Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN ETNOGRAFI

MOVE! PROJECT (Monsheva & Kuvera Company)


Commmunity Project SBM ITB 2015 Desa Rawagempol Wetan Kec. Cilamaya Kab. Karawang

Jenis Kegiatan : Observasi Etnografi
Tanggal Pelaksanaaan : 29 Mei 2014
Pelaksana : Seluruh Anggota.
Daerah Observasi : Desa Rawagempol, Kec. Cilamaya, Kab. Karawang.
Pada kunjungan kali ini, kami melakukan observasi untuk mengetahui etnografi yang ada di
Desa Rawagempol. Hal yang menjadi objek observasi etnografi mencakup ketiga elemen,
yaitu meneliti Place, People dan Activity di desa, sehingga pada akhirnya kami dapat
mengetahui cara berfikir dan perilaku masyarakat desa secara keseluruhan beserta status dan
peran yang ada di dalam masyarakat.
Tim Observer dibagi menjadi 4 sesuai dengan jumlah dusun yang akan diteliti. Berikut adalah
nama-nama anggota yang melakukan observasi :
Rawabebek
Wenty
Jafar
Matahari
Rodeta
Garuda
Jeruksimer
Canthika
Ichsan
Aditya (Pepo)
Juni
Faishal (Set)
Augy

Sentiong
Senator
Widi
Arif
Munaya
Zulwiyoza
Rawagempol
Yoga
Benidiktus
Avenzoor
Radha
Nurul

DUSUN RAWABEBEK
Dusun Rawabebek merupakan Dusun yang memiliki cakupan daerah terluas di Desa
Rawagempol. Terdiri dari 5 RT; yaitu RT 18, RT 19, RT 20, RT 21, dan RT 22.
Secara keseluruhan, aktivitas masyarakat di dusun ini terbagi dua. Masyarakat di RT 18
dan 19 banyak yang berprofesi sebagai produsen kue camilan tradisional. Sedangkan
masyarakat di RT 20, 21 dan 22 banyak yang berprofesi sebagai petani, buruh tani, kuli
pabrik, pekerja catering, dan kuli bangunan. Sebagian besar, para pemuda bekerja
sebagai buruh dan bapak yang sudah tua biasanya bekerja di sawah. Ada pula yang
bekerja di luar negeri, tapi hanya 4-5 orang di setiap RT nya.
Produksi kue camilan tradisional yang terletak di RT 18 dan RT 19 sudah cukup tersebar
distribusinya. Salah satu jenisnya yaitu Opak dan Rengginang telah didistribusikan ke
daerah Cikampek, Cibungur dan Purwakarta. Terdapat kurang lebih 45 jenis kue
camilan tradisional yang diproduksi, diantaranya Wajit, Dodol, Bika, Cimplo, Tengteng,
Carak, Surabi kecil, dan Kue Mangkok. Biasanya, dusun maupun desa lain akan
memesan kue camilan tradisional untuk syukuran ke Dusun Rawabebek. Terdapat 11
keluarga produsen di RT 18 dan 10 produsen di RT 19. Akan tetapi, kue camilan
tradisional yang diproduksi belum memiliki merek dan kemasan yang bagus, serta
belum terdaftar di Badan Pengawas Makanan setempat.
Diceritakan, kue camilan inilah yang menarik hati para tamu asing dari 10 negara Asean
yang datang ke Desa Rawagempol Wetan. Menurut Bapak Ketua RT 18, setiap
produsen akan diberikan modal usaha hingga Rp 10.000.000.
Aktivitas rutin masyarakat yang berprofesi sebagai produsen kue camilan tradisional
kurang lebih serupa. Jika tidak ada pesanan kue camilan lain, pada pada waktu subuh
hingga pagi hari mereka membuat adonan rengginang atau opak. Produksi ini tidak
hanya dilakukan oleh para ibu dan anak perempuan, namun juga para bapak dan anak
laki-laki. Siang hari, masyarakat beristirahat sambil menjemur adonan. Kemudian pada
sore hari adonan itu diangkat, digoreng, dan dikemas dengan plastik.
Rata-rata, produksi yang dihasilkan setiap harinya dari keseluruhan desa untuk opak
adalah 1 gantang, yaitu sekitar 70 bungkus. Sedangkan untuk Rengginang bisa
mencapai 3 gantang. Satu bungkus dijual seharga Rp 3.000 rupiah kepada distributor.
Produksi opak lebih sedikit karena prosesnya lebih sulit dibandingkan dengan
rengginang.
Apabila terdapat syukuran maupun pembangunan sarana publik seperti musholla di
desa, masyarakat membantu dengan gotong royong.
Tingkat pendapatan rata-rata setiap keluarga berkisar Rp 20.000 Rp 50.000 setiap
harinya, dan itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, ada pula
pemilik lahan di RT 21 dan pengusaha udang di RT 22 yang memiliki penghasilan jauh di
atas rata-rata masyarakat
Di RT 20, 21, dan 22, pada siang hari masyarakat terutama kaum lelaki bekerja di
sawah. Terlebih karena pada saat observasi, Desa Rawagempol Wetan sedang
mengalami masa panen. Sebagian besar, para Ibu mengurusi rumah tangga dan ada
pula yang membuka warung. Pemudi, jika tidak membantu Ibunya, berdiam saja di
rumah.
Masyarakat Dusun Rawabebek yang sebagian besar merupakan para petani ini
memproduksi beras dengan kualitas yang sangat baik, namun makan dengan raskin. Di
RT 22, setiap bulannya masyarakat mendapatkan 5 liter raskin. Jika raskin belum
memenuhi, masyarakat juga mengambil padi dari lahan yang telah dipanen. Hal ini
boleh dilakukan karena pengolah lahan sudah tidak mempedulikan padi yang tumbuh
setelah waktu panen.
Pandangan tim observer :
Tim Observer menilai bahwa produksi kue camilan tradisional yang ada di Dusun Rawabebek
bisa dijadikan ide proyek komunitas yang menarik, dengan mengajarkan pada masyarakat
untuk membuat kemasan dan merek yang lebih menarik agar memberikan nilai jual yang lebih
tinggi bagi produk camilan tersebut.

DUSUN JERUKSIMER
Dusun Jeruksimer terbagi menjadi 5 wilayah; yaitu RT 05, 06, 07, 08, 09 dan 24. RT 24
letaknya cukup jauh dan berbatasan langsung dengan Desa Sukatani.
Mayoritas masyarakat Dusun Jeruksimer bekerja sebagai buruh pabrik dan buruh tani,
mengingat bidang pertanian merupakan lahan pekerjaan yang paling dominan di Desa
Rawagempol Wetan. Tak berbeda jauh dengan dusun lainnya, para Ibu banyak
beraktivitas di rumah dan juga membuka warung kecil-kecilan. Di dusun ini pula, rutin
dilaksanakan pengajian Ibu-Ibu setiap hari Senin. Diceritakan, beberapa waktu yang
lalu ada tim KKN mahasiswa yang mengadakan pelatihan memasak untuk para Ibu di
desa Jeruksimer.
Dusun Jeruksimer merupakan satu-satunya dusun yang mengelola proses
penggilingan padi karena memiliki 3 buah mesin yang dapat membantu proses
penggilingan tersebut. Dari hasil penggilingan, terdapat 2 jenis limbah yang dihasilkan,
yaitu ampas padi dan cangkang padi. Ampas padi dapat langsung diberikan kepada
unggas sebagai pakan, namun tidak halnya dengan cangkang padi. Cangkang padi
dapat melukai unggas hingga menyebabkan kematian karena tersedak. Sehingga,
dalam tahapan selanjutnya, ampas padi dan cangkang padi ini (dalam bahasa
daerahnya disebut uut) disuplai kepada seorang pengusaha di Dusun Rawagempol yaitu
Pak Uus, hingga akhirnya menjadi dedak. Di dalam proses penggilingan tersebut, dapat
dihasilkan 3000 kilogram uut setiap harinya ketika musim panen.
Selain itu, di Dusun Jeruksimer terdapat tempat peternakan lele yang dikelola oleh
Pak Guru Ade. Ia memiliki 6 buah kolam dengan berbagai ukuran yang berbeda, mulai
dari 2x2 meter, 3x3meter, hingga 6x2 meter. Dengan perhitungannya, satu kolam
dapat dijadikan lahan ternak lele hingga 20.000 bibit per waktu tanam, yang dikelola
selama 3 bulan. Hasil distribusinya pun sudah terjangkau luas hingga ke daerah Pantura
dan Subang karena rasa lelenya yang enak. Biasanya, distribusi dilakukan secara pribadi
untuk menjangkau para pedagang pecel lele, dan kadangkala lele diambil oleh para
tengkulak. Harga jual yang ditawarkan bagi para tengkulak berkisar Rp 18.000 ker
kilogram (per kilogramnya ada sekitar 7 lele) dan Rp 15.000 per kilogram untuk para
pedagang pecel lele. Hal yang menjadi permasalahan bagi peternak lele adalah banjir
karena dapat menenggelamkan kolam-kolam kecil yang berukuran 2x2 dan 3x3 meter
miliknya, sehingga bibit lele pun mati. Selain itu, Pak Guru Ade juga belum tergabung
dalam koperasi sehingga terbatas dalam pengembangan maupun juga modalnya.
Pandangan tim observer :
Tim observer menilai bahwa produksi lele yang dilakukan secara pribadi ini dapat
dikembangkan menjadi peluang usaha bagi masyarakat desa yang berskala besar dan juga
dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa.

DUSUN SENTIONG
Tim observer Dusun Sentiong meneliti 3 aktivitas yang dilakukan masyarakat di daerah
tersebut, antara lain kegiatan masyarakat di bidang pertanian, produsen jamur
merang, dan produsen tempe.
Kegiatan masyarakat di bidang pertanian secara umum terbagi menjadi 4 jenis
pekerjaan. Pertama, adalah para pemilik lahan. Kedua, adalah para penggarap. Para
penggarap biasanya tidak memiliki lahan untuk menanam padi, namun memiliki
kesepakatan bagi hasil dengan para pemilik sehingga mereka dapat menanam padi di
lahan milik mereka. Ketiga, adalah para buruh tani. Buruh tani adalah masyarakat yang
digaji oleh para penggarap untuk melakukan berbagai aktivitas pertanian di lahan yang
mereka garap sampai padi siap dipanen. Yang terakhir, adalah para pengeprik. Mereka
mengambil gabah sisa dari lahan padi yang telah ditinggalkan oleh para penggarap
setelah musim panen.
Terdapat beberapa istilah dan sistem pertanian yang kami temukan, khususnya di
Dusun Sentiong. Yang pertama, terdapat sistem tebas per hektar yang dihargai sebesar
Rp 17-21 juta per hektar bagi para penggarapnya. Hal ini disebut nyeblok. Adapun bagi
buruh tani, mereka diberi gaji Rp 200.000 per rorak (baris). Terdapat pula istilah rojeng,
yaitu pencurian padi dengan langsung memotong padi tersebut di sawah. Hal ini terjadi
akibat adanya kesenjangan dan kecemburuan sosial di masyarakat. Di Dusun Sentiong
juga terdapat kebiasaan untuk makan bersama untuk merayakan keberhasilan pasca
panen dengan menyajikan hiburan wayang purwa. Adapaun jenis beras yang biasanya
diproduksi yaitu beras pandanwangi yang dapat diproduksi hingga 2 kali panen per
tahun, yang dapat dijual mulai dari harga Rp 6.500 hingga Rp 7.000 per kilogram.
Selanjutnya, terdapat aktivitas yang cukup unik di Dusun Sentiong, yaitu produksi
jamur merang. Produksi ini telah dimulai dari tahun 2001, namun untuk
pengembangannya terhalang pembiayaan modal karena tidak cukup dipercayai oleh
Bank akibat ketiadaan SOP, izin MUI, GAP, dan izin usaha dari Deperindag maupun
Dinas Pertanian yang seharusnya dimiliki. Proses produksi yang dilakukan dilakukan
dengan cara ngebrak,yaitu dengan sistem produksi sekaligus (per kwintal). Jumlah
produksi yang dilakukan dapat mencapai 2 kwintal jamur dan berlangsung selama satu
bulan. Adapun harga yang ditawarkan beragam tergantung dengan kualitas jamurnya.
Jamur dengan kualitas KW-1 mencapai Rp 25.000/kilogram jika dijual ke bandar dan Rp
21.000 hingga Rp 22.000/kilogram jika dijual ke supplier. Supplier mendapatkan harga
yang lebih murah karena merekapun ikut membiayai produksi jamur. Sedangkan untuk
jamur dengan kualitas KW-2 dapat dijual hingga Rp 15.000/kilogram. Keuntungan
bersih yang dapat diperoleh mencapai Rp 1.000.000 perbulannya.
Hal yang menjadi keunikan produksi jamur merang terletak pada cara distribusi dan
rumah produksinya (dalam bahasa daerahnya disebut kumbung). Distribusi jamur
dilakukan dengan cara merendam jamur di dalam boks berisi air, sehingga ketika
sampai di pasar, jamur masih berada dalam keadaan segar. Selain itu, di dalam
perjalanan itu jamur masih dapat berkembang dan menambah timbangan hingga 2
kilogram per boksnya. Dengan cara ini, jamur merangpun dapat bertahan hingga 36
jam dalam masa penjualan. Adapun kumbung yang di buat untuk produksi jamur ini
berukuran 4x7 meter dan dapat berupa 2 jenis, yaitu kumbung dari bahan gabus bekas
TV dan bahan pipa cor. Kumbung dari gabus hanya dapat bertahan hingga 2-3 tahun,
dan setelah itu produsen harus membuat kumbung baru seharga Rp 10-11 juta (sudah
termasuk jerami). Adapun kumbung dari bahan pipa cor dapat bertahan dalam jangka
waktu yang sangat lama hingga 20 tahun, dengan investasi di awal sekitar Rp 25 juta.
Selain pertanian dan produksi jamur merang, terdapat pula produksi tempe yang
dilakukan oleh Pak Hendi. Usaha ini telah berlangsung selama 6 tahun. Karena kualitas
kedelai lokal kurang baik, maka ia menggunakan kedelai impor yang didapatkannya
dari pengusaha Cina di Cimalaya. Menurut pengakuannya, usaha yang dilakukannya ini
belum mendapatkan pengarahan maupun modal dari koperasi kelompok tani yang ada
di Desa Rawagempol Wetan.
Hal yang menjadi kesulitan bagi produksi jamur maupun tempe ini selain ketiadaan izin
resmi dari pihak terkait juga tidak ada koperasi yang menampung hasil produksi
maupun juga memberikan pinjaman modal dan bahan baku yang dibutuhkan oleh
produsen. Harga yang ditawarkanpun menjadi tidak stabil karena ketiadaan
perlindungan harga.
Pandangan tim observer :
Tim observer menilai bahwa produksi jamur dan tempe perlu mendapat perhatian dan bantuan
dalam perizinan usaha agar mudah mendapatkan modal usaha, karena produksi dalam bidang
usaha pokok ini cukup menghasilkan, selain itu dapat pula dikembangkan sebuah koperasi
yang mengakomodir kegiatan usaha tersebut.

DUSUN RAWAGEMPOL
Dusun Rawagempol terdiri dari 6 RT, antara lain RT 05-06, RT 12, RT 13, RT 14, RT 15,
RT 16, dan RT 17.
Mayoritas masyarakat Dusun Rawagempol berprofesi sebagai petani. Mereka berasal
dari Cilamaya dan memiliki keturunan etnis Jawa. Adapun dari budaya, masyarakat
Dusun Rawagempol menginduk pada budaya Indramayu dan Cirebon. Selain dari
masyarakat asli, terdapat pula para pedagang berketurunan Cina yang melakukan
investasi terutama di daerah pasar dan pertanian. Selain bertani, merekapun
melakukan aktivitas di dalam bidang perdagangan, meskipun menurut sebagian orang
perdagangan sulit dilakukan karena ketiadaan modal. Dari keempat dusun di Desa
Rawagempol Wetan, Dusun Rawagempol tergolong ramai dan banyak terdapat
aktivitas perekonomian karena berada di tengah-tengah pemerintahan dan dilalui oleh
jalan utama.
Dari hasil observasi di daerah pertanian, anggota Gapoktan adalah para pemilik lahan
yang kedudukannya dihormati oleh masyarakat setempat. Sebagian besar aktivitas
pertanian yang dilakukan sudah tergolong modern dan juga telah memakai traktor
untuk meningkatkan produktivitasnya. Informasi detail yang didapatkan, untuk setiap
buruh tani di Dusun Rawagempol, mereka mendapatkan upah Rp 10.000 perharinya
dengan jam bekerja dari pukul 7 pagi hingga pukul 4 sore. Upah untuk kegiatan tandur
berkisar kurang lebih Rp 800.000 per hektar, untuk 20 hingga 30 orang. Biasanya,
tandur dilakukan oleh buruh perempuan. Sedangkan, upah untuk menggemburkan
tanah menjelang masa tanam dengan menggunakan traktor dihargai dengan upah Rp
500.000 per hektar, biasanya dilakukan oleh 20 hingga 30 orang buruh laki-laki. Jenis
pupuk yang digunakan untuk pertanian adalah pupuk kujang.
Di Dusun Rawagempol, terdapat produksi dedak yang dikelola oleh Bapak Haji Uus.
Setiap harinya, beliau dapat memproduksi hingga 60-80 ton dedak yang dengan
produksinya tersebut belum juga dapat memenuhi permintaan pasar yang mampu
mencapai 100 ton setiap harinya dari hampir seluruh daerah di Jawa Barat. Hampir 90
persen suplai bahan baku berasal dari limbah pertanian yang ada di Desa Rawagempol
Wetan dan desa-desa di sekitarnya, sedangkan 5-10% lainnya berasal dari Palembang
dan daerah Sumatera, jumlahnya tidak terlalu banyak karena bahan bakunya tidak
terlalu baik jika dibandingkan dengan yang diperoleh di sekitar desa. Ada sekitar 60
karyawan yang beliau pekerjakan di waktu produksi pukul 9 pagi hingga pukul 2 malam,
yang hampir 80 persennya merupakan warga Desa Rawagempol Wetan. 20 persennya
berasal dari daerah Garut dan Tasikmalaya. Alasan beliau mempekerjakan warga dari
luar daerah adalah agar produksi masih terus berjalan di musim panen, yang
mengakibatkan sebagian besar pekerjanya ikut membantu proses panen. Dengan
mempekerjakan hampir sebagian besar buruh dari Desa Rawagempol Wetan, beliau
berpendapat bahwa ia dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat
disamping mengelola bisnis yang bahan bakunya juga berasal dari lahan masyarakat.
Selain itu, kegiatan yang selalu dilakukan oleh masyarakat terutama para Ibu adalah
pengajian yang diadakan setiap hari Rabu. Ada pula Pasar Kaget yang dilaksanakan
oleh pemerintahan desa setiap malam kamis.Terdapat organisasi karang taruna yang
biasanya mengakomodir kegiatan-kegiatan olahraga.
Setiap bulannya selalu diadakan koperasi keliling, namun belakangan koperasi ini selalu
tidak jalan karena belum ada persatuan dan sering memiliki perbedaan pendapat antar
warga yang mengelola maupun yang menjadi anggota.
Tidak ada transportasi umum yang melewati desa, sehingga masyarakat selalu
meggunakan kendaraan priibadi sebagai alat transportasi.
Mayoritas air yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga menggunakan sumur
bor. Selain itu, tidak ada tempat penampungan umum untuk sampah, baik di Dusun
Rawagempol maupun Desa Rawagempol Wetan. Sampah biasanya dikumpulkan oleh
masing-masing keluarga untuk kemudian dibakar di belakang rumah. Belakangan, kami
mengobservasi bahwa ternyata terdapat sebuah lahan cukup luas yang digunakan
untuk membakar sampah rumah tangga dengan kondisi yang cukup mengkhawatirkan
dan tanah yang ditempatinya sudah tidak subur lagi.
Pandangan tim observer :
Tim observer menilai bahwa permasalahan sampah dan pengelolaaannya dapat menjadi isu
yang menarik untuk dikembangkan karena implikasinya ternyata berpengaruh kepada banyak
hal di Desa Rawagempol Wetan, salah satunya adalah banjir yang merugikan bagi aktivitas
pertanian.

LAPORAN FGD-1
MOVE! PROJECT (Monsheva & Kuvera Company)
Commmunity Project SBM ITB 2015 Desa Rawagempol Wetan Kec. Cilamaya Kab. Karawang

Jenis Kegiatan : Focus Group Discussion-1 (FGD-1)
Tanggal Pelaksanaaan : 30 Mei 2014
Tempat Pelaksanaan : Ruang Serbaguna Kantor Desa Rawagempol Wetan.
Pelaksana Kegiatan : Senator, Garuda, Faishal, Nurul, Avenzoor, Jafar, Wenty.
Pihak yang diundang : Bapak Kepala Desa (Bapak H. Udin), Bapak Ketua Gapoktan
(Pak De Suparta), Bapak Ketua Karang Taruna (Bapak Ibrahim).

HASIL PEMBAHASAN FGD-1
Bidang Pertanian, Produksi, dan Peternakan
- Irigasi yang baik menjadi salah satu faktor keberhasilan produksi padi di desa
Rawagempol Wetan. Akan tetapi, kadangkala tanggul di irigasi ini jebol dan juga
terdapat banyak sampah yang menyumbat aliran airnya sehingga
mengakibatkan banjir yang sangat merugikan karena menggenangi bibit pertanian
maupun juga merendam wilayah desa secara keseluruhan.
- Pemerintah desa menilai bahwa para kaum ibu harus dapat mandiri dan tidak
bergantung dari penghasilan suami saja, terlebih karena pada musim-musim
yang tidak panen, para buruh sering menganggur sehingga tidak dapat
memberikan penghasilan bagi keluarga. Oleh karena itu, pemerintah desa
memberikan pengarahan bagi para ibu untuk mengembangkan keterampilan
pembuatan kue camilan tradisional yang dapat dijual. Aktivitas ini masih
dilakukan di RT 18 dan RT 19 Dusun Rawabebek. Distribusi yang dilakukan masih
bersifat mandiri namun rencananya akan dibawahi pula oleh Gapoktan. Ternyata,
selama ini masyarakat telah cukup puas dengan proses produksi dan distribusi
yang dilakukan. Oleh karenanya, mereka tidak terlalu ambil pusing dengan
ketentuan yang harus dipenuhi seperti perizinan makanan, maupun juga ide yang
dapat mengembangkan usaha menjadi lebih baik seperti efisiensi produksi,
branding, maupun yang lainnya. Namun, untuk meningkatkan produksi,
pemerintah desa juga sedang menunggu persetujuan proposal untuk modal dan
izin produksi, izin MUI, dan kemasan kue camilan tradisional ini.
- Aktivitas peternakan telah banyak dilakukan di desa, namun masyarakat belum
mengembangkannya dalam skala besar karena masih memiliki kekurangan pada
ilmu pengembangbiakannya.
- Koperasi tani didirikan sebagai otonomi untuk membantu penyediaan bahan-
bahan yang dibutuhkan dalam pertanian, seperti pupuk dan herbisida. Segala
kebutuhan ini diajukan dari proses RKK (Rencana Keuangan Kerja)
- Penggarap sawah seringkali berganti dalam rentang waktu tertentu, sehingga
yang paling tahu keadaan sebuah lahan sawah tersebut secara tetap adalah para
ketua dari kelompok tani. Berikut adalah daftar ketua kelompok tani :

Nama Kelompok Tani Nama Ketua Alamat
Sri Asih H. Iwan Mulyana Dusun Jeruk Simer
Sri Gelonggong H. Abdurrahman Dusun Rawabebek
Sri Kendal H. Muhyi Dusun Rawabebek
Sri Kepuk 1 H. Dawing Dusun Rawabebek
Sri Kepuk 2 Raswin Dusun Jeruk Simer
Sri Makmur Ratam Sugiar Dusun Jeruk Simer
Sri Mulya Mamad Dusun Jeruk Simer
Sri Mukti H. Agus Sopandi Dusun Sentiong

- Terdapat sebuah ketentuan untuk tidak mengambil buruh tani dari luar desa,
kecuali apabila sudah tidak memenuhi permintaan buruh dari para penggarap
lahan.

Aktivitas dan Keseharian Masyarakat
- Masyarakat terbiasa meminjam uang dari Bank Harian untuk kebutuhan makan
sehari-hari dan pinjaman modal. Oleh pemerintah desa, praktek ini dinilai merugikan
bagi warga karena bunganya yang sangat besar. Pemerintah desa telah menawarkan
program koperasi sebagai solusi pengganti Bank Harian, akan tetapi masyarakat
tetap lebih senang meminjam uang dari Bank Harian ini.
- Pak Kades menjelaskan jika partisipasi warga desa sangat minim. Contohnya terdapat
pada program ronda desa. Untuk program ini, Pak Kades mengajukan pilihan untuk
membayar kuli ronda atau masyarakat melakukan ronda secara bergilir. Akan tetapi
kedua cara ini mengalami kegagalan. Hambatannya, masyarakat tidak mau membayar
kuli ronda dan juga ketika dilaksanakan ronda secara bergilir, masyarakat mengeluh
karena mereka telah beraktivitas di siang hari.
- Selain partisipasi masyarakat yang minim, mental masyarakatpun semakin lemah,
dalam artian masyarakat hanya ingin melakukan pekerjaan yang mudah tanpa harus
bekerja keras. Contohnya dalam bidang pertanian, ketika seharusnya masyarakat yang
tidak memiliki lahan bekerja sebagai buruh tani, mereka lebih memilih untuk
menghindari proses produksi tersebut dan mengambil keuntungan dengan menjadi
pengeprik atau memberikan sejumlah uang bagi buruh tani yang memanen agar
mendapatkan remah dari padi yang dihasilkan.
- Rasa gotong royong, kepedulian, maupun rasa hormat dan santun dari masyarakat
yang muda kepada masyarakat yang lebih tua sudah mulai luntur. Hal ini juga terlihat
ketika kami melakukan observasi, sebagian besar masyarakat tidak terlalu ramah dan
empati terhadap tamu. Padahal, apabila masyarakat mau membantu ketika ada
kesulitan pasti kelak akan berbalik balas budinya.
- Perkembangan internet mulai banyak dikenal oleh masyarakat desa, selain itu setiap
sore hari siswa SMP dan SMA sering banyak ditemui di warung internet. Adapun siswa
SD lebih sering menghabiskan waktu sore hari dengan bermain bersama di halaman
rumah. Beberapa warga dengan pendapatan yang lebih tinggi memiliki gadget yang
modern sehingga dapat lebih mudah mengakses internet.

Karang Taruna dan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
- Program karang taruna yang dilakukan di desa mencakup beragam aktivitas yang
berada dalam bidang pendidikan, agama, dan olahraga. Akan tetapi, pelaksanaannya
masih terhambat karena terhalang dari faktor SDM (pelatih) dan fasilitas
pengembangan bakat. Anggota karang taruna terdiri dari masyarakat yang berusia 20
hingga 25 tahun, dan akhir-akhir ini aktivitasnya sedang mengalami masa vakum
karena kesibukan ketua yang merangkap jabatan sebagai anggota BPD. Akan tetapi,
terdapat aktivitas yang masih sering dilakukan yaitu pertandingan sepakbola setiap
sore hari antar dusun untuk menjalin silaturahim antar warga dan mengindari
perselisihan karena renggangnya hubungan.
- Lembaga-lembaga sosial masyarakat (LSM), diantaranya Gajah, GMBI (Gerakan
Masyarakat Bawah Indonesia), Hercules, Kompak, dan Laskar Merah Putih, tidak
menyerahkan AD-ART dan program yang jelas, sehingga pada implementasi di
lapangan cenderung mengarah pada hal-hal yang bersifat kriminal dan merugikan.
Mereka pun sering meminta jatah proyek dan mengklaim wilayahnya sendiri hingga
masyarakat desa seringkali resah dengan keberadaan mereka.

Saran dari Pemerintah Desa
- Terdapat saran dari pemerintah desa agar penyuluhan dilakukan dengan cara yang
meriah, jangan dilakukan dengan cara formal karena masyarakat bisa segan dan malu
bertanya. Undang juga masyarakat yang berada di lapisan menengah ke bawah, karena
biasanya jika diadakan penyuluhan yang datang hanya tokoh-tokoh penting saja.
Target yang dituju harus tepat dan jika ditujukan untuk banyak pihak, penyuluhan yang
dilakukan harus menyeluruh dan sesuai pola asuhnya, jangan hanya mendengar
pendapat dari satu pihak saja.
- Harus bisa melakukan manajemen manusia yang tepat dan pendekatan yang dilakukan
kepada masing-masing golongan tidak bisa disamaratakan.
- Jika kita akan memberi bantuan, masyarakat diundang agar pemahamannya sama.
Karena masyarakat desa sangat sensitif terhadap pemberian dana bantuan.
Sebaiknya, kita memberikan pengertian bahwa dana masih harus diusahakan, agar
tidakmemberikan harapan yang terlalu besar di awal












.
Ide dan Pandangan dari Tim Proyek Kemasyarakatan :
Pak Kades memiliki power dan interest yang besar. Akan tetapi ada orang yang sangat
mendominasi setiap forum FGD yaitu Pak De Suparta (Ketua Gapoktan). Selain itu, Pak De
Suparta sering datang mengontrol daerah pertanian yang menjadi lahan pekerjaan
mayoritas di desa, kehadiran dan intruksinya pun sangat didengar dan langsung
dilaksanakan oleh para petani. Berbeda dengan pak kades yang sering mengintruksikan
namun tidak didengar oleh masyarakat.
Dari hasil observasi dan FGD, selain tanggul jebol, permasalahan sampah juga
memberikan konribusi negatif untuk banjir yang terjadi di desa. Hal ini merupakan ide
dasar yang kami anggap realistis untuk mengembangkan proyek masyarakat. Terlebih,
berdasarkan hasil FGD, masyarakat telah sering mendapatkan penyuluhan tentang
sampah dari pemerintah namun belum terlihat perubahannya. Masyarakat desa perlu
diberikan motivasi yang khusus agar masyarakat faham. Untuk implementasinya, dapat
dibuat program penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar mengelola
sampah dengan baik karena jika tidak dikelola akan berdampak buruk bagi masyarakat.
Salah satunya dengan menyelenggarakan Pasar Rakyat dengan hiburan dangdut sambil
melakukan sosialisasi agar penyuluhan berlangsung meriah. Ada juga penyuluhan lewat
media plang, misalnya dengan menampilkan dampak lingkungan apabila masyarakat
membuang sampah akan berpengaruh kepada banjir yang terjadi di desa. Sehingga
dampaknya dapat terlihat tidak hanya dalam jangka waktu yang singkat. Terlintas juga ide
pembuatan tanggul, yang berkoordinasi dengan kelompok lain karena irigasi yang
melewati sawah di Desa Rawagempol Wetanpun melewati sawah-sawah di desa lain.