Anda di halaman 1dari 71

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini dunia usaha sangat tergantung sekali dengan masalah
pendanaan. Dalam melakukan keputusan pendanaan, perusahaan juga perlu
mempertimbangkan dan menganalisis kombinasi sumber-sumber dana ekonomis
guna membelanjai kebutuhan-kebutuhan investasi serta kegiatan usahanya.
Sebagaimana disebutkan Weston dan Brigham (1990) dalam Eka (2011)
kebijakan mengenai struktur modal melibatkan trade off antara risiko dan tingkat
pengembalian, penambahan utang dapat memperbesar risiko perusahaan tetapi
sekaligus juga memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan. Risiko yang
lebih tinggi akibat membesarnya utang cenderung menurunkan harga saham,
tetapi meningkatnya tingkat pengembalian yang diharapkan akan menaikkan
harga saham tersebut. Karena itu, struktur modal yang optimal harus mencapai
suatu keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga dapat
memaksimalkan harga saham perusahaan (Brigham dan Houston, 2006). Untuk
itu, dalam penetapan struktur modal suatu perusahaan perlu mempertimbangkan
berbagai variabel yang mempengaruhinya.
Struktur modal merupakan perbandingan atau imbangan pendanaan
jangka panjang perusahaan yang ditunjukkan oleh perbandingan utang jangka
panjang terhadap modal sendiri. Pemenuhan kebutuhan dana perusahaan dari
sumber modal sendiri berasal dari modal saham, laba ditahan, dan cadangan.
2

Dalam pemenuhan kebutuhan dana, perusahaan harus mencari alternatif-alternatif
pendanaan yang efisien. Pendanaan yang efisien akan terjadi bila perusahaan
mempunyai struktur modal yang optimal (Brigham dan Houston, 2006).
Kebijakan struktur modal yang optimal adalah di mana terjadinya
keseimbangan yang baik antara risiko dan tingkat pengembalian yang pada
akhirnya akan memaksimalkan nilai perusahaan. Struktur modal yang efektif
tidak bersifat statis karena akan berubah terus menerus seiring dengan perubahan-
perubahan yang dialami perusahaan. Kondisi dan perubahan perusahaan akan
membawa dampak bagi pengambilan keputusan struktur modal dalam
penggunaan hutang atau penggunaan laba ditahan.
Penggunaan hutang jangka panjang sebagai sumber dana selain karena
didorong oleh kebutuhan perusahaan juga didorong oleh system perpajakan yang
berlaku di Indonesia. Menurut Adriani dalam Anantasia (2012) pajak merupakan
iuaran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) pada wajib pajak untuk
membayarnya menurut peraturan yang ada dengan tidak mendapat prestasi
kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk
membiayai pengeluaran umum berhubungan dengan tugas Negara untuk
menyelenggarakan pemerintahan. Sehingga membayar pajak merupakan salah
satu kewajiban perusahaan yang tidak dapat terhindarkan. Namun, perusahaan
dapat melakukan manajemen pajak agar jumlah pajak yang harus dibayarkan
menjadi lebih rendah.
Salah satu manajemen pajak yang berkaitan dengan penggunaan hutang
adalah adanya beban bunga atas hutang yang termasuk biaya usaha yang dapat
3

menjadi pengurang penghasilan, sehingga menyebabkan laba kena pajak
perusahaan menjadi berkurang yang pada akhirnya akan mengurangi jumlah
pajak yang harus dibayar perusahaan. Oleh karena itu, bagi perusahaan beban
bunga (interest expense) disebut juga sebagai manfaat pajak atas bunga (interst
tax shield).
Berdasarkan teori Modigliani dan Miller (1958) dalam Anantasia (2012)
mengenai struktur modal, pengurangan beban bunga dalam perhitungan pajak
akan sangat bermanfaat bagi perusahaan yang terkena tarif pajak yang tinggi,
yang menyebabkan jumlah pajak yang terutang akan besar, sehingga untuk
perusahaan tersebut, salah satu manajemen pajak yang dapat dilakukan adalah
dengan lebih banyak berhutang untuk mendapatkan manfaat dari beban bunga
dalam upaya mengurangi pajak yang harus dibayar.
Dengan adanya perubahan peraturan yang mengatur tentang pajak
penghasilan, yang sebelumnya diataur dalam Undang-undang No. 17 tahun 2000
menjadi Undang-undang No. 36 tahun 2008. Di mana salah satu perubahannya
adalah mengenal tarif PPh badan yang semula adalah tarif progresif menjadi tarif
flat, maka perusahaan yang memiliki tingkat laba yang tinggi akan merasa
diuntungkan karena pajak yang harus dibayar menjadi lebih kecil sehingga
perusahaan dapat mengurangi jumlah hutang yang dilakukan dalam rangka
manajemen pajak tadi. Sementara bagi perusahaan dengan tingkat laba yang
rendah akan merasa dirugikan karena pajak yang harus dibayar menjadi lebih
besar. Salah satu cara mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar adalah
memanfaatkan biaya bunga dengan menambah jumlah hutang mereka. Namun
4

apabila perusahaan memiliki terlalu banyak hutang agar biaya bunganya dapat
mengurangi taxable income, maka menurut teori trade off jumlah hutang yang
besar tersebut akan meningkatkan biaya kebangkrutan.
Perusahaan dituntut untuk mempertimbangkan dan menganalisis sumber-
sumber dana yang ekonomis guna membiayai kegiatan usahanya. Untuk itu
perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang mempengaruhi
pengambilan keputusan struktur modal.
Modigliani dan Miller (1958) dalam Anantasia (2012) pertama kali
mengemukkan teori mengenai struktur modal. Menurut teori tersebut bahwa
apapun struktur modal yang dipilih baik hutang ataupun ekuitas tidak akan
berpengaruh pada nilai perusahaan. Kemudian Modigliani dan Miller (1958)
dalam Anantasia (2012) merevisi teori tersebut dengan menghubungkan struktur
modal dengan memperhitungkan adanya pajak. Mereka berpendapat bahwa
struktur modal yang menggunakan hutang akan memperoleh manfaat pajak dari
adanya biaya bunga yang dapat mengurangi penghasilan kena pajak (taxable
income).
Natalia (2008) meneliti mengenai pengaruh perubahan tariff pajak
penghasilan perusahaan terhadap struktur modal periode 1998 2006 pada 23
perusahaan di BEI dan berpendapat bahwa adanya perubahan tarif pajak memiliki
pengaruh terhadap struktur modal. Natalia (2008) juga meneliti hubungan
variabel profitabilitas dan non debt tax shield terhadap struktur modal.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
lebih jauh mengenai struktur modal dengan adanya perubahan peraturan pajak
5

penghasilan saat ini dengan Undang-undang Nomer 36 tahun 2008 yang salah
satunya mengubah tarif pajak yang semula progresif menjadi flat, dengan
berdasarkan referensi Natalia (2008). Selain itu, penulis juga menambah variabel
likuiditas dan ukuran perusahaan yang dapat mempengaruhi struktur modal pada
perusahaan yang terdaftar di BEI pada periode 2007 2011. Berdasarkan hal
tersebut, maka peneliti akan mengambil judul penelitian PENGARUH
PERUBAHAN TARIF PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK DAN
KARAKTERISTIK PERUSAHAAN TERHADAP STRUKTUR MODAL
PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK
INDONESIA PERIODE 2007 - 2011

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, rumusan
masalah dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Apakah perubahan tarif pajak penghasilan badan yang semula berlaku
progresif menjadi tarif flat pada Undang-undang Nomer 36 tahun 2008
berpengaruh terhadap struktur modal pada perusahaan yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia periode 2007 2011 ?
2. Apakah Non Debt Tax Shield (NDTS) berpengaruh terhadap struktur modal
pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2007 2011 ?
3. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal pada perusahaan
yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2007 2011 ?
4. Apakah likuiditas berpengaruh terhadap struktur modal pada perusahaan yang
terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2007 2011 ?
6

5. Apakah ukuran perusahaan (Size) berpengaruh terhadap struktur modal pada
perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2007 2011 ?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Peneltian
Berdasarkan perumusan masalah yang ingin diteliti oleh peneliti maka
yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk menguji apakah perubahan tarif pajak penghasilan badan yang semula
berlaku progresif menjadi tarif flat pada Undang-undang Nomer 36 tahun
2008 berpengaruh terhadap struktur modal pada perusahaan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia periode 2007 2011
2. Untuk mengetahui apakah Non Debt Tax Shield (NDTS) berpengaruh
terhadap struktur modal pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek
Indonesia periode 2007 2011
3. Untuk mengetahui apakah profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal
pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2007 2011
4. Untuk mengetahui apakah likuiditas berpengaruh terhadap struktur modal
pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode 2007 2011
5. Untuk mengetahui apakah ukuran perusahaan (Size) berpengaruh terhadap
struktur modal pada perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia periode
2007 2011





7

1.3.2 Manfaat Peneltian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu mengembangkan ilmu bisnis
khususnya yang berkaitan dengan setruktur modal.
Sebagai referensi untuk peneliti ini diharapkan menjadi perbandingan
bagi yang berminat pada topik struktur modal.
2. Manfaat Praktis
Bagi investor, penelitian ini diharapkan memberikan gambaran struktur
modal sehingga dapat berguna bagi pengabilan keputusan dalam
menginvestasikan modalnya.
Bagi manajemen, dapat memberikan gambaran dan pertimbangan dalam
menentukan struktur modal yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan.












8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KAJIAN EMPIRIS DAN HIPOTESIS

2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Agency Theory
Agency Theory adalah sebuah kontrak antara pihak pemegang saham dan
pihak manajer perusahaan. Inti dari hubungan keagenan adalah adanya pemisahan
antara kepemilikan dan pengendalian. Adanya perbedaan kepentingan antara
kedua belah pihak dapat menimbulkan konflik keagenan. Corporate governance
merupakan respon perusahaan terhadap konflik tersebut. Aspek-aspek corporate
governance seperti kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, proporsi
komisaris independen, dan jumlah anggota komite audit dipandang sebagai
mekanisme kontrol yang tepat untuk mengurangi konflik keagenan.
Eisenhardt (1989) dalam Darwin (2004) menyatakan bahwa Agency
Theory menggunakan tiga asumsi sifat manusia yaitu : (1) Manusia umumnya
mementingakan diri sendiri (self interest), (2) manusia memiliki daya pikir
terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality) dan (3)
manusia selalu menghindari resiko (risk averse). Berdasarkan asumsi sifat dasar
manusia tersebut manajer sebagai manusia akan bertindak opportunistic, yaitu
mengutamakan kepentingan pribadinya.
Konsep Agency Theory di dasari pada permasalahan agensi yang muncul
ketika pengurusan suatu perusahaan terpisah dari kepemilikannya. Perusahaan
merupakan mekanisme yang memberikan kesempatan kepada berbagai partisipan
9

untuk berkontibusi dalam bentuk modal, keahlian serta tenaga kerja dalam rangka
memaksimumkan keuntungan jangka panjang. Partisipan-partisipan yang
berkontribusi pada modal disebut sebagai pemilik. Partisipan-partisipan yang
berkontribusi dalam keahlian dan tenaga kerja disebut pengelola perusahaan
(agen). Adanya dua partisipan tersebut (principal dan agen) menyebabkan
timbulnya permasalahan tentang mekanisme yang harus di bentuk untuk
menyelaraskan kepentingan yang berbeda diantara keduannya.
Jensen dan Meckling (1976) dalam Darwin (2004), menjelaskan adanya
konflik kepentingan dalam hubungan keagenan. Terjadinya konflik kepentingan
antara pemilik dan agen karena kemungkinan agen bertindak tidak sesuai dengan
kepentingan prinsipal, sehingga memicu biaya keagenan (agency cost). Teori
agensi mampu menjelaskan potensi konflik kepentingan diantara berbagai pihak
yang berkepentingan dalam perusahaan tersebut. Konflik kepentingan ini terjadi
dikarenakan perbedaan tujuan dari masing-masing pihak berdasarkan posisi dan
kepentingannya terhadap perusahaan (Darwin, 2004). Sebagai agen, manajer
bertanggung jawab secara moral untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik
(principal), namun demikian manajer juga menginginkan untuk selalu
memperoleh kompensasi sesuai kontrak.
Agency Theory ditekankan untuk mengatasi dua permasalahan yang dapat
terjadi dalam hubungan Agency (Eissenhardt, 1989 dalam Lisna Untari, 2010)
yaitu sebagai berikut :
10

1. Masalah Agency yang timbul pada saat tujuan dari prinsipal dan agen
berlawananan merupakan suatu hal yang sulit atau mahal bagi prinsipal untuk
melakukan verifikasi tentang apa yang telah benar-benar dilakukan oleh agen.
2. Masalah pembagian risiko yang timbul pada saat prinsipal dan agen memiliki
sikap yang berbeda terhadap risiko.
Alchian dan Demsetz serat Jensen dan Meckling (1976) dalam Lisna
Untari (2010) memperkenalkan ide bahwa perusahaan merupakan nexus of
contract yang mengandung arti bahwa di dalam perusahaan terdapat sekumpulan
kontrak timbal balik yang memfasilitasi antara pemilik perusahaan, karyawan,
pemasok dan berbagai partisipan lainnya yang terkait dengan perusahaan.
Kontrak yang baik antara investor dan manajer adalah kontrak yang mampu
menjelaskan spesifikasi-spesifikasi apa saja yang harus dilakukan manajer dalam
mengelola dana para investor, dan spesifikasi tentang pembagian return antara
manajer dengan investor. Secara ideal, investor dan manajer menandatangani
kontrak yang lengkap dan komplit, yang menspesifikasi secara tepat apa saja
yang dilakukan oleh manajer di segala kemungkinan yang terjadi, dan bagaimana
laba perusahaan akan dialokasikan.

2.1.2. Struktur Modal
Fungsi pembelanjaan dan fungsi keuangan merupakan dua hal yang
dilakukan oleh perusahaan dalam usahanya untuk meningkatkan kemakmuran
pemegang saham. Dalam menjalankan fungsi pembelanjaan, perusahaan selalu
dihadapkan pada tiga masalah utama atau tiga keputusan utama, yaitu: keputusan
investasi (investment decision), keputusan pendanaan (financing decision), dan
11

keputusan mengenai pembagian dividen (dividend decision). Keputusan
pendanaan adalah keputusan keuangan tentang dari mana dana untuk membeli
aktiva berasal (Lukas, 2003). Keputusan pendanaan merupakan keputusan yang
berhubungan dengan masalah penentuan sumber-sumber dana yang akan
digunakan, dan masalah perimbangan terbaik antara sumber-sumber dana
tersebut. Keputusan mengenai sumber dana yang akan digunakan (apakah sumber
dana internal atau eksternal, jangka pendek ataukah jangka panjang) disebut
keputusan pembelanjaan (financing decisions). Keputusan pembelanjaan yang
efektif akan tercermin pada biaya dana (cost of fund) yang minimal (Abdul
Halim, 2007).
Sumber dana dapat diperoleh dengan banyak cara, namun pada dasarnya
ada dua sumber dana, yaitu dana yang berasal dari sumber asing, atau biasa
disebut modal asing, dan dana yang berasal dari dalam perusahaan. Dana yang
berasal dari sumber asing dapat diperoleh melalui utang (debt financing) dan
melalui pembelanjaan sendiri yaitu dengan jalan penerbitan saham (equity
financing).
Dalam neraca suatu perusahaan, terdapat sisi kiri yang merupakan aktiva
disebut dengan struktur harta/usaha (asset/business structure). Sedangkan sisi
kanan disebut dengan struktur keuangan (financial structure) (Mardiyanto, 2008).
Struktur keuangan (financial structure) terdiri dari hutang jangka pendek (current
liabilities), hutang jangka panjang (long term liabilities) dan ekuitas (equity).
hutang jangka pendek (current liabilities) merupakan hutang atau kewajiban yang
diharapkan akan dibayar dari aset lancar yang ada atau melalui pembuatan
12

kewajiban jangka pendek lainnya. Current liabilities ini memiliki periode kurang
dari satu tahun. Sedangkan hutang jangka panjang (long term liabilities) atau
disebut juga hutang tidak lancer merupakan kewajiban yang diharapkan dapat
dilunasi atau memiliki jatuh tempo lebih dari satu tahun (Weygant, Kieso,
Kimmel, 2007).
Ekuitas (Owners Equity) merupakan bagian hak pemilik dalam
perusahaan yaitu selisih antara asset dan kewajiban yang ada, dan dengan
demikian tidak merupakan ukuran nilai jual perusahaan tersebut. Pada dasarnya
ekuitas berasal dari investasi pemilik dan hasil usaha perusahaan. Ekuitas akan
berkurang terutama dengan adanya penarikan kembali penyertaan oleh pemilik,
pembagian keuntungan, atau karena kerugian (SAK 2007).
Struktur modal (capital structure) didefinisikan sebagai komposisi dan
proporsi hutang jangka dan ekuitas (retained earning), saham preferen dan saham
biasa) yang ditetapkan perusahan. Dengan demikian, struktur modal adalah
struktur keuangan dikurangi oleh hutang jangka pendek (Current liabilities).
Hutang jangka pendek tidak diperhitungkn dalam struktur modal karena hutang
jenis ini umumnya bersifat spontan (berubah sesuai dengan perubahan tingkat
penjualan). Sementara itu, hutang jangka panjang bersifat tetap selama jangka
waktu yang relative panjang (lebih dari satu tahun) sehingga Keberadaannya
perlu lebih dipikirkan oleh para manajer keuangan. Itulah alasan utama mengapa
struktur modal hanya terdiri dari hutang jangka panjang (long term liabilities) dan
ekuitas (equity). Karena alas an itulah, biaya modal hanya mempertimbangkan
13

sumber dana jangka panjang saja (tidak mempertimbangkan jangka pendek)
(Mardiyanto, 2008).
Berbagai teori mengenai struktur modal sebenarnya sudah cukup baik
menjelaskan hubungan antara leverage dengan struktur modal. Akan tetapi
model-model itu masih belum cukup mudah untuk diaplikasikan dalam dunia
nyata, khususnya membantu manajer keuangan untuk menentukan proporsi
hutang terhadap ekuitas. Sekalipun demikian, teori struktur modal tetap penting
untuk memperluas wawasan manajer keuangan dalam pengambilan keputusan.
Ada beberapa teori yang telah dikemukakan dalam menjelaskan struktur
modal perusahaan. Yang pertama adalah pandangan tradisional (traditional view)
yang menyatakan bahwa modal hutang akan lebih murah dibandingkan dengan
ekuitas. Implikasi dari pernyataan ini adalah biaya atas hutang yang digabungkan
dengan peningkatan biaya ekuitas yang ada sebelum adanya pembiayaan dari
hutang. (Barges, 1963 dalam Akinlo,2011).
Modigliani dan Miller (1958) dalam Anantasia (2012) tidak sependapat
dengan pandangan tradisional (tradisional view) tersebut. Teori Modigliani dan
Miller (1958) dalam Anantasia (2012) berpendapat bahwa dalam suatu pasar
modal yang sempurna tanpa pajak dan biaya transaksi, nilai pasar suatu
perusahaan dan biaya modal tetap invarian dengan perubahan struktur modal. Hal
ini menunjukkan bahwa instrument keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan
tidak mempengaruhi produktivitas dan nilai perusahaan. Kemudian Modigliani
dan Miller (1963) dalam Anantasia (2012) merevisi teori tersebut dengan
menghubungkan struktur modal dengan memperhitungkan adanya pajak. Struktur
14

modal yang menggunakan hutang akan memperoleh manfaat pajak dari adanya
beban bunga yang dapat mengurangi penghasilan kena pajak. Selain teori
Modigliani dan Miller, penelitian tentang struktur modal melahirkan teori- teori
lainnya (Akinlo,2011).
Salah satu teori tersebut adalah teori trade-off dan Brealey dan Myers
(1991) dalam Anantasia (2012) yang menyatakan bahwa perusahaan
mengoptimalkan tingkat hutang Sehingga keuntungan pajak marjinal (marginal
tax) atas tambahan hutang akan diimbangi oleh peningkatan biaya financial
distress. Karena pembayaran bunga atas hutang dapat dikurangkan dari
perhitungan pajak, maka semakin banyak hutang semakin besar juga manfaat
pajak yang yang diperoleh. Namun, peningkatan hutang secara bersamaan akan
meningkatkan kemungkinan kegagalan dalam membayar hutang, oleh karena itu
akan timbul biaya kebangkrutan (bankruptacy cost).
Teori selanjutnya adalah teori packing order yang dipelopori oleh (Myers
dan Majluf, 1984 dalam Akinlo, 2011). Teori ini berakar pada konsep informasi
asimetris bahwa manajer perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai prospek,
risiko dan nilai perusahaan dibandingkan dengan investor yang berada diluar
perusahaan. Berdasarkan teori ini, perusahaan lebih memilih untuk membiayai
kegiatan perusahaan dari arus kas internal. Ketika dana tersebut sudah tidak
mencukupi, pembiyaan dengan hutang akan dilakukan dan ketika hutang telah
habis, ekuitas tambahan akan dikeluarkan.
Teori yang lain adalah agency theory. Teori ini menunjukkan bahwa ada
tingkat optimal dalam struktur modal yang dapat meminimalisasi biaya keagenan
15

(agency cost). Dalam teori ini, ada beberapa literature yang mempelajari dampak
hutang pada sub-optimal pengambilan keputusan manajerial. Salah satu
perspektif yang penting adalah pendekatan free cash flow yang dikemukakan oleh
Jensen (1986) dalam Anantasia (2012) menyarankan untuk meningkatkan
kepemilikan manajer dalam perusahaan untuk menyelaraskan kepentingan
manajer dengan pemilik atau meningkatkan penggunaan hutang yang akan
mengurangi basis ekuitas dan meningkatkan persentase ekuitas yang dimiliki oleh
manajer. Jensen (1986) menyarankan bahwa hutang akan digunakan sebagai alat
control unjuk memotivasi manajer mendistribusikan kas beban diantara
pemegang saham daripada digunakan untuk hal yang tidak efisien. Grossman dan
Hart (1982) dalam Akinlo (2011) berpendapat bahwa penggunaan hutang akan
meningkatkan kemungkinan bangkrut dan kehilangan pekerjaan yang selanjutnya
memotivasi manajer untuk menggunakan sumberdaya organisasi secara efisien
dan mengurangi konsumsi.
Secara umum, telah banyak studi empiris yang meneliti mengenai struktur
modal, namun tidak ada teori yang pasti yang terbaik dalam menjelaskan struktur
modal. Seperti disampaikan oleh Myers (2001), tidak ada teori universal dalam
memilih hutang ekuitas dan tidak ada alasan untuk memilih satu. Sehingga
masing-masing teori berguna untuk membantu memahami struktur modal yang
dipilih perusahaan.

2.1.3. Teori Modigliani dan Miller
Modigliani dan Miller yang biasa disebut MM dalam Anantasia (2012)
menggunakan beberapa asumsi untuk menopang dalilnya yaitu 1). Individu dan
16

perusahaan dapat meminjam atau meminjamkan pada tingkat bunga pasar yang
sama, 2). Tidak ada risiko kebangkrutan, 3). Tidak ada biaya transaksi atau
hambatan untuk memperoleh informasi (Mardiyanto, 2008).
Apabila pajak tidak diperhitungkan, MM model berpendapat bahwa
kenaikan hutang pada struktur modal akan menaikkan ROE (Return On Equity)
sekaligus menaikkan pula risiko investor. Karena dua pengaruh itu saling
meniadakan, tanpa pajak dan risiko kebangkrutan, nilai suatu perusahaan tidak
terpenguruh oleh tingkat leverage. Dengan kata lain, nilai perusahaan yang
menggunakan hutang sama dengan nilai perusahaan tanpa hutang. Kondisi itu
dinyatakan dalam persamaan berikut :



VL = Nilai perusahaan dengan Leverage
Vu = nilai perusahaan tanpa leverage
Apabila pajak dipertimbangkan dan risiko kebangkrutan diabaikan, teori MM
dapat dinyatakan dalam persamaan dan tampilan berikut :


T = Pajak (%)
T.B = Manfaat pajak (Tax Shield)
D = Hutang



VL = Vu
VL = Vu + T.D
17



VL = Vu + T.B


(Hutang/Ekuitas)
Gambar 2.1 Kurva Teori MM
Sumber : Buku Intisari Manajemen Keuangan, 2008
Persamaan diatas menyimpulkan bahwa nilai perusahaan akan terus
meningkat secara linear, seiring dengan bertambahnya proporsi hutang pada
struktur modal perusahaan. Hal itu mengandung makna bahwa makin tinggi
proporsi hutang makin tinggi nilai perusahaan. Sudah tentu hal ini kurang
realistis sebab makin tinggi proporsi hutang yang digunakan dalam struktur
modal, makin tinggi pula risiko kebangkrutan yang mungkin dihadapi oleh suatu
perusahaan. Namun, perlu diingat kembali bahwa MM memang mengabaikan
risiko kebangkrutan dalam asumsi teorinya.
2.1.4. Trade-off Theory
Teori trade-off (Brealey dan Myers, 1991 dalam Rita, 2009) menyatakan
bahwa adanya penghematan pajak (dari perusahaan yang berutang) dihilangkan
oleh meningkatkan ekspektasi atas biaya kebangkrutan. Bertambahnya tingkat
leverage berdampak meningkatnya probabilitas risiko kebangkrutan, dan
akhirnya meningkatkan pula biaya kebangkrutan.
V
L

V
U

18




VL - Vu + T.B


(Hutang/Ekuitas)
Gambar 2.2. Kurva Perbandingan Teori MM dan Teori Trade-Off
Sumber : Buku Intisari Manajemen Keuangan, 2008
Jika teori MM dan trade-off disatukan, teori struktur modal dapat
dinyatakan dalam kurva diatas. Suatu perusahaan yang menggunakan hutang
(leverage) akan mendapatkan keuntungan dari penghematan pajak yang akan
mengurangi pengeluaran kasnya, yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai
perusahaan. Akan tetapi, keuntungan dari pengurangan pajak itu tidak dapat terus
menerus berlangsung karena perusahaan harus menanggung sejumlah biaya
kebangkrutan. (Mardiyanto,2008)
Teori Brealey dan Myers (1991) dalam Anantasia (2012) mengenai
Trade-off Theory yang menyatakan bahwa struktur modal optimal tercapai pada
saat terjadi keseimbangan antara manfaat dan pengorbanan yang timbul akibat
penggunaan hutang. Manfaat penggunaan hutang berbentuk tax shield. Biaya
penggunaan hutang adalah beban bunga hutang, biaya kebangkrutan maupun
agency cost.
V
L

Teori MM
Teori Trade-off
V
U

19

Implikasi trade-off theory menurut Brealy dan Myers (1991) dalam
Anantasia (2012) adalah sebagai berikut :
1) Perusahaan dengan risiko bisnis besar harus menggunakan lebih kecil hutang
dibandingkan perusahaan yang mempunyai risiko bisnis rendah, karena
semakin besar risiko bisnis, penggunaan hutang yang semakin besar akan
meningkatkan beban bunga, sehingga akan semakin mempersulit keuangan
perusahaan.
2) Perusahaan yang dikenai pajak tinggi pada batas tertentu sebaiknya
menggunakan banyak hutang karena adanya tax shield.
3) Target rasio hutang akan berbeda antara perusahaan satu dengan perusahaan
yang lain. Perusahaan yang profitable mempunyai target rasio hutang lebih
tinggi. Perusahaan unprofitable dengan resiko tinggi mempunyai rasio
hutang lebih rendah dan lebih mengandalkan pada ekuitas.
Dengan adanya pajak, penggunaan hutang yang besar dapat memberikan
manfaat pajak yang besar bagi perusahaan, karena dapat meningkatkan nilai
perusahaan. Dalam kenyataannya, ada hal-hal yang membuat perusahaan tidak
bias menggunakan hutang sebanyak-banyaknya. Satu hal yang terpenting adalah
dengan semakin tingginya hutang akan semakin tinggi kemungkinan terjadi
kebangkrutan, karena semakin tinggi hutang akan semakin besar bunga yang
harus dibayarkan. Kemungkinan perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya
membayar hutang dan pokok pinjaman akan semakin besar (financial distress).
Debtholder bias membangkrutkan perusahaan jika perusahaan tidak bias
membayar hutang.(Hanafi,2004)
20


2.1.5. Pecking Order Theory
Teory pecking order (Myers,1984) dalam Anantasia (2012) merupakan
alternatif dari teori trade off. Elemen kunci pada teori pecking order ini adalah
perusahaan lebih memilih untuk menggunakan pembiayaan internal semaksimal
mungkin. Alasan sederhana bahwa menjual sekuritas untuk meningkatkan modal
biayanya mahal, sehingga masuk akal jika perusahaan tidak menjual sekuritas.
Jika perusahaan memiliki tingkat laba yang besar, perusahaan mungkin tidak
akan menggunakan pembiayaan eksternal. (Ross, Westerfield, Jordan,2008)
Teory pecking order memiliki beberapa implikasi yang signifikan, dimana
bertentangan dengan teory trade-off, antara lain
1) Tidak ada target struktur modal. Berdasarkan teori pecking order tidak ada
target atau optimal debt equity ratio. Sebaliknya, struktur modal suatu
perusahaan ditentukan oleh kebutuhan untuk pendanaan eksternal, yang
menentukan jumlah hutang perusahaan akan peroleh.
2) Perusahaan yang profitable menggunakan sedikit hutang, karena perusahaan
yang profitable memiliki internal cashflow yang lebih baik, sehingga mereka
jarang membutuhkan pembiayaan eksternal atau berutang.
3) Perusahaan akan melakukan financial slack. Untuk mencegah penjualan
ekuitas yang baru, perusahaan akan membutuhkan untuk menimbun uang kas
secara internal, seperti cadangan uang tunai. Hal ini memberikan manajemen
kemampuan untuk membiayai proyek perusahaan secara cepat pada saat yang
penting.

21

2.1.6 Pengaruh Pajak
Jika memasukkan unsur pajak, penggunaan leverage keuangan secara
hati-hati dapat memiliki dampak positif bagi perusahaan. Keuntungan dari hutang
dalam Pajak Penghasilan bagi perusahaan adalah bahwa pembayaran bunga
hutang merupakan biaya yang boleh dikurangkan dari pajak bagi perusahaan
yang menerbitkan hutang.
Pemerintah memberikan subsidi pada perusahaan yang berhutang atas
penggunaan hutang di perusahaan tersebut. Oleh karena itu beban bunga atas
hutang dapat mengurangi penghasilan kena pajak, maka hal ini disebut manfaat
pajak (tax shield). Penghematan pajak yang berhubungan dengan penggunaan
hutang bersifat relative, karena jika penghasilan kena pajak jumlahnya kecil atau
negative, tax shield akan kurang terasa manfaatnya atau malah tidak ada.
Dengan adanya perubahan Undang-undang pajak penghasilan yang
berlaku sejak tahun 2009, tarif pajak progresif berubah menjadi tarif flat yang
dapat dilihat pada tabel 2.1 dan tabel 2.2, akan memberikan menimbulkan reaksi
tertentu bagi perusahaan karena tariff pajak ini sangat menentukan pajak yang
harus dibayar.
Tabel 2.1
Tarif Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan
Pasal 17 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000
Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
Sampai dengan Rp. 50.000.000,00 10 %
Diatas Rp. 50.000.000,- sampai dengan
Rp.100.000.000,-
15 %
Diatas Rp. 100.000.000,- 30 %
Sumber : Undang-undang Penghasilan No. 17 Tahun 2000
22

Tabel 2.2
Tarif Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan
Pasal 17 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008
Tahun Tarif Pajak
2009 28 %
2010 dan selanjutnya 25 %
PT yang 40 % sahamnya diperdagangkan di
bursa efek
5 % lebih rendah dari
yang seharusnya
Peredaran bruto sampai dengan
Rp. 50.000.000.000
Pengurangan 50 %
dari yang seharusnya
Sumber : Undang-undang No. 36 Tahun 2008

Dengan tarif pajak flat yang berlaku sekarang, ada pihak yang
diuntungkan dan ada pula pihak yang dirugikan. Pihak yang diuntungkan adalah
perusahaan yang memiliki laba yang besar lebih dari Rp.875.000.000, maka
pajak yang terutang akan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan
tarif progresif. Sedangkan pihak yang dirugikan adalah perusahaan-perusahaan
yang labanya kurang dari Rp. 875.000.000, maka pajak yang terutang akan lebih
besar dibandingkan dengan menggunakan tarif progresif.
Dengan menggunakan persamaan linear matematika, dapat diketahui titik
penghasilan pada saat jumlah pajak terutang berdasarkan tarif progresif sama
dengan jumlah pajak terutang berdasarkan tarif progresif sama dengan jumlah
pajak terutang berdasarkan tarif flat. Seperti berikut ini :
Perhitungan dengan menggunakan tarif flat tahun 2009
Tarif Progresif : 10% x 50.000.000 = 5.000.000
15% x 50.000.000 = 7.500.000
30% x P = 30% P
= 12.500.000 : 30% P.(2.1)
23

Tarif Flat : 28 % x (50.000.000 + 50.000.000 + P).(2.2)
Persamaannya menjadi :
12.500.000 : 30 % P = 28% x (100.000.000 : P)
30% P 28% P = 28.000.000 12.500.000
P = 775.000.000
Sehingga jumlah pajak terutang antara tariff progresif dengan tarif flat
adalah sama pada titik penghasilan kena pajak (PKP) Rp.875.000.000
pada tahun 2009.
Perhitungan dengan menggunakan tarif flat tahun 2010
Tarif Progresif : 10% x 50.000.000 = 5.000.000
15% x 50.000.000 = 7.500.000
30% x P = 30% P
= 12.500.000+ 30% P(2.3)
Tarif Flat: 25 % x (50.000.000 + 50.000.000 + P)(2.4)
Persamaannya menjadi :
12.500.000 + 30% P = 25% x (100.000.000 +P)
30% P 25 % P = 25.000.000 12.500.000
P = 250.000.000
Sehingga jumlah pajak terutang antara tarif pajak progresif dengan
tarif flat tahun 2010 adalah sama pada titik penghasilan kena pajak (PKP)
Rp.350.000.000.
Dengan adanya perubahan tarif progresif menjadi flat ini,
perusahaan yang pajak terutangnya menjadi lebih besar akan cenderung
berhutang untuk memperoleh manfaat pajak dari adanya beban bunga
24

yang ditimbulkan. Sedangkan perusahaan yang pajaknya lebih kecil akan
cenderung tidak banyak berhutang.

2.1.7. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi struktur modal, antara lain:
1. Tax Reform
Variabel perubahan perpajakan ini dimaksudkan mewakili adanya
perubahan tarif PPh Badan pada Undang-undang Pajak Penghasilan
No.36 tahun 2008 dari undang-undang No.17 tahun 2000. Dimana
pada peraturan baru berlaku tarif flat sedangkan pada peraturan
sebelumnya berlaku tarif progresif.
2. Non Debt Tax Shield
De Angelo dan Masuiis (1980) dalam Huang dan Song (2006)
mengembangkan penjelasan teoritis berkaitan dengan manfaat pajak
(tax shield) bahwa pengurangan pajak (tax deduction) yang berupa
depresiasi atau biaya penyusutan dapat digunakan untuk mengurangi
pajak sebagai pengganti peran bunga pinjaman. Sehingga perusahaan
dengan non debt tax shield yang tinggi, perusahaan tidak perlu banyak
berhutang untuk memperoleh interest tax shield.
3. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan faktor yang dapat mempengaruhi leverage
perusahaan. Dalam teori pecking order menyatakan bahwa perusahaan
cenderung menggunakan dana internal terlebih dahulu sebelum
beralih ke pembiayaan eksternal. Sehingga jika perusahaan memiliki
25

tingkat profitabilitas tinggi. Maka akan cenderung menggunakan
retained earning dibandingkan dengan menggunakan hutang.
4. Likuiditas
Teori Trade-off percaya bahwa ada hubungan positif antara likuiditas
dengan leverage karena rasio likuiditas yang tinggi akan mendukung
rasio hutang yang relative lebih tinggi karena besar kemampuan
perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek tepat waktu.
Sedangkan teori pecking order memiliki pandangan bahwa
likuiditas memiliki hubungan yang negatif dengan leverage
perusahaan, karena perusahaan dengan tingkat likuiditas yang cukup
tinggi memungkinkan untuk membiayai kegiatan perusahaan
(Ozkan,2001).
5. Ukuran perusahaan (Size)
Menurut Titman dan Wessels (1988) dalam Akinlo (2011),
perusahaan yang berukuran besar tidak mempertimbangkan biaya
kebangkrutan secara langsung dalam menentukan tingkat leverage
karena biaya kebangkrutan merupakan proporsi yang kecil dari nilai
perusahaan secara keseluruhan. Sehingga pemikiran ini
mengasumsikan bahwa ukuran perusahaan (Size) memiliki hubungan
positif terhadap leverage perusahaan.
Sedangkan Rajan dan Zingales (1995) dalam Akinlo (2011)
berpendapat bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan negative
terhadap leverage karena ada sedikit informasi asimetris tentang
26

perusahaan perusahan besar yang akan lebih menghargai untuk
menerbitkan ekuitas baru dan membiayai perusahaan dengan
pembiayaan ekuitas.

2.2. Penelitian Terdahulu
Natalia (2008) menggunakan 23 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 1998 2006 menganalisis pengaruh perubahan tarif PPh badan
berdasarkan Undang-Undang pajak penghasilan nomor 17 tahun 2000 terhadap
struktur modal perusahaan. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa
perubahan tariff pajak penghasilan pada undang-undang pajak penghasilan nomor
17 tahun 2000 berpengaruh positif terhadap struktur modal. Faktor lain yang
mempengaruhi leverage secara positif adalah non debt tax shield (NDTS)
sedangkan faktor yang mempengaruhi secara negatif adalah probabilitas.
Selain itu, penelitian mengenai struktur modal dilakukan oleh Shumi
Akhtar dan Barry Oliver (2009), meneliti mengenai pengaruh variabel variabel
determinan pada perusahaan jepang domestik dan perusahaan jepang
multinasional periode 1994 2003. Akhtar dan Oliver (2009) meneliti non debt
tax shield tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal pada perusahaan
domestic namun berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal pada
perusahaan multinasional. Selain itu, variabel profitabilitas juga menunjukkan
adanya hubungan yang negative terhadap struktur modal. Sedangkan variabel
collateral value of assets dan size menunjukkan pengaruh yang positif terhadap
struktur modal.
27

Penelitian lain juga dilakukan oleh Samuel Huang dan Frank song (2006),
mengenai determinan struktur modal studi empiris di Negara Cina. Penelitian
Huang dan Song (2006) membuktikan hal yang sama dengan penelitian Akhtar
dan Oliver (2009) bahwa profitabilitas dan nondebt tax shield memiliki pengaruh
negatif terhadap struktur modal sedangkan size dan tangibility memiliki pengaruh
yang positif terhadap struktur modal.
Selain Huang dan Song (2006), Chen (2004) juga meneliti determinan
struktur modal pada perusahaan listing dinegara Cina. Namun. Chen (2004)
menunjukkan hasil agak berbeda, dimana size memiliki pengaruh negative
terhadap struktur modal demikian pula dengan profitabilitas. Sedangkan non debt
tax shield dan asset structure memiliki pengaruh positif terhadap struktur modal.
Selain itu, penelitian mengenai struktur modal juga dilakukan oleh Akinlo
(2011) yang meneliti 66 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Nigeria pada
periode 1999 2007. Dalam penelitiannya, Akinlo (2011) mengukur hubungan
antara leverage dengan growth opporiunities, tangibility, size, profitability,
liquity. Dari penelitian Akinlo (2011) diperoleh hasil bahwa leverage memiliki
hubungan negative dengan growth opportunities, profitability dan liquidity,
sedangkan tangibility dan size memiliki hubungan positif dengan leverage.

2.3. Kerangka Penelitian
Struktur modal (capital structure) didefinisikan sebagai komposisi dan
proporsi hutang jangka dan ekuitas (retained earning), saham preferen dan saham
biasa) yang ditetapkan perusahan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
28

struktur modal, antara lain Tax Reform, Non Debt Tax Shield, profitabilitas,
likuiditas dan ukuran perusahaan (Size). Berdasarkan hal tersebut, maka dapat
digambarkan kerangka penelitian sebagai berikut :










Keterangan :
TRf = Tax Reform
NDTS = Non Debt Tax Shield
Size = Ukuran Perusahaan
Laverage = Struktur Modal
2.4 Pengembangan Hipotesis
2.4.1 Perubahan Tax ReformTerhadap Struktur Modal
Variabel perubahan regulasi perpajakan ini diukur dengan variabel
dummy yang dimaksudkan mewakili adanya perubahan tarif PPh badan pada
undang undang pajak penghasilan nomor 36 tahun 2008 dari undang undang
NDTS

Likuiditas

Profitabilitas

Laverage (Y)
TRf Dummy2

TRf Dummy1

Size

Gambar 2.3.
Model Penilitian

29

yang berlaku sebelumnya. Dimana peraturan yang baru berlaku tarif flat
sedangkan pada peraturan sebelumnya berlaku tarif progresif.
Perusahaan yang memiliki laba rendah akan merasa dirugikan karena
membayar pajak yang lebih tinggi sebagai akibat dari perubahan tarif pajak yang
semula progresif menjadi flat, akan menggunakan banyak hutang karena adanya
manfaat pajak dari adanya beban bunga atas hutang (interest tax shield) yang
dapat dijadikan sebagai pengurang dalam perhitungan penghasilan kena pajak,
sehingga pajak yang harus dibayar akan menjadi lebih rendah. Sedangkan
perusahaan yang memiliki laba tinggi akan merasa diuntungkan dengan
perubahan tarif flat karena pajak yang terutang menjadi lebih kecil sehingga tidak
banyak berhutang. Huang dan Song (2006) dalam penelitiannya mengemukakan
bahwa sejak Teori Modigliani dan Miller (1958) dalam Anantasia (2012)
dikemukakan, semua orang menyadari bahwa pajak merupakan hal yang penting
dalam struktur modal perusahaan. Dan penelitian penelitian ini mengemukakan
bahwa tarif pajak memiliki hubungan positif dengan struktur modal karena
berdasarkan teori MM dengan menggunakan hutang akan ada manfaat pajak yang
timbul dari beban bunga atas hutang sehingga dapat mengurangi besarnya pajak
yang terutang. Dari penelitian tersebut, hipotesis yang dibentuk adalah :
Hipotesis 1 : Pada tarif flat, perusahaan dengan laba rendah akan memilih
pendanaan hutang lebih banyak dibandingkan dengan tarif
progresif, atas respon terhadap struktur modal.
30

Hipotesis 2 : Pada tarif Flat, perusahaan dengan laba tinggi akan memilih
pendanaan hutang lebih rendah dibandingkan dengan tarif
progresif, atas respon terhadap perubahan tarif PPh badan.

2.4.2 Non Debt Tax Shield Terhadap Struktur Modal
De Angelo dan Masulis (1980) dalam Huang dan Song (2006)
mengembangkan penjelasan teoritis berkaitan dengan manfaat pajak (tax shield)
bahwa pengurangan pajak (tax deduction) yang berupa depresiasi atau biaya
penyusutan dapat digunakan untuk mengurangi pajak sebagai pengganti peran
bunga pinjaman. Sehingga perusahaan dengan non debt tax shield yang tinggi,
perusahaan tidak perlu banyak berhutang untuk memperoleh interst tax shield.
Sehingga dapat dikatakan bahwa non debt tax shield memiliki pengaruh negatif
terhadap leverage. Hal ini juga didukung oleh penelitian Akhtar dan Oliver
(2009). Sehingga dari penelitian tersebut, hipotesis yang dapat dibentuk adalah
Hipotesis 3 : Non Debt tax shield memiliki pengaruh negatif terhadap leverage
Perusahaan

2.4.3 Profitabilitas Terhadap Struktur Modal
Sesuai dengan teori pecking order, dimana perusahaan mengutamakan
penggunaan sumber dana yang berasal dari dalam perusahaan yaitu retained
earning terlebih dahulu, jika belum cukup terpenuhi maka baru melakukan
pinjaman. Jika tingkat profitabilitas suatu perusahaan tinggi, maka perusahaan
akan memilih menggunakan sumber dana internal dibandingkan sumberdana
31

eksternal. Sehingga jika tingkat profitabilitas tinggi, maka tingkat leverage akan
rendah (Huang dan Song,2006, Akhtar dan Oliver, 2009). Dari penelitian
tersebut, hipotesis yang bias dibentuk adalah :
Hipotesis 4 : Profitabilitas memiliki pengaruh negatif terhadap leverage
perusahaan

2.4.4 Likuiditas Terhadap Struktur Modal
Berdasarkan teori trade-off melihat ada hubungan positif antara likuiditas
dengan leverage karena rasio likuiditas yang tinggi karena besar kemampuan
perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek tepat waktu. Sedangkan
teori pecking order memilki pandangan bahwa likuiditas memiliki hubungan
yang negative dengan leverage perusahaan, karena perusahaan dengan tingkat
likuiditas yang cukup tinggi memungkinkan untuk menggunakan dana internal
yang tersedia untuk membiayai kegiatan perusahaan (Akinlo,2011).
Hipotesis 5 : Likuiditas memiliki pengaruh negatif terhadap leverage perusahaan

2.4.5 Ukuran Perusahaan Terhadap Modal
Ada dua pemikiran yang bertentangan mengeanai hubungan antara size
(ukuran perusahaan) dengan leverage perusahaan. Pemikiran yang pertama
percaya bahwa perusahaan yang berukuran besar tidak mempertimbangkan biaya
kebangkrutan secara langsung dalam menentukan tingkat leverage karena biaya
ini ditatapkan oleh konstitusi dan biaya kebangkrutan merupakan proporsi yang
lebih kecil dari nilai perusahaan secara keseluruhan. Sehingga pemikiran ini
mengasumsikan bahwa ukuran perusahaan (size) memiliki hubungan positif
32

terhadap leverage perusahaan (Titman dan Wessels,1988 dalam Akinlo,2011).
Studi empiris yang mendukung pemikiran ini antara lain, Akhtar dan Oliver
(2009), Huang dan Song (2006).
Sedangkan pemikiran yang lain, Rajan dan Zingales (1995) dalam
Anantasia (2012) berpendapat bahwa ukuran perusahaan memiliki hubungan
negative terhadap leverage karena ada sedikit informasi asimetris tentang
perusahaan-perusahaan besar yang akan lebih menghargai untuk menerbitkan
ekuitas baru dan membiayai perusahaan dengan pembiayaan ekuitas. Pemikiran
ini didukung oleh Chen (2004).
Hipotesis 6 : Ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif terhadap leverage
perusahaan













33

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Populasi dan Sampel
3.1.1 Populasi
Populasi adalah jumlah dari keseluruhan obyek (satu-satuan/individu) yang
karakteristiknya hendak diduga. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi
adalah semua perusahaan yang tercatat (Go Public) di Bursa Efek Indonesia
(BEI) non keuangan periode 2007-2011.

3.1.2 Sampel
Sampel menurut (Umar, 2005) adalah sebagian dari populasi yang hendak
diselidiki. Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan yang tercatat (Go
Public) di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2007-2011.
Metode pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian
ini adalah metode purposive sampling yaitu suatu metode pemilihan ukuran
sempel dimana setiap elemen populasi belum tentu memiliki peluang yang sama
untuk dipilih menjadi sempel karena ada bagian tertentu yang dipertimbangkan
sehingga tidak dimasukan dalam sempel.
Adapun kriteria-kriteria perusahaan yang digunakan dalam penelitian
sampel adalah:
1) Perusahan tidak termasuk dalam sektor keuangan.
2) Perusahaan yang tidak delisting selama periode 2007-2011
34

3) Perusahaan tersebut menerbitkan laporan keuangan tahunan periode
2007-2011 serta menyerahkan laporan tahunannya tersebut kepada
BAPEPAM dan telah mempublikasikannya berturut-turut.
4) Memiliki kelengkapan informasi yang dibutuhkan untuk keperluan penelitian.
Pada tahun 2007, perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI)
berjumlah 231 perusahaan. Perusahaan yang termasuk dalam sektor keuangan
berjumlah 72 perusahaan sehingga harus dikeluarkan dari populasi. Setelah
mengumpulkan semua laporan keuangan tahunan (annual report) semua
perusahaan pada periode 2007-2011, diperoleh 65 perusahaan yang tidak
delisting serta memiliki kelengkapan informasi yang dibutuhkan untuk
keperluan penelitian ini.

3.2. Jenis Dan Sumber Data
3.2.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif,
yaitu data yang diukur dalam suatu skala numerik. Data deskriptif digunakan
untuk mendeskripsikan variabel utama dalam penelitian ini yaitu variabel
keuangan yang diungkapkan oleh perusahaan dalam bentuk grafik dalam laporan
tahunan selama kurun waktu 5 (lima) tahun yaitu dari tahun 2007 sampai dengan
tahun 2011.
3.2.2 Sumber Data
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti
secata tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak
lain). Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang
35

telah tersusun dalam arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak
dipublikasikan (Bambang dan Nur Indriantoro, 2002).
Sumber data penelitian ini merupakan data sekunder berupa laporan
tahunan yang didapat melalui Indonesian Capital Market Directory (ICMD)
tahun 2007-2011 dan laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia periode 2007-2011.


3.3. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel
3.3.1 Variabel Penelitian
3.3.1.1 Variabel Dependen
Menurut Ghozali (2005), variabel dependen merupakan variabel stimulus
atau variabel yang dipengaruhi variabel lain. Variabel dependen yang diteliti
dalam penelitian ini adalah Struktur Modal.
3.3.1.2 Variabel Independen
Menurut Ghozali (2005), variabel independen adalah variabel yang
mempengaruhi variabel lain. Variabel independen dalam penelitian ini adalah
karakteristik perusahaan, yang meliputi : Tax Reform, Non Debt Tax Shield
(NDTS), profitablilitas (ROA), likuiditas dan ukuran perusahaan (Size).
3.3.2 Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional adalah penentuan konstruk sehingga dapat diukur.
Definisi operasional menjelaskan cara tertentu yang digunakan oleh peneliti
untuk mengoperasionalisasikan konstruk sehingga memungkinkan bagi peneliti
yang lain untuk melakukan replikasi pengukuran dengan cara yang sama atau
36

mengembangkan cara pengukuran konstruk yang lebih baik (Bambang dan Nur
Indriantoro 2002).
Definisi operasional yaitu mengubah konsep-konsep yang masih berupa
abstrak dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat
diuji dan ditentukan kebenarannya oleh orang lain berdasarkan variabel-variabel
yang digunakan.
Definisi operasional dari masing-masing variabel yang digunakan
penelitian ini adalah :
3.3.2.1 Struktur Modal
Struktur modal perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan tingkat
leverage perusahaan terhadap total aset pada suatu periode (Chen, 2004).
Hutang Jangka Panjang
Leverage =
Total Aset
3.3.2.2 Tax Reform
Perubahan tax reform merupakan tarif perubahan PPh badan yang
semula bersifat progresif berubah menjadi bersifat flat. Variabel ini diukur
dengan variabel dummy (Natalia, 2008).
Variabel tax reform ini akan diukur dengan 2 variabel dummy. Variabel
dummy pertama dinotasikan taxref_dummy1 pada model regresi. Di mana angka
0 untuk menggambarkan tarif PPh badan progresif yang berlaku di Indonesia
pada tahun 2007 2008 dan angka 1 untuk menggambarkan tarif PPh badan flat
bagi perusahaan miliki PKP (Penghasilan Kena Pajak) tahun 2009 kurang dari
Rp. 875.000.000 dan PKP tahun 2010 dan 2011 kurang dari Rp. 350.000.000.
37

Variabel dummy kedua dinotasikan dinotasikan taxref_dummy2 pada
model regresi. Di mana angka 0 untuk menggambarkan tarif PPh badan progresif
yang berlaku di Indonesia pada tahun 2007 2008 dan angka 1 untuk
menggambarkan tarif PPh badan flat bagi perusahaan miliki PKP (Penghasilan
Kena Pajak) tahun 2009 lebih dari dari Rp. 875.000.000 dan PKP tahun 2010 dan
tahun 2011 lebih dari Rp. 350.000.000.
Selanjutnya bagi perusahaan yang memiliki PKP tahun 2009 kurang dari
Rp. 875.000.000 dan PKP tahun 2010 kurang dari Rp. 350.000.000 akan disebut
perusahaan dengan laba kecil, sedangkan perusahaan yang memiliki PKP tahun
2009 lebih dari Rp. 875.000.000 dan PKP tahun 2010 lebih dari Rp. 350.000.000
akan disebut perusahaan dengan laba besar.
Untuk variabel tax reform dummy pertama (taxref_dummy1) :
0 = Tarif PPh badan bersifat progresif
1 = Tarif PPh badan bersifat flat dengan
PKP 2009 < Rp. 875.000.000 dan PKP 2010 dan 2011 < Rp. 350.000.000
Untuk variabel tax reform dummy kedua (taxref_dummy2) :
0 = Tarif PPh badan bersifat progresif
1 = Tarif PPh badan bersifat flat dengan
PKP 2009 > Rp. 875.000.000 dan PKP 2010 dan 2011 > Rp. 350.000.000
3.3.2.3. NDTS (Non Debt Tax Shield)
De Angelo dan Masulis (1980) dalam Huang dan Song (2006)
menyatakan adanya hubungan substitusi antara nondebt dan debt tax shield.
Semakin besar investasi yang berkaitan dengan non debt tax shield (biaya
38

depresiasi) akan mengurangi keinginan perusahaan untuk meminjam (Huang dan
Song (2006).
Depresiasi
NDTS =
Total Asset

3.3.2.4. Profitabilitas (ROA)
Profitabilitas diukur dengan rasio Return on Asset (ROA) yang
menggambarkan tingkat kemampuan perusahaan memanfaatkan total asset untuk
menghasilkan laba atau keuntungan (Huang dan Song, 2006).
Net Income
ROA =
Total Asset

3.3.2.5. Likuiditas
Likuiditas diukur dengan current ratio (rasio lancar) yang
menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membiayai hutang lancar
(Ozkan, 2001).
Current Asset
Likuiditas =
Current Liabilities
3.3.2.6. Ukuran Perusahaan (Size)
Ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan Log (sates) karena
nilai sales di angap mampu menggambarkan ukuran suatu perusahaan (Akinlo,
2011).
Size = Log (sales)
39

3.4. Metode Analisis Data
3.4.1 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif dalam penelitian pada dasarnya merupakan proses
transformasi data penelitian dalam bentuk tabulasi sehingga mudah dipahami dan
diinterpretasikan. Tabulasi menyajikan ringkasan, pengaturan atau penyusunan
data dalam bentuk tabel numerik dan grafik. Statistik deskriptif umumnya
digunakan oleh peneliti untuk memberikan informasi mengenai karakteristik
variabel penelitian yang utama dan data demografi responden (jika ada) (Nur
Indriantoro dan Bambang Supomo, 2002) Pada penelitian ini, digunakan untuk
mengetahui gambaran tentang pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan
terhadap profitabilitas, besaran pajak perusahaan dan biaya operasi perusahaan.

3.4.2. Uji Asumsi Klasik
3.4.2.1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal
ataukah tidak. Uji normalitas data dapat dilakukan dengan menggunakan uji
skewnes dan kurtosis. Pengambilan kesimpulan untuk menentukan apakah suatu
data mengikuti distribusi normal atau tidak adalah dengan menilai nilai
signifikannya. Jika signifikan < 1,96 maka variabel berdistribusi normal dan
sebaliknya jika signifikan > 1,96 maka variabel tidak berdistribusi normal
(Ghozali, 2005).


40

3.4.2.2 Uji Autokorelasi
Autokorelasi bertujuan untuk mengetahui dalam model regresi linier
terdapat antara pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1
(sebelumnya). (Gozali, 2005). Dalam penelitian ini pengujian autokorelasi
menggunakan Run Test. Menurut Imam Gozali (2005) Run test sebagai bagian
dari statistik non parametric dapat digunakan untuk menguji apakah antar
residual terdapat korelasi yang tinggi. Jika antar residual tidak terdapat hubungan
korelasi maka dapt dikatakan bahwa residual adalah random atau acak. Run test
digunakan untuk melihat apakah data residual terjadi secara random atau tidak
(sistematis).
Ketentuan dari uji Run Test dalam menguji terjadinya autokorelasi yaitu sebagai
berikut :
H0 : Residual (res_1) random
HA : Residual (res_1) tidak random
H0 diterima apabila probabilitas tidak signifikan pada 0,05 (5%).

3.4.2.3 Uji Heterokedasitas
Uji heteroskedastisitas adalah suatu keadaan dimana varians dan
kesalahan pengganggu tidak konstan untuk semua variabel bebas. Model
regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji
heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji prak yaitu
dengan menguji tingkat signifikansinya. Pengujian ini dilakukan untuk
merespon variabel x sebagai variabel independen dengan nilai logaritma
natural residual regresi sebagai variabel dependent. Apabila hasil uji di atas
level signifikan ( > 0,05) berarti tidak terjadi heterokedastisitas dan
41

sebalikya apabila level dibawah signifikan ( < 0,05) berarti terjadi
heterokedastisitas (Ghozali, 2005).

3.4.2.4. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas berarti ada hubungan linier yang sempurna atau pasti
diantara beberapa atau semua variabel yang independen dari model yang ada.
Akibat adanya multikolinearitas ini koefisien regeresi tidak tertentu dan
kesalahan standarnya tidak terhingga. Hal ini akan menimbulkan bias dalam
spesifikasi. Uji multikolineritas bertujuan untuk menguji apakah pada model
regresi ditemukan kolerasi antar variabel bebas. Pada model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara veriabel bebas (Ghozali, 2005).
Metode untuk menguji adanya multikolinearitas ini dapat dilihat dari
tolerance value atau variance inflantion factor (VIF). Batas dari tolerance
value > 0,1 atau nilai VIF lebih kecil dari 10 maka tidak terjadi multikolinearitas.

3.4.3. Analisis Regresi Berganda
Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh antara variabel independen
dan variabel dependen dengan skala pengukuran atau rasio dalam suatu
persamaan linier, dalam penelitian ini digunakan analisis regresi berganda yang
diolah dengan perangkat lunak SPSS (Ghozali, 2005). Persamaan regresi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Y = +
1
X1 +
2
X2 +
3
X3 +
4
X4 +
5
X5 +
6
X6 + e
Keterangan :
Y : Struktur Modal
X
1
: Taxref_dummy1
X
2
: Taxref_dummy2
X
3
: Non Debt Tax Shield
42

X
4
: Profitabilitas
X
5
: Likuiditas
X
6
: Ukuran Perusahaan
: Konstanta

1

6
: Koefisien regresi
e : Error
3.4.4. Uji Kelayakan Model
3.4.4.1. Uji Koefisien Determinasi (R
2
)
Koefisien Determinasi (Goodness of fit), yang dinotasikan dengan R
2

merupakan suatu ukuran yang penting dalam regresi. Determinasi (R
2
)
mencerminkan kemampuan variabel dependen. Tujuan analisis ini adalah untuk
menghitung besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.
Nilai R
2
menunjukkan seberapa besar proporsi dari total variasi variabel tidak
bebas yang dapat dijelaskan oleh variabel penjelasnya. Semakin tinggi nilai R
2

maka semakin besar proporsi dari total variasi variabel dependen yang dapat
dijelaskan oleh variabel independen (Ghozali, 2005).
3.4.4.2. Uji Simultan (uji F)
Signifikansi model regresi secara simultan diuji dengan melihat nilai
signifikansi (sig) dimana jika nilai sig dibawah 0,05 maka variabel independen
berpengaruh terhadap variabel dependen. Uji F-statistik digunakan untuk
membuktikan ada pengaruh antara Tax Reform, Non Debt Tax Shield (NDTS),
profitablilitas (ROA), likuiditas dan ukuran perusahaan (Size) terhadap struktur
modal.

43

3.4.5. Uji Hipotesis
Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel
independen atau variabel penjelas secara individual dalam menerangkan variabel
dependen (Ghozali, 2005). Apabila nilai probabilitas signifikansinya lebih kecil
dari 0,05 (5 %) maka suatu variabel independen berpengaruh signifikan terhadap
variable independen. Hipotesis diterima jika taraf signifikan () < 0,05 dan
hipotesis ditolak jika taraf signifikan () > 0,05

















44

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah perusahaan yang tercatat di BEI periode
2007 2011. Adapun jumlahperusahaan yang listing tercatat di BEI tahun 2007
berjumlah 231 perusahaan.
Di dalam pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive
sampling dengan kriteria perusahaan non keuangan yang tercatat di BEI periode
2007 2011, menyusun laporan keuangan tahunan secara berturut-turut tahun
2007 2011dan memiliki kelengkapan informasi yang dibutuhkan untuk
keperluan penelitian sehingga diperoleh sebanyak 65 perusahaan. Tabel berikut
menyajikan hasil seleksi sampel dengan menggunakan metode purposive
sampling.
Tabel 4.1
Seleksi Sampel Perusahaan Di BEI periode 2007 2011

Keterangan

Jumlah
Jumlah perusahaan yang listing tercatat di BEItahun 2007 231
Perusahaan yang delisting di BEI periode 2007-2011 16
Perusahaan yang termasuk dalam sektor keuangan 72
Perusahaan yang tidak memiliki kelengkapan informasi yang
dibutuhkan untuk keperluan penelitian tahun 2007 2011
78
Jumlah sampel akhir perusahaan yang tidak delisting dan
memiliki kelengkapan informasi selama 2007 2011(yangdiolah)
65

Sumber : Lampiran II Hal.85
Sampel emiten perusahaan yang tercatat di BEI yang diperoleh
sebanyak 65 perusahaan periode 5 tahun yaitu 2007 2011 dengan menggunakan
polling data maka data yang dipergunakan dalam penelitian sebanyak 65 x 5 =
325 data sebagai sampel dalam penelitian.


45

4.2. Statistik Deskriptif
Sampel yang digunakan untuk menguji pengaruh taxref dummy1, taxref
dummy2, NDTS, profitabilitas, likuiditas dan ukuran perusahaan terhadap
struktur modal perusahaan untuk periode pengamatan tahun 2007 -2011.
Gambaran umum sampel data penelitian dapat dilihat pada deskripsi statistic
penelitian pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4.2
Deskripsi Variabel Dummy1
Tax_ref dummy1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid progesif 302 92,9 92,9 92,9
flat 23 7,1 7,1 100,0
Total 325 100,0 100,0

Sumber : Lampiran II Hal.86
Berdasarkan tabel 4.2 pengukuran tax perform dummy1 tarif PPh
progresif yang ditandai angka 0 adalah 92,9% lebih bayak dibandingan dengan
PPh flat hanya dengan perusahaan yang memiliki laba kecil ditandai dengan
angka 1 adalah 7,1%.
Tabel 4.3
Deskripsi Variabel Dummy2
Tax_ref dummy2

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Progresif 151 46,5 46,5 46,5
Flat 174 53,5 53,5 100,0
Total 325 100,0 100,0

Sumber : Lampiran II Hal.86
46

Berdasarkan tabel 4.3 pengukuran tax perform dummy2 tarif PPh
progresif yang ditandai angka 0 adalah 46,5% lebih kecil dibandingan dengan
PPh flat hanya dengan perusahaan yang memiliki laba kecil ditandai dengan
angka 1 adalah 53,5%.
Tabel 4.4
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Tax_ref 325 0 1 ,07 ,257
Tax_ref 325 0 1 ,54 ,500
NDTS 325 ,00 4,12 ,3026 ,31196
Profit 325 -18,87 40,96 5,8634 9,24655
Likuiditas 325 ,05 42,44 2,0477 2,95595
Ukuran perusahaan 325 3,24 7,85 5,8294 ,97004
Struktur modal 325 ,00 4,95 ,1241 ,28864
Valid N (listwise) 325

Sumber : Lampiran II Hal.86
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dijelaskan bahwa dari 325 pengamatan,
variabel taxref dummy1 memiliki rata-rata (mean) positif yaitu 0,07.Hal ini
menunjukkan secara rata-rata 325 sampel cenderung mengalami kenaikan. Taxref
dummy1 yang terkecil sebesar 0 dengan frekuensi 92,9% sedangkan taxref
dummy1 yang terbesar 1 dengan frekuensi 7,1% dengan standar deviasi 0,257
menunjukkan nilai sebaran dari setiap sampel positif dan perbedaan taxref
dummy1 antar sampel penelitian yang relatif tidak jauh.
Variabel taxref dummy2 memiliki rata-rata (mean) positif yaitu 0,54.Hal
ini menunjukkan secara rata-rata 325 sampel cenderung mengalami kenaikan.
Taxref dummy2 yang terkecil sebesar 0 dengan frekuensi 46,5% sedangkan
47

taxref dummy2 yang terbesar 1 dengan frekuensi 53,5% dengan standar deviasi
0,500 menunjukkan nilai sebaran dari setiap sampel positif dan perbedaan taxref
dummy2 antar sampelpenelitian yang relatif tidak jauh.
Variabel NDTS memiliki rata-rata (mean) positif yaitu 0,3026. Hal ini
menunjukkan secara rata-rata 325 sampel cenderung mengalami kenaikan. NDTS
yang terkecil sebesar 0,00 sedangkan NDTS yang terbesar 4,12 dengan standar
deviasi 0,31196 menunjukkan nilai sebaran dari setiap sampel positif dan
perbedaan NDTS antar sampel penelitian yang relatif tidak jauh.
Variabel profitabilitas memiliki rata-rata (mean) positif yaitu 5,8634. Hal
ini menunjukkan secara rata-rata 325 sampel cenderung mengalami kenaikan.
profitabilitas yang terkecil sebesar -18,87 sedangkan profitabilitas yang terbesar
40,96 dengan standar deviasi 9,24655 menunjukkan nilai sebaran dari setiap
sampel positif dan perbedaan profitabilitas antar sampelpenelitian yang relatif
jauh.
Variabel likuiditas memiliki rata-rata (mean) positif yaitu 2,0477. Hal ini
menunjukkan secara rata-rata 325 sampel cenderung mengalami kenaikan.
Likuiditas yang terkecil sebesar 0,05 sedangkan likuiditas yang terbesar 42,44
dengan standar deviasi 2,95595 menunjukkan nilai sebaran dari setiap sampel
positif dan perbedaan likuiditas antar sampelpenelitian yang relatif jauh.
Variabel ukuran perusahaan memiliki rata-rata (mean) positif yaitu
5,8294. Hal ini menunjukkan secara rata-rata 325 sampel cenderung mengalami
kenaikan. Ukuran perusahaan yang terkecil sebesar 3,24 sedangkan ukuran
perusahaan yang terbesar 7,85 dengan standar deviasi 0,97004 menunjukkan nilai
48

sebaran dari setiap sampel positif dan perbedaan ukuran perusahaan antar
sampelpenelitian yang relatif tidak jauh.
Variabel struktur modal memiliki rata-rata (mean) positif yaitu 0,1241.
Hal ini menunjukkan secara rata-rata 325 sampel cenderung mengalami kenaikan.
Struktur modal yang terkecil sebesar 0,00 sedangkan struktur modal yang
terbesar 4,95 dengan standar deviasi 0,28884 menunjukkan nilai sebaran dari
setiap sampel positif dan perbedaan struktur modal antar sampelpenelitian yang
relatif tidak jauh.
4.2.Uji Asumsi Klasik
4.3.1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau
tidak.Pengujian normalitas dilakukan dengan perhitungan statistik skewness dan
kurtosis. Data observasi dapat dikatakan normal apabila nilai Zhitung < Ztabel
dengan nilai kritis 1,96 (tingkat signifikansi 0,05). Hasil pengujian normalitas
dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut:
Tabel 4.5
Hasil Pengujian Normalitas I
Descriptive Statistics

N Skewness Kurtosis

Statistic Statistic Std. Error Statistic Std. Error
Unstandardized Residual 325 4,355 ,135 50,102 ,270
Valid N (listwise) 325

Sumber : Lampiran II Hal.87
49

Berdasarkan tabel 4.5 diatas menunjukkan bahwa nilai statistik
untuk skewness adalah sebesar 4,355 dan nilai statistik untuk kurtosis
adalah sebesar 50,102. Kemudian dapat dilakukan perhitungan sebagai
berikut:
sewness


urtsis


Berdasarkan nilai Zskewness > Ztabel 1,96 dan nilai
Zkurtosis > Ztabel 1,96 maka dapat disimpulkan bahwa data
berdistribusi tidak normal. Oleh sebab itu dilakukan proses tahap II.
Tabel 4.6
Hasil Pengujian Normalitas II
Descriptive Statistics

N Skewness Kurtosis

Statistic Statistic Std. Error Statistic Std. Error
Unstandardized Residual 212 .270 .167 -.596 .333
Valid N (listwise)
212
Sumber : Lampiran II Hal.87
Berdasarkan tabel 4.6 diatas menunjukkan bahwa nilai statistik
untuk skewness adalah sebesar 0,270 dan nilai statistik untuk kurtosis
adalah sebesar -0,596. Kemudian dapat dilakukan perhitungan sebagai
berikut:

50


Berdasarkan nilai Zskewness < Ztabel 1,96 dan nilai
Zkurtosis < Ztabel 1,96 maka dapat disimpulkan bahwa data
berdistribusi normal. Selain itu, pengujian normalitas dapat juga dilihat
dari analisis grafik histogram dan grafik Normal P Plot of Regression
Standardized Residual seperti gambar berikut:
Gambar 4.1
Hasil Pengujian Histrogam
Sumber: Lampiran III Hal.88
51

Dari gambar di dapat dilihat bahwa grafik histogram mengikuti
distribusi normal dan tidak menunjukkan kemencengan, baik ke kiri
(positive skewness) maupun ke kanan (negative skewness). Hal tersebut
berarti bahwa model regresi berdistribusi normal.
Gambar 4.2
Hasil Pengujian P-P plot

Sumber : Lampiran III Hal.88
Dari gambar di atas menunjukkan bahwa titik-titik menyebar
disekitar garis diagonal dan mendekati arah garis diagonal yang berarti
bahwa model regresi berdistribusi normal, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa model regresi yang digunakan memenuhi asumsi
normalitas.

52

4.3.2. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi adalah model untuk menguji apakah kesalahan
observasi berkorelasi satu sama lain. Cara pengujiannya dilakukan dengan
menggunakan pengujian Run Test sebagai bagian dari statistik non parametrik,
seperti pada tabel 4.3.2 berikut ;
Tabel 4.7
Uji Autokorelasi dengan Run Test

Runs Test

Unstandardized
Residual
Test Value
a
-.00648
Cases < Test Value 106
Cases >= Test Value 106
Total Cases 212
Number of Runs 116
Z 1.239
Asymp. Sig. (2-tailed) .215


Sumber : Lampiran II Hal.89
Berdasarkan tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa probabilitas signifikan >
0,05 yang berarti H0 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa residual random
(acak) dengan kata lain tidak terjadi autokorelasi baik positif ataupun autokorelasi
negatif.
4.3.3. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas adalah suatu keadaan dimana varians dan
kesalahan pengganggu tidak konstan untuk semua variabel bebas.Model
regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Hasil uji
53

heteroskedastisitas variabel taxref dummy1, taxref dummy2, NDTS,
profitabilitas, likuiditas dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal dengan
uji Prak seperti tabel 4.8 sebagai berikut
Tabel 4.8
Hasil Uji Park
Coefficients
a

Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) -4,061 ,961

-4,225 ,000
Tax_ref -,213 ,486 -,053 -,438 ,663
Tax_ref -,117 ,268 -,049 -,435 ,664
NDTS 1,062 ,677 ,187 1,569 ,120
Profit -,005 ,025 -,024 -,179 ,858
Likuiditas ,133 ,166 ,097 ,801 ,425
Ukuran
perusahaan
-,025 ,153 -,020 -,165 ,869
Sumber : Lampiran II Hal.90

Berdasarkan tabel 4.8 diketahui bahwa tingkat signifikan variabel
penelitian diatas 0,05 maka model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas.
Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat
ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara variabel dependen dan
residualnya dimana sumbu Y adalah Y yang diprediksi, dan sumbu X adalah
residual (Y prediksi - Y sesungguhnya) yang telah di studentized (Ghozali,
2011:139).
54

Gambar 4.3
Hasil Gambar Scatterplot

Sumber : Lampiran III Hal.91
Dari gambar 4.3. grafik scatterplot menunjukkan bahwa titik-titik
menyebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada
sumbu Y. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data bebas dari heteroskedastisitas.

4.3.4. Multikolinieritas
Pengujian ini untuk mengetahui adanya hubungan linear yang
"sempurna" atau pasti di antara beberapa atau semua variabel independen
yang menjelaskan model regresi.Model regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi korelasi di antara variabel independen.
55

Tabel 4.9
Hasil Pengujian Multikolinieritas
Model Tolerance VIF
1 (Constant)

Tax_ref ,808 1,237
Tax_ref ,914 1,094
NDTS ,875 1,143
Profit ,579 1,728
Likuiditas ,841 1,189
Ukuran perusahaan ,716 1,396
Sumber : Lampiran II Hal.92

Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui model regresi yang bebas
multikolinieritas karena koefisien regresi antar variabel independen
mempunyai nilai Toleran > 0,05 dan VIF < 10.
4.4 Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi bergandadigunakan untuk mengetehui pengaruh
hubungan antara variabel independen dan variabel dependen dengan skala
pengukuran atau rasio dalam suatu persamaan linier. Hasil persamaan regresi
variabel variabel taxref dummy1, taxref dummy2, NDTS, profitabilitas, likuiditas
dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal dapat dilihat tabel 4.10 berikut :


56

Tabel 4.10
Hasil Pengujian Regresi berganda
Coefficients
a

Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
T Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) -,071 ,021

-3,352 ,001
Tax_ref1 -,036 ,010 -,186 -3,455 ,001
Tax_ref2 -,010 ,005 -,097 -1,904 ,058
NDTS ,163 ,013 ,625 12,057 ,000
Profit -,002 ,001 -,276 -4,331 ,000
Likuiditas -,013 ,003 -,196 -3,709 ,000
Ukuran perusahaan ,023 ,003 ,377 6,585 ,000
Sumber : Lampiran II Hal.93
Dari tabel 4.10 dapat dirumuskan persamaan regresi sebagai berikut;
Y = -0,071 - 0,036X
1
- 0,010 X
2
+ 0,163 X
3
0,002 X
4
0,013 X
5
+ 0,023 X
6
+ e
Berdasarkan pada tabel 4.10. menunjukan nilai konstanta -0,007 yang
memiliki pengartian asumsi semua variabel ( tax reform, NDTS, Profitabilitas, dan
Size) nilai konstan 0 maka nilai leverge akan sebesar 0,005. Dilihat dari
signifikansinya, p value sebesar 0,001 < -0,071 maka dikatakan konstanta negatif
signifikan
4.5. Uji Model ( Goodness of Fit Model )
4.5.1. Uji Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi dimana dalam penelitian ini menggunakan
AdjustedR Square mengukur seberapa jauh kemampuan variabel independen
dalam menjelaskan variasi variabel dependen. Hasil koefisien determinasi
variabel variabel taxref dummy1, taxref dummy2, NDTS, profitabilitas, likuiditas
57

dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal dapat dilihat pada tabel 4.11 di
bawah ini :
Tabel 4.11
Hasil Pengujian Koefisien Determinasi
Berdasarkan tabel 4.11 di atas hasil uji regresi didapatkan angka
koefisien adjustedR Square sebesar 0,504. Hal ini berarti bahwa variabilitas
struktur modal dapat dijelaskan oleh variabel taxref dummy1, taxref dummy2,
NDTS, profitabilitas, likuiditas dan ukuran perusahaan sebesar 50,4%.
Sedangkan sisanya sebesar 49,6% dijelaskan oleh variabel lain di luar model.
4.5.2 Uji Simultan (uji F)
Uji F digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh variabel
independen atau variabel penjelas secara simultan dalam menerangkan variabel
dependen. Hasil uji simultan variabel taxref dummy1, taxref dummy2, NDTS,
profitabilitas, likuiditas dan ukuran perusahaan terhadap struktur modal dapat
dilihat pada tabel 4.5.2 di bawah ini :
Tabel 4.12
Hasil Pengujian Secara Simultan
ANOVA
b

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression ,310 6 ,052 36,685 ,000
a

Residual ,289 205 ,001

Total ,599 211


Sumber : Lampiran II Hal.94
Model Summary
b

Mod
el R R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
1 ,720
a
,518 ,504 ,03754
Sumber : Lampiran II Hal.94

58

Berdasarkan tabel 4.5.2 di atas dapat diketahui hasil F hitung 36,685 dan
tingkat probabilitas 0,000 < 0,05 sehingga dapat dikatakan secara simultan antara
variabel taxref dummy1, taxref dummy2, NDTS, profitabilitas, likuiditas dan
ukuran perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal. Maka secara
keseluruhan model penelitian adalah fit.
4.6 Penguji Hipotesis
Menggunakan uji t untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu
variabel independen atau variabel penjelas secara individual dalam menerangkan
variabel dependen. Adapun hasil pengujian hipotesis dengan melalui uji parsial
sebagaimana disajikan di tabel 4.4.1. diatas :
1. Hipotesis pertama (H
1
): menyatakan bahwa pada tarif flat, perusahaan
dengan laba rendah akan memilih pendanaan hutang lebih banyak
dibandingkan dengan tarif progresif, atas respon terhadap perubahan tarif
PPh badan. Dari hasil pengujian analisis regresi tingkat signifikan sebesar
0,001 < 0,05, maka variabel taxref dummy1 berpengaruh signifikan terhadap
struktur modal,berartihipotesis pertama (H
1
), diterima.
2. Hipotesis kedua (H
2
): menyatakan bahwa pada tarif Flat, perusahaan dengan
laba tinggi akan memilih pendanaan hutang lebih rendah dibandingkan dengan
tarif progresif, atas respon terhadap perubahan tarif PPh badan. Dari hasil
pengujian analisis regresi tingkat signifikan sebesa 0,058 > 0,05, maka variabel
taxref dummy2 berpengaruh tidak signifikan terhadap struktur modal,berarti
hipotesis kedua (H
2
), ditolak.
59

3. Hipotesis ketiga (H
3
) : menyatakan bahwa Non Debt Tax Shield memiliki
pengaruh negatif terhadap leverage perusahaan. Dari hasil pengujian analisis
regresi diperoleh koefisien regresi sebesar 0,163 dan tingkat signifikan sebesar
0,000 < 0,05, maka variabel NDTS berpengaruh positif dan signifikan
terhadap leverage, berarti hipotesis ketiga (H
3
), diterima.
4. Hipotesis keempat (H
4
): menyatakan bahwa profitabilitas memilki pengaruh
negatif terhadap leverage perusahaan. Dari hasil pengujian analisis regresi
diperoleh koefisien regresi sebesar -0,002 dan tingkat signifikan sebesar 0,000
< 0,05, maka variabel profitabilitastidak berpengaruh signifikan terhadap
leverage,berartihipotesis keempat (H
4
), diterima
5. Hipotesis kelima (H
5
): menyatakan bahwa likuiditas memiliki pengaruh
negatif terhadap leverage perusahaan. Dari hasil pengujian analisis regresi
diperoleh koefisien regresi sebesar -0,013 dan tingkat signifikan sebesar 0,000
< 0,05, maka variabel likuiditas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
leverage,berartihipotesis kelima (H
5
), diterima
6. Hipotesis keenam (H
6
): menyatakan bahwa Ukuran perusahaan memiliki
pengaruh positif terhadap leverage perusahaan. Dari hasil pengujian analisis
regresi diperoleh koefisien regresi sebesar 0,023 dan tingkat signifikan sebesar
0,000 < 0,05, maka variabel ukuran perusahaan berpengaruh positif dan
signifikan terhadap leverage,berartihipotesiskeenam (H
6
), diterima.


60

4.6. Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur modal dapat diprediksikan
oleh kombinasi penggunaan variabel taxref dummy1, taxref dummy2, NDTS,
profitabilitas, likuiditas dan ukuran perusahaan. Hal ini dapat ditunjukkan oleh
hasil uji regresi didapatkan angka koefisien adjustedR Square sebesar 0,504.
Hal ini berarti bahwa sebesar 50,4% dapat dijelaskan oleh taxref dummy1, taxref
dummy2, NDTS, profitabilitas, likuiditas dan ukuran perusahaan terhadap
struktur modal.
a. Pengaruh taxref dummy1 terhadap struktur modal
Hasil pengujian analisis variabel taxref dummy1 berpengaruh signifikan
terhadap struktur modal,berarti hipotesis pertama (H
1
), diterima. Hasil
penelitian ini konsisten atau sama dengan penelitian Natalia (2008), taxref
dummy1 berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Pada tarif flat,
perusahaan dengan laba rendah akan memilih pendanaan hutang lebih banyak
dibandingkan dengan tarif progresif, terhadap perubahan tarif PPh badan.
Dengan hasil pengujian ini dapat disimpulkan bahwa perusahaan dengan
laba kena pajak tahun 2009 kurang dari Rp.875.000.000 dan perusahaan dengan
laba tahun 2010 dan tahun 2011 kurang dari Rp.350.000.000 akan memilih
pendanaan hutang lebih bayak atas respon perubahan tarif PPh badan.hal ini
perusahaan menggunakan biaya bunga atas pendanaan hutang untuk memeroleh
keuntungan dari tax shield karena biaya bunga adalah biaya yang boleh dikurangi
dalam menghitung besarnya pajak, sehingga bisa mengurangi laba kena pajak dan
61

tentunya pajak akan menjadi kecil. Hal ini sesuai dengan teori modigliani &
miller (1963) dalam akinlo (2011).
b. Pengaruh taxref dummy2 terhadap struktur modal
Hasil pengujian analisis variabel taxref dummy2 tidak signifikan
terhadap struktur modal, berarti hipotesis kedua (H
2
), ditolak. Hasil penelitian
ini konsisten atau sama dengan penelitian Natalia (2008), pada tarif Flat,
perusahaan dengan laba tinggi akan memilih pendanaan hutang lebih rendah
dibandingkan dengan tarif progresif, atas respon perubahan tarif PPh badan.
Berdasarkan pengujian ini dapat disimpulkan bahwa perusahaan dengan
laba tinggi yaitu perusahaan laba kena pajak tahun 2009 lebih dari
Rp.875.000.000 dan perusahaan dengan laba kena pajak tahun 2010 & 2011 lebih
dari Rp.350.000.000 tidak akan memilih pendanaan hutang lebih redah
dibandingkan dengan tarif progresif, atas respon perubahan tarif pajak PPh
badan. Jika perusahaan dengan laba kena pajak yang tinggi tetap memilih
pendanaan hutang yang besar, perusahaan hanya ingin tetap memproleh manfaat
pajak dari pendanaan agar pajak terutang bisa lebih rendah.
c. Pengaruh NDTS terhadap struktur modal
Hasil pengujian analisis variabel NDTS berpengaruh positif dan
signifikan terhadap leverage, berarti hipotesis ketiga (H
3
), diterima. Hasil
penelitian ini tidak konsisten atau tidak sama dengan penelitian Huang dan
Song (2006) bahwa jika non debt tax sield meningkat, maka tingkat leverage
akan menurun. Tetapi hasil ini sejalan dengan peneliti Natalia (2008), Chen
62

(2004) yang menghasilkan NDTS berpengaruh positif dan signifikan terhadap
struktur modal.
Hal ini karena non debt tax sield yang diukur dengan biaya depresiasi
memiliki kolerasi dengan fixsed asset, dimana fixsed asset yang besar maka biaya
depresiasinya juga besar. Perusahaan yang memiliki fixed asset yang tinggi akan
cenderung melakukan pendanaan hutang lebih bayak dengan cara menjaminkan
fixed asset, jika fixed asset yang tinggi mempengaruhi pendanaan hutang menjadi
lebih besar, maka non debt tax shield yang tinggi juga mempengaruhi pendanaan
hutang lebih besar.
d. Pengaruh profitabilitas terhadap struktur modal
Hasil pengujian analisis variabel profitabilitas negatif dan signifikan
terhadap leverage, berarti hipotesis keempat (H
4
), diterima. Hasil penelitian ini
konsisten atau sama dengan penelitian Huang dan Song (2006), Chen (2004) dan
Natalia (2008) yang menghasilkan profitabilitas berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap struktur modal.
Berdasarkan pengujian ini profitabilitas lebih diutamakan untuk
melakukan pembiayaan dengan menggunakan sumber dana internal yaitu
retained earning semaksimal mungkin dibandingkan dengan menggunakan
pendanaan eksternal yaitu hutang.


63

e. Pengaruh likuiditas terhadap struktur modal
Hasil pengujian analisis variabel likuiditas berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap leverage, berarti hipotesis kelima (H
5
), diterima. Hasil
penelitian ini konsisten atau sama dengan penelitian Myers (1984) dan Ozkan
(2001) yang menghasilkan likuiditas berpengaruh negatif terhadap struktur
modal.
Teori pecking order yang dikemukakan oleh Myers (1984) dan Ozkan
(2001) yang berpendapat bahwa tingkat likuiditas memiliki pengaruh negatif
terhadap leverage, karena perusahaan memiliki tingkat likuiditas yang tinggi
maka perusahaan akan cederung memilih menggunakan dana internal untuk
membiayai kegiatan perusahaan bukan dengan pendanaan hutang.
f. Pengaruh ukuran perusahaan terhadap struktur modal
Hasil pengujian analisis variabel ukuran perusahaan berpengaruh positif
dan signifikan terhadap leverage,berarti hipotesis keenam (H
6
), diterima. Hasil
penelitian ini konsisten atau sama dengan penelitian Akhtar dan Oliver (2009)
serta Akinlo (2001) yang menghasilkan ukuran perusahaan berpengaruh positif
terhadap struktur moda.
Menurut Titman dan Wessels (1988) dalam Akinlo (2011), perusahaan
yang berukuran besar tidak mempertimbangkan biaya kebangkrutan secara
langsung dalam menentukan tingkat leverage karena biaya kebangkrutan
merupakan proporsi yang kecil dari nilai perusahaan secara keseluruhan.
64

Sehingga pemikiran ini mengasumsikan bahwa ukuran perusahaan (Size)
memiliki hubungan positif terhadap leverage perusahaan.






















65

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Dari hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat di
ambil kesimpulan bahwa penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perubahaan
tarif PPh badan dan variabel-variabel lain terhadap struktur modal pada
perusahaan yang terdaftar di BEI selama 2007-2011.
Berdasarkan analisis data yang dilakukan pada bab sebelumnya dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Hasil pengujian analisis regresi diperoleh variabel taxref dummy1
berpengaruh signifikan terhadap struktur modal.
2. Hasil pengujian analisis regresi diperoleh variabel taxref dummy2 tidak
berpengaruh signifikan terhadap struktur modal.
3. Hasil pengujian analisis regresi variabel NDTS berpengaruh positif dan
signifikan terhadap leverage.
4. Hasil pengujian analisis regresi diperoleh variabel profitabilitas berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap leverage.
5. Hasil pengujian analisis regresi diperoleh variabel likuiditas berpengaruh
negatif dan signifikan terhadap leverage.
6. Hasil pengujian analisis regresi diperoleh variabel ukuran perusahaan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap leverage.

66

5.2. Saran
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat
dikemukakan beberapa saran sebagai berikut :
1. Manajemen perusahaan untuk memperhatikan struktur modal dimana
merupakan masalah yang penting dalam pengambilan keputusan untuk
pembelanjaan perusahaan. Keputusan struktur modal secara langsung dapat
berbengaruh terhadap besarnya resiko yang ditanggung pemegang saham
serta seberapa besar tingkat pengembalian (return) dari modal yang
ditanamkan dalam usaha sehingga akan dapat mempengaruhi investor di
dalam mengambil keputusan berinvestasi di perusahaan
2. Manajemen perusahaan untuk memperhatikan lagi NDTS, profitabilitas,
likuiditas dan ukuran perusahaan dimana tingkat NDTS, profitabilitas,
likuiditas dan ukuran perusahaan dapat digunakan sebagai ukuran untuk
menilai seberapa besar tingkat pengembalian (return) dari modal yang
ditanamkan dalam usaha sehingga akan dapat mempengaruhi investor di
dalam mengambil keputusan berinvestasi di perusahaan.
3. Bagi investor perlu memperhatikan struktur modal karena dapat dijadikan
pertimbangan investor di dalam melakukan investasi.
5.3. Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan yang terdapat pada penelitian ini antara lain :
1. Penelitian ini hanya difokuskan pada periode tahun 2007 2011 sehingga
tidak dapat diketahui apakah hasil studi akan berbeda jika periode waktu
panjang.
67

2. Terdapat banyak variabel yang dapat mempengaruhi struktur modal. Dalam
penelitian ini hanya diteliti dengan enam variabel independent.
5.4. Implikasi Penilitian
Penelitian selanjutnya diharapkan untuk dapat mengidentifikasi variabel-
variabel lain yang dapat mempengaruhi struktur modal. Hal ini dalam rangka
melengkapi hasil penelitian terdahulu sehingga dapat diambil kesimpulan
tentang apa yang sebenarnya mempengaruhi struktur modal.













68

DAFTAR PUSTAKA

Agustin, Linda. 2012. Pengaruh Karaktreristik Perusahaan Terhadap
Pengungkapan Laporan Tahunan, Simposium Nasional Akuntansi VII.
Solo.
Akinlo, Olayinka. (2004). Determinants of Capital Structure : Evidadance from
nigerian panel data. Jurnal African Economic and business review Vol. 9,
No. 1.
Aktar, S. And Oliver, B. (2009). Determinants of Capital Structure for Japanese
multinational and domestic corporations. Jurnal International review of
finance, 9, 1-26.
Chen, j.j. (2003). Determinal of Chinese-Listed companies. Jurnal of Business
Research, 57, 1341-1351.
Darwin, Ali. 2004. Penerapan Sustainability Reporting di Indonesia. Konvensi
Nasional Akuntasi V, Program Profesi Lanjutan, Yogyakarta.
Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program program
spss. Semarang: Penerbit Universitas Diponegoro.
Mardiyanto, Handono. 2008. Intisari Manajemen Keuangan. Gransindo: Jakarta.
Modigliani, F. And Miller. M.H. (1963). Corporate Income Taxes and The Cost
of Capital: A Correction. Americano Ekonomic Review, p.433-443.
Myers, S. And Majluf, N. (1984). Corporate Financing and Investement
Decisions When Firms Have Information Investors Do Not Have. Jurnal of
Financial Economics.
Natalia, Cristin. 2008. Perubahan Tarif PPh Badan Terhadap Struktur Modal pada
perusahaan yang terdaftar dalam priode 2006-2007. Skripsi. Universitas
Indonesia. Jakarta. Tidak dipublikasikan.
Nurwahyuni, Eka septia. 2013. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Struktur
Modal pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2008-
2012. Skripsi. FEB UIN Sharif Hidayatulloh. Jakarta.
Umar, Husein. 2008. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta:
Grafindo.
Undang-Undang Nomer 17 tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan.
69

Undang-Undang Nomer 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.
Untari, Lisna. 2010. Effect on Company Characteristics Corporate Social
Responsibility Disclosures in Corporate Annual Reprot of Consumption
Listed in Indonesia Stock Exchange. Jurnal Economy Faculty.
Wildani, Anastasia Rizki. 2012. Pengaruh Perubahan Tarif Pajak Penghasilan
Wajib Pajak dan Karateristik Perusahaan Terhadap Struktur Modal Pada
Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2007 2011.
Skripsi, Universitas Indonesia. Jakarta.
www.idx.co.id


















70

Kode Nama Perusahaan
ACES
PT. Ace Hardware, Tbk
TMPI
PT. Agis, Tbk
AIMS
PT. Akbar Indo Makmur Stimec, Tbk
AKRA
PT. AKR Corporindo, Tbk
AALI
PT. Astra Agro, Tbk
ASGR
PT. Astra Graphia, Tbk
BAYU
PT. Bayu Buana Travel, Tbk
BHIT
PT. Bhakti Investama, Tbk
BIPP
PT. Bhuwanatala Indah Permai, Tbk
BMSR
PT. Bintang Mitra, Tbk
CSAP
PT. Catur Sentosa Adiprana, Tbk
CENT
PT. Centrin Online, Tbk
CMPP
PT. Centris Multipersada Pratama,Tbk
CTRP
PT. Ciputra Development, Tbk
CTRS
PT. Ciputra Surya, Tbk
SCBD
PT. Danayasa Arthatama, Tbk
DEWA
PT. Darma Henwa, Tbk
KARK
PT. Dayaindo Resources Internasional, Tbk
DGIK
PT. Duta Graha, Tbk
EKAD
PT. Ekadharma Internasional, Tbk
EPMT
PT. Enselval Putra Mega Trading, Tbk
FORU
PT. Fortune Indonesia, Tbk
BMTR
PT. Global Media, Tbk
GDYR
PT. Goodyear Indonesia, Tbk
GMTD
PT. Gowa Makasar Tourism Development, Tbk
GMCW
PT. Grahamas Citrawisata, Tbk
HERO
PT. Hero Supermarket, Tbk
HEXA
PT. Hexindo Adiperkasa, Tbk
INTP
PT. Indocement, Tbk
INPP
PT. Indonesian Paradise Property, Tbk
MORE
PT. Indonesia Prima Property, Tbk
JIHD
PT. Jakarta Internasional Hotel & Development, Tbk
JTPE
PT. Jasuindo Tiga Perkasa, Tbk
71

JKON
PT. Jaya Konstruksi Manggala Pratama, Tbk
JRPT
PT. Jaya Real Property, Tbk
MAMI
PT. Mas Murni Indonesia, Tbk
MTSM
PT. Metro Supermarket, Tbk
MTDL
PT. Metrodata Electronic, Tbk
SDPC
PT. Millenium Pharmacon Internasional, Tbk
MAPI
PT. Mitra Adi Perkasa, Tbk
MNCN
PT. Media Nusantara Citra, Tbk
MDRN
PT. Modern Internasional, Tbk
MDLN
PT. Modernland Realty, Tbk
MLPL
PT. Multipolar, Tbk
MYOH
PT. MYOH Tecnology, Tbk
PANR
PT. Panorama Sentrawisata, Tbk
WEHA
PT. Panorama Transportasi, Tbk
PSAB
PT. Pelita Sejatera Abadi, Tbk
PJAA
PT. Pembangunan Jaya Ancol, Tbk
KONI
PT. Perdana Bangun Persada, Tbk
GPRA
PT. Perdana Gapuraprima, Tbk
PTRO
PT. Petrosea, Tbk
PUDP
PT. Pudjiadi Prestige, Tbk
PNSE
PT. Pudjiati and Son, Tbk
PSKT
PT. Pusako Tarinka,Tbk
RUIS
PT. Radiant Utama Interinsco, Tbk
RALS
PT. Ramayana Lestari Sentosa, Tbk
RIGS
PT. Rig Tenders, Tbk
SMGR
PT. Semen Gresik, Tbk
SMDM
PT. Suryamas Duta, Tbk
TLKM
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
TGKA
PT. Tigaraksa, Tbk
TINS
PT. Timah (Persero), Tbk
UNVR
PT. Unilever, Tbk
UNTR
PT. United Tractors, Tbk