Anda di halaman 1dari 33

BAB 1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Negara Indonesia adalah negara hukum tidak hanya berdasarkan pada kekuasaan belaka,
selain itu juga berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 !al ini berarti Negara
Indonesia menjunjung tinggi hak asasi manusia dan menjamin segala "arga negaranya
bersamaan kedudukannya di dalam hokum dan pemerintahan, serta "ajib menjunjung tinggi
hukum dan pemerintahan itu tanpa ada kecualinya Pernyataan bah"a Indonesia merupakan
negara hukum juga mempunyai konsekuensi, bah"a Negara Indonesia menerapkan hukum
sebagai idiologi untuk menciptakan ketertiban, keamanan, keadilan serta kesejahteraan bagi
"arga negara, sehingga hukum itu bersi#at mengikat bagi setiap tindakan yang dilakukan oleh
"arga negaranya Negara hukum harus memenuhi beberapa unsur antara lain pemerintah dalam
melaksanakan tugas dan ke"ajibannya, harus berdasar hukum atau peraturan perundang$
undangan, adanya jaminan terhadap hak asasi manusia, adanya pembagian kekuasaan dalam
Negara, adanya penga"asan dari badan$badan peradilan
%erkaitan dengan unsur di atas, adanya jaminan terhadap hak asasi manusia &!'(),
dapat diartikan bah"a di dalam setiap konstitusi selalu ditemukan adanya jaminan terhadap hak
asasi manusia &"arga negara) Perlindungan konstitusi terhadap hak asasi manusia tersebut, salah
satunya adalah perlindungan terhadap nya"a "arga negaranya seperti yang tercantum dalam
Pasal *+' Undang Undang Dasar 1945, -.etiap orang berhak untuk hidup serta berhak
mempertahankan hidup dan kehidupannya- Nya"a dan tubuh adalah milik manusia yang paling
berharga dan merupakan hak asasi setiap manusia yangdiberikan oleh /uhan 0ang (aha 1sa dan
tidak ada seorangpun yang dapat merampasnya
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Dan Hakikat Hukum
.ampai saat ini para ahli hukum sendiri pun masih mencari tentang apa de#inisi dari
hukum (embuat de#inisi hukum tidaklah mudah sehingga tidak mungkin orang dapat membuat
de#inisi secara memuaskan .ukarnya membuat de#inisi ini terbukti dari sejak jaman 2oma"i
hingga sekarang tidak ada keseragaman di antara para sarjana atau ahli hukum mengenai de#inisi
hukum
(etode pende#inisian hukum itu sendiri menurut 34 Paton &dalam Pro# Dr 'chmad 'li,
.!, (!) dapat memilih salah satu dari lima kemungkinan, yaitu ,
1 .esuai si#at$si#atnya yang mendasar, logis, religius, ataupun etis
* (enurut sumbernya, yaitu kebiasaan, preseden, atau undang$undang
5 (enurut e#eknya di dalam kehidupan masyarakat
4 (enurut metode pernyataan #ormalnya atau pelaksanaan otoritasnya
5 (enurut tujuan yang ingin dicapainya
(enrut Pro#(r6j 7an 'peldoorn dalam bukunya berjudul 8inleiding tot de studie 7an het
Nederlandse 2ecth &terjemahan 9etarid .adino, .! dengan nama 8Pengantar Ilmu !ukum-),
bah"a adalah tidak mungkin memberikan de#inisi tentang apakah yang disebut hukum itu
De#inisi tentang hukum sangat sulit untuk dibuat karena itu tidak mungkin untuk
mengadakannya yang sesuai dengan kenyataan
'kan tetapi, bayak sarjana hukum mencari suatu batasan tentang hukum namun setiap
pembatasan tentang hukum yang diperoleh belum memberikan kepuasan %eberapa sarjana
tersebut adalah,
a Pro#(r1((eyers dalam bukunya 8De 'lgemene begri#en 7an het %urgerlijk 2ecth-
!ukum ialah semua aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaa, ditujukna kepada
tingkah laku manusia dala masyarakat, dan yang menjadi pedoman bagi penguasa$
penguasa negara dalam melakukan tugasnya
b 6eon Duguit , !ukum ialah aturantigkah laku para anggota masyarakat , aturan yang
daya penggunaannya pada saat tertentu diindahkan oleh masyarakat sebagai jaminan dari
kepentingan bersama dan jika dilanggar, menimbulkan reaksi bersama terhadap orang
yang melakukan pelanggaran itu
c Immanuel :anat , !ukum ialah keseluruhan syarat$syarat yang dengan ini kehendak
bebas dari orang yang atu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak bebeas dari orang
lain, menuruti peraturan hukum tentang kemerdekaan
'dapun sebab mengapa hukum itu sulit diberikan de#inisi yang tepat ialah karena hukum itu
mempunyai segi dan bentuk yang sangat banyak, sehingga tak mungkin tercakup keseluruhan
segi dan bentuk hukum itu dalam suatu de#inisi
(enurut Pro#(uchsin, pada hakekatnya hukum merupakan alat atau sarana untuk
mengatur dan menjaga ketertiban guna mencapai suatu masyarakat yang berkeadilan dalam
menyelengarakan kesejahtraan sosial yang berupa peraturan$peraturan yang bersi#at memaksa
dan memberikan sangsi bagi yang menyelengarakannya, baik itu untuk mengatur masyarakat
ataupun aparat pemerintah sebagai penguasa
Ditambahkan pula oleh Pro# (uchsin, bah"a konsep dasar serta tujuan hukum hanyalah
berbicara pada dua konteks persoalan saja ,
1 :onteks yang pertama adalah keadilan yang menyakut tentang kebutuhan masyarakat
akan rasa keadilan di tengah sangking banyaknya dinamika dan kon#lik di tengah
masyarakat
* :onteks yang kedua adalah aspek legalitas menyangkut apa yang disebut dengan hukum
positi#, yaitu sebuah aturan yang ditetapkan oleh sebuah kekuasaan negara yang sah
dalam pemberlakuannya dapat dipaksakan atas nama hukum
Dua konteks persoalan tersebut di atas seringkali terjadi benturan, dimana hukum positi#
tidak menjamin sepenuhnya rasa keadilan, dan sebaliknya rasa keadilan seringkali tidak memiliki
kepastian hukum Untuk mencari jalan tengahnya komprominya adalah bagaimana agar semua
hukum positi# ada dan hadir selalu merupakan cermin dari rasa keadilan Di samping itu hakekat
hukum bertumpu pula pada idea keadilan dan kekuatan moral, idea keadilan tidak pernah lepas
dengan kaitannya sebab membicarakan hukum, jelas atau samar$samar senantiasa merupakan
pembicaraan mengenai keadilan pula .erupa dengan apa yang di kemukaan oleh Pro# (uchsin,
/heo !uijbers dari tiga tujuan hukum &yaitu kepastian, keadilan, dan keman#aatan) keadilan
harus menempati posisi yang pertama dan utama dari pada kepastian dan keman#aatan
b. Sejarah Perkembangan Hak Asasi Manusia?
Pengertian hak asasi manusia
%erdasarkan Undang$Undang 2epublik Indonesia nomor 59 tahun 1999, !ak 'sasi
(anusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk /uhan 0ang (aha 1sa dan merupakan anugerah$Nya yang "ajib dihormati, dijunjung
tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia Dimana hak asasi manusia ini juga merupakan hak
dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersi#at uni7ersal dan langgeng, oleh
karena itu harus dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau
dirampas oleh siapapun &UU 2epublik Indonesia, 1999)
!nse" Dasar Hak Asasi Manusia
!ak asasi manusia adalah hak$hak yang dimiliki manusia semata$mata karena ia manusia
Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat atau
berdasarkan hukum positi#, melainkan semata$mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia
Dalam arti ini, maka meskipun setiap orang terlahir dengan "arna kulit, jenis kelamin, bahasa,
budaya dan ke"arganegaraan yang berbedabeda, ia tetap mempunyai hak$hak tersebut Inilah
si#at uni7ersal dari hak$hak tersebut .elain bersi#at uni7ersal, hak$hak itu juga tidak dapat
dicabut &inalienable) 'rtinya
seburuk apapun perlakuan yang telah dialami oleh seseorang atau betapapun bengisnya
perlakuan seseorang, ia tidak akan berhenti menjadi manusia dan karena itu tetap memiliki hak$
hak tersebut Dengan kata lain, hak$hak itu melekat pada dirinya sebagai makhluk insane &.mith
2:, *;;+)
'sal$usul gagasan mengenai hak asasi manusia seperti dipaparkan di atas bersumber dari
teori hak kodrati &natural rights theory) /eori kodrati mengenai hak itu bermula dari teori
hukum kodrati &natural law theory), yang terakhir ini dapat dirunut kembali sampai jauh ke
belakang hingga ke <aman kuno dengan #ilsa#at .toika hingga ke <aman modern melalui tulisan$
tulisan hukum kodrati .anto /homas '=uinas !ugo de 3root, seorang ahli hukum %elanda yang
dinobatkan sebagai 8bapak hokum internasional-, atau yang lebih dikenal dengan nama
6atinnya, 3rotius, mengembangkan lebih lanjut teori hukum kodrati '=uinas dengan memutus
asalusulnya yang teistik dan membuatnya menjadi produk pemikiran sekuler yang rasional
Dengan landasan inilah kemudian, pada perkembangan selanjutnya, salah seorang kaum
terpelajar pasca$2enaisans, >ohn 6ocke, mengajukan pemikiran mengenai teori hak$hak kodrati
3agasan 6ocke mengenai hak$hak kodrati inilah yang melandasi munculnya re7olusi hak dalam
re7olusi yang meletup di Inggris, 'merika .erikat dan Perancis pada abad ke$1? dan ke$1+
&.mith 2:, *;;+)
Dalam bukunya yang telah menjadi klasik, 8The Second Treatise of Civil Government
and a Letter Concerning Toleration- 6ocke mengajukan sebuah postulasi pemikiran bah"a
semua indi7idu dikaruniai oleh alam hak yang melekat atas hidup, kebebasan dan kepemilikan,
yang merupakan milik mereka sendiri dan tidak dapat dicabut atau dipreteli oleh negara (elalui
suatu @kontrak sosialA &social contract), perlindungan atas hak yang tidak dapat dicabut ini
diserahkan kepada negara /etapi, menurut 6ocke, apabila penguasa negara mengabaikan
kontrak sosial itu dengan melanggar hak$hak kodrati indi7idu, maka rakyat di negara itu bebas
menurunkan sang penguasa dan menggantikannya dengan suatu pemerintah yang bersedia
menghormati hak$hak tersebut (elalui teori hak$hak kodrati ini, maka eksistensi hak$hak
indi7idu yang pra$positi# mendapat pengakuan kuat &.mith 2:, *;;+)
3agasan hak asasi manusia yang berbasis pada pandangan hukum kodrati itu mendapat
tantangan serius pada abad 19 1dmund %urke, orang Irlandia yang resah dengan 2e7olusi
Perancis, adalah salah satu di antara penentang teori hak$hak kodrati %urke menuduh para
penyusun 8Declaration of the Rights of Man and of the Citizen- mempropagandakan 8rekaan
yang menakutkan mengenai persamaan manusia- Deklarasi yang dihasilkan dari 2e7olusi
Perancis itu baginya merupakan 8ide$ide yang tidak benar dan harapan$harapan yang sia$sia pada
manusia yang sudah ditakdirkan menjalani hidup yang tidak jelas dengan susah payah- /etapi
penentang teori hak
kodrati yang paling terkenal adalah >eremy %entham, seorang #ilsu# utilitarian dari Inggris
:ritik %entham yang mendasar terhadap teori tersebut adalah bah"a teori hakhak kodrati itu
tidak bisa dikon#irmasi dan di7eri#ikasi kebenarannya &.mith 2:, *;;+)
%entham dengan sinis menerta"akan teori hak$hak kodrati itu dengan mengatakan, 8%agi
saya, hak sebagai kata benda &berla"anan dengan kata si#at), adalah anak kandung hukum, dari
hukum riil lahir pula hak$hak riilB namun dari hokum imajinerB hukum kodrati $$yang dikhayal
dan direka para penyair, ahli$ahli pidato dan saudagar dalam rupa racun moral dan intelektual$$
lahirlah hak$hak rekaan !ak$hak kodrati adalah omong kosong yang dungu, hak yang kodrati
dan tidak bisa dicabut adalah omong kosong yang retorik, atau puncak dari omong kosong yang
berbahayaC-
6ebih lanjut, dalam sebuah risalahnya yang lain, %entham mengulang kembali cercaan sinisnya
pada teori hak$hak kodrati Ia menulis, 8%agi saya hak dan hukum merupakan hal yang sama,
karena saya tidak mengenal hak yang lain !ak bagi saya adalah anak kandung hukum, dari
berbagai #ungsi hukum lahirlah beragam jenis hak !ak kodrati adalah seorang anak yang tidak
pernah punya seorang ayah- .erangan dan penolakan kalangan utilitarian itu kemudian
diperkuat oleh ma<hab positi7isme, yang dikembangkan belakangan dengan lebih sistematis oleh
>ohn 'ustin :aum positi7is berpendapat bah"a eksistensi dan isi hak hanya dapat diturunkan
dari hukum negara .atu$satunya hukum yang sahih adalah perintah dari yang berdaulat Ia tidak
dating dari 8alam- atau 8moral- &.mith 2:, *;;+)
Namun demikian, kecaman dan penolakan dari kalangan utilitarian dan ositivis tersebut
tidak membuat teori hak$hak kodrati dilupakan orang >auh dari anggapan %entham, hak$hak
kodrati tidak kehilangan pamornya, ia malah tampil kembali pada masa akhir Perang Dunia II
3erakan untuk menghidupkan kembali teori hak kodrati inilah yang mengilhami kemunculan
gagasan hak asasi manusia di panggung internasional Pengalaman buruk dunia internasional
dengan peristi"a !olocaust Na<i, membuat dunia berpaling kembali kepada gagasan >ohn 6ocke
tentang hak$hak kodrati 8.etelah kebiadaban luar biasa terjadi menjelang maupun selama
Perang Dunia II, gerakan untuk menghidupkan kembali hak kodrati menghasilkan dirancangnya
instrumen internasional yang utama mengenai hak asasi manusia,- tulis Da7idson !al ini
dimungkinkan dengan terbentuknya Perserikatan %angsa$%angsa &P%%) pada 1945, segera
setelah berakhirnya perang yang mengorbankan banyak ji"a umat manusia itu &.mith 2:,
*;;+)
Dengan mendirikan P%%, masyarakat internasional tidak ingin mengulang terjadinya
kembali !olocaust di masa depan, dan karena itu 8menegaskan kembali kepercayaan terhadap
hak asasi manusia, terhadap martabat dan kemuliaan manusia, terhadap kesetaraan hak$hak laki$
laki dan perempuan, dan kesetaraan negara besar dan kecil-
Dari sinilah dimulai internasionalisasi gagasan hak asasi manusia .ejak saat itulah
masyarakat internasional bersepakat menjadikan hak asasi manusia sebagai 8suatu tolok ukur
pencapaian bersama bagi semua rakyat dan semua bangsa- &8a commond standard of
achievement for all eoles and all nations-) !al ini ditandai dengan diterimanya oleh
masyarakat internasional suatu re<im hukum hak asasi manusia internasional yang disiapkan
oleh P%% atau apa yang kemudian lebih dikenal dengan 8!nternational "ill of #uman Rights-
&.mith 2:, *;;+)
Dari paparan di atas cukup jelas bah"a teori hak$hak kodrati telah berjasa dalam
menyiapkan landasan bagi suatu sistem hukum yang dianggap superior ketimbang hukum
nasional suatu negara, yaitu norma hak asasi manusia internasional Namun demikian,
kemunculannya sebagai norma internasional yang berlaku di setiap Negara membuatnya tidak
sepenuhnya lagi sama dengan konsep a"alnya sebagai hak$hak kodrati .ubstansi hak$hak yang
terkandung di dalamnya juga telah jauh melampaui substansi hak$hak yang terkandung dalam
hak kodrati &sebagaimana yang diajukan >ohn 6ocke) :andungan hak dalam gagasan hak asasi
manusia sekarang bukan hanya terbatas pada hak$hak sipil dan politik, tetapi juga mencakup
hak$hak ekonomi, social dan budaya %ahkan belakangan ini substansinya bertambah dengan
munculnya hak$hak 8baru-, yang disebut 8hak$hak solidaritas- Dalam konteks keseluruhan
inilah seharusnya makna hak asasi manusia dipahami de"asa ini &.mith 2:, *;;+)
Sejarah #Pemikiran Dan Perkembangan HAM Di In$!nesia%
Perkembangan pemikiran !'( di Indonesia mengalami pasang dan surut yang secara
jelas dapat terlihat melalui tabel periodesasi sejarah Indonesia, mulai tahun 19;+ hingga
sekarang Pada dasarnya, konsep !'( bukanlah semata$mata sebagai konsep tentang hak$hak
asasi indi7idual, melainkan juga ke"ajiban$ke"ajiban asasi yang menyertainya Periode
perkembangan !'( di Indonesia dipaparkan sebagai berikut &:usniati 2, *;;5),
1 Periode 19;+$1945
* Periode 1945$195;
5 Periode 195;$1959
4 Periode 1959$19DD
5 Periode 19DD$199+
D Periode 199+$sekarang
1. Peri!$e 1&'()1&*+
:onsep pemikiran !'( telah dikenal oleh %angsa Indonesia terutama sejak tahun 19;+
lahirnya %udi Utomo, yakni di tahun mulai timbulnya kesadaran akan pentingnya pembentukan
suatu negara bangsa &nation state$ melalui berbagai tulisan dalam suatu (ajalah Goeroe Desa%
:onsep !'( yang mengemuka adalah konsep$konsep mengenai hak atas kemerdekaan, dalam
arti hak sebagai bangsa merdeka yang bebas menentukan nasib sendiri &the rights of self
determination) Namun !'( bidang sipil, seperti hak bebas dari diskriminasi dalam segala
bentuknya dan hak untuk mengeluarkan pikiran dan pendapat mulai juga diperbincangkan
%ahkan konsep mengenai hak untuk turut serta dalam pemerintahan telah dikemukakan oleh
%udi Utomo Perkembangan !'( di Indonesia selanjutnya tumbuh seiring dengan kemunculan
berbagai organisasi pergerakan yang intinya sebagaimana diperjuangkan oleh Perhimpunan
Indonesia yaitu hak menentukan nasib sendiri Perkembangan pemikiran !'( mengalami
masa$masa penting manakala terjadi perdebatan tentang 2ancangan UUD oleh %PUP:I
&:usniati 2, *;;5)
.upomo mengemukakan bah"a !'( berasal dari cara berpikir yang liberal dan
indi7idualistik yang menempatkan "arga negara berhadapan dengan negara, dan karena itu,
paham !'( tidak sesuai dengan 8ide integralistik dari %angsa Indonesia- (enurut .upomo
manusia Indonesia menyatu dengan negaranya dan karena itu tidak masuk akal mau melindungi
indi7idu dari negara Debat ini muncul kembali pada pertengahan >uli 1945 .ukarno
mengemukakan bah"a keadilan yang diperjuangkan bagi %angsa Indonesia bukanlah keadilan
indi7idual, melainkan keadilan sosial dan karena itu !'( dan hak$hak dasar "arga negara tidak
pada tempatnya dalam UUD .ebaliknya, (uhammad !atta dan (uhammad 0amin
memperingatkan bah"a bisa saja negara menjadi negara kekuasaan dan karena itu hak$hak dasar
"arga negara perlu dijamin 'khirnya tercapailah Pasal *+ UUD 1945, dimana hak$hak dasar
demokratis seperti hak untuk berserikat dan berkumpul dan untuk menyampaikan pendapat
diatur
!ak asasi barulah mendapatkan tempat yang penting utamanya pada masa :2I. 1949
dan UUD. 195;, karena kedua UUD atau konstitusi itu memuat !'( secara terperinci !al itu
disebabkan :2I. 1949 dibuat setelah lahirnya Declaration of #uman Right 194+, sedangkan
UUD. 195; adalah perubahan dari :2I. 1949 melalui UU Eederal No ? tahun 195; &:usniati
2, *;;5)
,. Peri!$e 1&+') 1&+&
(eskipun usia 2I. relati# singkat, yaitu dari tanggal *? Desember 1949 sampai 1?
'gustus 195;, namun baik sistem kepartaian multi partai maupun sistem pemerintahan
parlementer yang dicanangkan pada kurun "aktu pertama berlakunya UUD 1945, masih
berlanjut :edua sistem yang menumbuhkembangkan sistem politik demokrasi liberalF
parlementer tersebut semakin berlanjut setelah Indonesia kembali menjadi negara kesatuan
dengan berlakunya UUD. 195; pada periode 1? 'gustus 195;$5 >uli 1959 bahkan pada periode
ini suasana kebebasan yang menjadi semanggat demokrasi liberal sangat ditenggang, sehingga
dapat dikatakan bah"a baik pemikiran maupun aktualisasi !'( pada periode ini mengalami
8pasang- dan menikmati 8bulan madu- :arena,
1 semakin banyaknya tumbuh partai politik dengan beragam ideologinya masing$masingB
* kebebasan pers sebagai salah satu pilar demokrasi betul$betul menikmati kebebasannyaB
5 Pemilihan Umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana
kebebasan, #air dan demokratisB
4 Parlemen atau De"an per"akilan rakyat sebagai representasi dari kedaulatan rakyat
menunjukan kinerja dan kelasnya sebagai "akil$"akil rakyat dengan melakukan kontrol
atau penga"asanB
5 4acana dan pemikiran tentang !'( memperoleh iklim yang kondusi#
.atu hal yang penting adalah bah"a semua partai, dengan pandangan ideologis yang
berbeda$beda, sepakat bah"a !'( harus dimasukan ke dalam bab khusus yang mempunyai
kedudukan sentral dalam batang tubuh UUD
-. Peri!$e 1&+&)1&..
(emasuki periode kedua berlakunya UUD 1945 yaitu sejak dikeluarkannya Dekrit
Presiden 5 >uli 1959, gagasan atau konsepsi Presiden .oekarno mengenai demokrasi terpimpin
dilihat dari sistem politik yang berlaku yang berada di ba"ah kontrolFkendali Presiden Dalam
perspekti# pemikiran !'(, terutama hak sipil dan politik, sistem politik demokrasi terpimpin
tidak memberikan keleluasaan ataupun menenggang adanya kebebasan berserikat, berkumpul
dan mengeluarkan pikiran dengan tulisan Di ba"ah naungan demokrasi terpimpin, pemikiran
tentang !'( dihadapkan pada restriksi atau pembatasan yang ketat oleh kekuasaan, sehingga
mengalami kemunduran &set back$ sebagai sesuatu yang berbanding terbalik dengan situasi pada
masa Demokrasi Parlementer

*. Peri!$e 1&..)1&&(
Pemberontakan 35;.FP:I tanggal 5; .eptember 19DD yang diikuti dengan situasi chaos
mengantarkan Indonesia kembali mengalami masa kelam kehidupan berbangsa Presiden
.oekarno mengeluarkan .upersemar yang dijadikan landasan hukum bagi .oeharto untuk
mengamankan Indonesia (asyarakat Indonesia dihadapkan kembali pada situasi dan keadaan
dimana !'( tidak dilindungi !al ini disebabkan oleh pemikiran para elite kekuasaan terhadap
!'( Umumnya era ini ditandai oleh pemikiran !'( adalah produk barat Pada saat yang
sama Indonesia sedang memacu pembangunan ekonomi dengan mengunakan slogan
8pembangunan- sehingga segala upaya pemajuan dan perlindungan !'( dianggap sebagai
penghambat pembangunan !al ini tercermin dari berbagai produk hukum yang dikeluarkan pada
periode ini, yang pada umumnya bersi#at restrikti# terhadap !'(
Pada pihak lain, masyarakat umumnya di"akili 6.( dan kalangan akademisi
berpandangan bah"a !'( adalah uni7ersal :eadaan minimnya penghormatan dan
perlindungan !'( ini mencapai titik nadir pada tahun 199+ yang ditandai oleh turunnya
.oeharto sebagai Presiden Periode 19DD$199+ ini secara garis besar memiliki karakteristik
tahapan berikut,
Tahap represi dan pembentukan jaringan (repression and activation of network)
Pada tahap ini Pemerintah melakukan represi terhadap segala bentuk perla"anan yang
menyebabkan kelompok tertindas dalam masyarakat menyampaikan in#ormasi ke masyarakat
internasional :on#lik berdarah yang dimulai di >akarta, ditandai dengan terbunuhnya pada
>enderal, disusul dengan munculnya kon#lik langsung yang melibatkan tentara, penduduk sipil
serta orang$orang yang dianggap simpatisan P:I Pembunuhan, baik dalam bentuk operasi
militer maupun kon#lik sipil terjadi di hampir seluruh "ilayah Indonesia, dengan jumlah korban
yang berbeda di tiap Pro7insi 'D secara ressi menyimpulkan bah"a jumlah korban di seluruh
Indonesia ?+;;; orang Ditengah$tengah keprihatinan akan runtuhnya supremasi hukum atas
banyaknya pelanggaran !'( yang terjadi di periode ini, hasil pembentukan jaringan
menampakan hasilnya dengan dibebaskannya hampir seluruh tahanan politik P:I pada tahun
19?;$19?9
Tahap Penyangkalan
/ahap ini ditandai dengan suatu keadaan dimana pemerintah otoriter dikritik oleh
masyarakat Internasional atas pelanggaran$pelanggaran !'( yang terjadi, ja"aban yang
umumnya diberikan oleh pemerintah adalah bah"a !'( merupakan urusan domestik sehingga
kritikan dianggap sebagai campur tangan terhadap kedaulatan negara /ampaknya pada masa
penyangkalan ini Pemerintahan .oeharto yang mendasarkan !'( pada konsepsi negara
integralistik yang dikemukakan .upomo, yang tampaknya lebih mengedepankan ke"ajiban
dibanding hak !al ini sebetulnya rancu, karena paham integralistik telah ditolak pada
pembahasan naskah UUD, dan .upomo sendiri akhirnya menerima usul !atta dan (uhammad
0amin untuk memasukan hak berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pikiran ke dalam UUD
:ritik internasional yang berlanjut atas berbagai pelanggaran !'( /imor$/imur, kasus /anjung
Priok, kasus D9( 'ceh, kasus :edung 9mbo, peristi"a .anta Gru< coba diatasi dengan
membentuk :omnas !'( pada tahun 1995
Tahap Konsesi Taktis
Pada tahap ini Pemerintah 9rde %aru terdesak dan diterpa krisis moneter pada tahun
199? Indonesia mulai menerima !'( internasional karena membutuhkan dana untuk
membangun Pada bagian lain kekuasaan 9rde %aru mulai melemah, puncaknya terjadi pada
bulan (ei 199+ yang di"arnai dengan peristi"a berdarah 14 (ei 199+ Demonstrasi mahasis"a
yang terjadi secara besar$besaran telah menurunkan .oeharto sebagai Presiden &:usniati 2,
*;;5)
Tahap Penentuan
%anyaknya norma !'( internasional yang diadopsi dalam peraturan perundang$
undangan nasional melalui rati#ikasi dan institusionalisasi %eberapa kemajuan dapat dilihat dari
berbagai peraturan perundang$undangan !'( yaitu diintegrasikannya !'( dalam perubahan
UUD 1945 serta dibentuknya peraturan perundangan !'(
Pertanyaannya sekarang, apakah dengan memadainya instrumen hukum !'( dan
institusionalisasi kelembagaan !'( &:usniati 2, *;;5)
/. !nse" Dan Elemen Utama Negara Hukum
Di dalam konsepsi negara hukum terdapat dua macam, yaitu :onsep Rechtsstaat dan
:onsep Rule of Law
(enurut .ckeltema bah"a terdapat empat unsurFelemen utama dalam negara hukum
2echtsstaat dan masing$masing unsur utama mempunyai turunannya, yaitu sebagaimana
dikemukaan oleh '<hary, yaitu &Eachruddin, *;;4) ,
1 'danya kepastian hukum ,
a) 'sas legalitasB
b) Undang$undang yang mengatur tindakan yang ber"enang sedemikian rupa, hingga "arga
dapat mengetahui apa yang dapat diharapkanB
c) Undang$undang tidak boleh berlaku surutB
d) !ak asasi dijamin oleh undang$undangB
e) Pengadilan yang bebas dari pengaruh kekuasaan
* 'sas persamaan ,
a) /indakan yang ber"enang diatur di dalam undang$undang dalam arti materiilB
b) 'danya pemisahan kekuasaan
5 'sas demokrasi ,
a) !ak untuk memilih dan dipilih bagi "arga negaraB
b) Peraturan untuk badan yang ber"enang ditetapkan oleh parlemenB
c) Parlemen menga"asi tindakan pemerintah
4 'sas pemerintah untuk rakyat ,
a) !ak asasi dengan undang$undang dasarB
b) Pemerintahan secara e#ekti# dan e#esien
.edangkan :onsep The Rule of Law a"alnya dikembangkan oleh 'lbert Henn Dicey
&Inggris) Dia mengemukakan tiga unsur utama The Rule of Law, yaitu &Eachruddin, *;;4) ,
1 Suremacy of law &supremasi hukum), yaitu bah"a negara diatur oleh hukum, seseorang
hanya dapat dihukum karena melanggar hukum
* &'uality before the law &persamaan dihadapan hukum), yaitu semua "arga Negara dalam
kapasitas sebagai pribadi maupun pejabat Negara tunduk kepada hukum yang sama dan
diadili oleh pengadilan yang sama
5 Constitution based on individual right &:onstitusi yang didasarkan pada hak$hak
perorangan), yaitu bah"a konstitusi bukanlah sumber tetapi merupakan konsek"ensi dari
hak$hak indi7idual yang dirumuskan dan ditegaskan oleh pengadilan dan parlemen hingga
membatasi posisi Crown dan aparaturnya
:onsep Negara hukum Indonesia berbeda dengan konsep rechtstaat dan rule of
law karena mempunyai latar belakang yang berbeda pula :onsep negara hukum Indonesia
adalah sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 1 ayat &5) 'mandemen ketiga UUD 1945 yang
berbunyi , INegara Indonesia adalah negara hukumI &Eachruddin, *;;4)
Istilah negara hukum dalam kepustakaan Indonesia hampir selalu dipadankan dengan
istilah$istilah asing antara lain rechts staat( atat de droit( the state according to law( legal state(
dan rule of law% Notohamijdojo memadankan istilah negara hukum di dalam konstitusi Indonesia
dengan konsep rehtsstaat sebagaimana dalam tulisannya Inegara hukum atau rechtsstaatI
&Notohamidjojo, 19?;) Di samping itu, (uhammad 0amin di dalam tulisannya menyebutkan
bah"a I2epublik Indonesia ialah negara hukum &rehtsstaat( government of law)I &0amin,
19+*)
%erbeda dengan pendapat di atas, menurut Philipus ( !adjon yang lebih mengkritik
terhadap para pakar hukum yang mempersamakan istilah negara hukum dengan
konsep rechtstaat dan konsep the rule of law( dia menyatakan bah"a di dalam sebuah nama
terkandung isi &nomen est omen), negara hukum merupakan sebuah konsep tersendiri yang
dipergunakan oleh negara Indonesia, sehingga tidak bisa dipadankan dengan konsep
rechtsstaat atau konsep the rule of law yang telah mempunyai isi masing$masing yang berbeda
Pendapat ini tentu dapat di#ahami mengingat saat ini terdapat 5 &lima) konsep negara hukum
yang dianggap berpengaruh dan telah mempunyai isi yang berlainan, di antaranya
pertama, rechtsstaat yang merupakan konsp yang dikenal di %elanda :edua, the rule of
law yang merupakan konsep yang di kenal di negara$negara 'nglo$.aJon seperti Inggris,
'merika .erikat &Eachruddin, *;;4)
$. Perlin$ungan Hukum
:ata perlindungan menurut kamus umum bahasa indonesia berarti tempat berlindung
atau merupakan perbuatan &hal) melindungi , misalnya memberi perlindungan kepada orang yang
lemah (enurut .udikno (ertokusumo, yang dimaksud dengan hukum adalah kumpulan
peraturan atau kaedah yang mempunyai isi yang bersi#at umum dan normati#, umum karena
berlaku bagi setiap orang dan normati# karena menentukan apa yang seyogyanya dilakukan, apa
yang tidak boleh dilakukan atu harus dilakukan serta menentukan bagaimana caranya
melaksanakan kepatuhan pada kaedah$kaedah >adi perlindungan hukum adalah suatu perbuatan
hal melindungi subjek$subjek hukum dengan peraturan perundang$undangan yang berlaku dan
pelaksanaannya dpat dipaksakan dengan suatu sanksi
(enurut philipus (!adjon negara Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan
pancasila haruslah memberikan perlindungan hukum terhadap "arga masyarakatnya yang sesuai
dengan pancasila 9leh karena itu perlindungan hukum berasarkan pancasila berarti pengakuan
dan perlindungan hukum akan harkat dan martabat manusia atas dasar nilai :etuhanan 0ang
(aha 1sa, kemanusiaan, persatuan, permusya"aratan serta keadilan sosial Nilai$nilai tersebut
melahirkan pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia dalam "adah negara kesatuan yang
menjunjung tinggi semangat kekeluargaan dalam mencapai kesejahteraan bersama
Perlindungan hukum di dalam negara yang berdasarkan Pancasila, maka asas yang penting
ialah asas kerukunan berdasarkan kekeluargaan 'sas kerukunan berdasarkan kekeluargaan
menghendaki bah"a upaya$upaya penyelesaian masalah yang berkaitan dengan masyarakat
sedapat mungkin ditangani oleh pihak$pihak yang bersengketa
e. A"likasi Perlin$ungan Hukum 0erha$a" Hak Asasi Manusia Dalam Skala 1l!bal
Dan Nasi!nal
Dalam Piagam Perserikatan %angsa %angsa &P%%), komitmen untuk memenuhi,
melindungi !'( serta menghormati kebebasan pokok manusia secara uni7ersal ditegaskan
secara berulang$ulang, diantaranya dalam Pasal 1 &5), -Untuk memajukan kerjasama
internasional dalam memecahkan masalah$masalah internasional dibidang ekonomi, sosial,
budaya dan kemanusiaan, dan menggalakan serta meningkatkan penghormatan bagi hak asasi
manusia dan kebebasan #undamental bagi semua orang tanpa pembedaan ras, jenis kelamin,
bahasa atau agama K- &:usumaatmadja, *;;5)
:omitmen ini kemudian ditindaklanjuti oleh P%% melalui pembentukan instrumen$
instrumen hukum yang mengatur tentang !'( sebagai berikut,
a. Instrumen Hukum 2ang Mengikat
$ Deklarasi Uni3ersal Hak Asasi Manusia #Universal Declaration of uman !ights%
Deklarasi Uni7ersal !ak 'sasi (anusia &DU!'() merupakan langkah besar yang
diambil oleh masyarakat internasional pada tahun 194+ Norma$norma yang terdapat dalam
DU!'( merupakan norma internasional yang disepakati dan diterima oleh negara$negara di
dunia melalui Perserikatan %angsa$%angsa DU!'( merupakan kerangka tujuan !'( yang
dirancang dalam bentuk umum dan merupakan sumber utama pembentukan dua instrumen
!'(, yaitu, :o7enan Internasional tentang !ak .ipil dan Politik serta :o7enan Internasional
tentang !ak 1konomi, .osial dan %udaya !ak$hak yang terdapat dalam DU!'( merupakan
realisasi dari hak$hak dasar yang terdapat dalam Piagam P%%, misalnya &yang terkait dengan
penegakan hukum) Pasal 5, 5, 9, 1; dan 11 Pasal$pasal tersebut secara berturut$turut
menetapkan hak untuk hidupB hak atas kebebasan dan keamanan diriB pelarangan penyiksaan$
perlakuan$penghukuman lain yang kejam, tidak manusia"i, dan merendahkan martabat manusiaB
pelarangan penangkapan se"enang$"enangB hak atas keadilanB hak atas praduga tak bersalah
sampai terbukti bersalahB serta pelarangan hukuman berlaku surut .ecara keseluruhan, DU!'(
merupakan pedoman bagi penegak hukum dalam melakukan pekerjaannya &:usumaatmadja,
*;;5)
$ !3enan Internasi!nal tentang Hak Si"il $an P!litik #"nternational #ovenant on #ivil
and Political !ights%
!ak$hak dalam DU!'( diatur secara lebih jelas dan rinci dalam :o7enan Internasional tentang
!ak .ipil dan Politik, yang mulai berlaku secara internasional sejak (aret 19?D :on7enan ini
mengatur mengenai &:usumaatmadja, *;;5) ,
$ !ak hidupB
$ !ak untuk tidak disiksa, diperlakukan atau dihukum secara kejam, tidak manusia"i
atau direndahkan martabatB
$ !ak atas kemerdekaan dan keamanan pribadiB
$ !ak untuk tidak dipenjara semata$mata atas dasar ketidakmampuan memenuhi ke"ajiban
kontraktualB
$ !ak atas persamaan kedudukan di depan pengadilan dan badan peradilanB dan
$ !ak untuk tidak dihukum dengan hukuman yang berlaku surut dalam penerapan hukum pidana
:o7enan ini telah disahkan oleh lebih dari 1;; negara di dunia Indonesia turut mengaksesinya
atau pengesahannya melalui Undang$Undang No 1* tahun *;;5, sehingga mengikat pemerintah
beserta aparatnya Pelaksanaan :o7enan ini dia"asi oleh :omite !ak 'sasi (anusia
&:usumaatmadja, *;;5)
$ !3enan Internasi!nal tentang Hak Ek!n!mi4 S!sial $an Bu$a2a #"nternational
#ovenant on $conomic% &ocial dan #ultural !ights%
:o7enan ini mulai berlaku pada >anuari 19?D Indonesia melalui UU No 11 tahun *;;5
mengesahkannya 'lasan perlunya mempertimbangkan hak$hak dalam :o7enan ini adalah
&:usumaatmadja, *;;5),
$ !ukum berlaku tidak pada keadaan 7akum 'parat penegak hukum dalam melaksanakan
tugasnya tidak lepas dari masalah ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat
$ 'sumsi bah"a hak ekonomi dan hak sosial tidak penting diterapkan dalam pekerjaan sehari$
hari adalah tidak benar, karena dalam hak ekonomi terdapat prinsip non$diskriminasi dan
perlindungan terhadap penghilangan paksa
$ !ak$hak yang dilindungi oleh dua :o7enan diakui secara uni7ersal sebagai sesuatu yang saling
terkait satu sama lain
.eperti halnya :o7enan tentang !ak .ipil dan Politik, :o7enan ini dalam pelaksanaannya juga
dia"asi oleh suatu :omite &:omite tentang !ak 1konomi, .osial dan %udaya)
$ !n3ensi 1en!si$a ##onvention on the Prevention and Punishment of the #rime of
'enocide)
:o7ensi ini mulai berlaku pada >anuari 1951 Indonesia melalui UU No *D tahun *;;;
tentang Pengadilan !'( menetapkan genosida sebagai salah satu pelanggaran !'( berat
:on7ensi ini menetapkan 3enosida sebagai kejahatan internasional dan menetapkan perlunya
kerjasama internasional untuk mencegah dan menghapuskan kejahatan genosida
&:usumaatmadja, *;;5)
L !n3ensi Menentang Pen2iksaan ##onvention against Torture and (ther #ruel% "nhuman
or Degrading Treatment or Punishment%
:on7ensi (enentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman 6ain yang :ejam,
/idak (anusia dan (erendahkan (artabat (anusia &:o7ensi (enentang Penyiksaan) mulai
berlaku sejak >anuari 19+? Indonesia mesahkan :on7ensi ini melalui UU No 5 tahun 199+
:o7ensi ini mengatur lebih lanjut mengenai apa yang terdapat dalam :o7enan tentang !ak .ipil
dan Politik :on7ensi ini me"ajibkan negara untuk mengambil langkah$langkah legislati#,
administrasi, hukum, atau langkah$langkah e#ekti# lainnya guna, 1) mencegah tindak penyiksaan,
pengusiran, pengembalian &refouler), atau pengekstradisian seseorang ke negara lain apabila
terdapat alasan yang cukup kuat untuk menduga bah"a orang tersebut akan berada dalam
keadaan bahaya &karena menjadi sasaran penyiksaan), *) menjamin agar setiap orang yang
menyatakan bah"a dirinya telah disiksa dalam suatu "ilayah ke"enangan hukum mempunyai
hak untuk mengadu, memastikan agar kasusnya diperiksa dengan segera oleh pihak$pihak yang
ber"enang secara tidak memihak, 5) menjamin bah"a orang yang mengadu dan saksi$saksinya
dilindungi dari segala perlakuan buruk atau intimidasi sebagai akibat dari pengaduan atau
kesaksian yang mereka berikan, 4) menjamin korban memperoleh ganti rugi serta &hak untuk
mendapatkan) kompensasi yang adil dan layak :on7ensi ini dalam pelaksanaannya dia"asi oleh
:omite (enentang Penyiksaan &G'/), yang dibentuk berdasarkan aturan yang terdapat
didalamnya &:usumaatmadja, *;;5)
$ !n3ensi Pengha"usan Segala Bentuk Diskriminsasi 5asial #"nternational #onvention
on the $limination of )ll *orms of !acial Discrimination%
:on7ensi ini mulai berlaku sejak >anuari 19D9 dan disah oleh Indonesia melalui UU No
*9 tahun 1999 /erdapat larangan terhadap segala bentuk diskriminasi rasial dalam bidang
politik, ekonomi, sosial dan budaya .elain itu, :on7ensi ini juga menjamin hak setiap orang
untuk diperlakukan sama di depan hukum tanpa membedakan ras, "arna kulit, asal usul dan suku
bangsa :on7ensi ini juga membentuk :omite Penghapusan Diskriminasi 2asial, yang
menga"asi pelaksanaannya &:usumaatmadja, *;;5)
$ !n3ensi Pengha"usan Segala Bentuk Diskriminasi terha$a" Perem"uan (#onvention
on the $limination of )ll *orms of Discrimination against +omen)
:o7ensi ini mulai berlaku sejak .eptember 19+1 dan dira#ikasi oleh Indonesia melalui
UU No ? tahun 19+4 .ejak pemberlakuannya, kon7ensi ini telah menjadi instrumen
internasional yang menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan dalam bidang politik,
ekonomi, sosial budaya, dan sipil :on7ensi ini mensyaratkan agar negara melakukan segala cara
yang tepat dan tanpa ditunda$tunda untuk menjalankan suatu kebijakan yang menghapus
diskriminasi terhadap perempuan serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk
mendapatkan !'( dan kebebasan dasar berdasarkan kesetaraan antara laki$laki dan perempuan
Dalam pelaksanaannya, :on7ensi ini juga mengatur mengenai pembentukan :omite
Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan &G1D'4) &:usumaatmadja, *;;5)
$ !n3ensi Hak Anak (#onvention on the !ights of the #hild)
:on7ensi !ak 'nak mulai berlaku sejak .eptember 199; dan disahkan oleh Indonesia
melalui :eppres No 5D tahun 199; Dalam :on7ensi ini negara harus menghormati dan
menjamin hak bagi setiap anak tanpa diskriminasi ras, "arna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama,
pendapat politik atau pendapat lainnya, ke"arganegaraan, asal usul kebangsaan atau sosial,
kekayaan, kecacatan, kelahiran atau status lain Negara juga harus mengambil langkah$langkah
yang layak untuk memastikan bah"a anak dilindungi dari segala bentuk diskriminasi atau
hukuman yang didasarkan pada status, kegiatan, pendapat yang disampaikan, atau kepercayaan
orang tua anak, "alinya yang sah, atau anggota keluarganya :on7ensi ini juga membentuk
:omite !ak 'nak &G2G) untuk menga"asi pelaksanaan isi :on7ensi &:usumaatmadja, *;;5)
$ !n3ensi Mengenai Status Pengungsi ##onvention relating to the &tatus of !efugees)
:on7esi ini mulai berlaku sejak 'pril 1954 Indonesia belum mesahkan :on7ensi ini
"alaupun menghadapi banyak masalah pengungsi Pengungsi dibedakan dengan
istilah )internaly dislaced erson* atau pengungsi yang berpindah daerah dalam satu negara
Pengungsi dalam kon7ensi ini dide#inisikan sebagai mereka yang meninggalkan negaranya
karena takut disiksa atas alasan ras, agama, kebangsaan, opini politik atau keanggotaan pada
kelompok tertentu, tidak bisa atau tidak mau pulang karena ketakutan :o7ensi Pengungsi
menentukan empat prinsip !'( dalam menangani pengungsi, yaitu, persamaan hak, tidak
adanya pengasingan terhadap hak$hak mereka, uni7ersalitas dari hak$hak mereka, serta hak
untuk mencari dan mendapatkan suaka dari penghukuman &:usumaatmadja, *;;5)
b. Instrumen Hukum 2ang 0i$ak Mengikat
$ Pe$!man Ber"erilaku bagi Penegak Hukum ##ode of #onduct for ,aw $nforcement
(fficials%
(ajelis Umum P%% pada tahun 19?9 mengeluarkan resolusi 54F1D9 tentang Pedoman
Pelaksanaan %agi Penegak !ukum Pedoman ini memberikan arahan bagi penegak hukum dalam
menjalankan tugasnya
/erdapat delapan pasal yang mengatur mengenai tanggung ja"ab penegak hukum yaitu,
perlindungan !'(, penggunaan kekerasan, penanganan terhadap in#ormasi rahasia, pelarangan
penyiksaan$perlakuan$penghukuman lain yang kejam, tidak manusia"i dan merendahkan
martabat manusia, perlindungan kesehatan tahanan, pemberantasan korupsi, serta penghargaan
terhadap hukum dan undang$undang &:usumaatmadja, *;;5)
$ Prinsi")Prinsi" Dasar Mengenai Penggunaan ekerasan $an Senjata A"i #Basi/
Prin/i"les !n the Use !6 7!r/e an$ 7irearms b2 La8 En6!r/ement 966i/ials%
Prinsip$prinsip ini diadopsi oleh P%% pada tahun 199;, menekankan bah"a penggunaan
kekerasan dan senjata api hanya dapat dilakukan jika diperlukan serta sesuai dengan tugas pokok
maupun #ungsi yang diatur oleh peraturan perundangan &:usumaatmadja, *;;5)
$ Deklarasi Mengenai Penghilangan Paksa #De/larati!n !n the Pr!te/ti!n !6 All Pers!ns
6r!m En6!r/e$ Disa""earan/e%
Deklarasi ini diadopsi oleh (ajelis Umum P%% pada Desember 199* Di dalamnya
terdapat *1 &dua puluh satu) pasal yang mengatur mengenai pencegahan tindakan penahanan
tanpa tujuan yang jelas atau sebagai tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan Deklarasi ini
mensyaratkan adanya langkah$langkah legislati#, administrasi, hukum, maupun langkah$langkah
e#ekti# lainnya untuk mencegah dan menghapuskan tindakan penghilangan paksa
&:usumaatmadja, *;;5)

$ Deklarasi Pengha"usan Diskriminasi terha$a" Perem"uan #Declaration on the
$limination of -iolence against +omen%
Perserikatan %angsa$%angsa pada tahun 19D? telah mengadopsi Deklarasi mengenai
Penghapusan Diskriminasi terhadap "anita Deklarasi tersebut memuat hak dan ke"ajiban
"anita berdasarkan persamaan hak dengan pria, serta menyatakan agar diambil langkah$langkah
seperlunya untuk menjamin pelaksanaannya Deklarasi ini menjadi dasar dalam penyusunan
rancangan :on7ensi tentang Penghapusan .egala %entuk Diskriminasi terhadap 4anita
&:usumaatmadja, *;;5)
$ Deklarasi Mengenai Pembela HAM #De/larati!n !n Human 5ights De6en$er%
Deklarasi ini diadopsi oleh (ajelis Umum P%% pada tahun 199+ Deklarasi Pembela
!'( memberikan perlindungan bagi para pembela !'( dalam melakukan kegiatan mereka
Deklarasi ini tidak membentuk hak$hak baru tetapi lebih pada memberikan panduan bagi para
pembela !'( terkait dengan pekerjaan mereka Digarisba"ahi tugas$tugas negara dalam
pemenuhan !'(, serta tanggung ja"ab yang harus dilakukan oleh para pembela !'(,
disamping juga menjelaskan hubungan antara !'( dan hukum nasional suatu negara
Ditegaskan agar para pembela !'( melakukan akti7itasnya dengan cara$cara damai
&:usumaatmadja, *;;5)
$ Prinsi")"rinsi" tentang Hukuman Mati 2ang 0i$ak Sah4 Se8enang)se8enang $an
Sumir#Prin/i"les !n the E66e/ti3e Pre3enti!n an$ In3estigati!n !6 E:tra)legal4 Arbitrar2
an$ Summar2 E:e/uti!ns %
Prinsip$prinsip tentang Pencegahan dan Penyelidikan 1#ekti# terhadap !ukuman (ati
yang /idak .ah, .e"enang$se"enang dan .umir merupakan prinsip$prinsip yang
direkomendasikan oleh De"an 1konomi dan .osial P%% pada bulan (ei *;;5 Prinsip$prinsip
ini memberikan panduan bagi penegak hukum dalam mengadili para pelaku tindak pidana
Prinsip$prinsip ini menekankan pentingnya penga"asan &termasuk kejelasan dalam rantai
komando) terhadap lembaga$lembaga penegak hukum Prinsip$prinsip ini juga mejelaskan secara
rinci mengenai jaminan terhadap pemenuhan hak untuk hidup &:usumaatmadja, *;;5)
*. Penga8asan terha$a" Pemenuhan HAM
Penga"asan !'( dibagi dua, yaitu penga"asan di tingkat nasional dan tingkat
internasional Di tingkat nasional, penga"asan dilakukan antara lain oleh &%udiardjo, 19+9),
L 6embaga pemerintah termasuk PolisiB
L :omisi Nasional !'(, :omnas Perempuan dan :omnas 'nakB
L 6embaga ."adaya (asyarakatB
L Pengadilan+
L De"an Per"akilan 2akyat+
L (edia (asa+
L 9rganisasi Pro#esi seperti IDI dan Peradi+
L 9rganisasi :eagamaan+
L Pusat :ajian di Uni7ersitas
'dapun penga"asan di tingkat internasional atau P%% didasarkan pada perjanjian internasional
mengenai !'( &1l$(uhtaj, *;;5),
Perjanjian Hak Asasi Manusia #Instrumen% Ba$an Penga8as Pelaksanaan
Perjanjian
:o7enan Internasional tentang !ak 1konomi, .osial
dan %udaya &!nternational Covenant on &conomic(
Social dan Cultural Rights)
:omite !ak 1konomi, .osial dan %udaya
&Gommittee on 1conomic.ocial and
Gultural 2ights)
:o7enan Internasional tentang !ak .ipil dan
Politik&!nternational Covenant on Civil and
,olitical Rights)
:omite !ak 'sasi (anusia
&!uman2ights Gommittee)
:on7ensi Internasional tentang Penghapusan %entuk
Diskriminasi 2as
:omite Penghapusan Diskriminasi 2as
&Gommittee
on 1limination2acial Discrimination)
:on7ensi Penghapusan .egala %entuk Diskriminasi
terhadap Perempuan -Convention on the &limination
of .ll /orms of Discrimination against 0omen$
:omite Penghapusan Diskriminasi
terhadap Perempuan &Gommittee
on1liminations Discrimination 'gainst4o
men)
:on7ensi menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau
Penghukuman 6ain yang :enjam, /idak (anusia"i
dan (erendahkan (artabat (anusia &Convention
against Torture and 1ther Cruel( !nhuman or
Degrading Treatment or ,unishment)
:omite (enentang Penyiksaan
&Gommittee on 'gainst /orture)
:on7ensi !ak 'nak & Convention on the Rights of
the Child$
:omite !ak 'nak &Gommittee on 2ights
o# the Ghild)
.etiap perjanjian internasional !'( mempunyai sistem penga"asan yang berbeda$beda
4alaupun sistem penga"asan dari setiap kon7ensi mengenai !'( berbeda$beda tetapi satu
dengan yang lainnya saling melengkapi Penga"asan ini ber#ungsi untuk mengi7entarisasi secara
periodik dan sistematik terhadap kemajuan yang telah dicapai oleh negara$negara terkait dengan
pelaksanaan ke"ajiban yang terdapat di dalam kon7ensi Penga"asan ditujukan agar terjadi
dialog antara komite !'( terkait dengan negara$negara peserta yang bertujuan untuk membantu
trans#ormasi kon7ensi !'( internasional kedalam perundang$undangan nasional serta
membantu pelaksanaan ke"ajiban yang harus dilakukan oleh negara Dialog ini dilakukan secara
terbuka antara :omite dan "akil dari negara &.hearer, 19+4)
B. Mengitegrasikan Instrumen Hukum Ham Internasi!nal e Dalam Hukum Nasi!nal
1. 0e!ri Hubungan antara Hukum Internasi!nal $an Hukum Nasi!nal
Dalam Pasal *? dari :on7ensi 4ina 19D9 tentang !ukum Perjanjian Internasional &the
Law of the Treaties) ditegaskan bah"a negara tidak dapat menjadikan hukum nasionalnya
sebagai alasan untuk tidak dapat menjalankan ke"ajiban perjanjian internasional Pada sisi lain
negara mempunyai kebebasan untuk menentukan acuannya dalam melaksanakan ke"ajibannya
dalam hukum internasional dan menyesuaikan hukum nasionalnya dengan hukum internasional
4alaupun dalam sistem hukum internasional dan sistem nasional terdapat perbedaan yang sangat
jelas, tetapi juga terdapat kesamaan pada sisi lain, untuk itu maka sebaiknya aparat penegak
hukum, sebagai bagian dari negara, harus mengetahui dengan baik bagaimana hubungan antara
hukum internsional dengan hukum nasional negara yang bersangkutan &.entra !'(, *;;5)
/erdapat dua teori untuk menjelaskan hubungan antara hukum internasional dan hukum
nasional, agar negara dapat menyesuaikan hukum nasionalnya dengan ke"ajibannya di dalam
hukum internsional :edua teori terseubut adalah sebagai berikut,
1 /eori monoisme, didasarkan pada pemikiran bah"a hukum nasional dan hukum internasional
adalah satu kesatuan sistem hukum Dengan demikian maka jika suatu negara telah merati#ikasi
dan menjadi pihak dalam perjanjian internasional untuk melindungan !'(, maka secara
otomatis perjanjian internasional itu menjadi hukum nasionalnya &:usumaatmadja, *;;5)
* /eori dualisme, didasarkan pada pemikiran bah"a hukum internasional dan hukum nasional
merupakan dua sistem atau perangkat hukum yang terpisah .ehingga untuk menerapkan hukum
internasional yang melindungi !'(, misalnya, rati#ikasi saja tidak cukup, perlu adanya suatu
trans#ormasi hukum internasional ke dalam hukum nasional, yang biasanya dilakukan melalui
undang$undang yang dibuat oleh parlemen &:usumaatmadja, *;;5)
Dalam menerapkan kedua teori tersebut negara dapat mempraktekkannya dalam berbagai
macam cara untuk menjadi hukum nasional, diantaranya adalah &:usumaatmadja, *;;5) ,
1 :onstitusi, dengan menyebutkan perlindungan !'( dalam pasal$pasal yang ada di dalam
undang$undang dasar yang diambil dari DU!'(, IGGP2 atau IG1.G2B
* Perundang$undangan nasional, mengeluarkan undang$undang mengenai !'( yang
menjelaskan lebih terperinci mengenai !'( yang ada di dalam konstitusiB
5 Inkorporasi, dengan menjadikan perjanjian internasional mengenai !'( menjadi hukum
nasionalnya sehingga segala hak dan ke"ajiban yang ada dalam hukum internasional menjadi
hak dan ke"ajiban di dalam hukum nasionalnya Praktek ini biasa dilakukan olen negara InggrisB
4 Pemberlakuan secara langsung, perjanjian internasional mengenai !'( langsung menjadi
hukum nasional setelah negara yang bersangkutan menyatakan rati#ikasi atas perjanjian
internasional tersebutB
5 Interpretasi dalam sistem common law, dalam penerapan prinsip ini hakim dapat mendasarkan
putusannya pada interpretasi atas hukum !'( internasional atau yurisprudensi kasus$kasus
!'( diputus oleh pengadilan internasionalB
D >ika terdapat kekosongan hukum, dibeberapa negara, jika terjadi kekosongan hukum mengenai
!'(, hakim dan ad7okat dapat mendasarkan pada hukum internasional, putusan kasus$kasus
internasional atau pada kasus$kasus dari negara lain untuk dapat menerapkan prinsip dasar dari
!'( /etapi hal ini sangat bergantung pada situasi dan kondiri hukum dari negara yang
bersangkutan
,. Praktik Pengitegrasian Perjanjian Internasi!nal ke $alam Hukum Nasi!nal $i In$!nesia
Di Indonesia pratik pengesahan atau pemberlakuan hukum internasional ke dalam hukum
nasional di dasarkan atas Undang Undanga No *4 tahun *;;; mengenai Perjanjian
Internasional Indonesia adalah negara yang menganut paham dualisme, hal ini terlihat dalam
Pasal 9 ayat * UU No *4 tahun *;;;, dinyatakan bah"a, -Pengesahan perjanjian internasional
sebagaimana dimaksud dalam ayat &1) dilakukan dengan undang$undang atau keputusan
presiden- &.entra !'(, *;;5)
Dengan demikian pemberlakuan perjanjian internasional ke dalam hukum nasional
indonesia tidak serta merta !al ini juga memperlihatkan bah"a Indonesia memandang hukum
nasional dan hukum internasional sebagai dua sistem hukum yang berbeda dan terpisah satu
dengan yang lainnya Perjanjian internasional harus ditrans#ormasikan menjadi hukum nasional
dalam bentuk peraturan perundang$undangan melalui undang$undang yang dibuat oleh De"an
Per"akilan 2akyat &DP2) atau dengan keputusan presiden &.entra !'(, *;;5)
Pengesahan perjanjian internasional dilakukan melalui undang$undang apabila berkenaan dengan
&.entra !'(, *;;5),
a masalah politik, perdamaian, pertahanan, dan keamanan negara
b perubahan "ilayah atau penetapan batas "ilayah negara
c kedaulatan atau hak berdaulat negara
d hak asasi manusia dan lingkungan hidup
e pembentukan kaidah hukum baru
# pinjaman danFatau hibah luar negeri
Perjanjian internasional yang tidak disebutkan di atas dapat disahkan melalui keputusan
presiden, tanpa perlu adanya persetujuan dari parlemen Dengan demikian pemberlakuan
perjanjian internasional mengenai !'( kedalam hukum internasional perlu adanya pengesahan
dari parlemen agar dapat ditrans#ormasikan ke dalam hukum nasional Indonesia &.entra !'(,
*;;5)
6. Perlin$ungan Hak Asasi Manusia Di In$!nesia
Pembicaraan tentang !ak 'sasi (anusia &!'() mengalami perkembangan yang amat
pesat Pada era re#ormasi, setiap langkah strategis bangsa Indonesia selalu dikaitkan dengan hak
asasi manusia Penegakan, perlindungan, penghormatan, pemenuhan, pemajuan hak asasi
manusia telah menjadi komitmen Negara, pemerinta dan masyarakat Indinesia yang di"ujudkan
dalam bentuk pemberdayaan institusi dan konstitusi
!ak$hak setiap orang harus dilindungi dengan undang$undang, tidak seorang pun boleh
dirampas kehidupannya secara sengaja, kecuali dalam pelaksanaan hukum oleh pengadilakn
setelah ia diadili untuk suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman berdasarkan undang$
undang
%erdasarkan Undang$Undang 2epiblik Indonesia Nomor 59 tahun 1999 tentang !ak
'sasi (anusia :etentuan Umum pasal 1, !ak 'sasi (anusia adalah seperangkat hak yang
melekat pada hakekat keberadaan manusia sebagai mahluk /uhan 0ang (aha 1sa dan
merupakan anugerah$Nya yang "ajib di hormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara,
hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat
manusia
Dalam Undang$undang No 59 tahun 1999 Pasal 5 tersebut juga menyatakan bah"a setiap
orang berhak atas pengakuan dan perlakuan hukum yang adil serta mendapat kepastian hukum
dan perlakuan yang sama di depan hukum Pada pasal 5 juga menjelaskan bah"a setiap orang
diakui sebagai pribadi yang berhak menuntut dan memperoleh perlakuan serta perlindungan
yang sama didepan hukum, berhak mendapat perlindungan dan bantuan keadilan Pasal ?
ditambahkan juga bah"a setiap orang berhak menggunakan semua upaya hukum nasional dan
#orum internasional atas semua pelanggaran !'( yang dijamin oleh hukum Indonesia dan
internasional
Pemerintah, masyarakat dengan berlandaskan undang$undang "ajib melindungi dan
menjunjung tinggi !'(, sehingga prinsip$prinsip, man#aat dan kesederajatan yang melekat pada
semua umat manusia terlaksana dengan baik, sehingga tidak ada lagi diskriminasi (aka dari itu
guna me"ujudkan perlindungan !'( bagi setiap indi7idu maka dibentuklah :omnas !'(
Dalam UU No 59 th 1999 menyebutkan bah"a :omnas !'( bertujuan untuk menciptakan
pelaksanaan perlindungan !'( berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Piagam Perserikatan
%angsa$bangsa dan meningkatkan perlindungan dan penegakan !'( guna mengembangkan
pribadi manusia Indonesia :omnas !'( melaksanakan #ungsi pengkajian, penelitian,
penyuluhan dan mediasi tentang hak asasi manusia
g. U"a2a Pemerintah In$!nesia Dalam Melakukan Perlin$ungan HAM
Pelaksanaan perlindungan !'( di masing$masing negara di dunia sangat berlainan
antara negara yang satu dengan negara lainnya menngingat adanya 4 kelompok pandangan
tentang !'(, dimana masing$masing kelompok pandangan tentang !'( ini juga ada
penganutnya di Indonesia, ialah sebagai beriikut &4inandi,*;11) ,
1 Pandangan uni7ersal absolut
Pandangan ini memandang !'( sebagai nilai$nilai uni7ersal sebagaimana dirumuskan
dalam dokumen$dokumen !'( internasional seperti /he International %ill og !uman
2ight Dalam hal ini pro#il sosaila budaya yang melekat pada masing$masing bangsa
tidak diperhitungkan Penganut pandangan ini adalah negara$negara maju dan bagi
negara$negara berkembang mereka dinilai eksploitati#, karena menerapkan !'( sebgai
alat penekan dan sebagai instrumen penilai &tool o# judgement)
* Pandangan uni7ersal relati#
Pandangan ini melihat persoalan !'( sebagai masalah uni7ersal, namun demikian
perkecualian dan pembatasan yang didasarkan atas asas$asas hukum internasional tetap
diakui keberadaannya
5 Pandangan partikularistik absolut
Pandangan ini melihat !'( sebgai persoalan masing$masing bangsa, tanpa memberikan
alasan yang kuta, khususnya dalam melakukan penoBakan terhdap berlakunya dokumen$
dokumen internasional Pandangan ini seringakali menimbulkan kesan chau7inis, egois,
de#ensi# dan pasi# tentang !'(
4 Pandangan partikularistik relati#
Dalam pandangan ini !'( dilihat di smaping sebagai maslah uni7ersal juga merupakan
masalah nasional masing$masing bangsa %erlakuknya dokumen$dokumen !'( harus
diselaraskan, diserasikan, dan diseimbangkan serta memperoleh dukungan budaya
bangsa Pandangan ini tidak hanya menjadikan kekhususan yang ada pada masing$
masing bangsa sebagai sarana untuk bersikap de#ensi#, tetapi di lain pihak juga akti#
berusaha mencari perumusan dan pembenaran terhadap karakteristik !'( yang
dianutnya
Dengan adanya pengoolongan pandangan tentang !'( sebagaimana telah diuraikan
diatas, Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang merupakan penganut dari
pandangan yang ke $4, yaitu pandangan partikularistik relati# !al ini terlihat dalam tindakan$
tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah dalam merespon beberapa kon7ensi internasional yang
memuat perlindungan terhadap !'(, sebagai contoh ialah sikap pemerintah Indonesai yang
belum merati#ikasi :on7ensi Internasional tahun 19+4 tentang :on7ensi 'nti Penyiksaan
&"inandi, *;11)
3una mendukung kebijakan pemerintah untuk menegakkan perlindungan !'( maka
pada tahun 1995, pemerintah mengeluarkan :eppres No 5; tahun 1995 tentang pembentukan
:omisi Nasional !'( &:omnas !'() yang merupakan 7ariabel kondusi# tersendiri, sekalipun
banyak pula kritij yang terlontar :omnas !'( ini mempunyai tugas$tugas sebagai berikut
&4inandi, *;11),
$ (enyebarluaskan "a"asan nasional dan internasional mengenai !am, baik kepada
masyarakat Indonesia maupun masyarakt internasional
$ (engkaji berbagai instrumen P%% tentang !'( dengan memberikan saran tentang
kemungkinan aksesi dan rati#ikasi
$ (emantau dan menyelidiki oelaksanaan !'(, serta memberikan pendapat,
pertimbangan, dan saran kepada instansi pemerintah tentang pelaksanaan !'( dan
(engadakan kerja sama regional dan internasional di bidang !'(
.etelah membentuk :omnas !'(, pemerintah Indonesia melakukan rati#ikasi beberapa
dokumen internasional yang terkait dengan pelanggaran !'( seperti kon77ensi anti
penyiksaaan dan juga kon7ensi tentang pembentukan (ahkamh Pidana Internasional
&IGGFInternational Griminal Gourt) guna mengantisipasi pelaku kejahatan internasional yang
tidak tersentuh oleh hukum nasional &4inandi, *;11)
'dapun bentuk$bentuk kejahatan yang dapat diajukan kepada (ahkamah Pidana
internasional &IGG) adalah sebagai berikut &4inandi, *;11),
1 3enocide
* 'ggresion
5 4ar crimes
4 Grimes 'gainst !umanity
5 /reaty based crimes
.etelah pemerintah melakuakn rati#ikasi terhadap beberapa instrumen dan dokumen
internasional yang berkaitan dengan perlindungan !'( dengan cara mengaturnya ke dalam
keputusan presiden ataupun suatu undang$undang, sehubungan dengan rencana pemerintah yang
akan merati#ikasi Convention .gaints Torture and 1ther Cruel( !nhuman or Degrading or
,unishment dan kon7ensi tentang race discrimination&4inandi, *;11)
(engenai rencana Indonesia untuk merati#ikasi Gon7ention 'gaints /orture and 9ther
Gruel, Inhuman or Degrading or Punishment ini terdapat empat alasan kuat yang dapat
mendukung rencan Indonesia untuk merati#ikasi salah satu dokumen tentang perlindungan
terhadap !'(, yaitu&4inandi, *;11),
1 :omitmen Indonesia untuk menghormati hak$hak asasi manusia dan untuk turut serta
menciptakan perdamaian dunia berdasarkan prinsip keadilan dan kemersekaan,
seperti diamnahkan Pembukaan UUD 1945 Di samping itukomitmen sebagai negara
hukum, yang mengharuskan untuk membangun hukum yang berkeadilan sosial dan
melindungi hak$hak asai manusia
* :arena Indonesia baru merati#ikasi empat kon7ensi dari 5; kon7ensi P%%, jumlah itu
sangat sedikit
5 Penghormatan terhadap !'( merupakan Gonditio .ine Muanon bagi negara$negar
yang ikut serta dalam pergaulan tata internasional
4 2ealitas perlindungan !'( di Indonesia masih di"arnai dengan tindakan kekerasan
sehingga diharapkan dengan rati#ikasi kon7ensi anti penyiksaan kita daapt
menyempurnakan sistem peradilan pidana
%erbagai kegiatan di masyarakat yang dapat dimasukan dalam upaya perlindungan !'(
menurut 6ukman .oetrisno seorang sosiolog antara lain &(uhammad, *;;+),
1 :egiatan belajar bersama, berdiskusi untuk memahami pengertian !'(B
* (empelajari peraturan perundang N undangan mengenai !'( maupun peraturan hukum
pada umumnya, karena peraturan hukum yang umum pada dasarnya juga telah memuat
jaminan perlindungan !'(B
5 (empelajari tentang peran lembagaNlembaga perlindungan !'(, seperti :omnas !'(,
:omisi Nasional Perlindungan 'nak &:NP'), 6.(, dan seterusnyaB
4 (emasyarakatkan tentang pentingnya memahami dan melaksanakan !'(, agar
kehidupan bersama menjadi tertib, damai dan sejahtera kepada lingkungan masingN
masingB
5 (enghormati hak orang lain, baik dalam keluarga, kelas, sekolah, pergaulan, maupun
masyrakatB
D %ertindak dengan mematuhi peraturan yang berlaku di keluarga, kelas, sekolah, 9.I.,
masyarakat, dan kehidupan bernegaraB
? %erbagai kegiatan untuk mendorong agar negara mencegah berbagai tindakan anti
pluralisme &kemajemukan etnis, budaya, daerah, dan agama)B
+ %erbagai kegiatan untuk mendorong aparat penegak hukum bertindak adilB
9 %erbagai kegiatan yang mendorong agar negara mencegah kegiatan yang dapat
menimbulkan kesengsaraan rakyat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti, sandang,
pangan, papan, kesehatan dan pendidikan
h. Pentingn2a re6!rmasi hukum
2e#ormasi hukum mempunyai arti penting guna membangun desain kelembagaan bagi
pembentukan negara hukum yang dicita$citakan Untuk kepentingan itu dalam sistem politik
yang demokratis, hukum harus memberi kerangka struktur organisasi #ormal bagi bekerjanya
lembaga$lembaga negara, menumbuhkan akuntabilitas normati# dan akuntabilitas publik dalam
proses pengambilan keputusan politik, serta dapat meningkatkan kapasitasnya sebagai
sarana penyelesaian kon#lik politik&!arkristuti, *;;5)
(isi yang diemban dalam rangka re#ormasi hukum adalah terciptanya hukum yang tertib
dan berkeadilan namun tetap senantiasa mampu mendorong pembangunan bagi peningkatan
kesejahteraan masyarakat /ujuan utama yang hendak dicapai dalam kerangka re#ormasi hukum
adalah tegaknya supremasi hukum dalam masyarakat (elalui tegaknya supremasi hukum, maka
hukum akan benar$benar ber#ungsi sebagai rambu$rambu dan sekaligus pedoman bagi semua
pihak, baik penyelenggara negara dan pemerintahan, penegak hukum, pelaku usaha dan
masyarakat umum dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara &Iskatrinah, *;;4)
PENU0UP
esim"ulan
!ukum dan !'( merupakan konsepsi kemanusiaan dan relasi sosial yang dilahirkan
dari sejarah peradaban manusia di seluruh penjuru dunia !ukum dan !'( juga dapat dimaknai
sebagai hasil perjuangan manusia untuk mempertahankan dan mencapai harkat kemanusiaannya
Negara Indonesia adalah negara hukum tidak hanya berdasarkan pada kekuasaan belaka,
selain itu juga berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 !al ini berarti Negara
Indonesia menjunjung tinggi hak asasi manusia dan menjamin segala "arga negaranya
bersamaan kedudukannya di dalam hokum dan pemerintahan, serta "ajib menjunjung tinggi
hukum dan pemerintahan itu tanpa ada kecualinya Pernyataan bah"a Indonesia merupakan
negara hukum juga mempunyai konsekuensi, bah"a Negara Indonesia menerapkan hukum
sebagai idiologi untuk menciptakan ketertiban, keamanan, keadilan serta kesejahteraan bagi
"arga negara, sehingga hukum itu bersi#at mengikat bagi setiap tindakan yang dilakukan oleh
"arga negaranya Negara hukum harus memenuhi beberapa unsur antara lain pemerintah dalam
melaksanakan tugas dan ke"ajibannya, harus berdasar hukum atau peraturan perundang$
undangan, adanya jaminan terhadap hak asasi manusia, adanya pembagian kekuasaan dalam
Negara, adanya penga"asan dari badan$badan peradilan
Saran
.ebagai "arga Indonesia yang berdasarkan Negara hukum, seharusnya semua pihak
"ajib menjunjung tinggi, mematuhi dan melaksanakan humum yang berlaku di Indonesia agar
tercapai cita$cita bangsa Negara
DA70A5 PUS0AA
1l N(uhtaj, !ak asasi manusia dalam konstitusi Indonesia, dari UUD 1945 sampai dengan
'mandemen UUD 1945 tahun *;;*, :encana, *;;5, hal D*
Eachruddin Ir#an ,engawasan ,eradilan .dministrasi terhada Tindakan
,emerintah, &%andung , P/ 'lumni, *;;4), hal 11; N 1*;
3aneca 1Jact *;;? Pendke"arganegaraansmpFmts
!arkrisno"o, !arkristuti, *;;5, !'( Dalam :erangka Integrasi Nasional Dan
Pembangunan !ukum, :omisi !ukum Nasional 2epublik Indonesia
Iskatrinah, *;;4, Pelaksanaan Eungsi !ukum 'dministrasi Negara Dalam (e"ujudkan
Pemerintahan 0ang %aik, 6itbang Pertahanan Indonesia, %alitbang Departemen
Pertahanan
I ' .hearer, Starke2s !nternational Law( 11
th
ed, %utter"orths, U.', 19+4, hal D4, 'liran ini
pernah sangat berpengaruh di >erman dan Italia Para pemuka aliran ini adalah /riepel dan
'n<iloti
:usniati, 2 *;;5 Se3arah ,erlindungan #ak #ak .sasi Manusia Dalam 4aitannya Dengan
4onsesi 5egara #ukum% '7ailable at, http,FFonline$
journalunjaacidFindeJphpFjimihFarticleFdo"nloadF55?F49; &'ccesed *5 .eptember
*;15)
(ochtar :usumaatmadja, ,engantar #ukum !nternasional( 'lumi, %andung *;;5, hal D5,
(iriam %udiardjo, Dasar$dasar Ilmu Politik, &>akarta ,P/ 3ramedia, 19+9) hal 5?
Muhama$ 4 Simela ;i/t!r 4 .//0% Pemajuan Dan Perlin$ungan Hak Asasi Manusia Dalam
!nteks Hubungan Internasi!nal Dan In$!nesia4 Kajian% -ol 12% 3o4 5% '7ailable Erom,
http,FF"""academiaeduFDo"nload Akses ,+ Se"tember ,'1-
Notohamidjojo, Makna 5egara hukum, &>akarta , %adan Penerbit :risten, 19?;), hal *?
.entra !'(, Panduan Umum Untuk Pelatihan !'( &Depok , .entra !'(, *;;5) hal 5
.etiardja, 3una"an, .upremasi !ukum dalam Perspekti# Pengembangan !'(, >akarta
4inandi 4oro, *;11, (odul !ukum !am Dan Demokrasi Eakultas !ukum Uni7ersitas
Narotama .urabaya '7ailable Erom,
http,FF"oro"inandidosennarotamaacidF#ilesF*;11F;5F(odul$!ukum$!'($Demokrasi$
4$1ksistensi$2e#ormasi$!ukum$Dan$Perlindungan$!ak$'sasi$(anusia$Di$
Indonesiapd# ':.1. *5 .1P/1(%12 *;15
.mith, 2: *;;+ #ak .sasi Manusia% Pusat .tudi !ak 'sasi (anusia Uni7ersitas Islam
Indonesia &PU.!'( UII), 0ogyakarta
Undang$Undang 2epublik Indonesia Nomor 59 /ahun 1999 /entang !ak 'sasi (anusia
'7ailable at, http,FF"""hukordepkesgoidFupOprodOuuFUUP*;NoP*;59P*;/h
P*;1999P*;ttgP*;P*;!akP*;'sasiP*;(anusiapd# &'ccesed *5 .eptember *;15)
Undang$undang2epublik Indonesia Nomor 59 tahun 1999 !ak'sasi(anusia *5 .eptember
1999 6embaran Negara 2epublik Indonesia /ahun 1999 Nomor 1D5
0amin (uhammad, ,roklamasi dan 4onstitusi !ndonesia, &>akarta , 3halia Indonesia, 19+*),
hal ?*