Anda di halaman 1dari 66

KUMPULAN TUGAS INDIVIDU JIKA AKU MENJADI

KULIAH KERJA NYATA MAHASISWA


PERIODE JUNI-JULI 2014
Desa : Bojongsari
Kecamatan : Jampang Kulon
Kabupaten : Sukabumi

Disusun oleh :

No. Nama Mahasiswa NPM
1. Clarisa Dwi K 130110110044
2. Kevin Dominique T 130110110026
3. Christa D. Gracia 130110110090
4 Ivan 130110110174
5. Efriani Sitepu 110110110171
6. Ariel Ehsan R 120310110184
7. Lengga Priany 140210110089
8. Laras Annisa 160110110082
9. Trima Yusiana 160110110128
10. Aji Pradityo` 170410110026
11. Mugni H 170410110046
No. Nama Mahasiswa NPM
12. Bella Amanda M 190110110150
13. Ardian Hadi P 200110110087
14. Sidiq Muhammad F 200110110239
15. Anggun Friska Y 220110110049
16. Gusti Ayu Radithia 220110110051
17. Muhammad Rian F 240110110019
18. Rakshapriya 260110113057
19. Taufan Tryastono 270110110075
20. Beta Kurnia W 270110110078
21. Suci Sarah Andriany 270110110091


PUSBAG PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN
KULIAH KERJA NYATA MAHASISWA
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS PADJAJARAN
SUMEDANG
2014

Jika Aku Menjadi.
oleh Kevin Dominique Tjandraprawira (130110110026)
Jika aku menjadi seorang dokter yang melayani di Kecamatan
Jampangkulon, maka pertama-tama aku akan menyadari bahwa dalam pelayanan
aku sehari-hari, ada begitu banyak hambatan serta rintangan yang meliputi
berbagai macam aspek. Dilihat dari sudut pandang kesehatan, jumlah institusi
kesehatan di daerah ini tidaklah banyak. Hanya ada 1 rumah sakit daerah, yaitu
RSUD Jampangkulon untuk seluruh kecamatan ini dan di dekat desa yang aku
tinggali saat ini, hanya ada satu Puskesmas. Posyandu memang ditemukan di tiap
dusun tetapi Posyandu tersebut tidaklah buka setiap hari. Kemudian, rumah sakit
daerah ini bukanlah merupakan rumah sakit daerah yang memiliki banyak sumber
daya dan bila terdapat kebutuhan untuk merujuk pasien, kota besar terdekat
adalah Sukabumi dan jarak ke Sukabumi adalah 4 jam perjalanan darat. Oleh
karena itu, pengalaman aku tinggal selama 1 bulan di masa KKNM ini merupakan
pengalaman yang memaksa aku untuk semakin rendah hati. Aku benar-benar jauh
dari peralatan spesialis yang rumit dan modern dan di sini, merujuk pasien pun
sudah merupakan suatu tantangan dengan sendirinya.
Sejauh yang aku tahu, kedokteran tidak pernah melulu tentang peralatan
diagnostic rumit dan modern. Kedokteran yang aku tahu selalu menekankan pada
pentingnya sentuhan manusia serta hubungan antar manusia yang baik. Ada
pepatah di dalam lingkungan kedokteran yang mengatakan bahwa sebenarnya,
pasien dapat sembuh hanya dengan melihat bahwa dokter yang menanganinya
percaya diri dan sanggup untuk menyembuhkan dirinya. Oleh karena itu, dalam
menghadapi tantangan di desa ini, fokus saya harus terletak pada peningkatan
hubungan baik dengan pasien-pasien saya dan saya pun harus realistis mengenai
ekspektasi saya dalam merawat pasien-pasien saya.
Selama saya tinggal di desa ini, saya menemukan beberapa isu yang dapat
menjadi masalah bila seseorang tiba-tiba sakit dan harus dirawat di desa ini.
Pertama-tama, desa ini bukanlah sebuah desa yang tersentralisasi dan lokasi
puskesmas bukanlah di tengah-tengah desa pula. Apotek dapat ditemukan di
puskesmas tetapi hanya di puskesmas. Oleh karena itu, bila seseorang dari dusun
Nyalindung, misalnya, yang notabene merupakan dusun terjauh hendak
menjangkau puskesmas maka hal ini menjadi masalah dengan sendirinya.
Masalah lain adalah buruknya jalan desa di berbagai daerah yang makin
menyulitkan orang-orang sakit untuk dapat mengakses institusi kesehatan.
Kemudian, hal lain yang menjadi perhatian adalah bahwa dikarenakan Jampersal
yang dihilangkan, banyak ibu hamil yang telah beralih kembali ke metode
tradisional dalam persalinan, yaitu dengan melahirkan di rumah dan dibantu oleh
paraji. Metode tradisional ini tidaklah aman dan juga tidak terhindar dari berbagai
kemungkinan komplikasi. Kemudian, banyak ibu juga tidak melakukan ASI
ekslusif 6 bulan dan untung saja bahwa angka anak kurang gizi di desa ini sudah
rendah. Maka, jika aku menjadi seorang dokter di daerah ini, ada beberapa
perubahan yang hendak aku lakukan yaitu sebagai berikut:

Meningkatkan jumlah visitasi oleh dokter yang dari sekali sebulan menjadi
minimal 2x sebulan. Saat visitasi dilakukan, fokus visitasi bisa saja
diarahkan pada pemberian penyuluhan mengenai baiknya persalinan bila
dibantu oleh bidan dan dilakukan di puskesmas atau rumah sakit terdekat
dan bukan di rumah dan oleh paraji. Visitasi ini juga akan menekankan
pentingnya JKN (jaminan kesehatan nasional) serta meyakinkan bahwa
segala biaya persalinan akan ditanggung oleh JKN. Hal lain yang akan
dilakukan juga adalah penyuluhan mengenai manfaat ASI ekslusif 6 bulan
serta hal-hal yang bisa dilakukan bila terdapat masalah dalam praktek
pemberian ASi eksklusif ini.

Mengadakan berbagai penyuluhan yang mengedepankan PHBS di desa


ini. Alasan penyuluhan diperlukan adalah karena banyak anak-anak masih
tidak memakai alas kaki saat mereka berpergian dan bermain dan masalah
lain adalah tidak adanya kebiasaan dari anak-anak untuk mencuci tangan
mereka. Ide sederhana yang dapat diterapkan adalah meningkatkan visitasi
ke sekolah-sekolah di mana penyuluhan tentang PHBS dapat lebih mudah
dilakukan.

Memberikan nomor telepon seluler saya ke sebagian besar atau seluruh


kepala keluarga di desa ini. Hal tersebut diharapkan memudahkan mereka
untuk dapat mengontak saya saat ada masalah yang terkait dengan
kesehatan dan juga supaya saya dapat mengunjungi mereka saat
diperlukan.
Sebagai penutup, saya percaya bahwa desa ini membutuhkan perhatian
lebih dari dokter-dokter yang mengunjungi daerah ini dan bahwa perhatian dari
dokter-dokter yang bertugas harus beralih dari merawat yang sakit ke membentuk
perilaku hidup sehat. Dengan mempromosikan perilaku hidup sehat, niscaya
bahwa jumlah orang yang sakit serta jumlah orang yang perlu dirawat akan
berkurang. Saya percaya dogma utama kesehatan masyarakat yaitu mencegah
lebih baik dibandingkan merawat adalah benar dan harus menjadi target yang
realistis untuk dicapai oleh masyarakat di desa ini.
Jika Aku Menjadi Kepala Desa Bojongsari
Beta Kurniawahidayati, Fakultas Teknik Geologi, NPM 270110110078

Desa bojongsari merupakan desa yang cukup jauh dari perkotaan, terletak
di kabupaten Jampang Kulon kabupaten Sukabumi. Perjalanan ke desa Bojongsari
memakan waktu 4 jam perjalanan dari kota sukabumi. Walaupun di beberapa titik
jalanan rusak dan berlubang namun secara umum akses dapat dinilai cukup baik.
Akses yang memadai menjadikan desa ini menjadi desa yang cukup modern dan
maju. Terlihat dari masyarakatnya yang sudah sadar akan pentingnya pendidikan
tinggi dan pemukiman warga yang rata-rata sudah terbuat dari bahan permanen
tembok dan beton. Hampir seluruh perumahan berlokasi di sepanjang jalan desa
yang sudah beraspal. Mata pencaharian masyarakat umumnya sebagai petani dan
pengerajin gula merah, selain itu ada juga yang berprofesi sebagai PNS, guru, dan
pedagang.
Sebagai sebuah desa yang letaknya cukup terpencil, peranan
seorang kepala desa sangatlah menentukan maju atau tidaknya desa ini. Kepala
desa bertugas mengayomi masyarakat desanya agar pemerintahan berjalan dengan
baik dan kebutuhan masyarakat terkoordinir dengan baik. Seorang kepala desa
juga dapat menginspirasi warganya untuk hidup lebih baik dengan melaksanakan
program-program yang berguna.
Desa bojongsari memiliki tanah yang cukup subur untuk ditanami, serta
lahan yang masih sangat luas untuk dikembangkan. Namun masyarakat yang
berprofesi sebagai petani sering mengalami gagal panen. Mengapa hal ini dapat
terjadi? Padi merupakan komoditas utama petani di desa bojongsari, tanaman ini
sangat bergantung kepada sistim pengairan yang baik untuk dapat tumbuh dengan
baik. Masalahnya umumnya sawah di desa ini rata-rata adalah sawah tadah hujan
yang mengharapkan hujan sebagai sumber pengairan. Jika tidak ada hujan, maka
sawah akan gagal panen.
Jika saya menjadi kepala desa, saya akan memperkenalkan metode
pengairan terbaru yang tidak bergantung pada hujan. Pengalokasian sebagian dana
pemerintahan untuk desa akan digunakan untuk pembuatan sistim pengairan baru
dan akan diadakan penyuluhan untuk menambah keahlian bertani para petani.
Selain itu, saya akan mendorong masyarakat untuk berpikir out of the box dengan
menanam komoditas lain yang tidak membutuhkan banyak air untuk tumbuh
seperti kedelai, cabai, tomat, dan lain-lain.
Selain mengembangkan pengairan, saya akan mengajak para warga untuk
belajar mengolah hasil pangan menjadi produk olahan yang dapat dijual dengan
harga yang lebih tinggi dipasaran. misalnya dengan mengembangkan produk
tradisional khas desa bojongsari, yaitu opak. Opak adalah makanan yang terbuat
dari beras yang dikeringkan kemudian dipanggang dengan menggunakan tungku.
Bila masyarakat desa mampu mengemas opak dengan baik, maka produk ini dapat
dimasukkan ke pasaran dengan harga yang lebih menguntungkun untuk
masyarakat. Hal ini tentunya akan meningkatkan perekonomian masyarakat dan
melepaskan ketergantungan masyarakat terhadap sektor pertanian. Selain opak
masyarakat juga dapat melakukan pengemasan yang baik terhadap produk olahan
lainnya seperti gula merah dan peyek.
Permasalahan yang terjadi di bojongsari yang kerap terjadi adalah
masyarakat yang bergantung pada tengkulak untuk memodali usaha masyarakat.
Hal ini disebabkan karena memperoleh uang melalui tengkulak jauh lebih praktis
dibangdingkan dengan harus mencari modal ke koperasi atau bank. lagipula di
desa bojongsari belum terdapat koperasi ataupun bank. Adapun bank terdekat
berada sekitar 10 kilometer sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat. Masyarakat
menjual hasil panen atau barang hasil produksinya ke tengkulak dengan harga
yang sangat rendah dibandingkan harga pasaran, dengan syarat masyarakat dapat
mengambil uang terlebih dahulu baru diganti dalam bentuk barang. Menurut teori
hal ini merupakan hal yang buruk dan merugikan masyarakat, namun pada
kenyataannya masyarakat justru menganggap tengkulak adalah dewa penolong
yang dapat membantu dikala kesusahan.
Jika saya menjadi seorang kepala desa, permasalahan tengkulak ini akan
berusaha saya atasi dengan mengusahakan adanya koperasi simpan pinjam di desa
yang dekat dengan masyarakat. Sistim koperasi yang lebih bersifat kekeluargaan
dibandingkan dengan bank akan lebih bersahabat dengan masyarakat desa dengan
kemampuan ekonomi menengah hingga rendah. Sehingga untuk masalah
permodalan masyarakat tidak bergantung lagi dengan tengkulak. Sedangkan untuk
masalah kemana masyarakat akan menjual barangnya akan diatasi dengan
hadirnya koperasi unit desa yang berperan sebagai pengumpul hasil desa yang
membel i barang dari masyarakat dengan harga yang l ayak dan
mendistribusikannya ke pasar-pasar.
Demikian hal yang akan saya lakukan jika saya menjadi kepala desa
bojongsari. Mungkin ide-ide tersebut tidak mudah dilaksanakan namun tidak ada
salahnya dicoba demi kemajuan desa bojongsari. Desa ini memiliki potensi yang
besar untuk dikembangkan sehingga sangat disayang jika potensi ini terbuang
percuma karena penanganan yang kurang memadai.

Nama : Sidiq Muhammad Fajar
NPM : 200110110239
Fakultas Peternakan
Jika Aku Menjadi

Sebagai salah satu wujud Implementasi Tridarma Perguruan Tinggi,
mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial untuk dapat mengenal, hidup dan
belajar dari masyarakat dimanapun tempat ia berada. KKNM 2014 sebagai salah
satu bentuk kegiatan pengembangan SDM yang diselenggarakan dan
diintegrasikan dengan kegiatan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan oleh
dosen dan mahasiswa, sehingga programnya menjadi KKNM-PPMD Tematik
Universitas Padjadjaran.
Kegiatan KKNM Unpad 2014 diadakan dengan maksud untuk
pembelajaran mahasiswa dengan masyarakat langsung sebagai objeknya dengan
menggali dan mempublikasikan berbagai potensi daerah, sehingga dapat dikenal
oleh masyarakat luas, dan pada akhirnya dapat menumbuhkan minat dan daya
tarik khalayak ramai, serta meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.
dalam mengisi kegiatan pembelajaran dari masyarakat, saya peserta
KKNM 2014 di desa Bojongsari berusaha berorientasi dengan masyarakat dalam
mengisi kegiatannya. Melihat keadaan dengan turun langsung ke lapangan dan
berkomunikasi langsung dengan para tokoh terkait menjadi kerja utama saya
sebagai peserta KKNM 2014 di desa Bojongsari.
Secara geografis Desa Bojongsari berada di Wilayah Kabupaten Sukabumi
termasuk hasil pemekaran dari Desa Bojonggenteng Kecamatan Jampang Kulon
Kabupaten Sukabumi. Saat ini Desa Bojongsari termasuk kedalam wilayah
Kecamatan Bojongsari Kabupaten Sukabumi.
Desa Bojongsari saat ini terdiri dari empat dusun diantaranya dusun
Leuwinanggung, Cijorong, Talagasari, dan dusun Nyalindung. Luas desa
Bojongsari secara keseluruhan yaitu 226,645 Ha.

Desa Bojongsari berbatasan
dengan Kecamatan Jampang Tengah. Desa Bojongsari kerap kali digunakan
sebagai tempat KKN bagi mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi. Sifat gotong
royong, ramah, menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku., kekeluargaan
yang kuat dan religius merupakan karakteristik khas dari masyarakat desa
Bojongsari. Sehingga banyak nilai-nilai yang dapat diambil sebagai pelajaran bagi
mahasiswa ketika turun ke desa Bojongsari ini.
Desa Bojongsari memiliki potensi dibidang pertanian. Tingginya taraf
pendidikan di Desa Bojongsari menjadi hal yang sangat mencolok di desa
Bojongsari. namun lagi bidang sektor peternakan yang yang sampai saat ini masih
belum maju.
Jika saya menjadi salah satu bagian dari desa Bojongsari dimana Desa
tersebut banyak sekali menyimpan potensi-potensi yang dapat dikembangkan,
saya akan tertarik untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada tersebut
khususnya dibidang peternakan. Dengan dilihat dari letak georafis Wilayah Desa
Bojongsari yang berada di daratan rendah, sangat mendukung untuk
mengembangkan potensi dibidang peternakan.
Di desa Bojongsari telah berdiri wadah perukumpulan usaha tani yang
biasa disebut dengan Gapoktan (Gabungan Kelompok Usaha Tani). Adanya
wadah kelompok tani ini dapat dijadikan wadah untuk menggerakan sumber daya
manusia menjadi lebih inovatif, inisiatif dan kreatif bagi masyarakat Desa
Bojongsari yang bergerak di bidang tani. Atas dasar inilah saya ingin bekerjasama
dan turut membantu dalam kepengurusan dari Gapoktan ini untuk
mengembangkan potensi-potensi yang ada di Desa Bojongsari ini. Dalam tekhnis
pelaksanaannya nanti jika saya bekejasama dengan Gapoktan, saya dapat
menerapkan ilmu yang sudah didapatkan di bangku perkuliahan dan
menyebarluaskan ilmu mengenai bidang peternakan kepada masyarakat
Bojongsari yang berniat menjadi pembudidaya dan pengusaha ternak.
Sumberdaya manusia yang ada perlu diberikan pelatihan secara rutin
dengan materi-materi dasar seperti pembibitan, manajemen pemeliharaan, hingga
pemasaran. Program pelatihan juga dapat dilaksanakan dengan diadakannya
penyuluhan-penyuluhan sekaligus mengaplikasikan ilmu-ilmu yang dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Program pelatihan tersebut juga dapat
dilaksanakan dengan bekerjasama dengan Dirjen Peternakan setempat. Adapun
komoditas ternak yang dapat dikembangkan di Desa Bojongsari ini yaitu domba,
sapi, kerbau, dan ayam. Bagi ibu-ibu yang tidak bekerja dan kader PKK bisa
dididik dalam berwirausaha membuat olahan hasil ternak seperti baso sapi, abon
sapi, nugget, dan produk olahan ternak lainnya. Dalam membuat berbagai produk
olahan para ibu dirasa pasti mudah menyerap ilmu pembuatan produk karena
dasarnya yang sering berkecimpung di dapur. Hanya saja kendala besar yang
dialami dalam berwirausaha yaitu perlunya modal yang besar, maka dari itu
perlunya kerja sama yang baik antara Gapoktan, wirausahawan dan instansi-
instansi desa. Potensi yang besar di bidang peternakan juga bila dapat
dimaksimalkan merupakan sumber investasi bagi para pemodal besar sehingga
modal bukan jadi kendala bagi masyarakat Desa Bojongsari yang ingin
berwirausaha dibidang peternakan.

JIKA AKU MENJADI
Desa bojongsari adalah desa yang terletak di kecamatan jampang kulon,
Sukabumi. Desa ini terdiri dari empat dusun di mana setiap dusunnya memiliki
satu posyandu. Di desa Bojongsari hanya terdapat satu puskesmas, sedangkan
untuk rumah sakit, terletak di dekat kecamatan. Hal yang disayangkan dari adanya
posyandu di masing-masing dusun adalah kurangnya tenaga kesehatan yang ikut
turun tangan dalam membantu pemberian imunisasi dan pemeriksaan kesehatan,
bahkan ada informasi bahwa dokter hanya datang sekali dalam sebulan. Selain
dari posyandu, sarana kesehatan yang kurang memuaskan adalah hanya ada satu
puskesmas dari satu desa ini dan jarak puskesmas ini bisa dibilang tidak dekat
apalagi bagi penduduk yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
Melihat dari kurangnya tenaga kerja dan sarana kesehatan yang ada di
desa ini membuat banyak penduduk desa yang tidak begitu mempedulikan
pentingnya periksa rutin ke dokter. Bisa dilihat dari lebih banyaknya penduduk
yang memilih untuk berobat ke paraji karena terbatasnya tenaga kesehatan yang
ada di desa tersebut. Hal ini juga terlihat dari banyaknya ibu-ibu yang hendak
melahirkan lebih memilih melahirkan di rumah dengan bantuan bidan atau paraji
dengan alasan jauhnya sarana kesehatan yang ada.
Jika saya menjadi salah satu penduduk desa yang berprofesi sebagai
dokter, saya akan berkeliling di setiap posyandu setiap minggunya untuk
mengadakan pemeriksaan umum kepada penduduk setempat terutama untuk
penduduk yang sudah lanjut usia. Banyak penduduk yang lanjut usia
mengeluhkan adanya pegal-pegal, nyeri sendi, dan tekanan darah yang tinggi.
Namun, banyak dari pihak keluarga memilih untuk menunggu sakit tersebut
hilang dengan sendirinya atau pergi ke paraji untuk mendapatkan obat yang
biasanya tidak jelas kandungannya apa. Untuk kasus seperti ini saya sebagai salah
satu dokter yang ada di desa tersebut akan mendatangi ke setiap rumah dari pasien
tersebut dan memberikan obat yang tepat untuk meredakan rasa sakitnya terlebih
dahulu dan menyarankan untuk menjaga makanan yang dikonsumsi.
Banyaknya para penduduk yang memberikan alasan jauhnya sarana
kesehatan yang ada sehingga membuat mereka malas untuk berobat, saya akan
menyediakan satu mobil dengan ukuran sedang, atau meminjam satu mobil
ambulans yang ada di puskesmas untuk diletakkan di masing masing dusun.
Dengan adanya penyediaan kendaraan ini akan membuat penduduk menjadi lebih
mudah untuk mencapai puskesmas atau sarana kesehatan lainnya. Namun untuk
penduduk yang memang tidak senang untuk pergi ke puskesmas karena ada
ketakutan tersendiri, bisa meminta saya dengan melalui telepon untuk datang ke
rumah mereka dan akan saya usahakan sebisa mungkin sehingga saya dapat tetap
melayani pasien tersebut.
Melihat kondisi lingkungan di desa ini yang bisa dibilang cukup bersih,
namun dari segi pengelolaan sampahnya yang masih kurang baik, bisa
menyebabkan bersarangnya sumber penyakit. Oleh karena itu saya akan
mengadakan penyuluhan secara rutin mulai dari anak usia dini sampai ke orang
dewasa mengenai pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Dengan adanya
penyuluhan PHBS diharapkan penduduk desa dapat mengingatnya dan
melakukannya untuk menjaga kesehatan mereka. Saya sebagai dokter juga tidak
akan bosan untuk selalu mengingatkan kepada para penduduk bisa dengan
menunjukkan pola hidup bersih diri saya sendiri atau bisa dengan memberikan
selebaran menarik kepada para penduduk.
Sebagai seorang dokter di Desa Bojongsari saya tidak akan hanya sekedar
memberikan janji untuk mengadakan pemeriksaan rutin secara bergantian, tetapi
saya akan merealisasikannya dengan terus hadir di setiap posyandu meskipun
pada saat itu tidak ada jadwal untuk ke posyandu. Karena itu adalah tugas saya
sebagai dokter untuk selalu siap jika ada pasien dari salah satu penduduk desa
yang membutuhkan pengobatan dan mengurangi kebiasaan para penduduk yang
mengandalkan peran paraji untuk mengobati penyakit mereka. Memang bohong
jika sebagai dokter saya tidak memerlukan uang, namun dalam memberikan
pelayanan saya tetap menetapkan tarif pengobatan atau pemeriksaan, tetapi
disesuaikan dengan kondisi ekonomi dari masing-masing penduduk.
Tidak semua orang bisa sembuh dengan hanya diberikan obat, tetapi lebih
banyak orang merasa tubuh mereka lebih baik di saat sakit adalah ketika orang
yang mengobati bisa menenangkan perasaan mereka. Untuk itu jika saya menjadi
dokter di Desa Bojongsari, sebisa mungkin saya akan memberikan semangat
untuk hidup sehat terlebih dahulu dengan contoh-contoh yang mudah dan
memberikan harapan yang baik kepada masing-masing penduduk. Selain
memberikan semangat, jika saya menjadi dokter di desa ini, maka saya akan
berusaha untuk memberikan obat yang terjangkau dan memiliki efek yang sama
dengan obat yang lainnya untuk mengurangi beban dari setiap penduduk. Jika
benar saya pada nantinya akan menjadi dokter di desa ini, saya berharap apa yang
saya rencanakan seperti yang saya sebutkan tadi dapat tercapai dan membuat desa
ini menjadi desa yang sehat baik jiwa maupun raga.


CLARISA DWI K.
130110110044


Ivan (130110110174)
Jika aku menjadi...
Desa Bojongsari merupakan desa yang terletak di kecamatan Jampang
Kulon, Kabupaten Sukabumi. Desa ini memiliki pemandangan alam yang sangan
indah dan banyak potensi mulai dari bidang pertanian hingga industri opak dan
gula merah. Selain itu orang di desa ini sangat ramah. Saya memiliki kesempatan
untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama satu bulan. Banyak
pengalaman baru yang saya dapatkan selama berada di sini.

Selama KKN, saya melakukan pemetaan dan mencoba melihat berbagai
masalah yang ada di desa ini sesuai dengan bidang studi saya, yaitu sebagai
kedokteran. Ternyata masih banyak masalah kesehatan yang ada di desa
Bojongsari:

Pertama, sedikitnya intitusi kesehatan yang ada di Kecamatan


Jampangkulon. Di dalam satu kecamatan Jampangkulon, hanya ada 1
rumah sakit daerah, yaitu RSUD Jampangkulon dan 1 puskesmas.
Posyandu memang terdapat di setiap dusun tetapi hanya buka pada hari-
hari tertentu saja.

Kedua, sulitnya akses menuju ke pusat kesehatan terdekat. Desa


Bojongsari bukanlah desa yang ada di pinggir jalan besar, diperlukan 15
menit untuk menuju jalan utama di mana institusi kesehatan berada.

Ketiga, sulitnya untuk merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih besar
ketika dokter tidak bisa menangani pasien tersebut. Perjalanan menuju
kota terdekat, yaitu Sukabumi memerlukan waktu kurang lebih 4 jam dan
jalanan ke sana pun bisa dibilang cukup sulit dilalui melihat banyaknya
lubang dan jalan yang berkelok-kelok.

Pernah satu kali saya datang ke Posyandu untuk membantu ibu bidan
melakukan pelayanan kesehatan, di sana saya mencoba membantu menimbang
bayi dan melakukan imunisasi, selain itu saya mencoba memberikan penyuluhan
tentang tumbuh kembang anak. Saya juga berkesempatan untuk berbincang-
bincang dengan ibu bidan mengenai masalah kesehatan ibu dan anak. Ibu bidan
bercerita sejak Jampersal dihilangkan banyak ibu-ibu yang kembali ke metode
tradisional dalam melakukan persalinan, yaitu bersalin di rumah dengan dibantu
oleh paraji. Metode ini tidak bisa dibilang aman karena sangat rentan untuk
menimbulkan komplikasi seperti infeksi untuk sang ibu karena kesterilan alat-alat
yang tidak terjadi. Masalah lainnya adalah masih banyak ibu-ibu yang belum
mengetahui pentingnya pemberian ASI eksklusif untuk anak-anak mereka,
untungnya angka anak kekurangan gizi di desa ini sudah cukup rendah. Walau
masih banyak kekurangan, pelayanan di Poyandu yang ada sudah cukup bagus
bahkan sampai mendapatkan penghargaan Posyandu terbaik se-Jawa Barat.

Selain masalah kesehatan ibu dan anak, masih ada beberapan masalah lain
yang ada yaitu minimnya visitasi dokter ke desa Bojongsari. Umumnya, dokter
hanya berkeliling desa satu kali setiap bulan melalui program puskesmas keliling.
Selebihnya, bila masyarakat sakit harus menuju ke Puskesmas atau RSUD
terdekat. Masalah lain yang terjadi adalah masih kurangnya pengetahuan
masyarakat mengenai Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Walau di beberapa
dusun seperti Cijorong, PHBS sudah mulai terlaksana, banyak dusun-dusun lain
seperti Leuwinanggung, Talagasari, dan Nyalindung yang PHBS nya masih
kurang, bisa dilihat dari hanya sebagian rumah yang memiliki tong sampah
pribadi dan kebiasaan membuang air besar sembarangan.

Dari berbagai masalah yang ada, saya mencoba memikirkan apa saja yang
akan saya lakukan bila menjadi dokter di tempat ini:

Pertama, saya akan memberikan penyuluhan tentang Perilaku Hidup


Bersih dan Sehat (PHBS) karena masih rendahnya pengetahuan
masyarakat mengenai tentang hal ini. Untuk membentuk sebuah desa yang
sehat, harus dimulai dari masyarakat itu sendiri untuk berperilaku sehat
karena lebih baik mencegah dari pada mengobati. Penyuluhan bisa di
muali dari generasi muda, oleh karena itu penyuluhan sebaiknya diakukan
di sekolah-sekolah.

Kedua, saya akan meningkatkan visitasi dokter sebanyak 2-3 kali


perbulan. Sulitnya akses menuju institusi kesehatan bisa dikurangi dengan
adanya dokter yang langsung mendatangi rumah-rumah warga. Selain itu,
juga saya ingin memberikan penyuluhan tentang pentingnya ASI eksklusif
selama 6 bulan pertama untuk mengurangi jumlah bayi yang mengalami
kekurangan gizi. Saya juga akan memberikan penyuluhan tentang
kelebihan persalinan yang dibantu oleh bidan di puskesmas atau RSUD
dibandingkan dibantu oleh paraji. Saya ingin mempromosikan tentang
Jaminan Kesehatan Nasional (JKS) di mana ibu-ibu bisa melahirkan
dengan gratis.

Ketiga, saya ingin mengajukan kepada pemerintah untuk mendirikan


institusi kesehatan seperti puskesmas di tengah desa Bojongsari agar lebih
mudah dijangkau oleh masyarakat. Dengan lebih dekatnya akses kesahatan
ke masyarakat, kesehatan masyarakat pun akan membaik.

Sebagai penutup, desa Bojongsari masih membutuhkan dokter-dokter yang
mau mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Walau sudah ada peningkatan di
beberapa aspek kesehatan, tetapi kehadiran dokter masih diperlukan dan
dirindukan oleh masyarakat desa. Semoga melalui ilmu dan pengalaman yang
saya dapat selama 1 bulan ini, tidak dilupakan begitu saja, tetapi bisa menjadi
motivasi ke depannya untuk menjadi dokter yang baik dan mau mengabdi, karena
menjadi dokter bukanlah mengejar materi, tetapi justru sebaliknya, yaitu
pengabdian seumur hidup.

Nama : Taufan Tryastono
NPM. : 270110110075
Fakultas/Jurusan : Teknik Geologi/TeknikGeologi
Lokasi KKNM : Desa Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten
Sukabumi.

Jika Aku Menjadi Ahli Geologi

Desa Bojongsari merupakan desa yang terletak di Kecamatan Jampang
Kulon, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Desa ini terletak pada
ketinggian 150 meter diatas permukaan laut. Batas wilayah Desa Cinangsi
antaralain:
a) Sebelah utara dibatasi oleh Desa Nagrak dan Desa Mekarjaya
b) Sebelah selatan dibatasi oleh Desa Cibodas
c) Sebelah timur dibatasi oleh Desa Cimahpar
d) Sebelah barat dibatasi oleh Desa Bojonggenteng
Istilah Bojongsari dibuat oleh sastrawan sunda yang bernama Hambali.
Secara etimologis, Bojongsari terbentuk dari 2 kata, yaitu Bojong yang artinya
lingkungan dan Sari yang artinya merupakan lingkungan atau tempat sumber
kebutuhan bagi desa sekitarnya. Desa Bojongsari terbentuk karena adanya
pemekaran dari Desa Bojonggenteng pada 8 Oktober 1980. Hal ini dikarenakan
adanya keinginan masyarakat yang timbul akibat sulitnya akses jalan menuju
Balai Desa. Secara demografis, Desa Bojongsari memiliki jumlah penduduk 5276
(Laporan Kependudukan Mei 2014).
Jika Aku Menjadi seorang ahli geologi dilihat dari permasalahan yang
timbul dari hasil pemetaan sosial, dikarenakan sistem pertanian tadah hujan,
kesuksesan pertanian sangatlah tergantung pada keberadaan hujan. Jika Aku
Menjadi seorang ahli geologi yang khususnya dalam bidang hidrogeologi yaitu
cabang ilmu geologi yang mempelajari air tanah atau lapisan akuifer bawah
permukaan untuk menunjang sistem pertanian yang ada pada Desa Bojongsari
agar lebih baik. Bila dilihat dari kondisi geologinya, batuan penyusun Desa
Bojongsari merupakan breksi dengan fragmen batuan beku yang bersifat basa
dengan matriks batugamping yang terbentuk pada lingkungan laut dalam dan
termasuk dalam anggota Formasi Jampang Anggota Cikarang. Dilihat dari
teksturnya, breksi ini memiliki pemilahan (sorting) butir yang buruk, sehingga
porositas (kemampuan batuan untuk menampung fluida) kurang baik, sehingga
mengakibatkan lapisan akuifer bawah permukaan yang terdapat di Desa
Bojongsari tidak dapat menampung banyak air. Dan dari lapisan tanahnya yang
juga tidak tebal, menyebabkan daerah resapan air juga tidak terlalu baik. Namun,
khusus pada Dusun Cijorong tidak seperti itu. Pada Dusun Cijorong merupakan
sebuah cekungan air tanah dari Desa Bojongsari, yang bila ditarik penampang dari
Dusun Leuwinanggung disebelah barat, sampai Dusun Nyalindung disebelah
timur, cekungan air tanah terdapat pada Dusun Cijorong, sehingga memiliki
daerah resapan air yang cukup baik dan dapat menampung air lebih baik. Hal ini
sebenarnya menunjukkan hal yang positif dalam bidang pertanian di Dusun
Cijorong. Sawah yang hanya mengandalkan adanya hujan, tidak berlaku di Dusun
Cijorong, karena memiliki sistem air tanah yang baik. Dan memang terbukti
bahwa sawah yang terdapat pada Dusun Cijorong sedikit lebih baik dibandingkan
dengan Dusun lainnya, sehingga dalam bidang pertanian sangat mendukung untuk
dikembangkan. Dapat disimpulkan bahwa jika aku menjadi seorang ahli geologi,
aku akan lebih mengembangkan pertanian di Dusun Cijorong untuk mendapatkan
hasil pertanian yang lebih baik.
Selanjutnya, jika aku menjadi seorang ahli geologi yang berada di Desa
Bojongsari, yang secara tidak sengaja terlihat dari hasil pemetaan juga, sayang
rasanya jika tidak berkunjung ke salah satu sungai besar yang memiliki nilai
artistik sendiri dalam bidang geologi, karena keberadaan curug dan collumnar
joint (kekar/rekahan yang membentuk tiang-tiang) yang terdapat di sungai
ciseureuh merupakan potensi pariwisata yang masih belum tergali dan masih bisa
dikembangkan sebagai wisata alam yang baik, dan wajib diabadikan dalam
bingkai kehidupan. Collumnar joint sendiri terbentuk dikarenakan adanya proses
pendinginan lava selama beberapa kali dan membeku cenderung lebih kearah
vertikal sehingga membentuk tiang-tiang begitu indahnya. Curug yang
memanjang sepanjang sungai Ciseureuh dan hembusan air yang jatuh dari atas
curug, kemudian ditambah dengan adanya barisan lava andesitis-basal
disekitarnya yang membeku membentuk tiang-tiang yang memanjakan kedua
mata, dan menimbulkan keinginan untuk mengabadikan dalam satu jepretan
kamera untuk dikenang dalam hidup. Saat KKNM berlangsung, kami
menyempatkan diri berkunjung ke sungai Ciseureuh untuk melihat langsung
keindahan curug dan collumnar joint tersebut dan mengambil beberapa gambar
bersama kawan-kawan. Memang untuk tempat seperti ini, momen indah akan
terkenang sepanjang masa bila dilewati bersama dengan orang-orang terdekat
yang kita cintai.

Jika Aku Menjadi Pengusaha Meubel
Ariel Ehsan Reynaldi
Npm 120310110184
Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Padjajaran
Nama saya Ariel Ehsan Reynaldi, seorang mahasiswa jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran. Sebagai seorang mahasiswa
yang mengambil konsentrasi manajemen operasi, tentu saja menjadi hal yang
lazim bagi saya pribadi untuk tertarik pada kegiatan ekonomi yang berbasis pada
proses produksi dan pendistribusian hasil produksi. Untuk itu ketika menginjakan
kaki untuk pertama kalinya di lokasi Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Universitas
Padjajaran hal pertama yang saya cari adalah sebuah unit usaha yang mengarah
kepada kegiatan operasi.
Desa Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon merupakan salah satu desa di
Kabupaten Sukabumi yang memiliki jarak 62 km dari kabupaten Sukabumi yang
ditempuh selama kurang lebih 3 jam dan 0.25 jam dari ibu kota kecamatan guna
mencapai desa ini. Desa yang memiliki luas wilayah 806,76 hektar ini memiliki
potensi umum 378,599 hektar tanah kering yang terdiri dari tegal/ladang dan
pemukiman, dan tanah perkebunan. Desa ini berada di sekitar hutan dan
berbatasan dengan Desa Mekarjaya dan Desa Nagraksari di sebelah utara, Desa
Cimahpar di sebelah timur, Desa Cibodas di sebelah selatan, dan Desa
Bojonggenteng di sebelah barat. Ketinggian desa dari laut 250 m, sementara curah
hujan sekitar 250-300 mm/tahun dan suhu udaranya 22
o
-28
o
C sehingga udara di
desa ini tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Desa ini telah memiliki aliran
listrik, PAM, dan jalan utama yang beraspal dan merupakan jalan kabupaten.
Menilik potensi tersebut, khususnya telah terdapat aliran listrik, PAM, dan jalan
utama yang beraspal sehingga memungkinkan adanya sebuah kegiatan supply
chain management, yakni kegiatan mencari pemasok, produksi, dan
pendistribusian kepada konsumen. Jenis usaha meubel merupakan bisnis yang
memiliki potensi untuk bertumbuh dan berkembang di Desa Bojongsari,
Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi. Terutama apabila diarahkan
untuk dapat bersaing di pasar nasional dimana meubel masih menjadi komoditas
yang dicari khususnya oleh konsumen keluarga baru.
Di Desa Bojongsari telah terdapat bisnis meubel, namun hanya terdapat satu
usaha. Sedangkan aktivitas penebangan kayu pun hanya terdapat satu unit bisnis,
serta unit pelitur juga hanya satu sehingga dapat disimpulkan belum efisiennya
kegiatan bisnis tersebut. Hal ini dapat ditingkatkan dengan menerapkan konsep
lean manufacturing, yaitu konsep pemangkasan kegiatan-kegiatan produksi yang
dapat ditiadakan tanpa mengganggu aktivitas produksi. Aktivitas seperti
penebangan lalu dipindahkan ke salah satu rumah warga untuk dikumpulkan dan
dipotong menjadi kayu-kayu untuk dikirimkan ke lokasi perusahaan meubel dapat
dibuat lebih efisien dengan langsung dipotong di tempat setelah penebangan lalu
dikirimkan langsung ke lokasi perusahaan meubel.
Selain itu, untuk menambah tingkat produktivitas dari bisnis meubel ini, dapat
juga dilakukan pencarian pemasok kayu dari pihak luar desa sehingga pasokan
kayu tidak hanya terbatas dari satu pemasok yang notabene hasil produksi
kayunya sangat lama. Selain itu, perlu diadakan training sumber daya manusia
untuk meningkatkan tingkat produktivitas, profesionalitas dan meminimalisir
tingkat kecacatan. Berbicara mengenai kecacatan, dapat juga diterapkan konsep
six sigma, yaitu konsep quality control yang bertujuan untuk mengghasilkan
tingkat kecacatan 3.4 produk per defect per million opportunities (DPMO).
Konsep six sigma tersebut dapat juga digabungkan dengan lean manufacturing
sehingga menghasilkan produk minim cacat seefisien mungkin.
Selain itu, dengan adanya pencarian pemasok kayu lain dengan tujuan efisiensi
biaya melihat perbandingan biaya paling murah dengan berbagai pertimbangan,
seperti harga pagu, biaya transportasi, dan lain-lain.
Kemudian, untuk memasarkan hasil produk meubel terdapat berbagai hal yang
perlu diperhatikan. Perihal sarana dan prasarana sudah terdapat jalan beraspal
yang dapat memudahkan perpindahan barang dari lokasi produksi ke tempat-
tempat untuk menjangkau pasar konsumen. Kendaraan transportasi pun perlu
dicek kembali kelayakannya, apakah sanggup untuk membawa produk meubel ke
luar Desa dan mampu hingga sejauh mana barang dapat terkirim. Selain itu
pemasaran dapat dibuat lebih menarik untuk mengenalkan bisnis meubel
Bojongsari ini, seperti bergabung di media sosial dengan membuat akun twitter,
facebook, blog, dan lain-lain dengan maksud mempromosikan ke masyarakat
yang lebih luas sehingga dapat menarik lebih banyak konsumen.

JIKA AKU MENJADI PETANI DI DESA BOJONGSARI
Desa bojongsari, desa yang terletak di Kecamatan Jampang Kulon,
Kabupaten Sukabumi. Desa ini memiliki 4 dusun yaitu dusun leuwinanggung,
talagasari, cijorong, dan nyalindung. Desa ini mayoritas penduduknya memiliki
mata pencaharian peternak serta petani, dapat dilihat dari wilayahnya yang
mayoritas dikuasai oleh pertanian. Pemukiman penduduk pun bertempat
mengikuti posisi jalan raya, dimana dibelakangnya dipenuhi oleh lahan pertanian.
Desa ini walaupun sederhana, sudah dilengkapi dengan listrik, PDAM yang
memadai, jalanan yang diaspal, serta penerangan yang cukup, walau belum
merata. Desa ini merupakan salah satu kawasan desa sehat di kawasan kabupaten
sukabumi, hal ini merupakan suatu kebanggan tersendiri, namun dibalik
penghasrgaan akan desa sehat tersebut, ternyata desa ini tidak memiliki TPS
(Tempat Pembuangan Sampah) sementara, kebanyakan warga masih banyak yang
membakar sampahnya atau dikubur, sehingga keadaan desa jika dilihat secara
sekilas bersih.
Mayoritas penduduk disana yang memiliki mata pencaharian petani
memiliki tingkat ekonomi yang kurang lebih sama, yaitu rata-rata kalangan
ekonomi menengah ke bawah, sedangkan sisa penduduk desa yang lainnya
banyak yang bekerja di kota baik sebagai PNS, maupun tenaga kerja swasta.
Walaupun lahan pertanian disana sangat luas bahkan hampir menguasai lebih dari
80% desa bojongsari, namun pendapatan penduduknya sangat rendah. Sangat
miris melihat suatu desa dengan sumber daya alam yang melimpah namun
penduduknya tidak terlalu makmur. Hal ini terjadi karena kebanyakan petani
disana mengandalkan pertanian sebagai satu-satunya ladang pemasukan, sehingga
ketika lahan pertaniannya tidak produktif, maka mereka tidak mendapat hasil
sesuai yang diinginkan.
Permasalahan utama yang terjadi pada para petani di desa tersebut adalah
kebanyakan sawah disana menggunakan sawah tadah hujan. Sawah tadah hujan
merupakan sawah yang pengairannya hanya mengandalkan air hujan saja, tanpa
menggunakan saluran irigasi ataupun drainase yang dirancang sedemikian rupa
untuk mendukung meningkatnya tingkat produktivitas. Sawah tadah hujan ini
memiliki satu sisi yang menyakitkan, yaitu jik ir hujan tidak turun, maka dapat
dipastikan bahwa lahan pertanian yang ada akan gagal panen, apalagi mayoritas
komoditas pertanian yang ditanam disana merupakan komoditas yang
memerlukan air seperti padi ataupun jagung.
Jika aku menjadi petani di kawasan Desa Bojongsari, maka aku akan
membuat sistem irigasi serta drainase yang dirancang untuk meningkatkan
produktivitas serta mampu menghilangkan ketergantungan terhadap air hujan.
Sistem tersebut bisa seperti irigasi teter, dimana setiap tanaman baik padi, jagung,
ataupun komoditas lainnya akan disiram oleh air dengan tetesan air yang diatur
oleh kita, sehingga kadar airnya telah disesuaikan dengan kebutuhan komoditas
tersebut. Selain itu, pembangunan kincir yang mampu mengalirkan air dari
dataran rendah ke dataran tinggi pun akan mampu mengurangi ketergantungan
terhadap air hujan, air dapat digunakan sebanyak yang kita inginkan.
Pemilihan komoditas pun perlu dipertimbangkan, pemilihan komoditas yang
tidak terlalu membutuhkan banyak aoir seperti palawija, kelapa, kacang-
kacangan, rempah-rempah patut dipertimbangkan untuk mengantisipasi kesulitan
air yang ada. Air pada desa bojongsari untuk pengairan lahan pertanian hanya
didapat dari sungai-sungai kecil yang melintasi daerah lahan pertanian, sedangkan
bagi sungai-sungai yang tidak melintasi wilayah pertanian, maka tidak dijadikan
sumber pengairan karena tingkat kesulitan untuk mengalirkan air sungai tersebut.
Terakhir, manajemen pertanian dari hulu ke hilir pun akan aku
pertimbangkan dengan matang. Penerapat integrated farming system pun layak
untuk diterapkan agar mampu menaikan produktivitas pertanian di desa
bojongsari ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, akupun akan menggunakan
lebaga pembiayaan yang lebih terepercaya serta memiliki perhitungan yang jelas
seperti bank, daripada menggunakan rentenir ataupun tengkulak, yang notabene
sekilas meringankan petani dalam menyalurkan hasil pertaniannya, namun
sebenarnya mereka mempermainkan petani dengan menerapkan harga yang
seenaknya. Mungkin aku juga akan berussaha menggandeng lembaga pembiayaan
serta menerpkan pertanian modern agar banyak perusahaan yang tertarik untuk
menanamkan modalnya di desa bojongsari ini. Contoh pertanian modern nya
seperti penerapan hidroponik, aeroponik, dan lain-lain, dimana dapat
meningkatkan produktivitas dua kali lipat dengan lahan yang lebih kecil.


Oleh: Muhammad Rian Fajar
Fakultas Teknologi Industri Pertanian
240110110019


EFRIANI BR SITEPU
110110110171
FAKULTAS HUKUM
KKNM UNIVERSITAS PADJADJARAN 2014


JIKA AKU MENJADI KEPALA DESA BOJONGSARI

Desa Bojongsari, kecamatan Jampangkulon, kabupaten Sukabumi. Sebuah
desa yang kaya dengan sumber kekayaan alam yang melimpah seperti padi,
kelapa, kacang-kacangan. Penduduk desa Bojongsari juga kaya dengan berbagai
jenis keterampilan dan keahlian. Layaknya kebudayaan desa pada umumnya, di
desa Bojongsari masyarakat masih sangat kental dengan pengaruh kebudayaan
dan keagamaan. Kebiasaan bergotong royong, ramah dan saling menyapa
merupakan pemandangan sangat lazim dijumpai dalam pergaulan masyarakat di
desa ini.
Suatu negara dikatakan negara apabila memenuhi unsur terbentuknya
negara tersebut antara lain: adanya wilayah tertentu, penduduk, serta
pemerintahan yang berdaulat disamping pengakuan dari negara lain baik secara de
facto maupun de jure. Demikian halnya dengan sebuah desa yang sangat
memerlukan pemerintahan yang mengatur berbagai hal berkaitan dengan
penyelenggaraan pemerintahan dan permasalahan lainnya.
Selama mengikuti kegiatan KKNM (kuliah kerja nyata mahasiswa)
Universitas Padjadjaran tahun 2014 di desa Bojongsari saya melihat bahwa peran
kepala desa memanglah merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi
pembangunan sebuah desa. Kepala desa sebagai pengambil keputusan berperan
penting untuk membawa desa menuju perkembangan yang terbaik termasuk
memecahkan berbagai permasalahan yang ada di desa.
Desa Bojongsari merupakan desa dengan petani sebagai mata pencaharian
mayoritasnya. Hampir seluruh masyarakat menggantungkan kehidupannya dari
sektor pertanian disamping peternakan, kerajinan dan lainnya. Meskipun pada saat
ini masyarakat desa Bojongsari dapat dikatakan sudah menyadari pentingnya
pendidikan, namun para petani Bojongsari pada umumnya merupakan orang-
orang yang belum mengecap bangku pendidikan. Hal ini merupakan salah satu
faktor penyebab beberapa masalah yang terjadi di desa Bojongsari. Sebagai
seorang mahasiswi yang belajar khusus dalam bidang hukum, saya memiliki
beberapa gagasan terkait penyelesaian masalah yang terdapat di desa Bojongsari
baik dalam aspek hukum maupun tidak. Untuk menyelesaikan masalah tersebut,
peran saya sebagai kepala desa tentu akan sangat berpengaruh besar.
Jika saya menjadi kepala desa Bojongsari, hal yang pertama saya lakukan
adalah memberikan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat mengenai
aturan dan ketentuan hukum dasar yang harus mereka lakukan khususnya terkait
dengan hak dan kewajiban mereka. Salah satu masalah yang saya soroti disini
adalah mengenai keberadaan tengkulak di desa Bojongsari yang oleh masyarakat
lebih dipilih sebagai alternatif tempat meminjam uang dibandingkan bank.
Padahal sebanarnya, masyarakat dirugikan dengan hal tersebut karena pada
akhirnya harga yang ditawarkan oleh tengkulak terhadap hasil panen atau usaha
mereka jauh lebih rendah dibandingkan jika mereka menjual sendiri. Selain
memberikan pandangan yang benar baik dari sisi hukum maupun tidak kepada
warga, saya akan membantu memfasilitasi mereka dengan sarana dan prasarana
yang mereka butuhkan agar mereka dapat lebih maju tanpa selalu bergantung
kepada tengkulak. Misalnya, transportasi agar mereka dapat mengangkut hasil
panen atau usaha mereka untuk dijual ke pasar, menyediakan atau menjual bahan-
bahan yang biasanya hanya mereka dapatkan dari tengkulak dengan harga yang
mahal, dan sebagainya.
Dalam pembukan Undang-undang Dasar 1945 alinea ke-4 disebutkan
bahwa salah satu tujuan bangsa Indonesia adalah untuk mewujudkan
kesejahteraan masyarakat. Sebagai kepala desa, saya juga akan membangun dan
lebih mengoptimalkan berbagai kelompok usaha masyarakat dengan tujuan untuk
mengembangkan masyarakat dalam rangka mencapai kesejahteraan masyarakat
itu. Misalnya, kelompok-kelompok tani, membuat kelompok usaha pembuat opak,
kelompok usaha pembuat gula merah, mambuat koperasi atau CU (credit union),
menggerakkan organisasi-organisasi pemuda, kaum ibu, dan sebagainya. Berbagai
kelompok ini akan menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasi
mereka serta menjadi sarana untuk masyarakat dapat belajar dan mengembangkan
diri.
Selain itu, saya menyadaribahwa desa saya menyimpan banyak potensi di
bidang pertanian, hasil olahan pertanian, serta pariwisata. Sebagai kepala desa
saya akan berusaha meningkatkan promosi terhadap desa saya. Saya akan
menunjukkan berbagai keunggulan-keunggulan yang terdapat dalam desa saya
baik kepada pemerintahan yang lebih tinggi maupun pihak swasta. Dengan hal itu
akan membantu masyarakat desa untuk mengembangkan pertanian dan usaha
yang mereka miliki.
Sebenarnya masih sangat banyak aspek yang menjadi permasalahan di
desa Bojongsari, namun salah satu yang saya fokuskan selanjutnya adalah sektor
pendidikan. Dalam sektor pendidikan, saya akan megusulkan dan melakukan
berbagai usaha agar jumlah sarana pendidikan yaitu sekolah khususnya SMP dan
SMA dibangun di Bojongsari, agar masyarakat tidak perlu pergi jauh ke Jampang
Kulon untuk bersekolah. Begitu juga dengan peningkatan jumlah dan kualitas
tenaga pengajarnya, serta prasarana pendukung pendidikan lainnya baik secara
formal maupun non-formal.
Dengan berbagai gagasan tersebut harapan saya desa Bojongsari akan mencapai
kemajuan yang lebih baik dan masyarakatnya dapat hidup lebih sejahtera.


Jika aku menjadi Kepala Desa Bojongsari aku akan menjadikan Desa Bojongsari
sebagai Desa yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian. Pertama Berdaulat.
Berdaulat dalam artian memiliki daya tawar yang tinggi dibandingkan desa
lainnya, daya tawar disini dimaksudkan adanya peningkatan kualitas tata
pemerintahan desa yang baik dengan berasaskan pada prinsip good governance
yaitu 1) Partisipasi (Participation) : Keterlibatan masyarakat dalam pembuatan
keputusan, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui lembaga
perwakilan yang dapat menyalurkan aspirasinya. Dalam hal ini BPD (Badan
Permusyawaratan Desa) berperan sebagai penyambung lidah rakyat dimana
fungsi BPD harus dimaksimalkan untuk memperjuangkan aspirasi serta apa saja
yang menjadi hak warga Desa Bojongsari. 2) Aturan Hukum (Rule of Law) :
Kerangka hukum yang harus berkeadilan, dipatuhi, ditegakkan dan dilaksanakan
tanpa pandang bulu. 3) Transparansi (Transparency) : Transparansi dibangun atas
dasar kebebasan memperoleh informasi. Dalam hal ini harus ada keterbukaan
antara Pemerintah Desa dengan warga, terkait APBDES (Anggaran Pendapatan
dan Belanja Desa). Dengan tujuan supaya anggaran yang ada didesa tersebut
benar-benar digunakan dalam untuk kepentingan warga Desa Bojongsari. 4) Daya
Tanggap (Responsiveness) : Setiap institusi dan prosesnya harus diarahkan pada
upaya untuk melayani berbagai pihak yang kepentingan atau harus cepat tanggap
dalam melayani masyarakat. Dalam hal ini Pemerintah Desa Bojongsari dituntut
untuk dapat memberikan pelayanan publik yang baik terhadap warga Desa
Bojongsari, baik dalam proses administrasi desa maupun aspek lainnya. 5)
Berorientasi Konsensus (Consensus Orientation) : Berorientasi pada kepentingan
masyarakat yang lebih luas. Artinya, Pemerintah Desa Bojongsari harus
mengutamakan kepentingan warga daripada kepentingan pribadi. 6) Berkeadilan
(Equity) : Setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh
kesejahteraan dan berkeadilan. Pemerintah Desa Bojongsari memiliki peran dalam
hal peningkatan SDM seluruh warganya guna tercapainya kesejahteraan bersama.
7) Efisiensi dan Efektivitas (Efficiency and Effectiveness) : Setiap proses kegiatan
dan kelembagaan diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar sesuai
dengan kebutuhan melalui pemanfaatan yang sebaik-baiknya berbagai sumber
yang tersedia. Maksudnya disini, bahwa Pemerintah Desa Bojongsari berfungsi
melakukan manajemen yang baik guna terciptanya efisiensi dan efektifitas terkait
5 unsur berikut: men (SDM), materials (SDA), machines (mesin-mesin/alat),
methods (tata kerja) dan money (uang). 8) Akuntabilitas (Accountability) :
Pertanggungjawaban kepada publik atas setiap aktivitas yang dilakukan. Artinya,
Kepala Desa Bojongsari yang secara legitimasi dipilih oleh warga, harus
memberikan feedback terhadap warga. Yaitu melalui program-program
pembangunan yang bermanfaat bagi Desa Bojongsari. 9) Visi Strategik (Strategic
Vision) : Para pimpinan dan masyarakat memiliki perspektif yang luas dan jangka
panjang tentang penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan pembangunan
manusia, bersamaan dengan dirasakannya kebutuhan untuk pembangunan
tersebut. Harus adanya pemimpin visioner di Desa Bojongsari, yang mampu
melihat apa saja yang menjadi kebutuhan warga, serta hal-hal yang berkaitan
dengan rencana pembangunan Desa Bojongsari dimasa yang akan datang.
Kedua adalah Mandiri. Mandiri disini yaitu menjadikan Desa Bojongsari menjadi
Desa Yang unggul disektor perekonomiannya dibandingkan Desa sekitarnya.
Adapaun strategi dalam merealisasikan gagasan tersebut dapat dilakukan melalui
beberapa cara. Pertama: Modernisasi Sektor Pertanian. Seperti yang diketahui
bahwa Desa Bojongsari memiliki lahan yang luas dibandingkan desa sekitarnya.
Dengan luas lahan persawahan 411, Desa Bojongsarri memiliki potensi dalam
menciptakan swasembada pangan. Salah satunya dengan memperbaiki saluran
irigasi serta pembuatan waduk penampung air, yang berguna dalam pengairan
sawah jika suatu saat terjadi kekeringan. Selain itu peran Gapoktan (Gabungan
Kelompok Tani) di Desa Bojongsari harus dimaksimalkan, baik peningkatan SDM
melalui seminar maupun studi banding keluar negeri. Kedua: Memperkuat Peran
BUMDES (Badan Usaha Milik Desa). BUMDES merupakan salah satu pilar
penopang perekonomian desa. Dimana BUMDES berfungsi dalam melakukan
usaha jasa keuangan dan usaha di sektor riil. BUMDES juga memiliki kesempatan
dalam mengelola aset desa. Seperti yang diketahui bahwa Desa Bojongsari
merupakan Desa yang dikenal dengan pengasil gula kelapanya. Disini BUMDES
dapat berperan dalam upaya peningkatan kualitas produksi dan pemasaran gula
kelapa yang ada di Desa Bojongsari. Yaitu dengan melakukan sinergitas baik
dengan pemerintah desa, produsen, maupun pihak swasta.
Ketiga: Berkepribadian dibidang kebudayaan. Desa Bojongsari memiliki beberapa
kesenian rakyat yang sampai sekarang masih berjalan. Diantaranya kesenian
pencak silat dan kuda lumping. Kesenian lainnya seperti arak-arakan menyambut
bulan ramadhan sudah tidak dilakukan. Sayang disayangkan, karena sebagai
masyarakat yang multikultural sudah seharusnya kita menjaga kesenian daerah
sebagai kekayaan sekaligus manifestasi kepribadian bangsa.

JIKA AKU MENJADI
(Oleh: Ardian Hadi Pratama 200110110087)

Jika Aku Menjadi Masyarakat Desa Bojongsari, Kecamatan Jampang
Kulon, Kabupaten sukabumi, Jawa Barat, Saya akan membuka Peternakan Domba
Hadi Farm. Desa Bojong Sari merupakan daerah yang berpotensi sebagai
penghasil sektor pertanian. Subsektor peternakan dan perikanan merupakan
sumber daya yang dapat dimaksimalkan untuk menghasilkan suatu produksi yang
dapat menghasilkan pendapatan bagi masyarakat desa tersebut. Kesadaran
masyarakat desa yang masih kurang untuk memanfaatkan potensi yang ada di
desa menyebabkan masyarakat desa cenderung tertinggal dari masyarakat kota.
Saya sebagai mahasiswa peternakan jika menjadi masyarakat desa akan
membuat suatu usaha yang berbasis ekonomi kerakyatan yaitu membuka usaha
peternakan domba kemitraan dengan masyarakat yang tidak mempunyai biaya
untuk membeli domba. Sistem kemitraan yang di anut yaitu kekeluargaan. Pola
kemitraan merupakan bentuk kerjasama antara dua belah pihak ataupun lebih
untuk mendapatkan keuntungan atau keberhasilan usaha Peternakan. Kemitraan
juga merupakan suatu cara untuk mengembangkan usaha lebih besar dan
membantu perekonomian masyarakat kecil. Salah satu bentuk kemitraan peternak
domba yang terkenal adalah PT. Villa Domba Niaga Indonesia yang ada di
Soreang.
Bentuk kerjasama atau pola kemitraan yang dijalankan Pola kemitraan
inti-plasma merupakan kerja sama antara pemilik domba dengan peternak kecil
atau peternak yang mempunyai modal sedikit atau tidak mempunyai
modal.mereka hanya menyediakan kandang. Setiap kelompok ternak mempunyai
koordinator kelompok atau Pembina kelompok. Setiap kelompok ternak
mempunyai koordinator kelompok atau Pembina kelompok. Pola kemitraan Inti-
plasma pada satu daerah terdapat 100 ekor Domba Garut dan setiap anggota
kelompoknya memelihara 2-5 ekor ternak. Keuntungan yang diperoleh setiap
peternak 50%, koordinator 10%, pratama fam 40%. Setiap peternak diberikan
domba 2-5 ekor, domba yang siap panen di beli oleh pratama fam, peternak pun
boleh menjual domba ke pihak lain asalkan harga lebih tinggi. Domba yang
diberikan ada 2 jenis yaitu :

Breeding merupakan ternak yang diberikan untuk pembibitan. Indukan


yang diberikan kepada ternak sudah bunting selama satu bulan. Sehingga
peternak mempunyai kepastian untuk mendapatkan keuntungan. Peternak
akan mendapatkan keuntungan yaitu dari anakan yang dilahirkan indukan.
Sistem bagi hasilnya bukan berdasarkan fisik seperti dikalangan
masyarakat namun berupai nilai uang (rupiah). Nilai uang yang diperoleh
dari berat badan anakan perkilo bobot badan hidup, persatu kilogram
dihargai Rp. 62.000,- berdasarkan dari nilai mata uang dinar terhadap
rupiah.jadi harga dapat berubah sesuai dengan keadaan mata uang dinar
terhadap rupiah. Selain dari dinar faktor penentu harga yaitu inflasi dan
kompetitor. Siklus pada inti-plasma yaitu sepuluh bulan pada bulan
pertama ternak berada di Hadi Farm dalam keadaan bunting. Pada bulan
kedua ternak berada di Peternak Plasma dalam keadaan bunting.Pada
bulan keenam induk lahir, bulan kesembilan rotasi indukan lama diganti
dengan indukan baru yang sudah bunting, pada bulan kesupuluh anakan
ditarik ke Hadi Farm dan pembagian keuntungan. Kompensasi jika ternak
tidak bunting yaitu Hadi Farm mengganti biaya pakan selama ternak
berada di peternak plasma yaitu sehari seribu untuk satu ekor. Dan
mengganti dengan ternak yang bunting tua.

Fattening merupakan kemitraan ternak yang diberikan kepada peternak


untuk penggemukan. domba yang diberikan kepada peternak yaitu ternak
yang sudah lepas sapih yang berumur sekitar 3 bulan dan panen setiap 5
bulan dan ternak ditarik oleh Hadi Farm menjelang kurban jika domba
sudah cukup umur. Pembagian keuntungan pada fattening atau
penggemukan yaitu pada saat domba datang ditimbang berat badan
awalnya dan pada lima bulan atau saat domba ditarik oleh Hadi Farm
ditimbang berat badan akhir. Berat badan akhir dikurangi berat badan
awal.

Seleksi calon Peternak mitra yang belum pernah memelihara domba mulai
kebingungan manakala domba terkena penyakit misalnya, domba tidak
mau makan ataupun domba tiba-tiba mengalami kematian. Pemilik ternak
tidak mampu berbuat banyak karena ia pun belum mengerti pengetahuan
beternak domba. Tanpa bermaksud meragukan kemampuan peternak desa
namun inilah kenyataan yang seringkali ditemukan di lapangan, bahkan
karena frustasinya dan tidak mau menanggung kerugian pada akhirnya
bisa jadi si pemelihara ternak menjual ternak domba tanpa seijin
pemiliknya ataupun ternak diberikan kepada warga lainnya tanpa
sepengetahuan pemiliknya, banyak cerita beberapa pemilik ternak yang
mengatakan bila mereka merugi karena domba-domba yang dititipkan ke
masyarakat banyak yang sakit, hilang, dijual ataupun mati. Disinilah arti
pentingnya proses seleksi yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu oleh
pemilik ternak terhadap calon peternak mitra yang akan memelihara
dombanya nanti. Stelah melakukan seleksi diadakan suatu kursus atau
pelatihan mengenai pemeliharaan domba yang baik dan benar.
Dengan memelihara domba masyarakat Desa Bojongsari akan
mendapatkan suatu penghasilan tambahan bahkan bisa menjadikan penghasilan
utama bagi masyarakat desa.


Jika Aku Menjadi
Mugni Hidayatna 170410110046

Di dalam suatu tata kehidupan masyarakat yang baik maka dibutuhkan
program-program yang dapat mengayomi dan berpihak kepada masyarakat itu
sendiri maka kami yang dikelompokan di suatu desa berusaha membuat dan
melaksanakan program kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Untuk itu saya menganalisis kondisi masyarakat di
Desa Bojongsari, Kabupaten Sukabumi tempat saya melaksanakan KKNM
periode Juni-Juli 2014. Banyak profesi baik dari pemerintah desa maupun dari
masyarakat yang bisa dijadikan contoh bagaimana kita dapat belajar dari
masyarakat selama sebulan ini yang dapat kita namakan Jika Aku Menjadi.
Sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD mungkin saya bisa
mengandaikan menjadi Kepala Desa Bojong Sari yang memang luas wilayah
desanya cukup luas dan cukup jauh dari ruas jalan raya utama. Sebagai kepala
desa tentunya tidak cukup mudah karena aspirasi masyarakat harus didengar
disertai aturan yang dibuat pemerintah desa juga harus dilaksanakan oleh
masyarakat. Di Desa Bojong Sari ini juga karena letak antara kantor desa dengan
masyarakat cenderung berada pada titik yang jauh dimana Dusun Nyalindung dan
Dusun Cijorong adalah yang terjauh untuk menjangkau kantor Desa yang
memang digunakan untuk kebutuhan pelayanan masyarakat desa. Selaku Kepala
Desa dengan kondisi seperti ini tentu dapat melakukan kemudahan terhadap
kebutuhan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desanya
misalnya seperti Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) yang
dilakikan kadusunan atau mungkin masuk ke tingkat Musrenbang Desa, harus
berjalan dengan baik dengan mengundang tokoh-tokoh masyarakat dalam
menciptakan program-program yang menjadi prioritas masyarakat desa tanpa
adanya kepentingan-kepentingan sehingga disini peran Kepala Desa juga bisa
menyatukan dan menjaga keharmonisasian antara masyarakat dengan pemerintah
desa dengan mencegah konflik-konflik yang mengakibatkan pecahnya kehidupan
sosial masyarakat di desa tersebut. Kalo melihat realitasnya dari Bapak Budi
Pirmansyah sebagai Kepala Desa Bojong Sari, terlihat baik dalam melaksanakan
program-program dari pemerintah daerah khususnya. Beliau juga menekankan
akan hasil pertanian untuk perekonomian masyarakatnya sehingga dapat
menghidupi dahulu kehidupan mandirinya baru dapat menghasilkan sesuatu yang
lebih dengan adanya GAPOKTAN yaitu gabungan dari beberapa kelompok tani di
desa yang bermanfaat bagi para petani mulai dari cara penanamanannya,
penggunaan teknologinya, mengatasi hama, panennya dan sebagainya. Tetapi
selain program-program yang ada telah diberikan oleh pemerintah daerah
terhadap Desa Bojong Sari, saya mengandaikan apabila Kepala Desa itu membuat
suatu program secara mandiri sebagai salah satu aktor utama kebijakan di desa
yang dapat menghasilkan manfaat yang nyata untuk masyarakat misalnya
program pengembangan usaha tani, program pendidikan SD di sekitar desa,
program pemberdayaan masyarakat dengan anggaran yang semaksimal mungkin
dapat diusahakan dari APBDES atau dari sumbangan para warga tiap bulannya
meskipun itu sulit dilaksanakan. Kemudian saya juga berpikir bahwa kebudayaan
disini harus tetap dilestarikan dimana kuda lumping dan pencak silat merupakan
budaya yang kental karena terdapat pemondokannya sehingga siapa pun dapat
belajar maka kepala desa dengan segala kewenangannya mengadakan suatu
kegiatan rutin atau acara, yang membuat masyarakat dari segala kalangan tetap
menjaga nilai-nilai budaya dari kuda lumping dan pencak silat yang memang khas
di Desa Bojong Sari ini. Kemudian pada aspek lingkungan pemerintahan desa nya
sendiri, Kepala Desa harus tegas dalam mengatur aparat-aparat desa nya apabila
ada yang melanggar peraturan harus diberikan hukuman yang membuat efek jera
karena masyarakat desa membutuhkan pemerintahan desa yang bekerja dari
rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. BPD sebagai lembaga legislatif desa harus
bekerja bersama-sama dengan Kepala Desa untuk membuat suatu peraturan desa
yang efektif bermanfaat bagi masyarakat misalnya seperti peraturan mengenai
kesehatan gratis dan peraturan mengenai pemanfaatan APBDES dalam
pengelolaan aset dan potensi sumber daya karena sebagai desa yang
memfokuskan kesehatan tentu membutuhkan peraturan yang mengikat mengenai
kesehatan masyarakatnya dan dengan anggaran desa yang dapat tersedia
semaksimal mungkin disertai lahan pertanian yang luas dapat dimanfaatkan untuk
hasil tani yang dapat menghidupi kebutuhan masyarakat terutama kalangan petani
dimana sebagian besar profesi disini adalah petani. Selain itu, aset yang memang
ada di desa baik dari peternakan dan pertanian sebaiknya dapat dilestarikan dan
dikombinasikan untuk meningkatkan pendapatan desa. Dengan segala potensinya
maka desa Bojong Sari ini bukanlah desa biasa karena dari tingkat
kesejahteraannya saja saya lihat sudah berkembang seperti sudah banyak yang
mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain itu dari aspek
pendidikan bahkan satu-satunya SMP disana fasilitasnya sudah memadai maka
Kepala Desa harus juga bisa meningkatkan pendidikan terutama pendidikan gratis
bagi kalangan yang tidak mampu.
Dari segala aspek yang bisa dikembangkan maka pembangunan untuk
Desa Bojong Sari ini diperlukan, sebagai kepala desa maka saya harus
melakukannya dengan tetap menjaga nilai-nilai gotong royong dan
kebersamaannya yang telah melekat sejak lama. Aspirasi masyarakat harus
didengar dan dimasukan ke dalam musyarawah tingkat kecamatan sehingga
menghasilkan program yang efektif. Saya bersyukur melaksanakan KKNM di
Desa Bojong Sari karena masyarakatnya ramah dan baik termasuk Kepala Desa
yang saya dapat contoh beberapa sikap dan kebijakannya untuk menjadi Sarjana
kelak. Mudah-mudahan apa yang saya telah pelajari selama 30 hari ini menjadi
pembelajaran yang bermanfaat untuk mengabdi kepada masyarakat.

Jika Aku Menjadi Perawat di Desa Bojongsari
Nama : Anggun Friska Yohana Lumbantobing
NPM :220110110049

Ketika melakukan kunjungan pertama kali ke Posyandu di desa bojongsari, saya
mendengar seorang ibu berkata Kalau belum sakit, ya ngga akan ke dokter atuh,
mending uangnya di tabung . Perkataan Ibu ini kembali mengingatkan saya akan
tugas seorang perawat, yaitu merawat seseorang secara biopsikosociospiritual,
dari masa konsepsi hingga mendampingi seseorang hingga pada kematian yang
bermartabat. Selain itu seorang perawat juga bertugas untuk mempertahankan
seorang manusia untuk tetap dalam keadaan sehat atau well being serta
memandirikan orang tersebut untuk mempertahankan kesehatan dirinya sendiri.
Dalam dunia keperawatan ada yang disebut dengan keperawatan Keluarga.
Keperawatan keluarga bertujuan untuk menjadikan sebuah keluarga untuk tau,
mampu dan mau merawat sendiri anggota keluarga sehingga sebuah keluarga
mampu untuk mempertahankan keadaan sehat dalam keluarga. Inti dari
keperawatan keluarga ini adalah tindakan preventif dan bukan kuratif.Hal yang
dilakukan dalam keperawatan keluarga adalah pertama dengan melakukan
pengkajian kepada keluarga mulai dari pengetahuan mereka tentang kesehatan
hingga status kesehatan setiap anggota keluarga. Setelah mengetahui sejauh apa
pengetahuan keluarga, maka kemudian diberikan pendidikan kesehatan pada
keluarga tersebut, kemudian memotivasi keluarga untuk mau menjaga kesehatan
setiap anggota keluarga, setelah itu, memperlengkapi keluarga untuk mampu
menjaga kesehatan dan merawat anggota keluarga. Dengan memberikan
intervensi keperawatan kepada sebuah keluarga, maka akan terjadi perubahan
mindset keluarga untuk melakukan tindakan preventif, bukan hanya menunggu
masalah kesehatan terjadi baru mendatangi fasilitas kesehatan. Maka jika saya
menjadi perawat di desa bojongsari, maka saya akan menjadi perawat keluarga di
desa ini.
Ketika melakukan kunjungan ke posyandu hingga tiga kali yang saya lihat
kemudian adalah bahwa masyarakat di desa bojongsari sebenarnya memiliki
keinginan untuk mengikuti kegiatan kegiatan yang menunjang kesehatan selama
kegiatan tersebut tidak mengeluarkan biaya. Mindset bahwa biaya ke fasilitas
kesehatan itu mahal, juga perlu diubah. Mungkin dalam skala perhitungan jangka
pendek, terlihat mahal kalau melakukan kunjungan rutin ke fasilitas kesehatan.
Namun, kesehatan adalah investasi jangka panjang yang tidak ternilai harganya.
Ketika seseorang jatuh sakit maka bukanb tidak mungkin biaya yang dia
keluarkan untuk penyembuhan jauh lebih mahal dibandingkan biaya perawatan
kesehatan secara rutin. Jadi, sebagai perawat keluarga, saya akan menekankan hal
ini kepada masyarakat, dengan harapan mereka jauh lebih peduli dengan keadaan
kesehatan mereka sebelum jatuh sakit.
Di negara maju, seperti di Amerika, mereka mampu menurunkan angka kesakitan
dan kematian melalui pengembangan program keperawatan komunitas-keluarga.
Posyandu sebagai fasilitas kesehatan yang gratis, dan sering didatangi oleh
masyarakat, akan saya jadikan sebagai tempat pertama untuk menjangkau
masyarakat agar mau menerima saya sebagai perawat keluarga . Program perawat
keluarga, tidak akan dapat berjalan dengan lancar jika hanya sedikit keluarga yang
mau diberi intervensi keperawatan. Jadi, adalah sebuah poin penting untuk bisa
menjalin trust dengan masyarakat sebelum mendatangi tiap keluarga secara
langsung.
Jika saya telah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, maka saya akan mulai
mengunjungi setiap keluarga di desa bojongsari. Mulai mengkaji kebutuhan
mereka dalam bidang kesehatan, menentukanberada pada tahapan apa mereka
untuk diberi pendidikan kesehatan. Saya akan melakukan intervensi keperawatan
untuk setiap keluarga sehingga mereka tau, mampu dan mau untuk
mempertahankan status kesehatan mereka dan tidak akan terdengar lagi kata kata
ke dokter kalau sudah ada masalah aja. Untuk keluarga yang memiliki anggota
keluarga yang memiliki masalah kesehatan yang tidak haarus dirawat di rumah
sakit namun perlu dikontrol seperti yang terkena hipertensi, stroke atau diabetes,
maka saya akan member pendidikn kesehatan untuk menjaga dan merawat
anggota keluarga tersebut, sehingga anggota keluarga tersebut tidak menurun
kesehatnnya, dan kualitas hidupnya lebih baik. Dengan melakukan intervensi
keperawatan keluarga maka setiap keluarga di desa bojongsari akan menjadi
keluarga mandiri dalam hal kesehatan. Dengan adanya keluarga mandiri secara
kesehatan, maka ini juga akan membantu pencapaian millennium goals Indonesia
yaitu menurunkn angka kesakitan dan kematian di Indonesia.
Selain itu menjadi perawat di tengah masyarakat masih hal yang tidak begitu
umum, sereotip masyarakat terhadap perawat masih sedikit buruk, terkadang
bahkan masih banyak orang yang bahkan tidak bisa membedakan perawat dan
bidan. Maka dengan saya hadir di tengah masyarakat bojpongsari sebagai perawat
keluarga, akan dapat mengubah pandangan masyarakat mengenai perawat dan
sekaligus menyehatkan masyarakat desa bojongsari.
Saya berharap dengan adanya saya menjadi perawat keluarga di desa bojongsari
saya berharap Bojongsari menjadi desa yang sehat dan menurun angka kesakitan
dan kematiannya.

Jika Aku Menjadi
Christa D. Gracia
Pada tanggal 20 Juni 2014, aku dan 20 teman lainnya yang merupakan mahasiswa
KKNM UNPAD 2014 tiba di Desa Bojongsari, Jampang Kulon, Sukabumi,
tempat kami akan melaksanakan kegiatan KKNM kami. Perjalanan panjang
selama kurang lebih 9 jam telah kami tempuh untuk mencapai desa ini. Desa
Bojongsari merupakan salah satu dari 4 desa pilihan di Kecamatan Jampang
Kulon. Desa ini merupakan desa yang terbilang maju dan memiliki banyak
potensi bila dilihat dari proses pemetaan yang kami telah lakukan bersama.
Di desa Bojongasari, rata-rata penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai
petani. Untuk ibu-ibu di desa ini banyak yang menjadi Ibu Rumah Tangga, dan
ada sebagian yang ikut pergi ke sawah untuk bertani. Lingkungan di Desa
Bojongsari kebanyakan bisa dibilang asri. Ada beberapa wilayah desa yang sudah
dilombakan menjadi desa sehat di tingkat Kabupaten. Dalam segi pemerintahan
dan sosial, Desa Bojongsari termasuk desa yang memiliki aparat desa yang
adekuat serta kompeten dalam menjalankan perannya masing-masing.
Pelaksanaan pemerintahan desa dan kelompok-kelompok masyarakat juga
berjalan dengan lancar, terutama untuk kelompok tani. Dilihat dari sisi geografis,
Desa Bojongsari terletak tidak terlalu jauh dari Sungai Ciseureuh yang juga
memiliki curug. Desa ini juga kebanyakan terletak di dataran rendah karena di
daerah ini sudah mendekati pantai.
Masyarakat Desa Bojongsari dijumpai sangat ramah. Bagi mereka, kami adalah
tamu yang ditunggu-tunggu. Kedatangan kami pun disambut dengan hangat oleh
seluruh warga desa. Kami menempati rumah dari 2 warga desa, Mama Haji dan
Ibu Wawan, dan mereka dengan senang hati membantu kami dalam proses kami
tinggal selama di desa ini. Masyarakat di sekitar seperti anak-anak kecil yang ada
di sekitar rumah tinggal kami juga sangat senang berkunjung untuk bersosialisasi
dengan kami, bahkan mengantarkan kami ke daerah-daerah desa yang belum kami
ketahui. Ibu-ibu di sekitar rumah tinggal kami juga sangat antusias dalam
menyambut kami. Tetangga di sekitar kami sangat ramah dan siap membantu
apabila kami butuh bantuan ataupun apabila ada yang mau kami tanyakan.
Bagiku pribadi, desa ini memiliki banyak sekali potensi untuk usaha menengah
kecil. Hal ini membuatku membayangkan apabila aku menjadi Ibu Rumah Tangga
di Desa Bojongsari. Bila dilihat dari kondisi sehari-harinya, Ibu Rumah Tangga di
Desa Bojongsari sangat berpotensi untuk membuka usaha menengah kecil berupa
kerajinan tangan ataupun hasil makanan olahan. Ibu Rumah Tangga di Desa
Bojongsari dilihat cukup banyak jumlahnya. Meskipun ada beberapa yang
terkadang ikut pergi ke sawah untuk bertani, banyak di antara mereka yang
kebanyakan diam di rumah sepanjang hari untuk mengurus rumah ataupun
menjaga warung.
Bila aku menjadi Ibu Rumah Tangga, waktu luang yang aku miliki akan aku
manfaatkan untuk membuat berbagai kerajinan yang dapat menghasilkan uang.
Contoh nyata kerajinan yang dapat aku buat tanpa bergantung kepada musim
panen adalah membuat kerajinan tas ataupun payung dari sampah bekas bungkus
kopi ataupun deterjen. Aku memilih bahan kerajinan dari sampah karena di desa
ini pula masih kurang pengelolaan sampah. Sehingga sampah-sampah yang ada
sangat bisa dimanfaatkan untuk didaur ulang.
Hasil kerajinan pun akan berguna, dan menghasilkan uang yang menguntungkan
bagi penghasilan keluarga. Hal ini juga bisa dijual di warung-warung sekitar
lingkungan, ataupun bisa dititipkan di pasar agar bisa terjual juga. Modal usaha ini
juga terbilang kecil karena memanfaatkan bahan bekas, hanya perlu ditambah
keterampilan menjahit, serta alat jahit ataupun lem. Karena hal ini tidak
membutuhkan keterampilan yang bisa dibilang sulit, sehingga hal ini juga dapat
diajarkan atau dilakukan bersama-sama, sehingga usaha ini bukan sebagai suatu
beban, melainkan menjadi suatu hal yang dapat dilakukan bersama secara
menyenangkan.
Selain menjalankan usaha menengah kecil, bila aku menjadi Ibu Rumah Tangga di
desa ini, aku akan berusaha menjaga keasrian dan kebersihan yang sudah baik di
desa ini. Banyak potensi dari tipe rumah di desa ini yaitu dengan adanya
pekarangan yang luas disertai dengan teras yang nyaman. Sebagai Ibu Rumah
Tangga, saya berniat untuk melakukan penanaman bunga, tanaman hias, ataupun
apotek hidup bersama-sama warga. Selain menambah kehijauan desa, tanaman
yang ditanam dapat menambah nilai keasrian serta dapat pula dimanfaatkan
sebagai obat ataupun bahan bumbu sehingga tidak perlu membeli lagi.
Bila menghitung modal yang digunakan untuk hal ini, tergolong tidak cukup
mahal. Untuk pot dapat memanfaatkan sampah kaleng bekas dengan ukuran yang
disesuaikan, dan untuk pupuk bisa dimanfaatkan dari sampah organik yang
sebelumnya memang jarang diolah kembali di desa ini.
Akhir kata, apabila aku menjadi Ibu Rumah Tangga di desa ini, akan ada banyak
hal yang bisa dimanfaatkan yaitu usaha kecil menengah serta gerakan untuk
menjaga kelestarian dan keasrian desa ini.

Jika Aku Menjadi Dokter Gigi di Desa Bojongsari Jampang Kulon Kabupaten
Sukabumi

Nama : Laras Annisa Fitri
NPM : 160110110128

Sabtu tanggal 21 Juni 2014 hari pertama tiba di desa Bojongsari Jampang
Kulon Kabupaten Sukabumi, disini saya menemukan desa yang sejuk, dan asri.
Warga yang ramah, suasana desa yang nyaman. Desa ini terdiri dari 4 dusun yang
pertama ada dusun Talagasari, Cijorong, Nyalindung, dan Leuwinanggung.
Masyarakat didesa ini memiliki mata pencaharian sebagai petani, peternak dan
penghasil gula merah yang berbahan dasar kelapa. Di desa ini sangat banyak
potensi yang didapat yaitu terdapat potensi wisata yang belum banyak orang tahu
yaitu, curug ciseureuh, curug kecil yang indah namun belum terjamak oleh orang
banyak. Dan masih banyak lagi potensi yang terdapat disini.

Setelah selama 30hari saya berada didesa ini khususnya di dusun Cijorong,
saya melakukan pemetaan dan wawancara dengan warga sekitar. ternyata desa
Bojongsari ini pernah mendapat gelar Desa Sehat tingkat provinsi. Dengan
diraihnya predikat tersebut saya berfikir bahwa kesehatan disini sudah terjamin.
Namun pada kenyataannya setelah saya wawancara dengan warga sekitar tenaga
dokter disini masih kurang, walaupun di desa ini tidak pernah terjadi wabah yang
berbahaya. Penyakit di desa ini masih berkisar mengenai peyakit standar di
kalangan masyarakat yaitu, demam, flu dan yang lainnya. Dokter hanya datang
sekitar sebulan sekali, namun itupun terkadang dokternya masih tidak ada. Dan
ketika saya perhatikan lingkungan desa ini masih kurang tempat sampah bahkan
tidak ada, lalu pengelolaan sampahnyapun masih buruk karena tidak terdapatnya
tempat pembuangan akhir sampah jadi kesadaran akan kesehatan
lingkungannyapun sebetulnya belum maksimal.

Masalah kesehatan selain bisa dilihat dari segi lingkungan, bisa juga
dilihat dari kesehatan warga warga di Desa Bojongsari. Mereka masih
menganggap kesehatan itu sesuatu yang bukan jadi masalah ketika keadaan
mereka tidak sakit. Salah satu faktor kurangnya kesadaran kesehatan juga yaitu
Masalah yang biasa terjadi di desa yaitu tenaga kesehatan yang kurang.
Kurangnya tenaga kesehatan dibuktikan dengan, dokter umum dan dokter gigi
tidak ada, jika adapun dokter tersebut berpusat di puskesmas dan Rumah sakit
yang jaraknya cukup jauh, jadi mereka hanya berobat ke bidan atau paraji karena
disekitar pemukiman warga terdapat bidan dan paraji. tidak ada dokter atau dokter
gigi yang melayani masyarakat sekitar. Padahal seperti kita tahu bidan atau paraji
tidak mempunyai keahlian dalam bidang kedoktrean gigi. Dan ketika saya
bertanya pada warga mereka hanya ke dokter gigi ketika gigi mereka mengalami
sakit, padahal dari kerusakan gigi yang mungkin dianggap sepele bisa jadi
menambah parah dan sakitnya bisa kemana - mana.

Dengan kurangnya masalah kesehatan terutama tingkat kesadaran
masyarakat akan kesehatan khususnya gigi dan mulut, saya akhirnya tergerak
untuk meningkatkan pelayanan dokter gigi di desa, misalnya dengan cara
mengajak rekan rekan sejawat untuk membuat klinik kecil di desa yang
pelayanan kesehatannya kurang. Karena biasanya masalah utama dari masyarakat
desa adalah jarak untuk berobat. Dengan pelayanan yang bagus seperti di kota
namun harga dan pelayanan yang baik dan jarak yang tidak jauh dari desa.
Melakukan penyuluhan di desa Bojongsari mengenai segalanya yang
berhubungan dengan kesehatan terkait dengan masalah kesehatan lingkungan di
desa Bojongsari, namun selain kesehatan lingkungan kesehatan ibu dan anak, gigi
dan mulutpun perlu dilakukan penyuluhan karena gigi dan mulut merupakan
bagian yang penting bagi kelangsungan kesehatan masyarakat. Solusi lain untuk
menanggulangi pelayanan kesehatan yaitu saya akan mengadakan puskesmas
keliling, saya akan meminta bekerjasama dengan pemerintah untuk mengadakan
puskesmas keliling setiap seminggu tiga kali.

Saat ini kesadaran masyarakat mengenai kesehatan gigi dan mulut masih
kurang dikarenakan mereka masih menganggap enteng masalah kesehatan gigi
dan mulut. Padahal sebenarnya daerah kepala terutama rongga mulut banyak
terdapat saraf yang membuat penyakit gigi dapat menjalar kemana mana kerena
itu dapat membahayakan organ lain. Saya sebagai dokter, khususnya dokter gigi
ingin menyejahterakan masyarakat, ingin menyadarkan pentingnya kesehatan gigi
dan mulut yang bisa di mulai dari suatu desa yaitu Desa Bojongsari. Karena tugas
seorang dokter adalah mengobati dan mencegah penyakit yang terjadi pada
masyarakat.







Nama : Lengga Priany
NPM : 140210110089
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Tugas Essay Jika Aku Menjadi

Nama saya adalah Lengga Priany, seorang mahasiswa tingkat tiga Jurusan
Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Padjadjaran. Saya sedang mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa
(KKNM) di Desa Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi.
Ketika menulis tugas essay ini, saya telah mencapai hari ke-28 dalam kegiatan
KKNM.
Saya terkesan saat melihat kondisi sosial masyarakat ketika pertama kali
menapakkan kaki di Desa Bojongsari ini. Masyarakat sangat ramah dan hangat
kepada saya juga kepada teman-teman satu kelompok KKNM di desa ini. Kesan
lain yang saya dapat dari masyarakat Desa Bojongsari adalah terjalinnya dengan
baik tali silaturahmi antar masyarakat, terlihat dari bagaimana masyarakat
berinteraksi saat pengajian yang hampir setiap minggu diadakan di desa ini. Dari
masyarakat, saya pun belajar kehidupan yang sederhana namun sangat
kekeluargaan, jauh dari kehidupan glamor seperti yang ada di kawasan perkotaan.
Menurut informasi yang saya dapat dari pemerintah setempat, Desa
Bojongsari memiliki kondisi geografis dengan luas wilayah sekitar 1310 ha. Luas
wilayah tersebut diantaranya areal pemukiman 36,175 ha, sawah serta ladang
753,682 ha dan lain-lain 520,143 ha. Maka dapat dibayangkan ketika melewati
desa ini, pemandangan dominan yang terlihat adalah hamparan sawah yang luas
dan indah serta udara sejuk dengan temperatur yang berkisar antara 22-28"C.
Dengan areal sawah yang hampir tiga perempat dari luas wilayah total,
masyarakat banyak yang berprofesi sebagai petani. Namun, menurut data yang
diperoleh, mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah petani, yaitu
sebanyak 2885 orang, sedangkan buruh tani sekitar 487 orang.
Jarak yang jauh antara Desa Bojongsari dengan pasar tradisional atau
pusat perbelanjaan adalah kemungkinan menjadi salah satu alasan masyarakat
berprofesi sebagai petani. Di sekitar tempat saya tinggal pun banyak sekali warga
yang bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, seperti sayuran,
buah-buahan dan kebutuhan primer lainnya. Tingginya jumlah masyarakat yang
berprofesi sebagai petani membuat pola hidup masyarakat yang lebih produktif.
Terlihat dari tingginya produk produk yang dihasilkan terutama makanan yang
merupakan hasil dari produksi masyarakat itu sendiri. Tingkat produksi
masyarakat yang tinggi berimbas pada produksi sampah yang tinggi pula.
Meskipun, Desa Bojongsari ini merupakan salah satu contoh Desa sehat yang
bebas dari tinja dan dengan pengelolaan MCK yang benar, namun untuk
permasalahan pengelolaan sampah itu masih kurang begitu baik.
Aspek pola hidup sehat masyarakat dapat dilihat dari cara masyarakat
mengelola sampah yang mereka hasilkan. Tempat pembuangan akhir (TPA)
sampah di desa ini hanya ada satu sehingga dapat dikatakan minim, apalagi
pengelolaannya. Menurut kacamata saya, pengelolaan sampah di desa ini sangat
kurang bahkan memprihatinkan. Banyak masyarakat yang lebih memilih
membakar sampah daripada mengelolanya. Padahal, seperti yang kita ketahui, gas
karbon monoksida (CO2) yang dihasilkan dari pembakaran sampah tersebut
membahayakan kesehatan masyarakat bahkan limbah hasil pembakarannya pun
berdampak buruk pada lingkungan.
Berdasarkan pemasalahan tersebut, jika saya menjadi bagian dari
masyarakat Desa Bojongsari, saya ingin mengamalkan ilmu yang saya peroleh
dari Jurusan Kimia FMIPA, Universitas Padjadjaran. Saya akan mencoba untuk
mengubah pola hidup sehat masyarakat Desa Bojongsari menjadi lebih baik
dengan cara mengelola sampah dengan cara yang lebih ilmiah dan tidak
berdampak buruk pada kesehatan maupun pada lingkungan.
Cara yang saya tempuh salah satu diantaranya adalah dengan membangun
biogas secara sederhana agar dapat dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.
Alat biogas adalah alat yang dapat mengeluarkan gas yang dihasilkan dari
perombakan atau penguraian bahan organik oleh bakteri. Penguraian tersebut
terjadi di ruang yang kedap udara sehingga prosesnya terjadi secara anaerobik.
Contoh bahan organik yang dapat dijadikan biogas ialah daun-daunan,
limbah sayuran, kotoran hewan ternak (seperti sapi, kambing, atau ayam), atau
bahan organik lainnya yang mudah hancur. Terlebih lagi di desa ini banyak
masyarakat yang memiliki hewan ternak. Kotoran hewan ternak yang dihasilkan
lebih baik dimanfaatkan untuk biogas, daripada dibuang begitu saja ke selokan
atau sungai yang dapat mencemari lingkungan. Selain itu, limbah organik rumah
tangga, seperti sampah dari sayuran dari sisa makanan dapat dimanfaatkan pula
untuk dikonversi menjadi biogas. Gas yang dihasilkan dari penguraian ini adalah
gas metana (CH4) dan gas karbon dioksida (CO2). Gas metana bisa dimanfaatkan
untuk memasak, menghasilkan listrik, menyalakan lampu, dan lain-lain.
Untuk sampah atau limbah rumah tangga yang bersifat anorganik, seperti
botol bekas, kaleng bekas, pelastik, dapat dimanfaatkan kembali dengan cara
didaur ulang. Kegiatan daur ulang sampah anorganik dapat dilakukan apabila
masyarakat diberikan informasi atau penyuluhan mengenai pengelolaan sampah
tersebut. Hal inilah yang ingin saya lakukan selanjutnya bila saya menjadi warga
Desa Bojongsari.
Tinggal di Desa Bojongsari adalah pengalaman yang akan menjadi
pelajaran dalam hidup saya. Selama satu bulan saya berbaur dengan masyarakat di
lingkungan yang baru dan keadaannya sangat berbeda dengan domisili saya. Saya
telah beradaptasi dengan budaya masyarakat dengan cara mengikuti, mengamati,
dan mengambil pelajaran dari kebiasaan-kebiasaan yang ada di masyarakat, baik
itu yang positif ataupun negatif. Kesempatan untuk tinggal di Desa Bojongsari
merupakan kesempatan yang sangat berarti dan tak terlupakan.
Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih kepada pihak Universitas
Padjadjaran, Desa Bojongsari, dan teman-teman satu kelompok KKNM. Semoga
semua pengalaman yang saya peroleh selama satu bulan ini dapat menjadi bekal
di masa yang akan datang.


JIKA AKU MENJADI KETUA PKK DI DESA BOJONGSARI, JAMPANG
KULON, SUKABUMI


NAMA : BELLA AMANDA MAHARANI
NPM : 190110110150
FAKULTAS : PSIKOLOGI


Secara kasat mata, jika memasuki desa Bojongsari, kecamatan Jampang
Kulon, kabupaten Sukabumi yang terlihat adalah desa yang asri, damai, dan sepi.
Namun setelah mendalami dan ikut tinggal beberapa hari disana, baru dapat
terlihat ramainya kehidupan di desa yang dipilih menjadi perwakilan desa sehat di
kabupaten Sukabumi ini. Profesi yang banyak digeluti oleh masyarakat desa
adalah petani, menjadikan masyarakat lebih banyak beraktivitas di ladang
pertanian masing-masing. Cukup sulit untuk melihat aktivitas masyarakat di
depan rumah saat pagi hingga siang hari. Saat keliling desa pun, petani yang
tampak lebih banyak ibu-ibu, yang berada di depan rumah saat sore hari juga ibu-
ibu. Hal tersebut dikarenakan kebanyakan bapak-bapak atau kepala keluarga
bekerja keluar desa, walaupun tidak sedikit juga yang ikut turun ke ladang
pertanian.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, para ibu-ibu atau wanita di
desa memiliki potensi dalam menghasilkan hal yang bermanfaat bagi desa.
Mereka tampak ulet dan senang bekerja. Contohnya, desa ini paling banyak
menghasilkan gula merah yang berasal dari kelapa aren. Para pembuatnya pun tak
lain adalah para wanita yang berada di desa. Mereka mengaku tidak ada pekerjaan
lain selain mengurus keluarga. Pembuatan gula merah ini pun sangat sederhana,
hanya dikerjakan di depan rumah. Namun dapat sangat produktif karena
dikerjakan setiap hari. Adapun gula merah ini tidak dijual sendiri melainkan dijual
dengan harga yang terbilang cukup murah kepada tengkulak. Contoh lainnya, ibu-
ibu lain yang bekerja sama membuat opak. Namun opak yang disebutkan menjadi
makanan khas di Jampang Kulon ini hanya untuk konsumsi pribadi atau untuk
acara khusus saja. Sungguh sangat disayangkan.
Dengan keadaan yang telah dijabarkan diatas membuat saya berpikir untuk
bagaimana memanfaatkan potensi para wanita di desa Bojongsari ini. Yang paling
mampu untuk menggerakkan para wanita adalah memaksimalkan fungsi PKK
(Pemberdayaan dan Kesejaheraan Keluarga) di desa ini. Dengan salah satu tugas
PKK adalah menggali, menggerakkan dan mengembangkan potensi masyarakat.
Fungsi ini yang belum saya lihat di desa ini. Sebab belum adanya terlihat kegiatan
rutin yang dilakukan di desa ini. Yang ada hanya seperti pengajian rutin yang
tidak menghasilkan barang nyata. Sedangkan yang saya bayangkan adalah adanya
perkumpulan para wanita yang bekerja sama memproduksi suatu barang hingga
dapat dikatakan menghasilkan bagi desa tersebut.
Produksi makanan opak di desa ini terbilang cukup banyak. Jika saya
menjadi Ketua PKK di desa Bojongsari, saya akan memperluas penjualan opak
dari desa ini hingga memiliki nama sendiri dan djual ke pasar dengan pemberian
cap asal desa Bojongsari. Hal pertama yang dilakukan adalah membuat
perkumpulan pembuat opak. Produksi dilakukan dengan tujuan untuk
diperdagangkan. Opak-opak dikemas dengan nama jual asal desa Bojongsari dan
diperjualbelikan di pasar terdekat atau bahkan dijual sendiri di pinggir jalan agar
pendatang yang melewati jalan depan dapat membeli langsung opak produksi
hasil desa Bojongsari. Dengan begitu, akan ada hasil desa yang ternama dan
wanita di desa ini dapat membantu perekonomian keluarga maupun desa ini
sendiri. Selain itu, wanita di desa ini dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat
dan membantu mereka dalam mengisi waktu luang. Karena dari apa yang saya
ketahui, para wanita disini jika tidak memiliki pekerjaan, hal yang dilakukan
dalam mengisi waktu luang adalah mengurus anak dan jika sore datang, mereka
hanya duduk-duduk di teras dan melakukan percakapan. Akan lebih baik bila
perkumpulan yang tidak resmi sudah ada itu diresmikan menjadi perkumpulan
yang bermanfaat serta dapat memperluas hubungan interaksi antar masyarakat
desa. Sebab dalam perkumpulan sudah dipastikan akan terdapat interaksi hingga
terjadi pertukaran informasi yang efektif dan secara otomatis menambah
jangkauan perkenalan antar warga.
Sesungguhnya banyak hal lain yang dapat diproduksi dan mengisi waktu
luang selain opak. Salah satunya adalah produksi bahan daur ulang dari sampah.
Seperti membuat tas bekas dari bungkus kopi. Karena kebiasaan masyarakat desa
ini adalah membakar sampah. Sedangkan jika didaur ulang, sampah ini akan
berkurang dan dapat dimanfaatkan untuk menjadi barang yang berguna.
Intinya, pemberdayaan wanita di desa ini belum terlihat. Dengan jika saya
menjadi Ketua PKK, saya akan memberdayakan potensi wanita di desa ini
semaksimal mungkin hingga bermanfaat dari diri sendiri hingga untuk desa ini
secara keseluruhan.
a
JIKA AKU MENJADI PERAWAT DI DESA BOJONGSARI, JAMPANG
KULON, SUKABUMI

NAMA : GUSTI AYU RADHITIA OCTAVIA
NPM : 220110110051
FAKULTAS : KEPERAWATAN

Selama melakukan pemetaan, observasi, dan tanya-jawab dengan beberapa
responden di Desa Bojongsari, saya menemukan beberapa informasi bahwa dusun
Cijorong, desa Bojongsari pernah mendapat gelar Desa Sehat tingkat Provinsi.
Namun, masih ada beberapa dusun yang belum tergolong Desa Sehat. Selama
saya tinggal di desa Bojongsari selama 30 hari, saya menemukan bahwa ada
beberapa dusun yang memiliki warga dengan mayoritas lansia. Hal ini terlihat
ketika saya melakukan interview dengan seorang warga di dusun Talagasari.
Seorang nenek tersebut menderita stroke ringan yang diderita sudah cukup lama.
Beliau memiliki kesulitan dalam mencari pengobatan dan harus pergi berobat ke
Jakarta dikarenakan keterbatasan akses pelayanan kesehatan yang ada di Desa
Bojongsari, khususnya. Hal ini membuat saya tergerak untuk meningkatkan
pelayanan kesehatan di Desa Bojongsari. Di Desa Bojongsari ini memiliki
beberapa posyandu di masing-masing dusun yang buka hanya sebulan sekali dan
letak puskesmas yang cukup jauh.

Selain itu, permasalahan kesehatan yang ada di desa Bojongsari ini adalah
kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada masyarakat. Di dusun
Cijorong, saya pernah melihat ada tanda bahwa dusun Cijorong sudah bebas dari
tinja sedangkan saya tidak menemukan tanda tersebut di dusun lain. Lalu saya
juga mendapat informasi dari seorang bidan yang bekerja keliling di posyandu
bahwa masih banyak warga desa Bojongsari yang masih buang air besar (BAB) di
sembarang tempat. Lalu, di desa Bojongsari ini juga kurang memiliki tempat
sampah di sepanjang jalan desa, apalagi tempat penampungan sampah akhir.
Kebiasaan warga desa Bojongsari yaitu membakar sampah rumah tangga mereka
tanpa mereka pilah terlebih dahulu mana sampah organik dan sampah anorganik.
Hal ini sangat memprihatinkan kondisi kesehatan masyarakat desa Bojongsari
sendiri karena kesadaran mereka terhadap konsep sehat-sakit dan perilaku hidup
bersih dan sehat masih tergolong kurang. Pada dasarnya, kriteria seseorang sudah
memiliki perilaku hidup bersih dan sehat diantaranya adalah persalinan ditolong
oleh tenaga kesehatan; memberi ASI eksklusif; menimbang balita setiap bulan;
menggunakan air bersih; mencuci tangan dengan air bersih dan sabun;
menggunakan jamban sehat; memberantas jentik di dalam rumah sekali seminggu;
makan buah dan sayur setiap hari; melakukan aktivitas fisik setiap hari; dan tidak
merokok di dalam rumah.

Dari beberapa masalah kesehatan yang ada di desa Bojongsari ini, saya
tergerak untuk meningkatkan fungsi posyandu yang ada di desa Bojongsari untuk
mempermudah masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan. Upaya
peningkatan fungsi posyandu yang akan saya lakukan adalah saya akan
meningkatkan program pelayanan keperawatan komunitas yang berfokus pada
aspek promotif dan preventif yang merupakan dasar fungsi dari keperawatan
komunitas itu sendiri. Caranya adalah saya akan sering mengadakan program
penyuluhan kesehatan terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat, konsep
sehat-sakit guna meningkatkan kesadaran mereka terhadap kesehatan, dan
melakukan pengkajian keperawatan kepada ibu hamil, anak, dan lansia. Selain itu,
saya juga akan membuka peluang nursepreneur di desa Bojongsari dengan
membuka balai pengobatan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain untuk
meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di desa Bojongsari.

Upaya-upaya yang akan saya lakukan ini sesuai dengan fungsi
keperawatan yaitu meningkatkan derajat kesehatan manusia secara fisik,
psikologis, sosial, dan spiritual. Selain itu, fungsi keperawatan juga tidak hanya
meningkatkan derajat kesehatan manusia, tapi juga meningkatkan kualitas hidup
manusia. Peran perawat yang dapat diaplikasikan dalam upaya ini adalah peran
perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan mandiri khususnya dalam
melakukan pengkajian-diagnosa-intervensi keperawatan, edukator dalam
memberikan pendidikan kesehatan, dan kolaborator dalam mengajak kerjasama
tenaga kesehatan lain dalam memberikan pelayanan kesehatan.

Upaya lain yang akan saya lakukan adalah mengajak kerjasama aparat
desa untuk meminta dinas kesehatan untuk meningkatkan program BPJS agar
dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan
dan meningkatkan fasilitas dan akses pelayanan kesehatan di posyandu dan
puskesmas Desa Bojongsari yang terjangkau dan berkualitas dan membuat
program kesehatan Desa Bojongsari seperti lomba Posyandu, lomba Dusun Sehat,
dan memperluas wilayah Desa Sehat yang tadinya hanya terletak di dusun
Cijorong menjadi seluruh dusun di wilayah Desa Bojongsari.


Nama: Raksha Priya
NPM: 260110113057
Fakultas: Farmasi
Tema: JIKA AKU MENJADI
Di jampang kulon terdapat sebuah desa atau kelirahan bernama
Bojongsari. Letak desa ini tidak dilewati Jalan Raya Jampang Kulon. Jika
mahasiswa ingin berpergian untuk sekedar berbelanja di pusat Kecamatan
Jampang Kulon , maka mereka harus melewati beberapa desa. Bojongsari
layaknya kawasan eksklusif yang dihuni keluarga besar yang saling bertoleransi.
Jalan yang terbenteng sepanjamg Bojongsari pun sangat jarang dilewati mobil,
motor, atau bahkan angkutan umum sekalipun.
Dua puluh satu anak KKN Integratif Unpad 2014 mendapat jatah tinggal
di sana. Kami tinggal di rumh sewaan yang letaknya di satu dusun yang benama
Cijorong. Wilayah Bojongsari cukup luas, yaitu 806,755 hektar. Tanah seluas itu
sebagian besar dipergunakan untuk bercocok tanam. Hasilnya berupa kelapa,
pisang, beras dan singkong. Di desa ini masyarakatnya sangat ramah dan berjiwa
kekeluargaan yang tinggi, sangat berbeda dengan kondisi di perkotaan yang
memilki sifat individualitas.
Kebanyakkan warga disana beasal dari kalangan menengah ke bawah. Tak
jarang mereka berada dalam kondisi yang sangat miskin. Banyak kepala keluarga
yang hanya menghasilkan Rp. 10.000,00 per minggu. Mereka makan sehari hari
hanya dengan mengandalkan hasil tani dan sayur sayuran dari kebun mereka.
Terkadang beras yang sudah berhasil dipanen tidak dijual ke pasar, tetapi ditimbun
untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka selama satu semester.
Tema besar KKNM Unpad adalah Belajar Bersama Masyarakat. Kami
dituntut untuk lebih banyak menerima ilmu dan hikmah kehidupan masyarakat
bukan memberi atau pun menggurui masyarakat karena pada intinya KKNM
Unpad 2014 adalah pengabdiandan pembelajaran mahasiswa terhadap keseharian
warga desa. Warga Bojongsari hamper 70% berprofesi sebagai petani dan
sebagian pengrajin gula merah.
Selain menjadi petani warga Bojongsari banyak juga menjadi pengrajin
gula merah. Dengan kondisi daerah yang kebanyakan persawahan menyebabkan
banyaknya pohon kelapa tumbuh subuh di pinggir pinggirnya.potensi ini
digunakan oleh warga untuk membuat gula merah dari kelapa. Salah seorang
pengrajin gula merah yang kami datangi yang mengajar kami membuat gula
merah. Beliau sudah delapan tahun berprofesi menjadi pengrajin gula merah
bersama suaminya. Kami mengikuti proses pembuatan gula merah ini dari awal,
mulai dari proses pengambilan sari kelapa dari pohon hingga pembuatan gula
merah. Sari kelapa yang diambil bernama lahang, setelah air kelapa ini
terkumpul lalu dimasukkan ke dalam ketel besar dengan tungku yang sangat
besar pula. Lahang ini dimasak dengan suhu yang sangat tinggi kurang selama
enam jam.
Biasanya proses pembuatan gula merah ini dimulai dari pukul 5.30 pagi
untuk pengambilan air lahang. Setelah dimasak selama berjam jam di tunku
yang sangat panas, dan air lahangnya menjadi lebih kental atau mengeras
diteruskan dengan proses pencetakan gula merah ke dalam potongan potongan
kecil pohon bambu. Potongan kecil pohon bambu itu direndam air terlebih dahulu
supya mudah untuk mengeluarkan gulanya.proses ini juga cukup berbahaya,
karena dalam kondisi yang masih panas air lahang yang sudah mengeras
dipindahkan ke cetakan. Dalam sehari Ibu tersebut dan suaminya bisa
menghasilkan sekitar delapan kilo gula merah. Harga sekilo gula merahnya adalah
sembilan ribu. Tapi kebanyakkan dari pengrajin gula merah ini tidak memiliki
pohon kelapa sendiri, jadi ada biayai tambahan yang harus dibayar oleh Ibu dan
para pengrajin gula merah. Kegiatan belajar memuat gula merah ini kami
laksanakan selama satu hari, yaitu pada tinggal 10 Juli 2014.
Pelajaran berharga yang kami peroleh adalah kami lebih bisa, menghargai
orang orang sekitar yang bekerja keras dengan resiko tinggi dan penghasilan
yang tidak seberapa. Dan bagaimana hangatnya rasa kekeluargaan yang diberikan
oleh Ibu tersebut kepada kami. Semoga kedatangan kami untuk belajar membuat
gula merah ini memberikan semangat lebih bagi Ibu dan pengrajin gula yang lain.
Dan yang pasti merekalah yang mengajari kami bukan kami menggurui mereka.

JIKA AKU MENJADI AHLI BUMI (GEOLOGIST) DI DESA BOJONGSARI,
JAMPANG KULON, SUKABUMI

NAMA : SUCI SARAH ANDRIANY
NPM : 270110110091
FAKULTAS : TEKNIK GEOLOGI

30 hari masa KKN telah dilewati, banyak sekali hal yang telah dilalui
dengan teman-teman KKN maupun warga desa Bojongsari. Dalam KKN ini
banyak kegiatan yang dilakukan untuk turun langsung ke masyarakat,
bersosialisasi, ikut serta dalam kegiatannya, maupun membuat atau membantu
progra desa yang sedang berjalan maupun baru dibuat di desa tersebut. Kegiatan
yang kami lakukan disini sangat bervariasi, hal ini dikarenakan latar belakang
keilmuan kami yang berbeda-beda dan yang sesuai dengan kebutuhan desa.
Sebelum melakukan berbagai kegiatan, kami memulainya dengan melakukan
pemetaan sosial yang mengacu pada banyak aspek yang berpengaruh di
lingkungan desa ini.
Salah satu permasalahan yang menjadi fokus saya ialah kurangngnya
pengelolaan pada wisata alam yang ada di daerah Bojongsari dan sekitarnya.
Sampah dan fasilitas yang tidak terawat dengan baik menjadi primadona di setiap
kawasan wisata alam yang ada disini (beberapa tempat wisata alam yang saya
kunjungi di waktu KKNM ini berjalan). Hanya beberapa masyarakat yang
mencari peluang dalam bidang ini. Kurangnya upaya pemerintah dalam
memperkenalkan wisata alam disini juga berdampak pada berkurangnya
pengunjung yang datang setiap tahunnya. Sangat disayangkan, mengingat tempat
wisata teresebut mempunyai objek alam yang sangat indah dan tidak akan pernah
ditemui yang sama di tempat lainnya, dikarenakan tempat tersebut terbentuk
secara alamiah, hasil karya tuhan yang maha kuasa.
Sebagai Ahli Bumi, saya sangat ingin membantu dalam optimalisasi
pariwisata alam di Desa Bojongsari, ini merupakan salah satu mimpi saya. Hal ini
dilatarbelakangi oleh keilmuan saya yang belajar mengenai keterbentukan suatu
fenomena alam yang hanya bisa terjadi secara alamiah. Geologi bukan hanya
sekedar belajar mengenai eksplorasi sumber daya alam yang ada, tetapi juga
memanfaatkan sumber daya alam yang bersifat langka, yang dapat dikonservasi
dengan baik tanpa harus dilakukan eksplorasi di tempat tersebut. Salah satu
program konservasi geologi yang telah berjalan saat ini, adalah program
Geowisata (Wisata Bumi). Geowisata merupakan sebuah konsep pariwisata baru
yang mengedepankan konsep geologi dalam penjelasan suatu tempat pariwisata
tersebut. Dimana geologi akan menguak keterbentukan tempat tersebut, mulai dari
cara terbentuknya dan potensi geologi apa saja yang bisa dimanfaatkan dari
tempat tersebut.
Pada KKN ini, kami mengunjungi beberapa tempat yang berpotensi untuk
diterapkan konsep geowisata, yaitu : Curug Ciseureuh, Curug Cikaso, Pantai
Minajaya, dan Pantai Ujung Genteng. Hal ini dikarenakan tempat tersebut terjadi
secara alamiah dan banyak faktor geologi yang dapat diceritakan dari tempat
tersebut. Misalnya : Curug Cikaso yang menampilkan tiga air terjun yang saling
bersebelahan yang berada berdekatan dengan muara sungai Ciseureuh.
Terbentuknya suatu curug bisa diakibatkan oleh adanya patahan aktif yang
bergerak di daerah tersebut, seperti yang kita ketahui, bumi terdiri dari lempeng-
lempeng yang saling bergerak.
Upaya-upaya yang akan saya lakukan ini sesuai dengan konsep geowisata
ini dalam upaya pengembangan tempat pariwisata disini, yaitu: melakukan
pemetaan geologi di daerah tersebut, untuk melihat berbagai situs geologi yang
berhubungan di lingkup wilayah tersebut, juga untuk mengungkap sejarah geologi
tempat tersebut secara urut. Lalu, geowisata ini sendiri akan dilengkapi dengan
jalur treking yang sesuai dengan kebutuhan para pengunjung. Berbagai
penjelasan-penjelasan kecil dalam bentuk papan atau kaca informasi juga akan
dipasang di berbagai tempat yang dapat dijelaskan sejarah geologinya. Pelatihan
beberapa warga sekitar untuk dapat memandu wisata juga akan menaikkan
pendapatan mereka. Mereka pun juga dapat bekerja sebagai penyedia tempat
tinggal maupun konsumsi yang dapat menambah pendapatan mereka pula. Upaya
pengembangan pariwisata ini sangatlah menjanjikan pendapatan yang besar,
apabila kita dapat memaksimalkan segala fasilitas penunjangnya yang ada disana.
Upaya pengembangan pariwisata ini juga harus disokong langsung oleh
warga Desa Bojongsari, aparat pemerintahan desa, dan masyarakat yang hidup di
sekitar tempat Bojongsari. Dinas pariwisata dan lingkungan Sukabumi juga sangat
berperan dalam membantu membangun sarana prasarana yang dibutuhkan disana,
juga dalam publikasi tempat tersebut ke masyarakat Indonesia. Ini adalah salah
satu upaya yang dapat saya lakukan sebagai sarjana geologi nantinya dalam
membantu pengembangan Desa Bojongsari.

Jika Aku Menjadi Dokter Gigi di Desa Bojongsari
oleh Trima Yusiana, Fakultas Kedokteran Gigi, 160110110082

Penyebaran Dokter Gigi di Indonesia masih tergolong tidak merata. Dokter
gigi masih terpusat di daerah perkotaan. Masih banyak sekali masyarakat yang
tidak tersentuh oleh pelayanan kesehatan gigi dan mulut, tidak terkecuali Desa
Bojongsari. Hal ini menyebabkan kurangnya kesadaran masyarakat dalam
menjaga kesehatan terutama kesehatan gigi dan mulut. Tiga puluh hari sudah saya
menghabiskan waktu bersama dua puluh teman-teman baru di Desa Bojongsari,
Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi.
Desa Bojongsari terdiri dari empat buah dusun yakni Dusun
Leuwinanggung, Dusun Talagasari, Dusun Cijorong dan Dusun Nyalindung. Desa
ini merupakan desa yang terpilih sebagai partisipan Desa Sehat khususnya Dusun
Cijorong. Selain itu, posyandu di Dusun Cijorong pernah terpilih sebagai
posyandu terbaik se-Jawa Barat. Dusun ini sangat bersih dan asri, namun saya
terdapat tempat pembuangan sampah. Masyarakat desa ini terbiasa untuk
membakar sampah di setiap rumah.
Setelah melakukan pemetaan sosial, saya mendapatkan beberapa informasi
mengenai masalah kesehatan yang ada di Desa Bojongsari. Desa Bojongsari
memiliki enam posyandu dan satu puskesmas. Sayangnya, karena jauhnya akses
menuju puskemas, masih banyak masyarakat yang belum tersentuh pelayanan
kesehatan oleh puskesmas. Puskesmas ini hanya memiliki satu praktek dokter
gigi, tapi tidak terdapat praktek dokter gigi pribadi sehingga belum terbentuk
kesadaran akan kesehatan gigi dan mulut. Selain itu, akses yang jauh dan biaya
yang tidak murah menjadi salah satu alasan warga desa Bojongsari tidak datang
ke dokter gigi secara rutin. Sebagian besar warga Bojongsari masih percaya untuk
pergi ke mantri untuk mendapatkan pelayanan masyarakat.
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut harus terdiri dari empat aspek yaitu
aspek preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Aspek preventif dapat berupa
aspek pemberian topical flouride pada usia dini guna mencegah gigi berlubang,
ataupun berkunjung ke dokter gigi empat bulan sekali. Aspek promotif dapat
berupa penyuluhan mengenai kesehatan gigi dan mulut, penyuluhan cara sikat
gigi yang baik dan benar, mengatur pola makan agar tidak mudah terkena
penyakit gigi dan mulut. Aspek promotif juga dapat berupa pemberian poster
poster mengenai kesehatan gigi dan mulut yang disimpan di sekolah-sekolah, atau
di tempat yang terlihat oleh masyarakat desa. Aspek kuratif berupa pemberian
pengobatan gigi kepada masyarakat. Aspek terakhir, yakni aspek rehabilitatif
dapat berupa kontrol gigi pasca perawatan kesehatan gigi dan mulut.
Jika saya menjadi dokter gigi di desa Bojongsari, hal yang pertama akan
saya lakukan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya
kesehatan gigi dan mulut. Hal ini dapat dilakukan dengan melaksanakan
penyuluhan keliling secara rutin di setiap dusun di Desa Bojongsari Penyuluhan
dapat dibagi menjadi beberapa katagori seperti penyuluhan kepada anak-anak
sebelum sekolah, penyuluhan kepada anak sekolah setiap tingkatan (anak SD dan
SMP karena tidak ada SMA di desa Bojongsari), penyuluhan kepada pemuda-
pemudi desa, penyuluhan kepada karang taruna, penyuluhan kepada Ibu PKK,
Gapoktan dan organisasi lainnya yang terdapat di desa Bojongsari.
Selain melakukan penyuluhan, saya juga akan melakukan program dokter
gigi keliling di setiap tingkatan sekolah yang ada di desa Bojongsari. Juga
pemeriksaan gigi keliling di setiap dusun agar setiap dusun mendapatkan
pelayanan gigi secara merata sekaligus meningkatkan rasa kepedulian dalam
menjaga kesehatan gigi dan mulut dan cara merawat gigi dan mulut dengan baik
dan benar. Program dokter gigi keliling ini bertujuan untuk memperkenalkan diri
sekaligus mempromosikan diri bahwa adanya dokter gigi di desa Bojongsari
sehingga masyarakat termotivasi untuk datang ke dokter gigi, Hal ini penting
karena kedekatan antara dokter gigi dan warga sangat berpengaruh dengan
motivasi warga untuk pergi ke dokter gigi.
Pengobatan gigi memang tergolong tidak murah. Seperti yang telah saya
paparkan diatas, beberapa warga enggan untuk pergi ke dokter gigi akibat biaya
perawatan yang tergolong cukup tinggi. Oleh karena itu, bila saya menjadi dokter
gigi di desa Bojongsari, saya akan memberikan pemberitahuan serta mengenalkan
BPJS kesehatan. Selain itu, saya akan memastikan setiap warga di desa
Bojongsari mendapatkan BPJS kesehatan. Hal ini dapat memotivasi warga untuk
datang ke dokter gigi karena biaya yang dibutuhkan tergolong rendah dan mudah
dijangkau. Selain memperkenalkan BPJS, saya akan berkerja sama dengan FKG
Unpad dalam bidang pengabdian kepada masyarakat untuk mengadakan
pengobatan gratis yang dilakukan secara anual satu tahun sekali, Pengobatan
gratis ini bertujuan agar warga semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan
gigi dan mulut serta memperkenalkan tenaga kerja di bidang kedokteran gigi.
Meningkatkan kesehatan gigi dan mulut tidak dapat instan, butuh waktu
setidaknya 1-2 tahun. Mengubah pola pikir masyarakat mengenai kesehatan
tentulah sulit, tetapi bukan berati tidak bisa dilakukan. Masih banyak orang-orang
di Indonesia yang masih belum tersentuh oleh pelayanan kesehatan gigi. Hal ini
disayangkan karena penyebaran dokter gigi yang belum merata. Saya berharap
kedepannya, terdapat program pemerataan penyebaran dokter gigi di Indonesia,
terutama Jawa Barat, agar seluruh warga Indonesia dapat menyentuh pelayanan
kesehatan gigi dan mulut.