Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

I.I Latar belakang
Tumor otak merupakan salah satu bagian dari tumor pada sistem saraf, disamping tumor
spinal dan tumor saraf perifer. Tumor intrakranial terbagi atas dua golongan, yaitu primer dan
an sekunder. Tumor intrakranial primer adalah tumor yang timbul di jaringan otak, meningen,
saraf cranial, hipofisis, vascular intracranial dan jaringan embrional. Tumor intracranial
sekunder (tumor metastatic otak) adalah tumor ganas dari bagian lain tubuh yang
bermetastasis atau menginvasi ke intracranial.
Diagnosis tumor intrakranial ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan
penunjang yaitu pemeriksaan radiologi dan patologi anatomi. Dengan pemeriksaan klinis sulit
menegakkan diagnosis tumor intracranial dan membedakan benigna dan maligna, karena
gejala klimis yang ditemukan tergantung lokasi tumor, kecepatan pertumbuhan madsa tumor,
dan cepatnya timbul gejala tekanan tinggi intracranial serta efek dari massa tumor ke jaringan
otak yang dapat menyebabkan kompresi, infasi, dan destruksi dari jaringan otak. Dengan
pemeriksaan radiologi dan patologi anatomi dapat dibedakan tumor benigna dan maligna.

I.II Tujuan
Penulisan refreshing ini bertujuan sebagai salah satu persayaratan sebagai kegiatan dari
kepaniteraan klinik pada stase saraf Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Dan sebagai
acuan pembelajaran untuk memperdalam ilmu saraf dalam kegiatan kepaniteraan klinik .



BAB II
PEMBAHASAN

II.I Definisi
Tumor otak adalah suatu pertumbuhan jaringan abnormal di dalam otak merupakan
penyakit yang menyerang otak, yang merupakan pusat kendali dari tubuh manusia, sehingga
tumor otak pada umumnya dapat mengganggu fungsi organ tubuh lain bahkan menyebabkan
kematian. Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan otak itu sendiri, disebut tumor otak
primer dan bila berasal dari organ organ lain, disebut tumor otak metastase.

II.II Epidemiologi
Insiden per tahun tumor primer intracranial adalah 7,8 12,5 / 100.000 penduduk, yakni
dari 10.000 penduduk setipa tahun terdapat kurang lebih satu penderita baru tumor primer
intracranial. Tumor primer intracranial terbanyak adalah glioma, yakni sekitar 35-60 % ,
meningioma sekitar 9-22 % , hipofisoma 5-16 %, neurilemoma 7-9 %. Data terdahulu dari
bagian bedah saraf, tumor sekunder otak menempati 10-15% dari pasien tumor otak. Data
dari NCI ( National Cancer Institute ) tahun 2000, dari pasien kanker 20-40 % akhirnya
mengalami metastasis ke otak, 60-70% di antaranya mengalami gejala neurologis. Jadi,
insiden sesungguhnya dari tumor metastatik otak adalah jauh lebih banyak daripada tumor
primer otak, minimal empat kali lipat dari tumor primer otak, merupakan penyakit penting
di bidang tumor saraf.
Tumor primer intracranial sebagian besar timbul pada puncak usia antara 30-40 tahun.
insiden glioma memiliki satu puncak usia pada 30-40 tahun, puncak usia insiden lain
adalah 10-20 tahun. Mieloblastoma, ependimoma, kraniofaringioma dan teratoma memiliki
puncak usia insiden sebelum usia 10 tahun, pinealoma memiliki puncak usia insiden
sebelum usia 10 tahun, pinealoma memiliki puncak usia insiden antara 10-20 tahun. Tumor
intracranial jenis berbeda memiliki predileksi pada usia tertentu.
II.III Etiologi dan Faktor Risiko
Sebenarnya, penyebab tumor otak masih belum diketahui tetapi masih ada
faktor-faktor yang perlu ditinjau yaitu:
Genetik
Dari tumor intracranial, neurofibromatosis, angioretikuloma, retinoblastoma,dll. Memiiliki
kecenderungan familial, mereka sering timbul pada beberapa generasi dari keluarga yang
sama. Sel primordial embrional residual dan tumbuh ektopik intracranial juga merupakan
faktor penting terbentuknya tumor intracranial.
Radiasi
Kini telah dipastikan radiasi ionisasi dapat meningkatkan insiden tumor. Tumor intracranial
yang menerima radioterapi , bertahun-tahunn kemudian di area iradiasi dapat timbul
fibrosarkoma dan mengioma.
Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah diakui
bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti nitrosamin yang bisa menyebabkan tumor
sistem saraf pusat
Virus
Infeksi virus juga dipercayai bisa menyebabkan tumor otak. Contohnya, virus Epseien-barr
Gaya Hidup
Penelitian telah menunjukkan bahwa makanan seperti makanan yang diawetkan, daging
asap atau acar tampaknya berkorelasi dengan peningkatan risiko tumor otak.



II.IV Klasifikasi
Tabel ringkas klasifikasi tumor sistem saraf pusat menurut WHO tahun 2000

1. Tumor asal neuroepitel
1) Tumor asal astrosit
2) Tumor asal oligodendrosit
3) Glioma campuran
4) Tumor asal ependima
5) Tumor asal pleksus koroidea
6) Neuroglioma asal tak jelas
7) Tumor asal neuron dan campuram neuron neuroglia
8) Tumor asal neuroblas
9) Tumor asal korpus pineal
10) Tumor embrional


2.Tumor asal saraf perifer
1) Neurilemoma (Schwanoma)
2) Neurofibroma
3) Tumor perineurium
4) Neurilemoma maligna saraf tepi (MPNST)


3.Tumor asal meningen
1) Tumor asal epitel meningen : meningioma
2) Tumor asal mesenkim nonepitel meningen
3) Lesi melanositik meningen primer
4) Tumor asal tak jelas angioblastoma

4.Tumor jaringan limfatik dan hemopoietik
5.Tumor asal sel germinal
6. Tumor area sela
1) Kraniofaringioma
2) Tumor sel granular
7. Tumor metastatic


II.V Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi:
Secara umum pasien tumor otak bisa memiliki gejala seperti perubahan perilaku
contohnya, pasien mungkin mudah lelah atau kurang konsentrasi. Selain itu, gejala
hipertensi intracranial seperti sakit kepala, mual, vertigo. Serangan epilepsi juga sering
dijumpai pada pasien tumor otak.
1. Lobus frontal
Menimbulkan gejala perubahan kepribadian seperti depresi.
Menimbulkan masalah psychiatric.
Bila jaras motorik ditekan oleh tumor hemiparese kontra lateral,
kejang fokal dapat timbul. Gejala kejang biasanya ditemukan pada
stadium lanjut
Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia.
Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia.




2. Lobus temporal
Dapat menimbulkan gejala hemianopsia.
Gejala neuropsychiatric seperti amnesia, hypergraphia dan Dj vu
juga dapat timbul.
Lesi pada lopus yang dominan bisa menyebabkan aphasia.
3. Lobus parietalis
Akan menimbulkan gangguan sensori dan motor yang kontralateral.
Gejala homonymous hemianopia juga bisa timbul.
Bila ada lesi pada lobus yang dominant gejala disfasia.
Lesi yang tidak dominan bisa menimbulkan geographic agnosia dan
dressing apraxia.
4. Lobus oksipital
Menimbulkan homonymous hemianopia yang kontralateral
Gangguan penglihatan yang berkembang menjadi object agnosia
5. Tumor di cerebello pontin angle
Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma.
Dapat dibedakan karena gejala awalnya berupa gangguan fungsi
pendengaran.
7. Glioma batang otak
Biasanya menimbulkan neuropati cranial dengan gejala-gejala seperti
diplopia, facial weakness dan dysarthria.
8. Tumor di cerebelum
Didapati gangguan berjalan dan gejala tekanan intrakranial yang tinggi
seperti mual, muntah dan nyeri kepala. Hal ini juga disebabkan oleh
edema yang terbentuk.
Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar ke leher dan
spasme dari otot-otot servikal

II.VI Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan neuroradiologis yang dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi ada
tidaknya kelainan intra kranial, adalah dengan:
1. Rontgen foto (X-ray) kepala; lebih banyak sebagai screening test, jika ada
tanda-tanda peninggian tekanan intra kranial, akan memperkuat indikasi perlunya
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
2. Angiografi; suatu pemeriksaan dengan menyuntikkan bahan kontras ke dalam
pembuluh darah leher agar dapat melihat gambaran peredaran darah
(vaskularisasi) otak
3. Computerized Tomography (CT-Scan kepala) dapat memberikan informasi
tentang lokasi tumor tetapi MRI telah menjadi pilihan untuk kebanyakan karena
gambaran jaringan lunak yang lebih jelas (Schober, 2010)
4. Magnetic Resonance Imaging (MRI), bisa membuat diagosa yang lebih dini
dan akurat serta lebih defititif. Gambar otak tersebut dihasilkan ketika medan
magnet berinteraksi dengan jaringan pasien itu
II.VII Penatalaksanaan
Pembedahan juga merupakan pilihan terapi yang hanya dilakukan pada tumor yang
jinak. Pembedahan lebih sukar dilakukan pada tumor otak yang ganas karena adanya
metastase ke organ yang lain. Terapi radiasi juga diberikan selepas pembedahan untuk
hasil yang lebih baik.

Terapi kombinasi terhadap tumor intracranial :
1) Terapi menurunkan tekanan intracranial : peninggian tekanan intracranial
merupakan penyebab langsung gejala yang membahyakan jiwa pasien, maka
menurunkan tekanan intracranial dalam proses terapi terhadap tumor
intracranial menjadi masalah sentral. Tindakan klinid untuk mengurangi tekanan
intracranial meliputi :
1. Posisi tubuh rasional
2. Membatasi masukan air
3. Mempertahankan saluran nafas
4. Hipotermia hibernasi
5. Penggunaan hormone
6. Penggunaan obat dehidran

2) Radioterapi
Terutama digunakan tumor ganas, untuk tumor yang tidak dapat dieksisi tuntas
secara operasi, pasca operasi diberikan radioterapi dapat menunda rekurensi
tumor, memperpanjang survival pasien.

3) Kemoterapi
Kemoterapi telah menjadi modalitas penting dalam terapi gabungan tumor
intrkranial, secara bertahap mendapatkan perhatian dan membawa hasil tertentu.


II.VIII Prognosis
Selain itu, lokasi tumor, usia pasien, dan histologi tumor adalah penentu utama
kelangsungan hidup. Pasien dengan kejang sekunder ke tumor otak umumnya
mengalami kerusakan neurologis yang jelas. Kebanyakan pasien dengan metastase otak
meninggal dari perkembangan keganasan utama mereka bukan dari kerusakan otak