Anda di halaman 1dari 6

HPI (Hukum Perikemanusiaan International)

Definisi :
HPI adalah bagian dari hukum internasional yang memberikan perlindungan terhadap anggota angkatan
perang yang luka, sakit, dan tidak dapat lagi ikut dalam peperangan serta penduduk sipil yang tidak ikut
berperang. Selain itu juga mengatur metode perang.
Maksud dan tujuan adanya HPI :
Mengatur perang yang terjadi lebih manusiawi, bila perang itu tidak terhindarkan, menentukan orang orang
yang tidak ikut dalam peperangan atau tidak dapat lagi ikut dalam peperangan hendaknya dianggap manusia
biasa yang patut dihargai dan diperlakukan secara manusiawi.
Sasaran penyerangan hanya boleh dilakukan terhadap obyek militer dan bukan obyek sipil. HPI sangat erat
kaitannya dengan Palang Merah, dimulai dengan lahirnya Konvensi Jenewa 1864 ( pertama ). Konvensi
Jenewa telah dilengkapi dan diperbaiki pada tahun 1906, 1928, 1949 dan 2 protokol ditambahkan pada
konvensi tersebut ditahun 1977.
4 konvensi Jenewa 1949 :
Konvensi I : Perlindungan terhadap korban angkatan perang di darat yang luka dan
sakit, petugas kesehatan serta petugas dibidang agama.
Konvensi II : Perlindungan terhadap korban angkatan perang di laut, petugas
kesehatan, petugas agama serta kapal perang yang kandas.
Konvensi III : Perlindungan terhadap tawanan perang.
Konvensi IV : Perlindungan terhadap orang orang sipil di masa perang.
Karena ke 4 Konvensi tersebut belum mencakup perlindungan terhadap semua penderita yang diakibatkan
oleh pertikaian, maka pada tahun 1977 dikeluarkan 2 protokol :
Protokol I : diterapkan pada konflik bersenjata internasional.
Protokol II : diterapkan pada konflik non internasional.
Tiap negara di dunia ikut mengesahkan dan menyetujui konvensi tersebut. Sekarang lebih dari 160 negara
telah ikut menjadi peserta Konvensi Jenewa tahun 1942.

Misi ICRC:
Sejak didirikan pada tahun 1863, ICRC bekerja untuk melindungi dan membantu korban
konflik bersenjata dan korban situasi kekerasan lain. Pada awalnya, ICRC memusatkan
perhatian pada prajurit yang terluka. Namun, dengan berjalannya waktu, ICRC
memperluas kegiatannya untuk menolong semua korban situasi-situasi tersebut. Dalam
bukunya yang berjudul A Memory of Solferino (Kenangan Solferino),
1. Henry Dunant mengusulkan dibentuknya perhimpunan bantuan kemanusiaan nasional di setiap negara yang
dapat dikenali melalui penggunaan sebuah lambang bersama dan mengusulkan pula diadopsinya sebuah
perjanjian internasional
2. yang melindungi para korban luka di medan tempur. Sebuah komite Tetap dibentuk di Jenewa untuk
menindaklanjuti gagasan Dunant tersebut. Palang merah di atas dasar berwarna putih
3. dipilih sebagai lambang, dan komite tersebut kemudian mengadopsi nama International Committee of the Red
Cross (Komite Internasional Palang Merah).

Pada mulanya, ICRC tidak berniat melakukan kegiatan di lapangan. Namun, Perhimpunan Nasional di negara-negara
yang mengalami konflik Karena dianggap terlalu dekat pada pihak penguasameminta agar ICRC mengirimkan pekerja
bantuan miliknya,dengan keyakinan bahwa kegiatan kemanusiaan di saat-saat konflik perlu memberikan jaminan
kenetralan dan kemandirian yang bisa diterima oleh semua pihak dan bahwa hanya ICRC-lah yang dapat memberikan
jaminan tersebut. Karena itu, ICRC harus membangun kegiatan operasional dengan sangat cepat, dalam bingkai
kenetralan dan kemandirian, agar dapat bekerja di kedua sisi medan tempur. Pengakuan formal atas fungsi tersebut
datang kemudian, yaitu ketika Konvensi-Konvensi Jenewa secara eksplisit mengakui kegiatan ICRC sebagai kegiatan yang
1. Dunant mengusulkan dibentuknya perhimpunan bantuan kemanusiaan yang permanen di setiap negara, yang
memper siapkan diri di masa damai supaya berada dalam keadaan siap untuk membantu dinas medis angkatan
bersenjata bilamana pecah perang. Perhimpunan tersebut perlu mengkoordinasi kegiatan-Kegiatannya dan
diakui oleh pihak penguasa. Dunant juga mengusulkan diselenggarakannya kongres internasional untuk
merumuskan suatu prinsip internasional yang ditetapkan dalam sebuah Konvensi yang berhakikat tidak dapat
diganggu gugat, yang bilamana telah disepakati dan diratifikasi dapat menjadi landasan bagi keberadaan
perhimpunan bantuan kemanusiaan korban luka serta dapat melindungi para korban luka itu sendiri maupun
pihak-pihak yang datang menolong mereka. (A Memory of Soferino, terjemahan bahasa Inggris, ICRC, Jenewa,
1986, hal. 126).
2. Dalam Rangka mewujudkan gagasan Henry Dunant tersebut dan terutama dalam rangka mempromosikan
pengadopsian oleh Negara-negara sebuah komitmen bersungguh-sungguh untuk menolong dan merawat
prajurit terluka tanpa pembeda-bedaan, ICRC berada di garis depan pengembangan Hukum Humaniter
Internasional. Kegiatan lapangan ICRC kemudian memperoleh landasan hokum dalam bentuk mandat
sebagaimana termaktub dalam Hukum Humaniter Internasional maupun dalam resolusi-resolusi yang diadopsi
oleh Konferensi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
3. Ini merupakan kebalikan dari warna bendera Swiss serta penghormatan bagi Negara tersebut sebagai tuan
rumah Konferensi Internasional Jenewa 1863

Mandat ICRC :
1. Menolong korban ranjau antipersonil merupakan salah satu contoh yang baik.Ketika merawat
para korban, ICRC dapat memperoleh informasi yang memungkinkannya untuk: memetakan
insiden-insiden yang terjadi; mengarahkan representasi kepada kelompok-kelompok yang
bertanggung jawab; menyusun program peningkatan kesadaran untuk mencegah kecelakaan
di kalangan masyarakat setempat, dengan mengadaptasikan isi pesan sesuai kategori orang
yang paling jamak menjadi korban (anak-anak, perempuan, gembala) dalam keadaan-
keadaan tertentu memberikan informasi kepada organisasi-organisasi pembersihan
ranjau,menyelenggarakan kegiatan rehabilitasi bagi para korban dengan menyediakan
anggota tubuh buatan; dan barangkali pula memberi para korban pelatihan dan pinjaman
profesi untuk membuka usaha. Pengetahuan dan pengalaman semacam ini juga telah terbukti
bermanfaat dalam proses pengadopsian perjanjian internasional baru mengenai pelarangan
ranjau darat antipersonil.
2. ICRC sering kali dianggap sebagai sui generis (mempunyai status unik): secara hukum, ICRC
bukan organisasi antarpemerintah dan bukan pula organisasi non-pemerintah. ICRC adalah
sebuah perkumpulan swasta berdasarkan Hukum Swiss yang mempunyai mandat
internasional berdasarkan Hukum Internasional Publik

Misi IFRC :
Misi dari IFRC adalah untuk meningkatkan kehidupan orang-orang rentan dan memobilisasi kekuatan
kemanusiaan khususnya di daerah non konflik. Kegiatan IFRC ditekankan pada empat wilayah utama, yaitu:
meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan, penanggulangan bencana alam, kesiapsiagaan penanganan bencana
alam dan pelayanan kesehatan masyarakat.
Struktur kelompok PMR di sekolah :
BAB III
ORGANISASI PMR
A. Organisasi PMR di Sekolah
1. Pembinaan PMR dilaksanakan oleh TP PMI
2. Di Lingkungan PMI Pusat/Daerah/Cabang, Pembinaan PMR dilaksanakan oleh Bidang SDM/PMR/Diklat
3. PMR di sekolah disebut Kelompok PMR yang beranggotakan minimal 10 orang
4. Kegiatan PMR disekolah merupakan bagian dari kegiatan ekstra kulikuler dibawah pembinaan wakil kepala
Sekolah Bidang Kesiswaan
5. Struktur Organisasi PMR Di Sekolah: Kelompok PMR disekolah secara struktural mempunyai struktur sendiri
sebagai kelompok PMR, dan dalam kegiatannya secara fungsional termasuk seksi Kesegaran Jasmani dan Daya
Kreasi OSIS
6. Susunan Pengurus PMR di sekolah : 1). Pelindung adalah TP PMI Kota/ Kabupaten 2). Penanggung jawab adalah
Kepala Sekolah 3). Pembina PMR 4). Pelatih PMI 5). Pengurus harian PMR terdiri dari siswa-siswi yang telah menjadi
anggota PMR

Dengan masa bakti minimal 1 tahun, terdiri dari :
a) Seorang Ketua
b) Seorang wakil ketua
c) Seorang sekretaris
d) Seorang bendahara
e) Unit-unit : (1) Bakti Masyarakat (2) Keterampilan, kebersihan, dan kesehatan (3) Persahabatan (4) Umum

B. Organisasi PMR di Luar Sekolah
1. Nama kelompok PMR disesuaikan dengan nama desa/ kecamatan/ instansi tempat kelompok PMR tersebut
dibentuk, atau sebutan lain yang dapat meningkatkan pembinaan PMR
2. Anggotanya terdiri dari anggota remaja PMI yang berbasis masyarakat
3. Penanggung jawab adalah Kepala Desa/ Kecamatan/ Instansi/ Organisasi
4. Struktur organisasi PMR luar sekolah, terlampir

C. PERAN MASING-MASING PIHAK
1. PMI Pusat yang membidangi pembinaan dan pengembangan PMR
* Mengeluarkan kebijakan tentang pembinaan PMR (perekrutan, pelatihan, pengembangan individu,
pengembangan organisasi , Tri Bhakti PMR, pelaporan, monitoring, dan evaluasi)
* Mengeluarkan buku panduan pembinaan, kurikulum standart pelatihan anggota dan Pembina PMR, dan modul
* Memfasilitasi PMI Daerah melaksanakan kebijakan, buku panduan, kurikulum, dan modul
* Memfasilitasi/menyelenggarakan pelatihan, pengembangan kegiatan, dan pengembangan kapasitas individu untuk
tingkat nasional maupun internasional
* Menyelenggarakan kegiatan nasional, misal Jumbara Nasional
* Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR
* Berkoordinasi dengan pihak terkait ditingkat Pusat ( TP PMI, Diknas, Depkes, Depag, Organisasi Non Pemerintah )
untuk pengembangan pembinaan PMR
* Menyediakan informasi terkait dengan pengembangan pembinaan PMR, dan meneruskan informasi tersebut
kepada PMI Daerah

2. PMI Daerah yang membidangi pembinaan dan pengembangan PMR
* Menerapkan kebijakan tentang pembinaan PMR
* Memfasilitasi PMI Cabang dalam melaksanakan kebiajakan, buku panduan, kurikulum,dan modul
* Memfasilitasi/menyelenggarakan pelatihan, pengembangan kegiatan, dan pengembangan kapasitas untuk tingkat
daerah
* Menyelenggarakan kegiatan tingkat PMI Daerah, misal : Jumbara Daerah
* Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR
* Berkoordinasi dengan pihak terkait ditingkat Propinsi (Tp PMI, Diknas, Depkes, Depag, Organisasi Non Pemerintah)
untuk pengembangan pembinaan PMR
* Menyediakan informasi terkait dengan pengembangan pembinaan PMR, dan meneruskan informasi tersebut
kepada PMI Cabang
* Memfasilitasi PMI Cabang dalam menerapkan informasi tentang pembinaan PMR

3. PMI Cabang yang membidangi pembinaan dan pengembangan PMR
* Menerapkan kebijakan tentang pembinaan PMR
* Memfasilitasi kelompok PMI melaksanakan kebijakan, buku panduan, kurikulum, dan modul
* Memfasilitasi pelatihan, pengembangan kegiatan, dan pengembangan kapasitas untuk tingkat cabang dan
kelompok PMR
* Menyelenggarakan kegiatan tingkat PMI Daerah, misal : Orientasi Pembina PMR, pelatihan gabungan anggota
PMR, Jumbara Cabang
* Menugaskan pelatih PMI untuk melatih kelompok PMR
* Melibatkan Pembina PMR dalam proses pengambilan keputusan, khususnya terkait pembinaan PMR, baik dalam
forum rapat, musyawarah kerja tahunan, maupun musyawarah tahunan
* Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR
* Berkoordinasi dengan pihak terkait ditingkat Kota/Kabupaten (TP PMI, Diknas, Depag, Depag, organisasi non
pemerintah) untuk pengembangan pembinaan PMR
* Menyediakan informasi terkait pengembangan pembinaan PMR serta meneruskan informasi tersebut kepada
kelompok PMR
* Memfasilitasi Kelompok PMR dalam menerapkan informasi tentang pembinaan PMR

4. Penanggung jawab PMR
* Bertanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan PMR
* Memfasilitasi pelaksanaan kegiatan dikelompok PMR
* Bersama dengan PMI Cabang mengatur, memonitor, dan mengevaluasi tugas Pembina PMR, dan Pelatih PMI di
kelompok PMR tersebut
* Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR
* Berkoordinasi dengan pihak terkait ditingkat Kota/ Kabupaten/ Kecamatan

5. Pembina PMR
* Melaksanakan pembinaan PMR dikelompok PMR masing-masing
* Mengembangkan kegitan kepalangmerahan, antara lain melakukan sosialisasi dan advokasi ke sekolah/ lembaga,
memfasilitasi pembentukan kelompok PMR baru, meningkatkan jaringan komunikasi dan koordinasi antar Pembina
PMR baik sekolah atau lembaga
* Membantu PMI Cabang memfasilitasi pembentukan kelompok PMR baru
* Memfasilitasi komunikasi dan koordinasi antara kelompok PMR dan PMI Cabang
* Memberikan masukan kepada PMI dan Pelatih PMI terkait pelaksanaan standarisasi pelatihan PMR, kualitas
pelatih, perkembangan metode dan media pelatihan
* Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap tahap pembinaan PMR

6. Instansi terkait
* Mendukung upaya pembinaan PMR, sesuai 7 Prinsip Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional
* Memfasilitasi penyediaan kebutuhan kegiatan operasional PMR

D. SUMBER DANA
PMI Daerah, PMI Cabang, Sekolah/ lembaga kelompok PMR, dan instansi lain yang tidak mengikat Sumber dana
pembinaan dan pengembangan PMR dapat berasal dari PMI Pusat.

Mandat IFRC :
Perhimpunan Nasional harus:
Menyediakan Kode Perilaku yang disetujui Pengurus yang menyatakan Hak dan Kewajiban
Perhimpunan Nasional dan Relawannya
1. Merekrut Relawan untuk peran dan tugas yang spesifik
2. Merekrut Relawan berdasarkan komitmen dan potensinya
3. Secara aktif merekrut Relawan tanpa mempertimbangkan suku, etnis, jenis kelamin,keagamaan,
keterbatasan tubuh, dan umur
4. Memastikan adanya partisipasi seimbang antara Pria dan Wanita dalam Program Relawan untuk
efektifitas pelayanan dan kegiatan yang sensitif -gender.
5. Menyediakan pelatihan yang sesuai, sehingga Relawan dapat memenuhi peran dan tanggung jawabnya
terhadap Gerakan, peran dan tugas spesifik untuk dijalankan, dan untuk kegiatan darurat apa saja
mereka akan ditugaskan
6. Menyediakan peralatan yang memadai untuk peran dan penugasan Relawan
7. Menghargai dan mengakui Relawan, dan menyediakan kesempatan pengembangan diri
8. Memastikan bahwa pendapat Relawan dan idenya diperhatikan/ didengar pada proses perancangan,
pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi program
9. Mengganti pengeluaran yang dibutuhkan oleh Relawan dalam menjalankan tugasnya sesuai
kesepakatan
10. Menyediakan perlindungan asuransi untuk Relawan
11. Memastikan bahwa kerja Relawan tidak menggantikan, dan mengarah/ mengerjakan fungsi staf
12. Memastikan bahwa, saat seseorang ingin dibayar atas tugas/ pekerjaan yang dilakukan, mereka
bukan Relawan tetapi termasuk kategori staf, pegawai kontrak atau buruh lepas. Implikasinya, mereka
harus dilindungi oleh hukum ketenagakerjaan yang berlaku, seperti gaji minimum, perlindungan kontrak,
serta Hak dan tanggung jawab yang legal
13. Menyediakan kesempatan pelatihan dan pengembangan untuk Relawan yang ada dan mungkin
menjadi Pengurus
14. Memperhatikan untuk menjalin kerjasama dan jejaring dengan organisasi kemasyarakatan dan sektor
swasta yang mendukung Kerelawanan.

Fungsi tanda PMI :
o Lambang hanya dapat digunakan dalam dua fungsi, yaitu sebagai Tanda Pengenal dan Tanda
Perlindungan.
o Sebagai Tanda Perlindungan, yaitu ketika konflik atau perang atau bencana terjadi. Fungsinya, untuk
memberitahukan bahwa seseorang adalah anggota Gerakan, dan benda seperti kendaraan dan gedung
adalah milik gerakan, sehingga harus dilindungi.
o Sebagai Tanda Pengenal, lambang dikenakan pada masa damai, yaitu pada saat terjadi konflik atau
perang atau bencana. Gunanya adalah sebagai tanda identitas bahwa seseorang adalah anggota
Gerakan, dan benda seperti kendaraan dan gedung adalah milik gerakan.
Pengertian Manajemen PMR:
merupakan proses pembinaan dan pengembangan anggota remaja PMI agar dapat mendukung peningkatan
kapasitas organisasi dan pelayanan PMI.

Tujuan:
Membangun dan mengembangkan karakter PMR yang berpedoman pada Prinsip Kepalangmerahan untuk
menjadi relawan masa depan Siklus Manajemen PMR

Tri Bakti PMR:
Meningkatkan keterampilan hidup sehat -> Bersih, Sehat
Berkarya dan Berbakti di Masyarakat -> Kepemimpinan,peduli, kreatif, kerjasama
Mempererat persahabatan nasional dan internasional -> Bersahabat, ceria

Hasil yang diharapkan:
Meningkatnya kualitas positif anggota PMR sehingga dapat berperan dalam kegiatan kepalangmerahan,
baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan proses pengambilan keputusan terkait masalah
remaja.
Anggota PMR sebagai kader Relawan
Pendekatan manajemen PMR:
Pendekatan Sebaya, yaitu anggota PMR dapat menjadi model/contoh (peer leadership), memberikan
dukungan (peer suport), serta menjadi pendidik sebaya (peer educator) dalam upaya meningkatkan
ketrampilan hidup sehat antar remaja.
Pendekatan Youth Centre, yaitu PMI Cabang sebagai pusat pembinaan dan pengembangan PMR, yang
dibantu oleh para relawan PMI sebagai salah satu strategi pembinaan berkelanjutan.

Pelaksana manajemen PMR:
Pembinaan dan pengembangan PMR dilaksanakan oleh PMI, dan pihak-pihak terkait pembinaan dan
pengembangan remaja a.l. Diknas, Disorda, Depag, sekolah, instansi

Sumber dana manajemen PMR:
Berasal dari PMI, anggota PMR, donor, pihak sekolah, maupun instansi yang bersifat tidak mengikat,
bermanfaat bagi kedua belah pihak, dan sesuai dengan ketentuan PMI .