Anda di halaman 1dari 5

PENGGOLONGAN

obat obat yang diberikan untuk mengobati diare ini dapat berupa:
1.KEMOTERAPI
adalah obat terapi kausal yaitu memusnahkan bakteri penyebab penyakit digunakan obat golongan
sulfonamida atau antibiotika.Contohnya tetra siklin ,doksisiklin
A. Tetrasiklin
Farmakodinamik
Golongan tetrasiklin bekerja dengan cara menghambat sintesis protein bakteri pada
ribosomnya. Paling sedikit terjadi dua proses dalam masuknya antibiotik ke dalam
ribososm bakteri. Pertama secara difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua melalui
sistem transpor aktif. Setelah masuk antibiotik berikatan secara reversibel dengan
ribosom 30S dan mencegah ikatan tRNA-aminoasil pada kompleks mRNA-ribosom. Hal
tersebut mencegah perpanjangan rantai peptida yang sedang tumbuh dan berakibat
terhentinya sintesis protein. Tetrasiklin termasuk antibiotika broad spektrum. Spektrum
golongan tetrasiklin umumnya sama, sebab mekanisme kerjanya sama, namun terdapat
perbedaan kuantitatif dari aktivitas masing-masing derivat terhadap kuman tertentu.
Derivat dari tetrasiklin yaitu: demeklosiklin, klortetrasiklin, doksisiklin, methasiklin,
oksitetrasiklin, dan minosiklin.
Mekanisme resistensi yang terpenting
Diproduksinya pompa protein yang akan mengeluarkan obat dari dalam sel bakteri.
Protein ini dikode dalam plasmid dan dipindahkan dari satu bakteri ke bakteri lain
melalui proses transduksi atau konjugasi. Resistensi terhadap satu jenis tetrasiklin
biasanya disertai resistensi terhadap semua jenis tetrasiklin lainnya.

Farmakokinetik
Absorpsi
Sekitar 30-80% tetrasiklin diserap dalam saluran cerna. Absorpsi sebagian besar
berlangsung di lambung dan usus halus. Adanya makanan dalam lambung menghambat
penyerapan, kecuali minosiklin dan doksisiklin. Absorpsi dihambat dalam derajat tertentu
oleh pH tinggi dan pembentukan kelat yaitu kompleks tetrasiklin dengan suatu zat lain
yang sukar diserap seperti aluminium hidroksid, garam kalsium dan magnesium yang
biasanya terdapat dalam antasida, dan juga ferum.
Distribusi
Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah yang
bervariasi. Dalam cairan cerebrospinal (CSS) kadar golongan tetrasiklin hanya 10-20%
kadar dalam serum. Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari adanya meningitis.
Penetrasi ke cairan tubuh lain dan jaringan tubuh cukup baik. Golongan tetrasiklin
menembus sawar uri dan terdapat dalam ASI dalam kadar yang relatif tinggi.
Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya, doksisiklin dan minosiklin daya penetrasinya ke
jaringan lebih baik.
Metabolisme
Obat golongan ini tidak dimetabolisme secara berarti di hati, sehingga kurang aman pada
pasien gagal ginjal.
Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin dengan filtrasi glomerolus dan melalui
empedu. Golongan tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai kadar
10 kali kadar dalam serum. Sebagian besar obat yang diekskresi ke dalam lumen usus ini
mengalami sirkulasi enterohepatik, maka obat ini masih terdapat dalam darah untuk
waktu lama setelah terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau
gangguan faal hati obat ini akan mengalami akumulasi dalam darah. Obat yang tidak
diserap diekskresi melalui tinja.
Penggunaan Klinik
Indikasi
Penggunaan topikal hanya dibatasi untuk infeksi mata dan kulit saja. Salep mata
golongan tetrasiklin efektif untuk mengobati trakoma dan infeksi lain pada mata oleh
bakteri gram-positif dan gram negatif yang sensitif. Selain itu juga untuk profilaksis
oftalmia neonatorum pada neonatus akibat Neisseria gonorrhoe atau Chlamydia
trachomatis.
Penyakit konjungtivitis inklusi dapat diobati dengan hasil baik selama 2-3 minggu,
dengan memberikan salep mata atau obat tetes mata yang mengandung golongan
tetrasiklin. Pada trakoma pemberian salep mata golongan tetrasiklin yang dikombinasi
dengan doksisiklin oral 2 x 100 mg/hari selama 14 hari memberikan hasil pengobatan
yang baik.
Kontra Indikasi
Hipersensitif terhadap golongan antibiotik tetrasiklin.
Interaksi Obat
Bila tetrasiklin diberikan dengan metoksifluoran maka dapat menyebabkan nefrotoksisk.
Bila dikombinasikan dengan penisilin maka aktivitas antimikrobanya dihambat.
Efek samping
Sensasi terbakar pada mata.
Sediaan
Suspensi 10mg/cc dan salep mata tetrasiklin hidroklorida 1% 10mg/g.
Dosis
Lapisan tipis salep mata tiap 2-4 jam atau 1 tetes suspensi tiap 6-12 jam (dapat digunakan
lebih sering); dosis tunggal digunakan untuk pencegahan oftalmia neonatorum.
B. Doksisiklin
Farmakodinamik
Doksisiklin bekerja secara bakteriostatik dengan cara mencegah sintesa protein
mikroorganisme .Mempunyai spectrum kerja yang luas terhadap bakteri gram positif
dan negative.
Farmakokinetik
Doksisiklin hamper sepenuhnya diserap dengan bioavailabilitas lebih dari 80% dengan
rata-rata -95% .Namun beberapa penulis membandingkan intravena dengan oral dosis
doksisiklin merasa penyerapan lebih rendah dalam kisaran 73-77%.Penyerapan terjadi
di duodenum,Waktu paruh penyerapan adalah 0,85 samapi kurang lebih 0,41
h.Konsentrasi puncak dengan dosis yang bervariasi menjadi 15,3 mg/L 4 jamsetelah
dosis 500 mg per oral.
Indikasi
Infeksi saluran pernafasan,infeksi saluran pencernaan,infeksi pada saluran kemih dan
kelamin,infeksi jaringan lunak dan kulit,infeksi telinga ,hidung dan tenggorokan
Kontraindikasi
Hipersensitif atau alergi terhadap antibiotic doksisiklin atau tetrasiklin
Dosis
Dewasadan anak>8 tahun dengan berat badan > 45 kg:100 mg setiap 12 jam selama hari
pertama dilanjutkan dengan 100mg sekali sehari.
Anak-anak berusia>8 tahun dengan berat badan <45 kg :4,4 mg/kgbb/hari dengan
selang waktu 12 jam selama sehari pertama dilanjutkan dengan 2,2 mg/kgBB sekali
sehari
Infeksi berat:200mg sehari

2.Rehidrasi
Sesuai anjuran WHO/UNICEF menggunakan cairan yang terdiri dari 1 L air yang mengandung glukosa
,natrium klorida 3,5 gram,natrium citrate 2,9 gram,kalium klorida 1,5 gram.Untuk diare akut harus di
infus

2.OBSTIPANSIA
adalah untuk terapi simptomatis dengan tujuan untuk menghentikan diare,yaitu dengan cara:
a.Zat penekan peristaltic.Contohnya loperamid
1. Loperamid
Indikasi : untuk pengobatan diare akut dan diare kronik
Kontraindikasi : hipersensitivitas dengan loperamid, hambatan peristaltik, bayi
dan anak < 2 tahun, hindari penggunaan sebagai terapi utama
untuk disentri akut, ulseratif kolitis akut, bacterial enterocolitis
dan kolitis pseudomembran.
Bentuk sediaan : kaplet dan tablet salut selaput 2 mg.
Dosis dan aturan pakai : anak-anak : diare akut maksimal 16 mg per hari
2-5 tahun (13-20 kg) : 1 mg 3 kali per hari
6-8 tahun (20-30 kg) : 2 mg 2 kali per hari
8-12 tahun (> 30 kg) : 2 mg 3 kali per hari
pemeliharaan : 0,1 mg/kg BB sesudah BAB
- diare kronis maksimal 4-12 mg per hari
dewasa :
diare akut, dosis awal 4 mg diikuti 2 mg
sesudah BAB maksimal 16 mg/hari,
- diare kronis dosis awal seperti diare akut
diikuti 4-8 mg/hari sesudah BAB maksimal
16 mg/hari.
Efek samping : nyeri abdominal (perut), mual, muntah, mulut kering,
mengantuk, pusing, ruam kulit, dan megakolon toksik.
Resiko khusus : pada pasien yang sedang hamil pada trimester pertama resiko
penggunaan obat ini adalah termasuk kategori C, di mana
penelitian pada wanita (manusia) belum tersedia.
Tidak direkomedasikan untuk wanita menyusui karena
loperamid dapat masuk ke jaringan payudara (susu).

b.Adsorben
1. Kaolin
mekanisme kerja : bekerja sebagai penyerap dan menghilangkan rangsangan baik sekali dalam
pengobatan terhadap diare yang nonspesifik. Kaolin bila diberikan peroral dapat mengabsorbsi
bahan racun dalam pencernaan makanan dan menghilangkan bakteri dan zat yang merangsang
yang sering merupakan penyebab diare.
Kontra indikasi : jangan diberikan kepada penderita konstipasi, obstruksi usus, hipersensitifitas.
Contoh : Neo Entrostop.
2. Pectin
Mekanisme kerja : merupakan adsorben dapat menghilangkan racun bakteri. Bekerja tidak
spesifik dengan mengadsorbsi nutrisi, racun, obat dan cairan pada saluran pencernaan.
Sering dikombinasikan dengan Attapulgite.
Kontra indikasi : Hipersenstifitas, penderita obstruksi usus.
Contoh : Diagit, Molagit, Omegdiar.
3. Attapulgite
Mekanisme kerja : dengan mengabsorpsi nutrisi, racun, obat dan cairan pada saluran pencernaan.
Sering dikombinasiakn dengan Pectin.
Kontra Indikasi : konstipasi, obstruksi usus.
Contoh : Diapet, Neo Enterodiastop.


3.SPASMOLITIKA
adalah zat yang dapat melemaskan kejang kejang otot perut(nyeri perut) pada diare misalnya
Atropin sulfat
1. Atropin sulfat
Indikasi: tukak peptic ,gastritis,heartburn,hiperasiditas
Kontra indikasi : glaucoma sudut tertutup,asma,hernia hiatal,penyakit hati atau gunjal
yang serius.
Dosis: 160-320 mg diantara waktu makan dan menjelang tidur.