Anda di halaman 1dari 7

1.

Preparat Permanen Akar Zea mays














Keterangan :
1. Jenis tumbuhan monokotil dengan akar serabut
2. Metode : paraffin
3. Larutan fiksatif : FAA
4. Larutan Dehidrasi : seri etanol : n-butanol : aquades
5. Jenis paraffin untuk infiltrasi : paraffin 48
0
C
6. Jenis paraffin untuk embedding : paraffin 58
0
C
7. Zat warna :Safranin dan Fast Green


8. Jenis mikrotom : mikrotom putar.
9. Ketebalan sayatan : 10 m
10. Arah sayatan : Transverse section
11. Larutan perekat objek : Albumin meyr
12. Larutan perekat kaca penutup objek : Entellan
13. Jenis kamera : Samsung MV900F 16 Megapixel
14. Jaringan pada akar jagung : memiliki hypodermis, posisi floem dan
xilemaphikribal,yaitu floem
mengelilingi xylem.

Epidermis
Xilem
Stele
Floem
Korteks
Endodermis
Hypodermis
Sumber : sentra-edukasi.com
Sumber : ilmubiologi.com
P : 100x
2. Preparat Permanen Daun Zea mays









Sumber : winiedoank.blogspot.com


Keterangan :
1. Jenis tumbuhan monokotil
2. Metode : paraffin
3. Larutan fiksatif : FAA
4. Larutan Dehidrasi : seri etanol : n-butanol : aquades
5. Jenis paraffin untuk infiltrasi : paraffin 48
0
C
6. Jenis paraffin untuk embedding : paraffin 58
0
C
7. Zat warna :Safranin dan Fast Green
8. Jenis mikrotom : mikrotom putar.
9. Ketebalan sayatan : 7 m
10. Arah sayatan :Transverse section
11. Larutan perekat objek : Albumin meyr
12. Larutan perekat kaca penutup objek : Entellan
13. Jenis kamera : Samsung MV900F 16 Megapixel
14. Jaringan pada daun :memiliki sel kipas yang berfungsi untuk
menggulung daun ketika kekeringan
dan memiliki seludang mestoom yang
berfungsi dalam efesiensi CO
2.


Floem
Xilem
Sel
Kipas
Seludang
mestoom
Epidermis
bawah
Epidermis
atas
Bundle
sheet
Stomata
P : 100x
3. Preparat Permanen Daun Ficus sp.







Sumber : abisjatuhbangunlagi.wordpress.com


Keterangan :
1. Jenis tumbuhan dikotil
2. Metode : paraffin
3. Larutan fiksatif : FAA
4. Larutan Dehidrasi : seri etanol : n-butanol : aquades
5. Jenis paraffin untuk infiltrasi : paraffin 48
0
C
6. Jenis paraffin untuk embedding : paraffin 58
0
C
7. Zat warna :Safranin dan Fast Green
8. Jenis mikrotom : mikrotom putar.
9. Ketebalan sayatan : 7 m
10. Arah sayatan : Transverse section
11. Larutan perekat objek : Albumin meyr
12. Larutan perekat kaca penutup objek : Entellan
13. Jenis kamera : Samsung MV900F 16 Megapixel
14. Jaringan pada daun : memiliki jaringan palisade isobilateral,
palisade ada di bagian atas dan bawah
mengapit jaringan spons.

Epidermis
atas
Epidermis
bawah
Hipodermis
Palisade atas
P : 100x
Spons Palisade bawah
4. Preparat Permanen Akar Vanda sp.















Sumber : ineumasitohsitinurjanah.blogspot.com

Keterangan :
1. Jenis tumbuhan epifit
2. Metode : paraffin
3. Larutan fiksatif : FAA
4. Larutan Dehidrasi : seri etanol : n-butanol : aquades
5. Jenis paraffin untuk infiltrasi : paraffin 48
0
C
6. Jenis paraffin untuk embedding : paraffin 58
0
C
7. Zat warna :Safranin dan Fast Green
8. Jenis mikrotom : mikrotom putar.
9. Ketebalan sayatan : 7 m
10. Arah sayatan : Transverse section
11. Larutan perekat objek : Albumin meyr
12. Larutan perekat kaca penutup objek : Entellan
13. Jenis kamera : Samsung MV900F 16 Megapixel
14. Jaringan pada daun : memiliki epidermis yang berlapis-lapis
yang disebut velamen, yang berfungsi
untuk menahan penguapan air.
Epidermis
Velamen
Stele
P : 100x
4.2.1 Pembahasan
Praktikum mikroteknik tumbuhan bertujuan untuk membuat preparat permanen dari organ
tumbuhan.Pada praktikum ini akan dilihat ciri khas dari beberapa organ tumbuhan padaZea
mays, Vanda sp., dan Ficus sp. dalam sayatan melintang.
Langkah-langkah dalam pembuatan preparat permanen adalah fiksasi, pencucian, dehidrasi,
infiltrasi, penanaman, penyayatan dan perekatan,terakhir pewarnaan. Pertama adalah proses
fiksasi menggunakan larutan fiksatif FAA yang terdiri dari etanol 70% : asam asetat glasial :
formadehid dengan perbandingan 90 : 5 : 5. Fiksasi merupakan proses mematikan dan
mengawetkan semua struktur sel dan jaringan tumbuhan agar sebisa mungkin berada dalam
keadaan yang sama atau hampir sama dengan keadaan masih hidup. Untuk memfiksasi suatu
organ pada umumnya dibutuhkan waktu perendaman kurang lebih 24 jam untuk organ yang
keras dan 12 jam untuk organ yang tipis. Perendaman yang terlalu lama akan merusak sel dan
jaringan. Sebelum dilakukan proses selanjutnya dilakukan dahulu proses aspirasi yakni
penghisapan udara yang masih ada di dalam jaringan tumbuhan, hal ini dilakukan agar
larusan fiksasi dapat masuk juga ke dalam jaringan.
Kedua adalah proses pencucian dengan menggunakan alcohol dengan konsentrasi yang sama
dengan etanol pada larutan fiksatif FAA, yaitu 70%.Hal ini dilakukan agar tidak terjadi shock
pada jaringan tumbuhan.Ketiga adalah proses dehidrasi, yaitu proses penarikan air di dalam
jaringan sehingga dapat digantikan oleh larutan yang dapat bercampur dengan parafin.
Larutan dehidran terdiri dari beberapa seri dengan perbandingan dari n-butanol : etanol 10% :
aquades yang berbeda-beda tergantung pada serinya. Larutan dehidrasi dibuat berseri agar
jaringan terbiasa dan tidak langsung rusak saat diberi larutan dengan konsentrasi tinggi.
Keempat adalah proses infiltasi, yaitu memasukan bahan dalam campuran dehidran dengan
parafin 48. Jaringan tumbuhan direndam dalam larutan seri 7dan parafin 48
0
dengan
perbandingan 1 : 1 yang kemudian didiamkan selama 6 jam pada suhu kamar dalam keadaan
tertutup. Setelah itu, parafin diganti oleh parafin 48 saja dan disimpan dalam inkubator
dengan suhu 48 selama 1 hari. Kemudian disipakan parafin 58 yang sudah encer dan ganti
parafin 48 dengan parafin 58 kemudian didiamkan 1-3 hari dalam inkubator agar parafin
masuk hingga ke dalam jaringan tumbuhan.
Kelima merupakanproses penanaman (Embedding) pada kotak yang terbuat dari kertas tebal
(bekas kalender). Pada proses ini dapat ditentukan bagaimana arah sayatan yang akan dibuat,
melintang ataupun membujur sesuai dengan sel atau jaringan apa yang ingin diamati dari
suatu organ tumbuhan.
Keenam dilakukan penyayatan menggunakan mikrotom.Sayatan yang terbentuk harus rapih,
agar hasilnya dapat diamati.Hasil sayatan diletakkan di atas kaca objek yang telah
dibersihkan dan diberi albumin meyr.Kaca objek yang telah diberi albumin meyr diletakkan
diatas papan pemanas, ditunggu sampai agak kering, kemudian di salah satu ujungnya diberi
aquades satu tetes untuk meletakan pita paraffin. Aquadest yang berlebih dapat dihilangkan
menggunakan pipet.
Proses ketujuh adalah pewarnaan, zat warna yang digunakan adalah safranin dan fast green.
Kedua zat warna ini digunakan untuk mewarnai sel-sel yang ada pada jaringan tumbuhan.
Proses pewarnaan dilakukan melalui beberapa tahapan dengan range waktu yang berbeda-
beda. Setelah proses pewarnaan selesai, preparat harus langsung ditutup menggunakan kaca
penutup. Penempelan kaca penutup dilakukan dengan pemberian entelan diatas preparat yang
telah diwarnai.Setelah itu dapat diamati dibawah mikroskop.
Berdasarkan hasil pengamatan pada preparat sayatan organ tumbuhan, preparat akar Zea
mays.apabila dibandingkan dengan literatur terlihat banyak kesamaan. Pada akar Zea mays
terlihat bahwa struktur dalamnya tersusun rapi (mulai dari endodermis), namun bagian
epidermis, hypodermis, dan korteks hancur, hanya tersisa sedikit.Ini terjadi karena ada
ketidaksesuaian pada saat penyayatan (sectioning), preparat, mungkin pisau yang digunakan
kurang tajam, sehingga preparat menjadi hancur. Selain itu preparat tidak terwarnai oleh zat
warna fast green, sehigga warna yang terlihat hanya merah muda yang berasal dari pewarna
safranin, hal ini dikarenakan kurang lamanya waktu perendaman preparat di dalam zat warna
fast green.Pada pengamatan mikroskop terlihat bagian-bagiannya sebagai berikut: epidermis,
hypodermis, korteks,berkas pembuluh (xylem dan floem),stele dan endodermis.
Pada preparat daun Zea maysjuga ditemukan banyak kesamaan dengan gambar dari
literature, hanya saja peletakan preparat di dalam blok paraffin saat embedding tidak lurus,
sehingga preparat permanen yang dihasilkan melengkung. Pada preparat daun Zea mays
ditemukanciri khas dari daun ini, yaitu sel kipas yang berfungsi untuk menggulung daun
ketika kekeringan dan seludang mestoom yang berfungsi dalam efesiensi CO2.Selain itu
ditemuakan pula epidermis atas dan bawah, stomata, dan bundle sheath.Dapat dikatakan
bahwa preparat ini merupakan preparat yang paling lengkap bagiannya.
Untuk preparat daun Ficus sp., preparat permanen yang dihasilkan agak sedikit berbeda
dengan preparat asli. Jaringan yang terbentuk sedikit rusak, mungkin terjadi pada saat proses
penyayatan menggunakan mikrotom. Karena kerusakan tersebut, agak sulit membedakan
antara jaringan palisade dan spons. Daun Ficus sp. memiliki jaringan palisade isobilateral,
palisade ada di bagian atas dan bawah mengapit jaringan spons.Sistolit dan litosit yang
seharusnya berada di daerah epidermis atas juga tidak terlihat.
Pada preparat akar Vanda sp., preparat permanen yang dihasilkan agak berbeda dengan
literature, mungkin karena spesies pada literature dan preparat yang dibuat berbeda.Selain
itu, preparat yang dihasilkan tidak memiliki bagian yang lengkap, ada bagian yang hilang,
sehingga agak sulit untuk memberikan keterangan pada preparat. Hal ini terjadi karena
proses penyayatan tidak sempurna, akar tampak keras dan rapuh pada saat penyayatan. Hal
ini dikarenakan jaringan terlalu lama direndam dalam fiksatif sehingga menyebabkan
jaringan menjadi keras dan rapuh sehingga menyulitkan pada saat proses penyayatan dengan
bantuan mikrotom. Selain oleh proses fiksasi, menurut Gunarso (1989), proses pengerasan
juga berlangsung dalam serangkaian cairan alkohol yang berbeda konsentrasinya pada proses
dengan dehidrasi.