Anda di halaman 1dari 32

KASUS ORTHOPEDI

DISLOKASI PEDIS

Oleh:
Kusuma Hati, S.Ked
201020401011089
Pembimbing:
dr. Yvone Sarah sP. OT




FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
SMF ILMU BEDAH
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN JOMBANG
2012


PENDAHULUAN
Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak
dijumpai di pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah
menetapkan dekade ini (2000-2010) menjadi Dekade Tulang dan Persendian.
Penyebab Dislokasi terbanyak adalah karena kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan
lalu lintas ini, selain menyebabkan dislokasi, menurut WHO, juga menyebabkan
kematian 1,25 juta orang setiap tahunnya, dimana sebagian besar korbannya
adalah remaja atau dewasa muda.
1

Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi.
Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau
terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk
sendi).
Penanganan dislokasi merupakan penanganan yang utama, secara umum
bertujuan mengurangi rasa nyeri, kecatatan, dan komplikasi. Pada dislokasi yang
telah diikuti komplikasi berupa nekrosis jaringan, penanganannya bisa berupa
amputasi. Amputasi itu sendiri dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan
bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas.









KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. Z
Umur : 33 tahun
Alamat : jl. Madura Jombang
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
No RM :115352
MRS : 06 maret 2012
II. ANAMNESIS (Autoanamnesa)
1. Keluhan Utama : telapak kaki kanan nyeri
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien baru mengalami kecelakaan lalu lintas sekitar pukul 4 sore. Saat pasien
dibonceng oleh saudaranya , dari arah depan tiba-tiba ada mobil yang hendak
memotong jalan, motor tidak sempat mengerem, dan akhirnya motor menabrak
sisi kiri mobil.:Sepeda motor oleng dan jatuh ke sisi kanan. Pasien tidak sadar dan
segera dibawa ke rumah sakit.
Saat sampai di UGD pasien sadar, mengeluh nyeri daerah telapak kaki,tidak bias
digerakkan,nyeri bila dicoba digerakkan,bengkak.
Pasien bisa diajak berkomunikasi,selain mengeluh kakinya, juga mengeluh sakit
kepala, mual,tapi tidak muntah.
3. Riwayat penyakit Dahulu
Hipertensi dan DM disangkal
Riwayat kelainan pendarahan disangkal
Riwayat trauma disangkal
4. Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang menderita gangguan perdarahan, hipertensi dan
diabetes mellitus.
5.riwayat social dan ekonomi
Pasien serang wiraswasta, bekerja lebih banyak di dalam ruangan, sering
menggunakan alat transportasi sehari-harinya. Pasien merupakan kepala rumah
tangga dan mencari nafkah untuk keluarga.
III. PEMERIKSAAN FISIK,
Status Present
* Keadaan umum : Tampak sakit sedang
* Kesadaran : komposmentis
GCS 456
* Tekanan Darah : 120/70 mmHg
* Nadi : 80x/mnt
* RR : 20 x/mnt
* Suhu : 36,8 o C
Status Generalis
Kepala
* Bentuk : Normal
* Rambut : Hitam, lurus, tidak mudah dicabut
* Mata : PBI 3mm/3mm, refleks pupil (+), sklera tidak kuning, konjungtiva
palpebra tidak tampak pucat, palpebra tak tampak bengkak
Vulnus apertum di region parietal 4 cm
* Telinga : Simetris, liang lapang, sekret (-)
* Mulut : Bibir tidak pucat, tidak kering, gusi tak berdarah, lidah tak nampak
kotor
Leher
* Inspeksi : Simetris, tak tampak benjolan, JVP tak tampak.
* Palpasi : trakea di tengah, tidak terdapat pembesaran KGB dan kelenjar tiroid
Thoraks
- Inspeksi : Bentuk simetris
- Palpasi : Tidak ada pembesaran KGB supraklavikula dan aksila
1. Paru-Paru
* Inspeksi : Pernafasan simetris kiri dan kanan, tidak ada benjolan abnormal,
* Palpasi : Fremitus vokal kanan = kiri, KGB aksila tak ada pembesaran.
* Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
* Auskultasi : suara vesikuler normal, suara nafas tambahan (-)
2. Jantung
* Inspeksi : Ictus cordis tak terlihat
* Palpasi : Ictus tak teraba
* Perkusi : Batas kanan : ICS 4, sternal kanan
Batas kiri : ICS 5, midklafikula kiri
* Auskultasi : Bunyi jantung murni, frekuensi normal, regular, bunyi jantung
tambahan (-)
Abdomen
Inspeksi : Perut datar, simetris.
Palpasi : Hepar tak teraba, lien tidak teraba, ginjal tak teraba nyeri tekan (-), KGB
inguinal tak ada pembesaran.
Perkusi : Suara timpani
Auskultasi : Bising usus normal
Ekstremitas
* Superior : Oedem (-) abrasi deltoid sinistra
* Inferior : Oedem (+) pada daerah punggnug kaki kanan
Status Lokalis Ekstremitas
Look.
Oedem pada dorsum pedis dekstra
Warna kebiruam
Feel.
* Nyeri tekan : (+)
* Suhu kulit hangat
* Krepitasi (-)
Move
Nyeri saat digerakkan
Gerakan pada punggung kaki kanan plantarflexi dorso flexi sulit dievaluasi karena
nyeri. Sebelah kiri gerakan maksimal dan baik
Neurovaskuler
* Sensibilitas : Rangsangan raba (+)
* A.dorsalis pedis : Teraba (+)
2.Radiologi,


V. DIAGNOSIS KERJA
COR +Dislokasi pedis dekstra
VI. PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
- Antibiotik
- Analgetik
2. Tindakan
- Reposisi dislokasi
VII. PROGNOSIS
- Quo ad vitam : ad bonam
- Quo ad Fungsionam : dubia ad bonam






















PEMBAHASAN
ANATOMI
Terdiri atas 26 tulang, yaitu :14 phalanges, 5 os metatarsal dan 7 os Tarsi. Os
tarsi terdiri atas os calcaneus,os talus, os navicular,3 os cuneiform, dan os cuboid.
Berdasarkan
fungsinya dibedakan menjadi 3 yaitu :
Forefoot (metatarsal dan toes),
Midfoot (cuneiform, navicular, dan cuboid),
Hindfoot (talus/astragalus, dan calcaneus(os calcis).
Tulang kaki dibentuk dan bersatu untuk membentuk kesatuan longitudinal dan
arcus transversal. Bagian permukaan anterior (superior) kaki disebut dengan
dorsum atau permukaan Dorsal, dan inferior(posterior) aspek dari kaki disebut
permukaan plantar. Karena ketebalan yang beragam pada anatomi kaki, maka
harus kita perhatikan pemberian faktor eksposi untuk dapat menunjukkan densitas
keseluruhan bagian tulang kaki.

A. Fungsi dan Anatomi Kaki
Pada kehidupan sehari-hari, fungsi kaki digambarkan dengan bermacam-
macam pandangan, antara lain (1) sebagai basis tumpuan, (2) sebagai peredam
guncangan, (3) sebagai penyesuai gerak dan (4) sebagai pengungkit yang rigid
untuk stabilisasi. Kesemua itu berhubungan dengan gait.
4

A.1. Struktur tulang


Kaki adalah suatu kesatuan unit yang kompleks dan terdiri dari 26 buah
tulang yang dapat menyangga berat badan secara penuh saat berdiri dan mampu
memindahkan tubuh pada semua keadaan tempat berpijak. Ke-26 tulang itu terdiri
dari: 14 falang, 5 metatarsal dan 7 tarsal. Kaki dapat dibagi menjadi 3 segmen
fungsional
a. Hindfoot (segmen posterior)
Bagian ini terletak langsung dibawah os tibia dan berfungsi sebagai
penyangganya. Terdiri dari:
Talus yang terletak di apeks kaki dan merupakan bagian dari sendi
pergelangan kaki
Calcaneus yang terletak dibagian belakang dan kontak dengan
tanah
b. Midfoot (segmen tengah)
Terdiri dari 5 tulang tarsal yaitu:
3 cuneiforme: medial, intermedium dan lateral
Cuboid
Navikulare
Ke-5 tulang tersebut membentuk persegi empat ireguler dengan dasar
medial dan apeks lateral. 3 cuneiforme dan bagian anterior cuboid serta
naviculare dan bagian belakang tulang cuboid membentuk suatu garis.
c. Forefoot (segmen anterior)
Bagian ini terdiri dari:
5 metatarsal: I, II, III, IV, V
14 falang. Dimana ibu jari kaki mempunyai 2 falang sedangkan
setiap jari lainnya 3 falang

A.2. Struktur persendian dan ligamen
Tulang-tulang tersebut diatas membentuk persendian-persendian sebagai
berikut:
a. Artikulatio talocruralis
Merupakan sendi antara tibia dan fibula dengan trachlea talus.
Sendi ini distabilkan oleh ligamen-ligamen:
Sisi medial: lig. Deltoid yang terdiri dari:
Lig. tibionavikularis
Lig. calcaneotibialis
Lig. talotibialis anterior dan posterior
Sisi lateral:
Lig. talofibularis anterior dan posterior
Lig. calcaneofibularis
Gerak sendi
ini:
Plantar fleksi
Dorsofleksi
Sedikit abduksi dan adduksi pergelangan kaki


b. Artikulatio talotarsalis
terdiri dari 2 buah sendi yang terpisah akan tetapi secara fisiologi
keduanya merupakan 1 kesatuan, yaitu:
Bagian belakang: artikulatio talocalcanearis/subtalar
Ligamen yang memperkuat adalah: ligg. talocalcanearis anterior,
posterior, medial dan lateral
Bagian depan: artikulatio talocalcaneonavicularis
Ligamen yang memperkuat adalah:
Lig. tibionavikularis
Lig. Calcaneonaviculare plantaris
Lig. bifurcatum: pars calcaneonavicularis (medial) dan pars
calcaneocuboid (lateral) berbentuk huruf V
Gerak sendi
ini:
Inversi pergelangan kaki
Eversi pergelangan kaki

b. Articulatio tarsotransversa (CHOPART)
Disebut juga sendi midtarsal atau surgeons tarsal joint yang sering
menjadi tempat amputasi kaki
Terdiri dari 2 sendi, yaitu:
Articulatio talonavicularis
Articulatio calcaneocuboid, yang diperkuat oleh:
Pars calcaneocuboid lig. bifurcati di medial
Lig. calcaneocuboid dorsalis di sebelah dorsal
Lig. calcaneocuboid di sebelah plantar
Gerak sendi
ini:
Rotasi kaki sekeliling aksis
Memperluas inversi dan eversi art. Talotarsalis

c. Artikulatio tarsometatarsal (LISFRANC)
Adalah sendi diantara basis os metatarsal I-V dengan permukaan sendi
distal pada os cuneiformis I-III
Rongga sendi ada 3 buah, yaitu:
Diantara os metatarsal I dan cuneoformis I
Diantara os metatarsal II dan III dengan cuneiformis II dan III
Diantara os metatarsal IV dan V dengan cuboid
Ligamentum pengikatnya adalah:
Ligg. Tarsi plantaris
Ligg. Tarsi dorsalis
Ligg. Basium os metatarsal dorsalis, interosea dan plantaris
d. Articulatio metacarpofalangeal
Ligamen pengikatnya adalah: lig. collateralia pada kedua sisi tiap sendi
Gerak sendi
ini:
Fleksi-ekstensi sendi metacarpal
Abduksi-adduksi sendi metacarpal

e. Artculatio interfalangeal
Ligamen pengikat: lig. colateral di sebelah plantar pedis
Gerak sendi
ini:
Fleksi-ekstensi interfalang
Abduksi-adduksi interfalang

A.3. Otot-otot penggerak kaki
Otot-otot penggerak kaki dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Otot-otot ekstrinsik (gambar 3)
Adalah otot-otot yang berorigo dan bekerja di luar kaki. Otot-otot tersebut
adalah otot-otot tungkai bawah, yaitu:
M. gastrocnemius
Otot ini berorigo pada condylus femoralis medialis dan lateralis
dan berakhir sebagai tendon Achilles yang berinsersi di sisi
posterior calcaneus.
Berfungsi untuk:
Plantarfleksi
Bersama dengan soleus, membantu supinasi sendi subtalar saat
segmen anterior kaki menapak di tanah
M. soleus
Otot ini terletak dibawah gastrocnemius dan berorigo pada tibia
dan fibula bagian atas, dibawah sendi lutut. Berakhir sebagai
bagian dalam tendo Achilles.
Berfungsi untuk: plantarfleksi
Otot ekstrinsik yang lain dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
Kelompok lateral terdiri dari:
- M. peroneus longus dan brevis: berorigo pada sisi lateral
fibula. Peroneus brevis berinsersi di basis metatarsal V
sedangkan peroneus longus pada basis metatarsal I dan
suneiformis medialis di permukaan plantar.
Berfungsi untuk: eversi pergelangan kaki.
Kelompok anterior terdiri dari:
- M. tibialis anterior: berorigo pada sisi lateral tibia dan
berinsersi di cuneiformis medialis dan basis metatarsal I.
Berfungsi untuk: ~ inversi pergelangan kaki
~ dorsofleksi pergelangan kaki
- M. ekstensor hallucis longus: berorigo pada permukaan
anterior fibula dan membran interoseus dan berinsersi di
atas falang distal ibu jari kaki.
Berfungsi untuk: ~ ektensi ibu jari kakai
~ membantu dorsofleksi pergelangan
kaki
- M. ekstensor digitorum longus: berorigo pada condylus
tibia lateralis dan permukaan anterior fibula dan berakhir
sebagai 4 tendon yang melekat disisi dorsal ke-4 jari-jari
kaki. Di ujung tiap tendon terbagi tiga, 1 berinsersi di
atas falang tengah dan 2 lainnya berinsersi di atas falang
distal.
Berfungsi untuk: ~ ekstensi jari-jari kaki
~ bersama-sama dengan m.
peroneus tertius, yang
merupakan bagian dari ekstensor
digirotum longus
membantu dorsofleksi dan
eversi pergelangan
kaki.
Kelompok medial terdiri dari:
- M. tibialis posterior:berorigo pada tibia dan sisi posterior
fibula dan berinsersi di tarsal dan metatarsal medial.
Berfungsi untuk: ~ inversi pergelangan kaki
~ plantarfleksi
- M. fleksor hallucis longus: berorigo pada sisi lateral
fibula dan tibia, berinsersi di falang distal ibu jari kaki.
Berfungsi untuk: fleksi falang distal ibu jari kaki
- M. fleksor digitorum longus: berorigo pada sisi posterior
tibia dan berinsersi di sisi lateral falang distal ke-4 jari
kaki.
Berfungsi untuk: fleksi jari-jari kaki
b. Otot-otot intrinsik
Adalah otot-otot yang berorigo dan berinsersi pada kaki. Otot-otot tersebut
adalah otot-otot kaki. Otot-otot ini tidak dapat diperiksa secara individual
dan untuk detailnya, dapat merujuk ke buku-buku anatomi.. Yang
termasuk otot-otot intrinsik yaitu:
Lapis i
M. Abduktor digiti kuinti
M. abduktor hallucis
M. Fleksor digitorum brevis
Lapis II
M. Kuadratus plantaris
Mm. Lumbricales
Lapis III
M. Adduktor hallucis kaput transversal dan oblik
M. Fleksor hallucis brevis
M. Fleksor digiti kuinti brevis
Lapis IV
Mm. Interosseus plantaris dan dorsalis

Otot-otot yang dipersarafi oleh n. plantaris medial, yaitu: m. abduktor
hallucis, fleksor digitorum brevis, fleksor hallucis brevis dan lumbricales I,
berfungsi untuk:
~ fleksi jari-jari kaki terutama pada sendi
metatarsofalangeal ibu jari
~ menstabilisasi falang jari pertama saat fase push-off saat
berjalan
Otot-otot yang dipersarafi oleh n. plantaris lateral, yaitu: m. abduktor
hallucis, abduktor digiti kuinti, fleksor digiti kuinti, kuadratus plantaris,
lumbricalea dan interosseus, berfungsi untuk:
~ mempertahankan arkus kaki
~ fleksi sendi metatarsofalangeal jari-jari kaki
~ adduksi dan abduksi jari-jari kaki
B. Gerakan Kaki
Gerakan kaki dan pergelangan kaki melibatkan lebih dari 1 sendi. Dasar
dari gerakan-gerakan dan lingkup gerak sendinya adalah:

MOTION LGS PASIF
1. Gerakan pergelangan kaki (Gambar
5A)
Dorsofleksi
Plantarfleksi

20
50
2. Gerakan subtalar (Gambar 5B)
Inversi
Eversi

5
5
3. Gerakan midtarsal (Gambar 5C)
Adduksi forefoot (supinasi)
Abduksi forefoot (pronasi)

20
10
4. Gerakan jari-jari
Fleksi
Ekstensi

45
70-90
Nilai normal dari pengukuran sudut proyeksi kaki dari hasil radiografi posisi
anteroposterior dan lateral adalah sebagai berikut:
Posisi anteroposterior Lingkup normal (dalam derajat)
Talocalcaneal (T-C) 20-50
Talo-metatarsal I (T-MT
1
)
Talo- metatarsal V (T-MT
5
)

0-20
0
Posisi lateral
Talocalcaneus (T-C)
Tibiotalar
Tibiocalcaneus (dorsofleksi maksimal)


25-50
70-100
25-60
PATOFISIOLOGI DAN DIAGNOSIS CEDERA
Secara umum patofisiologi terjadinya cedera berawal dari ketika sel mengalami
kerusakan, sel akan mengeluarkan mediator kimia yang merangsang terjadinya
peradangan.
Mediator tadi antara lain berupa histamin, bradikinin, prostaglandin dan
leukotrien. Mediator kimiawi tersebut dapat menimbulkan vasodilatasi pembuluh
darah serta penarikan populasi sel sel kekebalan pada lokasi cedera. Secara
fisiologis respon tubuh tersebut dikenal sebagai proses peradangan. Proses
peradangan ini kemudian berangsur-angsur akan menurun sejalan dengan
terjadinya regenerasi proses kerusakan sel atau jaringan tersebut(Van Mechelen et
al. 1992). Selain berdasarkan tanda dan gejala peradangan, diagnosis ditegakkan
berdasarkan keterangan dari penderita mengenai aktivitas yang dilakukannya dan
hasil pemeriksaaan penunjang.
a. Gejala Cedera
Tanda akut cedera yang umumnya terjadi adalah tanda respon peradanagan
tubuh berupa tumor ( pembengkakaan), kalor (peningkatan suhu), rubor (warna
merah), dolor (nyeri) dan functio leissa (penurunan fungsi). Nyeri pertama kali
muncul jika serat-serat otot atau tendon yang jumlahnya terbatas mulai mengalami
robekan.Selain nyeri muncul tanda radang seperti bengkak, kemerahan, panas dan
penurunan fungsi. Pada proses lanjut tandatanda peradangan tersebut akan
berangsur angsur menghilang. Apabila tanda peradangan awal cukup hebat,
biasanya rasa nyeri masih dirasakan samapai beberapa hari setelah onset cedera.
Kelemahan fungsi berupa penurunan kekuatan dan keterbatasan jangakauan gerak
juga sering dijumpai (Stevenson et al. 2000).
b. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan diagnostik dilakukan untuk melengkapi informasi yang diperoleh
dari anamnesis (wawancara dengan penderita) serta pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan dapat berupa CT scan MRI, artroskopi,
elektromyografi dan foto rontgen.
Pemeriksaan:
1. A. Anamnesa
Penderita biasanya datang dengan suatu trauma (traumatic fraktur), baik yang
hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk
menggunakan anggota gerak. Anamnesis harus dilakukan dengan cermat, karena
fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi
ditempat lain. Trauma dapat terjadi karena kecelakaan lalu lintas, jatuh dari
ketinggian atau jatuh dikamar mandi pada orang tua, penganiayaan, tertimpa
benda berat, kecelakaan pada pekerja oleh karena mesin atau karena trauma olah
raga. Penderita biasanya datang karena nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi
anggota gerak, deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau datang dengan gejala-
gejala lain.
1. B. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
Syok, anemia atau perdarahan.
Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang
belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen.
Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis (penyakit Paget).
Pada pemeriksaan fisik dilakukan:
1) Look (Inspeksi)
Deformitas: angulasi ( medial, lateral, posterior atau anterior), diskrepensi
(rotasi,perpendekan atau perpanjangan).
Bengkak atau kebiruan.
Fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak).
Pembengkakan, memar dan deformitas mungkin terlihat jelas, tetapi hal
yang penting adalah apakah kulit itu utuh. Kalau kulit robek dan luka
memiliki hubungan dengan fraktur, cedera itu terbuka (compound).
2) Feel (Palpasi)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat
nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
Temperatur setempat yang meningkat
Nyeri tekan; nyeri tekan yang superfisisal biasanya disebabkan oleh
kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang.
Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara
hati-hati.
Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri
radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota
gerak yang terkena. Refilling (pengisian) arteri pada kuku.
Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan
pembedahan.
3) Move (pergerakan)
Nyeri bila digerakan, baik gerakan aktif maupun pasif.
Gerakan yang tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya.
Pada penderita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri
hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar,
disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak
seperti pembuluh darah dan saraf.
1. C. Pemeriksaan Penunjang
a) Sinar -X
Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur.
Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan
keadaan, lokasi serta eksistensi fraktur. Untuk menghindari nyeri serta kerusakan
jaringan lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita mempergunakan bidai yang
bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan
radiologis.
Pemeriksaan dengan sinar-X harus dilakukan dengan ketentuan Rules of Two:
Dua pandangan
Fraktur atau dislokasi mungkin tidak terlihat pada film sinar-X tunggal dan
sekurang-kurangnya harus dilakukan 2 sudut pandang (AP & Lateral/Oblique).
Dua sendi
Pada lengan bawah atau kaki, satu tulang dapat mengalami fraktur atau angulasi.
Tetapi angulasi tidak mungkin terjadi kecuali kalau tulang yang lain juga patah,
atau suatu sendi mengalami dislokasi. Sendi-sendi diatas dan di bawah fraktur
keduanya harus disertakan dalam foto sinar-X.
Dua tungkai
Pada sinar-X anak-anak epifise dapat mengacaukan diagnosis fraktur. Foto pada
tungkai yang tidak cedera akan bermanfaat.
Dua cedera
Kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari 1 tingkat.
Karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil foto
sinar-X pada pelvis dan tulang belakang.
Dua kesempatan
Segera setelah cedera, suatu fraktur mungkin sulit dilihat, kalau ragu-ragu, sebagai
akibatresorbsi tulang, pemeriksaan lebih jauh 10-14 hari kemudian dapat
memudahkan diagnosis.
b) Pencitraan Khusus
Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur, tetapi perlu
dinyatakan apakah fraktur terbuka atau tertutup, tulang mana yang terkena dan
lokalisasinya, apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk fraktur itu
sendiri. Konfigurasi fraktur dapat menentukan prognosis serta waktu
penyembuhan fraktur, misalnya penyembuhan fraktur transversal lebihlambat dari
fraktur oblik karena kontak yang kurang. Kadang-kadang fraktur atau keseluruhan
fraktur tidak nyata pada sinar-X biasa.Tomografi mungkin berguna untuk lesi
spinal atau fraktur kondilus tibia. CT atau MRI mungkin merupakan satu-satunya
cara yang dapat membantu, sesungguhnya potret transeksional sangat penting
untuk visualisasi fraktur secara tepat pada tempat yang sukar. Radioisotop
scanning berguna untuk mendiagnosis fraktur-tekanan yang dicurigai atau fraktur
tak bergeser yang lain.
JENIS CEDERA DAN PENANGANANNYA
Menurut Bahr (2003) secara umum macam-macam cedera yang mungkin terjadi
adalah: cedera memar, cedera ligamentum, cedera pada otot dan tendo, perdarahan
pada kulit, dan pingsan. Struktur jaringan di dalam tubuh yang sering terlibat
dalam cedera olahraga adalah: otot, tendo, tulang, persendian termasuk tulang
rawan, ligamen, dan fasia
a. Memar (Contusio)
Memar adalah keadaan cedera yang terjadi pada jaringan ikat dibawah kulit.
Memar biasanya diakibatkan oleh benturan atau pukulan pada kulit. Jaringan di
bawah permukaan kulit rusak dan pembuluh darah kecil pecah, sehingga darah
dan cairan seluler merembes ke jaringan sekitarnya. Memar ini menimbulkan
daerah kebiru-biruan atau kehitaman pada kulit. Apabila terjadi pendarahan yang
cukup, timbulnya pendarahan didaerah yang terbatas disebut hermatoma
(Van Mechelen et al. 1992). Nyeri pada memar biasanya ringan sampai sedang
dan pembengkakan yang menyertai sedang sampai berat. Adapun memar yang
mungkin terjadi pada daerah kepala, bahu, siku, tangan, dada, perut dan kaki.
Benturan yang keras pada kepala dapat mengakibatkan memar dan
memungkinkan luka sayat.
b. Cedera pada Otot atau Tendo dan Ligamen
Menurut Van Mechelen (2004) cedera pada ligamentum dikenal dengan istilah
sprain sedangkan cedera pada otot dan tendo dikenal sebagai strain.
1) Sprain
Sprain adalah cedera pada ligamentum, cedera ini yang paling sering terjadi pada
berbagai cabang olahraga. hal ini terjadi karena stress berlebihan yang mendadak
atau penggunaan berlebihan yang berulang-ulang dari sendi.
Berdasarkan Van Mechelen (2003) berat ringannya cedera sprain dibagi menjadi
tiga tingkatan, yaitu
a) Sprain Tingkat I
Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamentum dan hanya beberapa
serabut yang putus. Cedera menimbulkan rasa nyeri tekan, pembengkatan dan rasa
sakit pada daerah tersebut.
b) Sprain Tingkat II
Pada cedera ini lebih banyak serabut dari ligamentum yang putus, tetapi lebih
separuh serabut ligamentum yang utuh. Cedera menimbulkan rasa sakit, nyeri
tekan, pembengkakan, efusi, (cairan yang keluar) dan biasanya tidak dapat
menggerakkan persendian tersebut.
c) Sprain Tingkat III
Pada cedera ini seluruh ligamentum putus, sehinnga kedua ujungya terpisah.
Persendian yang bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat darah dalam
persendian, pembekakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan terdapat
gerakangerakan yang abnormal.
2) Strain
Strain adalah kerusakan pada suatu bagian otot atau tendo karena penggunaan
yang berlebihan ataupun stress yang berlebihan. Bahr (2003)membagi strain
menjadi 3 tingkatan, yaitu:
a) Strain Tingkat I
Pada strain tingkat I, terjadi regangan yang hebat, tetapi belum sampai terjadi
robekan pada jaringan otot maupun tendon.
b) Strain Tingkat II
Pada strain tingkat II, terdapat robekan pada otot maupun tendon. Tahap ini
menimbulkan rasa nyeri dan sakit sehingga terjadi penurunan kekuatan otot.
c) Strain Tingkat III
Pada strain tingkat III, terjadi robekan total pada unit musculo tendineus.
Biasanya hal ini membutuhkan tindakan pembedahan, kalau diagnosis dapat
ditetapkan. Adapun strain dan sprain yang mungkin terjadi dalam cabang
olahraga renang yaitu punggung, dada, pinggang, bahu, tangan, lutut, siku,
pergelangan tangan dan pergelangan kaki.
c. Dislokasi
Dislokasi adalah terlepasnya sebuah sendi dari tempatnya yang seharusnya.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi di bahu, angkle
(pergelangan kaki), lutut dan panggul. Faktor yang meningkatkan resiko dislokasi
adalah ligamen-ligamennya yang kendor akibat pernah mengalami cedera,
kekuatan otot yang menurun ataupun karena factor eksternal yang berupa tekanan
energi dari luar yang melebihi ketahanan alamiah jaringan dalam tubuh
(Stevenson et al. 2000).
d. Patah Tulang (Fraktur)
Patah tulang adalah suatu keadaan yang mengalami keretakan, pecah atau patah,
baik pada tulang maupun tulang rawan. Bahr (2003) membagi fraktur berdasarkan
continuitas patahan, patah tulang dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
1. Patah tulang komplek, dimana tulang terputus sama sakali.
2. Patah tulang stress, dimana tulang retak, tetapi tidak terpisah.
Sedangkan, berdasarkan tampak tidaknya jaringan dari bagian luar tubuh, Bahr
(2003) membagpatah tulang manjadi:
1. Patah tulang terbuka dimana fragmen (pecahan) tulang melukai kulit diatasnya
dan tulang keluar.
2. Patah tulang tertutup dimana fragmen (pecahan) tulang tidak menembus
permukaan kulit.
e. Perdarahan
Perdarahan terjadi karena pecahnya pembuluh darah sebagai akibat dari trauma
pukulan atau terjatuh. Gangguan perdarahan yang berat dapat menimbulkan
gangguan sirkulasi sampai menimbulkan shocks (gangguan kesadaran) (Van
Mechelen et al. 1992).
f. Kehilangan Kesadaran (Pingsan)
Pingsan adalah keadaan kehilangan kesadaran yang bersifat sementara dan
singkat, di sebabkan oleh berkurangnya aliran darah, oksigen, dan glukosa. Hal
merupakan akibat dari (1)Aktivitas fisik yang berat sehingga mennyebabkan
deposit oksigen sementara. (2) Pengaliran darah atau tekanan darah yang menurun
karena pendarahan hebat. (3) Karena jatuh dan benturan.
g. Luka
Luka didefinisikan sebagai suatu ketidaksinambungan dari kulit dan jaringan
dibawahnyayang mengakibatkan pendarahan yang kemudian dapat mengalami
infeksi. Seluruh tubuh mempunyai kemungkinan besar untuk mengalami luka,
karena setiap perenang akan melakukan kontak langsung pada saat latihan dan
bisa juga luka karena peralatan yang dipakai. (Stevenson et al. 2000)
DISLOKASI
Pengertian
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi.
Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau
terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk
sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis
membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya.
Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan
sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun
menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah
mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya,
sendi itu akan gampang dislokasi lagi.
Adanya dislokasi, yang dibedakan menjadi:
a. Disklokasi at axim yaitu membentuk sudut.
b. Dislokasi at lotus yaitu fragmen tulang menjauh.
c. Dislokasi at longitudinal yaitu berjauhan memanjang.
d. Dislokasi at lotuscum controltinicum yaitu fragmen tulang menjauh dan
over lapp ( memendek ).
5. GAMBARAN KLINIK
Lewis (2006) menyampaikan manifestasi klinik r adalah sebagai berikut:
A. Nyeri
Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan
adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan
sekitarnya.
B. Bengkak / edema.
Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa (protein plasma)
yang terlokalisir pada daerah fraktur dan extravasi daerah di jaringan
sekitarnya.
C. Memar / ekimosis
Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di
jaringan sekitarnya.
D. Spame otot
Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar sdislokasi.
E. Penurunan sensasi
Terjadi karena kerusakan syaraf, tertekannya syaraf karena edema.
F. Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri atau spasme otot,
paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf.
G. Mobilitas abnormal
Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi
normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang panjang.
H. Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian tulang
digerakkan.
I. Deformitas
Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma
dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan
menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.


Penanganan
Prinsip Pertolongan
1. mengurangi dan menghilangkan rasa nyeri;
2. mencegah gerakan patah tulang yang dapat mengakibatkan kerusakan
jaringan lunak sekitarnya seperti: pembuluh darah, otot, saraf dan lainnya.
Penanganan Secara Umum
1. DRABC
2. Atasi perdarahan dan tutup seluruh luka
3. Korban tidak boleh menggerakkan daerah yang terluka atau fraktur
4. Imobilisasi fraktur dengan penyandang, pembalut atau bidai
5. Tangani dengan hati-hati
6. Observasi dan atasi syok bila perlu
7. Segera cari pertolongan medis
Fraktur dan dislokasi harus diimobilisasi untuk mencegah memburuknya cedera.
Tetapi situasi yang memerlukan Resusitasi baik pernafasan maupun jantung dan
cedera kritis yang multipel harus ditangani terlebih dahulu.
Tipe-tipe bidai:
1. Bidai Rigid adalah bidai yang terbuat dari kayu, plastik, alumunium atau
bahan lainyang keras.
2. Bidai Soft adalah bidai dari bantal, selimut, handuk atau pembalut atau
bahan yang lunak lainnya.
3. Bidai Traksi
Digunakan untuk imobilisasi ujung tulang yang patah dari fraktur femur sehingga
dapat terhindari kerusakan yang lebih lanjut. Traksi merupakan aplikasi dari
kekuatan yang cukup untuk menstabilkan patah tulang yang patah, traksi bukanlah
meregangkan atau menggerakkan tulang yang patah sampai ujung-ujung tulang
yang patah menyatu.
Prinsip Pembidaian
a. Lakukan pembidaian pada bagian badan yang mengalamai cedera;
b. Lakukan juga pembidaian pada kecurigaan patah tulang, jadi tidak perlu harus
dipastikan dulu ada atau tidaknya patah tulang;
c. Melewati minimal 2 sendi yang berbatasan.
Syarat Pembidaian
1. Bidai harus meliputi dua sendi, sebelum dipasang diukur terlebih dahulu
pada anggota badan yang tidak sakit;
2. Ikatan jangan terlalu ketat dan jangan terlalu kendor;
3. Bidai dibalut/ dilapisi sebelum digunakan;
4. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sebelah atas dan bawah tempat
yang patah;
5. Jika mungkin naikkan anggota gerak tersebut setelah dibidai;
6. Sepatu, cincin, gelang, jam dan alat yang mengikat tubuh lainnya perlu
dilepas.
Aturan dasar yang harus diingat ketika melakukan pembidaian:
1. Jika ragu-ragu fraktur atau tidak Bidai
2. Bidai Rigid sebelum digunakan harus dilapisi dulu;
3. Ikatlah bidai dari distal ke proximal
4. Periksalah denyut nadi distal dan fungsi saraf sebelum dan sesudah
pembidaian dan perhatikan warna kulit ditalnya;
5. Jika mungkin naikkan bagian tubuh yang mengalami patah tulang.
PEMBALUTAN
Pembalut harus dipasang cukup kuat untuk mencegah pergerakan tapi tidak terlalu
kencang sehingga mengganggu sirkulasi atau menyebabkan nyeri. Dalam usaha
untuk mencegah pergesekan dan ketidaknyamanan pada kulit, penggunaan
bantalan lunak dianjurkan sebelum melakukan balutan. Pengikatan selalu
dilakukan di atas bidai atau pada sisi yang tidak cedera, kalau kedua kaki bawah
mengalami cedera, pengikatan dilakukan di depan dan diantara bagian yang
cedera.
Periksa dengan interval 15 menit untuk menjamin bahwa pembalut tidak terlalu
kencang akibat pembengkakan dari jaringan yang cedera. Lewatkan pembalut
pada bagian lekuk tubuh seperti leher, lutut dan pergelangan kaki jika diperlukan.
Cara Imobilisasi Fraktur
Dengan Pembalut
Gunakan pembalut lebar bila ada;
1. Taruh pembalut dibawah bagian tubuh yang terjadi fraktur;
2. Topang lengan atau tungkai dengan bidai sampai pembalut cukup
memfixasi
3. Setiap 15 menit periksa agar pembalut tudak terlalu ketat
4. Periksa pembalut supaya tidak longgar
Dengan Bidai
1. Dapat dipakai benda apa saja yang kaku dan cukup panjang melewati
sendi dan ujung tulang yang patah;
2. Pakai perban bantal diantara bidai dan bagian tubuh yang dibidai;
3. Ujung-ujung lengan/tungkai dibalut di atas dan dibawah daerah fraktur.
Ikatan harus cukup kuat pada daerah yang sehat.
Penanganan:
1. Reposisi dengan traksi dan mulding serta imbilisasi dengan gips sepatu
seringkali membawa hasil yang baik. Pada fraktur yang displaced minimal
kadang-kadang hanya dipasang sepatu dengan kaos kaki tebal saja.
2. Bila fraktur terbuka, dilakukan debridement dan intramedullary wiring
1,2-1,4
3. Bila fraktur pada metatarsal ke 5, harus dikembalikan pada posisi anatomis
dan dipasang intramedullary wiring 1,2-1,4
Paska tindakan:
- pinning dilepas 3-6 minggu kemudian
- cast dilepas 3-4 minggu
- Penanganan Dislokasi
- Menurut Stevenson (2000) prinsip dasar penanganan dislokasi adalah
reposisi. Reposisinpada keadaan akut (beberapa saat setelah cedera
sebelum terjadinya respon peradangan) dapat dilakukan dengan lebih
mudah. Pada keadaan akut dimana respon peradanagan sudah terjadi,
reposisi relatif sukar untuk dilakukan. Pada keadaan ini, direkomendasikan
untuk menunggu berkurangnya respon peradangan. Pada keadaan kronis
dimana respon peradanagn sudahnberkurang, reposisi dapat dilakukan
dengan jalan melemaskan kembali persendian supaya dapat dilakukan
penarikan dan pergeseran tulang dengan lebih mudah. Pelemasan jaringan
persendianndapat dilakukan dengan terapi panas maupun dengan manual
therapy pada bagian proksimal dan distal lokasi yang mengalami dislokasi.
Penanganan yang dilakukan pada saat terjadi dislokasi adalah melakukan
reduksi ringan dengan cara menarik persendian yang bersangkutan
padasumbu memanjang. Setelah reposisi berhasil dilakukan, sendi tersebut
difiksasi selama 3-6 minggu untuk mengurangi resiko terjadinya dislokasi
ulang. Apabila rasa nyeri sudah minimal,dapat dilakukan exercise therapy
secara terbatas untuk memperkuat struktur persendian dan memperkecil
resiko dislokasi ulang (Meeuwisse 1994).





DAFTAR PUSTAKA

Apley, A. Graham, APLEYS SYSTEM OF ORTHOPAEDICS AND
FRACTURE 7th edition, Great Britain, Bath Press.
Rasjad, Chairuddin, PENGANTAR ILMU BEDAH ORTOPEDI, Edisi kedua,
Ujung Pandang, Bintang Lamumpatue.
Salter, Robert Bruce, TEXBOOK OF DISORDERS AND INJURIES OF THE
MUSCULOSKELETAL SYSTEM, 2nd edition, Baltimore, U.S.A.