Anda di halaman 1dari 2

Tata Laksana Fistul Preaurikuler

Apabila terdapat infeksi akut maka diatasi dengan pemberian antibiotik dan bila
sudah terbentuk abses perlu dilakukan insisi untuk drainase abses.

Tindakan operasi eksisi tidak diperlukan kecuali bila cairan keluar
berkepanjangan atau terjadi infeksi berulang sehingga mengganggu aktifitas.
Sinus yang mengeluarkan cairan berhubungandengan kista subkutan yang
memiliki kemungkinan lebih untuk infeksi stafilokokus. Lesi seperti ini harus
segera dieksisi sebelum menjadi infeksi. Apabila terjadi infeksi sebelum dieksisi
maka akan lebih sulit untuk dieksisi dan meningkatkan kemungkinan rekurensi.
Sewaktu operasi fistel harus diangkat seluruhnya untuk mencegah kekambuhan.

Eksisi seluruh fistel dan kista subkutan hingga fascia temporalis merupakan tata
laksana utama untuk yang tidak terinfeksi. Hal yang perlu diingat adalah untuk
menghindari rupture sinus. Apabila terdapat infeksi, lesi diberikan antibiotic dan
balutan hangat untuk meningkatkan drainase dan mengontrol inflamasi
sekitarnya. Terkadang aspirasi dengan jarum perlu dilakukan untuk menjaga
infeksi. Eksisi dilakukan dengan insisi eliptik dengan skin flap kecil melingkari
sinusnya. Kista kemudian diseksi dari jaringan subkutan dan dihilangkan
keseluruhannya. Kista atau sinus dapat memiliki cabang lebih dari satu, sehingga
melakukan reseksi keseluruhan sulit. Penghilangan dari sedikit bagian dari
kartilago di dekatnya mengurangi risiko melewatkan satu dari cabang tersebut.
Insidensi dari rekurensi mencapai 42% karena terdapat cabang ini, dan
beberapa klinisi telah melakukan insisi preaurikuler yang lebih dalam untuk
meningkatkan paparan. Selain itu dapat juga dilakukan insisi preaurikuler ke
arah superior untuk menghilangkan jaringan subkutan antara fasia temporal dan
perikondrium helix, di mana traktus sinus berada. Dengan demikian eksisi
keseluruhan dapat dilakukan tanpa memvisualisasi seluruh traktus, dan telah
terbukti menurunkan tingkat rekurensi.

Metode eksisi baru sudah banyak dikembangkan. Di antaranya metode one-
stage dan insisi figure 8. Metode one-stage yaitu melakukan eksisi pada
sinus preaurikuler yang teinfeksi akut tanpa menunggu control dengan
antibiotic. Penelitian dilakukan pada 3 kelompok pasien, yaitu pasien
asimptomatik, infeksi, dan infeksi dengan abses. Rekurensi infeksi terjadi pada 1
pasien dari kelompok 2 dan satu pasien dari kelompok 3 yang dapat ditangani
dengan control infeksi local. Satu pasien dari kelompok 1 dan kelompok 3
mengalami defek kulit nekrosis dari bagian skin flap yang dapat disembuhkan
secara sekunder. Dengan demikian dapat disimpulkan dari penelitian dengan
136 sampel ini bahwa metode one-stage merupakan opsi yang baik untuk
penanganan sinus preaurikuler.
Metode figure 8 juga dibuktikan kehebatannya dengan penelitian
menggunakan pasien dengan inflamasi aktif. Pada kelompok 1 yaitu dengan
kondisi inflamasi ringan dilakukan sinusektomi dan terdapat 2.08% tingkat
rekurensi. Sedangkan kelompok 2 dan 3 mengalami inflamasi yang lebih berat
dan dilakukan eksisi local luas dan insisi figure 8. Tingkat rekurensi pada
kelompok 2 adalah 22.58% sedangkan kelompok 3 adalah 0. Dapat ditarik
kesimpulan bahwa sinusektomi merupakan tindakan bedah yang adekuat untuk
sinus preaurikuler dengan kondisi inflamasi ringan, sedangkan untuk kasus
berat insisi figure 8 dengan fistulektomi yang diperluas dapat menciptakan
paparan luka yang adekuat untuk eksisi radikal dari jaringan inflamasi dan
mencapai hasil operasi yang baik.
Metode lain yang berbeda adalah dalam visualisasi atau delineasi traktus sinus,
yaitu dengan mikroskop dan metilen blue dye dan probe. Dari penelitian yang
telah dilakukan menunjukkan bahwa kelompok mikroskop memiliki tingkat
rekurensi lebih rendah dibandingkan kelompok metilen blue dye dan probe.


Daftar Referensi
Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinusitis. Dalam: Efiaty AS, Nurbaiti I, Jenny B,
Ratna DR, editors. Buku ajar ilmu kesehetan telinga, hidung, tenggorok, kepala &
leher ed 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007. hlm. 150-4.

Singer R. A new technique for extirpation of preauricular cysts. Am J Surg
1966;111:2915.

Tan T, Constantinides H, Mitchell TE. The preauricular sinus: A review of its
aetiology, clinical presentation and management. Int J Pediatr Otorhinolaryngol
2005;69:146974.

Leopardi G, Chiarella G, Conti S, et al. Surgical treatment of recurring
preauricular sinus: supra-auricular approach. Acta Otorhinolaryngol Ital
2008;28:3025

Early one-stage surgical treatment of infected preauricular sinus.
Shim HS, Kim DJ, Kim MC, Lim JS, Han KT - Eur Arch Otorhinolaryngol - Nov
2013; 270(12); 3127-31

Decision making in the choice of surgical management for preauricular sinuses
with different severities.
Huang WJ, Chu CH, Wang MC, Kuo CL, Shiao AS - Otolaryngol Head Neck Surg -
Jun 2013; 148(6); 959-64

Preauricular sinuses in the pediatric population: Techniques and recurrence
rates. Eng Cern Gana, Rosslyn Anicetea, Henry Kun Kiaang Tana, Abhilash
Balakrishnana. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology 77 (2013)
372378