Anda di halaman 1dari 107

P E M E R I N T A H K O T A M E D A N

P r o v i n s i S u m a t e r a U t a r a
2 0 1 3
KAJIAN MODEL PENGELOLAAN SAMPAH
DAN SDM KEBERSIHAN
DI KOTA MEDAN
KAJIAN MODEL PENGELOLAAN SAMPAH DAN SDM KEBERSIHAN
DI KOTA MEDAN
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u m a t e r a U t a r a
2 0 1 3
L A P O R A N A K H I R
K A T A P E N G A N T A R
Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang dengan
kasihNya telah mengijinkan kami tim pengkaji untuk menyelesaikan kajian yang
berjudul ?Kajian Model Pengolahan Sampah dan SDM Dinas Kebersihan di Kota
Medan?. Kajian ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi sistim pengelolaan
sampah Kota Medan dan menyusun rencana strategis model pengelolaan
sampah dan SDM Dinas Kebersihan berdasarkan kondisi internal dan eksternal
daerah. Kami menyadari bahwa kajian ini dapat terselesaikan dengan bantuan
dan dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini kami tim
pengkaji menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu terselesaikannya kajian ini.
Demikianlah Laporan Akhir ini kami susun, semoga dapat bermanfaat bagi semua
pihak yang membutuhkan informasi tentang model pengelolaan sampah dan
SDM dinas kebersihan di Kota Medan untuk mewujudkan kota Medan yang
bersih di masa yang akan datang.
Medan, November 2013
Tim Pengkaji
i
D A F T A R I S I
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iv
DAFTAR GAMBAR v
Bab 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 5
1.3 Tujuan Penelitian 5
1.4 Manfaat Penelitian 5
1.5 Luaran (Output) Penelitian 5

Bab 2 TINJAUAN TEORITIS
2.1 Pengertian Sampah 6
2.2 Jenis-jenis Sampah 8
2.2.1 Sampah Khusus 8
2.3 Sumber Timbulan Sampah 9
2.4 Sistem Pengelolaan Sampah 10
2.4.1 Teknis Operasional Pengelolaan Sampah 11
2.4.2 Aspek Kelembagaan dan Organisasi 22
2.4.3 Aspek Pembiayaan Pengelolaan Sampah 22
2.4.4 Aspek Hukum dan Peraturan 23
2.4.5 Aspek Peran Masyarakat 23
2.5 Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan Sosial Ekonomi 24
2.6 Permasalahan dalam Pengelolaan Persampahan 26
2.7 Undang-Undang No. 18 tentang Pengelolaan Sampah 28
2.8 Sistem Pengelolaan Sampah Ideal 29
2.9 Kualitas Pelayanan dan SDM Kebersihan 30
Bab 3 METODE PENELITIAN
3.1 Tipe Penelitian 32
3.2 Ruang Lingkup Penelitian 32
3.3 Lokasi Penelitian 32
3.4 Jenis dan Sumber Data 32
3.5 Teknik Pengambilan Sampel 33
3.6 Metode Pengumpulan Data 35
3.7 Teknik Analisis Data 35
3.7.1 Perhitungan Besaran Timbulan Sampah 35
3.7.2 Analisis Kondisi menggunakan Analisis SWOT 36
ii
Bab 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Kota Medan 38
4.1.1 Sejarah Singkat 38
4.1.2 Keadaan Geografis 39
4.1.3 Demografis 42
4.1.4 Sarana Pendidikan 47
4.1.5 Fasilitas Kesehatan Masyarakat 47
4.1.6 Pengaruh PDRB terhadap Pengelolaan Sampah
Kota Medan 48
4.2 Kondisi Pengelolaan Sampah Kota Medan 49
4.2.1 Teknik Operasional 49
4.2.2 Struktur Organisasi Dinas Kebersihan Kota Medan 56
4.2.3 Hukum dan Peraturan 57
4.2.4 Peran Serta Masyarakat 58
4.3 Analisis Potensi dan Timbulan Sampah 59
4.3.1 Potensi Timbulan Sampah Kota Medan 59
4.3.2 Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan 64
4.3.3 Komposisi Timbulan Sampah 65
4.3.4 Upaya Mereduksi Produksi Sampah dan Mengurangi
Sampah dari Sumber Timbulan 66
4.4 Analisis Teknis Operasional Pengolahan Sampah 70
4.4.1 Analisis Kondisi Pewadahan 70
4.4.2 Analisis Kondisi Tenaga Kerja dan Alat Angkut 71
4.4.3 Analisis Kebutuhan Lahan TPA 74
4.5 Analisis Persepsi dan Tingkat Partisipasi Masyarakat 75
4.5.1 Persepsi Masyarakat 75
4.5.2 Tingkat Partisipasi Masyarakat 76
4.6 Analisis Kondisi menggunakan Analisis SWOT 76
4.7 Alternatif Kebijakan 80

Bab 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 Kesimpulan 81
5.2 Rekomendasi 83

DAFTAR PUSTAKA 90

LAMPIRAN 93

iii
D A F T A R T A B E L
Tabel II.1 Besaran Timbulan Sampah BerdasarkanKomponen-
kompnen
Sumber Timbulan 13
Tabel II.2 Besaran Timbulan Sampah Berdasarkan Klasifikasi Kota 13
Tabel II.3 Jenis dan Alat Angkut Sampah 19
Tabel IV.1 Batas Wilayah Kota Medan 39
Tabel IV.2 Jumlah Kecamatan Berdasarkan Kelurahan Kota Medan 41
Tabel IV.3 Penduduk Kota Medan Berdasarkan Kecamatan dan Jenis
Kelamin Tahun 2012 42
Tabel IV.4 Kepadatan Penduduk Kota Medan Berdasarkan
Kecamatan Tahun 2009-2012 44
Tabel IV.5 Jumlah Penduduk Rumah Tangga menurut Kecamatan
Tahun 2012 45
Tabel IV.6 Jumlah Penduduk Kota Medan Berdasarkan Kelompok
Umur Dan Jenis Kelamin Tahun 2012 46
Tabel IV.7 Data Sarana Pendidikan di Kota Medan 47
Tabel IV.8 Data Sarana Kesehatan Masyarakat 47
Tabel IV.9 Data Persampahan Per Kecamtan di Kota Medan (dalam
satuan kilogram) 60
Tabel IV.10 Data Persampahan Per Kecamtan di Kota Medan (dalam
satuan liter) 61
Tabel IV.11 Data Peningkatan Volume Sampah di Kota Medan 62
Tabel IV.12 Proyeksi Peningkatan Volume Sampah di Kota Medan 63
Tabel IV.13 Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan Kota Medan 64
Tabel IV.14 Uraian Perhitungan Kebutuhan Wadah Sampah di Kota
Medan 71
Tabel IV.15 Uraian Perhitungan Kebutuhan Tenaga dan Alat Angkut
Sampah (Tripper Truck) 72
Tabel IV.16 Uraian Perhitungan Kebutuhan Tenaga dan Alat Angkut
Sampah (Gerobak Sampah) 73
Tabel IV.17 Uraian Perhitungan Kebutuhan Tenaga dan Alat Angkut
Sampah (Becak Sampah) 73
Tabel V.1 Matriks Kondisi Pengelolaan Sampah dan Permasalahan
Pengelolaan Sampah serta Rekomendasi Model
Pengelolaan 83
iv
D A F T A R G A M B A R
Gambar 1.1 Kondisi Sampah di Kota Medan 3
Gambar 2.1 Klasifikasi Buangan Padat 7
Gambar 2.2 Keterkaitan Komponen dalam Sistem Pengelolaan Sampah
Kota 11
Gambar 2.3 Skema Teknis Operasional Pengelolaan Sampah (SNI) 11
Gambar 2.4 Skema Pengelolaan Sampah Ideal 30
Gambar 3.1 Kerangka Skema Penelitian 37
Gambar 4.1 Peta Kecamatan Kota Medan 40
Gambar 4.2 Pewadahan Sampah yang Biasa Terdapat di Pemukiman
Penduduk 50
Gambar 4.3 Kondisi Sampah yang Ditumpuk Sembarang di Pasar
Tradisional 52
Gambar 4.4 Pengumpulan Sampah menggunakan Tripper Truck dari
Sumber Timbulan 53
Gambar 4.5 Pengumpulan Sampah menggunakan Gerobak dan Becak
Sampah pada Daerah yang Tidak Bisa dilalui oleh Tripper
Truck 53
Gambar 4.6 Kondisi TPA Terjun di Kecamatan Medan Marelan 54
Gambar 4.7 Pemilahan Sampah yang dilakukan Pemulung di Lokasi
TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan 55
Gambar 4.8 Pola Teknis Operasional Pemilahan Sampah Kota Medan 56
Gambar 4.9 Bagan Organisasi Dinas Kebersihan Kota Medan 57
Gambar 4.10 Warga Mengumpulkan Sampah Plastik yang Mencemari
Sungai Babura, Medan 59
Gambar 4.11 Grafik Peningkatan Volume sampah Kota Medan
Tahun 1997-2012 63
Gambar 4.12 Pola Pemanfaatan Sampah dengan Menggunakan
Pendekatan Mereduksi Produksi Sampah dan Mengurangi
Sampah yang telah dihasilkan 67
v
1 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
BAB 1
P E N D A H U L U A N
1.1 Latar Belakang
Sampah merupakan masalah krusial yang dihadapi beberapa kota di Indonesia.
Masalah-masalah tersebut lebih terkonsentrasi pada teknik operasional sampah.
Timbulan sampah yang dihasilkan pada umumnya karena terbatasnya lahan di
perkotaan untuk dijadikan sebagai lahan pembuangan akhir (TPA). Di Kota
Medan sebelumnya ada 2 (dua) lokasi yang dijadikan TPA yaitu TPA Terjun di
Medan Utara dan TPA Namo Bintang di Medan Selatan. Namun saat ini lokasi
TPA yang masih berfungsi hanya di TPA Terjun yang lokasinya berada di
Kecamatan Medan Marelan. Terbatasnya luas lahan tempat pembuangan akhir
mempengaruhi teknis opersional pengelolaan sampah terutama pelayanan
pembuangan sampah.
Dari aspek organisasi dan kelembagaan, Dinas Kebersihan Kota Medan sebagai
pengelola sampah belum memiliki fungsi dan kewenangan yang jelas, sehingga
beban tanggung jawab dibidang pengelolaan sampah belum sepenuhnya
menjadi prioritas kerja. Dengan kondisi demikian, mempengaruhi sistem
pembiayaan karena dinas teknis sebagai penguna anggaraan dalam pengelolaan
sampah belum menjadikan masalah sampah sebagai masalah yang prioritas.
Pembiayaan pengelolaan sampah hanya berupa honorarium tenaga kerja dan
berupa iuran dari konsumen yang nilainya sangat kecil sekali.
Perkembangan penduduk di kota Medan yang sangat pesat tidak terlepas dari
pengaruh dorongan berbagai kemajuan teknologi, transportasi dan sebagainya.
Hal ini merupakan kenyataan bahwa kota Medan merupakan lokasi yang paling
efisien dan efektif untuk kegiatan-kegiatan produktif. Pertambahan jumlah
penduduk, perubahan pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat telah
meningkatkan jumlah timbulan sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik
sampah. Meningkatnya daya beli masyarakat terhadap berbagai jenis bahan
pokok dan hasil teknologi serta meningkatnya usaha atau kegiatan penunjang
pertumbuhan ekonomi suatu daerah juga memberikan kontribusi yang besar
terhadap kuantitas dan kualitas sampah yang dihasilkan. Sejalan dengan
meningkatnya volume timbulan sampah pengelolaan sampah yang tidak
mempergunakan metode dan teknik pengelolaan sampah yang ramah
lingkungan selain akan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan
juga akan sangat menganggu kelestarian fungsi lingkungan.
Kualitas lingkungan hidup harus dijaga kelestariannya agar kesejahteraan dan
mutu hidup generasi mendatang lebih terjamin. Perilaku manusia yang
2 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup
lainnya tersebut dari hari kehari berkembang menjadi aktivitas yang lebih
dinamis dan serba kompleks. Guna mendorong aktivitas manusia yang dinamis
dan kompleks tersebut diperlukan dukungan prasarana kota, seperti prasarana
air bersih, prasarana air buangan/hujan, dan prasarana persampahan serta
sanitasi yang memadai baik secara kuantitatif maupun kualitatif, agar seluruh
aktivitas penduduk tersebut dapat berjalan dengan aman, tertib, lancar dan
sehat. Setiap aktivitas manusia kota baik secara pribadi maupun kelompok, baik
di rumah, kantor, pasar dan dimana saja berada, pasti akan menghasilkan sisa.
Sampah merupakan konsekuensi adanya aktivitas manusia dan setiap manusia
pasti menghasilkan buangan atau sampah. Menurut Keputusan Dirjen Cipta
Karya, nomor 07/KPTS/CK/1999: Juknis Perencanaan, Pembangunan dan
Pengelolaan Bidang Ke-PLP-an Perkotaan dan Perdesaan, sampah adalah limbah
yang bersifat padat terdiri dari zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak
berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan
melindungi investasi pembangunan. Kehadiran sampah di Kota Medan
merupakan salah satu persoalan yang dihadapi oleh masyarakat dan pengelola
kota. terutama dalam hal penyediaan sarana dan prasarananya. Dengan
penduduk hampir 3 juta jiwa, sampah yang dihasilkan setiap harinya mencapai
1.500 ton. Perinciannya, 48 persen merupakan sampah organik dan 52 persen
lagi sampah anorganik. Jumlah sampah ini diperkirakan akan terus bertambah,
dimana tingkat pertumbuhan setiap tahunnya sebesar 4 persen. Tumpukan
onggokan sampah yang mengganggu kesehatan dan keindahan lingkungan
merupakan jenis pencemaran yang dapat digolongkan dalam degradasi
lingkungan yang bersifat sosial. Sampah organik atau sampah yang mudah
terurai biasanya merupakan bagian terbesar dari sampah rumah tangga. Cara
penanganan sampah ini seharusnya dilakukan dengan meminimalkan bangkitan
sampah perkotaan, yaitu mengurangi jumlah sampah, mendaur ulang dan
memanfaatkan sampah yang masih berguna.
Pengelolaan sampah dapat diartikan menumbuhkan perilaku masyarakat untuk
mengurangi memproduksi sampah. Proses penanganan sampah dimulai dari
proses pengumpulan sampai dengan tempat pembuangan akhir (TPA) secara
umum memerlukan waktu yang berbeda sehingga diperlukan ruang untuk
menampung sampah pada masing-masing proses tersebut. Sampah merupakan
salah satu bentuk limbah yang terdapat dalam lingkungan. Sumber, bentuk jenis
dan komposisnya sangat dipengaruhi oleh tingkat budaya masyarakat dan
kondisi alamnya, makin maju tingkat kebudayaan masyarakat makin kompleks
pula sumber dan macam sampah yang ditemui. Peningkatan timbulan sampah
dan semakin tingginya koposisi anorganik sampah serta menurunnya efisiensi
TPA menyebabkan perlunya suatu konsep untuk pengelolaan sampah lebih baik.
Besarnya potensi sampah yang bisa didaur ulang ditentukan oleh timbulan
sampah, komposisi sampah dan karakteristik sampah. Besarnya timbulan
sampah ditentukan oleh status ekonomi penduduk tersebut. Semakin tinggi
status ekonomi suatu penduduk maka semakin besar pula timbulan sampahnya.
3 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Sampah merupakan masalah perkotaan hampir di seluruh kota-kota besar di
Indonesia.
Di Kota Medan persoalannya lebih kompleks, hal ini disebabkan karena tidak ada
intervensi dari pengambil kebijakan saat ini. Jika dibiarkan terus menerus maka
tidak mustahi terdapat ? gunungan sampah?di berbagai sudut -sudut kota. Hal ini
tentunya dapat memperburuk kondisi lingkungan terutama estetika kota Medan.
Gambar 1.1
Kondisi Sampah di Kota Medan
Perilaku dan kesadaran masyarakat serta keterbatasan pelayanan pembuangan
sampah membuat sebagian toko, bengkel, rumah tangga, hotel, perkantoran dan
sumber sampah lainnya melakukan pembuangan sampah pada tempat-tempat
yang tidak semestinya seperti sungai, laut, lahan-lahan kosong (seperti Gambar
1.1), dipinggir-pinggir jalan dan sebagainya. Kondisi ini membuat kondisi yang
tidak nyaman dan sehat. Kadang pewadahan sampah di sampah yang sudah
disediakan sudah rusak di pasar-pasar tradiosional, nampak sampah ditumpuk
4 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
begitu saja di lahan parkir atau lahan kosong, hal ini mengurangi estetika pasar
dan menimbulkan bau tidak sedap. Sedangkan pewadahan sampah pada toko
tidak mampu menampung sampah yang dihasilkan sehingga sampah berserakan
disekitar wadah sampah, hal ini tentu mengurangi keindahan kota.
Namun didalam penentuan sarana dan prasarana tersebut perlu diketahui
potensi timbulan sampah serta dalam proses pengolahan perlu diketahui
komposisi timbulan sampah. Sampai dengan saat ini data tersebut belum
dimiliki sebagai dasar perencanaan teknis operasional, maka dalam kajian ini
akan dilakukan pengukuran timbulan sampah dan komposisinya. Aspek yang
tidak kalah pentingnya yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah adalah
regulasi dalam pengelolaan sampah. Saat ini operasional pengelolaan sampah di
Kota Medan dikelola oleh masing-masing kelurahan. Kemudian belum optimal
dan meratanya sarana tempat pembuangan sampah yang disediakan
pemerintah kota dan penyuluhan kepada masyarakat serta belum adanya
peraturan daerah berupa regulasi yang mengatur pembuangan sampah maka
pembuangan sampah dilakukan masyarakat di sembarang tempat seperti
membuang ke sungai, kelaut, lahan-lahan kosong dan sebagainya. Hal ini
tentunya dapat memperburuk kondisi lingkungan terutama estetika Kota Medan.
Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut di atas diperlukan suatu kajian pengelolaan
sampah kota sehingga diharapkan nantinya semua sumber timbulan sampah
dapat dilayani dan sampah yang dihasilkan dapat diangkut ke tempat
pembuangan akhir, pantai dan sungai terbebas dari sampah sehingga kota
tampak bersih dan indah. Sistem pewadahan pada sumber-sumber sampah yang
dilayani masih belum mampu menampung sampah yang dihasilkan baik wadah
yang disediakan oleh LSM maupun perusahaan daerah.
Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut di atas diperlukan suatu kajian pengelolaan
sampah kota sehingga diharapkan nantinya semua sumber timbulan sampah
dapat dilayani dan sampah yang dihasilkan dapat diangkut ke tempat
pembuangan akhir, sehingga kota tampak bersih dan indah.

5 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
1.2 Rumusan Masalah
Persampahan merupakan isu penting dalam masalah lingkungan perkotaan
termasuk di perumahan yang dihadapi sejalan dengan perkembangan jumlah
penduduk dan peningkatan aktivitas pembangunan. Sampah yang tidak terkelola
dengan baik merupakan salah satu penyebab makin meningkatnya pencemaran
air, tanah dan udara serta meningkatkan potensi banjir di perkotaan.
Permasalahan persampahan perlu ditangani secara serius dengan teknis,
operasional dan manajemen yang tepat dan terpadu berdasarkan kondisi dan
kebijakan daerah masing-masing. Permasalahan perihal kajian ini didasarkan atas
kondisi ? Masih belum optimalnya pengelolaan sampah dan SDM Kebersihan di
kota Medan ?sehingga perlu dilakukan upaya perbaikan pengolahan sampah dan
peningkatan kualitas dan kinerja SDM kebersihan yang lebih baik.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam kajian ini adalah:
1. Mengetahui tingkat dan wilayah layanan pengelolaan sampah yang telah
dilakukan pada setiap sumber timbulan sampah kota Medan.
2. Mengetahui kondisi sarana dan prasarana yang terkait dengan pelayanan
pembuangan sampah kota Medan.
3. Mengetahui kondisi sistem pengelolaan sampah pada umumnya dan sub
sistem teknis operasional khususnya.
4. Menyusun rencana model pengelolaan sampah kota Medan.
5. Menyusun strategi peningkatan kualitas dan kinerja SDM kebersihan di Kota
Medan

1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam kajian ini adalah sebagai bahan pertimbangan bagi
pemerintah Kota Medan dalam penyusunan perencanaan pengelolaan sampah
dan kinerja SDM Kebersihan Kota Medan di masa yang akan datang khususnya
aspek teknis operasional.
1.5 Luaran/Output Penelitian

Luaran/Output kajian adalah Laporan Kajian Model Pengelolaan Sampah dan
SDM Kebersihan di Kota Medan yang dianggap paling sesuai untuk Pemerintah
Kota Medan.
6 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
BAB 2
T I N J A U A N T E O R I T I S
2.1 Pengertian Sampah
Menurut Slamet (2002), sampah adalah segala sesuatu yang tidak lagi
dikehendaki oleh yang punya dan bersifat padat. Sementara didalam Naskah
Akademis Rancangan Undang-undang Persampahan disebutkan sampah adalah
sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang berujud padat atau semi padat berupa
zat organik atau an organik bersifat dapat terurai maupun tidak dapat terurai
yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang ke lingkungan.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut sampah dapat dibedakan atas dasar sifat-
sifat biologis dan kimianya sehingga mempermudah pengelolaannya sebagai
berikut :
1. sampah yang dapat membusuk (garbage), menghendaki pengelolaan
yang cepat. Gas-gas yang dihasilkan dari pembusukan sampah berupa gas
metan dan H2S yang bersifat racun bagi tubuh.
2. sampah yang tidak dapat membusuk (refuse), terdiri dari sampah plastik,
logam, gelas, karet dan lain-lain.
3. sampah yang berupa debu/abu sisa hasil pembakaran bahan bakar atau
sampah.
4. sampah yang berbahaya terhadap kesehatan, yakni sampah B3 adalah
sampah yang karena sifatnya , jumlahnya, konsentrasinya atau karena
sifat kimia, fisika dan mikrobologinya dapat meningkatkan mortalitas dan
morbiditas secara bermakna atau menyebabkan penyakit yang
irreversibell ataupun sakit berat yang pulih (tidak berbalik) atau
reversibell (berbalik) atau berpotensi menimbulkan bahaya sekarang
maupun dimasa yang akan datang terhadap kesehatan atau lingkungan
apabila tidak diolah, disimpan atau dibuang dengan baik.
Dilihat dari wujudnya limbah dapat berupa padatan, cairan atau gas, sedangkan
sampah hanya berupa padatan atau setengah padatan. Berbeda dengan sampah,
limbah memerlukan pengelolaan khusus agar tidak mencemari lingkungan.
Dalam pengertian ini maka tinja tidak termasuk kategori sampah, melainkan
limbah. Jadi perbedaan sampah dan limbah dapat dilihat dari wujudnya, tingkat
pencemaran dan metode pengelolaan. Untuk lebih memahami perbedaan antara
sampah, buangan dan limbah, dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut:
7 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Gambar 2.1
Klasifikasi Buangan Padat
(Sumber: Widyatmoko dan Sintorini, 2002)
Sampah Limbah
Cair Padat
Gas
Sampah Rumah Tangga
Sampah Kompersial:
Limbah B3
Sampah Bangunan:
Pemugaran
Pembongkaran
Sampah Fasilitas Umum
a. Industri
* Sisa inert (sisa bahan-bahan
hancur)
Urugan Bangunan
Sisa Bangunan
b. Sisa Pertanian
c. Sisa Pertambangan
d. Lumpur buangan komunal
e. Bahan-bahan bekas: Minyak bekas,
ban bekas dan sisa kendaraan
bermotor
f. Limbah Rumah sakit
Kebutuhan Manusia
Sisa Produk
Buangan
Barang Bekas
8 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
2.2 Jenis-jenis Sampah

Menurut Gelbert dkk. (1996) sampah dikelompokan berdasarkan asalnya,
sampah padat dapat digolongkan sebagai:
1. Sampah Organik, terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan
yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian,perikanan atau
yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah
rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah
organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan
daun
2. Sampah Anorganik, berasal dari sumber daya alam tak terbarui seperti
mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Beberapa dari bahan ini
tidak terdapat di alam seperti plastik dan aluminium. Sebagian zat anorganik
secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya
hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah jenis ini pada
tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol plastik, tas plastik, dan
kaleng.
Karakter sampah dapat dikenali sebagai berikut: (1) tingkat produksi sampah, (2)
komposisi dan kandungan sampah, (3) kecenderungan perubahannya dari waktu
ke waktu. Karakter sampah tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat
pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran serta gaya
hidup dari masyarakat perkotaan. Oleh karena itu sistem pengelolaan yang
direncanakan haruslah mampu mengakomodasi perubahan-perubahan dari
karakter sampah yang ditimbulkan. (Wibowo dan Djajawinata, 2004).
Menurut Sastrawijaya (2000), berdasarkan sumbernya sampah dapat
digolongkan menjadi (a) sampah domestik misalnya sampah rumah tangga,
sampah pasar, sekolah dsb, (b) sampah non domestik misalnya sampah pabrik,
pertanian, perikanan, industri dan sebagainya.
2.2.1 Sampah Khusus
Sampah khusus adalah sampah yang memerlukan penanganan khusus untuk
menghindari bahaya yang akan ditimbulkannya. Sampah khusus meliputi :
1. Sampah dari Rumah Sakit
Sampah rumah sakit merupakan sampah biomedis, seperti sampah dari
pembedahan, peralatan (misalnya pisau bedah yang dibuang), botol infus dan
sejenisnya, serta obat-obatan (pil, obat bius, vitamin). Semua sampah ini
mungkin terkontaminasi oleh bakteri, virus dan sebagian beracun sehingga
sangat berbahaya bagi manusia dan makhluk lainnya. Cara pencegahan dan
penanganan sampah rumah sakit antara lain:
Sampah rumah sakit perlu dipisahkan.
Sampah rumah sakit harus dibakar di dalam sebuah insinerator milik
rumah sakit.
9 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Sampah rumah sakit ditampung di sebuah kontainer dan selanjutnya
dibakar di tempat pembakaran sampah.
Sampah biomedis disterilisasi terlebih dahulu sebelum dibuang ke
landfill.

2. Baterai Kering dan Akumulator bekas
Baterai umumnya berasal dari sampah rumah tangga, dan biasanya
mengandung logam berat seperti raksa dan kadmium. Logam berat sangat
berbahaya bagi kesehatan. Akumulator dengan asam sulfat atau senyawa
timbal berpotensi menimbulkan bahaya bagi manusia. Baterai harus
diperlakukan sebagai sampah khusus. Saat ini di Indonesia, baterai kering
hanya dapat disimpan di tempat kering sampai tersedia fasilitas pengolahan.
Jenis sampah khusus lainnya adalah:
a. Bola lampu bekas
b. Pelarut dan cat
c. Zat-zat kimia pembasmi hama dan penyakit tanaman seperti
insektisida, pestisida
d. Sampah dari kegiatan pertambangan dan eksplorasi minyak
e. Zat-zat yang mudah meledak dalam suhu tinggi
2.3 Sumber-Sumber Timbulan Sampah
Menurut Gelbert dkk. (1996), sumber-sumber timbulan sampah adalah sebagai
berikut:
1. Sampah permukiman, yaitu sampah rumah tangga berupa sisa pengolahan
makanan, perlengkapan rumah tangga bekas, kertas, kardus, gelas, kain,
sampah kebun/halaman, dan lain-lain.
2. Sampah pertanian dan perkebunan. Sampah kegiatan pertanian tergolong
bahan organik, seperti jerami dan sejenisnya. Sebagian besar sampah yang
dihasilkan selama musim panen dibakar atau dimanfaatkan untuk pupuk.
Untuk sampah bahan kimia seperti pestisida dan pupuk buatan perlu
perlakuan khusus agar tidak mencemari lingkungan. Sampah pertanian
lainnya adalah lembaran plastik penutup tempat tumbuhtumbuhan yang
berfungsi untuk mengurangi penguapan dan penghambat pertumbuhan
gulma, namun plastik ini bisa didaur ulang
3. Sampah dari sisa bangunan dan konstruksi gedung. Sampah yang berasal dari
kegiatan pembangunan dan pemugaran gedung ini bisa berupa bahan organik
maupun anorganik. Sampah organik, misalnya: kayu, bambu, triplek. Sampah
anorganik, misalnya: semen, pasir, spesi, batu bata, ubin, besi dan baja, kaca,
dan kaleng.
4. Sampah dari perdagangan dan perkantoran. Sampah yang berasal dari daerah
perdagangan seperti: toko, pasar tradisional, warung, pasar swalayan ini
terdiri dari kardus, pembungkus, kertas, dan bahan organik termasuk sampah
makanan dan restoran. Sampah yang berasal dari lembaga pendidikan, kantor
pemerintah dan swasta biasanya terdiri dari kertas, alat tulis-menulis
10 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
(bolpoint, pensil, spidol, dll), toner foto copy, pita printer, kotak tinta printer,
baterai, bahan kimia dari laboratorium, pita mesin ketik, klise film, komputer
rusak, dan lain-lain. Baterai bekas dan limbah bahan kimia harus dikumpulkan
secara terpisah dan harus memperoleh perlakuan khusus karena berbahaya
dan beracun.
5. Sampah dari industri. Sampah ini berasal dari seluruh rangkaian proses
produksi (bahan-bahan kimia serpihan/potongan bahan), perlakuan dan
pengemasan produk (kertas, kayu, plastik, kain/lap yang jenuh dengan pelarut
untuk pembersihan). Sampah industri berupa bahan kimia yang seringkali
beracun memerlukan perlakuan khusus sebelum dibuang.
2.4 Sistem Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah adalah pengaturan yang berhubungan dengan
pengendalian timbulan sampah, penyimpanan, pengumpulan, pemindahan dan
pengangkutan, pengolahan dan pembuangan sampah dengan cara yang merujuk
pada dasar-dasar yang terbaik mengenai kesehatan masyarakat, ekonomi,
teknik, konservasi, estetika dan pertimbangan lingkungan yang lain dan juga
tanggap terhadap perilaku massa. Pengelolaan persampahan mempunyai tujuan
yang sangat mendasar yang meliputi meningkatkan kesehatan lingkungan dan
masyarakat, melindungi sumber daya alam (air), melindungi fasilitas sosial
ekonomi dan menunjang sektor strategis (Rahardyan Dan Widagdo 2005).
Sistem pengelolaan sampah perkotaan pada dasarnya dilihat sebagai komponen-
komponen sub sistem yang saling mendukung satu sama lainuntuk mencapau
tujuan yaitu kota yang bersih, sehat dan teratur (Syafrudin dan Priyambada
2001).
Komponen-komponen tersebut meliputi :
1. Sub sistem teknis Operasional (sub sistem teknik),
2. Sub sistem organisasi dan manajemen (sub sistem Institusi),
3. Sub sistem hukum dan Peraturan (sub sistem Hukum),
4. Sub sistem Pembiayaan (sub sistem finansial)
5. Sub sistem peran serta Masyarakat
Kelima sub sistim pengelolaan sampah saling terkait satu dengan lainnya
sebagaimana pada Gambar 2.2 berikut ini:
11 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Gambar 2.2
Keterkaitan Komponen dalam Sistem Pengelolaan Sampah Kota
2.4.1 Teknis Operasional Pengelolaan Sampah
Sub sistem teknis operasional pengelolaan sampah perkotaan meliputi dasar-
dasar perencanaan untuk kegiatan-kegiatan pewadahan sampah, pengumpulan
sampah, pengangkutan sampah, pengolahan sampah dan pembuangan akhir
sampah. Teknis operasional pengelolaan sampah perkotaan yang terdiri dari
kegiatan pewadahan sampai dengan pembuangan akhir sampah harus bersifat
terpadu dengan melakukan pemilahan sejak dari sumbernya. Agar lebih jelasnya
teknis operasional pengelolaan sampah dapat dilihat pada skema pada Gambar
2.3.
Gambar 2.3
Skema Teknik Operasional Pengolahan Sampah (SNI)
12 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Pengelolaan sampah ditujukan pada pengumpulan sampah mulai dari produsen
sampai pada tempat pembuangan sampah akhir (TPA), membuat tempat
pembuangan sampah sementara (TPS), transportasi yang sesuai lingkungan dan
pengelolaan pada TPA. Sebelum dimusnahkan, sampah dapat diolah terlebih
dahulu untuk memperkecil volume yang di daur ulang atau dimanfaatkan
kembali.

Berdasarkan karakteristiknya pengolahan sampah dilakukan berbagai cara yakni :
1. Komposting, baik bagi jenis garbage.
2. Insinerasi untuk refuse.
3. Proses lain seperti pembuatan bahan bangunan dari buangan industri yang
mempunyai sifat seperti semen.
Penjelasan tentang aspek teknis operasional sebagaimana Gambar 2.3 adalah
sebagai berikut:
1. Timbulan Sampah
Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulan sampah adalah:
a. Jumlah penduduk, artinya jumlah penduduk meningkat timbulan sampah
meningkat.
b. Keadan sosial ekonomi, semakin tinggi keadaan sosial ekonomi seseorang
akan semakin banyak timbulan sampah perkapita yang dihasilkan.
c. Kemajuan teknologi, akan menambah jumlah dan kualitas sampahnya.
Rata-rata timbulan sampah biasanya akan bervariasi dari hari ke hari, antara satu
daerah dengan daerah lainnya, antara satu negara dengan negara lain. Adapun
faktor-faktor yang mempengaruhi timbulan sampah antara lain:
a. Tingkat hidup : makin tinggi tingkat hidup, makin banyak sampah yang
ditimbulkan
b. Pola hidup dan mobilitas masyarakat
c. Kepadatan dan Jumlah penduduk
d. Iklim dan musim
e. Pola penyediaan kebutuhan hidup dan penanganan makanan
f. Letak geografis dan topografi
Berdasarkan data BPS tahun 2000 dalam Wibowo dan Djajawinata (2004), dari
384 kota menimbulkan sampah sebesar 80.235,87 ton setiap hari, penanganan
sampah yang diangkut ke dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
adalah sebesar 4,2 %, yang dibakar sebesar 37,6% , yang dibuang ke sungai 4,9 %
dan tidak tertangani sebesar 53,3 %.1 Hal tersebut disebabkan oleh beberapa
hal, diantaranya pertambahan penduduk dan arus urbanisasi yang pesat telah
menyebabkan timbulan sampah pada perkotaan semakin tinggi, kendaraan
pengangkut yang jumlah maupun kondisinya kurang memadai, sistem
pengelolaan TPA yang kurang tepat dan tidak ramah lingkungan, dan belum
diterapkannya pendekatan reduce, reuse dan recycle (3 R).
13 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Meningkatnya populasi penduduk disetiap daerah/kota maka jumlah sampah
yang dihasilkan setiap rumah tangga makin meningkat. Secara umum komposisi
dari timbulan sampah di setiap kota bahkan negara. Berdasarkan data pada SK
SNI S-00-1993-03 tentang spesifikasi timbulan sampah untuk kota kecil dan
sedang di Indonsia berdasarkan komponen-komponen sumber sampah adalah
sebagai berikut:
Tabel II.1
Besaran Timbulan Sampah berdasarkan Komponen-Komponen Sumber Timbulan
No. Komponen sumber sampah Satuan
Volume
(liter)
Berat
(Kg)
1 Rumah permanen per org/hr 2,25-2,50 0,35-0,40
2 Rumah semi permanen per org/hr 2,00-2,25 0,30-0,35
3 Rumah non permanen per org/hr 1,75-2,00 0,25-0,30
4 Kantor per peg/hr 0,50-0,75 0,025-0,10
5 Toko/Ruko per ptgs/hr 2,50-3,00 0,15-0,35
6 Sekolah per mrd/hr 0,10-0,15 0,01-0,02
7 Jalan Arteri per mtr/hr 0,10-0,15 0,02-0,10
8 Jalan Kolektor per mtr/hr 0,10-0,15 0,10-0,05
9 Jalan Lokal per mtr/hr 0,50-0,1 0,005-0,025
10 Pasar per mtr/hr 0,20-0,60 0,10-0,30
dan besaran timbulan sampah berdasarkan klasifikasi kota adalah sebagai
berikut:
Tabel II.2
Besaran Timbulan Sampah berdasarkan Klaifikasi Kota
No. Klasifikasi Kota Satuan
Volume (L/org/hr) Berat (Kg/org/hr)
1 Kota Sedang 2,75-3,25 0,70-0,80
2 Kota Kecil 2,5-3,75 0,625-0,75
2. Pewadahan dan Pemilahan Sampah
Pewadahan sampah adalah aktivitas menampung sampah sementara dalam
suatu wadah individual atau komunal di tempat sumber sampah. Dalam
operasional pengumpulan sampah, masalah pewadahan memegang peranan
yang sangat penting, tempat penyimpanan sampah pada sumber diperlukan
untuk mencegah sampah agar jangan berserakan yang akan memberi kesan atau
terlihat kotor serta untuk mempermudah proses kegiatan pengumpulan, sampah
yang dihasilkan perlu disediakan tempat untuk penyimpanan/penampungan
sambil menunggu kegiatan pengumpulan sampah.
Sumber: SNI S-04-1993-03
14 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Dalam melakukan pewadahan harus disesuaikan dengan jenis sampah yang telah
terpilah, yaitu :
1) sampah organik seperti daun sisa, sayuran, kulit buah lunak, sisa
makanan dengan wadah warna gelap;
2) sampah anorganik seperti gelas, plastik, logam, dan lainnya, dengan
wadah warna terang;
3) sampah bahan berbahaya beracun (B3) rumah tangga dengan warna
merah yang diberi lambang khusus atau semua ketentuan yang berlaku
(Departemen Pekerjaan Umum, 2002).
Dalam menunjang keberhasilan operasi pengumpulan sampah, perlu adanya
pewadahan yang sebaiknya dilakukan oleh pemilik rumah. Tempat sampah juga
harus direncanakan dengan pertimbangan kemudahan dalam proses
pengumpulan, higienis untuk penghasil sampah maupun petugas penumpul, kuat
dan relatif lama serta mempertimbangkan segi estetika.
Kapasitas pewadahan ini diperhitungkan berdasarkan rata-rata laju timbulan
sampah per orang per hari, jumlah anggota keluarga serta frekuensi
pengumpulan.
Timbulan sampah adalah sampah yang dihasilkan dari sumber sampah. Menurut
Departemen Pekerjaan Umum, bila data pengamatan lapangan belum tersedia,
maka untuk menghitung timbulan sampah dapat digunakan nilai timbulan
sebagai berikut :
a. Satuan timbulan sampah kota besar : 2- 2,5 liter/orang/hari atau 0,4-0,5
kg/orang/hari
b. Satuan timbulan sampah kota sedang/kecil : 1,5-2 liter/orang/hari atau
1,3 ? 1,4 kg/orang/hari.
Menurut penelitian Puslitbang Permukiman (Ditjen Cipta Karya, 1991)
didapatkan angka-angka laju timbulan sampah sebagai berikut:
1. Kota Kecil
Laju timbulan sampah permukiman 2,0 liter/orang/hari
Persentase total sampah permukiman 75 % ? 80 %
Persentase sampah non permukiman 20 % - 25 %
2. Kota Sedang
Laju timbulan sampah permukiman 2,25 liter/orang/hari.
Persentase total sampah permukiman 65 % ? 75 %.
Persentase sampah non permukiman 25 % - 35 %.
Persyaratan bahan yang digunakan sebagai pewadahan sampah adalah tidak
mudah rusak dan kedap air, ekonomis, mudah diperoleh/dibuat oleh masyarakat
serta mudah dan cepat dikosongkan (Departemen Pekerjaan Umum, 2002).
Sedangkan penentuan ukuran volume ditentukan berdasarkan:
1) Jumlah penghuni tiap rumah;
2) Timbulan sampah;
3) Frekuensi pengambilan sampah;
15 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
4) Cara pengambilan sampah;
5) Sistem pelayanan (individual atau komunal).
Berdasarkan standar SNI 19-2454-2002 yang dimaksudkan dengan pewadahan
sampah adalah aktifitas menampung sampah sementara dalam suatu wadah
individual atau komunal di tempat sumber sampah. Pewadahan ini dilakukan
pada sampah yang telah dipilah yakni sampah organik, anorganik dan sampah
berbahaya beracun. Pola pewadahan terdiri dari pola individual dan pola
komunal. Pola pewadahan individual adalah aktifitas penanganan penampungan
sampah sementara dalam suatu wadah khusus untuk dan dari sampah individu,
sedangkan pola komunal adalah aktifitas penanganan penampungan sampah
sementara dalam suatu wadah bersama baik dari berbagai sumber maupun
sumber umum. Bahan wadah yang dipersyaratkan sesuai Standar Nasional
Indonesia adalah tidak mudah rusak, ekonomis, mudah diperoleh dan dibuat
oleh masyarakat dan mudah dikosongkan.

Sedangkan menurut Syafrudin dan Priyambada (2001), persyaratan bahan wadah
adalah awet dan tahan air, mudah diperbaiki, ringan dan mudah diangkat serta
ekonomis, mudah diperoleh atau dibuat oleh masyarakat. Selain itu ukuran
wadah sangat ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya adalah sebagai
berikut :
a. Jumlah penghuni tiap rumah
b. Timbulan sampah
c. Periodesasi pengambilan sampah
d. cara pemindahan sampah
e. dan sistem pelayanan.
Wadah sampah kumunal pengadaanya dilakukan oleh instansi pengelola
sedangkan wadah individual disediakan oleh pribadi atau instansi pengelola.
Selain hal tersebut diatas, di dalam standar nasional pengelolaan sampah juga
diatur lokasi penempatan wadah yakni:
a. untuk wadah individu penempatanya dihalaman muka dan dihalaman
belakang untuk sumber sampah dari hotel dan restoran
b. Penempatan wadah komunal diharapkan sedapat mungkin dekat dengan
sumber sampah dan tidak mengganggu pemakai jalan dan sarana umum
lainnya, jarak antar wadah sampah untuk pejalan kaki minimal 100 meter,
disekitar taman dan keramaian, diujung gang kecil, dan diluar jalur lalu
lintas pada suatu lokasi yang mudah untuk pengoperasiannya.
Menurut SNI 19-2454-2002 yang dimaksud dengan pemilahan sampah adalah
proses pemisahan sampah berdasarkan jenis sampah yang dilakukan sejak dari
sumbernya sampai dengan pembuangan akhir. Pewadahan dan pemilahan
sampah yang baik akan mempengsaruhi kinerja daur ulang sampah yang lebih
baik.
16 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Menurut Rahardyan dan Widagdo (2005), tujuan dari pewadahan adalah untuk
memudahkan dalam pengangkutannya dan selain itu dengan penggunaan wadah
ini, bau akibat pembusukan sampah yang juga dapat menarik perhatian lalat
dapat diatasi, air hujan yang berpotensi menambah kadar air sampah dapat
dikendalikan dan pencampuran sampah yang tidak sejenis dapat dihindari.
3. Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah
Pengumpulan sampah adalah cara atau proses pengambilan sampah mulai dari
sumber atu tempat pewadahan penampungan sampah sampai ke Tempat
Pembuangan Sementara (TPS). TPS yang digunakan biasanya kontainer kapasitas
10 m
3
, 6 m
3
, 1m
3
, transper depo, bak pasangan batubata, drum bekas volume
200 liter, dan lain-lain. Pengambilan sampah dilakukan tiap periodesasi tertentu.
Periodesasi biasanya ditentukan berdasarkan waktu pembusukan yaitu kurang
lebih setelah berumur 2-3 hari, yang berarti pengumpulan sampah dilakukan
maksimal setiap 3 hari sekali.
a. Sistim Pengumpulan
Pengumpulan sampah dari tiap-tiap sumber sampah dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu:
1) Sistem tidak langsung
Di daerah pemukiman yang sebagian besar dihuni oleh masyarakat
berpendapatan rendah, dengan kondisi jalan pemukiman yang sempit,
pengumpulan sampah dilakukan dengan gerobak sampai yang mempunyai
volume rata-rata 1 m
3
. Untuk kemudian diangkut ke TPS. Sampah dari pasar
dan hasil sapuan jalan biasanya dikumpul dalam kontainer atau TPS dekat
pasar yang kemudian diangkut Truk ke TPA.
2) Sistem Langsung, terdiri dari
1) Pengumpulan individu langsung, Pada sistem ini proses pengumpulan
dan pengangkutan sampah dilakukan ber-samaan. Pengumpulan
dilakukan oleh petugas kebersihan dari wadah-wadah sampah
rumah/persil kemudian dimuat ke kendaraan langsung dibawa ke TPA.
Alat pengumpul berupa truck standar atau dump truck, dan sekaligus
berfungsi sebagai alat pengangkut sampah menuju TPA. Daerah yang
dilayani dengan sistem ini adalah daerah pemukiman teratur (formal
area) dan daerah perkotaan dimana pada daerah-daerah tersebut sulit
untuk menempatkan transfer dipo atau kontainer angkut karena
kondisi, sifat daerahnya ataupun standar kesehatan masyarakat dan
standar kenyaman masyarakat cukup tinggi. Persyaratan yang perlu
diperhatikan dalam sistem ini adalah:
kondisi topografi (rata-rata > 5 %) sehingga alat pengumpul non
mesin sulit beroperasi.
Kondisi jalan cukup lebar dan operasi tidak menunggu pemakai
jalan lainnya.
Kondisi dan jumlah alat memadai
Jumlah timbulan sampah > 3 m
3
/hari
17 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
2) Pengumpul komunal langsung, adalah cara pengumpulan sampah dari
masing-masing titik wadah komunal dan diangkut langsung ke TPA.
Persyaratan yang perlu diperhatikan adalah:
alat angkut terbatas
kemampuan pengendalian personil dan peralatan terbatas
alat pengumpul sulit menjangkau sumber-sumber sampah
peran serta masyarakat cukup tinggi
wadah komunal ditempatkan sesuai dengan kebutuhan dan
dilokasi yang mudah dijangkau oleh alat angkut
untuk pemukiman tidak teratur
b. Waktu Pengumpulan
Waktu pengumpulan yang dimaksudkan adalah waktu yang terbaik untuk
melakukan pengumpulan. Pada umumnya pengumpulan sampai dilakukan pada
pagi hari atau siang , akan tetapi pada tempat-tempat tertentu misalnya pasar,
waktu pengumpulanya biasanya malam hari. Tata cara operasional pengumpulan
harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Rotasi 1-4 rit/hari.
2) Periodisasi 1 hari, 2 hari atau maksimal 3 hari tergantung kondisi
komposisi sampah, yaitu:
semakin besar prosentasi sampah organik periodisasi pelayanan
maksimal sehari 1 kali;
untuk sampah kering, periode pengumpulannya di sesuaikan
dengan jadwal yang telah ditentukan, dapat dilakukan lebih dari 3
hari 1 kali;
untuk sampah B3 disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku;
mempunyai daerah pelayanan tertentu dan tetap;
mempunyai petugas pelaksana yang tetap dan dipindahkan secara
periodik;
pembebanan pekerjaan diusahakan merata dengan kriteria
jumlah sampah terangkut, jarak tempuh dan kondisi daerah.
Pelaksanaan pengumpulan sampah dapat dilaksanakan oleh institusi kebersihan
kota, lembaga swadaya masyarakat, swasta, masyarakat ( RT/RW ). Jenis sampah
yang terpilah dan bernilai ekonomi dapat dikumpulkan oleh pihak yang
berwenang pada waktu yang telah disepakati bersama antara petugas
pengumpul dan masyarakat penghasil sampah.
c. Frekuensi pengumpulan, yakni banyaknya sampah yang dapat dikumpulkan
dan diangkut perhari. Semakin tinggi frekuensi pengumpulan sampah semakin
banyak jumlah sampah yang dikumpulkan per pelayanan per kapita. Frekuensi
pengangkutan perlu ditetapkan dengan teratur, disamping untuk memberikan
gambaran kualitas pelayanan, juga untuk menetapkan jumlah kebutuhan
tenaga dan peralatan, sehingga biaya operasi dapat diperkirakan. Frekuensi
pelayanan yang teratur akan memudahkan bagi para petugas untuk
melaksanakan kegiatannya. Frekuensi pelayanan dapat dilakukan 3 hari sekali
18 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
atau maksimal 2 kali seminggu. Meskipun pelayanan yang lebih sering
dilakukan adalah baik, namun biaya operasional akan menjadi lebih tinggi
sehingga frekuensi pelayanan harus diambil yang optimum dengan
memperhatikan kemampuan memberikan pelayanan, jumlah volume sampah,
dan komposisi sampah (Irman, 2002).
Perencanaan frekuensi pengangkutan sampah dapat bervariasi tergantung
kebutuhan misalnya satu sampai dua hari sekali dan maksimal tiga hari sekali,
tergantung dari komposisi sampah yang dihasilkan dimana semakin besar
prosentase sampah organik semakin kecil periodesasi pengangkutan. Hal ini
dikarenakan sampah organik lebih cepat membusuk sehingga dapat
menimbulkan gangguan lingkungan di sekitar TPS. Makin sering frekuensi
pengangkutan maka semakin baik, namun biasanya biaya operasinya akan
lebih mahal. Penentuan frekuensi pengangkutan juga akan bergantung dari
jumlah timbulan sampah dengan kapasitas truk pengangkut yang melayani
(Tchobanoglous,1993).
Setiap 2.000 rumah dibutuhkan alat pengumpul yang berupa gerobak
sampah atau becak sampah sebanyak 16 buah, 1 truk sampah atau arm roll
truck dengan 3 kontainer sebanyak 1 unit, kebutuhan transfer depo sebanyak
1 unit.

4. Pemindahan Sampah
Pemindahan sampah adalah kegiatan memindahkan sampah hasil pengumpulan
ke dalam alat pengangkut untuk di bawa ke tempat pembuangan akhir
(Departemen Pekerjaan Umum, 2002). Operasi pemindahan dan pengangkutan
menjadi diperlukan apabila jarak angkut ke pusat pemrosesan/TPA sangat jauh
sehingga pengangkutan langsung dari sumber ke TPA dinilai tidak ekonomis. Hal
tersebut juga menjadi penting bila tempat pemrosesan berada di tempat yang
jauh dan tidak dapat dijangkau langsung.
Tempat penampungan/pembuangan sementara (TPS) merupakan istilah yang
lebih popular bagi sarana pemindahan dibandingkan dengan istilah transfer
depo. Persyaratan TPS/transfer depo yang ramah lingkungan adalah:
a. Bentuk fisiknya tertutup dan terawat.
b. TPS dapat berupa pool gerobak atau pool kontainer.
c. Sampah tidak berserakan dan bertumpuk diluar TPS/kontainer.
Tipe pemindahan sampah menggunakan tranfer depo antara lain menggunakan
Tranfer tipe I dengan luas lebih dari 200 m
2
yang merupakan tempat peralatan
pengumpul dan pengangkutan sebelum pemindahan serta sebagai kantor dan
bengkel sederhana, tranfer tipe II dengan luas 60-200 m
2
yang merupakan
tempat pertemuan peralatan pengumpul dan pengangkutan sebelum tempat
pemindahan dan merupakan tempat parkir gerobak atau becak sampah. Transfer
tipe III dengan luas 10-20 m
2
yang merupakan tempat pertemuan gerobak dan
kontainer (6-10 m
3
) serta merupakan lokasi penempatan kontainer komunal (1-
10 m
3
).
19 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
5. Pengangkutan Sampah
Pengangkutan sampah adalah tahap membawa sampah langsung dari sumber
sampah dengan sistim pengumpulan individual langsung atau pengumpulan
melalui sistim pemindahan menuju TPA. Pola pengangkutan dengan sistim
pengumpulan individual langsung, kendaraan dari pool menuju titik sumber
sampah dan mengambil sampah setiap titik sumber sampah sampai penuh,
selanjutnya diangkut ke TPA. Setelah truk dikosongkan selanjutnya truk
mengambil sampah di lokasi lainnya dan seterusnya sesuai jumlah ritase yang
telah ditetapkan. Pengangkutan dengan sistim pemindah, truck dari pool menuju
lokasi pemindah lalu dibawa ke TPA, selanjutnya pengambilan ke pemindah lain
sesuai ritase yang telah ditetapkan.
Untuk mengangkut sampah dari tempat penampungan sementara (TPS) ke
tempat pembuangan akhir sampah (TPA), digunakan truk jenis Tripper/Dump
Truck, Arm Roll Truck, dan jenis Compactor Truck.
Tabel II.3
Jenis dan Alat Angkut Sampah
Jenis Kendaraan Kapasitas Kekurangan Kebaikan Catatan
Truk bak terbuka
(kayu)
8 m
3
10 m
3
12 m
3
Tenaga kerja
banyak
Perlu penutup
bak
Operasinal
lambat
Biaya O&M
rendah
Cocok sistem
door to door
Umur produksi
5 tahun
2 ? 3 rit/hari
Tidak
dianjurkan
Tripper/Dump
Truck
6 m
3
8 m
3
10 m
3
Tenaga kerja
banyak
Perlu penutup
bak
Biaya O&M
relatif Tinggi
Bisa door to
door
Mobilitas tinggi,
2-3 rit/hari
Umur 5 ? 7
tahun - Cepat
operasi
pembongkaran
Kurang
dianjurkan
Armroll Truck
Container
5 m
3
7 m
3
8 m
3
Mahal
Butuh container
Biaya O&M
tinggi
Mobilitas tinggi
Cocok untuk
permukiman
dan pasar
Tenaga kerja
sedikit
Umur 5 tahun
4-5 rit/hari
Cocok untuk
lokasi
sampah
yang banyak
Dianjurkan
Sumber: Departemen Pekerjaan Umum, 2002
20 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Pola pengangkutan adalah sebagai berikut:
1) Pengangkutan sampah dengai sistem pengumpulan individual langsung
(door to door), yaitu:
truk pengangkut sampah dari pool menuju titik sumber sampah
pertama untuk mengambil sampah;
selanjutnya mengambil sampah pada titik-titik sumber sampah
berikutnya sampai truk penuh sesuai dengan kapasitasnya;
selanjutnya diangkut ke TPA sampah;
setelah pengosongan di TPA, truk menuju ke lokasi sumber
sampah berikutnya, sampai terpenuhi ritasi yang telah ditetapkan.
2) Pengumpulan sampah melalui sistem pemindahan di transfer depo tipe I
dan II dilakukan dengan cara sebagai berikut:
kendaraan pengangkut sampah keluar dari pool langsung menuju
lokasi pemindahan di transfer depo untuk mengangkut sampah ke
TPA;
dari TPA kendaraan tersebut kembali ke transfer depo untuk
pengambilan pada rit berikutnya;
3) Pengumpulan sampah dengan sistem kontainer (transfer tipe III), pola
pengangkutan adalah sebagai berikut:
a. Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara 1,
dengan proses:
kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk
mengangkut sampah ke TPA;
kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula;
menuju ke kontainer isi berikutnya untuk diangkut ke TPA;
kontainer kosong dikembalikan ke tempat semula;
demikian seterusnya sampai rit terakhir.
b. Pola pengangkutan dengan sistem pengosongan kontainer cara 2,
dilakukan sebagai berikut:
kendaraan dari pool menuju kontainer isi pertama untuk
mengangkat sampah ke TPA;
dari TPA kendaraan tersebut dengan kontainer kosong
menuju lokasi ke dua untuk menurunkan kontainer kosong
dan membawa kontainer isi untuk diangkut ke TPA;
demikian seterusnya sampai pada rit terakhir;
pada rit terakhir dcngan kontainer kosong, dari TPA
menuju ke lokasi kontainer pertama, kemudian truk
kembali ke pool tanpa Kontainer.
c. Pengangkutan sampah dengan sistem pengosongan kontainer
cara 3, dengan proses:
kendaraan dari pool dengan membawa kontainer kososng
menuju ke lokasi kontainer isi untuk mengganti
/mengambil dan langsung membawanya ke TPA;
kendaraan dengan membawa kontainer kosong dari TPA
menuju ke kontainer isi berikutnya;
21 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
demikian seterusnya sampai dengan rit terakhir.
d. Pola pengangkutan sampah dengan sistem kontainer tetap
biasanya untuk kontainer kecil serta alat angkut berupa truk
pemadat atau dump truk atau truk biasa, dengan proses:
kendaran dari pool menuju kontainer pertama, sampah
dituangkan ke dalam truk kompaktor dan meletakkan
kembali kontainer yang kosong;
kendaraan menuju ke kontainer berikutnya sehingga truk
penuh, untuk kemudian langsung ke TPA;
demikian seterusnya sampai dengan rit terakhir.
6. Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
Tempat pembuangan sampah akhir (TPA) adalah sarana fisik untuk
berlangsungnya kegiatan pembuangan akhir sampah, tempat
menyingkirkan/mengkarantinakan sampah kota sehingga aman (SK SNI T-11-
1991-03). Berdasarkan data JICA dan PT. Arkonin dalam Wibowo dan Djajawinata
2004, dari 46 kota yang memiliki TPA terdapat 3 jenis sistem pembuangan akhir
yang dilakukan yaitu Open Dumping (33 kota), Sanitary landfill (1 kota) dan
controlled landfill (12 kota).
Pertimbangan penentuan Lokasi TPA, mengacu kepada Standar Nasional
Indonesia dengan penekanan pada beberapa hal sebagai berikut:
a. Keberadaan dan letak fasilitas publik, perumahan,
b. Ketersediaan dan Kesesuaian Lahan
c. Kondisi hidrogeologi
d. Kondisi klimatologi
e. Jalur jalan
f. Kecepatan pengangkutan
g. Batas pengangkutan (jalan, jembatan, underpass)
h. Pola lalu lintas dan kemacetan
i. Waktu pengangkutan
j. Ketersediaan lahan untuk penutup (jika memakai sistem sanitari
landfill)
k. Jarak dari sungai
l. Jarak dari rumah dan sumur penduduk
Faktor-faktor yang mempengaruhi umur teknis tempat pembuangan akhir
sampah (TPA) adalah:
a. volume riil yang masuk ke dalam TPA,
b. pemadatan sampah oleh alat berat,
c. volume sampah yang diangkut oleh pemulung,
d. batas ketinggian penumpukan sampah,
e. ketinggian tanah urugan dan
f. susut alami sampah.
22 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Dengan demikian umur teknis dari suatu TPA merupakan fungsi dari Volume rill,
pemadatan, volume sampah yang diangkut pemulung, batas ketinggian,
ketinggian tanah urugan dan susut sampah.
2.4.2 Aspek Kelembagaan dan Organisasi
Organisasi dan manajemen merupakan suatu kegiatan yang multi disiplin yang
bertumpu pada prinsip teknik dan manajemen yang menyangkut aspek-aspek
ekonomi, sosial budaya dan kondisi fisik wilayah kota dan memperhatikan pihak
yang dilayani yaitu masyarakat kota. Perancangan dan pemilihan organisasi
disesuaikan dengan peraturan pemerintah yang membinanya, pola sistem
operasional yang diterapkan, kapasitas kerja sistem dan lingkup tugas pokok dan
fungsi yang harus ditangani (Rahardyan dan Widagdo, 2005).
Menurut Syafrudin dan Priyambada (2001), bentuk kelembagaan pengelola
sampah disesuaikan dengan kategori kota. Adapun bentuk kelembagaan tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Kota Raya dan kota besar (jumlah penduduk > 1.000.000 jiwa) bentuk
lembaga pengelola sampah yang dianjurkan berupa perusahaan daerah
atau dinas tersendiri.
2. Kota sedang 1 dengan jumlah penduduk 250.000 jiwa ? 500.000 jiwa atau
ibu kota propinsi berupa dinas tersendiri.
3. Kota sedang 2 dengan jumlah penduduk 100.000 jiwa ? 250.000 jiwa atau
kota/kotif berupa dinas/suku dinas atau UPTD dinas pekerjaan umum
atau seksi pada dinas pekerjaan umum.
4. Kota kecil dengan jumlah penduduk 20.000 jiwa ? 100.000 jiwa berupa
UPTD dinas pekerjaan umum atau seksi pada dinas pekerjaan umum
2.4.3 Aspek pembiayaan Pengelolaan Sampah
Pembiayaan merupakan sumber daya penggerak agar pada roda sistem
pengelolaan persampahan di kota tersebut dapat bergerak dengan lancar. Sistem
pengelolaan persampahan di Indonesia lebih diarahkan pada pembiayaan sendiri
termasuk membentuk perusahaan daerah. Masalah umum yang sering dijumpai
dalam sub sistem pembiayaan adalah retribusi yang terkumpul sangat terbatas
dan tidak sebanding dengan biaya operasional , dana pembangunan di daerah
berdasarkan skala prioritas, kewenangan dan struktur organisasi yang ada tidak
berhak mengelola dana sendiri dan penyusunan tarif retribusi tidak didasari
metode yang benar.
Menurut Syfaruddin dan Priyambada (2001), besaran retribusi sampah adalah 1
% dari penghasilan per rumah tangga. Dengan demikianbesaran retribusi sampah
bervariasi sesuai tingkat pendapatan, makin tinggi pendapatan suatu rumah
tangga maka makin besar retribusi yang harus mereka bayarkan karena makin
tinggi tingkat ekonomi seseorang makin besar sampah yang mereka hasilkan.
23 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
2.4.4 Aspek Hukum dan Peraturan
Hukum dan peraturan didasarkan atas kenyataan bahwa negara indonesia
adalah negara hukum, dimana sendi-sendi kehidupan bertumpu pada hukum
yang berlaku. Manajemen persampahan kota di Indonesia membutuhkan
kekuatan dan dasar hukum, seperti dalam pembentukan organisasi, pemungutan
retribusi, ketertiban masyarakat dan sebagainya.
Menurut Rahardyan dan Widagdo (2005), peraturan yang diperlukan dalam
penyelengaraan sistem pengelolaan sampah di perkotaan antara lain adalah
mengatur tentang:
1. ketertiban umum yang terkait dengan penanganan persampahan
2. rencana induk pengelolaan sampah kota
3. bentuk lembaga dan organisasi pengelola
4. tata cara penyelengaraan pengelolaan
5. tarif jasa pelayanan atau retribusi
6. kerjasama dengan berbagai pihak terkait, diantaranya kerjasama antar
daerah atau kerjasama dengan pihak swasta
2.4.5 Aspek Peran serta Masyarakat
Tanpa adanya peran serta masyarakat semua program pengelolaan
persampahan yang direncanakan akan sia-sia. Salah satu pendekatan pada
masyarakat untuk dapat membantu program pemerintah dalam kebersihan
adalah membiasakan masyarakat pada tingkah laku yang sesuai dengan program
persampahan yaitu merubah persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah
yang tertib, lancar dan merata, merubah kebiasaan masyarakat dalam
pengelolaan sampah yang kurang baik dan faktor-faktor soasial, struktur dan
budaya setempat.
Menurut Wibowo dan Djajawinata (2004), ada tiga pendekatan yang harus
dilakukan dalam pengelolaan sampah yakni pendekatan aspek teknis,
pendekatan aspek kelembagaan dan pendekatan aspek keuangan dan
manajemen. Pengelolaan sampah merupakan suatu pekerjaan yang cukup sulit
karena berbagai hal yakni:
1. Perkembangan teknologi lebih cepat dari kemampuan masyarakat untuk
mengelola dan memahami persoalan persampahan.
2. Meningkatnya tingkat hidup masyarakat, yang tidak disertai dengan
keselarasan pengetahuan tentang persampahan
3. Meningkatnya biaya operasi, pengelolaan, dan konstruksi disegala bidang
termasuk bidang persampahan.
4. Kebiasaan pengelolaan sampah yang tidak efisien, tidak benar,
menimbulkan masalah pencemaran udara, tanah, air, menimbulkan
turunnya harga tanah karena nilai estetika menurun, bau dan
memperbanyak populasi lalat.
5. Kegagalan dalam daur ulang maupun pemanfaatan kembali barang bekas.
6. Semakin sulitnya mendapatkan lahan sebagai tempat pembuangan akhir
(TPA), selain tanah serta formasi tanah tidak cocok bagi pembuangan
24 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
sampah, serta terjadinya kompetisi yang makin rumit akan penggunaan
tanah.
7. Semakin banyak masyarakat yang keberatan bahwa daerahnya dipakai
tempat pembuangan sampah.
8. Kurangnya pengawasan dan pelaksanaan peraturan.
9. Sulitnya menyimpan sampah sementara yang cepat busuk, karena cuaca
yang panas.
10. Sulitnya mencari partisipasi masyarakat untuk membuang sampah pada
tempatnya dan memelihara kebersihan.
11. Pembiayaan yang tidak memadai.
12. pengelolaan sampah dimasa lalu dan saat ini kurang memperthatikan
faktor-faktor non teknis seperti penyuluhan tentang hidup bersih dan
sehat.
2.5 Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan Sosial Ekonomi
Sampah padat yang bertumpuk banyak tidak dapat teruraikan dalam waktu yang
lama akan mencemarkan tanah. Yang dikategorikan sampah disini adalah bahan
yang tidak dipakai lagi (refuse) karena telah diambil bagian utamanya dengan
pengolahan menjadi bagian yang tidak disukai dan secara ekonomi tidak ada
harganya. Sampah dapat berpengaruh pada kesehatan manusia baik langsung
maupun tidak langsung. Dampak langsung sampah pada kesehatan disebabkan
terjadinya kontak langsung dengan sampah tersebut misalnya sampah beracun,
sampah yang korosif terhadap tubuh, yang karsinogenik, teratogenik dan lain-
lain. Pengaruh tidak langsung dapat dirasakan masyarakat akibat proses
pembusukan, pembakaran dan pembuangan sampah.
Dekomposisi sampah dapat terjadi secara aerobik, dilanjutkan secara fakultatif
dan secara anaerobik apabila oksigen habis. Dekomposisi secara anaerobik akan
menghasilkan cairan yang disebut Leachate beserta gas. Leachate atau lindi
adalah cairan yang mengandung zat padat yang tersuspensi yang sangat halus
dan hasil penguraian mikroba yang biasanya terdiri atas Ca, Mg, Na, K, Fe,
khlorida, Sulfat, fosfat, Zn, Ni, CO2, H2O, N2, NH3, H2S, asam organik dan H2.
Berdasarkan kualitas sampahnya leachate atau lindi bisa pula didapat mikroba
patogen, logam berat dan zat lainnya yang berbahaya.
Menurut Gelbert dkk (1996) ada tiga dampak sampah terhadap manusia dan
lingkungan yaitu:
1) Dampak terhadap Kesehatan
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan
sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi
beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan
anjing yang dapat menjangkitkan penyakit. Potensi bahaya kesehatan
yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
25 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
a) Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang
berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur
air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga
meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya
kurang memadai.
b) Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).
c) Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu
contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita
(taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernakan binatang
ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.
d) Sampah beracun: Telah dilaporkan bahwa di Jepang kira-kira 40.000
orang meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi
oleh raksa (Hg). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut
oleh pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator.
2) Dampak terhadap Lingkungan
Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan
mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga
beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya
ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah yang dibuang ke dalam
air akan menghasilkan asam organik dan gas-cair organik, seperti metana.
Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat
meledak.
3) Dampak terhadap Keadaan Sosial dan Ekonomi
Dampak-dampak tersebut adalah sebagai berikut :
a) Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk
lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat: bau
yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena sampah
bertebaran dimana-mana.
b) Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan
c) Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan
rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal penting di sini
adalah meningkatnya pembiayaan secara langsung (untuk
mengobati orang sakit) dan pembiayaan secara tidak langsung
(tidak masuk kerja, rendahnya produktivitas).
d) Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan
banjir dan akan memberikan dampak bagi fasilitas pelayanan
umumseperti jalan, jembatan, drainase, dan lain-lain.
e) Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan
sampah yang tidak memadai, seperti tingginya biaya yang
diperlukan untuk pengolahan air. Jika sarana penampungan
sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung
membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan jalan perlu
lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.
26 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Selain memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, sampah juga bisa
mendatangkan keuntungan ekonomi yang besar jika dikelola dengan baik. Salah
satu contoh adalah daur ulang sampah menjadi kompos sehingga dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat.

Menurut Waddell dkk (2005), sampah mempunyai konstribusi yang sangat besar
terhadap pendapatan masyarakat apabila sampah dikelola dengan benar.
Sampah di TPA Bantar Gebang, Bekasi mampu memberikan peluang bisnis bagi
para pemulung, dimana putaran uang per hari mencapai angka Rp 1,5 miliar per
hari. Jika produksi kompos dari sampah dilakukan secara optimal melalui sistim
pabrikasi terpadu, maka usaha pengolahan sampah bisa menghasilkan devisa
sebesar Rp 7,62 miliar per hari. Dalam setahun bisnis ini bisa menghasilkan 2,78
triliun rupiah atau lebih 20% dari APBD DKI Jakarta. Selain itu lokasi pembuangan
sampah juga memberikan efek ganda dengan munculnya bisnis ojek, angkutan
bus, warung dan bahkan pedagang emas di lokasi penampungan sampah.
Pada bidang pertanian sampah dapat digunakan sebagai pupuk dan pestisida.
Sampah basah atau sampah organik dapat diolah menjadi kompos yang bisa
berfungsi sebagai penyubur tanah dan pestisida organik untuk racun serangga.
Menurut Sudrajat (2006), hampir 23 juta ha lahan pertanian di dunia dikelola
menggunakan teknik pertanian organik. Rata-rata persentase lahan organik
dibanding pertanian biasa sekitar 4% - 6%. Di Indonesia terdapat sekitar 40.000
ha lahan pertanian organik, tetapi ada kecenderungan utnuk terus meningkat
sesuai kebutuhan pasar.
Menurut Purwendro dan Nurhidayat (2007), sampah organik dapat diolah
menjadi pupuk organik cair dan pestisida organik cair. Maka masyarakat yang
bermatapencaharian bergerak di bidang pertanian, perikanan, peternakan dan
kehutanan dapat mempergunakan sampah organik dengan cara mengolah
sampah tersebut menjadi pupuk organik cair dan pestisida organik cair. Dengan
demikian ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dapat dikurangi.
2.6. Permasalahan dalam Pengelolaan Persampahan
Pengelolaan sampah merupakan suatu permasalahan yang cukup kompleks yang
melibatkan pelaku utamanya yaitu pemerintah, masyarakat dan pelaku usaha.
Permasalahan yang timbal saling terkait sehingga diperlukan pendekatan secara
komprehensif dan melibatkat semua pelaku utamanya.
Menurut Annihayah (2006), Penanganan masalah sampah tidaklah mudah
karena sangat kompleks mencakup aspek teknis, ekonomis, dan sosio-politis.
Dari aspek teknis dapat dijelaskan bahwa manajemen sampah meliputi 5 fase,
yaitu:
1. Tahap Penampungan: Masyarakat menampung sampah masing-masing di
tempat sampah.
27 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
2. Tahap Pengumpulan Sampah: Pengumpulan sampah dari lingkungan
penghasil sampah, misalnya: lingkungan pemukiman, pasar, pusat
perdagangan, perkantoran/sekolah dan jalan protokol
3. Tahap Pemindahan Sampah: ada tiga cara pemindahan, yaitu Tempat
Penampungan Sementara (TPS), Kontainer, dan Transfer Depo.
4. Tahap Pengangkutan: Pengangkutan sampah dengan truk sampah dari bak
sementara ke TPA
5. Tahap Pembuangan Akhir (TPA): Tahap pemusnahan sampah di lokasi
pembuangan akhir.
Dari aspek ekonomis penjelasan permasalahan sampah berkaitan dengan
persoalan perbandingan antara input retribusi sampah yang diterapkan dengan
output yang dikeluarkan Pemda untuk mengelola sampah. Sedangkan dari aspek
sosio-politik pengelolaan sampah akan berkaitan dengan persoalan hubungan
atau kerjasama antar pemerintah daerah dalam menangani sampah, karena
realistis tidaklah mungkin pemerintah daerah menangani masalah sendiri tanpa
kerjasama dengan daerah lain.
Menurut Hadi (2004), dalam tulisannya yang berjudul Sindrom Sampah
mengatakan bahwa masyarakat bersikap resisten terhadap fasilitas pembuangan
sampah, dimana sistem pengelolaan sampah yang dijanjikan dinas kebersihan
berupa Sanitary landfill tetapi dalam prakteknya adalah open dumping, seperti
kasus protes masyarakat terhadap keberadaan TPA Bantar gebang, Bekasi, dan
pemblokiran jalan masuk TPA Keputih, Sukolilo, Surabaya. Dampak yang muncul
bagi daerah yang dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah berupa ketidak
nyamanan karena debu, bising, getaran, dan ceceran sampah disekitar kawasan
yang dilewati mobil pengangkut sampah. Hal ini dapat memicu terjadinya
penurunan nilai properti, tanah dan rumah disekitar TPA tidak saleable atau tidak
modalke untuk dijual karena umumnya orang enggan tinggal disekitar TPA.
Di negara-negara maju , seperti Amerika Serikat dan Canada, fenomena
penolakan keberadaan fasilitas pembuangan sampah telah muncul Sejak tahun
1980-an yang disebut sebagai NIMBY Syndrom (not in my backyard) artinya
jangan menempatkan fasilitas sampah di sekitar pemukiman saya. Berdasarkan
teori dampak sosial yang dikemukan Homenuck (1988) maka Hadi
mengkategorikan tipe dampak sosial yang timbul di daerah yang dijadikan
sebagai tempat TPA ada dua yaitu pertama, dampak yang sifatnya Umum,
Tangible, dan mudah diiukur misalnya bising, getaran, terbukanya lapangan kerja
dan yang kedua adalah dampak yang bersiafat Intangible atau Perceived Impact
yakni dampak yang muncul akibat adanya persepsi masyarakat tentang dampak
yang akan terjadi akibat proyek sehingga menimbulkan rasa takut, was-was dan
stress sehingga berujung pada penolakan dan perlawanan fisik.
28 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
2.7 Undang-Undang No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
Dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, jenis
sampah yang diatur adalah:
1. Sampah Rumah Tangga
Yaitu sampah yang berbentuk padat yang berasal dari sisa kegiatan sehari-hari
di rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik dan dari proses
alam yang berasal dari lingkungan rumah tangga. Sampah ini bersumber dari
rumah atau dari komplek perumahan.
2. Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
Yaitu sampah rumah tangga yang bersala bukan dari rumah tangga dan
lingkungan rumah tangga melainkan berasal dari sumber lain seperti pasar,
pusat perdagangan, kantor, sekolah, rumah sakit, rumah makan, hotel,
terminal, pelabuhan, industri, taman kota, dan lainnya.
3. Sampah Spesifik
Yaitu sampah rumah tangga atau sampah sejenis rumah tangga yang karena
sifat, konsentrasi dan/atau jumlahnya memerlukan penanganan khusus,
meliputi, sampah yang mengandung B3 (bahan berbahaya dan beracun
seperti batere bekas, bekas toner, dan sebagainya), sampah yang
mengandung limbah B3 (sampah medis), sampah akibat bencana, puing
bongkaran, sampah yang secara teknologi belum dapat diolah, sampah yang
timbul secara periode (sampah hasil kerja bakti).
Mekanisme pengelolaan sampah dalam UU N0.18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah meliputi, kegiatan?kegiatan berikut:
1. Pengurangan Sampah
Pengurangan sampah merupakan kegiatan untuk mengatasi timbulnya
sampah sejak dari produsen sampah (rumah tangga, pasar, dan lainnya),
mengguna ulang sampah dari sumbernya dan/atau di tempat pengolahan,
dan daur ulang sampah di sumbernya dan atau di tempat pengolahan.
Pengurangan sampah akan diatur dalam Peraturan Menteri tersendiri,
kegiatan yang termasuk dalam pengurangan sampah ini adalah:
a. Menetapkan sasaran pengurangan sampah
b. Mengembangkan Teknologi bersih dan label produk
c. Menggunakan bahan produksi yang dapat di daur ulang atau diguna
ulang
d. Fasilitas kegiatan guna atau daur ulang
e. Mengembangkan kesadaran program guna ulang atau daur ulang
2. Penanganan Sampah
Merupakan rangkaian kegiatan penaganan sampah yang mencakup pemilahan
(pengelompokan dan pemisahan sampah menurut jenis dan sifatnya),
pengumpulan (memindahkan sampah dari sumber sampah ke TPS atau
tempat pengolahan sampah terpadu), pengangkutan (kegiatan memindahkan
sampah dari sumber, TPS atua tempat pengolahan sampah terpadu,
29 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
pengolahan hasil akhir (mengubah bentuk, komposisi, karateristik dan jumlah
sampah agar diproses lebih lanjut, dimanfaatkan atau dikembalikan alam dan
pemprosesan aktif kegiatan pengolahan sampah atau residu hasil pengolahan
sebelumnya agar dapat dikembalikan ke media lingkungan.
Dalam perencanaan pengelolaan sampah, Undang- Undang Pengelolaan Sampah
mengharapkan pemerintah kota/kabupaten dapat membentuk semacam forum
pengelolaan sampah skala kota/kabupaten atau provinsi. Forum ini
beranggotakan masyarakat secara umum, perguruan tinggi, tokoh masyarakat,
organisasi lingkungan/persampahan, pakar, badan usaha dan lainnya. Hal-hal
yang dapat difasilitasi forum adalah: memberikan usul, pertimbangan dan saran
terhadap kinerja pengelolaaan sampah, membantu merumuskan kebijakan
pengelolaan sampah, memberikan saran dan dapat dalam penyelesaian sengketa
persampahan. Sampai saat ini, belum ada kebijakan nasional mengenal
persampahan itu sendiri masih bersifat sosialisasi. Melihat di perkotaan
penanganan pengelolaan sampah sudah sangat mendesak, diharapkan UU No.
18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dapat di implementasikan
2.8 Sistem Pengelolaan Sampah Perkotaan Ideal

Dalam Pengelolaan Sampah Terpadu sebagai salah satu upaya pengelolaan
Sampah Perkotaan adalah konsep rencana pengelolaan sampah perlu dibuat
dengan tujuan mengembangkan suatu system pengelolaaan sampah yang
modern, dapat diandalkan dan efisien dengan teknologi yang ramah lingkungan.
Dalam sistem tersebut harus dapat melayani seluruh penduduk, meningkatkan
standar kesehatan masyarakat dan memberikan peluang bagi masyarakat dan
pihak swasta untuk berpartisipasi aktif.
Dengan demikian perlu adanya kebijakan pengelolaan sampah perkotaan yang
ditetapkan di kota-kota di Indonesia meliputi 5 (lima) kegiatan, yaitu:
1. Penerapan teknologi yang tepat guna
2. Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah
3. Perlunya mekanisme keuntungan dalam pengelolaan sampah
4. Optimalisasi TPA sampah
5. Sistem kelembagaan pengelolaan sampah yang terintegrasi
30 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Gambar 2.4
Skema Pengelolaan Sampah Ideal
2.9 Kualitas Pelayanan dan SDM Kebersihan
Kualitas pelayanan jauh lebih sukar didefinisikan, dijabarkan dan diukur bila
dibandingkan dengan kualitas barang. Bila ukuran kualitas dan pengendalian
kualitas telah lama eksis untuk barang-barang berwujud, maka untuk pelayanan,
berbagai upaya sedang dikembangkan untuk merumuskan ukuran-ukuran
semacam itu. Pada dasarnya, definisi kualitas pelayanan terfokus pada upaya
pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan
penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan. Menurut Lovelock
(1994) kualitas pelayanan merupakan tingkat kesempurnaan yang diharapkan
dan pengendalian atas kesempurnaan tersebut untuk memenuhi keinginan
pelanggan. Parasuraman dalam Ekaningtiyas (2009) berpendapat bahwa faktor
yang mempengaruhi kualitas pelayanan adalah layanan yang diharapkan dan
layanan yang dipersepsikan, sehingga implikasi baik buruknya layanan
tergantung pada kemampuan penyediaan layanan memenuhi harapan
pelanggannya secara konsisiten.
Terbentuknya harapan atas layanan dari para pelanggan dipengaruhi oleh
berbagai kegiatan marketing seperti iklan, penjualan, harga, tradisi maupun
danya kontak konsumen dengan penyediaan layanan sebelumnya. Sementara
layanan yang diterima dipengaruhi oleh kontak antar personel dengan
penyediaan layanan, fasilitas fisik, prosedur yang merupakan bagian dari sistem
layanan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Lovelock (1994) bahwa
pelayanan pelanggan dapat diartikan sebagai suatu sistem manajemen,
Pengelolaan
Sampah Kota
Ideal
Penerapan Teknologi
Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah
Mekanisme keuntungan dalam pengelolaan sampah
Kelembagaan pengelolaan sampah yang terintegrasi
Tempat Pembuangan Akhir (TPA)
31 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
diorganisir untuk menyediakan hubungan pelayanan yang berkesinambungan
antara waktu pemesanan dan waktu pelayanan yang diterima dan digunakan
dengan tujuan memuaskan pelanggan dalan jangka panjang.
Menurut Goetsch dan Davis yang dikutip oleh Tjiptono (1996) mendefiniskan
kualitas secara lebih luas cakupannya yaitu: kualitas merupakan suatu kondisi
dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, prosesan lingkungan
yang memenuhi atau melebihi harapan. Selanjutnya Triguno 1997) mengartikan
kualitas sebagai standar yang harus dicapai oleh
seorang/kelompok/lembaga/organisasi mengenai kualitas sumber daya manusia,
kualitas cara kerja, proses dan hasil kerja atau produk yang berupa barang dan
asa. Berkualitas mempunyai arti memuaskan kepada yang dilayani atas
tuntutan/persyaratan pelanggan/masyarakat.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi sangat urgen dan perlu
dilakukan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan dalam rangka
meningkatkan kemampuan dan profesionalisme. Sasaran dari pengembangan
kualitas sumber daya manusia khususnya pada dinas kebersihan adalah untuk
meningkatkan kinerja operasional pegawai dalam melaksanakan tugas. Selain itu,
kualitas sumberdaya manusia yang tinggi akan bermuara pada lahirnya
komitmen yang kuat dalam penyelesaian tugas-tugas rutin sesuai tanggung
jawab dan fungsinya masing-masing secara lebih efisien, efektif, dan produktif.
Pembahasan pengembangan sumber daya manusia, sebenarnya dapat dilihat
dari dari dua aspek, yaitu kuantitas dan kualitas. Pengertian kuantitas
menyangkut jumlah sumber daya manusia. Kuantitas sumber daya manusia
tanpa disertai dengan kualitas yang baik akan menjadi beban organisasi.
Sedangkan kualitas, menyangkut mutu sumber daya manusia yang menyangkut
kemampuan, baik kemampuan fisik maupun kemampuan non fisik (kecerdasan
dan mental). Oleh sebab itu untuk kepentingan akselerasi tugas pokok dan fungsi
organisasi apapun, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah
satu syarat utama. Kualitas sumber daya manusia yang menyangkut dua aspek,
yakni aspek fisik (kualitas fisik) dan non fisik (kualitas non fisik) yang menyangkut
kemampuan bekerja, berpikir, dan keterampilan lain.
Oleh sebab itu, upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dapat
diarahkan pada kedua aspek tersebut. Untuk menentukan kualitas fisik dapat di
upayakan melalui program peningkatan kesejahteraan dan gizi. Sedangkan untuk
meningkatkan kualitas non fisik, maka upaya pendidikan dan pelatihan sangat
diperlukan.
32 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
BAB 3
M E T O D E P E N E L I T I A N
3.1 Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Tipe penelitian
deskriptif pada umumnya tidak memerlukan hipotesis sehingga dalam langkah
penelitiannya tidak perlu merumuskan hipotesis. Dalam penelitian deskriptif
terdapat dua kelompok data yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data
kualitatif menggambarkan dengan kata-kata atau kalimat sedangkan data
kuantitatif berwujud angka-angka hasil perhitungan atau pengukuran (Arikunto,
1998).
3.2 Ruang Lingkup Penelitian

Agar penelitian lebih terfokus maka dilakukan pembatasan penelitian. Ruang
lingkup penelitian adalah sebagai berikut:
1. Tingkat layanan dan daerah layanan terhadap sumber timbulan sampah;
2. Kondisi sarana dan prasarana serta tenaga kerja terkait dengan
operasional pelayanan pembuangan sampah
3. Sub sistim teknis operasional pengelolaan sampah;
3.3 Lokasi Penelitian
Lokasi wilayah penelitian dilakukan di Kota Medan yang terdiri dari 21
kecamatan. Lokasi pengukuran timbulan sampah dilakukan pada perumahan,
kantor, pertokoan, sekolah yang diambil secara random/acak untuk mewakili
masing-masing kelurahan yang ada.
3.4 Jenis dan Sumber Data
1. Data Primer Data primer yang diinput untuk keperluan penelitian ini adalah:
a. Besaran timbulan sampah dan komposisinya.
b. Kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah, persepsi masyarakat
tentang sampah, partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah.
c. Kegiatan masyarakat di TPA sementara dan kegiatan pencacahan sampah.
Data Sekunder
2. Data sekunder diperoleh dari Dinas Kebersihan, Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil, Badan Pusat Statistik, Bappeda dan Bagian Tata Pemerintahan
Sekretariat Daerah meliputi data-data:
33 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Data demografi kota Medan dan kecamatannya
Data jumlah wadah sampah, TPS dan luas TPA yang ada
Tarif layanan sampah
Anggaran yang tersedia dalam pengelolaan sampah
Jumlah dan jenis kendaraan pengangkutan sampah
Jumlah tenaga kebersihan kota
Peraturan daerah dalam pengelolaan sampah
Pertumbuhan penduduk rata-rata sejak berdirinya kabupaten Kota
Medan
Dokumen perencanaan pemerintah daerah tentang pengelolaan
sampah
Kebijakan pemerintah daerah tentang pengelolaan sampah.
3.5 Teknik Pengambilan Sampel
Untuk mengetahui rata-rata timbulan sampah per kapita per hari maka dilakukan
pengambilan sampel yang berasal dari kegiatan domestik dan non rumah tangga.
Rata-rata timbulan sampah perjiwa di gunakan untuk menghitung kebutuhan
sarana prasarana dalam pengelolaan sampah, meliputi kebutuhan pewadahan,
kebutuhan alat angkut dan kebutuhan luas awal tempat pembuangan akhir atau
untuk mengetahui umur tempat pembuangan akhir.
Teknik pengambilan sampel dilapangan untuk rumah tangga dan non rumah
tangga dilakukan dengan menggunakan pedoman SK SNI M36-1991-03, yakni
pengambilan sampel dilakukan dengan cara proportional stratified random
sampling. Rumah tangga dibagi dalam tiga strata yaitu rumah tangga
berpendapatan tinggi, sedang dan rendah, masing-masing strata diambil secara
acak. Pembagian rumah tangga ke dalam strata karena masing-masing strata
diperkirakan memiliki rata-rata timbulan sampah yang berbeda sehingga
diharapkan hasil yang diperoleh lebih representatif.
Untuk menentukan jumlah sampel rumah tangga (domestik) menggunakan
rumus:

dimana:
S = Jumlah sampel (jiwa)
Cd = Koefisien Perumahan (untuk kota kecil Cd = 0.5)
Ps = Populasi (jiwa)
Kemudian ditentukan jumlah sampel rumah tangga dengan rumus:



34 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
dimana:
K = Jumlah sampel (KK)
S = Jumlah sampel jiwa
N = Jumlah jiwa per KK (N=5)
Dari jumlah sampel rumah tangga (K) ditentukan jumlah sampel setiap strata
rumah tangga dengan cara sebagai berikut:
a. Jumlah sampel rumah tangga berpendapatan tinggi = 25% x K
b. Jumlah sampel rumah tangga berpendapatan sedang = 30% x K
c. Jumlah sampel rumah tangga berpendapatan rendah = 40% x K
Berdasarkan rumus-rumus tersebut maka ditetapkan jumlah contoh KK dan jiwa
berdasarkan klasifikasi kota adalah sebagai berikut:
No. Klasifikasi Kota Jumlah Penduduk
Jumlah contoh
jiwa
Jumlah KK
1 Metropolitan 1.000.000-2,5.000.000 1.000-1.500 200-300
2 Besar 500.000-1.000.000 700-1000 140-200
3 Sedang, Kecil, IKK 3.000-500.000 150-350 30-70
Sumber: SNI M-36-1991-03
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik jumlah penduduk kota Medan sebanyak
2.122.804 jiwa. Sedangkan untuk menentukan jumlah sampel untuk non
perumahan menggunakan rumus:

dimana:
S = Jumlah sampel (jiwa)
Cd = Koefisien Perumahan (untuk kota kecil Cd = 1)
Ts = Jumlah populasi non perumahan (jiwa)
Berdasarkan rumus tersebut ditetapkan jumlah sampel timbulan sampah non
perumahan sebagai berikut:
No. Lokasi Pengambilan
Sampel
Klasifikasi Kota
Metropolitan Kota Besar Kota Sedang IKK
1 Toko 3-30 10-13 5-10 3-5
2 Sekolah 13-30 10-13 5-10 3-5
3 Kantor 13-30 10-13 5-10 3-5
4 Pasar 6-15 3-6 3-6 1
5 Jalan 6-15 3-6 3-6 1
Sumber: SNI M-36-1991-03
35 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
3.6 Metode Pengumpulan Data
Pada kajian ini data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder.
Untuk memperoleh data primer digunakan teknik pengumpulan data melalui
wawancara langsung pada sasaran penelitian dengan menyediakan suatu daftar
pertanyaan terstruktur dalam bentuk kuesioner. Menurut Hadi (2005), kuisioner
dibagi dalam dua kategori yaitu:
a. Kuisioner tidak langsung, yaitu dengan membagikan kuisioner kepada
responden, jika telah diisi lengkap kuisioner diserahkan kembali kepada
peneliti, dikirim atau diambil langsung oleh peneliti.
b. Kuisioner langsung, yaitu peneliti langsung mewawancarai responden dengan
pedoman kuisioner yang telah disiapkan. Guna menghindari salah interpretasi
dari respon tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan maka pada
penelitian ini dilakukan kuisioner langsung.

Selanjutnya dilakukan wawancara dengan instansi terkait tentang kebijakan
pemerintah daerah berkaitan dengan pengelolaan sampah yang telah dilakukan
seperti dinas kebersihan dan tata kota selaku pengelola, bagian tata
pemerintahan selaku penyedia lahan untuk TPA, Bappeda selaku perencana dan
LSM/Perusahaan daerah selaku operator pengelola sampah. Selain itu itu
memperkaya informasi tentang keinginan masyarakat juga dilakukan wawancara
dengan tokoh masyarakat.
Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi yang terkait antara lain Badan
Pusat Statistik, Dinas Kebersihan Kota Medan berupa dokumen-dokumen
kebijakan, publikasi hasil penelitian dan berbagai referensi yang terkait dengan
penelitian ini.

3.7 Teknik Analisis Data
3.7.1. Perhitungan Besaran Timbulan Sampah
Untuk penghitungan besaran timbulan sampah dan komposisi sampah
mengunakan SK SNI M-36-1991-03 tentang metode pengambilan dan
pengukuran contoh timbulan dan komposisi sampah perkotaan meliputi volume
rata per jiwa perhari, berat rata-rata per jiwa per hari dan persen berat sampah
per komponen. Masing-masing perhitungan menggunakan rumus sebagai
berikut:
Volume Rata-rata perjiwa perhari:





Liter/hari/jiwa)
36 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Berat Rata-rata





Lakukan perhitungan volume total sampah per hari sebagai fungsi jumlah
penduduk. Untuk menghitung kebutuhan luas lahan TPA mengacu pada
petunjuk teknis Nomor CT/S/Re-CT/004/98 dengan rumus sebagai berikut :




dimana :
L = Luas lahan yang dibutuhkan setiap tahun (m
2
)
V = Volume sampah
T = Ketinggian timbulan yang direncanakan (m)
0.7 dan 1.1.5 = Konstanta
Kebutuhan luas lahan untuk jangka waktu n tahun adalah:

dimana :
H = Luas total lahan (m
2
)
L = Luas lahan setahun (m
2
)
I = Umur lahan (tahun)
J = Ratio luas lahan total dengan luas lahan efektif (1,2)
3.7.2 Analisis Kondisi menggunakan Analisis SWOT
Berdasarkan data timbulan sampah dan komposisi sampah dilakukan
perhitungan terhadap kebutuhan pewadahan, kebutuhan alat transportasi dan
kebutuhan luas lahan pembuangan kebutuhan tenaga muat dalam pelayanan
pembuangan sampah. Selanjutnya dilakukan analisis perencanaan terhadap
kondisi pelayanan sampah yang telah dilakukan dan rencana pengelolaan
sampah menggunakan analisis SWOT.
Kg/hari/jiwa)
37 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Gambar 3.1
Kerangka Skema Penelitian
38 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
BAB 4
H A S I L D A N P E M B A H A S A N
Besarnya timbulan sampah yang dihasilkan suatu daerah sebanding dengan
jumlah penduduk, jenis aktifitas dan tingkat konsumsi penduduk terhadap
barang atau material. Semakin besar jumlah penduduk atau tingkat konsumsi
terhadap barang maka semakin besar volume sampah yang dihasilkan. Sampah-
sampah yang dihasilkan dibuang ke tempat yang jauh dari pemukiman dan
bahkan di dekat pemukiman. Pembuangan sampah yang berada dekat dengan
pemukiman penduduk beresiko terhadap kesehatan masyarakat. Guna
mengurangi dampak sampah tersebut maka sampah yang dihasilkan perlu
dikelola.
Besaran timbulan sampah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
perencanaan pengelolaan sampah terutama aspek teknis operasional.
Berdasarkan hasil pengukuran timbulan sampah dilakukan perencanaan teknis
operasional pengelolaan dan perencanaan terhadap aspek-aspek lain yang
berkaitan dengan sistem pengelolaan sampah.
4.1 Gambaran Umum Kota Medan
4.1.1 Sejarah Singkat
Kota Medan adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kota ini
merupakan kota terbesar di Pulau Sumatera. Kota Medan merupakan pintu
gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan juga sebagai pintu gerbang bagi para
wisatawan untuk menuju objek wisata Brastagi di daerah dataran tinggi Karo,
objek wisata Orangutan di Bukit Lawang, Danau Toba.
Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring Pelawi pada tahun 1590. John
Anderson, orang Eropa yang pertama mengunjungi Deli pada tahun 1833
menemukan sebuah kampung yang bernama Medan. Kampung ini berpenduduk
200 orang dan seorang pemimpin bernama Tuanku Pulau Berayan sudah sejak
beberapa tahun bermukim disana untuk menarik pajak dari sampan-sampan
pengangkut lada yang menuruni sungai. Pada tahun 1886, Medan secara resmi
memperoleh status sebagai kota, dan tahun berikutnya residen Pesisir Timur
serta Sultan Deli pindah ke Medan. Tahun 1909, Medan menjadi kota yang
penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka
perusahaan perkebunan secara besar-besaran. Dewan kota yang pertama terdiri
dari 12 anggota orang Eropa, dua orang bumiputra, dan seorang Tionghoa.
39 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terdapat dua gelombang migrasi besar
ke Medan. Gelombang pertama berupa kedatangan orang Tionghoa dan Jawa
sebagai kuli kontrak perkebunan. Tetapi setelah tahun 1880 perusahaan
perkebunan berhenti mendatangkan orang Tionghoa, karena sebagian besar dari
mereka lari meninggalkan kebun dan sering melakukan kerusuhan. Perusahaan
kemudian sepenuhnya mendatangkan orang Jawa sebagai kuli perkebunan.
Orang-orang Tionghoa bekas buruh perkebunan kemudian didorong untuk
mengembangkan sektor perdagangan. Gelombang kedua ialah kedatangan orang
Minangkabau, Mandailing dan Aceh. Mereka datang ke Medan bukan untuk
bekerja sebagai buruh perkebunan, tetapi untuk berdagang, menjadi guru dan
ulama. Sejak tahun 1950, Medan telah beberapa kali melakukan perluasan areal,
dari 1.853 ha menjadi 26.510 ha di tahun 1974. Dengan demikian dalam tempo
25 tahun setelah penyerahan kedaulatan, kota Medan telah bertambah luas
hampir delapan belas kali lipat.
4.1.2 Keadaan Geografis
Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km) atau 3,6% dari
keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan
kota/kabupatenlainya, Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan
jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis kota Medan terletak pada
3 30' ? 3 43' Lintang Utara dan 98 35' - 98 44' Bujur Timur. Untuk itu
topografi kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian
2,5 - 37,5 meter di atas permukaan laut. Secara administratif, batas wilayah
Medan adalah sebagai berikut:
Tabel IV.1
Batas Wilayah Kota Medan
Utara Selat Malaka
Selatan Kabupaten Deli Serdang
Barat Kabupaten Deli Serdang
Timur Kabupaten Deli Serdang
Sesuai dengan dinamika pembangunan kota, luas wilayah administrasi Kota
medan telah melalui beberapa kali perkembangan. Pada Tahun 1951, Walikota
Medan mengeluarkan Maklumat Nomor 21 tanggal 29 September 1951, yang
menetapkan luas Kota Medan menjadi 5.130 Ha, meliputi 4 Kecamatan dengan
59 Kelurahan. Maklumat Walikota Medan dikeluarkan menyusul keluarnya
Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 66/III/PSU tanggal 21 September
1951, agar daerah Kota Medan diperluas menjadi tiga kali lipat.
40 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Gambar 4.1
Peta Kecamatan Kota Medan
Sesuai dengan dinamika pembangunan kota, luas wilayah administrasi Kota
Medan telah melalui beberapa kali perkembangan. Pada Tahun 1951, Walikota
Medan mengeluarkan Maklumat Nomor 21 tanggal 29 September 1951, yang
menetapkan luas Kota Medan menjadi 5.130 Ha, meliputi 4 Kecamatan dengan
59 Kelurahan. Maklumat Walikota Medan dikeluarkan menyusul keluarnya
Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 66/III/PSU tanggal 21 September
41 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
1951, agar daerah Kota Medan diperluas menjadi tiga kali lipat. Melalui
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1973 Kota Medan
kemudian mengalami pemekaran wilayah menjadi 26.510 Ha yang terdiri dari 11
Kecamatan dengan 116 Kelurahan. Berdasarkan luas administrasi yang sama
maka melalui Surat Persetujuan Menteri Dalam Negeri Nomor 140/2271/PUOD,
tanggal 5 Mei 1986, Kota Medan melakukan pemekaran Kelurahan menjadi 144
Kelurahan.
Perkembangan terakhir berdasarkan Surat Keputusan Gubernur KDH Tingkat I
Sumatera Utara Nomor 140.22/2772.K/1996 tanggal 30 September 1996 tentang
pendefitipan 7 Kelurahan di Kotamadya Daerah Tingkat II Medan berdasarkan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 tahun 1992 tentang
Pembentukan Beberapa Kecamatan di Kotamadya Daerah Tingkat II Medan,
secara administrasi Kota Medan dimekarkan kembali, dibagi atas 21 Kecamatan
yang mencakup 151 Kelurahan, yakni:
Tabel IV.2
Jumlah Kecamatan berdasarkan Kelurahan Kota Medan
No. Kecamatan Kelurahan
1 Medan Tuntungan 9
2 Medan Johor 6
3 Medan Amplas 7
4 Medan Denai 6
5 Medan Area 12
6 Medan Kota 12
7 Medan Maimun 6
8 Medan polonia 5
9 Medan Baru 6
10 Medan Selayang 6
11 Medan Sunggal 6
12 Medan Helvetia 7
13 Medan Petisah 7
14 Medan Barat 6
15 Medan Timur 11
16 Medan Perjuangan 9
17 Medan Tembung 7
18 Medan Deli 6
19 Medan labuhan 6
20 Medan Marelan 5
21 Medan Belawan 6
Sumber : Kota Medan dalam Angka 2013, BPS
42 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
4.1.3 Demografis
Penduduk Kota Medan terdiri dari berbagai macam suku atau etnis. Sebelum
kedatangan bangsa asing ke wilayah Medan yang merupakan bagian dari
wilayah Sumatera Timur pada saat itu, penduduk Medan masih dihuni oleh
suku-suku asli, seperti : Melayu, Simalungun, dan Karo. Namun, seiring dengan
hadir dan berkembangnya perkebunan tembakau di Sumatera Timur maka
demografi penduduk Medan berubah dengan hadirnya suku-suku pendatang,
seperti Jawa, Batak Toba, Cina, dan India. Suku-suku pendatang itu tinggal
menetap dan telah bercampur baur dengan penduduk asli sehingga Kota Medan
sampai saat ini dihuni oleh berbagai macam etnis, seperti : Melayu, Simalungun,
Batak Toba, Mandailing, Cina, Angkola, Karo, Tamil, Benggali, Jawa, dan lain
sebagai. Suku-suku yang ada di Kota Medan ini hidup secara harmonis dan
toleran antara satu suku dengan yang lain.
Pembangunan kependudukan dilaksanakan dengan mengindahkan kelestarian
sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup sehingga mobilitas dan
persebaran penduduk tercapai optimal.Mobilitas dan persebaran penduduk
yang optimal, berdasarkan pada adanya keseimbangan antara jumlah penduduk
dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Persebaran penduduk yang
tidak didukung oleh lingkungan dan pembangunan akan menimbulkan masalah
sosial yang kompleks, dimana penduduk menjadi beban bagi lingkungan
maupun sebaliknya.
Pada tahun 2012, penduduk Kota Medan mencapai 2.122.804 jiwa. Dibanding
hasil Proyeksi Penduduk 2012, terjadi pertambahan penduduk sebesar 5.580
jiwa (0,26%). Dengan luas wilayah mencapai 265,10 km, kepadatan penduduk
mencapai 7.987 jiwa/ km. Komposi Penduduk Kota Medan tidak hanya dilihat
berdasarkan suku, tetapi juga berdasarkan jenis kelamin, agama, mata
pencaharian, dan pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel IV.3
Penduduk Kota Medan berdasarkan Kecamatan dan Jenis Kelamin
Tahun 2012
No. Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Medan Tuntungan 39 887 42 155 82 042
2 Medan Johor 62 005 63 908 125 913
3 Medan Amplas 57 615 58 612 116 227
4 Medan Denai 71 374 70 627 142 001
5 Medan Area 47 802 48 873 96 675
6 Medan Kota 35 236 37 449 72 685
7 Medan Maimun 19 422 20 243 39 665
8 Medan polonia 26 321 27 231 53 552
9 Medan Baru 17 574 22 003 39 577
10 Medan Selayang 49 266 51 189 100 455
43 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
No. Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah
11 Medan Sunggal 55 425 57 542 112 967
12 Medan Helvetia 71 211 74 308 145 519
13 Medan Petisah 29 371 32 484 61 855
14 Medan Barat 34 748 36 164 70 912
15 Medan Timur 52 629 56 163 108 792
16 Medan Perjuangan 45 167 48 359 93 526
17 Medan Tembung 65 417 68 424 133 841
18 Medan Deli 86 482 84 449 170 931
19 Medan labuhan 57 333 55 309 112 642
20 Medan Marelan 74 673 72 645 147 318
21 Medan Belawan 48 917 46 792 95 709
Kota Medan 1 047 875 1 074 929 2 122 804
Jumlah penduduk merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi timbulan
sampah, makin besar jumlah penduduk suatu kota maka semakin besar pula
timbulan sampah yang terdapat pada kota tersebut. Dengan demikian diperlukan
peran serta masyarakat dalam mereduksi produksi sampah dengan pendekatan
3R dan mengurangi sampah yang dihasilkan melalui daur ulang mulai dari
sumber sampah sampai di lokasi pembuangan akhir. Jumlah penduduk juga
dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan jumlah kebutuhan tenaga kerja
dan bentuk kelembagaannya. Kebutuhan tenaga kerja sebagai tenaga
pengumpul adalah 1 : 1.000 dan tenaga muat untuk pengangkutan sampah ke
tempat pembuangan akhir terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 1000. Artinya
dalam 1000 orang penduduk dibutuhkan 1 orang tenaga pengumpul dan 1 orang
tenaga pengangkutan.
Jika dilihat berdasarkan jumlah penduduk Kota Medan yakni sebanyak 2.122.804
jiwa , maka kebutuhan tenaga pengumpul adalah sebanyak 2000 orang dan
tenaga muat untuk pengangkutan adalah sebanyak 2000 orang, sehingga jumlah
tenaga yang dibutuhkan adalah sebanyak 4000 orang. Bentuk kelembagaan
pengelola sampah sangat terkait dengan klasifikasi kota. Berdasarkan jumlah
penduduknya Kota Medan dikategorikan sebagai kota Besar.
Tabel IV.4
Sumber : Kota Medan dalam Angka 2013, BPS Kota Medan
44 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Kepadatan Penduduk Kota Medan berdasarkan Kecamatan
Tahun 2009-2012
No. Kecamatan
Luas Wilayah
(Km2)
Penduduk
Kepadatan
Penduduk per
Km
2
1 Medan Tuntungan 20,68 82 042 3967,21
2 Medan Johor 14,58 125 913 8636,01
3 Medan Amplas 11,19 116 227 10386,68
4 Medan Denai 9,05 142 001 15690,72
5 Medan Area 5,52 96 675 17513,59
6 Medan Kota 5,27 72 685 13792,22
7 Medan Maimun 2,98 39 665 13310,40
8 Medan polonia 9,01 53 552 5943,62
9 Medan Baru 5,84 39 577 6776,88
10 Medan Selayang 12,81 100 455 7841,92
11 Medan Sunggal 15,44 112 967 7316,52
12 Medan Helvetia 13,16 145 519 11057,67
13 Medan Petisah 6,82 61 855 9069,65
14 Medan Barat 5,33 70 912 13304,32
15 Medan Timur 7,76 108 792 14019,59
16 Medan Perjuangan 4,09 93 526 22866,99
17 Medan Tembung 7,99 133 841 16751,06
18 Medan Deli 20,84 170 931 8202,06
19 Medan labuhan 36,67 112 642 3071,78
20 Medan Marelan 23,82 147 318 6184,63
21 Medan Belawan 26,25 95 709 3646,06
Tahun 2012 265,10 2 122 804 8 007,56
2011 265,10 2 117 224 7 987,00
2010 265,10 2 097 610 7 913,00
2009 265,10 2 121 053 8 001,00

Tabel IV.5
Sumber : Kota Medan dalam Angka 2013, BPS Kota Medan
45 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga menurut Kecamatan
Tahun 2012
No. Kecamatan Penduduk
Rumah Tangga
(RT)
Rata-rata
Anggota RT
1 Medan Tuntungan 82 042 19 301 4,25
2 Medan Johor 125 913 29 126 4,32
3 Medan Amplas 116 227 26 978 4,31
4 Medan Denai 142 001 31 611 4,49
5 Medan Area 96 675 21 756 4,44
6 Medan Kota 72 685 17 192 4,23
7 Medan Maimun 39 665 9 217 4,30
8 Medan polonia 53 552 12 239 4,38
9 Medan Baru 39 577 10 761 4,68
10 Medan Selayang 100 455 26 921 3,73
11 Medan Sunggal 112 967 26 388 4,28
12 Medan Helvetia 145 519 32 329 4,50
13 Medan Petisah 61 855 15 268 4,05
14 Medan Barat 70 912 16 545 4,29
15 Medan Timur 108 792 25 281 4,29
16 Medan Perjuangan 93 526 22 538 4,15
17 Medan Tembung 133 841 30 178 4,44
18 Medan Deli 170 931 39 297 4,34
19 Medan labuhan 112 642 25 149 4,48
20 Medan Marelan 147 318 33 772 4,36
21 Medan Belawan 95 709 21 282 4,50
Tahun 2012 2 122 804 493 229 4,30
Adapun komposisi penduduk Kota Medan berdasarkan kelompok umur jenis
kelamin, dapat dilihat dalam Tabel IV.6 berikut ini:
Tabel IV.6
Sumber : Kota Medan dalam Angka 2013, BPS Kota Medan
46 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Jumlah Penduduk Kota Medan berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Tahun 2012
Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
0 ? 4 99 365 94 516 193 881
5 ? 9 93 989 89 238 183 227
10 ? 14 96 369 90 745 187 114
15 ? 19 107 151 111 075 218 226
20 ? 24 114 763 123 788 238 551
25 ? 29 95 927 99 767 195 694
30 ? 34 86 896 89 404 176 300
35 ? 39 78 118 81 688 159 806
40 ? 44 70 535 73 299 143 834
45 ? 49 59 847 62 115 121 962
50 ? 54 49 928 51 970 101 898
55 ? 59 38 483 39 156 77 639
60 ? 64 24 422 25 508 49 930
65 ? 69 14 792 17 588 32 380
70 ? 74 9 978 12 746 22 724
75+ 7 312 12 326 19 638
Jumlah 1 047 875 1 074 929 2 122 804
Berdasarkan Tabel di atas dapat dilihat jumlah penduduk terbanyak berada pada
Kecamatan Medan Deli dengan jumlah 170,931 orang yang dihuni oleh 84.449
laki-laki dan 84.449 perempuan. Sementara itu, Kecamatan Medan Baru lebih
banyak didominasi oleh penduduk berjenis kelamin perempuan daripda
penduduk yang berjenis kelamin laki-laki yang hanya berjumlah 17.574 orang.
Berdasarkan Tabel di atas juga dapat disimpulkan bahwa penduduk Kota Medan
bila dirinci dari jenis kelaminnya berjumlah 2.122.804 orang dengan 1.047.875
penduduk berjenis kelamin laki-laki dan 1.074.929 penduduk berjenis kelamin
perempuan. Peningkatan Komposisi penduduk Kota Medan dapat dilihat
berdasarkan jenis kelamin dari tahun ke tahun.
Sumber : Kota Medan dalam Angka 2013, BPS Kota Medan
47 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
4.1.4 Sarana Pendidikan
Fasilitas Pendidikan di Kota Medan sudah cukup memadai, saat ini jumlah
fasilitas pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel IV.7
Data Sarana Pendidikan di Kota Medan
No. Sarana Pendidikan Jumlah
1 Universitas 19
2 Institut 3
3 Sekolah Tinggi 34
4 Akademi 55
5 Politeknik 7
6 SMK 136
7 SMU 203
8 SLTP 353
9 SD 810
10 Pendidikan non formal 23
Fasilitas pendidikan tersebut merupakan sumber timbulan sampah, dimana
semakin banyak fasilitas pendidikan semakin banyak sampah yang dihasilkan dan
semakin luas daerah layanan. Jenis sampah yang berasal dari fasilitas pendidikan
berupa kertas dan plastik yang bersumber dari jajanan siswa.
4.1.5 Fasilitas Kesehatan Masyarakat
Fasilitas Kesehatan di Kota Medan cukup memadai, meskipun perlu penambahan
beberapa fasilitas di berbagai kecamatan. saat ini jumlah fasilitas kesehatan di
kota Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel IV.8
Data Sarana Kesehatan di Kota Medan
No. Sarana Kesehatan Jumlah
1 Rumah Sakit 70
2 Rumah Sakit Bersalin 431
3 Balai Pengobatan 421
4 Puskesmas 39
5 Puskesmas Pembantu 40
Sampah-sampah yang dihasilkan dari fasilitas kesehatan adalah berupa biomedis.
Sampah biomedis memungkinkan terkontaminasi oleh bakteri, virus dan
sebagian beracun sehingga sangat berbahaya bagi manusia dan makhluk hidup
lainnya. Sampah biomedis yang berasal fasilitas kesehatan sebelum dibuang ke
landfill terlebih dahulu harus sterilisasi. Menurut WHO , jika sampah tidak
ditangani dengan baik akan dapat menimbulkan permasalahan pada gangguan
kesehatan pada manusia misalnya:
Sumber : Kota Medan dalam Angka 2010, BPS Kota Medan
Sumber : Kota Medan dalam Angka 2010, BPS Kota Medan
48 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
1) Kumpulan sampah merupakan tempat pembiakan lalat yang dapat
mendorong penularan infeksi,
2) sampah dapat menimbulkan penyakit yang terkait dengan tikus seperti pes,
leptospirosis dan lain-lain.
4.1.6 Pengaruh PDRB terhadap Pengelolaan Sampah Kota Medan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Medan dalam Angka tahun 2013,
laju pertumbuhan ekonomi kota Medan pada tahun 2012 mengalami
peningkatan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun ini
pertumbuhan ekonomi Kota Medan mencapai 12,59 persen. Ada beberapa
sektor yang pertumbuhannya di atas rata-rata yakni sektor Bangunan 15,51
persen, sektor keuangan, asuransi dan jasa jasa perusahaan 15,50 persen. Jika
dilihat kontribusi masing- masing sektor pendapatan regional pada tahun 2012
masih sangat dominan berasal dari keuangan, asuransi, usaha persewaan,
bangunan, tanah da jasa perusahaan sebesar 15,50 persen. Berdasarkan harga
konstan pada tahun 2000 pendapatan perkapita telah mencapai Rp 19.558.715.
Besaran pendapatan per kapita masyarakat dapat dipergunakan sebagai dasar
dalam penentuan besaran retribusi sampah. Besaran retribusi tersebut adalah 1
% dari penghasilan per rumah tangga. Dengan demikian besaran retribusi
sampah bervariasi sesuai tingkat pendapatan, makin tinggi pendapatan suatu
rumah tangga maka makin besar retribusi yang harus mereka bayarkan karena
makin tinggi tingkat ekonomi seseorang makin besar sampah yang mereka
hasilkan.
Sampah mempunyai konstribusi yang sangat besar terhadap pendapatan
masyarakat apabila sampah dikelola dengan benar. Contohnya, sampah di TPA
Bantar Gebang, Bekasi mampu memberikan peluang bisnis bagi para pemulung,
dimana putaran uang per hari mencapai angka Rp 1,5 miliar per hari. Jika
produksi kompos dari sampah dilakukan secara optimal melalui sistim pabrikasi
terpadu, maka usaha pengolahan sampah bisa menghasilkan devisa sebesar Rp
7,62 miliar per hari. Dalam setahun bisnis ini bisa menghasilkan 2,78 triliun
rupiah atau lebih 20% dari APBD DKI Jakarta. Selain itu lokasi pembuangan
sampah juga memberikan efek ganda dengan munculnya bisnis ojek, angkutan
bus, warung dan bahkan pedagang emas di lokasi penampungan sampah.
Pada bidang pertanian sampah dapat digunakan sebagai pupuk dan pestisida.
Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk organik cair dan pestisida organik
cair. Maka masyarakat yang bermatapencaharian bergerak di bidang pertanian,
perikanan, peternakan dan kehutanan dapat mempergunakan sampah organik
dengan cara mengolah sampah tersebut menjadi pupuk organik cair dan
pestisida organik cair. Dengan demikian ketergantungan petani terhadap pupuk
kimia dapat dikurangi. Di dunia terdapat hampir 23 juta ha lahan pertanian
dikelola menggunakan teknik pertanian organik. Rata-rata persentase lahan
organik dibanding pertanian biasa sekitar 4% - 6%. Di Indonesia terdapat sekitar
49 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
40.000 ha lahan pertanian organik, tetapi ada kecenderungan untuk terus
meningkat sesuai kebutuhan pasar.
4.2 Kondisi Pengelolaan Sampah Kota Medan
4.2.1 Teknis Operasional
1. Pewadahan
Pewadahan merupakan suatu cara penampungan sampah sementara di
sumbernya baik individual maupun komunal. Ada beberapa tujuan dilakukan
pewadahan ini yaitu memudahkan pengumpulan dan pengangkutan, mengatasi
timbulnya bau busuk dan menghindari perhatian dari binatang, menghindari air
hujan dan menghindari pencampuran sampah.

Untuk saat ini di pemukiman Kota Medan cara pewadahan sampah yang
dilakukan adalah pola individual dan terbatas pada kegiatan komersial sementara
kegiatan domestik belum dilakukan pewadahan. Wadah-wadah individual ini di
tempatkan di depan rumah, bangunan dan ruko di sepanjang jalan dan bentuk
wadah yang digunakan bemacam-macam dapat dilihat pada Gambar 4.2. Setiap
biayanya menyediakan 1 unit wadah yang terbuat dari keranjang anyaman
bambu, drum bekas, wadah sisa cat dan wadah sampah khusus yang dibuat dari
tembok permanen. Wadah-wadah tersebut tidak tertutup dan dibiarkan terbuka,
jika terdapat sisa-sisa makanan seringkali dimasuki oleh binatang sehingga
sampah-sampah berserakan disekitar wadah, sehingga mengurangi nilai estetika
kota.

Namun untuk masa-masa yang akan datang wadah yang disediakan hendaknya
dapat berfungsi seperti diharapkan semestinya. Tidak standarnya wadah tempat
pembuangan sampah misalnya untuk sebagian toko, ukuran wadah tersebut
terlalu kecil sehingga wadah ini juga tidak dapat dimanfaatkan dengan baik,
misalnya sampah berupa kardus ukurannya yang relatif besar sehingga tidak bisa
masuk ke dalam wadah. Penempatan wadah berada di sepanjang jalan utama
dimana pada jalan tersebut terdapat banyak toko/ruko yang merupakan sumber
timbulan sampah.

50 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Gambar 4.2
Pewadahan Sampah yang biasa terdapat di Pemukiman Penduduk
Sumber: Hasil Observasi, 2013
Untuk pasar tradisional pada umumnya menggunakan wadah komunal, yang
terbuat dari tembok permanen namun karena besarnya volume sampah yang
dihasilkan setiap harinya sehingga wadah komunal tersebut tidak dapat
menampung sampah yang ada. Terkadang wadah sampah yang sudah tidak layak
digunakan yang mengakibatkan sampah ditumpuk di depan pasar tanpa
menggunakan wadah (Gambar 4.3). Hal ini merupakan pemandangan yang
kurang baik.
51 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Gambar 4.3
Kondisi Sampah yang Ditumpuk Sembarang di Pasar Tradisional
2. Pengumpulan dan Pengangkutan
Pengumpulan sampah dilakukan dari setiap sumber timbulan pada jalanan
protokol dengan menggunakan Tripper Truck atau dikenal dengan pola individual
langsung (Gambar 4.4) sedangkan untuk jalanan yang tidak bisa dilalui oleh
Tripper Truck pada pemukiman penduduk dilakukan dengan menggunakan
gerobak sampah atau becak sampah (Gambar 4.5). Kegiatan ini dilakukan 2 kali
dalam sehari yaitu pagi dan siang.
Proses kegiatan pengumpulan dan pengangkutan sampah di Kota Medan
menggunakan dua cara yaitu:
1) Cara pertama yaitu, dari sumber timbulan (sampah rumah tangga)
dikumpulkan dan diangkut oleh gerobak/becak sampah ke TPS yang
sudah disediakan setelah itu diangkut menggunakan Armroll truck ke TPA.
Catatan: Rute yang tidak dapat dilalui oleh Tripper Truck
52 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
2) Cara kedua yaitu, dari sumber timbulan (sampah rumah tangga,
pertokoan, sisa pembangunan, pasar) diangkut menggunakan Tripper
truck langsung ke TPA.

Catatan: Rute yang dapat dilalui oleh Tripper Truck
53 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Gambar 4.4
Pengumpulan Sampah Menggunakan Tripper Truck dari Sumber Timbulan
Sumber: Hasil Observasi, 2013
Gambar 4.5
Pengumpulan Sampah Menggunakan Gerobak/Becak Sampah pada Daerah yang
Tidak Bisa dilalui oleh Tripper Truck
Sumber: Hasil Observasi, 2013
3. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah
Secara fungsional Kota Medan telah memiliki 2 (dua) yaitu TPA Terjun
yang berada di Kecamatan Medan Marelan dengan luas areal kurang lebih 14 Ha
dan TPA Namo Bintang yang terletak di Kecamatan Pancur Batu, Deli Serdang
dengan luas 25 Ha. Namun secara operasional TPA yang beroperasi hanya TPA
Terjun yang menampung seluruh sampah dari 21 kecamatan yang ada di Kota
Medan (Gambar 4.6). Kegiatan TPA sampah Terjun sejak awal dioperasikan
menggunakan sistem terbuka (open dumping).
Pengelolaan sampah di lokasi tersebut belum optimal didukung oleh alat-alat
berat yang memadai sehingga untuk pengolahan maupun untuk penghancuran
54 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
sampah sementara produksi sampah dari waktu ke waktu mengalami
peningkatan yang diperkirakan beberapa tahun ke depan TPA Terjun tidak akan
dapat menampung volume sampah yang kian hari bertambah mengingat
teknologi dan peralatan yang digunakan saat ini belum maksimal.
Gambar 4.6
Kondisi TPA Terjun di Kecamatan Medan Marelan
Sumber: Hasil Observasi, 2013
55 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
4. Pemilahan dan Pengolahan
Pemilahan sampah dilakukan setelah sampah sampai di lokasi pembuangan
akhir. Sampah-sampah yang dipilah adalah berupa plastik yang berasal dari
botol minuman mineral dan kaleng alumunium bekas minum atau sampah-
sampah yang memiliki nilai ekonomi dan bisa dijual cepat. Jumlah pemulung
yang memanfaatkan sampah dilokasi pembuangan akhir relatif sedikit.
Pemulung ini merupakan masyarakat penduduk asli yang memiliki tempat tinggal
sekitar lokasi pembuangan akhir (Gambar 4.7).
Kegiatan memulung bukan pekerjaan utama tetapi hanya pekerjaan sampingan
untuk menambah penghasilan. Selain pemilahan dilokasi pembuangan akhir,
pemilahan juga dilakukan pada sumber sampah tetapi terbatas pada sampah
alumunium berasal dari kaleng bekas minuman, plastik bekas minuman air
mineral, jerigen dan botol bekas minyak goreng (sampah-sampah yang memiliki
nilai ekonomi) tetapi bukan pemilahan antara sampah organik, anorganik dan B3.
Gambar 4.7
Pemilahan Sampah yang dilakukan Pemulung di Lokasi TPA Terjun
Kecamatan Medan Marelan
Sumber: Hasil Observasi, 2013

Untuk kaleng alumunium bekas minuman kebanyakan dilakukan pemungutan
pada musim-musim tertentu saja terutama pada hari raya idul fitri, idul adha
atau kegiatan perayaan hari-hari besar lainnya. Kaleng-kaleng tersebut dijual ke
penampung barang-barang bekas sebagai bahan daur ulang. Botol kaca yang
berasal bekas kecap atau bekas minuman dan jerigen bekas minyak goreng
volume 5 liter digunakan kembali oleh masyarakat untuk wadah minuman,
wadah madu lebah dan wadah untuk tempat minyak tanah keperluan rumah
tangga atau tempat bahan bakar solar sebagai bahan bakar mesin genset.
Namun penggunaan kembali ini jumlahnya relatif sangat sedikit.
56 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Secara lengkap sistim pemanfaatan sampah dan pengelolaan sampah dapat
dilihat pada Gambar 4.8 berikut ini:
Gambar 4.8
Pola Teknis Operasional Pemilahan Sampah Kota Medan
Sumber: Hasil Observasi, 2013
4.2.2 Struktur Organisasi Dinas Kebersihan Kota Medan
Sesuai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Kota bahwa instansi yang
memiliki kewenangan dalam mengelola kebersihan adalah Dinas Kebersihan Kota
Medan yang bekerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup Kota Medan dan
Dinas Pertamanan Kota Medan.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 4 Tahun 2001 Tentang
Organisasi dan Tata Kerja Dinas - Dinas Daerah dilingkungan Pemko Medan,
maka PD. Kebersihan Kodati II Medan Dihapuskan dan kemudian terbentuklah
Dinas Kebersihan Kota Medan yang bertugas sebagai unsur pelaksana Pemko
Medan dalam bidang pelolaan kebersihan Kota Medan yang dipimpin oleh
seorang kepala dinas, yang dalam tugas sehari-hari dibantu oleh sub bagian.
Adapun yang menjadi Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) Dinas Kebersihan Kota
Medan Menurut Perda No. 3/2009 Jo. Peraturan Walkiota No. 14/2010:
1. Peraturan kebijakan teknis dibidang kebersihan,
2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan pelayanan umun dibidang
kebersihan,
3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas dibidang kebersihan,
4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas
dan fungsinya.
Sumber Timbulan Sampah
Pewadahan/Pemilahan
Pengumpulan/Pengangkutan
T P A
Pemilahan/Pengolahan
(Sampah Daur Ulang dan Kompos)
57 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Gambar 4.9
Bagan Organisasi Dinas Kebersihan Kota Medan
Sumber: Dinas Kebersihan Kota Medan, 2011
4.2.3. Hukum dan Peraturan
Secara nasional belum ada regulasi yang secara khusus di tujukan dalam upaya
meminimalisasi, mencegah dan mendaur ulang sampah, namun ada beberapa
perauturan perundang-undangan yang relevan mengenai masalah sampah yakni
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan Undang-undang
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Pada skala nasional permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan regulasi
pengelolaan sampah diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Masih kurangnya dukungan secara hukum terhadap upaya komunitas
masyarakat yang telah berhasil dalam mengelola sampah, baik itu
penghargaan, dukungan pendaan, teknis dan manajemen.
2. Masih kurangnya peraturan perundang-undangan dibidang pengelolaan
sampah.
3. Belum adanya sistim insentif dan disentif yang terkait dengan
pengelolaan sampah bagi pelaku usaha.
58 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
4. Tidak adanya sistim hukum untuk menghindari TPA dimanfaatkan sebagai
lokasi buangan limbah industri, limbah rumah sakit dan B3 (Waddell dkk,
2005).

Menurut Syafrudin dan Priyambada (2001), ada tiga aturan dasar yang harus
dimiliki daerah dalam pengelolaan sampah diantaranya adalah sebagai berikut:
1. peraturan daerah tentang ketentuan-ketentuan pembuangan sampah
2. peraturan daerah tentang organisasi pengelolaan
3. peraturan daerah tentang tarif retribusi sampah.
Untuk meningkatkan kinerja pengelolaan sampah, maka pemerintah daerah
harus dengan segera membenahi semua aturan yang berkaitan dengan
pengelolaan sampah, jika tidak maka permasalahan sampah Kota Medan akan
sulit diatasi. Dalam penyusunan peraturan daerah tentang pengelolaan sampah
ada beberapa hal pokok yang perlu diatur yaitu:
1. Tujuan untuk mengembangkan manajemen atau pengelolaan sampah
kota yang modern, efisiensi sekaligus pro pada pembangunan kota
berkelanjutan.
2. Perbaikan manajemen kearah manajemen terpadu, baik dalam arti
proses maupun partisipasi semua pihak.
3. Struktur kerjasama antara pemerintah daerah, masyarakat serta sektor
bisnis dalam mengelola sampah yang mengatur pembagian peran secara
menyeluruh.
4. Kemungkinan privatisasi atau peran sektor bisnis dalam pengelolaan
sampah kota.
4.2.4 Peran Serta Masyarakat
Keterbatasan pelayanan sampah yang dilakukan oleh pemerintah menimbulkan
fenomena yang berbeda di masyarakat dalam menyingkirkan sampah yang
mereka hasilkan. Ada beberapa bentuk kegiatan yang dilakukan masyarakat
Kota Medan dalam menyingkirkan sampah dari lingkungan mereka:
Membuang sampah di sungai (Gambar 4.9)
Membuang sampah dilakukan di pinggir jalan yang sepi penduduk (biasanya
dilakukan oleh masyarakat yang tidak memiliki lahan lahan kosong disekitar
pemukiman)
Membuang di lahan-lahan kosong di sekitar pemukiman
Membuat tempat sampah permanen, kemudian dibakar setelah penuh
dibuang ke lahan kosong sebagai penimbun tanah
Membuangnya ke parit atau selokan
Berdasarkan survei dan wawancara dengan masyarakat terungkap bahwa
mereka melakukan tersebut bukan mereka tidak menyadari dampak yang
ditimbulkan oleh tindakan yang mereka lakukan tetapi karena fasilitas tempat
pembuangan sampah belum ada dan pelayanan oleh pemerintah untuk rumah
tangga belum dilakukan.
59 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Gambar 4.10
Warga Mengumpulkan Sampah Plastik yang Mencemari Sungai Babura, Medan
Sumber: www.indoforum.org
4.3 Analisis Potensi dan Timbulan Sampah
4.3.1 Potensi Timbulan Sampah Kota Medan
Seteleh dilakukan pengukuran dan penghitungan terhadap volume dan berat
sampah yang dihasilkan oleh setiap sumber timbulan per jiwa per hari diperoleh
hasil yang bervariasi untuk masing-masing sumber timbulan, hal ini disebabkan
oleh tiap sumber sampah/responden memiliki latar belakang ekonomi yang
berbeda-beda. Berdasarkan referensi penelitian-penelitian sebelumnya rata-rata
timbulan sampah perkotaan adalah 0,370 Kg atau sekitar 2,48 liter ? 2,5
liter/kapita/hari.

Jika dikaitkan antara jumlah penduduk per kecamatan dengan rata-rata timbulan
sampah per jiwa perhari maka dapat diprediksi besaran timbulan sampah per
harinya, dapat dilihat pada Tabel IV.9 berikut:
60 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Tabel IV.9
Data Persampahan Per Kecamatan di Kota Medan
(dalam satuan kilogram)
No. Kecamatan
Jumlah
Penduduk
(jiwa)
Luas
Wilayah
(Km2)
Standar
Timbulan
Sampah
(per
kg/orang/
hari)
Jumlah
Timbulan
Sampah
(kg/hari)
Jumlah
Timbulan
Sampah
(kg/tahun)
Jumlah
Timbulan
Sampah
(per
m
3
/hari)
Jumlah
Timbulan
Sampah
(per
m
3
/tahun)
1 Medan
Tuntungan
82.042 20,68 0,5 41.021 14.972.665 41,02 14.973
2 Medan Johor 125.913 14,58 0,5 62.957 22.979.123 62,96 22.979
3 Medan
Amplas
116.227 11,19 0,5 58.114 21.211.428 58,11 21.211
4 Medan Denai 142.001 9,05 0,5 71.001 25.915.183 71,00 25.915
5 Medan Area 96.675 5,52 0,5 48.338 17.643.188 48,34 17.643
6 Medan Kota 72.685 5,27 0,5 36.343 13.265.013 36,34 13.265
7 Medan
Maimun
39.665 2,98 0,5 19.833 7.238.863 19,83 7.239
8 Medan
Polonia
53.552 9,01 0,5 26.776 9.773.240 26,78 9.773
9 Medan Baru 39.577 5,84 0,5 19.789 7.222.803 19,79 7.223
10 Medan
Selayang
100.455 12,81 0,5 50.228 18.333.038 50,23 18.333
11 Medan
Sunggal
112.967 15,44 0,5 56.484 20.616.478 56,48 20.616
12 Medan
Helvetia
145.519 13,16 0,5 72.760 26.557.218 72,76 26.557
13 Medan
Petisah
61.855 6,82 0,5 30.928 11.288.538 30,93 11.289
14 Medan Barat 70.912 5,33 0,5 35.456 12.941.440 35,46 12.941
15 Medan Timur 108.792 7,76 0,5 54.396 19.854.540 54,40 19.855
16 Medan
Perjuangan
93.526 4,09 0,5 46.763 17.068.495 46,76 17.068
17 Medan
Tembung
133.841 7,99 0,5 66.921 24.425.983 66,92 24.426
18 Medan Deli 170.931 20,84 0,5 85.466 31.194.908 85,47 31.195
19 Medan
Labuhan
112.642 36,67 0,5 56.321 20.557.165 56,32 20.557
20 Medan
Marelan
147.318 23,82 0,5 73.659 26.885.535 73,66 26.886
21 Medan
Belawan
95.709 26,25 0,5 47.855 17.466.893 47,85 17.467
T O T A L 2.122.804 265,1 1.061.402 387.411.730 1.061 387.412
Satuan
dalam Ton
1.061 387.412
Sumber: Data Diolah, 2013
Diambil rata-rata timbulan sampah untuk kota besar 0,5 kg/org/hr berdasarkan data SNI 19-3964-1994 [18]
61 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Tabel IV.10
Data Persampahan Per Kecamatan di Kota Medan
(dalam satuan liter)
No. Kecamatan
Jumlah
Penduduk
(jiwa)
Luas
Wilayah
(Km2)
Standar
Timbulan
Sampah
(per
liter/orang
/hari)
Jumlah
Timbulan
Sampah
(per
lt/hari)
Jumlah
Timbulan
Sampah
(per lt/tahun)
Jumlah
Timbulan
Sampah
(per
m3/hari)
Jumlah
Timbulan
Sampah
(per
m3/tahun)
1 Medan
Tuntungan
82.042 20,68 2,5 205.105 74.863.325 205,11 74.863
2 Medan Johor 125.913 14,58 2,5 314.783 114.895.613 314,78 114.896
3 Medan Amplas 116.227 11,19 2,5 290.568 106.057.138 290,57 106.057
4 Medan Denai 142.001 9,05 2,5 355.003 129.575.913 355,00 129.576
5 Medan Area 96.675 5,52 2,5 241.688 88.215.938 241,69 88.216
6 Medan Kota 72.685 5,27 2,5 181.713 66.325.063 181,71 66.325
7 Medan Maimun 39.665 2,98 2,5 99.163 36.194.313 99,16 36.194
8 Medan Polonia 53.552 9,01 2,5 133.880 48.866.200 133,88 48.866
9 Medan Baru 39.577 5,84 2,5 98.943 36.114.013 98,94 36.114
10 Medan Selayang 100.455 12,81 2,5 251.138 91.665.188 251,14 91.665
11 Medan Sunggal 112.967 15,44 2,5 282.418 103.082.388 282,42 103.082
12 Medan Helvetia 145.519 13,16 2,5 363.798 132.786.088 363,80 132.786
13 Medan Petisah 61.855 6,82 2,5 154.638 56.442.688 154,64 56.443
14 Medan Barat 70.912 5,33 2,5 177.280 64.707.200 177,28 64.707
15 Medan Timur 108.792 7,76 2,5 271.980 99.272.700 271,98 99.273
16 Medan
Perjuangan
93.526 4,09 2,5 233.815 85.342.475 233,82 85.342
17 Medan
Tembung
133.841 7,99 2,5 334.603 122.129.913 334,60 122.130
18 Medan Deli 170.931 20,84 2,5 427.328 155.974.538 427,33 155.975
19 Medan Labuhan 112.642 36,67 2,5 281.605 102.785.825 281,61 102.786
20 Medan Marelan 147.318 23,82 2,5 368.295 134.427.675 368,30 134.428
21 Medan Belawan 95.709 26,25 2,5 239.273 87.334.463 239,27 87.334
T O T A L 2.122.804 265,1 2,5 5.307.010 1.937.058.650 5.307 1.937.059
Satuan Meter Kubik 5.307 1.937.059
Tabel IV.9 menunjukkan timbulan sampah per kecamatan di Kota Medan.
Timbulan sampah terbesar di Kecamatan Medan Deli sebesar 85,47 m
3
/hari atau
85,47 ton/hari. Timbulan sampah terkecil di Kecamatan Medan Baru sebesar
19,79 m
3
/hari atau 19,79 ton/hari. Untuk data peningkatan volume sampah yang
terjadi di Kota Medan dari Tahun 2008-2012 berdasarkan prediksi perhitungan
dapat dilihat pada Tabel IV.10 dibawah ini:
Sumber: Data Diolah, 2013
Diambil rata-rata timbulan sampah untuk kota besar 2,5 lt/org/hr berdasarkan data SNI 19-3964-1994 [18]
62 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Tabel IV.11
Data Peningkatan Volume Sampah di Kota Medan
Tahun 1997-2012
Tahun
Jumlah
Penduduk
(jiwa)
Luas
Wilayah
Kota
(Km2)
Standar
Timbulan
Sampah
(per
kg/orang/hari)
Total Timbulan
Sampah
(per kg/hari)
Total Timbulan
Sampah
(per ton/tahun)
Total Timbulan
Sampah
(per m3/tahun)
1997 1.899.028 265,1 0,5 949.514 346.573 346,57
1998 1.901.067 265,1 0,5 950.534 346.945 346,94
1999 1.902.500 265,1 0,5 951.250 347.206 347,21
2000 1.904.273 265,1 0,5 952.137 347.530 347,53
2001 1.926.520 265,1 0,5 963.260 351.590 351,59
2002 1.963.882 265,1 0,5 981.941 358.408 358,41
2003 1.993.602 265,1 0,5 996.801 363.832 363,83
2004 2.006.142 265,1 0,5 1.003.071 366.121 366,12
2005 2.036.185 265,1 0,5 1.018.093 371.604 371,60
2006 2.067.288 265,1 0,5 1.033.644 377.280 377,28
2007 2.083.156 265,1 0,5 1.041.578 380.176 380,18
2008 2.102.105 265,1 0,5 1.051.053 383.634 383,63
2009 2.121.053 265,1 0,5 1.060.527 387.092 387,09
2010 2.097.610 265,1 0,5 1.048.805 382.814 382,81
2011 2.117.224 265,1 0,5 1.058.612 386.393 386,39
2012 2.122.804 265,1 0,5 1.061.402 387.412 387,41
Sumber: BPS, Kota Medan dalam Angka 2010 & 2013
Data Diolah, 2013
63 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Gambar 4.11
Grafik Peningkatan Volume Sampah Kota Medan
Tahun 1997-2012
Tabel IV.12
Proyeksi Peningkatan Volume Sampah di Kota Medan
Tahun 1997-2018
Tahun
Total Timbulan
Sampah
(per m3/tahun)
1997 346,57
1998 346,94
1999 347,21
2000 347,53
2001 351,59
2002 358,41
2003 363,83
2004 366,12
2005 371,60
2006 377,28
2007 380,18
2008 383,63
2009 387,09
2010 382,81
2011 386,39
2012 387,41
64 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Tahun
Total Timbulan
Sampah
(per m3/tahun)
2013 392,63
2014 395,94
2015 399,26
2016 402,57
2017 405,88
2018 409,19
4.3.2 Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan
Dalam menjalankan aktivitas pengelolaan sampah, Dinas Kebersihan Kota Medan
dilengkapi dengan sarana yang ternyata masih belum memadai/kurang untuk
melayani masyarakat secara keseluruhan. Armada pengangkutan sebanyak 162
unit tripper truck dengan kapasitas isi 8 m
3
, armroll truck sebanyak 22 unit
dengan kapasitas isi 10 m
3
, ambulance/mobil patroli sampah sebanyak 6 unit,
compactor truck sebanyak 7 unit dengan kapasitas isi 12 m
3
, road sweaper
sebnayak 7 unit (data diperoleh dari Dinas Kebersihan Kota Medan dengan
asumsi peralatan dalam keadaaan baik). Untuk alat berat pemaparan sampah
terdiri dari bulldozer sebanyak 3 unit, whell loader sebanyak 3 unit, excavator
sebanyak 1 unit dan bob cat sebanyak 2 unit (data Dinas Kebersihan Kota Medan,
2009) yang keseluruhan alat berat dioperasikan di TPA Terjun. Sedangkan
gerobak sampah sebanyak 335 unit, becak sampah sebanyak 750 unit.
Kemungkinan peralatan yang ada saat ini sebagian dalam keadaan rusak atau
perlu penanganan khusus agar dapat dioperasikan kembali.
Sumber: Data Diolah, 2013
Catatan: Menggunakan konversi 2,5 liter = 0,5 kg/o/hr
65 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Tabel IV.13
Sarana dan Prasarana Dinas Kebersihan Kota Medan
No. Jenis Sarana
Jumlah
(unit)
Kapasitas
Angkut
(m
3
)
Jumlah
Sampah
Terangkut
(m
3
)
Pengangkutan Sampah
1 Becak Sampah 750 1 750
2 Gerobak Sampah 335 1 335
3 Tripper Truk 162 8 1.296
4 Arm Roll Truk 22 10 220
5 Ambulance (Patroli Sampah) 6 4 24
6 Compactor Truk 7 12 84
7 Road Sweeper 7 6 42
Alat Berat Pamaparan Sampah
1 Bulldozer 5
2 Whell Loader 2 Catatan: Dalam perbaikan
3 Excavator 3
4 Bob Cat 1
Sarana pengumpulan sampah yang setiap hari beroperasi mengumpulkan
sampah dari sumber timbulan sampah yaitu becak sampah, gerobak sampah dan
tripper truck sedangkan armroll truck biasanya digunakan untuk mengangkut
timbulan sampah dari TPS-TPS yang sudah disediakan ke TPA. Jika dilakukan
perhitungan total sampah terangkut dari timbulan setiap harinya dengan melihat
kapasitas sarana angkut sebanyak 2.381 m
3
. Kapasitas angkut ini masih sangat
kurang mengingat sampah yang dihasilkan per orang/hari di Kota Medan
sebanyak 1.061m
3
.
4.3.3 Komposisi Timbulan Sampah
Komposisi sampah adalah komponen fisik sampah seperti sisa-sisa makanan,
kertas, plastik, logam, kaca, kain, karet dan lain-lain. Dari penelitian yang sudah
dilakukan berdasarkan berat sampah yang dihasilkan, komponen sampah yang
paling dominan pada umumnya adalah sisa makanan yakni 32.63% dan yang
terendah adalah kain/tekstil sebesar 0.80 %. Namun berdasarkan volumenya
potensi sampah terbesar adalah jenis kertas dan plastik masing-masing 38.90 %
dan 38.09 %, sementara yang terendah adalah kain 0.66 %. Berdasarkan
beratnya, plastik dan kertas komposisinya hanya 25.48 % dan 15.81 % hal ini
disebabkan perbedaan kerapatan masing-masing komponen sampah dimana
sampah plastik memiliki kerapatan terendah.
Sumber: Dinas Kebersihan Kota Medan, 2012
66 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Sampah sisa makanan/organik, sampah kertas dan sampah plastik jumlah
tampak lebih dominan hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya
adalah sebagai berikut:
a. Sampah kertas untuk saat ini sama sekali belum memiliki nilai ekonomi,
sehingga sampah kertas berupa koran, kardus langsung dibuang oleh
sumber sampah dan tidak di pungut kembali oleh pemulung.
b. Sebagian besar masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok
berbelanja setiap hari dan sebagian besar tidak membawa tempat
belanjaan hal ini meningkatkan potensi timbulan sampah plastik.
Komposisi sampah dari tahun ke tahun akan mengalami perubahan jenis, hal ini
berkaitan dengan adanya peningkatan kehidupan masyarakat.
4.3.4 Upaya Mereduksi Produksi Sampah dan Mengurangi Sampah dari
Sumber Timbulan
Upaya mereduksi sampah ada 2 pendekatan yang bisa dilakukan yaitu
mengurangi produksi sampah dari setiap sumber sampah dan mengurangi
produksi sampah yang telah dihasilkan. Upaya mengurangi produksi sampah
dari sumbernya menerapkan prinsip 3R yaitu Reduce, mengurangi atau minimasi
barang atau material yang digunakan, Re-use, memakai kembali atau memilih
barang-barang atau bahan yang dapat dipakai kembali dan Recycle, mendaur
ulang sampah yang dihasilkan.
Tindakan yang bisa dilakukan untuk setiap sumber sampah dalam mengurangi
produksi sampah adalah sebagai berikut:
1. Rumah Tangga, dalam mengurangi produksi sampahnya dapat
melakukan tindakan berupa reduce dan reuse. Pada tingkat rumah tangga
atau pemukiman, Ibu rumah tangga mempunyai peran yang besar dalam
mengurangi produksi sampah . Hal yang bisa dilakukan para ibu rumah
tangga dalam mengurangi produksi sampah diantaranya adalah:
Merubah kebiasaan para ibu rumah tangga dalam berbelanja
yakni biasanya tidak membawa tempat belanjaan menjadi
membawa tempat belanjaan ketika belanja. Berdasarkan hasil
penelitian menunjukan bahwa 84,8 % ibu rumah tangga
berbelanja tidak membawa tempat belanjaan dari rumah sehingga
potensi menimbulkan sampah plastik terutama kantong plastik.
Sampah plastik yang dihasilkan tersebut hanya 21,2 % ibu rumah
tangga yang mengunakan kembali baik untuk keperluan sendiri
maupun diserahkan kepada yang membutuhkan.
Membiasakan menggunakan produk isi ulang, misalnya
penggunaan bahan pencuci yang menggunakan wadah isi ulang;
Menghindari penggunaan barang sekali pakai misalnya
menghindari pengunaan tissue dengan beralih menggunakan sapu
tangan;
67 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Menggunakan barang-barang atau produk yang tahan lama atau
masa pakainya lama, misalnya bola lampu menggunakan yang
hemat energi dan tahan lama;
Botol bekas sirup, jerigen bekas minyak goreng dapat digunakan
kembali sebagai wadah tempat air minum atau wadah madu
lebah atau tempat minyak goreng hasil home industri;
Tempat belanjaan yang digunakan agar dapat dipakai secara
berulang-ulang misalnya menggunakan keranjang dari hasil
anyaman bambu atau tas dari anyaman pandan. Tindakan ini
selain berfungsi dalam mereduksi timbulan sampah juga
merupakan pangsa pasar bagi perajin anyaman bambu dan
pandan sehingga dapat membantu sektor yang lainnya.
Penggunaan barang elektronik diusahakan mengunakan baterai
yang bisa diisi ulang, misalnya baterai untuk mainan anak-anak
menggunakan baterai yang bisa diisi ulang.
2. Perkantoran (swasta maupun pemerintah) dan sekolah, dapat
mengurangi produksi sampah melalui pendekatan Reduce dan Reuse,
tindakan-tindakan yang dilakukan dapat berupa:
Penghematan penggunaan alat tulis berupa kertas dapat
dilakukan dengan penggunaan kedua sisi kertas dan spasi yang
tepat untuk penulisan laporan dan fotokopi;
Penggunaan balpoint yang dapat diisi kembali;
Memaksimalkan penggunaan komputer , dimana komputer tidak
hanya digunakan untuk pengetikan tetapi juga digunakan
menyimpan data atau sistim pengarsipan sehingga dapat
mengurangi penggunaan kertas;
Dalam penjilidan laporan sedapat mungkin menghindari
penggunaan plastik.
Dalam melaksanakan seminar, rapat atau kegiatan lainnya
sedapat mungkin menghindari penggunaan wadah minum dari
plastik.
Penggunaan alat tulis yang bisa digunakan berulang kali; (g).
Penggunaan alat-alat penyimpan elektronik yang dapat dihapus
dan ditulis kembali.
3. Kegiatan Komersil, para pengusaha baik itu rumah makan, toko, hotel
maupun pedagang tanaman hias atau pecinta tanaman hias serta
kelompok ekonomi masyarakat lainnya , dalam mengurangi produksi dan
mengurangi potensi sampah yang dihasilkan dapat menerapkan
pendekatan Reduce, Reuse dan Recycle . Misalnya toko, rumah makan
dan hotel dapat menerapkan hal-hal berikut:
Memberikan tambahan biaya bagi pembeli yang meminta
kemasan/ pembungkus untuk produk yang dibelinya;
Memberikan kemasan/pembungkus hanya kepada produk yang
benar-benar memerlukannya;
Menyediakan pembungkus yang mudah terurai misalnya rumah
makan sedapat mungkin pembungkus menggunakan daun pisang
68 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Pendekatan yang kedua adalah tindakan-tindakan dalam
mengurangi sampah yang telah dihasilkan.
Pendekatan yang kedua adalah tindakan-tindakan dalam mengurangi
mengurangi sampah yang telah dihasilkan. Tindakan yang dilakukan berupa
kegiatan daur ulang (Recycle) sampah menjadi kompos, briket arang, pencacahan
plastik fit. Berdasarkan uraian di atas untuk merealisasikannya terlebih dahulu
dibutuhan penyuluhan, sosialisasi dan pelatihan terhadap stakeholders.
Pengolahan sampah menjadi kompos cukup potensi baik bahan baku maupun
pemasaran. Dari segi potensi bahan baku berdasarkan data hasil penelitian pada
umumnya menunjukkan bahwa sampah organik basah yang dihasilkan per hari
adalah sebesar 32,63 % dari 4,8 ton sampah yang dihasilkan per hari. Jumlah ini
setara dengan 1,57 ton sampah organik perhari.
Pembuatan kompos dari 5.000 ton bahan organik basah dihasilkan 3000 ton
kompos artinya terjadi penyusutan sebesar 40 %. Dengan demikian jika bahan
organik basah yang dihasilkan di Ranai sebesar 1,57 ton dapat menghasilkan
kompos sebanyak 942 kg kompos per hari. Di beberapa daerah di Indonesia
harga jual kompos berkisar antara Rp 300/kg ? Rp 500/kg. Jika kompos yang
dihasilkan dijual dengan kisaran harga tersebut maka pendapatan yang
diperoleh per hari adalah Rp 282.600 ? Rp 471.000, maka dalam satu bulan jika
pengolahan sampah organik basah dilakukan dengan benar dapat menambah
pemasukan bagi pengelola dengan kisaran Rp. 8.478.000/bulan ? Rp
14.130.000/bulan. Dari hasil tesebut dapat setara dengan biaya operasional
pengangkutan sampah sebesar 29% - 48%
Pemasaran kompos lebih mudah dibandingkan dengan hasil pengolahan sampah
anorganik karena kompos pasarnya sudah ada terutama untuk pertanian, usaha
tanaman hias dan pertamanan. Untuk penggunaan kompos dibidang pertanian
dibutuh bantuan tenaga penyuluh pertanian untuk dapat merubah perilaku
petani dari ketergantungan pada pupuk kimia beralih ke pupuk organik dan Dinas
Kebersihan hendaknya juga mampu menampung kompos tersebut baik untuk
keperluan sendiri maupun memfasilitasi pemasaran pada para pengembang.
Dengan demikian pengolahan sampah organik basah menjadi kompos disamping
mengurangi pencemaran lingkungan karena dapat mengurangi produksi sampah
di TPA sebesar 32,63 % juga dapat meningkatkan pendapat masyarakat jika di
kelola dengan baik. Sampah organik kering berupa ranting-ranting kayu,
tempurung kelapa, kayu dan sebagainya dapat dipergunakan juga sebagai bahan
baku campuran pembuatan briket arang. Dengan adanya pemanfaatan
sebagaimana sebagai usulan tersebut diatas dapat digambar dengan diagram alir
sebagai berikut:
69 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Gambar 4.12
Pola Pemanfaatan Sampah dengan Menggunakan Pendekatan
Mereduksi Produksi Sampah dan Mengurangi Sampah yang telah dihasilkan
Selain pembuatan kompos kegiatan daur ulang sampah plastik fit dapat
ditingkatkan karena potensi sampah plastik cukup besar yakni 15,81 %, Jika
diasumsikan 30 % dari sampah plastik tersebut berupa plastik fit maka per hari
bahan baku plastik fit yang tersedia adalah 15.81 % dari 4,8 ton adalah 0,76 ton,
maka jumlah plastik fit adalah 30 % dari 0,76 ton adalah 228 kg per hari jadi
untuk satu bulan bahan baku yang tersedia adalah 6,84 ton. Jika dalam proses
produksi terjadi penyusutan sebesar 20 % maka dari 6,84 ton plastik fit dapat
70 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
menghasilkan 5,5 ton hasil cacahan plastik. Harga penjualan plastik fit per 1 kg
adalah Rp 5.000 maka nilai ekonomi yang diperoleh dari pencacahan sampah
plastik fit adalah Rp 27.500.000 per bulan. Biaya produksi dan penjualan untuk
satu ton hasil cacahan sampah adalah Rp 1.868.250, maka untuk 5,5 ton
dibutuhkan biaya sebesar Rp 10.275.375,- maka keuntungan adalah sebesar Rp
17.224.625. Dari nilai ini penghasilan yang diperoleh oleh setiap anggota per
bulan adalah 80 % dari Rp 17.224.625 dibagikan untuk 10 orang anggota maka
masing-masing mendapatkan Rp 1.377.970. per bulan.
4.4 Analisis Teknis Operasional Pengolahan Sampah
4.4.1 Analisis Kondisi Pewadahan
Pewadahan sampah adalah aktifitas menampung sampah sementara dalam
suatu wadah individual atau komunal ditempat sumber sampah. Secara umum
kriteria pewadahan dipersyaratkan untuk mengunakan wadah yang terbuat dari
bahan awet dan tahan air, mudah diperbaiki, ringan dan mudah diangkat serta
ekonomis, mudah diperoleh atau dibuat oleh masyarakat. Dalam penyediaan
wadah ini, dari segi volume harus memperhatikan karakter sumber sampah
diantaranya adalah jumlah penghuni tiap rumah, tingkat hidup masyarakat,
frekwensi pengumpulan sampah, cara pengumpulan dan sistem pelayanan.
Pewadahan sampah untuk masing-masing sumber sampah sangat diperlukan
agar sampah yang dihasilkan tidak mengotori lingkungan. Berdasarkan hasil
survey yang dilakukan pada rumah tangga sebagai penghasil sampah diperoleh
hasil bahwa masyarakat mengharapkan penyediaannya wadah sampah dilakukan
oleh pemerintah hal ini terlihat dari jawaban pada kuisioner yang di sebarkan
pada masyarakat sebagian besar menjawab penyediaan pewadahan sampah
oleh pemerintah 57.57 %, menjawab pewadahan merupakan tanggung jawab
masyarakat 36.36 % dan 6.06 % menjawab tidak tahu. Berdasarkan komposisi
jawaban tersebut diatas, maka sebetulnya yang harus dilakukan adalah
pembagian tanggung jawab, artinya tanggung jawab biaya ada di tangan
pemerintah dan tanggung jawab pemeliharaan dilakukan oleh masyarakat.
Dari data potensi timbulan sampah, maka dapat ditentukan jumlah kebutuhan
wadah sampah setiap sumber sampah. Pewadahan yang baik adalah yang
terbuat dari bahan yang berasal dari plastik, bambu, seng atau besi ,karena
operasinya lebih mudah, murah, estetis, fleksibel dan tahan lebih lama. Pola
pewadahan yang lebih tepat untuk kota atau daerah yang belum teratur dengan
kemampuan operasional dan pendanaan yang rendah serta potensi sampah yang
masih rendah adalah pola komunal.
71 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Tabel IV.14
Uraian Perhitungan Kebutuhan Wadah Sampah di Kota Medan
No. Uraian Data Jumlah Satuan
1 Tingkat Pelayanan 100 Persen
2 Jumlah KK 493.229 Jiwa
3 Jumlah Penduduk 2.122.804 KK
4 Rata-rata timbulan sampah per jiwa 2,5 ltr/hr
5 Total Timbulan Sampah 5.307.010 ltr/hr
6 Frekuensi Pengangkutan 2 per hr
7 Kapasitas wadah yang digunakan 80 ltr
No. Uraian Perhitungan Jumlah Satuan
1 Rata-rata timbulan sampah per KK 10,76 ltr/hr/kk
2 Kebutuhan wadah 132.675 unit
3 Jumlah KK terlayani untuk 1 wadah 3,7 KK/unit
Jumlah pewadahan yang tersedia saat ini belum merata untuk setiap rumah
tangga sementara kebutuhan idealnya adalah 132.675 unit, artinya bahwa
pengadaan wadah untuk menampung sampah domestik adalah 100 %.
Lokasi penempatan wadah yang telah disediakan harus memenuhi kriteria
berikut, yaitu sedekat mungkin dengan sumber sampah, tidak mengganggu,
diujung gang kecil, dihalaman depan dan penempatan tidak mengganggu
keindahan (estetika).
4.4.2 Analisis Kondisi Tenaga Kerja dan Alat Angkut
Pola pengangkutan yang lebih tepat dengan kondisi daerah adalah pola komunal
langsung hal ini dilakukan dengan beberapa pertimbangan diantaranya adalah:
a. Jumlah alat angkut yang tersedia terbatas
b. Pemukiman tidak teratur
c. Kondisi topografi yang bergelombang
d. Wadah komunal ditempatkan sesuai kebutuhan dan lokasi yang mudah
dijangkau oleh alat pengangkut.
Dengan pola pengangkutan dengan sistim komunal langsung dan frekwensi
pengangkutan 2 hari satu kali maka kebutuhan tenaga kerja dan alat pengangkut
adalah sebagaimana terlihat pada Tabel IV.15 berikut ini:
Sumber: Data Diolah, 2013
72 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Tabel IV.15
Uraian Perhitungan Kebutuhan Tenaga dan Alat Angkut Sampah
(Tripper Truck)
No. Uraian Data Jumlah Satuan
1 Jumlah sampah terangkut 100 persen
2 Total timbulan sampah 5.307.010 ltr/hr
3 Waktu operasional pengangkutan
Waktu yang dibutuhkan muat 1 rit 150 menit
Waktu tempuh ke lokasi TPA 27 km
Waktu bongkar 15 km/jam
Waktu istirahat 30 menit
4
Waktu yang dibutuhkan sekali angkut
(asumsi jarak kecamatan terjauh ke TPA)
210 Menit
5 Jam kerja 8.00-16.00 480 Menit
6 Dalam 8 jam kerja dapat mengangkut 2 Rit
7
Kebutuhan Tripper Truck
(volume sampah dalam 1 hari)/(jumlah rit x
kapasitas truck)
290 Unit
8
Kebutuhan Tenaga 1 Tripper Truck
((Sopir, kernet dan tenaga muat)
4 Orang
9 Kebutuhan tenaga keseluruhan 1.161 Orang
Seperti uraian sebelumnya bahwa untuk 1 wadah dipergunakan kurang lebih 3 -4
KK satu rumah tangga sehingga pola yang lebih memungkinkan adalah komunal
langsung. Jika pelayanan dilakukan untuk 100 % sumber sampah dengan
frekwensi 2 kali sehari maka jumlah kendaraan pengangkut yang dibutuhkan
seperti pada Tabel IV.15.
Kondisi eksisting jumlah kendaraan pengangkut untuk tripper truck sebanyak 1
unit rata-rata setiap kelurahan dengan tenaga rata-rata 3-4 orang per unit.
Dengan pertimbangan tersebut maka pengangkutan dilakukan 2 hari sekali yaitu
pagi dan siang. Keterbatasan unit dan jangkauan kendaraan tersebut terhadap
sumber timbulan sampah, maka digunakan alat bantu angkut gerobak dan becak
sampah. Kebutuhan ideal tenaga kerja operasional pelayanan pembuangan
sampah adalah sebanyak 4 orang untuk tripper truck dan 1 orang untuk gerobak
dan becak sampah. Jumlah kebutuhan ideal tenaga kerja dengan jumlah tenaga
kerja yang ada terdapat kekurangan sehingga yang dibutuhkan tambahan tenaga
kerja dan pengaturan tenaga kerja yang ada serta menambah alat angkutan.
Sumber: Data Diolah, 2013
73 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Perhitungan kebutuhan alat angkut gerobak sampah, becak sampah dan tenaga
kerja dapat dilihat pada Tabel IV.16 dan Tabel IV.17 dibawah ini:
Tabel IV.16
Uraian Perhitungan Kebutuhan Tenaga dan Alat Angkut Sampah
(Gerobak Sampah)
No. Uraian Data Jumlah Satuan
1 Jumlah sampah terangkut 100 Persen
2 Total timbulan sampah 5.307.010 ltr/hr
3 Waktu operasional pengangkutan
Waktu yang dibutuhkan muat 1 rit 180 Menit
Waktu tempuh ke lokasi TPS 10 Km
Waktu bongkar 0,5 km/jam
Waktu istirahat 30 Menit
4 Waktu yang dibutuhkan sekali angkut 150 Menit
5 Jam kerja 8.00-16.00 480 Menit
6 Dalam 8 jam kerja dapat mengangkut 3 Rit
7
Kebutuhan Gerobak Sampah
(volume sampah dalam 1 hari)/(jumlah rit x
kapasitas gerobak)
1658 Unit
8 Kebutuhan Tenaga 1 Orang
9 Kebutuhan tenaga keseluruhan 1658 Orang
Tabel IV.17
Uraian Perhitungan Kebutuhan Tenaga dan Alat Angkut Sampah
(Becak Sampah)
No. Uraian Data Jumlah Satuan
1 Jumlah sampah terangkut 100 Persen
2 Total timbulan sampah 5.307.010 ltr/hr
3 Waktu operasional pengangkutan
Waktu yang dibutuhkan muat 1 rit 150 Menit
Waktu tempuh ke lokasi TPS 10 Km
Waktu bongkar 0,8 km/jam
Waktu istirahat 30 Menit
4 Waktu yang dibutuhkan sekali angkut 150 Menit
5 Jam kerja 8.00-16.00 480 Menit
6 Dalam 8 jam kerja dapat mengangkut 3 Rit
7 Kebutuhan Gerobak Sampah
(volume sampah dalam 1 hari)/(jumlah rit
x kapasitas gerobak) 1658 Unit
Sumber: Data Diolah, 2013
74 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
No. Uraian Data Jumlah Satuan
8 Kebutuhan Tenaga 1 Orang
9 Kebutuhan tenaga keseluruhan 1658 Orang
4.4.3 Analisis Kebutuhan Lahan TPA
Untuk kota kategori besar dan metropolitan metode pembuangan di lokasi
pembuangan akhir adalah open dumping atau sanitary landfill. Berdasarkan hasil
pengukuran timbulan sampah rata-rata adalah 2,5 liter/hari/kapita. Apabila TPA
akan digunakan untuk menampung sampah dari 21 Kecamatan maka total
volume timbulan sampah per hari adalah jumlah penduduk 2.122.804 jiwa x 2,5
liter/hari/jiwa yakni 5.307.010 liter/hari atau 5.307 m
3
.
Dengan menggunakan formulasi yang sesuai petunjuk teknis Nomor CT/S/Re-
CT/004/98 maka kebutuhan lahan TPA untuk 10 tahun adalah:
L = ((V x 300) / T ) x 0,70 x 1,15
dimana:
L = Luas lahan yang dibutuhkan setiap tahun (m
2
)
V = Volume sampah
T = Ketinggian timbunan yang direncanakan (m)
0.7 dan 1.1.5 = Konstanta
Maka kebutuhan lahan setiap tahun adalah:
L =((5.307 m
3
x 300) / 2 m) x 0,70 x 1,15
L = 640.820 m
2
atau 64 Ha
Sehingga kebutuhan luas lahan untuk jangka waktu 10 tahun adalah:
H = L x I x J
dimana:
H = Luas total lahan (m
2
)
L = Luas lahan setahun (m
2
)
I = Umur lahan
J = Rasio luas lahan total dengan luas lahan efektif (1,2)
Maka total kebutuhan lahan untuk 10 tahun kedepan adalah:
H = 640.820 m2 x 10 tahun x 1,2 = 7.689.843 m2 atau 769 Ha
Berdasarkan data yang diperoleh sangat tidak memungkinkan kondisi TPA Terjun
untuk menampung keseluruhan sumber timbulan sampah dari 21 kecamatan
yang ada di Kota Medan jika tidak menambah lokasi TPA dan menrepakan
metode pengolahan sampah yang optimal. Jika pendekatan pengurangan
sampah mulai dari sumbernya dengan prinsip 3R dilakukan dengan baik maka
Sumber: Data Diolah, 2013
75 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
dapat memperpanjang umur TPA. Daya dukung lahan untuk lokasi TPA yang
relatif besar maka pengurangan potensi sampah yang sampai di lokasi TPA tidak
terlalu berpengaruh terhadap kebutuhan lahan karena ada gap yang besar
antara kebutuhan dengan lahan yang tersedia.
4.5 Analisis Persepsi dan Tingkat Partisapasi Masyarakat
4.5.1 Persepsi Masyarakat
Pengelolaan sampah seharusnya lebih bersifat buttom-up sehingga perlu
ditanamkan nilai-nilai atau pemahaman yang berkenaan dengan pengelolaan
sampah pada masyarakat baik berupa dampaknya terhadap kesehatan maupun
terhadap lingkungan. Dari sini diharapkan muncul suatu gerakan didalam dirinya
untuk menyingkirkan atau memusnahkan sampah dengan cara-cara yang benar.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapangan pada masyarakat bahwa
pemahaman masyarakat tentang sampah sudah baik hal ini terlihat dari jawaban
pada kuisioner yang disebarkan dimana dampak yang ditimbulkan oleh sampah
adalah 100% rumah tangga menyatakan bahwa sampah menimbulkan
pencemaran udara (bau), 84,84 % menyatakan sampah dapat menimbulkan
pencemaran air, 90.91% menyatakan sampah merupakan tempat berkembang
biaknya bibit penyakit, 87.88 % menyatakan bahwa sampah mengganggu
pemandangan/keindahan dan 48.48 % menyatakan bahwa sampah dapat
mencemari tanah. Namun masyarakat belum menyadari dampak lain dari
sampah yakni penurunan nilai properti di sekitar daerah yang dijadikan sebagai
lokasi pembuangan akhir.
Disisi lain dalam pengelolaan sampah, masyarakat masih membutuhkan fasiltas
dari pemerintah daerah hal ini terindikasi dari tanggapan masyarakat tentang
tanggung jawab penanganan permasalahan sampah. Berdasarkan kuisioner yang
disampaikan kepada rumah tangga sebagai responden menanggapi bahwa 48,5%
reponden menyatakan pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab
pemerintah, 27,3% menyatakan tanggung bersama antara pemerintah dan
masyarakat, 18,2% menyatakan tanggung jawab masyarakat dan sisanya 6 %
menyatakan tidak tahu.
Dalam pengelolaan sampah harus terdapat suatu kerjasama antara masyarakat
dengan pemerintah, agar kerjasama tersebut dapat berjalan dengan baik perlu
ditingkatkan pemahaman kepada masyarakat tentang tanggung jawab
pengelolaan sampah sehingga terjalin tujuan pengeloaan sampah dapat tercapai
dengan baik.
76 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
4.5.2 Tingkat Partisipasi Masyarakat
Tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah yang telah dilakukan
dapat dikelompok pada 3 kategori yakni:
1. Penyediaan tong-tong sampah pada setiap rumah tangga (pewadahan).
Hampir semua rumah tangga (81.81%) yang menjadi sampel sumber
timbulan sampah, telah menyediakan tempat-tempat sampah dirumah
mereka dan bahkan ada yang membuat tempat sampah secara permanen di
didepan rumah dengan ukuran yang relatif besar seperti terlihat pada
Gambar 4.2. Jumlah tempat sampah yang mereka miliki tersebut berkisar
antara 1 ? 2 unit, baik mereka beli sendiri (55.56%) maupun menggunakan
barang-barang bekas seperti ember bekas atau kaleng bekas cat maupun
keranjang anyaman bambu (44.44%).
2. Kesediaan membayar iuran/retribusi pelayanan sampah. Untuk saat ini
belum ada regulasi yang mengatur besaran retribusi pelayanan sampah
namun masyarakat memiliki kemauan untuk membayar retribusi (96.97%
bersedia dan hanya 3.03 % yang tidak bersedia) asalkan mereka
mendapatkan pelayanan sampah. Dari jumlah yang bersedia 56.25%
sanggup membayar retribusi < Rp 5.000, dan 37.5% sanggup membayar Rp
5.000 ? Rp 10.000 serta 6.25% sanggup membayar >Rp 15.000. Dari variasi
besaran kesanggupan membayar retribusi tersebut tersirat bahwa biaya
retribusi harus bertingkat sesuai dengan status sosial ekonomi dan volume
sampah yang dihasilkan. Dengan demikian biaya operasional pengelolaan
sampah dapat dipenuhi dari biaya retribusi yang berasal dari masyarakat.
4.6 Analisis Kondisi menggunakan Analisis SWOT
Dalam penilaian situasi ini alat analisis yang digunakan adalah SWOT dengan
menggambarkan kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal adalah
menggambarkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki dalam rencana
pengelolaan sampah sehingga nantinya diharapkan kekuatan yang ada dapat
dimanfaatkan semaksimal mungkin dan kelemahan dapat dikurangi. Begitu juga
dengan kondisi eksternal yaitu peluang dan ancaman, dalam hal ini bagaimana
kita mengembangkan strategi sehingga peluang yang ada dapat dimanfaatkan
dengan baik sementara ancaman dapat tanggulangi.
Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan atau kondisi existing dan standar
nasional pengelolaan sampah maka untuk melakukan strategi pengelolaan
terhadap permasalahan yang dihadapi kemudian dihimpun kekuatan dan
peluang yang dimiliki serta ancaman dan tantangan yang dihadapi. Berkaitan
dengan hal tersebut berikut uraian tentang kondisi internal dan kondisi eksternal
yang dimiliki dan yang dihadapi kota Medan dalam pengelolaan sampah:
77 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
1. Kekuatan (Strength-S)
a. Terdapat institusi pengelola sampah, dengan bentuk kelembagaan
berupa seksi pada dinas Kebersihan Kota Medan
b. Sudah tersedia Sarana dan parasarana pengelolaan sampah
berupa wadah, alat angkut dan TPA.
c. Tenaga kerja sudah tersedia, baik tenaga muat maupun tenaga
penyapu jalan.
d. APBD Kota Medan yang cukup besar
e. Terdapat lembaga/institusi yang memfasilitasi pemasaran daur
ulang sampah yakni Dinas Pertanian, Badan Pemberdayaan
Masyarakat dan Badan Lingkungan Hidup.
2. Kelemahan (Weakness-W)
a. Masih sulitnya koordinasi antar instansi terkait.
b. Jumlah sarana dan prasarana masih kurang, baik alat angkut
maupun wadah pada sumber sampah serta kebutuhan lahan TPA
yang semakin terbatas.
c. Pengaturan tenaga kerja yang ada belum efektif
d. Kesadaran masyarakat yang masih kurang dalam menjaga
kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah.
e. Pemerintah mengganggap permasalahan sampah belum menjadi
masalah prioritas, sehingga perencanaan pengelolaan belum
menjadi perhatian.
f. Keterbatasan anggaran.
3. Peluang (Opportunity-O)
a. Adanya keinginan dan kemauan dari masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan kebersihan, hal ini diindikasikan
berdasarkan kuisioner yang disampaikan pada masyarakat 96.97
% berkeinginan mendapatkan pelayanan pembuangan sampah.
b. Persepsi masyarakat yang baik tentang sampah, hal ini terlihat
bahwa masyarakat sudah menyadari dampak yang ditimbulkan
oleh sampah, dimana 100 % menyatakan bahwa sampah
menimbulkan bau, 84,84 % menyatakan sampah dapat
menimbulkan pencemaran air, 90.91% menyatakan sampah
merupakan tempat berkembang biaknya bibit penyakit, 87.88 %
menyatakan bahwa sampah mengganggu
pemandangan/keindahan dan 48.48 % menyatakan bahwa
sampah dapat mencemari tanah. Dengan demikian masyarakat
menyatakan bahwa pembangunan tempat pembuangan akhir
harus berada jauh dari pemukiman masyarakat.
c. Tingkat partisipasi masyarakat yang baik, dimana berdasarkan
kuisioner yang dsampaikan kepada masyarakat bahwa 81.81%
rumah tangga telah memiliki tong sampah, 96.77% bersedia
membayar retribusi.
78 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
d. Sampah memiliki nilai ekonomi, peluang usaha dan lapangan
kerja. Hal ini dapat dilihat dari terdapatnya pemulung dilokasi
pembuangan akhir.
e. Terdapat pihak ketiga yang bersedia menampung hasil
pengolahan sampah berupa plastik fit
f. Kebutuhan terhadap pupuk organik sudah mulai meningkat
4. Ancamana (Threat-T)
a. Dari waktu ke waktu jumlah penduduk terus meningkat yang
diiringi oleh perubahan pola/gaya hidup.
b. Pertumbuhan kegiatan perekonomian semakin meningkat
terutama pertokoan, perhotelan , rumah makan dan fasiltas
umum lainnya.
c. Belum adanya regulasi berupa peraturan daerah yang mengatur
tentang pembuangan sampah dan retribusi sampah.
Berdasarkan pada kondisi internal yang merupakan potensi dan kelemahan, dan
faktor eksternal yang dimiliki sebagai peluang dan ancaman terdapat beberapa
strategi yang dapat dilakukan dengan mengembangkan potensi yang ada,
meminimalisir kelemahan, memanfaatkan peluang yang ada serta bagaimana
mengatur suatu ancaman menjadi peluang.
1. Strategi yang dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan dan peluang
(S-O)

Langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan peluang
yang ada dan kekuatan yang dimiliki adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan pelayanan sampah ke semua sumber sampah
dengan memaksimalkan sarana dan prasarana yang telah dimiliki.
b. Pemerintah daerah harus melibatkan masyarakat mulai dari
proses perencanaan dalam penentuan lokasi TPA yang layak baik
kelayakan teknis maupun lingkungan.
c. Meningkatkan kerja sama dengan pihak ketiga untuk menampung
hasil daur ulang sampah baik hasil pencacahan plastik fit maupun
hasil pengolahan jenis sampah lainnya.
d. Meningkatkan kemampuan masyarakat sekitar lokasi TPA dalam
mengolah sampah baik sampah organik maupun anorganik.
e. Melakukan kajian kelayakan teknis dan kajian kelayakan
lingkungan untuk persiapan lokasi TPA yang baru nantinya.
f. Memberikan pemahaman pada masyarakat agar mengurangi
produksi sampah dan mengurangi sampah yang dihasilkan melalui
program 3R mulai dari sumber sampah.
g. Berkerjasama dengan pihak swasta dalam pengelolaan daur ulang
sampah.
79 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
2. Strategi yang dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan untuk
mengantisipasi ancaman (S-T)
Dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki guna menghadapi ancaman ada
beberapa langkah-langkah strategi yang dapat dilakukan diantaranya adalah
sebagai berikut:
a. Melakukan sosialisasi pada masyarakat dan institusi
pemerintah/swasta untuk mengurangi produksi sampah sesuai
Petunjuk Teknis Nomor CT/S/Re-TC/001/98 tentang Tata Cara
Pengolahan Sampah 3M.
b. Menyusun regulasi terhadap pemasok barang kebutuhan yang
potensi meningkatkan produksi sampah untuk dapat membantu
dalam hal transportasi pemasaran hasil daur ulang sampah baik
barang jadi atau setengah jadi.
c. Menetapkan persyaratan yang harus dipenuhi berkaitan dengan
pengelolaan sampah dalam mendirikan suatu tempat usaha atau
bangunan.
d. Menyusun regulasi berkaitan dengan pengelolaan sampah yakni
pengaturan tentang pembuangan sampah dan retribusi sampah.
3. Strategi dalam mengatasi Kelemahan dengan memanfaatkan peluang
(W-O)
Untuk mengatasi kelemahan dengan memanfaatkan peluang yang dimiliki ada
beberapa strtegis yang dapat dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Mendorong partisipasi masyarakat dalam pemenuhan sarana berupa
pewadahan sampah di rumah tangga masing-masing.
b. Mendorong tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah
secara swadaya baik dari segi pembiayaan, pengumpulan dan
pengangkutan
c. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memilah ataupun mengolah
sampah baik organik maupun anorganik mulai dari sumber sampah
sampai tempat pembuangan akhir
4. Strategi yang dilakukan mengatasi kelemahan dan menghadapi ancaman
(W? T)
Strategi yang dilakukan guna mengatasi kelemahan dan menghadapi ancaman
diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Membentuk organisasi dengan menggabungkan bidang pada sektor
lingkungan hidup yaitu bidang lingkungan hidup dan bidang kebersihan
yakni berupa Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Tata Kota.
b. Meningkatkan peran serta pihak swasta sebagai pelaku ekonomi dalam
mendukung pengelolaan sampah secara swadaya dan memfasilitasi
transportasi pemasaran hasil pengolahan masyarakat.
c. Menyusun regulasi yang mengatur bidang persampahan baik institusi
80 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
pengelola, pembuangan sampah dan retribusi sampah.
4.7 Alternatif Kebijakan
Berdasarkan strategi-strategi tersebut maka dapat dirumuskan beberapa
kebijakan yang bisa dilaksanakan untuk mengatasi penyebab permasalahan
pengelolaan sampah yang dihadapi guna mewujudkan tujuan yang diharapkan
adalah sebagai berikut:
a. Menata kelembagaan dan peraturan (regulasi) yang terkait bidang
persampahan dengan menyusun regulasi tentang tugas pokok dan fungsi
lembaga pengelola sampah, pembuangan sampah dan retribusi sampah.
b. Melengkapi kekurangan sarana dan prasarana pengelolaan sampah
berupa kegiatan pengadaan wadah, pengadaan alat angkut, kajian
kelayakan teknis dan lingkungan rencana lokasi pembuangan akhir dan
memperbaiki sarana transportasi menuju TPA sehingga proses
pengangkutan sampah bisa lebih lancar.
c. Meningkatkan pelayanan dan daerah pelayanan sampah ke semua
sumber sampah sehingga biaya rata-rata pengangkutan per meter kubik
sampah ke lokasi pembuangan akhir dapat di kurangi.
d. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengolah sampah, baik
organik maupun anorganik melalui pendidikan dan latihan bidang
perkomposan atau membuat produk yang berasal dari barang bekas.
e. Merangsang masyarakat untuk melakukan pemilahan dan pengolahan
sampah mulai dari sumber sampah.
f. Menggugah masyarakat, institusi pemerintah atau swasta agar
mengurangi produksi sampah melalui penyuluhan tentang penerapan
prinsip 3R mulai dari sumber sampah.
g. Pemerintah daerah agar mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta
dalam menyusun perencanaan pengelolaan sampah terutama berkaitan
dengan lokasi pembuangan akhir, pemasaran hasil daur ulang dan
perencanaan pewadahan terutama dalam penempatan dan pengadaan
wadah.
h. Pemerintah daerah harus mampu menjadi fasilitator dalam pemasaran
hasil daur ulang sampah dengan melakukan kerjasama dengan pihak
ketiga.
i. Meningkatkan kesejahteraan dan kapasitas tenaga dinas Kebersihan Kota
Medan.
81 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
BAB 5
K E S I M P U L A N D A N R E K O M E N D A S I
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian ini ada beberapa hal yang dapat disimpulkan yaitu:
1. Tingkat dan daerah layanan yang dilakukan masih terbatas, masih
difokuskan pada sumber sampah yang ada disekitar kawasan jalan utama,
sementara sumber sampah dari sebagian kegiatan komersil lainnya dan
rumahtangga belum terlayani secara maksimal. Berdasarkan hasil
perhitungan yang dilakukan dengan mengambil rata-rata besar timbulan
sampah 2,5 liter/orang/hari, jika dikalkulasikan dengan jumlah penduduk
Kota Medan Tahun 2012 yaitu sebanyak 2.122.804 jiwa maka timbulan
sampah per hari yang dihasilkan adalah 5.307.010 liter/hari atau 5.307 m
3
.
Berdasarkan berat sampah yang dihasilkan, komponen sampah yang paling
dominan pada umumnya adalah sisa makanan yakni 32.63% dan yang
terendah adalah kain/tekstil sebesar 0.80 %. Namun berdasarkan volumenya
potensi sampah terbesar adalah jenis kertas dan plastik masing-masing
38.90 % dan 38.09 %, sementara yang terendah adalah kain 0.66 %. Jika
komponen sampah ini dapat dikelola dengan baik atau didaur ulang, maka
akan memberikan nilai ekonomi yang tinggi. Hal ini jugalah yang diterapkan
oleh Singapura sampai saat ini untuk mengupayakan pencapaian kondisi
zero landfill. Hal yang dilakukan oleh Pemerintah Singapura yaitu
memperkenalkan konsep daur ulang rumah tangga dengan dukungan
sosialisasi dan edukasi publik yang memadai (tingkat daur ulang mencapai
58%).
2. Kondisi sarana dan prasarana yang dimiliki saat ini masih kurang, terutama
perwadahan sampah yang belum merata dimiliki oleh masyarakat.
Kebutuhan untuk 1 (satu) wadah ukuran 80 liter idealnya dapat melayani 3-4
KK. Jika dilakukan perhitungan maka kebutuhan wadah untuk melayani
seluruh KK yang ada di kota Medan sebanyak 132.675 unit. Kebutuhan ideal
alat angkut jenis Tripper Truck sebanyak 290 unit sementara yang ada saat
ini berdasarkan Dinas Kebersihan Kota Medan sebanyak 162 unit (data
terdistribusi ke masing-masing kecamatan). Kekurangan alat angkut perlu
ditambah dengan pengadaan alat angkut gerobak/becak sampah agar dapat
melayani daerah-daerah yang tidak dapat dilalui oleh Tripper Truck dan
kebutuhan tenaga kebersihan kurang lebih sebanyak 4.478 orang.
Kebutuhan luas lahan TPA dengan umur pakai 10 tahun seluas 769 Ha.
82 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
3. Permasalahan berikutnya yang dihadapi dalam pengelolaan sampah Kota
Medan adalah masalah kewenangan institusi pengelola yang saat ini
diserahkan kepada masing-masing kelurahan. Hal ini mengakibatkan
kesulitan dalam melakukan kontrol teknis operasional yakni ketersediaan
sarana dan prasarana, sistem pembiayaan pengelolaan sampah dan sistem
hukum yakni belum terdapatnya peraturan daerah yang berkaitan dengan
persampahan terutama Peraturan Daerah tentang standar retribusi,
Peraturan Daerah tentang pembuangan sampah dan kurangnya keterlibatan
masyarakat dalam perencanaan pengelolaan sampah.
4. Untuk mengatasi permasalahan yang ada ditetapkan 4 (empat) strategi kunci
keberhasilan yaitu:
1) Menetapkan visi jangka panjang yang terintegrasi
2) Kelembagaan yang menunjang
3) Swastanisasi kegiatan pengumpulan dan pengolahan sampah
4) Sosialisasi dan kampanye kepada masyarakat
83 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
5.2 Rekomendasi
Tabel V.1
Matriks Kondisi Pengelolaan Sampah dan Permasalahan Pengelolaan Sampah
serta Rekomendasi Model Pengelolaan
No.
Aspek
Pengelolaan
Sampah
Kondisi Existing Permasalahan Rekomendasi
1. Kelembagaan/
Pemerintah
Jumlah penduduk kota Medan
sebanyak 2.122.804 jiwa yang
berdasarkan SNI M-36-1991-
03 termasuk klasifikasi kota
Metropolitan yang tersebar
di 21 kecamatan yang ada.
Instansi pengelola yakni Dinas
Kebersihan Kota Medan
Teknis pengelolaan sampah
diserahkan ke masing-masing
kecamatan dan kelurahan
Kota Medan sebagai salah
satu kota Metropolitan di
Indonesia merupakan salah
satu kota yang sangat
rentan dengan produksi
sampahnya yang
diakibatkan oleh jumlah
penduduk yang semakin
banyak serta perilaku
masyarakat yang konsumtif
yang apabila tidak dikelola
dengan baik akan
menimbulkan dampak
timbulan sampah yang
tidak terkontrol.
Pengaruh dari sistem
pengelolaan sampah yang
diserahkan kepada masing-
masing kecamatan dan
kelurahan, mengakibatkan
instansi pengelola
kebersihan yakni Dinas
Kebersihan Kota Medan
kesulitan dalam melakukan
koordinasi yang efektif,
pendataan serta
inventarisasi sarana dan
prasarana yang masih
produktif.
Membentuk lingkaran korrdinasi
yang lebih efektif dan sinergis
antara Dinas Kebersihan Kota
Medan selaku pelaksana utama
dengan instansi-instansi lainya
yaitu Dinas Pertamanan, Dinas
Tata Ruang dan Tata Bangunan,
Dinas Perumahan dan
Pemukiman, Dinas Pertanian dan
Kelautan, Dinas Perindustrian
dan Perdagangan, Dinas
Pendidikan, Dinas Kesehatan dan
Badan Lingkungan Hidup Kota
Medan serta Pihak Swasta.
Membuat sistem koordinasi yang
terpusat yaitu pengelolaan
sampah sepenuh menjadi
wewenang daripada Dinas
Kebersihan Kota Medan
walaupun tetap diteruskan
kepada kecamatan dan
kelurahan.
Bekerjasama dengan pihak
swasta dalam melakukan
pengangkutan dan pengolahan
sampah yang ada.
2. Hukum dan
Peraturan
Undang-Undang Nomor 32
Tahun 1992 tentang
Kesehatan dan Undang-
Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintah
Daerah
Belum terdapatnya
Peraturan Daerah yang
berkaitan dengan
persampahan terutama
Peraturan Daerah tentang
standar retribusi,
Peraturan Daerah tentang
pembuangan sampah dan
kurangnya keterlibatan
masyarakat dalam
perencanaan pengelolaan
sampah
Perlu disusun Peraturan Daerah
yang berkaitan dengan
persampahan terutama tentang
organisasi pengelola,
pembuangan sampah dan
retribusi serta Peraturan Daerah
yang berkaitan dengan
pengelolaan sampah sehingga
Perda tersebut dapat segera di
operasionalkan.
3. Peran Serta Masyarakat
84 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Masyarakat Rumah
Tangga (RT)
Jumlah penduduk kota
Medan sebanyak
2.122.804 jiwa tersebar di
21 kecamatan yang ada
yang setiap tahun
mengalami peningkatan.
Kesadaran masyarakat
Kota Medan yang masih
sangat kurang dalam
menjaga kebersihan
lingkungan dan
pengelolaan sampah dan
masih adanya persepsi
bahwa yang menjaga
kebersihan kota adalah
tanggungjawab Dinas
Kebersihan dan belum
menjadi tanggungjawab
bersama.
Perilaku masyarakat yang
masih melakukan praktek-
praktek berikut:
Membuang sampah di
sungai
Membuang sampah
dipinggir jalan yang
sepi penduduk
Membuang sampah di
lahan-lahan kosong di
sekitar pemukiman
Membuat tempat
sampah permanen,
kemudian dibakar
setelah penuh dibuang
kelahan kosong
sebagai penimbun
tanah
Membuang sampah ke
parit atau selokan.
Melakukan sosialisasi terus
menerus kepada masyarakat
tentang perlunya menjaga
kebersihan lingkungan.
Memberi pengarahan dan
penyuluhan ke masing-masing
RT tentang bagaimana
melakukan
pemisahan/pengolahan sampah
yang dimulai dari sampah rumah
tangga.
Memberikan keahlian kepada
kelompok-kelompok masyarakat
tentang proses daur ulang
sampah sederhana yang dapat
mengurangi produksi sampah di
TPA.
Dalam mengurangi produksi
sampah RT dapat melakukan
tindakan berupa reduce dan
reuse. Pada tingkat rumah
tangga atau pemukiman, Ibu
rumah tangga mempunyai peran
besar dalam mengurangi
produksi sampah. Hal yang bisa
dilakukan adalah:
Merubah kebiasaan para ibu
rumah tangga dalam
berbelanja yakni biasanya
tidak membawa tempat
belanjaan menjadi membawa
tempat belanjaan ketika
belanja.
Membiasakan menggunakan
produk isi ulang
Menghindari penggunaan
barang sekali pakai
Menggunakan barang-barang
atau produk yang tahan lama
atau masa pakainya lama
Memberdayakan barang-
barang bekas
Tempat belanjaan agar dapat
dipakai berulang-ulang
Penggunaan barang
elektronik diusahakan
menggunakan baterai yang
bisa diisi ulang
85 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Sekolah Terdapatnya kurang lebih
1620 sarana pendidikan
formal di kota Medan
ditambah 23 pendidikan
non formal yang ada.
Kurangnya pengertian dan
kesadaran tentang
menjaga lingkungan yang
bersih dan perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) di
lingkungan sekolah.
Sekolah merupakan salah satu
lembaga formal pendidikan yang
berfungsi untuk meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan
anak, sekolah merupakan
tempat kita memperoleh
berbagai ilmu pengetahuan
sebagai bekal untuk bertahan
hidup di kemudian hari.
Pemahaman dan pengenalan
mendetail mengenai lingkungan
dapat diperoleh anak melalui
pendidikan di sekolah.
Cara ? cara yang perlu dilakukan
untuk membiasakan diri
memelihara lingkungan yang
dimulai dari sekolah antara lain
sebagai berikut.
Menyusun dan
memasyarakatkan perogram
sekolah hijau.
Melaksanakan program
sekolah hijau, yaitu:
- Membangun kegiatan
apotek hidup di sekolah.
- Mengurangi atau
menghemat penggunaan
lampu, pendingin ruang
kelas, konsumsi air dan
energi lainnya
- Membangun mekanisme
pembuangan sampah di
sekolah
- Membiasakan untuk
kegiatan hemat atau
bahkan mendaur ulang
semua kertas, plastik dan
sejenisnya
- Menyediakan tempat
sampah berdasarkan jenis
sampahnya
- Menyediakan tempat
sampah berdasarkan jenis
sampahnya.
- Mengkondisikan kegiatan
ekstra kulikuler berbasis
lingkungan, seperti
kelompok hijau, pecinta
alam dan sejenisnya
86 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Perkantoran (swasta
dan pemerintah)
Sebagai kota Metropolitan
dan pusat administrasi
provinsi, kota Medan
memiliki banyak
perkantoran dan dunia
usaha lainnya.
Masih rendahnya
kesadaran dalam
mengurangi produksi
sampah
Penghematan penggunaan alat
tulis berupa kertas dapat
dilakukan dengan penggunaan
kedua sisi kertas dan spasi yang
tepat untuk penulisan laporan
dan fotokopi
Penggunaan balpoint yang dapat
diisi ulang
Memaksimalkan penggunaan
komputer, dimana komputer
tidak hanya digunakan untuk
pengetikan tetapi juga digunakan
menyimpan data atau sistim
pengarsipan sehingga dapat
mengurangi penggunaan kertas
(lesspaper)
Dalam penjilidan laporan
sedapat mungkin menghindari
penggunaan plastik
Dalam melaksanakan seminar,
rapat atau kegiatan lainnya
sedapat mungkin menghindari
penggunaan wadah minum dari
plastik
Penggunaan alat tulis yang bisa
digunakan berulang kali
Penggunaan alat-alat penyimpan
elektronik yang dapat dihapus
dan ditulis kembali
Kegiatan Komersil Medan sebagai kota
Metropolitan terkenal
sebagai pusat
perbelanjaan dan
kulinernya
Peluang yang cukup besar
untuk menghasilkan
timbulan sampah jika tidak
segera ditangani dengan
cermat
Dalam mengurangi produksi dan
mengurangi potensi sampah
yang dihasilkan dapat
menerapkan pendekatan
Reduce, Reuse dan Recycle .
Misalnya toko, rumah makan
dan hotel dapat menerapkan hal-
hal berikut:
Memberikan tambahan biaya
bagi pembeli yang meminta
kemasan/ pembungkus untuk
produk yang dibelinya
Memberikan
kemasan/pembungkus hanya
kepada produk yang benar-
benar memerlukannya
Menyediakan pembungkus
yang mudah terurai (ramah
lingkungan) misalnya rumah
87 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
makan sedapat mungkin
pembungkus menggunakan
daun pisang Pendekatan yang
kedua adalah tindakan-
tindakan dalam mengurangi
sampah yang telah dihasilkan.
4. Teknis dan Operasional
Tingkat dan Daerah
Layanan
Pelayanan masih pada se-
bagian kegiatan komersil
sementara sumber
sampah dari rumah tangga
belum sepenuhnya dapat
terlayani
Wilayah pelayanan lebih
difoukuskan sekitar jalan
utama/protokol
Sumber sampah yang tidak
terlayani melakukan
pembuangan sampah pada
tempat-tempat yang tidak
semestinya sehingga dapat
mencemari lingkungan
Pelayanan perlu ditingkpada
semua kegiatan komersil dan
Rumah tangga.
Timbulan Sampah Belum terdapat data hasil
pengukuran timbulan
sampah yang valid per
jiwa per hari
Belum ada acuan dalam
menyusun kebutuhan
wadah, alat angkut dan
tenaga kerja pengelolaan
sampah
Belum ada acuan dalam
upaya meminimalisasi
produksi sampah
Belum ada acuan dalam
upaya pengolahan sampah
Perlu dilakukan pengukuran
secara periodik sebagai dasar
perencanaan di tahun berikutnya
Guna mengurangi produksi
sampah perlu dilakukan
sosialisasi Petunjuk Teknis
Nomor CT/S/Re-TC/001/98
tentang Tata Cara Pengolahan
Sampah 3M pada instansi
pemerintah dan swasta serta
masyarakat.
Pewadahan Pola Individual
Tersedianya wadah
Terbatas pada kegiatan
Komersil
Bahan terbuat dari
besi dan terbuka,
sementara pewadahan
dipasar tradisional tidak
semua ada
Belum terdatanya jumlah
wadah yang valid dan baik
(sesuai standar)
Jika berdasarkan
perhitungan, pengadaan
wadah yang ideal untuk
mengumpulkan 10,76
ltr/hr/kk sampah maka
dibutuhkan sebanyak
132.675 unit wadah
sampah yang ideal (asumsi
kapasitas wadah 80 ltr
untuk 3-4 KK)
Pewadahan sampah yang
bersumber dari kegiatan
domestik belum
sepenuhnya dilakukan.
Belum semua kegiatan
komersil mendapat
pelayanan sampah
Perlu pendataan yang valid
tentang pewadahan ideal yang
digunakan masyarakat
Perlu penambahan pewadahan
agar semua sumber sampah
dapat terlayani.
Wadah yang lebih cocok adalah
terbuat dari plastik, ringan,
mudah dipindah-pindah dan
memiliki tutup
Pengadaan wadah pada tahap
awal dilakukan oleh pemerintah
kota
88 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Karena belum terdapatnya
fasilitas pewadahan dan
pelayanan sampah maka
pembuangan sampah
dilakukan masyarakat ke
lahan kosong, sungai, laut,
pinggir jalan dan
sebagainya menimbulkan
dampak yang kurang baik
terhadap lingkungan
Pemilahan dan
Pengolahan
Pemilahan dilakukan di
sumber timbulan pada
musim tertentu (Perayaan
hari-hari besar agama/
kegiatan keramaian ) oleh
pemulung
Pemilahan dilakukan
setelah sampai di TPA
Pengolahan sampah
plastik fit oleh masyarakat
Pemilahan dilakukan di
TPA hanya untuk jenis
sampah yang bernilai
ekonomi, sementara
sampah B3 (bekas wadah
obat anti nyamuk,
parfume atau hair spray
dsb) tidak dipilah hal ini
bisa membahayakan
petugas yangmelakukan
pembakaran di TPA
Belum ada pengolahan
yang maksimal untuk
sampah organik menjadi
kompos
Masih terbatasnya pasar
untuk sampah kertas
terutama berupa kardus
Pengolahan sampah masih
terbatas pada plastik fit
hasil pencacahan, namun
potensi sampah plastik
jenis lain relatif banyak
Pemilahan dilakukan mulai dari
sumber secara rutin oleh rumah
tangga
Pemilahan di TPA selain
terhadap sampah yang bernilai
ekonomis juga harus dilakukan
sampah yang bersifat berbahaya
(mudah meledak)
Membuat pilot project konsep
Bank Sampah untuk beberapa
kecamatan sebagai langkah awal
Pengumpulan dan
Pengangkutan
Pengumpulan dilakukan
sekaligus ketika mau
diangkut ke TPA, dengan
pola individual langsung
Pelaksananya adalah
petugas kebersihan yang
dikoordinir melalui
kecamatan dan kelurahan
Periodisasi pengangkutan
sampah kegiatan
komersial selain pasar
tradisional adalah 2 kali
sehari dan pasar
tradisional 1 kali sehari
Jumlah alat angkut yang
Periodesasi pengangkutan
sampah dipasar tradisional
tidak sesuai dengan
komposisi sampah yang
sebagian besar sampah
organik sehingga
menimbulkan bau busuk,
mengurangi keindahan
dan tempat
berkembangnya lalat
sebagai pembawa bibit
penyakit
Sistim penggajian yang
tidak merata dapat
mengganggu kinerja
pembuangan sampah bagi
tenaga kerja kebersihan
Periodesasi pengangkutan rutin
2 hari sekali baik sampah basah
maupun sampah kering
Agar semua sumber dapat
dilayani penambahan akan
kekurangan alat angkut
Agar pelayanan sampah dapat
maksimal jumlah tenaga yang
ada saat ini agar dimanfaatkan
secara efektif
Memberikan reward kepada
petugas kebersihan yang
produktif dan masa kerja yang
dianggap lama dalam waktu
tertentu
89 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
dimiliki oleh Dinas
Kebersihan terdiri dari:
Becak sampah 750 unit
Gerobak sampah 335 unit
Tripper Truck 162 unit
Armroll Truck 22 unit
Ambulance sampah 6 unit
Compactor Truck 7 unit
Road Sweaper 7 unit
(data, 2012)
dimana statusnya sebagian
bukan tenaga honorer.
Terdapat kekurangan
jumlah kendaraan
pengangkut
Maksimalkan penggunaan
fasilitas dan tenaga kerja yang
sudah dimiliki saat ini
6. Tempat
Pembuangan Akhir
(TPA)
Tempat Pembuangan
Akhir (TPA) yang
beroperasi saat ini hanya
satu yakni TPA Terjun
Kecamatan Medan
Marelan
TPA Terjun melayani
timbulan sampah dari 21
kecamatan yang ada di
kota Medan
Bertambahnya jumlah
produksi sampah seiring
bertambahnya jumlah
penduduk kota Medan dari
tahun ke tahun
Luas areal TPA Terjun yang
terbatas
Pengolahan sampah
menggunakan sistem open
dumping (sistem terbuka)
sampah ditumpuk tanpa
ada perlakuan apapun
Penambahan atau membuka
kembali TPA Namo Bintang
untuk melayani timbulan
sampah dari kecamatan
kawasan sekitar Medan Selatan
Berdasarkan informasi dari
www.sanitasi.or.id bahwa
semua daerah harus segera
bersiap-siap menutup Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) sampah
sistem terbuka (open dumping)
pada 2013 sesuai amanat
undang-undang persampahan.
Tidak ada alternatif lain kecuali
meningkatkan pengelolaan
sistemnya.
Pilihan terbaik adalah
membangun TPA sanitary
landfill. Namun jika pemerintah
daerah tidak mampu
membangun TPA sanitary
landfill, sistem controlled landfill
bisa menjadi pilihan. Hanya saja,
sistem ini bersifat sementara
sampai sistem sanitary landfill
bisa diwujudkan.
90 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
D A F T A R P U S T A K A
Achmad R, 2004. Kimia Lingkungan. Andi, Jakarta.
Andrianto T.T, 2002. Audit Lingkungan Global. Pustaka Utama, Yogyakarta
Annihayah 2006, Urgensi Manajemen Persampahan: Belajar dari Kasus Kota
Bandung. Diakses pada tanggal 4 Desember 2006 pada Halaman
www.bantul.go.id.
Arikunto S. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendektan Praktek. Rineka Cipta,
Jakarta
Badan Pusat Statistik. 2013. Kota Medan Dalam Angka. Kota Medan
Bai, R. and Sutanto, M. 2002. The Practice and Challenges of Solid Waste
Management in Singapore. Waste Management 22 (2002), pp. 557569
Gelbert M, Prihanto D, dan Suprihatin A, 1996. Konsep Pendidikan Lingkungan
Hidup dan ?Wall Chart?. Bu ku Panduan Pendidikan Lingkungan Hidup,
PPPGT/VEDC, Malang .
Hadi, S.P. 2005. Metodologi Penelitian Sosial: Kualitatif, Kuantitatif dan Kaji
Tindak. Program Magister Ilmu lingkungan Universitas Diponegoro, Semarang.
Heng, L. S. 2010. Towards Sustainable Solid Waste Management System in
Singapore. Presentation in WTERT Meeting, Oct. 7
th
2010, NEA (didownload dari:
http:// www. wtert.com.br/ home2010/ arquivo/ noticias_eventos/HENG.pdf,
pada tanggal 11 Desember 2011)
________. 2005. Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
________. 2004. Sindrom Sampah, Kompas tanggal 7 Desember 2004
Kamali A, 2002. Kajian Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Dengan
Pendekatan Ekonomi Lingkungan (Studi Kasus TPA Sampah JatibarangSemarang).
Program Pascasarjana UNDIP, Semarang.
Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Persampahan di Indonesia.
Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.
91 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Marfai M.A. 2005. Moralitas Lingkungan : Refleksi atas Kritis Lingkungan
Berkelanjutan. Wahana Hijau (WEHA) Bekerjasama Dengan Kreasi Wacana,
Yogyakarta.
Naskah Akademis Rancangan Peraturan Perundang-undangan Pengelolaan
Sampah. Diakses pada Tanggal 4 Desember 2006 pada halaman
www.terranet.or. id
Outerbridge, Thomas B. 1991. Limbah Padat Di Indonesia : Masalah atau
Sumber Daya ?. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya, Petunjuk Teknis
Nomor CT/S/Re-TC/001/98 tentang Tata Cara Pengolahan Sampah 3M.
Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya, Petunjuk Teknis
Nomor CT/S/Re-TC/004/98 tentang Tata Cara Perencanaan TPA Sampah.
Purwendro S dan Nurhidayat. 2007. Mengolah Sampah Untuk Pupuk dan
Pestisida Organik. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rahardyan B. dan Widagdo A.S., 2005. Peningkatan Pengelolaan Persampahan
Perkotaan Melalui Pengembangan Daur Ulang. Materi Lokakarya 2 Pengelolaan
Persampaham di Propinsi DKI Jakarta.
Sastrawijaya A.T, 2000. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta, Jakarta.
Slamet J.S., 2002. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Sofian. 2007. Sukses Membuat Kompos dari Sampah. PT. Agromedia Pustaka,
Jakarta.
Standar Nasional Indonesia Nomor SNI-03-3241-1994 tentang Tata Cara
Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah, Badan Standar Nasional
(BSN)
Standar Nasional Indonesia Nomor SNI-03-3242-1994 tentang Tata Cara
Pengelolaan Sampah di Permukiman, Badan Standar Nasional (BSN).
Standar Nasional Indonesia Nomor SNI-19-2454-2002 tentang Tata Cara Teknik
Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan, Badan Standar Nasional (BSN)
Standar Nasional Indonesia Nomor SNI-19-3964-1994 tentang Metode
Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah
Perkotaan, Badan Standar Nasional (BSN)
92 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Standar Nasional Indonesia Nomor SNI-19-3983-1995 tentang Spesifikasi
Timbulan Sampah Untuk Kota Kecil dan Sedang di Indonesia, Badan Standar
Nasional (BSN)
Sudradjat R. 2006. Mengelola sampah Kota : Solusi Mengatasi Masalah Sampah
Kota dengan Manajemen Terpadu dan Mengolahnya Menjadi Energi Listrik dan
Kompos. Penebar Swadaya, Jakarta.
Suyoto B. 2004. Malapetaka Sampah Kasus TPA Bantar Gebang, Kasus TPA/IPLT
Sumur Batu, Kasus TPST Bojong. PT Adi Kencana Aji, Jakarta
Syafrudin dan Priyambada I.B., 2001. Pengelolaan Limbah Padat. Diktat Kuliah
Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Undip, Semarang.
Syafrudin, 2004. Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat. Prosiding Diskusi
Interaktif Pengelolaan Sampah Perkotaan Secara Terpadu, Program Magister
Ilmu Lingkungan Undip, Semarang.
Taniwiryono D, 2006. Cara Alternatif ?Berbisnis?Sampah. Diakses pada tanggal 1
Agustus 2007 melalui halaman http://nasih.staff.ugm.ac.id
Waddell S., Novalinda, Poernomo HS, Soerjodibroto, Nukman A, Soejachmoen
MH dan Tamin RD, 2005. Kesehatan Lingkungan Dalam Pembangunan Kota yang
Berkelanjutan, Buku Panduan Seri 6. Konrad-KAS-GTZ ProLH dan Adeksi, Jakarta.
Wahyono S. 2003. Mengelola Sampah Ala Singapore : Model Pengelolaan
Sampah Kota Metropolitan. Pusat Kajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan
BPPT Bekerjasama dengan PT Konsultan Limbah Indonesia, Jakarta.
Widyatmoko dan Sintorini, 2002. Menghindari, Mengolah dan Menyingkirkan
Sampah. Abdi Tandur, Jakarta.
Wibowo A dan Djajawinata D.T, 2004. Penanganan Sampah Perkotaan Terpadu.
Diakses tanggal 4 Desember 2006 pada halaman www.kkppi.go.id.
Winarno F.G, Budiman AFS., Silitonga T dan Soewardi B, 1985. Limbah Hasil
Pertanian. Kantor Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Pangan, Jakarta.
Yuwono D. 2006. Kompos : Dengan Cara Aerob Maupun Anaerob untuk
Menghasilkan Kompos Berkualitas. Penebar Swadaya. Jakarta.
93 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
L A M P I R A N
94 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Lampiran. 1
Diagram Prinsip Model Pengolahan Sampah yang akan Dikembangkan:
Konsep Strategi Penanggulangan Jangka Panjang:
95 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
Lampiran. 2
1. Dokumentasi Wadah Pembuangan Sampah di Tengah Masyarakat Kota
Medan
96 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
2. Wadah Pembuangan Sampah di Sekolah
97 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
3. Alat Pengangkutan Sampah Dinas Kebersihan Kota Medan

98 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
4. Proses Pengangkutan Sampah
5. Kondisi Areal TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan
99 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a
100 | K a j i a n P e n g e l o l a a n S a m p a h d a n S D M D i n a s K e b e r s i h a n
d i K o t a M e d a n
L A P O R A N A K H I R
P E M E R I N T A H K O T A M E D A N
P r o v i n s i S u ma t e r a U t a r a