Anda di halaman 1dari 7

FISIKA EKSPERIMENTAL 1

Percobaan O.1 : Piranti Cincin Newton


Pelaksanaan Praktikum

Hari:Senin Tanggal: 28 Mei 2014 Jam:10.40-12.30



Oleh:
Winda Puji Lestari (081211331005)
Vina Puji Lestari (081211331006)
Ihfadni Nazwa (081211331126)
Diah Alfi Lailatuzzuhria (081211331133)
Faridhatul Khasanah (081211331134)
Darmawan (081211331139)

Dosen Pembimbing:
Supadi S.Si, M.Si


Laboratorium OPTIK dan aplikasi laser
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2014
PERCOBAAN PIRANTI CINCIN NEWTON UNTUK MENENTUKAN
PANJANG GELOMBANG SUMBER
CAHAYA MONOKROMATIS NATRIUM (Na)
Winda Puji Lestari
1
, Vina Puji Lestari
1
, Ihfadni Nazwa
1
, Diah Alfi Lailatuzzuhria
1
,
Faridhatul Khasanah
1
, Darmawan
1


1
Laboratorium Fisika Material, Departement Fisika,
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga Jalan Mulyorejo,
Surabaya


Abstrak

Gejala Interferensi merupakan peristiwa terjadinya perpaduan (superposisi) gelombang
ketika terdapat dua gelombang atau lebih berada ditempat yang sama pada saat yang sama.
Interferensi yang terjadi pada dua gelombang dapat menghasilkan gelombang dengan
amplitudo saling menguatkan ataupun saling melemahkan. Gejala interferensi pada lapisan
udara dalam susunan lensa ataupun gelas merupakan prinsip dasar kerja piranti cincin newton
yang menjadi perhatian pada eksperimen ini. Tujuan dari eksperimen ini ialah untuk
menentukan panjang gelombang sumber cahaya monokromatis. Melalui prinsip dasar
persinggungan antara lensa berbentuk lengkung (permukaan datar) dan lensa datar,maka
ketika seberkas sinar jatuh pada permukaan datar lensa lengkung maka sebagian akan
dipantulkan dan sebagiannya akan diteruskan tepat mengenai permukaan lengkung lensa
sehingga sinar yang diteruskan akan mengalami pembiasan menembus lapisan tipis udara dan
jatuh pada permukaan lensa datar. Sinar yang dipantulkan oleh permukaan lengkung lensa
beserta sinar yang dipantulkan lensa datar akan berinterferensi dengan pola interferensi gelap
terang berbentuk lingkaran yang disebut interferensi cincin newton. Pengukuran jari-jari dari
pola lingkaran ini dapat menentukan panjang gelombang berkas cahaya monokromatis,
sehingga dari eksperimen ini diperoleh panjang gelombang dari sumber cahaya monokromatis
Natrium adalah sebesar dengan presentase kesalahan sebesar 4,9%.
Keywords: Interferensi cincin Newton, sumber cahaya Natrium,
1 Pendahuluan

Diawali dari analisa dan nama yang diberikan oleh Issac Newton, fenomena
Cincin Newton dianggap sebagai interferensi warna yang disebabkan oleh adanya
refleksi cahaya antar dua permukaan bulat lensa plan konveks dan permukaan rata plan
paralel yang kemudian beberapa tahun selanjutnya dideskripsikan oleh Robert Hooke
dalam bukunya Micrographia (1664). Interferensi yang dimaksudkan oleh Issac
Newton terjadi pada selaput tipis udara yang terdapat disekitar lensa plan konveks
dengan kaca plan paralel. Atau dapat diartikan bahwa interferensi adalah perpaduan
(superposisi) gelombang ketika dua gelombang atau lebih tiba ditempat yang sama
pada saat yang sama. Prinsip dari superposisi merupakan amplitudo atau simpangan
dari perpaduan puncak dan lembah gelombang yang sama dengan penjumlahan aljabar
dari amplitudo masing-masing puncak gelombang atau lembah gelombang secara
terpisah (puncak gelombang dianggap positif sedangkan lembah gelombang dianggap
negatif). Sedangkan prinsip interferensi terbagi menjadi dua,yakni:
Interferensi konstruktif terjadi jika dua atau lebih puncak gelombang saling
mendekati dan bertumpang tindih sehingga amplitudo total dari perpaduan
gelombang ini menjadi lebih besar dibandingkan dengan amplitudo masing-
masing puncak gelombang atau dapat dikatakan bahwa amplitudo mengalami
penguatan.
Interferensi Destruktif terjadi ketika amplitudo atau simpangan total dari
perpaduan dua gelombang yang saling bertumpang tindih menjadi sama dengan
nol atau lebih kecil dibandingkan amplitudo masing-masing gelombang.Atau
dapat dikatakan bahwa amplitudo dalam hal ini mengalami pelemahan.
Pola yang muncul secara bergantian yang terlihat dalam ruang interferensi
konstruktif dan destruktif disebut dengan fringes. Fringes yang terbentuk pada
peristiwa interferensi dapat terjadi melalui dua cara yakni pembagian amplitudo dan
pembagian muka gelombang.Contoh peristiwa interferensi dengan pembagian muka
gelombang adalah interferensi celah ganda Young. Sedangkan salah satu contoh
peristiwa interferensi dengan pembagian amlitudo adalah interferensi yang terjadi pada
lapisan udara yang terdapat pada pada susunan lensa.Gejala interferensi pada lapisan
udara yang terdapat pada susunan lensa dimanfaatkan sebagai prinsip dasar bekerjanya
piranti cincin Newton. Piranti Cincin Newton dalam penggunaannya digunakan untuk
pengukuran panjang gelombang sumber cahaya monokromatis.
2 Tinjauan Pustaka
Interferensi merupakan fenomena penggabungan dua buah gelombang atau
lebih sehingga menimbulkan pola gelap terang. Interferensi ini dapat bersifat
membangun maupun merusak, dimana akan besifat membangun ketika beda
fase kedua gelombang sama sehingga gelombang yang baru terbentuk
merupakan penjumlahan dari kedua gelombang tersebut, yang mana keadaan
ini dapat terlihat dengan adanya pola terang pada fringe. Namun akan bersifat
merusak jika beda fasenya , sehingga kedua gelombang akan saling
menghilangkan, sehingga terdapat pola gelap pada fringe. Syarat agar terjadi
peristiwa interferensi ini adalah sumber harus bersifat koheren atau dengan kata
lain, sumber memiliki beda fase, frekuensi dan amplitudo yang sama.
Fenomena cincin Newton merupakan pola interferensi yang disebabkan
karena adanya lapisan udara yang bertindak sebagai selaput tipis diantara dua
permukaan yaitu permukan lensa cembung dan permukaan datar yang
berdekatan. Ketika diamati dengan sumber monokromatis, maka akan terlihat
rangkaian pola gelap-terang yang konsentris. Untuk mengukur jari-jari
lingkaran fringe tersebut digunakan mikroskop geser. Sehingga untuk
memperoleh nilai dapat digunakan persamaan :


dimana

adalah jari-jari lingkaran orde ke-m, R adalah jari-jari kelengkungan


lensa.
3 Metode Eksperimen
3.1 Alat dan Bahan
Mikroskop geser
Lensa cembung dan datar
Sumber cahaya monokromatis
(lampu natrium)
Spherometer
3.1.1 Prosedur
Lampu natrium diposisikan agar berkas cahaya yang datang horizontal. Lensa
cembung diletakkan di atas lensa datar kemudian dipasang pada obyek vernier
microscope. Atur pembelah berkas sehingga cahaya datang terpantul tegak lurus
mengenai lensa. Atur mikroskop dengan menaikkan atau menurunkan sehingga
nampak fringe yang dapat diamati. Ukur

dari lingkaran gelap dengan orde 1 sampai


20. Kemudian tentukan R (jari-jari kelengkungan lensa) menggunakan spherometer.
4 Data Pengamatan


1 0,56 0,53 0,54
2 1,46 1,48 1,47
3 1,85 1,87 1,86
4 2,14 2,13 2,13
5 2,41 2,39 2,40
6 2,63 2,61 2,62
7 2,75 2,78 2,76
8 3,01 3,00 3,00
9 3,16 3,20 3,18
10 3,34 3,31 3,32
11 3,50 3,50 3,50
12 3,67 3,66 3,66
13 3,79 3,81 3,80
14 3,96 3,99 3,97
15 4,09 4,12 4,10
16 4,22 4,24 4,23
17 4,35 4,39 4,37
18 4,49 4,50 4,49
19 4,56 4,57 4,56
20 4,72 4,72 4,72

5 Hasil dan Pembahasan
Cincin Newton merupakan pola interferensi gelap terang, pola ini
diakibatkan adanya superposisi dua gelombang atau lebih. Dalam percobaan
yang telah dilakukan bahwa pola interferensi terjadi karena adanya pemantulan
cahaya oleh dua permukaan, yaitu pemantulan dari lengkung lensa plan
konveks (cembung), dan pemantulan dari lensa plan parallel (gelas datar)
sehingga memberikan beda fase atau beda lintasan optik. Keadaan ini terjadi di
rongga yang terletak antara lengkung lensa plan konveks dan lensa plan
parallel.
Prinsip kerja hingga terbentuknya pola interferensi yaitu berkas sinar
monokromatis (Na) dipancarkan mengenai beamspeter yang berfungsi sebagai
pemecah berkas, selanjutnya sinar sebagian ditransmisikan dan sebagian akan
jatuh pada lensa plan konveks. Kemudian sinar yang jatuh pada lensa plan
konveks, sebagian sinar akan dipantulkan dan sebagian lain akan dibias
melewati lapisan tipis udara dan akan jatuh pada lensa plan parallel. Berkas
yang jatuh pada lensa plan parallel selanjutnya akan dipantulkan kembali ke
lapisan tipis udara. Gabungan berkas pantulan langsung dari lensa plan konveks
dan berkas pantulan setelah mengalami pembiasan akan membentuk pola
interferensi berbentuk cincin gelap terang yang disebut dengan fringes
Pada eksperimen ini dilakukan pengambilan data dengan menentukan pola
gelap pusat, kemudian mencatat skala yang ditunjukkan oleh micrometer
sebagai r
0
. Gelap pusat (

( ) selanjutnya akan dijadikan


sebagai posisi acuan untuk mengukur r
m
berikutnya. Data yang diambil adalah
jari-jari untuk orde ke-0 sampai ke-20. Penentuan r
m
yaitu dengan

, dengan n = 1,2,3, dst. Penentuan panjang gelombang cahaya ()


menggunakan rumus


diperoleh sebesar 560 mm. Kemudian dari hasil yang diperoleh
ditentukan pula grafik regresi linear r
m
2
terhadap m. Berikut grafik hubungan r
m
2

dan m



Apabila dibandingkan panjang gelombang hasil analisis dan literatur untuk
gelombang cahaya Na bernilai 589,5924 nm. Terjadi presentase kesalahan
sebesar 4,9%. Adanya kesalahan ini dipengaruhi oleh besar sudut pembelah
berkas cahaya oleh beamspeter, sehingga menghasilkan fringes yang berbeda
untuk jari-jarinya. Kurang telitinya praktikan saat membaca mikrometer, atau
menggeser dari orde ke orde berikutnya juga dapat mempengaruhi.
6 Kesimpulan
1. Adanya inteferensi cahaya gelap terang dimana diperoleh pada gelap pusat
(

( )
2. Diperoleh nilai panjang gelombang sumber cahaya sebesar 560 mm.
dengan presentase kesalahan sebesar 4,9% terhadap literature.
7 Daftar Pustaka
Jenkins and White, 1984, Fundamental of Optics , John Wiley and Sons, New
York
Tjia,M.O, 1993. Gelombang. Penerbit Institut Teknologi Bandung.
Tipler, P A, 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik Jilid Kedua, Edisi Tiga. Jakarta :
Erlangga.
http://id.wikipedia.org
http://www.google.com
http://www.wordpress.com
y = 1.1211x - 0.0681
R = 0.9986
0
5
10
15
20
25
0 5 10 15 20 25
j
a
r
i
-
j
a
r
i

p
o
l
a

f
r
i
n
g
e

r
m
2

(
m
m
2
)

orde m
Grafik hubungan antara r
m
2
dengan
orde m
Grafik hubungan antara
rm dengan orde m
Linear (Grafik hubungan
antara rm dengan orde
m)