Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum, wr, wb,



Segala Puji senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT beserta junjungan kita Nabi
Besar Muhammad Rasulullah S.A.W yang telah melimpahkan rahmat, berkah, dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul :

QUALITY CONTROL

Walaupun dalam penyusunan makalah ini kami banyak menemukan kesulitan terutama
keterbatasan referensi yang di dapatkan. Oleh karena itu, jika ada kesalahan dalam penulisan,
kesalahan kata maupun pengetikan dalam makalah ini kami minta maaf yang sebesar-
besarnya dan kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini.

Demikian kata pengantar dari saya dengan harap semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi kita semua, khususnya bagi penyusun.



Tangerang, Mei 2012


Ttd
Tim Penyusun











DAFTAR ISI


Kata Pengantar . Hal i
Daftar Isi . Hal ii

Bab I Pendahuluan . Hal 1
Bab II Pembahasan .. Hal 2
- Tugas Pengawasan Mutu .. Hal 2
- Cara Berlaboratorium Pengawasan Mutu Yang Baik Hal 2
- Pengawasan Bahan Hal 6
- Dokumentasi .. Hal 6
- Pengambilan Sampel Hal 7
- Persyaratan Pengujian . Hal 9
- Pengendalian Lingkungan .. Hal 10
Bab III Kesimpulan .. Hal 12
Daftar Pusaka . Hal 13











BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Obat adalah suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai dalam diagnosis,
mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit. Salah satu upaya
yang dilakukan pemerintah untuk menjamin tersedianya obat yang bermutu, aman dan
berkhasiat yaitu dengan mengharuskan setiap industri untuk menerapkan Cara
Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB).
Industri farmasi saat ini sudah berkembang pesat dalam rangka memenuhi obat-
obatan secara nasional. Perusahaan farmasi sebagai perusahaan pada umumnya
melakukan kegiatan usaha yang meliputi proses menghasilkan barang yaitu obat-
obatan. CPOB merupakan suatu konsep dalam industri farmasi mengenai prosedur
atau langkah-langkah yang dilakukan dalam suatu industri farmasi untuk menjamin
mutu obat jadi, yang diproduksi dengan menerapkan Good Manufacturing Practices
dalam seluruh aspek dan rangkaian kegiatan produksi sehingga obat yang dihasilkan
senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan sesuai dengan tujuan
penggunaannya.
CPOB bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB
mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu.
Ruang lingkup CPOB edisi 2006 meliputi Manajemen Mutu, Personalia,
Bangunan dan Fasilitas, Peralatan, Sanitasi dan Hygiene, Produksi, Pengawasan
Mutu, Inspeksi Diri dan Audit Mutu, Penanganan Keluhan terhadap Produk,
Penarikan Kembali Produk dan Produk Kembalian, Dokumentasi, Pembuatan dan
Analisis Berdasarkan Kontrak, serta Kualifikasi dan Validasi.
Ada empat landasan umum dalam CPOB 2006 yaitu :
1. Pada pembuatan obat pengawasan secara menyeluruh adalah sangat essensial untuk
menjamin bahwa konsumen menerima obat yang bermutu tinggi. Pembuatan obat
secara sembarangan tidak dibenarkan bagi obat yang akan digunakan sebagai
penyelamat jiwa atau memulihkan atau memelihara kesehatan.
2. Tidaklah cukup apabila obat jadi hanya sekedar lulus dari serangkaian pengujian,
tetapi yang menjadi sangat penting adalah mutu harus dibentuk ke dalam produk.
Mutu obat tergantung pada bahan awal, proses pembuatan dan pengawasan mutu,
bangunan, peralatan yang dipakai, dan personalia yang terlibat dalam pembuatan obat.
3. Untuk menjamin mutu suatu obat jadi tidak boleh hanya mengandalkan hanya pada
pengujian tertentu saja. Semua obat hendaklah dibuat dalam kondisi yang
dikendalikan dan dipantau dengan cermat.
4. CPOB merupakan pedoman yang bertujuan untuk memastikan agar sifat dan mutu
obat yang dihasilkan sesuai dengan yang dikehendaki.
Aspek CPOB adalah manajemen mutu , personalia, bangunan dan fasilitas,
peralatan, sanitasi dan hygiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri dan audit
mutu, penanganan keluhan terhadap produk, penarikan kembali produk dan produk
kembalian, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak, dokumentasi, pembuatan dan
analisis berdasarkan kontrak, dan kualifikasi dan validasi.
B. TUJUAN
Adapun tujuan dari pada pembuatan makalah ini adalah sebagai pemenuhan
tugas diskusi mata kuliah Teknologi Sediaan Solid yang tentunya membahas
mengenai CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) dan lebih spesifiknya lagi adalah
membahas mengenai salah satu aspek dari CPOB itu sendiri, yaitu Pengawasan Mutu
dan Inspeksi Diri.
Diharapkan makalah ini nantinya dapat digunakan sebagaimana mestinya,
serta dapat bermanfaat untuk sebagai bahan panduan dan referensi dalam pembuatan
makalah dikemudian harinya.



C. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang timbul dalam makalah yang membahas mengenai
Pengawasan Mutu dan Inspeksi Diri ini adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana definisi Pengawasan Mutu dan Inspeksi Diri secara umum?
b. Bagaimana tujuan Pengawasan Mutu dan Inspeksi Diri itu?
c. Apa yang harus dipenuhi dalam Pengawasan Mutu dan Inspeksi Diri itu?
d. Apa yang harus dicakup dalam Pengawasan Mutu dan Inspeksi Diri itu ?



BAB II
ISI

1. Inpeksi Diri
Inpeksi diri adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai semua aspek, mulai dari
pengadaan bahan sampai dengan produk jadi dan penetapan tindakan perbaikan yang akan
dilakukan sehingga seluruh aspek pembuatan Obat Tradisional dalam Industri Obat tersebut
selalu memenuhi CPOB. Program inspeksi diri hendaklah dirancang untuk mendeteksi
kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan perbaikan yang
diperlukan. Penyelenggaraan audit mutu berguna sebagai pelengkap inspeksi diri. Audit mutu
meliputi pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian dari sistem manajemen mutu
dengan tujuan spesifik untuk meningkatkan mutu. Audit mutu umumnya dilaksanakan oleh
spesialis dari luar atau independen atau tim yang dibentuk khusus untuk hal ini oleh
manajemen perusahaan. Audit mutu juga dapat diperluas terhadap pemasok dan penerima
kontrak.
Proses pembuatan Obat dalam industri farmasi di Indonesia haruslah berdasarkan
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang meliputi 12 aspek yaitu manajemen mutu,
personalia, bangunan dan fasilitas, peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan
mutu, inspeksi diri dan audit mutu, penanganan keluhan produk dan penarikan kembali
produk dan produk kembalian, dokumentasi, pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak,
kualifikasi dan validasi. Inspeksi diri dan audit mutu dilakukan setelah proses produksi dan
pengawasan mutu selesai dilalui. Inspeksi diri dilakukan untuk mengevaluasi apakah semua
aspek proses produksi dan pengawasan mutu dari proses pembuatan obatan di sebuah
industry farmasi sudah memenuhi persyaratan CPOB. Sedangkan audit mutu merupakan
pelengkap dari inspeksi diri yaitu meliputi pemeriksaan dan penilaian sistem manajemen
mutu dengan tujuan spesifik untuk meningkatkan mutu. Dengan melakukan inspeksi diri dan
audit mutu kita bisa mengetahui kekurangan atas pemenuhan pelaksanaan CPOB sehingga
dapat menetapkan tindakan perbaikan untuk meningkatkan mutu. Penilaian terhadap
kekurangan atas pemenuhan pelaksanaan CPOB bisa berupa yang kritis , berdampak besar
maupun berdampak kecil.
Tujuan inspeksi diri untuk mengetahui apakah seluruh aspek pembuatan produk dan
pengawasan mutu telah memenuhi ketentuan yang ditetapkan (CPOTB), mengidentifikasi
kekurangan-kekurangan yang bersifat kritis, baik yang memberikan dampak kecil atau besar
(minor or major impacts), meninjau adanya kebutuhan bagi tindakan koreksi dan pencegahan
terhadap hal-hal yang belum memenuhi ketentuan, dan memberikan usulan tindakan koreksi (
perbaikan ) atau pencegahan (bila perlu) secara berkesinambungan. Dengan kata lain tujuan
inspeksi diri ini untuk mengevaluasi apakah semua aspek produksi dan pengawasan mutu
industri farmasi memenuhi kriteria CPOB.
Ada beberapa yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan inspeksi diri diantaranya yaitu
aspek untuk inspeksi diri dan tim inspeksi diri. Dalam aspek untuk inspeksi diri hendaklah
dibuat daftar periksa inspeksi diri yang menyajikan standar persyaratan minimal dan seragam.
Daftar ini hendaknya berisi pertanyaan mengenai cpob yang mencakup antara lain:
1. Personalia
2. Bangunan termasuk fasilitas untuk personil
3. Perawatan bangunan dan peralatan
4. Penyimpanan bahan awal, pengemas dan obat jadi
5. Peralatan
6. Pengolahan dan pengawasan selama proses
7. Pengawasan mutu
8. Dokumentasi
9. Sanitasi dan hygiene
10. Program validasi dan re-validasi
11. Kalibrasi alat atau sistem pengukuran
12. Prosedur penarikan kembali pbat jadi
13. Penanganan keluhan
14. Pengawasan label
15. Hasil inspeksi diri sbelumnya dan perbaikan.
Manajemen hendaknya membentuk tim inspeksi diri yang paling sedikit terdiri dari 3
orang anggota yang diketuai oleh seorang koordinator. Anggota terdiri dari orang yang
berpengalaman di bidangnya masing-masing dan memahami CPOB dengan baik, termasuk
memiliki pengetahuan di bagian yang berlainan yang akan diinspeksi. Anggota tim dibentuk
dari dalam atau luar perusahaan. Anggota tim hendaklah dipilih dari bagian-bagian
produksi,pengawasan mutu, pemastian mutu, penelitian & pengembangan dan teknik. Tim
inspeksi bersifat independen dan obyektif Ditetapkan oleh pimpinan perusahaan (manajer
pabrik atau direktur).
Inspeksi diri yang menyeluruh meliputi semua bagian produksi,pengawasan
mutu,teknik dan gudang . Inspeksi diri yang dilakukan menyeluruh sebaiknya dilakukan
minimal setahun sekali. Inspeksi diri nantinya juga akan dilakukan per-bagian sesuai
kebutuhan perusahaan. Misalnya pada bagian produksi seperti produksi sediaan
steril,inspeksi akan lebih sering dilakukan namun kembali lagi sesuai kebutuhan. Frekuensi
pelaksanaan inspeksi diri ini nantinya harus tercantum dalam prosedur tetap inspeksi diri dan
bisa dilakukan tiap triwulan,setengah tahunan,tahunan,insidentil. Frekuensi pelaksanaan
inspeksi diri yang teratur akan sedikit banyak mempengaruhi mutu obat yang diproduksi.
Dalam inspeksi diri ada beberapa hal yang dicakup diantaranya adalah area kerja, proses atau
prosedur kerja, kemampuan dan pengetahuan personil, serta mutu keluaran hasil kerja yang
diperoleh ( out put), ketepatan pelaksanaan dari prosedur yang telah ditetapkan ( protap),
dokumentasi dan catatan kerja, penampilan pemasok dan sub kontraktor.
Pemasok haruslah memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan. Sebelum menyetujui
pemasok akan dilakukan evaluasi riwayat pemasok dan sifat bahan yang dipasok Persetujuan
pemasok yang nantinya akan diandalkan memasok bahan awal maupun pengemas dilakukan
oleh kepala bagian manajemen mutu dan bagian yang terkait. Audit akan beperan dalam
menetapkan kemampuan pemasok dalam pemenuhan standar CPOB. Setelah itu dibuat daftar
pemasok untuk mempermudah peninjauan ulang secara berkala siapa-siapa yang nantinya
akan memasok bahan awal dan pengemas. Seiring berjalannya waktu nantinya dilakukan
evaluasi secara teratur terhadap para pemasok tadi.
Inspeksi diri dapat dilakukan per bagian sesuai dengan kebutuhan frekuensi inspeksi
diri hendaklah tertulis dalam prosedur tetap inspeksi diri. Sedangkan hal hal yang
diinspeksi hendaklah meliputi pertanyaan diantaranya mengenai personalia, bangunan
termasuk fasilitas untuk personalia, penyimpanan bahan baku dan produk jadi, peralatan,
pengolahan dan pengemasan, pengawasan mutu, dokumentasi, dan peralatan.
Setelah proses inspeksi diri selesai dilakukan, tim inspeksi akan menuliskan laporan
inspeksi diri . Laporan ini sebaiknya mencakup semua temuan dan tingkat kekurangan
terhadap temuan (kritis,berdampak kecil,berdampak besar) beserta saran tindakan perbaikan
dengan tetap mempertimbangkan tingkat kekurangan untuk menentukan mana yang paling
memerlukan (prioritas) pelaksanaan perbaikan secara cepat. Hal tersebut dilakukan karena
berdasar dari tujuan awal inspeksi yaitu perbaikan. Namun secara umum laporan inspeksi diri
haruslah berisi hasil inspeksi,evaluasi serta kesimpulan dan saran tindakan perbaikan.
Laporan ini disampaikan kepada masing-masing kepala bagian Pemastian Mutu, Produksi,
Pengawasan Mutu, Teknik dan pimpinan perusahaan. Manajemen perusahaan kemudian
melakukan evaluasi terhadap laporan tersebut dan kemudian menyusun program tindak lanjut
yang efektif dan sesuai prioritas.
2. Pengawasan Mutu
Pengawasan mutu adalah bagian dari CPOB yang berhubungan dengan pengambilan
sempel, spesifikasi dan pengujian, serta dengan organisasi, dokumentasi dan prosedur
pelulusan yang memastikan bahwa pengujian yang diperlukanaa dan relefan telah dilakukan
daan bahwa bahan yang belum diluluskan tidak digunakan serta produk yang belum
diluluskan tidak dijual atau dipassok sebelum mutunya dinilai dan dinyatakan memenuhu
syarat.
Setiap industri farmasi hendaklah mempunyai fungsi Pengawasan Mutu. Fungsi ini
hendaklah independen dari bagian lain. Sumber daya yang memadai hendaklah tersedia untuk
memastikan bahwa semua fungsi Pengawasan Mutu dapat dilaksanakan secara efektif dan
dapat diandalkan.
Tujuan pokok dari pengendaian mutu itu sendiri adaah untuk mengetahui sampai
seberapa jauh proses hasil produk dan jasa yang dibuat sesuai dengan standar yanag
ditetapkan perusahaan, agar standar spesifikasi produk yang telah ditetapkan sebelumnya
tercermin dalam hasil produk akhir dan agar biaya desin produk, biaya inspeksi, dan biaya
proses produksi dapat berjalan secara efisien, sehingga produk yang dihasilkan bermutu baik
dengan harga jual yang logis dan daya saing dapat ditingkatkan.
Hal-hal yang harus dipenuhi dari Pengawasan Mutu adalah:
a. Sarana dan prasarana yang memadai, personil yang terlatih dan prosedur yang
disetujui tersedia untuk pengambilan sampel, pemeriksaan dan pengujian bahan awal,
bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi, dan bila perlu untuk
pemantauan lingkungan sesuai dengan tujuan CPOB.
b. Pengambilan sampel bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan
produk jadi dilakukan oleh personil dengan metode yang disetujui oleh Pengawasan
Mutu.
c. Metode pengujian disiapkan dan divalidasi.
d. Pencatatan dilakukan secara manual atau dengan alat pencatat selama pembuatan yang
menunjukkan bahwa semua langkah yang dipersyaratkan dalam prosedur
pengambilan sampel, inspeksi dan pengujian benar-benar telah dilaksanakan Tiap
penyimpangan dicatat secara lengkap dan diinvestigasi.
e. Produk jadi berisi zat aktif dengan komposisi secara kualitatif dan kuantitatif sesuai
dengan yang disetujui pada saat pendaftaran, dengan derajat kemurnian yang
dipersyaratkan serta dikemas dalam wadah yang sesuai dan diberi label yang benar;
f. Dibuat catatan hasil pemeriksaan dan analisis bahan awal, bahan pengemas, produk
antara, produk ruahan, dan produk jadi secara formal dinilai dan dibandingkan
terhadap spesifikasi.
g. Sampel pertinggal bahan awal dan produk jadi disimpan dalam jumlah yang cukup
untuk dilakukan pengujian ulang bila perlu. Sampel produk jadi disimpan dalam
kemasan akhir kecuali untuk kemasan yang besar.
Pengkajian mutu produk secara berkala hendaklah dilakukan terhadap semua
obat terdaftar, termasuk produk ekspor, dengan tujuan untuk membuktikan
konsistensi proses, kesesuaian dari spesifikasi bahan awal, bahan pengemas dan
produk jadi, untuk melihat tren dan mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan untuk
produk dan proses. Pengkajian mutu produk secara berkala biasanya dilakukan tiap
tahun dan didokumentasikan, dengan mempertimbangkan hasil kajian ulang
sebelumnya dan hendaklah meliputi paling sedikit :
a. Kajian terhadap bahan awal dan bahan pengemas yang digunakan untuk produk,
terutama yang dipasok dari sumber baru;
b. Kajian terhadap pengawasan selama proses yang kritis dan hasil pengujian produk
jadi.
c. Kajian terhadap semua bets yang tidak memenuhi spesifikasi yang ditetapkan dan
investigasi yang dilakukan;
d. Kajian terhadap semua penyimpangan atau ketidaksesuaian yang signifikan, dan
efektivitas hasil tindakan perbaikan dan pencegahan.
e. Kajian terhadap semua perubahan yang dilakukanterhadap proses ataumetodeanalisis;
f. Kajian terhadap variasi yang diajukan, disetujui, ditolak dari dokumen registrasi yang
telah disetujui termasuk dokumen registrasi untuk produk ekspor.
g. Kajian terhadap hasil program pemantauan stabilitas dan segala tren yang tidak
diinginkan;
h. Kajian terhadap semua produk kembalian, keluhan dan penarikan obat yang terkait
dengan mutu produk, termasuk investigasi yang telah dilakukan.
i. Kajian kelayakan terhadap tindakan perbaikan proses produk atau peralatan yang
sebelumnya.
j. Kajian terhadap komitmen pasca pemasaran dilakukan pada obat yang baru
mendapatkan persetujuan pendaftaran dan variasi persetujuan pendaftaran.
k. Status kualifikasi peralatan dan sarana yang relevan misal sistem tata udara (HVAC),
air, gas bertekanan, dan lain-lain.
l. Kajian terhadap Kesepakatan Teknis untuk memastikannya selalu mutakhir.
Pengawasan Mutu secara menyeluruh juga mempunyai tugas lain,antara lain
menetapkan, memvalidasi dan menerapkan semua prosedur pengawasan mutu,
mengevaluasai, mengawasi, dan menyimpan baku pembanding, memastikan kebenaran
label wadah bahan dan produk, memastikan bahwa stabilitas dari zat aktif dan obat jadi
dipantau, menganbil bagian dalam investigasi keluhan yang terkait dengan mutu produk,
dan ikut mengambil bagian dalam pemantauan lingkungan. Semua kegiatan tersebut
hendaklah dilaksanakan sesuai dengan prosedur tertulis dan jika perlu dicatat. Personil
Pengawasan Mutu hendaklah memiliki akses ke area produksi untuk melakukan
pengambilan sampel dan investigasi bila diperlukan.



BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan makalah yang membahas mengenai pengawasan mutu dan
inspeksi diri adalah sebagai berikut :
1. Pengawasan mutu adalah bagian dari CPOB yang berhubungan dengan
pengambilan sempel, spesifikasi dan pengujian, serta dengan organisasi,
dokumentasi dan prosedur pelulusan yang memastikan bahwa pengujian yang
diperlukanaa dan relefan telah dilakukan daan bahwa bahan yang belum
diluluskan tidak digunakan serta produk yang belum diluluskan tidak dijual atau
dipassok sebelum mutunya dinilai dan dinyatakan memenuhu syarat.
2. Tujuan pokok dari pengendaian mutu itu sendiri adaah untuk mengetahui sampai
seberapa jauh proses hasil produk dan jasa yang dibuat sesuai dengan standar
yanag ditetapkan perusahaan.
3. Inpeksi diri adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai semua aspek, mulai
dari pengadaan bahan sampai dengan produk jadi dan penetapan tindakan
perbaikan yang akan dilakukan sehingga seluruh aspek pembuatan Obat
Tradisional dalam Industri Obat tersebut selalu memenuhi CPOB.
4. Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek produksi dan
pengawasan mutu industri farmasi memenuhi kriteria CPOB. Program inspeksi
diri hendaklah dirancang untuk mendeteksi kelemahan dalam pelaksanaan CPOB
dan untuk menetapkan tindakan perbaikan yang diperlukan. Tim inspeksi ditunjuk
oleh manajemen perusahaan terdiri dari sekurang-kurangnya 3 orang yang ahli di
bidang pekerjaannya dan paham mengenai CPOB. Inspeksi diri hendaklah
dilakukan secara independen dan rinci oleh petugas yang kompeten dari
perusahaan.







B. SARAN
Demikianah hasil pembahasan daam makalah mengenai Pengawasan Mutu
dan Inspeksi Diri, diharapkan pembaca sekaliana dapat memaklumi apabila masih
terdapat kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Pembaca, sekaian yanag
menjadikan makalah ini sebagai panduan daam membuat makalah selanjutnya, maka
diharapkan dapat melengkapi refrensi yang berkaitan dengan bahasan mengenai
pengawasan Mutu dan Inspeksi Diri ini. Kritik dan saran dari pembaca pun sangat
kami harapkan guna perbaikan di masa mendatang. Akhir kata kami ucapkan
terimkasih.