Anda di halaman 1dari 5

Pengertian Sunnatullah

Sunnatullah berarti tradisi Allah dalam melaksanakan ketetapanNya sebagai Rabb yang terlaksana
di alam semesta atau dalam bahasa akademis disebut hukum alam. Sunnah atau ketetapan Allah
antara lain:
Selalu ada dua kondisi saling ekstrem (surga-neraka, benar-salah, baik-buruk)
Segala sesuatu diciptakan berpasangan (dua entitas atau lebih). Saling cocok maupun saling
bertolakan.
Selalu terjadi pergantian dan perubahan antara dua kondisi yang saling berbeda.
Perubahan, penciptaan maupun penghancuran selalu melewati proses.
Alam diciptakan dengan keteraturan.
Alam diciptakan dalam keadaan seimbang.
Alam diciptakan terus berkembang.
Setiap terjadi kerusakan di alam manusia, Allah mengutus seorang utusan untuk memberi peringatan
atau memperbaiki kerusakan tersebut.
Sunnatullah terdiri dua suku kata, yaitu sunnah dan Allah. Sunnah artinya adalah kebiasaan.
Jadi sunnatullah adalah kebiasaan-kebiasaan atau ketetapan-ketetapan Allah. Kata sunnatullah dan
yang sejenisnya seperti sunnatuna, sunnatu al-awwalin terulang sebanyak tiga belas kali dalam al-
Qur'an. Jika dipukulratakan secara statistik, semua kata tersebut berbicara dalam konteks
kemasyarakatan.
Sunnatullah atau disebut juga dengan hukum alam, hukum kemasyarakat-an, atau ketetapan-
ketetapan Allah menyangkut situasi kemasyarakatan, tidak dapat dialihkan dan diubah oleh siapapun.
Sunnatullah ini sudah berlaku pada umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad SAW dan berlaku
secara umum serta terus-menerus terjadi. Hal ini dapat dilihat dalam al-Qur'an yang berbunyi
... .
Artinya: tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunah (Allah yang telah
berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat
penggantian bagi sunah Allah, sekali-kali kamu tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunah
Allah itu.

Artinya: sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan
menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. Sebenarnya masih banyak lagi ayat al-Qur'an yang
membahas masalah ini. Dan semua ayat tersebut berbicara dalam konteks kemasyaratan.
Al-Qur'an merupakan kitab pertama kali yang membicarakan tentang hukum alam (sunnatullah).
Uraian al-Qur'an tentang hukum kemasyarakatan, hukum alam atau sunnatullah wajar, karena al-
Qur'an merupakan kitab suci dan transenden yang berfungsi mengeluarkan manusia dari gelap-gulita
(al-dhulumat) menuju terang benderang (al-nur).
2.2 Macam Macam Sunnatullah
Sunnatullah terdiri dari dua macam, yaitu :
1. Sunnatullah qauliyah adalah sunnatullah yang berupa wahyu yang tertulis dalam bentuk lembaran atau
dibukukan, yaitu Al-Quran.
2. Sunnatullah kauniyyah adalah sunnatullah yang tidak tertulis dan berupa kejadian atau fenomena alam.
Contohnya, matahari terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk barat.
Kedua sunatullah tersebut memiliki persamaan, yaitu
1. Kedua-duanya berasal dari Allah swt.
2. Kedua-duanya dijamin kemutlakannya.
3. Kedua-duanya tidak dapat diubah atau diganti dengan hukum lainnya.
Contohnya adalah hukum yang terdapat dalam Al-Quran. Dalam Al Quran dikatakan bahwa barang siapa
yang beriman dan beramal saleh, pasti akan mendapat balasan pahala dari Allah swt. Selain memiliki
persamaan, keduanya juga mempunyai perbedaan. Sunatullah yang ada di alam, dapat diukur. Lain halnya
dengan sunnatullah yang ada dalam AL-Quran. Walaupun hal itu pasti terjadi, tetapi tidak diketahui secara
pasti kapan waktunya.
2.3 Ciri Ciri Sunnatullah
Wujud dan ciri hukum Allah/ sunnatullah
a. Hukum yang diwahyukan/ditulis
Hukum tertulis ini adalah yang diwahyukan Allah kepada para nabi dan rasul yang terhimpun dalam kitab
suci dengan ciri ciri :
1. Melibatkan manusia dengan hak pilihnya (yang baik dan yang buruk).
2. Time responsnya (cepat reaksi waktunya) panjang, mungkin lebih panjang dari usia manusia, bahkan sampai
masa kehidupan akhirat, oleh karena itu perlu iman/percaya.
3. Dan sebagiannya, terlihat dari perjalanan sejarah kemanusiaan (bagaimana akibat orang yang durhaka dan
bagaimana dampaknya)
b. Hukum yang tidak diwahyukan/tidak tertulis
Hukum tak tertulis ini ialah hukum yang tidak diwahyukan oleh Allah kepada nabi atau rasul, dengan ciri:
1. Tidak melibatkan manusia dalam proses berlakunya kemerdekaan manusia tidak mempengaruhi hukum itu.
2. Time responnya pendek, lebih pendek dari manusia.
3. Dapat dibuktikan dengan pengamatan manusia dan dengan jalan eksperimen (oleh karena itu, Allah
mmerintahkan manusia untuk mengadakan penyelidikan terhadap kejadian dan keadaan di alam ini).
2.4 Sifat-Sifat Sunnatullah
Ada tiga sifat utama sunnatullah yang disinggung dalam Al-Quran yang dapat ditemukan oleh
ahli ilmu pengetahuan dalam penelitian.
Ketiga sifat itu adalah : 1) Pasti, 2) Tetap, dan 3) Objektif
Sifat sunnatullah pertama adalah ketetapan, ketentuan, atau kepastian, sebagaimana diutarakan
dalam Al-Quran berikut ini :
Q.S, Al-Furqon (25): 2, yang artinya :
Dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-
rapinya.
Q.S At-Thalaq (65) : 3 yang artinya :
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (kepastian) bagi tiap sesuatu
Sifat sunnatullah yang pasti, tentu akan menjamin dan memberi kemudahan kepada manusia
membuat rencana. Seseorang yang memanfaatkan sunnatullah dalam merencanakan satu pekerjaan
yang besar, tidak perlu ragu akan ketetapan perhitungannya dan setiap orang yang mengikuti dengan
cermat ketentuan-ketentuan yang sudah pasti itu bisa melihat hasil pekerjaan yang dilakukannya.
Karena itu pula, keberhasilan suatu pekerjaan (usaha atau amal) dapat diperkirakan lebih dahulu. Jika
dalam pelaksanaannya suatu rencana atau pekerjaan orang itu kurang atau tidak berhasil, dapat
dipastikan perhitungannya yang salah bukan kepastian atau ketentuan yang terdapat dalam
sunnatullah. Manusia yang salah membuat suatu perhitungan atau perencanaan dengan mudah dapat
menelusuri kesalahan perhitungan dalam perencanaannya.
Sifat sunnatullah kedua yaitu tetap, tidak berubah-ubah.
Sifat ini diungkapkan dalam Al-Quran sebagai berikut :
Q.S Al-Isro (17): 77, yang artinya :
Dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu.Sifat itu selalu terbukti dalam
praktek, sehingga seseorang perencana dapat menghindari kerugian yang mungkin terjadi kalau
rencana dilaksanankan. Dengan sifat sunnatullah yang tidak berubah-ubah itu seorang ilmuan dapat
memperkirakan gejala alam yang terjadi dan memanfaatkan gejala alam itu. Karena itu seorang
ilmuan dengan mudah memahami gejala alam yang satu dikaitkan dengan gejala alam yang lain yang
senantiasa mempunyai hubungan yang konsisten.
Sifat sunnatullah yang ketiga adalah obyektif. Sifat ini tergambar pada firman Allah sebagai berikut :
Q.S. Al-Anbiya (21): 105, yang artinya :
bahwasanya dunia akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh
Q.S Ar-Rad (13): 11, yang artinya :
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang
ada oleh mereka sendiri.
Saleh, artinya baik atau benar. Orang yang baik dan benar adalah orang yang bekerja menurut
sunnatullah. Jadi sunnatullah-lah yang menjadi ukuran kebaikan dan kebenaran itu. Orang yang
berkarya sesuai atau menurut sunnatullah adalah orang yang saleh atau orang yang baik dan benar.
Kesalehan yang dikarenakan telah menepati sunnatullah merupakan kesalehan umum (universal).
Kesalehan universal ini sebagai sifat objektif secara / keilmuan, yang biasanya sangat signifikan
dijumpai dikalangan para pengembang IPTEK dan para intelektual lainnya. Mereka amat disiplin untuk
mengikuti logika cerdas dan sehat dibantu dengan upaya pembuktiaan hipotesis yaitu penelitian
(istiqra). Dengan demikian kebenaran yang terdapat dalam sunnatullah adalah kebenaran objektif,
berlaku bagi siapa saja dan dimana saja. Untuk memperoleh predikat manusia saleh sekedar mentaati
sunnatullah, berlaku pada semua manusia tidak terbatas bagi kaum agamis semata sebab, bagi yang
tidak berkarya sebagaimana menurut keharusan aturan-aturan sunnatullah, seperti pemalas, tidak
menempati prinsip kerja yang efektif-efisien-produktif dan lain-lain, tidak akan mendapat
keberuntungan.
Dengan demikian sunnatullah itu berlaku objektif, karena tidak dipandang saleh bagi orang islam
(misalnya) yang ingin kaya tapi pemalas. Karena orang islam tersebut tidak saleh terhadap
sunnatullah.

2.5 Sunnatullah dan Alam Semesta
Takdir Allah pada Alam (Sunnatullah tentang alam) : Akurasi Ketundukan Positif. Taqdir Allah
pada alam berupa sunnatullah (hukum Allah) yaitu ketentuan Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa tentang
alam yang dapat dibaca ayat-ayat-Nya (tanda-tandanya) pada ketundukan alam dan pada ketentuan
Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa itu.

Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dia melingkupkan malam atas siang dan
melingkupkan siang atas malam. Dia menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada
kadar waktu yang telah ditentukan. Ingatlah ! Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. 39/Az-
Zumar : 5)


Dan matahari bergerak pada garis edarnya. Demikian itu taqdir Allah yang Mahakuasa lagi Maha
Mengetahui(QS. 36: Yaasiin Ayat : 38)


Dan bulan Kami taqdirkan pula tempat-tempat edarnya. Sehingga manakala ia sampai ke tempat edar
yang terakhir, ia kembali mengecil, melengkung seperti tandan tua (QS. 36: Yaasiin Ayat : 37)

Tidak mungkin matahari mencuri langkah mencapai kecepatan bulan, dan tanda-tanda malampun
tidak dapat mendahului tanda-tanda siang. Masing-masing pada garis edarnya bertasbih (QS. 36:
Yaasiin Ayat : 39)
Bertasbihnya alam sebagaimana matahari bergerak pada garis edarnya adalah ketundukan akurat
pada ketentuan taqdir (sunnatullah) tentang alam. Ketundukan alam sedemikian itulah akurasi
ketundukan positif pada taqdir Allah. Itu pula shalatnya alam kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa.


Kemudian Dia menyempurnakan penciptaan langit, ketika itu masih merupakan gas seperti awan.
Lalu Allah Subhaanahu wa Ta'aalaaberfirman kepadanya dan kepada bumi sekaligus : "Datanglah
kalian keduanya baik dengan jalan taat maupun dalam keadaan terpaksa" Keduanya menjawab :
"Kami datang dengan taat" (QS. 41/Fushshilat : 11).


Apakah kau tidak (mau) tahu bahwasanya Allahlah yang pada-Nya segala yang ada di langit dan di
bumi bertasbih memahasucikan. Juga burung burung dengan mengembangkan sayapnya di udara.
Masing-masingnya sungguh tahu shalat dan tasbihnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka
kerjakan (QS/24 : An-Nuur : 41).