Anda di halaman 1dari 10

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui

opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfgh
jklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvb
nmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwer
tyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas
dfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx
cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq
wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuio
pasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghj
klzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbn
mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty
uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf
ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc
vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmrty
uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf
ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc
vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqw



CANDI-CANDI di INDONESIA

Oleh:

SAVIRA AZ-ZAHRAH

IV-A



1. Candi Borobudur
Borobudur
adalah sebuah candi
Buddha yang terletak di
Borobudur, Magelang,
Jawa Tengah, Indonesia.
Lokasi candi adalah
kurang lebih 100km di
sebelah barat daya
Semarang, 86 km di
sebelah barat Surakarta,
dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh
para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa
pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di
dunia sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.
Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya
terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan
aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap
dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai
bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di
dalamnya terdapat arca buddha tengah
duduk bersila dalam posisi teratai
sempurna dengan mudra (sikap tangan)
Dharmachakra mudra (memutar roda
dharma).
Monumen ini merupakan model
alam semesta dan dibangun sebagai
tempat suci untuk memuliakan Buddha
sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah
untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan
kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai
ritual di dasar candi dengan berjalan
melingkari bangunan suci ini searah
jarum jam, sambil terus naik ke
undakan berikutnya melalui tiga
tingkatan ranah dalam kosmologi
Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah
Kmadhtu (ranah hawa nafsu),
Rupadhatu (ranah berwujud), dan
Arupadhatu (ranah tak berwujud).
Dalam perjalanannya ini peziarah
berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari
1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring
melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya
pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814
oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal
Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya
penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975
hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs
bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan
Dunia.
Borobudur kini masih digunakan sebagai
tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat
Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan
mancanegara berkumpul di Borobudur untuk
memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia
pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata
tunggal di Indonesia yang paling banyak
dikunjungi wisatawan.


2. Candi Prambanan
Candi Prambanan adalah
bangunan luar biasa cantik yang
dibangun di abad ke-10 pada masa
pemerintahan dua raja, Rakai
Pikatan dan Rakai Balitung.
Menjulang setinggi 47 meter (5
meter lebih tinggi dari Candi
Borobudur), berdirinya candi ini
telah memenuhi keinginan
pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer
dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.
Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini.
Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak
mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam
semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum
Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan
membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi
hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca
kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-
1000 karena merasa dicurangi.
Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di
halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa.
Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam
kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke
timur. Setiap candi utama memiliki satu candi
pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma,
dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4
candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.
Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut
para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan.
Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap
sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief
pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat
para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola
lingkungannya.

3. Candi Mendut
Candi Mendut terletak 3 km dari
arah borobudur, candi yang
berlatarbelakang agama Budha
ini terletak di desa mendut.
Candi mendut didirikan semasa
pemerintahan Raja Indra dari
Dinasti Syeleindra. Dibangun
pada tahun 824 Masehi. Candi
ini lebih tua dari Candi
Borobudur. Arsitekturnya
persegi empat dan mempunyai
pintu masuk di atas tangganya. Atapnya juga persegi empat dan bertingkat-tingkat, ada
stupa di atasnya. didalam candi mendut terdapat 3 patung besar :
Cakyamuni yang sedang duduk bersila dengan posisi tangan memutar roda
dharma.
Awalokiteswara sebagai Bodhi Satwa membantu umat manusia. Awalokiteswara
merupakan patung amitabha yang berada di atas mahkotanya, Vajrapani. Ia
sedang memegang bunga teratai merah yang diletakkan di atas telapak tangan.
Maitreya sebagai penyelamat manusia di masa depan
Ada cerita untuk anak-anak pada dinding-dindingnya. Candi ini sering dipergunakan
untuk merayakan upacara Waisak setiap Mei pada malam bulan purnama dan dikunjungi
para peziarah dari Indonesia maupun manca negara.


4. Candi Penataran
Candi Penataran,
adalah sebuah candi berlatar
belakang Hindu yang telah
ada sejak kerajaan Kediri dan
digunakan sampai era
kerajaan Majapahit. Komplek
candi Penataran ini
merupakan komplek candi
terbesar di Jawa Timur dan
terletak di lereng barat daya Gunung Kelud. Terletak pada ketinggian 450 M dari
permukaan laut, komplek candi Penataran ini terletak di desa Panataran, kecamatan
Nglegok, Blitar.
Candi Penataran ditemukan pada tahun 1815, dan belum banyak dikenal sampai
tahun 1850. Komplek candi ini ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang
merupakan Letnan Gubernur Jendral pada masa kolonial Inggris di Indonesia pada waktu
itu. Raffles bersama-sama dengan Dr.Horsfield seorang ahli Ilmu Alam mengadakan
kunjungan ke Candi Panataran, dan hasil kunjunganya dibukukan dalam buku yang
berjudul "History of Java" yang terbit dalam dua jilid. Jejak Raffles ini di kemudian hari
diikuti oleh para peneliti lain yaitu : J.Crawfurd seorang asisten residen di Yogyakarta,
selanjutnya Van Meeteren Brouwer (1828), Junghun (1884), Jonathan Rigg (1848) dan
N.W.Hoepermans yang pada tahun 1886 mengadakan inventarisasi di komplek candi
Panataran.
Nama asli candi Penataran dipercaya adalah Candi Palah yang disebut dalam
prasasti Palah, dan dibangun pada tahun 1194 oleh Raja rnga (Syrenggra) yang bergelar
Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita rengalancana
Digwijayottungadewa. Raja rnga memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 - 1200,
sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisasi atau
menghindari mara bahaya yang disebabkan oleh gunung Kelud yang sering meletus.


5. Candi Sewu
Candi Sewu merupakan candi budha yang berada dalam kompleks candi
prambanan. Candi Sewu di bangun pada saat masa kerjaan Matraman Kuno oleh Raja
Pakai Panangkarang (746 784). Candi Sewu merupakan komplek candi Buddha
terbesar setelah candi Borobudur. Menurut legenda rakyat setempat, seluruh candi ini
berjumlah 999 dan dibuat oleh seorang tokoh sakti bernama, Bandung Bondowoso hanya
dalam waktu satu malam saja, sebagai
prasyarat untuk bisa memperistri
dewi Roro Jonggrang. Namun
keinginannya itu gagal karena pada
saat fajar menyingsing, jumlahnya
masih kurang satu.
Tak bisa dipungkiri lagi, jika
kita menyebut legenda Loro
Jonggrang dan keseribu candinya,
pasti yang terlintas di benak kita
adalah Candi Prambanan. Padahal, legenda tersebut mendasari dua komplek candi, yaitu
Loro Jonggrang adalah milik Candi Prambanan dengan Arca Durganya dan keseribu
candi milik Candi Sewu. Kedua komplek candi ini benar benar beda, Candi Prambanan
yang bercorak Hindu dan Candi Sewu yang bercorak Buddha. Karena kedua komplek
candi ini berdekatan, maka dapat dipastikan bahwa kedua agama tersebut hidup
berdampingan dengan damai dan harmonis pada masa lalu.
6. Candi Tikus
Candi ini terletak di
kompleks Trowulan, sekitar 13 km di
sebelah tenggara kota Mojokerto.
Dari jalan raya Mojokerto-Jombang,
di perempatan Trowulan, membelok
ke timur, melewati Kolam Segaran
dan Candi Bajangratu yang terletak
di sebelah kiri jalan. Candi Tikus juga terletak di sisi kiri jalan, sekitar 600 m dari Candi
Bajangratu.
Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada
tahun 1914. Penggalian situs dilakukan berdasarkan laporan bupati Mojokerto, R.A.A.
Kromojoyo Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan
rakyat. Pemugaran secara menyeluruh dilakukan pada tahun 1984 sampai dengan 1985.
Nama Tikus hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat setempat. Konon,
pada saat ditemukan, tempat candi tersebut berada merupakan sarang tikus.
Belum didapatkan sumber informasi tertulis yang menerangkan secara jelas
tentang kapan, untuk apa, dan oleh siapa Candi Tikus dibangun. Akan tetapi dengan
adanya miniatur menara diperkirakan candi ini dibangun antara abad ke-13 sampai ke-14
M, karena miniatur menara merupakan ciri arsitektur pada masa itu.
Bentuk Candi Tikus yang mirip sebuah petirtaan mengundang perdebatan di
kalangan pakar sejarah dan arkeologi mengenai fungsinya. Sebagian pakar berpendapat
bahwa candi ini merupakan petirtaan, tempat mandi keluarga raja, namun sebagian pakar
ada yang berpendapat bahwa bangunan tersebut merupakan tempat penampungan dan
penyaluran air untuk keperluan penduduk Trowulan. Namun, menaranya yang berbentuk
meru menimbulkan dugaan bahwa bangunan candi ini juga berfungsi sebagai tempat
pemujaan.

7. Candi Muara Takus
Situs Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi Buddha yang terletak di desa
Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Situs ini
berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru.
Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di Sumatera, merupakan satu-
satunya situs peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi yang bersifat
Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddha pernah berkembang di kawasan ini.
Candi ini dibuat dari
batu pasir, batu sungai dan
batu bata. Berbeda dengan
candi yang ada di Jawa, yang
dibuat dari batu andesit yang
diambil dari pegunungan.
Bahan pembuat Candi Muara
Takus, khususnya tanah liat,
diambil dari sebuah desa yang
bernama Pongkai, terletak
kurang lebih 6 km di sebelah hilir situs Candi Muara Takus. Nama Pongkai kemungkinan
berasal dari Bahasa Tionghoa, Pong berati lubang dan Kai berarti tanah, sehingga dapat
bermaksud lubang tanah, yang diakibatkan oleh penggalian dalam pembuatan Candi
Muara Takus tersebut. Bekas lubang galian itu sekarang sudah tenggelam oleh genangan
waduk PLTA Koto Panjang. Namun dalamBahasa Siam, kata Pongkai ini mirip
dengan Pangkali yang dapat berarti sungai, dan situs candi ini memang terletak pada
tepian sungai.
Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, yang
terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok 80 cm, di luar arealnya terdapat pula
tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer, mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir
Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi yang
disebut dengan Candi sulung /tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka.
Para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan situs candi ini
didirikan. Ada yang mengatakan abad keempat, ada yang mengatakan abad ketujuh, abad
kesembilan bahkan pada abad kesebelas. Namun candi ini dianggap telah ada pada zaman
keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarahwan menganggap kawasan ini merupakan
salah satu pusat pemerintahan dari kerajaan Sriwijaya.
Pada tahun 2009 Candi Muara Takus dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs
Warisan Dunia UNESCO.



CANDI-CANDI DI INDONESIA





Oleh :

Nama : SAVIRA AZ-ZAHRAH
Kelas : IV-A