Anda di halaman 1dari 13

1

A. JUDUL
Pemanfaatan Limbah Pod Kakao sebagai Bahan Baku Alternatif Pembuatan
Bioetanol Menggunakan Metode Simultaneous Sacharification and Fermentation
(SSF)
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Umumnya bioetanol dibuat dari tanaman-tanaman berpati seperti singkong, ubi,
sagu, jagung dan sorgum. Tetapi tanaman ini mempunyai nilai guna lain sebagai bahan
pangan. Jika tanaman tersebut digunakan sebagai bahan baku dalam memproduksi
etanol secara komersial maka akan meminbulkan persaingan antara bahan pangan dan
energi.
Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup
penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja,
sumber pendapatan dan devisa negara. Komoditas kakao menempati peringkat ketiga
ekspor sektor perkebunan dalam menyumbang devisa negara, setelah komoditas karet
dan CPO. Pada tahun 2009 ekspor kakao mencapai US$ 116,51 miliar atau meningkat
26,47% dibanding tahun 2005 (Mahendra, 2010).
Semakin meningkatnya produksi kakao akan meningkatkan jumlah limbah buah
kakao. Komponen limbah buah kakao yang terbesar berasal dari kulit buahnya atau
biasa disebut pod kakao, yaitu sebesar 75 % dari total buah. Jika dilihat dari data
produksi buah kakao pada tahun 2009 yang mencapai 849.875 ton, maka limbah pod
kakao yang dihasilkan sebesar 637,4 ribu ton. Apabila limbah pod kakao ini tidak
ditangani secara serius maka akan menimbulkan masalah lingkungan.
Pod kakao merupakan limbah lignoselulosik yang mengandung lignin, selulosa
dan hemiselulosa. Bahan selulosa pada limbah dapat dimanfaatkan sebagai sumber
karbon untuk produksi etanol (C
2
H
5
OH) dengan teknologi sakarifikasi dan fermentasi
serentak atau Simultaneous Sacharification and Fermentation (SSF.
Berdasarkan fakta-fakta yang terdapat di atas, muncul sebuah ide dalam
melakukan penelitian tentang pemanfaatan limbah pod kakao (theobroma cacao)
menjadi bioetanol dalam upaya mengurangi limbah organik di lingkungan juga untuk
menghindari persaingan bahan baku energi dengan pangan.
C. Perumusan Masalah
2

Meningkatnya produksi kakao menjadi hal yang membanggakan bagi Negara
Indonesia akan tetapi produksi kakao yang semakin naik juga menyebabkan
meningkatnya jumlah limbah buah kakao. Bila limbah tersebut tidak ditangani dengan
tepat maka dapat menimbulkan masalah lingkungan. Disisi lain, pada proses pembuatan
bioetanol dibutuhkan bahan baku alternatif yang murah dan tidak bersaing dengan
bahan pangan. Dengan menghubungkan masalah diatas, maka penelitian ini perlu
dilakukan untuk mengetahui potensi limbah pod kakao sebagai bahan baku alternatif
pembuatan bioetanol.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
a. Memanfaatkan limbah pod kakao sebgai bahan baku pembuatan bioetanol.
b. Mengetahui hubungan antara kadar enzim selulase yang digunakan dalam proses
hidrolisis terhadap glukosa yang dihasilkan.
c. Mengetahui pengaruh waktu, kadar yeast dalam proses fermentasi glukosa
menjadi bioetanol.
E. Luaran yang Diharapkan
Dengan penelitian ini diharapkan lahirnya artikel yang mengkaji tentang potensi
limbah pod kakao untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol ditinjau
dari pengaruh enzim selulase dan waktu fermentasi. Karena Selain limbah pod kakao
harganya murah juga dalam pemanfaatnya dapat mengurangi limbah dilingkungan.
F. Kegunaan Program
Kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
1. Mengetahui potensi limbah pod kakao sebagai bahan baku pembuatan bioetanol.
2. Mengurangi jumlah limbah pod kakao dilingkungan dengan memanfaatkannya
sebagai bahan baku pembuatan bioetanol.
3. Menghindari persaingan antara bahan pangan dengan bahan baku pembuatan
bioetanol
4. Memberikan wawasan baru kepada masyarakat atau pembaca sebagai dasar
pengembangan bioetanol lebih lanjut.
G. TINJAUAN PUSTAKA
G.1 Kakao (Theobroma cacao)
3

Tanaman kakao bukan tanaman asli Indonesia tetapi tanaman tersebut
diperkirakan berasal dari lembah hulu sungai Amazon, Amerika Selatan yang dibawa
masuk ke Indonesia melalui Sulawesi Utara oleh Bangsa Spanyol sekitar tahun 1560.
Kakao menjadi salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi
perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan
dan devisa negara. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan
wilayah dan pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah
menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala
keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta
memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan
kelapa sawit dengan nilai sebesar US $ 701 juta.

Gambar 2.1. Buah Kakao Trinitario

G.2 Pod Kakao
Pod kakao merupakan bagian mesokarp atau dinding buah kakao yang mencakup
kulit terluar sampai daging buah sebelum kumpulan biji, terlihat pada Gambar 2. Pod
buah kakao merupakan bagian terbesar dari buah kakao. Komposisi bagian-bagian buah
kakao dapat dilihat pada Tabel 1.





Gambar 2. Pod Kakao
4


Tabel 1. Komposisi Buah Kakao
Komponen Presentase (DB)
Pod (kulit buah) 75.70
Biji dan pulp 21.68
Plasenta 2.62
Sumber : Ashadi, 1988
Pod kakao merupakan limbah lignoselulosik. Lignoselulosa merupakan serat
kasar yang memiliki komponen energi terbesar pada limbah. Limbah lignoselulosik
dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan etanol, sehingga menghindari
persaingan dengan bahan pangan. Lignoselulosa atau serat kasar terdiri atas tiga
penyusun utama, yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin, yang saling terikat erat
membentuk satu kesatuan. Hasil penelitian Ashadi (1998) menunjukkan bahwa serat
kasar pod kakao mengandung 20.11 % lignin, 31.25 % selulosa, dan 48.64 %
hemiselulosa.
G.3. Bioetanol
Bioetanol adalah etanol yang dibuat dari biomass yang mengandung komponen
monosakarida yang didapat dari pati atau selulosa. Etanol atau etil alkohol (C
2
H
5
OH)
merupakan bahan kimia organik yang mengandung oksigen yang paling eksotik karena
kombinasi sifat-sifat uniknya yang dapat digunakan sebagai pelarut, germisida,
minuman, bahan anti beku, bahan bakar, dan khususnya karena kemampuannya sebagai
bahan kimia intermediet untuk menghasilkan bahan kimia yang lain.
G.4. Pembuatan Etanol dengan Metode SSF
Dalam mengubah selulose menjadi etanol tidak dapat secara langsung
difermentasi tetapi dengan menggunakan teknologi sakarifikasi dan fermentasi serentak
atau Simultaneous Sacharification and Fermentation (SSF). Teknologi ini dapat
mencakup 4 rangkaian proses yaitu, perlakuan awal, sakarifikasi, fermentasi dan
destilasi (Hambali, 2008).
Berikut adalah tahapan proses pembuatan etanol :
1. Perlakuan Awal
5

Sebelumnya, bahan baku yang mengandung selulosa harus dikecilkan
ukuranya terlebih dahulu lalu dikeringkan agar kadar airnya minimum
(Setelah itu digunakan jamur pelapuk putih (white rot fungi) dan pemanasan
pada suhu tinggi (steaming) yang bertujuan untuk meningkatkan konversi
etanol dari bagas agar lebih optimal. Hal ini dikarenakan pretreatment
dengan jamur pelapuk putih dan steaming dapat menghancurkan kandungan
lignin pada pod kakao yang mempersulit kerja enzim dalam mengakses
keberadaan selulosa.
2. Sakarifikasi
Selulosa merupakan polimer glukosa dengan ikatan -1,4 glukosida
dalam rantai lurus. Selulosa terdiri atas 15-14.000 unit molekul glukosa
Rantai panjang selulosa terhubung secara bersama melalui ikatan hidrogen
dan gaya van der Waals (Coughlan, 1989).
Ragi (saccharomyses cerevisiae) tidak dapat langsung memfermentasikan
selulosa. Oleh karena itu diperlukan tahap hidrolisis, yakni perubahan
selulosa menjadi glukosa dengan menggunakan enzim atau asam.
Hidrolisis dengan enzim merupakan proses pemecahan struktur selulosa
menjadi satuan-satuan monomernya yaitu glukosa dengan bantuan enzim.
Hidrolisis dengan enzim baik dibandingkan secara kimiawi (mengggunakan
asam) karea menghasilkan % hasil yang lebih tinggi ,biaya produksi yang
lebih murah , tidak menyebabkan korosi dan bersifat ramah lingkungan.
Dengan memanfaatkan enzim pengurai selulosa dari mikroorganisme,
konversi selulosa untuk menghasilkan -1,4 glukosida yang tidak
terfermentasi terjadi karena hidrolisis enzimatis.
Secara keseluruhan terdapat tiga jenis reaksi yang dikatalisis oleh enzim
selulase :
1. Memotong interaksi nonkovalen dalam bentuk ikatan hydrogen yang ada
dalam struktur Kristal selulosa oleh enzim endo-selulase
2. Hidrolisis serat selulosa menjadi sakarida yang lebih sederhana oleh
ekso-selulase
6

3. Hidrolisis disakarida dan tetrasakarida menjadi glukosa oleh enzim -
glukosidase. Ketiga reaksi tersebut dijelaskan dalam gambar 5 (Fao,2005).










Gambar 3. Mekanisme keseluruhan kerja enzim selulase
3. Fermentasi
Tahap inti dari produksi bioetanol adalah fermentasi gula sederhana, baik
yang berupa glukosa, sukrosa, maupun fruktosa dengan menggunakan
ragi/yeast terutama Saccharomyces cerevisiae.
Saccharomyces merupakan mikroorganisme bersel tungal yang sangat
dikenal masyarakat luas sebagai ragi roti (bakers yeast). Ragi roti ini selain
digunakan dalam pembuatan makanan dan minuman, juga digunakan dalam
industri etanol (Umbreit, 1959).
Dalam proses ini, gula akan dikonversi menjadi etanol dan gas karbon
dioksida .
Persamaan reaksi fermentasinya:
C
6
H
12
O
6
> 2 CH
3
CH
2
OH + 2 CO
2

glucose etanol carbon dioxide (Waller, 1981).
Fermentasi dapat didefenisikan sebagai perubahan gradual oleh enzim
beberapa bakteri, ragi, dan jamur. Bahan dasar untuk kebutuhan fermentasi
dapat berasal dari hasil pertanian, perkebunan, maupun limbah industri.
Bahan dasar harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Mudah didapat,
7

jumlahnya besar, murah harganya dan bila diperlukan ada penggantinya
(Hidayat, 2006).
4. Distilasi
Kadar etanol hasil fermentasi tidak dapat mencapai level diatas 18 - 21%,
sebab etanol dengan kadar tesebut bersifat toxic terhadap ragi yang
memproduksi etanol tersebut sehingga untuk memperoleh etanol dengan
kadar yang lebih tinggi perlu dilakukan distilasi. Distilasi adalah proses
pemanasan yang memisahkan etanol dan beberapa komponen cair lain dari
substrat fermentasi sehingga diperoleh kadar etanol yang lebih tinggi
(Archunan, 2004).
H. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental dan dilakukan di
laboratorium teknik kimia Universitas Diponegoro, dengan tahapan penelitian
sebagai berikut :
Pod Kakao
Perlakuan Awal
(Menghaluskan Bahan,
Pengeringan dan
Penghilangan lignin)
Sakarifikasi
(enzim selulase)
Fermentasi
(Saccharomyces
cerevisisae)
Destilasi
Glukosa
Bioetanol
kadar rendah
Bioetanol
kadar tinggi

Gambar 3. Skema pembuatan bioetanol fuel grade
Rangkaian penelitian diawali dengan persiapan bahan, bahan berupa pod kakao
dihaluskan untuk memperluas permukaan pod kakao sehingga memudahkan reaksi
8

hidrolisis. Setelah itu, bahan dikeringkan agar kadar airnya berkurang. Lignin
kemudian dipisahkan dengan menggunakan jamur pelapuk putih (white rot fungi).
Setelah bahan siap, dilakukan hidrolisis hingga dihasilkan glukosa. Glukosa ini
kemudian difermentasi dengan bantuan Saccharomyces cerevisiae dan
menghasilkan bioetanol. Etanol yang dihasilkan kemudian di analisis dengan
metode kromatografi gas (Gas Cromathography).
H.1. Variabel Percobaan
a. Variabel Berubah
Kadar Enzim Selulase : 4%, 6% dan 8%g
Waktu fermentasi : 48, 72 dan 96 jam
Kadar Yeast : 3%, 5%, dan 7%v
b. Variabel Tetap
1. Sakarifikasi/Hidrolisis
Serbuk pod kakao : 100 gram
Aquadest : 1 Liter
pH : 5
Suhu hidrolisis : 50
0
C
Waktu Hidrolisis :

2. Fermentasi
S. cerevisiae : 5%v
Urea : 5.4%v
Medium Nutrient
(NH4)2PO4 : 1,0 g/l
MgSO4.7H2O : 0,05 g/l
pH fermentasi : 4.5
H.2. Bahan dan Alat yang Digunakan
a. Bahan
Pod kakao
Enzim selulase
Aquadest
Saccharomyces
cerevisaiae
Urea
Medium Nutrient
H
2
SO
4

NaOH
Jamur pelapuk
putih
b. Alat
Gelas ukur
Erlenmeyer
Beaker glass
Kawat osse
Autoclave
Pipet tetes
Piknometer
Thermometer
Indikator pH
Labu leher tiga
Buret, statif, klem
Pendingin liebig
Magnetic stirrer
Pengaduk
Kompor listrik
9

Labu ukur Labu distilasi Kolom adsorpsi
c. Gambar Alat

Keterangan :
1. Reaktor
2. Waterbath
3. Magnetic stirrer
4. Thermometer
5. Heater
Gambar 3.2 Rangkaian alat sakarifikasi
H.5. Prosedur Percobaan
1. Persiapan Bahan Baku
Bahan berupa pod kakao dihaluskan (kurang lebih 30-60 mesh) sehingga
ukuran partikel lebih seragam, kemudian dikeringkan dengan oven selama 1 jam
pada suhu 60-70
0
C sehingga kadar air maksimal 10% dan disimpan di tempat
yang kering. Bahan tersebut kemudian di-pretreatment dengan jamur pelapuk
putih Lentinus edodes selam 4 minggu.
2. Metode SSF
Pada tabung reaksi , dimasukkan secara berurutan 0,25 g sampel ,
selulase 10 sesuai variabel dan 2,5 ml yeast inokulum, 0,5 ml Na-citrate buffer
pada pH 5.0, dan medium nutrient 2,5 ml. Sampel, medium nutrient, dan citrate
buffer disterilisasi pada suhu 121 oC selama 20 menit dengan menggunakan
autoclave, namun enzim ditambahkan tanpa sterilisasi. Medium nutrient terdiri
dari 1,0 g l-1 (NH4)2PO4; 0,05 g l-1 MgSO4.7H2O dan 2 g l-1 yeast ekstrak.
Kultivasi diambil dan dimasukan dalam test tube sebanyak 5.0 ml kemudian
disentrifugasi menggunakan orbital shaker pada kecepatan 100 rpm selama 96
jam pada suhu 35 oC. Cairan bersih sampel diambil dengan sampling 48, 72 dan
96 jam dan diuji etanol yang dihasilkan.
3. Analisa Produk
Penentuan Konsentrasi Etanol
1
2
3
4
5
10

Konsentrasi etanol ditentukan dengan metode kromatografi gas (Gas Cromathography)
jenis SUPEL COWAX-10 (Supelco Inc., 0,53 mm i.d., 15 m, 0,5 mm, FID) pada
temperatur 50oC. Sebelum pengujian, sampel diambil 50 l dan ditambah 200 l
distilled water (5 kali pengenceran).
I. JADWAL PELAKSANAAN
Penelitian ini dilakukan selama lima bulan dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
Tabel 3. Jadwal Kegiatan Program

J. RANCANGAN BIAYA :
Peralatan Penunjang PKMP (Ni lum sy Revisi,,klo bsa dibuat silahkan.. tp
kykny km lum bsa deh..:)haha
- Pipa peralon, sambungan, dan lem Rp 90.000,00
- Barometer Rp 145.000,00
- 2 @Kran Rp 40.000,00
- Corong 2 @ Rp 20.000,00
- Sewa alat laboratorium 2 bulan Rp 700.000,00
- Penyaring wheatman 1 pack Rp. 50.000,00
- Pompa centrifugal Rp. 2.500.000,00
Rp 3.425.000,00
Pembelian Bahan habis Pakai
- Kelapa tua 160@Rp. 5000,00 Rp. 35.000,00
- Aquadest (200 liter)@ Rp. 1.500,00 Rp. 300.000,00
Rp. 335.000,00
Kegiatan
Bulan
1 2 3 4 5
Studi Literatur
Persiapan Bahan
Rancangan Alat
Eksperimen
Analisis dan Interpretasi Data
Penyusunan laporan
11

Transportasi dalam kota dan luar kota Rp 300.000,00
Lain-Lain
- Fotocopy Literatur dan Jurnal Rp 100.000,00
- Fotocopy laporan @ 5 eksemplar Rp 100.000,00
- Flash Disk 1 buah @ Rp 100.000,00 Rp 200.000,00
- Kabel dan stop kontak Rp 75.000,00
- Kertas label, tisu roll, busa cuci, dll Rp 85.000,00
- Catridge printer Rp 300.000,00
- Akses internet Rp 280.000,00
- Uji sampel Percobaan (Wahana Lab.) Rp 1.200.000,00
- Kertas 1 rim A4 Rp 40.000,00
- Tinta
Uji sampel Percobaan (Wahana Lab.) Rp 1.200.000,00
TOTAL PENGELUARAN Rp. 7.000.000,00

K. DAFTAR PUSTAKA (Tolong Dapusny disesuaikan ,, yg g ad dihapus aj)
Archunan, G., Microbiology, 1
st
, Sarup & Sons, New Delhi, 2004, pp. 357-358.
Ashadi, R.W., Pembutaan Gula Cair dari Pod Coklat dengan Menggunakan
Asam Sulfat, Enzim, serta Kombinasi Keduanya. Skripsi. Fakultas
Teknologi Pertanian, IPB. Bogor, 1988.
Buckle, K. A., Ilmu Pangan, Universitas Indonesia Press. Jakarta, 1987.
Coughlan, M. P., Enzyme System for Lignocellulose Degradation, Elsevier Applied
Science, London and New York, 1989.
Desrosier, Teknologi Pengawetan Pangan. Penerjemah M. Muljahardjo. UI-Press,
Jakarta, 1988.
European Bioinformatics Institute, Eukaryotes Genomes-Saccharomyces cerevisiae,
1996, [diakses 22 Juni 2011]. Diambil dari: URL: Hyperlink
http://www.ebi.ac.uk/2can/genomes/eukaryotes/Saccharomyces_cerevisiae.html
Fan, L.T., Y.H. Lee, dan M.M.Gharpuray, The Nature of Lignocellulosics
and Their Pretreatment for Enzymatic Hydrolysis. Adv. Bichem. Eng. 23, 1982,
pp.158 187.
12

Fardias, Srikandi, Fisiologi Fermentasi, Lembaga Sumber Daya Informasi-IPB, Bogor,
1988.
Fieser, L.F. dan Fieser, M., Reagents for Organic Synthesis, 1
st
, John Wiley & Sons,
New York, 1967, pp. 703-705.
Food and Agriculture Organization of the United Nations, Mechanism of the enzyme
cellulase, 2005 [diakses 22 Juni 2011]. Diambil dari: URL: Hyperlink
http://www.fao.org/docrep/w7241e/w7241e08.htm
Frisch, K.C., Phenolic Resin and Plastics dalam Kirk Othmer Encyclopedia of Chemical
Technology, Vol. 15 Edisi 2
rd
, Mei Ya Publication Inc, 1967.
Halimatuddahliana, Pembuatan n-Butanol Dari Berbagai Proses, USU Digital Library,
2004.
Hambali, E., dkk., Teknologi Bioenergi .Cetakan ketiga, PT.Agromedia Pustaka,
Jakarta, 2008, Hal. 3-5, 38-50 .
Hidayat, N., Masdiana C.P. dan Sri S., Mikrobiologi Industri, CV. Andi Offset.
Yogyakarta, 1996, Hal. 2-14,18-24,111-120,179-192.
Kavanagh, Kevin, Fungi Biology and Applications, John Willey & Sons Ltd, England,
2005.
Kirk, R. E., and R. F. Othmer, Encyclopedia of Chemical Technology, vol. 9, John
Wiley and Sons Ltd, Canada, 1951.
Mathewson, S.W., Drying the Alcohol. Chapter 12. In: The Manual for the Home and
Farm Production of Alcohol Fuel, Ten Speed Press, California, 1980.
Monick, J.A., Alcohols, Reinhold Book Corporation, New York, 1968, pp. 40, 52.
Oshima, M., Wood Chemistry Process Engineering Aspec, Noyes Develop.
Corp., New York, 1965.
Perez, J. et al., Biodegradation and Biolgical Treatments of Cellulose,
Hemicellulose, and Lignin: An Overview, Int Microbiol, Vol. 5, 2005, pp. 53-63.
Prescott, Samuel Cate and Cecil Gordon Dunn, Industrial Microbiology, McGraw-Hill
Book Company, Inc., New York, 1959.
Prihandana, Bioetanol Ubi kayu Bahan Bakar Masa Depan, Agromedia, Jakarta, 2008.
Suharto, Bioteknologi Dalam Dunia Industri. Edisi I, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta,
1995, Hal. 18, 23, 25-27, 40-41, 122-125.
13

Sun, Y. and Cheng, J., Hydrolysis of Lignocellulosic Materials for Ethanol
Production: A Review, Bioresource Technology, Vol. 83, 2002, pp. 1-11.
Suryani, Dinie dan Zulfebriansyah, Komoditas Kakao : Potret dan Peluang
Pembiayaan, Economic Review, 2007, No. 210.
Roesmanto, J., Kakao: Kajian Sosial Ekonomi, Aditya Media. Yogyakarta , 1991 pp.
165.
Taherzadeh, Muhammad J. and Karimi, Keikhosro, Pretreatment of
Lignocellulosic Waste to Improve Bioethanol and Biogas Production. Int.
J. Mol. Sci 9, 2008, pp. 1621-1651.
Umbreit, Wayne W., Advances In Applied Microbiology, Vol. 1, Rutgers University,
New Jersey, 1959.
Volk, Wesley A., Mikrobiologi Dasar, edisi ke-5, Erlangga, Jakarta, 1993.
Waller, J.C., dkk., Feeding Value of Ethanol Production By-products, National
Academy Press, Washington D.C, 1981, pp. 11-12.
Wardoyo, S., Beberapa Persyaratan Dasar Untuk Meningkatkan Mutu Biji Kakao
Indonesia. Proc. Komp. Nas. Kakao III. Buku 2. Pusat Penelitian Perkebunan
Jember-Pusat Penelitian Perkebunan Medan, ASKINDO, Medan, 1991, hal. 75-
76.
(U/ Data Lainya Lampiran Nnnti sy Masukan, Oh Iya Biodatamu skalian Lampirkan
dibwah y) Batas Max 15 hal di usahakan di edit sampai 13 hal spy CV bsa
masuk Semangat Go To PIMNAS XXV