Anda di halaman 1dari 32

1

Bab II
Tinjauan Pustaka

2.1 Air Susu Ibu (ASI)
Setelah melahirkan, payudara ibu mulai mensekresikan kolostrum, suatu cairan berwarna
kuning lemon. Dibandingkan dengan asi, kolostrum mengandung lebih banyak mineral dan
protein, salah satunya adalah globulin, namun rendah gula dan lemak. Sekresi kolostrum
bertahan hingga sekitar 5 hari, dengan perubahan bertahap menjadi ASI dalam 4 minggu.
Antibodi terdapat banyak pada kolostrum dan kandungannya akan imunoglobulin A (IgA) dapat
memberikan pertahanan kepada bayi terhadap patogen bakteri enterik. Faktor kekebalan tubuh
lainnya yang dapat ditemukan pada kolostrum dan asi termasuk, sel komplementer, makrofag,
limfosit, laktoferin, laktoperoksidase, dan lisozim.
ASI adalah suspensi yang berasal dari payudara ibu setelah melahirkan dan mengandung
lemak dan protein dalam larutan mineral-karbohidrat. Seorang ibu menyusui dapat dengan
mudah memproduksi 600mL ASI tiap harinya. ASI adalah larutan isotonik dengan plasma,
dengan laktosa berkontribusi untuk separuh dari tekanan osmotik. Protein utama, terutama
laktalbumin, laktoglobulin, dan kasein, juga terkandung di dalamnya. Asam amino esensial
dihasilkan oleh darah, dan asam amino nonesensial diproduksi di sebagian darah atau disintesis
di glandula mammae. Sebagian besar protein ASI unik dan mengandung alfa-laktalbumin, beta-
laktoglobulin, dan kasein. Asam lemak disinteis di alveoli dari glukosa dan disekresi oleh proses
yang menyerupai apokrin. Semua vitamin kecuali vitamin K ditemukan pada ASI, namun dalam
jumlah yang bervariasi.
Mekanisme humoral dan neural yang terkait dalam laktasi sangatlah rumit. Progesteron,
estrogen, dan laktogen plasenta, juga prolaktin, kortisol, dan insulin, tampak berperan untuk
menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan dari aparatus pensekresi ASI. Dengan
melahirkan, terjadi penurunan drasis dalam hal jumlah progesteron dan estrogen. Penurunan
jumlah ini menghilangkan pengaruh hambatan dari progesteron pada produksi alfa-laktalbumin
oleh retikulum endoplasma kasar. Meningkatnya alfa-laktalbumin menstimulasi laktosa sintetase
untuk meningkatkan laktosa ASI. Penarikan progesteron juga membuat prolaktin untuk bekerja
tanpa ada yang menghalangi dalam stimulasi produksi alfa-laktalbumin.
2

Untuk menyusui, diperlukan prolaktin. Meskipun jumlah prolaktin plasma menurun
setelah melahirkan ke tingkat yang lebih rendah dibandingkan saat kehamilan, setiap tindakan
menyusui menstimulasi peningkatan jumlah prolaktin. Diperkirakan stimulus dari payudara
menghambat lepasnya dopamin (faktor penghambat prolaktin) dari hipotalamus, maka hal ini
secara tidak langsung menginduksi peningkatan sekresi prolaktin.
Neurohipofisis mensekresi oksitosin yang mestimulasi pengeluaran ASI dari payudara
aktif dengan cara menyebabkan kontraksi dari sel mioepitel di duktus alveoli. Ejeksi ASI adalah
suatu refleks yang terjadi terutama dengan penghisapan payudara, dimana menstimulasi
neurohipofisis untuk membebaskan oksitosin. Refleks ini dapat diprovokasi oleh tangisan bayi
dam dapat dhiambat dengan stres atau rasa tegang.
ASI adalah makanan ideal bagi neonatus. ASI menyediakan nutrien yang spesifik untuk
usia juga sebagai substansi antibakterial dan faktor imunologikal. ASI juga mengandung faktor
yang bekerja sebagai sinyal biologi untuk meningkatkan diferensiasi dan perkembangan seluler.

Keuntungan menyusui
1. Bayi
a. Kolostrum (cairan berwarna emas dari payudara) adalah ASI pertama yang
berwarna kuning pekat yang terbentuk saat kehamilan dan sesaat setelah
melahirkan. Jenis ASI ini kaya akan nutrisi dan antibodi untuk melindungi bayi.
Meskipun bayi hanya mendapatkan sedikit jumlah kolostrum setiap kali menyusu,
jumlah tersebut sesuai dengan jumlah kapasitas perut kecil bayi tersebut dapat
mengisi
b. Kolostrum berubah menjadi ASI yang matang, dalam hari ketiga hingga kelima
setelah kelahiran, ASI matang ini memiliki jumlah yang tepat dari lemak, gula,
air, dan protein untuk membantu bayi terus berkembang. ASI ini merupakan tipe
susu yang lebih tidak pekat dibandingkan dengan kolostrum, namun dapat
memberikan semua nutrisi dan antibodi untuk kebutuhan bayi
c. Untuk setiap bayi- terutama bayi prematur, ASI lebih mudah dicerna daripada
susu formula. Protein pada susu formula terbentuk dari susu sapi, dan lambung
bayi membutuhkan waktu untuk dapat mencerna susus sapi tersebut
3

d. Sel, hormon, dan antibodi pada ASI melindungi bayi dari penyakit. Proteksi ini
unik; susu formula tidak dapat menyamakan kandungan kimia dari ASI.
Kenyataannya, diantara bayi yang diberikan susu formula, infeksi telinga dan
diare lebih sering terjadi. Bayi yang diberikan susu formula juga memiliki resiko
lebih tinggi terhadap
a. Enterokolitis nekrotikans
b. Infeksi pernapasan bawah
c. Dermatitis atopik
d. Asma
e. Obesitas
f. Diabetes tipe 1 dan 2
g. Leukemia anak
h. SIDS (Sudden Infant Death Syndrome)

2. Ibu
a. Menyusui membutuhkan lebih banyak usaha dibandingkan susu formula pada
awalnya. Namun, hal ini akan membuat hidup lebih mudah apabila ibu dan
bayinya sudah terbiasa. Saat menyusui, tidak diperlukan mensterilkan botol
dan putting susu. Ibu tidak perlu membeli, mengukur, dan mencampurkan
susu formula. Dan tidak ada botol yang perlu dihangatkan di tengah malam
b. Susu formula dan perlengkapan makan bayi membutuhkan banyak biaya,
bergantung seberapa banyak bayi dapat makan. Bayi yang disusui ASI juga
lebih jarang sakit, dimana dapat menurunkan pengeluaran kesehatan bayi
c. Kontak fisik merupakan hal yang penting bagi bayi. Hal ini dapat membantu
ereka merasa lebih aman, nyaman, dan hangat. Kontak kulit ke kulit dapat
meningkatkan kadar oksitosin ibu. Oksitosin adalah hormon yang dapat
membantu pengeluaran ASI dan dapat menenangkan ibu
d. Menyusui berkaitan dengan penurunan resiko penyakit seperti:
i. Diabetes tipe 2
ii. Kanker payudara
iii. Kanker ovarium
4

iv. Depresi postpartum
Para ahli masih mencari tahu efek menyusui pada osteoporosis dan penurunan
berat badan setelah melahirkan. Banyak penelitian melaporkan bahwa terdapat
penurunan berat badan yang lebih signifikan pada ibu yang menyusui
dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui.
e. Menyusui membantu mengecilkan uterus hingga ukuran sebelum hamil dan
mengurangi jumlah darah yang hilang setelah melahirkan
f. Seorang ibu yang menyusui setidaknya 3 bulan dapat mengalami penurunan
berat badan lebih daripada ibu yang tidak menyusui
g. Ibu yang menyusui biasanya melanjutkan kembali siklus menstruasi 20 higga
30 minggu lebih lama dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui
h. Terdapat penurunan angka obesitas pada ibu postpartum yang menyusui

2.1.1 Definisi
Hiperurisemia adalah keadaan terjadinya peningkatan kadar asam urat darah di atas
normal. Secara statistik, hiperurisemia didefinisikan sebagai kadar asam urat darah di atas dua
standar deviasi hasil laboratorium pada rata-rata populasi. Akan tetapi terkait resiko gout,
hiperurisemia didefinisikan sebagai hipersaturasi kadar asam urat. Kadar asam urat rata-rata
menurut umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 2.1.
7




Tabel 2.1 Kadar asam urat rata-rata menurut umur dan jenis kelamin
7
Karakteristik Kadar asam urat rata-rata
Prepubertas
Laki-laki (pada pubertas)
Perempuan (pubertas s.d premenopause)
Perempuan (setelah menopause)
Hiperurisemia
3,5 mg/dl
Meningkat sampai 5,2 mg/dl
Meningkat sampai ~4,0 mg/dl
4,7 mg/dl

5

Laki-laki
Perempuan
7,0 mg/dl
6,0 mg/dl


2.1.2 Etiologi dan Patofisiologi
Asam urat adalah produk akhir dari degradasi atau metabolisme purin (Gambar 2.1).
Kadar asam urat dalam darah tergantung dari keseimbangan antara metabolisme purin dan
asupan makanan mengandung purin, dan eliminasi atau ekskresi asam urat oleh ginjal dan
intestinal (Gambar 2.2). Dengan kata lain, hiperurisemia dapat disebabkan oleh produksi
yang berlebih dari asam urat, penurunan ekskresi asam urat, dan kombinasi keduanya.
Penyebab hiperurisemia secara umum tercantum dalam tabel 2.3.
7



Gambar 2.1 Metabolisme purin
7








Keterangan:
HGPRT : Hypoxanthine-guanine phosphoribosyltransferase

6


Gambar 2.2 Sintesis dan Eliminasi asam urat
2


Sumber sintesis asam urat ada tiga yaitu diet purin, konversi asam urat menjadi nukleotid
purin dan sintesis de novo. Pada keadaan normal, rata-rata produksi asam urat manusia sekitar
600-800 mg per hari.
7
Eliminasi asam urat dapat melalui dua cara, yaitu ginjal dan intestinal. Sekitar 70% (atau
2/3) asam urat total harian diekskresikan melalui ginjal dan sisanya melalui intestin setelah
mengalami degradasi enzimatik oleh koloni bakteri.
7

Pada ginjal, asam urat difiltrasi secara lengkap oleh glomerulus, kemudian 98-100%
direabsorpsi pada tubulus proksimal (kemungkinan melalui mekanisme transport aktif dan pasif
serta ada hubungannya dengan reabsorpsi natrium) dan 50% disekresi oleh tubulus distal
(kemungkinan melalui transport aktif). Reabsorpsi post-sekresi dapat terjadi juga pada tubulus
distal sekitar 40-45%. Proses ini dapat dilihat pada gambar 2.3.
7

















Blood urate 100% 98-100%
40-45%
S
50%
7






Gambar 2.3 Ekskresi asam urat
7

Tabel 2.2 Makanan dan Minuman yang Mengandung Purin
7

Sumber Purin
Tinggi
Paling baik harus dihindari:
Hati, ginjal, sarden, seafood, remis, daging babi, ikan cod, tiram, ikan air
tawar, daging sapi, daging rusa, minuman beralkohol
Sedang
Boleh dimakan kadang-kadang:
Asparagus, daging sapi, ayam, kepiting, daging bebek, ham, jamur,
lobster, daging babi, udang, bayam
Rendah
Tidak ada batasan:
Kopi, buah-buahan, roti, gandum, makroni, keju, telur, produk susu, gula,
tomat and dan sayuran hijau



Tabel 2.3 Etiologi Hiperurisemia
7
Produksi Asam Urat yang
Berlebihan
Ekskresi Asam Urat yang
Menurun
Kombinasi
Primary idiopathic hyperuricemia
Hypoxanthine-guanine
phosphoribosyl-transferase
Primaryidiopathichyperuricemia
Renal insufficiency
Polycystic kidney disease
Glucose-6phosphate
dehydrogenase deficiency
Fructose-
8

deficiency
Phosphoribosylpyrophosphate
synthetase overactivity
Proses Hemolisis
Penyakit Limfoprotektif
Penyakit Mieloprotektif
Polisiemia vera
Psoriasis (berat)
Paget's disease
Rhabdomiolisis
Olahraga intensitas berat
Alkohol
Obesitas
Makanan dengan kandungan purin
yang tinggi
Diabetes insipidus
Hipertensi
Asidosis
--Asidosis Laktat
--Ketoasidosis Diabetikum
Sindroma Down
Ketosis Starvasi
Berylliosis
Sarcoidosis
Intoksikasi Timbal
Hyperparathyroidism
Hypothyroidism
Toxemia gravidarum
Bartter's syndrome
Konsumsi obat
--Salisilat (kurang dari 2 gram
per hari)
--Diuretik
--Alkohol
--Levodopa-carbidopa
(Sinemet)
--Ethambutol (Myambutol)
--Pirazinamid
--Asam nikotinik(niacin;
Nicolar)
1Phosphatealdolasedeficienc
y
Alcohol
Shock
2.1.2.1 Produksi Asam Urat yang Berlebihan
7
Produksi Asam Urat yang berlebihan dapat terjadi melalui peningkatan asupan diet purin atau
peningkatan pemecahan nukleotid.
Idiopatik
Defisiensi Hypoxanthine-guanine phosphoribosyltransferase/HGPRT (Lesch-Nyhan
Syndrome) : merupakan penyakit terkait kromosom X. HGPRT mengatalisasi konversi
9

hipoxantin menjadi asam inosinat, phosphoribosyl pyrophosphate/PRPP sebagai donor
fosfatnya. Defisiensi enzim ini menyebabkan akumulasi dari PRPP yang dapat mempercepat
biosintesis purin sehingga hasil akhirnya peningkatan produksi asam urat (Gambar 2.1).
Selain dapat menjadi gout dan nefrolitiasis asam urat, pasien dapat berkembang menjadi
gangguan neurologik seperti Koreoatetosis, spastisitas dan retardasi mental.
7

Defisiensi parsial HGPRT (Kelley-Seegmiller syndrome) : merupakan kelainan terkait
kromosom X juga. Pada pasien biasanya akan terjadi artritis gout pada dekade kedua atau
ketiga kehidupan, memiliki insidensi nefrolitiasis asam urat yang tinggi dan mungkin
memiliki defisit neurologis.
7

Meningkatnya aktivitas PRPP synthetase : Jarang terkait kromosom-X tetapi terjadi akibat
mutasi enzim tersebut. Pasien akan mengalami gout pada usia 15-30 tahun dan memiliki
insidensi terbentuknya batu asam urat yang tinggi.
7

Diet tinggi purin : makanan daging, organ-oragan dalam seperti ginjal, alkohol dll. Dapat
menyebabkan overproduksi asam urat (Tabel 2.2).
Peningkatan turnover asam nukleotid : Hal ini mungkin dapat diamati pada orang dengan
anemia hemolitik dan keganasan hematologik seperti limfoma, mieloma atau lekemia.
7


2.1.2.2 Penurunan Sekresi asam urat
Penuruan sekresi asam urat ini merupakan etiologi yang paling banyak menyebabkan
hiperurisemia (Tabel 2.3).
Idiopatik
Insufisiensi renal : Gagal ginjal adalah salah satu penyebab yang paling umum pada
hiperurisemia. Pada gagal ginjal kronik, kadar asam urat tidak langsung meningkat sampai
clearance kreatinin turun hingga 20mL/min dan setidaknya ada faktor lain yang
berkontribusi pada peningkatan ini. Penurunan kliren urat karena berkompetisi dalam sekresi
dengan asam organik. Pada kelainan ginjal tertentu seperti medullary cystic disease dan
penyakit kronik yang mengarah padanefropati, hiperurisemia umumnya terjadi bahkan pada
insufisiensi ginjal yang minimal.
Obat : Diuretik, salisilat dosis kecil, siklosporin, pirazinamid, etambutol, levodopa dan
metoksifluran.
7

Hipertensi.
10

Asidosis : asidosis laktat, ketoasidosis diabetikum, ketoasidosis alkoholik dan ketoasidosis
starvasi.
7


2.1.2.3 Kombinasi
Alkohol : Etanol meningkatkan produksi asam urat dengan meningkatkan turnover dari
nukleotid adenin. Alkohol juga menurunkan ekskresi asam urat oleh ginjal karena sebagian
menyebabkan produksi asam laktat.
Defisiensi aldolase B (fructose-1-phosphate aldolase) : merupakan kelainan turunan yang
sering menyebabkan gout.
Glucose-6-phosphatase deficiency(glycogenesis type I, von Gierke disease): merupakan
kelainan autosomal resesif yang ditandai dengan gejala peningkatan hipoglikemia dan
hepatomegali selama 12 bulan pertama kehidupan. Ciri-ciri lainnya bisa berupa pembesaran
ginjal, adenoma hepar, hiperurisemia, hiperlipidemia dan peningkatan laktat.
7


2.1.3 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang ditujukan untuk mengarahkan dan memastikan penyebab
hiperurisemia. Pemeriksaan penunjang yang dikerjakan dipilih berdasarkan perkiaraan diagnosis
setelah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan yang rutin dikerjakan adalah
pemeriksaan darah rutin, asam urat, kreatinn darah, pemeriksaan urin rutin, kadar asam urat urin
24 jam, kadar kreatinin urin 24 jam, dan pemeriksaan lainnya. Pemeriksaan enzim dilakukan atas
indikasi dari diagnosis.
7,8
Pemeriksaan kadar asam urat dalam urin 24 jam penting dikerjakan untuk mengetahui
penyebab hiperurisemia akibat produksi berlebih asam urat ataupun penurunan sekresi asam urat.
Kadar asam urat dalam urin 24 jam di bawah 600mg/hari adalah normal pada orang dewasa yang
makan bebas purin selama 3-5 hari sebelum pemeriksaan. Namun sering anjuran makan bebas
purin ini tidaklah praktis. Maka pada orang yang makan biasa tanpa pantang purin kadar asam
urat urin 24 jam di atas 1000 mg/hari adalah abnormal (overproduksi), dan kadar 800 sampai
dengan 1000 mg/hari adalah ambang batas.
7


2.1.4 Manifestasi Klinis
2.1.4.1 Hiperurisemia asimptomatik
11

Hiperurisemia asimptomatik adalah keadaan kadar asam urat dalam darah tinggi tetapi
tidak menimbulkan gejala seperti artritis gout, topi dan nefrolitiasis. Keadaan ini akan tetap ada
semasa hidup penderita dan umumnya tidak perlu diterapi secara khusus namun dapat
memodifikasi penyebab hiperurisemianya (faktor resiko yang dapat dimodifikasi, lihat tabel 2.3).




2.1.4.2 Artritis gout akut
Serangan akut artritis gout ditandai dengan onset cepat dari nyeri hebat, pembengkakan,
dan inflamasi. Pada awalnya, serangan ini hanya mempengaruhi satu sendi saja (monoartikular),
paling sering pada sendi metatarsophalangeal /MTP(great toe), tapi apabila proses penyakit
berlanjut bisa juga pada lutut, pergelangan kaki, tangan, siku dan pergelangan tangan. Terdapat
90% pada pasien gout mengalami serangan pada MTP ini.
Monosodium urate
crystallization
Shedding of
preformed crystal
from tophi
Phagosyte by
leucocyte
Fusing of vacuolar &
lysosomal membranes
Hydrogen bonding between crystal
surface and lysosomal membrane
Rupture of
phagolysosome &
disruption of leucocytes
Gambar 2.4: Pathogenesis of acute gouty arthritis : Sequences of
event in the production of inflammation to urate crystals.
7
12

Serangan ini dapat sembuh beberapa hari sampai beberapa minggu, bila tidak diobati
akan menjadi rekuren yang multipel, interval antar serangan singkat dan dapat hilang dalam
beberapa jam atau hari. Faktor pencetus serangan akut antara lain berupa trauma lokal, diet tinggi
purin, kelelahan fisik, stres, tindakan operasi, pemakaian obat diuretik atau penuunan dan
peningkatan asam urat.
7

2.1.4.3 Gout interkritikal
Stadium ini merupakan kelanjutan stadium akut, yaitu terjadi periode interkritik
asimptomatik. Walaupun secara klinik tidak didapatkan tanda-tanda radang akut, namun pada
aspirasi sendi ditemukan kristal urat. Hal ini menunjukkan bahwa proses inflamasi terus
berlanjut, walaupun tanpa ada keluhan. Keadaan ini dapat terjadi satu atau beberapa kali
pertahun, atau dapat 10 tahun tanpa ada serangan akut. Apabila tanpa penanganan yang baik dan
pengaturan asam urat yang tidak benar, maka dapat timbul serangan akut yang lebih sering,
mengenai beberapa sendi dan biasanya lebih berat, kemudian dapat berlanjut menjadi stadium
kronis (menahun) dengan pembentukan tofi.
7

2.1.4.4 Chronic tophaceous gout
Stadium ini terjadi umumnya pada pasien yang mengobati sendiri (self medication)
sehingga dalam waktu lama tidak berobat secara teratur pada dokter. Artritis gout kronik ini
biasanya disertai tofi (deposit asam urat pada jaringan, misalnya pada kartilago) yang banyak dan
terdapat pada banyak sendi (poliartikular). Tofi ini sering pecah dan sulit sembuh dengan obat,
yang kadang-kadang dapat timbul infeksi sekunder. Pada tofus yang besar dapat dilakukan
ekstirpasi, namun hasilnya kurang memuaskan. Lokalisasi tofi paling sering pada cuping telinga,
MTP-1, olekranon, tendon Achilles dan jari tangan. Pada stadium ini kadang-kadang disertai
nefrolitiasis asam urat dan nefropati.
7
2.1.5 Diagnosis
Dengan menemukan kristal urat dalam tofi merupakan diagnosis spesifik untuk gout.
Akan tetapi tidak semua pasien mempunyai tofi, sehingga tes diagnostik kurang spesifik. Oleh
karena itu kombinasi dari penemuan-penemuan di bawah ini dapat dipakai untuk menegakkan
diagnosis:
Riwayat inflamasi artritis monoartikuler khusus pada sendi MTP-1;
13

Diikuti oleh stadium interkritik, yaitu bebas gejala.
Resolusi sinovitis yang cepat dengan pengobatan kolkisin.
Hiperurisemia

2.1.6 Pencegahan Gout
Pencegahan penyakit gout sama penting dengan pengobatannya. Pencegahan gout dapat
ditempuh dengan cara :
1. Mengatur asupan cairan yang adekuat.
2. Pengurangan berat badan (pada pasien obesitas).
3. Perubahan pola makan dengan mengurang konsumsi makanan tinggi purin.
4. Mengurangi konsumsi alkohol.
Mengatur asupan cairan adekuat dapat mencegah munculnya penyakit gout. Intake cairan
yang adekuat mampu mengurangi resiko terbentuknya batu ginjal pada pasien hiperurisemia.
Pengurangan berat badan mampu menurunkan resiko serangan gout rekuren. Hal ini dapat
ditempuh dengan cara mengurangi konsumsi makanan berkalori tinggi , dikombinasikan dengan
program latihan aerobik secara regular.
7

Perubahan pola makan dengan membatasi pengkonsumsian makanan dengan kandungan
purin tinggi mampu mengurangi kadar asam urat dalam darah. Contoh makanan tinggi purin
seperti kerang, daging, hati, otak, ginjal, gandum. Hasil penelitian yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa konsumsi daging dan seafood meningkatkan resiko serangan gout akut,
sedangkan produk hasil olahan susu mengurangi resiko tersebut.
7

Ada beberapa persyaratan terapi diet pada penderita gout yang harus dipenuhi,
diantaranya :
1. rendah purin, dalam keadaan normal, kadar purin makanan dapat mencapai 600-1000mg /
hari, sedangkan dalam diet rendah purin, dianjurkan untuk mengkonsumsi 120-150mg
purin/hari
2. cukup kalori, protein, mineral, dan vitamin
3. tinggi karbohidrat untuk membantu pengeluaran asam urat
4. kandungan lemak sedang karena lemak cenderung mengambat pengeluaran asam urat, serat
5. mengandung banyak cairan untuk membantu mengeluarkan asam urat.
14

Total konsumsi alkohol sangat berkaitan dengan peningkatan resiko penyakit gout.
Alkohol mempunyai efek diuretik yang mampu berkontribusi untuk memacu terjadinya dehidrasi
sehingga memperlambat ekskresi asam urat melalui ginjal dan menyebabkan presipitasi kristal
urat. Di samping itu, alkohol juga mempengaruhi metabolisme asam urat dan mampu
menyebabkan hiperurisemia.
7

2.1.7 Tatalaksana Hiperurisemia
Hal yang paling penting dalam pengobatan hiperurisemia adalah perbaikan pola
kebiasaan gaya hidup yang terkait dengan pembentukan hiperurisemia dan munculnya
komplikasi seperti obesitas, hipertensi, dan kelainan metabolisme lipid.Rekomendasi tingkat A.
Terapi obat diindikasikan pada kasus-kasus artritis gout yang berulang atau gout dengan tophus,
dan mempertahankan kadar asam urat 6,0 mg / dL atau lebih rendah. Rekomendasi tingkat A.
Terapi obat untuk hiperurisemia asimptomatik diimplementasikan ketika tingkat serum asam urat
adalah 8,0 mg / dL atau lebih tinggi sebagai indikator umum, tetapi harus dilakukan dengan hati-
hati.Rekomendasi tingkat C.
8
2.1.7.1 Tatalaksana Artritis Gout
Pada tahap awal dari serangan gout, satu tablet (0,5 mg) kolkisin adalah pilihan yang
tepat untuk mencegah terjadinya serangan. Dalam kasus serangan gout yang sering terjadi,
pemberian kolkisin satu tablet per hari terbukti efektif. Rekomendasi tingkat B. Pada tahap
lanjut dari serangan gout, non-steroid anti-inflammatory drugs (NSAID) efektif, tetapi diberikan
hanya untuk jangka pendek dalam dosis relatif besar untuk menghilangkan peradangan (NSAID
pulsa terapi). Rekomendasi tingkat B. Oleh karena kadar asam urat yang berfluktuasi diketahui
sebagai eksaserbasi dari serangan gout pada banyak kasus, obat penurun kadar asam urat tidak
disarankan pada saat serangan. Rekomendasi tingkat B. Meskipun ekstraksi juga dianggap
sebagai pengobatan untuk tofi gout, terapi obat juga diperlukan pada kasus-kasus yang dilakukan
ekstraksi.
8

2.1.7.2. Perubahan Gaya Hidup
15

(1) Hiperurisemia dan gout adalah penyakit yang mencerminkan gaya hidup. Perubahan gaya
hidup adalah terapi non farmakologisyang ditujukan untuk memperbaiki kebiasaan gaya hidup
dan memainkan peran penting dalam pengobatan terlepas dari ada atau tidaknya terapi obat
diimplementasikan. Rekomendasi tingkat B.
8

(2) Perubahan gaya hidup untuk pasien hiperurisemia / gout berpusat pada terapi diet,
pembatasan asupan alkohol, olahraga, serta mengurangi obesitas diharapkan memiliki efek
menurunkan kadar asam urat serum.Rekomendasi tingkat B.
8
(3) Pada terapi diet, pasien diberitahukan mengenai asupan energi yang benar, pembatasan
makanan yang mengandung banyak purin dan asupan fruktosa, serta minum air yang cukup.
Rekomendasi tingkat B.
8

(4) Aktivitas fisik dapat memperbaiki berbagai kondisi patologis sindrom metabolik.
Rekomendasi tingkat C.
8

2.2. Hubungan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kadar Asam Urat
2.2.1. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh terhadap Kadar Asam Urat

Indeks massa tubuh (IMT) adalah nilai yang diambil dari perhitungan antara berat badan
(BB) dan tinggi badan (TB) seseorang. IMT dipercayai dapat menjadi indikator atau
menggambarkan status gizi individu dan berat badan yang diklasifikasikan menjadi kelompok
underweight,berat badan normal, overweight dan obesitas.
9
Untuk mengetahui nilai IMT, dapat
dihitung dengan rumus berikut:Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus
berikut: Menurut rumus metrik:


Berat badan (Kg)
IMT = -------------------------------------------------------
[Tinggi badan (m)]
2

Untuk orang dewasa yang berusia 20 tahun keatas, IMT diinterpretasi menggunakan
kategori status berat badan standar yang sama untuk semua umur bagi pria dan wanita. Untuk
16

anak-anak dan remaja, intrepretasi IMT adalah spesifik mengikut usia dan jenis kelamin.
9
Kategori indeks masa tubuh menurut WHO dijelaskan dalam tabel berikut:
Tabel 2.4 Kategori IMT menurut WHO
9
Klasifikasi IMT
Kurus
Sangat kurus
Kurus
Agak kurus
18,50
<16,00
16,00-16,99
17,00-18,49
Normal 18,50-24,99
Gemuk
Pra obesitas
25,00
25,00-29,99
Obesitas
Obesitas I
Obesitas II
Obesitas III
30,00
30,00-34,99
35,00-39,99
40,00








Tabel 2.5 Kategori IMT menurut Asia Pasifik
9
Klasifikasi IMT
17

Berat badan kurang
Kisaran normal
Overweight
Obesitas I
Obesitas II
< 18.5
18.5-22.9
23 -24.9
25-29.9
30


Kegemukan sering dihubungkan dengan kadar asam urat darah dan merupakan salah satu
faktor resiko terjadinya pirai pada hiperurisemia asimtomatis. Hal ini dihubungkan dengan
insiden hiperurisemiayang sesuai dengan beratnya kegemukan. Penelitian pada wanita di
Hongkong didapatkan adanya hubungan yang kuat antara peningkatan indeks massa tubuh dan
kadar AU. Peningkatan massa tubuh dihubungkan dengan peningkatan produksi AU endogen.
Obesitas sentral berhubungan lebih besar dengan intoleransi glukosa atau penyakit
diabetes melitus, hiperinsulinemia, hipertrigliseridemia, hipertensi, dan gout. Tingginya kadar
leptin pada orang yang mengalami obesitas dapat menyebabkan resistensi leptin. Leptin adalah
asam amino yang disekresi oleh jaringan adiposa, yang berfungsi mengatur nafsu makan dan
berperan pada perangsangan saraf simpatis, meningkatkan sensitifitas insulin, natriusresis,
dieresis dan angiogensesis. Jika resistensi leptin terjadi di ginjal, maka akan terjadi gangguan
diuresis berupa gangguan eksresi urin. Gangguan ekskresi urin inilah yang dapat menyebabkan
gangguan pengeluaran asam urat melalui urin, sehingga kadar asam urat dalam darah orang yang
obesitas tinggi.
7
Penelitian mengenai hubungan indeks massa tubuh terhadap kadar asam urat telah
banyak dilakukan. Penelitian oleh Alboqai dkk, menunjukkan adanya korelasi positif antara
serum kadar asam urat dan obesitas. Beberapa penelitian cross sectional lainnya telah
menunjukkan hubungan antara serum asam urat tinggi dan obesitas. Dalam sebuah studi cross
sectional dari 640 pria dan wanita Belanda berusia 65-79 tahun yang tampak sehat, tingkat asam
urat serum ditemukan secara positif berhubungan dengan berat badan, indeks massa tubuh, dan
kegemukan tubuh pada pria tapi tidak pada wanita. Hubungan obesitas dengan peningkatan asam
urat serum juga didukung oleh beberapa studi longitudinal.
10
18

Subjek obesitas memiliki peningkatan asam urat serum sekitar 10 kali dibandingkan
peserta non-obesitas, sementara kelebihan berat badan memiliki peningkatan asam urat serum
sekitar 6 kali dibandingkan peserta non-obesitas.
10
Selain itu, penelitian oleh Alboqai dkk juga menunjukkan bahwa obesitas sentral
memiliki risiko potensial terhadap peningkatan asam urat serum lebih dari obesitas menyeluruh.
Hubungan obesitas dengan kelebihan berat badan memiliki sejumlah efek pada metabolisme
asam urat, yang meliputi penurunan klirens asam urat dan meningkatkan produksi asam urat.
10

Obesitas sering disertai dengan hiperurisemia. Namun, metabolisme purin dalam
berbagai jaringan, terutama mengenai produksi asam urat, belum sepenuhnya dimengerti.
Penelitian oleh Tsushiyana dkk melaporkan, dengan menggunakan model tikus, bahwa jaringan
adiposa dapat memproduksi dan mengeluarkan asam urat melalui xantin oksidoreduktase (XOR)
dan produksi tersebut meningkat pada obesitas. Asam urat plasma meningkat pada tikus gemuk
dan dilemahkan oleh pemberian febuxostat XOR inhibitor. Jaringan adiposa adalah salah satu
organ utama yang memiliki ekspresi dan aktivitas XOR yang berlimpah, dan jaringan adiposa
pada tikus obesitas memiliki kegiatan XOR lebih tinggi dibandingkan dengan tikus kelompok
kontrol. Hasil penelitian oleh Alboqai dkk, menunjukkan bahwa katabolisme purin di jaringan
adiposa dapat meningkat pada obesitas.
10
Di Indonesia, penelilitan oleh Wisesa dan Suastika menunjukkan bahwa obesitas
terutama obesitas sentral dan konsentrasi trigliserida telah dilaporkan merupakan determinan
penting asam urat serum. Pada penelitian tersebut juga menunjukkan dari uji bivariat dengan
regresi logistik sederhana, didapatkan hubungan yang bermakna antara obesitas sentral dengan
hiperurisemia (P = 0,007), dan dengan trigliserida (P = 0,019). Demikian pula pada uji
multivariat dengan regresi logistik multipel, menunjukkan adanya hubungan yang bermakna
secara signifikan antara obesitas dan trigliserida terhadap kadar asam urat (P = 0,01 dan P =
0,03).
Dari sini diduga hubungan positif antara asam urat serum dan trigliserida akibat
peningkatan kebutuhan NADPH untuk sintesis de novo asam lemak bebas pada orang dengan
obesitas. Jika produksi NADPH meningkat, dengan sendirinya terjadi peningkatan produksi
asam urat sehingga konsentrasi asam urat serum meningkat.
11

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Indeks Massa Tubuh
Hubungan antara Usia dengan Indeks Massa Tubuh
19

Perkembangan komposisi tubuh telah dimulai dengan cepat sejak usia anak-anak,
termasuk lemak tubuh yang menjadi salah satu indikator kesehatan. Lemak tubuh berperan
penting untuk pertumbuhan anak dan juga mempengaruhi sistem reproduksi wanita, karena
hormon estrogen dipengaruhi kadar lemak dalam tubuh. Pada usia reproduktif seorang wanita,
dibutuhkan kadar lemak yang cukup untuk sintesis hormon estrogen. Pada umumnya, lemak
tubuh akan meningkat pada usia lebih 20 hingga 40 tahun. Pada laki-laki peningkatan lemak
tubuh bermulai pada usia dewasa muda hingga usia pertengahan. Pada wanita, peningkatan
lemak lebih tinggi pada usia tua. Peningkatan lemak yang dipengaruhi oleh usia berhubungan
dengan aktivitas fisik yang menurun seiring dengan bertambahnya usia. Pada wanita khususnya,
selain aktivitas fisik turut dipengaruhi oleh faktor hormonal. Telah diketahui bahwa pada
perempuan yang memasuki usia menopause akan mengalami kenaikan distribusi lemak,
dikarenakan kadar hormon estrogen yang menurun setelah menopause.
12


Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Indeks Massa Tubuh
Tubuh memiliki komposisi yang meliputi massa lemak dan massa bebas lemak. Massa
bebas lemak terdiri dari massa protein (otot rangka) sebesar 19.4%, mineral 6.8%, dan cairan
tubuh yang mencakupi 73,8%. Massa bebas lemak mempunyai densitas 1,1g/cm
3
. Lean body
mass (LBM) merupakan bagian tubuh yang terdiri dari massa bebas lemak dan massa lemak
essensial. Pada pria didapatkan kenaikan LBM pada usia 50 tahun, setelah itu akan mengalami
penurunan, dan akan terjadi penurunan dengan kadar yang lebih tinggi di atas usia 80 tahun.
Besar penurunan LBM pada pria adalah 12% sedangkan pada wanita 19%.
12

Hubungan antara Faktor Genetik dengan Indeks Massa Tubuh
Terdapat beberapa faktor genetik yang mempengaruhi massa lemak tubuh. Massa lemak
tubuh seseorang secara langsung akan mempengaruhi berat badan dan indeks massa tubuh. Salah
satu faktor yang mempengaruhi massa lemak tubuh adalah efisisensi alur metabolisme makanan.
Jika metabolisme makanan pada seorang individu bersifat efisien, maka dengan itu kadar lemak
pada tubuh dapat dikontrol dengan baik. Pengaturan efisisensi metabolisme tubuh itu
dipengaruhi suatu proses enzimatik yang dipengaruhi oleh sifat DNA yang mengatur sintesis
enzim yang dibutuhkan dalam metabolisme makanan. Selain itu, nafsu makan dan rasa kenyang
juga dipengaruhi oleh faktor genetis. Faktor lain, yang berhubungan terhadap massa lemak tubuh
20

adalah respons termogenesis terhadap makanan, yang dipengaruhi oleh sifat DNA yang
mengatur respons tersebut. Jumlah sel lemak pada setiap individu juga dipengaruhi oleh faktor
genetic sehingga pada setiap individu memiliki massa lemak tubuh yang berbeda-beda.
Didapatkan peningkatan resiko untuk terjadi obesitas pada usia dewasa jika salah satu dari orang
tua adalah obesitas.
12
Hubungan antara Aktivitas Fisik dengan Indeks Massa Tubuh
Aktivitas fisik berperan penting dalam penggunaan energi tubuh. Aktivitas fisik
berhubungan secara langsung dengan jumlah energi yang dibutuhkan. Semakin tinggi tingkat
aktivitas fisik, semakin banyak energi yang dibutuhkan untuk aktivitas tersebut. Demikian
sebaliknya, pada individu dengan aktivitas rendah akan memerlukan ernergi yang lebih rendah.
Penggunaan energi akan mempengaruhi input atau asupan energi yang didapatkan dari makanan
yang dimakan. Lebih banyak asupan makanan berarti lebih banyak cadangan energi yang
terdapat pada tubuh. Cadangan energi akan dideposit sebagai lemak tubuh jika tidak dibakar atau
digunakan untuk beraktivitas. Maka dengan itu, pada individu yang kurang beraktivitas, akan
cenderung menjadi obesitas, karena asupan energi melebihi penggunaan energisehingga terdapat
kelebihan energi yang didepositkan sebagai lemak tubuh. Cara untuk membakar lemak tubuh ini
adalah dengan beraktivitas atau dengan olah raga bagi mengurangi deposit lemak pada badan
yang mempengaruhi profil lipid dan resiko penyakit jantung koroner.
13

Hubungan antara Asupan Makanan dengan Indeks Massa Tubuh
Tiap jenis makanan mempunyai nilai energi masing-masing. Lemak menyumbang energi
terbesar dengan menghasilkan energi sebesar 9kkal per 1 gram, diikuti protein 4kkal per 1 gram.
Kandungan energi ini akan mempengaruhi jumlah cadangan energi dalam tubuh. Cadangan
energi ini akan dideposit di dalam tubuh dalam bentuk lemak viseral. Peningkatan jumlah lemak
viseral secara langsung mempengaruhi massa lemak tubuh. Peningkatan massa lemak tubuh ini
akan mempengaruhi berat badan seseorang sehingga akan meningkatkan indeks massa tubuh.
Maka dengan itu, konsumsi lemak secara langsung akan meningkatkan massa lemak tubuh dan
indeks massa tubuh. Selain dari, jenis makanan yang dikonsumsi yang turut mempengaruhi
indeks massa tubuh adalah jumlah makanan yang dikonsumsi per kali. Jumlah makanan yang
dikonsumsi per kali diperhitungkan dalam unit kalori yang terkandung dalam makanan. Bagi
21

makanan yang berserat, walaupun dikonsumsi dalam jumlah yang banyak, namun tidak
mempengaruhi berat badan karena pada makanan berserat mempunyai kandungan kalori yang
rendah.Hal yang lebih berpengaruhi terhadap indeks massa tubuh adalah kandungan kalori pada
makanan yang dikonsumsi, karena jumlah kalori tersebut akan mempengaruhi cadangan energy
yang akan dideposit sebagai lemak tubuh. Bagi makanan berlemak selain mempengaruhi nilai
kalori, makanan berlemak juga akan mempengaruhi profil lipid yang terdiri dari kolesterol
LDL,HDL dan trigliserida.
14


Hubungan antara Metabolisme Makanan dengan Indeks Massa Tubuh
Setiap makanan yang dimakan akan dimetabolisme di dalam tubuh. Makanan ini
mengandung nilai energi yang akan dimetabolisir oleh tubuh untuk menjalankan beberapa
fungsi. Pada individu yang mempunyai metabolism yang baik, maka setiap energy yang
terkandung pada makanan akan digunakan oleh tubuh. Oleh karena itu, jika energi ini
dimetabolisime dengan baik, jumlah energi yang berlebihan akan berkurang sehingga massa
lemak dalam tubuh dapat dikurangkan. Demikian pula, pada individu yang mempunyai
gangguan metabolisme makanan akan cenderung mempunyai energi yang berlebih dalam jumlah
yang besar yang akan dikonversi menjadi lemak tubuh. Basal metabolic rate (BMR) merupakan
energy yang digunakan oleh organ tubuh dalam menjalankan fungsi normal tubuh, saat dalam
keadaan istirahat. Kebutuhan BMR pada orang dewasa, berbeda berdasarkan jenis kelamin , dan
didapatkan BMR lebih tinggi pada laki-laki berbanding perempuan. Dalam keadaan istirahat,
seorang laki-laki akan menggunakan lebih banyak energi dibanding wanita, sehingga massa
lemak tubuh pada laki-laki lebih kurang berbanding wanita. BMR juga dipengaruhi oleh suhu
tubuh, status hormonal dan juga pertumbuhan. Pada anak-anak dalam masa pertumbuhan akan
mengalami peningkatan BMR sebanyak 10-20% dari kebutuhan normal. Pada ibu hamil dan ibu
yang menyusui juga akan mengalami peningkatan BMR, sehingga asupan energi yang di
butuhkan lebih dari kebutuhan normal. Pada usia lanjut, justru mengalami penurunan BMR,
sehingga kebutuhan energi lebih rendah berbanding orang dewasa.
14


Hubungan antara Sosial Ekonomi dengan Indeks Massa Tubuh
22

Terdapat beberapa faktor sosial yang mempengaruhi indeks massa tubuh. Salah satunya,
adalah berdasarkan penelitian didapatkan dibandingkan kelompokoverweight atau kelebihan
berat badan antara warga desa dan warga kota. Didapatkan kelompokoverweight lebih tinggi
pada warga kota disbanding dengan warga desa. Hal ini, berhubungan dengan pola makan warga
kota yang sering makan makanan siap saji yang mengandung makanan berkalori tinggi. Pada
penelitian di daerah Bogor, Jawa Barat didapatkan kejadian overweight di daerah kota sebanyak
40%, dibanding dengan daerah desa sebanyak 35%. Daripada status ekonomi, didapatkan
kejadian untuk kelebihan berat badan lebih sering pada individu dengan pendapatan yang lebih
tinggi. Sebagai contoh, di dalam suatu daerah pendesaan yang diteliti di daerah Bogor, Jawa
Barat didapatkan persentase overweight pada golongan pendapatan rendah 24%, dibanding
dengan golongan pendapatan tinggi, yaitu sebanyak 48%. Pendapatan ini sendiri dipengaruhi
oleh pekerjaan dan pendidikan individu tersebut. Pada individu dengan pendidikan tinggi
cenderung untuk mendapat suatu pekerjaan dengan pendapatan yang lebih tinggi.
15

2.2.2.Hubungan antara Usia dengan Kadar Asam Urat.
Telah diketahui bahwa enzim urikinase yang berpengaruh dalam metabolisme asam urat
dengan cara kerja mengoksidasi asam urat menjadi alatonin akan menurun seiring dengan
bertambahnya usia seseorang. Alatonin merupakan suatu bentuk metabolit asam urat yang
mudah dieksresi oleh badan. Proses oksidasi asam urat menjadi alatonin dikatalisasi oleh enzim
urikinase. Gangguan pada enzim ini yang menyebabkan asam urat tidak dapat diubah menjadi
alatonin sehingga kadar asam urat dalam sirkulasi darah menjadi meningkat. Fakta ini, didukung
oleh hasil studi kros seksional yang telah dilakukankan Saryono dkk pada tahun 2009 di
kabupaten Brebes, yang telah mendapatkan bahwa pada golongan dewasa dengan usia 40 hingga
60 tahun mempunyai resiko 1,7 kali berbanding dengan golongan dewasa dengan usia 30 hingga
40 tahun.
16
Menurut Zhu Y dkk meniliti responden berusia rata-rata 47 tahun, ditemukan
kelompok hiperurisemia adalah terdapat pada kelompok usia 20-29 tahun (prevalensi 0,4%) dan
prevalensi hiperurisemia dan gout tertinggi terdapat pada usia >80 tahun.
17



2.2.3.Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kadar Asam Urat.
23

Pada laki-laki, kadar asam urat dalam darah pada saat pubertas sudah dapat mencapai
5,2mg/dl dan akan terus meningkat seiring bertambahnya usia. Hal ini disebabkan, karena pada
laki-laki tidak terdapat hormon estrogen yang bersifat uricosuric agent yaitu suatu bahan kimia
yang berfungsi membantu ekskresi asam urat melalui ginjal. Mekanisme uricosuric agent dalam
meningkatkan ekskresi asam urat adalah dengan menghambat urate traporter-1 yang mempunyai
fungsi mereabsorbsi asam urat ke dalam sirkulasi darah melalui sel tubulaus proksimal pada
ginjal. Dengan berkurangnya reabsorbsi asam urat pada tubulus proksimal, secara langsung
meningkatkan lagi ekskresi asam urat melalui urin. Maka dengan itu, peningkatan kadar asam
urat pada wanita lebih sering terjadi pada wanita post menopause, karena kadar estrogen yang
telah berkurang pada kelompok itu, sehingga menyebabkan penurunan ekskresi asam urat
melalui urin.
7,8
Pada suatu studi kohort terhadap suatu populasi dewasa muda antara 18 hingga
32 tahun di Copenhagen didapatkan suatu hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dan
kejadian hiperurisemia.
16

2.2.4. Hubungan antara Faktor Herediter dan Kadar Asam Urat
Kadar AU dikontrol oleh beberapa gen. Analisis The National Heart, Lung, and Blood
Institute Family studies menunjukkan hubungan antara faktor keturunan dengan AU sebanyak
kira-kira 40%. Selain pengaruh langsung genetik, penyakit herediter komorbid lainnya seperti
hipertensi dan diabetes mellitus juga dapat menyebabkan hiperurisemia.
18
Kelainan genetik FJHN (Familial Juvenile Hiperuricarmic Nephropathy) merupakan
kelainan yang diturunkan secara autosomal dominan, dan secara klinis sering terjadi pada usia
muda. Pada kelainan ini, terjadi penurunan Fractional Uric Acid Clearance (FUAC) yang
menyebabkan penurunan fungsi ginjal secara cepat.
18


2.2.5. Hubungan antara Konsumsi Purin dengan Kadar Asam Urat.
Purin adalah salah satu senyawa basa organik yang menyusun asam nukleat atau inti dari
sel dan termasuk dalam kelompok asam amino, unsur pembentuk protein. Asam nukleat yang
dilepas di traktus intestinalis akan diubah menjadi mononukleotida oleh enzim ribonuklease,
deoksiribonuklease, dan polinukleotidase. Kemudian enzim nukleotidase dan fosfatase
menghidrolisis mononukleotida menjadi nukleotida yang kemudian diserap atau diurai lebih
lanjut oleh enzim fosforilase intestinal menjadi basa purin serta pirimidin. Proses pembentukan
24

asam urat sebagian besar dari metabolisme nukleotida purin endogen, guanosine monophospate
(GMP). Enzim xantin oksidase mengatalis hipoxantin dan guanin dengan produk akhir asam
urat. Manusia tidak mempunyai enzim urikase, sehingga produk akhir dari katabolisme purin
adalah berupa asam urat.
19
Purin dalam bahan makanan berbeda-beda kandungan dan bioavailabilitasnya. Selain itu,
perubahan purin menjadi asam urat juga tergantung pada selularitas relatif, aktivitas transkripsi
dan metabolik seluler makanan tersebut. Aktivitas transkripsi adalah kemampuan sel untuk
mengartikan kode genetik dari suatu jenis asam nukleat ke dalam bentuk lain, dalam hal ini
kemampuan sel untuk mengubah purin dalam makanan menjadi asam urat. Terdapat beberapa
makanan yang mengandung kandungan purin yang tinggi dengan kadar lebih dari 400mg purin
per 100gr bahan makanan.
19
Dalam suatu penelitian kasus kontrol terhadap populasi pesakit di
RSUP Dr.Kariadi Semarang, didapatkan suatu hubungan signifikan yang antara asupan purin
dengan kelompok kasus penderita hiperurisemia. Didapatkan juga pada kelompok yang
mendapat asupan purin yang tinggi mempunyai resiko 3 kali dibanding dengan kelompok yang
mendapat asupan purin dalam kadar normal.
16

2.2.6. Hubungan antara Konsumsi Alkohol dan Kadar Asam Urat
Banyak penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi alkohol dan
hiperurisemia. Alkohol telah diketahui dapat meningkatkan kadar asam urat melalui dua
mekanisme. Mekanisme pertama adalah peningkatan sintesis asam urat melalui degredasi
Adenosine Triphosphate menjadi Adenosine Monophosphate. Mekanisme kedua adalah
menurunkan ekskresinya pada urin akibat peningkatan kadar asam laktat dalam darah yang
disebabkan oleh oksidasi etanol.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Stiburkova dkk dengan menganalisa konsumsi
alkohol secara terpisah untuk jenis bir (konsumsi 0,5 L/minggu) dan anggur/ wine (konsumsi 0,2
L/minggu). Hasilnya ditemukan peningkatan konsentrasi kadar asam urat pada konsumsi bir,
sedangkan pada konsumsi anggur dalam jumlah sedang tidak meningkatkan konsentrasi asam
urat dalam darah. Hal ini disebabkan oleh bir adalah minuman beralkohol dengan kadar purin
tinggi, sedangkan anggur mengandung jumlah purin yang sedikit dan beberapa komponen
nonalkohol, termasuk antioksidan, vasorelaksan dan stimulan dari mekanisme anti-agregasi.
Dengan demikian, adanya purin pada bir dapat menambah efek hiperurisemia dari alkohol itu
25

sendiri. Ketiadaan efek anggur terhadapa asam urat dapat terjadi akibat komponen nonalkohol
yang mempunyai sifat antioksidan, seperti polifenol, dapat mengurangi dampak alkohol pada
konsentrasi asam urat dalam darah.
9
Hasil ini juga didukung oleh penelitian oleh Liu dkk dan
Yadav dkk.
6,20

Suatu studi prospektif lain telah dilakukan untuk melihat hubungan antara jenis minuman
beralkohol dan jumlah yang dikonsumsi dalam satu hari dengan insidens terjadinya gout pada
laki-laki. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa terdapat hubungan bermakna antara
konsumsi alkohol per hari dengan insidens terjadinya gout. Diagnosa gout pada penelitian ini,
ditentukan dengan menggunakan kriteria arthritis gout akut menurut American College of
Rheumatology 1977.
Hasil dari penelitian tersebut didapatkan peningkatan resiko yang bermakna dengan
confidence interval CI 95% (1.03-1.81) dan relative risk 1,37 untuk konsumsi alkohol lebih dari
10 gram per hari yang disesuaikan dengan kelompok usia. Selain umur, terdapat faktor lain juga
yang diteliti yaitu, indeks massa tubuh, riwayat hipertensi, riwayat gagal ginjal kronik dan
asupan makanan per hari termasuk asupan daging, makanan laut, dan sayuran dengan kadar
purin yang tinggi. Setelah ditentukan faktor tersebut dilakukan suatu analisis multivariat dan
didapatkan terdapat hubungan bermakna dengan CI 95% (1.14-1.94) dan relative risk 1,44 untuk
konsumsi alkohol lebih dari 15 gram per hari. Oleh itu, kita dapat simpulkan terdapat
peningkatan hubungan yang bermakna untuk konsumsi alkohol lebih dari 10-15 gram per hari
dengan insidens terjadinya arthritis gout akut. Penelitian tersebut turut, mendapatkan hubungan
jenis minuman alkohol dengan insidens terjadinya gout. Pada individu yang mengonsumsi bir
dengan porsi standar lebih dari 2 kali per hari akan terjadinya peningkatan resiko sebanyak 2,5
kali berbanding yang tidak mengkonsumsi bir, sedangkan pada individu yang minum arak akan
beresiko untuk terjadinya artritis gout akut sebanyak 1,6 kali berbanding yang tidak
mengkonsumsi. Sedangkan pada individu yang minum wine lebih dari 2 kali per hari dengan
porsi standar belum ditemukan hubungan yang bermakna dengan insidens arthritis gout akut.
Selain itu, terdapat peningkatan resiko yang bermakna pada individu yang minum bir 2-4 hari
per minggu, sedangkan pada yang minum arak terdapat peningkatan resiko yang bermakna untuk
yang minum lebih dari 5 hari per minggu. Maka dengan itu, dapat kita katakan bahwa pada
individu yang minum bir terdapat resiko yang lebih tinggi yaitu berbanding dengan individu
yang minum arak. Walaupun jumlah alkohol pada bir lebih lebih kurang berbanding arak, namun
26

resiko artritis gout akut lebih tinggi karena pada bir mengandung guanosin, yang merupakan
suatu bentuk purin yang lebih cepat diabsorpsi oleh badan berbanding dengan nukleosida dan
nukleotida lain.
20

2.2.7. Hubungan antara Aktivitas dengan Kadar Asam Urat.
Aktivitas yang dilakukan oleh manusia berkaitan erat dengan kadar asam urat yang
terdapat dalam darah. Beberapa pendapat menyatakan bahwa aktivitas yang berat dapat
memperberat penyakit gout yang ditandai dengan peningkatan asam urat. Olah raga atau gerakan
fisik akan menyebabkan peningkatan asam laktat. Peningkatan kadar asam laktat dalam darah
akan menyebabkan pengeluaran asam urat menurun sehingga menyebabkan kandungan asam
urat dalam tubuh meningkat. Hal ini diperkuat dengan teori dari Mayers yang mengatakan bahwa
asam laktat terbentuk dari proses glikolisis yang terjadi di otot. Jika otot, berkontraksi, di dalam
keadaan anaerob, yaitu tanpa oksigen maka glikogen menjadi produk akhir glikolisis akan
menghilang dan muncul laktat sebagai produksi akhir utama.
7
Peningkatan asam laktat dalam
darah akan menyebabkan penurunan ekskresi asam urat oleh ginjal. Walau bagaimanapun, kadar
asam urat sukar diukur secara pasti karena kita tidak dapat memastikan waktu otot-otot tubuh
berkontraksi dalam keadaan anaerob.
Sebuah penelitian eksperimental yang dilakukan oleh Huang dkk dengan mengukur
kadar asam urat rata-rata urin 10 jam pada tujuh subjek yang diberikan latihan selama satu
minggu. Pada hari keempat mulai ditemukan adanya penurunan bermakna secara signifikan dari
kadar asam urat urin. Hal ini disebabkan oleh peningkatan aktivitas berhubungan dengan
perubahan hemodinamik ginjal, yang menunjukkan adanya penurunan dari ekskresi ginjal
sebanyak 25%. Hal ini diakibatkan meningkatnya hormon antidiuretik sesuai dengan
peningkatan intensitas aktivitas.
21


2.2.8. Hubungan antara Hipertensi dan Kadar Asam Urat
Hubungan antara asam urat dengan hipertensi telah diketahui. Peningkatan tekanan darah
akan menyebabkan aliran darah ke ginjal menurun sehingga akan terjadi aktivasi Renin-
Angiotensin System dan menyebabkan reabsorpsi asam urat dan produksi xantin oksidase
meningkat.
27

Berdasarkan penelitian Trape dkk. ditemukan adanya peningkatan tekanan darah baik
sistol maupun diastol pada pasien yang memiliki peningkatan kadar asam urat. Hal ini terjadi
karena rendahnya kapasitas mitokondrial akan menyebabkan peningkatan aktivitas xantin
oksidase sehingga terjadi peningkatan produksi asam urat, dengan demikian menghasilkan anion
superoksida yang dapat menyebabkan disfungsi dari endotelial dan kerusakan vaskular.
Peningkatan asam urat juga berkaitan dengan penurunan respon vasodilator.
12
Hasil yang serupa
juga ditemukan dari hasil penelitian Teng.
22

2.2.9. Hubungan Kadar Gula Darah dan Kadar Asam Urat
Prevalensi dari hiperurisemia pada pasien dengan Diabetes Melitus Tipe 2 adalah
tinggi.
23,24
Hiperinsulinemia sebagai akibat resistensi insulin dapat menyebabkan peningkatan
asam urat. Mekanisme ini diduga melalui penurunan sekresi asam urat oleh ginjal dan
penumpukan substrat pembentuk asam urat. Begitu sebaliknya, peningkatan asam urat juga akan
menyebabkan peningkatan resistensi insulin. Pada model hewan ditemukan bahwa asam urat
memiliki peran penting dalam memperburuk resistensi insulin dengan cara penghambatan
bioavailabilitas dari nitrit oksida yang esensial untuk uptake glukosa yang distimulasi oleh
insulin.
23

Menurut penelitian Wang dkk, prevalensi hiperurisemia pada pasien dengan Diabetes
Melitus Tipe 2 (DMT2) yang memiliki obesitas sentral lebih tinggi dibandingkan dengan
populasi umum.
24
Sedangkan menurut penelitian Kodama dkk, dapat disimpulkan bahwa setiap
peningkatan 1 mg/dl asam urat, terjadi peningkatan resiko terjadinya DMT2 sebanyak 17%.
23

2.2.10. Hubungan antara Dislipidemia dan Kadar Asam Urat
Terjadinya dislipidemia dapat menyebabkan perburukan dari resistensi insulin. Resistensi
insulin akan menyebabkan terjadinya hiperinsulinemia yang berhubungan dengan peningkatan
aktivitas Renin Angiotensin System dan menyebabkan penurunan aliran darah ginjal sehingga
terjadi peningkatan reabsorpsi asam urat dan produksi xantin oksidase yang pada akhirnya akan
menyebabkan hiperurisemia. Sebaliknya, hiperurisemia dapat menyebabkan terjadinya resistensi
insulin. Resistensi insulin akan berpengaruh pada peningkatan trigliserida dan penurunan dari
kolesterol HDL. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Uaratanawong dkk di
28

Bangkok yang menyatakan bahwa ditemukan adanya hipertrigliseridemia dan penuruan HDL
pada pasien dengan hiperurisemia.
4,25


Gambar 2.5. Gambar ini menunjukkan adanya interaksi antar komponen dari Sindroma
Metabolik, Konsumsi Alkohol, Hipertensi, dan Hiperurisemia.
25
2.2.11. Hubungan antara Pendidikan dan Kadar Asam Urat
Berdasarkan hasil penelitian Liu dkk., semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi
kadar asam urat. Tidak dijelaskan mengenai penyebab hubungan tersebut.
6

2.2.12. Hubungan antara Pekerjaan dan Kadar Asam Urat
Berdasarkan hasil penelitian Liu dkk. di Cina, terdapat dua faktor dari pekerjaan yang
mempengaruhi tingginya kadar asam urat dalam darah. Faktor - faktor tersebut adalah berat
ringannya pekerjaan (ringan, sedang, berat) dan cara berangkat kerja (berjalan kaki, sepeda, naik
bus, maupun mobil pribadi). Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa semakin ringan beban
kerja, kadar asam urat semakin tinggi. Demikian halnya dengan cara berangkat kerja, pekerja
yang membawa kendaraan pribadi memiliki kadar asam urat lebih tinggi dibandingkan pekerja
29

yang berangkat kerja dengan berjalan kaki, sepeda, dan bus. Hal-hal ini dikaitkan dengan
aktivitas fisik.
6

2.2.13.Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku terhadap Kadar Asam Urat
Berdasarkan penelitian Harrold dkk, kurangnya pengetahuan yang diidentifikasi dalam
total populasi termasuk kurangnya pengeahuan mengenai makanan pemicu, dosis obat penurun
asam urat, dan risiko golongan obat ini dalam menyebabkan memburuknya gejala gout dalam
jangka pendek. Kurangnya pengetahuan tampaknya lebih besar pada mereka dengan gout aktif.
Hal yang sama ditemukan pada penelitian Te Karu dkk yang meneiliti pengetahuan, sikap, dan
perilaku suku Mauri terhadap gout. Dikemukakan bahwa memang sedikit informasi yang
tersedia dan kurangnya pemahaman mengenai penyebab gout serta tatalaksananya. Penderita
gout tampak cenderung menyalahkan diri mereka sendiri.
26












30



















Gambar 2.6. Kerangka Teori
IMT Kadar asam
urat
Usia
Jenis Kelamin
Aktivitas
Profil lipid
Keturunan
Asupan
makanan
Metabolism
ee
Pekerjaan
Fungsi ginjal
Konsumsi
purin
Gula darah
sewaktu
Tekanan darah
Obat-obatan
Pendidikan
n
Pengetahuan
Perilaku
Sikap
31















Gambar 2.7. Kerangka Konsep






Kadar
Asam Urat
Indeks Massa
Tubuh

Jenis Kelamin

Aktivitas
fisik
Riwayat keluarga
dengan
hiperurisemia
Usia
Konsumsi Purin
32



http://www.womenshealth.gov/publications/our-publications/breastfeeding-guide/breastfeedingguide-
general-english.pdf
http://www.cdph.ca.gov/programs/breastfeeding/Documents/MO-BF-Benefits.pdf
http://www.unicef.org/nutrition/index_24824.html