Anda di halaman 1dari 6

Jour nal of Pediat ric Nursing

143




KEBIASAAN MAKAN DENGAN KEJADIAN DEMAM TYPHOID PADA ANAK

Nani
1
, Muzakkir
2

1
STIKES Nani Hasanuddin Makassar
2
STIKES Nani Hasanuddin Makassar

(Alamat Respondensi: Wahyunanani@yahoo.co.id / 085396953770)

ABSTRAK

Demam tifoid merupakan salah satu penyakit yang menyerang saluran pencernaan yang disebabkan
oleh Salmonella typhi dan masih merupakan penyakit endemik di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini yaitu
untuk mengetahui hubungan kebiasaan makan dengan kejadian demam typhoid pada anak di RSUD
Labuang Baji Makassar. Penelitian ini terdiri dari variabel independen yaitu kebiasaan makan dan peralatan
makan , sedangkan variabel dependennya adalah kejadian demam typhoid pada anak. Metode penelitian ini
yaitu survey analitik dengan pendekatan case control. Sampel dalam penelitian ini adalah semua anak yang
berusia 5 - 12 tahun yang dirawat di ruang perawatan anak dan berada di tempat penelitian selama
penelitian berlangsung dengan tehnik pengambilan sampel accidental sampling yaitu 30 orang.
Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner pada responden untuk diisi. Setelah data
terkumpul, selajutnya data diolah, diedit dan ditabulasi, kemudian data tersebut dianalisi dengan
menggunakan Uji Chi Square dengan tingkat kemaknaan p < () = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa persentase kejadian demam typhoid pada anak yaitu 63,3%. Didapatkan probabilitas (p) untuk
kebiasanan makan dengan kejadian demam typhoid yaitu 0,023, kebersihan peralatan makan yang
digunakan dengan kejadian demam typhoid yaitu 0,023.

Kata kunci : Demam Typhoid, Kebiasaan Makan, Peralatan Makan.


PENDAHULUAN
Perilaku seseorang merupakan akumulasi
dari pengetahuan dan sikap terhadap kesehatan.
Sumber air minum yang bersih saja tidak cukup
bagi seseorang untuk terbebas dari penyakit
selama tangan yang digunakan untuk minum atau
makan tidak bersih. Selain tangan, peralatan
makan juga harus terbebas dari kontaminasi.
Apabila sumber air minum, peralatan dan tangan
sudah bersih, perilaku untuk merebus air minum
sampai mendidih tetap diperlukan untuk menjamin
sterilitas. Sebagian besar status kesehatan
masyarakat sangat ditentukan oleh faktor perilaku
dan faktor lingkungan. Faktor pelayanan
kesehatan hanya menyumbang sedikit bagi status
kesehatan masyarakat (Widoyono, 2011)
Batasan usia anak tersebut ditentukan
berdasarkan pertumbuhan fisik dan psikososial,
perkembangan, dan karakteristik kesehatannya.
Usia anak sekolah dibagi menjadi beberapa
tahap, yakni usia prasekolah, usia sekolah,
remaja, awal usia dewasa dan mencapai tahap
perkembangan yang sudah lengkap.
Ada perbedaan yang sangat mendasar
antara anak usia sekolah (tingkat prasekolah,
sekolah dasar, sekolah menengah pertama,
maupun sekolah menengah atas), dan usia
dewasa. Pada usia sekolah ada banyak
permasalahan kesehatan yang sangat
menentukan kualitas anak di masa depan.
Permasalahan kesehatan anak usia
sekolah itu meliputi kesehatan umum, gangguan
perkembangan, gangguan perilaku, dan
gangguan belajar. Tentunya, permasalahan
kesehatan tersebut sangat menghambat
tercapainya prestasi yang tinggi pada anak.
Sayangnya, permasalahan ini tidak begitu
mendapat perhatian yang baik dan serius dari
para orang tua, petugas kesehatan, dan
pemerintah (yang seharusnya mmemiliki
tanggung jawab dalam menjamin kesehatan
masyarakat). Pada umumnya, mereka lebih
memprioritaskan kesehatan anak balita sehingga
kesehatan anak usia sekolah cenderung tidak
mendapat perhatian yang maksimal.
Sebagai pendamping saat anak melakukan
aktivitasnya setiap hari, para orang tua dan guru
seharusnya menjadi sosok yang sangat penting
dalam menjaga kesehatannya. Peranan mereka
sangat dominan dan menentukan kualitas
hidupnya di kemudian hari. Sehingga, sangatlah
penting bagi mereka diketahuinya dan memahami
permasalahan beserta gangguan kesehatannya,
terutama pada usia sekolah, yang cukup luas dan
kompleks.
Secara epidemiologis, penyebaran penyakit
berbasis lingkungan dikalangan anak sekolah di
Indonesia tergolong sangat tinggi. Ternyadinya
infeksi, seperti demam berdarah dengue, diare,
cacingan dan demam thypoid (tifus abdomalin),
J ournal of Pediatric Nursing Vol. 1(3), pp. 143-148, J uli, 2014
Available online at http://library.stikesnh.ac.id
ISSN 2354-726X

Jour nal of Pediat ric Nursing

144

serta berbagai dampak negatif akibat buruknya
sanitasi dan keamanan pangan, masih banyak
ditemui dalam kehidupan sehari hari.
Penyakit yang cukup mengganggu dan
menjadi persoalan utama sekaligus berpotensi
mengakibatkan keadaan bahaya (mengancam
jiwa) adalah penyakit menular pada anak sekolah.
Sekolah merupakan sumber penularan penyakit
pada anak sekolah. Sebab, dalam interaksi antar
anak, banyak terjadi kontak langsung maupun
tidak langsung, yang menyebabkan terjadinya
penyebaran dan penularan penyakit.
Bagi penyakit yang menular dilingkungan
sekolah antara lain demam berdarah dengue,
campak, rubella (campak jerman), cacar air ,
gondongan dan demam thypoid (tifus abdomalin)
(Mufidah F, 2012).
Demam typhoid banyak ditemukan dalam
kehidupan masyarakat kita, baik di perkotaan
maupun di pedesaan. Penyakit ini sangat erat
kaitannya dengan kualitas yang mendalam dari
higiene pribadi dan sanitasi lingkungan seperti,
higiene perorangan dan higiene penjamah
makanan yang renda, lingkungan yang kumuh,
kebersihan tempat-tempat umum (rumah makan,
restoran) yang kurang serta perilaku masyarakat
yang tidak mendukung untuk hidup sehat. Seiring
dengan terjadinya krisis ekonomi yang
berkepanjangan akan menimbulkan peningkatan
kasus-kasus penyakit menular, termasuk typhoid
(Anonim, 2006).
Demam typhoid sangat berbahaya karena
bisa merenggut nyawa manusia jika terlambat
ditangani. Kenali gejala demam typhoid (thypus
abdominal atau typhoid fever) yang tergolong
berat dan berbahaya. Gejala awalnya perlu
dikenali sebelum terlambat diobati. Selain itu,
Demam typhoid infeksi perut yang banyak di sini,
biasanya diawali demam lebih dari seminggu.
Mulanya seperti orang mau flu. Bedanya, demam
typhoid umumnya muncul sore dan malam hari.
Tidak disertai gejala batuk pilek. Demamnya
sukar turun walau sudah minum obat turun panas
,dan biasanya disertai nyeri kepala hebat. Perut
terasa tidak enak, dan tidak bisa buang air
beberapa hari. Pada parathypus jenis thypus yang
lebih ringan mungkin sesekali mengalami buang-
buang air . J ika diamati, lidah tampak berselaput
putih susu, bagian tepinya merah terang. Bibir
kering, dan kondisi fisik tampak lemah, serta
nyata tampak sakit. J ika sudah lanjut, mungkin
muncul gejala kuning, sebab pada typhoid organ
hati bisa membengkak seperti gejala hepatitis.
Pada typhoid limpa juga membengkak (Anonim,
2011).
Demam typhoid timbul akibat dari infeksi
oleh bakteri golongan Salmonella yang memasuki
tubuh penderita melalui makanan lalu ke saluran
pencernaan. Sumber utama yang terinfeksi
adalah manusia yang selalu mengeluarkan
mikroorganisme penyebab penyakit, baik ketika ia
sedang sakit atau sedang dalam masa
penyembuhan. Pada masa penyembuhan,
penderita pada masih memiliki Salmonella
didalam kandung ampedu atau di dalam ginjal
(Anonim, 2013)
Menurut data WHO tahun 2003, terdapat
17 juta kasus demam typhoid di seluruh dunia
dengan angka kematian mencapai 600.000
kasus. Secara keseluruhan, demam typhoid
diperkirakan menyebabkan 21,6 juta kasus
dengan 216.500 kematian pada tahun 2000.
Insidens demam typhoid tinggi (>100 kasus per
100.000 populasi per tahun) dicatat di Asia
Tengah dan Selatan, Asia Tenggara, dan
kemungkinan Afrika Selatan; yang tergolong
sedang (10 - 100 kasus per 100.000 populasi per
tahun) di Asia lainnya, Afrika, Amerika Latin, dan
Oceania (kecuali Australia dan Selandia Baru);
serta yang termasuk rendah (<10 kasus per
100.000 populasi per tahun) di bagian dunia
lainnya.
Indonesia merupakan negara endemik
demam typhoid. Diperkirakan terdapat 800
penderita per 100.000 penduduk setiap tahun
yang ditemukan sepanjang tahun. Penyakit ini
tersebar di seluruh wilayah dengan insiden yang
tidak berbeda jauh antar daerah. Serangan
penyakit lebih bersifat sporadis dan bukan
epidemik. Dalam suatu daerah terjadi kasus yang
berpencar pencar dan tidak mengelompok.
Sangat jarang ditemukan beberapa kasus pada
satu keluarga pada saat yang bersamaan
(Widoyono, 2011).
Menurut Riset Kesehatan Dasar Nasional
tahun 2007, prevalensi tifoid klinis nasional
sebesar 1,6%. Sedang prevalensi hasil analisis
lanjut ini sebesar 1,5% yang artinya ada kasus
tifoid 1.500 per 100.000 penduduk Indonesia.12
Tifoid klinis dideteksi di Provinsi J awa Tengah
dengan prevalensi 1,61 % dan tersebar di seluruh
Kabupaten atau Kota dengan prevalensi yang
berbeda-beda di setiap tempat. Prevalensi tifoid di
Kabupaten Semarang sebesar 0,8%.
Berdasarkan data dari Rumah Sakit Umum
Daerah Labuang Baji Makassar kejadian demam
typhoid banyak di jumpai pada anak anak,
remaja dan dewasa muda. Angka kejadian
demam typhoid pada Rumah Sakit Umum Daerah
Labuang Baji Makassar untuk semua umur adalah
dari tahun 2010 sebanyak 274 pasien, mengalami
penurunan di tahun 2011 dengan jumlah pasien
sebanyak 168 pasien, dan ditahun 2012
mengalami kenaikan lagi sebanyak 178 pasien.
Dari uraian diatas, maka peneliti tertarik
untuk mengadakan penelitian mengenai
Hubungan Kebiasaan Makan Dengan Kejadian
Demam Typhoid pada anak di RSUD Labuang
Baji Makassar. Adapun variabel yang akan diteliti
yaitu J enis makanan dan peralatan makan.

METODE
Desain, Waktu penelitian, Populasi dan Sampel
Penelitian ini menggunakan metode Survey
Analitik dengan menggunakan pendekatan case
control yaitu rancang bangun dengan melihat ke
Jour nal of Pediat ric Nursing

145

belakang dari suatu kejadian yang berhubungan
dengan kejadian kesakitan yang diteliti. Rencana
ini berupaya mengungkap hubungan antara
kebiasaan makan dengan kejadian demam
typhoid pada anak usia 5-12 tahun di RSUD
Labuang Baji Makassar.
Populasi pada penelitian ini adalah semua
anak usia (5-12 tahun) yang berada di tempat
saat penelitian berlangsung. Sampel dalam
penelitian ini berjumlah 30 responden. Dimana
pengambilan sampel menggunakan metode
Accidental Sampling yaitu pengambilan sampel
dilakukan dengan mengambil responden yang
berusia 5-12 tahun dan berada dilokasi penelitian
selama penelitian berlangsung.

Pengumpulan dan pengolahan data
Untuk mendapatkan informasi yang
diinginkan peneliti menggunakan kuesioner
sebagai alat ukur pengumpulan data. Dalam
penelitian ini informasi didapatkan dari dua jenis
sumber data yaitu data primer dan sekunder
Pengolahan data dilakukan secara manual
(dengan mengisi kuesioner yang di sediakan),
dalam penelitian ini skala pengukuran yang
digunakan ialah Skala Guttman, dimana nilai
tertinggi yaitu 2, dan nilai terendah 1, kemudian
nilai tertinggi dan nilai terendah masing masing
dikalikan dengan jumlah pertanyaan pada
kuesioner, hasil dari perkalian kemudian
dijumlahkan dan selanjutnya dibagi dua nilai.
Langkah langkah pengolahan data terdiri dari
Selecting, Editing, Koding dan Tabulasi Data

Analisis data
Setelah data ditabulasi maka pengolahan
data dilakukan dengan menggunakan computer
program SPSS yang meliputi : Analisis univariat
dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil
penelitian. Analisis ini menghasilkan distribusi dan
persentase dari tiap variable yang diteliti dan
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat
hubungan antara variabel independen dan
dependen dengan menggunakan uji statistik Chi-
Square dengan tingkat kemaknaan p < (0,05)..

HASIL
1. Analisis Univariat
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Kelompok Umur pada anak
Usia 5 12 tahun di RSUD Labuang Baji
Kelompok Umur
Frekuensi
(n)
Persen
(%)
5 6 Tahun 10 33.3
7 8 Tahun 4 13.3
9 10 Tahun 9 30.0
11 12 Tahun 7 23.3
Total 30 100.0

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan J enis Kelamin pada Anak
Usia 5 12 tahun di RSUD Labuang Baji
J enis Kelamin
Frekuensi
(n)
Persen
(%)
Laki-laki 11 36.7
Perempuan 19 63.3
Total 30 100.0

Tabel 3 Distribusi frekuensi responden
berdasarkan kejadian demam typhoid pada
anak usia 5 12 tahun di RSUD Labuang Baji
2013
Demam Typhoid
Frekuensi
(n)
Persen
(%)
Mengalami 19 63.3
Tidak Mengalami 11 36.7
Total 30 100,0

Table 4 Distribusi Frekuensi Responden
berdasarkan Kebiasaan Makan pada anak
usia 5 12 tahun di RSUD Labuang Baji 2013

Tabel 5 Distribusi Frekuensi Responden
berdasarkan Peralatan Makan pada anak
usia 5 12 tahun di RSUD Labuang Baji 2013
Peralatan
Makan
Frekuensi
(n)
Persen
(%)
Bersih 19 63.3
Tidak Bersih 11 36.7
Total 30 100,0

2. Analisis Bivariat
Tabel 6 Hubungan Kebiasaan Makan Dengan
Kejadian Demam Typhoid pada Anak
Usia 5 12 Tahun di RSUD Labuang Baji
Makassar 2013
Kebiasaan
Makan
Demam Typhoid
Total
Mengalami
Tidak
Mengalami
n % n % n %
Baik 14 46,7 3 10,0 17 56,7
Buruk 5 16,7 8 26,7 13 43,3
Total 19 63,3 11 36,7 30 100,0
p =0,023

Dari tabel 6 didapatkan bahwa dari 13
anak (43,3%) dengan kebiasaan makan yang
buruk, terdapat 16,7% yang mengalami
demam typhoid dan 26,7% yang tidak
mengalami demam typhoid . Berdasarkan nilai
Kebiasaan
Makan
Frekuensi
(n)
Persen
(%)
Baik 17 56.7
Buruk 13 43.3
Total 30 100.0
Jour nal of Pediat ric Nursing

146

hasil uji Chi-square diperoleh nilai =0,023
yang bearti kurang dari = 0,05. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa ada
hubungan yang bermakna antara kebiasaan
makan dengan kejadian demam typhoid pada
anak usia (5-12tahun) di RSUD Labuang Baji.

Tabel 7 Hubungan Peralatan Makan Dengan
Kejadian Demam Typhoid pada Anak Usia 5
12 tahun di RSUD Labuang Baji Makassar
2013
Peralatan
Makan
Demam Typhoid
Total
Mengalami
Tidak
Mengalami
n % n % n %
Bersih 9 30,0 10 33,3 19 63,3
Tidak Bersih 10 33,3 1 3,3 11 36,7
Total 19 63,3 11 36,7 30 100,0
p =0,023

Dari tabel 7 didapatkan bahwa dari 11
anak (36,7%) yang menggunakan peralatan
makan tidak bersih, terdapat 33,3% yang
mengalami demam typhoid dan 3,3% yang
tidak mengalami demam typhoid. Berdasarkan
hasil uji Chi-square diperoleh nilai =0,023
yang berarti kerang dari = 0,05. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa ada
hubungan yang bermakna antara kebersihan
peralatan makan dengan kejadian demam
typhoid pada anak usia 5-12 tahun.

PEMBAHASAN
1. Hubungan Kebiasaan Makan Dengan
Kejadian Demam Typhoid Pada Anak Usia 5
12 Tahun di RSUD Labuang Baji
Berdasarkan analisis univariat
menujukkan jumlah responden dengan
kebiasaan makan yang buruk sebanyak 13
anak, sedangkan berdasarkan analisis bivariat
menunjukkan bahwa ada hubungan antara
kebiasaan makan dengan kejadian demam
typhoid pada anak usia (5-12 tahun), dimana
dari 13 anak (43,3%) dengan kebiasaan
makan yang buruk 16,7% yang mengalami
demam typhoid dan terdapat 26,7% yang tidak
mengalami demam typhoid .
Kebiasaan makan yang buruk (tidak
baik) dapat mengakibatkan terjadinya demam
typhoid, dimana kebiasaan makan anak
dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya dan
orang tua, banyak anak yang lebih memilih
makanan jajanan ketimbang makanan yang
sudah di sajikan dirumah.. Kegiataan
disekolah menyita waktu lebih banyak
daripada aktifitas keseluruhan anak sehari
hari termasuk aktifitas makan. Kebiasaan
makan anak di sekolah tidak dapat dipantau
oleh orang tua, maka dari itu anak bebas
memilih makanan yang mereka mau tanpa
memikirkan resiko terhadap kesehatannya.
Makanan siap saji yang disajikan diluar rumah
belum tentu terjamin kebersihannya, baik itu
kebersihan alat masak dan makannya maupun
kebersihan penjama makanannya. Makanan
yang disajikan di luar rumah atau jajanan
sangat beresiko terjadi cemaran biologis atau
kimiawi yang bisa mengganggu kesehatan.
Penelitian ini didukung oleh teori yang di
ungkapkan oleh Adriani dan Wirhadmadi
(2012) yang mengatakan bahwa Pangan
jajanan menurut Food Agricultural
Organization (Organisasi pangan dan
pertanian) 1991-2000 adalah makanan atau
minuman yang disajikan dalam wadah atau
sarana penjualan dipinggir jalan, tempat umum
atau tempat lain, yang terlebih dahulu sudah
dipersiapkan atau dimasak di tempat produksi
atau di rumah atau di tempat perjualan. Anak
anak sekolah umumnya setiap hari
menghabiskan waktunya di sekolah. Sekitar
5 persen anak yang membawa bekkal dari
rumah. Mereka lebih terpapar pada makanan
jajanan kaki lima dan mempunyai kemampuan
untuk membeli makanan tersebut.
Makanan jajanan banyak dijumpai
dilingkungan sekitar sekolah dan rutin
dikomsumsi sebagian besar anak sekolah.
Makanan jajanan sekolah cenderung
menggunakan bahan pengawet, pewarna,
aroma penyedap dan pemanis sehingga
mengancam kesehatan anak, persoalan ini
merupakan masalah keamanan dimana masih
ditemukannya produk keamanan yang
menyebabkan banyak kasus keracunan
makanan. Disamping masih rendahnya
pengetahuan pangan dan tanggung jawab
produsen serta rendahnya pengetahuan
konsumen tentang mutu dan keamanan
pangan . Hasil survei oleh BPOM tahun 2007
menunjukkan 45% produk pangan olahan dan
siap saji di lingkungan sekolah tercemar baik
fisik, mikrobiologi maupun kimia. Selain
tercemar mikroba, banyak produk pangan
mengandung formalin boraks, dan zat
pewarna tekstil. Pada penelitian yang
dilakukan di bogor telah ditemukan Salmonella
Paratyphi A 25% - 50% sampel minuman yang
dijual di kaki lima.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian
yang di lakukan oleh Okky Purnia Pramita
(2012) yang didalam penelitiannya
mengatakan bahwa Makanan merupakan
kebutuhan mendasar bagi keberlangsungan
hidup manusia. Makanan yang dikonsumsi
beragam jenis dengan berbagai cara
pengolahannya. Makanan-makanan tersebut
sangat mungkin menjadi penyebab terjadinya
gangguan dalam tubuh kita sehingga kita jatuh
sakit. Banyak sekali hal yang dapat
menyebabkan suatu makanan menjadi tidak
aman, Salah satu di antaranya dikarenakan
terkontaminasi. Kontaminasi yang terjadi pada
makanan dan minuman dapat menyebabkan
makanan tersebut dapat menjadi media bagi
suatu bibit penyakit. Penyakit yang ditimbulkan
Jour nal of Pediat ric Nursing

147

oleh makanan yang terkontaminasi disebut
penyakit bawaan makanan (food-borned
diseases), salah satu di antaranya demam
tifoid. Kebiasaan jajan atau makan di luar
penyediaan rumah berarti mengkonsumsi
makanan atau minuman yang bukan buatan
sendiri. Dengan kata lain, perilaku penjamah
makanan ikut berperan dalam menentukan
suatu makanan sehat atau tidak. Perilaku
penjamah makanan juga dapat menimbulkan
risiko kesehatan, dalam arti perilaku penjamah
makanan yang tidak sehat akan berdampak
pada higienitas makanan yang disajikan.
Sebaliknya, perilaku penjamah makanan yang
sehat dapat menghindarkan makanan dari
kontaminasi atau pencemaran dan keracunan.
2. Hubungan Peralatan Makan Dengan Kejadian
Demam Typhoid pada Anak Usia 5 12 Tahun
di RSUD Labuang Baji
Berdasarkan analisis univariat
menujukkan jumlah responden dengan
peralatan makan yang tidak bersih sebanyak
11 Orang, sedangkan berdasarkan analisis
bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan
antara peralatan makan dengan kejadian
demam typhoid pada anak usia (5-12 tahun),
dimana dari 11 anak(43,3%) dengan peralatan
makan yang tidak bersih, 16,7% yang
mengalami demam typhoid dan terdapat
26,7% yang tidak mengalami demam typhoid.
Peralatan makan anakpun harus sangat
diperhatikan kebersihannya, karena
kebersihan makanan berawal dari kebersihan
penjama makanan dan kebersihan alat makan
yang digunakan. Peralatan makan bisa
dengan mudahnya terkontaminasi oleh bakteri,
apabila pencuciannya tidak benar dan tidak
bersih. Air merupakan salah satu media
pencemaran pada peralatan makan atau
masak dan makanan. Peralatan makan atau
masak yang dicuci di tempat yang berisi air
yang sudah berkali-kali digunakan sering kita
temui di tempat pedagang kaki lima, adapun
penggunaan alat masak dan makan yang
digunakan berkali- kali tanpa dicuci, dapat
menyebabkan resiko kesehatan pada anak.
Hal seperti itu terkadang tidak disadari oleh
para penjama makanan, utamanya di warung -
warung atau di tempat peadagang kaki lima.
Orang tua pun tidak dapat mengontrol
peralatan makan anakanya jika anak berada
diluar rumah utamanya di sekolah.
Penelitian ini didukung oleh teori yang di
ungkapkan oleh Kartika (1991), peralatan yang
berhubungan langsung dengan makanan
harus mendapat penerapan sanitasi secara
teratur dan benar sehungga tidak
menimbulkan kontaminasi. Banyak yang
menganggap mudah melakukan sanitasi
peralatan karena hanya dicuci telah cukup
menghilangkan kotoran pada peralatan. Tetapi
apabila kita tidak tahu cara mencuci yang baik
dan air yang digunakan tidak terjaga
kebersihannya maka peralatan akan tetap
kotor dan terjadi kontaminasi pada makanan
yang berhubungan langsung dengan peralatan
tersebut.
Menurut Dillin & Griffith (1999) Setiap
peralatan memasak atau makan yang telah
selesai dipakai harus dicuci menggunakan
cairan pencuci piring atau sabun dan dibilas
dengan air mengalir. Tujuan pencucian adalah
untuk menghilangkan koontaminasi mikroba,
sisa sisa produksi, kotoran dan lemak yang
tertinggal pada peralatan yang digunakan.
Proses pencucian dan pembilasan pun harus
ditempatkan pada tempat yang berbeda.
Menurut Gaman (1994) apabila pencucian
dilakukan menggunakan bak-bak pencucian
maka dibutuhkan sekurang-kurangnya dua bak
celup. Bak pencelupan pertama berisi air
dengan sabun dan bak kedia berisi air
pembilasan. Teori menurut WHO (1996), Air
yang digunakan untuk mencuci peralatan,
makanan, dan tangan juga harus air yang
mengalir, bersih dan tidak boleh digunakan
kembali. J ika tidak mungkin, dapat digunakan
ember tetapi harus diganti atau dibersihkan
setelah pencucian.

KESIMPULAN
Dapat ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan
kebiasaan makan dan peralatan Makan dengan
kejadian demam typhoid pada anak usia 5 12
tahun. Hal ini dikarenakan anak yang suka
makan/ jajan di luar dan peralatan makan yang
tidak bersih dapat membuat anak mudah
terkontaminasi denga kotoran sehingga dapat
mengakibatkan demam typoid. Untuk itu bagi
orang tua diharapkan dapat memperhatikan
kebiasaan makan dan kebersihan peralatan
makan anaknya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2006. Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia tentang pedoman
pengendalian Demam Tifoid (online).
http://www.hukor.depkes.go.id. Diakses
tanggal 30 Maret 2013, J akarta

Anonim, 2008. Demam Tifoid Pada Anak: Apa
Yang Perlu Diketahui (online). http://info-
sehat-kita.blogspot.com. Makassar Diakses
tanggal 23 Maret 2013.

Anonim, 2009. Tingkat Pengetahuan Sisswa
Madrasa Tsanawiah (MTs) Al-Sadah
Pondok Jaya Terhadap Demam Tifoid
(online). http://perpus.fkik.uinjkt. ac.id.
Diakses tanggal 23 Maret 2013. J akarta

Anonim, 2010. Ttyphus, Penyakit Akibat Kurang
Bersihnya Makanan (online).
http://pengetahuanbunda.blogspot.com
Diakses tanggal 22 Maret 2013. Makassar

Jour nal of Pediat ric Nursing

148

Anonim, 2012. Demam Tifoid (online).
http://eljohnsuclinic.com. Diakses tanggal
22 Maret 2013. Makassar

Anonim, 2012. Tata Laksana Terkini Demam
Tifoid (online). http://www. kalbemed.com.
Diakses tanggal 31 Maret 2013. J akarta

Anonim, 2012. Menjaga Kebersihan Alat Masak
(online).http://menusehathemat.blogspot.
com Diakses tanggal 23 Maret 2013.
Makassar.

Anonim, 2013. Askep Anak Dengan Demam
Tifoid (online). http://nursing begin.com.
Diakses tanggal 2 April 2013. Makassar

Anonim, 2013. Faktor Risisko Kejadian Demam
Tifoid Pada Penderita Yang Dirawat Di
Rumah Sakit daerah Umum Ungaran
(online). http://ejournals1. undip.ac.id.
Diakses tanggal 31 Maret 2013. FKM
Undip. J akarta.

A.Aziz Alimul Hidayat, 2008. Pengantar Ilmu
Keperawatan Anak 1. Salemba Medik.
J akarta.

dr. Widoyono, MPH, 2011. Penyakit Tropis
Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, Dan
Pemberantasan. Edisi dua. Erlangga.
J akarta


Dr. Merryana Adriani, SKM, M.Kes dan Prof. dr.
Bambang Wijadmadi, M.S, MCN, Ph.D,
Sp.Gk, 2012. Pengantar Gizi Masyarakat.
Kencana. J akarta.

























Dr.Martin Adams dan Dr.Yasmine Motarjemi,
2004. Dasar-Dasar Keamanan Makanan
Untuk Petugas Kesehatan. Buku
Kedokteran ECG, J akarta.

Mufidah F, 2012. Ceramti Penyakit Penyakit
Yang Rentan Diderita Anak Usia Sekolah.
FlashBooks, J akarta Selatan.

Ngastiyah, 2003. Perawatan Anak Sakit. Edisi
Dua, Buku Kedokteran ECG. J akarta.

Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Salemba Medik. J akarta.

Prof. Dr. T. H Rampengan, SpA(K), 2008.
Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Edisi
Dua. Buku Kedokteran ECG. J akarta.

Pramitasari O.P., 2013. Faktor Risiko Kejadian
Penyakit Demam Tifoid Pada Penderita
Yang Dirawat Di Rumah Sakit Umum
Daerah Ungaran. http://ejournals1.undip.
ac.id/index.php/jkm. FKM UNDIP.

Giovani N.F., 2011. Evaluasi Praktek Sanitasi
Peralatan Ditinjau Dari Cemaran
Salmonella Sp Dan E.Coli. Semarang.