .............................................. 195
XLVI. Audit kepegawaian.......................................................................... 202
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pokok Pokok Kepegawaian 3

I. POKOK POKOK KEPEGAWAIAN
A. UMUM
Pegawai Negeri sebagai unsur aparatur negara dan abdi masyarakat, mempunyai
peran yang amat penting dalam rangka menciptakan masyarakat madani yang taat
hukum, berperadaban modern, demokratis, makmur, adil, dan bermoral tinggi yang
menyelenggarakan pelayanan secara adil dan merata, menjaga persatuan dan
kesatuan bangsa dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila dan Undang Undang
Dasar Tahun 1945. Kesemuanya itu dalam rangka mencapai tujuan yang dicita-
citakan oleh bangsa Indonesia.
Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut diperlukan Pegawai Negeri Sipil yang
berkemampuan melaksanakan tugas secara profesional dan bertanggung jawab
dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dan pembangunan, serta bersih dan
bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
B. PENGERTIAN PEGAWAI NEGERI
1) Menurut UU Nomor 8 Tahun 1974 jo UU Nomor 43 tahun 1999 tentang
Pokok-Pokok Kepegawaian dijelaskan pengertian Pegawai Negeri Sipil adalah
setiap warga negara Republik Indonesia yang telah memenuhi syarat yang
ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam
suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2) Pegawai Negeri Sipil adalah mereka yang :
a. Bekerja pada Departemen, Lembaga Pemerintah Non Departemen
(LPND), Sekretariat Lembaga Negara, instansi vertikal di Daerah
Provinsi/Kabupaten/ Kota, Kepaniteraan Pengadilan, instansi TNI dan
Kepolisian;
b. Bekerja pada Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota;
c. Diperbantukan atau dipekerjakan pada Daerah Otonom dan organisasi
yang menyelenggarakan pelayanan publik lainnya;
d. Menyelenggarakan tugas negara lainnya, seperti hakim pada Pengadilan
Negeri, Pengadilan Tinggi dan lain sebagainya;
e. Gajinya dibebankan pada APBN atau APBD.
3) Pejabat yang berwenang adalah pejabat yang mempunyai kewenangan
mengangkat, memindahkan dan memberhentikan Pegawai Negeri
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
4) Pejabat yang berwajib adalah pejabat yang karena jabatan atau tugasnya
berwenang melakukan tindakan hukum berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pokok Pokok Kepegawaian 4

5) Pejabat Negara adalah pimpinan dan anggota lembaga tinggi negara
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Pejabat
Negara lainnya yang ditentukan oleh Undang-Undang. Pejabat Negara terdiri
atas:
a. Presiden dan Wakil Presiden;
b. Ketua, Wakil Ketua dan Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Ketua, Wakil Ketua dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat;
d. Ketua, Wakil Ketua, Ketua Muda dan Hakim Agung pada Mahkamah
Agung, serta Ketua, Wakil Ketua dan Hakim pada semua Badan
Peradilan;
e. Ketua, Wakil Ketua dan Anggota Dewan Pertimbangan Agung;
f. Ketua, Wakil Ketua dan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan;
g. Menteri dan jabatan yang setingkat Menteri;
h. Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan
sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh,
i. Gubernur dan Wakil Gubernur;
j. Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Wakil Walikota; dan
k. Pejabat Negara lainnya yang ditentukan oleh undang-undang.
6) Jabatan Negeri adalah jabatan dalam bidang eksekutif yang ditetapkan
berdasarkan peraturan perundang-undangan, termasuk didalamnya jabatan
dalam kesekretariatan lembaga tertinggi atau tinggi negara dan kepaniteraan
pengadilan.
7) Jabatan Karier adalah jabatan struktural dan fungsional yang hanya diduduki
Pegawai Negeri Sipil setelah memenuhi syarat yang ditentukan.
8) Jabatan Organik adalah jabatan negeri yang menjadi tugas pokok pada suatu
organisasi pemerintah.
9) Manajemen PNS adalah keseluruhan upaya-upaya untuk meningkatkan
efisiensi, efektivitas dan derajat profesionalisme penyelenggaraan tugas, fungsi
dan kewajiban kepegawaian, yang meliputi perencanaan, pengadaan,
pengembangan kualitas, penempatan, promosi, penggajian, kesejahteraan
dan pemberhentian.
10) Urutan Pejabat Negara tersebut tidak berarti menunjukkan tingkatan
kedudukan dari pejabat tersebut. Pegawai Negeri yang diangkat menjadi
Pejabat Negara diberhentikan dari jabatan organiknya selama menjadi
Pejabat Negara tertentu tidak kehilangan statusnya sebagai Pegawai Negeri
C. JENIS PEGAWAI NEGERI
Sebagaimana dinyatakan dalam Undang Undang No. 8 tahun 1974 jo Undang
Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian dinyatakan
bahwa Pegawai Negeri Sipil terdiri dari : (1) Pegawai Negeri Sipil (PNS); (2) Anggota
Tentara Nasional Indonesia (TNI); dan (3) Anggota Kepolisian Negara Republik
Indonesia (POLRI).
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pokok Pokok Kepegawaian 5

Pegawai Negeri Sipil (PNS) sendiri terdiri dari : (1) Pegawai Negeri Sipil Pusat; dan
(2) Pegawai Negeri Sipil Daerah.
Pegawai Negeri Sipil Pusat adalah Pegawai Negeri yang gajinya dibebankan kepada
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan bekerja pada Departemen,
Lembaga Pemerintah Non Departemen, Kesekretariatan Lembaga Tinggi Negara,
Instansi Vertikal di Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota, Kepaniteraan Pengadilan, atau
bekerja menyelenggarakan tugas negara lainnya.
Pegawai Negeri Sipil Daerah adalah Pegawai Negeri yang bekerja di Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota yang gajinya dibebankan kepada Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD) dan bekerja pada instansi Pemerintah Daerah, atau
dipekerjakan diluar instansi induknya.
Pegawai Negeri Sipil Pusat dan Pegawai Negeri Sipil Daerah dapat diperbantukan di
luar instansi induk, dan gajinya dibebankan pada instansi yang menerima
perbantuan.
D. KEDUDUKAN DAN NETRALITAS PNS
PNS berkedudukan sebagai unsur aparatur negara yang bertugas untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat secara profesional, jujur, adil dan merata dalam
penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan dan pembangunan (UU Nomor 43
tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian). Dalam rangka mewujudkan
profesionalitas PNS sebagai unsur aparatur negara, maka netralitas PNS harus dijaga
dari pengaruh semua golongan dan partai politik serta tidak diskriminatif dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Untuk menjamin netralitas PNS maka PNS dilarang menjadi anggota dan/atau
pengurus partai politik. Hal ini secara tegas diatur dalam PP Nomor 5 Tahun 1999 jo
PP Nomor 12 Tahun 1999 tentang PNS yang menjadi anggota Partai Politik. Dalam
menjalankan tugas, wewenang dan tanggung jawabnya sebagai aparatur negara dan
pelayan publik, PNS harus memiliki kebebasan dari pengaruh-pengaruh eksternal
(seperti pengaruh dari partai politik tertentu). Ketiadaan pengaruh eksternal ini
dimaksudkan agar PNS dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya secara
lebih demokratis sehingga hasil pelaksanaan pekerjaannya tidak hanya
menguntungkan salah satu pihak tertentu saja. Hal ini juga dimaksudkan untuk lebih
memperjelas garis akuntabilitas PNS.
Agar terbebas dari pengaruh eksternal tersebut, secara fungsional dan organisasional
PNS harus dijamin hak-hak politiknya, misalnya dalam menentukan pilihan partai
politik dalam pemilihan umum. Namun, perlu dibatasi jika yang bersangkutan ikut
aktif dalam kepengurusan suatu partai politik baik langsung maupun tidak langsung.
Kenetralan (netralitas) PNS merupakan karakter dan bentuk pelayanan yang
diberikan oleh PNS kepada pejabat politik manapun, baik dari partai yang berkuasa
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pokok Pokok Kepegawaian 6

maupun dari partai yang tidak berkuasa. Keberadaan PNS yang netral idealnya tidak
akan mengurangi kualitas dari pelayanan yang diberikan kepada semua pejabat
politik baik dari politik yang memerintah maupun yang kalah.
Mengenai keanggotaan PNS dalam suatu partai politik telah diatur secara tegas
dalam PP Nomor 5 Tahun 1959 jo PP Nomor 12 Tahun 1999 tentang Perubahan
atas PP Nomor 5 Tahun 1999 tentang PNS yang menjadi Anggota Partai Politik.
Adapun inti dari materi dalam PP tersebut adalah:
1) Sebagai aparatur negara, abdi negara, dan abdi masyarakat dalam
menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan, maka PNS harus
bersikap netral dan menghindari penggunaan fasilitas negara untuk golongan
tertentu. Selain itu juga dituntut tidak diskriminatif khususnya dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat;
2) PNS yang telah menjadi anggota atau pengurus parpol pada saat PP ini
ditetapkan dianggap telah melepaskan keanggotaan dan/atau
kepengurusannya (hapus secara otomatis);
3) PNS yang tidak melaporkan keanggotaan dan/atau kepengurusannya dalam
partai politik, diberhentikan tidak dengan hormat sebagai PNS;
4) PNS yang ingin menjadi anggota atau pengurus harus mengajukan
permohonan kepada atasan langsungnya.
5) PNS yang mengajukan permohonan sebagai anggota dan/atau pengurus
partai politik diberikan uang tunggu selama satu tahun. Dalam satu tahun
apabila tetap ingin menjadi anggota atau pengurus partai politik, maka yang
bersangkutan diberhentikan dengan hormat dan mendapat hak pensiun bagi
yang telah mencapai Batas Usia Pensiun (BUP).
E. KEWAJIBAN DAN HAK PNS
1. KEWAJIBAN
Setiap Pegawai Negeri Sipil wajib setia dan taat sepenuhnya kepada:
1) Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah Indonesia;
2) Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
3) Mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh
pengabdian, kesadaran dan tanggungjawab;
4) Menyimpan rahasia jabatan (Pasal 6 UU Nomor 8 Tahun 1974);
5) Mengucapkan Sumpah/Janji (Pasal 26 UU Nomor 43 Tahun 1999);
6) Mentaati kewajiban dan menjauhkan diri dari larangan sebagaimana
ditetapkan dalam Peraturan Disiplin PNS dan peraturan pelaksanaannya.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pokok Pokok Kepegawaian 7

2. HAK
Agar dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik dan akuntabel,
maka setiap PNS diberikan hak sebagai berikut:
1) Memperoleh gaji yang adil dan layak sesuai dengan beban pekerjaan dan
tanggung jawabnya (pasal 7 ayat (1) UU No. 43 Tahun 1999 atau pasal 7 UU
No. 8 Tahun 1974);
2) Memperoleh cuti (pasal 8 UU No. 8 Tahun 1974). Cuti PNS sebagaimana
diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1976, terdiri dari :
a. cuti tahunan;
b. cuti besar;
c. cutu sakit;
d. cuti bersalin;
e. cuti karena alasan penting;
f. cuti di luar tanggungan negara.
Yang dimaksud dengan cuti Pegawai Negeri Sipil adalah keadaan tidak masuk
kerja yang diizinkan dalam jangka waktu tertentu dan dikeluarkan/diberikan
oleh pejabat yang berwenang seperti Pimpinan Lembaga Tertinggi/Negara,
Menteri, Jaksa Agung, Kepala Lembaga Pemerintahan Non-Departemen,
Pimpinan Sekretariat Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara dan pejabat lain yang
ditentukan oleh Presiden.
3) Memperoleh perawatan bagi yang tertimpa kecelakaan dalam dan karena
menjalankan tugas kewajiban (Pasal 9 UU Nomor 8 Tahun 1974);
4) Memperoleh tunjangan bagi yang menderita cacat jasmani dan rohani dalam
dan karena menjalankan tugas kewajibannya yang mengakibatkan tidak
dapat bekerja lagi dalam jabatan apapun juga;
5) Memperoleh uang duka bagi keluarga PNS yang tewas (Pasal 9 UU Nomor 8
Tahun 1974);
6) Memperoleh pensiun bagi yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan;
7) Menjadi peserta TASPEN, berdasarkan PP Nomor 10 Tahun 1963;
8) Menjadi peserta ASKES, berdasarkan Keputusan Presiden Tahun 1977;
9) Menjadi peserta TAPERUM, berdasarkan KEPRES Nomor 64 Tahun 1994.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Keanggotaan PNS Sebagai Anggota Korpri 8

II. KEANGGOTAAN PNS SEBAGAI ANGGOTA KORPRI
Pegawai Republik Indonesia sudah ada sejak kemerdekaan Indonesia
diproklamirkan, secara resmi dinyatakan bahwa semua bekas pegawai pemerintah
tentara pendudukan Jepang dijadikan pegawai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Untuk menghimpun dan membina seluruh Pegawai Republik Indonesia tersebut
khususnya di luar kedinasan, pemerintah membentuk satu-satunya wadah yaitu
KORPRI. Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) dibentuk dengan Keputusan
Presiden Nomor 82 Tahun 1971, tanggal 29 Nopember 1971. Tujuannya adalah
untuk lebih meningkatkan pengabdian Pegawai Negeri Sipil dalam mengisi
kemerdekaan dan pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan.
Langkah berikutnya dalam rangka menyatukan gerak langkah PNS agar tidak
terpecah belah adalah dengan ditetapkannya PP Nomor 20 Tahun 1976 tentang
Keanggotaan PNS dalam Partai Politik dan Golongan Karya. Dalam penjelasan
umum PP tersebut dinyatakan bahwa PNS bukan saja unsur aparatur negara, tetapi
juga sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, yang hidup di tengah-tengah
masyarakat dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Oleh sebab itu dalam
melaksanakan pembinaan, PNS bukan saja dilihat dan diperlakukan sebagai aparatur
negara tetapi juga harus dilihat dan diperlakukan sebagai warga negara.
Dengan demikian maka kesetiaan dan ketaatan PNS sepenuhnya berada di bawah
pimpinan pemerintah, agar terjamin kesatuan pimpinan dan garis pimpinan yang
jelas dan tegas. Oleh karena itu keanggotaan PNS dalam Partai Politik tidak boleh
mengurangi kesetiaan dan ketaatan penuh PNS yang bersangkutan kepada Pancasila,
UUD tahun 1945, Negara, dan Pemerintahan, serta tidak boleh mengganggu
kelancaran pelaksanaan tugasnya.
Pada MUNAS Pertama KORPRI yang diselenggarakan pada tahun 1978 melahirkan
doktrin KORPRI yang disebut BHINNEKA KARYA ABDI NEGARA yang artinya
walaupun anggota KORPRI melaksanakan berbagai bidang dengan jenis karya yang
beraneka ragam tetapi tetap dalam rangka pelaksanaan pengabdian kepada bangsa,
negara dan masyarakat Indonesia.
Memperhatikan kenyataan selama Orde Baru, di mana KORPRI digunakan sebagai
kendaraan politik, maka dalam Munas KORPRI terakhir yang dilaksanakan bulan
Februari 1999 telah terjadi perubahan orientasi KORPRI. Hal ini tampak dalam
perubahan Anggaran Dasar yang telah ditetapkan melalui Keputusan Musyawarah
Nasional ke-5 KORPRI Nomor Kep-03/Munas/1999 tentang Perubahan AD/ART
KORPRI yang ditegaskan kembali dalam Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2000
tentang Pengesahan Perubahan Anggaran Dasar KORPRI sebagai pengganti Keppres
sebelumnya sebagaimana terdapat dalam Kepres Nomor 63 Tahun 1994 tentang
Pengesahan Anggaran Dasar KORPRI. Perubahan mendasar dalam AD/ART KORPRI
adalah dalam hal fungsi dan tujuan KORPRI.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Keanggotaan PNS Sebagai Anggota Korpri 9

A. FUNGSI KORPRI
Dalam pasal 6 dinyatakan, bahwa fungsi KORPRI adalah sebagai berikut:
1) Pelopor dalam meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme anggota;
2) Melindungi dan mengayomi para anggota;
3) Penyalur kepentingan para anggotanya;
4) Pendorong dalam meningkatkan taraf hidup sosial ekonomi masyarakat dan
lingkungannya;
5) Pelopor dalam menyukseskan program pembangunan nasional;
6) Mitra kerja yang aktif sebagai organisasi pekerja dalam proses pengambilan
keputusan dan kebijakan instansi yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
B. TUJUAN KORPRI
Berdasarkan fungsi di atas, yang menjadi tujuan dibentuknya KORPRI adalah:
1) Mewujudkan pelaksanaan peraturan perundang-undangan Pegawai RI serta
menjamin perlindungan hak-hak Pegawai RI guna mencapai ketenangan dan
kelangsungan kerja usaha untuk meningkatkan taraf hidup, kecerdasan, dan
kesejahteraan Pegawai RI beserta keluarganya;
2) Menghimpun dan menyatukan Pegawai RI untuk mewujudkan rasa setia
kawan dan tali persaudaraan antara sesama pegawai RI.
C. USAHA-USAHA KORPRI
Dalam rangka mencapai tujuan, KORPRI melakukan usaha-usaha sebagai berikut:
1) Meningkatkan peran serta anggota KORPRI dalam pembangunan nasional
untuk mewujudkan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945;
2) Memperjuangkan terciptanya dan terlaksananya peraturan perundangan
untuk mewujudkan kesejahteraan dan perlindungan hak-hak Pegawai
Republik Indonesia pada umumnya dan anggota KORPRI pada khususnya;
3) Mengadakan upaya-upaya untuk mempertinggi mutu pengetahuan,
keterampilan bidang pekerjaan dan atau profesi serta kemampuan organisasi;
4) Bekerjasama dengan badan pemerintah dan swasta serta organisasi-organisasi
lain didalam dan di luar negeri untuk melaksanakan usaha-usaha yang tidak
bertentangan dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga;
5) Memperjuangkan anggota untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam
mengembangkan karir sesuai dengan kemampuan masing-masing;
6) Membina korps dalam mewujudkan kesatuan pola pikir, ucapan, dan
tindakan, serta pengembangan mental dan rohani yang baik.
Keanggotaan KORPRI adalah mencakup seluruh Pegawai Republik Indonesia sesuai
dengan bidang tugas masing-masing.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Keanggotaan PNS Sebagai Anggota Korpri 10

D. SUSUNAN ANGGOTA KORPRI
Susunan organisasi KORPRI secara vertikal adalah sebagai berikut:
1) Tingkat nasional meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia yang dipimpin
oleh Dewan Pengurus Pusat untuk kemudian disingkat DPP KORPRI;
2) Tingkat provinsi dipimpin oleh Dewan Pengurus Daerah atau DPD KORPRI;
3) Tingkat Kabupaten dipimpin oleh Dewan Pengurus Cabang atau DPC
KORPRI;
4) Tingkat Kecamatan dipimpin oleh Dewan Pengurus Anak Cabang atau DPAC;
5) Tingkat desa/kelurahan dipimpin oleh pengurus ranting.
E. PANCA PRASETYA KORPRI
"Kami anggota KORPS Pegawai Republik Indonesia, adalah insan yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjanji:
1) Setia dan taat kepada Negara Kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia,
yang berdasarkan Panca sila dan Undang-Undang Dasar 1945;
2) Menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara serta memegang teguh
rahasia jabatan dan rahasia negara;
3) Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan
pribadi dan golongan;
4) Memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta kesetiakawanan KORPS
Pegawai Republik Indonesia;
5) Menegakkan kejujuran, keadilan dan disiplin serta meningkatkan
kesejahteraan dan profesionalisme.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Sistem Pembinaan Pegawai Negeri Sipil 11

III. SISTEM PEMBINAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL
Untuk menjamin penyelengaraan tugas pemerintahan dan pembangunan secara
berdayaguna dan berhasilguna, serta untuk mewujudkan PNS yang profesional,
bertanggungjawab, jujur dan adil.
Manajemen pembinaan dilakukan berdasarkan sistem prestasi kerja dan sistem karier
yang dititikberatkan pada sistem prestasi kerja.
Dalam rangka untuk meningkatkan mutu dan keterampilan serta untuk memupuk
kegairahan kerja, kebijaksanaan manajemen Pegawai Negeri Sipil yang dilaksanakan
mencakup penetapan norma, standar, prosedur, formasi, pengangkatan,
pengembangan kualitas sumberdaya PNS, pemindahan, gaji, tunjangan
kesejahteraan, pemberhentian, hak, kewajiban dan kedudukan hukum.
Untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan kebijaksanaan manajemen Pegawai
Negeri Sipil, Badan Kepegawaian Negara (BKN) bertugas dan bertanggungjawab
terhadap kelancaran penyelenggaraan pembinaan Pegawai Negeri Sipil yang
mencakup perencanaan, pengembangan kualitas sumber daya Pegawai Negeri Sipil
dan administrasi kepegawaian, pengawasan dan pengendalian, penyelenggaraan dan
pemeliharaan informasi kepegawaian, mendukung perumusan kebijaksanaan
kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil serta memberikan bimbingan teknis kepada unit
organisasi yang menangani kepegawaian pada Instansi Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah.
A. SISTEM PEMBINAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL.
Pembinaan PNS adalah setiap upaya yang dilakukan oleh instansi terhadap seluruh
pegawai, baik yang memangku jabatan struktural maupun fungsional agar dapat
melaksanakan tugasnya sesuai dengan harapan instansi.
Pembinaan PNS dilaksanakan secara menyeluruh, yaitu pengaturan pembinaan yang
berlaku bagi semua PNS Pusat maupun Daerah, untuk menjamin terwujudnya
keserasian pembinaan dalam rangka meningkatkan dayaguna dan hasilguna yang
sebesar-besarnya.
Sistem pembinaan karier bagi Pegawai Negeri Sipil digolongkan dalam 2 (dua)
kategori, yaitu pembinaan karir terbuka dan pembinaan karir tertutup selain itu juga
dikenal sistem pembinaan berdasarkan prestasi kerja.
1. Sistem Karir Terbuka
Suatu sistem kepegawaian dimana untuk menduduki suatu jabatan yang lowong
dalam suatu unit organisasi, berlaku untuk setiap warga negara yang memiliki
kecakapan, keahlian dan pengalaman yang diperlukan untuk jabatan itu.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Sistem Pembinaan Pegawai Negeri Sipil 12

2. Sistem Karir Tertutup
Suatu sistem kepegawaian dimana suatu jabatan yang lowong dalam suatu unit
organisasi, hanya dapat diduduki oleh pegawai yang ada dalam organisasi itu tidak
boleh diduduki oleh orang dari luar organisasi.
Sistem karier tertutup dibagi dalam dua arti, yaitu:
1) Sistem karier tertutup dalam arti Departemen/Lembaga/Provinsi/Kabupaten/
Kota Artinya jabatan yang lowong hanya dapat diduduki oleh pegawai dari
Departemen/Lembaga/Provinsi/Kabupaten/Kota setempat, dan tidak boleh
diisi oleh pegawai di luar Departemen/Lembaga/Provinsi/Kabupaten/Kota
lain.
2) Sistem karier tertutup dalam arti Negara. Artinya jabatan-jabatan yang ada
dalam organisasi pemerintah hanya dapat diduduki oleh pegawai yang ada
dalam organisasi pemerintah saja. Dalam sistem karier tertutup dalam arti
negara, setiap PNS dimungkinkan untuk pindah dari Departemen/Lembaga/
Provinsi/Kabupaten/Kota yang satu ke Departemen/ Lembaga/Provinsi/
Kabupaten/Kota yang lain atau sebaliknya, terutama untuk menduduki
jabatan yang bersifat manajerial.
3. Sistem Prestasi kerja
Suatu sistem kepegawaian dimana untuk pengangkatan seseorang Pegawai Negeri
Sipil dalam suatu jabatan bukan saja didasarkan atas kecakapan, keahlian,
pengalamannya tetapi lebih didasarkan pada prestasi kerja yang harus dapat
dibuktikan secara nyata.
Sesuai dengan ketentuan pasal 12 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999,
pembinaan Pegawai Negeri Sipil dilaksanakan perpaduan antara sistem prestasi kerja
dan sistem karier yang dititikberatkan pada sistem prestasi kerja.
B. INSTANSI YANG TERKAIT DALAM PEMBINAAN PNS
Instansi yang secara fungsional terkait dalam Pembinaan Pegawai Negeri Sipil
adalah:
1) Presiden Republik Indonesia, sebagai Kepala Pemerintahan memegang
kebijaksanaan pembinaan Pegawai Negeri Sipil secara menyeluruh;
2) Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi membantu
Presiden dalam penetapan kebijaksanaan pendayagunaan aparatur negara;
3) Badan Kepegawaian Negara, bertugas menyelenggarakan dan
bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan manajemen pembinaan PNS;
4) Lembaga Administrasi Negara, bertanggungjawab dalam penyelenggaraan
pendidikan dan pelatihan Pegawai Negeri Sipil;
5) Departemen Keuangan, bertanggungjawab dalam pengelolaan anggaran
belanja Pegawai Negeri Sipil;
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Sistem Pembinaan Pegawai Negeri Sipil 13

6) Departemen Kesehatan bertanggung jawab dalam penyelenggaaraan
pemeliharaan kesehatan Pegawai Negeri Sipil;
7) Badan Pertimbangan Kepegawaian, yang dibentuk dengan Keputusan
Presiden Nomor 67 Tahun 1980 bertugas:
a. Memeriksa dan mengambil keputusan mengenai keberatan yang
diajukan oleh Pegawai Negeri Sipil golongan ruang IV/a ke bawah yang
dijatuhi hukuman disiplin pemberhentian dengan hormat tidak atas
permintaan sendiri sebagai PNS dan pemberhentian dengan tidak
hormat sebagai PNS.
b. Memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai usul penjatuhan
hukuman disiplin pemberhentian dgn hormat tidak atas permintaan
sendiri sebagai PNS dan pemberhentian tidak dengan hormat sebagai
PNS untuk gol/ruang IV/b ke atas serta pembebasan dari jabatan
struktural eselon I.
8) Perusahaan Umum (PERUM) Husada Bhakti bertugas menyelenggarakan
pemeliharaan kesehatan PNS dan penerima pensiun beserta anggota
keluarganya sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1984 jo
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1984.
9) Persero Tabungan Asuransi Pegawai Negeri SipiI (TASPEN),
menyelenggarakan asuransi sosial PNS termasuk dana pensiun dan tabungan
hari tua.
10) Tabungan Pemilikan Rumah (TAPERUM).
11) Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) sebagai satu-satunya wadah
pembinaan Pegawai Negeri Sipil di luar kedinasan.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Mutasi Kepegawaian 14

IV. MUTASI KEPEGAWAIAN
A. PENGERTIAN
Mutasi kepegawaian adalah segala perubahan mengenai seseorang PNS, seperti
pengangkatan, pemindahan, pemberhentian, pemensiunan, perubahan susunan
keluarga dan lain-lain.
B. RUANG LINGKUP MUTASI KEPEGAWAIAN
Ruang Lingkup Mutasi Kepegawaian meliputi:
1) Mutasi Pegawai Baru
2) Mutasi CPNS : Pengangkatan CPNS
3) Mutasi PNS : a. Pengangkatan PNS
b. Berita Acara Pengambilan Sumpah/Janji PNS
c. Karpeg (Kartu Pegawai)
4) Mutasi Diklat :
a. Diklat Prajabatan
b. Diklat dalam jabatan : Diklatpim, Diklat Fungsional, Diklat Teknis
5) Mutasi Pendidikan : a. Peningkatan Pendidikan
b. Tugas Belajar
6) Mutasi Jabatan
a. Pengangkatan dalam jabatan
b. Pembebasan dari Jabatan Organik
7) Mutasi Keluarga : Karis/Karsu/Anak/Perkawinan/Perceraian
8) Mutasi Penghargaan
9) Mutasi Hukuman Disiplin
10) Mutasi Pindah Wilayah Kerja
11) Mutasi Pindah Instansi
12) Mutasi Peninjauan Masa Kerja
13) Mutasi Kenaikan Pangkat
14) Mutasi Pemberhentian
15) Mutasi Pensiun
16) Mutasi Pengujian Kesehatan
17) Mutasi Status Kepegawaian:
a. Aktif
b. CLTN (Cuti diLuar Tanggungan Negara), Pengaktifan kembali setelah CLTN
c. Pemberhentian Sementara
d. Penerima Uang Tunggu
e. Pembebasan Sementara dari Jabatan Organik
f. Prajurit Wajib
g. Pejabat Negara
h. Kepala Desa
i. Izin Perceraian dan Perkawinan
j. Tugas Belajar
k. Sedang dalam proses banding ke BAPEK
l. Masa Persiapan Pensiun
m. Titipan
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Formasi Pegawai Negeri Sipil 15

V. FORMASI PEGAWAI NEGERI SIPIL
A. PENGERTIAN
Berdasarkan Pasal 15 UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 43 Tahun 1999,
dinyatakan bahwa "jumlah dan susunan pangkat PNS yang diperlukan
ditetapkan dalam formasi". Dan, Formasi tersebut ditetapkan untuk jangka
waktu tertentu berdasarkan jenis, sifat, dan beban kerja yang harus
dilaksanakan.
Formasi Pegawai Negeri Sipil adalah jumlah dan susunan pangkat Pegawai
Negeri Sipil yang diperlukan dalam suatu satuan organisasi negara untuk
mampu melaksanakan tugas pokok dalam jangka waktu tertentu. Formasi
ditetapkan untuk jangka waktu tertentu berdasarkan jenis, sifat, dan beban
kerja yang harus dilaksanakan.
Organisasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, organisasi
harus selalu disesuaikan dengan perkembangan tugas pokok yang harus
dilaksanakan untuk mencapai tujuan itu. Karena tugas pokok dapat
berkembang dari waktu ke waktu, maka jumlah dan mutu PNS yang
diperlukan harus selalu disesuaikan dengan perkembangan tugas pokok.
Perkembangan tugas dapat mengakibatkan makin besarnya jumlah PNS yang
diperlukan.
Formasi PNS Pusat adalah formasi bagi PNS yang bekerja pada suatu satuan
Organisasi Pemerintah Pusat.
Formasi PNS Daerah adalah formasi PNS yang bekerja pada suatu satuan
Organisasi pemerintah Daerah.
Analisis Jabatan adalah proses, metoda dan teknik untuk memperoleh data
jabatan, serta mengolahnya menjadi informasi jabatan.
Informasi Jabatan adalah uraian tentang hasil analisa jabatan yang berupa
uraian jabatan dan peta jabatan.
Uraian Jabatan adalah uraian tentang hasil analisis jabatan yang berisi
informasi tentang nama jabatan, kode, unit organisasi ikhtisar jabatan, uraian
tugas, bahan kerja, perangkat kerja, hasil kerja, tanggung jawab, wewenang,
nama jabatan yang berada dibawahnya, korelasi jabatan, kondisi lingkungan
kerja, resiko bahaya, syarat jabatan dan informasi jabatan lainnya.
Peta Jabatan adalah susunan nama dan tingkat jabatan struktural dan
fungsional yang tergambar dalam suatu struktur unit organisasi dari tingkat
yang paling rendah sampai dengan yang paling tinggi.
Penyediaan pegawai adalah upaya suatu satuan organisasi Negara untuk
mencari, mendapatkan dan mengembangkan pegawai sesuai dengan standar,
kualifikasi dan kompetensi jabatan dalam rangka memenuhi kebutuhan suatu
satuan organisasi negara.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Formasi Pegawai Negeri Sipil 16

Tujuan penetapan formasi adalah agar setiap satuan organisasi negara
mempunyai jumlah dan mutu pegawai sesuai dengan beban kerja dan
tanggung jawab pada masing-masing satuan organisasi.
B. DASAR HUKUM
1) Undang Undang Nomor 8 tahun 1974 Tentang Pokok Pokok Kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999
2) Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 Tentang Formasi Pegawai
Negeri Sipil Juncto Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2003 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 Tentang
Formasi Pegawai Negeri Sipil.
3) Surat Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 26 Tahun 2004
Tanggal 6 Mei 2004 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP Nomor 97 Tahun
2000 tentang Formasi PNS sebagaimana diubah dengan PP Nomor 54
Tahun 2003.
4) Keputusan Presiden yang mengatur tentang Organisasi dan Tata Kerja
Instansi yang bersangkutan.
C. PERENCANAAN PEGAWAI
Perencanaan pegawai merupakan peramalan kebutuhan pegawai pada masa yang
akan datang dari berbagai jenis pekerjaan. Peramalan pengadaan pegawai pada saat
ini dan masa yang akan datang dengan berbagai jenis pekerjaan atas dasar tuntutan
organisasi. Peramalan pengadaan pegawai baik untuk keperluan saat sekarang
maupun yang akan datang berarti menentukan jumlah pegawai yang diperlukan
dengan berbagai kualifikasi atau latar belakang pendidikan yang dibutuhkan.
Peramalan kebutuhan pegawai secara umum mendasarkan pada permintaan dan
unit-unit yang ada dalam organisasi, mendasarkan pada analisis beban kerja
organisasi dan ketersediaan anggaran.
Peramalan pengadaan kebutuhan pegawai untuk memenuhi kebutuhan jangka
pendek dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan teknik peramalan jangka
pendek dengan mendasarkan pada ketersediaan anggaran dari beban kerja yang
ada. Sedangkan teknik peramalan jangka panjang dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa teknik, seperti: mendengar dari orang-orang ahli;
mendasarkan pada permintaan dari unit-unit; dan menggunakan berbagai analisis
yang ada, misalnya menggunakan analisis trend.
Secara empiris, dalam perencanaan kepegawaian dimulai dari inventarisasi
lowongan jabatan yang telah ditetapkan dalam formasi beserta syarat jabatannya,
pengumuman, pelamaran, penyaringan, pengangkatan menjadi CPNS sampai
dengan pengangkatan menjadi Pegawai Negeri Sipil dan penempatannya.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Formasi Pegawai Negeri Sipil 17

D. TUJUAN
Tujuan penetapan formasi adalah agar satuan-satuan organisasi pemerintah
mempunyai jumlah dan mutu/kualitas pegawai yang memadai sesuai beban kerja
dan tanggung jawab masing-masing satuan organisasi.
Formasi ditetapkan berdasarkan analisis kebutuhan dalam jangka waktu tertentu
dengan mempertimbangkan macam-macam pekerjaan, rutinitas pekerjaan, keahlian
yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan hal-hal lain yang mempengaruhi
jumlah dan sumber daya manusia yang diperlukan
E. PENYUSUNAN FORMASI PEGAWAI NEGERI SIPIL
Formasi masing-masing satuan organisasi negara disusun berdasarkan analisa
kebutuhan dan penyediaan pegawai sesuai dengan jabatan yang tersedia dengan
memperhatikan informasi jabatan yang disusun setiap tahun anggaran.
Pejabat Pembina Kepegawaian menyusun formasi masing-masing satuan organisasi
Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah selambat-lambatnya akhir bulan
Januari setiap tahun angaran.
1. Analisis Kebutuhan Pegawai
Analisis kebutuhan pegawai merupakan dasar bagi penyusunan formasi. Analisis
kebutuhan pegawai adalah suatu proses perhitungan secara logis dan teratur dari
segala dasar-dasar/faktor-faktor yang ditentukan untuk dapat menentukan jumlah
dan susunan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperlukan oleh suatu satuan
organisasi negara untuk mampu melaksanakan tugasnya secara berdayaguna,
berhasil guna dan berkelanjutan Analisis kebutuhan dilakukan berdasarkan:
a. Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan adalah macam-macam pekerjaan yang harus dilakukan oleh suatu
satuan organisasi dalam melaksanakan tugas pokoknya, misalnya pekerjaan
pengetikan, pemeriksaan perkara, penelitian, perawatan orang sakit, dan lain-lain.
b. Sifat Pekerjaan
Sifat pekerjaan adalah pekerjaan yang berpengaruh dalam penetapan formasi, yaitu
sifat pekerjaan yang ditinjau dari sudut waktu untuk melaksanakan pekerjaan itu.
Ada pekerjaan-pekerjaan yang cukup dilaksanakan selama jam kerja saja, misalnya
pekerjaan tata usaha, tetapi ada pula pekerjaan yang hams dilakukan selama 24 jam
penuh, misalnya pemadam kebakaran, tenaga medis dan para medis di rumah-
rumah sakit pemerintah.
c. Perkiraan Beban Kerja
Adalah frekuensi rata-rata dari masing-masing jenis pekerjaan dalam jangka waktu
tertentu.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Formasi Pegawai Negeri Sipil 18

d. Perkiraan Kapasitas Pegawai
Adalah kemampuan rata-rata seorang pegawai untuk menyelesaikan suatu jenis
pekerjaan dalam jangka waktu tertentu. Perkiraan beban kerja dan prakiraan
kapasitas kerja diperlukan untuk masing-masing jenis pekerjaan.
e. Jenjang dan Jumlah Jabatan serta Pangkat,
Penentuan jenjang, jumlah jabatan dan pangkat dalam suatu organisasi harus
ditinjau dari sudut keseluruhan organisasi dan tidak ditinjau per unit organisasi.
Penentuan susunan pangkat merupakan satu syarat mutlak untuk dipelihara dengan
baik dalam suatu organisasi.
f. Analisis Jabatan
Analisis kebutuhan pegawai dapat diperoleh melalui analisis jabatan untuk
mengetahui secara konkrit jumlah dan kualifikasi pegawai yang dibutuhkan oleh
suatu unit organisasi untuk mampu melaksanakan tugasnya secara berdayaguna,
berhasilguna, dan berkesinambungan. Analisis jabatan adalah suatu kegiatan
mengumpulkan, menilai, dan mengorganisasikan informasi tentang jabatan. Analisis
jabatan meliputi:
1) Uraian jabatan atau uraian pekerjaan, yaitu informasi yang lengkap tentang
tugas dan berbagai aspek lain dari suatu jabatan atau pekerjaan.
2) Kualifikasi atau syarat-syarat jabatan, yaitu keterangan mengenai syarat-syarat
yang diperlukan oleh seorang pegawai untuk dapat melakukan tugas tertentu
misalnya pendidikan tertentu,
3) Peta jabatan, yaitu susunan nama dan tingkat jabatan struktural dan fungsional
yang tergambar dalam suatu struktur unit organisasi dari tingkat yang paling
rendah sampai dengan yang paling tinggi dan jenis jabatan fungsional serta
jumlah yang diperlukan
g. Prinsip pelaksanaan pekerjaan
Prinsip pelaksanaan pekerjaan sangat besar pengaruhnya dalam menentukan formasi
pegawai. Misalnya, apabila pekerjaan membersihkan ruangan atau merawat
pekarangan harus dikerjakan sendiri oleh satuan organisasi yang bersangkutan, maka
harus diangkat pegawai untuk pekerjaan-pekerjaan itu, akan tetapi kalau pekerjaan
membersihkan ruangan dan merawat pekarangan diborongkan kepada pihak ketiga,
maka tidak perlu mengangkat pegawai untuk pekerjaan itu.
h. Peralatan yang tersedia
Peralatan yang tersedia atau yang diperkirakan akan tersedia dalam menyelesaikan
pekerjaan sesuai tugas pokok akan mempengaruhi jumlah dan mutu pegawai yang
diperlukan. Pada umumnya semakin tinggi mutu peralatan kerja yang ada dan
tersedia dalam jumlah yang memadai akan mengurangi jumlah pegawai yang
diperlukan.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Formasi Pegawai Negeri Sipil 19

i. Kemampuan Keuangan Negara/ Daerah
Faktor kemampuan keuangan negara adalah faktor penting yang selalu harus
diperhatikan dalam penentuan formasi Pegawai Negeri Sipil. Walaupun penyusunan
formasi telah sejauh mungkin ditetapkan berdasarkan analisis kebutuhan pegawai
seperti diuraikan terdahulu, akan tetapi apabila kemampuan keuangan negara masih
terbatas, maka penyusunan formasi tetap harus didasarkan kemampuan keuangan
negara yang tersedia. Meskipun formasi telah disusun secara rasional berdasarkan
hasil analisis jabatan dan analisis kebutuhan, realisasinya tetap disesuaikan dengan
kemampuan anggaran yang tersedia.
F. PROSEDUR PENGUSULAN FORMASI
Prosedur pengusulan penetapan formasi PNS dibedakan antara PNS Pusat dan
Daerah. Prosedur pengusulan penetapan formasi PNS Daerah diatur sbb :
1) Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) masing-masing Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota mengajukan usul persetujuan formasi kepada Menteri yang
bertanggungjawab di bidang Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi, dan Kepala BKN melalui Gubernur paling lambat akhir Bulan
Februari;
2) Gubernur mengajukan persetujuan formasi Pemerintah Daerah Propinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota kepada Menteri yang bertanggungjawab
di bidang pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan
Kepala BKN paling lambat akhir bulan Maret. Dalam penyampaian usul
persetujuan formasi Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, Gubernur dapat
memberikan rekomendasi.
a. Penyusunan bezetting (jumlah kekuatan PNS yang ada) dalam tahun
anggaran yang lalu menurut golongan ruang;
b. Pengolahan formasi PNS dalam tahun anggaran yang bersangkutan
menurut golongan ruang;
c. Daftar usul formasi PNS menurut pangkat/ golongan ruang dalam tahun
anggaran yang bersangkutan;
d. Daftar kebutuhan PNS menurut jabatan pada tahun anggaran yang
bersangkutan;
e. Susunan jabatan struktural dan fungsional yang diduduki oleh PNS yang
memiliki golongan ruang IV/a ke atas;
f. Daftar kebutuhan Tenaga Kesehatan dalam tahun anggaran yang
bersangkutan;
g. Daftar kebutuhan Tenaga Guru tahun anggaran yang bersangkutan;
h. Daftar jumlah PNS yang dipekerjakan dan diperbantukan pada satuan
organisasi pemerintah lainnya, Yayasan, Badan-badan swasta dan badan
lain yang ditentukan Pemerintah menurut golongan yang bersangkutan;
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Formasi Pegawai Negeri Sipil 20

i. Daftar rencana penarikan kembali tenaga perbantuan dari Daerah
Otonomi lain/ instansi lain ke Daerah dalam tahun anggaran yang
bersangkutan;
j. Daftar jumlah PNS yang berhenti, pensiun dan meninggal dunia pada
tahun anggaran sebelumnya, serta jumlah PNS yang mencapai BUP
dalam anggaran ybs;
k. Peta Jabatan. Apabila dalam tahun anggaran sebelumnya telah
melampirkan, maka untuk tahun berikutnya tidak perlu melampirkan
kembali, kecuali terjadi perubahan organisasi.
3) Usul persetujuan formasi PNS di lingkungan PEMDA Kabupaten/ Kota diajukan
oleh Gubernur kepada Menteri yang bertanggungjawab di bidang
pendayagunaan aparatur negara dan Kepala BKN;
4) Usul pemerintah persetujuan formasi tersebut bersamaan dengan permintaan
persetujuan formasi PNS di lingkungan PEMDA Propinsi;
5) Berdasarkan usul dimaksud, Kepala BKN memberikan pertimbangan kepada
Menteri yang bertanggungjawab di bidang Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi;
6) Pertimbangan Kepala BKN tersebut disampaikan kepada Menteri yang
bertanggungjawab dibidang Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi, setelah melalui pembahasan dalam Tim kerja Kepegawaian (TKK)
paling lambat akhir Bulan Juni;
7) Menteri yang bertangungjawab di bidang Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi, memberikan persetujuan secara tertulis formasi PNS
Daerah berdasar pertimbangan tertulis Kepala BKN paling lambat Bulan Juni;
8) Dalam persetujuan formasi dari Menteri yang bertanggungjawab di bidang
pendayagunaan aparatur negara, dicantumkan jumlah formasi untuk masing-
masing PEMDA (Propinsi, Kabupaten, Kota)
9) Persetujuan formasi tersebut disampaikan oleh Menteri yang
bertanggungjawab di bidang pendayagunaan aparatur negara kepada
Gubernur dan tembusannya kepada Kepala BKN dan Kepala Kanreg BKN
sesuai dengan wilayah kerjanya. Selanjutnya Gubernur menyampaikannya
kepada masing-masing Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/
Kota paling lambat 7 hari kerja sejak diterimanya persetujuan tersebut









Manajemen Administrasi Kepegawaian | Formasi Pegawai Negeri Sipil 21

Alur SOP Penyusunan Formasi dari Kementrian PAN dan RB, adalah :

G. PENETAPAN FORMASI PNS
Formasi Pegawai Negeri Sipil secara nasional setiap tahun anggaran ditetapkan oleh
Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara, setelah
memperhatikan pendapat Menteri Keuangan dan pertimbangan Kepala Badan
Kepegawaian Negara Formasi Pegawai Negeri Sipil terdiri dari:
1) Formasi Pegawai Negeri Sipil Pusat
2) Formasi Pegawai Negeri Sipil Daerah.
Formasi Pegawai Negeri Sipil Pusat untuk masing-masing satuan organisasi
Pemerintah Pusat setiap tahun anggaran ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung
jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara setelah mendapat pertimbangan
dari Kepala BKN atas usul Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat.
Formasi Pegawai Negeri Sipil Daerah untuk masing-masing satuan organisasi
Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota setiap tahun anggaran ditetapkan oleh
Kepala Daerah masing-masing setelah mendapat persetujuan tertulis dari Menteri
yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara berdasarkan
pertimbangan Kepala Badan Kepegawaian Negara.
Persetujuan formasi Pegawai Negeri Sipil Daerah berdasarkan usul dari Pejabat
Pembina Kepegawaian Daerah yang dikoordinasikan oleh Gubernur.
Formasi yang telah ditetapkan berlaku dalam tahun anggaran yang bersangkutan,
sehingga lowongan formasi yang tidak diisi pada tahun anggaran yang bersangkutan,
tidak dapat digunakan untuk tahun anggaran berikutnya. Dalam menetapkan
formasi untuk setiap tahun anggaran harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Formasi Pegawai Negeri Sipil 22

1) Jumlah Pegawai Negeri Sipil (bezetting) yang ada,
2) Jumlah Pegawai Negeri Sipil yang naik pangkat,
3) Jumlah PNS yang berhenti, pensiun, atau meninggal dunia, dan
4) Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil menurut jabatan dan pendidikan/jurusannya.
H. KETENTUAN LAIN - LAIN
Formasi yang telah ditetapkan berlaku dalam tahun anggaran yang bersangkutan,
sehingga lowongan formasi yang tidak diisi pada tahun yang bersangkutan tidak
dapat digunakan untuk tahun anggaran berikutnya.
Penetapan formasi Pegawai negeri Sipil yang tidak sesuai dengan prosedur yang
berlaku, maka tidak dapat digunakan untuk pengangkatan Calon Pegawai Negeri
Sipil/Pegawai Negeri Sipil.
Dalam rangka perencanaan dan pengendalian jumlah Pegawai Negeri Sipil maka
setiap keputusan Gubernur/Bupati/Walikota tentang penetapan formasi di
lingkungannya, tembusannya harus disampaikan kepada Menteri yang
bertanggungjawab di bidang pendayagunaan aparatur negara dan Kepala BKN.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Jabatan 23

VI. ANALISIS JABATAN
A. LATAR BELAKANG
Seiring dengan bergulirnya Reformasi Birokrasi baik di pemerintah pusat maupun di
pemerintah daerah, maka diperlukan pembaharuan dan perubahan mendasar
terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek
kelembagaan (organisasi), sumber daya manusia aparatur, dan ketatalaksanaan
(business process). Tujuan Reformasi Birokrasi adalah membangun aparatur negara
agar mampu mengemban misi, tugas dan fungsi serta perannya masing-masing secara
bersih, efektif, dan efisien, dalam rangka meningkatkan pelayanan publik yang lebih
baik. Berkaitan dengan penataan kelembagaan, kepegawaian, perencanaan
pendidikan dan pelatihan untuk pegawai, maka analisis jabatan mutlak untuk
dilaksanakan.
B. LANDASAN HUKUM
1. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741);
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor. 35 Tahun 2012
tentang Analisis Jabatan di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan
Pemerintah Daerah;
3. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor. 12 Tahun 2011 tentang
Pedoman Pelaksanaan Analisis Jabatan;
4. Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan Daerah
Kabupaten Magelang (Lembaran Daerah Kabupaten Magelang Tahun 2008
Nomor 21).
C. MAKSUD DAN TUJUAN
Bagi pemerintah daerah, Analisis Jabatan digunakan sebagai panduan dalam rangka
penataan kelembagaan, kepegawaian, perencanaan kebutuhan pendidikan dan
pelatihan para pegawai. Di samping itu, Analisis Jabatan dilaksanakan untuk
mendapatkan informasi jabatan.
Sedangkan tujuan dilakukannya Analisis Jabatan adalah untuk:
a. Pembinaan dan penataan kelembagaan, kepegawaian, dan ketatalaksanaan.
b. Perencanaan kebutuhan pendidikan dan pelatihan para pegawai.
c. Evaluasi kebijakan program pembinaan dan penataan kelembagaan,
kepegawaian, ketatalaksanaan dan perencanaan kebutuhan pendidikan dan
pelatihan para pegawai.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Jabatan 24

D. PENGERTIAN
Jabatan adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab,
wewenang dan hak seseorang PNS dalam suatu satuan organisasi negara.
Analisis Jabatan adalah proses, metode dan teknik untuk mendapatkan data
jabatan yang diolah menjadi informasi jabatan*
Uraian Jabatan adalah uraian tentang informasi dan karakteristik jabatan,
seperti nama jabatan, kode jabatan, unit kerja, ringkasan tugas jabatan, hasil
kerja, bahan kerja, perangkat/alat kerja, tanggung jawab, wewenang, rincian
tugas, nama jabatan di bawahnya, korelasi jabatan, keadaan tempat kerja,
prestasi kerja, upaya fisik, resiko bahaya dan syarat jabatan.
Syarat Jabatan adalah syarat yang harus dipenuhi atau dimiliki oleh seseorang
untuk menduduki suatu jabatan dan merupakan tuntutan kemampuan kerja
yang ditunjukkan dengan keahlian atau keterampilan kerja yang diidentifikasi
dari pemilikan pengetahuan kerja, pendidikan, pelatihan, pengalaman kerja,
dan kemampuan dari aspek psikologis dan kekuatan fisik.
Atau secara singkat didefinisikan sebagai persyaratan minimal yang harus
dipenuhi oleh PNS untuk menduduki suatu jabatan, agar dapat melaksanakan
tugas dengan baik.
Peta Jabatan adalah susunan jabatan yang digambarkan secara vertikal
maupun horisontal menurut struktur kewenangan, tugas dan tanggung jawab
jabatan serta persyaratan jabatan dan menggambarkan seluruh jabatan yang
ada dan kedudukannya dalam unit kerja.
Informasi jabatan sebagai hasil dari Analisis Jabatan berisi Uraian Jabatan,
Syarat Jabatan dan Peta Jabatan
E. ASPEK-ASPEK ANALISIS JABATAN
1. Uraian Jabatan, yang meliputi:
a. Nama Jabatan
Nama jabatan atau nomenklatur jabatan merupakan sebutan yang bersifat
ringkas untuk mengidentifikasikan suatu jabatan. Perumusan nama jabatan
mendasarkan pada tindak kerja, bahan kerja, perangkat kerja, dan hasil kerja.
Contoh nama jabatan : Operator Komputer.
b. Kode Jabatan
Kode jabatan merupakan kode yang dibuat untuk memudahkan
pengadministrasian jabatan.
c. Ikhtisar Jabatan
Ikhtisar jabatan merupakan ringkasan dari uraian tugas yang disusun dalam
satu kalimat yang mencerminkan pokok-pokok tugas jabatan. Penyusunan
ikhtisar jabatan harus memenuhi kriteria:
i. Apa yang dikerjakan dan obyek yang dikerjakan.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Jabatan 25

ii. Bagaimana cara mengerjakan.
iii. Mengapa tugas itu harus dikerjakan.
d. Uraian Tugas
Uraian tugas merupakan suatu paparan atau bentangan atas semua tugas
jabatan yang dilakukan oleh pemegang jabatan dalam memproses bahan kerja
menjadi hasil kerja dalam konsisi tertentu, ditulis dengan singkat dan jelas,
serta disusun secara berurutan dari yang paling berat sampai dengan yang
paling ringan.
Penyusunan uraian tugas harus memenuhi kriteria:
i. Apa yang dikerjakan dan obyek yang dikerjakan.
ii. Bagaimana cara mengerjakan.
iii. Mengapa tugas itu harus dikerjakan.
e. Bahan Kerja
Bahan kerja terdiri atas data, orang, benda yang berwjujud atau tidak
berwujud yang merupakan suatu masukan untuk diproses menjadi hasil kerja.
f. Perangkat Kerja
Perangkat kerja adalah sarana atau peralatan yang dipergunakan untuk
memproses bahan kerja menjadi hasil kerja. Perangkat kerja dapat berupa
mesin, perkakas, perlengkapan, dan alat kerja bantu lainnya.
g. Hasil Kerja
Hasil kerja adalah suatu produk berupa barang, jasa, dan informasi yang
dihasilkan dari suatu proses pelaksanaan tugas dengan menggunakan bahan
kerja dan peralatan kerja dalam waktu dan kondisi tertentu, dapat bersifat
manajerial dan non manajerial. Hasil manajerial dapat berupa petunjuk kerja,
pembagian tugas maupun koordinasi kerja. Sedangkan hasil non manajerial
diperoleh dalam pelaksanaan tugas teknis atau tugas lain yang tidak
berhubungan dengan bawahan.
h. Tanggung Jawab
Tanggung jawab merupakan tuntutan jabatan terhadap kesanggupan seorang
PNS untuk menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan
sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya serta berani menanggung resiko atas
keputusan yang diambil atau tindakan yang dilakukannya. Selain itu, seorang
PNS juga bertanggung jawab terhadap bahan kerja yang diolah, alat kerja
yang digunakan, hasil kerja yang diperoleh, lingkungan kerja, dan kepada
orang lain.
i. Wewenang
Wewenang merupakan hak dan kekuasaan pemegang jabatan untuk memilih,
mengambil sikap, atau tindakan tertentu dalam melaksanakan tugas, dan
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Jabatan 26

mempunyai peranan sebagai penyeimbang terhadap tanggung jawab, guna
mendukung berhasilnya pelaksanaan tugas. PNS hanya dapat memikul
tanggung jawab apabila diberikan wewenang yang memadai.
j. Korelasi Jabatan
Korelasi jawaban adalah hubungan kerja antara jabatan yang satu dengan
jabatan yang lainnya ataupun orang lain yang berhubungan dengan jabatan
tersebut. Hubungan tersebut dapat dilakukan secara vertikal, horisontal, dan
diagonal baik di dalam maupun di luar instansi.
k. Kondisi Lingkungan Kerja
Kondisi lingkungan kerja merupakan kondisi di dalam dan sekitar PNS dalam
melaksanakan tugas-tugas jabatan maupun mengolah bahan kerja dengan
peralatan kerja sehingga menjadi hasil kerja. Kondisi lingkungan kerja meliputi
aspek keadaan tempat kerja, suhu, udara, keadaan ruangan, letak,
penerangan/pencahayaan, suara, keadaan tempat kerja, dan getaran.
l. Resiko Bahaya
Resiko bahaya adalah kejadian atau keadaan yang mungkin akan dialami PNS
sehubungan dengan keberadaannya dalam lingkungan pekerjaan.
2. Syarat Jabatan, yang meliputi:
a. Pangkat/Golongan Ruang
Pangkat/golongan ruang minimal yang dipersyaratkan untuk menduduki suatu
jabatan.
Contoh pangkat/golongan ruang pada Operator Komputer adalah Pengatur
Muda/IIb
b. Pendidikan
Pendidikan formal minimal yang dipersyaratkan untuk menduduki suatu
jabatan.
Contoh pendidikan pada Operator Komputer adalah SLTA.
c. Kursus/Diklat
Pendidikan dan Pelatihan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan
manajerial dan non manajerial, sesuai dengan syarat pekerjaan dan fungsi
pekerjaannya.
d. Pengalaman Kerja
Pengalaman kerja merupakan pengembangan pengetahuan, keterampilan
kerja, sikap mental, kebiasaan mental dan fisik yang tidak diperoleh dari
pelatihan, namun diperoleh dari masa kerja sebelumnya dalam kurun waktu
tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan jabatan saat ini.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Jabatan 27

Contoh pengalaman kerja pada Operator Komputer adalah 1 (satu) tahun di
bidang pengetikan.
e. Pengetahuan Kerja
Pengetahuan kerja merupakan akumulasi hasil dari proses selama menempuh
pendidikan formal maupun informal yang dimanfaatkan oleh seorang PNS di
dalam pemecahan masalah, daya cipta, serta di dalam melaksanakan
tugas/pekerjaan.
Contoh pengetahuan kerja apada Operator Komputer adalah pengetahuan
mengenai program-program komputer,
f. Keterampilan Kerja
Keterampilan kerja merupakan tingkat kemampuan dan penguasaan teknis
operasional PNS dalam suatu bidang tugas pekerjaan tertentu.
Contoh keterampilan pada Operator Komputer adalah keterampilan
mengetik, menyiapkan dan memelihara komputer, serta keterampilan
mencetak file.
g. Bakat Kerja
Bakat kerja merupakan kapasitas khusus atau kemampuan potensial yang
disyaratkan bagi seseorang untuk dapat mempelajari dan memahami beberapa
tugas atau pekerjaan.
Contoh bakat kerja pada seorang Operator Komputer adalah:
G = Intelegensia Q = Ketelitian
V = Verbal F = Kecekatan Jari
N = Numerik
h. Temperamen Kerja
Temperamen kerja merupakan syarat kemampuan penyesuaian diri yang harus
dipenuhi PNS sesuai dengan sifat pekerjaan.
Contoh temperamen kerja pada Operator Komputer: R = Rutinitas
i. Minat Kerja
Minat kerja merupakan kecenderungan untuk memiliki kemauan, keinginan,
dan kemampuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan dengan baik
berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang dimilki.
Contoh minat kerja pada Operator Komputer:
1b = Komunikasi dada
3a = Rutin konkrit dan teratur
4a = Baik untuk orang lain
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Jabatan 28

j. Upaya Fisik
Upaya fisik merupakan penggunaan organ fisik meliputi seluruh bagian
anggota tubuh dalam pelaksanaan tugas jabatan.
k. Kondisi Fisik
Kondisi fisik merupakan kondisi tertentu yang diperlukan oleh pemangku
jabatan agar dapat melakukan tugas jabatan dengan baik. Syarat kondisi fisik
terdiri dari:
1) Jenis kelamin yang diperbolehkan untuk memangku jabatan;
2) Umur tertentu yang disyaratkan;
3) Tinggi badan tertentu;
4) Berat badan tertentu;
5) Postur tubuh;
6) Penampilan, faktor lain seperti sikap ramah, suara merdu, tegas, lemah
lembut, pendiam dan lain-lain.
l. Fungsi Pekerja
Fungsi pekerja adalah tingkat hubungan PNS dengan data, orang, dan benda.
Contoh fungsi pekerja pada Operator Komputer:
D5 = Menyalin Data
O7 = Melayani Orang
B5 = Melayani mesin
3. Peta Jabatan
Peta jabatan dibuat sesuai dengan struktur organisasi dari setiap unit kerja. Peta
jabatan terdiri atas susunan nama dan tingkat jabatan struktural dan fungsional
yang tergambar dalam struktur unit organisasi dari tingkat yang paling rendah
sampai dengan tingkat yang paling tinggi. Peta jabatan menggambarkan
seluruh jabatan yang ada dan kedudukan dalam unit organisasi serta memuat
jumlah pegawai, pangkat/golongan ruang, kualifikasi pendidikan, dan beban
kerja unit organisasi.
F. TIM ANALISIS JABATAN
Dalam rangka melaksanakan Analisis Jabatan di pemerintah kabupaten, maka
dibentuk Tim Analisis Jabatan yang dikoordinasikan oleh Sekretaris Daerah, dalam
pelaksanaannya dilakukan oleh Pejabat yang membidangi Organisasi.
Tim Analisis Jabatan terdiri dari:
1. Pengarah, yaitu Bupati.
2. Penanggung Jawab, yaitu Sekretaris Daerah.
3. Ketua, yaitu Kepala Bagian Organisasi.
4. Sekretaris, yaitu Kasubbag Kelembagaan.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Jabatan 29

5. Anggota, yaitu pejabat struktural pada masing-masing SKPD yang membidangi
Kepegawaian dan para pemangku jabatan fungsional umum pada masing-
masing SKPD yaitu penganalisis jabatan dan/atau yang menangani
kepegawaian.
1. Tugas dari Tim Analisis Jabatan adalah:
a. Mengumpulkan data Analisis Jabatan.
b. Memfasilitasi dan mengkoordinasikan pelaksanaan Analisis Jabatan.
c. Memantau pelaksanaan Analisis Jabatan.
d. Mengolah, menyusun, menganalisis dan memverifikasi hasil Analisis
Jabatan (Informasi Jabatan).
e. Menetapkan hasil Analisis Jabatan.
f. Membuat laporan hasil Analisis Jabatan.
G. PELAKSANAAN ANALISIS JABATAN
1. Persiapan, meliputi :
a. Perencanaan Proses Analisis Jabatan;
b. Pembentukan Tim Analisis Jabatan;
c. Pemberitahuan kepada unit organisasi yang menjadi sasaran;
d. Penyampaian formulir Analisis Jabatan dan petunjuk pengisiannya.
2. Pengumpulan Data Jabatan, meliputi:
a. Pengisian daftar pertanyaan;
b. Interview;
c. Observasi;
d. Referensi.
3. Pengolahan Data Jabatan, meliputi:
a. Penyusunan Uraian Jabatan;
b. Penyusunan Spesifikasi Jabatan;
c. Penyusunan Peta Jabatan.
4. Verifikasi Jabatan
Hasil-hasil dari pengolahan data diperiksa kembali kebenarannya, dengan
melakukan pengecekan untuk mengetahui ada tidaknya hal yang perlu
diperbaiki.
5. Penyempurnaan
Hasil verifikasi selanjutnya disempurnakan sebelum ditetapkan.
6. Penetapan Hasil Analisis Jabatan
Hasil Analisis Jabatan yang sudah disempurnakan selanjutnya dipaparkan
kepada para pimpinan SKPD yang meliputi uraian jabatan, syarat jabatan, peta
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Jabatan 30

jabatan, dan rekomendasi hasil temuan lapangan. Setelah mendapatkan
masukan dan persetujuan kemudian diproses untuk ditetapkan menjadi
Keputusan Bupati.
H. HASIL DAN MANFAAT
Hasil Analisis Jabatan dipergunakan sebagai:
1. Pembinaan dan penataan kelembagaan yang meliputi:
a. Penyusunan organisasi dan unit-unitnya;
b. Pengembangan organisasi;
c. Perampingan organisasi;
d. Penggabungan unit-unit organisasi.
2. Pembinaan dan penataan ketatalaksanaan yang meliputi:
a. Tata kerja;
b. Standardisasi;
c. Sistem kerja.
3. Pembinaan dan penataan kepegawaian yang meliputi:
a. Perencanaan kebutuhan pegawai;
b. Rekruitmen, seleksi dan penempatan;
c. Pengembangan karier;
d. Mutasi;
e. Kesejahteraan.
4. Pembinaan dan penataan
Pembinaan dan penataan dalam perencanaan kebutuhan pendidikan dan
pelatihan para pegawai yang meliputi kegiatan perencanaan kebutuhan
pendidikan dan pelatihan dalam mengembangkan pengetahuan pegawai
sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan jabatan.
I. PENUTUP
Pelaksanaan Analisis Jabatan dimaksudkan sebagai panduan dalam rangka penataan
kelembagaan, kepegawaian, perencanaan kebutuhan pendidikan dan pelatihan para
pegawai. Hasil dari Analisis Jabatan adalah untuk mendapatkan informasi jabatan
yang meliputi uraian jabatan, syarat jabatan dan peta jabatan.
Selanjutnya, hasil dari Analisis Jabatan ini akan dimanfaatkan sebagai bahan
pelaksanaan evaluasi jabatan, dimana evaluasi jabatan dilaksanakan untuk
menetapkan nilai jabatan dan kelas jabatan.
Dukungan dan kesepakatan yang kuat dari semua pihak terutama pimpinan daerah
untuk melaksanakannya secara konsisten sangat diperlukan agar pelaksanaan Analisis
Jabatan ini dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Beban Kerja 31

VII. ANALISIS BEBAN KERJA
A. LATAR BELAKANG
Profesionalisme sumber daya aparatur dalam pelaksanaan urusan pemerintahan
mutlak diperlukan dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan
efisien melalui penataan kelembagaan, ketatalaksanaan & kepegawaian. Namun
profesionalisme yang diharapkan belum sepenuhnya terwujud, karena pemerintah
masih menghadapi berbagai permasalahan di bidang sumber daya manusia aparatur,
diantaranya:
1. Ketidaksesuaian antara kompetensi pegawai dengan jabatan yang
didudukinya.
2. Alokasi dalam kuantitas dan kualitas sumber daya aparatur.
3. Distribusi tak seimbang dan belum didasarkan pada beban kerja organisasi.
4. Tingkat produksi PNS yang rendah.
5. MSDM belum dilaksanakan secara optimal.
6. Sistem penggajian PNS belum berdasarkan pada bobot pekerjaan.
7. Gaji pokok yang ditetapkan berdasarkan golongan/ pangkat tak
mencerminkan beban kerja dan tanggungjawab.
8. Tunjangan kinerja belum dikaitkan penilaian kinerja.
9. Pembentukan organisasi cenderung tidak berdasarkan kebutuhan nyata.
Oleh karena itu, untuk mencapai performance pemerintah daerah sesuai yang
diharapkan, di pandang perlu untuk melaksanakan Analisis Beban Kerja (ABK) di
Pemerintah Kabupaten Magelang.
Harapan ke depan, dengan dilaksanakannya ABK di Pemerintah Kabupaten
Magelang, tuntutan kebutuhan untuk menciptakan efektivitas dan efisiensi serta
profesionalisme SDM aparatur yang memadai di setiap instansi serta kemampuan
melaksanakan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan secara lancar
dengan dilandasi semangat pengabdian kepada masyarakat bisa terpenuhi.
B. LANDASAN HUKUM
1. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741);
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pedoman
Analisis Beban Kerja di Lingkungan Departemen Dalam Negeri dan Pemerintah
Daerah;
3. Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan Daerah
Kabupaten Magelang (Lembaran Daerah Kabupaten Magelang Tahun 2008
Nomor 21).
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Beban Kerja 32

C. MAKSUD DAN TUJUAN
Pelaksanaan ABK ini dimaksudkan untuk mengukur dan menghitung beban kerja
setiap jabatan/unit kerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Magelang, sehingga
dapat diperoleh informasi tentang efisiensi dan efektivitas kerja organisasi
Sedangkan tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas organisasi yang
profesional, transparan, proporsional dan rasional dalam rangka mewujudkan
kepemerintahan yang baik (Good Governance).
D. PENGERTIAN
Analisis Beban Kerja (ABK) adalah teknik manajemen yang dilakukan secara
sistematis untuk memperoleh informasi mengenai tingkat efektifitas dan
efisiensi kerja organisasi berdasarkan volume kerja.
Volume Kerja adalah sekumpulan tugas/pekerjaan yang harus diselesaikan
dalam waktu satu tahun.
Efektifitas dan Efisiensi adalah perbandingan antara Beban Kerja dengan
Waktu Kerja Efektif (WKE) dalam rangka penyelesaian tugas dan fungsi
organisasi.
Beban Kerja adalah besaran pekerjaan yang harus dipikul oleh suatu jabatan
yang merupakan hasil kali Volume Pekerjaan dan Norma Waktu
Norma Waktu adalah waktu yang wajar dan nyata-nyata digunakan secara
efektif dalam kondisi normal oleh seorang pemangku jabatan.
Waktu Kerja Efektif adalah jumlah waktu yang wajar dan benar-benar
dipergunakan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan oleh pemegang jabatan
Jadi merupakan jam kerja formal dikurangi waktu kerja yg hilang krn tdk
bekerja (Allowance = rata-rata 25 %).
Waktu luang (Allowance) adalah waktu kerja yang diperkenankan untuk
digunakan tidak produktif karena faktor kelelahan dasar, pengaruh tempat
kerja, dan untuk keperluan yang sifatnya pribadi seperti beribadah.
Hari Kerja Efektif adalah jumlah hari dalam kalender di kurangi hari libur dan
cuti.
E. ASPEK-ASPEK ABK
ABK dilakukan terhadap aspek-aspek sebagai berikut:
1. Norma waktu (variabel tetap), yang merupakan waktu yang dipergunakan
untuk menyelesaikan tugas/kegiatan. Norma waktu ditetapkan dalam standar
norma waktu kerja dengan asumsi tidak ada perubahan yang menyebabkan
norma waktu tersebut berubah. Namun, perubahan norma waktu dapat
terjadi karena:
a. Perubahan kebijakan;
b. Perubahan peralatan;
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Beban Kerja 33

c. Perubahan kualitas SDM;
d. Perbahan organisasi, sistem dan prosedur.
2. Volume kerja (variabel tidak tetap), yang diperleh dari target pelaksanaan
tugas untuk memperoleh hasil kerja dalam satu tahun. Setiap volume kerja
yang berbeda-beda antar unit/jabatan merupakan variabel tidak tetap dalam
pelaksanaan ABK.
3. Jam kerja efektif, yang merupakan alat ukur dalam melakukan ABK, sehingga
pelaksanaannya dapat dilakukan secara transparan. Kriteria alat ukur yaitu:
a. Valid, artinya alat ukur yang akan dipergunakan sesuai dengan material
yang akan diukur.
b. Konsisten, artinya dalam melakukan ABK harus konsisten dari waktu ke
waktu.
c. Universal, artinya alat ukur harus dapat dipergunakan untuk mengukur
berbagai unit kerja maupun hasil kerja, sehingga tidak alat ukur lain
untuk suatu unit kerja atau hasil kerja.
Dalam Keputusan Presiden Nomor 68 Tahun 1995 telah ditentukan jam kerja
instansi pemerintah adalah 37 jam 30 menit per minggu, baik untuk 5 (lima) hari
kerja maupun 6 (enam) hari kerja sesuai yang ditetapkan Kepala Daerah masing-
masing. Berdasarkan ketentuan tersebut, dapat dihitung jam kerja efektif yang akan
digunakan sebagai alat ukur dalam melakukan ABK.
1. Penghitungan Jam Kerja Efektif
a. Untuk 5 Hari Kerja
Jam Kerja PNS Per Minggu = 37,5 Jam (37 Jam 30 Menit)
Jam Kerja PNS Per Hari = 37,5 Jam : 5 = 7,5 Jam (7 Jam 30 Menit)
Jam Kerja Efektif Per Hari = 75% x 7,5 Jam = 5 Jam 37 Menit = 337
Menit, dibulatkan menjadi 330 Menit (5 Jam 30 Menit)
Jam Kerja Efektif Per Minggu = 5 Hari x 330 Menit = 1.650 Menit
Jam Kerja Efektif Per Bulan = 20 Hari x 330 Menit = 6.600 Menit
Jam Kerja Efektif Per Tahun = 12 Bulan x 6.600 Menit = 79.200 Menit =
1.320 Jam, dibulatkan menjadi 1.300 Jam
b. Untuk 6 Hari Kerja
Jam Kerja PNS Per Minggu = 37,5 Jam (37 Jam 30 Menit)
Jam Kerja PNS Per Hari = 37,5 Jam : 6 = 6,25 Jam (6 Jam 15 Menit)
Jam Kerja Efektif Per Hari = 75% x 6,25 Jam = 4 Jam 40 Menit = 280
Menit, dibulatkan menjadi 275 Menit (4 Jam 35 Menit)
Jam Kerja Efektif Per Minggu = 6 Hari x 275 Menit = 1.650 Menit
Jam Kerja Efektif Per Bulan = 24 Hari x 275 Menit = 6.600 Menit
Jam Kerja Efektif Per Tahun = 12 Bulan x 6.600 Menit = 79.200 Menit =
1.320 Jam, dibulatkan menjadi 1.300 Jam.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Beban Kerja 34

2. Penghitungan Hari Kerja Efektif
a. Untuk 5 Hari Kerja
Jumlah Hari Per Tahun 365 Hari
Libur Sabtu-Minggu 104 Hari
Libur Resmi 14 Hari
Cuti 12 Hari +
Jumlah Libur dan Cuti 130 Hari ---- 130 Hari _
Hari Kerja Efektif 235 Hari
b. Untuk 6 Hari Kerja
Jumlah Hari Per Tahun 365 Hari
Libur Minggu 104 Hari
Libur Resmi 14 Hari
Cuti 12 Hari +
Jumlah Libur dan Cuti 78 Hari ---- 78 Hari _
Hari Kerja Efektif 287 Hari
c. Perhitungan Gabungan
Jam Kerja Formal Per Minggu = 37 Jam 30 Menit
Jam Kerja Efektif Per Minggu (dikurangi waktu luang 25%)=
75% x 37,5 Jam = 28 Jam
Jam Kerja Efektif Per Hari:
- 5 Hari Kerja = 28 Jam / 5 Hari = 5 Jam 36 Menit/Hari
- 6 Hari Kerja = 28 Jam / 6 Hari = 4 Jam 23 Menit/Hari
Jam Kerja Efektif Per Tahun:
5 Hari Kerja = 235 Hari x 5 Jam 36 Menit/Hari = 1.324 Jam = => 1.300
Jam
6 Hari Kerja = 287 Hari x 4 Jam 23 Menit/Hari = 1.339 Jam = => 1.300
Jam
F. TEKNIK PELAKSANAAN ABK
Pelaksanaan ABK di Kabupaten Magelang dilaksanakan oleh Tim ABK Tingkat
Kabupaten dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Pengumpulan Data
Sebelum melakukan pengumpulan data, para analis harus melakukan
pengkajian organisasi sehingga diperoleh kejelasan mengenai tugas pokok dan
fungsi, rincian tugas, dan rincian kegiatan dari setiap unit kerja/SKPD yang di
analisis.
Setelah melakukan pengkajian data, pelaksanaan pengumpulan data dapat
dilakukan dengan cara:
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Beban Kerja 35

a. Menyebarkan formulir isian (Form A1, A2 dan B);
b. Wawancara; dan
c. Observasi.
2. Pengolahan Data Beban Kerja
Data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah dengan menggunakan
formulir sebagai berikut:
a. Formulir C, digunakan untuk menghitung beban/bobot kerja setiap
jabatan yang berada pada satu unit organisasi.
b. Formulir D, digunakan untuk menghitung jumlah kebutuhan
pegawai/pejabat, tingkat Efektivitas dan Efisiensi Jabatan (EJ) dan
Tingkat Prestasi Kerja Jabatan (PJ).
c. Formulir E, digunakan untuk menghitung jumlah kebutuhan
pegawai/pejabat unit, tingkat Efektivitas dan Efisiensi Unit (EU) dan
Tingkat Prestasi Kerja Unit.
a. Kriteria tingkat Prestasi Kerja Jabatan/Unit adalah sebagai berikut:
EJ/EU di atas 1,00 = A (Sangat Baik)
EJ/EU antara 0,90 1,00 = B (Baik)
EJ/EU antara 0,70 0,89 = C (Cukup)
EJ/EU antara 0,50 0,69 = D (Sedang)
EJ/EU di bawah 0,50 = (Kurang)

EJ dicari dengan menggunakan rumus:
EJ = Jumlah Beban Kerja Jabatan
1.300 Jam
EU dicari dengan menggunakan rumus:
EU = Jumlah Beban Kerja Unit
Jumlah Pegawai Unit x 1.300 Jam
3. Penelaahan Hasil Olahan Data
Hasil pengukuran beban kerja perlu ditelaah lebih lanjut untuk memperoleh
hasil yang akurat dan obyektif serta menggambarkan kondisi yang senyatanya.
Dari hasilpengukuran beban kerja sering dijumpai kecenderungan yang
bervariasi dengan kemungkinan tidak rasional:
a. Di atas normal, yang disebabkan adanya mark up pada data volume
kerja dan atau norma waktu.
b. Di bawah normal, yang disebabkan kurang lengkapnya produk dan
kecilnya norma waktu yang dapat diinventarisir.
Untuk mengurangi deviasi yang dapat terjadi, maka hasil yang diperoleh perlu
dievaluasi dengan unit organisasinya kembali dengan memeriksa:
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Beban Kerja 36

a. Apakah unit organisasi tersebut sering/rata-rata sepanjang tahun
melakukan kerja lembur yang nyata (tidak fiktif).
b. Perlu dilakukan pengamatan secara acak atas kesibukan harian unit yang
dianalisis.
4. Penetapan Hasil ABK
Penetapan hasil pengukuran beban kerja di lingkungan pemerintah daerah
Kabupaten Magelang dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Setelah selesai melakukan pengolahan data beban kerja, Tim ABK
menyampaikan hasilnya kepada pimpinan SKPD yang dianalisis.
b. Apabila dinilai sudah memadai, hasil tersebut dibuatkan surat pengantar
yang ditujukan kepada Sekretaris Daerah untuk memperoleh keputusan
penetapannya.
c. Berdasarkan surat pengantar tersebut, Sekda menugaskan unit kerja yag
membidangi ABK untuk melakukan penelaahan.
d. Dalam melakukan penelaahan, unit kerja yang membidangiABK wajib
menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi baik dalam
SKPD kabupaten yang ditelaah maupun antar unit lain yang terkait.
e. Hasil penelaahan kemudian diajukan kepada Sekda dalam bentuk
telaahan staf, untuk selanjutnya diproses menjadi Surat Keputusan
Bupati.
G. HASIL DAN MANFAAT
Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan ABK adalah:
1. Informasi Jabatan, yang terdiri dari:
a. Efektivitas dan efisiensi jabatan (EJ) serta Efektivitas dan Efisiensi Unit
Kerja (EU);
b. Prestasi kerja jabatan dan prestasi kerja unit;
c. Jumlah kebutuhan pegawai/pejabat;
d. Jumlah beban kerja jabatan dan jumlah beban kerja unit;
e. Standar norma waktu kerja.
2. Standar Sarana dan Prasarana Kerja (Peralatan yang dibutuhkan dalam
menyelesaikan tugas/kegiatan)
Adapun manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan ABK adalah sebagai berikut:
1. Penataan SOTK.
2. Penilaian prestasi kerja jabatan/unit kerja.
3. Bahan penyempurnaan sistem dan prosedur kerja.
4. Sarana peningkatan kinerja kelembagaan.
5. Penyusunan standar beban kerja jabatan/kelembagaan, penyusunan daftar
susunan pegawai atau bahan penetapan eselonisasi jabatan struktural.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Analisis Beban Kerja 37

6. Penyusunan rencana kebutuhan pegawai secara riil sesuai beban kerja
organisasi.
7. Program mutasi pegawai.
8. Program promos pegawai.
9. Reward and Punishment terhadap unit atau pejabat.
10. Bahan penyempurnaan program diklat.
11. Bahan penetapan kebijakan bagi pimpinan untuk peningkatan pendayagunaan
SDM.

H. PENUTUP
Pelaksanaan ABK dimaksudkan untuk mengukur dan menghitung beban kerja setiap
jabatan/unit kerja di lingkungan pemerintah Kabupaten Magelang, sehingga
diperoleh informasi tentang efisiensi dan efektivitas kerja organisasi, serta
mempunyai tujuan untuk meningkatkan kapasitas organisasi yang profesional,
transparan, proporsional dan rasional dalam rangka mewujudkan kepemerintahan
yang baik (Good Governance).
Hasil dari ABK juga dapat dijadikan tolok ukur untuk meningkatkan produktivitas
kerja serta langkah-langkah lainnya dalam rangka meningkatkan
pembinaan,penyempurnaan dan pendayagunaan aparatur negara baik dari segi
kelembagaan, ketatalaksanaan maupun kepegawaiannya.
Oleh karena itu, agar instrumen ini dapat berjalan sesuai yang diharapkan,
dibutuhkan dukungan dan kesepakatan yang kuat dari semua pihak terutama
pimpinan daerah untuk melaksanakannya secara konsisten.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Konversi NIP 38

VIII. KONVERSI NIP
A. PENGANTAR
Sebagaimana diketahui, bahwa NIP PNS yang lama dianggap sudah tidak sesuai lagi
dengan kaidah dan kondisi serta mobilitas operasional kepegawaian. Untuk
ketertiban dan keteraturan serta pengandalian administrasi PNS, maka setiap PNS
harus diberi Nomor Identitas baru. Dimana, Nomor identitas baru tersebut haruslah
bermakna yg dapat mencerminkan ciri khusus dan fungsinya, sehingga nomor yg
digunakan tersebut memiliki jati diri dan nilai guna serta bermanfaat baik bg instansi
maupun pegawainya.
NIP lama yang digunakan terdiri dari 9 angka yaitu 2 angka pertama menunjukan
Instansi dimana PNS yang bersangkutan terdaftar pada waktu PUPNS Tahun 1974
atau Instansi yang mengangkat pertama kali sebagai CPNS/PNS. Dengan demikian
kode instansi hanya bisa diberikan dari angka 01 sampai dengan angka 99.
Sedangkan 7 angka berikutnya menunjukan nomor urut PNS yang bersangkutan
pada Instansi.
Dengan perkembangan administrasi Kepegawaian PNS dewasa ini, maka prinsip 2
angka pertama yang menunjukan Instansi tersebut, sudah tidak sesuai dengan
prinsip-prinsip manajemen PNS, karena :
1) Sistem kepegawaian yang memungkinkan seorang PNS pindah Instansi, dan
apabila PNS yang bersangkutan pindah instansi maka NIP yang bersangkutan
tetap menggunakan NIP pada instansi waktu pertama yang bersangkutan
diangkat dan tidak menggunakan kode NIP Instansi yang baru,
2) Telah beberapa kali terjadi penghapusan/penggabungan Instansi sejak orde
baru sampai dengan orde reformasi, sehingga NIP PNS yang instansinya
dihapus/digabung tetap menggunakan kode instansi yang dihapus/digabung,
3) Dengan adanya pengalihan besar-besaran PNS Pusat menjadi PNS Daerah pada
Tahun 2000 dan 2001, sehingga setiap Pemerintah Daerah telah memiliki PNS
dengan kode NIP yang bermacam-macam.
Terkait dengan hal tersebut diatas, telah mempengaruhi psikologis pembinaan
disetiap instansi karena tidak jarang dijumpai perlakuan diskriminatif dengan
melihat asal Instansi ( kode instansi yang tercantum dalam NIP ),
4) Perkembangan pembentukan instansi/ pemerintah daerah yang memerlukan
kode NIP telah melebihi 100 instansi, padahal ketentuannya hanya mampu
menampung 99 instansi ( 01 :DDN s.d. 99 : Irian Jaya Barat).
Dari alasan-alasan tersebut, maka telah ditetapkan Peraturan Kepala BKN Nomor 22
Tahun 2007 tentang Nomor Identitas PNS yang disingkat NIP, dan Peraturan Kepala
BKN Nomor 43 Tahun 2007 tentang Tata cara Permintaan, Penetapan dan
Penggunaan NIP, ke dua Peraturan Kepala BKN ini telah merubah ketentuan lama
yang mengatur nomor induk PNS yang berlaku selama ini dirubah menjadi nomor
identitas PNS.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Konversi NIP 39

B. DASAR HUKUM
1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999
2) Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai
Negeri Sipil sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11
Tahun 2002
3) Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 22 Tahun 2007
Tentang Nomor Identitas Pegawai Negeri Sipil
4) Peraturan Kepala BKN Nomor 43 Tahun 2007 tentang Tata cara Permintaan,
Penetapan dan Penggunaan NIP.
C. PENGERTIAN
1) Nomor Identitas Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat dengan NIP
adalah nomor yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil sebagai identitas
yang memuat tahun, bulan, dan tanggal lahir, tahun dan bulan pengangkatan
pertama sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil, jenis kelamin Pegawai Negeri
Sipil dan nomor urut.
2) Mutasi kepegawaian adalah segala perubahan mengenai data Calon Pegawai
Negeri Sipil/Pegawai Negeri Sipil yang berkaitan dengan pengangkatan,
pemindahan, pemberhentian, pemensiunan dan perubahan susunan keluarga
serta perubahan lain di bidang kepegawaian.
3) Pendataan Ulang Pegawai Negeri Sipil yang untuk selanjutnya disingkat
PUPNS adalah pemutakhiran data kepegawaian yang diselenggarakan oleh
Pemerintah pada bulan Juli 2003 yang dijadikan sebagai bahan dalam
penetapan NIP.
4) Digit adalah letak angka pada bilangan.
D. KONVERSI NIP BARU PNS
1) NIP terdiri atas 18 (delapan belas) digit, dengan urutan sebagai berikut :
a. 8 (delapan) digit pertama adalah angka pengenal yang menunjukkan
tahun, bulan, dan tanggal lahir Calon Pegawai Negeri Sipil/Pegawai
Negeri Sipil yang bersangkutan, dengan ketentuan untuk bulan dan
tanggal lahir masing-masing dua digit.
b. 6 (enam) digit berikutnya adalah angka pengenal yang menunjukkan
tahun dan bulan pengangkatan pertama sebagai Calon Pegawai Negeri
Sipi/Pegawai Negeri Sipil, dengan ketentuan untuk bulan pengangkatan
pertama dua digit.
c. 1 (satu) digit berikutnya adalah angka pengenal yang menunjukkan jenis
kelamin CPNS/PNS yang bersangkutan.
d. 3 (tiga) digit terakhir adalah angka pengenal yang menunjukkan nomor
urut Calon Pegawai Negeri Sipil/Pegawai Negeri Sipil.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Konversi NIP 40

2) Penentuan nomor urut didasarkan tahun, bulan, dan tanggal lahir, tahun dan
bulan pengangkatan pertama sebagai CPNS/PNS, & jenis kelamin yang sama.
3) Setiap PNS termasuk Calon Pegawai Negeri Sipil diberikan NIP.
4) NIP berfungsi sebagai nomor identitas dalam hal :
a. pembinaan karier Pegawai Negeri Sipil;
b. pelayanan gaji;
c. pelayanan pensiun;
d. pelayanan asuransi sosial;
e. pelayanan tabungan;
f. pengelolaan administrasi kepegawaian; dan
g. pelayanan lain yang bermanfaat bagi Pegawai Negeri Sipil.
5) NIP ditetapkan oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara.
6) NIP berlaku selama yang bersangkutan menjadi PNS, pensiunan PNS, atau
janda/dudanya.
7) NIP berlaku juga bagi keluarga yang menjadi tanggungan PNS dan penerima
pensiun serta orangtua penerima pensiun PNS yang tewas.
8) PNS yang pindah antar instansi pemerintah atau diperbantukan/dipekerjakan
atau ditugaskan kepada instansi lain tetap menggunakan NIP yang telah
ditetapkan baginya.
9) NIP bagi PNS yang telah mengisi formulir PUPNS dan yang diangkat setelah
PUPNS sampai dengan berlakunya Peraturan Kepala Badan Kepegawaian
Negara ini, data dasarnya ditetapkan berdasarkan data lahir dalam keputusan
pengangkatan pertama sebagai CPNS/PNS.
10) PNS yang tidak mengisi formulir PUPNS karena alasan yang sah, NIP
ditetapkan setelah ada permintaan dari Pejabat Pembina Kepegawaian
masing-masing.
11) Permintaan NIP sebagaimana dimaksud, dilengkapi dengan :
a. Daftar nominatif;
b. Formulir PUPNS yang telah diisi oleh PNS yang bersangkutan;
c. Alasan tidak mengisi formulir PUPNS; dan
d. Daftar gaji kolektif bulan terakhir sebelum diajukan permintaan.
12) Pemberian NIP bagi PNS sebagaimana dimaksud diatas, ditetapkan secara
kolektif dengan Keputusan Kepala BKN. Berdasarkan Keputusan tersebut
dibuat Petikan Keputusan yang diberikan kepada setiap PNS.
13) Dalam hal permintaan NIP hanya diajukan untuk 1 (satu) orang Pegawai
Negeri Sipil, ditetapkan secara perorangan dengan Keputusan Kepala BKN.
14) Keputusan penetapan NIP sebagaimana diatas, disampaikan kepada Pejabat
Pembina Kepegawaian masing-masing.
15) Pejabat Pembina Kepegawaian menyampaikan petikan keputusan/keputusan
penetapan NIP kepada setiap PNS di lingkungannya.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Konversi NIP 41

E. KETENTUAN PERALIHAN DAN LAINNYA
1) CPNS yang diangkat setelah berlakunya Peraturan Kepala BKN ini, NIP CPNS
ditetapkan bersamaan dengan permintaan penetapan NIP pengangkatannya
sebagai CPNS.
2) Nomor Induk PNS bagi pensiunan PNS dan janda/dudanya yang ditetapkan
berdasarkan ketentuan sebelum berlakunya peraturan Kepala BKN ini,
dinyatakan tetap berlaku.
3) Dalam setiap terjadi mutasi kepegawaian yang ditetapkan oleh Pejabat yang
berwenang, harus mencantumkan NIP sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Kepala BKN ini.
4) Pada saat mulai berlakunya Perka BKN Nomor 22 Tahun 2007, ketentuan
yang mengatur tentang Nomor Induk/Nomor Identitas PNS dan angka
pengenal Nomor Induk/Nomor Identitas PNS yang ditetapkan sebelum
berlakunya Peraturan Kepala BKN ini, dinyatakan masih tetap berlaku sampai
dengan Peraturan Kepala BKN ini berlaku efektif.
F. PENYELESAIAN REVISI KONVERSI NIP PNS
1) Kondisi riil sampai dengan saat ini masih terdapat beberapa PNS yang Data
pada petikan SK Konversi NIP baru belum sesuai dengan data kepegawaian
yang bersangkutan.
2) Akan tetapi, sampai dengan usulan revisi konversi NIP yang telah diajukan
baik kepada BKN Pusat ataupun Kanreg I BKN Yogyakarta pada tahun ini,
masih terdapat beberapa PNS yang usulan revisi Konversi NIP barunya masih
belum terealisasi.
3) Berkenaan dengan beberapa poin diatas, Mekanisme usulan revisi Konversi
NIP dan konfirmasi revisi Konversi NIP yang sudah pernah diajukan adalah
sebagaimana Surat edaran Kepala BKD Nomor 871/151/13/2011 Tanggal 22
Pebruari 2011 Perihal : Percepatan Penyelesaian Konversi NIP PNS, yaitu :
a. a. a. a. PNS PNS PNS PNS Yang Belum Mendapatkan Petikan Yang Belum Mendapatkan Petikan Yang Belum Mendapatkan Petikan Yang Belum Mendapatkan Petikan SK SK SK SK Konversi Nip Baru. Konversi Nip Baru. Konversi Nip Baru. Konversi Nip Baru.
Setiap usulan permohonan petikan SK Konversi NIP Baru, dilampiri :
i. Fotocopy SK CPNS
ii. Fotocopy SK PNS
iii. Fotocopy SK Kepangkatan terakhir
iv. Fotocopy Ijazah Terakhir
v. Fotocopy SK Mutasi masuk ke Pemerintah Kabupaten Magelang (bagi
PNS yang mutasi antar daerah)
vi. Fotocopy SK Pengalihan dan/atau pengangkatan pertama dan/atau
pengangkatan kembali dalam Jabatan Fungsional Khusus (bagi PNS
yang alih jenis jabatan)
vii. Fotocopy SK kenaikan jenjang dalam JFK terakhir (bagi PNS yang dalam
jenjang jabatan fungsional khususnya masa Batas Usia Pensiunnya
menjadi lebih dari 56 tahun)
viii. Fotocopy daftar gaji 3 (tiga) bulan terakhir.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Konversi NIP 42

b. b. b. b. Usulan Revisi Konversi Nip Baru Usulan Revisi Konversi Nip Baru Usulan Revisi Konversi Nip Baru Usulan Revisi Konversi Nip Baru
Setiap usulan revisi SK Konversi NIP, dilampiri dengan :
i. Fotocopy SK CPNS
ii. Fotocopy SK PNS
iii. Fotocopy SK Kepangkatan terakhir
iv. Fotocopy Ijazah Terakhir (bagi PNS yang mengajukan revisi Nama
dan/atau tanggal lahir)
c. c. c. c. Konfirmasi Usulan Revisi Konversi Nip Konfirmasi Usulan Revisi Konversi Nip Konfirmasi Usulan Revisi Konversi Nip Konfirmasi Usulan Revisi Konversi Nip
Setiap usulan revisi SK Konversi NIP bagi PNS yang sudah pernah
mengajukan tetapi sampai dengan saat ini belum mendapatkan
realisasinya, dilampiri dengan :
i. Fotocopy SK CPNS
ii. Fotocopy SK PNS
iii. Fotocopy SK Kepangkatan terakhir
iv. Fotocopy Ijazah Terakhir (bagi PNS yang mengajukan revisi Nama
dan/atau tanggal lahir)
d. d. d. d. Catatan : Catatan : Catatan : Catatan :
i. Dalam hal BKN Pusat maupun Kanreg 1 BKN Yogyakarta
memerlukan adanya tambahan berkas/dokumen kelengkapan
tambahan, PNS yang bersangkutan atau SKPD yang mengusulkan
akan segera dikonfirmasi untuk dapat menyusulkan kekurangan
berkas/dokumen tersebut.
ii. Pada kondisi data tertentu, usulan revisi Konversi NIP memerlukan
adanya pengisian Formulir PUPNS baru, karena data yang
bersangkutan dinyatakan sudah pensiun atau tidak aktif oleh BKN
Pusat.
4) Sesuai dengan Perka BKN yang mengatur adanya pelimpahan wewenang,
kewenangan melaksanakan revisi dan cetak Petikan SK Konversi NIP, adalah :
a. Revisi Tanggal Lahir dan Mutasi Antar Wilayah di luar wilayah kerja
Kanreg 1 BKN Yogyakarta (Revisi Instansi/Unit Kerja)
i. Revisi Tanggal Lahir dan Revisi Instansi/Unit Kerja dilaksanakan
oleh BKN Pusat.
ii. Cetak Petikan revisi SK Konversi NIP dilaksanakan oleh Kanreg 1
BKN Yogyakarta.
b. Revisi TMT CPNS, Jenis Kelamin, dan Nama, serta Mutasi Antar Wilayah
dalam lingkup wilayah kerja Kanreg 1 BKN Yogyakarta (Revisi
Instansi/Unit Kerja)
i. Revisi Konversi NIP dilaksanakan oleh Kanreg 1 BKN Yogyakarta.
ii. Cetak Petikan revisi SK Konversi NIP dilaksanakan oleh Kanreg 1
BKN Yogyakarta.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kartu PNS Elektronik (KPE) 43

IX. KARTU PNS ELEKTRONIK (KPE)
A. SEJARAH
BKN sebagai pelaksana tugas pemerintahan di bidang manajemen kepegawaian
negara sebagaimana diamanatkan dalam UU 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian, mempunyai peranan penting untuk meningkatkan kinerja Pegawai
Negeri Sipil (PNS) dalam menjalankan tugas pemerintahan dan pembangunan.
Untuk meningkatkan kinerja PNS tersebut diperlukan kegiatan yang dapat
memotivasi PNS agar bekerja lebih baik dengan meningkatkan pelayanan di bidang
kepegawaian. Pemberian pelayanan yang baik sangat tergantung pada keakuratan
data PNS dan perlu dibangun sistem informasi dan database kepegawaian melalui
kegiatan Pendataan Ulang Pegawai Negeri Sipil (PUPNS) pada tahun 2003 dan
kegiatan konversi NIP dalam rangka keakuratan dan efektifitas informasi data
kepegawaian dengan memanfaatkan teknologi informasi terkini.
Selain pengaturan administrasi PNS agar tertib dan teratur, maka PNS selaku
aparatur negara memiliki tanggung jawab dalam mengemban pelayanan masyarakat
sebagai kepanjangan tangan pemerintah. Tugas dan tanggung jawab tersebut akan
berdaya guna dan berhasil guna jika secara menyeluruh dan konsisten adanya
dukungan layanan kepegawaian yang bermanfaat yang dilaksanakan secara
komprehensif dan terpadu, sehingga PNS dan keluarganya merasakan layanan
kepada dirinya dan keluarganya sudah lebih diperhatikan.
Sebagai contoh, selama ini Kartu Pegawai Negeri Sipil (KARPEG) yang berlaku belum
dapat dimanfaatkan untuk kemudahan pemberian pelayanan secara multiguna
kepada PNS, Penerima Pensiun, dan keluarganya. Untuk itu, BKN memandang perlu
membangun sistem layanan yang lebih efesien dengan menfaatkan teknologi
informasi. Sehingga, diciptakan Kartu PNS Elektronik (KPE) yaitu kartu identitas PNS
yang menggunakan teknologi smartcard dan otentifikasi sidik jari, sehingga selain
sebagai identitas, KPE juga dapat dimanfatkan untuk berbagai layanan seperti
perbankan, kesehatan, Taspen, Taperum, dan aktivitas transaksi merchant, serta
fungsi-fungsi lain dalam rangka meningkatkan kesejahteraan, serta mendukung
profesionalisme PNS. Dengan demikian KPE ini nantinya akan menggantikan fungsi
KARPEG yang selama ini kita gunakan.
B. DASAR HUKUM
1) UU No. 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian Pasal 12 Ayat (2) yaitu
mewujudkan PNS yang profesional dan sejahtera serta memiliki misi yaitu
menyelenggarakan manajemen PNS berbasis kompetensi untuk mewujudkan PNS
yang profesional dan sejahtera.
2) Peraturan Kepala BKN Nomor 22 Tahun 2007 tentang Nomor Identitas PNS.
3) Peraturan Kepala BKN Nomor 43 Tahun 2007 tentang Tata Cara Permintaan,
Penetapan dan Penggunaan Nomor Identitas PNS.
4) Peraturan Kepala BKN Nomor 7 Tahun 2008 tentang Kartu PNS Elektronik.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kartu PNS Elektronik (KPE) 44

C. TUJUAN
Tujuan diterbitkannya Kartu PNS Elektronik adalah untuk memudahkan pelayanan
kepada PNS, penerima pensiun PNS dan Keluarganya. Di sisi lain dalam
implementasinya Pencetakan KPE ini bertujuan untuk :
1) Mendapatkan data biometric fisik PNS yang akurat untuk keperluan
perencanaan, pengembangan dan kesejahteraan PNS.
2) Membangun database KPE yang memiliki tingkat keotentikan dan identifikasi
yang tinggi sehingga menghasilkan data dan informasi yang akurat.
3) Mewujudkan Data Kepegawaian yang mutakhir di Instansi Pusat maupun
Daerah yang terintegrasi secara nasional dalam sistem informasi kepegawaian
yang dapat diakses oleh PNS bersangkutan melalui Anjungan KPE
4) Memberikan fasilitas multifungsi layanan kepada PNS yang lebih efektif dan
efesien melalui penggunaan Kartu PNS Elektronik.
D. MANFAAT
Manfaat yang diperoleh dari KPE adalah memberikan kemudahan dalam layanan
kepada PNS meliputi :
1) Gaji;
2) Kesehatan;
3) Pensiun;
4) Tabungan hari tua;
5) Tabungan perumahan;
6) Transaksi keuangan/perbankan; dan
7) Layanan lainnya.
Disamping itu dalam pelaksanaan kegiatan Implementasi Kartu PNS Elektronik juga
mendapatkan manfaat antara lain :
1) Mempermudah dalam pelaksanaan pembangunan platform elektronik yang
mendukung pelaksanaan e-Government sebagai media pencatatan,
pengawasan dan kontrol serta dapat diintegrasikan dengan layanan sektor
yang lainnya.
2) Tersedianya informasi PNS yang akurat untuk keperluan perencanaan,
pengembangan, kesejahteraan dan pengendalian PNS, dan informasi data
kepegawaian PNS dapat diakses oleh PNS bersangkutan melalui KPE dan
Anjungan KPE.
3) Tersedianya fasilitas layanan dalam rangka penanganan dan pengelolaan KPE
serta pengendalian data PNS.
4) Tersedianya acuan data PNS bagi instansi dan pihak yang terkait dalam
rangka peningkatan layanan kepegawaian secara efektif, efisien dan terpadu,
seperti layanan pembayaran gaji, asuransi kesehatan, tabungan pensiun,
tabungan perumahan, dsb.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kartu PNS Elektronik (KPE) 45

E. BENTUK DAN WARNA
Gambar 1. Desain Tampak Muka KPE Gambar 2. Desain Tampak Belakang KPE

KPE dibuat dengan warna dasar kuning dalam bentuk persegi panjang dengan ukuran
sebagai berikut :
1) Panjang 85,60 mm
2) Lebar 53,98 mm
3) Tebal 0,7 mm
Bagian depan KPE berlatar belakang peta wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang diatasnya terdapat :
1) Gambar burung Garuda Pancasila
2) Tulisan BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA
3) Tulisan KARTU PNS ELEKTRONIK (KPE)
4) Microchip warna kuning emas
5) Nama, NIP, dan foto pemilik KPE
Tempat dan tanggal ditetapkannya KPE. Dalam microchip memuat data elektronik pemilik
KPE antara lain : data kepegawaian, sidik jari, data keluarga , nama jabatan.
Aplikasi yang dibangun dlm KPE ini digunakan untuk mengakses informasi tentang :
1) Tabungan Perumahan
2) Asuransi Kesehatan
3) Tabungan Hari Tua dan Pensiun
4) Keuangan/Perbankan
5) Fasilitas layanan lainnya Bagian Belakang KPE memuat :
a. Logo dari pihak-pihak yang terkait program KPE
b. Magnetic Stripe ( Swipe Contact)
c. Pengumuman atau himbauan berkaitan dengan KPE
d. Tulisan BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA (BKN), alamat, dan nomor telp.
F. MEKANISME PENGAJUAN REVISI KPE
1) Data yang tercantum pada Petikan SK Konversi NIP harus sudah Benar.
2) Setiap usulan revisi KPE, harus dilampiri dengan :
a. Fotocopy Petikan SK Konversi NIP
b. Fotocopy SK CPNS
c. Fotocopy SK PNS
d. Fotocopy SK Kepangkatan terakhir
e. Fotocopy Ijazah Terakhir (bagi PNS yang mengajukan revisi Nama dan/atau
tanggal lahir)
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Dokumen Tata Naskah Kepegawaian 46

X. DOKUMEN TATA NASKAH KEPEGAWAIAN
A. PENGERTIAN
1) Tata naskah kepegawaian adalah sistem penyimpanan dan pemeliharaan
surat / keputusan di bidang kepegawaian yang dikeluarkan/ditetapkan oleh
pejabat yang berwenang yang disusun secara teratur, tertib, dan terus
menerus dalam media yang ditetapkan sesuai dengan keperluan.
2) Jadwal Retensi Arsip adalah Daftar sebagaimana dimaksud Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 34 Tahun 1979, Pasal 4 ayat 3, yaitu
daftar berisi sekurang-kurangnya jenis arsip beserta jangka waktu
penyimpanannya sesuai dengan nilai kegunaannya dan dipakai sebagai
pedoman penyusutan arsip
3) Berkas Perseorangan adalah arsip yang tercipta dalam rangka perjalanan
karier orang perseorangan, pegawai di Lembaga-lembaga Negara dan Badan-
badan Pemerintah
4) Arsip Dokumentasi Kepegawaian adalah informasi mengenai perkembangan
karier Pegawai Negeri Sipil yang disusun berdasarkan Arsip Dokumentasi
Kepegawaian dari instansi yang bersangkutan
5) Jadwal Retensi Arsip Kepegawaian PNS dan Pejabat Negara, merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan. Digunakan sebagai pedoman penyusutan
arsip yang berkaitan dengan Arsip Kepegawaian PNS dan Pejabat Negara di
lingkungan Lembaga-lembaga Negara dan Badan-badan Pemerintah Pusat
dan Daerah.
B. DASAR HUKUM
1) UU No. 7 Tahun 1971 tentang ketentuan-ketentuan pokok kearsipan
2) Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1979 Tentang Arsip
3) Keputusan Bersama Kepala ARNAS dan Kepala BAKN No. 02 Tahun 2000
dan No. 22 Tahun 2000 tentang Jadwal Retensi Arsip Kepegawaian Pegawai
Negeri Sipil dan Pejabat Negara.
C. PENGELOLAAN ARSIP KEPEGAWAIAN
Dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pentingnya dokumen/berkas tata naskah /
arsip Kepegawaian PNS sebagai salah satu sumber informasi manajemen
kepegawaian yang dapat membentuk citra positif arsip/tata naskah kepegawaian.
Fungsi ketersediaan dokumen tata naskah kepegawaian antara lain sebagai:
1) Bukti fisik yang disusun secara kronologis sejak seorang PNS menjadi pegawai
sampai dengan purna tugas
2) Instrumen yuridis jika terjadi sengketa pegawai
3) Bukti akuntabilitas kinerja instansi pemerintah
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Dokumen Tata Naskah Kepegawaian 47

Dalam rangka menyusun dokumen tata naskah kepegawaian yang baik, setiap
pengelola arsip kepegawaian, diharapkan perlu :
1) Menjaga kerapihan penyimpanan;
2) Menjaga kebersihan tempat penyimpanan;
3) Menjadi Petugas yang terampil dan terdidik;
4) Menciptakan sistem arsip yang mudah dalam penyimpanan dan mudah
menemukan kembali;
5) Menjaga keamanan arsip, melaksanakan fumigasi, dan lainnya sebagaimana
ketentuan pengamanan dokumen arsip umum/lainnya.
Pengelolaan dokumen / berkas tata naskah (takah) PNS, hendaknya, dilaksanakan
secara konvensional maupun elektronik. Saat ini Di BKD sedang dilaksanakan
penataan ulang tata naskah (takah) seluruh Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan
Pemerintah Kabupaten Magelang.Takah-takah yang berisi dokumen dan arsip
kepegawaian masing-masing PNS yang disusun berdasarkan urutan tertentu dan
nomor urutan tersebut di-entry-kan/dikoneksikan dengan database kepegawaian
untuk mempermudah pencarian dan penyusunan katalog takahnya.
D. JENIS ARSIP KEPEGAWAIAN
1) Formasi Pegawai
2) Penerimaan Pegawai, meliputi : Pengumuman, Seleksi administrasi,
Pemanggilan peserta test, Pelaksanaan ujian tertulis, Keputusan hasil ujian,
Wawancara/Litsus, Penetapan Tahap akhir
3) Pengangkatan Pegawai, meliputi :
a. Usulan Pengangkatan CPNS/PNS, yaitu : Berkas lamaran diterima, Surat
Keterangan hasil penelitian/screening, Berkas usulan CPNS/PNS
b. SK Kolektif
c. SK Perseorangan
4) Pembinaan Karir Pegawai :
a. Diklat/Kursus/Magang/Tugas Belajar/Ujian Dinas/Izin Belajar Pegawai,
meluputi : Surat Perintah/Surat Tugas/SK/Surat Izin, Laporan Kegiatan,
STTPL Diklat
b. Peninjauan Masa Kerja
c. DP3
d. Penetapan Angka Kredit
e. Disiplin Pegawai : Daftar Hadir, Rekap Hadir, Catatan Pelanggaran.
5) Penyelesaian Pengelolaan Keberatan Pegawai
6) Mutasi Pegawai, meliputi :
a. Alih Tugas / Diperbantukan / Dipekerjakan, yaitu : Usulan, Nota
Persetujuan
b. Mutasi Keluarga (Nikah, Anak, Cerai), yaitu : Surat Nikah/Cerai, Akte
Kelahiran Anak
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Dokumen Tata Naskah Kepegawaian 48

c. Kenaikan Gaji Berkala
d. Kenaikan Pangkat/Golongan/Jabatan
e. Pengangkatan dan Pemberhentian dalam Jabatan Struktural/Fungsional
7) Administrasi Pegawai
a. Surat Perintah/Surat Tugas/SK Perjalanan Dinas (DN dan LN)
b. Dokumentasi Identitas Pegawai, meliputi : Pembuatan Karpeg, Karis/Karsu
dan Bukti diri/NIP, Taspen, Keanggotaan organisasi, Profesi Kedinasan
(KORPRI,Dharma Wanita,Koperasi, MSI, Arsiparis, dll), Keanggotaan
Parpol/LSM ORMAS/KP4/LP2P
c. Cuti Diluar Tanggungan Negara; dan Cuti lainnya.
8) Kesejahteraan Pegawai, meliputi : Layanan Beras/Pakaian Dinas; Layanan
Pemeliharaan; Kesehatan Pegawai; Layanan Asuransi Pegawai; Layanan
Tabungan; Perumahan; Bantuan Dinas/Layanan Bantuan Sosial; Layanan
Olahraga dan Rekreasi.
9) Proses Pemberhentian Pegawai/Pensiun
10) Keputusan Pemberhentian Pegawai/Pensiun
11) Perselisihan/Sengketa Kepegawaian
12) Pemberian Tanda Jasa/Penghargaan
13) Data Kepegawaian
14) Dokumentasi Kepegawaian
15) Berkas Perorangan Pegawai Negeri Sipil
E. KELENGKAPAN DOKUMEN TATA NASKAH KEPEGAWAIAN
PERSEORANGAN
1) Lamaran
2) Nota Persetujuan Kepala BKN (Persetujuan NIP)
3) Pengangkatan CPNS, terdiri atas : SK dan Pernyataan melaksanakan tugas;
4) Hasil Pengujian Kesehatan;
5) Pengangkatan PNS, terdiri atas : SK PNS dan Berita Acara Sumpah/janji PNS;
6) Daftar Riwayat Hidup;
7) Kartu Pegawai (KARPEG);
8) Kartu istri/Suami (KARIS/KARSU);
9) Kartu Peserta Taspen;
10) Kartu Pegawai Elektronik (KPE);
11) Tanda Peserta Asuransi, terdiri atas : Kartu Peserta dan keluarga Askes;
12) Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP 3) dari pertama sampai terakhir;
13) Kenaikan Gaji Berkala dari pertama sampai dengan terakhir;
14) Surat Pengangkatan/Pemberhentian ke/dari Jabatan (Struktural/Fungsional):
a. Surat Pernyataan Pelantikan.
b. Surat Pernyataan Menduduki Jabatan.
c. Berita Acara, Naskah Pelantikan, Surat Pernyataan Pelantikan, dsb.
d. SK/Petikan SK Pengangkatan / Pemberhentian Jabatan Struktural /
Fungsional
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Dokumen Tata Naskah Kepegawaian 49

15) Surat Keputusan Kenaikan Pangkat mulai dari pertama sampai terakhir;
16) Surat Keputusan Hukuman Disiplin dan Berita Acara Pemeriksaan;
17) Surat Keterangan Hasil Penelitian Khusus;
18) Surat Keputusan Peninjauan Masa Kerja;
19) Perbantuan pada Instansi lain, terdiri : SK Perbantuan Kepala Daerah
Otonom/Instansi Lain dan SK Penarikan kembali dari perbantuan.
20) Surat Keputusan dipekerjakan pada Instansi;
21) Surat Keputusan Perpindahan Wilayah Kerja;
22) Surat Keputusan Perpindahan Antar Instansi;
23) Surat Keputusan tanda Kehormatan/jasa/Penghargaan;
24) Surat Keputusan Cuti Di Luar Tanggungan Negara (CLTN) dan SK
Persetujuan/Penugasan Kembali Cuti diluar Tanggungan Negara;
25) Salinan Ijazah Pendidikan Umum /Kedinasan/ Kursus dalam dan Luar Negeri :
a. Pendidikan Umum dari tingkat terendah sampai dengan terakhir
b. Pendidikan /Latihan Struktural yang pernah diikuti
c. Pendidikan/latihan Fungsional (diisi sesuai diklat yang sudah di ikuti);
d. Pendidikan/Latihan Teknis (diisi sesuai diklat teknis yang sudah di ikuti);
26) Surat Tugas/ijin Belajar Dalam/Luar Negeri;
27) Data / Mutasi keluarga PNS, yang terdiri dari : Laporan Perkawinan, Laporan
Kelahiran Anak, Surat Kematian Istri/Suami/Anak, Surat Izin
Perceraian/Perkawinan, Surat Keputusan Penggantian Nama;
28) Pemberhentian dari & Pengangkatan kembali dalam jabatan organik, terdiri :
a. SK Pembebasan dari Jabatan Organik karena menjadi Pejabat Negara,
b. SK Pengangkatan Pemberhentian Sebagai Pejabat Negara,
c. Izin Menjadi anggota Partai Politik,
d. Penolakan Permintaan izin menjadi anggota Partai Politik,
e. Pencabutan izin menjadi anggota Partai Politik,
f. Pengaktifkan kembali dari pemberhentian sementara;
29) Laporan dan Surat Peningkatan Pendidikan/kursus;
30) Inpassing bagi gaji maupun jabatan;
31) Penetapan Angka Kredit/fungsional;
32) Pas foto berwarna ukuran 4 x 6 cm 2 (dua) lembar;
33) Nomor Pokok Wajib Pajak PNS;
34) Surat Ijin Bepergian ke Luar Negeri
35) SK Pernyataan Hilang dan SK Kembalinya PNS yang Dinyatakan Hilang;
36) SK Meninggal Dunia/Hilang;
37) Surat Keputusan Pemberhentian Sementara/uang tunggu;
38) Surat Keputusan Pemberhentian Pensiun atau SK Pemberhentian sebagai PNS;
F. JADWAL RETENSI ARSIP KEPEGAWAIAN PNS DAN PEJABAT NEGARA
Jadwal Retensi Arsip Kepegawaian PNS dan Pejabat Negara adalah sebagaimana
tercantum dalam lampiran Keputusan Bersama Kepala ANRI dan Kepala BKN No. 02
Tahun 2000 dan No. 22 Tahun 2000 tentang Jadwal Retensi Arsip Kepegawaian
Pegawai Negeri Sipil dan Pejabat Negara.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Buku Penjagaan Administrasi Kepegawaian 50

XI. BUKU PENJAGAAN ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
1) Daftar Kepemilikan Kartu Tunjangan Pensiun (TASPEN)
2) Daftar Nama Pejabat Struktural
3) Daftar Nama Pejabat Fungsional
4) Daftar Cuti Pegawai Negeri Sipil
5) Buku Penjagaan Kenaikan Pangkat (KP) Pegawai Negeri Sipil (PNS)
6) Buku Penjagaan Kenaikan Gaji Berkala (KGB) Pegawai Negeri Sipil (PNS)
7) Daftar Kepemilikan Kartu Istri / Suami (KARIS / KARSU)
8) Daftar Kepemilikan Kartu Pegawai Negeri Sipil (KARPEG)
9) Daftar Kepemilikan Kartu Asuransi Kesehatan (ASKES)
10) Daftar Urut Kepangkatan (DUK) Pegawai Negeri Sipil (PNS) Daerah
11) Buku Catatan Pensiun dan Realisasinya
12) Buku Catatan Pelanggaran Disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS)
13) Buku Daftar Pegawai yang Mengikuti Diklat
14) Buku Daftar Pegawai yang Mengikuti Tugas Belajar
15) Buku Daftar Pegawai yang Mengikuti Tugas - Tugas Lainnya
16) Buku Induk Pegawai Negeri Sipil (PNS)

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengadaan Pegawai Negeri Sipil 51

XII. PENGADAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL
A. PENGERTIAN
Dalam penjelasan PP 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan PNS, dijelaskan bahwa :
Pengadaan Pegawai Negeri Sipil adalah untuk mengisi formasi yang lowong.
Lowongannya formasi dalam suatu organisasi pada umumnya disebabkan oleh dua
hal, yaitu adanya Pegawai Negeri Sipil yang berhenti, pensiun dan meninggal dunia
atau adanya perluasan organisasi
Karena pengadaan Pegawai Negeri Sipil adalah untuk mengisi formasi yang lowong,
maka Pengadaan dilaksanakan atas dasar kebutuhan, baik dalam arti jumlah dan
mutu pegawai maupun kompetensi jabatan yang diperlukan.
Pengadaan PNS harus didasarkan atas syarat-syarat objektif yang telah ditentukan,
dan tidak boleh didasarkan atas jenis kelamin, suku, agama, ras, golongan atau
daerah.
B. DASAR HUKUM
1) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 tahun 1999
2) PP Nomor 98 Tahun 2000 Tentang Pengadaan PNS, sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002
3) Keputusan kepala BKN Nomor 11 Tahun 2002 Tanggal 17 Juni 2002
4) Peraturan MENPAN dan RB Nomor 197 Tahun 2012 Tentang Kebijakan
Pengadaan CPNS Bagi Jabatan Yang Dikecualikan Dalam Penundaan
Sementara Penerimaan CPNS.
5) Peraturan Kepala BKN Nomor 9 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil
C. PERENCANAAN, PENGUMUMAN, PERSYARATAN DAN PELAMARAN
Dalam lampiran 1 Keputusan Kepala BKN Nomor 11 Tahun 2002,
disebutkan bahwa :
1. Perencanaan
Perencanaan pengadaan Pegawai Negeri Sipil, antara lain meliputi:
1) Penjadwalan kegiatan, antara lain meliputi:
a. Inventarisasi lowongan jabatan yang telah ditetapkan dalam formasi
serta syarat jabatannya
b. Pengumuman akan dilaksanakannya pengadaan PNS
c. Penyiapan materi ujian
d. Penyiapan sarana dan prasarana yang diperlukan
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengadaan Pegawai Negeri Sipil 52

e. Pelamaran
f. Pelaksanaan penyaringan
g. Pengangkatan menjadi CPNS sampai pengangkatan menjadi PNS
2) Penghitungan Biaya
Dalam perencanaan pengadaan PNS selain harus memperhitungkan
penyediaan anggaran gajinya, juga sekaligus diperhitungkan biaya yang
diperlukan untuk menyelenggarakan pengadaan PNS.
Perencanaan pengadaan PNS dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian.
Pengadaan PNS hanya diperkenankan dalam batas formasi yang telah
ditetapkan dengan memprioritaskan:
1) Pegawai pelimpahan/penarikan dari Departemen/LPND/Pemerintah
Daerah yang kelebihan pegawai
2) Siswa / mahasiswa ikatan dinas setelah lulus dari pendidikannya
3) Tenaga medis dan paramedis yang telah selesai melaksanakan masa bakti
sebagai pegawai tidak tetap
2. Pengumuman
Setiap kegiatan pengadaan pegawai harus diumumkan seluas-luasnya melalui media
masa yang tersedia dan atau bentuk lainnya yang mungkin digunakan sehingga
kegiatan tersebut diketahui umum. Disamping itu untuk memberikan kesempatan
yang luas kepada setiap WNI untuk mengajukan lamaran, juga memberikan lebih
banyak kemungkinan bagi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah untuk memilih
calon PNS yang cakap dalam melaksanakan tugas yang akan dibebankan kepadanya.
Pengumuman tersebut harus dilakukan selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari
sebelumnya tanggal penerimaan lamaran. Dalam pengumuman tersebut
dicantumkan antara lain:
1) Jumlah dan jenis jabatan yang lowong
2) Kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan
3) Syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar
4) Alamat dan tempat lamaran diajukan
5) Batas waktu pengajuan lamaran
6) Waktu dan tempat seleksi
7) Lain - Lain yang dipandang perlu.
3. Persyaratan
Syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar adalah:
1) Warga Negara Indonesia. Apabila diragukan tentang kewarganegaraan
seorang pelamar, maka harus dimintakan bukti kewarganegaraannya, yaitu
Putusan Pengadilan Negeri yang menetapkan ybs sebagai warga negara.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengadaan Pegawai Negeri Sipil 53

Apabila seorang WNI berganti nama, harus dimintakan pula surat pernyataan
ganti nama yang dikeluarkan oleh Bupati / Walikota yang bersangkutan.
2) Berusia serendah-rendahnya 18 (delapan belas) tahun dan setinggi-tingginya
35 (tiga puluh lima) tahun.
Usia seorang pelamar ditentukan berdasarkan tanggal kelahiran yang
tercantum dalam STTB/Ijazah yang digunakan sebagai dasar pengangkatan
3) Tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan
yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, karena melakukan suatu
tindak pidana kejahatan. Dalam ketentuan ini tidak termasuk bagi mereka
yang dijatuhi hukuman percobaan
4) Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau
tidak dengan hormat sebagai PNS / anggota TNI/ anggota Kepolisian Negara
atau diberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Swasta.
5) Tidak berkedudukan sebagai calon/Pegawai Negeri
Seorang yang berkedudukan sebagai Calon/Anggota TNI dan Calon/Anggota
Kepolisian negara tidak dapat diterima untuk menjadi CPNS
6) Mempunyai pendidikan, kecakapan, keahlian dan ketrampilan yang
diperlukan
7) Berlakuan baik, yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Berkelakuan Baik
dari kepolisisan setempat
8) Sehat jasmani dan rohani, yang dibuktikan dengan Surat Keterangan dari
Dokter
9) Bersedia ditempatkan diseluruh wilayah NKRI atau Negara lain yang
ditentukan oleh pemerintah
10) Syarat lain yang ditentukan dalam persyaratan jabatan, termasuk syarat khusus
yang ditentukan instansi ybs.
Pengangkatan CPNS pada prinsipnya tidak boleh melebihi 35 (tiga puluh lima)
tahun. Pengangkatan sebagai CPNS dapat dilakukan bagi yang melebihi batas 35
(tiga puluh lima) tahun dengan ketentuan:
1) Telah mengabdi kepada instansi pemerintah baik pusat mauupun daerah
sekurang-kurangnya 5 tahun secara terus menerus sebelum PP 11 Tahun 2002
yang ditetapkan tanggal 17 April 2002
2) Masih melaksanakan tugas pada instansi tersebut
3) Pengangkatan tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan khusus dan dilakukan
secara selektif serta tidak boleh melebihi usia 40 (empat puluh) tahun

4. Pelamaran
Setiap pelamar harus mengajukan surat lamaran yang ditulis dengan tulisan tangan
sendiri ditujukan kepada pejabat pembina kepegawaian instansi yang bersangkutan,
yang dilampiri:
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengadaan Pegawai Negeri Sipil 54

1) Foto copy STTB/Ijazah yang disyahkan oleh pejabat yang berwenang
2) Kartu tanda pencari kerja dari Dinas Tenaga Kerja
3) Pas photo menurut ukuran dan jumlah yang ditentukan
D. PENYARINGAN
1. Pemeriksaan Administratif
Setiap surat lamaran yang diterima diperiksa dan diteliti sesuai dengan persyaratan
yang telah ditentukan dalam pengumuman. Pemeriksaan tersebut dilakukan secara
fungsional oleh pejabat yang diserahi urusan kepegawaian. Surat lamaran yang tidak
memenuhi syarat dikembalikan kepada pelamar disertai dengan alasan-alasannya,
sedangkan yang memenuhi syarat disusun dalam daftar untuk memudahkan
pemanggilan.
2. Panitia Ujian
Untuk melaksanakan ujian penyaringan, pejabat pembina kepegawaian dengan surat
keputusan membentuk panitia ujian yang sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang dengan
susunan :
1) seorang ketua merangkap anggota
2) seorang sekretaris merangkap anggota dan
3) seorang anggota
Tugas panitia adalah:
1) menyiapkan dan mengumpulkan bahan ujian
2) menentukan pedoman pemeriksaan dan penilaian ujian
3) menentukan tempat dan jadwal ujian
4) menyelenggarakan ujian
5) memeriksa dan menilai hasil ujian
6) menyampaikan hasil ujian kepada pejabat kepegawaian yang disusun
berdasarkan nilai tertinggi sampai yang terendah
7) membuat laporan secara tertulis kepada pejabat kepegawaian
3. Materi Ujian
Materi ujian disusun sedemikian rupa sehingga pelamar yang akan diterima benar-
benar mempunyai kecakapan, keahlian dan ketrampilan yang diperlukan. Adapun
materi ujian meliputi:
1) Test kompetensi, yang disesuaikan dengan kebutuhan persyaratan jabatan. Tes
Kompetensi meliputi:
a. Pengetahuan Umum
b. Bahasa Indonesia
c. Kebijaksanaan Pemerintah
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengadaan Pegawai Negeri Sipil 55

d. Pengetahuan Teknis, yaitu pengetahuan yang diperlukan untuk jabatan
yan bersangkutan atau syarat jabatan
e. Pengetahuan lainnya
f. Penyusunan materi ujian harus didasarkan pada persyaratan jabatan
yang diperlukan
2) Psikotes, yang disesuaikan dengan kebutuhan persyaratan jabatan dan
kemampuan instansi masing-masing. Psikotes dilakukan untuk mengetahui
kepribadian, minat dan bakat bagi pelamar.
4. Pemanggilan Pelamar
Pelamar yang memenuhi syarat, dipanggil secara tertulis untuk mengikuti ujian
penyaringan. Pemanggilan dilakukan secara fungsional oleh pejabat yang disertai
tugas urusan kepegawaian. Untuk menghindari keterlambatan atau tidak
diterimanya surat penggilan tersebut, maka disamping pemanggilan dilakukan secara
tertulis, juga dilakukan dengan pengumuman melalui media massa
5. Ujian
Dalam rangka menjamin objektifitas penyelenggaraan ujian penyaringan penerimaan
pegawai, maka ujian penyaringan dilaksanakan secara tertulis. Apabila diperlukan,
dapat diadakan ujian lisan berupa wawancara, yang merupakan pelengkap dari
ujian tertulis. Bagi pelamar yang akan mengisi lowongan tertentu, diadakan ujian
ketrampilan, seperti operator komputer, pengemudi dsb.
Selain ujian tertulis, ujian lisan dan ketrampilan, bagi pelamar yang akan mengisi
jabatan tertentu dapat diadakan ujian kepribadian (psikotes)
6. Pengumuman Pelamar Yang Diterima
Pejabat Pembina Kepegawaian setelah menerima daftar nama dan nomor serta nilai
ujian peserta dari Panitia Ujian, menetapkan pelamar yang dinyatakan diterima
berdasarkan urutan nilai tertinggi sesuai dengan jumlah lowongan dan kualifikasi
pendidikan yang tersedia.
Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat lain mengumumkan nomor peserta
ujian yang ditetapkan diterima melalui media massa dan bentuk lainnya. Selain itu
kepada pelamar yang diterima disampaikan pemberitahuan secara tertulis melalui
surat tercatat. Dalam pengumuman dan surat pemberitahuan tersebut,
diinformasikan kapan, dimana, kepada pejabat mana, dan batas waktu untuk
melapor bagi pelamar yang diterima. Apabila pelamar yang dipanggil sampai batas
waktu yang ditentukan tidak melapor, maka dianggap mengundurkan diri. Batas
waktu melapor sekurang-kurangnya 14 (empat belas) hari kerja terhitung mulai
tanggal dikirimkannya surat pemberitahuan tersebut.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan menjadi CPNS 56

XIII. PENGANGKATAN MENJADI CPNS
Pelamar yang ditetapkan diterima, wajib melengkapi dan menyerahkan kelengkapan
administrasi kepada Pejabat Pembina Kepegawaian atau yang ditunjuk olehnya.
Apabila salah satu kelengkapan administrasi tidak dipenuhi, maka yang bersangkutan
tidak dapat diangkat sebagai CPNS.
Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat/Daerah menyampaikan daftar pelamar yang
dinyatakan lulus ujian penyaringan dan ditetapkan diterima untuk diangkat sebagai
Calon PNS kepada BKN untuk mendapat Nomor Identitas Pegawai Negeri Sipil.
Berdasarkan NIP PNS yang ditetapkan BKN, Pejabat Pembina Kepegawaian
menetapkan keputusan pengangkatan menjadi CPNS. Pengangkatan CPNS dilakukan
dalam tahun anggaran berjalan dan penetapannya tidak boleh berlaku surut. Yang
dimaksud dengan tahun anggaran yang berjalan yaitu berdasarkan formasi yang
ditetapkan tahun anggaran yang bersangkutan Penetapan berlakunnya
pengangkatan CPNS pada bulan berjalan yang bersangkutan tersebut, yaitu pada
tanggal 1 (satu) bulan berikutnya setelah pemberian NIP. Dalam hal pemberian NIP
dilakukan pada bulan terakhir tahun anggaran berjalan, maka pengangkatan sebagai
CPNS berlaku mulai tanggal 1 bulan terakhir tahun anggaran yang bersangkutan.
Selambat-lambatnya dalam waktu 1 (satu) bulan sejak diterimanya surat keputusan
pengangkatan CPNS, yang bersangkutan wajib melapor pada satuan organisasi dan
melaksanakan tugasnya.
1. Golongan Ruang
Golongan ruang yang ditetapkan untuk pengangkatan sebagai CPNS adalah sbb:
1) Golongan ruang I/a bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya
memiliki dan menggunakan STTB/Ijazah Sekolah Dasar atau yang setingkat
2) Golongan ruang I/c bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya
memiliki dan menggunakan STTB/Ijazah SLTP atau yang setingkat
3) Golongan ruang II/a bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya
memiliki dan menggunakan STTB/Ijazah SLTA, Diploma I atau yang setingkat
4) Golongan II/b bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya memiliki
dan menggunkan STTB/Ijazah SPGLB atau Diploma II
5) Golongan II/c bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya memiliki
dan menggunakan STTB/Ijazah Sarjana Muda, Akademi atau Diploma III.
6) Golongan III/a bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya memiliki
dan menggunkan STTB/Ijazah Sarjana (S1) atau Diploma IV
7) Golongan ruang III/b bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya
memiliki dan menggunkan STTB/Ijazah Dokter, Apoteker dan Magister (S 2)
atau Ijazah lain yang setara
8) Golongan ruang III/c bagi yang pada saat melamar serendah-rendahnya
memiliki dan menggunkan STTB/Ijazah Doktor (S 3)
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan menjadi CPNS 57

Ijazah lain yang setara dengan Ijazah Dokter, Apoteker dan Magister sebagaimana
dimaksud di atas adalah yang dikeluarkan oleh Perguruan Tinggi yang bobot untuk
memperolehnya setara dengan Ijazah Dokter, Apoteker dan Magister yang
penetapan kesetaraannya dilaksanakan oleh menteri yang bertanggung jawab di
bidang Pendidikan Nasional.
Ijazah sebagaimana dimaksud diatas adalah Ijazah yang diperoleh dari Sekolah atau
Perguruan Tinggi Negeri dan /atau Ijazah yang diperoleh dari Sekolah atau
Perguruan Tinggi Swasta yang telah diakreditasi dan /atau telah mendapat ijin
penyelenggaraan dari Menteri yang bertanggungjawab di bidang Pendidikan
Nasional atau pejabat lain sesuai Peraturan perundangan yang berlaku
Ijazah yang diperoleh dari Sekolah atau Perguruan tinggi di luar Negeri hanya dapat
dihargai bila telah diakui dan ditetapkan sederajat dengan Sekolah atau Perguruan
Tinggi Negeri di Indonesia oleh Menteri yang bertanggungjawab dibidang
Pendidikan Nasional atau pejabat lain sesuai Peraturan perundangan yang berlaku
2. Penghasilan
Hak atas gaji CPNS adalah 80% (delapan puluh persen) dari gaji pokok PNS, mulai
berlaku pada tanggal yang bersangkutan secara nyata melaksanakan tugasnya yang
dinyatakan dengan surat pernyataan oleh Kepala Kantor atau satuan organisasi yang
bersangkutan. Surat pernyataan telah melaksanakan tugas dibuat oleh Kepala Kantor
atau satuan organisasi selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah yang bersangkutan
secara nyata telah melaksanakan tugas.
Selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah surat pernyataan telah melaksanakan
tugas dibuat, Pejabat Pembuat Daftar Gaji sudah mengajukan usul pembayaran gaji
kepada Kepala KPKN/Kas Daerah
CPNS yang penempatannya jauh dari tempat tinggalnya, sudah dianggap nyata
melaksanakan tugas sejak ia berangkat menuju ke tempat tugasnya yang dibuktikan
surat perintah perjalanan/penugasan dari pejabat yang berwenang.
Bila pada saat pengangkatan pertama CPNS telah mempunyai masa kerja maka
dapat diperhitungkan sebagai masa kerja untuk penetapan gaji pokok. Masa kerja
yang dapat diperhitungkan penuh untuk penetapan gaji pokok dalam pengangkatan
pertama adalah:
1) Masa selama menjadi Calon/Pegawai Negeri kecuali masa menjalankan CLTN
2) Masa selama menjadi pejabat Negara
3) Masa selama menjalankan tugas Pemerintahan, yang antara lain masa
penugasan sebagai:
a. Lokal staf pada perwakilan RI di luar negeri
b. Pegawai tidak tetap
c. Perangkat desa
d. Pegawai/tenaga pada Badan Inernasional
e. Petugas pada Pemerintahan lainnya yang penghasilannya dibebankan
pada APBN
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan menjadi CPNS 58

4) Masa selama menjalankan kewajiban untuk membela negara, antara lain
sebagai Prajurit Wajib dan sukarelawan
5) Masa selama menjadi pegawai/karyawan Perusahaan milik pemerintah seperti
BUMN dan BUMD
Masa kerja yang diperhitungkan setengah adalah masa kerja sebagai
pegawai/karyawan dari Perusahaan yang berbadan hukum di luar lingkungan Badan
pemerintah (termasuk Perusahaan swasta asing yang berbadan hukum) yang tiap kali
tidak kurang dari 1 (satu) tahun dan tidak terputus, dengan ketentuan bahwa masa
kerja tersebut diperhitungkan sebanyak-banyaknya 8 (delapan) tahun
3. Masa Percobaan
Masa selama menjadi CPNS merupakan masa percobaan. Lamanya sekurang-
kurangnya 1 (satu) tahun dan paling lama 2 (dua) tahun yang dihitung sejak tanggal
yang bersagkutan diangkat sebagai CPNS.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan CPNS Menjadi PNS 59

XIV. PENGANGKATAN CPNS MENJADI PNS
A. PROSES PENGANGKATAN CPNS MENJADI PNS
CPNS yang telah menjalankan masa percobaan diangkat menjadi PNS dalam jabatan
dan pangkat tertentu dengan keputusan Pejabat Pembina Kepegawaian.
Pengangkatan tersebut ditetapkan apabila telah memenuhi syarat sebagai berikut:
1) Setiap unsur penilaian prestasi kerja / DP 3 sekurang-kurangnya bernilai baik
2) Telah memenuhi syarat kesehatan jasmani dan rohani untuk diangkat menjadi
PNS
3) Telah lulus Pendidikan dan pelatihan Prajabatan
Tanggal mulai berlakunya keputusan pengangkatan menjadi PNS tidak boleh berlaku
surut.
Calon PNS yang telah menjalankan masa percobaan lebih dari 2 (dua) tahun dan
telah memenuhi syarat untuk diangkat PNS, tetapi karena suatu sebab belum
diangkat menjadi PNS, maka hanya dapat diangkat menjadi PNS apabila alasannya
bukan karena kesalahan yang bersangkutan. Pengangkatan menjadi PNS Pusat bagi
CPNS Pusat yang menjalani masa percobaan lebih dari 2 (dua) tahun ditetapkan
oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara. Sedangkan bagi CPNS Daerah yang akan
diangkat menjadi PNS Daerah yang menjalani masa percobaan lebih dari 2 (dua)
tahun ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian daerah Propinsi
/Kabupaten/Kota setelah mendapat pertimbangan teknis dari Kepala Kantor
Regional BKN.
Calon Pegawai Negeri Sipil yang tewas diangkat menjadi PNS terhitung mulai
tanggal 1 (satu) pada bulan yang bersangkutan dinyatakan tewas. CPNS yang cacat
karena dinas, yang oleh Team Penguji Kesehatan dinyatakan tidak dapat bekerja lagi
dalam semua jabatan Negeri, diangkat menjadi PNS terhitung mulai tanggal 1 (satu)
pada bulan ditetapkannya surat keterangan Team Penguji Kesehatan, dan
diberhentikan dengan hormat sebagai PNS dengan diberikan hak-hak kepegawaian
sesuai dengan perundangan yang berlaku.
Pengangkatan menjadi PNS bagi CPNS yang tewas atau cacat karena dinas
ditetapkan dengan keputusan Kepala BKN/Kantor Regional BKN baik bagi CPNS
Pusat maupun Daerah (PP No 09 tahun 2003)



Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan CPNS Menjadi PNS 60

B. PEMBERHENTIAN CALON PNS
Calon PNS diberhentikan dengan hormat, apabila :
1) mengajukan permohonan berhenti
2) tidak memenuhi syarat kesehatan
3) tidak lulus pendidikan dan pelatihan prajabatan
4) tidak menunjukkan kecakapan dalam melaksanakan tugas
5) menunjukkan sikap dan budi pekerti yang tidak baik yang dapat mengganggu
lingkungan pekerjaan
6) dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang
7) menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik dan telah mengajukan surat
permohonan berhenti secara tertulis kepada pejabat pembina kepegawaian
8) 1 (satu) bulan setelah diterimanya keputusan pengangkatan Calon PNS tidak
melapor dan melaksanakan tugas, kecuali bukan karena kesalahan yang
bersangkutan.
Calon PNS diberhentikan tidak dengan hormat, apabila :
1) Pada waktu melamar dengan sengaja memberikan keterangan atau bukti
yang tidak benar. Yang dimaksud keterangan-keterangan atau bukti-bukti
yang tidak benar dalam ketentuan ini adalah apabila keterangan tersebut
mengakibatkan kerugian pada negara atau setelah diketahui kebnarannya
seharusnya tidak memenuhi syarat untuk diangkat sebagai Calon PNS.
2) Dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang sudah
mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena dengan sengaja melakukan
sesuatu tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan
jabatan/tugasnya;
3) Dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat
4) Menjadi anggota dan/atau pengurus patai politik tanpa mengajukan surat
permohonan berhenti secara tertulis kepada pejabat pembina kepegawaian
Pemberhentian Calon PNS ditetapkan dengan surat keputusan pejabat pembina
kepegawaian.

C. PENGANGKATAN CPNS MENJADI PNS YANG TELAH MENJALANI MASA
PERCOBAAN LEBIH DARI DUA TAHUN
CPNS yang telah menjalani masa percobaan lebih dari 2 tahun dan telah memenuhi
syarat diangkat menjadi PNS, tetapi karena suatu sebab belum diangkat menjadi
PNS, maka hanya dapat diangkat menjadi PNS apabila alasannya bukan karena
kesalahan yang bersangkutan
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan CPNS Menjadi PNS 61

Pengangkatan dari CPNS baik Pusat maupun CPNS Daerah yang akan diangkat
menjadi PNS yang menjalani masa percobaan lebih 2 (dua) tahun ditetapkan oleh
Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing setelah mendapat pertimbangan
teknis dari Kepala BKN
Persyaratan :
1) SK CPNS
2) SPMT
3) STTPL Pra Jabatan
4) Surat Keterangan Kesehatan dari Dokter Penguji/Team penguji Kesehatan
5) DP 3
6) Ijazah
7) Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas atau Surat Penugasan
8) Pas Foto Hitam Putih 3 x 4 cm 1 Lembar.
9) Blanko Nota Persetujuan dari Instansi (rangkap 5)
D. PERBAIKAN
Dalam proses penetapan nota persetujuan Kepala BKN, kemungkinan terjadi
kesalahan penetapan, sehingga untuk memperbaiki nota persetujuan tersebut perlu
diajukan perbaikan kepada Kepala BKN.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Mutasi Antar Daerah/Pindah Wilayah Kerja
(PWK)
62

XV. MUTASI ANTAR DAERAH/PINDAH WILAYAH KERJA (PWK)
A. MEKANISME
Salah satu jenis mutasi Pegawai Negeri Sipil adalah pindah wilayah kerja Perpindahan
tugas dan / atau wilayah kerja tersebut meliputi:
1) Antar Departemen/ Lembaga;
2) Antara Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota dan Departemen /Lembaga;
3) Antar Daerah Propinsi;
4) Antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Kabupaten/kota Propinsi lainnya;
5) Antar Daerah kabupaten/Kota dalam satu Propinsi; atau
6) Antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Propinsi.
Perpindahan PNS antar instansi dapat terbagi dalam rangka usaha penyebaran tenaga
ahli, untuk kepentingan dinas atau sebab lainnya
Prosedur perpindahan dengan pindah instansi, diatur sebagai berikut:
1) Perpindahan harus didasarkan atas persetujuan dari instansi asal dan instansi
penerima sesuai dengan kebutuhan;
2) Pejabat Pembina Kepegawaian Instansi yang membutuhkan mengeluarkan surat
persetujuan untuk menerima kepindahan PNS yang ditujukan kepada Pimpinan
instansi asal PNS asal untuk mendapat persetujuan;
3) Apabila Pimpinan Instansi asal ybs. menyetujui, maka Pimpinan Instansi asal
membuat Surat Pernyataan Persetujuan
4) Berdasar Persetujuan Pimpinan Instansi asal, Instansi Penerima mengusulkan
kepada:
a) Kepala BKN untuk mendapatkan penetapan pemindahan:
i. Antar Departemen/Lembaga
ii. Antar Propinsi/Kabupaten/Kota dan Departemen/Lembaga
iii. Antar Daerah Propinsi
iv. Antar Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Kab/Kota Propinsi lainnya
b) Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi untuk mendapatkan
penetapan pemindahan:
i. Antar Kabupaten/Kota dalam satu Propinsi
ii. Antara Kabupaten/Kota dan daerah Propinsi
5) Berdasarkan Keputusan Kepala BKN atau Pejabat Pembina Kepegawaian
Daerah Propinsi tersebut, Pimpinan Instansi penerima menerbitkan surat
keputusan penempatan.
6) Persyaratan yang harus dipenuhi untk pengajuan SK PWK:
a) Surat pernyataan pindah instansi dari instansi dari instansi asal
b) Surat persetujuan dari instansi penerima
c) Surat rekomendasi dari Gubernur instansi penerima tentang kesanggupan
pembayaran gaji bagi PNS yang pindah
d) DP 3 terakhir
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pendidikan dan Pelatihan Pegawai 63

XVI. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PEGAWAI
A. UMUM
Untuk mewujudkan kepemerintahan dan pembangunan yang baik dan untuk
menjawab tuntutan masyarakat, diperlukan sosok PNS yang mempunyai
kompetensi pendidikan dalam melaksanakan tugas.
Dalam rangka meningkatkan kompetensi aparatur diperlukan peningkatan mutu
profesionalisme, sikap pengabdian dan kesetiaan pada perjuangan bangsa dan
Negara, semangat persatuan dan kesatuan serta pengembangan wawasan
pengetahuan PNS melalui pendidikan formal maupun informal merupakan
bagian tak terpisahkan dari usaha pengembangan pegawai.
B. DASAR
a. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999;
b. PP Nomor 98 Tahun 2000 jo. PP Nomor 11 Tahun 2002;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003;
d. Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 11 Tahun 2002;
e. Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 13 Tahun 2003
C. PENGERTIAN
Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) PNS adalah proses penyelenggaraan belajar
mengajar dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pegawai.
Diklat mengandung dua fungsi yaitu peningkatan pengetahuan sekaligus
menambah ketrampilan pegawai.
D. SASARAN DAN TUJUAN
Sasaran Diklat PNS adalah terwujudnya PNS yang memiliki kompetensi yang
sesuai dengan persyaratan masing-masing jabatan.
Sedangkan tujuan Diklat adalah:
a. Meningkatkan pengetahuan, keahlian, ketrampilan dan sikap untuk alat
melaksanakan tugas jabatan secara professional dengan dilandasi kepribadian
dan etika PNS sesuai dengan kebutuhan instansi.
b. Menciptakan aparatur yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat
persatuan dan kesatuan bangsa.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pendidikan dan Pelatihan Pegawai 64

c. Memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pada
pelayanan, pengayoman dan pemberdayaan masyarakat.
d. Menciptakan kesamaan Visi dan dinamika pola pikir dalam melaksanakan
tugas pemerintahan umum dan pembangunan demi terwujudnya
kepemerintahan yang baik.
E. JENIS DAN JENJANG
Diklat PNS terdiri dari 2 jenis:
- Diklat prajabatan
- Diklat dalam jabatan
1. Diklat prajabatan
Diklat prajabatan merupakan diklat yang dipersyaratkan dalam pengangkatan
CPNS menjadi PNS. Setiap CPNS untuk diangkat menjadi PNS wajib mengikuti
dan lulus diklat prajabatan CPNS wajib diikut sertakan dalam diklat prajabatan
selambat-lambatnya 2 tahun setelah pengangkatannya sebagai CPNS.
Diklat prajabatan dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dalam rangka
pembentukan wawasan kebangsaan, Kepribadian dan etika PNS, disamping
pengetahuan dasar tentang system penyelenggaraan pemerintah Negara,
Bidang tugas dan budaya organisasinya agar mampu melaksanakan tugas dan
peranannya sebagai pelayan masyarakat.
Diklat prajabatan terdiri dari:
a. Diklat Prajabatan Golongan I untuk CPNS berijazah SLTP kebawah;
b. Diklat Prajabatan Golongan II untuk CPNS berijazah SLTA sampai D-III;
c. Diklat Prajabatan Golongan III untuk CPNS berijazah Diploma IV/S-1
2. Diklat dalam jabatan
Pendidikan dan Pelatihan dalam jabatan terdiri dari:
a. Diklat Kepemimpinan
Pendidikan dan Pelatihan kepemimpinan atau disingkat Diklatpim
dilaksanakan untuk mencapai persyaratan kompetensi kepemimpinan aparatur
pemerintah yang sesuai dengan jenjang jabatan struktural yang diemban.
Kompetensi dalam Pendidikan dan pelatihan kepemimpinan ini merupakan
salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi PNS yang diangkat dalam jabatan
struktural dalam rangka memenuhi kompetensi jabatannya disamping syarat-
syarat lain yang ditentukan.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pendidikan dan Pelatihan Pegawai 65

Oleh karena diklat ini ditujukan bagi mereka yang akan/sudah menduduki
jabatan struktural, maka keikutsertaan PNS dalam diklat kepemimpinan
sifatnya selektif dan siikuti atas dasar penugasan, dan bukan merupakan
fasilitas yang bersifat terbuka dan dapat diminta sebagai hak.
Hal ini disebabkan jabatan pada dasarnya merupakan penugasan dan bukan
sesuatu yang dapat diminta.
Pendidikan dan Pelatihan kepemimpinan terdiri dari empat jenjang yaitu:
a. Diklatpim Tingkat IV, yang dipersyaratkan untuk jabatan eselon IV;
b. Diklatpim Tingkat III, yang dipersyaratkan untuk jabatan eselon III;
c. Diklatpim Tingkat II, yang dipersyaratkan untuk jabatan eselon II;
d. Diklatpim Tingkat I, yang dipersyaratkan untuk jabatan eselon I;
Meskipun Diklatpim berjenjang, namun keikutsertaan PNS dalam Diklat
kepemimpinan tingkat tertentu tidak dipersyaratkan mengikuti Diklatpim
tingkat dibawahnya.
b. Diklat fungsional
Diklat Fungsional merupakan diklat yang dilaksanakan untuk mencapai
persyaratan kompetensi yang sesuai dengan jenis dan jenjang jabatan
fungsional masing-masing
Jenis dari jenjang diklat fungsional untuk masing-masing jabatan fungsional
tersebut ditetapkan oleh instansi pembina jabatan fungsional yang
bersangkutan.
Jenis dan jenjang diklat fungsional:
1. Diklat fungsional keahlian yaitu diklat yang memberikan pengetahuan
dan keahlian fungsional tertentu yang berhubungan langsung dengan
pelaksanaan tugas jabatan fungsional keahlian yang bersangkutan;
2. Diklat fungsional keterampilan yaitu diklat yang memberikan
pengetahuan dan keterampilan fungsional tertentu
c. Diklat teknis
Diklat Teknis merupakan diklat yang dilaksanakan untuk mencapai persyaratan
kompetensi teknis yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas PNS.
Kompetensi teknis yang dimaksud adalah kemampuan PNS dalam bidang-
bidang teknis tertentu untuk pelaksanaan tugas masing-masing.
Jenis dan jenjang diklat teknis :
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pendidikan dan Pelatihan Pegawai 66

1. Diklat teknis bidang umum/administrasi dan manajemen yaitu diklat
yang memberikan keterampilan dan/atau penguasaan pengetahuan di
bidang pelayanan teknis yang bersifat umum dan di bidang administrasi
dan manajemen dalam menunjang tugas pokok instansi yang
bersangkutan;
2. Diklat teknis bidang substantif yaitu diklat yang memberikan
keterampilan dan/atau penguasaan pengetahuan teknis yang
berhubungan secara langsung dengan pelaksanaan tugas pokok instansi
yang bersangkutan.
Bagi PNS yang belum memenuhi persyaratan kompetensi jabatan perlu
mengikuti Diklat teknis yang bekaitan dengan persyaratan kompetensi jabatan
masing-masing.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Administrasi Belajar 67

XVII. ADMINISTRASI BELAJAR
A. UMUM
Minat dan keinginan para PNS dan CPNS di Lingkungan Pemkab Magelang untuk
meningkatkan kapasitas dan kompetensinya melalui peningkatan pendidikan formal
ke jenjang satu tingkat lebih tinggi atau pada jenjang yang sama semakin meningkat.
Di sisi lain karena kedudukan dan jabatannya, PNS dan CPNS dituntut untuk
senantiasa menyelenggarakan tugas pemerintahan yang diemban secara optimal.
Dengan pertimbangan guna terciptanya peningkatan kualitas dan profesionalitas
sumber daya aparatur pemerintah daerah, jaminan kesinambungan penyelenggaraan
tugas-tugas pemerintahan yang diamanatkan kepada segenap PNSD dan PNSD agar
tertib administrasi kepegawaian, Bupati Magelang dengan Peraturan Bupati Nomor
34 Tahun 2010 telah menetapkan Pedoman Tugas Belajar, Izin Belajar, Keterangan
Belajar, Keterangan Memiliki Ijazah dan Izin Penggunaan Gelar Akademik bagi
Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Magelang.
B. DASAR HUKUM
1. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 47 Tahun 2001 tentang Izin Belajar
dan Ujian Penyesuaian KP PNS di Lingkungan Departemen Dalam Negeri;
2. Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Pedoman
Pemberian Izin Belajar, KP Penyesuaian Ijazah dan KP Reguler ke Pembina
Golongan Ruang IV/a ke atas Bagi PNS di Lingkungan Pemprov Jawa Tengah;
3. Peraturan Bupati Magelang No. 43 Tahun 2010 tentang tentang Pedoman Tu-
gas Belajar, Izin Belajar, Keterangan Belajar, Keterangan Memiliki Ijazah, dan
Izin Penggunaan Gelar Akademik Bagi PNS di Lingkungan Pemkab Magelang.
C. PENGERTIAN
Tugas Belajar adalah tugas yang diberikan oleh pejabat yang berwenang
kepada PNSD/CPNSD dalam hubungan dengan tugas dan kepentingan dinas
untuk mengikuti pendidikan ke jenjang satu tingkat lebih tinggi, baik yang
diselenggarakan oleh lembaga pemerintah maupun lembaga swasta dalam
dan/atau luar negeri dengan tujuan untuk mencukupi kekurangan tenaga ahli
dan/atau terampil yang berpengetahuan luas dan mempertinggi mutu
kecakapan PNSD/CPNSD yang bersangkutan guna menunjang pelaksanaan
program kerja pemerintah daerah dan/atau nasional.
Izin Belajar adalah izin tertulis yang diberikan oleh pejabat yang berwenang
kepada PNSD dalam hubungan dengan tugas dan kepentingan dinas untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang satu tingkat lebih tinggi atau pada jenjang
yang sama dengan tingkat ijazah yang dijadikan dasar dalam penetapan
pangkat terakhir, baik yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintah maupun
lembaga swasta dalam negeri dengan tujuan untuk mempertinggi mutu
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Administrasi Belajar 68

kecakapan PNSD yang bersangkutan serta guna menunjang pelaksanaan
program kerja Pemerintah Daerah.
Keterangan Belajar adalah keterangan yang diberikan oleh pejabat yang
berwenang kepada CPNSD dalam hubungan dengan tugas dan kepentingan
dinas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang satu tingkat lebih tinggi
dengan tingkat ijazah yang dijadikan dasar dalam penetapan pengangkatan
sebagai CPNSD, baik yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintah maupun
lembaga swasta dalam negeri dengan tujuan untuk mempertinggi mutu
kecakapan CPNSD yang bersangkutan serta guna menunjang pelaksanaan
program kerja Pemerintah Daerah.
Keterangan Memiliki Ijazah adalah keterangan yang diberikan oleh pejabat
yang berwenang kepada CPNSD/PNSD yang memiliki ijazah satu tingkat lebih
tinggi dari tingkat ijazah yang dijadikan dasar dalam pengangkatan sebagai
CPNSD atau dasar dalam pengangkatan sebagai PNSD bagi PNSD yang proses
pengangkatannya tanpa melalui tahap CPNSD.
Izin Penggunaan Gelar Akademik adalah izin yang diberikan oleh pejabat yang
berwenang dalam hubungan dengan tugas dan kepentingan dinas kepada
PNSD yang memiliki ijazah satu tingkat lebih tinggi atau sama dengan tingkat
ijazah yang dijadikan dasar penetapan pangkat terakhir untuk menggunakan
gelar akademik dalam administrasi kepegawaian.
D. SASARAN DAN TUJUAN
Sasaran pemberian administrasi belajar adalah untuk mewujudkan tertib administrasi
pelaksanaan Tugas Belajar, Izin Belajar, Keterangan Belajar, Keterangan Memiliki
Ijazah dan Izin Penggunaan Gelar Akademik bagi PNSD dan CPNSD Lingkungan
Pemerintah Kabupaten Magelang.
Administrasi Belajar diberikan kepada PNSD/CPNSD dengan tujuan untuk
mencukupi kekurangan tenaga ahli dan/atau terampil yang berpengetahuan luas dan
mempertinggi mutu kecakapan PNSD/CPNSD guna menunjang pelaksanaan program
kerja pemerintah daerah dan/atau nasional.
E. JENIS ADMINISTRASI BELAJAR
a. Surat Rekomendasi Ijin Belajar/Tugas Belajar
b. Surat Keputusan Tugas Belajar
c. Surat Ijin Belajar
d. Surat Ijin Penggunaan Gelar Akademik
e. Surat Keterangan Memiliki Ijazah
f. Surat Keterangan Belajar
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Administrasi Belajar 69

F. PERSYARATAN TEKNIS ADMINISTRASI BELAJAR
1. Surat Rekomendasi Ijin Belajar/Tugas Belajar (RIB/RTB)
i. Surat Permohonan Rekomendasi seleksi Tugas Belajar dari PNS;
ii. Surat Pengantar dari Atasan/Pimpinan SKPD;
iii. Foto kopi dilegalisasi DP3 dua tahun terakhir, dan bernilai baik;
iv. Surat pernyataan tidak sedang dalam proses penjatuhan hukuman
disiplin dan/atau menjalani hukuman disiplin tingkat sedang atau berat
ditandatangani oleh pimpinan SKPD;
2. Surat Keputusan Tugas Belajar (KTB)
i. Syarat Ketentuan pangkat, masa kerja, usia dan program studi..
a. Syarat Ketentuan Pangkat dan masa kerja.
1) telah menduduki pangkat paling rendah Pengatur Muda
golongan ruang II/a dan paling singkat telah 1 (satu) tahun
dalam pangkat terakhir bagi PNSD yang akan diberikan tugas
belajar pada jenjang pendidikan Diploma II (D2) atau Diploma
III (D3);
2) telah menduduki pangkat paling rendah Pengatur golongan
ruang II/c dan paling singkat telah 1 (satu) tahun dalam pangkat
terakhir bagi PNSD yang akan diberikan tugas belajar pada
jenjang pendidikan Diploma IV (D4) atau Sarjana Strata Satu
(S1);
3) telah menduduki pangkat paling rendah Penata Muda
golongan ruang III/a dan paling singkat telah 1 (satu) tahun
dalam pangkat terakhir bagi PNSD yang akan diberikan tugas
belajar pada jenjang pendidikan Sarjana Strata 2 (S2) atau
Sarjana Strata 3 (S3) atau Doktor;
b. Syarat Ketentuan Usia dan program, sepanjang tidak diatur khusus
oleh pemberi beasiswa, maka mempunyai ketentuan.
1) Usia paling tinggi 25 tahun untuk program Diploma II (D2),
Diploma III (D3) dan Program Strata I (S1);
2) Usia 37 tahun untuk Program Strata II (S2);
3) Usia 40 tahun untuk Program Strata III (S3) atau setara.
ii. Surat Permohonan Tugas Belajar dari pimpinan SKPD;
iii. Surat Permohonan dari PNS/CPNS;
iv. Surat Rekomendasi dari Kepala BKD;
v. Surat Keterangan diterima mengikuti pendidikan;
vi. Foto kopi dilegalisasi DP3 dua tahun terakhir, dan bernilai baik;
vii. Surat pernyataan tidak sedang dalam proses penjatuhan hukuman
disiplin dan/atau menjalani hukuman disiplin tingkat sedang atau berat
ditandatangani oleh pimpinan SKPD;
viii. Surat keterangan uraian tugas dari Pimpinan SKPD;
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Administrasi Belajar 70

ix. Surat pernyataan bersedia menanggung seluruh biaya pendidikan bagi
pendidikan tugas belajar yang bersifat urgen, khusus, langka dan dibiayai
sendiri oleh yang bersangkutan;
x. Foto kopi dilegalisasi SK Pangkat terakhir.
xi. Surat Keterangan Penyandang Dana selama Pendidikan.
3. Surat Keterangan Ijin Belajar (KIB)
i. Surat Pengantar dari Atasan Langsung/Pimpinan SKPD;
ii. Surat Permohonan Ijin Belajar dari yang bersangkutan;
iii. Surat Rekomendasi Ijin Belajar dari BKD;
iv. Surat Keterangan diterima mengikuti pendidikan;
v. Surat Keterangan status penyelenggaraan dan proses pendidikan dari
lembaga pendidikan;
vi. Foto kopi ijin penyelenggaraan/akreditasi lembaga pendidikan;
vii. Foto kopi jadwal kegiatan akademik dari lembaga pendidikan;
viii. Surat Keterangan uraian tugas dari pimpinan SKPD;
ix. Surat Pernyataan memiliki kinerja baik dari pimpinan SKPD;
x. Surat Pernyataan tidak akan menuntut penyesuaian ijazah;
xi. Foto kopi SK Pangkat terakhir.
4. Surat Keterangan Belajar (SKB)
i. Surat Pengantar dari Atasan Langsung/Pimpinan SKPD;
ii. Surat Permohonan Keterangan Belajar dari CPNS yang bersangkutan;
iii. Surat Keterangan Kesesuaian antara Prodi/Jurusan dengan syarat
Jabatan;
iv. Surat Keterangan status penyelenggaraan dan proses pendidikan dari
lembaga pendidikan;
v. Foto kopi ijin penyelenggaraan/akreditasi lembaga pendidikan;
vi. Foto kopi jadwal kegiatan akademik dari lembaga pendidikan;
vii. Surat Keterangan Lokasi KBM/Perkuliahan & jarak tempuh dengan
tempat tugas;
viii. Jadwal KBM/Perkuliahan.
ix. Surat Keterangan uraian tugas dari Pimpinan SKPD;
x. Surat Pernyataan tidak akan menuntut penyesuaian ijazah;
xi. Foto kopi SK CPNSD.
5. Surat Keterangan Memiliki Ijazah (SKMI)
i. Surat Pengantar SKMI dari Atasan Langsung/Pimpinan SKPD;
ii. Surat Permohonan SKMI dari yang bersangkutan;
iii. Foto kopi dilegalisir Ijazah dan transkrip nilai;
iv. Foto kopi dilegalisir ijin penyelenggaraan/akreditasi;
v. Surat Keterangan uraian tugas dari pimpinan SKPD;
vi. Surat Pernyataan tidak akan menuntut penyesuaian ijazah;
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Administrasi Belajar 71

vii. Foto kopi dilegalisir SK Pangkat terakhir.
viii. Foto kopi dilegalisir SK Jabatan terakhir.
ix. Surat Keterangan status penyelenggaraan dan proses pendidikan dari
lembaga pendidikan;
6. Surat Ijin Penggunaan Gelar Akademik (IPGA)
i. Pengantar IPGA dari Pimpinan SKPD;
ii. Permohonan IPGA dari yang bersangkutan;
iii. Foto kopi dilegalisir ijazah dan transkrip akademik;
iv. Foto kopi dilegalisir SKTB / SIB / SKB / SKMI;
v. Foto kopi dilegalisir DP-3 terakhir.
vi. Foto kopi dilegalisir SK Pangkat terakhir.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Ujian Dinas 72

XVIII. UJIAN DINAS
A. PENGERTIAN
Setiap PNS yang akan naik pangkat ke dalam golongan yang lebih tinggi diharuskan
menempuh dan lulus ujian dinas bagi mereka yang telah menduduki pangkat juru
Tingkat I golongan ruang I/d, Pengatur Tingkat I golongan ruang II/d dan Penata
Tingkat I golongan ruang III/d sekurang-kurangnya 2 tahun dan tidak dalam
keadaan diberhentikan sementara, menerima uang tunggu dan cuti diluar
tanggungan negara.
B. DASAR HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999;
2. Peraturan Pemerintahan Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat
Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 12 Tahun 2002;
3. Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 12 Tahun 2002 tanggal
17 Juni 2002 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintahan Nomor
99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002;
4. Surat Edaran Bersama Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara dan
Ketua Lembaga Administrasi Negara Nomor 12/SE/1981 dan Nomor
193/Seklan/8/1981 tentang Pelaksanaan Ujian Dinas.
C. KETENTUAN UJIAN DINAS
Sasaran Pelaksanaan Ujian Dinas Tingkat I adalah bagi PNS yang memiliki pangkat
Pengatur Tingkat I (II/d) sekurang-kurangnya telah 2 (dua) tahun dan Ujian Dinas
Tingkat II adalah bagi PNS yang memiliki pangkat Penata Tingkat I (III/d).
1. Ujian Dinas Tingkat I untuk kenaikan pangkat dari pengatur Tingkat I (II/d)
menjadi penata Muda (III/a);
2. Ujian Dinas Tingkat II untuk kenaikan pangkat dari Penata Tingkat I (III/d)
menjadi pembina (IV/a).
1. PNS yang dikecualikan dalam Ujian Dinas
a. Akan diberikan kenaikan pangkat karena telah menunjukan prestasi kerja
luar biasa baiknya;
b. Akan diberikan kenaikan pangkat karena menemukan penemuan baru yang
bermanfaat bagi negara;
c. Akan diberikan kenaikan pangkat pengabdian, karena ;
i. meninggal dunia;
ii. mencapai batas usia pensiun;
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Ujian Dinas 73

iii. oleh tim penguji kesehatan dinyatakan cacat karena dinas.
d. Telah mengikuti dan lulus Diklatpim, diantaranya;
i. Sepada/Adum/Sepala/Diklatpim tingkat IV untuk ujian dinas tk. I;
ii. Sepadya/Spama/Diklatpim tingkat III untuk ujian dinas tingkat II.
e. Telah memperoleh, diantaranya :
i. ijazah Sarjana (S1) atau Diploma IV untuk ujian dinas tingkat I;
ii. ijazah Dokter, Ijazah Apoteker, Magister (S2) dan ijazah lain yang
setara / Doktor (S3), untuk ujian dinas tk. I dan ujian dinas tingkat II.
f. Menduduki jabatan fungsional tertentu.
2. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh peserta Ujian Dinas
a. Mengisi Biodata calon peserta rangkap 2 (dua).
b. Pas foto hitam putih sebanyak 5 (lima) lembar.
c. Fotocopy SK Pangkat terakhir masing-masing rangkap 2 (dua).
d. Foto copy SK Jabatan terakhir dan Berita Acara Pelantikan yang telah
dilegalisir oleh Kepala SKPD (khusus bagi calon peserta Ujian Dinas
Tingkat II).
e. Foto copy DP-3 terakhir yang telah dilegalisir oleh Kepala SKPD
f. Persyaratan peserta Ujian Dinas dimasukkan dalam stopmap warna
merah bagi peserta Ujian Dinas Tingkat I dan warna biru bagi peserta
Ujian Dinas Tingkat II.
D. MATERI
1. kebijakan negara, Pancasila, UUD 1945;
2. otonomi daerah;
3. Peraturan perundang-undangan di bidang kepegawaian;
4. pengetahuan perkantoran dan organisasi dan manajemen;
5. tugas pokok, fungsi, struktur organisasi dan tata kerja instansi;
6. bahasa Indonesia;
7. sejarah Indonesia;
8. visi dan misi pemerintah daerah.
E. PELAKSANAAN UJIAN DINAS
1. ujian dinas dilaksanakan sebelum pegawai negeri sipil yang bersangkutan
dipertimbangkan kenaikan pangkatnya ke dalam golongan yang lebih tinggi;
2. apabila ternyata pegawai negeri sipil yang bersangkutan tidak lulus dalam
ujian dinas tersebut, maka kepadanya diberikan kesempatan untuk ikut serta
dalam ujian dinas berikutnya pada tingkat yang sama.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Ujian Dinas 74

F. TANDA LULUS UJIAN DINAS
1. kepada pegawai negeri sipil yang lulus ujian dinas diberikan tanda lulus ujian
dinas;
2. tanda lulus ujian dinas berlaku sepanjang pegawai negeri sipil yang
bersangkutan belum naik pangkat.




Manajemen Administrasi Kepegawaian | Ujian Kenaikan Pangkat Penyesuaian Ijazah 75

XIX. UJIAN KENAIKAN PANGKAT PENYESUAIAN IJAZAH
A. PENGERTIAN
PNS yang telah memperoleh Ijazah / Surat Tanda Tamat Belajar, kenaikan
pangkatnya dapat disesuaikan melalui Kenaikan Pangkat Penyesuaian ijazah.
Pegawai Negeri Sipil yang dapat diusulkan sebagai calon peserta ujian kenaikan
pangkat penyesuian ijazah, adalah mereka yang telah lulus pendidikan dan
memperoleh STTB/Ijazah akan tetapi masih berpangkat lebih rendah dari pangkat
yang ditentukan berdasarkan STTB/Ijazah yang diperolehnya.
B. DASAR HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999;
2. Peraturan Pemerintahan Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat
Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 12 Tahun 2002;
3. Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 12 Tahun 2002 tanggal
17 Juni 2002 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintahan Nomor
99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002;
4. Peraturan Bupati Magelang Nomor 35 Tahun 2010 tentang Pedoman Ujian
Kenaikan Pangkat Penyesuaian Ijazah dan Kenaikan Pangkat Penyesuaian
Ijazah bagi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten
Magelang
C. SYARAT DAN KETENTUAN KENAIKAN PANGKAT PENYESUAIAN IJAZAH
Kenaikan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang memperoleh STTB/ljazah/Diploma
Pegawai Negeri Sipi yang memperoleh :
1. Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau yang
setingkat dan masih berpangkat Juru Muda Tingkat I golongan ruang I/b ke
bawah, dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Juru golongan ruang I/c.
2. Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, Diploma I
atau setingkat dan masih berpangkat Juru Tingkat I golongan ruang I/d ke
bawah, dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Pengatur Muda, gol/ruang II/a.
3. Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa atau
Diploma II dan masih berpangkat Pengatur Muda, gol/ruang II/a kebawah,
dapat dinaikan pangkatnya menjadi Pengatur Muda Tingkat I, gol/ruang II/b,
4. Ijazah Sarjana Muda, Ijazah Akademi, atau Ijazah Diploma III, dan masih
berpangkat Pengatur Muda Tingkat I, golongan ruang II/b ke bawah, dapat
dinaikkan pangkatnya menjadi Pengatur golongan ruang II/c,
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Ujian Kenaikan Pangkat Penyesuaian Ijazah 76

5. Ijazah Sarjana (SI), Atau Ijazah Diploma IV dan masih berpangkat Pengatur
Tingkat I, golongan ruang II/d ke bawah, dapat dinaikkan pangkatnya menjadi
Penata Muda, golongan ruang III/a,
6. Ijazah Dokter, Ijazah Apoteker, Ijazah Magister (S2) atau ijazah lain yang
setara, dan masih berpangkat Penata Muda, golongan ruang, III/a ke bawah,
dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Penata Muda Tingkat I, gol/ruang III/b,
7. Ijazah Doktor (S3), dan masih berpangkat Penata Muda Tingkat I gol/ruang
III/b kebawah, dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Penata, gol/ruang III/c.

Tabel Kepangkatan Penyesuaian Ijazah sesuai Perbup Nomor 35 Tahun 2010
No
UKPPI
(psl.3)
STTB/Ijazah
Golongan
sekurang
kurangnya
Syarat
MK
ikut
Ujian
(psl.4)
Syarat
MK ikut
usul PI
(psl. 7)
Golongan
Sasaran
(psl.
1 UKPPI
Tk.I
SLTP I/b - 1 Th I/c
2 SLTA/SLTA Kejuruan
/D1
I/d 1 Th 2 Th II/a
3 UKPPI
Tk.II
Diploma II II/a - 1 Th II/b
4 Sarjana Muda
/Diploma III
/Akademi/Bakaloreat
II/b - 1 Th II/c
5 UKPPI
Tk.III
Sarjana/Diploma IV II/c 1 Th 2 Th III/a
6 UKPPI
Tk.IV
S-2/Dokter/Apoteker III/a - 1 Th III/b
7 Doktor III/b - 1 Th III/c

Ket : Memiliki masa kerja paling singkat 5 (lima) tahun terhitung sejak diangkat
sebagai CPNSD atau 2 (dua) tahun bagi PNSD yang pengangkatannya
tanpa melalui tahap CPNSD (pasal 7 ayat 2 point a).

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Ujian Kenaikan Pangkat Penyesuaian Ijazah 77

1. Ketentuan Lain yang dipersyaratkan diantaranya
a. Ijazah sebagaimana dimaksud adalah ijazah yang diperoleh dari sekolah
atau perguruan tinggi negeri dan/atau ijazah yang diperoleh dari sekolah
atau perguruan tinggi swasta yang telah diakreditasi dan/atau telah
mendapat izin penyelenggaraan dari Menteri yang bertanggung jawab
dibidang pendidikan nasional atau pejabat lain yang berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku berwenang
menyelenggarakan pendidikan.
b. Kenaikan Pangkat Penyesuaian Ijazah diadakan pada jangka waktu
tertentu dengan mempertimbangan formasi yang tersedia serta kualifikasi
pendidikan yang dibutuhkan.
c. Kenaikan pangkat bagi Pegawai Negeri Sipil yang memperoleh Surat
Tanda Tamat Belajar/Ijazah/ Diploma dapat dipertimbangkan setelah
memenuhi syarat sebagai berikut:
1) Memiliki Surat Ijin Belajar atau Surat Keterangan Belajar atau Surat
Keterangan Memiliki Ijazah.
2) Menduduki jabatan atau diberi tugas yang memerlukan
pengetahuan atau keahlian sesuai dengan ijazah yang diperoleh;
3) Lulus ujian kenaikan pangkat penyesuaian ijazah bagi PNSD yang
menduduki jabatan struktural atau jabatan fungsional umum;
4) Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan pada Daftar
Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP-3) dalam 2 (dua) tahun
terakhir paling rendah bernilai baik;
5) Tidak dalam proses penjatuhan hukuman disiplin PNSD atau
sedang dalam proses menjalani hukuman disiplin PNSD tingkat
sedang atau tinggi yang dibuktikan dengan surat keterangan
pejabat pembina kepegawaian SKPD.
6) Formasi pada SKPD tempat yang bersangkutan bekerja tersedia
untuk kenaikan pangkat tersebut.
7) Usul Kenaikan pangkat tersebut telah disetujui oleh Baperjakat.
d. Ujian Kenaikan Pangkat Penyesuaian Ijazah berpedoman pada materi
ujian penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil sesuai tingkat ijazah yang
diperoleh dan substansi yang berhubungan dengan tugas pokoknya yang
pelaksanaanya diatur lebih lanjut oleh instansi masing-masing.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Struktural
78

XX. PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN DALAM JABATAN
STRUKTURAL
A. UMUM
Pengangkatan PNS dalam jabatan struktural antara lain dimaksudkan untuk
membina kareier PNS dalam jabatan struktural dan kepangkatan sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundangan yang berlaku
Pengangkatan PNS dalam satu jabatan dilaksanakan berdasarkan prinsip
profesionalisme sesuai dengan kompetensi, prestasi kerja, dan jenjang pangkat yang
ditetapkan untuk jabatan itu serta syarat obyektif lainnya tanpa membedakan jenis
kelamin, suku, agama, ras atau golongan
1. Dasar Hukum
1) Undang-undang No 8 Tahun 1974 Tentang Pokok Pokok Kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang No 43 Tahun 1999
2) Peraturan Pemerintah No 100 Tahun 2000 Jo. Peraturan Pemerintah No. 13
Tahun 2002
3) Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 2003 Tentang Wewenang Pengangkatan,
Pemindahan dan Pemberhentian PNS
4) Keputusan Kepala BKN No. 13 Tahun 2002 Tanggal 17 Juni 2002
2. Pengertian
Jabatan adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggungjawab,
wewenang dan hak seseorang Pegawai Negeri Sipil;
Jabatan Karier adalah jabatan struktural dan jabatan fungsional yang hanya
dapat diduduki oleh PNS;
Jabatan struktural adalah kedudukan yang menunjukkan tugas,
tanggungjawab, wewenang dan hak seseorang Pegawai Negeri Sipil dalam
rangka memimpin suatu satuan organisasi negara
Jabatan Fungsional adalah kedudukan yang menunjukan tugas,
tanggungjawab, wewenang dan hak seorang PNS dalam suatu satuan
organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian
dan/atau ketrampilan tertentu serta bersifat mandiri
B. PENGANGKATAN, PEMINDAHAN DAN PEMBERHENTIAN
Jabatan struktural hanya dapat diduduki oleh ereka yang bestatus sebagai PNS.
Calon Pegawai Negeri Sipil tidak dapat diangkat dalam jabatan struktural. Anggota
Tentara Nasional Indonesia dan Anggota Kepolisian Negara hanya dapat diangkat
dalam jabatan struktural apabila telah beralih status menjadi PNS, kecuali ditentukan
lain dalam peraturan perundangan.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Struktural
79


Eselon dan jenjang pangkat jabatan struktural sesuai PP Nomor 13 Tahun 2002
NO ESELON
JENJANG PANGKAT GOLONGAN RUANG
TERENDAH TERTINGGI
PANGKAT GOL/RU PANGKAT GOL/RU
1 I.A Pembina Utama Madya IV/d Pembina Utama IV/e
2 I.B Pembina Utama Muda IV/c Pembina Utama IV/e
3 II.A Pembina Utama Muda IV/c Pembina Utama
Madya
IV/d
4 II.B Pembina Tingkat I IV/b Pembina Utama Muda IV/c
5 III.A Pembina IV/a Pembina Tingkat I IV/b
6 III.B Penata Tingkat I III/d Pembina IV/a
7 IV.A Penata III/c Penata Tingkat I III/d
8 IV.B Penata Muda Tingkat I III/b Penata III/c
9 V Penata Muda III/a Penata Muda Tkt I III/b

Penetapan organisasi Eselon V secara selektif, dengan memperhatikan:
1) kebutuhan organisasi;
2) rentang kendali;
3) kondisi geografis
4) karakteristik tugas pokok dan fungsi jabatan yang berhubungan langsung
dengan pelayanagn kepada masyarakat
1. Pengangkatan
a. Persyaratan
Persyaratan PNS yang akan diangkat dalam jabatan struktural, antara lain:
1. Berstatus Pegawai Negeri Sipil;
2. Serendah-rendahnya memiliki pangkat satu tingkat dibawah jenjang
pangkat yang ditentukan
3. Memiliki kualifikasi dan tingkat pendidikan yang ditentukan
4. Semua unsur penilaian prestasi kerja bernilai baik dalam dua tahun terakhir
5. Memiliki kompetensi jabatan yang diperlukan
6. Sehat jasmani dan rohani
Selain persyaratan tersebut, Pejabat Pembina Kepegawaian perlu
memperhatikan faktor:
1. Senioritas dalam kepangatan
2. Usia
3. Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT) Jabatan
4. Pengalaman
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Struktural
80

b. Pelaksanaan Pengangkatan
Pengangkatan dalam jabatan struktural eselon I dilingkungan instansi pusat
ditetapkan dengan keputusan Presiden setelah mendapat pertimbangan tertulis
dari Komisi Kepegawaian Negara. Sedangkan pengangkatan dalam jabatan
struktural eselon II kebawah pada Instansi pusat ditetapkan Pejabat Pembina
Kepegawaian Pusat setelah mendapat pertimbangan dari Baperjakat Instansi
Pusat.
Pengangkatan dalam jabatan struktural eselon I di propinsi (Sekda) ditetapkan
Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi setelah mendapat persetujuan
Pimpinan DPRD Propinsi, setelah sebelumnya dikonsultasikan secara tertulis
kepada Menteri Dalam Negeri sedangkan pengangkatan dalam jabatan
Struktral eselon II kebawah ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian
Daerah Propinsi setelah mendapat pertimbangan dari Baperjakat Instansi
Daerah Propinsi
Pengangkatan dalam jabatan struktural eselon II ke bawah di Kabupaten/Kota,
ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten / Kota
setelah mendapat pertimbangan dari Baperjakat Instansi Daerah
Kabupaten/Kota. Khusus untuk pengangkatan Eselon II dan Sekretaris Daerah
Kabupaten/Kota setelah mendapat persetujuan dan terlebih dahulu
dikonsultasikan secara tertulis kepada Gubernur.
Dalam setiap keputusan tentang pengangkatan dalam jabatan struktural, harus
dicantumkan nomor dan tanggal pertimbangan Baperjakat, eselon dan
besarnya tunjangan jabatan struktural
c. Pelantikan
PNS yang diangkat dalam jabatan struktural, termasuk PNS yang menduduki
jabatan struktural yang diangkatkan eselonnya, selambatnya 30 hari sejak
penetapan pengangkatan wajib dilantik dan diambil sumpahnya oleh pejabat
yang berwenang. Demikian juga yang mengalami perubahan nama jabatan
aau perubahan fungsi dan tugas jabatan maka PNS yang bersangkutan dilantik
dan diambil sumpahnya kembali
d. Pendidikan dan Pelatihan
PNS yang akan atau telah menduduki jabatan struktural harus mengikuti dan
lulus Diklat Kepemimpinan (Diklatpim) sesuai dengan kompetensi yang
ditetapkan untuk jabatan tersebut. Artinya, PNS dapat diangkat dalam jabatan
struktural meskipun yang bersangkutan belum mengikuti dan lulus Diklatpim.
Namun demikian untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan
menambah wawasan, maka kepada PNS yang bersangkutan tetap diharuskan
untuk mengikuti dan lulus Diklatpim yang dipersyaratkan kompetensi jabatan
struktural dimaksud.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Struktural
81

PNS yang telah memenuhi persyaratan kompetensi jabatan struktural tertentu
dapat diberikan sertifikat sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh
instansi Pembina dan Instansi Pengendali serta dianggap telah mengikuti dan
lulus Diklatpim yang ditentukan untuk jabatan tersebut.
PNS yang menduduki jabatan struktural dapat diangkat dalam jabatan
struktural setingkat lebih tinggi apabila sekurang-kurangnya telah dua tahun
dalam jabatannya, kecuali pengangkatan dalam jabatan struktural yang
menjadi wewenang Presiden.
2. Perpindahan
Untuk kepentingan dinas dan dalam rangka memperluas pengalaman, kemampuan
dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, diselenggarakan perpindahan
tugas dan/atau perpindahan wilayah kerja, khususnya bagi pejabat struktural eselon
III ke atas. Perpindahan bagi pejabat eselon III keatas tersebut dimaksudkan bahwa
Pejabat eselon III ke atas tersebut adalah jabatan yang memimpin suuatu satuan
organisasi tertentu, seperti Kepala Kantor/Badan/Dinas Kabupaten/Kota, Kepala
Kantor/Badan/Dinas Propinsi serta Sekretasi Daerah Kabupaten/Kota/Propinsi dsb.
Perpindahan tugas dan/atau wilayah kerja tersebut meliputi:
1. Antar Departemen/Lembaga;
2. Antara Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota dan Departemen/lembaga;
3. Antar Daerah Propinsi;
4. Antara Daerah Kab/Kota dan Daerah Kabupaten/kota Propinsi lainnya;
5. Antar Daerah Kabupaten/Kota dalam sat propinsi; atau
6. Antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah propinsi;
Perpindahan jabatan dapat dilakukan secara:
1. Horizontal, yaitu perpindahan jabatan struktural dalam eselon yang sama
2. Vertikal, yaitu perpindahan dari eselon yang lebih rendah ke eselon yang
lebih tinggi
3. Diagonal, yaitu perpindahan dari jabatan struktural ke dalam jabatan
fungsional atau sebaliknya
Perpindahan jabatan struktural antar instansi dalam rangka usaha penyebaran tenaga
ahli atau untuk kepentingan dinas dilakukan dengan cara pindah instansi,
dipekerjakan, atau diperbantukan.
Prosedur perpindahan jabatan struktural dengan pindah instansi diatur sbb:
1. Perpindahan jabatan harus didasarkan atas persetujuan dari instansi awal
dan instansi penerima sesuai dengan kebutuhan jabatan;
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Struktural
82

2. Pimpinan Instansi penerima menghubungi Pimpinan Instansi asal PNS asal
untuk mendapat persetujuan;
3. Sebelum Pimpinan Instansi penerima menghubungi Pimpinan Instansi asal
terlebih dahulu harus mendapat pertimbangan dari Baperjakat
4. Apabila Pimpinan Instansi asal ybs menyetujui, maka pimpinan Instansi asal
membuat Surat Pernyataan Persetujuan
5. Perpindahan dalam jabatan dilakukan berdasarkan pesetujuan antara
Pimpinan Instansi asal dan Pimpinan Instansi Penerima
6. Berdasar persetujuan Pimpinan instansi asal, Instansi Penerima mengusulkan
kepada:
a. Kepala BKN untk mendapat penetapan perpindahan;
i. Antar Dpartemen/Lembaga
ii. Anara Propinsi/Kabupaten/Kota dan Departemen /Lembaga
iii. Antar Daerah Propinsi
iv. Antara Daerah Kab/Kota dan Daerah Kab/Kota Propinsi lainnya
b. Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Propinsi untuk mendapat
penetapan pemindahan:
i. Antar Kabupaten/Kota dalam satu Propinsi
ii. Antara Kabupaten/kota dan Daerah Propinsi
7. Berdasarkan Keputusan Kepala BKN atau Pejabat Pembina Kepegawaian
Daerah Propinsi tersebut, Pimpinan Instansi penerima menerbitkan surat
keputusan pengangkatan dalam sruktural
Dalam hal perpindahan jabatan struktural bukan merupakan pindah instansi tetapi
hanya dipekerjakan, maka keputusan pengangkatan dalam jabatan struktural
dilakukan oleh instansi yang membutuhkan setelah menerima persetujuan pindah
dari instansi asal.
Dalam hal perpindahan jabatan struktural sifatnya diperbantukan, maka keputusan
dalam jabatan struktural dilakukan oleh instansi yang membutuhkan setelah
menerima persetujuan pindah dari instansi asal untuk menjamin pembinaan karier
yang sehat, pada prinsipnya tidak diperbolehkan perpindahan jabatan struktural dari
eselon yang lebih tinggi kedalam eselon yang lebih rendah.
3. Pemberhentian
Pegawai Negeri Sipil diberhentikan dari jabatan struktural karena:
1. Mengundurkan diri dari jabatan
2. Mencapai batas usia pensiun
3. Diberhentikan sebagai PNS
4. Diangkat dalam jabatan struktural lainnya atau jabatan fungsional
5. Cuti di luar tanggungan negara, kecuali cuti diluar tanggungan negara
karena persalinan
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Struktural
83

6. Tugas belajar lebih dari 6 bulan
7. Adanya perampingan organisasi pemerintah
8. Tidak memenuhi persyaratan kesehatan jasmani dan rohani
9. Hal lain yang ditetapkan perundangan yang berlaku
Pemberhentian PNS dari jabatan struktural ditetapkan dengan keputusan pejabat
yang berwenang setelah melalui pertimbangan Komisi Kepegawaian
Negara/Baperjaka disertai alasan yang jelas atas pemberhentiannya
PNS yang meninggal dunia dianggap telah diberhentikan dari jabatan strukturalnya.
4. Perangkapan Jabatan
Untuk optimalisasi kinerja, disiplin dan akuntabilitas pejabat struktural serta
menyadari akan keterbatasan kemampuan manusia, PNS yang menduduki jabatan
struktural tidak dapat menduduki jabatan rangkap, baik dengan jabatan struktural
lain maupun jabatan fungsional.
Rangkap jabatan hanya diperbolehkan apabila ketentuan perangkapan jabatan
tersebut diatur dengan Undang-undang atau peraturan pemerintah
5. Ketentuan Lain Lain
PNS yang diangkat dalam jabatan struktural setelah berlakunya PP 100 tahun 2000
dan pangkatnya masih 2 (dua) tingkat atau lebih dibawah jenjang pangkat dalam
jabatan yang ditentukan, keputusan dalam jabatan struktural tersebut dinyatakan
tidak sah dan harus dibatalkan.
PNS yang diangkat dalam jabatan struktural yang tingkat eselon jabatannya tidak
sesuai dengan eselon jabatan yang telah ditetapkan, keputusan pengangkatan dalam
jabatan struktural tersebut dinyatakan tidak sah dan harus dibatalkan.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Komisi Kepegawaian Negara dan BAPERJAKAT 84

XXI. KOMISI KEPEGAWAIAN NEGARA DAN BAPERJAKAT
A. PEMBENTUKAN
Untuk membantu Presiden dalam merumuskan kebijaksanaan manajemen PNS dan
memberikan pertimbangan tertentu, dibentuk Komisi Kepegawaian Negara (KKN).
Pembentukan KKN dimaksudkan untuk menjamin kualitas dan objektifitas
pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian PNS dalam dan dari pejabat
struktural eselon I di lingkungan Instanmsi Pusat dan jabatan lain yang
pengangkatan, pemindahan dan pemberhentiannya menjdi wewenang Presiden.
Sebelum KKN terbentuk pertimbangan pengangkatan, pemindahan dan
pemberhentian PNS dalam dan dari jabatan struktural eselon I dilakukan
berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Untuk menjamin
kwalitas dan objektifitas pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian PNS dalam
dan dari jabatan srtuktural eselon II ke bawah, dibentuk Badan pertimbangan
Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat). Baperjakat terdiri dari:
1. Beperjakat Instansi Pusat, yang dibentuk PPK Pusat
2. Baperjakat Instansi Daerah Propinsi, yang dibentuk PPK Propinsi
3. Baperjakat Instansi daerah Kabupaten/Kota, yang dibentuk Pejabat
Pembina Kepegawaian Daerah Kabupaten/Kota
B. KENGGOTAAN
Susunan keanggotaan KKN adalah tersiri dari 2 (dua) Anggota Tetap yang
berkedudukan sebagai Ketua dan Sekretaris Komisi, serta 3 (tiga) Anggota Tidak
tetap yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden
Ketua dan Sekretaris Kmisi Kepegawaian secara ex officio dijabat oleh Kepala dan
Wakil Kepala BKN.
Susunan Kenggotaan Baperjakat terdiri dari:
1. Seorang ketua merangkap anggota
2. Paling banyak 6 orang anggota
3. Seorang sekretaris
Ketua dan Sekretaris Baperjakat Instansi Pusat adalah pejabat eselon I dan pejabat
eselon II yang secara fungsional bertanggungjawab di bidang kepegawaian dengan
anggota pejabat eselon I lainnya. Bagi Instansi Pusat yang hanya terdapat satu
pejabat eselon I, Ketua dan Sekretaris Baperjakat adalah pejabat eselon II dan
pejabat eselon III yang secara fungsional bertanggungjawab di bidang kepegawaian
dengan anggota pejabat eselon II.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Komisi Kepegawaian Negara dan BAPERJAKAT 85

Ketua Baperjakat Instansi Daerah Propinsi adalah Sekretaris Daerah Propinsi dengan
anggota para pejabat eselon II dan Sekretarisdijabat oleh pejabat eselon III yang
membidangi kepegawaian.
Ketua Baperjakat Instansi Daerah Kabupaten/Kota adalah Sekretaris Daerah
Kabupaten/Kota dengan anggota para pejabat eselon II dan Sekretaris dijabat oleh
pejabat eselon III yang membidangi kepegawaian.
Untuk menjamin objektifitas dan kepastian dalam pengambilan keputusan, anggota
Baperjakat ditetapkan dalam jumlah ganjil
Masa keanggotaan Baperjakat paling lama 3 tahun dan dapat diangkat kembali
untuk masa kenggotaan berikutnya. Dalam hal Ketua Baperjakat Insansi Pusat dan
Daerah kosong, maka Pejabat Pembina Kepegawaian menunjuk salah seorang
anggota yang senior untuk menjadi ketua.
C. TUGAS
Komisi Kepegawaian Negara bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden
dalam:
1. Merumuskan kebijaksanaan umum kepegawaian;
2. Merumuskan kebijaksanaan penggajian dan kesejahteraan PNS;
3. Memberikan pertimbangan dalam pengangkatan, pemindahan dan
pemberhentian dalam dan dari jabatan struktural tertentu yang menjadi
wewenang Presiden.
Baperjakat Insansi Pusat dan Baperjakat Instansi Daerah Propinsi Kabupaten.Kota
bertugas memberikan pertimbangan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian dalam:
1. Pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian dalam dan dari jabatan
struktural eselon II kebawah
2. Pemberian kenaikan pangkat bagi yang menduduki jabatan truktural,
menunjukkan prestasi kerja yang luar biasa baiknya, atau menemukan
penemuan baru yang bermanfaat bagi negara
3. Perpanjangan batas usia pensiun bagi PNS yang menduduki jabatan
struktural eselon I dan eselon II
4. Pengangkatan Sekretaris Propinsi/Kabupaten/Kota

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Tunjangan Jabatan 86

XXII. TUNJANGAN JABATAN
A. PEMBAYARAN
PNS yang diangkat dalam jabatan struktural berhak mendapat tunjangan jabatan
struktural setiap bulan, yang diberikan terhitung mulai tanggal satu bulan berikutnya
setelah pelantikan.
B. PENGHENTIAN
Pembayaran tunjangan struktural dihentikan muai bulan berikutnya sejak PNS :
1. Diberhentikan dari jabatan struktural
2. Diberhentikan sementara
3. Menjalani cuti diluar tanggungan negara
4. Dijatuhi hukuman penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan
yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena dengan sengaja
melakukan suatu tindak
5. Menjalani cuti besar
PNS yang diberhentikan dari jabatan strukturalnya karena belajar lebih dari
6 (enam) bulan, dihentikan pembayaran tunjangan jabatan strukturnya terhitung
mulai bulan berikutnya setelah yang bersangkutan dihentikan dari jabatannya.
C. PEMBAYARAN KEMBALI
Tunjangan jabatan struktural bagi PNS yang telah selesai menjalankan cuti bersama
diluar tanggungan negara karena persalinan dan cuti besar, dibayarkan kembali
terhitung mulai tanggal 1 (satu) bulan berikutnya PNS yang bersangkutan telah aktif
melaksanakan tugas yang dinyatakan dengan surat pernyataan dari pejabat yang
berwenang.
Pembayaran kembali tunjangan jabatan struktural bagi PNS yang diberhentikan
sementara, dilakukan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.
D. TUNJANGAN JABATAN STRUKTURAL BAGI PNS YANG JABATANNYA
MENGALAMI PERUBAHAN ESELON
Apabila terjadi perubahan tingkat eselon suatu jabatan, maka pejabat yang
berwenang harus menetapkan surat keputusan pengangkatan dalam jabatan
strukturan PNS yang bersangkutan sesuai dengan jenjang eselon yang baru sebagai
dasar pembayaran tunjangan jabatan.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pemberhentian dari dan Pengaktifan Kembali
dalam Jabatan Organik
87

XXIII. PEMBERHENTIAN DARI DAN PENGAKTIFAN KEMBALI DALAM
JABATAN ORGANIK
A. PENGAKTIFAN KEMBALI
Pengaktifan kembali adalah mutasi mengenai pengaktifan kembali Pegawai Negeri
Sipil yang untuk sementara waktu dibebaskan dari organisasinya
Pengaktifan kembali Pegawai Negeri Sipil tersebut antara lain:
1) Pegawai Negeri Sipil setelah selesai menjalani CLTN
2) Pegawai Negeri Sipil yang menjadi Pejabat negara
3) Pegawai Negeri Sipil yang diangkat menjadi Kepala Desa
B. PENGAKTIFAN KEMBALI PNS SETELAH SELESAI MENJALANI CLTN
PNS setelah menjalankan CLTN wajib melaporkan diri kepada instansi induknya
untuk ditempatkan kembali apabila ada lowongan
Pimpinan Instansi yang menerima laporan adanya PNS yang selesai menjalani CLTN
wajib:
1) Menempatkan dan mempekerjakan kembali
2) Bila tak ada lowongan melaporkan ke BKN untuk kemungkinan disalurkan
ke instansi lain
3) Bila tidak memungkinkan ditempatkan di tempat lain, atas dasar
pemberitahuan dari BKN tersebut Pimpinan Instansi Induk memberhentikan
PNS ybs dari jabatan karena kelebihan pegawai
4) Penempatan kembali Pegawai Negeri Sipil yang selesai CLTN ditetapkan
dengan SK PYB setelah mendapat persetujuan Ka BKN
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk permintaan Nota Pertimbangan Pengaktifan
kembali
1) Surat Pengantar dari PYB
2) Blanko pengaktifan kembali dari CLTN (rangkap 5)
3) Nota permohonan CLTN maupun perpanjangan CLTN
4) Salinan SK Kenaikan Pangkat terakhir
5) Surat Nikah
C. PERBANTUAN PNS PADA INSTANSI SWASTA BUMN/BUMD ATAU
LEMBAGA-LEMBAGA INTERNASIONAL
PNS yang diperbantukan pada instansi swasta, BUMN/BUMD atau lembaga-lembaga
internasional dihentikan/dibatasi, kecuali :
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pemberhentian dari dan Pengaktifan Kembali
dalam Jabatan Organik
88

1) Perbantuan PNS khusus untuk mengisi jabatan pimpinan yang telah
dipersamakan eselonnya
2) Perbantuan PNS atas permintaan Lembaga Internasional dengan persetujuan
atas penunjukan Pemerintah RI
3) Perbantuan Dosen atau Guru pada Yayasan/Perguruan Swasta
4) Perbantuan karena perluasan/penyederhanaan organisasi
D. PENGAKTIFAN KEMBALI PEGAWAI NEGERI SIPIL MENJADI KEPALA
DESA
Pegawai Negeri yang diangkat menjadi Pejabat Negara diberhentikan dari jabatan
organiknya selama menjadi Pejabat Negara tanpa kehilangan statusnya sebagai
Pegawai Negeri
Pegawai Negeri Sipil yang telah selesai menjalankan tugasnya sebagai Kepala Desa
diperkerjakan kembali di instansi tempatnya bekerja semula.
Persyaratan:
1) Salinan sah Surat Keputusan dalam pangkat terakhir
2) Surat ijin untuk menjadi Kepala Desa dari Pimpinan Instansi yang
bersangkutan
3) Salinan sah Surat Keputusan pengangkatan sebagai Kepala Desa
4) Salinan sah Surat Keputusan pemberhentian sebagai Kepala Desa dari Pejabat
Yang Berwenang

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Fungsional
89

XXIV. PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN DALAM JABATAN
FUNGSIONAL
A. LATAR BELAKANG
Kedudukan manusia dalam organisasi sangat penting dan menentukan. Disamping
sebagai aset utama dari rganisasi, sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu
penentu dari keberhasilan pencapaian tujuan organisasi. Bahkan suatu keunggulan
konpetitif akan mungkin sekali dapat dicapai mealui pengelolaan SDM yang baik.
Oleh karena itu sangat mudah bagi suatu organisasi untuk mengelola SDM-nya
secara baik dan benar.
Dalam organisasi negara, peranan dan kedudukan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sangat
strategis. PNS merupakan unsur Aparatur Negara yang bertugas untuk memberikan
pelayanan kepaa masyarakat secara profesional, jujur, adil dan merata dalam
penyelenggaraan tugas Negara, pemerintah, dan pembangunan. Kelancaran
penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan nasional terutama tergantung dari
kesempurnaan Aparatur Negara dan kesempurnaan Aparatur Negara tergantung dari
kesempurnaan PNS.
Dengan kedudukan yang penting dan strategis tersebut, maka PNS perlu
dikelola/dimanage, dan dibina sehingga mampu bekerja secara optimal. Salah satu
bentuk dari pembinaan Pegawai Negeri Sipil adalah pembinaan kariernya.
Pembinaan karier yang baik adalah salah satu sendi organisasi yang baik, karena
dengan system pembinaan karier yang baik dan dilaksanakan dengan baik pula akan
dapat menimbulkan kegairahan bekerja, dan rasa tanggungjawab dari seluruh
pegawai. (H. Nainggolan 1985)
Dalam rangka pembinaan karier Pegawai Negeri Sipil tidak dapat dipisahkan dari
pengangkatan mereka dalam satu jabatan, disamping masalah kenaikan pangkat dan
Pendidikan dan Pelatihan. Namun demikian masalah promosi dalam jabatan yang
sering mendapat sorotan.
Pada masa sekarang ini. Kesempatan organisasi untuk mengembangkan kareier
PNSnya melalui jalur promosi dalam jabatan sangat terbatas. Hal ini disebabkan
adanya kecnderunagn organisasi untuk meningkatkan efisiensi dan kinrja melalui
upaya penyemitan struktur organisasi, atau sering diebut miskin struktur kaya
fungsi. Oleh karena itu maka jalur yang menungkinkan untuk suatu fungsional,
yaitu dengan cara membuka jabatan fungsional yang sesuai dengan yugas pokok dan
fungsi dari organisasi yang bersangkutan.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Fungsional
90

B. DASAR HUKUM
1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok Kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 Tentang Peraturan Gaji Pegawai
Negeri Sipil sebagaimana telah beberapa kali diubah dan terakhir dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2011;
3. Peraturan Pemerintah Tahun 16 Tahun 1994 Tentang Jabatan Fungsional
Pegawai Negeri Sipil Jo Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2010;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 Tentang Wewenang
Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil;
5. Keputusan Presiden RI Nomor 87 Tahun 1999 Tentang Rumpun Jabatan
Fungsional Pegawai Negeri Sipil
C. JABATAN FUNGSIONAL
Jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukan tugas, tanggungjawab,
wewenang dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatu satuan organisasi yang
dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian dan/atau ketrampilan
tertentu serta bersifat mandiri. Pejabat fungsional pada hakekatnya adalah seorang
yang mempunyai tanggungjawab hasil pelaksaan tugas dan kewenangan
pelaksanaan tugas secara mandiri. Didalam pelaksanaan tugas pejabat fungsional
tidak mutlak harus bekerja sendiri, namun bisa dibantu pejabat fungsional yang lain,
hanya tanggungjawab hasil pelaksanaan tugas dan kewenangan pelaksanaan tugas
tetap melekat pada pejabat fungsional terebut.
Jabatan fungsional dapat dikategorikan menjadi dua yaitu Jabatan Fungsional
Ketrampilan dan Jabatan Fungsional Keahlian.
1. Jabatan Fungsional Ketrampilan
Jabatan Fungsional Ketrampilan adalah jabatan fungsional yang pelaksanaan
tugasnya (PP 16 Tahun 1994 Jo PP 40/2010 ttg Jabatan Fungsional PNS)
1. Mensyaratkan kualifikasi teknis professional dan/atau penunjang
professional dengan pendidikan serendah-rendahnya Sekolah Menengah
Umum atau Sekolah Menengah Kejuruan dan setinggi-tingginya setingkat
Diploma III
2. Meliputi kegiatan teknis operasional yang berkaitan dengan penerapan
konsep atau metoda operasional dari suatu bidang profesi
3. Terikat pada etika perofesi tertentu yang ditetapkan, Jabatan fungsional
profesinya
Berdasarkan penilaian bobot jabatan fungsional, Jabatan fungsional
ketrampilan terdiri empat jenjang, yaitu:
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Fungsional
91

1. Penyelia : Gol.III/c-III/d
2. Pelaksana Lanjutan : Gol.III/a-III/b
3. Pelaksana : Gol.II/b-II/d
4. Pelaksana Pemula : Gol.II/a
2. Jabatan Fungsional Keahlian
Jabatan Fungsional keahlian adalah jabatan fungsional yang pelaksanaan
tugasnya:
1. Mensyaratkan kualifikasi professional dnan pendidikn serendah-rendahnya
berijazah sarjana (Strata 1);
2. meliputi kegiatan yan berkaitan dengan penelitian dan pengembanagn,
peningkatan dan penerapan konsep dan teori sertametoda operasional dan
penerapan disiplin ilmu pengetahuan yang mendasari pelaksanaan tugas
dan fungsi jabatan fungsional jabatan fungsional yang bersangkutan;
3. terikat pada etika profesi tertentu yang ditetaokan oleh ikatan profesinya.
Berdasarkan penilaian terhadap bobot penilaian jabatan fungsional, jabatan
fungsional keahlian dibagi dalam empat jenjang yaitu:
1. Utama : Gol.IV/c-IV/e
2. Madya : Gol.IV/a-IV/b
3. Muda : Gol.III/c-III/d
4. Pertama : Gol.III/a-III/b
Untuk menetapkan jenjang jabatan pada setiap jenis jabatan fungsional, baik jabatan
fungsional keahlian maupun jabatan fungsional ketrampilan dilakukan melalui
evaluasi jabatan sesuai dngan faktor-faktor penilaian yang ditetapkan dengan
memperhatikan karakterisik jabatan yang bersangkutan.
Jenjang jabatan keahlian dan ketrampilan mempunyai jalur jenjang jabatan yang
berbeda dan mempunyai jenjang pangkat yang berbeda pula satu sama lain.
D. RUMPUN JABATAN FUNSIONAL
Rumpun jabatan fungsional adalah himpunan jabatan fungsional keahlian dan/atau
jabatan fungsional ketrampilan yang mempunyai fungsi dan tugas yang berkaitan
erat satu sama lain dalam melaksanakan salah satu tugas umum pemerintahan.
Menurut Keppres Nomor 87 Tahun 1999 ada 25 rumpun jabatan fungsional,yang
masing-masing diantara terdiri dari jabatan-jabatan fungsional yang jumlahnya
kurang lebih dari 114 jabatan fungsional.
Jabatan-jabatan di dalam suatu rumpun jabatan tidak berdifat statis, tetapi dapat
berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi, sehingga dapat
terjadi pemerkayaan jabatan di dalam suatu rumpun jabatan. Sebagai contoh pada
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Fungsional
92

awalnya rumpun jabatan pendidikan hanya terdiri dari dosen dan guru. Namun
karena tingkat kompleksitas kegiatan di bidang pendidikan timbul kebutuhan
fungsional baru seperti ahli kurikulum, ahli pengujian dan sebagainya (penjelasan PP
16 Tahun 1994). Dapat pula terjadi pengembangan jabatan dari spesialisasi kearah
sub spesialisasi.
Penetapan jabatan fungsional dalam suatu unit organisasi dimungkinkan sepanjang
jabatan fungsional tersebut sesuai dengan tugas dan fungsi dari organisasi yang
bersangkutan.
E. PENGANGKATAN JABATAN FUNGSIONAL
Pengangkatan dalam jabatan fungsional dapat dibedakan menjadi :
1. Pengangkatan Pertama, yaitu pengangkatan untuk mengisi lowongan
formasi melalui cpns.
2. Pengangkatan Perpindahan, yaitu pengangkatan yg dilakukan melalui
perpindahan dari jabatan struktural atau jabatan fungsional lain ke dalam
jabatan fungsional tertentu.
3. Pengangkatan karena inpassing/penyesuaian, yaitu Pengangkatan dalam
jabatan fungsional bagi PNS yg pada saat Peraturan Menpan ditetapkan,
telah dan masih melaksanakan tugas jabatan fungsional dimaksud.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengangkatan PNS dalam
jabatan fungsional antara lain:
1. 1. 1. 1. Berstatus PNS. Berstatus PNS. Berstatus PNS. Berstatus PNS.
Jabatan fungsional hanya dapat diduduki oleh mereka yang berstatus sebagai
PNS, sehingga bagi mereka yang masih berstatus sebagai Calon PNS belum bisa
diangkat dalam jabatan fungsional.
2. 2. 2. 2. Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pendidikan Formal
Untuk diangkat dalam jabatan fungsional, ada beberapa jabatan fungsional
yang mempersyaratkan pendidikan formal untuk untuk pengangkatannya. Hal
ini berkaitan dengan kategori dan jenjang jabatan fungsional yang akan
didudukinya, baik dalam tingkatan ahli maupun terampil.
3. 3. 3. 3. Diklat fungsional Diklat fungsional Diklat fungsional Diklat fungsional
Untuk meningkatkan kompetensi PNS yang diangkat dalam jabatan fungsional,
maka perlu diikutsertakan dalam Diklat Fungsional sesuai kompetensi yang
dibutuhkan.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Fungsional
93

4. 4. 4. 4. Usia Usia Usia Usia
Pengangkatan PNS dalam jabatan fungsional harus mempertimbangkan usia,
sehingga potensi PNS tersebut masih bisa dikembangkan.
5. 5. 5. 5. Jenjang kepangkatan Jenjang kepangkatan Jenjang kepangkatan Jenjang kepangkatan
Pengangkatan PNS dalam jabatan fungsional harus memperhatikan jenjang
kepangkatan minimal untuk jabatan tersebut.
6. 6. 6. 6. Penetapan PAK Penetapan PAK Penetapan PAK Penetapan PAK
Untuk diangkat dalam jabatan fungsional harus ditetapkan angka kreditnya
dahulu.
Hal-hal yang berkaitan dengan pengangkatan dalam Jabatan Fungsional
1. Pembentukan Jabatan Fungsional
Pembentukan suatu jabatan fungsional dibuat dan diusulkan oleh Pejabat
Pembina Kepegawaian kepada Menteri yang bertanggungjawab di bidang
Aparatur Negara.
2. Pembinaan Jabatan Fungsional
Instansi Pembina Jabatan Fungsional adalah instansi yang menggunakan
jabatan fungsional yang mempunyai bidang kegiatan sesuai dengan tugas
pokok instansi tersebut atau instansi yang apabila dikaitkan dengan bidang
tugasnya dianggap mampu untuk ditetapkan sebagai pembina jabatan
fungsional.
Pembinaan jabatan fungsional meliputi penetapan dan pengendalian terhadap
standar profesi yang meliputi kewenangan penanganan, prosedur pelaksanaan
tugas dan metodologinya, termasuk didalamnya penetapan petunjuk teknisnya
3. Pengangkatan/Pembebasan/Pemberhentian
Pengangkatan pembebasan sementara dan pemberhentian PNS dalam jabatan
fungsional ditetapkan oleh pejabat yang berwenang mengangkat,
memindahkan dan memberhentikan PNS dengan memperhatikan kebutuhan
organisasi.
Pengangkatan PNS dalam suatu jabatan fungsional disamping perlu
mempertimbangkan lingkup tugas organisasi dengan rincian tugas jabatan
fungsional, harus pula mempertimbangkan beban kerja yang ada yang
memberi kemungkinan untuk pencapaian angka kredit bagi pejabat fungsional
yang bersangkutan.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Fungsional
94

Pejabat Fungsional dapat dibebaskan dibebaskan dibebaskan dibebaskan sementara sementara sementara sementara dari jabatan fungsional,
apabila :
a. Tidak Dapat Mengumpulkan Angka Kredit
b. Dijatuhi hukuman Disiplin.tingkat sedang atau berat berupa penurunan
pangkat
c. Diberhentikan sementara sebagai PNS
d. Ditugaskan secara penuh diluar jabatan
e. Cuti diluar tanggungan negara
f. Tugas belajar lebih dari enam bulan
Pejabat Fungsional dapat diberhentikan diberhentikan diberhentikan diberhentikan dari jabatan fungsional, apabila :
a. 1 tahun sejak dibebaskan sementara tidak dapat mengumpulkan angka
kredit yang ditentukan.
b. Dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat & telah mempunyai kekuatan
hukum tetap kecuali penurunan pangkat.
4. Kewajiban Pejabat Fungsional
Pejabat fungsional mempunyai kewajiban (secara umum) untuk :
a. Untuk kelancaran penilaian & penetapan angka kredit wajib
mencatat/menginventarisir seluruh kegiatan yg dilakukan
b. Mengajukan usul penilaian dan penetapan angka kredit
c. Penilaian dan penetapan angka kredit sekurang-kurangnya 2 kali dalam 1
tahun yaitu 3 bulan sebelum periode kenaikan pangkat.
5. Tunjangan pejabat
Pejabat yang berwenang membuat usulan besarnya pemberian tunjangan
jabatan fungsional dalam lingkungan setelah dikonsultasikan dengan Menteri
Keuangan, sesuai pangkat dan jenjang jabatan yang kemudian ditetapkan
dengan Keputusan Presiden (Keppres).
Setiap PNS yang diangkat dalam jabatan fungsional mendapatkan tunjangan
jabatan fungsional yang besarnya sesuai dengan yang ditetapkan dalam
keppres tentang jabatan fungsional tersebut.
Tunjangan jabatan fungsional mulai dibayarkan mulai tanggal 1 bulan
berikutnya setelah PNS yang bersangkutan secara nyata melaksanakan tugas
sesuai dengan surat keterangan yang dikeluarkan pejabat yang berwenang.
Pembayaran tunjangan jabatan fungsional diberhentikan apabila:
a. Diberhentikan dari jabatan fungsional
b. Berhenti sebagai PNS
c. Diberhentikan sementara dari jabatan fungsional
d. Dijatuhi hukuman penjara atau hukuman kurungan berdasar keputusan
pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Fungsional
95

e. Tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan
6. Penetapan Angka Kredit (Pembuat PAK)
Angka Kredit adalah Satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan/atau akumulasi
nilai butir kegiatan yang harus dicapai oleh pejabat fungsional yangdigunakan
sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan dalam jabatan, kenaikan jabatan
dan pangkat.
Pembentukan jabatan fungsional harus mempertimbangkan sistim kenaikan
pangkat sesuai jabatan fungsional dimaksud, yaitu apakah harus dengan angka
kredit, siapa yang berwenang menetapkan angka kredit dsb. Berkaitan dengan
hal tersebut, maka Tim Penilai Angka Kredit harus dibentuk oleh Pejabat yang
Berwenang
Pembentukan Tim Penilai Angka Kredit, diatur sebagai berikut :
a. Tim Penilai Pusat ditetapkan oleh pemimpin instansi Pembina jabatan
fungsional. yang dimaksud instansi jabatan Pembina jabatan fungsional
adalah instansi yang menggunakan jabatan fungsional yang mempunyai
bidang kegiatan sesuai dengan tugas pokok instansi tersebut atau instansi
yang apabila dikaitkan dengan bidang tugasnya dianggap mampu untuk
ditetapkan sebagai Pembina jabatan fungsional.
b. Tim Penilai Instansi ditetapkan oleh pemimpin instansi pengguna jabatan
fungsional
c. Mekanisme pendelegasian wewenang ditetapkan oleh instansi Pembina
d. Tim Penilai Pusat mempunyai kewenangan untuk menilai pejabat
fungsional Madya pangkat Pembina Tk.I golongan ruang IV/b sampai
dengan Utama Pangkat Pembina Utama golongan ruang IV/e.
e. Tim Penilai Instansi mempunyai kewenangan untuk menilai pejabat
fungsional Pelaksana Pemula pangkat golongan ruang II/a sampai dengan
Madya pangkat golongan ruang IV/a.
7. Uraian kegiatan
Uraian mengenai kegiatan apa saja yang dapat dimasukkan dalam penilaian
pada pembuatan angka kredit harus jelas dan terukur, sehingga PNS yang
memangku jabatan fungsional tersebut tidak mengalami kesulitan dalam
melaksanakan tugas dan memperoleh angka kredit yang dibutuhkan untuk
keperluan kenaikan pangkat.
8. Kenaikan Jabatan
PNS yang menduduki jabatan fungsional dapat dinaikkan Jabatannya, apabila
memenuhi ketentuan :
a. Sekurang-kurang nya 1 tahun dalam jabatan terakhir
b. Telah mencapai angka kredit kumulatif yg ditentukan (PAK)
c. DP-3 bernilai baik setiap unsurnya
d. Tersedianya formasi
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pengangkatan dan Pemberhentian Dalam
Jabatan Fungsional
96

e. Usul dari Pimpinan unit kerja
9. Kenaikan Pangkat
PNS yang naik pangkat harus memenuhi angka kredit yang dipersyaratkan
sesuai jumlah yang dipersyaratkan untuk jenjang jabatan fungsional tersebut.
PNS yang menduduki jabatan fungsional dapat dinaikkan pangkatnya, apabila
memenuhi ketentuan :
a. Sekurang-kurangnya telah dua tahun dalam pangkat terakhir.
b. Telah mencapai angka kredit kumulatif yg ditentukan (PAK)
c. DP-3 bernilai baik setiap unsurnya
d. Usul dari Pimpinan unit kerja
Untuk kenaikan Pangkat dalam jenjang Jabatan yang lebih tinggi, dapat
dipertimbangkan apabila kenaikan jabatannya telah ditetapkan oleh pejabat
yang berwenang (saat ini baru diberlakukan pada jabatan-jabatan tertentu)
10. Alih Jenjang
Alih Jenjang dari Terampil ke Ahli dapat dipertimbangkan bagi pejabat
fungsional apabila :
a. Mempunyai ijazah S-1 / D-IV sesuai dg ketentuan
b. Nilai DP-3 semua unsur baik
c. Angka Kredit yang dipersyaratkan mencukupi dan dinilai 65% pada unsur
utama kecuali pendidikan, unsur penunjang dihilangkan (saat ini masih
dalam jabatan-jabatan tertentu, seperti : bidan, penyuluh pertanian,
perikanan, kehutanan, penilik dll.)
d. telah mengikuti Diklat penjenjangan Ahli bagi yang dipersyaratkan
11. Angka Kredit
Angka kredit yang dipakai sebagai penilaian prestasi kerja merupakan salah
satu unsur dari daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan (DP3) PNS, oleh
karenanya maka unsur-unsur lain yang dipersyaratkan dalam DP3 bagi
kenaikan pangkat atau kenaikan jabatan perlu dipenuhi oleh pejabat
fungsional.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 97

XXV. PENILAIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PNS
A. UMUM
Dalam rangka untuk lebih menjamin objektifitas dalam pembinaan PNS
berdasarkan sisem karier dan sistem prestasi kerja, maka dikeluarkan Peraturan
Pemerintah No. 10 Tahun 1979, tentang Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (P-3)
PNS (conduite staat)
Hasil penilaian dituangkan dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan
(DP-3) yang memuat hasil P-3 seorang PNS selama 1 (satu) tahun yang dibuat
oleh pejabat penilai.
Pejabat penilai adalah atasan langusng dari PNS yang bersangkutan
B. DASAR HUKUM
a. Undang undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok Pokok Kepegawaian jo.
Undang undang Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Perubahan Undang-undang
Nomor 8 Tahun 1974
b. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1979 Tentang Penilaian Pelaksanaan
Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil.
C. PENGERTIAN
Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan adalah:
a. Penilaian individu mengenai pelaksanaan pekerjaan di tempat kerja dan
kesanggupan untuk memperolah kemajuan secara sistematis (Moekijat,
1991:99)
b. Merupakan penilaian hasil kerja yang dicapai oleh pegawai, artinya meliputi
jumlah dan mutu yang dihasilkan sesuai standar yang ditetapkan (Mokhamad
Syuhadak, 1996:72)
D. TUJUAN
Untuk memperoleh bahan-bahan pertimbanan yang objektif dalam pembinaan
PNS berdasarkan sistem karier dan sistem prestasi kerja.
E. UNSUR YANG DINILAI
1. Kesetiaan
Kesetiaan: adalah kesetiaan, ketaatan dan pengabdian kepada Pancasila,
UUD-45, Negara dan Pemerintah
Kesetiaan adalah tekad dan kesanggupan mantaati, melaksanakan dan
mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan penuh kesadaran dan
tanggungjawab.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 98

Pengabdian adalah penyumbangan pikiran dan tenaga secara ikhlas
dengan mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan golongan
atau pribadi.
2. Prestasi Kerja
Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang PNS dalam
melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya.
Prestasi kerja dapat dipengaruhi oleh: kecakapan, ketrampilan,
pengalaman dan kesungguhan PNS yang bersangkutan.
UNSUR
YANG
DINILAI
URAIAN SEBUTAN ANGKA
PRESTASI
KERJA
1. Mempunyai kecakapan dan menguasai segala seluk
beluk bidang tugasnya dan bidang lain yang
berhubungan dengan tugasnya
Amat baik 91-100
2. Mempunyai ketrampilan yang sangat baik dalam
melaksanakan tugasnya

3. Mempunyai pengalaman yang luas dibidang
tugasnya dan bidang lain yang berhubungan dengan
bidang tugasnya

4. Selalu bersunggung-sungguh dan tidak mengenal
waktu dalam melaksanakan tugasnya

5. Mempunyai kesegaran dan kesehatan jasmani dan
rohani yang baik

6. Selalu melaksanakan tugas secara berdaya guna dan
berhasil guna

7. Hasil kerjanya jauh melebihi hasil kerja rata-rata
yang ditentukan baik dalam arti mutu maupun
jumlah

8. Mempunyai kecakapan dan menguasai segala seluk
beluk bidang tugasnya
Baik 76-90
9. Mempunyai ketrampilan yang baik dalam
melaksanakan tugasnya

10. Mempunyai pengalaman yang luas di bidang
tugasnya

11. Selalu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan
tugasnya

12. Pada umumnya mempunyai kesegaran jasmani dan
rohani yang baik

13. Pada umumnya melaksanakan tugas secara
berdayaguna dan berhasilguna

14. Mencapai hasil kerja hasil rata-rata yang ditentukan,
baik dalam arti mutu maupun jumlah

15. Mempunyai kecakapan yang cukup dalam
melaksanakan tugasnya
Cukup 61-75
16. Mempunyai ketrampilan yang cukup dalam
melaksanakan tugasnya


Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 99

UNSUR
YANG
DINILAI
URAIAN SEBUTAN ANGKA
17. Mempunyai pengalaman yang cukup di bidang
tugasnya

18. Bersungguh-sungguh melaksanakan tugasnya kalau
ada dorongan

19. Adakalanya terganggu kesehatannya
20. Adakalanya tidak dapat melaksanakan tugasnya
secara berdayaguna dan berhasilguna

21. Adakalanya tidak mencapai hasil kerja hasil rata-
rata yang ditentukan, baik dalam arti mutu maupun
jumlah

22. Mempunyai kecakapan yang sedang dibidang
tugasnya
Sedang 51-60
23. Mempunyai ketrampilan yang sedang dalam
melaksanakan tugasnya

24. Mempunyai pengalaman yang sedang di bidang
tugasnya

25. Adakalanya tidak bersungguh-sungguh dalam
melaksanakan tugasnya

26. Berkali-kali terganggu kesehatan jasmaninya sering
terganggu pelaksanaan tugasnya

27. Berkali-kali tidak dapat melaksanakan tugasnya
secara berdayaguna dan berhasilguna

28. Berkali-kali tidak mencapai hasil kerja hasil rata-
rata yang ditentukan, baik dalam arti mutu maupun
jumlah

29. Kurang mempunyai kecakapan dibidang tugasnya Kurang 50
kebawah
30. Kurang ketrampilan yang sedang dalam
melaksanakan tugasnya

31. Kurang pengalaman yang sedang di bidang tugasnya
32. Kurang bersungguh-sungguh melaksanakan
tugasnya

33. Sering terganggu kesehatan jasmaninya
34. Sering tidak dapat tidak dapat melaksanakan
tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna

35. Hasil kerjanya selalu jauh dibawah hasil kerja rata-
rata yang ditentukan baik baik dalam arti mutu
maupun jumlah


3. Tanggung jawab
Tanggung jawab adalah kesanggupan seorang PNS dalam menyelesaikakn
pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan tepat pada
waktunya serta berani memikul atas keputusan yang diambilnya atau
tindakan yang dilakukannya.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 100

4. Ketaatan
Ketaatan adalah kesanggupan ketulusan hati seorang PNS untuk mentaati
segala peraturan perundangan dan peraturan kedinasan yan berlaku.
Mentaati perintah kedinasan yang diberikan oleh atasan yang berwenang,
serta kesanggupan untuk tidak melanggar larangan yang ditentukan.
5. Kejujuran
Kejujuran adalah ketulusan hati seorang PNS dalam melaksanakan tugas dan
kemapuan utnuk tidak menyalagunakan wewenang yang diberikan
kepadanya.
UNSUR
YANG
DINILAI
URAIAN SEBUTAN ANGKA
KEJUJURAN 1. Selalu melaksanakan tugas dengan ikhlas Amat Baik 91-100
2. Tidak pernah menyalahgunakan wewenangnya
3. Selalu melaporkan hasil kerjanya kepada atasannya
menurut keadaan yang sebenarnya

4. Pada umumnya melaksanakan tugas dengan ikhlas Baik 76-90
5. Pada umumnya tidak pernah menyalahgunakan
wewenangnya

6. Pada umumnya melaporkan hasil kerjanya kepada
atasannya menurut keadaan yang sebenarnya

7. Adakalanya kurang ikhlas melaksanakan tugasnya Cukup 61-75
8. Karena terpengaruh oleh lingkungan, adakalanya
menyimpang dari wewenangnya tetapi tidak
menimbulkan kerugian terhadap negara dan
masyarakat

9. Adakalanya hasil kerjanya dilaporkan kepada atasan
kurang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya

10. Adakalanya tidak ikhlas melaksanakan tugasnya Sedang 51-60
11. Adakalanya menyimpang dari wewenangnya tetapi
tidak menimbulkan kerugian terhadap negara

12. Kadang-kadang hasil kerjanya dilaporkan kepada
atasan lebih baik daripada keadaan yang sebenarnya

13. Sering tidak ikhlas melaksanakan tugasnya Kurang 50
kebawah
14. Sering menyimpang dari wewenangnya yang
adakalanya menimbulkan kerugian terhadap negara
atau masyarakat

15. Sering hasil kerjanya yang dilaporkan pada atasan
menyimpang dari keadaan yang sebenarnya.


Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 101

6. Kerjasama
Kerjasama adalah kemampuan seorang PNS untuk bekerja bersama-sama
dengan orang lain dalam menyelesaikan sesuatu tugas yang ditentukan
sehingga mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya
7. Prakarsa
Prakarsa adalah kemampuan seorang PNS untuk mengambil keputusan,
langkah-langkah atau melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam
melaksanakan tugas pokok tanpa menunggu perintah dari atasan.
UNSUR
YANG
DINILAI
URAIAN SEBUTAN ANGKA
PRAKARSA 1. Tanpa menunggu petunjuk atau perintah dari
atasan, mengambil keputusan atau melakukan
tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan
tugasnya, tetapi tidak bertentangan dengan
kebijaksanaan umum pimpinan
Amat Baik 91-100
2. Selalu berusaha mencari tata kerja baru dalan
mencapai dayaguna dan hasilguna yang sebesar-
besarnya

3. Selalu berusaha memberikan saran yang
dipandangnya baik, dan berguna kepada atasan, baik
yang diminta atau tidak diminta mengenai atau yang
ada hubungannya dengan pelaksanaan tugas


4. Dalam keadaan yang mendesak, tanpa menunggu
petunjuk atau perintah atasan mengambil keputusan
atau melakukan tindakanyang diperlukan dalam
melaksanakan tugasnya, tetapi tidak bertentangan
dengan kebijaksanaan umum pimpinan
Baik 76-90
5. Pada umumnya berusaha mencari tata kerja baru
dalan mencapai dayaguna dan hasilguna yang
sebesar-besarnya

6. Pada umumnya selalu berusaha memberikan saran
yang dipandangnya baik, dan berguna kepada
atasan, baik yang diminta atau tidak diminta
mengenai atau yang ada hubungannya dengan
pelaksanaan tugas


7. Tanpa petunjuk atau perintah dari atasan,
adakalanya lambat dalam mengambil keputusan atau
melakukan tindakan yang diperlukan dalam
melaksanakan tugasnya
Cukup 61-75
8. Adakalanya berusaha mencari tata kerja baru dalan
mencapai dayaguna dan hasilguna yang sebesar-
besarnya

9. Baru mau memberikan saran kepada pimpinan
apabila diminta

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 102

UNSUR
YANG
DINILAI
URAIAN SEBUTAN ANGKA
10. Tanpa petunjuk atau perintah dari atasan ragu-ragu
mengambil keputusan atau melakukan tindakan
yang diperlukan dalam melaksanakan tugasnya
Sedang 51-60
11. Kurang berusaha mencari tata kerja baru dalan
mencapai dayaguna dan hasilguna yang sebesar-
besarnya

12. Kurang berani memberikan saran kepada pimpinan
13. Tanpa petunjuk atau perintah dari atasan tidak
berani mengambil keputusan atau melakukan
tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan
tugasnya
Kurang 50
kebawah
14. Tidak berusaha mencari tata kerja baru dalan
mencapai dayaguna dan hasilguna yang sebesar-
besarnya

15. Tidak berani memberikan saran kepada pimpinan

8. Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah kemampuan seorang PNS untuk meyakinkan orang
lain sehingga dapat dikerahkan secara maksimal untuk melaksanakan tugas
pokok. (khusus untuk PNS yang berpangkat Pengatur Muda golongan ruang
II/a ke atas yang memangku suatu jabatan)
F. SIFAT DP-3
Sifat DP-3 adalah rahasia :
Harus disimpan dan dipelihara dengan baik
Hanya dapat diketahui oleh PNS yang dinilai, pejabat penilai atasan, pejabat
penilai, atasan dari atasan pejabat penilai (sampai yang tertinggi) dan atau
pejabat lain yang karena tugas atau jabatannya mengharuskan ia mengetahui
DP-3.
G. PENGGUNAAN DP-3
a. Dp-3 digunakan sebagai bahan dalam melaksanakan pembinaan atau
pengembangan karis PNS antara lain: dalam mempertimbangkan kenaikan
pangkat, penempatan dalam jabatan, pemindahan dan lain-lain.
b. Nilai dalam DP-3 digunakan sebagai bahan pertimbanan untuk menetapkan
suatu mutasi kepegawaian dalam tahun berikutnya kecuali ada perbuatan
tercela yang dilakukan oleh PNS yang bersangkutan yang dapat mengurangi
atau meniadakan nilai tersebut.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 103

H. PEJABAT PENILAI
Pejabat penilai adalah atasan langsung dari PNS yng dinilai, dengan ketentuan:
a. Serendah-rendahnya Kepala Urusan atau pejabat lain yangsetingkat dengan
itu, kecuali ditentukan lain oleh Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan
Kesekretariatan, Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Pimpinan Lembaga
Pemerintah Non Departemen, dan Gubernur dalam lingkungan masing-
masing.
b. Pejabat penilai dapat memberikan penilaian apabila ia telah membawahi PNS
yang bersangkutan sekurang-kurangnya 6 bulan, kecuali untuk suatu mutasi
kepegawaian maka pejabat penilai dapat melakukan penilaian pelaksanaan
pekerjaan dengan menggunakan bahan-bahan yang ditinggalkan oleh pejabat
yang lama.
c. Pejabat peniaia berkewajiban melakukan penilaian terhadap PNS yang secara
langsung berada di bawahnya.
d. Penilaian dilakukan pada bulan Desember tiap-tiap tahun, jangka waktu
penilaian mulai bulan Januari sampai dengan Desember dalam tahun yang
bersangkutan.
No Pejabat Yang Dinilai
Pejabat Penilai
(PP)
Atasan Pejabat
Penilai (APP)
Keterangan
1 Sekretaris Daerah dan Staf Ahli
Bupati
Bupati
1. Sekretaris Daerah Bupati Bupati
2. Asisten Sekretaris Daerah Sekretaris Daerah Bupati
3. Staf Ahli Bupati Sekretaris Daerah Bupati
4. Kepala Bagian Asisten Sekretaris
Daerah
Sekretaris Daerah
5. Pejabat Fungsional Khusus Kepala Bagian Asisten Sekretaris
Daerah

6. Staf / Pejabat Fungsional Umum Kepala Sub Bagian Kepala Bagian

2 Sekretaris DPRD
1. Sekretaris DPRD Sekretaris Daerah Bupati
2. Kepala Bagian Sekretaris DPRD Bupati
3. Kepala Sub Bagian Kepala Bagian Sekretaris DPRD
4. Pejabat Fungsional Khusus Sekretaris DPRD Sekretaris Daerah
5. Staf / Pejabat Fungsional Umum Kepala Sub Bagian Kepala Bagian

3 Lembaga Teknis Daerah Dan
Satpol PP

A. Inspektorat
1. Inspektur Sekretaris Daerah Bupati
2. Sekretaris Inspektur Sekretaris Daerah
3. Inspektur Pembantu Inspektur Sekretaris Daerah
4. Kepala Sub Bagian Sekretaris Inspektur
5. Pejabat Fungsional Khusus
Auditor
Inspektur Pembantu Inspektur
6. Pejabat Fungsional Khusus
Lainnya
Sekretaris Inspektur
7. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Sub Bagian Sekretaris
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 104

No Pejabat Yang Dinilai
Pejabat Penilai
(PP)
Atasan Pejabat
Penilai (APP)
Keterangan
B. Badan
1. Kepala Badan Sekretaris Daerah Bupati
2. Sekretaris Kepala Badan Sekretaris Daerah
3. Kepala Bidang Kepala Badan Sekretaris Daerah
4. Kepala Sub Bagian Sekretaris Kepala Badan
5. Kepala Sub Bidang Kepala Bidang Kepala Badan
6. Pejabat Fungsional Khusus Kepala Badan Sekretaris Daerah
7. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Sub Bagian /
Kepala Sub Bidang
Sekretaris / Kepala
Bidang


C. UPT Badan
1. Kepala UPT Kepala Badan Sekretaris Daerah Bagi UPT yang memiliki
wilayah kerja satu
Kecamatan,Daftar
Penilaian Pelaksanaan
Pekerjaan bagi Kepala UPT
dibuat oleh Pejabat Penilai
dan Atasan Pejabat Penilai
berdasarkan bahan
penilaian yang dibuat oleh
Camat dimana Kepala UPT
tersebut bertugas
2. Kasubag TU UPT Kepala UPT Kepala Badan
3. Pejabat Fungsional Khusus Kepala UPT Kepala Badan
4. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kasubag TU UPT Kepala UPT
D. Kantor Perpustakaan dan
Arsip


1. Kepala Kantor Sekretaris Daerah Bupati
2. Kepala Sub Bagian TU Kepala Kantor Sekretaris Daerah
3. Kepala Seksi Kepala Kantor Sekretaris Daerah
4. Pejabat Fungsional Khusus Kepala Kantor Sekretaris Daerah
5. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Seksi /
Kepala Sub Bagian
TU
Kepala Kantor

E. RSU Muntilan
1. Direktur Sekretaris Daerah Bupati
2. Kepala Bagian Tata Usaha Direktur Sekretaris Daerah
3. Kepala Bidang Direktur Sekretaris Daerah
4. Kepala Sub Bagian Kepala Bagian Tata
Usaha
Direktur
5. Kepala Seksi Kepala Bidang Direktur
6. Pejabat Fungsional Khusus Kepala Bagian /
Kepala Bidang
Direktur
7. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Sub Bagian /
Kepala Seksi
Kepala Bagian /
Kepala Bidang


F. Satpol PP
1. Kepala Satpol PP Sekretaris Daerah Bupati
2. Kasubag TU Kepala Satpol PP Sekretaris Daerah
3. Kepala Seksi Kepala Satpol PP Sekretaris Daerah
4. Pejabat Fungsional Khusus Kepala Satpol PP Sekretaris Daerah
5. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Sub Bagian
TU / Kepala Seksi
Kepala Satpol PP

4 Dinas Daerah
A. Dinas Daerah
1. Kepala Dinas Sekretaris Daerah Bupati
2. Sekretaris Kepala Dinas Sekretaris Daerah
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 105

No Pejabat Yang Dinilai
Pejabat Penilai
(PP)
Atasan Pejabat
Penilai (APP)
Keterangan
3. Kepala Bidang Kepala Dinas Sekretaris Daerah
4. Kasubag Sekretaris Kepala Dinas
5. Kepala Seksi Kepala Bidang Kepala Dinas
6. Pejabat Fungsional Khusus Kepala Dinas Sekretaris Daerah
7. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Sub Bagian /
Kepala Seksi
Sekretaris / Kepala
Bidang


B. UPT Dinas Daerah
1. Kepala UPT Kepala Dinas Sekretaris Daerah Bagi UPT yang memiliki
wilayah kerja satu
Kecamatan,Daftar
Penilaian Pelaksanaan
Pekerjaan bagi Kepala UPT
dibuat oleh Pejabat Penilai
dan Atasan Pejabat Penilai
berdasarkan bahan
penilaian yang dibuat oleh
Camat dimana Kepala UPT
tersebut bertugas
2. Kasubag TU UPT Kepala UPT Kepala Dinas
3. Pejabat Fungsional Khusus Kepala UPT Kepala Dinas
4. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Sub Bagian
TU UPT
Kepala UPT

C. SMP / SMA / SMK
1. Kepala SMP / SMA / SMK Kepala Bidang
Ketenagaan
Kepala Dinas Daftar Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan
bagi Guru SMP / SMA /
SMK DPK Sekolah Swasta
dibuat oleh Pejabat Penilai
dan Atasan Pejabat Penilai
berdasrkan bahan
penilaian yang dibuat oleh
Kepala Sekolah dimana
Guru tersebut bertugas.
2. Kepala Tata Usaha Kepala SMP / SMA /
SMK
Kepala Bidang
Ketenagaan
3. Guru SMP / SMA / SMK Kepala SMP / SMA /
SMK
Kepala Bidang
Ketenagaan
4. Guru SMP / SMA / SMK DPK
sekolah Swasta
Kepala Bidang
Ketenagaan
Kepala Dinas
5. Pejabat Fungsional Khusus
Non Guru
Kepala SMP / SMA /
SMK
Kepala Bidang
Ketenagaan

6. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Tata Usaha Kepala SMP / SMA /
SMK


D. Sekolah Dasar / TK
1. Kepala Sekolah Dasar / TK Kepala UPT Dinas
Kecamatan
Kepala Bidang
Ketenagaan
Daftar Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan
bagi Guru SMP / SMA /
SMK DPK Sekolah Swasta
dibuat oleh Pejabat Penilai
dan Atasan Pejabat Penilai
berdasrkan bahan
penilaian yang dibuat oleh
Kepala Sekolah dimana
Guru tersebut bertugas.
2. Guru SD / TK Kepala Sekolah SD /
TK
Kepala UPT Dinas
Kecamatan
3. Guru SD TK DPK Sekolah
Swasta
Kepala UPT Dinas
Kecamatan
Kepala Bidang
Ketenagaan


5 Kecamatan dan Kelurahan
A. Kecamatan
1. Camat Sekretaris Daerah Bupati Daftar Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan
bagi Sekretaris Desa
dibuat
oleh Pejabat Penilai dan
Atasan Pejabat Penilai
berdasarkan bahan
penilaian yang dibuat oleh
Kepala Desa dimana
Sekretaris Desa tersebut
bertugas
2. Sekretaris Kecamatan Camat Sekretaris Daerah
3. Kepala Seksi Camat Sekretaris Daerah
4. Kepala Sub Bagian Sekretaris
Kecamatan
Camat
5. Pejabat Fungsional Khusus Camat Sekretaris Daerah
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 106

No Pejabat Yang Dinilai
Pejabat Penilai
(PP)
Atasan Pejabat
Penilai (APP)
Keterangan
6. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Seksi /
Kepala Sub Bagian
Camat
7. Sekretaris Desa Kepala Seksi /
Kepala Sub Bagian
Sekretaris
Kecamatan


B. Kelurahan
1. Lurah Camat Sekretaris Daerah
2. Sekretaris Kelurahan Lurah Camat
3. Kepala Seksi Lurah Camat
4. Pejabat Fungsional Khusus Lurah Camat
5. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Seksi /
Sekretaris
Kelurahan
Lurah

6 Lembaga Lain
A. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Dan Badan Pelaksana Penyuluhan
dan Ketahanan Pangan

1. Kepala Badan Sekretaris Daerah Bupati
2. Sekretaris Kepala Badan Sekretaris Daerah
3. Kepala Bidang Kepala Badan Sekretaris Daerah
4. Kepala Sub Bagian Sekretaris Kepala Badan
5. Kepala Sub Bidang Kepala Bidang Kepala Badan
6. Pejabat Fungsional Khusus Kepala Badan Sekretaris Daerah
7. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Sub Bagian /
Kepala Sub Bidang
Sekretaris / Kepala
Bidang


B. Kantor Pendidikan dan Pelatihan Ketenagakerjaan-
Aparatur

1. Kepala Kantor Sekretaris Daerah Bupati
2. Kasubag Tata Usaha Kepala Kantor Sekretaris Daerah
3. Kepala Seksi Kepala Kantor Sekretaris Daerah
4. Pejabat Fungsional Khusus Kepala Kantor Sekretaris Daerah
5. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Sub Bagian
TU / Kepala Seksi
Kepala Kantor

C. Sekretariat KPU
1. Sekretaris KPU Sekretaris Daerah Bupati
2. Kepala Seksi Sekretaris KPU Sekretaris Daerah
3. Pejabat Fungsional Khusus Sekretaris KPU Sekretaris Daerah
4. Staf / Pejabat Fungsional
Umum
Kepala Seksi Sekretaris KPU

I. KETENTUAN BAGI CPNS:
a. DP-3 hanya dibuat dalam tahun yang bersangkutan apabila sampai dengan
Desember telah 6 bulan menjadi CPNS.
b. Apabila belum 6 bulan menjadi CPNS, P-3 dilakukan dalam tahun berikutnya.
c. CPNS yang akan diangkat menjadi PNS, P-3 dilakukan sekurang-kurangnya
1 tahun menjadi CPNS terhitung mulai secara nyata melaksanakan tugasnya
sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1976 Pasal 12
jo Peraturan pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 Pasal 14, sehingga tidak usah
lagi dibuat DP-3 nya pada Desember tahun yang bersangkutan.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 107

J. KEWAJIBAN PEJABAT PENILAI
a. Melakukan P-3 terhadap PNS yang berada di bawahnya
b. Mengisi dan memelihara buku catatan penilaian yang memuat catatan
tingkah laku/perbuatan/tindakan PNS yang menonjol baik yang positif atau
negatif selama 5 tahun. Buku catatan -3 PNS yang diangkat menjadi Pejabat
Negara, sedang menjalankan tugas belajar diperbantukan/dipekerjakan pada
perusahaan milik negara, organisasi profesi, badan swasta yang ditentukan,
negara sahabat atau badan internasional tetap dipelihara oleh Pejabat Penilai
dari instansi induk dengan menggunakan bahan-bahan dari pimpinan yang
besangkutan di mana PNS tersebut bekerja atau tugas belajar
K. TATA CARA PENILAIAN
a. Nilai dinyatakan dengan sebutan dan angka sebagai berikut:
Amat baik : 91 100
Baik : 76 90
Sedang : 51 60
Kurang : 51 ke bawah
b. Pedoman Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan:
c. Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1979
d. Setiap unsur penilaian harus ditentukan dulu nilainya dalam angka kemudian
ditentukan dalam sebutan
e. Hasil penilaian dituangkan dalam DP-3
L. PENYAMPAIAN DP-3
DP-3 yang dibuat dan telah ditandatangani oleh pejabat penilai diberikan secara
langsung kepada PNS yang dinilai oleh pejabat penilai. Apabila tempat bekerja
antara pejabat penilai dengan PNS yang dinilai berjauhan, maka DP-3 dikirimkan
kepada PNS yang dinilai. PNS yang dinilai wajib mencantumkan tanggal
penerimaan DP-3 yang dikirimkan kepadanya pada ruangan yangdisediakan.
Apabila PNS yang dinilai menyetujui penilaian terhadap dirinya, ia
menendatangani DP-3 tersebut pada tempat yang disediakan, kemudian
mengembalikan DP-3 tersebut kepada pejabat penilai selambat-lambatnya 14
(empat belas) hari terhitung mulai ia menerima DP-3 itu. DP-3 yang telah
ditandatangani oleh PNS yang dinilai diteruskan oleh pejabat penilai kepada
atasan pejabat penilai dalam waktu sesingkat mungkin untuk mendapatkan
pengesahan.
M. KEBERATAN TERHADAP NILAI DALAM DP-3
PNS yang merasa keberatan atas nilai yang tercantum dalam DP-3 yang
bersangkutan baik sebagian maupun keseluruhan nilai, dapat mengajukah
keberatan secara tertulis disertai alasan-alasan kepada atasan pejabat penilai
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 108

melalui hirarki. Keberatan dituliskan dalam DP-3 pada tempat yang telah
disediakan. Keberatan tersebut harus sudah diajukan dalam jangka waktu 14
(empat belas) hari terhitung mulai ia menerima DP-3 itu. Keberatan yang
diajukan melebihi batas waktu 14 (empat belas) hari menjadi kadaluwarsa dan
tidak dapat dipertimbangkan lagi. Walaupun PNS yang bersangkutan keberatan
terhadap nilai dalam DP-3 nya ia tetap harus menandatangani D-3 tersebut.
Pejabat penilai setelah menerima keberatan dari PNS yang dinilai membuat
tanggapan secara tertulis atas keberatan yang diajukan oleh PNS yang dinilai.
Tanggapan tersebut dituliskan dalam DP-3 pada ruang yangtelah disediakan. DP-
3 yang telah ditandatangani oelh pejabat penilai dan PNS yang dinilai dikirimkan
oleh pejabat penilai kepada atasan pejabat penilai selambat-lambatnya 14
(empat belas) hari terhitung mulai ia menerima kembli DP-3 itu dari PNS yang
dinilai.
N. ATASAN PEJABAT PENILAI
Atasan pejabat penilai berkewajiban memeriksa DP-3 yang disampaikan
kepadanya baik ada keberatan meupun tidak ada keberatan dari PNS yang
dinilai. Dalam hal ada keberatan dari PNS yang dinilai, atasan pejebat penilai
berkewajiban memeriksa dan memperhatikan denan seksama keberatan yang
diajukan dan tanggapan terhadap keberatan tersebut. Apabila atasan pejabat
peniai mempunyai alasan-alasan yang cukup kuat, ia dapat mengedakan
perubahan terhadap nilai yang diberikan oleh pejabat penilai, baik dalam arti
menaikkan nilai atau menurunkan nilai. Perubahan nilai yang dibuat oleh atasan
pejabat penilai tidak dapat diganggu gugat (tidak dapat lagi diajukan keberatan).
Perubahan nilai tersebut dicantumkan nilai yang baru. Nilai lama yang dicoret
harus tetap terbaca dan setiap coretan harus diparaf oleh atasan pejabat penilai.
DP-3 baru berlaku sah setelah ada pengesahan dari atasan pejabat penilai.
O. PEJABAT PENILAI YANG MERANGKAP MENJADI ATASAN PEJABAT
PENILAI
Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi
Negara, Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen dan Gubernur adalah
pejabat penilai dan atasan pejabat penilai tertinggi dalam lingkungan masing-
masing. DP-3 yang dibuat oleh pejabat penilai yang merangkap menjadi atasan
penilai sebagaimana disebutkan di atas tidak dapat diganggu gugat.
P. PENILAIAN BAGI PNS YANG DIANGKAT MENJADI PEJABAT NEGARA
Pejabat penilai bagi PNS yang diangkat menjadi pejabat negara adalah pejabat
penilai dari instansi semula di mana PNS yang bersangkutan bekerja sebelum
diangkat menjadi pejabat negara. Bahan-bahan penilaian diminta dari
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 109

pimpinan Badan atau Dewan dimana PNS yang bersangkutan menjalankan
tugasnya sebagai pejabat negara.
Khusus bagi PNS yang diangat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI
dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang dibebastugaskan dari jabatan
organiknya, bahan-bahan penilaian diberikan oleh Ketua Fraksi yang
bersangkutan. Apabila PNS yang bersangkutan menjabat ketua Fraksi maka
bahan-bahan penilaian dibuat/diberikan oleh salah seorang anggota Pimpinan
Fraksi yang bersangkutan.
Q. PENILAIAN BAGI YANG MENJALANKAN TUGAS BELAJAR
Bagi PNS yang sedang menjalankan tugas belajar, pejabat penilai dari instansi
semula dimana PNS yang bersangkutan bekerja sebelum ia menjalankan tugas
belajar. Bahan-bahan penilaian dimintakan dari Pimpinan Perguruan Tinggi,
sekolah atau kursus yang bersangkutan. Khusus bagi PNS yang menjalankan tugas
belajar diluar negeri bahan-bahan penilaian diberikan oleh Kepala Perwakilan RI
di negara yang bersangkutan.
R. PENILAIAN BAGI PNS YANG DIPERBANTUKAN/DIPEKERJAKAN PADA
DAERAH OTONOM ATAU INSTANSI PEMERINTAH LAINNYA
Pejabat penilai bagi PNS yang diperbantukan/dipekerjakan pada Daerah
Otonom atau Instansi Pemerintah adalah pejabat penilai dari daerah Otonom
atau dari Instansi Pemerintah yang bersangkutan.
S. PENILAIAN BAGI PNS YANG DIPERBANTUKAN/DIPEKERJAKAN PADA
BADAN-BADAN LAIN
Pejabat penilai bagi PNS yang diperbantukan/dipekerjakan pada Perusahan
Milik Negara, Organisasi profesi, Badan swasta yang ditentukan, negara
sahabat atau Badan Internasional adalah pejabat peniai dari Instansi semula
PNS yang bersangkutan bejerja sebelum diperbantukan/dipekerjakan pada
perusahaan, organisasi atau Badan Internasional. Bahan-bahan penilaian
diminta dari Pimpinan Perusahaan, organisasi atau Badan yang bersangkutan.
Khusus bagi PNS yang diperbantukan/dipekerjakan pada negara sahabat atau
Badan Internasional bahan-bahan penilaian diminta dari Kepala Perwakilan
Negara Ri di negara yang bersangkutan.
T. ATASAN PEJABAT PENILAI YANG TERTINGGI
Apabila atasan pejabat penilai yang tertinggi mempunyai bukti-bukti yang cukup
kuat tentang adanya hal-hal yang tidak wajar mengenai nilai dalam DP-3, ia
dapat mengambil tindakan seperlunya untuk menyelesaikan hal-hal yang tidak
wajar itu. Ketentuan tersebut diatas berlaku juga bagi atasan pejabat penilai yang
menjabat eselon I, Pimpinan Instasni Vertikal Tingkat Propinsi, Bupati/Walokota
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS 110

termasuk kota administratif di bawah Propinsi danPimpinan Instansi Vertikal
Tingkat Kabupaten/Kota.
U. MUTASI
Apabila seorang PNS pindah dari instansi yang satu ke instansi yang lain, maka
catatan penilaian dan DP-3 dikirimkan oleh pimpinan instansi lama kepada
pimpinan instasni baru, misalnya dari Departemen Dalam Negeri ke
Departemen Luar Negeri
Apabila seorang PNS pindah unit organisasi tetapi masih tetap dalam satu
instansi, mak hanya buku catatan penilaian saja yang dikirimkab oleh
pimpinan unti organisasi yang lama kepada piminan unit organisasi yang baru,
sedang Dp-3 tetap disimpan dan dipelihara oleh pejabat yang diserahi urusan
kepegawaian.
V. PENYIMPANAN DP-3
DP-3 disimpan dan dipelihara dengan baik oleh pejabat yang diserahi urusan
kepegawaian. DP-3 disimpan selama 5 (lima) tahun, DP-3 yang lebih dari 5
(lima) tahun tidak dapat digunakan lagi. DP-3 PNS yang berpangkat Pembina
golongan ruang IV/a keatas dibuat dalam rangkap 2 (dua) yaitu :
1(satu) rangkap untuk arsip instasni yang bersangkutan,
1(satu) rangkap dikirim kepada Kepala BKN
DP-3 PNS yang berpangkat Penata Tingkat I golongan ruang III/d kebawah
dibuat 1(satu) rangkap.
DP-3 dapat dibuat melebihi jumlah rangkap sebahai tersebut diatas sesuai
dengan ketentuan dari Menteri Jaksa Agung, Pimpinan Kesekretariatan
Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara, Pmpinan Lembaga Pemerintah Non
Departemen dan Gubernur yang bersangkutan.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Kinerja PNS 111

XXVI. PENILAIAN KINERJA PNS
A. UMUM
Dalam rangka untuk lebih menjamin objektifitas dalam pembinaan PNS berdasarkan
sisem karier dan sistem prestasi kerja dan sebagai pengganti Peraturan Pemerintah
No. 10 Tahun 1979 tentang Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (P-3) PNS maka
ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Kinerja
Pegawai Negeri Sipil.
Penilaian prestasi kerja PNS dilakukan berdasarkan prinsip :
a. Objektif
Adalah penilaian terhadap pencapaian prestasi kerja sesuai dengan keadaan
yang sebenarnya tanpa dipengaruhi oleh pandangan atau penilaian subjektif
pribadi dari pejabat penilai.
b. Terukur
Adalah penilaian prestasi kerja yang dapat diukur secara kualitatif dan
kuantitatif
c. Akuntabel
Adalah seluruh hasil penilaian prestasi kerja harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada pejabat yang berwenang.
d. Partisipatif
Adalah seluruh proses penilaian prestasi kerja dengan melibatkan secara aktif
antara pejabat penilai dengan PNS yang dinilai.
e. Transparan
Adalah seluruh proses dan hasil penilaian prestasi kerja bersifat terbuka dan
tidak bersifat rahasia.
1. Penilaian pr Penilaian pr Penilaian pr Penilaian prestasi kerja PNS terdiri atas unsur :
a. SKP; dan
b. Perilaku kerja.
B. DASAR HUKUM
1. Undang undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok Pokok Kepegawaian jo.
Undang undang Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Perubahan Undang-undang
Nomor 8 Tahun 1974
2. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 Tentang Penilaian Kinerja
Pegawai Negeri Sipil.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Kinerja PNS 112

C. PENGERTIAN
1. Penilaian prestasi kerja PNS adalah suatu proses penilaian secara sistematis
yang dilakukan oleh pejabat penilai terhadap sasaran kerja pegawai dan
perilaku kerja PNS.
2. Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh setiap PNS pada satuan
organisasi sesuai dengan sasaran kerja pegawai dan perilaku kerja.
3. Sasaran Kerja Pegawai yang selanjutnya disingkat SKP adalah rencana kerja
dan target yang akan dicapai oleh seorang PNS.
4. Target adalah jumlah beban kerja yang akan dicapai dari setiap pelaksanaan
tugas jabatan.
5. Perilaku kerja adalah setiap tingkah laku, sikap atau tindakan yang dilakukan
oleh PNS atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
6. Rencana kerja tahunan adalah rencana yang memuat kegiatan tahunan dan
target yang akan dicapai sebagai penjabaran dari sasaran dan program yang
telahditetapkan oleh instansi pemerintah.
D. TUJUAN
Penilaian prestasi kerja PNS bertujuan untuk menjamin objektivitas pembinaan PNS
yang dilakukan berdasarkan sistem prestasi kerja dan sistem karier yang
dititikberatkan pada sistem prestasi kerja.
E. SASARAN KERJA PEGAWAI
1. Setiap PNS wajib menyusun SKP
2. SKP memuat tugas jabatan dan target yang harus dicapai dalam kurun waktu
penilaian yang bersifat nyata dan dapat diukur.
3. SKP harus disetujui dan ditetapkan oleh pejabat penilai.
4. Dalam hal SKP yang disusun oleh PNS tidak disetujui oleh pejabat penilai maka
keputusannya diserahkan kepada atasan pejabat penilai dan bersifat final.
5. SKP ditetapkan setiap tahun pada bulan Januari.
6. Dalam hal terjadi perpindahan pegawai setelah bulan Januari maka yang
bersangkutan tetap menyusun SKP pada awal bulan sesuai dengan surat
perintah melaksanakan tugas atau surat perintah menduduki jabatan
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Kinerja PNS 113

7. PNS yang tidak menyusun SKP dijatuhi hukuman disiplin sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai disiplin
PNS.
8. Penilaian SKP paling sedikit meliputi aspek kuantitas, kualitas, dan waktu,
sesuai dengan karakteristik, sifat, dan jenis kegiatan pada masing-masing unit
kerja.
9. Dalam hal kegiatan tugas jabatan didukung oleh anggaran maka penilaian
meliputi aspek biaya.
10. Setiap instansi menyusun dan menetapkan standar teknis kegiatan sesuai
dengan karakteristik, sifat, jenis kegiatan, dan kebutuhan tugas masing-masing
jabatan.
11. Instansi dalam menyusun standar teknis kegiatan dilakukan berdasarkan
pedoman yang ditetapkan oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara
12. Dalam hal realisasi kerja melebihi dari target maka penilaian SKP capaiannya
dapat lebih dari 100 (seratus)
13. Dalam hal SKP tidak tercapai yang diakibatkan oleh faktor diluar kemampuan
individu PNS maka penilaian didasarkan pada pertimbangan kondisi
penyebabnya
14. Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penyusunan dan penilaian SKP
diatur dengan Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara.
F. PERILAKU KERJA
1. Penilaian perilaku kerja meliputi aspek : orientasi pelayanan, integritas,
komitmen, disiplin, kerjasama; dan kepemimpinan.
2. Penilaian kepemimpinan hanya dilakukan bagi PNS yang menduduki jabatan
struktural.
3. Penilaian perilaku dilakukan melalui pengamatan oleh pejabat penilai
terhadap PNS sesuai kriteria yang ditentukan.
4. Pejabat penilai dalam melakukan penilaian perilaku kerja PNS dapat
mempertimbangkan masukan dari pejabat penilai lain yang setingkat di
lingkungan unit kerja masing-masing.
5. Nilai perilaku kerja dapat diberikan paling tinggi 100 (seratus).
6. Penilaian prestasi kerja dilaksanakan oleh pejabat penilai sekali dalam 1 (satu)
tahun.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Kinerja PNS 114

7. Penilaian prestasi kerja dilakukan setiap akhir Desember pada tahun yang
bersangkutan dan paling lama akhir Januari tahun berikutnya.
8. Nilai Prestasi Kerja PNS dinyatakan dengan angka dan sebutan sebagai
berikut :
91 ke atas: sangat baik
76 90: baik
61 75: cukup
51 60: kurang
50 ke bawah: buruk
9. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penilaian diatur dengan Peraturan
Kepala Badan Kepegawaian Negara.
G. PEJABAT PENILAI DAN ATASAN PEJABAT PENILAI
1. Pejabat penilai wajib melakukan penilaian prestasi kerja terhadap setiap PNS
di lingkungan unit kerjanya.
2. Pejabat penilai yang tidak melaksanakan penilaian prestasi kerja dijatuhi
hukuman disiplin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
mengatur disiplin PNS.
3. Pejabat pembina kepegawaian sebagai pejabat penilai dan/atau atasan pejabat
penilai yang tertinggi di lingkungan unit kerja masing-masing.
H. PELAKSANAAN PENILAIAN
1. Hasil penilaian prestasi kerja diberikan langsung oleh pejabat penilai kepada
PNS yang dinilai.
2. PNS yang dinilai dan telah menerima hasil penilaian prestasi kerja wajib
menandatangani serta mengembalikan kepada pejabat penilai paling lama 14
(empat belas) hari sejak tanggal diterimanya hasil penilaian prestasi kerja.
3. PNS yang dinilai dan/atau pejabat penilai tidak menandatangani hasil
penilaian prestasi kerja maka hasil penilaian prestasi kerja ditetapkan oleh
Atasan Pejabat Penilai.
4. Pejabat penilai wajib menyampaikan hasil penilaian prestasi kerja kepada
atasan pejabat penilai paling lama 14 (empat belas) hari sejak tanggal
diterimanya penilaian prestasi kerja.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Kinerja PNS 115

5. Hasil penilaian prestasi kerja mulai berlaku sesudah ada pengesahan dari
atasan pejabat penilai.
6. Pejabat penilai berdasarkan hasil penilaian prestasi kerja dapat memberikan
rekomendasi kepada pejabat yang secara fungsional bertanggung jawab
dibidang kepegawaian sebagai bahan pembinaan terhadap PNS yang dinilai.
I. KEBERATAN HASIL PENILAIAN
1. Dalam hal PNS yang dinilai keberatan atas hasil penilaian maka PNS yang
dinilai dapat mengajukan keberatan disertai dengan alasan-alasannya kepada
atasan pejabat penilai secara hierarkhi paling lama 14 (empat belas) hari sejak
diterima hasil penilaian prestasi kerja.
2. Atasan pejabat penilai berdasarkan keberatan yang diajukan wajib memeriksa
dengan seksama hasil penilaian prestasi kerja yang disampaikan kepadanya.
3. Terhadap keberatan, atasan pejabat penilai meminta penjelasan kepada
pejabat penilai dan PNS yang dinilai.
4. Atasan pejabat penilai wajib menetapkan hasil penilaian prestasi kerja dan
bersifat final.
5. Dalam hal terdapat alasan-alasan yang cukup, atasan pejabat penilai dapat
melakukan perubahan nilai prestasi kerja PNS.
J. KETENTUAN LAIN
1. Ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini berlaku juga bagi Calon PNS.
2. Penilaian prestasi kerja bagi PNS yang diangkat sebagai pejabat negara atau
pimpinan/anggota lembaga nonstruktural dan tidak diberhentikan dari jabatan
organiknya dilakukan oleh pimpinan instansi yang bersangkutan berdasarkan
bahan dari instansi tempat yang bersangkutan bekerja.
3. Penilaian prestasi kerja bagi PNS yang sedang menjalankan tugas belajar di
dalam negeri dilakukan oleh pejabat penilai dengan menggunakan bahan-
bahan penilaian prestasi akademik yang diberikan oleh pimpinan perguruan
tinggi atau sekolah yang bersangkutan.
4. Penilaian prestasi kerja bagi PNS yang menjalankan tugas belajar di luar negeri
dilakukan oleh pejabat penilai dengan menggunakan bahan-bahan penilaian
prestasi akademik yang diberikan oleh pimpinan perguruan tinggi atau
sekolah melalui Kepala Perwakilan Republik Indonesia di negara yang
bersangkutan.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penilaian Kinerja PNS 116

5. Penilaian prestasi kerja bagi PNS yang diperbantukan/dipekerjakan pada
Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota atau instansi pemerintah lainnya
dilakukan oleh pejabat penilai dimana yang bersangkutan bekerja.
6. Penilaian prestasi kerja bagi PNS yang diperbantukan/dipekerjakan pada
negara sahabat, lembaga internasional, organisasi profesi, dan badan-badan
swasta yang ditentukan oleh pemerintah dilakukan oleh pimpinan instansi
induknya atau pejabat lain yang ditunjuk berdasarkan bahan yang diperoleh
dari instansi tempat yang bersangkutan bekerja.
7. PNS yang diangkat menjadi Pejabat Negara atau pimpinan/anggota lembaga
nonstruktural dan diberhentikan dari jabatan organiknya, Cuti Diluar
Tanggungan Negara, Masa Persiapan Pensiun, diberhentikan sementara,
dikecualikan dari kewajiban.
8. Bagi PNS yang melakukan tugas belajar dan diperbantukan/dipekerjakan pada
negara sahabat, lembaga internasional, organisasi profesi, dan badan-badan
swasta yang ditentukan oleh pemerintah dikecualikan dari kewajiban.
9. Penilaian prestasi kerja bagi PNS diatur tersendiri dalam Peraturan Kepala
Badan Kepegawaian Negara.


Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penghargaan dan Tanda Jasa Satya Lancana
Karya Satya
117

XXVII. PENGHARGAAN DAN TANDA JASA SATYA LANCANA KARYA SATYA
A. DASAR HUKUM
1. UU Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda
Kehormatan.
2. PP no 25 Tahun 1994 tentang Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya.
3. PP Nomor 1 Tahun 2010 tentang Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda
Kehormatan.
4. PP No. 35 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan UU No. 20 Tahun 2009 tentang
Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan.
B. PENGERTIAN
Satyalancana Karya Satya adalah tanda kehormatan yang dianugerahkan kepada
Pegawai Negeri Sipil sebagai penghargaan atas jasa-jasanya terhadap negara.
Satyalancana Karya Satya dianugerahkan kepada Pegawai Negeri Sipil yang dalam
melaksanakan tugasnya telah menunjukkan kesetiaan, pengabdian, kecakapan,
kejujuran dan kedispilinan.
C. MACAM-MACAM TANDA JASA SATYA LANCANA KARYA SATYA PNS
1. Satyalancana Karya Satya 10 Thn berwarna perunggu diberikan kpd PNS yg
telah bekerja terus-menerus sekurang 2 nya 10 tahun;
2. Satyalancana Karya Satya 20Tahun berwarna perak diberikan kpd PNS yg
telah bekerja secara terus-menerus sekurang 2 nya 20 tahun;
3. Satyalancana Karya Satya 30 Tahun berwarna emas diberikan kpd PNS yg
telah bekerja secara terus-menerus sekurang 2 nya 30 tahun
D. WAKTU PENYERAHAN PENGHARGAAN
Setiap pemberian Satyalancana Karya Satya disertai piagam tanda kehormatan yang
ditandatangani Presiden yang penganugerahannya dilaksanakan :
1. Hari Besar Nasional (contoh 17 Agustus).
2. Hari Ulang Tahun Instansi / Hari jadi (Hari Jadi Kota Mungkid).
3. HUT KORPRI; dan lainnya.
E. PERSYARATAN.
PNS yg dapat diberikan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya adalah yg
memenuhi ketentuan :
1. Bekerja secara terus menerus sesuai dengan masa kerja 10 tahun, 20 tahun
atau 30 tahun;
2. Tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin;
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penghargaan dan Tanda Jasa Satya Lancana
Karya Satya
118

3. Selama dinas tidak pernah cuti di luar tanggungan negara.
F. SYARAT PENGAJUAN
1. *10 tahun
a. Foto copy SK Pengangkatan CPNS
b. Foto copy Surat Keputusan Pangkat terakhir;
c. Foto copy SK. Pengangkatan Dlm Jab. bagi Pejabat;
d. Surat Keterangan dari pejabat yang berwenang yang menyatakan tidak
pernah dikenakan tindakan hukuman disiplin PNS.
e. Mengisi blangko usulan satyalancana.
2. *20 tahun
Syarat sebagaimana *10 ditambah dengan Fotocopy Piagam Satyalancana
Karya Satya 10 Tahun (bila ada).
3. *30 tahun
Syarat sebagaimana *10 ditambah dengan Fotocopy Piagam Satyalancana
Karya Satya 10 Tahun dan 20 Tahun (bila ada).
Masing-masing persyaratan di buat rangkap 3 (tiga) dan harus disahkan oleh
Pejabat Kepegawaian.
G. PEMAKAIAN
Pemakaian Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dengan pakaian PSL
(Pakaian Sipil Lengkap) digunakan pada saat upacara-upacara memperingati hari-hari
besar nasional dan/atau menghormati peristiwa-peristiwa penting, maupun upacara
resmi lain. Dengan pemakaian PSL di dada sebelah kiri diatas saku kiri.
Contoh. Dipakai pada acara HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus, dll.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kenaikan Pangkat PNS 119

XXVIII. KENAIKAN PANGKAT PNS
A. PENGERTIAN
Kenaikan pangkat merupakan salah satu elemen penting dalam pembinaan karier
Pegawai Negeri Sipil, karena melalui kenaikan pangat yang tepat waktu dan sasaran,
diharapkan akan menumbuhkan semangat kerja bagi PNS yang bersangkutan.
Kenaikan pangkat merupakan penghargaan yang diberikan atas pengabdian PNS
terhadap negara, yang dimaksudkan sebagai dorongan kepada PNS untuk lebih
meningkatkan prestasi kerja dan pengabdiannya.
Yang dimaksud dengan :
1) Pangkat adalah kedudukan yang menunjukkan tingkat seorang Pegawai Negeri
Sipil berdasarkan jabatannya dalam rangkaian susunan kepegawaian dan
digunakan sebagai dasar penggajian.
2) Kenaikkan pangkat adalah penghargaan yang diberikan atas prestasi kerja dan
pengabdian Pegawai Negeri Sipil terhadap Negara.
B. DASAR HUKUM
1) UU Nomor 8 Tahun 1974 jo. Undang Undang Nomor 43 Tahun 1999
2) PP Nomor 99 tahun 2000 jo Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002
3) Keputusan Kepala BKN No. 12 Tahun 2002.
C. SISTEM, MASA DAN SUSUNAN PANGKAT PNS
Sesuai dengan Pasal 18 (1) UU Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah
dengan UU No. 43 tahun 1999, dinyatakan bahwa kenaikan pangkat dilaksanakan
dengan :
1) Sistim Kenaikan Pangkat Reguler
2) Sistim Kenaikan Pangkat Pilihan
Disamping itu, kepada Pegawai Negeri Sipil dapat diberikan :
1) Kenaikan Pangkat Anumerta bagi PNS yang tewas
2) Kenaikan Pangkat Pengabdian bagi PNS yang :
a. Meninggal dunia;
b. Mencapai batas usia pensiun;
c. Cacat karena dinas dan tidak dapat bekerja lagi dalam semua jabatan
negeri.
Masa kenaikan pangkat PNS ditetapkan tanggal 1 April dan 1 Oktober setiap tahun
kecuali Kenaikan Pangkat Anumerta dan Kenaikan Pangkat Masa kerja untuk
kenaikan pangkat pertama PNS dihitung sejak pengangkatan sebagai calon Pegawai
Negeri Sipil.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kenaikan Pangkat PNS 120

Nama dan Susunan Pangkat serta Golongan Ruang PNS adalah sebagai berikut :
No No No No Pangkat Pangkat Pangkat Pangkat Golongan Golongan Golongan Golongan Ruang Ruang Ruang Ruang
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
Juru Muda
Juru Muda Tingkat 1
Juru
Juru Juru Tingkat 1
Pengatur Muda
Pengatur Muda Tingkat 1
Pengatur
Pengatur Tingkat 1
Penata Muda
Penata Muda Tingakat 1
Penata
Penata Tingkat 1
Pembina
Pembina Tingkat 1
Pembina Utama Muda
Pembina Utama Madya
Pembina Utama
I
I
I
I
II
II
II
II
III
III
III
III
IV
IV
IV
IV
IV
a
b
c
d
a
b
c
d
a
b
c
d
a
b
c
d
e
D. KENAIKAN PANGKAT REGULER
Kenaikan Pangkat Reguler adalah penghargaan yang diberikan kepada PNS yang
telah memenuhi syarat yang ditentukan tanpa terikat pada jabatan.
Kenaikan Pangkat Reguler diberikan PNS yang :
1) Tidak menduduki jabatan struktural atau jabatan fungsional tertentu
2) Melaksanakan tugas belajar dan sebelumnya tidak menduduki jabatan
struktural atau fungsional tertentu
3) Dipekerjakan atau diperbantukan secara penuh diluar instansi induk dan tidak
menduduki jabatan pimpinan yang telah ditetapkan persamaan eselonnya atau
jabatan fungsional tertentu.
Syarat-syarat kenaikan pangkat reguler adalah :
1) Berstatus Pegawai Negeri Sipil
2) Tidak melampaui pangkat atasan langsung
3) Masih dalam jenjang kepangkatan
4) Lulus ujian yang dipersyaratkan
5) Penilaian prestasi kerja bernilai baik dalam dua tahun terakhir
6) Sekurang-kurangnya telah empat tahun dalam pangkat terakhir
7) PNS yang dipekerjakan / diperbantukan diluar instansi induk secara penuh
pada proyek pemerintah, organisasi profesi, negara sahabat, Badan
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kenaikan Pangkat PNS 121

Internasional, atau badan swasta yang ditentukan dapat diberikan kenaikan
pangkat reguler sebanyak-banyaknya tiga kali selama penugasan/perbantuan
kecuali yang dipekerjakan/diperbantukan pada lembaga pendidikan, sosial,
kesehatan dan perusahaan jawatan.

Kenaikan Pangkat Reguler diberikan kepada PNS sampai dengan jenjang
NO NO NO NO STTB/IJAZAH STTB/IJAZAH STTB/IJAZAH STTB/IJAZAH
GOL RUANG GOL RUANG GOL RUANG GOL RUANG
PERMULAAN PERMULAAN PERMULAAN PERMULAAN
GOL.RUANG GOL.RUANG GOL.RUANG GOL.RUANG
TERTINGGI TERTINGGI TERTINGGI TERTINGGI
1. SD I/a II/a
2. SLTP I/c II/c
3. SLTP Kejuruan I/c II/d
4. SLTA / SLTA Kejuruan / DI II/a III/b
5. Diploma II II/b III/b
6. SGPLB II/b III/c
7. Sarjana Muda / Diploma III / Akademi /
Bakaloreat
II/c III/c
8. Sarjana / Diploma IV III/a III/d
9 Dokter / S 2 / Apoteker III/b IV/a
10. Dokter III/c IV/b
E. KENAIKAN PANGKAT PILIHAN
KP Pilihan adalah kepercayaan dan penghargaan yang diberikan kepada PNS atas
prestasi kerjanya yang tinggi.
KP Pilihan diberikan kepada PNS yang :
1) Menduduki jabatan struktural/jabatan fungsional tertentu
2) Menduduki jabatan tertentu yang pengangkatannya ditetapkan dengan
Keppres
3) Manunjukkan prestasi kerja luar biasa baiknya
4) Menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara
5) Diangkat menjadi pejabat negara
6) Memperoleh STTB/Ijazah
7) Melaksanakan tugas belajar dan sebelumnya menduduki jabatan struktural
atau fungsional tertentu
8) Telah selesai mengikuti dan lulus tugas belajar
9) Dipekerjakan atau diperbantukan secara penuh di luar instansi induknya yang
diangkat dalam jabatan pimpinan yang telah ditetapkan persamaan eselonnya
atau jabatan fungsional tertentu.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kenaikan Pangkat PNS 122

1. KP PNS yang menduduki jabatan struktural
1) Pegawai Negeri Sipil yang menduduki jabatan struktural dan pangkatnya
masih satu tingkat jenjang pangkat terendah yang ditentukan untuk jabatan
itu, dapat dinaikkan pangkatnya setingkat lebih tinggi apabila :
a. Telah satu tahun dalam pangkat terakhir
b. Sekurang-kurangnya telah satu tahun dalam jabatan struktural yang
didudukinya, yang dihitung sejak pelantikan.
c. Setiap unsur penilaian prestasi kerja bernilai baik dalam 2 tahun terakhir
2) PNS yang diangkat dalam jabatan struktural dan pangkatnya masih satu
tingkat dibawah jenjang pangkat terendah untuk jabatan yang diduduki tetapi
telah empat tahun atau lebih dalam pangkat terakhir yang dimiliki, dapat
dipertimbangkan KP-nya setingkat lebih tinggi pada periode KP setelah
pelantikan apabila setiap unsur penilaian prestasi kerja/DP-3 sekurang-
kurangnya bernilai baik dalam dua tahun terakhir
3) PNS yang menduduki jabatan struktural dan pangkatnya telah mencapai
jenjang pangkat terendah yang ditentukan telah mencapai jenjang pangat
terendah yang ditentukan untuk jabatan itu, dapat dipertimbangkan KP pilihan
setingkat lebih tinggi apabila:
a. Sekurang-kurangnya telah empat tahun dalam pangkat terakhir
b. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik
dalam dua tahun terakhir
2. KP bagi PNS yang menduduki jabatan fungsional tertentu
PNS yang menduduki jabatan fungsional tertentu dapat dinaikkan pangkatnya setiap
kali setingkat lebih tinggi apabila :
1) Sekurang-kurangnya telah dua tahun dalam pangkat terakhir
2) Telah memenuhi angka kredit yang ditentukan
3) Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik dalam
dua tahun terakhir.
3. KP bagi PNS yang menduduki jabatan tertentu yang pengangkatannya
ditetapkan dengan KEPRES
KP bagi PNS yang menduduki jabatan tertentu yang pengangkatannya ditetapkan
dengan KEPRES diatur dengan peraturan perundangan tersendiri
4. KP bagi PNS yang menunjukkan prestasi yang luar biasa baiknya
PNS yang menunjukkan prestasi luar biasa baiknya selama 1 (satu) tahun terakhir,
dapat dinaikkan pangkatnya setingkat lebih tinggi tanpa terikat jenjang pangkat,
apabila:
1) Sekurang-kurangnya telah satu tahun dalam pangkat terakhir
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kenaikan Pangkat PNS 123

2) Setiap unsur penilaian prestasi kerja/DP-3 bernilai amat baik dalam 1 tahun
terakhir
Yang dimaksud prestasi kerja yang luar biasa baiknya disini adalah prestasi yang
sangat menonjol baiknya yang secara nyata diakui dalam lingkungannya, sehingga
PNS tersebut menjadi teladan bagi yang lain. Prestasi kerja yang luar biasa baiknya
tersebut dinyatakan dengan surat keputusan yang ditandatangani oleh PPK.
5. Kenaikan pangkat bagi PNS yang menemukan penemuan baru yang
bermanfaat bagi negara
PNS yang menemukan penemuan baru yang bermanfaat bagi negara, dinaikkan
pangkatnya setingkat lebih tinggi tanpa terikat jenjang pangkat yang diberikan pada
saat yang bersangkutan telah 1 (satu) tahun dalam pangkat terakhir dan penilaian
baik, dan tidak ada unsur yang bernilai kurang.
6. Kenaikan pangkat bagi PNS yang diangkat menjadi Pejabat Negara
1) PNS yang diangkat menjadi Pejabat Negara dan diberhentikan dari jabatan
organiknya, dapat dinaikkan pangkatnya setiap kali setingkat lebih tinggi tanpa
terikat jenjang pangkat, apabila :
a. Sekurang-kurangnya telah 4 (empat) tahun dalam pangkat terakhir
b. Setiap unsur penilaian prestasi kerja/DP-3 dalam 1 (satu) tahun terakhir
sekurang-kurangnya bernilai baik
2) PNS yang diangkat menjai Pejabat Negara tetapi tidak diberhentikan dari
jabatan organiknya, kenaikan pangkatnya dipertimbangkan berdasarkan
jabatan organik yang didudukinya, dengan ketentuan:
a. Bagi yang menduduki jabatan struktural/fungsional tertentu, KP-nya
dipertimbangkan berdasarkan ketentuan yang berlaku untuk pemberian
kenaikan pangkat pilihan sesuai dengan jabatan yang didudukinya.
b. Bagi yang tidak menduduki jabatan struktural/fungsional tertentu, KP-
nya dipertimbangkan berdasarkan ketentuan yang berlaku untuk
pemberian KP reguler
7. Kenaikan pangkat bagi PNS yang memperoleh STTB/Ijazah atau Diploma
Bagi PNS yang memperoleh:
1) STTB/Ijazah SLTP / yg setingkat dan masih berpangkat Juru Muda Tingkat I
Gol/Ruang I/b ke bawah, dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Juru Gol.
Ruang I/c
2) STTB/Ijazah SLTA, Diploma I atau yang setingkat dan masih berpangkat Juru
Tingkat I Gol. Ruang I/D ke bawah, dapat dinaikkan pangkatnya menjadi
Pengatur Muda, Gol Ruang II/a.
3) STTB/Ijazah SPGLB atau Diploma II dan masih berpangkat Pengatur Muda,
Gol. Ruang II/a ke bawah dapat dinaikan pangkatnya menjadi Pengatur
Muda Tingkat I, Gol. Ruang II/b
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kenaikan Pangkat PNS 124

4) Ijazah Sarjana Muda, Akademi, atau Diploma III dan masih berpangkat
Pengatur Muda Gol. Ruang II/b ke bawah, dapat dinaikkan pangkatnya
menjadi Pengatur Gol. Ruang II/c
5) Ijazah Sarjana (S1) atau Diploma IV dan masih berpangkat Pengatur Tingkat I
Gol. Ruang II/d ke bawah, dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Penata
Muda Gol. Ruang III/a
6) Ijazah Dokter (S3) dan masih berpangkat Penata Muda Tingkat I Gol. Ruang
III/b ke bawah, dapat dinaikkan pangkatnya menjadi Penata Gol. Ruang III/c
Ijazah sebagaimana tersebut di atas adalah ijazah yang diperoleh dari sekolah atau
perguruan tinggi negeri dan atau ijazah dari yang diperoleh dari sekolah/perguruan
tinggi swasta yang terakreditasi dan atau telah mendapat izin penyelenggaraan dari
Menteri yang bertanggungjawab di bidang pendidikan nasional atau pejabat lain
berdasarkan peraturan perundangan.
Untuk ijazah yang diperoleh dari sekolah/perguruan tinggi di luar negeri dihargai
setelah di akui dan ditetapkan sederajat dengan ijazah dari sekolah atau perguruan
tinggi negeri yang ditetapkan Menteri yang bertanggungjawab dibidang pendidikan
nasional.
KP sebagaimana tersebut dapat dipertimbangkan setelah memenuhi syarat sbb:
1) Diangkat dalam jabatan/tugas yang memerlukan pengetahuan/keahlian yang
sesuai dngan ijazah yang diperoleh
2) Sekurang-kurangnya telah 1 (satu) tahun dalam pangkat terakhir
3) Setiap unsur penilaian prestasi kerja/DP-3 bernilai baik dlm 1 (satu) tahun
terakhir
4) Memenuhi jumlah angka kredit yang ditentukan bagi yang menduduki jabatan
fungsional tertentu
5) Lulus ujian penyesuaian kenaikan pangkat penyesuaian ijazah ijazah yang
diperoleh sebagaimana tersebut di atas termasuk didalamnya ijazah yang
diperoleh sebelum yang bersangkutan diangkat sebagai PNS
8. Kenaikan pangkat bagi PNS yang melaksanakan tugas belajar dan
sebelumnya menduduki jabatan tertentu
PNS yang sedang melaksanakan tugas belajar dan sebelumnya menduduki jabatan
stuktural atau jabatan fungsional tertentu diberikan kenaikan pangkat setiap kali
setingkat lebih tinggi bila:
1) sekurang-kurangnya telah 4 (empat) tahun dalam pangkat terakhir
2) setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2
(dua) tahun terakhir
KP tersebut diberikan dalam jenjang pangkat yang ditentukan untuk jabatan
struktural/fungsional tertentu yang terakhir didudukinya.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kenaikan Pangkat PNS 125

9. Kenaikan pangkat bagi PNS yang telah sesuai mengikuti dan lulus tugas
belajar
PNS yang melaksanakan tugas belajar apabila telah lulus dan memperoleh:
1) Ijazah SGPLB atau Diploma II, dan masih berpangkat Pengetur Muda Gol.
Ruang II/a ke bawah, dinaikkan pangkatnya menjadi Pengatur Muda Tingkat I
Gol. Ruang II/b
2) Ijazah Sarjana Muda, Akademi, atau Diploma III dan masih berpangkat
Pengatur Muda Tingkat I, Gol. Ruang II/b ke bawah, dinaikkan pangkatnya
menjadi Pengatur Gol. Ruang II/c
3) Ijazah Sarjana (S1) atau Diploma IV dan masih berpangkat Pengatur Tingkat I
Gol. Ruang II/d ke bawah, dinaikkan pangkatnya menjadi Penata Muda Gol.
Ruang III/a
4) Ijazah Dokter, Apoteker dan Magister (S2) atau ijazah lain yang setara dan
masih berpangkat Penata Muda Gol. Ruang III/a ke bawah, dinaikkan
pangkatnya menjadi Penata Muda Tingkat I Gol. Ruang III/b
5) Ijazah Doktor (S3) dan masih berpangkat Penata Muda Tingkat I Gol. Ruang
III/b ke bawah, dinaikkan pangkatnya menjadi Penata Gol. Ruang III/c
Kenaikan pangkat tersebut baru dapat dipertimbangkan bila:
1) Sekurang-kurangnya telah 1 (satu) tahun dalam pangkat terakhir
2) Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik dalam
1 (satu) tahun terakhir
10. Kenaikan pangkat PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan secara
penuh di luar instansi induknya yang diangkat dalam jabatan pimpinan
yang telah ditetapkan persamaan eselonnya atau jabatan fungsional
tertentu
PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di luar instansi induknya dan diangkat
dalam jabatan pimpinan yang ditetapkan persamaan eselonnya, dapat diberikan
kenaikkan pangkat setiap kali setingkat lebih tinggi bila:
1) Sekurang-kurangnya telah 4 (empat) tahun dalam pangkat terakhir
2) Setiap unsur penilaian prestasi kerja/DP-3 sekurang-kurangnya bernilai baik
dalam 2 (dua) tahun terakhir
KP sebagaimana tersebut diatas hanya dapat diberikan sebanyak-banyaknya 3 (tiga)
kali, kecuali bagi yang dipekerjakan atau diperbantukan pada lembaga
kependidikan, sosial, kesehatan dan perusahaan jawatan.
PNS yang diperbantukan/ dipekerjakan diluar instansi induk dan yang menduduki
jabatan fungsional tertentu yang untuk KP-nya harus memenuhi angka kredit,
disamping syarat-syarat lainnya sebagaimana dipersyaratkan untuk KP PNS yang
menduduki jabatan fungsional.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kenaikan Pangkat PNS 126

F. KENAIKAN PANGKAT ANUMERTA
PNS yang dinyatakan tewas, diberikan KP anumerta setingkat lebih tinggi, yang
berlaku mulai tanggal yang bersangkutan tewas.
Pemberian KP anumerta harus diusahakan sebelum PNS yang tewas dimakamkan
dan surat keputusan KP anumerta tersebut hendaknya dibacakan pada waktu
upacara pemakaman. Untuk menjamin agar pemberian kenaikan anumerta dapat
diberikan sebelum PNS yang tewas itu dimakamkan, maka ditetapkan sementara.
Pejabat yang berwenang menetapkan keputusan sementara adalah PPK instansi
masing-masing untuk semua PNS yang dinyatakan tewas dalam pangkat Pembina
Utama golongan ruang IV/e ke bawah. Apabila kedudukan PPK tersebut jauh dari
instansi tempat bekerja PNS yang tewas sehingga tidak memungkinkan diberikan
kenaikan pangkat anumerta sebelum PNS yang tewas itu dimakamkan, Camat atau
Pejabat Pemerintah setempat lainnya dapat mengeluarkan keputusan sementara.
Kepala Kantor atau Pimpinan Unit kerjanya membuat laporan tentang tewasnya
PNS sebagai sebagai bahan penetapan keputusan sementara oleh Camat atau Pejabat
lainnya. Berdasarkan laporan tersebut Camat atau Pejabat Pemerintah setempat
mempertimbangkan pemberian kenaikan pangkat anumerta, dan apabila menurut
pendapatnya memenuhi syarat sesuai peraturan perundangan yang berlaku, maka
pejabat tersebut menetapkan keputusan sementara tentang pemberian KP anumerta.
Pejabat yang menetapkan keputusan sementara selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari
kerja wajib melaporkan kepada Pejabat Pembina Kepegawaian instansi PNS yang
tewas. Berdasarkan bahan-bahan kelengkapan administrasi yang disampaikan oleh
pejabat yang menetapkan keputusan sementara tersebut, maka PPK
mempertimbangkan penetapan pemberian kenaikan pangkat anumerta.
Apabila terdapat alasan yang cukup untuk pemberian KP anumerta maka:
Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat dan Daerah menyampaikan usul kepada:
1) Presiden bagi PNS Pusat dan Daerah yang diusulkan menjadi Pembina Utama
Muda golongan ruang IV/c ke atas dan tembusan disampaikan kepada Kepala
BKN sebagai bahan pertimbangan teknis kepada Presiden
2) Kepala BKN bagi PNS Pusat dan Daerah yg diusulkan mjd Juru Muda Tingkat
I golongan ruang I/b sampai dgn Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b
Apabila almarhum/almarhumah PNS yang dinyatakan tewas oleh Kepala BKN atau
Pejabat lain yang ditunjuk dalam lingkungannya dan diberikan kenaikan pangkat
anumerta dan uang duka tewas, maka keputusan sementara tentang pemberian
kenaikan pangkat anumerta ditetapkan menjadi keputusan definitive oleh pejabat
yang berwenang, yaitu:
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kenaikan Pangkat PNS 127

1) Presiden, bagi PNS Pusat dan Daerah yang dinaikkan pangkatnya menjadi
Pembina Utama Muda golongan ruang IV/c ke atas setelah mendapat
pertimbangan teknis dari Kepala BKN;
2) Kepala BKN, bagi PNS Pusat dan daerah yang dinaikkan pangkatnya menjadi
Juru Muda Tingkat I golongan ruang I/b ke atas sampai Pembina Tingkat I
golongan ruang IV/b;
Apabila almarhum/almarhumah PNS ternyata tidak memenuhi syarat untuk
dinyatakan tewas, maka keputusan sementara tentang pemberian kenaikan pangkat
anumerta tidak dapat ditetapkan menjadi keputusan definitive oleh pejabat yang
berwenang, dan keputusan sementara tersebut tidak berlaku. Dalam hal yang
bersangkutan memenuhi syarat untuk mendapatkan kenaikan pangkat pengabdian
karena meninggal dunia dapat diberikan kenaikan pangkat pengabdian dengan
keputusan pejabat yang berwenang.
G. KENAIKAN PANGKAT PENGABDIAN
1. Kenaikan pangkat pengabdian bagi PNS yang meninggal dunia atau akan
diberhentikan dengan hormat karena mencapai batas usia pensiun.
PNS yang meninggal dunia atau akan diberhentikan dengan hormat dengan hak
pensiun karena mencapai batas usia pensiun, dapat diberikan kenaikan pangkat
pengabdian setingkat lebih tinggi apabila:
1) Memiliki masa bekerja sebagai PNS selama:
a. Sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun secara terus menerus dan
sekurang-kurangnya telah satu bulan dalam pangkat terakhir
b. Sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) tahun secara terus menerus dan
sekurang-kurangnya telah satu tahun dalam pangkat terakhir
c. Sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun secara terus menerus dan
sekurang-kurangnya telah 2 tahun dalam pangkat terakhir
2) Setiap unsur Penilaian Prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik dalam
1 (satu) tahun terakhir
3) Tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau berat dalam satu
tahun terakhir.
4) Masa bekerja sebagai PNS secara terus menerus dimaksud dalam ketentuan ini
adalah masa kerja yang dihitung sejak diangkat menjadi CPNS atau PNS
sampai dengan yang bersangkutan meninggal dunia atau mencapai BUP dan
tidak terputus statusnya sebagai PNS.
5) Kenaikkan pangkat Pengabdian bagi PNS yang meninggal dunia atau mencapai
BUP tersebut ditetapkan dengan:
a. Keputusan Presiden, bagi PNS Pusat dan Daerah yang dinaikkan
pangkatnya menjadi Pembina Utama Muda gol/ruang IV/c keatas setelah
mendapat pertimbangan teknis Kepala BKN
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kenaikan Pangkat PNS 128

b. Keputusan Kepala BKN, bagi PNS Pusat an Daerah yang dinaikan
pangkatnya menjadi Juru Muda Tingkat I gol/ruang I/b sampai dengan
Pembina Tingkat I gol/ruang IV/b.
KP Pengabdian bagi PNS yang meninggal dunia berlaku terhitung mulai tanggal PNS
yang bersangkutan meninggal dunia
KP Pengabdian bagi PNS yang mencapai batas usia pensiun berlaku TMT 1 pada
bulan yang bersangkutan diberhentikan dengan hormat dengan hak pensiun.
2. Kenaikan Pangkat Pengabdian yang disebabkan cacat karena dinas
PNS yang oleh Tim Penguji Kesehatan dinyatakan cacat karena dinas dan tidak
dapat bekerja lagi dalam semua jabatan negeri, diberikan KP pengabdian setingkat
lebih tinggi, yang berlaku mulai tanggal yang bersangkutan oleh Tim Penguji
Kesehatan dinyatakan cacat karena dinas dan tidak dapat kerja lagi dalam jabatan
negeri.
Apabila oleh Tim Penguji Kesehatan PNS tersebut dinyatakan cacat karena dinas dan
tidak dapat bekerja lagi dalam jabatan negeri, maka:
PPK Pusat dan Daerah menyampaikan usul kenaikan pangkat pengabdian kepada:
1) Presiden bagi PNS Pusat dan Daerah yang diusulkan menjadi Pembina Utama
Muda golongan ruang IV/c ke atas dan tembusan disampaikan kepada Kepala
BKN sebagai pertimbangan teknis kepada Presiden
2) Kepala BKN bagi PNS Pusat dan Daerah yang diusulkan menjadi Juru Muda
Tingkat I golongan I/b sampai dengan Pembina Tingkat I Golongan ruang IV/b
Kenaikan pangkat pengabdian ditetapkan dengan:
1) Keputusan Presiden, bagi PNS Pusat dan Daerah untuk kenaikan pangkat
menjadi Pembina Utama Muda gol/ruang IV/c ke atas setelah mendapat
pertimbangan teknis dari Kepala BKN
2) Keputusan Kepala BKN, bagi PNS Pusat dan Daerah untuk kenaikan pangkat
menjadi Juru Muda Tingkat I (I/b) sampai dengan gol/ruang IV/b
CPNS yang oleh Tim Penguji Kesehatan dinyatakan cacat karena dinas dan tidak
dapat bekerja lagi dalam semua jabatan negeri, diangkat menjadi PNS, dan diberikan
KP pengabdian.
Pengangkatan menjadi PNS sebagaimana tersebut di atas TMT tanggal 1 pada bulan
yang bersangkutan dinyatakan cacat karena dinas dan tidak dapat bekerja lagi dalam
semua jabatan negeri.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Peninjauan Masa Kerja (PMK) 129

XXIX. PENINJAUAN MASA KERJA (PMK)
A. PENINJAUAN MASA KERJA GOLONGAN
CPNS/PNS yang memiliki pengalaman kerja pada Pemerintah/Swasta yang Berbadan
Hukum yang belum diperhitungkan sebagai masa kerja golongan dapat ditinjau
kembali/diperhitungkan untuk penetapan gaji pokok PNS.
1. Syarat-syarat
a. Pengalaman masa kerja yang diperoleh dari Pemerintah.
1) Status sebagai Calon/Pegawai Negeri Sipil
2) Memiliki pengalaman kerja yang diperoleh pada Pemerintah yang belum
diperhitungkan sebagai masa kerja golongan.
3) Pengalaman kerja pada Pemerintah yang tidak menerima penghasilan
secara harian/bulanan atau sebagai penerima upah yang bersifat tidak tetap
(pekerja borongan) atau kerja sukarela/magang, masa kerjanya tidak dapat
diperhitungkan
4) Masa kerja yang dapat diperhitungkan setinggi-tingginya ditetapkan
berdasarkan masa kerja maximum setelah dikurangi dengan 2 (dua) kali
Kenaikan Gaji Berkala yang terakhir dalam golongan ruang tersebut.
5) Pengalaman kerja yang dapat diperhitungkan sebagai masa kerja golongan
gaji adalah pengalaman kerja yang dapat dibuuktikan dengan Surat
Keputusan dari pejabat yang berwenang (berdasarkan KEP. KA. BKN
Nomor 11 Tahun 2002 cukup keterangan dan bukt lainnya).
6) Pengalaman kerja yang diperoleh dari Pemerintah dimaksud meliputi
(berdasarkan pasal 13 PP. 98 tahun 2000 jo. Kep. KA. BKN Nomor 11
Tahun 2002) yaitu:
a) Masa selama menjadi CPNS/PNS kecuali masa selama menjadi CLTN
b) Masa selama menjadi pejabat Negara
c) Masa selama menjalankan tugas pemerintahan yang antara lain
penugasan sebagai:
i. Lokal staff pada perwakilan RI di Luar Negeri
ii. Pegawai tidak tetap, umpamanya masa bakti Dokter selama
menjadi PTT
iii. Perangkat Desa
iv. Pegawai/Tenaga pada Badan-badan Internasional
v. Petugas pada pemerintah lainnya yang penghasilannya dibebankan
pada APBN
d) Masa selama menjalankan kewajiban untk membela Negara, antara lain
masa selama manjadi Prajurit Wajib dan Sukarelawan
e) Msa selama manjadi Pgawai/karyawan Perusahaan Milik Pemerinta
meliputi BUMN dan BUMD
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Peninjauan Masa Kerja (PMK) 130

b. Pengalaman masa kerja yang diperoleh dari swasta
1) Status sebagai Calon/Pegawai Negeri Sipil
2) Pengalaman Kerja pada swasta yang dapat diperhitunkan menjadi masa
kerja golongan adalah pengalaman kerja yang diperoleh dari swasta yang
berbadan hukum (misalnya, PT, CV dan sebagainya).
3) Pengalaman kerja pada swasta tersebut baru dapat diperhitungkan apabila
sekurang-kurangnya memiliki pengalaman kerja 1 (satu) tahun dan didapat
secara terus menerus tanpa terputus
Dari jumlah pengalaman kerja yang dimiliki hanya dihargai setengahnya dan paling
tinggi hanya dapat dihitung 8 (delapan) tahun
2. Bahan-bahan yang perlu dilampirkan dalam nota usul Formulir D-3/D.II.C
1) Daftar riwayat Hidup/Daftar Riwayat Pekerjaan
2) Salinan sah STTB/Ijazah/Diploma/Akta yang digunakan pada saat bekerja
dipemerintah/swasta
3) Salinan sah Surat Kewputusan Pengangkatan sebagai CPNS
4) Salinan sah Surat Keputusan Pengangkatan dan Pemberhentian sebagai
Bukti Pengalaman Kerja yang diperoleh
5) Salinan sah SK pengangkatan dalam pangkat terakhir.
3. Cara Pemeriksaan
Data / Lampiran Formulir model D-3 / D.II.C yang perlu diperiksa, adalah :
1) Data yang tercantum dalam Surat Keputusan Pengalaman Kerja harus sesuai
dengan data yang tertuang dalam Surat Keputusan Pengangkatan Pertama
sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil.
2) Pengalaman Kerja yang diperoleh dalam waktu yang bersamaan hanya
diperhitungkan satu kali perhiungan masa kerja.
Misalnya,
Tanggal 1 Juni 2000 sampai dengan 31 Agustus 2004 bekerja sebagai guru
tidak tetap SMA Swasta. Tanggal 1 September 2001 sampai dengan 31 mei
2002 bekerja sebagai honorer pada Kantor Pemerintah Daerah Tingkat I
Jawa Barat.
3) Kita membandingkan dengan STTB/Ijazah/Diploma/Akta yang dimiliki
berasal dari daerah mana dan bukti pengalaman kerja diperoleh dari
daerah mana.
Misalnya,
STTB SMA IPS tahun 1989 dari sekolah swasta di Pelembang, Ijazah
Akademi tahun 1993 dari Akademi Administrasi Niaga di Padang. Bukti
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Peninjauan Masa Kerja (PMK) 131

pengalaman kerja yang terlampir adalah dari tanggal 1 Januari 1990 sampai
dengan tanggal 31 Agustus 1999 diperoleh dari PT. Usaha industri Jakarta.
Bila ditemukan data-data yang demikian maka jelas bahwa salah satu data
tersebut atau keseluruhannya adalah palsu, karena tidak mungkin seseorang
dapat kuliah di Sumatra dan bekerja di Jakarta dalam waktu yang
bersamaan
4) Perlu diperhatikan bahwa penetapan besarnya gaji pokok sesuai dengan
status pegawai yang bersangkutan. Apabila masih berstatus Calon diberikan
80% dan apabila telah berstatus Pegawai Negeri Sipil ditetapkan 100%
dari gaji pokok.
5) Pengalaman kerja yang diperoleh sewaktu masih berpendidikan lebih
rendah dari pada pendidikan yang digunakan sebagai dasar pengangkatan
sebagai Pegawai Negeri Sipil, maka perhitungan masa kerja golongannya
harus dikenakan pengurangan secara horizontal sesuai dengan golongan
ruang gaji pegawai yang bersangkutan
6) Pengalaman kerja dari swasta yang Berbadan Hukum yang dapat
diperhitungkan adalah yang didalam Surat Keputusan / Surat Ketrangan
dicantumkan besarnya penghasilan dari pegawai yang bersangkutan dan
diberhentikan dengan hormat dari pekerjaannya / jabatannya dan atau
diberhentikan dengan hormat atas permintaan sendiri. Apabila dalam Surat
Keputusan / Surat Keterangan yang menyatakan bahwa Pegawai yang
bersangkutan diberhentikan dengan tidak hormat atau diberhentikan bukan
atas permintaan sendiri, maka pengalaman kerja yang bersangkautan tidak
dapat diperhitungkan, bahkan pengangkatan yang bersangkutan sebagai
Calon Pegawai Negeri Sipil dapat ditinjau kembali/dibatalkan, apabila
pengangkatan yang bersangkutan dilaksanakan setelah berlakunya
Peraturan Pemerintah Nomor 98 Thun 2000 jo Peraturan Pemerintah
Nomor 12 Tahun 2002
Cara pemeriksaan / penelitian adalah seperti pemeriksaan terhadap lampiran-
lampiran yang diajukan untuk usul mutyasi bidang kepangkatan dan penggajian.
4. Peninjauan Masa Kerja dari Masa Bhakti Veteran dan Masa Kerja sebagai
penghargaan dalam perjuangan.
a. Syarat-syarat
1) Status sebagai Calon /Pegawai Negeri Sipil
2) Calon/Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dinyatakan sebagai pejuang
bagi Negara Republik Indonesia
3) Bhakti Veteran yang diajukan untuk diperhitungkan 2 (dua) kali, hanya
dapat diperhitungkan apabila telah melalui heregrestrasi yang dilakukan
oleh Baminvet Puscadnas.
4) Masa Bhakti yang dapat diperhitungkan 2 (dua) kali, adalah:
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Peninjauan Masa Kerja (PMK) 132

a) Masa Bhakti Veteran perjuangan kemerdekaan antara tanggal 17
Agustus 1949 (maksimal 4 tahun 4 bulan x 2 = 8 tahun 8 bulan)
b) Masa perjuangan integrasi dan selama menjadi pegawai pada
Pemerintah sementara Timor-Timor yaitu mulai tanggal 1 Juli 1974
sampai dengan 31 Juli 1976 (maksimal 2 tahun 3 bulan x 2 = 4 tahun
6 bulan)
B. PENGALAMAN KERJA YANG TIDAK DAPAT DIPERHITUNGKAN UNTUK
PENINJAUAN MASA KERJA GOLONGAN
1) Pengalaman kerja yang sudah dihargai dengan uang pesangon/uang
pesangon yang bersifat untuk pensiun
2) Masa selama menjalani Cuti Diluar Tanggungan Negara
3) Diberhentikan dengan hormat bukan atas permintaan sendiri,
pengangkatan CPNS setelah berlakunya PP. 98 Tahun 2000 jo.PP. 11
Tahun 2002
4) Diberhentikan dengan tidak hormat
5) Pengalaman kerja yang diperoleh secara pararel hanya diperhitungkan
1 pengalaman
6) Pengalaman kerja di Swasta yang kurang dari 1 (satu) tahun
7) Pengalaman kerja yang diperoleh sebelum berusia 18 tahun
C. CONTOH SOAL DAN JAWABAN PENINJAUAN MASA KERJA
Contoh 1
Sdr. BUDIMAN, S.IP lahir 01 Mei 1972, dengan riwayat pendidikan sebagai berikut:
Berijazah D.III dari AAN tahun 1994, berdasarkan ijazah D.III tersebut ybs. Bekerja
pada PT sebuah perusahaan Keramik, dan sambil bekerja Sdr. BUDIMAN
melanjutkan pendidikan S.1 dan lulus pada tahun 2001. selanjutnya Sdr. BUDIMAN
melamar sebagai CPNS dan diangkat dalam golongan ruang III/a TMT. 1-12-2004,
dengan SK. Bupati Gunungkidul. Oleh Bupati Gunungkidul Peninjauan masa
kerjanya diajukan
Dalam hal ini bagaimana perhitungan masa kerjanya, seandainya Sdr. BUDIMAN
telah mengajukan berhenti dari PT Keramik tersebut pada akhir Agustus 2004.
Jawab
Pengalaman kerja dengan dasar pendidikan D.III dari,
1-1-1995 s/d 1-8-2004 = 9 tahun, 7 bulan
dihargai = 4 tahun, 9 bulan
masa kerja segaris = 3 tahun
masa skerja golongan II = 7 tahun, 9 bulan
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kenaikan Gaji Berkala (KGB) 133

masa kerja golongan III = 2 tahun, 9 bulan
XXX. KENAIKAN GAJI BERKALA (KGB)
A. PENGERTIAN
Kenaikan gaji berkala (KGB) adalah kenaikan gaji yang diberikan kepada PNS yang
telah mencapai masa kerja golongan yang ditentukan untuk KGB yaitu setiap 2 (dua)
tahun sekali dan apabila telah memenuhi persyaratan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Pegawai negeri sipil diberikan kenaikan gaji
berkala apabila dipenuhi syarat-syarat :
1. Telah mencapai masa kerja golongan yang ditentukan untuk kenaikan gaji
berkala;
2. Penilaian pelaksanaan pekerjaan dengan nilai rata-rata sekurang-kurangnya
"cukup".
3. Pemberitahuan kenaikan gaji berkala diterbitkan 2 (dua) bulan sebelum
kenaikan gaji berkala itu berkala;
4. Apabila PNS yang bersangkutan belum memenuhi syarat penilaian pelaksanaan
pekerjaan dengan nilai rata-rata sekurang-kurangnya cukup maka kenaikan
gaji berkalanya ditunda paling lama untuk waktu 1 (satu) tahun;
5. Apabila sehabis penundaan PNS yang bersangkutan belum juga memenuhi
syarat maka kenaikan gaji berkalanya ditunda lagi tiap-tiap kali paling lama
untuk waktu 1 (satu) tahun;
6. Apabila tidak ada alasan lagi untuk penundaan , maka kenaikan gaji berkala
tersebut diberikan mulai bulan berikutnya dari masa penundaan itu;
Pemberian kenaikan gaji berkala dilakukan dengan surat pemberitahuan dari Kepala
Kantor/Satuan Organisasi yang bersangkutan atas nama pejabat yang berwenang
kepada Kepala Wilayah Pembayaran (DPPKAD/Kepala Bagian Keuangan/KPKN)
setempat sesuai dengan pasal 51 ayat (1) Keputusan Presiden No. 16 Tahun 1994.
Surat pemberitahuan kenaikan gaji berkala tersebut disampaikan dua bulan sebelum
kenaikan gaji berkala tersebut berlaku.
Pegawai Negeri Sipil yang tidak memenuhi syarat kenaikan gaji berkala dapat
ditunda untuk paling lama satu tahun, dan apabila setelah penundaan tersebut
Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan belum juga memenuhi syarat Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan, maka kenaikan gaji berkalanya ditunda lagi tiap-tiap kali
paling lama untuk satu tahun. Penundaan kenaikan gaji berkala dilakukan dengan
Surat Keputusan Pejabat yang berwenang.
Masa penundaan kenaikan gaji berkala dihitung penuh untuk kenaikan gaji berkala
berikutnya.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kenaikan Gaji Berkala (KGB) 134

B. PANDUAN DALAM PERHITUNGAN KENAIKAN GAJI BERKALA
1. Selalu berpedoman pada daftar gaji pokok pegawai negeri sipil
2. Untuk gol. Ruang I/a, gol. III dan gol. IV kenaikan gaji berkala jatuh pada
masa kerja tahun genap
3. Untuk gol. Ruang I/b s/d I/d dan gol. II kenaikan gaji berkala jatuh pada masa
kerja tahun ganjil
4. Pastikan masa kerja golongan ruang jatuh pada o (nol) bulan
a. contoh point 2 : kgb jatuh pada mk 02 tahun 00 bulan;
04 tahun 00 bulan; 06 tahun 00 bulan dst.
b. contoh point 3 : kgb jatuh pada mk 01 tahun 00 bulan;
03 tahun 00 bulan; 05 tahun 00 bulan dst
C. CONTOH PERHITUNGAN KBG
Diangkat sebagai Cpns gol. Ruang II/c
Tmt 01-01-2010 dengan masa kerja 03 tahun 00 bulan
Diangkat menjadi PNS tmt 01-11-2011 dengan masa kerja 04 tahun 10
bulan, kapan kgbnya ?
Ingat !!! :
Bahwa kgb untuk gol II jatuh pada masa kerja ganjil
Ketika diangkat pada tmt Januari tersebut dalam posisi masa kerja
00 bulan maka kgb akan jatuh pada bulan Januari
Selanjutnya untuk tahunnya bisa ditarik dari cpns ditambah 2 tahun
atau dari pns sehingga terpenuhi menjadi 05 tahun 00 bulan
sehingga jatuhnya KGB pada 01 Januari 2012
D. KENAIKAN GAJI ISTIMEWA
Kepada Pegawai Negeri Sipil yang menurut Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan
menunjukkan nilai amat baik sehingga ia patut dijadikan teladan, dapat
diberikan kenaikan gaji istimewa sebagai penghargaan dengan memajukan saat
kenaikan gaji berkala yang akan datang dan saat-saat kenaikan gaji berkala
selanjutnya pada pangkat yang dijabatnya pada saat pemberian kenaikan gaji
istimewa.
pemberian kenaikan gaji istimewa sebagaimana dimaksud di atas, dilakukan
oleh Menteri/Pimpinan lembaga yang bersangkutan.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penggajian PNS 135

XXXI. PENGGAJIAN PNS
A. PENGERTIAN DASAR MENGENAI GAJI DAN TUNJANGAN
Yang dimaksud dengan gaji pegawai adalah gaji pokok berikut tunjangannya bagi
Pegawai Negeri Sipil (PNS) termasuk CPNS. Gaji pegawai disediakan dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang bersumber dari Dana Alokasi Umum
(DAU) melalui Belanja Tidak Langsung Pegawai masing-masing SKPD.
Dalam UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian disebutkan
pada pasal 7 bahwa setiap PNS berhak memperoleh gaji yang layak sesuai dengan
pekerjaan dan tanggungjawabnya. Selanjutnya dalam penjelasannya ditegaskan
bahwa pada dasarnya setiap PNS beserta keluarganya harus dapat hidup layak dari
gajinya sehingga dengan demikian ia dapat memusatkan perhatian untuk
melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya.
Ketentuan Pasal 7 UU Nomor 8 Tahun 1974 juga mengatur bahwa besarnya gaji
harus memperhatikan Keuangan Negara dan harus pula memperhatikan keadaan
dimana PNS itu dipekerjakan. Gaji PNS dan tunjangan yang melekat pada gaji
adalah penghasilan yang diterima oleh PNS yang telah diangkat oleh pejabat yang
berwenang dengan surat keputusan sesuai ketentuan yang berlaku.
Gaji Pegawai terdiri dari :
1. GAJI POKOK
Gaji pokok adalah landasan dasar dalam menghitung besarnya gaji seseorang
PNS. Hal ini disebabkan sebagian komponen perhitungan gaji seperti
tunjangan istri , tunjangan anak dan tunjangan perbaikan penghasilan dihitung
atas dasar persentase tertentu dari gaji pokok. Besarnya gaji pokok seseorang
PNS tergantung atas gol/ruang penggajian yang ditetapkan untuk pangkat
yang dimilikinya. Karena itu pangkat berfungsi pula sebagai dasar penggajian.
Besarnya gaji pokok diberikan kepada pegawai sesuai dengan besaran yang
tercantum dalam surat keputusan pengangkatan, surat keputusan kenaikan
pangkat, surat pemberitahuan gaji berkala, atau surat penetapan lainnya.
Kepada seseorang yang diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)
diberikan gaji pokok sebesar 80% (delapan puluh persen) dari gaji pokok yang
ditentukan untuk golongan /ruang gaji menurut pangkat yang didudukinya.
2. TUNJANGAN TUNJANGAN YANG MELEKAT PADA GAJI
Tunjangan tunjangan yang melekat pada gaji terdiri atas tunjangan
istri/suami, tunjangan anak, tunjangan jabatan structural/fungsional, tunjangan
yang dipersamakan dengan tunjangan jabatan, tunjangan kompensasi kerja,
tunjangan beras, tunjangan khusus PPh, tunjangan Irian Jaya/Papua, Tunjangan
pengabdian wilayah terpencil, tunjangan perbaikan penghasilan, tunjangan
asuransi kesehatan (askes 2%).
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penggajian PNS 136

a. Tunjangan Istri/Suami
Yang dimaksud dengan tunjangan istri/suami adalah tunjangan yang diberikan
kepada pegawai negeri yang beristri/suami. Ketentuan ketentuan yang
berkaitan dengan tunjangan istri/suami adalah :
1. Diberikan untuk 1 istri/suami pegawai negeri yang sah;
2. Besarnya tunjangan istri//suami adalah 10% dari gaji pokok;
3. Tunjangan istri/suami diberhentikan pada bulan berikutnya setelah terjadi
perceraian atau meninggal dunia;
4. Untuk memperoleh tunjangan istri/suami harus dibuktikan dengan surat
nikah/akta nikah dari Kantor Urusan Agama atau Kantor Catatan Sipil.
b. Tunjangan anak
Yang dimaksud dengan tunjangan anak adalah tunjangan yang diberikan
kepada PNS/CPNS yang mempunyai anak (anak kandung, anak tiri dan anak
angkat) dengan ketentuan :
1. Belum mempunyai batas usia 21 tahun;
2. Tidak atau belum pernah menikah;
3. Tidak mempunyai penghasilan sendiri; dan
4. Nyata menjadi tanggungan pegawai negeri yang bersangkutan.
Ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan tunjangan anak adalah :
1. Diberikan maksimal untuk 2 (dua) orang anak;
2. Dalam hal PNS pada tanggal 1 Maret 1994 telah memperoleh tunjangan
anak untuk lebih dari 2 orang anak, kepadanya tetap diberikan tunjangan
anak untuk jumlah menurut keadaan pada tanggal tersebut. Apabila setelah
tanggal tersebut jumlah anak yang memperoleh tunjangan anak berkurang
karena menjadi dewasa, kawin/meninggal, pengurangan tersebut tidak
dapat digantikan, kecuali jumlah anak menjadi kurang dari dua;
3. Besarnya tunjangan anak adalah 2 % per anak dari gaji pokok;
4. Tunjangan anak diberhentikan pada bulan berikutnya setelah tidak
memenuhi ketentuan pemberian tunjangan anak atau meninggal dunia;
5. Pegawai wajib melaporkan bahwa anak yang masuk dalam tanggungan
pegawai tersebut telah tidak memenuhi ketentuan pemberian tunjangan
anak atau meninggal dunia;
6. Batas usia anak tersebut diatas dapat diperpanjang dari usia 21 tahun
sampai usia 25 tahun, apabila anak tersebut masih bersekolah dengan
ketentuan sebagai berikut :
a. Dapat menunjukkan surat pernyataan dari kepala sekolah
/kursus/perguruan tinggi bahwa anak tersebut masih
sekolah/kursus/kuliah;
b. Masa pelajaran pada sekolah/kursus/perguruan tinggi tersebut
sekurang-kurangnya satu tahun;
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penggajian PNS 137

7. Untuk memperoleh tunjangan anak harus dibuktikan dengan :
a. Surat Keterangan Kelahiran Anak dari pejabat yang berwenang pada
Catatan Sipil/Lurah/Camat setempat:
b. Surat Keputusan Pengadilan yang memutuskan /mensahkan perceraian
dimana anak menjadi tanggungan penuh janda/duda untuk tunjangan
anak tiri bagi janda/duda yang bercerai;
c. Surat Keterangan dari lurah/camat bahwa anak-anak tersebut adalah
tanggungan si janda/duda untuk tunjangan anak tiri bagi janda/duda
yang suami/istrinya meninggal dunia;
d. Surat Keputusan Pengadilan Negeri tentang pengangkatan anak
(hukum adopsi) untuk tunjangan anak bagi anak angkat (apabila
pegawai mengangkat anak lebih dari 1 anak angkat maksimal 1 anak).
b. Tunjangan anak dimasukkan dalam pengajuan daftar gaji setelah
diterimanya surat kelahiran oleh Pengelola Administrasi Gaji.
Pembayaran anak tidak berlaku surut.
c. Untuk tunjangan anak tiri/anak angkat dimasukkan dalam pengajuan
daftar gaji setelah diterimanya surat kelahiran oleh satuan
kerja/pejabat administrasi belanja pegawai (Pembayaran tunjangan
anak tiri/anak angkat tidak berlaku surut) dengan syarat :
i. Ayah yang sebenarnya dari anak tersebut telah meninggal dunia
yang harus dibuktikan dengan surat keterangan dari pamong
praja (serendah-rendahnya camat),
ii. Ayah yang sebenarnya dari anak tersebut bukan pegawai negeri
dan tunjangan anak untuk anak-anak itu diberikan kepada
ayahnya yang harus dibuktikan dengan surat keterangan dari
kantor tempat ayahnya bekerja.
iii. Anak tersebut tidak lagi menjadi tanggungan ayahnya yang
dibuktikan dengan surat keputusan dari pengadilan negeri
bahwa anak tersebut telah diserahkan sepenuhnya kepada ibu
dari anak tersebut dan disyahkan oleh pamong praja serendah-
rendahnya camat).
c. Tunjangan Jabatan Stuktural
Kepada PNS yang diangkat dan ditugaskan secara penuh dalam jabatan
struktural diberikan tunjangan jabatan struktural setiap bulan. Besarnya
tunjangan jabatan struktural diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun
2007 tentang Tunjangan Jabatan Struktural. Pemberian tunjangan jabatan
struktural dihentikan apabila seorang PNS diangkat dalam jabatan fungsional
atau karena hal lain yang mengakibatkan pemberian tunjangan dihentikan
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Ketentuan lebih lanjut
mengenai pelaksanaan peraturan presiden perihal tunjangan jabatan diatur
oleh Menteri Keuangan dan/atau Kepala BKN, baik secara bersama-sama
maupun sendiri sendiri menurut bidang tugasnya masing-masing.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penggajian PNS 138

d. Tunjangan Jabatan Fungsional
Tunjangan jabatan fungsional dalah tunjangan jabatan yang diberikan kepada
pegawai negeri yang menduduki jabatan fungsional sesuai dengan peraturan
perundangan dan ditetapkan dengan surat keputusan dari pejabat yang
berwenang menurut peraturan perundang-undangan dengan ketentuan:
1. Besaran tunjangan JFK dibedakan berdasarkan Peraturan Presiden;
2. Bagi PNS yang berdasarkan peraturan perundang-undangan dapat
merangkap jabatan fungsional dan struktural, hanya diberikan satu
tunjangan jabatan yang menguntungkan baginya;
3. Tunjangan jabatan fungsional sekaligus menentukan perpanjangan batas
usia pensiun bagi pegawai yang bersangkutan (dapat diperpajang sampai
dengan usia 58 tahun, 60 tahun dan 65 tahun);
4. Tunjangan jabatan fungsional dibayarkan pada bulan berikutnya setelah
tanggal melaksanakan tugas.
5. Tunjangan jabatan fungsional tidak dapat berlaku surut dari tanggal
penetapan keputusan pengangkatan dalam jabatan fungsional;
6. Pembayaran tunjangan jabatan fungsional dihentikan terhitung mulai bulan
berikutnya sejak pegawai negeri yang bersangkutan :
a. Tidak lagi menduduki jabatan fungsioal
b. Diberhentikan sementara
c. Dijatuhi hukuman disiplin berupa pembebasan dari jabatan
d. Sedang menjalani cuti diluar tanggungan Negara .
e. Dijatuhi hukuman penjara atau kurungan berdasarkan putusan
pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
f. Dibebaskan dari tugas jabatannya selama lebih dari 6 bulan
(dihentikan mulai bulan ketujuh)
g. Sedang menjalani cuti besar.
7. Tunjangan JFK dibuktikan dengan surat pernyataan melaksanakan tugas;
8. Untuk kepastian pembayaran tunjangan jabatan fungsional , setiap awal
tahun anggaran pejabat yang berwenang diharuskan membuat surat
pernyataan masih menduduki jabatan;
9. Tunjangan jabatan fungsional bagi PNS yang diperbantukan dibayarkan
oleh instansi tempat pegawai negeri yang bersangkutan bekerja;
10. Tunjangan jabatan fungsional bagi pegawai negeri yang dipekerjakan tetap
dibayarkan oleh instansi induknya.
e. Tunjangan Kompensasi Kerja (Risiko Bahaya atas pekerjaan)
f. Tunjangan beras
Tunjangan beras adalah tunjangan yang diberikan kepada PNS dan anggota
keluarganya dalam bentuk natura atau dalam bentuk inatura (uang) dengan
besaran sesuai ketentuan yang berlaku. Ketentuan ketentuan mengenai
tunjangan beras diatur sebagai berikut:
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penggajian PNS 139

1. Diberikan kepada PNS dalam bentuk natura (beras) atau inatura (uang)
2. Tunjangan beras untuk pegawai negeri sipil sebanyak 10 kg/bulan . Apabila
diberikan dalam bentuk uang maka besaran harga beras per kgnya
ditetapkan oleh Menteri Keuangan
3. Tunjangan beras untuk anggota keluarga pegawai negeri sipil diberikan
sebanyak 10 kg/orang/bulan atau apabila diberikan dalam bentuk uang
maka besaran harga beras per kgnya ditetapkan oleh Menteri Keuangan
g. Tunjangan khusus PPh
Tunjangan khusus PPh adalah tunjangan khusus pajak yang diberikan oleh
pemerintah dalam rangka membantu PNS yang dikenakan pajak penghasilan
B. POTONGAN
Potongan yang termuat dalam daftar gaji terdiri atas;
1. Iuran Wajib Pegawai Negeri (IWP)
Besaran potongan Iuran Wajib Pegawai (IWP) sebesar 10% dari (Gaji
Pokok+Tunjangan keluarga) dengan perincian sebagai berikut:
a. 4,75% untuk iuran pensiun
b. 2,00% untuk iuran pemeliharaan kesehatan
c. 3,25% untuk iuran hari tua

2. Tabungan Perumahan Pegawai (Taperum)
adalah potongan yang dikenakan kepada PNS untuk membiayai usaha-usaha
peningkatan kesejahteraan PNS dalam bidang perumahan yang besarnya diatur
menurut perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan Keputusan Presiden
Nomor 14 tahun 1993 dan Keputusan Presiden Nomor 46 Tahun 1994
besarnya tabungan tiap bulan adalah sebagai berikut:

a. Golongan I Rp 3.000,-
b. Golongan II Rp 5.000,-
c. Golongan III Rp 7.000,-
d. Golongan IV Rp 10.000,-

Pembentukan Dana Tabungan Perumahan PNS ini dimaksudkan untuk
meningkatkan kesejahteraan PNS, dengan cara membantu membayar uang
muka Pembelian rumah dengan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan
membantu sebagai biaya membangun rumah untuk sebagian PNS yang sudah
memiliki tanah ditempatnya bekerja.


Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penggajian PNS 140

3. Iuran Asuransi Kesehatan 2%
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2003 dan Keputusan
Menteri Keuangan RI nomor :378/KMK.02/2003 tanggal 6 Agustus 2003
tentang subsidi dan iuran Pemerintah Daerah dalam dalam penyelenggaraan
Asuransi Kesehatan ditetapkan bahwa besarnya iuran asuransi kesehatan
adalah 2 % dari penghasilan (Gaji pokok+ tunjangan keluarga).
4. PPh pasal 21
Adalah potongan pajak yang dikenakan terhadap penghasilan pegawai negeri
yang melampaui batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1994 jo Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 636/KMK/04/1994 menyatakan bahwa pengenaan
PPh Pasal 21 bagi pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil, Anggota ABRI dan
Pensiunan termasuk janda/duda dan atau anak-anaknya atas penghasilam
berupa gaji kehormatan, gaji atau uang pension, tunjangan yang terkait
dengan gaji kehormatan yang tercantum dalam daftar gaji/daftar pembayaran
pensiunan atau daftar pembayaran lain.
Demikian juga terhadap honorarium, uang sidang, uang prestasi kerja, dan
imbalan lain denan nama apapun yang dibebankan pada keuangan negara
dipotong PPh pasal 21 sebesar 15% jumlah bruto penghasilan
C. SISTEM PENGGAJIAN
1. SISTEM BERKALA TUNGGAL
Yang dimaksud dengan sistem skala tunggal adalah system penggajian yang
memberikan gaji yang sama kepada pegawai yang berpangkat sama dengan
tidak atau kurang memperhatikan sifat pekerjaan yang dilakukan dan beratnya
tanggungjawab yang dipikul dalam melaksanakan pekerjaan itu.
a. Keuntungan system skala tunggal
Adalah kesederhanaannya, karena hanya memerlukan satu peraturan yang
mengatur skala gaji untuk segenap Pegawai Negeri Sipil.
b. Kerugian system skala tunggal
Adalah dirasakan tidak adil bagi Pegawai Negeri Sipil yang memikul
tanggungjawab lebih berat.
2. SISTEM SKALA GANDA
Yang dimaksud dengan sistem skala ganda adalah sistem penggajian yang
menentukan besaran gaji bukan saja didasarkan pada pangkat tetapi juga
didasarkan pada sifat pekerjaan yang dilakukan, prestasi kerja yang dicapai
dan beratnya tanggung jawab yang dipikul dalam melaksanakan pekerjaan itu.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Penggajian PNS 141

a. Keuntungan sistem skala ganda
Adalah memberikan rangsangan yang dapat menimbulkan kegairahan
bekerja bagi Pegawai Negeri Sipil yang melaksanakan beban tugas yang
besar dan memikul tanggungjawab yang berat.
b. Kerugian system skala ganda
Adalah menimbulkan ketidakadilan pada waktu mereka pension. Karena
gaji pokok adalah dasar penetapan pokok pensiun, maka pensiun pokok A
akan berbeda dengan pensiun pokok B, padahal pada waktu mereka sama-
sama pensiun tidak ada lagi perbedaan besarnya beban tugas dan
perbedaan berat tanggungjawab.
3. SISTEM SKALA GABUNGAN
Untuk menghilangkan kerugian yang terdapat pada sistem skala tunggal dan
sistem skala ganda, maka sistem penggajian PNS yang akan digunakan adalah
Sistem Skala Gabungan yaitu gaji pokok bagi PNS yang berpangkat sama
ditetapkan sama, disamping itu diberikan tunjangan bagi PNS yang
berdasarkan penilaikan melaksanakan beban tugas yang lebih besar dan
memikul tanggung jawab yang lebih berat dibandingkan dengan yang lain.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Surat Keterangan Penghentian Pembayaran
(SKPP)
142

XXXII. SURAT KETERANGAN PENGHENTIAN PEMBAYARAN (SKPP)

Surat Keterangan Penghentian Pembayaran (SKPP) adalah surat keterangan tentang
penghentian pembayaran gaji karena mutasi /pensiun sehingga dapat menunjukkan
batas akhir hak yang seharusnya diterima pegawai negeri /pensiunan bersangkutan .
SKPP diterbitkan dengan tujuan agar pegawai yang berubah status/pindah dapat
dilanjutkan pembayaran gajinya oleh satker ditempat kerja yang baru , atau
dibayarkan pensiunnya oleh PT Taspen bagi pegawai yang memasuki masa pensiun.
Pada SKPP selain dicantumkan perincian penghasilan bulan terakhir yang telah
dibayar , juga dicantumkan utang-utang kepada Negara dari pegawai yang
bersangkutan bila ada.
A. SKPP DITERBITKAN DALAM HAL
1. Pegawai pindah ke satker lain, baik yang mengakibatkan perubahan DPPKAD
pembayar maupun tetap dalam wilayah pembayaran DPPKAD yang sama;
2. Pegawai pindah ke/dari luar negeri;
3. Pegawai diperbantukan /pindah ke daerah otonom ;
4. Pegawai diberhentikan dengan hormat dengan mendapat hak pension, uang
tunggu :
5. Siswa Ikatan Dinas yang diangkat menjadi pegawai (bila ikatan dinas diberi
gaji)
6. Pegawai yang berpindah statusnya dari pegawai honorer /kontrak menjadi
cpns/pns
7. Pegawai yang pindah dari /ke Kabupaten Magelang
B. SYARAT SYARAT PENERBITAN SKPP
1. Surat pengantar dari SKPD
2. Surat Keterangan Penghentian Pembayaran Sementara yang diterbitkan oleh
SKPD
3. Fotocopy Surat Keputusan mutasi/pindah, pensiun, pensiun janda/duda ,
uang tunggu penggangkatan pegawai bagi mantan siswa ikatan dinas
4. Fotocopy gaji terakhir yang diterimakan (Rincian daftar gaji terakhir)
SKPP dibuat rangkap 4 ;
1. Lembar 1 untuk yang bersangkutan
2. Lembar 2 untuk Taspen
3. Lembar 3 untuk BKD
4. Lembar 4 untuk SKPD terakhir pegawai bekerja
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kesejahteraan Pegawai 143

XXXIII. KESEJAHTERAAN PEGAWAI
A. DASAR HUKUM
1. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah;
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah;
3. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2008 tentang Pedoman
Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2009;
4. Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Pokok-pokok Pengelolaan
Keuangan Daerah;
5. Peraturan Bupati Magelang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Tambahan
Penghasilan bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten
Magelang.
6. Keputusan Bupati Magelang Nomor 188.45/43/KEP/31/2009 tentang Besaran
Tambahan Penghasilan Berdasarkan Beban Kerja bagi Pegawai Negeri Sipil di
Lingkungan Pemerintah Daerah Kab. Magelang Tahun Anggaran 2009.
B. PENGERTIAN
Pemerintah Daerah memberikan Tambahan Penghasilan kepada PNS
berdasarkan peratuan perundang undangan yang berlaku.
Tambahan Penghasilan diberikan berdasarkan pertimbangan yang obyektif
dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan memperoleh
persetujuan DPRD.
Tambahan penghasilan diberikan kepada PNS dalam rangka peningkatan
kesejahteraan pegawai berdasarkan beban kerja atau kondisi kerja.
Tambahan Penghasilan diberikan kepada PNS yang dibebani pekerjaan untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang dinilai melampaui beban kerja normal.
Tambahan Penghasilan diberikan kepada PNS yang dalam melaksanakan
tugasnya berada pada lingkungan kerja yang memiliki resiko tinggi.
C. TAMBAHAN PENGHASILAN DIKECUALIKAN BAGI :
1. Calon Pegawai Negeri Sipil ( CPNS ).
2. Pegawai Negeri Sipil yang :
a. Sedang menjalani Cuti, yaitu : Cuti besar, Cuti Bersalin, Cuti Alasan
penting lebih dari 20 hr, Cuti diluar Tanggungan Negera, Cuti Sakit lebih
dari 1 bulan.
b. Sedang menjalani tugas belajar.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kesejahteraan Pegawai 144

c. Sedang menjalani hukuman disiplin sedang dan berat diantaranya :
Diberhentikan sementara untuk pertimbangan peradilan, dijatuhi
hukuman disiplin Pemberhentian dengan hormat sebagai PNS maupun
Pemberhentian dengan tidak hormat sebagai PNS, Dijatuhi hukuman
tingkat sedang dan hukuman disiplin tingkat berat.
d. Meninggalkan tugas secara tidak sah lebih dari 6 hari dalam 1 (satu)
bulan berdasarkan daftar hasir.
e. Sedang menjalani masa Persiapan Pensiun (BPP)
f. Diklat lebih dari 1 Bulan.
g. Bagi PNS yang dijatuhi hukuman disiplin berupa Pembebasan dari
Jabatan dapat diberikan Tambahan penghasilan setelah menjalani
hukuman disiplin paling singkat 1 (satu) tahun.
D. BESARNYA TAMBAHAN PENGHASILAN :
Berdasarkan Keputusan Bupati Nomor. 188.45/43/KEP/31/2009 tanggal 6 April
2009 besaran Tambahan Penghasilan berdasarkan beban kerja bagi PNS di
Lingkungan Pemerintah Daerah Kab. Magelang TA 2009 sbb :
1. Sekretaris Daerah Rp. 3.375.000,-
2. Asisten Sekda, Kepala Badan, Kepala Dinas/
Sekretaris DPRD, Inspektur dan Staf Ahli Bupati Rp. 2.250.000,-
3. Kepala Kantor, Kepala Bagian pada Setda dan Camat Rp. 1.350.000,-
4. Sekretaris Badan / Dinas, Inspektur Pembantu,
Kabag pada Set DPRD, Kepala Bidang dan
Sekretaris Camat Rp. 1.125.000,-
5. Eselon IV Rp. 900.000,-
6. Eselon V Rp. 675.000,-
7. Pegawai Golongan IV Rp. 450.000,-
8. Pegawai Golongan III Rp. 375.000,-
9. Pegawai Golongan II Rp. 255.000,-
10. Tenaga Fungsional Rp. 250.000,-

Manajemen Administrasi Kepegawaian | BAPERTARUM / TAPERUM PNS 145

XXXIV. BAPERTARUM / TAPERUM PNS
A. UMUM
Perumahan merupakan kebutuhan pokok manusia, sehingga setiap manusia perlu
memenuhinya, termasuk didalamnya Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun demikian
kemampuan keuangan PNS terbatas sehingga perlu diupayakan cara agar kebutuhan
tersebut bisa terpenuhi sesuai kemampuan PNS. Untuk itulah perlu usaha gotong-
royong berdasar kebersamaan, kekeluargaan dan kesetiakawanan PNS melalui
tabungan perumahan.
B. PENGERTIAN
Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan (BAPERTARUM) PNS adalah salah satu
program yang dicanangkan Pemerintah dalam upaya membantu PNS untuk
mendapatkan perumahan
C. LANDASAN HUKUM
1. Keppres 14 Tahun 1993 Tentang Tabungan Perumahan PNS jo Keppres 46
Tahun 1994 tentang perubahan Keppres 14 Tahun 1993
2. Keputusan Menteri Negara Perumahan Rakyat Selaku Ketua Harian
BAPERTARUM-PNS Nomor 01/KPTS/1995/tentang Perubahan Bantuan
Pemilikan Rumah bagi Pegawai Negeri Sipil .
3. Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 12 tahun 2011 tentang
Tambahan Bantuan Uang Muka dan Bantuan Sebagian Biaya Membangun
Rumah bagi PNS.
D. MAKSUD DAN TUJUAN
Taperum PNS dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan PNS dengan cara:
1. membantu uang muka pembelian rumah
2. membantu sebagian biaya pembangunan rumah bagi PNS yang sudah memiliki
tanah sendiri didaerah tempat kerja
Pengelolaan dana tabungan perumahan PNS ditangan BAPERTARUM
E. PERHITUNGAN DAN BESARAN IURAN
Perhitungan Pengembalian Tabungan merupakan akumulasi dari iuran tabungan yg
dipotong setiap bulannya dari gaji PNS sesuai dgn golongan, yaitu :
Golongan I : Rp 3.000,-
Golongan II : Rp 5.000,-
Golongan III : Rp 7.000,-
Golongan IV : Rp 10.000,-
Manajemen Administrasi Kepegawaian | BAPERTARUM / TAPERUM PNS 146

Perhitungan tersebut dilakukan sejak 1 Januari 1993 sampai dengan yang
bersangkutan berhenti bekerja, yang disebabkan pensiun, meninggal dunia, atau
sebab-sebab lain.
Pembayaran tabungan perumahan dilakukan dengan cara pemotongan gaji PNS tiap
bulan dimulai Bulan Februari 1993 yang disetor ke rekening Menkeu atas nama
Bapertarum PNS.
F. KETENTUAN UMUM
1. Yang berhak atas bantuan Taperum PNS aktif Gol Ruang I, II dan III dan
Golongan IV/a dan IV/b dengan prioritas Gol I dan II.
2. Belum memiliki rumah sendiri
3. Mempunyai masa kerja minimal 5 tahun
4. Diberikan sekali semasa menjadi PNS (aktif)
5. Apabila suami PNS, yang berhak Taperum hanya salah Satu
6. Besarnya bantuan :
a. Golongan I sebesar Rp. 1-200.000,-
b. Golongan II sebesar Rp. 1.500.000,-
c. Golongan III sebesar Rp. 1.800.000,-
d. Golongan IV/a dan IV/b sebesar Rp. 2.100.00,-
7. Tabungan dikembalikan tanpa bunga kepada PNS yang berhenti karena
permintaan sendiri/diberhentikan dan belum pernah menerima Taperum
8. Biaya renovasi rumah tidak termasuk dalam program Bapertarum
9. Bentuk bantuan berupa :
a. Bantuan uang muka KPR kepada PNS
b. Bantuan sebagai biaya membangun rumah diatas tanah yang dimiliki
secara syah dan berada dilokasi pemohon bekerja.
G. JENIS BANTUAN BAPERTARUM - PNS
1. 1. 1. 1. Bantuan Uang Muka ( BUM ). Bantuan Uang Muka ( BUM ). Bantuan Uang Muka ( BUM ). Bantuan Uang Muka ( BUM ).
Bantuan Uang Muka (BUM) Kredit Pemilikan Rumah (KPR) adalah bantuan
yang diberikan kepada PNSdalam rangka membantu uang muka pembelian
rumah yang dilakukan melalui fasilitas KPR.
2. 2. 2. 2. Bantuan Sebagian Biaya Membangun ( BM ). Bantuan Sebagian Biaya Membangun ( BM ). Bantuan Sebagian Biaya Membangun ( BM ). Bantuan Sebagian Biaya Membangun ( BM ).
Bantuan Sebagian Biaya Membangun (BM) Kredit Membangun Rumah (KMR)
adalah bantuan yang diberikan kepada PNS dalam rangka membantu sebagian
biaya membangun rumah di atas tanah sendiri yang dilakukan melalui fasilitas
KMR .
Manajemen Administrasi Kepegawaian | BAPERTARUM / TAPERUM PNS 147

H. BESARAN BANTUAN
Besarnya bantuan yg diberikan untuk masing-masing golongan yg tidak
dikembalikan yaitu :
1. Rp 1.200.000,- untuk PNS golongan I
2. Rp 1.500.000,- untuk PNS golongan II
3. Rp 1.800.000,- untuk PNS golongan III
Selain bantuan tersebut, PNS juga berhak memanfaatkan tambahan bantuan
pinjaman dana uang muka dengan bunga 6 % annuitas per-tahun yg hrs
dikembalikan sesuai dengan jangka waktu KPR/KMR, yaitu :
1. Rp. 13.800.000,- untuk PNS golongan I
2. Rp.13.500.000,- untuk PNS golongan II
3. Rp. 13.200.000,- untuk PNS golongan III
Total Bantuan yang diterima PNS adalah setiap golongan Rp. 15.000.000,-
(bantuan + pinjaman)
I. PERSYARATAN UMUM BUM/BM :
1. PNS aktif golongan I,II, dan III.
2. Memiliki masa kerja paling sedikit 5 tahun.
3. Belum pernah menerima dan memanfaatkan layanan TAPERUM-PNS.
4. Belum memiliki rumah.
5. Khusus utk permohonan BM, hrs memiliki tanah yg dibuktikan dgn bukti
kepemilikan hak atas tanah yg sah (sesuai Peraturan Bank Pelaksana)
J. PERSYARATAN PENGAJUAN
1. Bantuan Uang Muka KPR
Mengisi formulir bantuan dilampiri :
a. Fc. KTP disyahkan Lurah dan Camat
b. Fc. KARPEG disyahkan institusi
c. Surat keterangan telah bekerja minimal 5 tahun
d. Surat keterangan belum memiliki rumah sendiri dari RT, RW, Lurah,
Camat dan Instansi kerja
e. Surat penegasan persetujuan penyediaan kredit dari Bank
f. Fc. SK CAPEG
g. Fc. Sk terakhir


Manajemen Administrasi Kepegawaian | BAPERTARUM / TAPERUM PNS 148

2. Bantuan Sebagian Biaya Membangun Rumah Diatas Tanah Milik Sendiri
Mengajukan permohonan dilampiri :
a. Fc. KTP yang disyahkan
b. Fc. KARPEG
c. Fc. SK PNS pangkat terakhir yang disyahkan
d. Surat Keterangan belum memiliki rumah sendiri
e. Fc. IMB atau surat ijin mendirikan rumah tinggal
f. Fc. Bukti kepemilikan tanah
g. SPPT (pajak)
h. Bila tanah atas nama istri, dilengkapi surat nikah
i. Tanah benar-benar tidak ada bangunan
j. Sungguh-sungguh belum memiliki rumah
k. Bukan untuk biaya renovasi
K. Pengambilan Taperum Bagi PNS Yang Berhenti Karena Pensiun,
Meninggal Dunia Atau Berhenti Bekerja
1. Mengisi formulir bermaterai Rp. 6.000 (enam ribu) yang direkomendasi oleh
pejabat yang berwenang (Kepala BKD/Kepala Biro Kepegawaian/ Kepala
Bagian Kepegawaian) dengan melampirkan persyaratan :
2. Fotocopy sah Kartu Pegawai atau Kartu Identitas Pensiun
3. Fotocopy sah SK Golongan, SK Perubahan Golongan sampai dengan SK
Pensiun/SK Pemberhentian
4. Fotocopy sah Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Ahli Waris dari
Camat Setempat
5. Fotocopy sah KTP
6. Fotocopy sah SKPP gaji untuk PNS yang meninggal dunia atau berhenti
dengan sebab lain.
(Dapat dilaksanakan melalui Bank BRI).
L. TATA CARA PENGAJUAN
(untuk uang muka KPR dan bantuan SBMR)
1. Mengambil formulir permohonan (Biro Kepegawaian)
2. Mengisi formulir dan melengkapi persyaratan
3. Diajukan ke Biro Kepeg
4. Biro Kepeg mengusulkan PNS yang lulus seleksi ke Gubernur
5. Gubernur mengirim permohonan ke BAPERTARUM
6. Laporan PNS yang lolo seleksi ke Biro Kepeg untuk diketahui

Manajemen Administrasi Kepegawaian | BAPERTARUM / TAPERUM PNS 149

M. TATA CARA PENYALURAN
1. Pembayaran bantuan uang muka KPR
a. BTN cabang setempat diberi wewenang mengeluarkan persetujuan
bantuan uang muka KPR. BTN Pusat melaporkan realisasinya kepada
BAPERTARUM PNS
b. Keter. Pendukung adalah KTP, SK KP terakhir, fc surat penegasan
persetujuan penyediaan kredit/surat perjanjian akat kredit dari BTN dan
surat pernyataan belum memiliki rumah dari PNS
2. Pembayaran bantuan sebagian membangun rumah
a. Bank penyalur menerima dana untuk bantuan SBMR dari BTN berdasar
surat perintah membayar dari BAPERTARUM PNS
b. Bank penyalur menyampaikan dana pada PNS dengan data pendukung:
KTP, SK KP terakhir, fc IMB, pernyataan belum memiliki rumah
3. Pembayaran pengembalian tabungan perumahan
a. Yang berhak menerima pengembalian adalah PNS yang pensiun, ahli
waris dari PNS yang meninggal dunia atau PNS yang berhenti karena
sebab lain dan belum pernah menerima fasilitas uang muka KPR ataupun
bantuan SBMR
b. Bank Penyalur pengembalian taperum adalah Bank BRI (Kantor Cabang)
Keterangan pendukung: KTP, SK KGB/KP terakhir, SK Pensiun atau SK
pemberhentian, atau SK dari PYB bagi PNS yang meninggal dunis dan
surat ahli waris
N. BANK PELAKSANA YANG DITUNJUK
1. Bank Tabungan Negara (BTN)
2. Bank Bukopin

Manajemen Administrasi Kepegawaian | KARIS / KARSU PNS 150

XXXV. KARIS / KARSU PNS
A. DASAR HUKUM
1. UU No. 8 Tahun 1974 jo UU No. 43 Tahun 1999.
2. Kep. Ka. BKN No. 115.a/KEP/1983 jo Kep. Ka. BKN No. 007/KEP/1988.
3. SE. BAKN No. 08/SE/1983.
B. PENGERTIAN
1. Kepada setiap isteri Pegawai Negeri Sipil diberikan Kartu Isteri, disingkat
KARIS, dan kepada setiap suami Pegawai Negeri Sipil diberikan Kartu Suami,
disingkat KARSU;


2. KARIS/KARSU, adalah kartu identitas isteri/suami Pegawai Negeri Sipil dalam
arti bahwa pemegangnya adalah isteri/suami sah dari Pegawai Negeri Sipil
yang bersangkutan;
3. KARIS/KARSU berlaku selama yang bersangkutan menjadi isteri/suami sah
dari Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan;
4. Apabila seorang Pegawai Negeri Sipil berhenti/ diberhentikan dengan tidak
hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil tanpa hak pensiun, maka KARIS/KARSU
yang telah diberikan kepada isteri/suaminya dengan sendirinya tidak berlaku
lagi;
5. Apabila seorang isteri/suami Pegawai Negeri Sipil bercerai, maka KARIS/
KARSU yang telah diberikan kepadanya, dengan sendirinya tidak berlaku lagi
tetapi apabila ia rujuk/kawin kembali dengan bekas suami/istrinya, maka
KARIS/KARSU tersebut dengan sendirinya berlaku kembali;
Manajemen Administrasi Kepegawaian | KARIS / KARSU PNS 151

6. Apabila Pegawai Negeri Sipil berhenti dengan hormat dengan hak pensiun,
maka KARIS/KARSU yang telah diberikan kepada isteri/suaminya tetap
berlaku, begitu juga apabila Pegawai Negeri Sipil atau
7. Pensiunan Pegawai Negeri Sipil meninggal dunia, maka KARIS/KARSU tetap
berlaku selama masih ada janda / duda / anak yang berhak atas pensiun.
C. SYARAT-SYARAT PENGUSULAN KARIS/KARSU:
Usulan dengan Surat Pengantar dari Instansi yg bersangkutan dikirim ke BKD
Kabupaten Magelang dilampiri :
1. Daftar Isian Formulir pengajuan KARIS/KARSU (2 lembar);
2. Foto Copy SK CPNS & PNS di ligalisir (2 lembar);
3. Fotocopy Akta Nikah / Surat Nikah diligalisir 2 lembar);
4. Pasfoto hitam putih ukuran 2x3 cm sebanyak (2 lembar);
5. Apabila kehilangan KARIS/KARSU harus disertai dengan Surat Kehilangan dari
Kepolisian (2 lembar);
Masing-masing persyaratan harus di legalisasi oleh pimpinan unit kerja.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kartu Pegawai (KARPEG) 152

XXXVI. KARTU PEGAWAI (KARPEG)
A. DASAR PENETAPAN
1. UU No. 8 Tahun 1974 Jo. UU No. 43 Tahun 1999, Tentang Pokok-pokok
Kepegawaian,
2. PP No. 98 Tahun 2000 Jo.PP No. 11 Tahun 2002. tentang Pengadaan PNS.
3. Kep. Ka. BAKN No. 01/KEP/1994 tentang Penetapan KARPEG PNS.
B. PENGERTIAN
1. KARPEG diberikan kepada mereka yang telah berstatus sebagai PNS,
2. dengan kata lain, pada CPNS belum dapat diberikan Kartu Pegawai.
3. KARPEG adalah Kartu Identitas diri sebagai PNS, dalam arti lain pemegang
harus berstatus sebagai PNS.
4. KARPEG berlaku selama yang bersangkutan menjadi PNS, apabila yang
bersangkutan telah berhenti sebagai PNS, maka KARPEG dengan
sendirinya/secara otomatis tidak berlaku lagi.

C. SYARAT-SYARAT PEMBUATAN KARPEG:
Syaratnya dgn surat pengantar yang dikirimkan ke BKD Kab. Magelang (pelayanan
satu pintu) dgn dilampiri berkas sbb :
1. Fotocopy SK CPNS diligalisir (2 lembar);
2. Fotocopy SK PNS diligalisir (2 lembar);
3. Fotocopy STTPL diligalisir (2 lembar);
4. Pasfoto Hitam Putih ukuran 3x4 Cm (2 lembar);
5. Apabila kehilangan KARPEG usulan harus disertai dgn Surat Kehilangan dari
Kepolisian asli.
6. Masing-masing persyaratan harus diligalisir oleh pimpinan unit kerja.
D. KEGUNAAN KARPEG PNS:
1. Sebagai Kartu Identitas diri bagi PNS;
2. Sebagai syarat pengusulan untuk Kenaikan Pangkat;
3. Sebagai syarat pengajuan PAK ( jab fung);
4. Sebagai syarat pengusulan untuk pengajuan (KGB),dan;
5. Sebagai syarat pengusulan Pengajuan Pensiun.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Kartu TASPEN 153

XXXVII. KARTU TASPEN
A. DASAR HUKUM :
1. Undang-undang Nomor 11 tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai dan Pensiun
Janda Duda Pegawai;
2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 25 tahun 1981 tentang Peserta Asuransi Sosial
PNS pada PT. Taspen (persero).
3. Kepres No.56 Tahun 1974 jo No. 8 Tahun 1977 tentang Potongan IWP.
B. PENGERTIAN.
Kartu Tabungan Asuransi Pensiun (Kartu Taspen) merupakan kartu identitas/bukti
sah yang wajib dimiliki oleh Pegawai Negeri Sipil dan merupakan suatu jenis asuransi
sosial pada PT. Taspen (persero) yang memberikan jaminan keuangan bagi PNS
pada saat pensiun atau kepada ahli waris apabila peserta meninggal dunia.

Berdasarkan Kepres no. 8/1977 Taspen dari Iuran Wajib Pegawai (IWP) sebesar 10
% dari Gaji Pokok dan Tunjangan Keluarga dengan Rincian sbb :
1. 4,75 % untuk Iuran Pensiun.
2. 3,25 % untuk Iuran Hari Tua.
3. 2,00 % untuk Askes.
C. PERSYARATAN PENGUSULAN.
Pengusulan Kartu Taspen diusulkan secara hierarki melalui unit kerja masing-masing
dengan surat Pengantar yang dikirimkan ke BKD dengan dilengkapi persyaratan
sebagai berikut:
1. Foto copy sah SK CPNS;
2. Foto copy sah SK PNS;
3. Foto copy Surat Peryataan Melaksanakan Tugas (SPMT);
4. masing masing persyaratan rangkap 2 (dua) dan diligalisir.
5. CPNS cukup Fc. SK CPNS dan SPMT
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Asuransi Kesehatan (ASKES) 154

XXXVIII. ASURANSI KESEHATAN (ASKES)
Asuransi Kesehatan Sosial merupakan penugasan Pemerintah kepada PT Askes
(Persero) melalui Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1991.
PROGRAM UNTUK MENDAPATKAN PELAYANAN KESEHATAN DI FASILITAS
KESEHATAN YANG BEKERJASAMA DENGAN PIHAK ASKES
A. PROGRAM ASKES SOSIAL
1. Peserta Program Askes Sosial
Peserta program Askes Sosial, adalah :
a. PNS dan, Calon PNS, Pejabat Negara, Penerima Pensiun (Pensiunan PNS,
Pensiunan PNS di lingkungan Kementrian Pertahanan, TNI/Polri,
Pensiunan Pejabat Negara), Veteran ( Tuvet dan Non Tuvet) dan Perintis
Kemerdekaan beserta anggota keluarga*) yg ditangggung.
b. Pegawai Tidak Tetap (Dokter/Dokter Gigi/Bidan PTT, melalui SK
Menkes nomor 1540/MENKES /SK/XII/2002, tentang Penempatan
Tenaga Medis Melalui Masa Bakti dll
2. Anggota Keluarga :
a. Isteri/suami yg sah dari peserta yg mendapat tunjangan istri/suami.
b. Anak (anak kandung/anak tiri/anak angkat) yg sah dr peserta yg
mendpat tunjangan anak, blm berumur 21 tahun atau telah berumur 21
thn sampai 25 thn bagi anak yg masih melanjutkan pend formal, dan
tidak atau blm pernah kawin, tdk mempunyai penghasilan sendiri serta
masih menjadi tanggungan peserta.
Jml anak yg ditanggung maksimal 2 (dua) anak sesuai dgn urutan tgl
lahir, termasuk didlmnya anak angkat maksimal satu orang.
B. CARA MEMPEROLEH KARTU ASKES.
Mengisi Data Induk Daftar Isian Registrasi Peserta dengan menunjukan / melampiri
persyaratan Asli/Fc :
1. Fc. SK. sebagai PNS/Pensiunan/petikan Gelar Kehormatan Veteran/Perintis
Kemerdekaan/Peg. tdk Tetap.
2. Fc. Daftar Gaji terakhir yg dilegalisir bagi PNS dan Surat Tanda Bukti
Penerima Pensiun (STBPP) bagi Penerima Pensiun.
3. Fc. Srt Nikah, Akte Kelahiran Anak/Ket Lahir, Surat Kep Pengadilan Negeri
utk Anak Angkat
4. Surat Ket dr Sekolah/Perguruan Tinggi (bagi anak berusia lebih dari 21 s/d 25
thn).
5. Asli/fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Asuransi Kesehatan (ASKES) 155

6. Surat Pernyataan/Ket Melaksanakan Tugas perorangan (SPMT) bagi Peg. Tdk
Tetap (PTT).
7. Melampirkan pasfoto terbaru masing-masing 1 (satu) lembar ukuran 3 x 4 cm,
kecuali bagi anak usia balita.

C. PENGGANTIAN KARTU ASKES.
1. Kartu Askes Hilang
a. Menyerahkan surat pernyataan hilang dari ybs .
b. Menunjukkan KTP dan Asli/fotocopy
c. Surat Keputusan sebagai PNS/ Pensiunan/ petikan Gelar Kehormatan
Veteran/ Perintis Kemerdekaan/ Pegawai Tidak Tetap.
2. Kartu Askes Rusak :
a. Menyerahkan Kartu Peserta Askes yang rusa.
b. Menunjukkan KTP dan Asli/fotocopy.
c. Surat Keputusan sebagai PNS/ Pensiunan/ Petikan Gelar Kehormatan
Veteran / Perintis kemerdekaan / Pegawai Tidak Tetap.
D. PEMBERI PELAYANAN DASAR
1. Puskesmas
2. Dokter Keluarga / Dokter Gigi Keluarga
3. Poliklinik Milik Institusi
4. Klinik 24 Jam
E. PEMBERI PAYANAN LANJUTAN
1. Rumah Sakit Umum Pemerintah,
2. RS Khusus Pemerintah (Jantung, Paru, Orthopedi, Jiwa, Kusta, Mata, Infeksi,
Kanker dll)
3. Rumah Sakit TNI/POLRI
4. Rumah Sakit Swasta
5. Unit Pelayanan Transfusi Darah (UPTD)/PMI
6. Dan lainnya.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Asuransi Kesehatan (ASKES) 156

F. PELAYANAN KESEHATAN DASAR
1. Konsultasi, penyuluhan, pemeriksaan medis dan pengobatan.
2. Pemeriksaan dan pengobatan gigi.
3. Tindakan medis kecil/sederhana.
G. PELAYANAN KESEHATAN LANJUTAN
1. Rawat Jalan
a. Konsultasi, pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter spesialis
b. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik : Laboratorium, Rontgen/
Radiodiagnostik, Elektromedik dan pemeriksaan alat kesehatan canggih
sesuai ketentuan PT Askes (Persero).
2. Rawat Inap
a. Rawat Inap di ruang perawatan sesuai hak Peserta.
b. Pemeriksaan, pengobatan oleh dokter spesialis
c. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik : Laboratorium, Rontgen/
Radiodiagnostik, Elektromedik dan pemeriksaan alat kesehatan canggih
sesuai ketentuan PT Askes (Persero).
d. Dan lainnya.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Cuti Pegawai Negeri Sipil 157

XXXIX. CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL
A. UMUM
Dalam rangka usaha menjamin kesegaran jasmani dan rohani, maka kepada Pegawai
Negeri Sipil (PNS) setelah bekerja dalam waktu tertentu perlu diberikan cuti.
B. DASAR HUKUM
1. Undang-undang nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah diubah dengan
Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999
2. Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 1976 Tentang Cuti PNS
3. Surat Edaran Kepala BAKN No. 01/SE/1977
C. PENGERTIAN
Cuti adalah tidak masuk kerja yang diizinkan dalam jangka waltu tertentu
D. TUJUAN
1. Untuk memberikan kesempatan istirahat bagi PNS dalam rangka menjamin
kesegaran jasmani dan rokhaninya
2. Untuk kepentingan PNS yang bersangkutan
E. PEJABAT YANG BERWENANG MEMBERIKAN CUTI
1. Pemimpin lembaga tertinggi /Tinggi Negara bagi pemimpin Kesekretariatan
Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara;
2. Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Pemerintah Tertinggi Non
Departemen, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi Negara/Lembaga
Tinggi Negara dan Pejabat lain yang ditentukan Presiden bagi PNS dalam
lingkungan kekuasaannya;
3. Kepala Perwakilan RI di Luar Negeri
Pejabat sebagaimana tersebut diatas dapat mendelegasikan kewenanannya
kapada Pejabat lain dalam lingkungannya untuk memberikan cuti, kecuali
ditentukan lain
F. JENIS CUTI
1. Cuti Tahunan
2. Cuti Besar
3. Cuti Sakit
4. Cuti Bersalin
5. CKAP
6. Cuti diluar tanggungan Negara
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Cuti Pegawai Negeri Sipil 158

1. Cuti Tahunan
Setiap PNS yang telah bekerja sekurang-kurangnya satu tahun secara terus
menerus berhak atas cuti tahunan. Lamanya cuti tahunan adalah 12 hari kerja
Cuti tahunan dapat diambil secara terpecah=pecah dengan ketentuan setiap
bagian tidak boleh kurang dari 3 (tiga) hari kerja
Cuti tahunan yang tidak diambil dalam tahun yang bersangkutan dapat
diambil dalam tahun berikutnya untuk paling lama 18 (delapan belas) hari
kerja termasuk cuti tahunan dalam tahun yang sedang berjalan
Cuti tahunan yang tidak diambil dalam kuruk waktu 2 (dua) tahun berturut-
turut atau lebih, dapat diambil dalam tahun berikutnya untuk paling lama 24
(dua puluh empat) hari kerja, termasuk cuti tahunan dalam tahun yang sedang
berjalan
Apabila cuti tahunan dijalankan ditempat yang sulit perhubungannya, maka
waktu cuti tahunan dapat ditambah untuk paling lama 14 (empat belas) hari.
Ketentuan ini tidak berlaku bagi cuti tahunan yang diambil kurang dari 12 (dua
belas) hari kerja
Untuk kepentingan dinas cuti tahunan dapat ditangguhkan pelaksanaannya
oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti tahunan. Penangguhan ini
tidak boleh lebih llama dari satu tahun. Apabila terjadi penangguhan maka cuti
tahunan yang ditangguhkan itu dapat diambil oleh PNS yang bersangkutan
dalam tahun berikutnya selama 24 (dua puluh empat) heri kerja termasuk cuti
tahunan yang sdang berjalan.
2. Cuti Besar
Setiap Pegawai Negeri Sipil yang telah bekerja sekurang-kurangnya 6 (enam)
tahun secara terus menerus berhak atas cuti besar selama 3 (tiga) bulan,
termasuk cuti tahunan dalam tahun yang bersangkutan
Yang dimaksud bekerja secara terus menerus adalah bekerja dengan tidak
terputus karena menjlankan cuti di luar tanggungan negara atau karena
diberhentikan dai jabatan negara dengan menerima uang tunggu.
Cuti besar yang tidak diambil oleh PNS yang bersangkutan tepat pada
waktunya, dapat diambil pada ahun-tahun berikutnya, tetapi keterlambatan
pengambulan cuti besar itu tidak dapat diperhitungkan untuk pengambilan cuti
besar kurang dari 3 bulan, maka sisa cuti besar yang menjadi haknya hapus
Apabila ada kepentingan dinas yang mendesak mala pelaksanaan cuti besar
dapat ditangguhkan untuk paling lama 2 (dua) tahun. Dalam hal yang
demikian maka waktu penangguhan itu dihitung penuh untuk perhitungan hak
atas cuti besar berikutnya.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Cuti Pegawai Negeri Sipil 159

3. Cuti Sakit
Setiap Pegawai Negeri Sipil yang menderita sakit berhak atas Cuti Sakit
PNS yang sakit selama 1 (satu) atau 2 (dua) hari harus memberitahukan kepada
atasannya baik secara tertulis maupun dengan pesan melalui perantara orang
lain.
PNS yang sakit lebih dari 2 (dua) hari sampai dengan 14 (empat belas) hari,
harus mengajukan permintaah cuti sakit secara tertulis kepada pejabat yang
berwenang memberikan cuti dengan melampirkan surat keterangan dokter,
baik dokter pemerintah maupun dokter swasta.
PNS yang sakit lebih dari 14 (empat belas) hari, harus mengajukan permintaah
cuti sakit secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti
dengan melampirkan surat keterangan dokter, baik dokter pemerintah
maupun dokter swasta yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan.
Cuti sakit tersebut diberikan untuk paling lama 6 (enam) bulan berdasarkan
surat keterangan dokter pemerintah atau dokter swasta yang ditunjuk oleh
Menteri Kesehatan
PNS yang telah menderita sakit selama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan dan
belum sembuh dari penyakitnya, harus diuji kembali kesehatannya oleh dokter
yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan
Apabila berdasarkan hasil pengujian kesehatan tersebut PNS yang
bersangkutan:
a. Belum sembuh dari penyakitnya, yeyapi ada harapan sembuh dan dapat
bekerja kembali sebagai PNS, maka ia diberhentikan dengan hormat dari
jabatan karena sakit, dengan mndapat uang tunggu menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku
b. Belum sembuh dari penyakitnya dan tidak ada harapan untuk dapat
bekerja kembali sebagai PNS, maka ia diberhentikan dengan hormat
sebagai PNS dengan mendapat hak-hak kepegawaian menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
PNS wanita yang mengalami gugur kandunan berhak atas cuti sakit paling
lama 1 (satu setengah) bulan.
PNS yang mengalami kecelakaan dalam dan karena menjalankan tugas
kewajibannya yang mengakibatkan PNS tersebut perlu mendapat perawatan,
berhak atas cuti sakit sampai sembuh.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Cuti Pegawai Negeri Sipil 160

4. Cuti Bersalin
PNS wanita berhak atas cuti bersalin untu persalinan anaknya yang pertama,
kedua, dan ketiga. Persalinan pertama yang dimaksud adalah persalinan
pertama sejak yang bersangkutan menjadi PNS. Sedangkan untuk persalinan
anak yang keempat dan seterusnya, kepada PNS wanita tersebut tidak
diberikan cuti bersalin, tetapi dapat diberikan Cuti di luar tanggungan negara.
Pegawai Negeri Sipil wanita yang akan bersalin untuk yang keempat dan
seterusnya, apabila menjelang saat persalinan tersebut mempunyai hak atas
cuti besar, dapat menggunakan cuti besar tersebut sebagai cuti persalinan.
Lamanya cuti besar adalah 1 (satu) bulan sebelum dan 2 (dua) bulan setelah
persalinan.
Pegawai Negeri Sipil wanita yang telah selesai menjalankan cuti di luar
tanggungan negara untu persalinan, dengankeputusan pejabat yang
berwenang diaktifkan kembali dalam jabatan semula.
5. Cuti Karena Alasan Penting
Pegawai Negeri Sipil dapat cuti karena alasan penting untuk paling lama 2
bulan. Lamanya cuti karena alasan penting hendaknya ditetapkan sedemikian
rupa, sehingga benar-benar hanya untuk waktu yang diperlukan saja.
Yang dimaksud cuti karena alasan penting adalah cuti karena:
a. Ibu, bapak. Istri/suami, anak, adik, kakak, mertua, atau menantu sakit
keras atau meninggal dunia.
b. Salah seorang anggota keluarga yang dimaksud dalam huruf a diatas
meninggal dunia dan menurut ketentuan hukun yang berlaku PNS yang
bersangkutan harus mengurus hak-hak dari anggota keluarganya yang
meninggal itu.
c. Melangsungkan perkawinan pertama
d. Alasan penting lainnya yang ditetapkan oleh Presiden
Untuk mendapatkan cuti karena alasan penting, PNS harus mengajukan secara
tertulis dengan menyebutkan alasannya kepada pejabat yang berwenang
memberikan cuti, karena alasan penting diberikan dengan surat keputusan
pejabat yang berwenang.
Dalam hal mendesak, sehingga PNS yang bersangkutan tidak dapat menunggu
keputusan dari pejabat yang berwenang, maka PNS tersebut dapat
mengajukan permintaan izin smentara kepada Kepala Pemerintahan setempat.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Cuti Pegawai Negeri Sipil 161

6. Cuti di Luar Tanggungan Negara
Cuti diluar negara dapat diberikan kepada PNS yang telah bekerja sekurang-
kurangnya 5 (lima) tahun secara terus menerus dan adanya alasan-alasan
pribadi yang penting dan mendesak
Yang dimaksud dengan alasan-alasan pribadi yang penting dan mendesak
misalnya seorang PNS wanita yang suaminya bertugas di luar negeri, sehingga
mengharuskan PNS wanita tersebut mendampingi suaminya di tempat tugas
itu.
Cuti diluar tanggungan negara hanya dapat diberikan ddengan surat keputusan
pejabat yang berwenang memberikan cuti setelah mendapat persetujuan dati
kepala BKN.
Cuti diluar tanggungan negara bukanlah hak, karena itu permintaan cuti diluar
tanggungan negara dapat dikabulkan atau ditolak oleh pejabat yang
berwenang, demi kepentingan dinas.
Cuti diluar tanggunagn negara diambil untuk waktu paling lama 3 (tiga) tahun
dan apabila ada alasan penting dapat diperpanjang untuk paling lama satu
tahun.
Selama menjalankan cuti diluar tanggungan negara, PNS yang bersangkutan
dibebaskan dari jabatannya, kecuali dalam hal PNS wanita menjalankan cuti
diluar tanggungan negara untuk persalinan yang keempat dan seterusnya.
Jabatn yang lowong karena pemberian cuti diluar tanggungan negara dapat
diisi.
PNS setelah habis menjalankan cuti diluar tanggungan negara wajib
melaporkan diri kepada instansinya induknya untuk ditempatkan kembali
apabila ada lowongan, PNS yang tidak melaporkan diri kepada instansi
induknya setelah habis masa menjalankan cuti diluar tanggungan negara,
diberhentikan dengan hormat sebagai PNS.
Penghasilan PNS selama menjalankan Cuti
Selama menjalankan cuti diluar tanggunan negara PNS yang bersangkutan
tidak menerima penghasilan apapun dari negara. Selama menjalankan cuti
besar, PNS yang bersangkutan tetap menerima gaji dan tunjangan keluarga,
kecuali tunjangan jabatan (bila ada).



Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 162

XL. DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL
A. UMUM
Terselenggaranya Good Governance merupakan salah satu issue dan tuntutan
masyarakat saat ini. Masyarakat berharap agar dalam penyelenggaraa negara dan
pembangunan, Aparatur Negara mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara
sungguh-sungguh, penuh tanggung jawab, efektif, efisien, bebas KKN dan selalu
memenuhi kaidah peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan salah satu unsur aparatur negara mempunyai
tanggung jawab untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sesuai apa yang
menjadi beban tugasnya, serta mampu memberikan pelayanan yang baik kepada
masyarakat. Untuk itulah kepada PNS, perlu diberikan pembinaan yang baik.
Salah satu elemen dalam pembinaan PNS adalah dengan ditetapkannya Peraturan
Disiplin PNS. Peraturan Disiplin PNS diundangkan dengan tujuan agar dapat
menjamin terpeliharanya tata tertib dan kelancaran pelasanaan tugas. Tata tertib
dimaksud dapat terwujud antara lain bilamana setiap PNS mengetahui dengan pasti
kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan dan larangan yang harus dijauhi.
Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil,
mengatur tentang kewajiban yang harus ditaati dan larangan yang tidak boleh
dilanggar oleh setiap PNS.
B. DASAR HUKUM
a. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 tahun 1999
b. PP Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin PNS
c. PP No. 9 Tahun 2003 Tentang Wewenang Pengangkatan Pemindahan dan
Pemberhentian PNS
d. Peraturan Kepala BKN Nomor 21 Tahun 2010 tentang Ketentuan Pelaksanaan
PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS
C. PENGERTIAN
Peraturan disiplin PNS adalah suatu peraturan yang memuat kewajiban,
larangan, dan sanksi apabila kewajiban tidak ditaati atau larangan dilanggar
maka akan dikenakan sanksi.
Kewajiban yang harus ditaati oleh setiap PNS adalah sebagaimana tertuang
dalam Pasal 2 PP No. 53 Tahun 2010 sebanyak 17 butir dan larangan yang
tidak boleh dilanggar oleh setiap PNS adalah sebagaimana tertuang dalam
Pasal 3 ayat (1) PP. 53 Tahun 2010 ada sebanyak 15 butir.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 163

Tulisan adalah pernyataan pikiran atau perasaan secara tertulis baik dalam
bentuk tulisan maupun dalam bentuk gambar, karikatur, coretan, dll; atau
yang serupa dengan itu.
Perbuatan adalah setiap tingkah laku, sikap atau tindakan yang dilakukan oleh
PNS atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sesuai peraturan
perundang-undangan.
Pelanggaran disiplin adalah setiap ucapan, tulisan atau perbuatan PNS yang
tidak menaati kewajiban dan / atau melanggar larangan ketentuan disiplin
PNS, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja.
D. TUJUAN
Tujuan hukuman disiplin PNS adalah untuk memperbaiki, membina dan mendidik
PNS yang melakukan pelanggaran disiplin, agar kembali memiliki sikap ketaatan
pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu setiap Pejabat
yang berwenang menghukum wajib memeriksa lebih dahulu dengan seksama PNS
yang melakukan pelanggaran disiplin, sehingga dapat diketahui latar belakang dan
motif terjadinya pelanggaran disiplin, sehingga hukuman disiplin yang dijatuhkan
benar-benar sesuai dan memenuhi asas keadilan.
E. KEWAJIBAN PNS
Setiap PNS wajib :
1. Mengucapkan sumpah atau janji PNS
2. Mengucapkan sumpah atau janji jabatan
3. Setia dan taat sepenuhnya kpd Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Pemerintah
4. Menaati segala peraturan perundang-undangan
5. Melaksanakan tugas kedinasan yg dipercayakan kpd PNS dg penuh
pengabdian, kesadaran, dan tanggungjawab
6. Menjunjung tinggi kehormatan negara, pemerintah dan martabat PNS
7. Mengutamakan kepentingan negara dr pd kepentingan sendiri, seseorang,
dan/atau golongan
8. Memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut perintah hrs
dirahasiakan
9. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat dan bersemangat untuk kepentingan
negara
10. Melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yg
dpt membahayakan atau merugikan negara, atau pemerintah terutama di
bidang keamanan, keuangan dan materiil
11. Masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja
12. Mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan
13. Menggunakan dan memelihara barang milik negara dg sebaik-baiknya
14. Memberikan pelayanan sebaik-baiknya kpd masyarakat
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 164

15. Membimbing bawahan dlm melaksanakan tugas
16. Memberikan kesempatan kpd bawahan untuk mengembangkan karier , dan
17. Menaati peraturan kedinasan yg ditetapkan oleh Pejabat Yang Berwenang.
F. LARANGAN PNS
1. Menyalahgunakan wewenang
2. Menjadi perantara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan/atau orang
lain dengan menggunakan kewenangan orang lain
3. Tanpa izin pemerintah menjadi pegawai atau bekerja untuk negara lain
dan/atau lembaga atau organisasi internasional
4. Bekerja pada perusahaan asing, konsultan asing, atau LSM asing
5. Memiliki, menjual, membeli,, menggadaikan, menyewakan atau meminjamkan
barang-barang baik bergerak atau tdk bergerak, dokumen atau surat berharga
milik negara scr tdk sah
6. Melakukan kegiatan bersama dg atasan, teman sejawat, bawahan atau orang
lain di dalam maupun diluar lingkungan kerjanya dg tujuan untuk keuntungan
pribadi, golongan atau fihak lain yg scr langsung atau tdk langsung merugikan
negara
7. Memberi atau menyanggupi akan memberi sesuatu kpd siapapun baik scr
langsung atau tdk langsung dg dalih apapun untuk diangkat dlm jabatan
8. Menerima hadiah atau suatu pemberian apa saja dari siapapun juga yg
berhubungan dg jabatan dan/atau pekerjaannya
9. Bertindak sewenang-wenang pada bawahannya
10. Melakukan suatu tindakan atau tdk melakukan suatu tindakan yg dpt
menghalangi atau mempersulit salah satu fihak yg dilayani shg mengakibatkan
kerugian bagi yg dilayani
11. Menghalangi berjalannya tugas kedinasan;
12. Memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden, Dewan
Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, atau Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah dengan cara:
a. ikut serta sebagai pelaksana kampanye;
b. menjadi peserta kampanye dengan menggunakan atribut partai atau
atribut PNS;
c. sebagai peserta kampanye dengan mengerahkan PNS lain; dan/atau
d. sebagai peserta kampanye dengan menggunakan fasilitas negara;
13. Memberikan dukungan kepada calon Presiden/Wakil Presiden dengan cara:
a. Membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau
merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye; dan/atau



Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 165

b. Mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap
pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan
sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan,
atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya,
anggota keluarga, dan masyarakat;
14. Memberikan dukungan kepada calon anggota Dewan Perwakilan Daerah atau
calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dengan cara memberikan surat
dukungan disertai foto kopi Kartu Tanda Penduduk atau Surat Keterangan
Tanda Penduduk sesuai peraturan perundangundangan; dan 015. memberikan
dukungan kepada calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, dengan cara:
a. terlibat dalam kegiatan kampanye untuk mendukung calon Kepala
Daerah/Wakil Kepala Daerah;
b. menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatan dalam kegiatan
kampanye;
c. membuat keputusan dan/atau tindakan yang menguntungkan atau
merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye; dan/atau
d. mengadakan kegiatan yang mengarah kepada keberpihakan terhadap
pasangan calon yang menjadi peserta pemilu sebelum, selama, dan
sesudah masa kampanye meliputi pertemuan, ajakan, himbauan, seruan,
atau pemberian barang kepada PNS dalam lingkungan unit kerjanya,
anggota keluarga, dan masyarakat.
G. HUKUMAN DISIPLIN
Hukuman disiplin adalah hukuman yang dijatuhkan kepada PNS karena
melanggar peraturan disiplin PNS.
PNS dan CPNS yang tidak menaati kewajiban atau melanggar larangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan/atau Pasal 4 Peraturan Pemerintah
Nomor 53 Tahun 2010 dijatuhi hukuman disiplin.
Setiap ucapan, tulisan, atau perbuatan PNS yang melanggar Pasal 3 dan Pasal 4
Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 dijatuhi hukuman disiplin
Dengan tidak mengesampingkan ketentuan dalam peraturan perundang-
undangan pidana, PNS yang melakukan pelanggaran disiplin dijatuhi hukuman
disiplin.
H. TINGKAT DAN JENIS HUKUMAN
1. Tingkat hukuman disiplin terdiri dari:
a. Hukuman disiplin ringan
b. Hukuman disiplin sedang
c. Hukuman disiplin berat



Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 166

2. Jenis hukuman disiplin ringan terdiri dari:
a. Teguran lisan
b. Teguran tertulis
c. Pernyataan tidak puas secara tertulis
3. Jenis hukuman sedang terdiri dari:
a. Penundaan KGB selama 1 ( satu ) tahun
b. Penundaan kenaikan pangkat selama 1 ( satu ) tahun
c. Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 ( satu ) tahun
4. Jenis hukuman berat terdiri dari:
a. Penurunan pangkat setinggat lebih rendah selama 3( tiga ) tahun
b. Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah
c. Pembebasan dari jabatan
d. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS
e. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS
I. PEJABAT YANG BERWENANG MENJATUHKAN HUKUMAN DISIPLIN
1. Presiden
1. Bagi PNS yang menduduki jabatan structural eselon I dan jabatan lain yang
pengangkatan dan pemberhentiannya menjadi wewenang Presiden untuk
jenis hukuman disiplin:
a. Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah
b. Pembebasan dari Jabatan
c. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai
PNS
d. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS
2. Penjatuhan hukuman disiplin ditetapkan berdasarkan usul dari PPK
3. Jabatan lain yang pengangkatan dan pemberhentiannya menjadi
wewenang Presiden antara lain Panitera Mahkamah Agung dan Panitera
Mahkamah Konstitusi
2. Instansi Pusat
PPK Pusat menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi :
1. Struktural eselon I untuk jenis hukuman disiplin ringan, sedang dan
penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 ( tiga ) tahun.
2. Fungsional tertentu jenjang utama di lingkungannya untuk jenis hukuman
disiplin ringan, sedang, berat.
3. Fungsional umum golongan ruang IV/d dan golongan ruang IV/e
dilingkungannya untuk jenis hukuman disiplin ringan, sedang, berat.
4. Struktural eselon II, fungsional tertentu jenjang Madya dan fungsional
Penyelia di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sedang dan berat.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 167

5. Struktural eselon II di lingkungan instansi vertikal dan pejabat setara yang
berada di bawah dan bertanggungjawab kepada PPK untuk jenis hukuman
disiplin ringan, sedang dan berat.
6. Fungsional umum golongan ruang IV/a s.d golongan ruang IV/c untuk jenis
hukuman disiplin sedang dan berat
7. Struktural eselon III ke bawah, fungsional tertentu jenjang Muda dan
Penyelia ke bawah di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sedang
dan berat.
8. Fungsional umum golongan ruang III/ d ke bawah di lingkungannya untuk
jenis hukuman disiplin penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (
satu ) tahun, 3 ( tiga ) tahun, pemberhentian dengan hormat dan tidak
dengan hormat sebagai PNS
3. Instansi Daerah Kabupaten / Kota
1. 1. 1. 1. PPK Daerah Kabupaten / Kota menetapkan penjatuhan hukuman disiplin PPK Daerah Kabupaten / Kota menetapkan penjatuhan hukuman disiplin PPK Daerah Kabupaten / Kota menetapkan penjatuhan hukuman disiplin PPK Daerah Kabupaten / Kota menetapkan penjatuhan hukuman disiplin
bagi PNS Daerah Kabupaten / Kota bagi PNS Daerah Kabupaten / Kota bagi PNS Daerah Kabupaten / Kota bagi PNS Daerah Kabupaten / Kota yang menduduki jabatan : yang menduduki jabatan : yang menduduki jabatan : yang menduduki jabatan :
a. Sekretaris Daerah Kabupaten / Kota di lingkungannya untuk jenis
hukuman disiplin ringan, sedang dan penurunan pangkat setingkat
lebih rendah selama 3 ( tiga ) tahun.
b. Fungsional tertentu jenjang utama di lingkungannya untuk jenis
hukuman disiplin ringan, sedang, berat.
c. Fungsional umum golongan ruang IV/d dan golongan ruang IV/e
dilingkungannya untuk jenis hukuman disiplin ringan, sedang, berat.
d. Struktural eselon II, fungsional tertentu jenjang Madya dan fungsional
Penyelia di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin ringan,
sedang dan berat.
e. Fungsional umum golongan ruang IV/a s.d golongan ruang IV/c untuk
jenis hukuman disiplin ringan, sedang dan berat.
f. Struktural eselon III ke bawah, fungsional tertentu jenjang Muda dan
Penyelia ke bawah di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin
sedang dan berat.
g. Fungsional umum golongan ruang III/c dan golongan ruang III/d di
lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin sedang dan berat.
h. Fungsional umum golongan ruang III/b ke bawah di lingkungannya
untuk jenis hukuman disiplin penurunan pangkat setingkat lebih
rendah selama 1 ( satu ) tahun, 3 ( tiga ) tahun, pemberhentian
dengan hormat dan tidak dengan hormat sebagai PNS.
2. 2. 2. 2. Sekretaris Daerah Kabupaten/ Kota menetapkan penjatuhan hukuman Sekretaris Daerah Kabupaten/ Kota menetapkan penjatuhan hukuman Sekretaris Daerah Kabupaten/ Kota menetapkan penjatuhan hukuman Sekretaris Daerah Kabupaten/ Kota menetapkan penjatuhan hukuman
disiplin disiplin disiplin disiplin bagi : bagi : bagi : bagi :
a. Pejabat Struktural eselon II di lingkungannya untuk jenis hukuman
disiplin ringan.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 168

b. Pejabat Struktural eselon III, fungsional tertentu jenjang Muda dan
Penyelia dan fungsional umum golongan ruang III/c dan golongan
ruang III/d di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin ringan.
c. Pejabat Struktural eselon IV, fungsional tertentu jenjang Pertama dan
Pelaksana Lanjutan dan fungsional umum golongan ruang II/c s.d
golongan ruang III/b di lingkungannya untuk jenis hukuman
penundaan KGB selama 1 tahun dan penundaan KP selama 1 tahun.
3. 3. 3. 3. Pejabat Eselon II menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi : Pejabat Eselon II menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi : Pejabat Eselon II menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi : Pejabat Eselon II menetapkan penjatuhan hukuman disiplin bagi :
a. Struktural eselon III, fungsional tertentu jenjang Muda dan Penyelia,
dan fungsional umum golongan ruang III/c dan golongan ruang III/d
di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin ringan.
b. Struktural eselon IV, fungsional tertentu jenjang Pertama dan
Pelaksana Lanjutan dan fungsional umum golongan ruang II/c s.d
golongan ruang III/b untuk jenis hukuman disiplin penundaan KGB
selama 1 tahun dan penundaan kenaikan pangkat selama 1 tahun.
4. 4. 4. 4. P PP Pe ee ej jj ja aa ab bb ba aa at tt t s ss st tt tr rr ru uu uk kk kt tt tu uu ur rr ra aa al ll l e ee es ss se ee el ll lo oo on nn n I II II II II II I m mm me ee en nn ne ee et tt ta aa ap pp pk kk ka aa an nn n p pp pe ee en nn nj jj ja aa at tt tu uu uh hh ha aa an nn n h hh hu uu uk kk ku uu um mm ma aa an nn n d dd di ii is ss si ii ip pp pl ll li ii in nn n b bb ba aa ag gg gi ii i
a. Struktural eselon IV, fungsional tertentu jenjang Pertama, Pelaksana
Lanjutan dan fungsional umum golongan ruang II/c s.d golongan
ruang III/b di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplinringan.
b. Struktural eselon V, fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan
Pelaksana Pemula, dan fungsional umum golongan ruang II/a dan
golongan ruang II/b di lingkungannya untuk jenis hukuman hukuman
penundaan KGB selama 1 tahun dan penundaan KP selama 1 tahun.
5. 5. 5. 5. P PP Pe ee ej jj ja aa ab bb ba aa at tt t s ss st tt tr rr ru uu uk kk kt tt tu uu ur rr ra aa al ll l e ee es ss se ee el ll lo oo on nn n I II IV VV V d dd da aa an nn n p pp pe ee ej jj ja aa ab bb ba aa at tt t y yy ya aa an nn ng gg g s ss se ee et tt ta aa ar rr ra aa a m mm me ee en nn ne ee et tt ta aa ap pp pk kk ka aa an nn n
penjatuhan hukuman disiplin bagi : penjatuhan hukuman disiplin bagi : penjatuhan hukuman disiplin bagi : penjatuhan hukuman disiplin bagi :
a. Struktural eselon V, fungsional tertentu jenjang Pelaksana dan
Pelaksana Pemula, fungsional umum gol/ruang II/b dan golongan
ruang II/b di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin ringan.
b. Fungsional umum golongan ruang I/a s.d golongan ruang I/d untuk
jenis hukuman hukuman penundaan KGB selama 1 ( satu ) tahun dan
penundaan kenaikan pangkat selama 1 ( satu ) tahun.
6. 6. 6. 6. Pejabat Pejabat Pejabat Pejabat s ss st tt tr rr ru uu uk kk kt tt tu uu ur rr ra aa al ll l e ee es ss se ee el ll lo oo on nn n V VV V d dd da aa an nn n p pp pe ee ej jj ja aa ab bb ba aa at tt t s ss se ee et tt ta aa ar rr ra aa a m mm me ee en nn ne ee et tt ta aa ap pp pk kk ka aa an nn n p pp pe ee en nn nj jj ja aa at tt tu uu uh hh ha aa an nn n
hukuman disiplin bagi : hukuman disiplin bagi : hukuman disiplin bagi : hukuman disiplin bagi :
a. PNS yang menduduki jabatan fungsional umum golongan ruang I/a
s.d I/d di lingkungannya untuk jenis hukuman disiplin ringan.
b. PNS yang dipekerjakan atau diperbantukan di lingkungannya yang
menduduki jabatan fungsional umum golongan ruang I/a s.d I/d
untuk jenis hukuman disiplin ringan.
7. 7. 7. 7. P PP Pe ee ej jj ja aa ab bb ba aa at tt t y yy ya aa an nn ng gg g s ss se ee et tt ta aa ar rr ra aa a a aa ad dd da aa al ll la aa ah hh h P PP PN NN NS SS S y yy ya aa an nn ng gg g d dd di ii ib bb be ee er rr ri ii i t tt tu uu ug gg ga aa as ss s t tt ta aa am mm mb bb ba aa ah hh ha aa an nn n u uu un nn nt tt tu uu uk kk k
memimpin satuan unit kerja tertentu, misalnya : memimpin satuan unit kerja tertentu, misalnya : memimpin satuan unit kerja tertentu, misalnya : memimpin satuan unit kerja tertentu, misalnya :
a. Rektor dan Dekan pada PTN setara dengan eselon I
b. Ketua Pengadilan Tinggi setara dengan eselon II
c. Ketua Pengadilan Negeri & Direktur Akademi setara dengan eselon III
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 169

d. Kepala Sekolah Menengah Atas dan Kepala Sekolah Menengah
Pertama setara dengan eselon IV
e. Kepala Sekolah Dasar dan Kepala Taman Kanak-Kanak setara dengan
eselon V
8. 8. 8. 8. Kewajiban Menjatuhkan Hukuman Disiplin Kewajiban Menjatuhkan Hukuman Disiplin Kewajiban Menjatuhkan Hukuman Disiplin Kewajiban Menjatuhkan Hukuman Disiplin
Pejabat yang berwenang menghukum wajib menjatuhkan hukuman disiplin
kepada PNS yang melakukan pelanggaran disiplin. Apabila pejabat yang
berwenang menghukum tidak menjatuhkan hukuman disiplin kepada PNS
yang melakukan pelanggaran disiplin maka pejabat tersebut akan dijatuhi
hukuman disiplin oleh atasannya sama dengan hukuman disiplin yang
dijatuhkan kepada PNS yang melakukan pelanggaran disiplin.
9. 9. 9. 9. Kekosongan Jabatan Kekosongan Jabatan Kekosongan Jabatan Kekosongan Jabatan
Apabila tidak terdapat pejabat yang berwenang menghukum maka
kewenangan menjatuhkan hukuman disiplin menjadi kewenangan pejabat
yang lebih tinggi.
J. PEMANGGILAN
PNS yang diduga melakukan pelanggaran disiplin, diperiksa oleh atasan
langsungnya. Panggilan tersebut dilakukan secara tertulis paling lambat 7 ( tujuh )
hari sebelum tanggal pemeriksaan. Apabila panggilan pertama yang bersangkutan
tidak hadir maka dilakukan pemanggilan kedua paling lambat 7 ( tujuh ) hari
kerja sejak tanggal yang bersangkutan diperiksa pada pemanggilan pertama. Dan
jika pada pemanggilan kedua yang bersangkutan tetap tidak hadir maka pejabat
yang berwenang menghukum menjatuhkan hukuman disiplin berdasarkan alat
bukti dan keterangan yang ada tanpa dilakukan pemeriksaan.
K. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan dilakukan secara tertutup. PNS yang diperiksa wajib menjawab semua
pertanyaan yang diajukan oleh atasan langsungnya, dan apabila tidak mau
menjawab maka yang bersangkutan dianggap mengakui pelanggaran disiplin yang
dituduhkan serta apabila mempersulit pemeriksaan penjatuhan hukuman disiplin
berdasarkan bukti-bukti yang ada. Hasil pemeriksaan dituangkan dalam berita acara
pemeriksaan.
Apabila penjatuhan hukuman disiplin kewenangan atasan langsungnya maka atasan
langsung wajib menjatuhkan hukuman disiplin namun jika kewenangannya pejabat
yang lebih tinggi maka atasan langsung wajib melaporkan secara hierarki disertai
berita acara pemeriksaan.
Apabila pelanggaran disiplin yang ancaman hukumannya sedang dan berat maka
PPK atau pejabat yang ditunjuk dapat membentuk Tim Pemeriksa yang terdiri dari
atasan langsung, unsur pengawasan dan unsur kepegawaian atau pejabat yang
ditunjuk.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 170

L. PENJATUHAN HUKUMAN
Dalam menentukan jenis hukuman disiplin haruslah dipertimbangkan dengan
seksama agar hukuman disiplin yang akan dijatuhkan setimpal dengan pelanggaran
disiplin yang dilakukan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan ternyata PNS melakukan beberapa pelanggaran
disiplin maka yang bersangkutan dijatuhi 1 jenis hukuman disiplin yang terberat. PNS
yang pernah dijatuhi hukuman disiplin dan melakukan pelanggaran lagi dijatuhi
hukuman disiplin yang lebih berat.
M. TATACARA PENJATUHAN HUKUMAN
a. a. a. a. Teguran lisan Teguran lisan Teguran lisan Teguran lisan
Ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang menghukum dan
harus disebutkan jenis pelanggaran disiplin yang dilakukan
b. b. b. b. Teguran Tertulis Teguran Tertulis Teguran Tertulis Teguran Tertulis
Ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang menghukum dan
disebutkan jenis pelanggaran disiplin yang dilakukan PNS yang bersangkutan.
c. c. c. c. Pernyataan tidak puas secara tertulis Pernyataan tidak puas secara tertulis Pernyataan tidak puas secara tertulis Pernyataan tidak puas secara tertulis
Ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang menghukum dan
disebutkan jenis pelanggaran disiplin yang dilakukan PNS yang bersangkutan.
d. d. d. d. Penundaan kenaikan gaji Berkala (KGB) Penundaan kenaikan gaji Berkala (KGB) Penundaan kenaikan gaji Berkala (KGB) Penundaan kenaikan gaji Berkala (KGB)
Ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang menghukum dan
didalamnya disebutkan pelanggaran disiplin yang dilakukan PNS yang
bersangkutan.
Ditetapkan untuk masa sekurang-kurangnya 3 bulan dan untuk masa paling
lama 1 tahun.
Masa penundaan gaji berkala dihitung penuh untuk masa kenaikan gaji
berkala (KGB) berikutnya.
e. e. e. e. Penundaan Kenaikan Pangkat Selama 1 ( satu ) tahun Penundaan Kenaikan Pangkat Selama 1 ( satu ) tahun Penundaan Kenaikan Pangkat Selama 1 ( satu ) tahun Penundaan Kenaikan Pangkat Selama 1 ( satu ) tahun
Ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang menghukum dan
didalamnya disebutkan pelanggaran disiplin yang dilakukan PNS yang
bersangkutan, berlaku untuk selama 1 tahun TMT KP yang bersangkutan
dipertimbangkan. Masa kerja selama penundaan KP tidak dihitung pada masa
kerja KP berikutnya.
f. f. f. f. Penurunan Pangkat setingkat lebih rendah selama 1 ( satu ) tahun Penurunan Pangkat setingkat lebih rendah selama 1 ( satu ) tahun Penurunan Pangkat setingkat lebih rendah selama 1 ( satu ) tahun Penurunan Pangkat setingkat lebih rendah selama 1 ( satu ) tahun
Ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang menghukum dan
didalamnya disebutkan pelanggaran disiplin yang dilakukan PNS yang
bersangkutan. Setelah menjalani hukuman disiplin penurunan pangkat selesai
maka pangkat PNS yang bersangkutan dengan sendirinya kembali kepada
pangkat semula. Masa kerja selama penurunan pangkat tidak dihitung masa
kerja KP. KP berikutnya baru dapat dipertimbangkan setelah PNS yang
bersangkutan paling singkat 1 tahun setelah kembali pada pangkat semula.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 171

g. g. g. g. Penurunan Pangkat seting Penurunan Pangkat seting Penurunan Pangkat seting Penurunan Pangkat setingkat lebih rendah selama 3 ( tiga ) tahun kat lebih rendah selama 3 ( tiga ) tahun kat lebih rendah selama 3 ( tiga ) tahun kat lebih rendah selama 3 ( tiga ) tahun
Ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang menghukum dan
didalamnya disebutkan pelanggaran disiplin yang dilakukan PNS yang
bersangkutan. Setelah menjalani hukuman disiplin penurunan pangkat selesai
maka pangkat PNS yang bersangkutan dengan sendirinya kembali kepada
pangkat semula. Masa kerja selama penurunan pangkat tidak dihitung masa
kerja kenaikan pangkat. Kenaikan pangkat berikutnya baru dapat
dipertimbangkan setelah PNS yang bersangkutan paling singkat 1 (satu) tahun
setelah kembali pada pangkat semula.
h. h. h. h. Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah
Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah
dilakukan dengan mempertimbangkan lowongan jabatan yang lebih rendah
dan kompetensi yang bersangkutan sesuai dengan persyaratan jabatan yang
ditentukan. Ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang
menghukum dan didalamnya disebutkan pelanggaran disiplin yang dilakukan
PNS yang bersangkutan. Tunjangan jabatan yang lama dihentikan mulai
bulan berikutnya dan diberikan tunjangan jabatan sesuai dengan jabatan baru
yang didudukinya.
i. i. i. i. Pembebasan jabatan Pembebasan jabatan Pembebasan jabatan Pembebasan jabatan
Ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang menghukum dan
didalamnya disebutkan pelanggaran disiplin yang dilakukan PNS yang
bersangkutan.
Setelah dijatuhi hukuman disiplin, PNS yang bersangkutan masih tetap
menerima penghasilan penuh kecuali tunjangan jabatan.
PNS yang bersangkutan baru dapat diangkat lagi dalam suatu jabatan
sekurang-kurangnya 1 tahun setelah menjalani hukuman.
j. j. j. j. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS
Ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang menghukum dan di
dalamnya disebutkan pelanggaran yang dilakukan PNS yang bersangkutan.
PNS yang diberhentikan sebagai PNS tidak atas permintaan sendiri diberikan
hak-hak kepegawaian sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
k. k. k. k. Pemberhentian Tidak dengan Hormat se Pemberhentian Tidak dengan Hormat se Pemberhentian Tidak dengan Hormat se Pemberhentian Tidak dengan Hormat seb bb ba aa ag gg gai PNS ai PNS ai PNS ai PNS
Ditetapkan dengan keputusan pejabat yang berwenang menghukum dan
didalamnya disebutkan pelanggaran disiplin yang dilakukan PNS yang
bersangkutan. PNS yang diberhentikan tidak dengan hormat sebagai PNS
tidak diberikan hak pensiun.
N. PENYAMPAIAN HUKUMAN DISIPLIN
PNS yang dijatuhi hukuman disiplin dipanggil secara tertulis untuk hadir
menerima keputusan hukuman disiplin. Penyampaian keputusan hukuman
disiplin disampaikan secara tertutup. Apabila tempat kedudukan pejabat yang
berwenang menghukum dan tempat PNS yang dihukum berjauhan maka dapat
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 172

menunjuk pejabat lain untuk menyampaikan keputusan tersebut. Dan apabila
PNS yang bersangkutan tidak hadir, maka keputusan hukuman disiplin dikirim
kepada yang bersangkutan melalui alamat terakhir yang diketahui dan tercatat di
instansinya. Penyampaian hukuman disiplin dilakukan paling lambat 14 ( empat
belas ) hari sejak keputusan ditetapkan.
Khusus untuk hukuman disiplin yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden,
disampaikan kepada PNS yang bersangkutan oleh pimpinan instansi induknya.
O. UPAYA ADMINISTRATIF
Prosedur yang dapat ditempuh oleh PNS yang tidak puas terhadap hukuman
disiplin yang dijatuhkan kepadanya berupa keberatan atau banding administratif.
Keberatan adalah upaya admininistratif yang dapat ditempuh oleh PNS yang
tidak puas terhadap hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh pejabat yang
berwenang menghukum kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum.
Banding administratif adalah upaya administratif yang dapat ditempuh oleh PNS
yang tidak puas terhadap hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan
hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat
sebagai PNS yang dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang menghukum kepada
Badan Pertimbangan Kepegawaian ( BAPEK ).
1. Hukuman Disiplin Yang Tidak Dapat Diajukan Upaya Administratif
a. Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh Presiden
b. Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh PPK berupa hukuman disiplin
ringan, sedang, dan berat kecuali pemberhentian dengan hormat tidak atas
permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS.
c. Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh Gubernur selaku wakil pemerintah
berupa jenis hukuman pemindahan dalam penurunan pangkat setingkat
lebih rendah dan pembebasan jabatan.
d. Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh Kepala Perwakilan Republik
Indonesia berupa hukuman disiplin ringan, pemindahan dalam penurunan
pangkat setingkat lebih rendah dan pembebasan jabatan.
e. Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang
menghukum untuk jenis hukuman disiplin ringan.
2. Hukuman Disiplin Yang Dapat Diajukan Upaya Administratif
a. Pejabat struktural eselon I dan pejabat yang setara ke bawah untuk jenis
hukuman disiplin penundaan kenaikan gaji berkala selama 1 ( satu ) tahun
dan penundaan kenaikan pangkat selama 1 ( satu ) tahun.
b. Sekretaris Daerah / pejabat struktural eselon II Kabupaten/ Kota ke bawah/
pejabat setara ke bawah untuk jenis hukuman disiplin penundaan kenaikan
gaji berkala selama 1 tahun dan penundaan KP selama 1 tahun.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 173

c. Pejabat struktural eselon II ke bawah di lingkungan instansi vertikal dan
unit setara dengan sebutan lain yang atasan langsungnya pejabat struktural
eselon I yang bukan PPK untuk jenis hukuman disiplin penundaan kenaikan
gaji berkala selama 1 tahun dan penundaan KP selama 1 tahun.
d. Pejabat struktural eselon II ke bawah di lingkungan instansi vertikal dan
kantor perwakilan provinsi dan unit setara dengan sebutan lain yang
berada di bawah dan bertanggungjawab kepada PPK, untuk jenis hukuman
penundaan KGB selama 1 tahun dan penundaan KP selama 1 ( satu ) tahun.
e. Pejabat struktural eselon II ke bawah di lingkungan instansi vertikal dan
unit setara dengan sebutan lain yang atasan langsungnya pejabat struktural
eselon I yang bukan PPK dan yang berada di bawah dan bertanggung
jawab kepada PPK untuk jenis hukuman disiplin penurunan pangkat
setingkat lebih rendah selama 1 ( satu ) tahun.
f. Hukuman disiplin yang dapat diajukan banding administratif adalah yang
dijatuhkan oleh PPK dan Gubernur sebagai wakil pemerintah untuk jenis
hukuman disiplin berat berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas
permintaan sendiri sebagai PNS dan pemberhentian dengan tidak hormat
sebagai PNS.
P. TATA CARA PENGAJUAN KEBERATAN KEPADA ATASAN PEJABAT YANG
BERWENANG MENGHUKUM
1. Yang diajukan keberatan
Keberatan diajukan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang
menghukum. PNS yang dijatuhi salah satu hukuman disiplin dapat mengajukan
keberatan kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum, melalui
saluran hirarki. Keberatan tersebut di ajukan selambat-lambatnya 14 (empat
belas) hari kalender terhitung mulai tanggal yang bersangkutan menerima
keputusan hukuman disiplin. Keberatan yang diajukan melebihi waktu 14
(empat belas) hari tidak bisa diterima.
Tanggapan disampaikan secara tertulis dalam jangka waktu 6 ( enam ) hari
kerja terhitung mulai tanggal yang bersangkutan menerima tembusan surat
keberatan dan dalam jangka waktu 21 hari kerja terhitung mulai tanggal atasan
pejabat menerima surat keberatan wajib mengambil keputusan.
2. Yang dapat diajukan keberatan kepada BAPEK
PNS yang dijatuhi hukuman disiplin oleh PPK dan Gubernur berupa hukuman
disiplin Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai
PNS dan Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS dapat mengajukan
keberatan ke BAPEK. Apabila tidak mengajukan banding administrative maka
gajinya dihentikan terhitung mulai bulan berikutnya sejak hari ke 15 ( lima
belas ) keputusan hukuman disiplin diterima.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Disiplin Pegawai Negeri Sipil 174

Q. BERLAKUNYA KEPUTUSAN HUKUMAN DISIPLIN
1. Jenis hukuman disiplin ringan mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
2. Keputusan hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh Presiden, PPK, Gubernur
selaku wakil pemerintah, Kepala Perwakilan Republik Indonesia, Pejabat Yang
Berwenang Menghukum berupa hukuman disiplin ringan dan sedang mulai
berlaku sejak tanggal keputusan ditetapkan.
3. Hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh Pejabat struktural eselon I s.d eselon
IV atau pejabat setara, pejabat struktural eselon II yang atasan langsungnya
PPK atau pejabat eselon I yang bukan PPK berupa penundaan KGB selama 1
tahun, penundaan KP selama 1 tahun dan penurunan pangkat setingkat lebih
rendah selama 1 tahun mulai berlaku pada hari ke 15 setelah keputusan
hukuman disiplin diterima dan apabila tidak diajukan keberatan, atau mulai
tanggal ditetapkan keputusan atas keberatan apabila diajukan keberatan.
4. Hukuman Disiplin yang dijatuhkan oleh PPK atau Gubernur selaku wakil
pemerintah berupa Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan
sendiri sebagai PNS dan Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS
mulai berlaku pada hari ke 15 ( lima belas ) setelah keputusan hudis diterima
apabila tidak diajukan banding adminsitratif dan tanggal ditetapkan keputusan
atas banding administratif apabila diajukan banding administratif.
5. Apabila PNS tidak hadir pada waktu penyampaian keputusan hukuman
disiplin, maka berlaku pada hari ke 15 ( lima belas ) sejak tanggal yang
ditentukan untuk penyampaian keputusan hukuman disiplin.
R. LAIN-LAIN
PNS yang meninggal dunia atau mencapai Batas Usia Pensiun yang dijatuhi
hukuman disiplin Penundaan KGB, Penundaan kenaikan pangkati atau
Penurunan pangkat, dianggap telah selesai menjalani hukuman disiplin tersebut
dan diberhentikan dengan hormat sebagai PNS.
Calon PNS yang dijatuhi hukuman tingkat sedang atau berat tidak dapat
diangkat menjadi PNS dan diberhentikan dengan hormat atau tidak hormat
sebagai Calon PNS.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Ijin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS 175

XLI. IJIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PNS
A. UMUM
PNS sebagai unsur aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat diharapkan
menjadi teladan yang baik bagi masyarakat dalam tingkah laku, tindakan dan
ketaatan kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku termasuk
menyelenggarakan kehidupan berkeluarga. Perkawinan adalah ikatan lahir batin
antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan
membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa. PNS harus menaati kewajiban tertentu dalam hal hendak melangsungkan
perkawinan, beristeri lebih dari satu dan atau bermaksud melakukan perceraian.
Kehidupan PNS harus ditunjang oleh kehidupan yang serasi, sejahtera dan bahagia
sehingga setiap PNS dalam melaksanakan tugasnya tidak akan banyak terganggu
oleh masalah-masalah keluarga. Dalam rangka untuk meningkatkan dan
menegakkan disiplin PNS serta memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan
maka peraturan tentang izin perkawinan dan perceraian bagi PNS dapat dijadikan
pedoman dalam mengarungi kehidupan berkeluarga.
B. DASAR HUKUM
1. PP No. 9/1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1/1974 tentang Perkawinan.
2. PP No. 10/1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS
3. PP No. 45/1990 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS.
4. SE Ka BAKN No. 08/SE/1983 tentang Petunjuk Pelaksanaan Izin Perkawinan
dan Perceraian bagi PNS
5. SE Ka 48/SE/1990 tentang Juklak Izin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS.
C. PENGERTIAN
1. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang
wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia
dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, maka beristeri lebih dari
seorang dan perceraian sejauh mungkin harus dihindarkan;
2. PNS yang akan melakukan perceraian wajib memperoleh izin tertulis atau
surat keterangan lebih dahulu dari Pejabat.
3. PNS pria maupun wanita yang akan melakukan perceraian dan berkedudukan
sebagai penggugat, wajib memperoleh izin tertulis lebih dahulu dari Pejabat.
D. TUJUAN
Digunakan sebagai pedoman untuk menyelesaikan masalah perkawinan dan atau
perceraian Pegawai Negeri Sipil berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Ijin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS 176

E. PERCERAIAN
1. Alasan Perceraian
Yang dapat dijadikan alasan yang sah untuk melakukan perceraian adalah :
1. Salah satu pihak berbuat zina ;
2. Salah satu pihak menjadi pemabok, pemadat atau penjudi yang sukar
disembuhkan ;
3. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain 2 tahun berturut-turut tanpa ijin
pihak lain dan tanpa alasan yang sah ;
4. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 tahun lebih ;
5. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang
membahayakan pihak lain.
6. Antara suami isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan
tidak ada harapan untuk hidup rukun lagi.
7. Alasan isteri mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak
dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri tidak dapat menjadi dasar
untuk memberikan izin perceraian.
2. Permohonan Izin Beristeri Lebih Dari Seorang
PNS pria yang akan beristeri lebih dari seorang wajib mengajukan
permohonan izin secara tertulis kepada Pejabat yang berwenang.
3. Larangan Hidup Bersama Diluar Ikatan Perkawinan Yang Sah
Setiap PNS dilarang hidup bersama diluar ikatan perkawinan yang sah; yaitu
melakukan hubungan sebagai suami isteri dengan wanita yang bukan isterinya
atau pria yang bukan isterinya atau pria yang bukan suaminya seolah-olah
merupakan suatu rumah tangga.
4. Izin Perkawinan
Izin perkawinan dapat diberikan apabila memenuhi sekurang-kurangnya satu
syarat alternatif dan ketiga syarat kumulatif yaitu, :
Syarat alternatif :
a. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri (karena menderita
cacat penyakit jasmani atau rohani yang sukar disembuhkan), sehingga
tidak dapat memenuhi kewajibannya secara biologis maupun kewajiban
lainnya,
b. Istri tidak dapat melahirkan keturunan setelah menikah sekurang-kurangnya
10 th.



Manajemen Administrasi Kepegawaian | Ijin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS 177

Syarat Kumulatif :
a. Ada persetujuan tertulis yang dibuat secara ikhlas oleh istri PNS yang
bersangkutan,
b. PNS pria ybs berpenghasilan cukup untuk membiayai lebih dari seorang
istri dan anak-anaknya.
c. Ada jaminan tertulis dari PNS pria yang bersangkutan bahwa ia akan
berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya.
5. Permohonan Izin Ditolak
Permohonan izin ditolak apabila :
1. Bertentangan dengan ajaran / peraturan agama / kepercayaan yang
dianutnya.
2. Tidak memenuhi salah satu syarat alternatif dan semua syarat kumulatif.
3. Bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Alasan-alasan yang dikemukakan untuk beristri lebih dari seorang
bertentangan dengan akal sehat.
5. Ada kemungkinan mengganggu pelaksanaan tugas kedinasan, yang
dinyatakan dengan surat keterangan.
6. Permohonan Izin Dikabulkan
Permohonan izin dikabulkan apabila :
1. Tidak bertentangan dengan ajaran / peraturan agama / kepercayaan yang
dianutnya
2. Telah memenuhi salah satu syarat alternatif dan semua syarat kumulatif.
3. Tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Alasan-alasan yang dikemukakan dapat diterima dengan akal sehat.
5. Tidak akan mengganggu pelaksanaan tugas kedinasan, yang dinyatakan
dengan surat keterangan.
F. PEMBAGIAN GAJI
Apabila perceraian terjadi atas kehendak PNS Pria maka ia wajib menyerahkan
sebagian gajinya untuk penghidupan bekas isteri dan anak-anaknya, dengan
ketentuan :
1. Apabila anak mengikuti bekas istri, maka 1/3 gajinya untuk PNS Pria yang
bersangkutan, 1/3 untuk bekas istri dan 1/3 untuk anak yang diterimakan
kepada bekas istri.
2. Apabila perkawinan tidak dikaruniai anak, maka gaji dibagi dua yaitu untuk
PNS Pria ybs dan untuk bekas isterinya.
3. Apabila anak mengikuti PNS Pria ybs, maka pembagian gajinya 1/3 untuk PNS
Pria yang bersangkutan, 1/3 untuk bekas istri dan 1/3 untuk anak yang
diterimakan kepada PNS pria ybs.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Ijin Perkawinan dan Perceraian bagi PNS 178

4. Apabila anak ada yg mengikuti PNS ybs dan ada yg mengikuti bekas istri maka
1/3 gaji yang menjadi hak anak dibagi menurut jumlah anak.
5. Hak atas bagian gaji sebagai tersebut tidak berlaku apabila perceraian terjadi
atas kehendak istri, KECUALI istri meminta cerai karena dimadu dan atau
suami berzina/ melakukan kekejaman / pemabok / pemadat / penjudi yang
sukar disembuhkan / meninggalkan istri selama 2 Th berturut turut, maka
sesudah perceraian terjadi bekas istri tersebut berhak atas bagian gaji bekas
suami.
6. Apabila bekas istri kawin lagi maka tidak berhak atas bagian gaji terhitung
mulai bulan berikutnya bekas istri kawin lagi dan bagian gaji tersebut
dibayarkan lagi kepada PNS yang bersangkutan. Apabila semua anak ikut
bekas istri tersebut maka, sepertiga gaji tetap menjadi hak anak tersebut yang
diterimakan kepada bekas istri tersebut.
G. SANKSI
PNS atau atasan / Pejabat dijatuhi hukuman disiplin berat apabila :
1. Tidak memberitahukan perkawinan pertamanya secara tertulis kepada Pejabat
dalam jangka waktu selambat-lambatnya satu tahun setelah perkawinan
dilangsungkan.
2. Melakukan perceraian tanpa memperoleh izin bagi yang berkedudukan
sebagai penggugat atau tanpa surat keterangan bagi yang berkedudukan
sebagai tergugat terlebih dahulu dari Pejabat.
3. Beristeri lebih dari seorang tanpa memperoleh izin terlebih dahulu dari
Pejabat.
4. Melakukan hidup bersama di luar ikatan perkawinan yang sah dengan wanita
yang bukan isterinya atau pria yang bukan suaminya.
5. Tidak melaporkan perceraiannya kepada Pejabat dalam jangka waktu
selambat-lambatnya atu tehun setelah terjadinya perceraian.
6. Tidak melaporkan perkawinan yang kedua / ketiga / keempat kepada Pejabat
dalam jangka waktu selambat-lambatnya satu tahun setelah perkawinan
dilangsungkan.
7. PNS wanita yang menjadi isteri kedua / ketiga / keempat, diberhentikan
dengan tidak hormat sebagai PNS.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Uji Kesehatan 179

XLII. UJI KESEHATAN
A. UMUM
Dalam rangka usaha pembinaan Aparatur Negara, perlu dijamin dan dipelihara
kesehatan jasmani dan rohani PNS sehingga mereka dapat melaksanakan tugas
secara berdayaguna, berhasil guna dan berkelanjutan.
B. DASAR HUKUM
1. Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 1977 tentang Pengujian Kesehatan PNS
dan Tenaga-tenaga lainnya yang Bekerja pada Negara RI
2. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1976 tentang Cuti PNS
C. PENGERTIAN
Uji Kesehatan bagi PNS yang sakit adalah pemeriksaan dan penilaian kesehatan,
jasmani dan rohani terhadap PNS dengan kriteria sebagai berikut :
1. Menurut pejabat yang berwenang tidak dapat melanjutkan pekerjaannya
karena kesehatannya;
2. Oleh pejabat yang berwenang dianggap memperlihatkan tanda-tanda sesuatu
penyakit atau kelainan yang berbahaya bagi dirinya dan atau lingkungan
kerjanya;
3. Setelah berakhirnya cuti sakit, belum mampu bekerja kembali;
D. PELAKSANA UJI KESEHATAN
Yang berwenang menguji kesehatan PNS yang sakit adalah Tim Penguji Kesehatan
PNS Kab. Magelang yang terdiri dari sejumlah dokter dan dibentuk oleh Menteri
Kesehatan. Pengujian kesehatan dilaksanakan di RSUD Muntilan Kab. Magelang.
E. PROSEDUR UJI KESEHATAN BAGI PNS SAKIT
1. Kriteria
Kriteria PNS sakit yang diusulkan untuk Uji Kesehatan adalah sebagai berikut :
a. Menurut pejabat yang berwenang tidak dapat melanjutkan
pekerjaannya karena kesehatannya;
b. Oleh pejabat yang berwenang dianggap memperlihatkan tanda-tanda
sesuatu penyakit atau kelainan yang berbahaya bagi dirinya dan atau
lingkungan kerjanya;
c. Setelah berakhirnya cuti sakit (selama 1 tahun), belum mampu bekerja
kembali.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Uji Kesehatan 180

2. Prosedur
PNS dengan kriteria di atas diusulkan kepada Tim Penguji Kesehatan melalui
BKD untuk diuji kesehatannya oleh pejabat yang berwenang, dengan
melampirkan :
1. Surat usulan dari Kepala SKPD
2. Fotokopi surat izin Cuti Sakit.
F. HASIL UJI KESEHATAN
1. Tindak lanjut dari hasil Uji Kesehatan adalah :
a. Jika hasil Uji kesehatan ditolak untuk sementara , maka kepada PNS yang
bersangkutan diharuskan melakukan pengobatan, dan dijadwalkan Uji
Kesehatan kembali.
b. Jika hasil Uji kesehatan tidak memenuhi syarat atau ditolak , maka
kepada PNS yang bersangkutan selanjutnya diproses untuk Pensiun Dini
Karena Uzur/Sakit.
2. Hasil Uji Kesehatan diberitahukan secara tertulis kepada yang bersangkutan
dan pejabat yang berwenang.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil 181

XLIII. PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL
A. UMUM
PNS yang telah mencapai batas usia pensiun (BUP) sesuai dengan ketentuan yang
berlaku, diberhentikan dengan hormat sebagai PNS. Demikian pula PNS yang
sebelum mencapai BUP mengajukan permohonan berhenti sebagai PNS atas
permintaan/kemauan sendiri, diberhentikan dengan hormat sebagai PNS dengan
mendapat hak-hak kepegawaian sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
Pemberhentian sebagai PNS adalah pemberhentian yang menyebabkan yang
bersangkutan tidak lagi berkedudukan sebagai PNS. Seorang PNS dapat
diberhentikan sebagai PNS karena alasan sebagai berikut:
1. Pemberhentian atas permintaan sendiri
2. Pemberhetian karena mencapai batas usia pensiun
3. Pemberhentian karena adanya penyeserhanaan organisasi
4. Pemberhentian karena melakukan pelanggaran/tindak pidana/penyelewengan
5. Pemberhentian karena tidak cakap jasmani/rohani (uzur)
6. Pemberhentian karena meninggalkan tugas
7. Pemberhentian karena meninggal dunia atau hilang
8. Pemberhentian karena hal-hal lain
Pemberhentian dari jabatan negeri adalah pemberhentian yang menyebabkan yang
bersangkutan tidak lagi pada satu satuan organisasi negara, tetapi ia masih
mempunyai kedudukan sebagai PNS
Setiap pemberhentian dengan hormat sebagai PNS tidak harus diikuti pemberian
pensiun sepanjang persyaratan lain tidak terpenuhi seperti usia, masa kerja dll
B. PEMBERHENTIAN ATAS PERMINTAAN SENDIRI
Pegawai Negeri Sipil yangmeminta berhenti, diberhentikan dengan hormat sebagai
PNS. Namun demikian, permintaan tersebut dapat ditunda untuk paling lama 1
(satu) tahun apabila ada kepentingan dinas yang mendesak.
Permintaan berhenti seorang PNS dapat ditolak apabila yang bersangkutan terikat
pada ikatan dinas, sedang menjalani wajib militer dll yang serupa dengan itu sesuai
peraturan perundangan yang berlaku.
PNS yang diberhentikan dengan hormat atas permintaan sendiri diberikan hak-hak
kepegawaian sesuai peraturan perundangan yang berlaku, sebagai contoh bila saat
berhenti usia telah mencapai 50 tahun dan masa kerja telah 20 tahun maka
kepadanya diberikan hak pensiun.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil 182

C. PEMBERITAHUAN KARENA MENCAPAI BATAS USIA PENSIUN
Batas usia seorang PNS adalah 56 (lima puluh enam) tahun. Namun demikian bagi
PNS yang menjabat jabatan tertentu dapat diperpanjanag sampai usia tertentu.
PNS yang telah mencapai BUP diberhentikan dengan hormat sebagai PNS dan
kepadanya diberikan hak-hak kepegawaian sesuai peraturan yang berlaku.
PNS yang menjabat jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Peraturan
Pemerintah Nomor 32 Tahun 1979, apabila tidak menjabat lagi jabatan tersebut,
diberhentikan dengan hormat sebagai PNS denan mendapat hak-hak kepegawaian
sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
PNS yang menjabat jabatan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2)
Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1979, apabila ia diberhentikan dari
jabatannya dan ada rencana dalam waktu singkat mengangkatnya dalam jabatan
yang setingkat atau lebih tinggi, maka menunggu pengangkatannya dalam jabatan
baru, PNS yang bersangkutan tidak dibrhentikan sebagai PNS dan dalam waktu 6
(enam) bulan sudah harus ada keputusan pengangkatan dalam jabatan baru tersebut.
Selambat-lambatnya 15 (lima belas) bulan sebelum PNS mencapai BUP, pimpinan
instansi wajib memberitahukan kepada PNS yang bersangkutan, bahwa ia akan
diberhentikan sebagai PNS. Berdasarkan pemberitahuan tersebut, PNS mengajukan
permohonan berhenti dengan hak pensiun.
PNS yang telah mencapai BUP tetapi tidak mengajukan permohonan berhenti,
diberhentikan dengan hormat sebagai PNS dengan mendapat hak-hak kepegawaian
sesuai pereturan perundangan yang berlaku berdasarkan data yang berlaku
brdasarkan data yang ada pada instansi yang bersangkutan.
D. PEMBERHENTIAN KARENA ADANYA PENYEDERHANAAN ORGANISASI
Perubahan satuan-satuan organisasi ada kalanya mengakibatkan kelebihan PNS.
Apabila terjadi hal yang demikian, maka PNS yang kelebihan itu disalurkan kepada
satuan organisasi negara lainnya.
Instansi yang karena disederhanakan organisasinya kemudian menyusun daftar PNS
tersebut dan menyampaikan kepada kepala BKN. Kemudian BKN mengatur
penyaluran kelebihan PNS tersebut setelah berkonsultasi dengan pimpinan instansi
yang membutuhkan
Apabila kelebihan PNS karena adanya penyederhanaan organisasi tidak mungkin
disalurkan kepada instansi lain maka PNS tersebut diberhentikan dengan hormat
sebagai PNS dengan hak kepegawaian sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
1. Apabila telah mencapai usia 50 (lima puluh) tahun, maka ia diberhentikan
dengan hormat sebagai PNS dengan hak pensiun.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil 183

2. Apabila usia belum mencapai 50 (lima puluh) tahun dan atau belum memiliki
masa kerja 10 (sepuluh) tahun, maka ia diberhentikan dengan hormat dari
jabatan negeri dengan mendapat uang tunggu.
3. Uang tunggu tersebut diberikan untuk waktu paling lama 1 (satu) tahun, dan
dapat diperpanjang tiap-tiap kali untuk paling lama 1 (satu) tahun, sengan
ketentuan tidak boleh lebih dari 5 (lima) tahun. Apabila pada saar berakhirnya
pemberian uang tunggu usia PNS telah mencapai 50 (lima puluh) tahun dan
memiliki masa kerja sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun, maka ia
diberhentikan dengan hormat sebagai PNS dengan hak pensiun.
4. Apabila PNS tersebut diatas pada saat berakhirnya uang tunggu belum
mencapai usia 50 (lima puluh) tahun tetapi telah memiliki masa kerja 10
(sepuluh) tahun maka ia diberhentikan dengan hormat sebagai PNS dengan
hak pensiun yang diberikan pada saat ia mencapai usia 50 tahun.
5. Apabila PNS tersebut diatas pada sat berakhirnya uang tunggi telah mencapai
usia 50 tahun tetapi masa kerja kurang dari 10 tahun maka ia duberhentikan
denan hormat sebagai PNS tanpa hak pensiun.
E. PEMBERHENTIAN KARENA MELAKUKAN PELANGGARAN / TINDAK
PIDANA
PNS dapat diberhentikan tidak dengan hormat sebagai PNS karena:
1. Melanggar sumpah/janji PNS, sumpah/janji jabatan atau pelanggaran disiplin
berat;
2. Dihukum penjara berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah mempunyai
kekuatan hukum tetap, karena dengan sengaja melakukan tindakan pidana
kejahatan yang diancam pidana penjarasetinggi-tingginya 4 tahun atau
ancaman pidana lebih berat.
Pemberhentian sebagaimana tersebut diatas dapat dilakukan dengan hormat atau
tidak dengna hormat, tergantunf pertimbangan pejabat yang berwenang atas berat
atau ringannya perbuatan yang dilakukan dan besar atau kecilnya akibat
yangditimbulkan oleh perbuatan itu.
PNS diberhentikan tidak dengan hormat sebagai PNS apabila dipidana penjara atau
kurungan berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap, karena:
a. Melakukan tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya denan jabata,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 413 sampai dengann 436 Kitab Undang-
undang Hukum Pidana
b. Melakukan tindak pidana kejahatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104
sampai dengan 161 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil 184

F. PEMBERHENTIAN KARENA TIDAK CAKAP JASMANI ATAU ROHANI
(UZUR)
PNS diberhentikan dengan hormat dengan mendapat hak-hak kepegawaian
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku apabila berdasarkan
Team Penguji Kesehatan dinyatakan:
1. Tidak dapat bekerja lagi dalam semua jabatan negeri karena kesehatannya
2. Menderita penyakit/kelainan yang berbahaya bagi dirinya sendiri dan atau
lingkungan kerjanya
3. Setelah berakhirnya cuti sakit belum mampu bekerja kembali.
G. PEMBERHENTIAN KARENA MENINGGALKAN TUGAS
PNS yang meninggalkan tugas secara tidak sah dalam waktu 2 bulan secara terus-
menerus, dihentikan pembayaran gajinya mulai bulan ketiga PNS meninggalkan
tugas secara tidak sah lebih dari 2 (dua) bulan tetapi kurang dari 6 (enam) bulan
melaporkan diri kepada pimpinan instansinya dapat:
1. Ditugaskan kembali apabila alasannya dapat diterima oleh pejabat yang
berwenang
2. Diberhentikan dengan hormat sebagai PNS, apabila penyebabnya karena
kelalaian PNS yang bersangkutan dan menurut pejabat yang berwenang akan
mengganggu seasana kerja jika ia ditugaskan kembali.
PNS yang selama 6 (enam) bulan atau lebih terus menerus meninggalkan tugasnya
secara tidak sah diberhentikan tidak dengan hormat sebagai PNS.
H. PEMBERHENTIAN KARENA MENINGGAL DUNIA ATAU HILANG
PNS yang meninggal dunia, dengan sendirinya dianggap diberhentikan dengan
hormat sebagai PNS
PNS yang hilang dianggap meninggal dunia pada akhir bulan ke 12 sejak ia
dinyatakan hilang.
PNS yang dinyatakan hilang yang sebelum melewati 12 bulan ditemukan
kembali masih hidup dan sehat, dipekerjakan kembali sebagai PNS.
PNS yang dinyatakan hilang yang sebelum melewati 12 bulan diketemukan
kembali tetapi cacat, diperlakukan sebagai berilut:
a. Diberhentikan dengan hormat sebagai PNS dengan hak pensiun bila ia
memiliki masa kerja sekurangnya 4 tahun
b. Apabila hilang dan cacatnya dalam dan karena menjalankan kewajiban
jabatannya, ia diberhentikan sebagai PNS sengan hak pensiun tanpa
memandang masa kerja
Pegawai Negeri Sipil yang telah dinyatakan hilang kemudian diketemukan
kembali setelah melewati waktu 12 bulan diperlakukan sbb:
a. Apabila ia masih sehat, dipekerjakan kembali
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil 185

b. Apabila ia tidak dapat bekerja kembali dalam semua jabatan negeri
berdasarkan surat keterangan dari Tim Penguji Kesehatan, diberhentikan
dengan hormat sebagai PNS dengan mendapatkan hak kepegawaian
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
I. PEMBERHENTIAN KARENA SEBAB LAIN
PNS yang tidak melaporkan diri kembali pada instansi induknya setelah habis
menjalankan Cuti Diluar Tanggungan Negara, diberhentikan dengan hormat sebagai
PNS
PNS yang terlambat melaporkan diri kembali kepada instansi induknya setelah habis
Cuti Diluar Tanggungan Negara, maka:
a. Apabila keterlambatan melaporkan diri itu kurang dari 6 bulan, maka PNS
yang besangkutan dapat dipekerjakan kembali apabila alasan keterlambatan
tersebut dapat diterima oejabat yang berwenang dan ada lowongan setelah
terlebih dahulu mendapat persetujan dari kepala BKN
b. Apabila keterlambatan melaporkan diri itu kurang dari 6 bulan tetapi alasan
tentang keterlambatan itu tidak dapat diterima oleh pejabat yang berwenang,
maka PNS yang besangkutan diberhentikan denga hormat sebagai PNS
c. Apabila keterlambatan melaporkan diri lebih dari 6 bulan, maka PNS yang
bersangkutan harus diberhentikan sebagai PNS
J. HAK-HAK KEPEGAWAIAN
1. Diberhentikan dengan hormat
1. Pegawai Negeri Sipil yang diberhentikan sebagai akubat penyedrhanan
organisasi, diberhentikan denan hormat dengan diberikan hak-hak
kepegawaian sbb:
a. Diberikan hak pensiun bila usia sekurang-kurangnya 50 (lima puluh)
tahun dan mempunyai masa kerja sekurang-kurangnya 10 tahun;
b. Diberhentikan dari jabatan negeri dengan diberikan uang tunggu, bila
belum memenuhi usia dan masa kerja dimaksud
2. PNS yang menurut surat Keterangan Team Penguji Kesehatan dinyatakan tidak
dapat bekerja lagi dalam semua jabatan negeri karena kesehatannya
diberhentikan sebagai PNS dengan mendapat hak pensiun apabila:
a. Tanpa terikat masa kerja pensiun, bila penyebabnya oleh dan karena
manjalankan kewajiban jabatan
b. Telah memiliki masa kerja 4 tahun bila bukan disebabkan oleh dan
karena menjalankan kewajiban jabatan.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil 186

2. Uang Tunggu
Yang berhak menerima Uang Tunggu adalah PNS yang diberhentikan dari
jabatan negeri karena:
1. Sebagai tenaga kelebihan akibat penyederhanaan organisasi dan tidak
dapat disalurkan ke instansi lain serta belum memenuhi syarat pensiun
2. Menderita penyakit uang membahayakan bagi diri dan oarng ain dan
belum memenuhi syarat pensiun
3. Berakhirnya cuti sakit, belum mampu bekerja kembali dan belum
memenuhi syarat pensiun
4. Tidak dapat dipekerjakan kembai setelah berakhirnya cuti di luar
yanggungan negara dan belum memenuhi syarat-syarat pensiun

Lamanya pemberian uang tunggu 1 tahun dan dapat diperpanjang setiap kali
paling lama 1 tahun, dengan ketentuan tidak boleh lebih dari 5 tahun.

Besarnya uang tunggu:
1. 80% dari gaji pokok tahun pertama
2. 75% dari gaji pokok untuk selanjutnya

Selama menjalani uang tunggu, masih berstatus sebagai PNS, sehingga berhak
diberikan kenaikan gaji berkala, tunjangan keluarga, tunjangan pangan.
PNS yang selesai menjalani uang tunggu:
a. Telah berusia sekurang-kurangnya 50 tahun dan masa kerja sekurang-
lurangnya 10 tahun diehentikan dengan hormat sebagai PNS dengan hak
pensiun;
b. Telah memiliki masa kerja sekurang-kurangnya 10 tahun tetapi belum
mencapai usia 50, maka ia diberhentikan dengan hormat sebagai PNS
tetapi pensiunnya baru diberikan terhitung mulai tanggal satu bulan
berikutnya ia mencapai usia 50 tahun.
c. Belum mencapai usia 50 tahun dan masa kerja kurang dari 10 tahun maka
ia diberhentikan denan hormat sebagai PNS tanpa hak pensiun

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pensiun Pegawai Negeri Sipil 187

XLIV. PENSIUN PEGAWAI NEGERI SIPIL
A. UMUM
Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 1969b antara lain menyatakan bahwa
pensiun adalah jaminan hari tua dan sebagai balas jasa terhadap PNS yang telah
bertahun-tahun mengabdikan dirinya kepada negara
Selain dari pada itu Undang-undang No 8 Tahun 1974 jo. Undang-undang Nomor
43 tahun 1999 juga menegaskan bahawa setiap PNS yang diberhentikan denan
hormat sebagai PNS dan telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan berhak atas
pensiun
Pada pokoknya pensiun adalahmenjadi kewajiban dari setiap oramhuntk berusahan
menjamin hari tuanya, dan untuk itu setiap PNS wajib menjadikan peserta dari suatu
badan asuransi sosial yang dibentuk oleh pemeintah
Karena pensiun bukan hanya sebagai jaminan hari tua tetapi juga adalah sebagai
balas jasa, maka pemerintah memberikan sumbangannya kepada PNS. Iuran pensiun
PNS dan sumbangan pemerintah ersebut dipupuk dan dikelola oleh badan asuransi
sosial.
B. SYARAT-SYARAT PENSIUN
PNS berhak atas pensiun apabila:
1. Telah mencapai sekurang-kurangnya 50 tahun dan mempunyai masa kerja
pensiun sekurang-kurangnya 20 tahun
2. Oelh tim penguji kesehatan pegawai negeri sipil dinyatakan tidak dapat
bekerja lagi dalam jabatan apapun karena keadaan jasmani/rohani yang
disebabkan oleh dan karena menjalankan tugas kewajiban jabatan
3. Mempunyai masa kerja sekurang-kurangnya 4 tahun dan oleh Tim Penguji
Kesehatan Pegawai Negeri Sipil dinyatakan tidak dapat bekerja lagi dalam
jabatan apapun karena keadaan jasmani/rohaninya yangtidak disebabkan oleh
dan kerena menjalankan tugas kewajiban jabatanntannya
4. Diberhentikan denan hormat sebagai PNS atau dari jabatan negeri karena
sebagai tenaga kelebihan, apabila telah berusaha sekurang-kurangnya 50 tahun
dan memiliki masa kerja pensiun sekurang-kurangnya 10 tahun
5. Mencapai BUP menurut ketentuan Peraturan Pemerintahan No 32 Tahun 1979
C. DASAR PENSIUN
Dasar pensiun yang dipakai untuk menentukan besarnya pensiun/pensiun pokok
ialah gaji pokok terakhir sebulan yang berhak diterima oleh PNS berdasarkan
peraturan gaji yang berlaku.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pensiun Pegawai Negeri Sipil 188

Besarnya pensiun pegawai negeri sipil sebulan adalah 2,5% dari dasar pensiun untuk
tiap-tiap tahun masa kerja, dengan ketentuan sbb:
a. Pensiun pegawai negeri sipil sebulan sebanyak-banayaknya 75% dan sekurang-
kurangnya 40% dari dasar pensiun;
b. Apabila PNS mengalami keuzuran jasmani/rohani oleh dan karena
manjalankan tugas kewajiban jabatannya, mnala besarnya pensiun yang
diterima adalah 5% dari dasar pensiun
c. Pensiun pegawa sebulan tidak boleh kurang dari gaji pokok terendah menurut
peraturan perundangundangan yang berlaku
D. MASA KERJA PENSIUN
Masa kerja yang dihitung untuk menetapkan hak dan besarnya pensiun adalah:
1. Waktu bekerja sebagai PNS
2. Waktu bekerja sebagai anggota ABRi
3. Waktu bekerja sebagai tenaga bulanan/harian dengan menerima penghasilan
dari Sngaran Negara, APBN atau Bank Negara
4. Masa selama menjalankan kewajiban sebagai pelajar dalam Pemerintahan RI
pada masa perjuangan phisik
5. Masa sebagai Veteran Pembela Kemedekaan
6. Masa sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan
7. Masa sebagai Veteran pegawai pada sekolah
E. PENSIUN JANDA/DUDA
Yang berhak menerima pensiun janda/duda adalah istri (istri-istri) PNS pria, atau
suami PNS wanita yang meninggal dunia/tewas, atau penerima pensiun pegawai
negeri yang meningal dunia dan mereka sebelumnya sudah terdaftar sebagai
istri/suami sah PNS yang bersangkutan.
Besarnya Pensiun Janda/Duda adalah 36% dari dasar pensiun dengan ketentuan:
a. Apabila terdapat lebih dari seorang yang berhak menerima pensiun janda
besarnya bagian pensiun janda untuk masing-masing istri adalah 36% dari
dasar pensiun dibagi rata antara istri-istri itu.
b. Besarnya pensiun janda/duda dimaksud diatas, tidak boleh kurang dari 75%
dari gaji pokok terendah menurut peratuan gaji yang berlaku bagi almarhum
suami/istrinya
Besarnya pensiun janda/duda PNS yang tewas adalah 72% dari dasar pensiun,
dengan ketentuan:
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pensiun Pegawai Negeri Sipil 189

a. Apabila terdapat lebih dari seorang istri yang berhak menerima pensiun maka
besarnya bagian pensiun janda untuk masing-masing istri 72% dari dasar
pensiun dibagi rata istri-istri
b. Jumlah 72% dari dasar pensiun termaksud diatas, tidak boleh kurang dari gaji
pokok terendah menurut peraturan gaji yang berlaku bagi almarhum
suami/istri.
F. PENSIUN ANAK
Apabila PNS atau penerima pensiun meninggal dunia sedangkan ia tidak mempunyai
istri/suami yang berhak menerima pensiun janda atau duda maka :
a. Pensiun janda diberikan kepada anak/anak-anaknya, apabila terdapat satu
golongan anak yang seayah-seibu
b. Satu bagian pensiun janda diberikan kepada masing-masing golongan anak
seayah-seibu
c. Pensiunan duda diberikan kepada anak
Apabila PNS pria atau penerima pensiun pria meninggal dunia, sedangkan ia
mempunyai istri (istri-istri) yang berhak menerima pensiun janda/bag pensiun janda
disamping anak dari istri yang telah meninggal dunia atau telah secari, mka bagian
pensiun janda diberikan kepada masing-masing istri dan golonga anak seayah seibu
Kepada anak (anak-anak) yang ibu dan ayahnya berkedudukan sebagai PNS dan
kedua-duanya meninggal dunia, diberikan satu pensiun janda, bagian pensiun janda
atau duda atas dasar yang lebih menguntungkan.
Anak-anak sebagaimana sebagaimana dimaksud diatas ialah anak yang pada waktu
PNS atau penerima pensiun pegawai meningal dunia:
a. Berusia kurang dari 25 tahun atau
b. Tidak mempunyai penghasilan sendiri atau
c. Belum menikah/belum pernah manikah
G. PENSIUN ORANG TUA
Apabila seorang PNS/CPNS tewas, apabila tidak meninggalkan suami/isteri/anak
yang berhak menerima pensiun janda/duda, maka kepada orang tua almarhun
diberikan pensiun orang tua yang besarnya 20%dari pensiun janda/duda
Jika kedu orang tua telah bercerai, maka kepada mereka masing-masing diberikan
separoh dari jumlah dimaksud
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pensiun Pegawai Negeri Sipil 190

H. PEMBERIAN PENSIUN
Pemberian pensiun PNS, Pensiun janda/duda dan bagian pensiun janda ditetapkan
oleh Pejabat yang berwenang memberhentikan PNS yang besangkutan, dibawah
pengawasan dan koordinasi Kepal Badan Kepegawaian Negara
I. PENDAFTARAN ISTERI/SUAMI/ANAK
Pendaftaran istri (istri-istri)/suami/anak sebagai yang berhak menerima pensiun
janda/duda harus dilakuakn PNS yang bersangkutan sesuai petunjuk kepala BKN.
Pendaftaran lebih dari seorang isteri sebagai yang berhak menerima pensiun harus
dilakuakn dengan sepengethuan tiap-tiap isteri yang didaftarkan.
Jika hubungan perkawinan dengan isteri/suami yang telah terdaftar terputus, maka
terhitung mulai tanggal perceraian berlaku, sah istri/suami itu dihapus dari daftar
isteri/suami yang berhak menerima pensiun.
Anak yang dapat didaftarkan sebagai anak yang berhak menerima pensiun
anda/duda atau bagian pensiun janda adalah:
a. Anak-anak PNS atau penerima pensiun pegawai dari perkawinannya denga
isteri/suami yangdidaftar sebagai yang berhak menerima pensiun janda/duda
b. Anak-anak PNS wanita atau penerima pensiun wanita
Yang dianggap dilahirkan dari perkawinan yangsah ialah kecuali anak-anak yang
dilahirkan selama perkawinan itu, juga anak yang dilahirkan selambat-lambatnya
300 hari sesudah perkawinan itu terputus
Pendaftaran isteri (istri/istri)/anak (anak-anak) sebagai yang berhak menerima
pensiun janda harus dilakuakan dalam waktu 1 (satu) tahun sesudah
perkawinan/kelahiran
J. PERMINTAAN PENSIUN JANDA/DUDA
Untuk memperoleh pensiun janda/duda atau bagian pensiun janda, janda-
janda/duda yang bersangkutan mengajukan surat permintaan kepada pejabat yang
berwenang denga disertai:
a. Surat keterangan kematian atau salinannya uang disahkan oleh yang berwajib
b. Salinan surat nikah yang disahkan oleh yang berwajib
c. Daftar susunan keluarga uang disahkan oleh yang berwajib yang memuat
nama, tanggal kelahiran dan alamat mereka yang berkepentingan
d. Surat keputusan yang menetapkan pangat dan gaji terakhir pegawai yang
meninggal dunia
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pensiun Pegawai Negeri Sipil 191

Pemberian pensiun janda/duda atau bagian pesiun-janda/duda atau bagian pensiun-
janda kepada anak (anak-anak) termaksud, dilakukan atas permintaan dari atau atas
nama anak (anak-anak) yang berhak menerimanya.
Permintaan dimaksud diatas harus dilengapi dengan:
a. Surat keteranan kematian atau salinannya yang disahkan oleh yang berwajib
b. Salinan kelahiran anak (anak-anak) atau daftar susunan keluarga pegawai yang
bersangkutan yang disahkan oleh yang berwajib, yang memuat nama, alamat
dan tanggal lahir dari mereka yang berkepentingan
c. Surat keteranagn dari yang berwajin yang menerangan bahwa anak (anak-
anak) itutidak pernah kawin dan tidak mempunyai penghasilan sendiri
d. Surat keputusan yangmenetapkan pangkat dan gaji pokok terakhir pegawai
atau penerima pensiun pegawai yang meninggal dunia
Kepala kantor dimana PNS yang meninggal dunia terakhir bekerja berkewajiban
untuk membantu agar mengirim surat-surat permintaan besarnya lmpiran-
lampirannya termaksud diatas terlaksana selekas mungkin
Pensiun janda/duda atau bagian pensiun janda diberikan mulai berlaku pada bulan
berkutnya PNS atau penerima pensiun oegawai yang bersangkutan meninggal dunia
atau mulai bulan berikutnya hak atas pensiun janda/bagian pensiun janda itu
diperoleh oelh yang besangkutan. Bagi anak yang dilahirkan dalam batas waktu 300
hari setelah PNS atau penerima pensiun meninggal dunia, pensiun janda/bagian
pensiun janda diberikan mulai bulan berikutnya tanggal kelahiran anak itu
1. Berakhirnya pensiun janda/duda
Pemberian pensiun janda/duda atau bagian pensiun janda berakhir pada akhir
bulan:
a. Janda/duda yang bersangkutab meninggal dunia
b. Tidak lagi terdapat anak yang memenuhi syarat-syarat untuk
menerimanya
2. Pembatalan Pensiun janda/duda
Pensiun janda/duda atau begian pensiun janda yang diberikan kepada janda
pensiun/duda yang tidak mempunyai anak, dibatalkan jika janda/duda yang
bersangkutab menikah lagi, terhitung mulai bulan berikutnya perkawainan out
dilangsungkan.
Apabila kemudian khusus dalam hal janda (janda-janda) perkawinan
termaksud diatas terputus, maka terhitung dari bulan berikutnya kepada janda
yang bersangkutan diberikan lagi pensiun janda tau bagian pensiun janda yang
telah dibatalkan, atau jika lebih menguntungkan, kepadanya diberikan pensiun
janda yang dapat diperolehnya karena perkawinan terakhir.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pensiun Pegawai Negeri Sipil 192

K. HAPUSNYA PENSIUN PEGAWAI/PENSIUN JANDA/DUDA
Hak untuk menerima pensiun pegawai atau pensiun janda/duda hapus:
a. Jika penerima pesiun tidak seizin pemerintah menjadi anggota tentara atau
Pegawai Ngeri suatu Negara asing;
b. Jika penerima pensiun pegawai/pensiun janda atau duda atau begian pensiun
janda menurut keputusan pejabat/badan Negara yang berwenang dinyatakan
salah melakukan tindakan atau terlibat dalam suatu gerakan yang
bertentangan dengan kesetiaan terhadap Negara dan haluan Negara yang
berdasarkan pencasila;
c. Jika ternyata bahwa keterangan-keterangan yang diajukan sebagai bahan
untuk penetapan pemberian pensiun pegawai atau pensiun janda/duda atau
begian ppensiun tidak benar dan bekas PNS atau janda/duda/anak yang
bersangkutan sebaenarnya tidak berhak diberikan pensiun
Dalam hal-hal tersebut pada angka (1) dan (2), maka surat keputusan pemberian
pensiun dibatalkan, sedang dalam hal-hal tersebut angka (3) surat keputusan
termaksud dicabut.
L. PERSYARATAN BERKAS USUL SK PENSIUN
1. Pensiun Atas Permintaan Sendiri
a. Permohonan Pensiun Atas Permintaan Sendiri (APS) dari PNS yang
bersangkutan
b. Data Perorangan Calon Pensiun (DPCP)
c. Salinan/Fotocopy sah SK Pengangkatan sebagai CPNS
d. Salinan/Fotocopy sah SK Pengangkatan menjadi PNS
e. Salinan/Fotocopy sah SK Pangkat terakhir
f. Salinan/Fotocopy sah KGB terakhir disertai Daftar Penerimaan Gaji
Terakhir
g. Salinan/Fotocopy sah Kartu Pegawai
h. Daftar Susunan Keluarga
i. Salinan/Fotocopy sah surat nikah
j. Surat Kematian Istri/Suami*)
k. Salinan/Fotocopy sah akte kelahiran anak
l. Daftar Riwayat Pekerjaan
m. Surat Keterangan Milik Negara
n. Pas Photo Terbaru ukuran 4 x 6 sebanyak 5 lembar
*) jika ada
2. Pensiun karena mencapai Batas Usia Pensiun
a. Permohonan Pensiun BUP dari yang bersangkutan
b. DPCP
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pensiun Pegawai Negeri Sipil 193

c. Salinan/Fotocopy sah SK Pengangkatan sebagai CPNS
d. Salinan/Fotocopy sah SK Pengangkatan menjadi PNS
e. Salinan/Fotocopy sah SK Pangkat terakhir
f. Salinan/Fotocopy sah Kartu Pegawai
g. Salinan/Fotocopy sah Kartu Isteri/Suami
h. Daftar Susunan Keluarga
i. Salinan/Fotocopy sah surat nikah
j. Salinan/Fotocopy sah akte kelahiran anak
k. Pas Photo Terbaru ukuran 4 x 6 sebanyak 5 lembar
l. Salinan/Fotocopy sah SK Pengangkatan dalam jabatan terakhir
m. Surat Kematian Istri/Suami*)
n. Salinan/Fotocopy sah DP3 dalam 1 (satu) tahun terakhir
o. Surat Pernyataan Tidak dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau
berat dalam 1 (satu) tahun terakhir.
*) jika ada
3. Pensiun Janda/Duda/Anak
a. Permohonan Pensiun Janda/Duna/Anak dari Ahli Waris PNS yang
meninggal dunia (suami/istri/anak)
b. Data Perorangan Calon Pensiun (DPCP) yang ditandatangani oleh ahli
waris (suami/istri)
c. Salinan/Fotocopy sah SK Pengangkatan sebagai CPNS
d. Salinan/Fotocopy sah SK Pengangkatan menjadi PNS
e. Salinan/Fotocopy sah SK Pangkat terakhir
f. Salinan/Fotocopy sah Kartu Pegawai
g. Salinan/Fotocopy sah Kartu Isteri/Suami
h. Daftar Susunan Keluarga
i. Salinan/Fotocopy sah Surat Kematian dari Desa/Kelurahan
j. Surat Keterangan Janda/Duda
k. Salinan/Fotocopy sah surat nikah
l. Salinan/Fotocopy sah akte kelahiran anak
m. Pas Photo Terbaru (janda/duda/anak) ukuran 4 x 6 sebanyak 5 lembar
n. Salinan/Fotocopy sah SK Pengangkatan dalam jabatan terakhir
o. Surat Kematian Istri/Suami
p. Salinan/Fotocopy sah DP3 dalam 1 (satu) tahun terakhir
q. Surat Pernyataan Tidak dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang atau
berat dalam 1 (satu) tahun terakhir.
4. Pensiun karena Tidak Cakap Jasmani/Rohani (Uzur)
a. Permohonan dari Unit Kerja
b. Asli Hasil Pengujian Kesehatan dari Tim Penguji Kesehatan
c. Salinan/Fotocopy sah SK Pengangkatan sebagai CPNS
d. Salinan/Fotocopy sah SK Pengangkatan menjadi PNS
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Pensiun Pegawai Negeri Sipil 194

e. Salinan/Fotocopy sah SK Pangkat terakhir
f. Salinan/Fotocopy sah KGB terakhir
g. Salinan/Fotocopy sah Kartu Pegawai
h. Salinan/Fotocopy sah Kartu Isteri/Suami
i. Daftar Susunan Keluarga
j. Salinan/Fotocopy sah surat nikah
k. Salinan/Fotocopy sah akte kelahiran anak
l. Pas Photo Terbaru ukuran 4 x 6 sebanyak 5 lembar
m. Salinan/Fotocopy sah SK Pengangkatan dalam jabatan terakhir
n. Daftar Gaji Terakhir
o. Surat Kematian Istri/Suami*)
*) jika ada

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Tabungan Hari Tua dan Dana Pensiun 195

XLV. TABUNGAN HARI TUA DAN DANA PENSIUN
A. PENGERTIAN
THT merupakan suatu program asuransi yang terdiri dari asuransi dwiguna dan
asuransi kematian
Asuransi Dwi Guna adalah suatu jenis asuransi yang memberikan jaminan keuanan
bagi peserta meninggal dunia
Asuransi kematian adalah suatu jenis asuransi yang memberikan jaminan keuntungan
pada peserta bila istri/suami, anak meninggal dunis atau kepada ahli waris bila
peserta meninggal dunia
B. TUJUAN
Memberikan jaminan keuangan bagi peserta pada saat berhenti bekerja baik dengan
hak pensiun ataupun tanpa hak pensiun, atau pada ahli warisnya pada saat peserta
meninggal dunis sebelum sesudah pensiun.
C. PESERTA
1. PNS (Pusat dan Daerah)
2. PNS DPB/DPK BUMN/BUMD
3. Pejabat Negara
4. Pegawai beberapa BUMN/BUMD
D. KEWAJIBAN PESERTA
Membayar premi yang setiap bulan secara langsung dipotong dari gaji
1. Tabungan Hari Tua, premi sebesar 3,25% kali penghasilan (gaji pokok +
tunjangan keluarga)
2. Dana Pensiun, premi sebesar 4,75 % kali penghasilan
E. HAK PESERTA
1. Tunjangan Hari Tua (THT)
a. Hak THT diberikan kepada peserta yang berhenti karena pensiun
b. Hak nilai tunai THT diberikan kepada peserta yang
berhenti/diberhentikan dengan hormat/tidak dengan hormat
c. Peserta yang meninggal sebelum BUP, diberikan kepada ahli waris
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Tabungan Hari Tua dan Dana Pensiun 196

2. Asuransi Kematian(ASKEM)
Kepada peserta suami/istri/anak yang terdaftar/tertunjang yang meninggal
dunia diberikan asuransi kematian. Khusus untk ASKEM anak dibayarkan
maksimum tiga kali kematian anak
3. Dana Pensiun
Para PNS yang pensiun akan menerima pensiun pokok tiap bulannya yang
Besarnya Pensiun Pokok Pegawai sebulan adalah 2,5 % X Gaji Pokok X
Masa Kerja dengan ketentuan Maximal 75 % dari Gaji pokok dan Minimal
40 % dari Gaji pokok. Bagi para Janda/Duda PNS akan menerima pensiun
pokok tiap bulan yang Besarnya Pensiun Pokok Janda/ Duda Pegawai
sebulan adalah 36 % dari gaji pokok.
F. PERSYARATAN KEPENGURUSAN TASPEN (MASING-MASING RANGKAP 2)
1. PENSIUN PERTAMA SENDIRI (PNS AKTIF)
a. Mengisi Formulir Permintaan Pembayaran.
b. SKPP dari DPPKAD Lembar I dan II (Asli).
c. Fotocopy SK Pensiun.
d. Tembusan SK Pensiun berpas photo jika ada.
e. Fotocopy SK CPNS.
f. Fotocopy KARPEG.
g. Footocopy Kartu Taspen.
h. Fotocopy KTP Pemohon.
i. Pasphoto terbaru ukuran 3 x 4 cm (Peserta 2 lembar dan Suami/Istri 1
lembar).
j. Fotocopy nomor rekening buku tabungan.
k. Formulir SP3R.
l. Asli dan Fotocopy Surat Keterangan Sekolah/Kuliah (bagi anak yang
berusia 21 s/d 25 tahun).
m. Fotocopy NPWP.
n. Fotocopy Daftar Gaji bulan terakhir.
o. SPTB bagi yang Pensiun yang bukan BUP (bisa APS, Usur dll).
2. PENSIUNAN JANDA/DUDA/YATIM PIATU dari PNS AKTIF YANG
MENINGGAL DUNIA
a. Mengisi Formulir Permintaan Pembayaran.
b. Mengisi Formulir SPTB berpasphoto
c. Mengisi Formulir Kejandaan/Kedudaan
d. SKPP dari DPPKAD Lembar I dan II (Asli)
e. Asli dan tembusan SK Pensiun berpasphoto
f. Asli dan Fotocopy Surat Keterangan Sekolah/Kuliah (bagi anak yang
berusia 21 s/d 25 tahun).
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Tabungan Hari Tua dan Dana Pensiun 197

g. Fotocopy KTP Pemohon.
h. Fotocopy nomor rekening buku tabungan.
i. Formulir SP3R.
j. Pasphoto terbaru ukuran 3 x 4 cm = 2 lembar
k. Untuk Pensiun Yatim/Piatu ditambah :
i. Surat Keterangan belum menikah dari Lurah/Kades
ii. Surat Keterangan belum bekerja dari Lurah/Kades
iii. Fotocopy ijasah terakhir dan fotocopy akte kelahiran
3. PENSIUN JANDA/DUDA/YATIM PIATU dari PENSIUNAN YANG MENINGGAL
DUNIA
a. Mengisi Formasi Permintaan Pembayaran.
b. Formulir SPTB berpasphoto.
c. Formulir Kejandaan/ kedudaan.
d. Asli SK Pensiun berpasphoto/ SK impasing PP.37/1993 (warna putih lis
hijau).
e. Foto copy surat nikah (lagalisir Lurah/ Kades/ KUA).
f. Foto copy Syrat Kematian (lagalisir Lurah/ Kades).
g. Foto copy KTP Pemohon.
h. Foto Copy nomor rekening buku tabungan + Formulir SP3R (bila
menghendaki pembayaran melalui Bank).
i. Asli dan foto copy Surat Keterangan Sekolah/ Kuliah (bagi anak yang
berusia 21 s/d 25 tahun).
j. Pasphoto terbaru ukuran 3 x4 = 2 lembar.
k. untuk Yatim Piatu ditambah:
i. Surat keterangan belum menikah dari Lurah/ Kepala Desa.
ii. Surat keterangan belum berkerja dari Lurah/ Kepala Desa.
iii. Surat perwalian dari Lurah/ Kepala Desa apabila yang menjadi wali
adalah orang tua/ saudra kandung.
iv. Surat perwalian dari Pengadilan Negeri apabila yang menjadi wali
adalah orang lain.
v. Foto copy ijazah Terakhir dan Foto copy Akte Kelahiran.
l. Untuk Janda/ Duda Veteran ditambah:
i. Surat keterangan tidak mampu dari Lurah/ Kepala Desa.
ii. Foto copy Piagam Gelar Kehormatan.
iii. Foto copy SK Tuvet.
4. UANG DUKA WAFAT dari PENSIUNAN YANG MENINGGAL DUNIA
a. Mengisi Formulir Permintaan Pembayaran.
b. Formulir Surat Kuasa Ahli Waris.
c. Surat Keterangan Merawat dari Lurah/ Kepala Desa apabila Pemohon
bulan Anak Kandung.

Manajemen Administrasi Kepegawaian | Tabungan Hari Tua dan Dana Pensiun 198

d. Formulir Surat Pernyataan Pos/ Kantor bayar.
(Jika tidak ada Istri/ Suami dan pengajuan pada bulan yang berbeda).
e. Foto copy Surat Kematian dilegalisir Lurah/ Kepala Desa.
f. Foto copy Surat Nikah dilegalisir Lurah/ Kepala Desa/ KUA.
g. Foto copy SK Pensiun.
h. Foto copy bintang jas dilegalisir Ajen/ Lembaga yang berwenang.
i. Asli dan foto copy KARIP.
j. Foto copy KTP Pemohon.
k. Pasphoto terbaru ukuran 3 x 4 cm = 1 lembar.
l. Foto copy Kartu Keluarga (KK) Pemohon.
5. TUNJANGAN VETERAN
a. Mengisi Formulir Permintaan Pembayaran.
b. Formulir SPTB berpasphoto.
c. Foto copy piagam gelar kehormatan.
d. Foto copy SK Tuvet dilegalisir KAMINVET.
e. Foto copy pendaftaran calon PENTUVET.
f. Surat keterangan tidak mampu dari Lurah/ Kepala Desa.
g. Foto copy KTP Pemohon.
h. Foto copy Surat Nikah.
i. Hadir di PT Taspen (Persero) dan bersedia untuk wawancara.
j. Pasphoto terbaru ukuran 3 x 4 cm (Peserta 2 lembar / suami/ Istri 1
lembar)
6. SP3 B (PENSIUN TIGA BULAN TIDAK DIAMBIL)
a. Mengisi Formulir Permintaan Pembayaran.
b. FormulirSPTB berpasphoto.
c. Formulir Kejandaan.
d. Daftar Mutasi II dari Kantor Bayar.
e. Foto copy SK Pensiun.
f. Foto copy Karip.
g. Foto copy KTP.
7. PENSIUN PINDAHAN/TIDAK MUNCUL
a. Mengisi Formulir Permintaan Pembayaran.
b. Formulir SPTB berpasphoto.
c. Formulir Kejandaan.
d. Formulir Pernyataan Pos.
e. Foto copy SKPP dari Taspen Asal.
f. Asli dan Foto copy SK Pensiun.
g. Asli dan foto copy Karip.
h. Pasphoto terbaru berukuran 3 x 4 cm.
i. Foto copy KTP.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Tabungan Hari Tua dan Dana Pensiun 199

G. PERSYARATAN PENGAJUAN KLAIN ASURANSI
1. PEGAWAI AKTIF KELUAR/PENSIUN BUMN
a. Mengisi Formulir Permintaan Pembayaran.
b. Foto copy Surat Keputusan Pengangkatan I/ Capeg.
c. Foto copy Surat Keputusan yang menunjukan pokok gaji terakhir.
d. Foto copy SK. Pemberhentian Instansi.
e. Surat Keputusan Pemberhentian Pembayaran (SKPP) Gaji.
f. Asli Kartu Taspen bagi yang keluar tanpa Hak Pensiun.
g. Foto copy KTP yang masih berlaku.
2. PEGAWAI AKTIF MENINGGAL DUNIA
a. Mengisi Formulir Permintaan Pembayaran.
b. Mengisi Blanko Keterangan Ahli Waris.
c. Kutipan Perincian Penerimaan Gaji/ SKPP.
d. Foto copy Surat Kematian Legalisir Lurah.
e. Foto copy Surat Nikah diketahui Lurah/ Kepala Desa (asli dibawa saat
mengajukan haknya).
f. Foto copy Surat Keputusan yang menunjukkan gaji pokok terakhir.
g. KTP yang masih berlaku.
h. Foto copy Kartu Taspen.
i. Foto copy SK Pengangkatan Pertama/ SK CAPEG.
j. Tembusan Usul SK Janda/ Duda dari instansi.
3. KELUARGA PEGAWAI AKTIF MENINGGAL DUNIA
a. Mengsi Formulir Permintaan Pembayaran.
b. Foto copy Surat Kematian legalisir lurah.
c. Kutipan Perincian Penerimaan Gaji.
d. Foto copy Surat Keputusan yang menunjukkan pokok gaji terakhir.
e. Foto copy Surat Nikah bila istri meninggal legalisir Lurah/ Kepala Desa.
f. Foto copy Kartu Taspen/ Karpeg.
g. KTP yang masih berlaku.
h. Foto copy Surat Kelahiran/ Akta lahir bila anak meninggal lagalisir Lurah/
Kepala Desa.
i. Bagi anak yang meninggal usia 21 tahun, masih tertunjang dilengkapi
Surat Keterangan Kuliah.
4. KELUARGA PENSIUN MENINGGAL DUNIA (ISTRI/SUAMI DAN ANAK)
a. Formulir Permintaan Pembayaran.
b. Foto copy Surat Keputusan Pensiun Pertama.
c. Foto copy Surat Kematian legalisir Lurah/ Kepala Desa.
d. Foto copy Surat Nikah apabila yang meninggal istri legalisir Lurah/
Kepala Desa.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Tabungan Hari Tua dan Dana Pensiun 200

e. Foto copy KARIP/ Buku Pensiun apabila yang meninggal istri.
f. Foto copy Surat Kelahiran apabila yang meninggal anak legalisir Lurah/
Kepala Desa, jika anak berusia 21 -25 tahun dan masih
tertunjangdilampiri SKS.
g. Foto copy KTP yang masih berlaku.
h. Mengisi Blanko Suarat Kuasa Ahli Waris, apabila pemohon anak
kandung/ saudara/ orang tua.
H. PERHITUNGAN THT
1. Hak THT
Rumus hak peserta berhenti karena pensiun
HAK = (0,60 x MI1 x P1) + {0,60 x MI2 x (P2 P1)}
Rumus hak peserta yang berhenti karena meninggal dunia sebelum
pensiun
HAK = (0,60 x Y1 x P1) + {0,60 x Y2 x (P2 P1)}
Rumus hak pension berhenti karena sebab lain
HAK = (Faktor1 x P1) + { Faktor2 x (P2 P1)}
Hak ASKEM
2. Peserta
HAK = {2 x (1 + 0,10 B/12)}P2
Suami/Istri Peserta
HAK = {1,5 x (1 + 0,10 C /12)}P2
Anak
HAK = {0,75 x (1 + 0,10 C/12)}P2
Keterangan:
MI masa iur adalah masa iur sejak diankat menjadi peserta sampai
berhenti
MI1 Masa iur dari CPNS sampai dengan BUP
MI2 Masa iur sejak 1 Januari 2001 sampai dengan berhenti
P Penghasilan adalah penghasilan terakhir, terdiri dari gaji
pokok, tunjangan istri/suami dan anak
P1 Penghasilan (Gaji dan Tunjangan istri/suami dan anak) PNS
menurut Peraturan Gaji PP 6 Tahun 1997
P2 Penghasilan (Gaji dan Tunjangan istri/suami dan anak) PNS
menurut Peraturan Gaji PP 26 Tahun 2001
Y Adalah selisih BUP (56 th) dan usia saat menjadi peserta
CPNS. Jika usia saat meninggal dunia lebih dari 56 tahun,
maka Y adalah selisih antara saat meninggal dunia dengan usia
menjadi peserta.
Y2 Adalah selisih antara BUP (56 tahun) sampau usia pada
Januari 2001
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Tabungan Hari Tua dan Dana Pensiun 201

B Adalah jumlah bulan yang dihitung dari tanggal peserta
diberhentikan dengan hak pensiun sampai dengan peserta
meninggal dunia. Apabila peserta aktif meninggal dunia, maka
B=0
C Adalah jumlah bulan yang dihitung dari tanggal peserta
diberhentikan dengan hak pensun atau meninggal dunia
sampai dengan tanggal suami/istri/anak meninggal dunia. Bila
meninggal dunia saat masih aktih maka C=0
Faktor Adalah besaran yang nilainya tergantung masa iuran dan tahun
berhenti sebagai peserta
Faktor 1 Faktor yang dihitung berdasarkan MI1
Faktor 2 Faktor yang dihitung berdasarkan MI2


Manajemen Administrasi Kepegawaian | Audit kepegawaian 202

XLVI. AUDIT KEPEGAWAIAN

Dalam perspektif manajemen, pada hakekatnya pengawasan merupakan upaya yang
dilakukan secara sistematis dalam mengendalikan pelaksanaan kegiatan
penyelenggara negara agar berjalan sesuai dengan rencana ketentuan-ketentuan
yang berlaku dan dan memenuhi asas efisiensi dan efektifitas yang mengandung
pengertian untuk menjaga stabilitas dan keseimbangan
Perencanaan > pelaksanaan > pengawasan
1. Kegiatan diawali dengan perencanaan
2. Setelah rencana ditetpkan untuk dilaksanakan
3. Dalam pelaksanaan perlu dilakukan pengawasan (untuk menjamin kesesuaian
antara perencanaan dengan peklaksanaan
4. Hasil dari pengawasan merupakan feedback dalam membuat perencanaan
A. PENDAHULUAN
Pengawasan sangat diperlukan bagi setiap organisasi untuk menjamin pelaksanaan
tugas dan fungsi sesuai dengan rencana dan peraturan per undangan-undangan.
Pengawasan adalah seluruh proses kegiatan audit, review, pemantauan dan evaluasi
terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi berdasarkan tolok ukur dan
ketentuan yg berlaku.
Pengawasan dan pengendalian kepegawaian dilakukan untuk meminimalisir
penyimpangan dan pelanggaran yang terkait dengan bidang kepegawaian, sehingga
dapat memberikan jawaban terhadap tuntutan dan pengaduan masy. Yang tidak
puas untuk memperoleh solusi atas berbagai masalah pengawasan dan pengendalian
perlu dioptimalkan hal-hal mendasar yang dimulai dengan komitmen awal dari
pimpinan dalam menjunjung penegakan hukum.
Audit adalah proses identifikasi masalah, analisis dan evaluasi bukti yg dilakukan scr
independen, obyektif & profesional, utk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas,
efektifitas, efisiensi dan keandalan informasi pelaksanaan tugas & fungsi (di bidang
kepegawaian)
Pengawasan intern bidang kepegawaian ditujukan dlm rangka memberikan
keyakinan yg memadai bhw kegiatan kepegawaian telah dilaksanakan sesuai
peraturan/ketentuan dan tolok ukur yg telah ditetapkan secara efektif & efisien
untuk kepentingan pimpinan dlm mewujudkan pemerintahan yg baik.
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Audit kepegawaian 203

B. PARADIGMA PENGAWASAN
Tidak mencari-cari kesalahan melainkan identifikasi kesalahan atau
penyimpangan untuk perbaikan
Pemberian bimbingan pada kinerja organisasi, bukan hanya pada proses
administrasi
Tidak berorentasi pada jumlah melainkan pada mutu temuan laporan
Kurang bermakna jika tidak ditindaklanjuti
C. PRINSIP PENGAWASAN
1. Harus obyektif dan mengasilkan fakta
2. Pengawas adalah menilai ada atau tidak ada penyimpangan dalam
pelaksanaan kegiatan sesuai dengan yang telah digariskan pimpinan
3. Bersifat preventif dan atau reprensif
4. Sebagai sarana untuk mengendalikan keadaan organisasi
5. Menemukan kesalahan bukan mencari kesalahan
6. Perlu adanya tindak lanjut.
D. INSTRUMEN
Norma standar dan prosedur (nsp) yang diatur dalam peraturan perundang-
undangan di bidang kepegawaian
Data awal pengangkatan cpns dan dokumen mutasi lainnya
Laporan kepegawaian
Personil atau aparat pengawasan kepegawaian
E. TUJUAN
Menghindari sedini mungkin terjadinya penyimpangan, pemborosan,
penyelewengan, hambatan, kesalahan dan kegagalan dalam mencapai tujuan
dan pelaksanaan tugas organisasi
Mendukung kelancaran dan ketepatan pelaksanaan kegiatan pemerintahan
dan pembangunan
F. OBYEK PENGAWASAN
Mutasi kepegawaian atau menejemen pembinaan kepegawaian dari
pengadaan sampai dengan pemberhentian
Disiplin
Pelayanan pns kepada masya
G. LANDASAN HUKUM
1. Pasal 34 Undang-Undang nomor 43 tahun 1999 tentang perubahan atas uu
no. 8 tahun 1974 tentang pokok-pokok kepegawaian
Manajemen Administrasi Kepegawaian | Audit kepegawaian 204

2. Pasal 28 peraturan pemerintah nomor 9 tahun 2003 tentang wewenang
pengangkatan, pemindahan dan pemberhentian PNS.
3. Peraturan MENPAN nomor 19 tahun 2009 tentang jabatan fungsional
penyelenggaraan pengawasan pemerintah di daerah
4. Peraturan kepala BKN nomor 15 tahun 2011 tentang pedoman audit
kepegawaian
Sesuai dengan ketentuan permendagri nomor 23 th 2007 tentang tatacara
pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah
Antara lain dilakukan pengawasan terhadap :
1. Kebijakan daerah
2. Kelembagaan
3. Pengawai daerah
4. Keuangan daerah
5. Barang daerah
H. JENIS AUDIT
AUDIT REGULER adalah kegiatan pemeriksaan yg dilakukan secara tetap thd
pelaksanaan administrasi kepegawaian
AUDIT INVESTIGATIF dilakukan lebih mendalam thd masalah yg menjadi
fokus perhatian Pimpinan dan/atau atas pengaduan masyarakat untuk
memberikan kesimpulan.
AUDIT REVIEW dilakukan peninjauan atas hasil audit yg telah dilakukan krn
diperolehnya bukti baru yg perlu diteliti dan dipertimbangkan.