Anda di halaman 1dari 4

Hasil Pengamatan

Bahan Perlakuan Hasil


Asam salisilat Ditambahkan aquades
Ditetesi FeCl
3

Perubahan warna menjadi ungu
Disimpan dibawah sinar
ultraviolet
Cahaya ungu
Ditambahkan methanol
Dikocok
Ditambahkan H
2
SO
4

Bau metil salisilat
Efedrin-HCl Ditambahkan H
2
SO
4
dan HCl Negative (tidak terdapat endapan)
Kanji Diencerkan dgn air
Ditambah alfa naftol dlm alcohol
Ditetesi H
2
SO
4
pekat
Negative (tidak terjadi perubahan
warna)
Asetosal
(bodrexin)
Ditambahkan etanol Negative (tidak berubah warna
Vit. B1 Dibau Bau seperti tape
F. Pembahasan
Pada percobaan ini dilakukan analisis kualitatif terhadap beberapa bahan obat. Obat
merupakan suatu bahan yang digunakan dalam penyembuhan penyakit. Pada sebuah obat
terkandung didalamnya beberapa bahan obat atau bahan kimia yang bila dikonsumsi dapat
memberikan efek terapi dan bila berlebihan dalam dosis dapat menimbulkan efek toksik. Obat-
obat yang digunakan pada praktikum ini merupakan obat-obat bebas yang bisa diperoleh tanpa
menggunakan resep.
Percobaan pertama dilakukan analisis organoleptis, yaitu dengan menggunakan indra
sebagai alat untuk menganalisis unsur. Indra yang digunakan pada percobaan ini yaitu indra
pembau, bahan yang digunakan vitamin B1. Berdasarkan teori vitamin B1 memiliki bau khas
seperti bau ragi. Percobaan selanjutnya dilakukan uji kuantitatif terhadap kandungan karbohidrat
dalam kanji dengan menggunakan reaksi mollisch. Kanji diencerkan dengan aquades hingga
menjadi larutan kanji, lalu pada tabung lain alcohol dicampurkan dengan reagen mollisch yaitu
alfa naftol hingga homogeni. Selanjutnya larutan kanji dimasukan kedalam tabung yang berisi
alcohol dan reagen lalu dikocok hingga larut. Setelah pencampuran atau homogenisasi,
H
2
SO
4
pekat perlahan-lahan dituangkan kedalam tabung melalui dinding tabung reaksi, hal ini
dimasudkan agar larutan H
2
SO
4
tidak bercampur dengan larutan tetapi hanya membentuk lapisan
pada permukaan.


Reaksi yang terjadi :

Pada saat asam sulfat pekat mulai bercampur dengan larutan, asam sulfat menghidrolisis
ikatan sakarida untuk menghasilkan fulfural, dimana fulfural ini akan bereaksi dengan reagen
mollisch membentuk cincin yang berwarna ungu.
Penentuan kandungan fenol atau salisilat dalam bahan obat asam salisilat dilakukan
dengan 2 cara, cara pertama asam salisilat dicampurkan dengan besi (III) klorida. Bila ditinjau
dari bentuk molekulnya, asam salisilat terdiri atas gugus fenol, yang bila gugus fenol bebas ini
bereaksi dengan FeCl
3
maka akan merubah warna larutan menjadi ungu Ar-OH +
FeCl
3
Ar-OFeCl
2
+ HCl. Hal ini membuktikan bahwa asam salisilat mengandung fenol.
Lalu untuk mengidentifikasi unsure salisilat dalam asam salisilat digunakan methanol dan asam
sulfat pekat sebagai katalis. Asam salisilat dilarutkan dengan methanol dalam tabung reaksi,
asam salisilat dengan cepat larut dalam methanol dikarenakan persamaan sifat yaitu sama-sama
semipolar sehingga kelarutannya besar. Lalu dimasukan asam sulfat pekat, dimana asam sulfat
pekat ini hanya berfungsi sebagai katalis yang bertugas untuk mempercepat laju reaksi
dan menurunkan energy aktifitasnya. Setelah homogen, tabung dipanaskan didalam gelas kimia
yang telah diisi oleh air diatas hotplate. Pemanasan bertujuan untuk memacu reaksi antara
methanol dan asam salisilat, dimana pada saat dipanaskan, molekul methanol dan asam salisilat
saling bertumbukan dan terjadi reaksi. Reaksi yang terjadi :
Apabila pada saat dipanaskan tercium bau metil salisilat atau bau gondopuro, maka hal ini
membuktikan adanya salisilat dalam asam salisilat. Percobaan selanjutnya serbuk asam salisilat
disinari ultraviolet dengan menggunakan UV VIS. Asam salisilat memiliki ikatan rangkap
terkonjugasi dan mampu menyerap cahaya pada daerah 200-800 nm pada radiasi
elektromagnetik sehingga dapat berfluoresensi dan asil fluoresensinya adalah cahaya ungu.
Percobaan selanjutnya pada golongan alkaloid, untuk mengidentifikasi kandungan
alkaloid dalam efedrin-HCl. Dalam mengidentifikasinya digunakan reagen mayer atau asam
sulfat pekat dan HCl. Pertama yang dilakukan adalah menggerus tablet efedrin-HCl dengan
tujuan untuk mempercepat kelarutan bila ditambahkan dengan pelarut. Lalu dimasukan asam
sulfat dan HCl. Hasil yang diperoleh tidak terjadi endapan, hal ini dikarenakan oleh tidak semua
alkaloid mengendap saat direaksikan oleh reaktan mayer, endapan yang terbentuk dipengaruhi
oleh rumus bangun alkaloidnya.

G. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini, yaitu :
Untuk mengidentifikasi unsur yang terdapat dalam suatu bahan obat, dapat digunakan beberapa
analisis, yaitu menggunakan organ atau organoleptis, dengan menguji kelarutannya, metode
flouresensi dengan UV VIS, pengarangan dan pemijaran, analisis elemen, analisis gugus, dan
penggunaan reagen reaksi. Hasil reaksi dapat berupa perubahan warna untuk pencampuran suatu
bahan obat dengan reagen, terlihatnya warna khas suatu bahan obat pada analisis UV VIS, dan
tercium bau khas pada analisis organoleptis.



Daftar Pustaka
Basset, J. dkk. 1994. Vogel Kimia Analisis Kualitatif Organik. Edisi 4. Penerbit buku kedokteran.
Jakarta
Martiana,febriany. 2008. Isolasi Alkoloid Utama dari Tumbuhan. J. Sains Kimia.Vol.91 hal 57-
58.
Rivai, Harrizul. 2006. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta ; UI Press.
Rohman, Abdul, dkk. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta ; Pustaka Pelajar
Schumm, Dorothy E.1992. Intisari Biokimia. Binarupa Aksara.
Utami, Nurul, at all. 2008. Identifikasi Senyawa Alkaloid Dari Ekstrak Heksana Daun Ageratum
conyzoides. J Sains Kimia.Vol 9(2) hal 82-84.


a. Asam askorbat
CH2OH CH2OH
H C OH + FeCl3 H C OH + Fe3+ + HCl
O O O

Cl Cl
b. Asam salisil

1) COOH Cl
OH + FeCl3 OH + Fe3+
Cl Cl
COOH
2) COOH COOH
OH + CuSO4 CO + H2SO4



c. Asam sitrat
CH2 CH3COOH







OH C COOH + FeCl3 Cl C COOH + HCl + Fe3+

CH2 COOH CH2 COOH