Anda di halaman 1dari 11

TUGAS UMUM

SHELL AND TUBE HEAT EXCHANGER



Heat Exchanger adalah alat penukar kalor yang berfungsi untuk mengubah
temperatur dan fasa suatu jenis fluida. Proses tersebut terjadi dengan
memanfaatkan proses perpindahan kalor dari fluida bersuhu tinggi menuju fluida
bersuhu rendah. Sebagai alat untuk penukaran panas dari fluida dengan temperatur
tinggi ke fluida dengan temperatur rendah, suatu heat exchanger diharapkan
mempunyai efektivitas yang tinggi. Secara teoritis kenaikan kecepatan aliran akan
menaikkan efektivitas. Namun, hal ini membuat waktu kontak menjadi singkat.
Dari hasil penelitian didapat bahwa efektivitas naik seiring dengan kenaikan
kecepatan hingga suatu harga tertentu dan kemudian akan turun. Efektivitas Shell-
and-Tube Heat Exchanger lebih tinggi jika udara panas mengalir dengan
kecepatan tinggi (di sisi tube) dan udara dingin mengalir dengan kecepatan rendah
(di sisi shell).
Di dalam dunia industri peran dari heat exchanger sangat penting. Misal
dalam industri pembangkit tenaga listrik, heat exchanger berperan dalam
peningkatan efisiensi sistem. Contohnya adalah ekonomizer, yaitu alat penukar
kalor yang berfungsi memanaskan feed water sebelum masuk ke boiler
menggunakan panas dari exhaust gas (gas buang). Selain itu heat exchanger juga
merupakan komponen utama dalam sistem mesin pendingin, yaitu berupa
evaporator dan condenser.
Kemampuan untuk menerima panas suatu heat exchanger dipengaruhi oleh 3
hal :
1. Koefisien overall perpindahan panas (U)
Menyatakan mudah atau tidaknya panas berpindah dari fluida panas ke fluida
dingin dan juga menyatakan aliran panas menyeluruh sebagai gabungan proses
konduksi dan konveksi.
2. Luas bidang yang tegak lurus terhadap arah perpindahan panas
3. Selisih temperatur rata-rata logaritmik (T LMTD)
LMTD merupakan perbedaan temperatur yang dipukul rata-rata setiap bagian
HE. Karena perbedaan temperatur di setiap bagian HE tidak sama.
A. Shell and Tube Heat Exchanger
Shell and Tube Heat Exchanger merupakan salah satu jenis heat exchanger.
Jika aliran yang terjadi sangat besar, maka digunakan shell and tube heat
exchanger, dimana exchanger ini adalah yang biasa digunakan dalam proses
industri. Exchanger ini memiliki aliran yang kontinyu. Banyak tube yang
dipasang secara paralel dan di dalam tube-tube ini fluida mengalir. Tube-tube ini
disusun secara paralel berdekatan satu sama lain di dalam sebuah shell dan fluida
yang lain mengalir di luar tube-tube, tetapi masih dalam shell.
Shell and Tube Heat Exchanger adalah jenis Heat Exchanger yang paling
umum dipergunakan pada proses Revinary, Oil and Gas dan Petrochemical.
Dalam hal design Shell and Tube Heat Exchanger (STHE), standar yang dipakai
adalah ASME Section VIII dan TEMA Class R, atau API 660
Ada dua sisi utama dalam design STHE, Shell Side dan Tube Side.
Berdasarkan konstruksinya, STHE dapat dibagi atas beberapa tipe, masing masing
tipe diberi kode berdasarkan kombinasi tipe Front Head, Shell, dan Rear Head.
Setelah mengetahui karateristik dari masing masing tipe shell and tube heat
exchanger, selanjutnya design didasarkan atas keperluannya. Design yang
kompleks biasanya menimbulkan biaya yang lebih mahal dan perawatan yang
lebih sulit sehingga biasanya hanya digunakan untuk keperluan yang tidak
memungkinkan penggunaan yang lebih simpel. Secara garis besarnya ada dua
Tahap Detail Design untuk Shell and Tube Heat Exchanger, Tahap pertama
adalah Thermal Design dan selanjutnya diteruskan dengan Mechanical
Design. Output atau hasil yang diperoleh pada Thermal design akan menjadi data
input untuk Mechanical design.
Dari semua tipe HE, shell & tube HE lah yang paling baik digunakan. hal tersebut
dapat dikarenakan :
1. STHE memberikan luas permukaan perpindahan panas yang besar dengan
volume yang kecil
2. Memiliki range luas perpindahan panas yang lebar mulai kurang dari 1 meter
kuadrat hingga seribuan meter kuadrat dan bahkan lebih
3. Memiliki rancangan mechanical yang baik, mampu dioperasikan pada tekanan
tinggi
4. Dapat dirancang dengan menggunakan berbagai jenis material
5. Mudah dibersihkan baik dengan chemical maupun mechanical cleaning
6. Memiliki prosedur thermal dan mechanical design yang baik.
7. Mudah melakukan penggantian untuk komponen atau bagianbagian yang
cukup mudah rusak seperti gasket dan tube.
Dalam sistem shell & tube heat exchanger besar kecilnya perpindahan panas
dalam HE dipengaruhi oleh :
a. Luas permukaan perpindahan panasnya
b. Proses konduksi (tergantung konduktifitas termal bahan materialnya)
c. Proses konveksinya (tergantung koefisien konveksi , dimana h = k.Nu/d)
d. Nu = bilangan Nuselt (tergantung banyak parameter tergantung rumusnya
siapa yang dipakai), untuk rumus sederhananya Nu tergantung Bilangan
Reynold (Re) dan Bilangan Prandtl (Pr) fluidanya dan konstantanya.
e. Re tergantung kecepatan aliran fluida (u), diameter saluran (d), dan kekentalan
fluidanya.
I. Bagian bagian Shell and Tube Heat Exchanger
Secara keseluruhan komponen utama penyusun shell and tube heat exchanger
adalah:
1) Shell
Biasanya berbentuk silinder yang berisi tube bundle sekaligus sebagai wadah
mengalirnya zat.
2) Head stationer
Head stationer merupakan salah satu bagian ujung dari penukar panas. Pada
bagian ini terdapat saluran masuk fluida yang mengalir ke dalam tube.
3) Head bagian belakang
Head bagian belakang ini terletak diujung lain dari alat penukar panas
4) Sekat (baffle). Sekat digunakan untuk membelokkan atau membagi aliran dari
fluida dalam alat penukar panas. Untuk menentukan sekat diperlukan
pertimbangan teknis dan operasional.
Macam-macam baffle yaitu:
a) Horizontal cut baffle
Baik untuk semua fase gas atau fase liquid dalam shell.
Baik ada dissolves gas dalam liquid yang dapat dilepaskan dalam heat
exchanger maka perlu diberi notches dalam baffle.
b) Vertical cut baffle
Baik untuk liquid yang membawa suspended matter atau yang heavy fouling
fluida.
c) Disc and doughtnut baffle
Fluida harus bersih, bila tidak akan terbentuk sediment dibelokkan doughtnut
Kurang baik, sebab bila ada dissolved gas yang terlepas, bisa dilepaskan
melalui top dari doughtnut, bila ada kondensat liquid tidak dapat di drain
tanpa large ports pada doughtnut.
d) Baffle dengan annular orifice
Baffel ini jarang digunakan kerena terdiri dari full circular plate dengan
lubang-lubang untuk semua tube.
e) Longitudinal baffle
Digunakan pada shell side untuk membagi aliran shell side menjadi dua atau
beberapa bagian untuk memberikan kecepatan yang lebih tinggi untuk
perpindahan panas yang lebih baik.
Komponen lainnya adalah tube. Macam-macam tube adalah sebagai berikut :
1) Tube
Tube merupakan pemisah dan sebagai pengantar panas yang berbeda suhunya
diantara dua zat yang berada di dalam suatu alat. Pemilihan tube ini harus
sesuai dengan suhu, tekanan, dan sifat korosi fluida yang mengalir. Tube ada
dua macam, yaitu tube polos (bare tube) dan tube bersirip (finned tube)
2) Tube sheet
Berfungsi sebagai tempat duduk tube bundle pada shell
3) Channel and pass partition
Channel merupakan tempat keluar masuknya fluida pada tube, sedangkan pass
partition merupakan pembatas antara fluida yang masuk dan keluar tube.
4) Shell cover and channel cover
Shell cover and channel cover adalah tutup yang dapat dibuka pada saat
pembersihan.
II. Konstruksi dari Heat Exchanger
Konstruksi dari heat exchanger jenis ini sangat banyak, antara lain :
1. Shell and tube heat exchanger dengan konstruksi fixed tube sheet artinya
pelat pemegang pipa-pipa pada kedua ujung pipa, keduanya memiliki
konstruksi yang tetap (tidak dapat bergeser secara aksial dalam arah sumbu
tabung relative antara satu sisi dengan sisi lainnya).
2. Shell and tube heat exchanger dengan konstruksi floating tube sheet artinya
salah satu pelat pemegang pipa-pipa pada kedua ujung pipa dapat bergerak
relatif terhadap satunya karena tidak terjepit oleh flens (mengambang).
3. Shell and tube heat exchanger dengan konstruksi pipa U (U tube type).
4. Shell and tube heat exchanger dengan konstruksi dua pipa (double pipe type).
Pada jenis ini setiap tabung berisi berkas pipa masing-masing.
Pergerakan relative ini dimaksudkan sebagai kompensasi akibat pertambahan
panjang bila terjadi perubahan temperatur pada pipa sehingga tidak memberikan
tambahan beban gaya pada baut pengencang flens tabung di luar pipa. Hal ini
selain untuk alasan kekuatan bahan juga dimaksudkan untuk keamanan dalam hal
menghindari kebocoran.
Pada heat exchanger diameter tabung tidak sama sepanjang penukar kalor.
Pebesaran diameter dimaksudkan untuk menampung perubahan fasa dari fluida
yang berada di luar pipa dan di dalam tabung. Alat ini diaplikasikan untuk proses
penguapan atau pendidihan fluida di luar pipa. Jenis ini sering disebut dengan
jenis ketel (kettle).
III. Penentuan fluida dalam shell atau tube :
1. Fluida bertekanan tinggi dialirkan di dalam tube karena tube standar cukup
kuat menahan tekanan yang tinggi.
2. Fluida berpotensi fouling dialirkan di dalam tube agar pembersihan lebih
mudah dilakukan.
3. Fluida korosif dialirkan di dalam tube karena pengaliran di dalam shell
membutuhkan bahan konstruksi yang mahal yang lebih banyak.
4. Fluida bertemperature tinggi dan diinginkan untuk memanfaatkan panasnya
dialirkan di dalam tube karena dengan ini kehilangan panas dapat dihindarkan.
5. Fluida dengan viscositas yang lebih rendah dialirkan di dalam tube karena
pengaliran fluida dengan viscositas tinggi di dalam penampang alir yang kecil
membutuhkan energi yang lebih besar.
6. Fluida dengan viskositas tinggi ditempatkan di shell karena dapat digunakan
baffle untuk menambah laju perpindahan.
7. Fluida dengan laju alir rendah dialirkan di dalam tube. Diameter tube yang
kecil menyebabkan kecepatan linier fluida (velocity) masih cukup tinggi,
sehingga menghambat fouling dan mempercepat perpindahan panas.
8. Fluida yang mempunyai volume besar dilewatkan melalui tube, karena adanya
cukup ruangan.
IV. Pemilihan Fluida Yang Dilewatkan Pada Shell dan Tube
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan aliran fluida
dalam shell side dan tube side untuk shell and tube exchanger adalah :
a. Kemampuan untuk dibersihkan (Cleanability)
Jika dibandingkan cara membersihkan Tube dan Shell, maka pembersihan sisi
shell jauh lebih sulit. Untuk itu fluida yang bersih biasanya dialirkan di sebelah
shell dan fluida yang kotor melalui Tube.
b. Korosi
Masalah korosi atau kebersihan sangat dipengaruhi oleh penggunaan dari
paduan logam. Paduan logam tersebut mahal, oleh karena itu fluida dialirkan
melalui Tube untuk menghemat biaya yang terjadi karena kerusakan shell. Jika
terjadi kebocoran pada Tube, heat exchanger masih dapat difungsikan kembali.
Hal ini disebabkan karena Tube mempunyai ketahanan terhadap korosif, relatif
murah dan kekuatan dari small diameter Tube melebihi shell.
c. Tekanan
Shell yang bertekanan tinggi dan diameter yang besar akan memerlukan
dinding yang tebal, hal ini akan memakan biaya yang tidak murah atau mahal.
Untuk mengatasi hal itu apabila fluida bertekanan tinggi lebih baik dialirkan
melalui Tube.
d. Temperatur
Biasanya lebih ekonomis meletakkan fluida dengan temperatur lebih tinggi
pada Tube side, karena panasnya ditransfer seluruhnya ke arah permukaan
luar Tube atau ke arah shell sehingga akan diserap sepenuhnya oleh fluida yang
mengalir di shell. Jika fluida dengan temperatur lebih tinggi dialirkan pada shell
side, maka transfer panas tidak hanya dilakukan ke arah Tube, tapi ada
kemungkinan transfer panas juga terjadi ke arah luar shell (ke lingkungan).
e. Sediment/ Suspended Solid / Fouling
Fluida yang mengandung sediment/suspended solid atau yang menyebabkan
fouling sebaiknya dialirkan ditube sehingga tube-tube dengan mudah dibersihkan.
Jika fluida yang mengandung sediment dialirkan di shell, maka sediment/fouling
tersebut akan terakumulasi pada stagnant zone di sekitar baffles, sehingga
cleaning pada sisi shell menjadi tidak mungkin dilakukan tanpa
mencabut tube bundle.
f. Viskositas
Fluida yang viscous atau yang mempunyai low transfer rate dilewatkan
melalui shell karena dapat menggunakan baffle. Koefisien heat transfer yang lebih
tinggi dapat diperoleh dengan menempatkan fluida yang lebih viscous pada shell
side sebagai hasil dari peningkatan turbulensi akibat aliran crossflow (terutama
karena pengaruh baffles). Biasanya fluida dengan viskositas > 2 cSt dialirkan di
shell side untuk mengurangi luas permukaan perpindahan panas yang diminta.
Koefisien perpindahan panas yang lebih tinggi terdapat pada shell side, karena
aliran turbulen akan terjadi melintang melalui sisi luar tube dan baffle.
V. Keuntungan shell & tube exchanger
Keuntungan dari shell & tube exchanger adalah
1. Memiliki permukaan perpindahan panas persatuan volume yang lebih besar.
2. Mempunyai susunan mekanik yang baik dengan bentuk yang cukup baik
untuk operasi bertekanan.
3. Tersedia dalam berbagai bahan konstruksi
4. Prosedur pengopersian lebih mudah
5. Metode perancangan yang lebih baik telah tersedia
6. Pembersihan dapat dilakukan dengan mudah
VI. Cara kerja Shell and Tube Heat Exchanger
Untuk 1-1 counterflow exchanger (gambar 1), atau 1 shell pass dan 1 tube
pass, fluida dingin masuk dan mengalir di dalam tube-tube. Fluida dingin masuk
pada ujung yang lain dan mengalir secara counterflow di bagian luar tube tetapi
masih di dalam shell. Baffle-baffle digunakan agar fluida dapat mengalir secara
bertahap melewati tube dan tidak mengalir secara paralel dengan tube.







Gambar 1. Shell & tube heat exchanger
1 shell pass and 1 tube pass (1-1 exchanger)
Dalam suatu shell and tube heat exchanger terdapat tiga tahap perpindahan
panas, yaitu konveksi sisi shell, konduksi pada dinding tube dan konveksi sisi
tube. Jika dua fluida memasuki exchanger pada dua ujung yang sama dan
mengalir dengan arah yang sama, alirannya disebut parallel atau cocurrent flow.
Untuk aliran parallel, T
2
= T
1
t
1
dan T
1
= T
2
t
2.









Gambar 2. Kurva temperatur pada aliran cocurrent

Ketika dua fluida memasuki exchanger pada dua ujung yang berbeda dan
melewati exchanger unit dengan arah yang berlawanan, aliran tipe ini biasa
disebut counterflow atau countercurrent flow. Untuk aliran countercurrent, T
2
=
T
1
t
2
dan T
1
= T
2
t
1
.








Gambar 3. Kurva temperature pada aliran countercurrent
Ada 2 jenis mekanisme perpindahan panas yang terjadi dalam Heat Exchanger,
yaitu:
a) Konduksi
Mekanisme perpindahan panas ini adalah mekanisme yang berhubungan
dengan interakasi molekuler. Transfer energi konduksi ini terjadi melalui 2
cara, yaitu mekanisme interaksi molekuler dimana dalam mekanisme ini
gerakan lebih besar yng dilakukan oleh suatu molekul yang berada pada
tingkat yang lebih rendah. Serta mekanisme melalui elektron-elektron
bebas. Karena konduksi panas pada initnya merupakan fenomena
molekuler, dapat diperkirakan bahwa persamaan dasar yang digunakan untuk
menggambarkan proses ini akan serupa dengan persamaan yang digunakan
dalam transfer momentum molekuler. Persamaan Fourier :
q
x
/A = -k dT/dt

b) Konveksi molekuler
Tranfer panas yang disebabkan konveksi melibatkan pertukaran energi antara
suatu permukaan dengan fluida di dekatnya. Persamaan laju untuk transfer
panas ini pertama kali dinyatakan oleh newton pada tahun 1701
q

/A = h T
VII. Perawatan Shell and Tube Heat Exchanger
Melakukan pembersihan secara berkala seperi di bawah ini :
Alirkan minyak panas atau hasil penyulingan melalui tabung atau shell
dengan kecepatan yang baik,pada umumnya secara efektif dapat memindahkan
kotoran atau hal serupa yang masih tersimpan didalamnya. Garam yang tersimpan
mungkin dapat dicuci bersih dengan mengalirkan air panas yang bersih.
Beberapa campuran pembersih komersil seperti Oakite dan Dowell mungkin
efektif dalam menghilangkan kotoran yang sulit dihilangkan. Jika tidak satupun
dari metoda diatas efektif untuk menghilangkan sesuatu dalam skala besar, coke
mungkin dapat digunakan. Amati kondisi bagian dalam dan luar dari seluruh
tabung dan jaga kebersihannya. Melalaikan dalam pemeliharaan kebersihan semua
tabung dapt mengakibatkan kemacetan aliran yang mengalir sepanjang tabung,
dengan konsekuensi tabung menjadi terlalu panas dibandingkan dengan sekitar
tabung, yang akan menghasilkan perluasan tegangan dan membocorkan tabung
hingga tube-sheet-joint.Ketika shutting down untuk perbaikan, hal yang penting
bahwa semua cairan dikeringkan dari heat exchanger dan dikendurkan sampai
tekanan atmosfer dan temperature lingkungan. Jangan mencoba untuk
membersihkan tabung dengan mengeluarkan uap air melalui tabung individu. Hal
ini menjadikan tabung terlalu panas dan mengakibatkan perluasan tegangan dan
membocorkan tube hingga tube-sheet-joint. Jangan menangani tube bundle
dengan pengait atau perkakas lain yang mungkin dapat merusak tabung.
Untuk memperat suatu sambungan tabung, gunakan roller tipe tube expander
yang sesuai. Untuk membersihkan dan memeriksa di dalam tabung, pindahkan
channel cover (atau bonnet) dan jangan memindahkan channel.








DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Latar Belakang Pemilihan Fluida Pada Shell and Tube Heat
Exchanger. http://pelatihanguru.net/tag/fluida-pada-shell-and-tube-heat-
exchanger. (diakses pada tanggal 10 September 2014)
Ganish. 2011. Mari Belajar Thermal Design Shell & Tube Heat Exchanger I. http:
//teknikkimiajaya.blogspot.com/2011/12/mari-belajar-thermal-design-
shell-tube.html. (diakses pada tanggal 10 September 2014)
Nofriadi. 2008. Shell and Tube Heat Exchanger. http://korogroup.darkbb.com/t4-
shell-and-tube-heat-exchanger-type-and-caracteristic. (diakses pada
tanggal 10 September 2014)
Susanto, Budi. 2011 Pembagian Heat Exchanger Berdasarkan Bentuk Konstruksi
nya. http://java-borneo.blogspot.com/2011/05/pmbagian-heat-exchanger
-berdasarkan.html. (diakses pada tanggal 10 September 2014)
Widayanto, Ruri. 2010. Heat Exchanger Shell and Tube. https://www.academia.
edu/6222617/Tugas_1_Heat_Exchanger_Shell_n_Tube_Plate_Fins.
(diakses pada tanggal 10 September 2014)