Anda di halaman 1dari 184

i

SUPERVISI PEMBELAJARAN KEPALA MADRASAH


DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU
(STUDI MULTI KASUS DI MTs NEGERI DAN SMP
ISLAM AL-AZHAR 18 KOTA SALATIGA)











oleh
oleh
WAHID HASIM
NIM.M1.11.044

Tesis diajukan sebagai pelengkap persyaratan
untuk gelar Magister Pendidikan Islam



PROGRAM PASCA SARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
2013
ii

LEMBAR PENGESAHAN

SUPERVISI PEMBELAJARAN KEPALA MADRASAH
DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU
(STUDI MULTI KASUS DI MTs NEGERI DAN SMP
ISLAM AL-AZHAR 18 KOTA SALATIGA)







oleh
WAHID HASIM
NIM.M1.11.044

Tesis diajukan kepada Program Pascasarjana
Sekolah Tingggi Agama Islam Negeri Salatiga
sebagai pelengkap persyaratan untuk
gelar Magister Pendidikan Islam



Salatiga, 30 Agustus 2013
Pembimbing I, Pembimbing II,


Prof. Dr. H. Budihardjo, M.Ag. Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd.
iii

PROGRAM PASCASARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
PROGRAM STUDI: PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


LEMBAR PENGESAHAN TESIS



Nama : Wahid Hasim
NIM : M1.11.044
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Tanggal Ujian : 30 September 2013
Judul Tesis : Supervisi Pembelajaran Kepala Madrasah Dalam
Meningkatkan Kompetensi Guru (Studi Multi Kasus Di
MTs Negeri dan SMP Al-Azhar 18 Kota Salatiga)




Panitia Munaqosah Tesis


1. Ketua Penguji : Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag. -------------------

2. Sekretaris : Dr. Budiyono Saputro, M.Pd. --------------------

3. Penguji I : Dr. Imam Sutomo, M.Ag. --------------------

4. Penguji II : Pof. Dr. H. Budihardjo, M.Ag --------------------

5. Penguji III : Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd --------------------
iv





PERNYATAN KEASLIAN TESIS


Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tesis ini merupakan hasil
karya sendiri dan sepanjang pengetahuan dan keyakinan saya tidak mencamtumkan
tanpa pengakuan bahan-bahan yang telah dipublikasikan sebelumnya atau ditulis oleh
orang lain, atau sebagian bahan yang pernah diajukan untuk gelar atau ijasah pada
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga atau perguruan tinggi lainnya.


Salatiga, Agustus 2013
Yang membuat pernyataan
Materai 6000

Wahid Hasim






v

ABSTRAK
Wahid Hasim, 2013. Supervisi Pembelajaran Kepala Madrasah Dalam
Meningkatkan Kompetensi Guru(Studi Multi Kasus Di MTs Negeri dan SMP Islam
Al-Azhar 18 Salatiga). Tesis, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga.

Kata kunci: supervisi pembelajaran, kepala sekolah, kompetensi guru.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan supervisi pembelajaran oleh
kepala sekolah di MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga dalam
meningkatkan kompetensi guru. Fokus pada penelitian ini adalah: (1) Bagaimana
pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah/madrasah, (2) Bagaimana pelaksanaan
supervisi oleh kepala sekolah ditinjau dari teori-teori supervisi,(3) Bagaimana
dampak supervisi dalam pengembangan profesional guru,(4) Bagaimana perbedaan
pelaksanaan dan dampak supervisi di MTs N dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga.

Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dengan
analisa model interaktif. Rancangan yang digunakan adalah studi multi kasus dengan
seting penelitian dilakukan pada dua sekolah/madrasah di Salatiga yaitu MTs Negeri
dan SMP Islam Al-Azhar 18 dengan informan kunci yaitu kepala sekolah/madrasah,
kemudian informan lain adalah wakil kepala sekolah/madrasah, beberapa guru,
kepala staf tata usaha. Data dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi dan
observasi.

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh temuan penelitian pada sekolah dan
madrasah sebagai berikut (1) pelaksanaan supervisi pembelajaran yang dilakukan
oleh kepala sekolah/madrasah ditandai dengan melalui membuat perencanaan jadwal
supervisi, pelaksanaannya menggunakan model, pendekatan dan teknik supervisi,
observasi kelas dilakukan dengan menggunakan instrumen, dan menindaklanjuti
supervisi. (2) Pelaksanaan supervisi ditinjau dari teori supervisi di kedua
sekolah/madrasah tersebut hanya sebagian yang dilaksanakan (3) Dampak supervisi
dapat meningkatan kompetensi profesional ditandai dengan meningkatnya guru
dalam membuat silabus dan RPP secara mandiri. (4) Perbedaan pelaksanaan supervisi
di MTs Negeri belum melibatkan wakil kepala madrasah dan guru senior, sedangkan
di SMP Islam Al-Azhar telah melibatkan wakil kepala sekolah dan guru senior, dan
dampaknya dapat meningkatkan kompetensi profesional guru.





vi

ABSTRACT

Wahid Hasim, 2013. Supervision Learning Principals in Increasing
Teacher Competency (Multi Case Study in MTs and SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga). Thesis, Islamic Religious Education Program, Graduate School of
Islamic Studies Salatiga.

Keywords: instructional supervision, school principal, teacher competence.

This study aimed to describe the instructional supervision by the principal at
MTs and SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga in improving teacher competence. The
focus in this study are: (1) How does the implementation of supervision by the head
of school/madrasah, (2) How does the implementation of the supervision by the
principal theories in terms of supervision, (3) What is the impact of supervision in the
professional development of teachers, (4) What is the difference implementation and
impact of supervision on MTs N and SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga.

This is a qualitative study with a phenomenological approach to the analysis
of interactive models. The design used was a multi-case study research conducted by
the settings on the two schools/madrasah in Salatiga ie MTs and SMP Islam Al-Azhar
18 key informant is a school/madrasah, then another informant was vice
principal/madrasah, some teachers, head of the administrative staff. Data was
collected through interviews, documentation and observation.


Based on the analysis of data obtained by the research findings on schools and
madrasas as follows (1) the implementation of instructional supervision is carried out
by the principal/madrasah marked with supervision schedule through planning,
implementation using models, approaches and techniques of supervision, classroom
observations conducted using instruments, and follow-up supervision. (2) The
implementation of supervision in terms of the theory of supervision in both school/
madrasah only partially implemented (3) Impact of supervision can improve
professional competence shown by the teacher in making syllabi and lesson plans
independently. (4) Differences in the implementation of supervised MTs not involve
vice principal and senior teachers, while at SMP Islam Al-Azhar has involved deputy
principals and senior teachers, and its effects can enhance the professional
competence of teachers.





vii

KATA PENGANTAR


Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
taufiq, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan tesis yang
berjudul Supervisi Pembelajaran Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan
Kompetensi Guru (Studi Multi Kasus di MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18
Kota Salatiga).
Keberhasilan lembaga pendidikan dalam menghasilkan lulusannya sebagai
insan manusia berkualitas banyak ditentukan oleh kemampuan para pengelolanya.
Dalam hal ini, kepala sekolah/madrasah dituntut untuk memiliki kompetensi
profesional dan personal yang sedemikian rupa untuk menunjang kegiatan proses
pembelajaran .
Melalui peranannya kepala sekolah/madrasah sebagai supervisor membantu
para guru melancarkan kegiatan belajar mengajar di kelas. Keberhasilan supervisi
pembelajaran yang dilakukan kepala sekolah/madrasah sebagai supervisor terhadap
guru-guru akan banyak membantu keberhasilan proses pembelajaran di
sekolah/madrasah tersebut. Sehubungan dengan itu penelitian ini ingin
mengungkapkan pelaksanaan supervisi pembelajaran kepala sekolah/madrasah dalam
meningkatkan kompetensi guru di MTs Negeri dan di SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga.
viii

Dalam penyelesaian Tesis ini, penulis mendapat bantuan dan dorongan yang
sangat konstruktif dari berbagai pihak. Berkenaan dengan itu, secara tulus dari lubuk
hati yang terdalam penulis sampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada :
Bapak Dr. Imam Sutomo, M.Ag. selaku Ketua STAIN Salatiga.
Bapak Prof. Dr. Budihardjo dan bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd yang
dengan tekun dan ketulusan hati membimbing penyelesaian tesis ini. Kedua beliau
telah menambah pandangan, pendapat dan meningkatkan wawasan penulis dalam
mengkaji kegiatan permasalahan supervisi pembelajaran.
Bapak Dr. Saadi M.Ag, selaku direktur Program Pasca Sarjana STAIN Kota
Salatiga, yang telah memberi kemudahan, menyelesaikan kesulitan dalam
penyelesaian penulisan tesis ini.
Demikian juga kepada semua dosen yang telah memberikan kemudahan
selama penulis mengikuti kuliah pada program Pasca sarjana. Isteriku tercinta Esti
Yunaeni yang telah memberikan dorongan semangat dan percaya diri kepada
penulis. Kepada anak-anakku Annida Khaerunnisa dan Anwar Rasyid yang
waktunya tersita selama penulis mengikuti pendidikan di Pasca Sarjana merupakan
dorongan batin yang luar biasa bagi penulis dalam penyelesaian studi ini.
Ibu Dra Zayinatun, M.Pd selaku kepala madrasah MTs Negeri Salatiga dan
kepala SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga sebagai tempat penelitian, dan pihak-pihak
lain yang ikut membantu terlaksananya penelitian ini, penulis sampaikan
penghargaan yang tinggi.
ix

Ssemoga karya ilmiah yang penulis persembahkan ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi semua pihak.
Akhirnya penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini belum sempurna, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

Salatiga, 30 Agustus 2013

Wahid Hasim






















x

DAFTAR ISI


halaman

HALAMAN JUDUL . i
HALAMAN PERSETUJUAN .......... ii
HALAMAN PERSETUJUAN TESIS .. iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TESIS .... iv
ABSTRAK v
ABSTRACT vi
KATA PENGANTAR . vii
DAFTAR ISI x
DAFTAR TABEL xiii
DAFTAR GAMBAR xiv
DAFTAR LAMPIRAN xv
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah . 11
C. Signifikansi Penelitian .. 12
1. Tujuan Penelitian 12
2. Kegunaan Penelitian ... 12
D. Sistematika Penelitian .. 13

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 16
A. Kajian Teori 16
1. Peran Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Pembelajaran ... 16
2. Tujuan Supervisi Pembelajaran ... 20
3. Fungsi Supervisi Pembelajaran ... 22
4. Prinsip-Prinsip Supervisi Pembelajaran ... 24
B. Perencanaan Program Supervisi Pembelajaran Kepala Sekolah ... 26
1. Yang Harus Diperhatikan Dalam Menyusun Perencanaan Supervisi .... 26
2. Faktor-Faktor Yang Diperlukan Dalam Perencanaan Supervisi ... 28
C. Model Supervisi, Pendekatan Supervisi, Metode dan Teknik Supervisi . 30
1. Model Supervisi Pembelajaran . 30
2. Pendekatan Supervisi Pembelajaran . 36
3. Teknik Supervisi Pembelajaran ... 42
D. Tindak Lanjut Supervisi Pembelajaran .. 48
E. Tinjauan Kompetensi Guru .. 49
1. Pengertian Kompetensi Guru ... 49
2. Ruang Lingkup Kompetensi Guru ... 51
F. Supervisi Pembelajaran Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetensi
guru .....54
xi

G. Kajian Hasil Penelitian Terdahulu .... 59

BAB. III METODOLOGI PENELTIAN .. 63
1. Jenis Penelitian 63
2. Pendekatan Penelitian . 63
3. Sumber Data 65
4. Teknik Pengumpulan Data . 66
5. Validitas Data 68
6. Analisa Data 69
7. Keabsahan Data .. 74

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 79
A. Profil MTs Negeri Salatiga . 79
1. Sejarah berdirinya MTs Negeri Salatiga 79
2. Lokasi . 80
3. Visi, Misi dan Tujuan MTs Negeri Salatiga 81
4. Keadaan Madrasah .. 82
B. Profil SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga 87
1. Sejarah berdirinya SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga . 87
2. Lokasi . 89
3. Visi, Misi dan Tujuan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga 90
4. Keadaan Sekolah 95
C. Temuan Penelitian Supervisi Pembelajaran Kepala MTs Negeri Salatiga
Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru .. 102
1. Hasil Temuan Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran Oleh Kepala MTs
Negeri Salatiga 102
2. Hasil Temuan Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran Oleh Kepala MTs
Negeri Salatiga Ditinjau Dari Segi Teori-Teori Supervisi 110
3. Dampak Supervisi terhadap Pengembangan Profesional Guru .. 113
D. Temuan Penelitian Supervisi Kepala SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga
Dalam meningkatkan Kompetensi Guru .. 117
1. Hasil Temuan Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran Oleh Kepala SMP
Islam Al-Azhar 18 Salatiga 117
2. Hasil Temuan Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran Oleh Kepala SMP
Islam Al-Azhar 18 Salatiga Ditinjau Dari Teori-Teori Supervisi 121
3. Dampak Supervisi Pembelajaran terhadap Pengembangan Profesional
Guru .. 124
4. Perbedaan Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran dan Dampak Supervisi
Pembelajaran Di MTs Negeri Salatiga dan Di SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga .. 128
E. Pembahasan Lintas Kasus Supervisi Pembelajaran Kepala MTs Negeri
Salatiga dan Kepala SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga Dalam
Meningkatkan Kompetensi Guru 132
xii

BAB V. PENUTUP 138
A. Kesimpulan . 138
B. Saran 140
DAFTAR PUSTAKA . 142
LAMPIRAN 144
BIOGRAFI PENULIS . 166





































xiii

DAFTAR TABEL



Tabel Halaman
Tabel 3.1. Pengkodean .. 70
Tabel 4.1. Data Tenaga Pendidik MTs N Salatiga.... 84
Tabel 4.2. Data Tenaga Kependidikan MTs N Salatiga ... 84
Tabel 4.3. Data Peserta Didik MTs N Salatiga .. 85
Tabel 4.4. Data Prestasi Bidang Akademik ... 85
Tabel 4.5. Data Prestasi Bidang Non Akademik . 86
Tabel 4.6. Data Tenaga Pendidik SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga ... 98
Tabel 4.7. Data Tenaga Kependidikan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga .. 98
Tabel 4.8. Data Peserta Didik SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga . 99
Tabel 4.9. Data Prestasi Bidang Akademik SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga .. 100
Tabel 4.10. Data Prestasi Bidang Non Akademik SMP Islam Al-Azhar 18 101
Tabel 4.11. Perbedaan Supervisi di MTs N dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga.131


























xiv

DAFTAR GAMBAR



Gambar Halaman
2.1. Tujuan Supervisi Akademik (Pembelajaran) ...57
3.1. Komponen dalam analisis data (interactive model) .... 69
3.2. Langkah-langkah Analisis data kasus Individu .. 72
3.3. Langkah-langkah Analisis Data Lintas Kasus .... 73


































xv

DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran Halaman
1. Intrumen Pedoman Wawancara ....144
2. Pedoman Observasi dan Dokumentasi . 147
3. Jadwal Kunjungan Supervisi Kelas ...... 148
4. Instrumen Pengamatan Pembelajaran .. 149
5. Lembar Penilaian Pelaksanaan Pembelajaran .. 152
6. Dokumentasi Gambar Wawancara Peneliti dengan Kepala MTs N 156
7. Dokumentasi Gambar Wawancara Peneliti dengan Guru Aqidah ... 156
8. Dokumentasi Pelaksanaan Observasi Kepala MTs N di Kelas .. 157
9. Dokumentasi Tindak lanjut Supervisi Kepala MTs N . 157
10. Dokumentasi Wawancara Peneliti dengan Kepala SMP Islam Al-zhar 18
Salatiga . 158
11. Dokumentasi Wawancara Peneliti dengan Kepala Plt SMP Islam
Al-Azhar 18 Salatiga 158
12. Dokumentsi Wawancara Peneliti dengan Guru PAI SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga . 159
13. Dokumentsi Wawancara Peneliti dengan Guru Matematika SMP Islam
Al-Azhar 18 Salatiga .. 159
14. Dokumentasi Wawancara Peneliti dengan guru di SMP Islam Al-Azhar... 160
15. Dokumentasi Wawancara Peneliti dengan guru di MTs N . 160
16. Dokumentasi Gambar Wawancara Peneliti dengan Wakil Kepala MTs N....161
17. Dokumentasi Gambar Wawancara Peneliti dengan TU MTs N ... 161
18. Dokumentasi Gambar Wawancara Peneliti dengan TU SMP Islam Al-Azhar
Salatiga .... 162
19. Dokumen Pengamatan Penelti pada Guru PAI di SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga .... 162
20. Dokumen Pengamatan Guru Bahasa Arab dalam Pembelajaran di MTs N
Salatiga ... 163
21. Dokumen Oservasi Peneliti dalam Pembelajaran Guru Bahasa Inggris ... 163
22. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian di MTs N Salatiga.. 164
23. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian di SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga . 165
24. Biografi Penulis .... 166

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja direncanakan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan bertujuan untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sistem pendidikan menurut
Peter F. Oliva terdiri dari 4 sistem: administrative behavior system (sistem
penyelenggara sekolah), teacher behavior system (sistem guru),
supervisory behavior system (sistem pengawasan), dan counselor behavier
system (penasehat). Dan semua sistem itu berhubungan satu sama lainya.
1

Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas sumber daya
manusia di sekolah/madrasah peran yang sangat menonjol dilakukan oleh
kepala sekolah/madrasah adalah peran supervisi pembelajaran memegang
peranan penting, karena berhasil tidaknya program pengajaran di
sekolah/madrasah banyak ditentukan oleh kepala sekolah/madrasah
sebagai pemimpinnya. Kepala sekolah/madrasah mengatur kebijaksanaan
dan pelaksanaan program pendidikan secara keseluruhan.

1
Oliva, Peter F., Supervision for Todays Schools (secon edition), New York & London:
Longman, 1984, 30.
2

Kepala sekolah/madrasah sebagai supervisor mempunyai
kemampuan untuk menciptakan situasi belajar mengajar sedemikian rupa
sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. Tanggungjawab pembinaan
guru atau supervisi banyak berada ditangan kepala sekolah/madrasah
disebabkan oleh suatu kenyataan bahwa kepala sekolahlah/madrasahlah
yang setiap hari bergaul dan bekerja sama dengan guru-guru. Kepala
sekolah/madrasah bertanggungjawab penuh terhadap kelancaran
pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah/madrasah.
Menurut Azis Wahab, bahwa dalam perannya sebagai supervisor
kepala sekolah diharapkan dapat membantu rekan-rekan guru secara
profesional untuk mengatasi berbagai persoalan belajar mengajar
2

Kepala sekolah/madrasah sebagai orang yang berwenang dan
bertanggung jawab terhadap keberhasilan Proses Belajar Mengajar, dapat
membaca dan mengatasi permasalahan yang dihadapinya, sehingga guru
terlepas dari kemelut yang dapat mempengaruhi kelancaran tugasnya.
Lebih lanjut Azis Wahab mengemukakan bahwa kemampuan membantu
rekan guru mengatasi persoalan mengajar yang dihadapi di kelas dengan
human resource supervison akan dapat membantu memelihara
kewibawaan kepala sekolah.
3


2
Azis Wahab, Mencari Arah Baru Dalam Pengelolaan Sekolah, Mimbar Pendidikan,
No.3, 1996, 35.
3
Azis Wahab, Mencari Arah Baru Dalam Pengelolaan Sekolah,, Mimbar Pendidikan,
No.3, 1996, 35.
3

Kepala sekolah/madrasah selaku supervisor pembelajaran dalam
usahanya memberikan bantuan atau pelayanan profesional kepada guru
selalu menaruh perhatian yang sungguh-sungguh terhadap aspek-aspek
yang dapat mengganggu tugas guru dalam proses belajar mengajar. Dalam
hal ini, kepala sekolah/madrasah senantiasa mempelajari secara obyektif
dan terus menerus masalah-masalah yang dihadapi guru dalam
pelaksanaan tugasnya.
Dengan demikian kepala sekolah/madrasah yang efektif adalah
kepala sekolah/madrasah yang memahami permasalahan yang dihadapi
guru, selanjutnya memberikan bantuan dan pelayanan yang sesuai dengan
kebutuhan dan masalah yang dihadapi itu, baik secara individu maupun
kelompok. Kemudian memberi kesempatan kepada guru-guru untuk
mengembangkan kreativitas dan mendorong guru ke arah ide-ide yang
baik bagi perbaikan tugasnya.
Sebagai supervisor, kepala sekolah/madrasah berkewajiban
menjaga agar tiap-tiap bawahan tetap melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diemban, bekerja melaksanakan tugas
semata-mata datang dari bawahan itu sendiri. Kepala sekolah/madrasah
bertindak sebagai konsultan yang dinamis, mampu menyiapkan dan
mendorong bawahannya (guru-guru) dalam meningkatkan kemampuan
melaksanakan tugas dan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang
terjadi.
4

Kedudukan kepala sekolah/madrasah sebagai supervisor dan
pemimpin pendidikan tidak diganti oleh pengawas atau pejabat lain yang
bertugas khusus di bidang supervisi yang ditetapkan untuk tugas itu.
Pengawas atau pejabat lain bisa memberikan pelayanan melalui bantuan
tak langsung, sedangkan kepala sekolah/madrasah memberikan bantuan
kepada guru secara langsung melalui kunjungan kelas, wawancara
(pembicaraan individual), pemberian saran tentang cara-cara memajukan
proses balajar mengajar, membantu merencanakan satuan pelajaran.
Wahju Sumidjo menyatakan bahwa apabila seorang kepala sekolah
ingin berhasil menggerakkan para guru, maka :
1. Menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan memaksa atau bertindak
keras terhadap guru.
2. Harus mampu melakukan perbuatan yang melahirkan kemauan untuk
bekerja dengan penuh semangat dan percaya diri terhadap guru
dengan: menyakinkan (persuade) dan membujuk (induce) bahwa apa
yang dilakukan adalah benar.
4


Keinginan guru untuk tumbuh dan berkembang dalam kompetensi
profesionalnya menuntut perhatian dari kepala sekolah/madrasah untuk
dapat menjaring dan memenuhi kebutuhan tersebut. Kepala
sekolah/madrasah dituntut membantu menciptakan iklim yang kondusif
bagi pertumbuhan profesional guru sehingga guru terbebas dari rasa takut,
ancaman atau paksaan. Untuk itu kepala sekolah/madrasah dapat

4
Wahju Sumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta: Raja Grapindo Persada, 1999,
105.

5

menggunakan pola pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dan
karakteristik guru.
Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, maka peranan kepala
sekolah sebagai supervisor dan pemimpin pendidikan akan efektif apabila
(1) melakukan program intruksional pengajaran secara efektif, (2) melalui
kepemimpinan yang dinamis, (3) mengacu proses pembelajaran guru, (4)
membantu menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan
profesional guru, (5) menggunakan pola pendekatan yang sesuai
kebutuhan dan karakteristik guru, (6) dan memberikan bantuan kepada
guru secara langsung melalui kunjungan kelas, pembicaraan/bimbingan
individual pemberian petunjuk tentang cara memajukan proses belajar
mengajar.
Faktor kemampuan atau kompetensi kepala sekolah/madrasah
dalam supervisi sangat menentukan terlaksananya kegiatan supervisi di
sekolahnya masing-masing. Kompetensi itu meliputi pengetahuan tentang
supervisi, kemampuan dalam hubungan antar pribadi dan keterampilan
teknis dalam supervisi. Ketiga hal tersebut merupakan faktor kemampuan
yang mutlak dimiliki oleh setiap kepala sekolah/madrasah sebagai
supervisor pembelajaran.
Timbul pertanyaan, apakah kepala sekolah/madrasah cukup
mampu, atau cukup kompeten dalam menjalankan fungsinya sebagai
supervisor pembelajaran. Dalam buku The Principalship : Concepts,
6

Competencies, and Ceses, James A. Lipham menyebutkan bahwa :
Principals cannot be leaders in staff improvement because they are not
technically competent in all teaching fields. In this regard, however,
principals should be able to mobilize and capitalize on the services of
subject supervisors and coordinators from inside and outside the school
district
5

Berdasarkan kutipan di atas, secara teknis kepala sekolah/madrasah
sebagai supervisor sangat terbatas kemampuannya di bidang studi yang
diajarkan guru di kelas. Oleh karena itu kepala sekolah/madrasah
semestinya menggunakan pendekatan supervisi yang sedemikian rupa
sehingga dapat mendorong guru untuk mengembangkan diri secara
mandiri. Para kepala sekolah/madrasah dapat memobilisasi dan
menggunakan tugas-tugas dari para supervisor dan koordinator dari dalam
dan luar lingkungan sekolah/madrasah. Selanjutnya Glickman menyebut
pelaksanaan supervisi yang bersifat mengembangkan (Developmental
Supervision), yaitu : The scope for understanding instructional
supervision is therefore reduce to the theory and findings about human
learning. The goals of instructional supervision is to help teachers learn

5
James A. Lipham, The Principalship Concepts, Competencies, and Cases, New York:
Longmars, 1985, 177.
7

how to increase their own capacity to achieve professed learning goals for
their students
6

Pendapat Glickman di atas menyatakan bahwa ruang lingkup
pemahaman supervisi pengajaran berorientasi kepada teori dan temuan
lapangan tentang pembelajaran. Tujuan supervisi pengajaran adalah untuk
menolong para guru belajar, sebagai upaya meningkatkan kapasitas
mereka dalam mencapai tujuan pembelajaran yang nyata bagi para
siswanya.
Sally J. Zepeda menyebutkan Instructional supervision aims to
promote grouwth, development, interaction, fault-free problem solving,
and a commitment to build capacity in teachers
7
. Supervisi pembelajaran
bertujuan untuk mendorong pertumbuhan, pengembangan, interaksi,
pemecahan masalah dan komitmen untuk membangun kekurangan
kapasitas guru-guru.
Supervisi terhadap guru bidang studi, merupakan supervisi yang
sedemikian rupa dapat mengembangkan para guru baik profesi maupun
pribadinya. Dalam aspek profesi, memerlukan kemampuan supervisor
untuk mengembangkan kualitas profesional para guru, khususnya yang
berkaitan dengan penguasaan materi bidang studi, metode mengajar,

6
Carl D. Glickman, Developmental Supervision Alternative Practices for Helping Teachers,
Improve Instruction, ASCD (Association for Supervision and Curriculum Developmen), Alexandria,
Virginia, 1981, 3.
7
Sally J. Zepeda. Instructional Supervision Applying Tools and Concepts, Eye On Education,
Library of Conggres Cataloging-in-Publication Data, 2003, 19.
8

ketrampilan melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam aspek pribadi,
supervisor diharapkan mampu mengembangkan aspek-aspek kepribadian
guru seperti moral, kreativitas, dan sebagainya.
Berdasarkan realita secara umum pelaksanaan supervisi
pembelajaran oleh kepala sekolah/madrasah cukup baik dan sepenuhnya
tidak mungkin dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh kepala
sekolah/madrasah, karena kepala sekolah/madrasah tidak menguasai
seluruh bidang studi yang ada di sekolahnya/madrasahnya. Oleh karena itu
kepala sekolah/madrasah mutlak mengembangkan strategi supervisi yang
sebaik-baiknya, dalam bentuk supervisi langsung maupun tidak langsung.
Supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan
untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan
pekerjaan mereka secara efektif.
8
Supervisi juga dimaknai sebagai usaha
memberi layanan kepada guru-guru baik secara kelompok maupun
individual dalam memperbaiki pengajaran.
9
Dengan demikian, pada
hakikatnya supervisi adalah kegiatan pembinaan terhadap para guru dan
tenaga kependidikan melalui teknik-teknik tertentu dengan tujuan untuk
menciptakan efektivitas kinerja mereka dalam menjalankan tugasnya.

8
M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya, 2004,
76.
9
Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Dalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, 19.
9

Peningkatan kinerja guru melalui supervisi dan monitoring
pengawas bukan sekedar diarahkan kepada pembinaan yang lebih bersifat
aspek-aspek administratif kepegawaian tetapi harus lebih kepada
peningkatan kemampuan keprofesionalannya dan komitmen sebagai
seorang guru.
10
Supervisi terhadap guru dimaksudkan untuk melakukan
pembinaan dan pengembangan terhadap guru sebagai salah satu
komponen sekolah/madrasah.
11
Hasil penelitian Liphan sebagai mana
yang dikutip oleh Syaiful Sagala berkaitan dengan kinerja kepala sekolah
menyatakan bahwa kepala sekolah yang berhasil adalah kepala yang
memiliki komitmen yang kuat terhadap peningkatan kualitas pengajaran.
Komitmen yang kuat menggambarkan adanya kemauan dan kemampuan
melakukan monitoring pada semua aktivitas personel sekolah. Misalnya
dalam pengajaran dilakukan dengan cara memonitor waktu-waktu dan
proses pengajaran di kelas.
12

E. Mulyasa mengemukakan bahwa guru memegang peranan utama
dalam pembangunan pendidikan khususnya yang diselenggarakan secara
formal di sekolah. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta

10
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007, 13.
11
Abdul Choliq MT, Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: Mitra Cendekia, 2011, 1.
12
Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan, Bandung: Alfabeta,
2010, 134.
10

didik terutama kaitannya dengan proses belajar mengajar.
13
Apalagi
pekerjaan dan dan tanggung jawab guru makin hari bukan makin ringan.
Sejalan dengan meningkatnya pengakuan dan penghargaan masyarakat
dan pemerintah terhadap profesi guru, maka ekspektasi mereka pun makin
tinggi. Guru diharapkan bekerja sungguh-sunguh dan profesional.
14
Maka
salah satu untuk meningkatkan kompetensi guru profesional di
madrasah/sekolah, guru sangat memerlukan bantuan dan bimbingan dari
kepala sekolah/madrasah salah satu diataranya adalah dalam bentuk
kegiatan supervisi pembelajaran.
Dalam pelaksanaannya, supervisi pembelajaran bukan semata-mata
mengawasi para guru atau tenaga kependidikan menjalankan tugas dengan
sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang digariskan, tetapi
juga berusaha bersama guru-guru mencari solusi bagaimana cara
memperbaiki proses pembelajaran. Ini berarti bahwa dalam kegiatan
supervisi pengajaran, guru-guru tidak dianggap sebagai subyek pasif,
melainkan diperlakukan sebagai partner bekerja yang memiliki ide-ide,
pendapat-pendapat, dan pengalaman-pengalaman yang perlu didengar dan
dihargai serta diikutsertakan di dalam usaha-usaha perbaikan pendidikan,
terutama perbaikan proses pembelajaran di sekolah/madrasah.

13
Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2008, 5.
14
Jurnal Attarbiyah Kajian Agama, Budaya, Kependidikan No 1 Tahun XXI, Januari-Juni
2011, Rahmat Hariyadi, Tuntutan Pofesionalisme Guru di Era Globalisasi,STAIN Salatiga, 2011,
46.
11

Berdasarkan pengamatan di Madrasah Tsanawiyah Negeri Salatiga
dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga bahwa kinerja guru cukup baik,
salah satunya disebabkan oleh supervisi kepala madrasah/sekolah telah
melaksanakan supervisi pembelajaran.
Atas dasar ini peneliti ingin mengungkap kelebihan dan
keberhasilan Kepala Sekolah di MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18
Kota Salatiga tentang Supervisi Pembelajaran Kepala Madrasah Dalam
Meningkatkan Kompetensi Guru (Studi Multi Kasus di MTs Negeri dan
SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut :
1. Bagaimanakah pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah di MTs
Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Kota Salatiga?
2. Bagaimanakah pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah ditinjau dari
teori-teori supervisi?
3. Bagaimanakah dampak supervisi terhadap pengembangan
profesionalisme guru?
4. Bagaimanakah perbedaan pelaksanaan dan dampak supervisi di MTs
dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga?

12

C. Signifikansi Peneltian
1. Tujuan Penelitian.
Berdasarkan permasalahan diatas, tujuan penelitian ini adalah :
a. Untuk mendeskripsikan pelaksanaan supervisi oleh kepala
sekolah di MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Kota
Salatiga.
b. Untuk mendeskripsikan pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah
ditinjau dari teori-teori supervisi.
c. Untuk mendeskripsikan dampak supervisi terhadap pengembangan
profesionalisme guru.
d. Untuk mendeskripsikan perbedaan pelaksanaan dan dampak
supervisi di MTs dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga.

2. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan Teoritis.
1) Hasil penelitian ini dapat memberi sumbangan tentang
supervisi pembelajaran kepala madrasah/sekolah dalam
meningkatan komptensi guru Madrasah Tsanawiyah Negeri
Salatiga dan SMP Islam AL-Azhar 18 Salatiga.
2) Memberi rangsangan untuk melakukan penelitian lebih
mendalam tentang supervisi pembelajaran kepala
madrasah/sekolah dalam meningkatan kompetensi guru di
13

Madrasah Negeri Kota Salatiga dan SMP Islam Al-Azhar 18
Kota Salatiga.
b. Kegunaan Praktis
1) Hasil penelitian ini bisa dijadikan salah satu rujukan
pelaksanaan supervisi pembelajaran kepala madrasah/sekolah
dalam meningkatkan kompetensi guru di Madrasah
Tsanawiyah Negeri Kota Salatiga dan SMP Islam Al-Azhar 18
Kota Salatiga
2) Menambah wawasan penulis terutama yang berhubungan
dengan supervisi pembelajaran kepala madrasah/sekolah
dalam meningkatan kompetensi guru Madrasah Tsanawiyah
Negeri Kota Salatiga dan SMP Islam Al-Azhar 18 Kota
Salatiga.

D. Sistematika Penelitian
Penulisan Tesis ini terdiri atas lima bab. Bab Pertama:
Pendahuluan, yang meliputi: Latar belakang masalah; Rumusan masalah;
Signifikansi Penelitian yang meliputi: Tujuan Penelitian dan Manfaat
Penelitian; Sisitematika Penelitian.
Bab Kedua: Tinjauan Pustaka. Bab ini berisi tujuh sub bab. Sub
bab pertama tentang Kajian Teori yang meliputi: Peran Kepala Sekolah
14

sebagai Supervisor Pembelajaran; Tujuan Supervisi Pembelajaran; Fungsi
Supervisi Pembelajaran; Prinsip supervisi Pembelajaran. Sub bab kedua
tentang Perencanaan Progam Supervisi Pembelajaran yang meliputi:
Yang harus diperhatikan dalam menyusun perencanaan supervisi; Faktor
faktor yang diperlukan dalam perencanaan supervisi. Sub bab ke tiga
Model Supervisi, Pendekatan Supervsi, Metode dan Teknik Supervisi
Pebelajaran, yang meliputi: Model Supervisi Pembelajaran; Pendekatan
Supervisi Pembelajaran meliputi: Pendekatan Supervisi Direktif,
Pendekatan Supervisi Kolaboratif, Pendekatan Supervisi Non Direktif;
Teknik Supervisi Pembelajaaran. Sub Bab ke empat Tindak lanjut
supervisi pembelajaran terhadap guru dalam rangka meningkatkan
kompetensi guru. Sub bab ke lima Tinjauan Tentang Kompetensi Guru
yang membahas tentang: Pengertian Kompetensi; Ruang lingkup
kompetensi Guru. Sub Bab ke enam Supervisi Pembelajaran Kepala
Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru. Sub Bab ke tujuh Studi
Terdahulu yang Relevan.
Bab Ketiga: Metodologi Penelitian. Terdiri dari: Jenis Penelitian,
Pendekatan Penelitian, Sumber Data, Teknik Pengumpulan Data, Validasi
Data, Analisa Data, Keabsahan Data. Gambaran Umum MTs Negeri
Salatiga dan SMP Islam Al-Azhar 18 Kota Salatiga yang meliputi: Profil
data MTs Negeri dan Profil data SMP Islam Al-Azhar 18 Kota Salatiga.
15

Sub Bab berikutnya yang membahas pelaksanaan Supervisi Pembelajaran
Kepala Madrasah/ Sekolah di MTs Negeri dan di SMP Islam Al-Azhar 18
Kota Salatiga.
Bab Keempat: Hasil Penelitian dan Pembahasan yang meliputi
lima sub bab antara lain; Sub bab pertama Profil MTs Negeri Salatiga
yang melipuiti: Sejarah Berdirinya MTs Negeri Salatiga, Lokasi, Visi dan
Misi MTs Negeri Salatiga, Keadaan Madrasah. Sub bab ke dua: Profil
SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga yang dibahas Sekolah, Lokasi, Visi dan
Misi SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga, Keadaan Sekolah. Sub bab ke tiga
Pembahasan Temuan Penelitian Supervisi Pembelajaran kepala MTs
Negeri Salatiga. Sub bab ke empat Pembahasan Temuan Penelitian
supervisi pembelajaran kepala SMP Isla Al-Azhar 18 Salatiga. Sub Bab ke
lima Pembahasan Lintas Kasus
Bab Kelima: Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.
Akhirnya tulisan ini juga dilengkapi dengan daftar pustaka dan beberapa
lampiran yang mendukung terhadap validitas data serta biografi peneliti.



16


16

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori.
1. Peran Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Pembelajaran
Kepala sekolah sebagai supervisor pembelajaran mempunyai peran
yang sangat strategis untuk meningkatkan kompetensi profesional guru
sebagai salah satu tugas kepemimpinannya yaitu sebagai supervisor dalam
memajukan pendidikan melalui pembelajaran. Bimbingan profesional
yang dilakukan kepala sekolah/madrasah sebagai supervisor terhadap guru
adalah sebagai usaha yang memberikan kesempatan bagi guru untuk
berkembang secara profesional sehingga mereka lebih maju lagi dalam
melaksanakan tugas pokoknya. Para guru tersebut menjadi mampu dan
mau memperbaiki dan meningkatkan kemampuan belajar peserta
didiknya. Mengingat pentingnya bimbingan profesional ini bagi guru,
maka kepala sekolah/madrasah harus meningkatkan dan menyegarkan
pengetahuannya beberepa tingkat lebih baik dibanding guru, karena jika
kemampuan kepala sekolah itu sama atau bahkan dibawah guru
kualitasnya, maka tugas bimbingan dan pemberian bantuan bagi guru
tidak berarti. Maka kepala sekolah dituntut sebagai supervisor dalam
melakukan supervisi harus mengetahui secara jelas apa saja yang harus
disupervisi dan bagaimana teknik yang digunakan.
17

Secara bahasa, kata Supervisi merupakan kata serapan dari bahasa
Inggris supervision yang terdiri atas dua kata yaitu super dan vision. Super
berarti atas, atau lebih, sedangkan vision berarti melihat, memandang atau
meninjau. Oleh karena itu, secara etimologi kata supervisi (supervision)
berarti melihat atau meninjau dari atas atau menilik dan menilai dari atas
yang dilakukan pihak atasan (orang yang memiliki struktur jabatan lebih
tinggi) terhadap perwujudan kegiatan dan hasil kerja bawahan.
1

Menurut konsep kuno supervisi dilaksanakan dalam bentuk
inspeksi atau mencari kesalahan guru dalam melaksanakan tugas
mengajar. Sedangkan dalam pandangan modern supervisi adalah usaha
untuk memperbaiki situasi belajar mengajar, yaitu supervisi sebagai
bantuan bagi guru dalam meningkatkan kualitas mengajar untuk
membentu peserta didik agar lebih baik dalam belajar.
2

Menurut Piet A Sahertian Supervisi adalah suatu usaha
menstimulasi, mengkoordinasi dan membimbing secara kontinyu
pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara
kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh
fungsi pengajaran.
3


1
Hadari Nawawi. Administrasi Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung, 1981, 103.
2
Syaiful Sagala. Supervisi Pembelajaran dalam Provesi Pendidikan, Alfabeta Bandung:
2010, 88-89.
3
Piet A Sahertian. Konsep dasar & Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000, 17.
18

Menurut Ibrahim Bafadal, supervisi pengajaran adalah
Serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya
mengelola proses belajar mengajar demi mencapai tujuan pengajaran.
4

Selanjutnya Alfonso dan kawan-kawan mengemukakan:
Instructional supervision is herein defined as : Behavior officially
designated by the organization that directly affects teacher behavior in
such a way as to facilitate pupil learning and achieve the goals of the
organization
5
Ungkapan ini mengandung makna bahwa : supervisi
pembelajaran adalah perbuatan yang secara langsung mempengaruhi
prilaku guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pelaksana proses
belajar mengajar, dan melalui pengaruhnya tersebut bertujuan untuk
mempertinggi kualitas belajar murid demi pencapaian tujuan organisasi
(sekolah) yang tinggi pula.
Disamping itu Oteng Sutrisna mengutip pendapat Kimball Wiles
menjelaskan supervisi sebagai bantuan dalam pengembangan situasi
mengajar-belajar yang lebih baik dan suatu kegiatan pelayanan yang
disediakan untuk membantu para guru menjalankan pekerjaan mereka

4
Ibrahim Bafadal, Supervisi Pengajaran, Teori dan Aplikasinya dalam Membina Profesional
Guru, Jakarta: Bumi Aksara, 1992, 2.
5
Allan A Glatthorn. Supervisory Leadership Introduction To Instructional Supervision,
Printed in The United States of America: Harper Collins Plublisers, 1990, 84.
19

dengan lebih baik.
6
Itu sebagai salah satu peran kepala sekolah/madrasah
untuk memberikan petunjuk dan pengarahan kepada guru-guru,
sebagaimana firman Allah surat As-Sajdah/32: 24.
!.l- > .. . _. !..!, !.l .
Artinya: Dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-
pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah
Kami selama mereka sabar (As-Sajdah: 24)
7


Berdasarkan beberapa rumusan pengertian supervisi seperti
disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa supervisi merupakan
pelayanan atau bimbingan profesional bagi guru-guru. Bimbingan dan
pelayanan profesional dimaksud adalah segala bentuk usaha yang sifatnya
memberikan bantuan, dorongan dan kesempatan kepada guru-guru untuk
meningkatkan kompetensi profesinya agar mereka dapat melaksanakan
tugas mengajarnya dengan lebih baik, yaitu memperbaiki proses belajar
mengajar dan meningkatkan mutu hasil belajar peserta didik. Kualitas
hasil belajar peserta didik ini erat kaitannya dengan kemampuan dan
ketrampilan mengajar guru yang bersangkutan.
Dengan demikian kegiatan supervisi pembelajaran diarahkan untuk
meningkatkan kompetensi (kemampuan) dan keterampilan mengajar guru.
Hal ini sesuai dengan rumusan supervisi pengajaran yang dikemukakan

6
Oteng Sutrisna. Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis Untuk Praktek Profesinal,
Bandung: Angkasa, 1989, 264.
7
Kementerian Agama RI. Al Quran dan Terjemahannya, Jakarta: PT Sinergi Pustaka
Indonesia, 2012, 589.
20

oleh Alfonso, bahwa dengan meningkatnya kemampuan guru akan
mempertinggi kualitas belajar peserta didik sehingga tujuan sekolah/
madrasah akan tercapai. Peningkatan kualitas mengajar guru tersebut
dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain : penataran, lokakarya,
seminar, kunjungan kelas, pertemuan individual, pemberian brosur-brosur
dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bertujuan meningkatkan kompetensi
guru.
Dengan demikian dari uraian diatas dapat ditegaskan bahwa peran
kepala sekolah sebagai supervisor pembelajaran adalah membantu dan
menfasilitasi guru dalam melakukan proses belajar mengajar dan
melakukan penilaian menggunakan teknik-teknik supervisi sesuai
kebutuhan sehingga pada akhirnya terjadi peningkatan kompetensi.

2. Tujuan Supervisi Pembelajaran.
Untuk memahami tujuan supervisi pengajaran, berikut ini
dikemukakan pandangan beberapa pakar :
Oteng Sutisna dalam bukunya Supervisi dan Administrasi
Pendidikan mengemukakan tujuan supervisi adalah: Membantu para guru
memperoleh arah diri dan belajar memecahkan sendiri masalah-masalah
yang mereka hadapi, dan mendorong mereka kepada kegiatan-kegiatan
21

untuk menciptakan situasi-situasi dimana murid dapat belajar dengan lebih
efektif.
8

Dari ungkapan ini dapat disimak bahwa tujuan supervisi
pengajaran adalah untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan serta
ketrampilan mengajar guru agar dapat melaksanakan tugas mengajar
dengan baik. Tujuan supervisi pengajaran juga tercermin pada definisi
supervisi pengajaran yang dikemukakan Alfonso sebagaiaman telah
dikutip pada sub bahasan pengertian supervisi pengajaran di muka yang
mengandung makna : (1) bahwa supervisi pengajaran adalah perbuatan
secara langsung mempengaruhi prilaku guru dalam melaksanakan
tugasnya sebagai pelaksana proses belajar mengajar, (2) bahwa supervisi
pengajaran melalui pengaruhnya terhadap prilaku guru, bertujuan untuk
mempertinggi mutu belajar murid demi mencapai hasil yang tinggi pula.
Sally J. Zepeda menyebutkan Instructional supervision aims to
promote grouwth, development, interaction, fault-free problem solving,
and a commitment to build capacity in teachers
9
. Supervisi pembelajaran
bertujuan untuk mendorong pertumbuhan, pengembangan, interaksi,
pemecahan masalah dan komitmen untuk membangun kekurangan
kapasitas guru-guru.

8
Oteng Sutisna, Supervisi dan Administrasi, Bandung: Jemmars, 1979, 69.
9
Sally J. Zepeda. Instructional Supervision Applying Tools and Concepts, Eye On Education,
Library of Conggres Cataloging-in-Publication Data, 2003, 19.
22

Adapun tujuan supervisi pendidikan, seperti telah dijelaskan, kata
kunci dari supervisi adalah memberikan layanan dan bantuan kepada guru-
guru. Maka tujuan supervisi adalah memberikan layanan dan bantuan
untuk mengembangkan situasi belajar-mengajar yang dilakukan guru di
kelas. Dengan demikian jelas bahwa tujuan supervisi adalah memberikan
layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar guru di kelas
yang pada gilirannya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa
3. Fungsi Supervisi Pembelajaran.
Made Pidarta, membagi fungsi supervisi ke dalam dua bagian,
yaitu fungsi utama dan fungsi tambahan, yaitu:
a. Fungsi utama ialah membantu sekolah yang sekaligus mewakili
pemerintah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yaitu
membantu perkembangan individu para siswa.
b. Fungsi tambahan ialah membantu sekolah dalam membina guru-
guru agar dapat bekerja dengan baik dan dalam mengadakan
kontak dengan masyarakat dalam rangka menyesuaikan diri
dengan tuntutan masyarakat serta memelopori kemajuan
masyarakat.
10


Wiles dan Lovell mengemukakan tujuh macam supervisi, yaitu:
1) Goal development.
2) Program development.
3) Control and Coordination.
4) Motivation.
5) Problem Solving.
6) Profesional development.
7) Evaluation of education outcome.
11



10
Made Pidarta, Pemikiran Tentang Supervis Pendidikani, Jakarta: Bumi Aksara, 1992, 15.
11
Kimbal Wiles dan John T. Lovell, Supervision for Better School, New Yersey: Pritice-
Hall, Inc. Englewood-Cliffs, , Fourth Edition, 1975, 8.
23

Ketujuh sasaran kegiatan supervisi yang dikemukakanWilles di
atas adalah : (1) pengembangan tujuan, (2) pengembangan program,
(3) kontrol dan koordinasi, (4) motivasi, (5) pemecahan masalah, (6)
pengembangan profesi, dan (7) evaluasi hasil pendidikan.
Sahertian dan Mataheru yang mengutip pendapat Swaeringen,
mengemukakan delapan fungsi supervisi, yaitu:
1. Mengkoordinasikan semua usaha sekolah.
2. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah.
3. Memperluas pengalaman guru-guru.
4. Menstimulasikan usaha-usaha yang kreatif.
5. Memberikan fasilitas dan penilaian yang terus menerus
6. Menganalisa situasi belajar mengajar.
7. Memberikan pengetahuan dan skill kepada setiap anggota
staf.
8. Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu
meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.12

Selain pendapat di atas, Oteng Sutisna mengelompokkan
fungsi supervisi kepada empat macam, yaitu: (a) supervisi sebagai
penggerak perubahan, (b) supervisi sebagai program layanan untuk
memajukan pengajaran, (c) supervisi sebagai ketrampilan dalam
hubungan manusia, dan (d) supervisi sebagai kepemimpinan
kooperatif.
13


12
Piet A. Sahertian dan Frans Mataheru, Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, Surabaya:
Usaha Nasional, 1981, 26.
13
Oteng Sutisna. Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis Untuk Praktek Profesional,
Bandung: Angkasa, 1989, 277-284.

24

Dengan demikian fungsi supervisi pembelajaran adalah bukan
saja memperbaiki pembelajaran akan tetapi mengkoordinasi,
menstimulasi dan mendorong kearah pertumbuhan profesi guru.
Dengan kata lain fungsi dasar supervisi pembelajaran adalah
memeperbaiki situasi belajar mengajar di sekolah/madrasah sehingga
kompetensi guru dapat meningkat dalam pembelajaran di kelas.

4. Prinsip-Prinsip Supervisi Pembelajaran
Kepala sekolah/madrasah sebagai supervisor dalam melaksanakan
supervisi pembelajaran di sekolah/madrasah harus menciptakan situasi
dan relasi dimana guru-guru merasa aman dan merasa diterima sebagai
subjek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu supervisi pembelajaran
dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang obyektif. Maka dalam
melaksanakan supervisi pembelajaran harus bertumpu pada prinsip
supervisi sebagai berikut :
a. Prinsip Ilmiah (scientific)
Prinsip ilmiah mengandung ciri-ciri sebagai berikut:
1). Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data obyektif
yang diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan proses belajar-
mengajar.
2). Untuk memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data,
seperti angket, observasi , percakapan pribadi dan seterusnya
25

3). Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sisematis,
berencana, dan kontinu
. b. Prinsip Demokratis
Servis dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan
hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga
guru-guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya
Demokratis mengandung makna menjujung tinggi harga diri dan
martabat guru bukan bedasarkan atasan dan bawahan tapi
berdasarkan rasa kesejawatan
c. Prinsip Kerja Sama
Mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah
supervisi sharing of idea, sharing of experience, memberi
support mendorong, menstimulasi guru sehingga mereka merasa
tumbuh bersama
d. Prinsip Konstruktif dan kreatif
Setiap guru akan merasa termotivasi dalam
mengembangkan potensi kreatifitas kalau supervisi mampu
menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, bukan melalui
cara-cara menakutkan
14



14
Piet A Sahertian, Konsep Dasar dan Teknk Supervisi Pendidikan Dalam Rangka
Pegembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, 20.
26

B. Perencanaan Program Supervisi Pembelajaran Kepala Sekolah.
Kata perencanaan selalu berkaitan dengan pemikiran pada apa yang
akan dilakukan. Merencanakan program supervisi pembelajaran berarti
memperkirakan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dalam pelaksanaan
supervisi pembelajaran.
Perencanaan merupakan suatu hal yang sangat pokok dan penting
dalam mencapai suatu tujuan. Supervisi sebagai usaha untuk mendorong para
guru mengembangkan kompetensinya agar dapat mencapai tujuan yang lebih
baik. Tanpa perencanaan yang baik jangan diharapkan tujuan pendidikan akan
tercapai, maka program supervisi pembelajaran harus dibuat sebagai pedoman
dalam melaksanakan tugas.
1. Yang Harus Diperhatikan Dalam Menyusun Perencanaan Supervisi
Pembelajaran.
a. Tidak ada rencana yang stardar dalam supervisi
Setiap guru mempunyai kemampuan dan kelemahan berbeda-beda,
maka memerlukan bantuan yang berbeda dari guru lainnya dalam
keadaan yang tidak sama dengan guru lainnya. Supervisi merupakan
usaha untuk membantu guru meningkatkan kemampuannya sesuai
dengan kebutuhannya dalam situasi bekerja. Karena itu setiap bantuan
harus diberikan dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan dan situasi
tersebut.

27

b. Perecanaan supervisi memerlukan kreatifitas
Di setiap sekolah/madrasah mempunyai cara tersendiri dengan
keaadaan yang berbeda dan masalah yang berlaianan. Peningkatan
pendidikan di sekolah/madrasah harus disesuaikan denga kebutuhan
perserta didik dengan tujuan khusus di sekolah/madrasah itu, dengan
keadaan dan kemampuan anggota staf lainnya dengan kemampuan
sekolah/madrasah untuk mengadakan fasilitas yang diperlukan. Semua
hal-hal tersebut harus diperhatikan dan dijadikan faktor-faktor penentu
dalam mennyusun program suprvisi di sekolah/madrasah.
Dalam hal ini apakah kegiatan supervisi yang akan dilakukan
atau ditujukan kepada memperkaya pengalaman belajar pesert didik,
apakah untuk meningkatkan kemampuan para guru dalam memilih dan
menggunakan alat pelajaran dan apakah dalm peningkatan didsiplin
dan sikap profesional anggota stafnya dan sebagainya, harus
ditentukan berdasarkan kretifitas supervisor dengan memperhatikan
kebutuhan dan situasi setempat.

c. Perencanaan Supervisi harus secara Konprehensif
Upaya peningkatan kegiatan pembelajaran mencakup berbagai
segi antara satu dengan yang lain tidak bisa dipisah-pisahkan. Guru,
alat, metode, keadaan fisik, siswa, sikap kepala sekolah/madrasah.
Semuai itu saling mempengaruhi. Maka supervisor harus dapat
28

mengatur kegiatan supervisinya agar tujuan supervisi dapat tercapai,
tahap demi tahap dilalui dan semua segi dan tahapan yang akan
dicapai harus mencakup keseluruhan satu kesatuan yang menyeluruh.
d. Perencanaan Supervisi harus Fleksibel
15

Rencana supervisi harus memberikan kebebasan untuk
melaksanakan sesuatu sesuai keadaan dan perubahan yang terjadi.
Seorang supervisor yang bijaksana tidak terpaku pada cara-cara
pencapain tujuan yang telah direncanakan, akan tetapi selalu berusaha
menyesuaiakan pada situasi dan kondisi. Bukan berarti sifat
perencanaan yang fleksibel ini tidak berarti bahwa tujuan yang telah
dirumuskan tidak boleh jelas dan kongkrit. Tapi tujuan harus jelas dan
kongkrit terperinci, cara pencapaiannya harus diperhitungkan secara
saksama. Untuk itu pada waktu menyusun perencanaan sudah harus
difikirkan berbagai alternatif pemecahannya. Dan untuk itu pula
perlunya pemecahan yang kooperatif agar terhimpun ide sebanyak-
banyaknya.

2. Faktor-faktor yang diperlukan dalam perencanaan supervisi
pembelajaran
Dalam berbagai pengetahuan dan ketrampilan diperlukan
penyusunan rencana supervisi yang efektif dan efisien. Faktor mana yang

15
Moh. Rifai, Administrasi dan Supervisi Penididkan, Bandung: Jemmars, 1987, 81-84.
29

lebih baik diperlukan tergantung dari situasi dan kondisi dan tujuan yang
akan dicapai. Tiap supervisor harus menyadari kedudukannya, apakah
sebagai kepala sekolah/madrasah, sebagai pengawas atau pemegang
otoritas administratif. Maka setiap supervisor dapat menentukan faktor
mana yang sesuai dengan situasi dan tujuan yang akan dicapainya.
Hal-hal yang diperlukan dalam perencanaan supervisi antara lain
adalah :
a. Kejelasan tujuan pendidikan sekolah/madrasah
b. Pengetahuan tentang pembelajaran yang efektif
c. Pengetahuan tentang peserta didik
d. Pengetahuan tentang Guru
e. Pengetahuan tentang sumber-sumber potensi untuk kegiatan
supervisi
f. Kemampuan memperhatikan faktor waktu
Dengan adanya perencanan tersebut diatas maka tujuan
supervisi pembelajaran akan berjalan efektif dan dapat mencapai
tujuan yang diharapkan.





30

C. Model Supervisi, Pendekatan Supervisi, Metode dan Tenik Supervisi
Pembelajaran.
1. Model Supervisi Pembelajaran
Yang dimaksud model dalam uraian ini adalah suatu pola, contoh,
acuan dari supervisi pembelajaran yang diterapkan. Ada berbagai model
supervisi yang berkembang.
a. Model Supervisi yang Konvensional (Tradisional)
Model ini tidak lain dari refleksi dari kondisi masyarakat pada
suatu saat. Pada saat kekuasaan yang otoriter dan feodal akan
berpengaruh pada sikap pemimpin yang otoriter dan korektif .
Pemimpin yang cenderung untuk mencari-cari kesalahan. Prilaku
supervisi ialah mengadakan inspeksi untuk mencari kesalahan dan
menemukan kesalahan. Kadang-kadang bersifat memata-matai.
Mencari kesalahan dalam membimbing sangat bertentangan dengan
prinsi-prinsip dan tujuan supervisi pembelajaran. Akibatnya guru-guru
merasa tidak puas dan ada dua sikap yang tampak dalam kinerja guru:
1) Acuh tak acuh (masa bodoh)
2) Menantang (agresif)
16




16
Piet A Sahartian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, 35.
31

b. Model Supervisi yang bersifat Ilmiah
Supervisi yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
1) Dilaksanakan secara berencana dan kontinyu
2) Sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu
3) Menggunakan instrumen pengumpulan data
4) Ada data yang obyektif yang diperoleh dari keadaan yang
riil.
17

Dengan menggunakan merit rating, skala penilaian atau chek
list lalu para peserta didik menilai proses pembelajaran di kelas. Hasil
penelitian diberikan kepada guru-guru sebagai umpan balik terhadap
penampilan mengajar guru pada semester yang lalu. Data ini tidak
berbicara kepada guru dan guru yang mengadakan perbaikan.
Penggunan alat perekam data ini berhubungan erat dengan penelitian.
Walaupun demikian hasil perekam data secara ilmiah belum
merupakan jaminan untuk melaksanakan suprvisi yang lebih bersifat
manusiawi.
c. Model Supervisi Klinis
Supervisi klinis sebagai suatu sistem instruksional yang
menggambarkan perilaku supervisor yang berhubungan erat secara

17
Piet A Sahartian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, 36.
32

langsung dengan guru atau kelompok guru untuk memberikan
dukungan, membantu, melayani guru untuk meningkatkan hasil kerja
guru dalam memdidik para siswa.
18
Supervisi klinis difokuskan pada
perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari
tahap perencanaan, pengamatan dan analisis yang intensif terhadap
penmpilan pembelajarannya dengan tujuan memeperbaiki proses
pembelajaran. Beberapa alasan mengapa supervisi klinis diperlukan,
diantaranya:
1) Tidak ada balikan dari orang yang kompeten sejauhmana
praktik profesional telah memenuhi standar kompetensi dan
kode etik
2) Ketinggalan iptek dalam proses pembelajaran
3) Kehilangan identitas profesi
4) Kejenuhan profesional (bornout)
5) Pelanggaran kode etik yang akut
6) Mengulang kekeliruan secara masif
7) Erosi pengetahuan yang sudah didapat dari pendidikan
prajabatan
8) Siswa dirugikan, tidak mendapatkan layanan sebagaimana
mestinya

18
Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan, Bandung: Alfabeta,
2010, 194.
33

9) Rendahnya apresiasi dan kepercayaan masyarakat dan
pemberi pekerjaan
Secara umum tujuan supervisi klinis untuk:
1) Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya
terhadap pelaksanaan kualitas proses pembelajaran.
2) Membantu guru untuk senantiasa memperbaiki dan
meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
3) Membantu guru untuk mengidentifikasi dan menganalisis
masalah yang muncul dalam proses pembelajaran
4) Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan
masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran
5) Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif dalam
mengembangkan diri secara berkelanjutan.
Supervisi klinis memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Perbaikan dalam pembelajaran mengharuskan guru
mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku
berdasarkan keterampilan tersebut.
2) Fungsi utama supervisor adalah menginformasikan beberapa
keterampilan, seperti: (1) keterampilan menganalisis proses
34

pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan, (2) keterampilan
mengembangkan kurikulum, terutama bahan pembelajaran,
(3) keterampilan dalam proses pembelajaran.
Fokus supervisi klinis adalah: (1) perbaikan proses pembelajaran,
(2) keterampilan penampilan pembelajaran yang memiliki arti bagi
keberhasilan mencapai tujuan pembelajaran dan memungkinkan untuk
dilaksanakan, dan (3) didasarkan atas kesepakatan bersama dan
pengalaman masa lampau.
Beberapa prinsip yang menjadi landasan bagi pelaksanaan
supervisi klinis, adalah:
1) Hubungan antara supervisor dengan guru, kepala sekolah
dengan guru, guru dengan mahasiswa PPL adalah mitra kerja
yang bersahabat dan penuh tanggung jawab.
2) Diskusi atau pengkajian balikan bersifat demokratis dan
didasarkan pada data hasil pengamatan.
3) Bersifat interaktif, terbuka, obyektif dan tiidak bersifat
menyalahkan.
4) Pelaksanaan keputusan ditetapkan atas kesepakatan bersama.
5) Hasil tidak untuk disebarluaskan
35

6) Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru,
dan tetap berada di ruang lingkup pembelajaran.
7) Prosedur pelaksanaan berupa siklus, mulai dari tahap
perencanaan, tahap pelaksanaan (pengamatan) dan tahap siklus
balikan.
Pelaksanaan supervisi klinis berlangsung dalam suatu siklus yang
terdiri dari tiga tahap berikut :
1) Tahap perencanaan awal. Pada tahap ini beberapa hal yang
harus diperhatikan adalah: (1) menciptakan suasana yang intim
dan terbuka, (2) mengkaji rencana pembelajaran yang meliputi
tujuan, metode, waktu, media, evaluasi hasil belajar, dan lain-
lain yang terkait dengan pembelajaran, (3) menentukan fokus
obsevasi, (4) menentukan alat bantu (instrumen) observasi, dan
(5) menentukan teknik pelaksanaan obeservasi.
2) Tahap pelaksanaan observasi. Pada tahap ini beberapa hal yang
harus diperhatikan, antara lain: (1) harus luwes, (2) tidak
mengganggu proses pembelajaran, (3) tidak bersifat menilai,
(4) mencatat dan merekam hal-hal yang terjadi dalam proses
pembelajaran sesuai kesepakatan bersama, dan (5) menentukan
teknik pelaksanaan observasi.
36

3) Tahap akhir (diskusi balikan). Pada tahap ini beberapa hal yang
harus diperhatikan antara lain: (1) memberi penguatan; (2)
mengulas kembali tujuan pembelajaran; (3) mengulas kembali
hal-hal yang telah disepakati bersama, (4) mengkaji data hasil
pengamatan, (5) tidak bersifat menyalahkan, (6) data hasil
pengamatan tidak disebarluaskan, (7) penyimpulan, (8) hindari
saran secara langsung, dan (9) merumuskan kembali
kesepakatan-kesepakatan sebagai tindak lanjut proses
perbaikan.
19


2. Pendekatan Supervisi Pembelajaran
Supervisor semestinya membantu menciptakan iklim yang
kondusif bagi pertumbuhan profesioanal guru. Iklim atau suasana yang
diciptakan harus bebas dari rasa takut, acaman, atau paksaan. Agar guru
terhindar dari rasa takut, terancam atau paksaan, maka supervisor perlu
menggunakan pola pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dan
karateristik guru, dimana masing-masing guru memiliki kebutuhan dan
karakteristik yang tidak sama. Orientasi atau pendekatan dalam
pelaksanaan supervisi, diantaranya didasarkan atas tingkat perkembangan

19
http://akhmdsudrajat.wordpress.com supervisi/2008/03/01/supervisi-klinis/, diakses pada
tanggal 8 juni 2013.

37

guru. Glickman mendasarinya dari tingkat perkembangan berfikir abstrak
(level of abstrack thinking) dan komitmen (commitment) menetapkan teori
pendekatan supervisi menjadi tiga kelompok, yaitu pendekatan direktif
(directive orientation), pendekatan nondirektif (non-directive orientation)
dan pendekatan kolaboratif (collaborative orientation).
20

Dalam kegiatan supervisi dimana seorang guru dianggap sebagai
seorang yang sedang belajar, tentunya senantiasa memperhatikan
kebutuhan dan karakteristik guru. Selanjutnya, guru harus diperhatikan
sebagai individu dan diperlakukan sesuai dengan orientasi atau
pendekatan yang cocok bagi guru tersebut. Dengan pendekatan yang
sesuai maka para guru akan mampu meningkatkan kompetensi profesional
secara mandiri.
Berikut ini penjelasan ketiga kategori pendekatan dalam supervisi
pengajaran tersebut, yaitu :
a. Pendekatan Supervisi Direktif
Supervisi dengan pendekatan direktif mengasumsikan bahwa
mengajar terdiri dari sejumlah ketrampilan tehnis yang sesuai dengan
kompetensi profesional guru bagi semua guru supaya mampu mengajar
atau menampilkan unjuk kerja yang efektif. Glickman mengemukakan

20
Carl D. Glickman. Developmental Supervision Alternative Practices for Helping Teachers
Improve Instruction, ASCD ( Association for Supervision and Curriculum Development), Alexandria,
Virginia : 1981, 40.

38

perilaku supervisor dalam pendekatan direktif yaitu menjelaskan
(clarifying), menunjukkan (presenting), Latar standart (setting the
standard), dan memberikan penilaian (reinforcing).
21
Glickman
menemukan bahwa guru baru lebih suka disupervisi dengan
pendekatan direktif sebab dengan melalui pendekatan direktif maka
guru itu merasakan manfaatnya untuk memperbaiki prilaku
mengajaranya. Guru baru lebih suka apabila supervisor menjelaskan
masalahnya yang diikuti dengan menunjukkan cara pemecahannya.
Dengan melihat cara ini tampak bahwa pendekatan direktif lebih
bermanfaat untuk memecahkan masalahmasalah khusus.
S. Nasution mengemukakan percobaan yang dilakukan D.F.
Skinner yang menggambarkan sebagai berikut :
Ia memberi stimulus (S1) tertentu dan bila binatang itu
memberi respons yang menuju ke arah bentuk kelakuan yang
diharapkan maka respons (R1) itu diperkuat atau reinforcement,
sehingga terjadi ikatan yang erat antara S1 dan R1. Kemudian R1
menjadi stimulus (S2) yang dapat menimbulkan respons (R2). Yang
diberi reinforcement atau penguatan. Demkianlah berangsur-angsur
binatang itu diajar memperoleh rentetan bentuk kelakuan sehingga
tercapai bentuk kelakuan yang kita inginkan.
22


Bila hal itu berhasil pada binatang maka dapat berhasil pula
pada manusia. Peran dari si pemberi stimulus begitu besar dimana

21
Carl D. Glickman. Developmental Supervision Alternative Practices for Helping Teachers
Improve Instruction, ASCD ( Association for Supervision and Curriculum Development), Alexandria,
Virginia: 1981, 23.
22
S. Nasution. Teknologi Pendidikan, Bandung: Jemmars, 1987, 65.

39

perilaku dari penerima stimulus atau pemberi respons sangat
ditentukan oleh pemberi stimulus tadi, disini tampak betapa pasifnya
pemberi respons tadi. Demikian pula halnya bila diterapkan dalam
pendekatan supervisi yang disebut dengan pendekatan direktif, dimana
supervisor berperan aktif sedangkan guru berperan pasif; perilaku guru
dinilai, dikritik berdasarkan standard kompetensi profesional yang
telah ditetapkan. Dengan demikian, pola ini dianggap kurang efektif
dan mungkin kurang manusiawi sebab guru tidak diberi kesempatan
untuk mengembangkan kemampuan dan kreatifitasnya.
b. Pendekatan Supervisi Kolaboratif
Gagasan pendekatan supervisi kolaboratif ini diilhami atas
gerakan hubungan insani (the human relation movement). Dalam
dunia usaha atau bisnis, pendekatan hubungan insani mengacu kepada
masalah kepuasan kerja dan produktifitas pegawai, dimana hal ini
tinggi rendahnya dipengaruhi oleh hubungan antar manusia (baik
hubungan antara pekerja, antara pimpinan, atau antara pimpinan
dengan pekerja). Gaya kepemimpinan yang dimunculkan dalam
pendekatan hubungan insani demokratis atau partisipatif. Gagasan
pendekatan supervisi kolaboratif juga merupakan respons dari praktek
pola supervisi klasik yang bersifat otoriter (inspeksi).
Jika dilihat dari tanggungjawabnya maka tampak bahwa
pendekatan supervisi kolaboratif merupakan perpaduan antara
40

pendekatan supervisi direktif dan pendekatan.supervisi non direktif.
Posisi supervisor adalah sebagai seorang pendengar yang baik, dimana
ia mendengarkan segala keluhan dan memberikan pujian kepada guru
bilamana perlu. Bila supervisor tidak memahami apa yang
diungkapkan oleh guru maka supervisor meminta untuk dijelaskan
lagi. Selanjutnya, supervisor mendorong guru untuk memecahkan
masalahnya sendiri, mendorong kegiatan kreatif dan eksprimen yang
dilakukan guru tersebut. Dengan demikian, guru merasa bebas
menerapkan ide, metode baru yang telah mendapat dukungan dari
sekolah.
Implikasi dari konsep kolaboratif dalam proses supervisi, yaitu
bahwa supervisor pengajaran dihadapan pada satu situasi dimana ia
sendiri hanya memiliki wewenang terbatas untuk mengontrol
sejauhmana upaya yang telah dilakukannya dalam membantu guru
untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar benar-benar
dilaksanakan oleh guru di kelas.
Oleh karena itu agar proses supervisi dapat berjalan secara
efektif, maka supervisor harus bekerja sama dengan guru-guru
sedemikian rupa, sehingga guru-guru memandang supervisor sebagai
sumber bantuan, dan oleh karena itu guru-guru senantiasa bersedia
bahkan meminta bantuan supervisor untuk bersama-sama dalam
melihat pekerjaan mereka di kelas.
41

c. Pendekatan Supervisi Non Direktif
Pendekatan supervisi non direktif berangkat dari premis bahwa
belajar pada dasarnya adalah pengalaman pribadi sehingga individulah
yang mampu memecahkan masalahnya sendiri. S. Nasution
mengemukakan bahwa dalam psiko-terapinya Carl R. Rogers
memberi kebebasan kepada kliennya untuk mengeluarkan segala isi
hatinya sepuas-puasnya tentang yang baik maupun yang buruk dengan
metode non directive counseling.
23

Pendekatan supervisi non direktif lebih banyak diserahkan
kepada guru untuk menganalisa dan memecahkan masalah
pengajarannya sendiri, supervisor hanya bertindak sebagai fasilitator.
Sebagai supervisor, ia membiarkan guru melakukan penemuan,
menentukan langkah-langkah, mendorong inisiatif guru, melibatkan
diri pada waktu dan jika diperlukan saja.
Guru-guru yang berpengalaman tidak memandang positif
terhadap prilaku yang mengarah, terhadap sikap supervisor yang terlalu
memaksakan kehendak, karena dengan sikap seperti itu para guru tidak
berani mengemukakan pendapat, merasa serba salah. Sebaliknya jika
supervisor memberikan kebebasan kepada guru, membiarkan guru-
guru menemukan sendiri masalah pengajaran mereka, hal itu lebih

23
S. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Bina Aksara,
1987, 80.

42

mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam kegiatan supervisi
pengajaran.
Perbaikan pengajaran mempunyai arti yang benar apabila guru
melihat sendiri kebutuhan untuk merubah dan kemudian berusaha
melaksanakannya, supervisor memberikan pengarahan sedikit
mungkin.

3. Teknik Supervisi Pembelajaran
Untuk mencapai tujuan supervisi yang telah ditentukan, maka
seorang supervisor dapat menggunakan berbagai macam teknik. Piet A.
Sahertian mengelompokkan teknik supervisi menjadi dua macam, yaitu:
teknik yang bersifat individual dan yang bersifat kelompok.
a. Teknik yang bersifat individual, yang meliputi: (1) kunjungan kelas,
(2) observasi kelas, (3) percakapan pribadi, (4) intervisitasi. (5) menilai
diri sendiri.
b. Teknik yang bersipat kelompok, meliputi: (1) pertemuan orientasi pada
guru-guru, (2) panitia penyelenggara, (3) rapat guru, (4) studi
kelompok, (5) diskusi, (6) tukar menukar pengalaman, (7) loka karya
(workshop), (8) simposium, (9) demonstrasi mengajar (10)
43

perpustakaan jabatan, (11) buletin supervisi, (12) mengikuti kursus,
(13) organisasi jabatan, (14) perjalanan sekolah untuk anggota staf.
24

Dalam pembahasan ini akan penulis paparkan beberapa teknik
supervisi yang penulis anggap penting dari berbagai teknik di atas.
1) Kunjungan Kelas
Maksudnya kunjungan yang dilakukan oleh supervisor ke ruang
kelas dimana seorang guru sedang mengajar atau pada waktu kelas
kosong, berisi sarana kelas ketika guru tidak ada.
25
Tujuan mengunjungi
kelas diantaranya: (a) untuk mengamati (mengetahui secara langsung guru
dalam melaksanakan tugas utamanya, mengajar, menggunakan alat
peraga, metode dan teknik mengajar), (b) untuk mengetahu kelebihan dan
kelemahan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, (c) untuk
memperoleh data yang diperlukan supervisor dalam menentukan cara-cara
yang tepat untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi belajar
mengajar, (d) untuk merang-sang para guru agar mereka mau
meningkatkan kemampuannya.
26


24
Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Daalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 53, 86.
25
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Supervisi, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006, 54.
26
E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah Srategi dan Imlementasi, Bandung: 2003, 260.
44

Kunjungan kelas dapat dilakukan dengan teknik; (a) dengan
pemberitahuan, (b) tanpa pemberitahuan, atau (c) atas undangan guru.
27

2) Observasi Kelas.
Observasi kelas adalah kunjungan yang dilakukan oleh supervisor ke
sebuah kelas dengan maksud untuk mencermati situasi atau peristiwa yag
sedang berlangsung di kelas yang bersangkutan.
28

Ada bermacam-macam cara mengobservasi kegiatan guru dan siswa
di kelas. Seorang supervisor dapat menggunakan cara langsung masuk
kelas atau cara tidak langsung, yaitu orang yang diobservasi dibatasi oleh
ruang kaca dimana murid-murid tidak mengetahuinya. Dalam
mengobservasi perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain: tujuan
yang hendak dicapai, apa yang akan diobservasi, kreteria yang dipakai
dalam observasi serta alat-alat yang digunakan dalam observasi.
29

3) Percakapan Pribadi
Percakapan antara seorang supervisor dengan seorang guru. Tujuan
percakapan pribadi antara lain; (a) untuk saling mengenal lebih jauh antara
supervisor dengan guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai petugas

27
Departemen Agama RI, Pedoman Pengembangan Administrasi dan Supervisi Pendidikan
Jakarta, 2003, 47.
28
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Supervisi, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006, 55.
29
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Supervisi, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006, 54.
45

profesional, (b) untuk membantu guru mengenal kemampuan dirinya,
mem-bantu guru menyadari kelebihan dan kekurangannya, (c) memupuk
dan mengembangkan mengajar yang lebih baik, (d) menghilangkan dan
meng-hindari prasangka buruk antara supervisor dengan guru.
30

4) Orientasi Bagi Guru Baru
Sebelum seorang guru menilai tugas-tugasnya di lingkungan yang
baru secara intensif, perlu diberi kesempatan kepada mereka untuk
menyesuaikan diri dalam rangka mengenal dan memahami tugas-tugas
yang dipikulnya. Orientasi pada saat permulaan bekerja antara lain bisa
mengenai orientasi personal, orientasi terhadap program, orientasi
terhadap fasilitas dan orientasi terhadap lingkungan.
31

Untuk itu, kepala sekolah/madrasah, guru, dan supervisor
semestinya sudah menyusun rencana atau program orientasi bagi guru
baru. Jika orientasi tersebut disusun dan dilaksanakan secara efektif,
hasilnya pasti tampak dalam hal mengajar guru tersebut.
32




30
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Supervisi, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006, 73-74.
31
Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung, 1981, 106 -107.
32
Abdul Choliq MT, Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: Mitra Cendekia, 33.
46

5) Rapat Guru
Yaitu pertemuan antara staf sekolah terutama guru-guru untuk
mengembangkan dan meningkatan kemampuan mereka. Rapat guru
menurut tingkatan kemampuan mereka. Rapat guru menurut tingkatannya
ada bermacam-macam: (a) staffmeeting, yaitu rapat guru-guru dalam satu
sekolah yang dihadiri oleh seluruh atau sebagian guru di sekolah tersebut,
(b) rapat guru bersama orang tua murid dan perwakilan murid, (c) Rapat
guru sekota, sewilayah, serayon dari sekolah-sekolah sejenis dan
setingkat.
33

6) Studi Kelompok
Guru-guru dalam mata pelajaran sejenis berkumpul bersama untuk
mempelajari suatu masalah atau bahan pelajaran. Pokok bahasan telah
ditentukan dan diperinci dalam garis-garis besar atau dalam bentuk perta-
nyaan pokok yang disusun secara teratur.
34

7) Diskusi
Yaitu pertukaran pendapat tentang suatu masalah untuk dipecahkan
bersama. Diskusi merupakan cara mengembangkan ketrampilan anggota-

33
Piet. A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Daalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, 87.
34
Piet. A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Daalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2008 , 95.
47

anggotanya dalam mengatasi kesulitan-kesulitan dengan jalan bertukar
pikiran. Yang perlu diketahui oleh seorang supervisor bila memimpin
diskusi guru-guru, supervisor harus memiliki kemampuan menggerakkan
kelompok, membuat pertemuan berhasil dan mengkoordinasikan
pekerjaan-pekerjaan kelompok.
35

8) Tukar menukar pengalaman
Penataran sering merupakan sesuatu yang membosankan. Dikatakan
membosankan karena guru-guru menganggap bahan yang diberikan sudah
dimiliki, atau mungkin cara penyajiannya kurang menarik, karena tidak
bersumber pada kebutuhan profesi meraka. Oleh karena itu suatu teknik
perjumpaan yang dinamakan sharing of experience adalah cara yang
bijaksana. Di dalam teknik ini kita berasumsi bahwa guru-guru adalah
orang-orang yang sudah berpengalaman. Melalui pertemuan diadakan
tukar menukar pengalaman, saling memberi dan menerima, saling belajar
satu dengan yang lain.
36



35
Piet. A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Daalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, 96.
36
Piet. A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Daalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, 103.
48

D. Tindak lanjut Supervisi Pembelajaran dalam Meningkatkan Kompetensi
Guru.
Supervisi Pembelajaran terlaksana dengan terprogram, terarah dan
berkesinambungan. Oleh karena itu supervisi pembelajaran sangat perlu untuk
ditindak lanjuti. Kegiatan dalam rangka menindak lanjuti kegiatan supervisi
pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Menyusun kreteria keberhasilan supervisi pembelajaran.
2. Merumuskan kreteria keefektifan proses pelaksanaan supervisi
pembelajaran.
3. Merumuskan kreteria pencapaian tujuan supervisi pembelajaran
4. Merumuskan kreteria pencapaian dampak supervisi pembelajaran.
5. Menusun instrumen supervisi pembelajaran
6. Mengembangkan instrumen pengumpulan data dalam rangka
identifikasi dan analisis masalah/kebutuhan pengembangan
pembelajaran.
7. Mengembangkan instrumen pengukuran keefektifan proses
pelaksanaan supervisi pembelajaran sesuai dengan kawasan yang
digarap, pendekatan dan teknik supervisi yang diterapkan.
8. Mengembangkan instrumen pengukuran pencapaian hasil langsung
(out put) supervisi pembelajaran sesuai dengan kawasan yang
digarap.
49

9. Mengembangkan instrumen pengukuran dampak supervisi
pembelajaran sesuai dengan kawasan yang digarap.

E. Tinjauan Kompetensi Guru
1. Pengertian Kompetensi Guru.
Dalam terminologi yang berlaku umum, istilah kompetensi berasal
dari bahasa Inggris competence sama dengan being competen dan
competent sama dengan having ability, power, authority, skill, knowledge,
attitude, etc.
37
Pengertian dasar kompetensi adalah kemampuan dan
kecakapan. Seseorang yang dinyatakan kompeten di bidang tertentu
adalah sesorang yang menguasai kecakapan kerja atau keahlian selaras
dengan tuntutan bidang kerja yang bersangkuatan.
38
Dalam hal ini adalah
kompetensi Guru. Sedangkan dalam Undang-Undang Replublik
Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dijelaskan
bahwa:kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan
prilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen
dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
39

Piet A. Sahertian menjelaskan bahwa kompetensi guru
mengandung berbagai pengertian. Pertama, kemampuan guru untuk

37
Hamzah B. Uno. Profesi Kependidikan Problema, Solusi dan Reformasi Pendidikan di
Indonesia, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011, 62.
38
Hamzah B. Uno. Profesi Kependidikan Problema, Solusi dan Reformasi Pendidikan di
Indonesia, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011, 62.
39
E. Mulyasa. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2008, 25.
50

untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan. Kedua, ciri hakiki dari
kepribadian guru yang menuntunnya ke arah pencapaian tujuan
pendidikan yang telah ditentukan. Ketiga, perilaku yang dipersyaatkan
untuk mencapai tujuan pendidikan.
40

Dari pengertian tersebut ada tiga aspek dari kompetensi guru,
yaitu aspek personel, aspek sosial dan aspek profesional. Dalam banyak
analisis tentang kompetensi guru, aspek personal dan aspek sosial
umumnya disatukan. Hal ini dikarenakan solidaritas manusia, termasuk
guru dapat dipandang sebagai pengejawantahan dari pribadinya.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan
bahwa pengertian kompetensi guru adalah pengetahuan, keterampilan dan
kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari
dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku kognitif, afektif dan
psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Kompetensi mengacu pada
kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan.
Kompetensi bukanlah suatu titik akhir dari dari suatu upaya melainkan
suatu proses yang berkembang dan belajar sepanjang hayat (lifelong
learning proces).




40
Piet A. Sahartian, Profil Pendidik Profesional, Yogyakarta: Andi Offset, 1994, 56.
51

2. Ruang Lingkup Kompetensi Guru
Pasal 28 ayat 3 Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang
Stndar Nasional Pendidikan secara tegas dinyatakan bahwa Ada empat
kompetensi yang harus dimiliki guru sebagai agen pembelajaran. Keempat
kompetensi tersebut adalah kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial
41

Dalam kompetensi pedagogik ini seorang guru harus mampu
mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap
peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil
belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan
berbagai potensi yang dimilikinya
Kompetensi kepribadian menunjuk pada kemampuan kepribadian
yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan
peserta didik. Ada beberapa ciri kepribadian yang mestinya dimiliki
seorang guru yaitu kemampuan interaksi sosial yang hangat; memiliki rasa
tanggung jawab; memiliki kejujuran, objektif, tegas dan adil; serta
demokratis.
Kompetensi profesional menunjuk pada kemampuan penguasaan
materi pelajaran secara luas dan mendalam. Kemapuan mengajar
merupakan kemampuan esensial yang harus dimiliki oleh seorang guru.

41
Direkrorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Kumpulan Undang-Undang
dan Peraturan Pemerintah RI Tentang Pendidikan, Jakarta: 2007, 155.
52

Kemampuan mengajar guru sebenarnya mencerminkan guru atas
kompetensi profesional sebagai pengajar dan pendidik. Kemampuan
menguasai bahan bidang studi atau bahan mata pelajaran adalah
kemampuan mengetahui, memahami, mengimplikasikan, menyintentiskan
dan menguasai sejumlah pengetahuan keahlian yang akan diajarkan.
Penguasaan ini akan menjadi landasan pokok seorang guru dalam
melaksanakan tugas pembelajaran. Sebelum melaksanakan pembelajaran
maka terlebih dahulu membuat silabus dan rencana pelaksanaan pelajaran
(RPP) sebagai acuan dalan pelaksanaan pembelajaran. Sedangkan
kemampuan melaksanakan program belajar mengajar adalah kemampuan
menciptakan interaksi belajar mengajar sesuai dengan situasi dan kondisi
serta program yang dibuatnya. Kemampuan ini merupakan penerapan
secara nyata rencana pengajaran yang telah dibuat saat perencanaan
pengajaran.
Kompetensi sosial menunjuk pada kemampuan guru untuk
berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta
didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
Moch. Uzer Usman secara lebih rinci lagi menjelaskan tentang
kompetensi personal guru yang mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Mengembangkan kepribadian, seperti:
1) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
53

2) Berperan dalam masyarakat sebagai warga negara yang berjiwa
Pancasila dan
3) Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyaratkan bagi
jabatan guru

b. Berinteraksi dan berkomunikasi, seperti:
1) Berinteraksi dengan sejawat untuk meningkatkan kemampuan
profesional; dan
2) Berinterinteraksi dengan masyarakat untuk pencapaian misi
pendidikan.
c. Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan, seperti:
1) . Memebimbing siswa yang mengalami kesulitan belajar; dan
2) Membimbing siswa yang mengalami permasalahan
d. . Melaksanakan administrasi sekolah, seperti:
1) Mengenal pengadministrasian kegiatan sekolah; dan
2) Melaksanakan kegiatan admiistrasi sekolah
e. Melaksanakan penelitian sederhna untuk kepeluan pengajaran, seperti:
1) Mengkaji kondep dasar penelitian; dan
2) Melaksanakan penelitian sederhana.
42



42
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005, 11.
54

Kompetensi personal dan sosial seorang guru merupakan modal
dasar bagi guru yang bersangkutan dalam melaksanakan tugas keguruan
secara profesional. Kegiatan pendidikan pada dasarnya merupakan
kekhusususan komunikasi antara guru dan siswa.
Dari empat kompetensi guru tersebut bersifat menyeluruh dan
merupakan satu kesatuan yang satu sama lain saling berhubungan dan saling
mendukung.

F. Supervisi Pembelajaran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan
Kompetensi Guru.
Dalam rangka peningkatan sumber daya manusia utamanya guru di
sekolah/madrasah perlu adanya usaha yang kongkrit dan maksimal. Salah satu
bentuk usaha itu adalah melalui kepengawasan atau supervisi baik supervisi
itu dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah atau pengawas.
Pandangan guru terhadap supervisi yang kadang-kadang cenderung
negatif yang mengasumsikan bahwa supervisi merupakan model pengawasan
terhadap guru dengan menekan kebebasan guru. Hal ini perlu untuk
menyampaikan pendapat harus dihilangkan. Asumsi ini dipengaruhi oleh
sikap kepala sekolah/madrasah sebagai supervisor seperti bersikap otoriter,
hannya mencari kesalahan guru dan menganggap lebih dari guru karena
jabatannya. Kasus guru senior cenderung menganggap supervisi merupakan
55

kegiatan yang tidak perlu karena menganggap bahwa telah memiliki
kemampuan dan pengalaman yang lebih.
Oleh karena itu kepala sekolah/madrasah dalam menjalankan supervisi
pembelajaran bersikap lemah lembut sebagai firman Allah dalam Al-Qur.an
surat Ali Imron/3: 159.
!., .> _. < .l l l . !L 1,ls l 1l .. _. ,l >
s! .s -.`. > >!: _ . :| .s _. _ls < | <
> _..l __
Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah
lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah
ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka
dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepada-Nya.
43



Supervisi pembelajaran adalah serangkaian kegiatan membantu guru
mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Supervisi akademik tidak terlepas dari
penilaian kinerja guru dalam mengelola pembelajaran. Sergiovanni (1987)
menegaskan bahwa refleksi praktis penilaian kinerja guru dalam supervisi
akademik adalah melihat kondisi nyata kinerja guru untuk menjawab

43
Kementerian Agama RI. Al Quran dan Terjemahannya, Jakarta: Sinergi Pustaka
Indonesia, 2012, 90.
56

pertanyaan-pertanyaan, misalnya apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas?,
apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas?, aktivitas-
aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di dalam kelas itu yang bermakna
bagi guru dan murid?, apa yang telah dilakukan oleh guru dalam mencapai
tujuan akademik?, apa kelebihan dan kekurangan guru dan bagaimana cara
mengembangkannya?. Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan
ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola
pembelajaran. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa setelah
melakukan penilaian kinerja berarti selesailah pelaksanaan supervisi
akademik, melainkan harus dilanjutkan dengan tindak lanjutnya berupa
pembuatan program supervisi akademik dan melaksanakannya dengan sebaik-
baiknya.
Sebagaimana yang telah diuraikan diatas pada tujuan supervisi
pembelajaran adalah membantu guru mengembangkan kompetensinya,
mengembangkan kurikulum, mengembangkan kelompok kerja guru, dan
membimbing penelitian tindakan kelas.
Kepala sekolah/madrasah dalam memberikan layanan bimbingan
kepada guru-guru baik melaui pembinaan yang dilakukan secara individu dan
kelompok dalam hal ini adalah supervisi pembelajaran tidak lepas dari tujuan
dari supervisi pembelajaran sehingga guru dapat mengembangkan
profesionalime melalui berbagai aspek kegiatan terutama dalam menciptakan
suasana pembelajaran yang menyenangkan dan berbasis tektual dan
57

kontektual serta dapat memilih stategi dan metode yang tepat baik dalam
membuat perencaan silabus dan RPP yang sesuai dengan yang diharapkan.
Maka guru akan termotivasi untuk selalu meningkatkan kompetensinya
karena salah satu diantaranya adanya pengawasan dari kepala
sekolah/madrasah selaku supervisor melalui supervisi pembelajarn. Sebagai
mana dapat dilihat pada gambar dari tiga tujuan supervisi akademik
sebagaimana dapat dilihat pada gambar di bawah ini.






Gambar 2.1.
Tiga tujuan supervisi akademik.
44


Supervisi akademik merupakan salah satu fungsi mendasar (essential
function) dalam keseluruhan program sekolah. Dimana supervisi
pembelajaran merupakan salah satu tujuan tercapainya program sekolah

44
Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan
Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional, Supervisi Akademik Materi Pelatihan
Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah, Jakarta: 2010. 8.


TIGA TUJUAN
SUPERVISI
Pengembangan
Profesionalisme
Pengawasan
kualitas
Penumbuhan
Motivasi
58

dalam proses belajar mengajar. Hasil supervisi akademik berfungsi sebagai
sumber informasi bagi pengembangan profesionalisme guru.
Dari konsep supervisi akademik yang telah terlihat dalam tujuan
supervisi akademik tersebut diatas dalam hal ini adalah supervisi
pembelajaran kepala sekolah/madrasah dalam melaksanakan supervisi
pembelajaran harus memperhatikan dan mengimplementasikan dalam tugas
dan tanggung jawab sebagai supervisor sehingga guru dapat meningkatkan
kompetensi dan pengembangan profesionalisme.
Selanjutnya pelaksanaan program dan kegiatan sekolah/madrasah
untuk mencapai kualitas yang dipersyaratkan perlu mendapat pengawasan
yang sungguh-sungguh oleh kepala sekolah/madrasah. Pengawasan,
pengendalian, atau controling yang dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah
adalah suatu proses manejemen yang sangat penting kedudukannya dalam
mengukur kualitas kegiatan sekolah/madrasah. Pada dasarnya seorang kepala
sekolah/madrasah yang menjamin semua unit bekerja secara optimal sesuai
standar yang dipersyaratkan, tentu melalui berbagai cara untuk memastikan
bahwa semua fungsi manejemen dilaksanakan secara baik,
45
salah satu
diantaranya adalah kepala sekolah/madrasah sebagai supervisor dapat
mengontrol melalui proses pembelajaran yang dimulai dari mencermati

45
Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran Dalam Profesi Pendidikan, Bandung: Alfabeta,
2010, 130.
59

perangkat pembelajaran yang telah dibuat oleh guru baik silabus dan RPP
selanjutnya melakukan supervisi pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan, metode dan teknik yang sesuai dengan kebutuhan di kelas untuk
menilai kompetensi profesional guru dalam kegiatan proses pembelajaran.
Jika kepala sekolah/madrasah dalam menjalankan tugas secara profesional
dalam menjalankan supervisi pembelajaran secara kontinyu dan
berkesinambungan maka dapat meningkatkan kompetensi Guru. Sebab kepala
sekolah/madrasah sebagai supervisor menunjukkan adanya perbaikan
pengajaran pada sekolah yang dipimpinnya. Perbaikan ini tampak setelah
dilakukan sentuhan supervisor berupa bantuan mengatasi kesulitan guru
dalam proses pembelajaran. Maka guru akan menyadari adanya kelemahan
dan kekurangannya yang dimilikinya sehingga secara terus menerus akan
mengembangkan dan meningkatkan kompetensi profesional.
G. Kajian Hasil Penelitian terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji kompetensi profesional
guru dengan beragam variabel bebasnya. Penelitian yang dilakukan M.
Asyhari dengan judul Supervisi Akademik Pengawas Madrasah Tsanawiyah
di Kabupaten Jepara menyimpulkan bahwa kinerja bidang akademik dapat
tergambar dengan jelas dalam kinerja guru, karena gurulah yang melakukan
aktifitas secara langsung bersama siswa dalam proses pembelajaran. Dalam
melaksanakan tugasnya guru perlu mendapatkan motivasi, arahan, bimbingan,
60

dan pembinaan melalui supervisi akademik baik dari kepala madrasah
maupun pengawas untuk meningkatkan kinerja guru yang pada akhirnya akan
meningkatkan kinerja guru yang bermuara pada peningkatan kompetensi
kemampuan profesional guru.
46

Ibrahim Bafadal, mengungkapkan pendapat Glikman mengenai
supervisi pengajaran disebutkan bahwa supervisi pengajaran akan
memberikan aplikasi khusus terhadap pengajaran profesi guru, maksudnya
supervisi pengajaran akan mampu membuat guru semakin profesional apabila
programnya mengembangkan dua demensi persyaratan profesional yaitu
demensi kemampuan kerja guru dan dimensi motivasi kerja guru.
47

Penelitian tentang supervisi juga telah dilakukan oleh beberapa
peneliti sebelumnya. Siti Susanti dengan judul Pengaruh Supervisi Kepala
Sekolah terhadap kinerja guru di Guru di MTs As Salafiyah Mrisi Kecamatan
Tanggung Harjo Kab. Grobogan menyimpulkan bahwa ada pengaruh positif
antara supervisi kepala Sekolah dengan kinerja guru dimana kepala sekolah
sebagai pemimpin dari sebuah lembaga pendidikan juga berperan sebagai
supervisor yang bertugas untuk mengawasi, membantu dan mengarahkan para

46
M. Asyhari, Supervisi Akademik Pengawas Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten jepara
2009/2010 (Tesis), Semarang : IAIN Walisongo , 2011.
47
Ibrahim Bafadal, Supervisi Pengajaran Teori dan Aplikasinya Dalam Membina Profesional
Guru, Jakarta: Bumi Aksara, 1998, 10.
61

guru sehingga dapat menuju ke arah peningkatan kualitas guru yang lebih
baik.
48

Penelitian yang dilakukan Mardiyono dalam Supervisi Kunjungan
Kelas dan Etos Kerja Guru Hubungannya Dengan Kualitas Pengajaran Pada
SMU Negeri Kabupaten Demak. Hasil Penelitiannya menyimpulkan bahwa
terdapat hubungan supervisi kunjungan kelas dan etos kerja guru dengan
kualitas pengajaran. Semakin sering dilakukan kegiatan supervisi akademik
dilaksanakan secara profesional oleh kepala sekolah maka akan meningkatkan
kualitas pengajaran yang dilakukan guru.
49

Penelitian Puspowati dengan judul Hubungan Supervisi Kunjungan
Kelas oleh Kepala Sekolah dan Kompetensi Dengan Kinerja Guru SD Negeri
di Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang. Hasil penelitiannya
menegaskan bahwa ada hubungan yang signifikansi antara supervisi
kunjungan kelas yang dilakukan kepala Sekolah dengan kinerja guru di
kecamatan Semarang Barat. Supervisi kunjungan kelas dapat memacu guru
untuk meningkatkan pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, hasil kerja ataupun
prestasi kerja.
50


48
Siti Susanti,Pengaruh Supervisi Kepala sekolah terhadap kinerja guru di MTs Mrisi
Kecamatan Tanggung Harjo Kab,Grobogan Tahun 2009, (Skripsi) STAIN Salatiga, tahun 2010.
49
Mardiyono, Supervisi Kunjungan Kelasdan Etos Kerja Guru HubunganyaDengan Kualitas
Pengajaran Pada SMU Negeri Kabupaten Demak, (Tesis) DPS UNES,2011.
50
Puspowati,Musrini, Hubungan Supervisi Kunjungan Kelas oleh Kepala Sekolah dan
Kompetensi Dengan Kinerja Guru SD Negeri di Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang (Tesis)
DPS UNES,2003
62

Penelitian Iskandar Hasan yang dimuat dalam Jurnal Penelitian dan
pendidikan Volume 8 Nomor 1, Maret 2011 dengan judul Upaya
Meningkatkan Kompetensi guru MIPA Dalam Menyusun RPP Melalui
Supervisi Akademik Di SMP Negeri 15 Kota Goron talo. Hasil penelitiannya
menyimpulkan pelaksanaan supervisi akademik dapat meningkatkan
kompetensi guru dalam menyusun RPP sesuai standar. Semakin banyak
frekuensi supervisi Akademik semakin meningkat kompetensi guru dalam
menyusun RPP.
51

Dengan menjelaskan penelitian-penelitian tentang tema yang sejenis,
maka akan bisa dilihat perbedaan dan persamaannya dengan penelitian yang
akan dilakukan ini. Persamaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian
yang ditampilkan di atas adalah membahas tentang supervisi akademik dan
kompetensi profesional guru. Adapun yang membedakan penelitian ini
dengan karya ilmiah dan penelitian lainnya yang telah ada adalah bahwa
disamping lokasi penelitian, penulis berusaha untuk menjelaskan supervisi
pembelajaran kepala madrasah/sekolah dalam meningkatan kompetensi guru
(Studi Multi Kasus di Madrasah Tsanawiyah Negeri Salatiga dan di SMP
Islam Al-Azhar 18 Salatiga).



51
Iskandar Hasan,Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru MIPA Dalam Menyusun RPP
Melalui Supervisi Akademik Di SMP Negeri Gorontalo, Jurnal Penelitian dan Pendidikan, Volume
8, Nomor 1, Maret 2011, 20.
63




63

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Bogdan dan Taylor mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati.
1

Penelitian kualitatif bersifat generating theory bukan
hypothesistesting sehingga teori yang dihasilkan berupa teori subtantif
dan teori-teori yang diangkat dari dasar (grounded theory). Penelitin ini
termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini berusaha untuk
mendreskripsikan atau menggambarkan data-data yang telah diperoleh
dari lapangan maupun literatur kepustakaan yang berkaitan dengan
pembahasan.
2. Pendekatan Penelitian.
Mengingat hakekat permasalaan penelitian untuk mengungkap
suatu fenomena dasar bagi penentuan pendekatan yang akan digunakan
dalam suatu penelitian, maka penelitian ini mengunakan pendekatan
kualitatif fenomenologis. Data yang diugkap berbentuk kata-kata,

1
Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007, 4.
64

kalimat-kalimat, paragraf-paragraf, dokumen-dokumen dan bukan berupa
angka-angka.
Penelitian ini menggunakan rancangan studi multi kasus, karena
penelitian ini meneliti dua atau lebih subyek, latar atau tempat
penyimpanan data. Subyek penelitian ini lebih dari satu, karenanya sesuai
dengan saran Bogdan, peneliti menggunakan jenis studi multi kasus.
Studi multi kasus berusaha mengkaji beberapa subyek tertentu dan
membandingkan atau mempertentangkan beberapa subyek tersebut.
Perbandingan tersebut mencakup persamaan dan perbedaan. Aturan
umumnya subyek yang diperbandingkan harus sejenis dan sebanding.
2

Untuk itu peneliti mengambil subyek sekolah/madrasah yang sama-sama
status sekolah/mardasah terakreditasi A.
Kasus yang diteliti adalah kepala sekolah/madrasah sebagai
supervisor pembelajaran untuk mengetahui supervisi pembelajaran kepala
madrasah/sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru.
Alasan peneliti memilih lokasi di MTs Negeri dan SMP Islam Al-
Azhar 18 kota Salatiga adalah secara akademik status akreditasi ke dua
sekolah/madrasah tersebut nilai A.
Disamping itu salah satu madrasah negeri di kota salatiga yang
telah mendapatkan kepercayaan masyarakat adalah MTs Negeri Salatiga
setiap tahun kelulusannya 100% dan secara akademik dalam UN ada

2
Abdul Wahab, Menulis Karya Ilmiyah, Surabaya: Airlangga University Press, 1999, 92.
65

siswa yang mendapat nilai matematika 10 ada 6 siswa tahun ajaran
2012/1013.
Selanjutnya salah satu sekolah swasta yang dikelola oleh yayasan
Islam adalah SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga telah mendapat
kepercayaan masyarakat. Ini terbukti dalam penerimaan siswa baru
banyak orang tua siswa berbondong-bondong untuk mendaftarkan ke
sekolah walaupun secara aturan belum dibuka untuk pendaftaran.
Disamping itu kelulusannya tahun ajaran 2012/2013 lulus 100%.

3. Sumber Data
Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data
sekunder. Data primer yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari
kepala MTs Negeri Kota Salatiga dan kepala sekolah SMP Al-Azhar 18
Salatiga yang merupakan sebagai subyek dalam penelitian. Selain dari
sumber tersebut penulis juga mengambil data dari kegiatan atau aktifitas
pembelajaran dalam kesehariannya yang dilaksanakan di
Madrasah/Sekolah.
Data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan
data kepada pengumpul data, misalnya dalam hal ini melalui wakil
kepala, guru-guru, kepala TU dan staf serta dokumen yang terkait dengan
penelitian. Semua itu untuk menjelaskan supervisi pembelajaran kepala
66

madrasah/sekolah dalam meningkatkan kompetensi guru MTs Negeri
Salatiga dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga.

4. Teknik Pengumpulan data
a. Tehnik Observasi
Dalam proses pengumpulan data penulis menggunakan teknik
observasi yaitu pengamatan dan pencatatan dengan sistematik tentang
fenomenafenomena yang diselidiki secara sistematik.
3
Dalam hal ini
observasi dilakukan dalam penelitian ini meneliti tentang gambaran lokasi
penelitian, aktivitas kepala madrasah/sekolah, dan aktivitas guru MTs
Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Kota Salatiga.
b. Teknik Wawancara
Dalam penelitian ini, penulis memilih bentuk wawancara semi
terstruktur, dilakukan secara terang-terangan (overted interview) dan
menempatkan responden sebagai sejawat (viewing one another as peers).
Alasan penulis menggunakan teknik wawancara semi terstruktur adalah
untuk memberikan kesempatan kepada seseorang atau responden untuk
menyatakan dan menangkap pernyataan secara mendetail.
Yang menjadi informan dalam penelitian ini terdiri dari (1). Kepala
mdrasah/sekolah, (2) Wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan, (3)

3
Sutrisno Hadi, MetodologiResearch, Jilid II, Yogyakarta:Penerbit,1987,.36
67

Guru MTs Negeri dan Guru SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga. Hal yang
ditanyakan dalam wawancara ini adalah :
1) Bagaimanakah pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah di
MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Kota Salatiga?
2) Bagaimanakah pelaksanaan supervisi oleh kepala sekolah ditinjau
dari teori-teori supervisi?
3) Bagaimanakah dampak supervisi terhadap pengembangan
profesionalisme guru?
4) Bagaimanakah perbedaan pelaksanaan dan dampak supervisi di
MTs dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga?
c. Teknik Dokumentasi
Teknik ini dikenal dengan penelitian dokumentasi
(dokumentation research) yang mencari data melalui beberapa arsip
dan dokumen sejarah madrasah/sekolah, raport, surat kabar, majalah,
jurnal, buku dan bebnda-benda tulis lainnya yang relevan.
4

Dalam penelitian ini metode dokumentasi untuk
mengumpulkan data tentang profil MTs Negeri dan SMP Islam Al-
Azhar 18 di Kota Salatiga dan data supervisi pembelajaran kepala
madrasah/sekolah.



4
Suharsini Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan,Jakarta:Rineka Cipta,1993,.200
68

5. Validitas Data
Setelah seluruh data yang dibutuhkan berhasil dikumpulkan,
langkah selanjutnya adalah melakukan proses verifikasi data supaya data
yang ada dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Menurut J.
Moleong dalam penelitian kualitatif terdapat empat kreteria yang dapat
digunakan dalam uji validitas data yaitu berkaitan dengan derajat
kepercayaan (credebility) keteralihan (transferability), ketergantungan
(dependability) dan kepastian (confirmability).
5

Data tersebut diuji keabsahan dengan triangulasi data,
6
untuk
mengetahui sejauhmana temuan-temuan dilapangan benar-benar
representatif untuk dijadikan pedoman analisis dan juga untuk
mendapatkan informasi yang luas tentang perspektif penelitin.
Teknik yang digunakan dalam triangulasi adalah dengan
menggunakan banyak sumber untuk satu data yaitu membandingkan
antara hasil wawancara dengan hasil observasi antara ucapan informan di
depan umum dengan ucapan ketika informan sendirian (secara informal)
Dan antara hasil wawancara dengan data yang ada pada dokumen. Juga
dilakukan chek-richek, konsultasi dengan kepala madrasah/madrasah,
guru dan sumber-sumber data yang terkait.

5
Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000,
173.
6
Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000,
177..
69

6. Analisis Data
Dalam hal ini ada empat tahap penting yang sangat berkaitan
terkait dengan analisa data, yaitu pengumpulan data, reduksi data,
penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi.
Agar lebih jelas proses kegiatan dari analisis tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut:
Data collection

Data reduction Data display


Conclusions: drawing/verifying

Gambar 3.1. Komponen dalam analisis data (interactive model).
7





7
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R &D, Bandung: Alfabeta, 2011,
247.
70

Teknik analisisa data model interaktif dalam penelitian ini dijelaskan
sebagaimana langkah-langkah berikut :
a. Pengumpulan Data
Kegiatan pengumpulan dilakukan sejak peneliti memasuki
lokasi penelitian sampai semua data yang diperlukan terkumpul.
Pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara, observasi
partisipan dan dokumen.
b. Reduksi Data
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengidentifikasi
data dan mengkode data. Dalam mengkodean data digunakan tiga
kolom terdiri dari nomor aspek pengkodean dan kode. Untuk lebih
jelas perhatikan tabel berikut :

Tabel 3.1.
Pengkodean

No Aspek Pengkodean Kode


1
Teknik Pengumpulan Data
a.Wawancara Ww
b.Observasi Obs
c.Dokumen Dok


2
Sumber Data
a.Kepala Sekolah K.S
b.Kepala TU K. TU
c.Wakil Kepala Waka
d.Guru G


Fokus Penelitian
a.Pelaksanaan Supervisi oleh kepala sekolah F1
71

3

b.Pelaksanaan Supervisi oleh kepala sekolah
ditinjau dari teori-teori supervisi
F2
c.Dampak supervisi terhadap pengembangan
profesional guru
F3
d.Perbedaan pelaksanaan dan dampak
supervisi di MTs Negeri dan SMP Islam Al-
Azhar 18 Salatiga
F4

c. Penyajian Data
Pada tahap ini adalah mengorganisasikan data yang sudah
direduksi. Data tersebut mula-mula disajikan secara terpisah antara
satu tahap dengan tahapan yang lain, tetapi setelah kategori
terakhir direduksi. Maka keseluruhan data dirangkum dan
disajikan secara terpadu.

d. Kesimpulan dan Verifikasi
Pada tahap ini dapat diketehui arti dari data yang telah
diperoleh baik melalui wawancara, observasi maupun
dokumentasi. Kesimpulan akhir diharapkan dapat diperoleh setelah
pengumpulan data selesai.
Menurut Yin, analisis data dalam studi multi kasus dapat
dilakukan dengan dua tahap, yaitu analisis kasus individu
(individual cases analisys), dan analisis lintas kasus (cross cases
analisys). Adapun penjelasannya sebagai berikut:



72

1) Analisis Data Kasus Individu
Langkah-langkah analisis data kasus individu dapat
digambarkan dalam skema brikut:














Gambar 3. 2. Langkah-langkah Analisis data kasus Individu
8



8
Robert K. Yin, Studi Kasus: Desain dan Metodologi, penerjemah. M Djauzi Mundakir
Jakarta: PT Raja Grafindo, 2006, 61.
Kasus Individu
Mts Negeri
Kasus inividu SMP
Islam Al-azhar 18
Analisis dan
Pembahasan
Linas Kasus
Menganalisa
secara induktif
konseptual
Menganalisa secara
induktif konseptual

Menyusun
preposisi sebagai
temuan konseptual
Menyusun preposisi
sebagai temuan
konseptual

Menyusun Temuan
Teori Substansif
Kasus individu 1
Menyusun Temuan
Teori Substansif
Kasus individu 2

Membandingkan dan
Memadukan kasus
Individu 1 dan 2
73

Dari langkah-langkah tersebut dapat dipahami bahwa setelah
peneliti menganalisa temuantemuan penelitian dari masing-masing
kasus individu dilanjutkan dengan memadukan kedua kasus tersebut.
Perpaduan kasus tersebut kemudian dianalisis melalui langkah-
langkah analisis data lintas kasus.
2) Analisis Data Lintas Kasus
Analisis data lintas kasus dimaksudkan proses membandingkan
temuan-temuan yang diperoleh dari masing-masing kasus, sekaligus
sebagain proses memadukannya. Adapun langka-langkah dapat dilihat
pada skema berikut:

Membandingkan dan Menyusun pernyataan konseptual
memadukan temuan kedua kasus multi kasus


Rekontruksi Ulang Evaluasi kesesuaian
pernyataan sesuai fakta pernyataan dengan
dan masing-masing kasus fakta yang diacu

Gambar 3. 3. Langkah-langkah Analisis Data Lintas Kasus
9



Dari skema diatas dapat diketahui bahwa langkah-langkah
dalam analisis lintas kasus yang pertama adalah peneliti melakukan

9
Robert K. Yin, Studi Kasus: Desain dan Metodologi, penerjemah. M Djauzi Mundakir
Jakarta: PT Raja Grafindo, 2006, 61.
74

perbandingan dan memadukan temuan konseptual dari masing-masing
kasus individu, baik di MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga terkait supervisi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala
sekolah/madrasah. Kemudian membandingkan dan memadukan
tersebut dijadikan dasar untuk menyususn pernyataan konseptual multi
kasus. Langkah selanjutnya adalah mengevalusai kesesuaiaan
pernyataan (proposisi) tersebut dengan fakta yang diacu. Langkah
terakhir merekonstruksi ulang pernyataan-pernyataan tersebut sesuai
dengan fakta dari masing-masing kasus individu. Mengulangi proses
ini sampai sebagaimana diperlukan oleh peneliti dan sekaligus
menganalisis pada saat pembuatan laporan
7. Pengecekan Keabsahan data
Dalam pengecekan data teknik pemeriksaan, pelaksanaan teknik
pemeriksaan didasarkan atas kreteria tertentu. Peneliti menggunakan 4
kreteria diantaranya sebagai berikut:
a. Kredibilitas
Kreteria kredibilitas data digunakan untuk menjamin bahwa
data yang dikumpulkan peneliti mengandung nilai kebenaran, baik
bagi pembaca pada umumnya maupun subyek penelitian. Untuk
menjamin kesahihan data, ada lima teknik pencapaian kredibilitas
75

data, perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, pemeriksaan
sejawat melalui diskusi, dan pengecekan anggota.
Agar diperoleh temuan-temuan yang dapat dijamin tingkat
ketercapaiannya, maka peneliti berupaya dengan menempuh cara yang
disarankan oleh Lincoln dan Guba dan Moleong, sebagai berikut:
1) Perpanjanagan waktu penelitian. Cara ini dilakukan oleh
peneliti dengan maksud untuk menyakinkan bahwa temuan
yang diperoleh benar-benar telah memiliki tingkat
kepercayaan yang tinggi.
2) Melakukan observasi secara tekun (ketekunan pengamatan)
Cara ini dilakuakan oleh peneliti secara terus-menerus
terhadap subyek untuk mempertajam dan memperdalam
pemahaman peneliti tentang data yang diperoleh melalui
peristiwa yang terjadi. Observasi penelti lakukan
bersamaaan dengan pengumpulan data melalui wawancara
dengan mengamati kinerja kepala sekolah/madrasah dalam
melaksakan supervisi pembelajaan di dua situs terteliti.
3) Pengujian melalui trianggulasi. Cara ini dilakukan oleh
peneliti sebagai upaya untuk membandingkan dan
mengecek derajat kepercayaan temuan melalui trianggulasi
sumber. Trianggulasi sumber peneliti lakukan dengan
membandingkan temuan-temuan yang diperoleh dalam
76

penelitian ini dari berbagai sumber untuk permasalahn
sejenis melalui informan yang satu dengan informan
lainnya tentang superisi pembelajaran. Misalnya dari
kepala sekolah/madrasah ke wakil kepala, dari guru yang
satu ke guru yang lain dan sebagainaya.Atau juga melalui
pengecekan balik dari metode yang berbeda seperti hasil
observasi dibandingkan atau dicek dengan hasil wawancara
kemudian dicek lagi melalui dokumen mengenai supervisi
pembelajatan kepala sekolah/madrasah.
4) Pengecekan anggota/member chek. Cara ini dilakukan oleh
peneliti dengan mendatangi setiap informan untuk
memeriksa secara bersama temuan yang telah dirumuskan
guna menyamakan persepsi terhadap temuan yang
diperoleh. Kegiatan yang dilakukan peneliti adalah
mendatangi setiap informan kunci dengan maksud
mendiskusikan temuan-temuan yang diperoleh dalam
penelitian mengenai supervisi pembelajaran. Hasil diskusi
antara peneliti dengan informan kunci menyepakati bahwa
temuan yang kurang dan tidak valid dibuang.
5) Diskusi dengan teman sejawat/peer debriefing. Cara ini
dilakuakan oleh peneliti dengan maksud untuk
mendapatkan kesamaan pendapat dan penafsiran mengenai
77

temuan-temuan yang diperoleh melalui penelitian ini yaitu
kepala sekolah/mardasah sebagai supervisor pembelajaran.
Kegiatan yang dilakuakan peneliti adalah mendatangi
teman-teman program studi maupun dilur program stud
untuk berdiskusi tentang hasil-hasil penelitian.
b. Transferabilitas
Transferabilitas atau keteralihan dalam penelitian kualitatif
dapat dicapai dengan cara uraian rinci. Untuk kepentingan ini peneliti
berusaha melaporkan hasil penelitiannya secara rinci. Uraian rinci
diusahakan untuk mengungkap secara khusus segala sesuatu yang
diperlukan oleh peneliti agar para pembaca dapat memahami temuan-
temuan yang diperoleh. Penemuan itu sendiri bukan bagian dari uraian
rinci melainkan penafsiran yang diuraiakan secara rinci dan penuh
tanggung jawab berdasarkan kejadian-kejadian nyata. Dalam hal ini
peneliti menguraikan temuan tiap sub fokus secara rinnci mulai dari
temuan berupa pelaksanaan supervisi pembelajaran yang ada di dua
lokasi
c. Dependabilitas (ketergantungan)
Pemeriksaan kualitas proses penelitian. Cara ini dilakukan oleh
peneliti dengan maksud untuk mengetahui sejauhmana kualitas
penelitian yang dikerjakan oleh peneliti mulai dari
mengkonseptualisasi penelitian, menjaring data penelitian,
78

menjelaskan interprestasi temuan-temuan penelitian hingga pada
pelaporan hasil penelitian. Mereka yang ikut membimbing adalah
Prof.Dr. Budihardjo, M.Ag dan Dr. Rahmat Hariyadi M.Pd.
d. Konfirmabilitas
Pemeriksaan hasil penelitian. Cara ini dilakukan oleh peneliti untuk
melihat tingkat kesesuaian antara temuan-temuan dengan data yang
telah terkumpul sebagai pendukung. Jika hasilnya menunjukkan ada
kesesuaian maka dengan sendirinya temua-temuan tersebut dapat
diterima, namun jika ternyata tidak ada kesesuaian, maka temuan
tersebut dengan sendirinya gugur. Konsekuensinya adalah peneliti
harus turun lapangan untuk memperoleh data yang sesungguhnya.
Kegiatan yang dilakukan peneliti adalah memeriksa kembali data
lapangan baik catatan maupun data yang telah direduksi, kemudian
mencocokkan data tersebut dengan temuan-temuan yang telah
dirumuskan.






79

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Profil Madrasah Tsanawiyah Negeri Salatiga
1. Sejarah Singkat Berdirinya Madrasah Tsanawiyah Negeri Salatiga
1

Sejarah berdirinya Madrasah Tsanawiyah Negeri Salatiga diawali
dengan adanya Keputusan Menteri Agama RI tanggal 16 Maret 1978 nomor:
16 Th.1978 tentang susunan orgnisasi dan tata kerja Madrasah Tsanawiyah
Negeri, maka Sejak Tahun Pelajaran 1978/1979 tepatnya tanggal 1 Januari
1978 PGAN 6 Th Salatiga diubah menjadi :
a. MTs N Salatiga, dengan siswa kelas I,II, III PGAN 6 Th.
b. PGAN Salatiga dengan siswa kelas IV, V VI PGAN 6

Th.
Pada saat awal perubahan tersebut hingga tanggal 1 Januari 1980, Kepala MTs
Negeri dan PGAN Salatiga masih dirangkap oleh Bapak Sofwan Achmadi,
BA.
Sebagai tindak lanjut, maka berdasarkan SK Kepala Kantor Wilayah
Departemen Agama Propinsi Jawa Tengah tanggal 28 Januari 1980 nomor :
WK/I.b/93/a/1980, terhitung mulai tanggal 1 Januari 1980 Bapak Endro
Parwono diangkat sebagai Kepala MTs N Salatiga. Meskipun MTs N dan
PGAN Salatiga secara resmi telah berpisah statusnya, dan masing-masing

1
Wawancara dengan Sofiah, dan Kepala MTs serta Study Dokumentasi MTs Negeri
Salatiga tgl 16 Juli 2013.
80

sudah memiliki kepala Madrasah, namun kedua sekolah ini masih dalam satu
atap yang berlokasi di Jl. KH. Wahid Hasyim No. 12 Salatiga, hal itu
berlangsung sejak tahun 1980 s/d 1986 . Pada Tahun Pelajaran 1986/1987
MTs N Salatiga sudah memiliki dan menenmpati gedung baru dengan alamat
Jl. Tegalrejo 01 Salatiga.
Sejak berdirinya MTs N Salatiga sampai sekarang mengalami
periodesasi dan pergantian kepala sekolah di MTs N Salatiga adalah sebagai
berikut :
1) Endro Parwono dari tahun 1980 s/d 1993.
2) Drs. H. Istichsan dari tahun 1993 s/d 1998.
3) Drs. H. Mustaidz dari tahun 1998 s/d 2003
4) Drs. H. Sukron dari tahun 2003 s/d 2005
5) Drs. H. Asroni M.Ag dari tahun 2005 s/d 2011
6) Dra, Hj. Zayinatun, M.Pd dari tahun 2011 s/d sekarang.
2. Lokasi
MTs Negeri Salatiga terletak di Jl Tegal Rejo I Kelurahan Tegalrejo
Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga. Suasana di lokasi ini sangat nyaman
untuk belajar karena tempatnya tidak di depan jalan raya utama. Tempatnya
juga sangat strategis karena akses jalan bisa dilewati berbagai kendaraan baik
roda dua dan roda empat.
81

Keberadaan MTs N Salatiga ditandai adanya papan nama di depan
sekolah untuk memudahkan seseorang untuk menunjukannya. Madrasah ini
sangat dikenal masyarat Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang.
3. Visi, Misi dan Tujuan MTs N Salatiga.
a. Visi Madrasah
Unggul Dalam Prestasi Berpijak Pada Budaaya Bangsa Dan
Nilai-Nilai Islami
b. Misi Madrasah
1) Menyelenggarakan pendidikan yang profesional dan
bertanggung jawab.
2) Meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan akhlaqul karimah.
3) Meningkatkan kualitas pendidikan.
4) Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang handal dan
berkemampuan.
5) Memberikan bekal life skill pada siswa.
6) Meningkatkan sarana prasarana pendidikan.
7) Menjalin kerjasama yang baik, diantaranya: stake holder,
instansi lain dan masyarakat.
c. Tujuan Penyelenggaraan Pendidikan
1) Mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang Maha esa, berakhlak
82

mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
2) Memberikan kemampuan, ketrampilan bagi lulusan untuk
melanjutkan pendidikan dan hidup dalam masyarakat.
3) Menyiapkan peserta didik menuju masyarakat belajar pada
masa yang akan datang.
4) Menyiapkan lulusan agar menjadi anggota masyarakat yang
memahami dan menginternalisasi perangkat gagasan dan nilai
nilai masyarakat berada
d. Keadaan Madrasah
1. Ruang Belajar
Perkembangan MTs N Salatiga dari waktu ke waktu mengalami
perkembangan yang cukup signifikan, hal ini bisa dilihat dari data yang ada
di buku Profil Madrasah yaitu pada tahun pelajaran 1980/1981 jumlah
siswa 268 yang terdidri dari kelas I berjumlah 126 siswa, kelas II
berjumlah 72 siswa dan kelas III berjumlah 70 siswa. Jumlah ruangan kelas
sebanyak 9 ruang, terdiri dari kelas I berjumlah 5 ruang, kelas II berjumlah
2 ruang dan kelas III berjumlah 2 ruang. Perkembangan selanjutnya di
Tahun Pelajaran 2012/2013 jumlah siswa 803 yang terdiri dari kelas VII
berjumlah 268 siswa, kelas VIII berjumlah 277 siswa dan kelas IX
berjumlah 261 siswa. Jumlah ruangan kelas sebanyak 23 ruang terdiri dari
kelas VII sebanyak 8 ruang, kelas VIII sebanyak 7 ruang dan kelas IX
83

sebanyak 8 ruang. Perkembangan selanjutnya di tahun ajaran 2013/2014
meningkat menjadi 24 ruangan kelas.
2. Ruang Penunjang
Satu ruang Kepala Madrasah, 1 ruang wakil kepala madrasah dan
ruang BK, 1 ruang guru, 1 buah ruang tata usaha dan keuangan serta ruang
arsip, 1 buah ruang Komputer, 1 buah ruang laboratorium bahasa, 1 buah
ruang Perpustakaan, 1 ruang Lab IPA, 1 buah ruang kesenian, 1 buah ruang
OSIS, 1 buah ruang dapur, 1 buah ruang gudang, 1 buah ruang Unit
Kesehatan Sekolah, 1 buah ruang koperasi dan 1 buah ruang kantin, 1 buah
mushola, serta satu buah aula pertemuan.
3. Identitas Madrasah
a. Nama Madrasah : MTs. Negeri Salatiga
b. No Statistik : 211337301001
c. Akreditasi : A
d. Alamat : Jl. Tegalrejo I Salatiga Kota Salatiga
e. NPWP Madrasah : 00.003. 394.4-505.000
f. Nama Kepala : Dra. Hj. Zayinatun, M Pd
g. No Telp/Hp : 081325178605
h. Kepemilikan Tanah : Pemerintah. Luas tanah 6270 m2
i. Status Bangunan : Pemerintah
j. Luas Bangunan : 2561 m2

84

4. Personil Sekolah
a. Tenaga Pendidik
Tabel 4.1.
Data Tenaga Pendidik

No.
Tingkat Pendidikan
Jumlah dan Status Guru
Jumlah
GT/PNS GTT/Guru Bantu
1. S3/S2 2 - 2
2. S1 40 - 40
3. D-4 - - -
4. D3/Sarmud - 1 1
5. D2 - - -
6. D1 - - -
7. SMA/sederajat - - -
Jumlah 42 1 43

b. Data Tenaga Kependidikan
Tabel 4.2.
Data Tenaga Kependidikan
Jenis
Pegawai
Jml
Status Pendidikan Terakhir
PNS Non
PNS
SMP SLT
A
D1 D2 S1/
S2

Pegawai
TU

11

4

7

-

5

1

1

4



85

c. Peserta Didik
Tabel 4.3.
Data Peserta Didik

Kelas Jml. Kelas Jml. Siswa
Jenis Kelamin
Laki-laki Wanita
VII 7 271 166 145
VIII 7 252 122 130
IX 7 256 132 124
Jumlah 21 779 380 399


d. Prestasi Madrasah.
Tabel 4.4.
Prestasi Bidang Akademik

No Kejuaraan Tahun
1 Smart Englis Competition juara 3 tingkat Kota Salatiga 2012
2 Olimpiade Pasiat (Matematika) juara 5 tingkat perovinsi
Jawa Tengah
2012



86

Tabel 4.5.
Prestasi Bidang Non Akademik

No

Kejuaraan

Tahun
1 Lari 400 m Pi juara 1 tingkat Kota Salatiga 2012
2 Lari 100 m Pi juara 2 tingkat kota Salatiga 2012
3 Sepak Takraw Pi juara 3 tingkat kota Salatiga 2012
4 Pencak silat Pa juara 2 tingkat kota salatiga 2012
5 Pencat Silat Pi juara 2 tingkat kota Salatiga 2012
6 Pencak silat kelas G Putra 1 juara 1 kota dan kabupaten 2012
7 Pencak silat kelas G Putra 1 juara 1 kota dan kabupaten 2012
8 Pencak silat kelas F Putri juara 3 tingkat kota dan
kabupaten
2012
9 Pencak silat kelas L juara 3 tinglkat kota dan kabupaten 2012
10 Pencak silat kelas F putri juara 3 tingkat kota dan
kabupaten
2012
11 Pencak silat Putri juara 2 tngkat karesidenan 2012
12 Pencak silat Putra juara 3 tingkat karesidenan 2012
13 Gerak Jalan juara 3 tingkat kota 2012
14 Tajikuan / Wushu juara 1 tingkat provinsi jawa tengah 2012
15 Lari 400 m Putri juara 1 tingkat provinsi jateng 2012
87

16 Tartil putra juara 2 tingkat Kota 2012
17 Tahfidz juz 1 putri juara 2 tingkat kota 2012
18 Tahfidz juz 1 putri juara 2 tingkat kota 2012
19 MTQ putri juara 3 tingkat kota 2012
20 Tartil Putra juara 3 tingkat kota/kabupaten 2012
21 Tilawah putra juara 3 tingkat kota/kabupaten 2012
22 Tilawah putri juara 1 tingkat kota/kabupaten 2012
23 Pidato putri juara 3 tingkat kota 2012



B. Profil SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga

1. Sejarah Singkat berdirinya SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga.
2


Pada tahun 1997 SMP Islam Al-Azhar 18, awalnya adalah
bertempat di Jl Diponegoro Salatiga merupakan embrio dari SD Al-
Azhar 22 Salatiga dan waktu itu juga SMP Islam Al-azhar 18 telah berdiri
sekolah yang menjadi satu tempat dengan SD Al-Azhar 22. Untuk
pelaksanaan pembelajaran bertempat dilantai dua yaitu untuk pelaksanaan
proses pembelajaran SD Al-Azhar 22 dilantai II dan untuk proses
pembelajaran SMP Al-Azhar 18 bertempat dilantai I. Waktu itu kepala
sekolahnya dirangkap oleh Dwi Nurhidayat, SP d.

2
Wawancara dengan guru senior Sabilah Rosyad dan kepala sekolah serta studi
dokumentsai tanggal 17 Juli 2013
88

Perkembangan selanjutnya masyarakat sangat minat terhadap
SMP Islam Al Azhar 18 Salatiga sebagai salah satu sekolah yang menjadi
tumpuan masyarakat sekitar, maka ada peningkatan jumlah siswa yang
disertai dengan peningkatan mutu pendidikan.
Pada Tahun Pelajaran 2004 SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga
sudah memiliki dan menempati gedung baru yang terletak di Desa
Bancaan, Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga yang diresmikan Bapak Fuad
Bawazir dari Jakarta.
Sejak berdirinya SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga sampai sekarang
mengalami periodesasi dan pergantian kepala sekolah SMP Islam Al-
Azhar18 Salatiga adalah sebagai berikut :
a. Dwi Nurhidayat, S. Pd dari tahun 2004 s/d 2005.
b. Joko Susilo M.Pd dari tahun 2005 s/d 2013.
c. M. Adam Widiyanto S. Si. dari tahun 2013 s/d sekarang.
Perlu diketahui bahwa di SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga jika
ada pergantian kepala sekolah maka tidak langsung dilantik menjadi
Kepala Sekolah tapi dilantik Menjadi Plt Kepala Sekolah terlebih dahulu,
tidak langsung menjadi Kepala Sekolah dan harus menunggu beberapa
bulan untuk menunggu dari yayasan untuk pelantikan Kepala Sekolah.
89

Maka dengan demikian sampai saat ini walaupun menjadi kepala sekolah
akan tetapi kedudukannya sebagai Plt mulai tanggal 27 Juni 2013.
3

2. Lokasi.
4

Lokasi SMP Islam Al-Azhar 18 terletak di Jalan Siranda Raya
Bancaan Kota Salatiga. Kondisi geografis SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga sangat strategis karena berada dalam wilayah pengembangan dan
pembangunan Kota Salatiga, akses jalan yang mudah dan dekat dengan
pusat kota Salatiga, serta luas tanah yang cukup memadai (1744 m
2
) dan
dengan gedung berlantai tiga denga luas 1.056 m
2
merupakan modal bagi
pengembangan sekolah; kondisi demografis sekolah yang terletak di
lingkungan masyarakat yang heterogen, pondok pesantren, dan perumahan
penduduk serta alam pedesaan. Hal itu merupakan faktor pendukung
untuk kenyamanan penyelenggaraan pendidikan dan keamanan sekolah
berjalan relatif stabil; perkembangan globalisasi dan IPTEK cukup pesat;
dan jalinan kerjasama antara pihak sekolah dengan regulasi/kebijakan
pemerintah berjalan baik. Hal ini mutlak diperlukan oleh SMP Islam Al-
Azhar 18 Salatiga karena pendidikan sebagai basic need merupakan
tanggung jawab semua pihak.



3
Wawancara dengan Plt Kepala Sekolah Bapak Adam Widiyanto tgl 17 Juli 2013.
4
Wawancara dengan kepala sekolah dan dokumen KTSP tanggal 17 Juli 2013.
90

3. Visi, Misi dan Tujuan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga
a. Visi SMP Islam Al Azhar 18 Salatiga
Visi sekolah SMP Islam Al Azhar 18 Salatiga Mewujudkan
Insan Berkualitas Yang Beriman, Bertaqwa, Sehat Jiwa Raga,
Berwawasan Iptek dan lingkungan
Indikator-indikator visi yang mencerminkan profil dan cita-
cita sekolah sebagai berikut:
1) Terwujudnya nilai-nilai agama dan budaya bagi peserta didik
2) Terwujudnya pengembangan kurikulum
3) Terwujudnya pengembangan proses pembelajaran yang ideal
baik intra dan ekstrakurikuler
4) Terwujudnya prestasi akademik dan non akademik
5) Tewujudnya kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
yang profesional
6) Terwujudnya pengembangan fasilitas pendidikan
7) Terwujudnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang
sinergis
8) Terwujudnya penggalian sumber dana dan pengelolaan
keuangan
9) Terwujudnya sistem penilaian yang berkelanjutan
91

10) Terwujudnya lngkungan sekolah yang bersih, sehat, aman dan
nyaman
b. Misi SMP Islam Al Azhar 18 Salatiga
1) Mewujudkan nilai-nilai agama dan budaya bagi bekal hidup
peserta didik
2) Mewujudkan pengembangan kurikulum
3) Mewujudkan pengembangan proses pembelajaran yang ideal
baik intra dan ekstrakurikuler
4) Mewujudkan pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan
dinamis
5) Mewujudkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
yang profesional
6) Mewujudkan prestasi akademik dan non akademik
7) Mewujudkan pengembangan fasilitas pendidikan
8) Mewujudkan fasilitas sekolah yang relevan, mutakhir, dan
berwawasan ke depan
9) Mewujudkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang
sinergis
10) Mewujudkan penggalian sumber dana dan pengelolaan
keuangan
11) Mewujudkan sistem penilaian yang berkelanjutan
92

12) Mewujudkan lngkungan sekolah yang bersih, sehat, aman
dan nyaman
c. Tujuan Sekolah dalam 1 Tahun Kedepan
1) Terpenuhinya nilai-nilai agama bagi bekal hidup peserta
didik
2) Terpenuhinya pemetaan standar kompotensi, kompetensi
dasar, indikator, aspek penilaian untuk kelas 7, 8, dan 9
semua mata pelajaran
3) Terpenuhinya pengembangan proses pembelajaran yang
ideal baik intra dan ekstrakurikuler
4) Terpenuhinya pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan
dinamis
5) Terpenuhinya perangkat pembelajaran yang lengkap dan
mutakhir sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan
6) Terpenuhinya proses pembelajaran dengan menggunakan
variasi strategi, model dan metoda pembelajaran
7) Terpenuhinya kompetensi pendidik yang profesional
8) Terpenuhinya tenaga kependidikan yang profesional dan
memiliki kemampuan teknis pembelajaran sesuai standar
nasional tenaga kependidikan
93

9) Terpenuhinya tenaga pendidik berkualifikasi S1, mengajar
sesuai bidangnya.
10) Terpenuhinya ketuntasan belajar 100%
11) Terpenuhinya rata-rata nilai ujian nasional meningkat 0,10
12) Terpenuhinya kelulusan 100 % dan lulusan yang tinggi dan
bermutu
13) Terpenuhinya prestasi akademik yang ditunjukkan oleh hasil
ujian, ulangan harian, ulangan akhir semester, dan ulangan
kenaikan kelas.
14) Terpenuhinya prestasi non akademik yang ditunjukkan oleh
hasil kejuaraan di bidang keagamaan, kesenian, olah raga,
dan keterampilan di tingkat kota maupun tingkat provinsi.
15) Terpenuhinya bahan dan media pembelajaran yang sesuai
standar nasional pendidikan
16) Terpenuhinya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang
sinergis
17) Terpenuhinya pelaksanaan manajemen sekolah berlandaskan
MBS secara utuh dan menyeluruh.
18) Terpenuhinya pengelolaan kelembagaan berlandaskan
ekonomi, kemandirian, transparansi dan akuntabilitas.
19) Terpenuhinya tingkat hubungan kerjasama dengan
stakesholders secara mantap dan berkesinambungan
94

20) Terpenuhinya tingkat kinerja yang sesuai dengan standar
nasional pendidikan
21) Terpenuhinya kemampuan melakukan monitoring, supervisi,
dan evaluasi sesuai standar nasional pendidikan
22) Terpenuhinya sistem informasi akademik internal sesuai
standar nasional pendidikan
23) Terpenuhinya penggalian sumber dana dan pengelolaan
keuangan
24) Terpenuhinya standar pengelolaan pembiayaan dalam hal
teknis pengelolaan maupun penggalian sumber dana
25) Terpenuhinya sistem penilaian yang berkelanjutan Sekolah
mencapai standar pengembangan model evaluasi
pembelajaran
26) Terpenuhinya standar pedoman, model dan perangkat soal-
soal penilaian untuk berbagai evaluasi
27) Terpenuhinya standar pelaksanaan kegiatan remedial, dan
pengayaan untuk peningkatan standar nilai
28) Terpenuhinya nilai-nilai budaya untuk kehidupan berbangsa
dan bernegara
29) Terpenuhinya sekolah bersih, sehat, aman dan nyaman
30) Terpenuhinya keterampilan yang marketable dan kompetitif

95

d. Keadaan Sekolah
SMP Islam Al Azhar 18 Salatiga didirikan pada tahun 2004 yang
merupakan yayasan kerja sama antara Yayasan Pesantren Luhur Salatiga
dengan Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar, kondisi ini menuntut adanya
penyesuaian antara kurikulum sekolah secara umum dengan kurikulum
kealazharan. Sehingga dalam penyusunan kalender pendidikan, mata
pelajaran sampai pada sarana dan prasana pendukung pendidikan perlu
mempertimbangkan berbagai hal agar terjadi kesesuaian.
Gedung SMP Islam Al Azhar mulai dibangun pada tahun 2004 yang
terletak di Desa Bancaan, Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga. Bangunan
yang ada di SMP Islam Al Azhar 18 Salatiga terdiri dari :
1. Ruang Belajar
Ruang kelas belajar sebanyak 9 buah, Kondisi ruang kelas masih
cukup baik namun masih perlu mendapat perbaikan tergolong kategori
rehabilitasi sedang.
Jumlah rombongan belajar pada tahun pelajaran 2012/2013 sebanyak 9
rombel dengan jumlah murid sebanyak 241 siswa,dengan jumlah 9 ruang
kelas. Jumlah murid tahun pelajaran 2012/2013 mengalami peningkatan
sebanyak 10,2 %. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi SMP Islam Al zhar
18 Salatiga semakin dipercaya masyarakat.
Rasio ruang kelas dengan rombel adalah 9 : 9 atau 1 : 1
96

2. Ruang Penunjang
Satu ruang kantor Guru dan wakil kepala sekolah, satu ruang Kepala
Sekolah, 1 buah ruang tata usaha dan keuangan,1 buah ruang arsip, 1 buah
ruang Komputer, 1 buah ruang laboratorium bahasa, 1 buah ruang
Perpustakaan, 1 ruang Lab IPA, 1 buah ruang bimbingan konseling, 1 buah
ruang kesenian, 1 buah ruang OSIS, 1 buah ruang dapur, 1 buah ruang
gudang, 1 buah ruang Unit Kesehatan Sekolah dan 1 buah ruang kantin, 1
buah mushola, serta satu buah aula pertemuan. Kebutuhan Ruang
penunjang pembelajaran untuk laboratorium komputer masih memerlukan
perbaikan sedang dikarenakan kurangnya sarana AC sebagai pemeliharaan
pendukung dalam perangkat keras komputer.

3. Identitas Sekolah
a. Tahun Pelajaran : 2012/2013
b Sekolah
1) Nama Sekolah : SMP Islam Al Azhar 18 Salatiga
2) NIS/NPSN : 200220 / 20328443
3) NSS : 202036204026
4) Status Sekolah : Swasta
5) Akreditasi : B ( 2007 ) dan A ( 2011 )
6) Alamat Sekolah : Jl. Siranda Raya Bancaan Salatiga
Telp. / Fax. (0298) 326828
97

7) Kelurahan : Sidorejo Lor Salatiga
8) Kecamatan : Sidorejo
9) Kota : Salatiga
10) Propinsi : Jawa Tengah )
11) Kode Pos : 50711
12) Tahun Berdiri : 2004
13) Kelompok Sekolah : Filiat ( Biasa )
14) Luas Bangunan : 1.056 M2 ( 3 lantai )

c. Kepala sekolah :
1) Nama Lengkap : Joko Susilo,M.Pd.
2) NIP : 19680210 200501 1 015
3) Pangkat dan Gol. : III C
4) Masa Kerja (Guru) : 18 Tahun
5) Masa Kerja (KepSek) : 7 Tahun 6 Bulan
6) Pendidikan terakhir : S2
7) Fakultas/Jurusan : PPKn
8) Alamat rumah : Jl. Veteran 42 Rt. 02 Rw. 01
Gendongan - Salatiga



98

e. Personil Sekolah
1) Tenaga Pendidik
Tabel 4.6.
Data Tenaga Pendidik

No.
Tingkat Pendidikan
Jumlah dan Status Guru
Jumlah GT/PNS GTT/Guru Bantu
L P L P
1. S3/S2 2 1 - - 3
2. S1 5 10 - - 15
3. D-4 - - - - -
4. D3/Sarmud - - - - -
5. D2 - - - - -
6. D1 - - - - -
7. SMA/sederajat - - -
Jumlah 7 11 - - 18

2) Data Tenaga Kependidikan
Tabel 4.7.
Data Tenaga Kependidikan
No
.
Tenaga pendukung
Jumlah tenaga pendukung dan
kualifikasi pendidikannya
Jumlah tenaga
pendukung
Berdasarkan Status
dan Jenis Kelamin Jumlah

SMP
SMA D1 D2 D3 S1
GTT Honorer
L P L P
1. Tata Usaha 2 1 1 2
2. Perpustakaan 1 1 1
3. Laboran lab. IPA 1* 1 1
4. Teknisi lab. Komp.
99

5. Laboran lab.
Bahasa
1* 1 1
6. Kantin 1 1 1
7. Penjaga Sekolah 1 1 1
8. Tukang Kebun 3 2 1 3
9. Keamanan 2 2 2
Jumlah 1 11 6 6 12
Catatan: Tenaga perpustakaan, laboran IPA, Komputer dan Bahasa adalah guru
yang mendapat tugas tambahan
3) Peserta didik
Tabel 4.8.
Data Peserta Didik
Th.
Pelajaran
Jml
Pendaftar
(Cln Siswa
Baru)
Kelas VII Kelas VIII Kelas IX Jumlah
Jml
Siswa
Jumla
h
Romb
el
Jml
Siswa
Jumla
h
Romb
el
Jml
Siswa
Jumla
h
Romb
el
Sisw
a
Rombel
2004/2005 57 30 2 30 2
2005/2006 94 27 2 29 2 56 4
2006/2007 102 41 2 26 1 31 2 98 5
2007/2008 90 36 2 42 2 28 2 106 5
2008/2009 105 57 2 37 2 40 2 134 6
2009/2010 120 72 3 58 2 36 2 166 7
2010/2011 100 51 2 72 3 61 3 184 8
2011/2012 107 91 3 51 2 72 3 214 8
2012/2013 110 100 4 90 3 51 2 241 9
2013/2014 136 114 4 102 4 8 4 304 12

100

4) Prestasi Sekolah
Tabel 4.9.
Bidang Akademik
No Kejuaraan Tahun
1 Juara 1 Olimpiade Sain Nasional bidang studi tingkat Kota Salatiga 2009
2 Juara 3 lomba cerdas Cermat Al Quran tingkat kota Salatiga 2010
3 Juara 2 Lomba Olimpiade Sains Tingkat SMP Al Azhar Se Indonesia 2012
4 Juara Lomba mendongeng tingkat Kota Salatiga 2008
5 Juara 2 Lomba Strory Telling tingkat Kota Salatiga 2008

















101

Tabel 4.10
Bidang Non Akademik

No Kejuaraan Tahun
1 Juara 3 lomba kader kesehatan remaja tingkat kota Salatiga 2010
2 Juara 1 lomba solo vocal tingkat kota Salatiga 2010
3 Juara harapan 2 lomba pidato tingkat kota Salatiga 2010
4 Juara 2 lomba melukis tingkat kota Salatiga tahun 2010 2010
5 Juara 3 lomba Pidato tingkat Kota Salatiga tahun 2010 2010
6 Juara I lomba Pidato Tingkat Kota Salatiga tahun 2012 2012
7 Juara III Lomba membaca Al Quran Tartil tingkat Kota Salatiga 2012
8 Juara I Lomba Pencaksilat Pekan Olah Raga Pelajar Tingkat
Kota Salatiga
2012
9 Juara I lomba Pidato putri Tingkat Kota Salatiga dan sekitarnya 2012
10 Juara III Lomba Pidato Putra Tingkat Kota Salatiga dan
sekitarnya
2012
11 Juara III Lomba Pidato Putri Tingkat Kota Salatiga dan
ekitarnya
2012
12 Juara I Lomba Pencaksilat Pekan Olah Raga Pelajar Tingkat
Kota Salatiga
2012
13 Juara III Lomba Pidato Tingkat Kota Salatiga

2012

14 Juara II Lomba Pencaksilat putrid Pekan Olah Raga Pelajar
Tingkat Kota Salati
2012


15 Juara III lomba keislaman tingkat Kota Salatiga 2012


102

C. Pembahasaan Temuan Supervisi Pembelajaran Kepala MTs N Salatiga
1. Hasil Temuan Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran Oleh
Kepala MTs Negeri Salatiga
Dari hasil pengamatan peneliti dan studi dokumentasi ditemukan
beberapa temuan diantaranya:
a. Bahwa kepala madrasah telah membuat perencanaan supervisi
pembelajaran pada semester ganjil dan dengan membuat
jadwal supervisi kelas.
b. Kepala madrasah belum mendelegasikan/melibatkan wakil
kepala madrasah untuk melaksanakan tugas supervisi
pembelajaran pada guru-guru.
c. Sebelum pelaksanaan supervisi pembelajaran kepala madrasah
telah memeriksa persiapan melaksakan supervisi pembelajaran
kepada guru-guru untuk meningkatkan kompetensi dalam
pembelajaran di madrasah terutama dalam menyusun silabus dan
RPP.
d. Pelaksanaan supervisi pembelajaran kepala madrasah terhadap
guru-guru dari penelusuran data dokumentasi sebagaimana yang
terdapat pada profil MTs Negeri Salatiga adalah data yang
diperoleh jumlah guru secara keseluruhan 45 guru mapel dan
baru dilaksanakan supervisi kunjungan kelas dilaksanakan baru
85 % secara keseluruhan. Mengingat keterbatasan waktu.
103

e. Pembinaan yang dilakukan kepala Madrasah dilaksanakan
setelah upacara apel pagi tiap hari senin.
f. Supervisi yang dilakukan oleh kepala madrasah melalui
observasi pembelajaran di kelas menggunakan instrumen
penilaian kinerja guru dalam proses pembelajaran.
g. Bimbingan yang dilakukan kepala madrasah baik secara
individu dan kelompok.dengan melalui metode dan teknik serta
pendekatan secara demokratis.
h. Hasil observasi pembelajaran guru-guru ditindaklanjuti.

Dari temuan diatas didasarkan pada penelusuran data baik
diperoleh melalui wawancara, pengamatan dan studi dokumentasi
penulis dapat mengungkapkan melalui analisa data supervisi
pembelajaran yang telah dibuat oleh kepala madrasah. Hal ini
berdasarkan wawancara kepada kepala madrasah diungkapkan:
Kami pada awal semester ganjil sebelum melaksanakan
supervisi kelas, membuat perencanaan menyusun jadwal
supervisi kelas kepada guru-guru sebagai acuan dalam
melaksanakan supervisi pembelajaran.
5


Dari penjelasan diatas penulis dapat memahami bahwa sebelum
pelaksanaan supervisi pembelajaran ke kelas kepala MTs Negeri
Salatiga telah membuat perencanaan supervisi pembelajaran dalam

5
Data wawancara dengan kepala MTs N Salatiga tgl 16 Juli 2013.
104

rangka peningkatan kompetensi guru. Selanjunya dalam rangka
peningkatan kompetensi guru dalam hal ini tentang proses pembelajaran
guru tidak lepas meyiapkan perangkat pembelajaran sebelum mengajar
membuat silabus dan Rencana Pelansanaan Pembelajaran (RPP) sebagai
acuan dalam kegiatan pelaksanaan pembelajaran di kelas. Kepala
madrasah/sekolah sebagai top menejer di madrasah salah satu tugasnya
diantaranya adalah membina dalam rangka peningkatan mutu madrasah
sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dalam hal ini adalah
Standar Proses. Maka Kepala MTs Negeri berkewajiban sebelum
melakukan supervisi kunjungan kelas untuk memeriksa perangkat
pembelajaran guru-guru di MTs Negeri Salatiga. Hal ini juga dipertegas
dan diungkapkan oleh seorang guru mapel bahasa Arab Ibu Ida
Widminingsih, S.Ag menurut pengakuan beliau:
Sebelum kepala madrasah melakukan supervisi pembelajaran ke
kelas telah memeriksa perangkat pembelajaran terutama silabus
dan RPP serta menandatangi perangkat pembelajaran, ini
dilakukan setiap tahun ajaran baru
6



Dari ungkapan guru bahasa arab tersebut diatas bahwa kepala
MTs Negeri Salatiga telah mengadakan pemeriksaan perangkat
pembelajaran guru sebagai salah satu bentuk kinerja guru dalam
peningkatan kompetensi menyusun perangkat pembelajaran.


6
Wawancara dengan guru bahasa arab tgl 17 juli 2013
105

Sejalan dengan uraian di atas, ditinjau dari keefektifannya
sebagai lembaga pendidikan secara formal, seringkali muncul masalah
pendidikan akibat dari pengelolaan pembelajaran yang tidak tepat. Oleh
karena itu salah satu faktor kunci yang dianggap penting dalam
pencapaian tujuan pembelajaran adalah peran kepala madrasah sebagai
supervisor melakukan pemanatuan dari aspek administrasi guru sebagai
bagian dari manajemen pendidikan di sekolah/madrasah sebagaimana
yang telah dibuat .
Perlunya pengelolaan adminstrasi guru yang profesional
didasarkan pada asumsi bahwa manajemen pendidikan yang
berlangsung dalam sebuah lembaga pendidikan akan berpengaruh pada
efektivitas dan efisiensi pendidikan di lembaga pendidikan yang
bersangkutan. Artinya, sebagai sumber yang mempengaruhi terjadinya
proses pendidikan perlu ditangani secara jelas, terkendali dan terarah.
Untuk itu, guru perlu mempersiapkan diri tidak hanya tentang
penguasaan materi pelajaran yang disampaikan kepada peserta didik,
tetapi perlu ditunjang administrasi yang tertib dan benar.
Rencana pembelajaran pada hakikatnya merupakan perencanaan
jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang
akan dilakukan dalam pembelajaran. Dengan demikian, rencana
pembelajaran merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang
akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Rencana pembelajaran
106

perlu dikembangkan untuk mengkoordinasikan komponen-komponen,
yakni: kompetensi dasar, materi standar, indikator hasil belajar, dan
penilaian. Kompetensi dasar berfungsi mengembangkan potensi peserta
didik, materi standar berfungsi memberi makna terhadap kompetensi
dasar, indikator hasil belajar berfungsi menunjukkan keberhasilan
pembentukan kompetensi peserta didik. Sedangkan penilaian berfungsi
mengukur pembentukan kompetensi dan menentukan tindakan yang
harus dilakukan apabila kompetensi standar belum terbentuk atau belum
tercapai.
Rencana pembelajaran berisi garis besar (outline) apa yang akan
dikerjakan oleh guru dan peserta didik selama proses pembelajaran, baik
untuk satu kali pertemuan maupun meliputi beberapa kali pertemuan.
Selama ini kepala madrasah ketika melaksanakan supervisi
adalah datang ke kelas membawa instrumen yang sudah tersedia di
buku pedoman supervisi. Sebelum ke kelas kepala madrasah sudah siap
dengan apa yang akan dilakukan melakukan persiapan. Kedatangan ke
kelas sudah rutin sehingga tidak merasa ada masalah. Oleh karenannya
tidak merasakan adanya masalah dan tidak tertantang guna mencari
variasi lain. Sehingga, kegiatannya dan tidak perlu repot mengganti
instrumen yang sudah ada.
Selanjutnya dalam melaksanakan supervisi pembelajaran kepala
madrasah belum melibatkan wakil kepala madrasah untuk mensupervisi
107

kunjungan kelas pada guru-guru. Pendekatan yang dilakukan oleh
kepala MTs Negeri salatiga dalam melaksanakan supervisi pembelajaran
melalui pendekatan direktif yaitu kepala MTs N langsung memberikan
arahan langsung kepada guru-guru yang disupervisi dengan teknik yang
bersifat individual. Sebagai mana diungkapkan oleh kepala MTs Negeri
salatiga:
Memang kami dalam melaksanakan supervisi pembelajaran
kepada para guru belum melibatkan wakil kepala madrasah
untuk melakukan supervisi pembelajaran, dan rencana ke depan
kami akan melibatkan wakil kepala madrasah untuk melakukan
supervisi pembelajaran ke kelas.
7


Hal ini juga dibenarkan oleh penuturan wakil kepala MTs Negeri
Salatiga:
Memang kami sejak menjadi wakil kepala MTs Negeri salatiga
belum pernah mendapat surat tugas untuk melakukan supervisi
terhadap guru dalam pelaksanaan pembelajaran supervisi kepada
guru-guru .
8


Guru yang selama disupervisi di dalam kelas oleh kepala MTs
Negeri Salatiga menggunakan instrumen pelaksanaan pembelajaran,
setelah selesai mengamati pembelajaran diadakan tindak lanjut untuk
memberikan masukan-masukan terutama dalam pelaksanaan proses
pembelajaran dari kegiatan awal sampai akhir kegiatan proses
pembelajaran. Hal ini diungkapkan oleh seorang guru mapel bahasa
Inggris Bapak Nova Zaini, S.Pd.I :

7
Wawancara dengan kepala MTs N salatiga tgl 18 Juli 2013.
8
Wawancara dengan wakil kepala MTs N Bp.SyafiI tgl 20 juli 2013.
108

Sesuai dengan jadwal supervisi pembelajaran yang telah dibuat
oleh kepala MTs N Salatiga, kami selama ditunggui kepala MTs
Negeri Salatiga dalam melaksanakan supervisi pembelajaran di
kelas, dan setelah selesai kami dipanggil langsung dibina dan
diberi masukan terutama tentang kekurangan-kekurangan dalam
pelaksanaan kegiatan proses pembelajaran
9


Disamping itu pembinaan kelompok secara rutin yang bertempat
di ruang guru yang dilakukan oleh kepala MTs Negeri Salatiga setiap
hari senin setelah upacara bendera mengingat hari senin itu awal
masuk minggu pertama dilakukan untuk memberikan informasi dan
pembinaan kepada guru terkait dengan peran guru sangat menentukan
keberhasilan madrasah untuk menghantarkan peserta didik mencapai
prestasi yang lebih baik dan dapat memotivasi guru-guru pentingnya
kedisiplinan dalam melaksanakan tugas pokoknya. Dengan adanya
pelaksanaan supervisi pembelajaran kepala madrasah telah dapat
membuat guru MTsN melaksanakan pengelolaan pembelajaran
dengan baik. Mereka mengakui bahwa kemampuan pengelolaan
pembelajaran yang mereka miliki di antaranya merupakan hasil
supervisi kepala madrasah melalui teknik perorangan dengan melalui
percakapan pribadi, diskusi, tukar pengalaman, dan teknik kelompok
melalui musyawarah guru. Hal ini diungkapkan oleh seorang guru
mapel IPA Drs Syariful Hadi dalam penuturannya kepada peneliti:
Kepala Madrasah melaksanakan pembinaan biasanya setiap
hari senin setelah selesai upacara bendera dilanjutkan pembinaan

9
Wawancara dengan guru mapel bahasa Inggris Nova Zaini, S.PdI tgl 26 juli 2013.
109

secara kelompok tentang kedisiplinan, pembelajaran dan inovasi
pembelajaran.
10


Dari ungkapan dan pendapat di atas, dapat diketahui bahwa
dengan adanya supervisi kepala madrasah, guru MTs N di Tegalrejo
Salatiga dapat melakukan pengelolaan pembelajaran di kelas dengan
baik. Dengan demikian, kinerja guru semakin meningkat yang pada
tahap selanjutnya mutu pembelajaran MTs N di Tegalrejo juga
meningkat.










10
Wawancara dengan guru mapel IPA Drs. Syariful Hadi tgl 22 juli 2013.
110

2. Hasil Temuan Pelaksanaan Supervisi Oleh Kepala MTs Negeri
Salatiga Ditinjau dari Segi Teori-teori Supervisi.
a. Kepala madrasah dalam pelaksanakan supervisi pembelajaran
dari segi membuat perencanaan pembelajaran dinjau dari segi
teori-teori supervisi cukup baik ini dibuktikan dengan adanya
perencanan membuat jadwal sehingga tujuan arah secara jelas
kapan dan di kelas berapa melaksanakan observsi kelas dalam
rangka menilai kinerja guru dalam proses pembelajaran.
b. Dalam pelaksanaan supervisi pembelajaran oleh kepala madrasah
belum ada temu awal atau pra supervisi pembelajaran menurut
teori supervisi dalam sebelum dilaksanakan observasi
pelaksanann proses pembelajaran dilakukan melalui wawancara
terlebih dahulu sehingga apa yang mau diajarkan oleh guru itu
jelas dan penilaiaannya itu dilaksanakan secara obyektif.
Sehingga guru akan temotivasi dan semangat dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan tugas pokoknya yaitu secara
profesional.
c. Kepala madrasah dalam melaksanakan supervisi pembelajaran
baru sebagian menggunakan teori-teori supervisi yaitu dalam hal
penggunaan teknik supervisi dan pendekatan belum secara
keseluruhan mengingat tugas kepala madrasah bukan hanya
melaksanakan supervisi pembelajaran saja dan keterbatasan
111

waktu. Sedangkan yang belum dilaksanakan adalah teknik
supervisi yang bersifat kelompok yaitu demontrasi mengajar.

Berdasarkan dari temuan diatas dapat diketahui pelaksanaan
supervisi pembelajaran oleh kepala madrasah dalam meningkatkan
kompetensi guru ditinjau dari segi teori supervisi dapat diungkapkan
bahwa pada dasarnya kepala madrasah telah berupaya dalam
meningkatkan kompetensinya sebagai supervisor telah menjalankan
secara maksimal, namun karena keterbasan waktu sehingga baru
sebagian saja.
Disamping itu kepala madrasah selaku sebagai supervisor telah
melakukan supervisi pembelajaran ini dapat diungkap melalui
pengamatan dan informasi melalui wawancara serta studi dokumen yang
diperoleh selama peneliti di MTs Negeri salatiga, bahwa secara teori
sudah sesuai dengan teori supervisi, yaitu kepala MTs telah membuat
perencanaan jadwal supervisi, melaksanakan dan menindaklanjuti
supervisi pembelajaran. Namun dalam pelaksanaan kunjungan kelas
untuk menilai kompetensi guru dalam proses pembelajaran langsung
masuk kelas tanpa ada kesepakatan terlebih dahulu antara guru dengan
kepala madrasah apa yang mau diajarkan, metoda apa yang digunakan
sehingga supervisor dalam menilai kinerja guru baru sebagian bila
ditinjau dari segi teori-teori supervisi, terutama pada pra supervisi
112

pembelajaran. Sebagaimana diungkapkaan oleh kepala MTs Negeri
Salatiga melalui wawancara kepada peneliti :
. Memang betul selama kami melaksanakan supervisi
pembelajaran dalam meningkatkan kompetensi guru dalam
proses pembelajaran langsung masuk kelas tanpa ada
kesepakatan dulu pada guru yang mau disupervisi sebagai mana
yang ada dalam teori supervisi.Yaitu pra supervisi
pembelajaran.
11


Hal ini juga dibenarkan oleh seorang guru mapel Quran Ibu Dra.
Dihliz Zunaim yang pernah disupervisi pembelajaran di kelas oleh
kepala MTs Negeri Salatiga mengungkapkan melalui wawancara dengan
peneliti:
Selama kami disupervisi oleh kepala MTs Negeri Salatiga
langsung masuk ke kelas belum pernah ada pertemuan awal
untuk membicarakan kesepakan SK dan KD apa yang mau
diajarkan, metode apa yang akan digunakan dan evaluasi apa
yang digunakan.
12
















11
Wawancara dengan kepala MTs Negeri Salatiga tgl 26 juli 2013.
12
Wawancara dengan guru mapel Quran tgl 27 juli 2013
113

3. Hasil Temuan Dampak Supervisi Pembelajaran Terhadap
Pengembangan Profesional Guru di MTs Negeri Salatiga.
Peran kepala madrasah sebagai supervisor dalam hal ini
supervisi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala MTs Negeri
Salatiga berdampak positif dan dapat meningkatkan kompetensi
profesional guru, Dengan adanya diadaakan supervisi pembelajaran
dapat memberikan masukan dan kekurangannya terhadap guru yang
disupervisi terutama dalam pengelolaan kelas, penggunakan teknik
dan metode yang tepat dalam melakukan proses pembelajaran di
kelas. Hal ini diungkapkan oleh Guru Bahasa Arab Munawar S.Ag
kepada peneliti:
Ya dengan kepala madrasah mengadakan supervisi
pembelajaran terhadap guru kami sangat merasakan ada
peningkatan dalam melaksakan proses pembelajaran karena
kepala madrasah melihat secara langsung apa yang terjadi
didalam kelas dapat diketahui dengan sebenarnya sehingga
adanya kekurangan dalam proses pembelajaran tersebut dapat
diberi masukan-masukan sehingga dalam proses pembelajaran
selanjutnya menindak lanjuti masukan-masukan dari kepala
madrasah
13
.

Supervisi pembelajaran yang dilakukan kepala madrasah
adalah bantuan kepada para guru sehingga mereka terus menerus
mengembangkan kompetensinya untuk meningkatkan pencapaian
tujuan pembelajaran. Dengan supervisi pembelajaran guru akan

13
Wawancara dengan guru mapel Bahasa Arab Munawar, S.Ag tgl 26 Juli 2013.
114

mendapatkan masukan-masukan yang berhubungan dengan
pembelajaran, baik yang berhubungan dengan peguasaan materi dan
cara pengembangan penguasaan standar kompetensi dan kompetensi
dasar. Dengan memahami segala sesuatu yang berhubungan dengan
pembelajaran maka guru tersebut memiliki kompetensi kemampuan
profesional. Dengan melihat kondisi tersebut guru memahami dituntut
untuk bisa aktif dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini
juga dipertegas dengan penuturan kepala MTs Negeri Ibu Hj Dra
Zayinatun, M.Pd menyatakan:
Kami biasanya melihat guru dalam proses pembelajaran di
kelas kemudian setelah selesai kami beri masukan dan
selajutnya saya lihat lagi ternyata ada peningkatan dalam
pengembangan profesional salah satu diantaranya dalam
mengadakan proses pembelajaran memakai ICT
14


Supervisi yang dilaksanakan oleh kepala madrasah terhadap
guru dapat memberikan pengaruh dampak positif dalam
pengembangan profesionalisme dalam meningkatkan pembelajaran
terhadap siswa sehingga salah dari hasil supervisi pembelajaran kepala
madrasah dapat dilhat dalam meraih prestasi dalam bidang akademik
disamping hasil penilaian dari Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah
mendapat peringkat A, juga guru-gurunya dalam proses pembelajaran

14
Wawancawa dengan kepala MTs Negeri Salatiga tgl 27 juli 2013.
115

sudah menggunakan ICT. Ini semua adalah salah satu tugas kepala
madrasah tidak lepas dari hasil supervisi pembelajaran.
Permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan supervisi
pembelajaran dalam rangka menilai kinerja guru dalam pengembangan
profesional guru terutama supervisi pembelajaran yang dilakukan oleh
kepala madrasah terhadap guru-guru baru 85% dan 15% belum semua
guru secara menyeluruh di kunjungi di kelas terutama pada semester
ganjil. Hal ini disebabkan karena biasanya kepala madrasah ada tugas
secara mendadak dan ada rapat koordinasi yang tidak bisa diwakilkan
artinya bahwa kepala madrasah sudah membuat daftar jumlah nama-
nama guru yang akan disupervisi pembelajaran di kelas namun seperti
apa yang sudah dijelaskan tersebut diatas yaitu adanya tugas
mendadak yang tidak boleh diwakilkan orang lain maka yang 15%
ditunda dan solusinya pelaksanaan supervisi pembelajaran hanya
melalui pemeriksaan admistrasi pemebelajaran. Hal ini terungkap
dapat diketahui melalui data dokumen melalui intrumen pembelajaran
yang telah dilaksanakan oleh kepala madrasah. Disamping data ini
diperoleh melalui dokumen juga terungkap melalui wawancara dengan
kepala MTs Negeri Salatiga menyatakan:
Setiap semester ganjil kami selalu membuat jadwal perencaan
untuk melaksanakan supervisi pembelajaran di kelas untuk
menilai hasil kinerja semua guru dalam rangka pengembangan
kompetensi profesional, namun karena ada undangan rapat
koordinasi di kanwil secara mendadak yang tidak bisa
116

diwakilkan maka dengan sendirinya apa yang sudah kami
rencanakan untuk kunjungan ke kelas sesuai jadwal tidak bisa
terlaksana, dan biasanya kami cukup memeriksa administrasi
pembelajaran terutama bagi guru yang belum kami masuki di
kelas.
15



Supervisi pembelajaran kepala madrasah dapat meningkatkan
pengembangan profesional guru, salah satu diantaranya guru dapat
mempersiapkan perangkat pembelajaran yang berupa silabus dan RPP
yang tertuang di KTSP mengacu pada standar proses.
Selanjutnya dilihat dari segi tenaga pendidik dan tenaga
kependidikan di MTs Negeri Salatiga Kepala Madrasahnya kualifikasi
pendidikannya S2. Dan guru-gurunya juga ada yang kualifikasi S1 dan
S2. Dengan ini maka kompetensi kepala madrasah terutama pada
supervisi pembelajaran sebagai supervisor sangat mempengaruhi
terhadap guru dalam melaksanakan salah satu tugas pokok dan
kompetensi guru-gurunya sebagian besar sudah menguasai ICT
dengan dibuktikan pada waktu mengajar memakai pembelajaran
berbasis ICT.
Dampak supervisi kepala madrasah dalam pengembangan
profesional guru juga melalui kegiatan MGMP mata pelajaran yang
telah tertuang dalam dalam standar isi. Dan mengikut sertakan guru-
guru melalui workshop.

15
Wawancara dengan kepala MTs N Tgl 27 Juli 2013.
117

D. Pembahasan Temuan Hasil Supervisi Pembelajaran Kepala sekolah
Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru di SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiaga.
1. Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran Kepala Sekolah Di SMP Al-
Azhar 18 Salatiga.
Kepala sekolah mempunyai salah satu tugas yaitu membina dan
melaksanakan supervisi pembelajaran terhadap guru-guru agar dalam
pelaksanaan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dapat
terlaksana sesuai dengan Visi dan Misi serta tujuan yang telah dibuat
untuk diimplementasikan dalam pengelolaan satuan pendidikan dalam
hal ini terutama salah satunya adalah Standar Proses yaitu melaksanakan
supervisi pembelajaran.
Dari langkah-langkah proses supervisi pembelajaran yang
dilakukan oleh kepala sekolah sebagai supervisor telah menyusun
perencanaan pembelajaran, melakukan dan menindaklanjuti supervisi.
Hal ini bisa dibuktikan dari hasil pengamatan peneliti melalui
studi dokumen dan wawancara di SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga
ditemukan bahwa: (1) Dalam pelaksanaan supervisi pembelajaran
kepala sekolah sebelum melaksanakan supervisi pembelajaran kepada
guru-guru terlebih dahulu membuat perencanaan yaitu membuat jadwal
supervisi. (2) Dalam pembuatan jadwal kepala sekolah mendelegasikan
wakil kepala sekolah dan guru senior untuk melaksanakan tugas
118

supervisi pembelajaran kepada guru-guru. Hal ini dapat diungkapkan
oleh kepala sekolah melalui wawancara dalam penuturannya
mengatakan:
Sebelum kami melaksanakan supervisi pembelajaran kepada
guru-guru saya sudah menyusun perencanaan jadwal supervisi
pembelajaran dan saya mendelegasikan kepada wakil kepala
sekolah dan guru senior untuk melaksanakan supervisi
pembelajaran di kelas.
16


Kepala sekolah sebagai seorang pimpinan mempunyai tugas
sangat banyak sehingga salah satu tugas kepala sekolah adalah
mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan supervisi
pembelajaran. Mengingat tugasnya banyak salah satu kebjakannya
adalah mendelegasikan kepada wakil kepala sekolah dan guru senior
untuk melaksanakan supervisi pembelajaran.
Dalam pelaksanaan supervisi pembelajaran kepala sekolah
sebelum menilai kinerja guru terutama dalam pelaksanaan proses
pembelajaran di kelas terlebih dahulu memeriksa perangkat
pembelajaran yang mau diajarkan di kelas, selanjutnya guru yang
bersangkutan diberitahu untuk kunjungan kelas dan selama mengamati
proses pembelajaran membawa instrumen penilaian dan posisi kepala
sekolah duduk dibelakang sambil mengamati guru dan siswa dalam
proses pembelajaran berlangsung selama 2 jam atau 80 menit. Setelah
selesai guru yang disupervisi langsung diajak ke kantor ruang kepala

16
Wawancara dengan kepala sekolah tgl 17 Juli 2013
119

sekolah untuk diberi masukan-masukan tentang kekurangannya dalam
mengajar yang untuk selanjutnya agar masukan masukan tersebut dari
kepala sekolah agar ditindak lanjuti. Hal ini dapat terungkap oleh
penuturan seorang guru PAI Ibu Inayatul Wahidah M.PdI melalui
wawancara kepada peneliti mengungkapkan:
Saya masih ingat ketika itu saya mengajar di kelas IX,
sebelum bapak kepala sekolah melakukan supervisi ke kelas
saya diberi tahu dulu bahwa nanti saya akan disupervisi, bahkan
perangkat pembelajaran pun dilihat dan dicermati oleh kepala
sekolah, Dalam melaksanakan supervisi pembelajaran bapak
kepala sekolah membawa intrumen penilaian, Selama saya
disupervisi oleh kepala sekolah sikap kita biasa biasa saja karena
sudah terbiasa disupervisi oleh kepala sekolah, Memang pada
waktu proses pembelajaran itu ada kendala sedikit dalam
pemakaian LCD agak terganggu dan akhirnya bisa tersesaikan
dengan baik, Begitu juga setelah selesai proses pembelajaran
selesai lalu saya langsung dibina diruang kepala sekolah diberi
masukan kelemahan tentang ini dan itu sehingga saya bisa
mengerti apa yang seharusnya saya lakukan ketika mengajar di
kelas dengan baik.
17



Hal ini juga diungkapkan oleh seorang guru dalam
penuturannya kepada peneliti:
... Setiap awal tahun ajaran baru baik semester ganjil dan
genap ada pelaksanaan supervisi dari jakarta bukan hanya
masalah yang dimonitoring tentang pembelajaran saja akan
tetapi meliputi 8 standar nasional pendidikan, Walaupun
saya sudah lama mengajar, tapi kalau saya disupervisi oleh
kepala sekolah agar grogi karena merasa tidak tenang, setelah
beberapa menit berjalan biasa-biasa saja, dan itu bagi saya
itu sangat beruntung karena dengan adanya supervisi
pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah dapat
diketahui kekurangannya sehingga saya harus selalu

17
Wawancara dengan dengan guru mapel PAI Ibu Inayatul Wahidah tgl 26 Juli 2013.
120

meningkatkan kompetensi profesional dalam proses
pembelajatan.
18


Dari ungkapan diatas perlu kita ketahui bahwa disamping
supervisi yang dilaksanaka oleh kepala sekolah terhadap guru-guru.
Juga mengingat pula bahwa ternyata di SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga setiap tahun dua kali dari yayasan Jakarta mengadakan
monitoring dan supervisi yang mencakup 8 standar supervisi dalam
rangka peningkatan mutu pendidikan di SMP Islam Al-Azhar Salatiga.
Dan hasil dari motoring dan supervisi itu diberikan langsung kepada
kepala sekolah untuk ditindaklanjuti terutama dalam melaksanakan
tugas sesuai dengan temuan yang telah dituangkan dalam intrumen
penilaian yang telah dipersiapkan dari Jakarta.













18
Wawancara dengan salah satu guru di SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga tgl 26 juli 2012.
121

2. Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran Oleh Kepala SMP Al-Azhar
18 Salatiga Ditinjau Dari Segi Teori-Teori Supervisi.
Sesuai apa yang sudah diuraikan secara teori pada bab II
tentang supervisi pembelajaran maka berdasarkan pengamatan peneliti
melalui studi dokumen dan wawancara kepada kepala sekolah, Wakil
Kepala Sekolah, Guru-guru ditemukan bahwa kepala sekolah dalam
melaksanakan supervisi pembelajaran sebelum masuk kelas terlebih
dahulu diberi intrumen pra supervisi kepada guru-guru untuk mengisi
yang telah disediakan dalam instrumen tersebut. Setelah guru selesai
mengisi instrumen diadakan kesepakatan kapan pelaksanaannya
dilakukan kunjungan kelas. Kepala sekolah dalam ini sangat
demokratis dalam melakukan tugasnya sebagai seorang pemimpin
sesuai dengan prinsip-prinsip dalam supervisi. Memperlakukan
bawahannya terutama guru-guru sangat senang sehingga guru yang
disupervisi kepala sekolah berdampak positif karena tujuan supervisi
adalah membantu melayani dan membimbing kearah profesionalisme.
Adapun pendekatan yang dilakukan dalam supervisi
pembelajaran dilakukan oleh kepala sekolah adalah disesuaikan
dengan kompetensi guru masing-masing. Artinya bahwa kadang
melalui pendekatan direktif, kadang kolaboratif dan kadang
pendekatan non direktif. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh kepala
SMP Islam Al-Azhar 18:
122

Guru-guru yang telah kami supervisi pembelajaran
pendekatan biasanya yang digunakan melalui pedekatan
direktif terutama bagi guru yang baru, sedangkan untuk guru-
guru yang lain kami gunakan pendekatan kolaboratif dan non
direktif.
19


Hal ini juga dibenarkan oleh seorang guru Bahasa Inggris
mengungkapkan:
Bapak kepala sekolah setelah melaksanakan supervisi
pembelajaran di kelas, setelah selesai saya di bina dan beri
masukan secara individu diarahkan tentang kekurangan dan
kelemahan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.
20



Begitu juga model supervisi yang digunakan bersifat ilmiah.
Artinya bahwa kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi memakai
perencanaan dan menggunakan intrumen supervisi pembelajaran
sehingga bersifat objektif tidak diskriminatif dalam menilai kinerja
guru dalam hal ini adalah dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini
sesuai dengan yang telah diungkapkan oleh seorang guru mapel
bahasa Indonesia:
Sewaktu bapak kepala sekolah mensupervisi pembelajaran
dikelas selalu menggunakan instrumen penilaian pembelajaran
dan setelah selesai mengamati selama saya mengajar kumudian
menandatangani hasil dalam proses pembelajaran dikelas.

Teknik yang digunakan oleh kepala sekolah dilakukan baik
secara individu maupun kelompok. Teknik Individu yang dilakukan

19
Wawancara peneliti dengan kepala SMP Islam Al-Azhar alatiga Tanggal 20-08-2013
20
Wawancara penelti dengan guru bhs Inggris tanggal 20-08-2013.
123

kepala sekolah melalui kunjungan kelas. Sedangkan teknik supervisi
secara kelompok dilaksakan melalui rapat guru.
Pendekatan yang dilakukan tergantung dari situasi dan kondisi
dalam hal ini biasanya guru-guru yang baru supervisi dilakukan
dengan pendekatan direktif karena guru tersebut perlu adanya
bimbingan dan bantuan serta petunjuk dari kepala sekolah, namun
dalam pelaksanaannya baru satu kali kunjungan pada guru tersebut
sehingga secara teori kepala sekolah baru melaksanakan sebagian saja,
belum mengadakan secara menyeluruh ditinjau di segi teori-teori
supervisi. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh kepala sekolah
melalui wawancara dalam penuturannya:
Memang benar bahwa dalam pelaksanaan supervisi
pembelajaran ditinjau dari segi teori-teori supervisi baru
sebagaian saja yang dilaksanakan, belum secara menyeluruh.
21


Maka sebagai solusinya kepala sekolah secara terus menerus
dapat meningkatkan kompetensi terutama dalam hal supervisi
pembelajaran mempelajari tentang konsep/teori supervisi
pembelajaran sehingga secara bertahap dampaknya dapat diketahui
terhadap guru-guru yang disupervisi dapat meningkatan kompetensi
proesional guru.

21
Wawancara kepala sekolah tanggal 20 Agustus 2013.
124

3. Temuan Dampak Supervisi Pembelajaran Kepala Sekolah Dalam
Pengembangan Profesional Guru di SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga
Peran kepala sekolah sebagai supervisor pembelajaran
sangatlah menentukan dalam keberhasilan pendidikan karena kepala
sekolah sebagai seorang pemimpin sekaligus sebagai top menejer
disekolah dapat menentukan kebijakan terkait mutu pendidikan baik
dari segi kualitas dan kuantitasnya. Kepala sekolah dituntut untuk
selalu mengembangkan keprofesionalismenya dan meningkatkan
kompetensinya terutatama dalam hal ini sesuai dengan permendidknas
bahwa salah satu tugas kepala sekolah adalah untuk melaksanakan
supervisi pembelajaran melalui perencanaan, melaksanakan dan
menindaklanjuti dari pelaksanaan supervisi pembelajaran
Dalam hal ini peneliti dapat menemukan melalui wawancara
dengan seorang guru mapel matematika menyatakan:
Supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah sangat
penting dan dapat meningkatkan kompetensi profesional,
apalagi saya guru baru sangat memerlukan bantuan kepada
kepala sekolah sehingga saya dapat menyusun silabus dan RPP
secara mandiri
22


Disamping itu juga diungkapkan oleh guru IPS Ibu Yekti
Widowati kepada peneliti menyatakan:

22
Wawancara dengan guru matematika pada tgl 26 juli 2013
125

Dengan adanya kepala sekolah mengadakan supervisi
pembelajaran, dapat meningkatkan profesional dalam proses
pembelajaran, karena saya mendapat bimbingan dan bantuan
serta mendapat masukan-masukan tentang kekurangan saya
dalam proses pembelajaran.
23


Pembinaan yang dilakukan oleh kepala SMP Islam Al-Azhar
18 Salatiga dilaksanakan setiap hari sabtu mengingat jadwal pada hari
sabtu untuk kegiata ektrakurikuler bagi siswa, maka untuk guru-guru
digunakan oleh kepala SMP Islam Al-Azhar 18 salatiga untuk
pembinaan dalam rangka untuk pengembangan kemajuan sekolah dan
peningkatan kompetensi guru. Adapun isi pembinaan itu terkait
dengan kedisiplinan guru dan memotifasi guru-guru untuk selalu
meningkatkan kompetensinya secara profesional terutama dalam
proses pembelajaran sehingga pada tujuan akhirnya dapat
meningkatkan prestasi siswa. Ini semua adalah salah satu peran kepala
sekolah dan sebagai bentuk aktifitas yang dilaksakan oleh kepala
sekolah sebagai supervisor pembelajaran guru dapat meningkatkan
kompetensi prosesional guru di sekolah. Hal ini sebagaimana
diungkapkan oleh kepala sekolah mengatakan:
Kami mengambil hari sabtu digunakan untuk pembinaan para
guru karena memang hari sabtu siswa melaksanakan kegiatan
ektra kurikuler sehingga tidak mengganggu untuk proses
pembelajaran, adapun isi pembinaannya selalu kami tekankan

23
Wawancara dengan guru mapel IPS Ibu Yekti Widowati tgl 26 Juli 2013.
126

pada kesiplinan dan peningkatan kompetensi profesional
guru.
24


Hal ini juga juga kuatkan oleh seorang wakil kepala dengan
melalui wawancara menyatakan:
Memang betul bahwa kepala sekolah dalam mengadakan
pembinaan dilaksanakan setiap hari sabtu, dengan alasan
karena hari sabtu tidak ada jadwal kegiatan proses
pembelajaran bagi siswa dan hari itu juga digunakan untuk
pegenbangan diri bagi siswa. lalu kami dikumpulkan di
ruang kelas mendapat arahan dan pembinaan terutama tentang
kesiplinan dan peningkatan profesionalisme guru.
25



Kebijakan yang dilakukan kepala sekolah sebagai seorang
pemimpin juga sekaligus selaku sebagai supervisor. Dalam pembinaan
yang dilakukan setiap hari sabtu agar tidak menggangu proses
pembelajaran. Isi dari pembinaan tersebut biasanya tentang issu
pendidikan terkait dengan berbagai aspek terutama dalam hal
menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan
memberikan motivasi kepada para guru-guru agar selalu meningkatkan
kompetensi profesional serta tentang kedisiplinan dalam mengajar harus
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Inilah komitmen yang
diterapkan di Al-Azhar terutama sehingga guru-guru yang mengajar di
SMP Islam Al-Azhar profesional ini terbukti bisa dilihat pada
peningkatan jumlah peserta didik setiap tahun meningkat. Inilah salah

24
Wawancara dengan kepala SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga tgl 26 juli 2013.
25
Wawancara dengan wakil kepala sekolah tgl 26 Juli 2013.
127

satu dampak peran kepala sekoalah dalam melaksanakan secara
profesional.
Disamping itu karena pentingnya tentang tuntutan agar guru
harus dapat mempunyai kompetensi profesional maka, jika dalam
pengangkatan kepala sekolah tidak sekaligus diangkat langsung dari
yayasan akan menjadi kepala sekolah tetapi melalui proses pemagangan
dulu yaitu menjadi Plt Kepala SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga. Setelah
beberapa bulan bahwa Plt Kepala sekolah dinilai dari yayasan baik
maka baru segera dilantik untuk menjadi kepala sekolah. Ini juga
berlaku bagi guru-guru yang baru bahwa selama menjadi guru di SMP
Islam Al-Azhar 18 Salatiga dinilai selama mengajar tidak profesional
maka dalam beberapa bulan guru tersebut diberhentikan.
Dengan memahami sebagaimana uraian tentang pentingnya
pengembangan kompetensi bagi guru di SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga. Peran kepala sekolah selaku supervisor akan sangat membantu
dalam membimbing dan melayani bagi guru-guru untuk selalu dibina
dan diberi motivasi agar menjadi guru yang mempunyai kompetensi
dibidangnya sehingga dapat melakukan tugas dengan sebaik-baiknya.





128

4. Perbedaan Pelaksanaan dan Dampak supervisi di MTS Negeri dan
SMP Islam Al -Azhar 18 Salatiga.
Sebagaimana yang telah diuraikan dari temuan pada
permasalahan 1, 2, dan 3 baik di MTs Negeri dan di SMP Islam Al-
Azhar 18 Salatiga diatas maka ada persamaan dan perbedaan
pelaksanaan supervisi pembelajaran yang dikukan oleh kepala
sekolah/madrasah dalam meningkatkan kompetensi guru .
Persamaannya adalah baik kepala MTs Negeri dan kepala SMP
Islam Al-Azhar 18 salatiga telah melaksanakan supervisi pembelajaran
baik yang dimulai melalui membuat perencaan jadwal, melaksanakan
dan menindaklanjuti supervisi pembelajaran dan menggunakan
perinsip-prinsip supervisi pembelajaran dan pendekatan yang
dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, serta memakai
metode dan teknik yang digunakan dalam melaksanakan supervisi
pembelajaran.
Disamping itu juga dampak supervisi pembelajaran yang telah
dilakukan baik oleh kepala MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18
salatiga dapat meningkatkan kompetensi profesional guru.
Adapun yang membedakan pelaksanaan supervisi
pembelajaran adalah sebagai berikut:
Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran di MTs Negeri Salatiga
kepala MTs Negeri Salatiga dalam melaksanakan supervisi
129

pembelajaran belum mendelegasikan pada wakil kepala madrasah dan
guru senior. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh kepala
madrasah MTs Negeri Salatiga:
Memang saya selaku kepala madrasah dalam menyusun
jadwal pelaksanaan supervisi pembelajaran belum melibatkan
wakil kepala madrasah untuk melaksanakan supervisi
pembelajaran guru-guru dikelas.
26


Hal ini juga dibenarkan oleh wakil kepala madrasah
mengungkapkan:
Selama saya menjadi wakil kepala madrasah, belum pernah
melaksanakan supervisi pembelajaran pada guru-guru karena
tidak ada surat tugas untuk melaksanakan supervisi
pembelajaran.
27


Sedangkan pelaksanaan supervisi pembelajaran kepala SMP
Islam Al-Azhar 18 salatiga telah mendelegasikan atau melibatkan
wakil kepala sekolah dan guru senior untuk melakukan supervisi
pembelajaran guru di kelas.Hal ini dapat diungkapkan melalui
wawancara dengan seorang guru yang telah melaksanakan supervisi
terhadap guru mengungkapkan:
Sesuai dengan jadwal yang telah dibuat oleh kepala sekolah
dan ada perintah dari kepala sekolah untuk melaksakan supervisi
pembelajaran guru dikelas.waktu itu saya mensupervisi guru mapel
IPA yaitu Bu Heri Nikita Sari dengan memakai instrumen untuk
menilai kinerja guru dalam proses kegiatan belajar mengajar.
28



26
Wawancara kepala MTs Negeri Salatiga tgl 30 Juli 2013.
27
Wawancara dengan wakil kepala MTs Negeri Salatiga tgl 30 Juli 2013.
28
Wawancara peneliti dengan guru senior SMP Islam Al-Azhar 18 tanggal 17 Juli 2013.
130

Pelaksanaan dari segi teori-teori supervisi pembelajaran baik di
MTs Negeri Salatiga dan di SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga baru
sebagian yang dilaksanakan salah satu diantaranya yaitu dalam hal
pelaksanaan supervisi pembelajaran kepala sekolah/madrasah
langsung masuk kelas dan yang belum dilksanakan adalah pra
supervisi pembelajaran. Dalam hal ini yang membedakan khusus di
MTs N belum melaksanakan pra supervisi sesuai dengan petunjuk
yang ada dalam instrumen. Hal ini diungkapkan oleh kepala madrasah:
Biasanya dalam melaksanakan supervisi pembelajaran saya
langsung masuk kelas tanpa ada pertemuan awal untuk
kesepakatan dengan guru tentang media apa yang akan
digunakan dalam proses belajar mengajar di kelas.
29


Sedang di SMP Islam Al-Azhar sudah ada intrumen pra
supervisi pembelajaran namun baru sebatas mengisi saja pada
intrumen yang telah diberikan guru yang mau disupervisi ini
dibuktikan pada penelusuran data dokumen instrumen yang digunakan
oleh kepala SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga dalam pelaksanaan pra
observasi.
Dengan demikian agar lebih memperjelas perbedaan
pelaksanaan supervisi pembelajaran di dua sekolah/madrasah bisa
dilihat dalam tabel sebagai berikut:


29
Wawancara peneliti dengan kepala MTs Negeri 16 Juli 2013
131

Tabel 4.11
Perbedaan Pelasanaan Supervisi Pembelajaran
No Aspek MTs N Salatiga SMP Islam Al-Azhar
18 Salatiga
1. Pelaksaan
Supervisi
Kepala MTs N belum
mendelegasikan wakil
dan guru senior dalam
supervisi pembelajaran
Kepala SMP Islam Al-
Azhar 18 telah
mendelegasikan wakil
dan guru senior dalam
pelaksanaan supervisi
pembelajaran
2 Pelaksanaan
Supervisi
ditinjau dari
teori-teori
supervisi
Kepala MTs N belum
melaksanakan
pertemuan awal pra
supervisi pembelajaran
terhadap guru-guru,
langsung masuk kelas
Kepala SMP Islam Al-
Azhar telah ada pra
supervisi pembelajaran,
namun hanya sebatas
mengisi instrumen
yang telah dipersiapkan

Dampak supervisi pembelajaran baik oleh kepala
sekolah/madrasah di MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga tersebut dapat meningkatkan kompetensi profesional guru
terutama dapat menyusun perangkat pembelajaran dengan baik.

132

E. Pembahasan Analisis Lintas kasus Supervisi Pembelajaran Kepala
MTs Negeri dan Kepala SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga Dalam
Meningkatkan Kompetensi Guru.
Sebagaimana yang sudah dijelaskan pada temuan per kasus tentang
supervisi pembelajaran kepala madrasah/sekolah baik di MTs Negeri dan
di SMP Islam Al-Azhar 18 salatiga dalam meningkatkan kompetensi guru.
Selanjutnya peneliti memadukan dan membandingkan dari temuan
pelaksanaan supervisi pembelajaran kepala MTs Negeri dan kepala SMP
Islam Al-Azhar 18 salatiga.
Kepala MTs Negeri dan kepala SMP Islam Al-Azhar 18 salatiga
mempunyai peran yang sangat strategis dalam mengelola pendidikan dalam
meningkatkan mutu pedidikan yang berkualitas sebab maju mundurnya
sekolah/madrasah tergantung kebijakan kepala sekolah/madrasah yang
dipimpinnya dan apalagi adanya penerapan MBS (Manajemen Berbasis
Sekolah) kepala sekolah/madrasah dituntut untuk kreatif mengembangkan
mutu pendidikan. Salah satu peran kepala sekolah/madrasah dalam
menjalankan tuganya adalah sebagai supervisor berkewajiban untuk
membina guru-guru, agar guru tersebut dapat mempunyai kompetensi yang
diharapkan sehingga guru menjadi profesional. Salah satunya dalam hal ini
adalah melalui supervisi pembelajaran kepala sekolah/madrasah.
Disamping itu kepala sekolah/madrasah mempunyai tugas yang
sangat penting di dalam mendorong guru untuk malakukan proses
133

pembelajaran untuk mampu menumbuhkan kemampuan kreatifitas, daya
inovatif, kemampuan pemecahan masalah, berpikir kritis dan memiliki
naluri jiwa kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu sistem
pendidikan.
Selanjutnya salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala
sekolah/madrasah adalah kompetensi supervisi akademik/pembelajaran
intinya adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses
pembelajaran. Sasaran supervisi pembelajaran adalah guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran, yang terdiri dari materi pokok dalam
proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP, pemilihan
strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi
informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta
penelitian tindakan kelas.
Kepala madrasah di MTs Negeri salatiga dalam pelaksanaan
supervisi pembelajaran terhadap guru-guru sebelumnya telah membuat
rencana jadwal program supervisi pembelajaran dalam rangka untuk
meningkatkan kompetensi profesional guru, begitu juga di SMP Islam Al-
Azhar 18 salatiga namun dalam pelaksanaannya kepala SMP Islam Al-
Azhar 18 telah melibatkan atau mendelegasikan tugas kepada wakil kepala
sekolah dan guru senior. Kebijakan kepala sekolah ini mengandung arti
satu sisi kepala sekolah sebagai manejer harus secara keseluruhan
134

mengatur dan mengelola seluruh komponen yang ada di sekolah dan satu
sisi harus membina guru-guru terutama dalam proses pembelajaran. Maka
ada nilai positip dan plus bagi kepala di SMP Islam Al-Azhar 18
dibandingkan dngan di MTs Negeri Salatiga belum melibatka wakil kepala
madrsah dan guru senior.
Dalam pelaksanaannya baik di MTs Negeri salatiga dan di SMP
Islam Al-Azhar 18 salatiga menerapkan metode dan teknik-teknik
supervisi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan direktif,
kolaboratif dan non direktif. Namun dari data yang diperoleh melalui
wawancara baik kepada kepala sekolah dan para guru bahwa di SMP Islam
Al-Azhar 18 salatiga sebelum pelaksanaan ada pertemuan pra supervisi
yaitu adanya kesepakatan antara guru dan kepala sekolah sebelum
pelaksanaan penilaian di kelas dengan menggunakan instrumen kemudian
diisi oleh guru yang bersangkutan. Kemudian sesuai jadwal kepala sekolah
masuk ke kelas mengamati proses pembelajaran berlangsung sampai
selesai. Setelah selesai ditindak lanjuti dengan diadakan pertemuan guru
yang bersangkutan diberi masukan tentang kekurangan dalam pelaksanaan
proses pembelajaran, namun setelah guru yang bersangkutan yang telah
diberi masukan sayang kepala sekolah belum mengecek kembali masuk ke
kelas berikutnya. Artinya bahwa kunjungan supervisi pembelajaran
hannya satu kali dalam satu semester. Mestinya dua kali kunjungan dikelas
135

dalam satu semester sehingga guru yang telah diberi masukan oleh kepala
sekolah dapat diketahui adanya peningkatan dalam pngelolaan proses
pembelajaran tersebut. Mengingat tugas kepala sekolah itu banyak bukan
hannya mensupervisi pembelajaran saja maka sangatlah wajar sehingga
solusinya mendelegasikan atau melimpahkan kepada wakil kepala sekolah
dan guru senior untuk melaksanakan supervisi pembelajaran.
Pelaksanaan supervisi pembelajaran oleh kepala sekolah/madrasah
baik di MTs Negeri Salatiga dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga ditinjau
dari segi teori-teori supervisi antara kedua sekolah-madrasah tersebut
adalah bervariasi artinya baru sebagian teori supervisi dilaksanakan dalam
pelaksanaan supervisi pembelajaran yang dilaksanakan oleh kepala
sekolah/madrasah baik dari segi prinsip-prinsip supervisi pembelajaran
pendekatan supervisi, metode dan teknik supervisi pembelajaran. Sebagai
mana yang telah diungkapkan melalui pengamatan dan studi dokumen serta
wawancara baik dengan kepala sekolah/madrasah, wakil kepala dan guru-
guru serta TU. Salah satu dintaranya adalah di MTs Negeri Salatiga dalam
supervisi pembelajaran kepala madrsah belum ada pertemuan pra supervisi
dan lansung kepala madrasah masuk ke kelas sesuai dengan jadwal
supervisi. Lain lagi di SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga disamping ada pra
supervisi dan melaksanakan supervisi pembelajaran baru satu kali.
Pendekatan yang dilakukan adalah direktif, kolaboratif dan non direktif.
136

Sebab tidak semua guru mempunyai permasalahan yang sama sehingga
kepala sekolah menerapkannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Jika guru itu baru maka digunakan pendekatan direkfif sebab guru tersebut
masih perlu pembinaan secara khusus dan belum berpengalaman dalam
mengajar. Sedangakan guru yang sudah lama mengajar bisa digunakan
pendekatan kolaboratif dan non direktif. Maka hal ini kepala sekolah harus
mampu menerapkan metode dan teknik yang tepat dalam rangka untuk
membina guru dalam hal ini adalah supervisi pembelajaran sehingga guru
tersebut dapat meningkatkan kompetensi profesional.
Kepala sekolah/madrasah dalam menjalankan salah satu tugas
sebagai supervisor mempunyai peran yang sangat penting bila
melaksanakan tugas secara profesional dalam membina guru-guru, karena
sesuai dengan tujuan supervisi pembelajaran kepala sekolah/madrasah
sebagai supervisor harus memberikan layanan dan membantu guru dalam
rangka peningkatan kompetensi profesional. Dampak dari bimbingan dan
layanan yang diberikan kepala sekolah/madrasah kepada guru tersebut
dapat meningkatkan kompetensi guru Artinya bahwa supervisi
pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah dapat berjalan
efektif maka akan memberikan dampak atau pengaruh positif dalam
meningkatkan kompetensi guru. Sebagai mana yang telah diuraikan pada
temuan poin nomor 3. Baik di MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga kepala sekolah/madrasah telah melaksakan supervisi pembelajaran
137

dan dari hasil supervisi tersebut dapat memberikan dampak positif yaitu
dapat meningkatkan kompetensi guru. Ini bisa di dilihat pada guru-guru
sudah bisa membuat silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
secara mandiri dan dalam proses pembelajaran sudah menggunakan
pembelajaran berbasis Information and Communication Technology (ICT).
Disamping itu dalam peningkatan pengembangan profesional guru
dikedua sekolah/madrasah tersebut telah mengadakan wokrshop. In Hause
Training (IHT) dan Diskusi kelompok serta tim teaching semua itu tidak
lain adalah tidak lepas dari peran seorang kepala sekolah/madrasah dalam
supervisi pembelajaran kepala sekolah/madrasah. Disamping itu kedua
sekolah/madrasah tersebut diminati masyarakat karena kedua
sekolah/madrasah tersebut sama mendapat Nilai Akreditasi A, sehingga
tiap tahun pendaftaran di kedua sekolah/madrasah tersebut meningkat dari
tahun ketahun dan prestasinya baik dari segi akademik maupun non
akademik meningkat dibuktikan setiap tahun kelulusannya 100%.


138

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan dalam tesis ini
maka peneliti menyimpulkan sebagai berikut :
1. Pelaksanaan supervisi kepala MTs Negeri Salatiga dan kepala
SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga telah melaksanakan supervisi
pembelajaran dalam meningkatkan kompetensi profesional
guru dibuktikan dengan mulai dari pembuatan perencanaan
jadwal supervisi, melaksanakan, menilai hasil kinerja guru
dengan memakai instrumen pembelajaran yang telah
dipersiapkan dan menindaklanjuti dari hasil supervisi
pembelajaran.
2. Pelaksanaan supervisi pembelajaran di MTs Negeri Salatiga
dan di SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga ditinjau dari segi teori-
teori supervisi baru sebagian teori supervisi yang dilaksanakan
yaitu salah satu diantaranya adalah pendekatan supervisi
direktif dalam pembelajaran dan yang belum dilaksanakan
yaitu pra supervisi pembelajaran temu awal wawancara dengan
guru yang dilaksanakan sebelum dalam pelaksanaan supervisi.
139

3. Dampak supervisi pembelajaran terhadap pengembangan
profesional guru baik di MTs Negeri Salatiga dan di SMP
Islam Al-Azhar 18 Salatiga menunjukkan hasil positif yaitu
ditandai dengan adanya peningkatan dalam pembuatan silabus
dan RPP secara mandiri dan dalam proses pembelajaran
sebagian besar sudah memakai ICT.
4. Perbedaan pelaksanaan dan dampak supervisi di MTs Negeri
Salatiga dengan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga adalah:
a. Pelaksanaan supervisi pembelajaran kepala MTs Negeri
Salatiga belum mendelegasikan pada wakil kepala madrasah
dan guru senior untuk melaksanakan supervisi pembelajaran
pada guru-guru.
b. Pelaksanaan supervisi pembelajaran di SMP Islam Al-
Azhar 18 disamping kepala sekolah melaksanakan supervisi
pembelajaran juga telah melibatkan wakil kepala sekolah dan
guru senior untuk melaksanakan supervisi pembelajaran
terhadap guru-guru.
Adapun dampak supervisi terhadap peningkatan kompetensi
guru di dua sekolah/madrasah tersebut dapat meningkatkan
kompetensi guru salah satu diantaranya guru-guru dapat
menyususn Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
140

(RPP) secara mandiri dan dalam melaksanakan pembelajaran
telah memakai ICT.

B. Saran.
1. Kepala MTs Negeri Salatiga dan kepala SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga hendaknya secara terus menerus melakakukan perbaikan-
perbaikan secara terus menerus dalam pelaksanaan supervisi
pembelajaran dengan menggunakan pendekaatan, metode dan teknik
dengan mengacu pada teori-teori supervisi yang sesuai dengan
kondisi sekolah/madrasah masing-masing. Salah satu upaya yang perlu
dilakuakan adalah dengan membuat konsep dengan melakukan
perencanaan, pelaksanaan dan menindaklanjuti serta melakukan
koordinasi secara sistematis dan konprehensip sehingga pelaksaan
supervisi pembelajaran tercapai sesuai denga tujuan yang diharapkan.
Disamping itu khusus di MTs Negeri Salatiga dalam pelaksanaan
supervisi pembelajaran hendaknya kepala madrasah supaya
melibatkan wakil kepala madrasah dan guru senior untuk
melaksanakan supervisi pembelajaran terhadap guru.
2. Bagi semua guru baik di MTS Negeri dan di SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga perlu mengembangkan pola pikir positip terhadap
pelaksanaan supervisi pembelajaran yang dilaksanakan oleh kepala
sekolah/madrasah sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas
141

pembelajaran dan mengembangkan kompetensi profesional guru
secara terus menerus baik dalam membuat silabus dan RPP serta
dalam pelaksanaan proses pembelajaran sehingga akan tercipta
suasana yang menyenagkan sehingga dapat mengantarkan peserta
didik dapat mencapai prestasi baik di bidang akademik maupun non
akademik.
3. Penelitian ini hannya meneliti pelaksanaan supervisi pembelajaran
kepala sekolah/madrsah di MTs Negeri Salatiga dan di SMP Islam Al-
Azhar 18 Salatiga dalam meningkan kompetensi guru. Oleh karena itu
masih sangat perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar Kepala
sekolah/madrasah dan guru semakin profesional dalam melaksanakan
tugasya.







142

DAFTAR PUSTAKA
Asyhari, M, Supervisi Akademik Pengawas Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten
Jepara, Tesis, 2011.
Arikunto, Suharsini. Prosedur PenelitianSuatu Pendekatan. Jakarta: Reneka Cipta,
1993.
Bafadal, Ibrahim, Supervisi Pengajaran Teori dan Aplikasinya Dalam Membina
Profesional Guru. Jakarta: Bumi Aksara, 1992.
Choliq MT. Supervisi Pendidikan. Yogyakarta: Mitra Cendekia, 2011
Depag RI. Panduan Perencanaan Madrasah, Jakarta: Majelis Pertimbangan dan
pembendayaan Pendidikan Agama dan Keagamaan (MP3A), 2005.
Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan
Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional, Supervisi
Akademik Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah, 2010.
Glickman, Carl D, Developmental Supervision:Alternative Practices for Helping
Teachers, Improve Instruction, ASCD (Association for Supervision and
Curriculum Development), Alexandria, Virginia, 1981.
Hasan Iskandar. Upaya Meningkatkan Kompetensi Guru MIPA Dalam Menyusun
RPP Melalui Supervisi Akademik Di SMP Negeri Gorontalo,Jurnal
Penelitian dan Pendidikan, Volume 8, Nomor 1, Maret 2011.
Hariyadi, Rahmat. Tuntutan Pofesionalisme Guru di Era Globalisasi,

Jurnal
Attarbiyah Kajian Agama, Budaya, Kependidikan. No 1 Tahun XXI,
Januari-Juni, 2011.
K. Yin, Studi Kasus: Desain dan Metodologi, penerjemah. M Djauzi Mundakir.
Jakarta: PT Raja Grafindo, 2006.
Lipham, James A, The Principalship: Concepts, Competencies, and Cases. New
York, Longmars, 1985.
Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya,
2000.
Mulyasa, E. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2008.
143

Mulyasa, E. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007.
Mardiyono, Supervisi Kunjungan Kelas dan Etos Kerja Guru Hubungannya Dengan
Kualitas Pengajaran Pada SMU Negeri Kabupaten Demak (Tesis) DPS
UNES, 2011.
Nawawi, Hadari Administrasi Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung, 1981.
Purwanto, Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya,
2004.
Puspowati, Musrini, Hubungan Supervisi Kunjungan Kelas oleh Kepala Sekolah dan
Kompetensi Dengan Kinerja Guru SD Negeri di Kecamatan Semarang
Barat Kota Semarang, Tesis PPS Unnes, 2003.
Sagala, Sayiful. Supervisi Pembelajaran dalam ProfesiPendidikan, Bandung:
Alfabeta, 2010.
Susanti, Siti, Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah terhadap kinerja Guru di MTs
Mrisi Kecamatan Tanggung Harjo Kab Grogogan tahun 2009, (Sripsi)
STAIN Salatiga, 2010.
Sahertian, Piet A. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan, Dalam Rangka
Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta,
2011.
Sally J. Zepeda. Instructional Supervision Applying Tools and Concepts, Eye On
Education, Library of Conggres Cataloging-in-Publication Data, 2003.
Sumidjo, Wahju, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta: Raja Grapindo Persada,
1999.
Oliva, Petre F. Supervision for Todays Schools (secon edition). New York &
London, Longman, 1984.
Wahab, Abdul. Menulis Karya Ilmiyah. Surabaya: Airlangga University Press, 1999.
Wahab, Aziz. Mencari Arah Baru Dalam Pengelolaan Sekolah, Mimbar
Pendidikan, No.3, Jakarta: 1996.


144

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran 1
PEDOMAN WAWANCARA
Judul Tesis:
SUPERVISI KEPALA MADRASAH DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI
GURU (STUDI MULTI KASUS DI MTS NEGERI DAN SMP ISLAM AL-AZHAR
18 SALATIGA)
A. Untuk Kepala MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga.
1. Bagaimana kronologi berdirinya sekolah/madrasah dan dinamika
perkembangannya?
2. Bagaimanakah Visi, Misi, dan Tujuan di sekolah/madrasah?
3. Bagaimanakah KTSP yang dibuat sekolah/madrasah melibatkan semua
unsur terkait?
4. Bagaimana pembinaan yang dilaksanakan kepala MTs dan SMP Islam Al-
Azhar 18 terhadap guru-guru?
5. Bagaimanakah bimbingan dilaksanakan secara individual dan kelompok?
6. Bagaimanakah dalam menyusun perencanaan supervisi pembelajaran?
7. Bagaimanakah pelaksanaan supervisi ditinjau dari teori-teori supervisi?
8. Bagaimanakah pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan supervisi
pembelajaran terhadap guru-guru?
9. Bagaimanakah model yang digunakan dalam supervisi pembelajaran
terhadap guru-guru?
10. Bagaimanah teknik yang digunakan dalam supervisi pembelajaran?
11. Bagaimana Guru melaksanakan pembelajaran?
12. Bagaimanakah tindak lanjut supervisi pembelajaran terhadap guru?
13. Bagaimana dampak supervisi pembelajaran terhadap pengembangan
profesional guru?
14. Apakah hasil supervisi dilaporkan kepada pengawas sekolah/mardasah?
15. Bagaimana kebijakan bapak ketika mengalami masalah atau kendala
dalam pengembangan kompetensi profesional guru?
16. Permasalahan apa saja yang timbul dalam implementasi pengembangan
kompetensi profesional guru-guru?
145

17. Bagaimanakah faktor pendukung dan penghambat supervisi?
18. Bagaimanakah langkah-langkah dalam mengatasi permasalahan yang
sering timbul dalam pengembangan kompetensi prosesional Guru?
B. Untuk Guru MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga.
1. Apakah kepala sekolah/madrasah mensosialisasikan Visi, Misi, dan
Tujuan Sekolah/madrasah?
2. Apakah kepala sekolah/madrasah mensosialisasikan supervisi
pembelajaran?
3. Adakah jadwal yang dibuat oleh kepala sekolah/madrasah dalam
supervisi pembelajaran di kelas?
4. Apakah wakil kepala sekolah/madrasah melaksanakan supervisi
pembelajaran di kelas?
5. Bagaimanakah Bapak/Ibu Guru melaksanakan pembelajaran di kelas?
6. Bagaiamanakah silabus yang dibuat oleh Bapak/Ibu guru dalam
pembelajaran?
7. Bagaimanakah Bapak/Ibu dalam menyusun RPP?
8. Bagaimanakah strategi/metode yang digunakan dalam pembelajaran di
kelas?
9. Bagaimanakah Bapak/Ibu Guru dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis
ICT?
10. Bagaimanakah dalam menilai prestasi belajar peserta didik?
11. Bagaiman Bapak/Ibu melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian peserta
didik
12. Bagaimanakah persepsi Bapak/Ibu Guru terhadap pelaksanaan supervisi
pembelajaran oleh kepala sekolah/madrasah?
13. Bagaimana pandangan Bapak/Ibu Guru, tentang supervisi pembelajaran
yang dilaksanakan kepala sekolah/mardasah meningkatkan kompetensi
profesional guru?
14. Bagaimanakah dampak supervisi kepala sekolah/madrasah terhadap
pengembangan kompetensi profesional guru?
15. Bagaimana dampak dari supervisi kepala sekolah/madrasah?
16. Adakah bukti fisik kepala sekolah/madrasah dalam melaksanakan
supervisi di kelas?
17. Kendala apakah yang sering Bapak/Ibu temukan dalam pengembangan
kompetensi profesional guru dalam pengelolaan pembelajaran?

146

C. Untuk Waka Kurikulum MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga.
1. Bagaimanakah KTSP yang dibuat oleh sekolah/madarasah?
2. Apakah ada pendelegasian kepala sekolah/madrasah dalam pelaksanaan
supervisi pembelajaran terhadap guru di kelas?
3. Jika ada, apakah dalam mensupervisi memakai intrumen pembelajaran?
4. Teknik apa yang digunakan dalam supervisi pembelajaran?
5. Pendekatan apa yang digunakan dalam supervisi pembelajaran?
6. Model supervisi apa yang digunakan?
7. Bagaimanakah tindak lanjut supervisi pembelajaran?
8. Apakah hasil supervisi pembelajaran dilaporkan kepala
sekolah/madrasah?

D. Untuk TU MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga
1. Bagaimanakah kronologis berdirinya MTs Negeri salatiga dan SMP Islam
Al-Azhar 18 salatiga?
2. Apakah kepala sekolah/marasah dalam pembinaan melibatkan guru dan
karyawan di sekolah/madrasah?
3. Apakah ada notulen rapat dalam setiap pertemuan di madrasah?
4. Bagaimanakah profil sekolah/madrasah?
5. Bagaimana sarana prasarana sekolah/mardasah?
6. Apakah kepala sekolah/madrasah melaporkan hasil supervisi kepada
atasan?









147

Lampiran 2
PEDOMAN OBSERVASI DAN DOKUMENTASI

A. Pedoman Observasi
1. Letak Geografis MTs Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga
2. Kondisi Lingkungan
3. Kondisi Bangunan
4. Kondisi ruang belajar, kantor, kamar mandi, masjid, tempat wudlu, dan
toilet
5. Kondisi pelaksanaan pembelajaran
6. Kondisi SDM yang ada
7. Perilaku keseharian pimpinan, guru, staf dan sisiwa

B. Pedoman Dokumentasi
1. Transkrip sejarah berdirinya, perkembangan dan profil sekolah/madrasah
2. Kronologis berdirinya sekolah/ madrasah
3. Struktu organisasi
4. Kondisi tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan siswa
5. Kondisi sarana prasarana
6. Program kerja sekolah/madrasah
7. Rencana srtategis sekolah/madrasah
8. Prestrasi Akademik dan non akademik sekolah/mardasah
9. Notulen rapat pengelola sekolah/madrasah
10. Data laporan supervisi







148

Lampiran 3
Jadwal Supervisi Kunjungan Kelas
No. Hari/Tgl Nama
Guru
Mata
Pelajaran
Kelas Jam
ke
Pelaksanaan
Supervisi
Keterangan











.........,..
Kepala Sekolah/Madrasah


NIP.
149

Lampiran 4
PENGAMATAN PROSES PEMBELAJARAN
MATA PELAJARAN
1. Hari, Tanggal :
2. Nama Sekolah : SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga
3. Nama Guru : ..
4. Kelas/Semester/Tahun Pelajaran : ..
5. Standar Kompetensi :
6. Waktu :
7. Nama Pengamat :
WAWANCARA PRA PENGAMATAN
NO PERTANYAAN CATATAN WAWANCARA
1 Kompetensi dasar apa yang Bp/Ibu ajarkan?
2 Kemampuan apa yang diharapkan dimiliki
murid?
Pengetahuan/Sikap/Ketrampilan
3 Nilai-nilai apa yang akan dikembangkan? (Misal: tanggung jawab, sabar dsb)
4 Persiapan apa yang Bapak/Ibu buat? Porta/Prosem:Ada /tidak
RPP: Ada/tidak
5 Adakah materi yang diperkirakan sulit
dipahami oleh murid?
Ada yaitu:
6 Adakah dugaan menanangi sumber kesulitan
pembelajaran?
Ada yaitu:
7 Metode apa saja yang akan bapak/Ibu
gunakan?
Metode:
8 Apa yang Bapak/Ibu gunakan sebagai alat
bantu pembelajaran?
Tidak ada/ada yaitu:

150

PENGAMATAN KUNJUNGAN KELAS
SMP ISLAM AL-AZHAR 18 SALATIGA
NO ASPEK YANG DIAMATI TDK YA NILAI ASPEK
YANG
DIBINA
I. PEMBUKAAN MAK HASIL
1 Melakukan absen 3
2 Doa belajar 3
3 Melakukan perbincangan sehari-
hari yang berkaitan
4
4 Memberitahukan KD 4
5 Memberikan tes awal 3
II KEGIATAN INTI
A PENGEMBANGAN UNSUR
MATERI

6 Guru menguasai ajar 10
7 Materi yang diberikan sesuai
dengan RPP
6
8 Memeberikan contoh sehari-hari
sebagai pngembangan materi
6
B UNSUR PEMBELAJARAN
9 Menyajikan materi dg metode yg
relevan
6
10 Menyajikan materi dengan
menggunakan papan tulis
6
11 Mamapu memotivasi murid 5
12 Guru menanamkan nilai-nilai
sesuai dg jawaban pra
pengamatan
4
13 Mengembngka diskusi 5
14 Guru menunjukkan kepedulian
terhadap murid
4
15 Menggunakan bahasa yg mudah 4
16 Suasana kelas tertib 4
C PENUTUP
17 Bersama murid menyimpulkan
matari pelajaran
5
18 Tes terakhir 5
19 Doa Penutup 3
III PENAMPILAN GURU
151

20 Kerapihan Busana 3
21 Kejelasan Berbicara 3
22 Kewibawaan 4
Jumlah Seluruhnya
Nilai yang diperoleh 100

PASCA PENGAMATAN
SMP ISLAM AL-AZHAR 18 SALATIGA
NO PERTANYAAN JAWABAN
1 Apakah yang menjadi hambatan dalam pembelajaran
tadi?

2 Apakah pembelajaran sesuai dengan yang
direncanakan?

3 Manakah yang dirasakan sangat memuaskan?
4 Menurut perkiraan Bapak/Ibu mengenai ketercapaian
tujuan pembelajaran?

5 Apa yang menjadi kesulitan murid?
6 Apa yang menjadi kesulitan Bapak/Ibu?
7 Adakah alternatif untuk mengatasi kesulitan itu?
8 Marilah kita diskusikan hal-hal yang perlu ditingkatkan
berdasarkan pengalaman Bapak/Ibu dan hasil
pengamatan saya!

9 Apa yang kira-kira Bapak/Ibu dapat dari prtemuan kita?

KESIMPULAN:

SARAN:
Salatiga,
Guru yang diamati Kepala SMPIA 18 Salatiga


152

Lampiran 5
LEMBAR PENILAIAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( Permendiknas No 41 Tahun 2007 )









Petunjuk
1.Berilah penilaian pelaksanaan pemebelajaran yang dibuat guru sesuai aspek-
aspek yang ada.
2.Semakin baik yang ditampilkan semakin tinggi nilainya (1-4).

A. KEGIATAN PENDAHULUAN Skala Nilai
1. Memberi salam 1 2 3 4
2. Membaca surat-surat penddk/ayat-ayat yang berkaitan dengan
Materi 1 2 3 4
3. Memberi motivasi peserta didik untuk berpartisipasi dalam
pebelajaran 1 2 3 4
Nama Sekolah :..........
Nama Pendidik :
Kelas :
Mata Pelajaran :..
Tema/Topik Pembelajaran :
Waktu :................................................
Hari/Tanggal :.............
153

4. Memberi ruang gerak cukup, prakarsa, kemandirian diri &
perkembanagan fisik& Psikis peserta didik 1 2 3 4
5. Menyiapkan peserta didik fisik & psikis 1 2 3 4
6. Mengajukan pertanyaan terkait pengetahuan sebelumnya 1 2 3 4
7. Menjelaskan tujuan pembelajaran 1 2 3 4
8. Menyampaikan cakupan materi & penjelasan uraian kegiatan 1 2 3 4

Rata-rata:

B. KEGIATAN INTI
1. Eksplorasi
a. Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas 1 2 3 4
b. Menggunakan beragam pendekatan, media & Sumber belajar 1 2 3 4
c. Memfalisitasi terjadinya interaksi antar peserta didik dan antar
peserta didik dan guru, lingkungan dan sumber belajar 1 2 3 4
d. Melibatkan peserta didik dalam setiap kegiatan 1 2 3 4
2. Elaborasi
a. Membiasakan peserta didik membaca& menulis 1 2 3 4
b. Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas

154

diskusi dan lain-lain 1 2 3 4
c. Memberi kesempatan peserta didik untuk berfikir, menganalisa
masalah 1 2 3 4
d. memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif &
kolaborasi 1 2 3 4
e. Memfasilitasi peserta didik utnuk menyajikan hasil kerja 1 2 3 4
d. Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan menumbuhkan
kebanggaan dan rasa percaya diri 1 2 3 4
3. Konfirmasi
a. Memberikan umpan balik positif & penguatan terhadap
keberhasilan peserta didik 1 2 3 4
b. Memberikan Konfirmasi terhadap hasil eksplorasi & elaborasi
peserta didik 1 2 3 4
c. Memfasilitasi Peserta didik melakukan refleksi dari pengalaman
belajar 1 2 3 4
d. Memfasilitasi peserta didik memperoleh pengalaman yang
bermakna dalam mencapai kopetensi 1 2 3 4

Rata-rata:

155

C. KEGIATAN PENUTUP
1. bersama-sama menyusun, membuat rankuman/kesimpulan
Pelajaran 1 2 3 4
2. Melakukan penilaian diri/refleksi terhadap kegiatan yang sudah
dilakukan 1 2 3 4
3. Memberi umpan balik terhadap proses & hasil pembelajaran 1 2 3 4

Rata-rata:
Jumlah Nilai Rata-rata
Nilai Akhir = ------------------------------- =
3
Komentar/Saran:

.........
.....................................................................................
Salatiga.,............
Penilai
Keterangan : Kepala MTs N
A = 3.28 4.00 Sangat Memuaskan
B = 2.78 3.27 Memuaskan
C = 2.38 2.77 Kurang Memuaskan ............................


156

Lampiran 6
Gambar Dokumentasi


Gambar 4.1.
Dokunentasi wawancara peneliti dengan kepala MTs N Salatiga







Gambar 4.2.
Dokumentasi dan wawancra peneliti dengan guru aqidah ( Umar Faruk S.Pd)


157

Lampiran 7




Gambar 4.3..
Dokumentasi kepala MTs N melaksanakan supervisi pembelajaran di kelas




Gambar 4. 4
Dokumentasi tindak lanjut Kepala MTs N supervisi dengan guru bahasa Arab
(Ida Widminngsih S.Pd)




158

Lampiran 8
Gambar Dokumentasi

Gambar 4.1
Wawancara peneliti dengan Kepala SMP Isalam AlAzhar 18 Salatiga

Gambar 4.2.
Wawancara peneliti dengan Kepala Plt SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga


159

Lampiran 9
Gambar Dokumentsai

Gambar 4.3
Wawancara Peneliti dengan Guru PAI di SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga


Gambar 4.4
Wawancara Peneliti dengan Guru Matematika di SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga

160

Lampiran 10


Gambar 4.5
Wawancara Peneliti dengan Guru di SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga


Gambar 4.6
Wawancara Peneliti dengan Guru di MTs N Salatiga
161

Lampiran 11

Gambar 4.7
Wawancara Peneliti Dengan Wakil Kepala Madrasah di MTs N Salatiga

Gambar 4.8
Wawancara Peneliti Dengan Kepala TU MTs N Salatiga
162

Lampiran 12

Gambar 4.9
Wawancara Peneliti Dengan Kepala TU SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga


Gambar 4.10
Pengamatan Peneliti pada Guru PAI di SMP Islam Al-Azhar Salatiga

163

Lampiran 11


Gambar 4.11
Pengamatan Peneliti Pada Guru Bahasa Arab di MTs N Salatiga



Gambar 4.12
Peneliti Observasi Pada Guru Bahasa Inggris PBM di Kelas
164


Mts



SURAT KETERANGAN
Nomor : Mts.11.32.113/PP.00.9/461/2013
Yang bertanda tangan di bawah ini Kepala MTs Negeri Salatiga menerangkan
bahwa:
Nama : Wahid Hasim
NIM : M.11.1.044
Perguruan Tinggi : Program Pascasarjana STAIN Salatiga
Judul Penelitian : Supervisi Pembelajaran Kepala Madrasah Dalam
Meningkatan Kompetensi Guru (Studi Multi Kasus di MTs
Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga)
Adalah benar-benar telah melaksanakan penelitian di Madrasah Tsanawiyah Negeri
Salatiga dari bulan juli sampai dengan 31 Agustus 2013.
Demikian surat keterangan ini kami sampaikan, harap menjadikan maklum dan agar
dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Dikeluarkan di : Salatiga
Pada tanggal : 31 Agustus 2013
Kepala,

Dra. Hj. Zayinatun, M.Pd
NIP. 19580510 199503 1 001
KANTOR KEMENTERIAN AGAMA
MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI
KOTA SALATIGA
Alamat: Jl Tegal Rejo I Kelurahan Tegalrejo Kecamatan
Argomulyo Kota Salatiga



165






SURAT KETERANGAN
Nomor : 008/A.B/05.02/1434/3013
Yang bertanda tangan di bawah ini Kepala SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga
menerangkan bahwa :
Nama : Wahid Hasim
NIM : M.11.1.044
Perguruan Tinggi : Program Pascasarjana STAIN Salatiga
Judul Penelitian : Supervisi Pembelajaran Kepala Madrasah Dalam
Meningkatan Kompetensi Guru (Studi Multi Kasus di MTs
Negeri dan SMP Islam Al-Azhar 18 Salatiga)
Adalah benar-benar telah melaksanakan penelitian di SMP Islam Al-Azhar 18
Salatiga dari bulan juli sampai dengan 31 Agustus 2013.
Demikian surat keterangan ini kami sampaikan, harap menjadikan maklum dan agar
dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Dikeluarkan di : Salatiga
Pada tanggal : 31 Agustus 2013
Plt, Kepala,

M. Adam Widiyanto S. Si.
NIP. -
DINAS PENDIDIKAN DAN OLAH RAGA
SMP ISLAM AL-AZHAR 18
KOTA SALATIGA
Alamat: Jl. Siranda Raya Bancaan Salatiga Telp. / Fax. (0298) 326828

Telp. / Fax. (0298) 326828

166

BIOGRAFI PENULIS

Nama : Wahid Hasim
Tempat / Tanggal Lahir : Pekalongan, 25 Maret 1963
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat Rumah : Jl. Osamaliki 543 B Kota Salatiga.
Riwayat Pendidikan :
1. SD Negeri Kepatihan Wiradesa Pekalongan, lulus Tahun 1979.
2. SMP Negeri 1 Wiradesa, lulus Tahun 1982.
3. SPG Negeri Peklongan , lulus Tahun 1985.
4. S-1 IAIN Walisongo Salatiga, lulus Tahun 1990.
Riwayat Pekerjaan :
1. Guru MA KH Syafii Buaran Pekalongan. Tahun 1993.
2. Guru PAI SMA Sudirman Pekalongan 1994.
3. Guru PAI SMA Hasyim Asyari Pekalongan 1996.
4. Guru PAI SMK Kota Pekalongan Tahun 2005.
5. Pengawas PAI SMP/MTs, SMA/MA, SMK Salatiga Tahun 2005-sekarang.
Pengalaman Organisasi :
1. Ketua II Pokjawas PAI Kemenag Prov Jateng Tahun 2011-sekarang
2. Asesor BAP S/M SMA/MA Jawa Tengah Tahun 2008- sekarang
3. Wakil Ketua Pokjawas PAI Kemenag Salatiga Tahun 2008-sekarang
4. Kabid Kerohanian PGRI Salatiga Tahun 2009-sekarang
Salatiga, Agustus 2013
Penulis,

Wahid Hasim
167