Anda di halaman 1dari 26

Laporan Pendahuluan Praklinik

Modul Keperawatan Medikal Bedah


Anemia













Disusun oleh:
Devi Julian Surya
1112104000044




Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Program Studi Ilmu Keperawatan
2014

Pengertian Darah
Darah adalah jaringan cairan yang terdiri atas dua bagian. Bahan interseluler adalah
cairan yang disebut plasma dan didalamnya terdapat unsur-unsur padat, yaitu sel darah.
Volume darah secara keseluruhan kira-kira merupakan satu perdua belas berat badan atau
kira-kira 5 liter. Sekitar 55 persennya adalah cairan, sedangkan 45 persen sisanya terdiri atas
sel darah. Angka ini dinyatakan dalam nilai hematokrit atau volume sel darah yang
dipadatkan yang berkisar antara 40-47.
Susunan darah, serum darah atau plsama terdiri atas :
Air : 91,0 %
Protein : 8,0 % (albumin, globulin, protrombin, dan fibrinogen)
Mineral : 0,9 % (natrium khlorida, natrium bikarbonat, garam dari kalsium,
fosfor, magnesium dan besi, dan seterusnya.

Sisanya diisi oleh sejumlah bahan organik, yaitu : glukose, lemak, urea, asam urat,
kreatinin, kholesterol dan asam amino.
Plasma berisi :
Gas oksigen dan karbon dioksida,
Hormon-hormon
Enzim
Antigen
Sel darah, terdiri atas :
Eritrosit atau sel darah merah
Lekosit atau sel darah putih
Trombosit atau butir pembeku

Komponen Darah
Darah terdiri atas dua komponen utama, yaitu sebagai berikut :
1. Plasma darah: bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit, dan
protein darah.
2. Butir-butir darah (blood corplucles), yang terdiri atas tiga elemen berikut:
Eritrosit
Sel darah merah merupakan cakram bikonkaf dengan diameter sekitar 7.5
mikron, tebal bagian tepi 2 mikron dan bagian tengahnya 1 mikron atau kurang,
tersusun atas membran yang sangat tipis sehingga sangat mudah diffusi oksigen,
karbon dioksida dan sitoplasma, tetapi tidak mempunyai inti sel.
Komponen utama eritrosit adalah hemoglobin (Hb) protein. Sintesis
hemoglobin dalam eritrosit berlangsung dari stadium perkembangan eritroblas
sampai retikulosit. Fungsi utama hemoglobin adalah transpor O dan CO.
Konsentrasi hemoglobin diukur berdasarkan intensitas warnanya menggunakan
fotometer dan dinyatakan dalam gram hemoglobin/ seratus milimeter darah (g /
100 ml) atau gram / desiliter (g/dl).
Pengukuran lain adalah hematokrit (Hct) atau volume packed cell,
menunjukan volume darah lengkap dari eritrosit. Pengukuran ini merupakan
persentase eritrosit dalam darah lengkap setelah spesimen darah disentrifugasi,
dan dinyatakan dalam milimeter kubik packed cell / 100 ml darah atau dalam
volume / dl.
Sel darah merah atau eritrosit berupa cakram kecil bikonkaf, cekung pada
kedua sisinya. Dalam setiap milimeter kubik darah terdapat 5.000.000 sel darah.
Kalau dilihat satu persatu warnanya kuning tua pucat, tetapi dalam jumlah besar
kelihatan merah dan memberi warna pada darah. Strukturnya terdiri atas pembungkus
luar atau stroma, berisi massa hemoglobin.
Sel darah merah memerlukan protein karena strukturnya terbentuk dari asam
amino. Mereka juga memerlukan zat besi, sehingga untuk membentuk penggantinya
diperlukan diit seimbang yang berisi zat besi. Wanita memerlukan lebih banyak zat
besi karena beberapa diantaranya dibuang sewaktu menstruasi.
Sel darah merah dibentuk di dalam sumsum tulang, terutama dari tulang
pendek, pipih dan tak beraturan, dari jaringan kanselus pada ujung tulang pipa dan
dari sumsum dalam batang iga-iga dan dari sternum.
Rata-rata panjang hidup darah merah kira-kira 115 hari. Sel menjadi usang,
dan dihancurkan dalam sistema retikulo-endotelial, terutama dalam limpa dan
hati. Globin dari hemoglobin dipecah menjadi asam amino untuk digunakan
seabagai protein dalam jaringan-jaringan dan zat besi dalam hem dari hemoglobin
dikeluarkan untuk digunakan dalam pembentukan sel darah merah lagi. Sisa hem
dari hemoglobin diubah menjadi bilirubin (pigmen kuning) dan biliverdin yaitu
yang berwarna kehijau-hijauan yang dapat dilihat pada perubahan warna
hemoglobin yang rusak pada luka memar.

Leukosit
Leukosit dalam darah atau sel darah putih berperan sebagai sistim imunitas
tubuh. Jumlah dalam keadaan normal adalah 5000-10000 sel/mm3. Leukosit
terdiri dari 2 kategori yaitu granulosit dan agranulosit.
a. Granulosit (polimorfonuklear): sel darah putih yang
didalamnya terdapat granula antara lain : eosinofil, basofil, neutrofil. 75 %
dari komponen leukosit adalah sel granulosit dan sel ini dibentuk didalam
sumsum tulang belakang.
b. Agranulosit : bagian dari sel darah putih yang mempunyai 1 sel
lobus dan sitoplasmanya tidak mempunyai granula antara lain limfosit dan
monosit.
Fungsi leukosit adalah sebagai sistim imunitas atau kekebalan tubuh, bila
tubuh kemasukan benda asing misal bakteri atau virus maka oleh sel sel
neutrofil atau limfosit benda asing tersebut akan difagositosis dimana sel
limfosit T akan membunuh langsung atau membentuk limfokin yaitu suatu
substansi yang memperkuat daya fagositosis sedangkan limfosit B akan
mengeluarkan antibodi yang akan menghancurkan benda asing tersebut.
Jenis-jenis sel Leukosit
Trombosit
Trombosit dalam darah berfungsi sebagai faktor pembeku darah dan
hemostasis (menghentikan perdarahan ). Jumlahnya dalam darah dalam keadaan
normal sekitar 150.000 sampai dengan 300.000 /ml darah dan mempunyai masa
hidup sekitar 1 sampai 2 minggu atau kira-kira 8 hari.


Anemia
SDM yang berkurang hingga dibawah nilai normal, kuantitas hemoglobin, dan
volume packed red blood cells (hematokrit) per 100 ml darah. Dengan demikian, anemia
bukan suatu diagnosis melainkan suatu cerminan perubahan patofisiologik yang mendasar
yang diuraikan melalui anamnesis yang seksama, pemeriksaan fisik, dan konfirmasi
laboratorium.
Karena semua sistem organ dapat terkena, maka anemia dapat menimbulkan
manisfestasi klinis yang luas, bergantung pada :
1. Kecepatan timbulnya anemia
2. Usia individu
3. Mekanisma kompensasi
4. Tingkat aktivitasnya
5. Keadaan penyakit yang mendasari
6. Beratnya anemia

Karena jumlah efektif SDM berkurang, maka pengiriman oksigen ke jaringan akan
menurun. Kehilangan darah yang mendadak (30% atau lebih), seperti pada perdarahan,
mengakibatkan gejala-gejala hipovolemia dan hipoksemia, termasuk kegelisahan, daiforesis
(keringat dingin), takikardia, napas pendek dan berkembang cepat menjadi kolaps sirkulasi
atau syok. Namun, berkurangnya massa SDM dalam waktu beberapa bulan (bahkan
pengurangan 50%) memungkinkan mekanisme kompensasi tubuh untuk beradaptasi, dan
pasien biasanya asimtomatik, kecuali pada kerja fisik berat.
Tubuh beradaptasi dengan :
1. Meningkatkan curah jantung dan pernapasan, oleh karena itu meningkatkan
oksigen ke jaringan-jaringan oleh SDM
2. Meningkatkan pelepasan oksigen oleh hemoglobin
3. Mengembangkan volume plasma dengan menarik cairan dari sela-sela jaringan
4. Retribusi aliran darah ke organ-organ vital

Manisfestasi klinis
Salah satu dari tanda yang paling sering dikaitkan dengan anemia adalah pucat.
Keadaan ini umumnya diakibatkan dari berkurangnya volume darah, berkurangnya
hemoglobin, dan vasokontriksi untuk memaksimalkan pengiriman O ke organ-organ vital.
Warna kulit bukanlah indeks yang dapat dipercaya untuk pucat karena dipengaruhi
pigmentasi kulit, suhu, dan kedalam distribusi bantalan kapiler. Bantalan kuku, telapak
tangan, dan membran mukosa mulut serta konjungtiva merupakan indikator yang lebih baik
untuk menilai pucat. Jika lipatan tangan tidak lagi berwarna merah muda, hemoglobin
biasanya kurang dari 8 gram.
Takikardia dan bising jantung (suara yang disebabkan oleh peningkatan kecepatan
aliran darah) mencerminkan beban kerja dan curah jantung yang meningkat. Angina (nyeri
dada), khususnya pada orang tua dengan stenosis koroner, dapat disebabkan oleh iskemia
miokardium. Pada anemia berat, gagal jantung kongestif dapat terjadi karena otot jantung
yang anoksik tidak dapat beradaptasi terhadap beban kerja jantung yang meningkat. Dispnea
(kesulitan bernapas), napas pendek, dan cepat lelah waktu melakukan aktivitas jasmani
merupakan manisfestasi berkurangnya pengiriman O. Sakit kepala, pusing, pingsan, dan
tinitus (telinga berdengung) dapat mencerminkan berkurangnya oksigenasi pada sistem saraf
pusat. Pada anemia yang berat juga dapat timbul gejala-gejala saluran cerna seperti anoreksia,
mual, konstipasi atau diare, dan stomatitis (nyeri pada lidah dan membran mukosa mulut);
gejala-gejala umumnya disebabkan oleh keadaan defisiensi zat besi.

Etiologi
Pengurangan massa sel darah merah ini dapat terjadi apabila produksi sel darah merah
terganggu atau apabila destruksi atau hilangnya eritrosit melebihi kemampuan sum-sum
tulang menggantikan sel-sel ini. Anemia dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat
hemoglobinisasi sel darah merah (hipokromik atau normokromik, atau makrositik), atau
kategori gangguan penyebab anemia. Terdapat tiga kategori utama :
Gangguan pembentukan sel darah merah
Penyakit defisiensi
Anemia hipoproliferatif-sumsum tulang yang fungsional berkurang atau tidak ada
Eritropoises yang tidak efektif anemia refrakter
Kehilangan sel darah merah yang berlebihan
Perdarahan
Hemolisis
Kelainan distribusi sel darah merah
Karakterisasi jenis dan keparahan anemia ditentukan oleh parameter konsentrasi
hemoglobin, atau hematokrit, dan berbagai indeks sel darah merah. Produksi sel darah merah
yang efektif ditentukan oleh hitung retikulosit, yang menilai jumlah eritrosit fungsional yang
dibuat oleh sumsum tulang.

Klasifikasi anemia
Tipe Ciri Morfologis Penyebab
Anemia aplastik Normositik, normokrom,
kehabisan leukosit dan
trombosit
1. Keracunan obat
2. Gagal genetik
3. Radiasi
4. Bahan kimia
5. infeksi
Anemia hemolitik Normositik, normokrom,
jumlah retikulosit
1. cedera mekanik
2. reaksi antigen-
antibodi SDM
3. Ikatan komplemen
4. Reaksi Kimia
5. Defek membran
herediter
Anemia makrositik Makrositik dengan variasi
ukuran (anisositosis) dan
bentuk (poikilositosis)
1. Diet tidak mencukupi
2. Kurang faktor
instrinsik untuk
anemia pernisiosa
3. Gangguan absorpsi
Anemia mikrositik
Defisiensi besi; kehilangan
darah menahun.
Mikrositik, hipokrom 1. Diet tidak mencukupi
2. Hilang darah
menahun
3. Kebutuhan meningkat
Pasca perdarahan;
perdarahan akut
Normositik, normokrom,
naiknya retikulosit dalam 48-
72 jam
Hilangnya darah akibat
hemodilusi dari cairan
intersitial dalam 48-72 jam.

Patofisiologi
Anemia adalah penurunan kualitas sel-sel darah merah dalam sirkulasi, abnormalitas
kandungan hemoglobin sel darah merah, atau keduanya. Anemia dapat disebabkan oleh
gangguan pembentukan sel darah merah atau peningkatan kehilangan sel darah merah
melalui perdarahan kronis, perdarahan mendadak, atau lisis (destruksi) sel darah merah yang
berlebihan. Semua anemia mengakibatkan penurunan nilai hematokrit dan hemoglobin tetapi
nilai MCV, MCHC, dan RDW dapat bervariasi. Sebagai contoh, penggunaan MCV sebagai
indeks, anemia mikrositik memiliki MCV < 82fL / sel darah; anemia normositik memiliki
MCV antara 82-98 fL / sel; dan anemia makrositik memiliki MCV > 98 fL / sel darah. Gejala
terkait anemia bergantung pada durasi, tingkat keparahan, dan usia penderita serta status
kesehatan sebelumnya. Semua gejala pada akhirnya berhubungan dengan reduksi dalam
pengangkutan oksigen ke sel dan organ penderita, sehingga mengganggu fungsi dan status
kesehatan.
Anemia Akibat Gangguan Pembentukan Sel Darah Merah
Gangguan pembentukan sel darah merah terjadi jika jumlah besi tidak adekuat atau
tidak dapat diakses, atau kekurangan asam folat, vitamin B, atau globulin. Produksi sel
darah merah juga dapat tidak mencukupi jika mengalami penyakit sumsum tulang seperti
yang terjadi pada leukimia, setalah terpajan radiasi, atau penyakit sumsum lainnya. Defisiensi
eritropoietin, yang dapat terjadi pada gagal ginjal, juga dapat menyebabkan penurunan
produksi sel darah merah. Anemia akibat gangguan pembentukan sel darah merah dapat
menyebabkan sel darah merah berukuran terlalu kecil (mikrositik) atau terlalu besar
(makrositik), dan kandungan hemoglobin yang secara abnormal rendah (hipokromik).
Anemia Akibat Perdarahan atau Lisis yang Mendadak atau Kronis
Anemia yang disebabkan perdarahan mendadak, perdarahan lambat yang kronis
mengakibatkan penurunan jumlah total sel darah merah dalam sirkulasi. Anemia jenis ini
dapat berhubungan dengan peningkatan persentase sel darah merah imatur (retikulosit) dalam
sirkulasi. Sel darah merah normal mampu hidup sekitar 120 hari. Destruksi atau hilangnya sel
darah merah yang terjadi sebelum 100 hari bersifat abnormal.

Keadaan Penyakit
Anemia Aplastik
Anemia aplastik adalah anemia normokromi-normositik yang disebabkan disfungsi
sumsum tulang sehingga sel-sel darah yang mati tidak diganti. Anemia aplastik biasanya
dihubungkan dengan defisiensi sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit, meskipun
jarang mungkin hanya mengenai sel-sel darah merah.
Anemia aplastik disebabkan banyak hal termasuk kanker sumsum tulang, perusakan
sumsum tulang oleh proses autoimun, defisiensi vitamin, ingesti berbagai obat atau zat kimia,
dan radiasi atau kemoterapi. Anemia aplastik juga dapat disebabkan berbagai infeksi virus,
termasuk mononukleosis, hepatitis, dan AIDS. Akan tetapi, anemia aplastik sering kali tidak
diketahui penyebab yang pasti.
Tanda sistemik klasik anemia :
Peningkatan kecepatan denyut nadi karena tubuh berusaha memberi oksigen lebih
banyak ke jaringan.
Peningkatan frekuensi pernapasan karena tubuh berusaha menyediakan lebih
banyak oksigen ke darah.
Pusing akibat berkurangnya aliran darah ke otak.
Kelelahan karena penurunan oksigenasi berbagai organ, termasuk otot jantung dan
otot rangka.
Kulit pucat karena berkurangnya oksigenasi.
Mual akibat penurunan aliran darah saluran cerna dan susunan saraf pusat.
Penurunan kualitas rambut dan kulit.
Pada anemia aplastik, jika trombosit dan sel darah putih juga terkena, gejala-gejala
ditambah dengan:
Perdarahan dari gusi dan gigi; mudah timbul memar, termasuk petekie dan
purpura.
Infeksi berulang.
Luka pada kulit dan mukosa yang sulit sembuh.

Perangkat Diagnostik
Hitung darah lengkap diferensial dan hitung trombosit, MCV, dan MCHC dapat
menegakkan anemia.
Biopsi sumsum tulang akan menentukan sel-sel mana yang terkena.
Komplikasi
Gagal jantung dan kematian akibat beban jantung yang berlebihan dapat terjadi
pada anemia berat.
Kematian akibat infeksi dan perdarahan jika sel darah putih atau trombosit juga
terlibat.
Penatalaksanaan
Obati penyakit yang menjadi penyebab anemia jika diketahui atau singkirkan agen
penyebab.
Transfusi untuk mengurangi gejala. Transplatasi sumsum tulang.
Imunosupresi jika disebabkan penyakit autoimun.
Obat untuk merangsang fungsi sumsum tulang mungkin efektif.

Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik adalah penurunan jumlah sel darah merah akibat destruksi sel darah
merah yang berlebihan. Sel darah merah yang tersisa bersifat normositik dan normokromik.
Pembentukan sel darah merah di sumsum tulang akan meningkat untuk mengganti sel-sel
yang mati, lalu mengalami peningkatan sel darah merah yang belum matur atau retikulosit
yang dipercepat masuk ke dalam darah.
Anemia hemolitik dapat terjadi dari berbagai penyebab, seperti defek genetik di sel
darah merah yang mempercepat destruksi sel, atau perkembangan idiopatik autoimun yang
mendestruksi sel. Luka bakar berat, infeksi, pajanan darah yang tidak kompatibel, atau
pajanan obat atau toksin tertentu juga dapat menyababkan anemia hemolitik. Bergantung
pada penyebabnya, anemia hemolitik dapat terjadi sekali atau berulang. Beberapa penyebab
khusus anemia sel sabit, malaria, penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, dan reaksi
transfusi.
Klasifikasi
Pada dasarnya anemia hemolitik dapat dibagi menjadi dua golongan besar sebagai
berikut.
1. Anemia hemolitik karena faktor didalam eritrosit sendiri (intrkorpuskular), yang
sebagian besar bersifat herediter-familiar.
2. Anemia hemolitik karena faktor di luar eritrosit (ekstrakorpuskular), yang sebagian
besar bersifat didapatkan.

Patofisiologi
Proses hemolisis akan menimbulkan beberapa gejala berikut ini.
1. Penurunan kadar hemoglobin yang akan mengakibatkan anemia. Hemolisis dapat
erjadi perlahan-lahan, sehingga dapat diatasi oleh mekanisme kompensasi tubuh,
tetapi dapat juga terjadi tiba-tiba, sehingga segera menurunkan kadar hemoglobin.
2. Peningkatan hasil pemecahan eritrosit dalam tubuh. Hemolisis berdasarkan tempatnya
dibagi menjadi dua.
Hemolisis terjadi pada sel makrofag dari sistem retikulo endotelial (RES) terutama
pada lien, hepar, dan sumsum tulang karena sel ini mengandung enzim heme
oxygenase. Lisis terjadi karena kerusakan membran, presipitasi hemoglobin dalam
sitoplasma, dan menurunnya fleksibilitas eritrosit. Pemecahan eritrosit ini akan
menghasilkan globin yang akan dikembalikan ke protein pool, serta besi yang
dikembalikan ke makrofag selanjutnya akan digunakan kembali, sedangkan
protoporfirin akan menghasilkan gas CO dan bilirubin. Bilirubin dalam darah
berikatan dengan albumin menjadi bilirubin indirek, mengalami konjugasi dalam
hati menjadi bilirubin direk kemudian dibuang melalui empedu sehingga
meningkatkan sterkobilinogen dalam feses dan urobilinogen dalam urine.
Hemolisis intravaskular
Pemecahan eritrosit intrvaskular menyebabkan lepasnya hemoglobin bebas ke
dalam plasma. Hemoglobin bebas ini akan diikat oleh hepatoglobin, sehingga
kadar hepatoglobin plasma akan menurun. Apabila kapasitas hepatoglobin
dilampui, maka terjadilah hemoglobin bebas dalam plasma yang disebut sebagai.
Hemoglobinemia. Hemoglobin bebas akan mengalami oksidasi menjadi
metemoglobin sehingga terjadi metemoglobinemia. Hemoglobin bebas akan
keluar melalui urine sehingga terjadi hemoglobinuria. Pemecahan eritrosit
intrvaskular akan melepaskan banyak LDH yang terdapat dalam eritrosit, sehingga
serum LDH akan meningkat.

Anemia Sel sabit
Anemia sel sabit adalah gangguan resesif autosomal yang disebabkan pewarisan dua
salinan gen hemoglobin defektif, masing-masing satu dari orang tua. Hemoglobin cacat
tersebut, yang disebut hemoglobin S (HbS), menjadi kaku dan membentuk konfigurasi seperti
sabit jika terpajan oksigen berkadar rendah. Tekanan oksidatif juga memicu produksi hasil
akhir glikasi yang masuk kedalam sirkulasi, sehingga memperburuk proses patologi vaskular
pada individu yang mengidap anemia sel sabit. Sel darah merah pada sel sabit ini kehilangan
kemampuan untuk bergerak dengan mudah melewati pembuluh yang sempit dan akibatnya
terperangkap didalam mikrosirkulasi. Hal ini menyebabkan penyumbatan aliran darah ke
jaringan dibawahnya, akibatnya timbul nyeri karena iskemia jaringan. Meskipun bentuk sel
sabit ini bersifat reversible atau dapat kembali ke bentuk sel sabit ini semula jika saturasi
hemoglobin kembali normal, sel sabit sangat rapuh dan banyak yang sudah hancur di dalam
pembuluh yang sangat kecil, sehingga menyebabkan anemia. Sel-sel yang telah hancur
disaring dan dipindahkan dari sirkulasi ke dalam limpa; kondisi ini mengakibatkan limpa
bekerja lebih berat. Jaringan parut dan kadang-kadang infark (sel yang sudah mati) dari
berbagai organ, terutama limpa dan tulang, dapat terjadi. Disfungsi multiorgan sering terjadi
setelah beberapa tahun.
Kondisi-kondisi yang dapat menstimulasi sel sabit antara lain hipoksia, ansietas,
demam, dan terpajan dingin. Karena limpa merupakan organ imun yang penting, infeksi,
terutama yang disebabkan bakteri, umumnya dan sering menstimulasi krisis sel sabit.
Gambaran klinis :
Terdapat tanda anemia sistemis
Nyeri hebat yang intens akibat sumbatan vaskular pada serangan penyakit
Infeksi bakteri serius disebabkan kemampuan limpa untuk menyaring
mikroorganisme yang tidak adekuat
Splenomegali karena limpa membersihkan sel-sel yang mati, kadang
menyebabkan krisis akut.
Perangkat Diagnostik
Pemeriksaan darah serial menunjukan penurunan hematokrit, hemoglobin, dan
hitung sel darah merah.
Pemeriksaan pranatal mengidentifikasi adanya status homozigot pada janin.
Komplikasi
Insiden vaso-oklusif mengakibatkan infark jaringan yang dapat menyebabkan rasa
nyeri yang intens dan disabilitas.
Terperangkapnya darah secara tiba-tiba di dalam limpa, yang disebut sekuestrasi
limpa, dapat mengakibatkan hipovolemia, syok, dan potensi kematian. Penyebab
sekuestrasi limpa belum diketahui dengan pasti, tetapi dapat terjadi bersama
demam dan nyeri. Limpa sering kali diangkat setelah kejadian sekuestrasi
tersebut. Tidak adanya limpa berakibat menurunkan kemampuan individu
berespons terhadap proses infeksi.
Stroke yang menyebabkan kelemahan, kejang, atau ketidakmampuan berbicara
dapat terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah otak.
Krisis aplastik, dapat terjadi selama sumsum tulang menghentikan sementara
proses eritropoiesis.
Nekrosis avaskular dari tulang panjang kaki atau lengan dapat terjadi karena
oklusi atau penyumbatan. Dislokasi panggul merupakan sekuela yang umum
terjadi akibat gangguan yang berat.
Priapisme, ereksi yang lama dan menyakitkan, dapat terjadi akibat vaso-oklusif
pembuluh darah penis; kondisi ini dapat menyebabkan impotensi pada beberapa
kasus.
Penatalaksanaan
Meningkatkan hidrasi setidaknya 1,5 sampai 2 kali dari kebutuhan normal dapat
menurunkan tingkat keparahan kejadian vasok-oklusif atau sumbatan pembuluh
darah.
Menghindari situasi yang menyebabkan kadar oksigen rendah atau aktivitas yang
memerlukan banyak oksigen.
Transfusi sel darah merah sering kali diperlukan tetapi harus dibatasi jika
mungkin untuk menurunkan risiko penyebaran agens infeksi.
Transplatasi sumsum tulang dengan HLA donor yang sesuai dapat mengeliminasi
produksi sel sabit, tetapi tidak akan memperbaiki kerusakan organ, dan
memerlukan penggunaan imunosupresan seumur hidup untuk menghambat reaksi
penolakan.
Inhalasi oksida nitrat mungkin digunakan untuk mencegah hipertensi pulmonalis
yang berkaitan dengan anemia sel sabit.
Konseling genetik untuk keluarga memungkinkan keputusan memiliki anak
berdasarkan informasi.




Penatalaksanaan medis dan keperawatan
Gejala
Gejala anemia tergantung pada kelainan yang mendasarinya serta tingkat keparahan
dan lamana onset anemia. Anemia ringan sering tidak menimbulka gejala. Anemia dengan
onset perlahan-lahan, bahkan bila berat, juga biasanya hanya menimbulkan sedikit gejala.
Pada anemia yang lebih berat atau yang onsetnya cepat, bisa terjadi gejala-gejala berikut:
Kelelahan
Edema perifer, misalnya bengkak pada kaki
Sesak napas: terutama jika ada penyakit jantung atau paru.
anemia sering menyebabkan dekompensasi pada gagal jantung kronis
Angina, jika ada penyakit jantung koroner, yang mungkin tidak diketahui sebelum
timbulnya anemia.
Tanda
Pemeriksaan fisik pada anemia biasanya tidak menunjukkan tanda apapun.
Mungkin ada pucat (telapak tangan, konjungtiva), walaupun tanda ini tidak bisa
diandalkan karena banyak orang yang tampak ini tidak bisa diandalkan karena
banyak orang yang tampak pucat tidak anemia, dan banyak orang yang anemia
tidak tampak pucat.
flow murmur sistolik sering ditemukan.
Bisa ditemukan tanda-tanda penyakit yang mendasari.
Pada anemia defisiensi Fe yang telah berlangsung lama, bisa dijumpai koilonikia
(kuku berbentuk sendok, spoon nail).

Penatalaksanaan
Langkah pertama dalam melakukannya adalah mengelompokan anemia menurut
ukuran eritrosit:
Anemia mikrositik/hipokromik : ukuran eritrosit lebih kecil dari normal
(mikrosotik) dengan kadar hemoglobin lebih rendah dari normal (hipokromik). Penyebab
tersering adalah anemia defisiensi Fe dan talasemia.
Anemia normokromik dan normositik : kadang-kadang siebut anemia karena
penyakit kronis. Ukuran eritrosit normal atau hanya sedikit mengecil dan konsentrasi
hemoglobin normal. Penyebab tersering di antaranya :
Infeksi kronis, seperti TB dan osteomielitis.
Penyakit radang spt artiritis reumatoid dan penyakit jaringan ikat.
Keganasan
Gagal ginjal
Anemia makrositik : ukuran eritrosit lebih besat dari normal. Penyebab tersering,
diantaranya :
Anemia hemolitik
Hipotiroidisme
Penyakit hati dan penyalahgunaan alkohol menyebabkan makrositosis, tapi tidak
terjadi anemia, kecuali bersamaan dengan perdarah atau defisiensi hematin.

Terapi
Terapi pada penyakit yang mendasari. Jika penyakitnya tidak responsif terhadap
terapi, berikan terapi suportif dengan transfusi darah, yang diulangi beberapa kali untuk
menimalkan gejala.
















Daftar Pustaka

1. Ensiklopedia keperawatan / editor, Chris brooker ; alih bahasa, Andry Hartono,
Brahm U. Pendit, Dwi Widiarti ; editor edisi bahasa Indonesia, Estu Tiar. Jakarta :
EGC, 2008.
2. At a glance medicine / Patrick Davey; alih bahasa, Annisa Rahmalia, Cut Novianty;
editor, Amalia Safitri. Jakarta : Erlangga, 2005.
3. Patofisiologi : buku saku / Elizabeth J. Corwin ; alih bahasa, Nike Budhi Subekti ;
editor bahasa Indonesia, Egi Komara Yudha ... [et al.]. Ed. 3. Jakarta : EGC, 2009.
4. Buku Ajar Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Hematologi/Wiwik Handayani, Andi Sulistyo Haribowo Jakarta: Salemba Medika,
2008.
5. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit / Sylvia Anderson Price, Lorraine
McCarty Wilson ; alih bahasa, Brahm U. Pendit ... [et al.] ; editor edisi bahasa
Indonesia, Huriawati Hartanto ... [et al.]. Ed. 6 Jakarta : EGC, 2005.
6. Buku saku dokter keluarga / editor, Mark A. Graber, peter P. Toth, Robert L. Herting
: alih bahasa, Lydia I. Mandera: editor edisi bahasa Indonesia, Susilawati, Dewi Asih
Mahanani Ed. 3. Jakarta : EGC, 2006.
7. Tinjauan klinis hasil pemeriksaan laboratorium / Ronald A. Sacher, Richard A.
McPherson ; alih bahasa, Brahm U. Pendit, Dewi Wulandari ; editor edisi bahasa
Indonesia, Huriawati Hartanto. Ed. 11. Jakarta : EGC, 2004.














Analisa Data
Nama Klien : Ny. Rosdiana
Ruang Rawat : IRNA Lt. V selatan (527)
Diagnosa Medis : ANEMIA

Data Masalah Kesehatan Masalah Kesehatan Etiologi
Data Obyektif
N : 80x/menit
TTV : 100/70 mmHg
S : 36,8C
Suara paru vesikuler
Suara jantung S1 S2
Turgor kulit baik
Mata an iketrik
Konjungtiva anemis
Wajah dan ujung jari
pucat

Data subyektif
Pasien mengeluh lemas, dan
merasa pusing. Tetapi rasa
pusing sudah berkurang dari
sebelumnya. Aktivitas dibantu
sebagian, mudah lelah saat
melakukan aktivitas.
Mengatakan sangat khawatir
dengan anaknya dirumah.
1. Gangguan perfusi
jaringan
2. Resiko Intoleransi
Aktivitas
3. Risk for impaired
attachment
1. Kurangnya suplai
oksigen ke jaringan
2. *Masalah dengan
sirkulasi
*Pengalaman dengan
intoleransi aktivitas
sebelumnya
3. *Ketidakmampuan
orang tua memenuhi
kebutuhan seseorang
*Orang tua anak
terpisahkan










PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama klien : Ny. Rosdiana
Ruang Rawat : IRNA Lt. V selatan (527)
Diagnosa Medis : ANEMIA
No. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan
2. Resiko intoleransi aktivitas
3. Risk for Impaired Attachment
4.
5.
















RENCANA KEPERAWATAN
Ruangan : 527
Dx Medis : ANEMIA
Nama Klien : Ny. Rosdiana

Tgl Diagnosa Keperawatan
& Data penunjang
Tujuan Rencana Tindakan Rasional
19/8/14























Gangguan perfusi
jaringan

Ds :
Merasa pusing dan mudah
lelah

Do:
Tampak pucat pada wajah
dan ujung jari, Hb 8,5
(11,7 - 15,5), konjungtiva
anemis















Resiko Intoleransi
Aktivitas

Do :
Konjungtiva
anemis
Wajah dan ujung
jari pucat
Ds :
Pasien mengeluh lemas,
dan merasa pusing.
Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan 6x24
jam :
Hb kembali
normal, TTV
stabil, Perfusi
adekuat

Capillary refill 3-
5
Fatigue 2-5















Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan 6x24
jam :
Tidak merasa
lemas, dan dapat
beraktivitas secara
mandiri

NOC : Endurance

NIC : Circulatory
Care : Arterial
Insufficiency

Tindakan yang akan
dilakukan :
-Lakukan penilaian
komprehensif
sirkulasi perifer (nadi,
edema, capillary refill,
warna, dan suhu).
-Inspeksi kulit untuk
luka dan kerusakan
jaringan.
-Ubah posisi klien
setiap 2 jam, jika
dibutuhkan
-Sarankan pasien
untuk berolahraga jika
mampu
-Mempertahankan
hidrasi yang memadai
untuk menghindari
kekentalan darah.



NIC : Energy
Management

Tindakan yang akan
dilakukan :
-Tentukan persepsi
pasien tentang
penyebab kelelahan
-Cek status fisiologis
status penurunan
pasien (contoh

Aktivitas dibantu
sebagian, mudah lelah saat
melakukan aktivitas.

















Risk for impaired
Attachment

Do :
Pasien tampak bosan, dan
ingin segera pulang
kerumah

Ds :
Mengatakan sangat
khawatir dengan anaknya
dirumah.
Kegiatan rutin 3-5
Aktivitas 3-5
Konsentrasi 4-5
Hb 2-5
Ht 3-5
Energi 3-5














Setelah dilakukan
tindakan
keperawatan 6x24
jam :
Dapat tenang dan
menghilangkan
stres yang dirasa

NOC : Anxiety
Self-control

Rencana koping
untuk mengurangi
stres 3-5
Mempertahankan
peran 3-5
Mempertahankan
istirahat yang
adekuat 3-5
anemia)
-monitor/catat pola
tidur dan lamanya
pasien tidur
-sarankan pasien
untuk istirahat dan
membataskan
aktivitas
-instruksikan pasien
dan keluarga untuk
dapat melepaskan
stres dan melakukan
mekanisme koping
agar tidak
menurunkan energi
pasien.




NIC : Coping
Enchancement

-Nilai dampak
perubahan situasi
hidup pasien dari
peran dan hubungan
sosial
-Nilai pengetahuan
pasien tentang proses
penyakitnya
-Bantu pasien mencari
hal apa yang dia suka
untuk lakukan
-cari tahu kritikan
pasien untuk dirinya
sendiri
-Nilai pasien untuk
identifikasi kekuatan
dan kemampuan
dirinya sendiri
-Bantu pasien untuk
menemukan strategi
yang positif untuk
mengatasi perubahan
peran dan pola hidup








IMPLEMENTASI
Nama Klien : Ny. Rosdiana
Ruang Rawat : 527
Diagnosa Medis : Anemia
Tgl No Dx
Keperawatan
Implementasi Paraf &
nama
20-8-
2014






























I














II















III
1. Melakukan penilaian
komprehensif sirkulasi
perifer (nadi, edema,
capillary refill, warna, dan
suhu).
2. Menginspeksi kulit untuk
luka dan kerusakan
jaringan.
3. Mengubah posisi klien
setiap 2 jam, jika
dibutuhkan




1. Menentukan persepsi
pasien tentang penyebab
kelelahan
2. Memonitor/catat pola tidur
dan lamanya pasien tidur
3. Menyarankan pasien untuk
istirahat dan membataskan
aktivitas
4. Menginstruksikan pasien
dan keluarga untuk dapat
melepaskan stres dan
melakukan mekanisme
koping agar tidak
menurunkan energi pasien.


1. Menilai dampak perubahan






21-8-
2014










I

















II















III
situasi hidup pasien dari
peran dan hubungan sosial
2. Menilai pengetahuan
pasien tentang proses
penyakitnya
3. Menilai pasien untuk
identifikasi kekuatan dan
kemampuan dirinya sendiri


1. Melakukan penilaian
komprehensif sirkulasi
perifer (nadi, edema,
capillary refill, warna, dan
suhu).
2. Menginspeksi kulit untuk
luka dan kerusakan
jaringan.
3. Mengubah posisi klien
setiap 2 jam, jika
dibutuhkan
4. Menyarankan pasien untuk
berolahraga jika mampu
5. Mempertahankan hidrasi
yang memadai untuk
menghindari kekentalan
darah.

1. Menentukan persepsi
pasien tentang penyebab
kelelahan
2. Memonitor/catat pola tidur
dan lamanya pasien tidur
3. Menyarankan pasien untuk
istirahat dan membataskan
aktivitas
4. Menginstruksikan pasien
dan keluarga untuk dapat
melepaskan stres dan
melakukan mekanisme
koping agar tidak
menurunkan energi pasien.


1. Nilai dampak perubahan
situasi hidup pasien dari
peran dan hubungan sosial
2. Menilai pengetahuan
pasien tentang proses
penyakitnya
3. Membantu pasien mencari
hal apa yang dia suka
untuk lakukan
4. Mencari tahu kritikan
pasien untuk dirinya
sendiri
5. Membantu pasien untuk
menemukan strategi yang
positif untuk mengatasi
perubahan peran dan pola
hidup
















CATATAN PERKEMBANGAN

Nama Klien : Ny. Rosdiana
Ruang Rawat : 527
Diagnosa Medis : Anemia

Tgl No Dx keperawatan SOAP Paraf &
nama
20-8-
2014




















I





















S : Pasien masih merasa lemas
tetapi sudah lebih baik, merasa
mual tetapi nafsu makan baik
dan makan selalu habis

O :
HR : 80x/menit
RR : 18x/menit
TD : 110/80
S : 36,5C
Hb : 8,3 gr/dl
Edema (-)
Capillary refill < 2
Suara paru vesikuler
Suara jantung S1 S2
Kesadaran CM

A :
Masalah gangguan perfusi
jaringan masih belum teratasi

P :






































II

















III










Lakukan kolaborasi untuk
transfusi darah, pantau TTV,
dan lanjutkan intervensi

S :
Mudah merasa lelah saat
melakukan aktivitas, lemas

O :
ADL partial care
TD 110/80
Capirally refill < 2
Hb : 8,3 gr/dl (dibawah normal)

A : Masalah resiko intoleransi
aktvitas masih belum teratasi

P :
Melakukan kolaborasi dan
melanjutkan intervensi


S :
Menyatakan bosan, dan ingin
segera pulang. Menceritakan
kehidupan anaknya, dan ingin
segera bertemu serta menjalani
perannya kembali sebagai ibu.
Dan pasien mengerti tentang
proses penyakitnya sendiri.

O :
Wajah lemas, menunjukan














21-08-
2014




















I

















mimik sedih saat menceritakan
stresor pada dirinya

A :
Masalah ketidak sesuaian peran
masih belum teratasi

P :
Diskusi dengan pasien tentang
hal yang dapat menghiburnya
dan memberi tahu keluarga dan
pasien untuk melakukan
mekanisme koping, lanjutkan
intervensi

S :
Sudah lebih baik setelah
transfusi darah
Tidak pusing
Badan terasa baik

O :
Hb 11,7g/dL (11,7-15,5)
Ht 38% (33-45)
TD 100/70
RR 20x/menit
S 36,7C
N 88x/menit
Kesadaran CM
Konjungtiva ananemis

A : Masalah gangguan perfusi
jaringan masih sudah teratasi




II














III

P :
Jaga kestabilan keadaan pasien

S :
Lemas

O :
ADL partial care
TD 100/70
Capirally refill < 3
Hb : 11,7 gr/dl

A : Masalah resiko intoleransi
aktvitas masih belum teratasi

P :
Melanjutkan intervensi

S :
Merasa senang karena keadaan
membaik dan akan segera
pulang
O :
Ekspresi senang saat
menceritakan anaknya
A :
Masalah ketidak sesuaian peran
sudah teratasi
P :
Diskusi dengan pasien untuk
menjaga kesehatan menghindari
kejadian yang sama