Anda di halaman 1dari 9

Transformasi si Bojag (Bonggol Jagung) menjadi Bioetanol sebagai Alternatif Bahan

Bakar Tebarukan yang Lebih Ramah Lingkungan


(Artikel Review)
Oleh:
Mariati Batma A.S
4113210016, KIMIA-Universitas Negeri Medan
Abstraks
Berdasarkan karakteristik fisik dan kimianya, limbah jagung berupa bonggol jagung berpotensi
sangat baik sebagai sumber bioenergi terbarukan yang bernilai ekonomis tinggi dan mampu
mengatasi permasalah krisis bahan bakar fosil saat ini. Telah dilakukan kajian teori dan
penelitian mengenai potensi transformasi terhadap bonggol jagung. Diperoleh bahwa bonggol
jagung dapat ditransformasi menjadi bioenergi berupa bioetanol. Bioetanol menjadi alternatif
bahan bakar yang menjajikan karena dibuat dari sumber daya yang dapat diperbaharui dan lebih
ramah lingkungan.Proses pembuatan bioetanol dari si bojag diawali dengan proses delignifikasi
yaitu menghilangkan penggangu berupa senyawa lignin, kemudian proses hidrolisis atau dengan
sakarifikasi untuk mendapatkan senyawa gula yang nantinya akan difermentasi dengan khamir
sacharomyces cereviciae menjadi bioetanol. Untuk memproduksi bioetanol di Indonesia dalam
jumlah banyak sebaiknya perlu mengkaji dan memperhatikan kembali pemilihan teknik metode
pemprosesannya agar mendapatkan bioetanol yang ekonomis dari segi waktu, biaya produksi
serta nilai jualnya. Dengan metode dan cara yang tepat Bioetanol dari Bojag akan menjadi
primadona alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan bagi Indonesia.
Keyword : Bioenergi,Bonggol Jagung,Bioetanol, Proses Bioetanol

Pendahuluan
Saat ini kontribusi dan aplikasi bioteknologi telah dapat diterapkan pada produksi
bioenergi seperti produksi biomassa (Ruane et al.,2010). Bioenergi adalah energi yang diperoleh
dari biomassa sebagai fraksi produk biodegradasi, limbah, dan residu dari pertanian (berasal dari
nabati dan hewani), industri kehutanan dan terkait, dan sebagian kecil biodegradasi dari limbah
industri dan kota (FAO). Bioenergi berperan penting pada pencapaian target dalam
menggantikan petroleum didasarkan pada bahan bakar transportasi dengan bahan bakar alternatif
dan pereduksian emisi karbon dioksida dalam jangka panjang.(Hadiyanto.2013)
Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam yang sangat
berlimpah, baik sumber daya alam yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat
diperbaharui.Kesemuanya itu akan saling melengkapi dan berpotensi sebagai wadah yang baik
untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa ini jika Indonesia mampu mengoptimalkan
keseimbangan pengolahannya.
Terdengar kabar bahwa bangsa Indonesia sedang mengalami penipisan sumber daya alam
tak terbaharukan terutama pada bahan bakar fosil. Hal ini dipicu akibat meningkatnya pertumbuhan
penduduk, pengembangan wilayah, dan pembangunan wilayah dari tahun ke tahun yang otomatis
ikut menaikkan ekploitasi kebutuhan akan pemenuhan energi listrik dan juga bahan bakar secara
nasional. Karena kelemahan dari minyak bumi atau bahan bakar fosil adalah sifatnya yang tidak
mudah diperbaharui, sehingga untuk mengatasinya perlu adanya bahan bakar alternatif pengganti
minyak bumi yang tebarukan dan lebih ramah lingkungan, salah satunya adalah
bioetanol.(Simamora,2008 dalam Fitriani dkk, 2013)
Bioetanol dapat dikonversi dari sumber daya alam terbarukan yang mengandung bahan
lignoselulosa. Tumbuhan yang potensial untuk menghasilkan bioetanol antara lain tanaman yang
memiliki kadar karbohidrat tinggi (gula,pati,selulosa, dan hemiselulosa), seperti tebu, nira, aren,
sorgum, ubi kayu, jambu mete (limbah jambu mete), garut, batang pisang, ubi jalar, jagung,
bonggol jagung, jerami, dan bagas (ampas tebu).
Jagung adalah salah satu produk pertanian yang banyak dihasilkan di negara Indonesia.
Kinerja produksi jagung Indonesia cenderung meningkat. Berdasarkan data dari BPS (Badan Pusat
Statistik) produktivitas jagung ditahun 2011 mencapai 17,92 juta ton sedangkan di tahun 2013
meningkat menjadi 18,51 juta ton (http://www.bps.go.id/-download_file/IP_Februari_2014.pdf) .
Buah jagung terdiri dari 30% limbah yang berupa bonggol jagung (Irawadi, 1990 dalam Subekti,
2006). Jadi jika dikonversikan dengan jumlah produksi jagung pada tahun 2013, maka negara
Indonesia berpotensi menghasilkan bonggol jagung sebanyak 5,553 juta ton. Jumlah limbah
tersebut dapat dikatakan sangat banyak dan akan menjadi sangat potensial jika dapat di
biotransformasi menjadi sesuatu yang bermanfaat secara tepat.
Sudah banyak penelitian yang dilakukan dalam transformasi si Bojag (Bonggol Jagung)
menjadi bioenergi terutama sebagai bioetanol dengan berbagai metode penelitian. Untuk itu
diperlukan kajian kembali berbagai penelitian tersebut agar diperoleh cara dan metode yang tepat
dan pas dalam produksi pembuatan bioetanol dari si Bojag (Bonggol Jagung) yang berkualitas dan
bernilai ekonomis tinggi sebagai alternatif bahan bakar yang menjajikan.

Bonggol Jagung
Bonggol pada jagung adalah bagian dalam organ betina tempat bulir duduk menempel.
Istilah ini juga dipakai untuk menyebut seluruh bagian jagung betina (buah jagung). Secara
morfologi, bonggol jagung adalah tangkai utama malai yang termodifikasi. Malai organ jantan pada
jagung dapat memunculkan bulir pada kondisi tertentu.Bonggol jagung muda, disebut juga
babycorn, dapat dimakan dan dijadikan sayuran. Bonggol yang tua ringan namun kuat, dan menjadi
sumber furfural, sejenis monosakarida dengan lima atom karbon.
Bonggol jagung merupakan salah satu limbah lignoselulosik yang banyak tersedia di
Indonesia. Limbah lignoselulosik adalah limbah pertanian yang mengandung selulosa,
hemiselulosa, dan lignin. Masing-masing merupakan senyawa-senyawa yang potensial dapat
dikonversi menjadi senyawa lain secara biologi. Selulose merupakan sumber karbon yang dapat
digunakan mikroorganisme sebagai substrat dalam proses fermentasi untuk menghasilkan produk
yang mempunyai nilai ekonomi tinggi (Suprapto dan Rasyid, 2002 dalam Shofiyanto, 2008).
Karakteristik kimia dan fisika dari bonggol jagung sangat cocok untuk pembuatan tenaga
alternative, kadar senyawa kompleks lignin dalam bonggol jagung adalah 6,7-13,9%, untuk
hemiselulose 39,8% , dan selulose 32,3-45,6%(Astuti,Puji dkk.2013).Sedangkan beberapa jurnal
menyebutkan kadar senyawa kompleks lignin pada bonggol jagung 15%, selulosa 45%, dan
Hemiselulosa 35% (Indriyani,Dewi dkk.2013). Walaupun ada perbedaan mengenai kadar
kandungan senyawa kimia bonggol jagung yan pasti komposisi kimia tersebut membuat bonggol
jagung dapat digunakan sebagai sumber energi. Dimana Koopmans dan Koppejan (dalam jurnal
Widodo, Teguh dk) menyebutkan bahwa Potensi energi bonggol jagung adalah 55,75 GJ.

Kajian Transformasi Limbah Bojag (Bonggol Jagung) Sebagai Bioetanol
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa si Bojag memiliki kandungan selulosa, hemiselulosa,
dan lignin yang merupakan 3 komponen yang dimiliki bahan lignoselulosa. Berdasarkan penelitian
diketahui bahwa bahan lignoselulosa ini dapat dikonversi menjadi etanol yang dapat digunakan
untuk mensubtitusikan bahan bakar minyak/bensin. Ketika etanol dihasilkan dari biomassa yang
mengandung pati atau selulosa (Lignoselulosa), maka etanol mampu menjadi bioenergi. Atau lebih
dikenal dengan istilah bioetanol.
Salah satu alasan mengapa potensi si Bojag yang dapat di transform sebagai Bioetanol perlu
dikembangkan sebagai bahan alternatif di Indonesia adalah karena study literatur menyebutkan
bahwa Bioetanol ternyata memiliki kelebihan dibandingkan BBM. Diantaranya bioetanol ternyata
memiliki kandungan oksigen yang lebih tinggi yaitu 35% dibanding BBM yang hanya 18,66%
sehingga terbakar lebih sempurna, angka oktannya juga tinggi(118) sedang BBM (88), dan
mengandung emisi gas CO yang lebih rendah 0,89% sedang BBM 2,5 % sehingga jauh lebih ramah
lingkungan. (Bustaman,2008 dalam Fitriani dkk.2013)
Dari beberapa jurnal penelitian memuat bahwa dalam proses pembuatan si Bojag sebagai
Bioetanol selulosa tidak mudah langsung didegradasi secara kimia maupun mekanis. Hal ini
disebabkan karena selulosa biasanya berikatan dengan hemiselulosa dan lignin membentuk
kerangka utama dinding sel tumbuhan (Holtzapple.1993 dalam Fitriani dkk.2013). Lignin
merupakan jaringan polimer fenolik yang berfungsi merekatkan serat selulosa sehingga menjadi
sangat kuat. Kekuatan lignin merupakan salah satu penghalang pada proses hidrolisis senyawa
selulosa nantinya. Untuk itu perlu diberikan perlakuan pendahuluan terhadap si bojag yang akan
dihidrolisis dengan delignifikasi menggunakan basa. Delignifikasi dilakukan dengan larutan
NaOH,NaOCl atau NH
4
OH karena larutan ini dapat merusak struktur lignin sehingga membebaskan
selulosa tanpa merusak karbohidrat.(Enari,1983;Masden dan Grey,1986; Gunam dan Antara,1999
dalam Fitriani,2013)
Mitra Oktavia dkk(2013) di bulan Maret 2013 telah melakukan penelitian pembuatan
bioetanol terhadap si bojag dengan mengkombain antara campuran NaOH dan NH
4
OH yang
berdasarkan literatur bahwa penggunaan larutan NaOH saja akan memerlukan waktu yang lama
dalam pemutusan lignin. Penelitian tersebut memperoleh waktu optimum dalam pelepasan lignin
dengan konsentrasi NaOH 2 % dan NH
4
OH 8% selama 3 hari (72 jam), termasuk waktu yang lama
dan tidak sesuai dengan harapan. Namun pada bulan Desember 2013 Fitriani dkk melakukan
penelitian yang sama dengan pelarut yang berbeda yaitu hanya menggunakan NaOH 10% 100mL
diperoleh bahwa waktu optimum hasil proses delignifikasi terbaik adalah pada waktu perendaman 1
hari lebih 4 jam (28jam) dan mengalami penurunan setelahnya. Berdasarkan penelitian tersebut
ternyata penggunaan NaOH 10% mendapatkan waktu optimun yang lebih baik dalam proses
pelepasan lignin dibandingkan menggunakan campuran NaOH 2% dan NH
4
OH 8% sebagai pelarut
dalam proses delignifikasi.
Setelah lignin dilepas dari selulosa barulah si bojag dapat diolah dan masuk ke proses
berikutnya untuk memproduksi gula yang nantinya akan difermentasi sebagai bioetanol. Pada
proses ini serbuk bonggol jagung hasil delignifikasi dapat diproses melalui 2 metode, melalui
hidrolisis dan dapat juga melalui metode sakarifikasi enzimatik. Namun dari beberapa jurnal
penelitian mengenai pembuatan bioetanol dari si Bojag kebanyakan peneliti memilih menggunakan
hidrolisis dengan asam dari pada metode simultan sakarifikasi menggunakan enzim. Pada studi
literatur dijelaskan bahwa pembentukan etanol dengan cara sakarifikasi lebih cepat dan inhibitor
oleh konsentrasi glukosa yang tinggi dapat diatasi. Namun pada penelitian yang dilakukan Mitra
Oktavia dkk(2013) pada Maret 2013 diperoleh hasil yang bertolak belakang dengan literatur yang
ada, pembentukan etanolnya cukup lama dihitung dari proses sakarifikasi yaitu 99,5 jam (>3 hari).
Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Dewi Indryani (2013) yang menggunakan metode
hidrolisis asam diperoleh hasil etanol pada jangka waktu proses 49,5 jam (<3 hari). Begitu juga
hasil penelitian yang dilakukan oleh Fitriani,dkk (2013) dengan metode hidrolisis asam yang
memperoleh bioetanol < 3 hari. Hal ini disebabkan karena kelemahan pada metode sakarifikasi
adalah suhu optimum untuk selulase dan mikroorganisme berbeda sehingga perlu sangat
diperhatikan dan dijaga dalam prosesnya. Dari penelitian tersebut menunjukkan metode hidrolisis
jauh lebih baik digunakan dari pada sakarifikasi mengingat harga enzim yang cocok digunakan
untuk proses sakarifikasi sangat mahal harganya.Namun tetap perlu dilakukan penelitian lanjut
metode mana yang paling tepat dan efisien waktu dan biaya dalam membuat produksi gula dari si
bojag kedepannya.
Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode hidrolisa asam adalah konsentrasi asam
yang digunakan. Taherzadeh dan Kartini (2007) menyatakan bahwa glukosa dari bahan
lignoselulosa dapat menggunakan asam sulfat(H
2
SO
4
). Penggunaan asam sulfat pekat (H
2
SO
4(p)
)
dapat menghasilkan gula yang cukup tinggi, akan tetapi dapat memberikan efek negatif pada
peralatan yang digunakan. Penggunaan asam kuat pada konsentrasi tinggi dan waktu lama pada
proses hidrolisis membutuhkan biaya tinggi dan berbahaya terhadap kerusakan alat sehingga
diusahakan pemakaian asam encer dengan pemanasan pada suhu sekitar 100-120
o
C
(Gultom,dkk.2002 dalam Fitriani,dkk.2013) Berdasarkan literatur tersebut juga telah dilakukan
penelitian terkait konsentrasi asam yang baik untuk hidrolisis si bojag. Pada penelitian Dewi
Indriani dkk Desember 2013 digunakan asam H
2
SO
4
50% dan diperoleh hasil produksi gula yang
cepat dengan kadar 43,75% namun saat masuk proses fermentasi hasi yang diperoleh tidak
maksimal akibat kelebihan asam sulfat dengan konsentrasi yang pekat telah merusak dan
menghambat aktivitas sel ragi amobil yang digunakan dan penelitian itu menyarankan untuk
menggunakan asam encer untuk peneliti selanjutnya. Di bulan yang sama ternyata peneliti lain
seakan melanjutkan saran peneliti sebelumnya dan menggunakan H
2
SO
4 encer
10% untuk
menghidrolisis serbuk bojag. Hasil penelitian itu ternyata memiliki efek yang lebih baik untuk
proses selanjutnya dimana dihasilkan kadar glukosa 40%, lebih sedikit 3,75% dari penelitian
sebelumnya. Walaupun proses hidrolisisnya terbilang sedikit lama dan hasilnya lebih sedikit
dibandingkan penggunaan asam pekat setidaknya asam encer lebih aman penggunaanya dan
terbukti lebih baik dalam proses produksi bioetanolnya.
Setelah proses hidrolisis berakhir hasil hidrolisis harus dinetralkan dengan basa hingga pH-
nya berkisar 4,5. Mengapa pH-nya harus dinetralkan hingga 4,5 ? Hal ini dikarenakan pada proses
selanjutnya adalah proses fermentasi gula dimana fermentasi ini prosesnya bersifat anaerob dengan
pH substrat 4,5. Dan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti dalam
proses fermentasi, pH substrat dipertahankan optimum pada pH 4,5-5,0 (Hermiati dkk.2010).
Sedangkan khamir yang cocok digunakan dalam fermentasi glukosa si Bojag sebagai Bioetanol
adalah sel ragi Sacharomyces cereviceae, baik yang dijadikan sel amobil maupun tidak karena
memiliki daya konversi menjadi etanol sangat tinggi, metabolismenya sudah diketahui, metabolit
utama berupa etanol, karbondioksida, dan air serta sedikit menghasilkan metabolit lainnya.. Namun
keuntungan fermentasi menggunakan metode imobilisasi ini adalah sangat efisien sebab produk
(bioetanol) dapat mudah dipisahkan dari sel amobil. Selain itu, sel amobilnya dapat digunakan
kembali untuk produksi bioetanol selanjutnya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
Menurut Youseff (dalam Elevri dan Putra,2006) sel saccharomyces cereviceae yang telah diamobil
mampu digunakan untuk penggunaan ulang selama 5 kali pemakaian, setelah 5 kali fermentasi
terjadi penurunan produksi etanol sebesar 20,05%. Akan tetapi Dewi Indryani (2013) memperoleh
hasil sel amobilnya hanya mampu dipakai berulang sebanyak 3 kali pemakaian dengan penurunan
aktivitas perolehan etanol yang diduga aktivitas sel menurun akibat penggunaan H
2
SO
4
dengan
konsentrasi yang terlalu tinggi saat hidrolisis.
Berikut proses reaksi fermentasi yang terjadi dalam pembentukan Bioetanol :



Diawali dengan bahan Glukosa yang kemudian dilisis dalam glikolisis dalam glikolisis di
sitoplasma. Hasil pemecahan 2 piruvat, 2 NADH, dan 2ATP. Proses berpindah ke mitokondria jika
ditempat itu banyak oksigen, namun karena Sacharomyces cereviseae ini tidak perlu oksigen dalam
respirasinya maka asam piruvat akan diubah menjadi asetaldehid yang kemudian dijadikan Etanol.
Asam piruvat diubah menjadi asetaldehid sehingga dilepaskan CO
2
. Asetaldehid segera mengikat
ion H
+
dari penguraian NADH menjadi NAD maka sebagai akseptor ion H
+
dalam proses
fermentasi etanol ini adalah asetaldehid. Pengikatan ion H
+
oleh asetaldehid akan membentuk
senyawa etanol jadi produk fermentasi ini adalah 2 etanol, 2CO
2
, dan 2 ATP(Astuti,Puji dkk.2013).
Berikut Mekanisme Fermentasinya :

Tahap terakhir dari proses ini bisa diikuti dengan pemurnian. Untuk memisahkan alkohol
dari hasil fermentasi dapat dilakukan dengan destilasi. Destilasi adalah metode pemisahan
berdasarkan perbedaan titik didih. Proses ini dilakukan untuk mengambil alkohol dari hasil
fermentasi. Destilasi dapat dilakukan pada suhu 80C, karena titik alkohol 78C. sedangkan titik
didih air 100
o
C. Destilasi adalah memisahkan komponen-komponen yang mudah menguap suatu
campuran cair dengan cara menguapkannya (separating agent-nya panas), yang diikuti dengan
kondensasi uap yang terbentuk dan menampung kondensat yang dihasilkan. Uap yang dikeluarkan
dari campuran disebut sebagai uap bebas, kondensat yang jatuh sebagai destilat dan bagian
campuran yang tidak menguap disebut residu (Astuti,Puji dkk.2013)
Bioetanol yang diperoleh dari si Bojag memiliki nilai energi sebesar 122 MJ/kg. Pengunaan
Bioetanol sebagai bahan bakar baik sebagai campuran bahan bakar bensin atau solar atau sebagai
pengganti bensin telah dahulu dilakukan dibeberapa negara seperti Australia, dan Brazil. Sudah
saatnya Indonesia juga melakukan biotransformasi Limbah seperti Limbah jagung si Bojag sebagai
sesuatu yang bernilai ekonomis yang dapat membantu pemecahan permasalahan bahan bakar di
Indonesia saat ini. Hal ini juga dapat dilihat dari banyaknya produksi komoditas jagung yang
tersebar di berbagai daerah di Indonesia walau tidak tersebar secara merata. Untuk itu pemerintah
perlu memperhatikan petani jagung dan kualitas produksi komoditas jagung di Indonesia dengan
kawasan yang terintegritas sehingga persediaanya tetap meningkat dengan biaya produksi stabil.
Serta membuat suatu kebijakan dalam penanganan limbah bonggol jagung agar bernilai ekonomis
dalam proses pengadaan bioetanol sebagai alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan. Dengan
memilih metode proses produksi yang pas berdasarkan ulasan diatas penulis percaya Bioetanol dari
Bojag bisa menjadi primadona alternatif bahan bakar di Indonesia.

Kesimpulan
- Bonggol jagung merupakan limbah jagung yang belum dimanfaatkan secara maksimal dan
tidak memiliki nilai jual lebih memiliki karakteristik sifat kimia yang menganadung bahan
lignoselulosa yang berpotensi sebagai bioenergi terbarukan berupa bioetanol yang dapat
dijadikan sebagai alternatif bahan bakar. Bioetanol dari Bojag ini bersifat ramah lingkungan
dibanding bahan bakar fosil dengan nilai energi sebesar 122 MJ/kg,
- Proses pembuatannya dimulai dari delignifikasi (pelepasan lignin), proses hidrolisis/
sakarifikasi, dan proses fermentasi.Pada delignifikasi disarankan menggunakan pelarut
NaOH tanpa pencampuran.Proses hidrolisis jauh lebih baik dibanding sakarifikasi. Dan pada
hidrolisis sebaiknya digunakan asam encer dalam prosesnya,
- Untuk memproduksi bioetanol bojag (bonggol jagung) di Indonesia dalam jumlah banyak
sebaiknya perlu mengkaji dan memperhatikan kembali pemilihan teknik metode
pemprosesan yang tepat agar mendapatkan bioetanol yang ekonomis dari segi waktu, biaya
produksi serta nilai jualnya.
Daftar Pustaka
Astuti,Puji,dkk.2013. Pembuatan Bietanol Dari Limbah Tongkol Jagung Dengan Variasi
Konsentrasi Asam Klorida Dan Waktu Fermentasi.Palembang:UNSRI
Elevri, P.A. dan Putra, S.R.2006.Produksi Etanol Menggunakan Saccharomyces cerevisiae
yang Diamobilisasi dengan Agar Batang, Akta Kimia Indonesia Vol. 1 No. 2 April
2006: 105-114.Surabaya: Jurusan Kimia FMIPA ITS.
Fitriani,dkk.2013.Produksi Bioetanol Tongkol Jagung (Zea Mays) dari Hasil Proses
Delignifikasi.Online Jurnal Of Natural Science: Vol 2 (3) :66-74
Hermiati,dkk. 2010.Pemanfaatan Biomassa Lignoselulosa Ampas Tebu untuk Produksi
Bioetanol. Bogor,Bandung : UPT BPP Biomaterial LIPI, Institut Pertanian Bogor, dan
Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI
Hadiyanto,dkk.2013. Proses Produksi Bioenergi Berbasiskan Bioteknologi. Online
Jurnal.
Indriany,dkk.2013. Pemanfaatan Limbah Tongkol Jagung (Zea Mays) untuk Produksi Bioetanol
Menggunakan Sel Ragi Amobil Secara Berulang. Online Jurnal Of Natural Science: Vol 2
(3) :54-65
Oktavia,Mitra dkk.2013. Produksi Bioetanol dari Tongkol Jagung dengan Metode Simultan
Sakarifikasi dan Fermentasi.Padang : Jurnal Kimia Unand Vol 2 No(1)
Ruane,et. 2010. Bioenergy And The Potential Contribution Of Agricultural Biotechnologies
In Developing Countries. ScienceDirect. Biomas & Bioenergy.
Subekti, H.2006.Produksi Etanol dari Hidrolisat Fraksi Selulosa Tongkol Jagung oleh
Saccharomyces cerevisiae. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian ITB
Shofiyanto, M. Edy. 2008. Hidrolisa Tongkol Jagung oleh Bakteri Selulolitik Untuk Produksi
Bioetanol Dalam Kultur Campuran. Fakultas Teknologi. Bogor : Pertanian IPB.
Taherzadeh, M.J. dan Karimi, K. 2007.Acid-Based Hydrolysis Processes For Ethanol From
Lignosellulosic Materials:A Review, BioResource. 2, 707-738.
Widodo,dkk.2010.Bio Energi Berbasis Jagung dan Pemanfaatan Limbahnya.Tanggerang: Badan
litbang Pertanian,Departemen Pertanian
BPS.2014(http://www.bps.go.id/-download_file/IP_Februari_2014.pdf) diakses tanggal :
7september2014-09-08