Anda di halaman 1dari 7

BAB 3

PERSAMAAN KEADAAN
1. Persamaan Keadaan
Persamaan keadaan suatu sistem adalah hubungan antara variabel-
variabel keadaan atau koordinat atau termodinamik sistem itu pada suatu
keadaan seimbang di mana terdiri dari sejumlah gas, di tentukan oleh
tekanannya (p), volumenya (v), suhunya (T) dan massanya (m). Jadi persamaan
sistem ini secara umum adalah:
f (p, v, T, m) .................................. (1-1)
Jika yang diketahui bukan jumlah massanya melainkan jumlah molnya (n),
maka persamaan keadaannya yaitu :
f (p, v, T, n) ................................... (1-2)
Untuk satu mol gas persamaan keadaannya menjadi :
f (p, v, T, m) .................................. (1-3)

2. Persamaan Keadaan Gas Sempurna (Ideal)
Untuk 1 mol, pV=RT .................................. (1-4)
Untuk n mol, pV=nRT ................................ (1-5)
Untuk m kg, pv=m/M.RT ............................ (1-6)
Di mana,
M= bobot molekul=massa tiap 1 mol gas.
R=Tetapan gas umum untuk 1 mol (R=0,082 1 atm mol
-1
K
-1
)

3. Persamaan Keadaan Gas Nyata (Real Gas)
Pada tahun 1873 Van der Waals, seorang fisikawan Belanda menjabarkan
persamaan keadaan gas nyata yaitu :
*

+ ( ) , untuk 1 mol gas .......... (1-7)


*

+ ( ) , untuk n mol gas ....... (1-8)


Di mana, a dan b adalah tetapan Van der Waals, tetapi nilainya berbeda untuk
gas yang berbeda, sehingga sering disebut tetapan gas individual.
Dalam bentuk virtual, persamaan Van der Waals menjadi,
*

+ ....................... (1-9)
Persamaan Beattle-Bridgeman sangat sangat cocok dengan hasil
eksperimen untuk kawasan p, v dan T. Persamaan ini adalah modifikasi dari
persamaan Virtual:
*
()

( )

+ ............................ (1-1a)

) ......................................... (1-2a)

) ......................................... (1-3a)
(

) ............................................... (1-4a)
Di mana,

, a,

, b dan C adalah tetapan yang berbeda nilainya untuk gas


yang berbeda.
4. Bidang p-v-T Gas sempurna
a. Pada proses isothermal grafiknya berupa hiperbola samasisi:
.............................................................. (1-5a)
b. Pada proses ishokorik atau isometric dan grafiknya berupa garis lurus:
Dari persamaan (1-5a) dapat diubah menjadi

...... (1-6a)
c. Pada proses isobarik, grafiknya juga berupa garis lurus:

............................................................... (1-7a)








5. Bidang P-V-T Gas Nyata
Sifat-sifat gas nyata menyimpang dari sifat-sifat gas sempurna. Molekul-
molekul gas nyata tarik-menarik serta mempunyai volume . Hukum-hukum Boyle
dan Gay-Lussac hanya diikuti oleh gas nyata secara pendekatan, yaitu pada
tekanan rendah jauh dari keadaan cairnya.
Pada gas nyata ketika tekanan masih rendah (volume besar),
pemampatan juga diikuti oleh kenaikan tekana seperti gas sempurna. Di atas
suhu kritis gas nyata tidak dapat dicairkan dengan cara pemampatan. Di sini gas
sejati mengikuti dengan baik Hukum Boyle dalam kawasan yang agak luas.
Suatu zat nyata dapat berada dalam fase gas pada suhu yang cukup
tinggi dan tekanan rendah. Pada suhu rendah dan tekanan tinggi dapat terjadi
transisi ke fase cair dan padat. Karena itu bidang p-v-T gas nyata hanyalah
merupakan bagian dari bidang p-v-T zat nyata. Dalam hal ini perlu dibedakan
adanya 2 macam zat nyata, yaitu zat yang menguncup dan mengembang ketika
membeku.
Uap dan cairan di kawasan koeksistensi disebut uap jenuh dan cairan
jenuh. Tekanan oleh uap jenuh disebut tekanan uap yang merupakan fungsi
suhu yang akan naik jika suhu naik. Jika pada proses pemampatan isothermal
dilanjutkan setelah semua zat menjadi cair, maka pada suatu zat timbullah
Kristal-kristal zat padat, yaitu di kawasan koeksistensi padat-cair. Pada
kawasan ini tekanan tetap konstan.
Jika volume sistem secara perlahan-lahan diperbesar, maka semua
proses terjadi pula, tpendeketapi dengan arah yang berlawanan. Jika proses
pemampatan isothermal dilakukan pada suhu yang lebih tinggi, kawasan cair-
uap menjadi lebih pendek dan pada suhu kritis menjadi nol. Ini berarti bahwa
volume jenis zat cair jenuh sama dengan volume jenis uap jenuh.
Konsistensi antara fase padat dan uap mungkin pula terjadi, yaitu pada
tekanan yang cukup tinggi. Volume jenis cairan jenuh dan uapa jenuh pada
suhu kritis disebut volume jenis kritis (v
k
) dan tekanana yang bersangkutan
disebut tekanan kritis (p
k
).

6. Persamaaan Keadaan Sistem Lain
Asas termodinamika berlaku umum tidak terbatas pada gas, cairan dan
zat padat di bawah tekanan hidrostatik yang seragam atau homogeny. Variabel-
variabel intensif dan ekstensif yang bersangkutan mungkin berbeda, namun
suhu system selalu merupakan system termodinamik yang mendasar.
Ditinjau sebuah kawat atau batang yang mengalami tegangan, sepanjang
kawat atau batang ini L bergantung pada besar tegangan T dan suhu T.
hubungan antara L, T dan T adalah persamaan keadaan kawat tersebut. Jika
kawat tidak meregang melampaui batas elastisitas dan jika suhu tidak terlalu
jauh dari suhu acuan T
0
, maka persamaan keadaan kawat itu adalah:

(

)+ ..................... (1-8a)
Dengan,
L
0
= Panjang kawat tanpa tegangan pada suhu T
0
Y = Modulus Young (modulus regangan isothermal)
A = Luas penampang kawat
= Koefisien muai linear.
Pada contoh ini, T adalah variabel intensif dan L adalah variabel ekstensif.
Pada suhu yang sangat rendah dan di dalam medan magnetik besar, maka
momen magnetic dapat dinyatakan dengan ketetapan yang cukup oleh
persamaan.

................................................ (1-9a)
C
0
= tetapan yang nilainya tergantung pada jenis zat dan disebut tetapan Curie.
Persamaan in dikenal sebagai hokum Curie adalah variabel intensif dan M
adalah variabel ekstensif.
Momen dwikutub p suatu dielektrik di dalam atakanmedan listrik luar E dapat
dinyatakan dalam persamaan:
(

) .......................................... (1-1b)
Untuk semua cairan, tegangan muka menurun dengan kenaikan suhu dan
menjadi nol pada suhu kritis. Secara pendekatan, tegangan permukaan dapat
dinyatakan oleh persamaan:

) ......................................... (1-1c)
7. Persamaan Gas Van der Waals
Di bawah ini menunjukkan grafik persamaan Van der Waals untuk
beberapa suhu dalam diagram p-v. Tampak bahwa pada suhu di bawah suhu
kritis grafik untuk gas ini terlihat bahwa untuk satu nilai p terdapat tiga nilai v,
hal ini disebabkan karena persamaan Van der Waals dapat diubah menjadi
persamaan derajat tiga dalam v.








(

) ( )
Bila ruas kiri dan kanan dikalikan dengan v
2
/ p maka akan di peroleh:
(

) ( )


,
Selanjutnya dapat disusun menjadi:

...................... (1-2c)
Persamaan (1-2c) adalah persamaan derajat tiga dalam v
3
, jadi mempunyai tiga
akar v
1
, v
2
dan v
3
. Pada suhu kritis T
k
, persamaannya menjadi:

.................... (1-3c)
Persamaan (1-3c) , mempunyai tiga akar nyata yang sama yaitu v
k
.
Perhatikan persamaan berikut:

....................................... (1-4c)
Dari persamaan di atas maka tampak bahwa pv adalah fungsi dari v. Akan tetapi
karena v sendiri adalah juga fungsi p, maka dapat disimpulkan bahwa pv juga
fungsi p. Diagram pv-p untuk gas Van der Waals terlukis seperti di bawah ini.
Diagram p-v gas Van der Waals











Dari persamaan (1-4c) dapat diturunkan sebagai syarat minimum,
sehingga hasilnya adalah:

.......................................... (1-5c)
Isoterm Boyle mempunyai titik minimum pada p=0. Untuk p=0, maka v=, sebab
pv mempunyai nilai terhingga. Oleh karena itu maka

dan persamaan
(1-5c) menjadi RT=a/b. Jadi suhu Boyle menjadi:

................................................... (1-6c)
8. Hukum Keadaan Bersesuaian
Semua gas sempurna sifatnya sama, yaitu mengikuti satu hukum gas
sempurna pv=nRT yang tidak mengandung tetapan individual. Bidang keadaan
semua gas sempurna berimpit. Jika dua dari tiga besaran p, v dan T untuk
berbagai gas sama, maka yang ketigapun sama. Pada tahun 1881 Van der Waals
telah menemukan hukum keadaan bersesuain, yang menyatakan bahwa sifat
semua gas nyata juga sama asalkan tekanan, volume dan suhu dinyatakan
dalam tekanan tereduksi =p/p
k
, volume tereduksi =v/v
k
dan suhu tereduksi
T/T
k
.
Untuk gas Van der Waals, maka f(, , ) dapat dijabarkan selanjutnya
dimasukkan ke dalam persamaan Van der Waals, maka akan diperoleh:
[

] ( )


Yang selanjutnya dapat disederhanakan menjadi:
*

+ ( ) ................................. (1-7c)
Persamaan ini tidak lagi mengandung tetapan individual dan berlakuuntuk
semua zat. Hukum keadaaan bersesuaian lebih luas dan tepat dari persamaan
Van der Waals. Hukum keadaan bersesuaian berlaku pula untuk gas-gas yang
bukan gas Van der Waals. Jadi untuk semua gas berlaku f(, , )=0 yaitu
persamaan keadaan tereduksi, yang tidak lagi mengandung tetapan individual,
meskipun bentuk lain dari (1-7c).
9. Diagram Van der Waals, suhu Boyle Tereduksi
Suhu Boyle Tereduksi:


Isoterm tereduksi kritis:


Untuk

maka dari persamaan (1-7c) diperoleh:



Atau


Atau


Jadi isotherm adalah garis lurus dengan koefisien arah

Diagram gas Van der Waals