Anda di halaman 1dari 14

NASHIRUDDIN AL-THUSI

(1201 1274 M)


1. Biografi Nasiruddin Ath-Thusi

Nashiruddin Ath-Thusi dikenal sebagai Ilmuan serba bisa (Multi talented). Julukan (laqob)
itu rasanya amat pantas disandangnya karena sumbangannya bagi perkembangan ilmu
pengetahuan modern sungguh tak ternilai besarnya. Selama hidupnya, ilmuan Muslim dari Persia
itu mendedikasikan diri untuk mengembangkan berbagai ilmu, seperti astronomi, biologi, kimia,
matematika, filsafat, kedokteran, hinga ilmu agama islam.

Serjan Muslim yang kemansyhurannya setara dengan teolog dan filsuf besar sejarah gereja
seperti Thomas Aquinas, memiliki nama lengkap Abu Jafar Muhammad bin Muhammad bin Al-
Hasan Nasiruddin Ath-Thusi. Ia lahir pada tanggal 18 Februari tahun 1201 M / 597 H, di kota
Thus yang terletak di dekat Mashed, disebelah timur lautan Iran. Sebagai seorang Ilmuan yang
amat kondang pada zamannya, Nasiruddin memiliki banyak nama antara lain, Muhaqqiq, Ath-
Thusi, Khuwaja Thusi, dan Khuwaja Nasir.

Nasiruddin lahir pada awal abad ke 13 M, ketika itu dunia islam telah mengalami masa-
masa sulit. Pada saat itu, kekuatan militer Mongol yang begitu kuat menginvensi wilayah
kekuasaan Islam yang amat luas. Kota-kota Islam dihancurkan dan penduduknya dibantai habis
tentara Mongol dengan sangat kejam. Hal itu dipertegas J.J.OConnor dan E.F.Robertson, bahwa
pada masa itu, dunia diliputi kecemasan. Hilang rasa aman dan ketenangan itu membuat banyak
ilmuwan sulit untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya. Nasiruddin pun tak dapat mengelak
dari konflik yang melanda negerinya. Sejak kecil, Nasiruddin digembleng ilmu oleh ayahnya
yang beprofesi sebagai ahli hukum di sekolah Imam Kedua Belas.

Selain digembleng ilmu agama di sekolah itu, Ath-Thusi mempelajari Fiqih, Ushul,
Hikmah dan Kalam, terutama Isyarat-nya Ibnu Sina, dari Mahdar Fariduddin Damad,dan
Matematika dari Muhammad Hasib, di Nishapur. Dia kemudian pergi ke Baghdad di sana, dia
mempelajari ilmu pengobatan dan Filsafat dari Qutbuddin,dan juga Matematika dari Kamaluddin
bin Yunus dan Fiqih serta Ushul dari Salim bin Bardan.

Pada tahun 1220 M, invasi militer Mongol telah mencapai Thus dan kota kelahiran
Nasiruddin pun dihancurkan. Ketika situasi keamanan tak menentu, penguasa Islamiyah


Abdurahim mengajak sang ilmuwan untuk bergabung. Tawaran itu tidak disia-siakannya,
Nasiruddin pun bergabung menjadi salah seorang pejabat istana Islamiyah. Selama mengabdi di
istana itu, Nasiruddin mengisi waktunya untuk menulis beragam karyanya yang penting tentang
logika, filsafat, matematika, serta astronomi. Karya pertamanya adalah kitab Akhlaq-I Nasiri
yang ditulisnya pada tahun 1232 M.

Pasukan Mangol yang dipimpin Hulagu Khan cucu Chinggis Khan pada tahun 1251 M
akhirnya menguasai Istana Alamut dan meluluhlantakkannya. Nyawa Nasiruddin selamat karena
Hulagu ternyata sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan. Hulagu yang dikenal bengis
dan kejam, tapi Nasiruddin diperlakukan dengan penuh hormat. Dia pun diangkat Hulagu
menjadi panesehat dibidang Ilmu Pengetahuan. Meskipun telah m,enjadi panesehat pasukan
Mangol, Nasiruddin tidak mampu menghentikan ulah dan kebiadapan Hulagu Khan yang
membumi hanguskan kota metropolis intelektual dunia yaitu kota Baghdad, pada tahun 1258 M.
terlebih disaat itu, dinasti Abbasiyah berada dalam kekuasaan Khalifah Al-Mustasim yang
lemah. Terbukti pada militer Abbasiyah tak mampu membendung gempuran pasukan Mongol.

Meskipun tak mampu mencegah terjadinya serangan bangsa Mongol, paling tidak
Nasiruddin bisa menyelamatkan diri dan masih berkesempatan untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan yang dimilikinya. Hulagu sangat bangga sekali karena berhasil menakhlukkan
Baghdad dan lebih bangga lagi karena ilmuan terkemuka seperti Ath-Thusi bisa bergabung
bersamanya paparan OConnor dan Robertson dalam tulisan nya tentang Sejarah Nasiruddin
sebagaimana dalam tulisan Heri Ruslan.

Hulagu sangat senang sekali ketika Nasiruddin mengungkapkan rencananya untuk
membangun Observatorium di Maragha. Saat itu, Hulagu telah menjadikan wilayah Malagha
yang berada wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahannya. Pada tahun 1259 M.
Nasiruddin pun mulai membangun Observatorium yang megah. Jejak dan bekas bangunan
observatorium itu masih ada dan dapat kita jumpai sampai sekarang ini. Observatorium Maragha
mulai beroperasi pada tahun 1262 M. pembangunan dan operasional observatorium itu
melibatkan serjana dari Persia dibantu astronom dari Cina. Teknologi yang digunakan di
observatorium itu terbilang canggih pada zamannya. Beberapa peralatan dan teknologi penguak
luar angkasa yang digunakan di observatorium itu ternyata merupakan penemuan dari
Nasiruddin, yang salah satunya yaitu Kuadran Azimuth. Selain itu juga, dia membangun
perpustakaan di observatorium itu, koleksi buku-bukunya terbilang lengkapyakni terdiri dari
beragam Ilmu-ilmu pengetahuan. Ditempat itu, Nasiruddin tak Cuma mengembangkan bidang
astronomi saja. Dia pun turut mengembangkan filsafat dan matematika

Di observatorium yang dipimpinnya itu, Nasiruddin Ath-Thusi berhasil membuat table
pergerakan planet yang akurat. Kontribusi lainnya yang amat penting bagi perkembangan
astronomi adalah kitab Zij-Ilkhani yang ditulis dalam bahasa Persia dan lalu diterjemahkan
kedalam bahasa arab. Kitab itu disusun stelah 12 tahun memimpin observatorium Maragha.
Selain itu Nasiruddin juga berhasil menulis kitab terkemuka lainnya yang berjudul At-Tadhkira
fiilm Al-haya (Memoar Astronomi). Nasiruddin mampu memodifikasi model semesta apisiklus
Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda
langit. Nasiruddin meningal dunia pada tahun 672 H / 1274 M dikota Baghdad, yang pada saat


itu dibawah pemrintahan Abaqa (Pengganti Hulagu) yang masih mendapat dukungan sampai
akhir hayatnya.

2. Integralitas Pemikiran

Abad 13 adalah masa kritis kekhalifahan Islam, sehingga sangat sedikit pemikiran politik
yang berkembang. Bahkan sulit menemukan pemikir politik yang orisinal pada periode pasca-
mongol tersebut. Akan tetapi kita mengenal Nasiruddin Al Tusi, seorang pemikir cemerlang
yang memainkan peran intelektual dan pemikiran pemerintahan pada masanya. Beliau
mempelajari filsafat Yunani dan filsafat Islam seperti karya-karya Aristoteles, Al Farabi, Ibn
Sina dan sebagainya. Beliau juga dikenal ahli dalam bidang teologi dan fikih yang sangat
berpengaruh di Nisapur, sebuah kota yang menjadi pusat peradaban berpengaruh.

Beliau juga dikenal sebagai seorang astrolog handal serta menguasai matematika. Walaupun
keahliannya ini menjadikannya tidak bebas dan dipaksa bekerja hampir dua puluh tahun sebagai
astrolog di sebuah benteng Alamut dibawah kekuasaan dinasti Nizari-Islamiliyah. Menurut
Antony Black, At Thusi tidak pernah menjadi pengikut Islamiliyah, kendati ide-ide Ismailiyah
muncul dalam karyanya, yang kelihatannya telah diedit sebagian dikemudian hari. Bisa jadi at-
Thusi juga menulis sebuah ringkasan tentang ajaran-ajaran Nizari Islamiliyah yang berjudul
Rawdhah alTaslim atau Tashawurat.
Dalam pemikiran agama, al-Tusi mengadopsi ajaran-ajaran neo-Platonik Ibn Sina dan
Suhrawardi, yang keduanya ia sebut, demi alasan-alasan taktis, orang bijak (hukuma) bukan
sebagai Filsuf. Akan tetapi, berbeda dari Ibn Sina, ia berpendapat bahwa eksistensi Tuhan tidak
bisa dibuktikan, akan tetapi sebagaimana doktrin Syiah, manusia membutuhkan pengajaran yang
otortatif, sekaligus filsafat. Ini menunjukkan kecenderungan teologi mistisnya.

Dalam pemikiran politik, al Tusi cenderung menyintesiskan ide-ide Arsatoteles dan tradisi
Iran. Ia menggabungkan filsafat dengan genre Nasehat kepada Raja, sehingga ia tetap
memelihara hubungan antara Syiah dan filsafat. Buku etika-nya disajikan sebagai sebuah karya
filsafat praktis. Karya ini membahas persoalan individu, keluarga, dan komunitas kota, provinsi,
desa atau kerajaan. Pembahasan bagian I menggunakan etika Miskawaih, bagian II
menggunakan ide Bryson dan Ibn Sina, dan bagian III menggunakan pemikiran Al Farabi.

Nasiruddin Al Tusi bermaksud menyatukan filsafat dan fikih berdasarkan pemikiran bahwa
perbuatan baik mungkin saja didasarkan atas fitrah atau adat. Fitrah memberikan manusia
prinsip-prinsip baku yang dikenal sebagai pengetahuan batin dan kebijaksanaan. Sedangkan adat
merujuk pada kebiasaan komunitas, atau diajarkan oleh seorang nabi atau imam, yaitu hukum
Tuhan, dan ini merupakan pokok bahasan fikih. Keduanya dibagi lagi menjadi norma-norma
untuk individu,keluarga dan penduduk desa atau kota. Menurutnya filsafat mempunyai
kebenaran-kebenaran yang tetap sedangkan fikih ataupun hukum Tuhan mungkin berubah karena
revolusi atau keadaan, perbedaan zaman dan bangsa serta terjadinya peralihan dinasti. Beliau
menafsirkan Negara atau dinasti seperti dawlah menurut pandangan Ismailiyah, hal ini terlihat
dari pandangannya tentang perubahan pada hukum Tuhan oleh nabi-nabi, penasiranfuquha dan


juga para imam. Sehingga at-Tusi menganggap syariat sebagai suatu tatanan hukum yang tidak
mutlak dan final, sebagaimana diyakini kalangan Sunni.

3. Karya-karya Nasiruddin Ath-Thusi

Benar kalau dikatakan bahwa Ath-Thusi adalah seorang ulama yang menguasai berbagai
bidang Ilmu, bukan hanya seorang filsuf semata. Hal itu terlihat dari berbagai disiplin keilmuan
yang ditulisnya dalam bentuk buku atau kitab.

Meskipun Ath-Thusi pandai dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan namun ia bukan
seorang ilmuwan/filsuf yang kreatif sebagaimana filsuf yang ada ditimur yang memuat
sebelumnya. Ia bukan termaksuk ahli fikir yang kreatif yang memberikan gagasan-gagasan
murni yang cemerlang. Hal ini tampak pada kedudukan ia sebagai pengajur gerakan kebangktan
kembali dan dalam karya-karyanya kebanyakan bersifat eklektis yakni bersifat memilih dari
berbagai sumber. Tetapi meskipun demikian, ia tetap memiliki cirri khas tersendiri dalam
menyajikan bahan tulisannya. Kepandaiannya yang beragam sungguh mengagumkan. Minatnya
yang banyak dan berjenis-jenis mencakup filsafat, matematika, astronomi, fisika, ilmu
pengobatan, mineralogy, music, sejarah , kesusastraan dan dogmatik.

Adapun karya-karya Nasiruddin Ath-Thusi sebagi berikut :

1) Bidang logika :

a. Asas Al-Iqtibas
b. At-Tajrid fi Al-Mantiq,
c. Syarh-I Mantiq Al-Isyarat
d. Tadil Al-MI\iyar

2) Bidang metafisika :

a. Risalah dar Ithbat-I Wajib,
b. Itsar-I Jauhar Al-Mufariq,
c. Risalah dar Wujud-I Jauhar-I Mujarrad,
d. Risalah dar Itsbat-I Aqi-I Faal,
e. Risalah Darurat-I Marg,
f. Risalah Sudur Kharat Az Wahdat,
g. Risalah Ilal wa Malulat Fushul,
h. Tashawwurat,
i. Talkis Al-Muhassal dan
j. Hall-I Musykilat Al-Asyraf.

3) Bidang etika :

a. Akhlak-I Nashiri,
b. Ausaf Al-Asyarf.



4) Bidang dogmatik adalah :

a. Tajrid AlAqaid,
b. Qawaid Al-Aqaid,
c. Risalah-I Itiqodat.

5) Bidang astronomi :

a. Al-Mutawassithat Bain Al-Handasa wal Haia,: buku suntingan dari sejumlah karya Yunani,
Ikhananian Table ( penyempurnaan Planetary Tables )
b. Kitab At-Tazkira fi al-Ilmal-haia; buku ini terdiri dari atas empat bab ( I ) pengantar geometrik
dan sinematika dengan diskusi-diskusi tentang saat berhenti, gerak-gerik sederhan, dan
kompleks. ( II ) pengertian-pengertian astronomikal secara umum, perubahan sekular pembiasan
ekliptik. Sebagian bab ini diterjemahkan oleh Carr De Vaux penuh dengan kritikyang tajam atas
Almagest karya Ptolemy. Kritikan ini merupakan pembuka jalan bagi Copernicus, terutama
pembiasan-pembiasan pada bulan dan gerakan dalam ruangan planet-planet.( III ) bumi dan
pengaruh benda-benda angkasa atasnya, termaksuk di dalamnya tentang laut, angin, pasang
surut, serta bagaimana hal ini terjadi. ( IV ) besar dan jarak antar planet.
c. Zubdat Al-Haia 9 yang terbaik dari astronomi),
d. Al-Tahsil fil An-Nujum,
e. Tahzir Al-Majisti,
f. Mukhtasar fial-ilm At-Tanjim wa Marifat At-Taqwin ( ringkasan astrologi dan penanggalan),
g. Kitab Al-Bari fi Ulum At-Taqwim wa Harakat Al-Afak wa Ahkam An-Nujum ( buku terunggul
tentang Almanak, gerak bintang-bintang dan astrologi kehakiman ).

6) Bidang aritmatika, geometri, dan trogonometri :

a. Al-Mukhtasar bi Jami Al-Hisab bi At-Takht wa At-Turab ( ikhtisar dari seluruh perhitungan
dengan tabel dan bumi ),
b. Al-Jabr wa Al-Muqabala ( risalah tetang Al-Jabar )
c. Al-Ushul Al-Maudua ( risalah mengenai Euclidas Postulate ),
d. Qawaid Al-Handasa ( kaidah-kaidah geometri ),
e. Tahrir al-Ushul,
f. Kitab Shakl Al-Qatta ( risalah tentang Trilateral ), sebuah karya dengan keaslian luar biasa, yang
ditulis sepanjang abad pertengahan. Buku tersebut sanagat berpengaruh di Timur dan di Barat
sehingga menjadi rujukan utama dalam penelitian trigonometri.

7) Bidang optic :

a. Tahrir Kitab Al-Manazir,
b. Mabahis Finikas Ash-Shuar wa in Itaafiha ( penelitian tentang refleksi dan defleksi sinar-sinar).



8) Bidang seni (syair) meskipun tidak sekeliber Omar Khayam atau pun Jalaluddin Rumi, ia juga
mampu menghasilkan karya yang diabadikan dalam buku yang berjudul Kitab fi Ilm Al-Mau-
Siqi dan Kanz At-Tuhaf.

9) Bidang medical adalah kitab Al-Bab Bahiyah fi At-Tarakib As-Sultaniyah; buku ini bercerita
tentang cara diet, peraturan-peraturan kesehatan dan hubungan seksual.

Beberapa pikiran lainnya dapat dikemukaakn di sini tentang kajian perbandingan dan
pembagiannya. Thusi dengan jelas menyatakan bahwa setiap perbandingan suatu besaran,
apakah sepadan atau tidak dapat dikatakan sebagai bilangan, suatu pernyataan Newton yang
membantu menegaskannya kembali dalam Universitas Arithemetic pada tahun 1707.

4. Filsafat Nasiruddin Ath-Thusi

A. Sosial-Politik

Nasiruddin at-Tusi adalah seorang pemikir politik prolifik. Dengan keahliaannya yang
sangat komplit, at-Tusi mampu menyuguhkan sebuah pemikiran idealis tentang politik. Hal ini
dapat dilihat ketika Tusi, pertama adalah mengkaji tentang kemanusiaan sebagai tahap awal
munculnya politik dalam diri manusia, kemudian Ia juga membahas bagaimana fitrah manusia
sebenarnya. Kedua adalah tentang masyarakat politik, beliau menjelaskan elemen-elemen
masyarakat politik, seperti adanya kerja sama dalam bidang ekonomi, elemen keadilan, dan
bahkan elemen cinta. Untuk itulah akan kita lihat pemikiran sosio-politiknya yang khas.

Kemudian setelah terbentuk masyarakat politik, Tusi juga menjelaskan adanya kelompok
masyarakat dengan status yang berbeda berdasarkan kemampuan dan usaha mereka masing-
masing. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pandangan Aristoteles. Dan kesemuanya itu akan sangat
jelas dan khas dalam pandangannya tentang Negara aktual yang bercorak Nasihat kepada Raja
atau pemimpin, yang mengisyaratkan adanya sebuah persatuan spiritual dalam mencapai
kesempurnaan dan kebahagiaan.

Di dalam menjelaskan adanya kerja sama dan organisasi sosial yang beliau sebut sebagai
masyarakat politik, sebuah masyarakat yang tercipta karena secara fitrah manusia adalah
makhluk sosial dan mempunyai kebebasan dalam berpikir. Disnini Nasiruddin at-Tusi
membaginya kedalam tiga elemen dasar terciptanya masyarakat politik tersebut.

Elemen pertama adalah bidang ekonomi politik, khususnya ketrampilan. Kebutuhan hidup
manusia disediakan oleh pengaturan teknik (tadbir al-shnai) seperti penanaman bibit, panen,
membersihkan, menumbuk dan memasak. Menurutnya, untuk alasan ini Kebijaksanaan Tuhan
meniscayakan perbedaan hasrat dan pendapat manusia, sehingga setiap manusia menghasratkan
pekerjaan yang berbeda-beda, ada yang menginginkan pekerjaan mulia, ada yang hina, dan
kenyataanya kedua-duanya sama-sama merasa gembira dan puas.



Kemudian yang menarik disini ketika Tusi berpendapat bahwa ketrampilan ini sangat
bergantung pada uang. Menurutnya uang merupakan sebuah instrumen keadilan. Uang
adalah hukum yang lebih rendah, mediator yang adil antara manusia dalam berhubungan
ekonomi, bahkan dapat dikatakan juga bahwa uang adalah merupakan keadilan yang diam.
Selain uang, ketrampilan pun bergantung pada oraganisasi sosial. Menurutnya, karena manusia
harus bekerja sama, maka spesies manusia pada hakikatnya membutuhkan perpaduan, yakni
terbentuknya kehidupan sipil atau tamaddun. Karena itu manusia pada dasarnya adalah penduduk
kota atau warga Negara.

Selanjutnya yang dibutuhkan sebuah warga Negara adalah suatu manajemen khusus,
yaitusyiasah atau pemerintahan. Pemerintahan dibutuhkan karena pertukaran moneter antar
manusia kadang-kadang membutuhkan arbitase. Maka menururtnya elemen kedua dalam
masyarakat politik adalah keadilan. Dalam hal ini at-Tusi sangat terpengaruh oleh Plato yang
memandang keadilan sebagai inti kebajikan, harmoni keberagamaan. Kemudian ia melanjutkan
bahwa keadialan di kalangan manusia tidak dapat dijalankan tanpa tiga hal; perintah Tuhan
(numus-I ilahi), seorang pemberi keputusan diantara manusia (hakim) dan uang.

Elemen terakhir yang mungkin paling unik adalah penjelasannya tentang asosiasi manusia
dengan cinta yang menurutnya memainkan peran lebih sentral dari pada teori sosial Islam
lainnya. Cinta melahirkan kehidupan yang beradap (tamadun) dan persatuan sosial. Baginya
cinta merupakan penghubung semua masyarakat. Cinta mengalir dari fitrah manusia itu sendiri
(Mungkin ini dambil dari gagasan neo-Platonis). Menurutnya semakin kita tersucikan, semakin
kita menjadi subtansi-subtansi sederhana yang mengetahui bahwa tidak ada perbedaan antara
memaknai atau mengabaikan sifat fisik dan bahkan mencapai kesatuan batin melalui cinta
satu sama lain. Sebagai contoh, At-Tusi memandang umat Islam terdiri atas asosiasi tunggal,
sebagaimana pengertian Aristoteles. Sikap saling membantu dan mencintai serta kerja sama
membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan. Hal ini secara tidak langsung melahirkan
kemanuggalan semua orang pada Manusia Sempurna, sebagaimana diajarkan dalam doktrin
Syiah Ismailiyah. Disini dapat kita lihat sepertinya Al Tusi telah berhasil mengintegrasikan
pemikiran Aristoteles dan Syiah secara lebih mendalam.

Secara lebih khusus, Al Tusi seperti pemikir muslim lainnya memandang pemerintahan
atausyiasah dalam kaitannya dengan perhatian pada karakter dan hak-hak istimewa pemimpin,
yang beliau sebut sebagai raja (Malik). Beliau sangat rinci didalam menjelaskan adanya empat
tipe pemerintah dari pemikiran filsafat Aristoteles, yaitu; pemerintahan yang mementingkan
keagungan raja, kekuasaan, kemuliaan dan komunitas. Al Tusi hendak mengatakan bahwa
keempat aspek itu sama-sama terdapat dalam sebuah pemerintahan, raja adalah sebuah
pemerintahan dari berbagai pemerintahan yang berfungsi untuk mengorganisasikan ketiga
aspek lainnya.

Disini at-Tusi tampaknya mengaitkan pandangannya dengan pemerintahan yang bernuansa
keagamaan. Pemerintahan umat berurusan dengan peraturan-peraturan keagamaan dan dengan
keputusan-keputusan intlektual. Walaupun at-Tusi barangkali merujuk pada pemerintahan oleh


rakyat untuk kebaikan bersama (politea), beliau tidak menfsirkannya dalam pengertian
pemerintahan oleh rakyat, sebagaimana demokrasi. Namun, menurutnya pemerintahan seperti itu
harus dipimpin oleh seorang istimewa yang ditunjuk oleh Tuhan dan agar rakyat mengikutinya.
Dimana menurut pandanganYunani kuno disebut sebagai pemilik Hukum dan kaum Muslim
menyebutnya dengan Syariat. Disini beliau menjadi sedikit berbeda dengan Al Farabi, dan
menganggap bahwa pemerintahan oleh rakyat adalah bentuk pemerintahan yang baik. Dan
mungkin kalau ditarik lebih jauh lagi pada masa sekarang, konsep sederhana Tusi tentang
pemerintahannya ini sebagai awal perkembangan Syiah Imamiyah dan bahkan yang melahirkan
Republik Islam yang pertama di Iran oleh Imam Khomeini.

B. Terbentuknya Kelompok-kelompok Politik

Sebagaimana Al Farabi yang mencoba mengklasifikaskan manusia berdasarkan pembagian
kerja dan kecenderungan individu dalam pemenuhan kebutuhannya, Nasiruddin al Tusi juga
membagi komunitas manusia kedalam : keluarga, kedaerahan , kota, komunitas besar (umam-I
kabir, sebuah bangsa) dan penduduk dunia. Al Tusi mengajukan sebuah pengajaran filsafat yang
tercipta pada konsep tentang kepemimpinan (rais). Walaupun setiap kelompok mempunyai
pemimpin masing-masing, kepala keluarga adalah bawahan dari kepala daerah, dan seterusnya,
dan semuanya merupakan bawahan dari pemimpin dunia, sang pemimpin Mutlak bagi kehidupan
politik manusia. Kelangsungan dan kesempurnaan setiap individu sangat tergantung pada
komunitas yang terakhir ini.

Komunitas universal ini kemudian bergantung pada ilmu politik (hikmat-i al-madani)
kecakapan tertinggi yang mengungguli seluruh kecakapan lainnya, yang menjadi kajian
hukum universal/Qawanin, yang menghasilkan manfaat terbaik bagi mayoritas, karena mereka
diarahkan, melalui kerjasama, menuju kesempurnaan sejati. Menurutnya pengetahuan tertinggi
mengenai hikmah merupakan fondasi keteraturan sosial.

Lebih rinci lagi, dan mungkin ini yang membedakannya dengan Al Farabi tentang
pembagian kelas sosial, nampak At-Tusi sangat kontekstual terutama pada ranah hidupnya, yaitu
khas Iran-Islam. Pengelompokan itu meliputi :

1). Ahli Pena yaitu orang-orang yang pakar dalam ilmu pengetahuan, yang meliputi fikih,
dokter, penyair, ahli geometri, astronom, dan keberadaan dunia sangat bergantung kepadanya.
2). Ahli Pedang yaitu para tentara dan prajurit.
3). Ahli Bisnis termasuk diantaranya para pedagang, pekerja terampil, dll.
4). Petani.

Tujuan ilmu politik adalah menciptakan keseimbangan diantara berbagai lapisan komunitas,
baik secara vertikal maupun horisontal. Sebuah keadilan yang tercipta antara pemimpin utama,
dibawahnya, dan seterusnya, dan juga keadilan dalam suatu lapisan masyarakat. Dari tujuan ini,
kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah mempelajari ilmu politik itu diwajibkan bagi
setiap orang? Itu juga yang menjadi pertanyaan At-Tusi. Mungkin dalam hal ini kita bisa setujui


Antony Black yang berpendapat bahwa disinilah muncul sebuah sentiment egalitarian, yang
mungkin lebih dekat dengan keilmuan Sunni dari pada Syiah. Sejauh pembacaan terhadap
pemikiran politik at-Tusi, mengisyaratkan akan adanya pembelajaran tentang ilmu politik bagi
semua orang. Tetapi bagaimanapun juga, tujuan politik adalah kebajikan, dan bahwa setiap
orang harus belajar untuk mencapai kesempurnaan ini.

Menjadi menarik pula ketika at-Tusi menyebut asosiasi seluruh dunia dibawah pimpinan
imam, sebagai Kota Utama. Selain mirip dengan pemikiran Al Farabi, hal ini mengisyaratkan
pandangannya tentang komunitas Syiah (mungkin imamiyah) sebagai kota Utama yang ia
maksudkan. Menurutnya, Kota Utama digambarkan sebagai komunitas orang-orang yang selaras
dalam pandangan dan perbuatan, sebuah komunitas spiritual yang saling berhubungan satu sama
lain. Penduduk Kota Utama, kendati beragam di seluruh dunia, namun dalam realitas mereka
saling bersepakat dalam jalinan kasih sayang, sehingga keseluruhan tampak satu.

Sebagai wujud kekhasan teori sosio-politiknya, Al Tusi membahas lebih dalam sebuah
Negara aktual yang dipimpin seorang raja agung (Badshah) dalam wacana Nasihat kepada
Raja. Mungkin bahasan ini hampir sama dengan bahasan mengenai Kota Ideal, tetapi ini berbeda
dalam cara pencapaiannya. Menurut At-Tusi, jika kerajaan ingin mencapai kesuksesan, ia harus
mempunyai persatuan spiritual. Pandangan ini sangat jelas terlihat dalam konsepnya tentang
elemen cinta, bahwa sesungguhnya ketika seluruh penduduk sudah menyadari akan kesatuan
seabgai satu tubuh, maka kerja sama dan saling tolong menolong akan tercipta dengan
sendirinya. Semua ini ia ibaratkan seperti kerjasama organ dalam tubuh manusia. Tingkat
persatuan spiritual semacam itu menentukan kemajuan dan kemunduran Negara.

Di Negara-negara aktual, kewajiban pemimpin adalah memikirkan keadaan rakyatnya dan
mengabdikan dirinya untuk menjaga keadilan. Artinya, secara khusus tugas kepala Negara
adalah menjaga keseimbangan antara kelompok-kelompok sosial. Sehingga pemimpin harus
menghindarkan diri dari dominasi kelompok. Maka secara tidak langsung, jelas terlihat
pemikiran sosio-politik Nasruddin At-Tusi ketika menjadikan status, atau kelas sebagai perhatian
utama pemerintah.

C. Kemanusiaan

Pemikiran politik al Tusi didasarkan atas pandangan tentang kemanusiaan sebagai jalan
tengah antara tingkatan intelektual dan spiritual yang lebih tinggi dengan tingkatan lahir yang
fana. Pendapat ini mirip dengan pemikiran Al Farabi, bahwa setiap orang mampu mencapai
kebahagiaan abadi, tergantung pada upaya masing-masing. Pandangan tentang kebebasan
manusia ini berjalan seiring dengan pandangan keluhuran fitrah manusia. Menurutnya, manusia
diciptakan Tuhan sebagai makhluk paling mulia, akan tetapi kesempurnaanya menjadi tanggung
jwab penalarannya sendiri yang merdeka.

Mengenai kecenderungan moral manusia, at-Tusi menyatakan bahwa sebagian manusia
menurut fitrahnya baik, sedangkan yang lain baik menurut hukum agama. (Akhlaqi Nasiri. hal


210). Beliau menyimpulkan bahwa kesejahteraan manusia membutuhkan; pertama, pengaturan
dunia materi oleh akal, melalui seni dan ketrampilan. Kedua, membutuhkan pendidikan, disiplin
dan kepemimpinan. Menurutnya manusia pada awal penciptaanya diadaptasikan pada dua
keadaan ini, yaitu fisik dan intelektual, sehingga diperlukan para nabi dan filsuf, imam,
pembimbing, tutor dan instruktur.


D. Filsafat Jiwa

Thusi berasumsi bahwa jiwa merupakan suatu realitas yang bisa terbukti sendiri dank
arena itu tidak memerlukan bukti lain. Lagi pula jiwa tidak bisa dibuktikan. Dalam masalah
semacam ini, pemikiran yang lepas dari eksistensi orang itu sendiri merupakn suatu
kemustahilan dan kemusykilan yang logis sebab suatu argument mensyaratkan adanya seorang
ahli argument dan sebuah masalah untuk diargumentasi, sedangkan dalam hal ini keduanya sama
yaitu jiwa.

Jiwa merupakann subtansi sederhana dan immaterial yang dapat merasa sendiri. Ia
mengontrol tubuh melalui otot-otot dan alat-alat perasaan, tapi ia sendiri tidak dapat dirasa lewat
alat-alat tubuh. Setelah menyebutkan argumentasi Ibnu Miskawaih mengenai jasmaniah jiwa dari
sifatnya yang tidak dapat dibagi, kemampuanya untuk membuat bentuk-bentuk baru tanpa
kehilangan bentuk-bentuknya yang lama, pemahamannya akan bentuk-bentuknya yang
bertentangan pada waktu yang sama, dan pembetulannya akan ilusi rasa.

Thusi menambahkan menambahkan dua argumentasinya sendiri. Penilaian atas logika,
fisika, matematika, teologi, dan sebagainya, semuanya ada di dalam satu jiwa tanpa bercampur
baur dan dapat diingat dengan kejelasan yang khas, yang mustahil ada di dalam suatu subtansi
material. Oleh karena itu, jiwa merupakn suatu subtansi immaterial. Lagi pula, akomodasi fisik
itu terbatas, sehingga seratus orang tidak dapat ditempatkan di dalam sebuah tempatyang dibuat
untuk lima puluh orang, hal ini tidak berlaku bagi jiwa. Dapat dikatakan bahwa jiwa mempunyai
cukup kemampuan untuk menempatkan semua gagasan dan konsep objek yang dikenalnya
kedalam banyak ruang agar setiap waktu diperlukan. Ini juga membuktikan bahwa jiwa
merupakan suatu subtansi yang sederhana dan immaterial.

Dalam ungkapan umum kepalaku, mataku, telingaku, kata ku menunjukkan
induvidualitas (huwiyyah) jiwa, yang memiliki anggota-anggota tubuh ini, dan bukan
jasmaniyah. Memang, jiwa memerlukan tubuh sebagai alat penyempurna dirinya, tetapi ia tidak
begitu, dikarenakan pemilikannya akan tubuh.

Ath-Thusi menambahkan jiwa imajinatif yang menempati posisi tengah diantara jiwa
hewan dan manusiawi. Jiwa manusiawi ditandai dengan adanya akal (nutq) yang menerima
pengetahuan dari akal pertama. Akal itu ada dua jenis yaitu akal teoritis dan akal praktis,
sebagaiman yang dikemukan oleh Aristoteles. Dengan mengikuti pendapat Al-Kindi, Ath-Thusi
beranggapan bahawa akal teoritis merupakan suatu potensialita, yang perwujudannya
mencangkup empat tingkatan, yaitu akal material (Aql-I Hayulani), akal malaikat (Aql-I malaki),
akal aktif (Aql-I bi al-Fiil) dan akal yang diperoleh (Aql-I Mustafad). Pada tingkatan akal


yang diperoleh setiap bentuk konseptual yang terdapat didalam jiawa menjadi nyata terlihat,
seperti wajah seseorang yang ada didalam kaca yang dapat dilihat oleh orang tersebut. Di pihak
lain, akal praktis berkenaan dengan tindakan-tindakan yang tidak sengaja dan sengaja. Oleh
karena itu, potensialitasnya diwujudkan lewat tindakan tindakan moral, kerumah tanggaan dan
politis.

Jiwa imajinatif berkenaan dengan presepsi-presepsi rasa dari satu pihak, dan dengan
abstraksi-abstraksi rasional dari pihak lain, sehingga jika ia disatuakan dengan jiwa hewani, ia
akan bergantung kepadanya dan hancur bersamanya. Akan tetapi, jika ia dihubungkan dengan
jiwa manusia, ia menjadi terlepas dari anggota-anggota tubuh dan ikut bergembira dan bersedih
bersama jiwa itu dengan kekekalannya. Setelah keterpisahan jiwa dan tubuh, suatu jejak
imajinasi tetap berada dalam bentuknya dan hukum atau perhargaan jiwa manusiawi menjadi
bergantung pada jejak ini (haiat) yang dikenal atau dilakukan oleh jiwa imajinatif di dunia ini.

Imajinasi sensitive dan kalkualtif Aristoteles jelas merupakn struktur jiwa imajinasi
Thusi, tetapi tindakannya menghubungkan jiwa imajinatif dengan teori hukum dan penghargaan
yang berbelit-belit diakhirat, ini merupakan gagasan-gagasannya sendiri. Adapun mengenai
tradisi yang diterimannya dari Ibnu Sina dan Al-Ghazali, Ath-Thusi mempercayai lokalisasi
fungsi di dalam otak. Dia telah menempatkan akal sehat (Hiss-I Mushtarak) dalam ruangan otak
yang pertama, persepsi (Mushawwirah) di awal bagian pertama ruang otak yang kedua, imajinasi
dibagian depan ruang otak yang ketiga, dan ingatan dibagian belakang otak.

E. Metafisika

Menurut Thusi, metafisika terdiri atas dua bagian, ilmu ketuhanan (Ilm-I Ilahi) dan
filsafat pertama (Falsafah-I Ula) pengetahuan tentang tuhan, akal dan jiwa merupakan ilmu
ketuhan dan pengetahuan mengenai alam semesta dan hal-hal yang berhubunga dengan alam
semesta merupakan filsafat pertama. Pengetahuan tentang kelompok-kelompok ketunggalan dan
kemejemukan, kepastian dan kemungkinan, esensi, dan eksistensi kekekalan dan ketidak kekalan
juga membentuk bagian dari filsafat pertama tersebut.

Diantara cabang (furu) metafisika itu termaksuk pengetahuan kenabian (Nubuwwat),
kepemimpinan spiritual (Imamat) dan hari pengedalin (Qiyamat ). Jelajah subjek itu menunjukan
bahwa metafisika merupakan esensi filsafat Islam dan lingkup sumbangan utamanya bagi sejarah
gagasan-gagasan.

F. Logika

Mengenai logika, karya-karyanya meliputi Asas Al-Iqtibas, Syarh-I Mantiq Al-Isyarat,
Taadil Al-Miyar dan Tajrid fi Al-Mantiq. Karya yang disebut pertama memberikan penjelasan
yang gambalang mengenai masalah itu dalam bahasa Persia atas dasar logika Ibnu sina dalam
Asy-Syifa.

Ath-Thusi menganggap logika sebagai suatu ilmu dan suatu alat ilmu. Sebagai ilmu, ia
bertujuan memahami makna-makna dan sifat dari makna-makna yang dipahami itu. Adapun


sebagai alat, aia menjadi kunci unutuk memehami berbagai ilmu. Kalau pengetahuan tentang
makan dan sifat dari makna-makna itu menjadi sedemikan berurat akar di dalam pikiran
sehingga tidak diperlukan lagi pemikiran refleksi, ilmu logika menjadi suatu seni yang
bermanfaat (sanat) yang membebaskan pikiran dari kesalahan pengertian di suatu pihak, dan
kekacauan di lain pihak.

Setelah mendefenisikan logika Ath-Thusi, sebagaimana Ibnu Sina memulai dengan
pembahasan pendek mengenai teori pengetahuan. Semua pengetahuan adalah konsep (
Tashawwur ) atau penilaian ( Tashdiq ) yang pertama bisa didapat lewat defenisi dan yang kedua
lewat silogisme. Dengan begitu, defenisi dan silogisme merupak dua alat untuk mencapai
pengetahuan.

Tidak seperti Aristoteles, Ibnu Sina membagi semua silogisme menjadi silogisme
kopulatif (Iqtirani) dan silogisme ekseptif (Is-TitsnaI). Tusi mengikuti pembagian ini dan
mengabungkannya dengan caranya sendiri. Karya-karyanya dibidang logika secara garis besar
bercorak logika Aristoteles, tetapi ia tidak menyebutkan tiga silogisme , melainkan empat
sumber dan sumber dari bentuk keempat ini terdapat pada Orgonon-nya Aristoteles ataupun
karaya-karya logika Ibnu Sina.

G. Kenabian

Setelah menetapkan kebebasan berkehendak dan kebangkitan kembali tubuh. Thusi selalu
menetapkan perluya kenabian dan kepemimpinan spiritual. Pertentangan minat serta kebebsan
induvidu mengakibatkan tercerai berainya kehidupan sosial, dan ini memerlukan aturan suci dari
tuhan untuk mengatur urusan-urusan manusia. Tapi Tuhan sendiri berada diluar jangkauan indra,
oleh karena itu dia mengutus para nabi untuk membantu orang-orang. Pada gilirannya, ini
memerlukan pranata kepemimpinan spiritual setelah para nabi untuk menerapkan Aturn suci
tersebut.

H. Tuhan

Setelah menyangkal kemungkinan logis eteisme dan adanya dualitas pokok, Thusi tidak
seperti Farabi, Ibnu Miskawaih, dan Ibnu Sina, mengemukakan bahwa logika dan metafisika
sama sekali tidak dapat membuktikan eksistensi Tuhan secara rasional. Sebagai penyebab utama
bagi adanya bukti-bukti dan kerenanya merupakan dasar dari semua logika dan metafisika. Dia
sendiri tiadak bergantung pada bukti-bukti logis, sebagaiman hokum-hukum dasar logika formal,
ia tidak memerlukan dan memberikan kemungkinan untuk pembuktian. Ia adalah prinsip logika
kosmik yang bersifat a priori, mendasar, perlu dan membuktikan diri. Eksistensinya harus
diterima dan dianggap sebagai postulat, bukannya dibuktikan. Dari studi kehidupan moral pun,
Thusi sampai pada kesimpulan yang sama dan seperti Kant pada zaman modern, dia
beranggapan bahwa eksistensi Tuhan merupakan suatu postulat pokok etika.

Selanjutnya Thusi mengemukakan bahwa bukti mengisyaratkan pemahaman sempurna
tentang sesuatu yang harus dibuktikan. Dan karena mustahil bagi manusia yang terbatas untuk


memahami Tuhan dalam keseluruhan-Nya, dan mustahil pula bagi manusia untuk membuktikan
eksistensi-Nya.

Masalah mengenai apakah dunia ini kekal (qodim) atau diciptakan oleh Tuhan dari
ketidakadaan (hadis) merupakan salah satu masalah yang sangat membingungkan dalam filsafat
muslim. Aristotelis mendukung pendapat bahwa dunia ini kekal, menyifatkan gerakan pada
penciptaan Tuhan, sang penggerak utama. Ibnu Miskawaih setuju dengan Aristoteles yang
menganggap Tuhan sebagai penyebab adanya gerakan; tetapi tidak seperti filusuf Yunani itu, dia
mengemukakan bahwa dunia ini, baik dalam bentik meterinya diciptakan Tuhan dari
ketidakadaan. Adapun Thusi dalam karyanya Tashawwurat yang ditulis pada masa pemerintahan
Islamailiah, melakukan suatu upaya perujukan, secara setengah hati antara Aritoteles dan Ibnu
Maiskawaih. Dia mulai dengan mengecam doktrin creatio ex nihilo. Pandangan yang
menyatakan adanya waktu ketika didunia ini belummaujud dan kemudian tuhan menciptakannya
dari ketiadaan, secara jelas mengisyaratkan bahwa Tuhan bukanlah penciptaan sebelum adanya
penciptaan dunia ini atau kekuatan penciptaan-Nya masih bersifat potensial yang kemudia hari
batu diwujudkan, dan ini merupakan sangkalan atas daya penciptaan yang kekal. Oleh sebab itu
logisnya, Tuhan itu selamanya merupakan pencipta yang mengaitkan eksistensi penciptaan
kepada diri-Nya. Dunia ini, dengan kata lain, merupakan sesuatu yang sama kekalnya dengan
tuhan. Disini Thusi menutup pembahasan ini dengan mengemukakan bahwa dunia ini kekal
karena kekuasaan Tuhan yang menyempurnakannya meskipun dalam hak dan kekuatannya
sendiri, ia tercipta (muhdats).

Dalam karyanya Fushul (risalah yang terkenal dan paling banyak diulas), Thusi
meninggalkan sikap tersebut sekaligus mendukung sepenuhnya doktrin ortodoks mengenai
creation ex nihilo. Dengan menggolongkan Dzat menjadi yang pasti dan mungkin, dia
mengemukakan bahwa eksistensi yang mungkin itu bergantung pada yang pasti, dan karena ia
maujud akibat dari sesuatu yang laindari dirinya, tidak dapat dikatakan bahwa ia dalam keadaan
maujud sebab penciptaan yang maujud itu mustahil. Karena sesuatu yang tidak maujud itu tidak
ada, begitu juga Kemaujudan yang pasti itu, menciptakan yang mustahil itu dari ketiadaan.
Proses semacam itu disebut penciptaan dan hal-hal yang ada itu di sebut yang tercipta (muhdats).

Dalam kitab Tashawwurat, Thusi setuju dengan Ibnu Sina yang berpendapat bahwa dari
suatu ketaiadaan dapat satu, dan dengan mengikuti prinsip ini, dia menerangkan asal (shudur)
dunia ini dari kemaujudan yang pasti itu dengan gaya Neo-Platonik. Dalam karyanya Risalah-I
Aql, Risalah-I Hal wa Malu-lat, dan Syarh-Hsyarat juga dia mendukung baik secara logis
maupun matematis, penjamakan dalam proses penciptaan sebagai suatu keseluruhan. Akan tetapi
dalam karyanya berikut, Qawaid al-Aqa-id, Tarjid al-Aqa-id, dan Fushul, dia secara jelas
menyerang dan menumbangkan dasar paling penting dari prinsip ini, yang sebelumnya amat
dipercayai,. Refleksi akal pertama dikatakannya sebagai telah menciptakan akal, jiwa dan tubuh
lingkungan pertama. Dikemukakannya bahwa sikap ini jelas mengisyaratkan kemejemukan pada
yang tercipta oleh akal pertama, yang bertentangan dengan prinsip bahwa dari satu ketakadaan
muncul satu. Adapun mengenai sumber kemejemukan, lebih jauh dia mengemukakan bahwa
kemajemukan bisa maujud melalui wawenamg Tuhan dan bisa pula tanpa wawenang Tuhan.
Jika ia maujud, karena wewenang Tuhan, tidak ada keraguan lagi bahwa ia dating dari Tuhan.
Dipihak lain jika ia maujud tanpa wewenang Tuhan, itu bererti adanya tuhan selain Allah.



Hal itu diungkapkan kembali dalam Tashawwurat. Thusi berpandangan bahwa refleksi
Tuhan sepadan dengan penciptaan dan merupakan hasil dari kesadaran diri-Nya. Di situ dia
menganggap Tuhan sebagai pencipta yang bebas dan menumbangkan teori penciptaan karena
desakan. Jika tuhan menciptakan karena dia butuh mencipta, Thusi mengemukakan berarti
tindakan-tindakanya tentu berasal dari esensi-Nya. Dengan begitu jika suatu bagian dari dunia ini
menjadi tak maujud, esensi Tuhan itu tentu juga menjadi Tiada, karena penyebab keberadaan itu
ditentukan oleh ketiadaan satu bagian dari penyebabnya. Hal itu selanjudnya ditetapkan oleh
ketiadaan bagian lain dari penyebabnya dan seterusnya. Karena semua yang ada itu bergantung
perunya Tuhan, ketidakadaan mereka akhirnya menjadi ketidaan Tuhan sendiri.